Project Gunship III: AC-119G “Shadow” & AC-119K “Stinger”, the Vietnam War Truck Buster

Pada dasarnya semua gunship yang dibekali dengan sistem penembakan dari samping menggunakan prinsip yang sama. Sebuah pesawat yang terbang dari ketinggian dan membuat manuver bersudut mengorbit pada satu titik di tanah (baca: target) akan dapat memberikan daya tembak yang cukup akurat ke sasaran itu dari senjata yang dipasang di samping body-nya. Konsep ini pertama kali diusulkan pada tahun 1926 dan diperagakan pada tahun berikutnya. Namun, konsep itu tidak pernah dipakai selama bertahun-tahun tetapi tidak juga pernah benar-benar menghilang. Beberapa penerbang kemudian mengajukan gagasan itu tetapi tidak membuahkan hasil hingga awal 1960-an lewat program Project Gunship I. Pada tahun 1964, Angkatan Udara mengirim gunship pertama – modifikasi pesawat transportasi tua era Perang Dunia II, C-47- ke medan pertempuran di Vietnam Selatan.

Gunship adalah konsep lama yang sudah muncul sejak tahun 1926, namun baru berkembang pesat saat perang Vietnam.

Empat tahun kemudian, Angkatan Udara masih tidak yakin bahwa pesawat unik itu benar-benar berharga. Namun, pasukan Amerika di darat menyukai pesawat ini karena kemampuannya untuk berkeliaran di medan pertempuran dalam waktu yang lama, menyebar kehancuran di tengah-tengah musuh. Dua tahun sebelum AC-47 Spooky menjalankan misi terakhirnya pada bulan Desember 1969, Angkatan Udara telah menentukan pengganti C-47 (sebagai gunship) antara C-119 Flying Boxcar buatan tahun 1950-an yang bermesin ganda, atau Hercules C-130A bermesin empat yang lebih baru. Sementara keuntungan dari yang terakhir sudah, namun mengalihkan armada C-130 yang sedikit untuk gunship akan sangat memberatkan satuan pengangkut udara yang sudah over-capacity. Sementara itu ketersediaan C-119 di unit Cadangan Angkatan Udara akhirnya memecahkan masalah itu dan menetapkan Boxcars sebagai platform gunship selanjutnya, setidaknya sebagai solusi sementara sampai AC-I30 dapat diproduksi tanpa mengganggu armada angkut. Namun pada titik ini harap diketahui, bahwa program AC-119 bukanlah program yang ada diantara AC-47 (Project Gunship I) dan AC-130 (Project Gunship II). Secara timeline, AC-130 mengudara lebih dulu dibanding AC-119, yakni telah terbang dan diuji sejak tahun 1967/1968.

Project Gunship I: AC-47 Spooky, versi awal pesawat gunship Amerika dalam Perang Vietnam.

AC-119G Shadow, underpowered Gunship

Project Gunship II: AC-130A
Sebenarnya gunship dengan dasar pesawat C-130A Hercules sudah lebih dahulu hadir dibanding versi gunship C-119 Flying Boxcar, namun kelangkaan pesawat Hercules Transport memaksa AU AS melancarkan Proyek Gunship III berbasis C-119.

Pada tahun 1967, Angkatan Udara dan komandan darat di seluruh Vietnam meminta lebih banyak pesawat gunship. Angkatan Udara menginginkan lebih banyak AC-130 untuk digunakan melawan rute pasokan komunis di Ho Chi Minh Trail, tetapi kebutuhan penggunaan C-130 sebagai armada angkut menjadi prioritas lebih tinggi dibanding Gunship. Project Gunship II dari Lockheed AC-130A Spectre memang telah ada pada saat itu, tetapi tidak tersedianya cukup banyak C-130 Hercules standar untuk digunakan dalam perang di Vietnam dan memenuhi komitmen pengangkutan udara di seluruh dunia menghalangi efektifitas penggelaran AC-130. Angkatan Udara tidak mau kembali menggunakan AC-47, karena pesawat itu sudah tidak lagi memenuhi persyaratan tempur terkini yang menuntut kecepatan, kapasitas angkut yang lebih besar, dan jarak yang lebih jauh. Pesawat lain harus ditemukan untuk program Gunship. Angkatan Udara juga ingin melengkapi beberapa gunship baru untuk peran berburu truk, yang berarti membutuhkan senjata lebih berat dan peralatan perang elektronik yang lebih canggih dari AC-47. Jawabannya ada pada Fairchild C-119 Flying Boxcar yang terbukti selama ini dapat diandalkan…… sebagai transport tentunya.

Armada C-119 Flying Boxcar yang melimpah di satuan cadangan USAF, memberi jalan bagi proyek Gunship III menyalip program Gunship II.

Karena performa mesin piston ganda-model AC-119 sangat payah saat dimodif menjalani peran tempur, Angkatan Udara berniat sedari awal untuk mengupgrade model G langsung ke konfigurasi model K. Model K menambahkan mesin piston aslinya dengan dua mesin jet yang dipasang di sayap. Perbedaannya performa antara model G dan K bukan hal yang kecil. Sementara kemampuan pendakian dengan satu mesin lebih unggul 500 kaki per menit untuk K, kinerja model G dalam kondisi yang sama tercatat tidak memuaskan. Dengan mengabaikan kekhawatiran Angkatan Udara yang kuat pada Juni 1967, Sekretaris Angkatan Udara Harold Brown mengutip besarnya biaya modifikasi dan potensi penundaan pengoperasin memilih untuk tetap menggunakan model G sebagai pengganti AC-47. Kemudian, pada bulan Februari 1968, ia mengalah, dengan menyetujui pengadaan armada campuran AC-119G/K, 16 dari masing-masing jenis dalam dua skuadron dan tambahan 10 dari setiap jenis untuk cadangan. Penambahan skuadron K, bagaimanapun, tidak banyak mengurangi kekhawatiran Angkatan Udara atas model G yang hanya mengandalkan mesin piston. Pada pertengahan 1968, bahkan Angkatan Udara Ketujuh di Saigon yang “kenyang” operasi tempur secara terbuka mempertanyakan apakah model G layak diterjunkan ke medan pertempuran.

AC-119G Shadow yang dikenal underpowered

AC-119G benar-benar pesawat lanjutan dari Spooky. Pesawat ini dibangun dengan tujuan misi dukungan TIC (Troop In Contact). Model G memang kontroversial seperti yang sudah dijelaskan diatas, namun setidaknya dia masih bisa menjadi pengganti yang sepadan dari AC-47. Flying Boxcars dipersenjatai dengan empat pod minigun SUU-IIA/IA 7.62mm, satu minigun lebih banyak daripada tiga yang dibawa di atas AC-47, dan dengan peningkatan jumlah pasokan amunisi yang bisa dibawa oleh karena daya angkut muatan yang lebih besar, AC-119G sekitar 25 % lebih efektif daripada AC-47. Kemudian pesawat ini dilengkapi dengan G.E. minigun MXU-470 module yang dirancang khusus untuk pesawat tipe gunship. Pesawat yang akan dimodifikasi diambil dari unit Cadangan Angkatan Udara, banyak dari mereka berasal dari 434 Troop Carrier Wing di Indiana. Wing 434 juga akan memasok banyak kru AC-119. Selain paket senjata, AC-119G juga dilengkapi dengan lampu Xenon AVQ-8 2OKW, sebuah perangkat Night Observation Sight yang mampu memperbesar cahaya bintang dan cahaya bulan beberapa ribu kali untuk memberikan gambar yang jelas, walau dalam tampilan yang masih hijau, dari medan di bawahnya. Kelemahan terbesar NOD (Night Observation Device) adalah bahwa peluru tracer yang ditembakkan oleh minigun memberikan lebih banyak cahaya sehingga mereka secara efektif malah mematikan sistem NOD/NOS. Akibatnya, peluru suar menjadi sarana utama untuk mengidentifikasi target darat. Selain itu, Shadow memiliki peluncur suar LAU-74A, komputer fire control General Precision, dan TRW Fire control display untuk memastikan bahwa pesawat tidak menembaki pasukan kawan. Tenaga internal untuk semua peralatan baru itu dipasok oleh unit daya tambahan Garrett Industries 60 KVA (APU), yang sama dengan yang digunakan pada pesawat Boeing 727. Untuk keselamatan awak, armor keramik ditambahkan dan APR-25 dan -26 ECM dipasang. Dengan 31.500 amunisi dan 24 peluru suar, pesawat ini lebih dari mampu menghajar lawan manapun yang terlihat olehnya.

Detail kabin dan posisi perangkat pendukung operasi AC-119G Shadow.

Empat unit AC-119G pertama dari Skuadron Operasi Khusus-71 akhirnya tiba di Vietnam pada bulan Desember 1968 untuk memulai evaluasi pertempuran selama tiga bulan. AC-119 membutuhkan “call sign” yang menarik karena kru AC-47 telah memiliki nama “Spooky”. Upaya yang sepertinya disengaja oleh Angkatan Udara Ketujuh yang menetapkan callsign radio “Creep” ke unit-71 itu setidaknya memberikan awak skuadron kesempatan awal untuk menunjukkan kemampuan mereka di pertempuran kepada para staf markas besar. Setelah menyadari bahwa “panggilan mengejek” itu tidak disukai anggota skuadron, Angkatan Udara Ketujuh setuju untuk mengubah callsign sesuai dengan yang diminta oleh unit-71 yakni “Shadow.” Nama ini kemudian melekat dan pesawat itu dikenal sebagai AC-119G Shadows.

AC-119G Shadow gunships. U.S. Air Force photos

Unit ke-71 menampilkan semangat yang sama dalam evaluasi awal di medan tempur. Selama misi pengintaian bersenjata malam hari, Shadow terbang ke ketinggian 500 kaki, menggunakan sistem pengamatan malam hari untuk mendeteksi target darat. Flare menjadi sarana utama pendukung pengamatan, meskipun intensitasnya kemudian secara efektif menghentikan penggunaan NOD setelah pengalaman lapangan di Vietnam mengungkapkan keterbatasan serius dari sistem pengamatan malam generasi awal ini. Setelah suar melokalisasi target, Shadow mengitari sasaran di atas dan menembaki target dengan satu atau lebih dari empat minigun 7,62mm-nya. Seperti halnya AC-47, batasan jangkauan amunisi 7.62mm membuat ketinggian orbit harus serendah mungkin, tetapi biasanya tidak lebih dari 2.000 kaki. Hanya dua bulan setelah kedatangan unit-unit pendahulunya, semua pesawat yang akan ditugaskan sudah berada di Vietnam dan SOS ke-71 dinyatakan siap tempur. Untuk memberikan dukungan tembakan kepada keempat wilayah militer di Vietnam Selatan, unit ke-71 mulai mengoperasikan penerbangan Alpha, Bravo, dan Charlie, masing-masing dengan tiga gunship dari tiga lapangan terbang ada di seluruh negeri. Pada Juni 1969, SOS ke-71 kembali ke Amerika Serikat, meninggalkan beberapa model G dan dua pertiga personelnya di Vietnam untuk mengisi skuadron tempur baru yang ditetapkan sebagai SOS ke-17. ” Pada akhir 1969, Wing Operasi Khusus ke-14 memiliki 16 gunship model G dan 12 gunship model K yang beroperasi dari lima pangkalan udara berbeda di seluruh Vietnam Selatan. Dan pada saat ini, kru Shadow dan Stinger telah membangun reputasi tangguh mereka di seluruh Tenggara Asia.

Perbedaan AC-119G vs AC-119K.

Dengan kedatangan model K, dua skuadron mulai berbagi misi terpisah yang merefleksikan perbedaan dari tipe sensor dan persenjataan kedua tipe gunship itu. Para kru dari model G telah mempelajari batasan jangkauan amunisi 7,62 minigun mereka ketika menembaki pasukan dari ketinggian namun membuat AC-119 berada di luar jangkauan tembakan senjata kecil musuh. Navigator Shadow Letnan satu Billy B. “Rusty” Napier ingat pengalaman memalukan berkaitan hal itu sebagai: “Kami menemukan sebuah truk Vietnam Utara pada satu malam, sebuah “tangkapan langka” bagi crew Shadow. Muncul dari 2.000 kaki kami membuka tembakan ke atas truk dengan keempat minigun. Truk itu segera menghilang dalam kepulan debu ketika kami menghujaninya dengan ribuan peluru. Setelah menyatakan konfirmasi “sasaran dihancurkan” ke pangkalan kami, kami kemudian terheran ketika melihat truk mulai kembali menyusuri jalan! dan seperti menuangkan garam ke luka kami, ia bahkan menyalakan lampu depannya. ” Pengalaman seperti inilah yang membuat model G mengkhususkan diri dalam misi bantuan tembakan udara-darat ke pos-pos pertahanan yang terisolasi di Vietnam Selatan, sementara model K yang lebih kuat dilengkapi dengan kanon 20mm fokus pada misi “penghancur truk’ yang semakin penting dengan semakin sempurnanya jalur Ho Chi Minh Trail.

One of the AC-119G Gunships in for repairs at Chu Lai 1969. 
This photo was donated by Lore Wiseman, Sergeant, USMC. 
He was a Marine ordnance man in Chu Li at that time.

AC-119K “Stinger”

Detail kabin dan posisi perangkat pendukung operasi AC-119K Stinger.

Kontrak diberikan kepada Fairchild-Hiller Corp pada 17 Februari 1968 untuk memodifikasi 26 airfame C-119 menjadi AC-119G Gunship dan dua puluh enam airframes C-119 lainnya menjadi AC-119K gunship yang lebih canggih untuk peran berburu truk komunis. Semua modifikasi harus dilakukan di fasilitas Fairchild-Hiller di St. Augustine, Florida. Dari konfigurasi awal C-119G, orang-orang Fairchild-Hiller menambahkan semua peralatan yang diperlukan untuk membuat pesawat ke standar C-119K. Kemudian modifikasi menambahkan peralatan tempur dimulai. Pesawat dimodifikasi ke standar AC-119G kemudian berbagai peralatan ditambahkan khusus untuk peran berburu truk: model K dilengkapi persenjataan yang terdiri dari empat-minigun sepertu seri G dengan 31.000 butir amunisi ditambah dua kanon Gattling multi-laras M61AI 20mm dengan 4.500 butir amunisi 20 mm. ” Stinger juga mengusung NOD/NOS model G. Penambahan perangkat FLIR (Forward Looking Infra Red) adalah peningkatan nyata dibandingkan perangkat NOD yang jarang digunakan karena FLIR yang menggunakan infra merah tidak memerlukan cahaya bulan dan bintang. Meskipun perangkat NOS cukup intensif digunakan pada Stinger, namun versi K ini juga dilengkapi dengan sistem Texas Instruments AN/AAD-4 Forward looking infrared (FLIR) yang canggih, AN/APN-147 Doppler terrain following radar Forward Looking Infrared, Motorola AN/APQ-133 Sidelooking beacon tracking radar, dan radar pencarian Texas Instruments AN/APQ-136 dengan mode indikator target bergerak. Selain peralatan suar model G, kedua tipe gunship ini juga dilengkapi dengan illuminator “cahaya putih” berkekuatan 20-kilowatt (KW) yang terpasang di pintu memiliki kekuatan setara 1,5 juta lilin-nya dan bisa menerangi stadion sepak bola dengan tingkat kejelasan luar biasa pada malam-malam tergelap. Tentu saja, perangkat itu juga memberi tahu musuh di bawah ini di mana tepatnya mereka mengarahkan senjata mereka, kelemahan ini membuat awak gunship sedapat mungkin tidak menggunakan iluminator ini. Iluminator pada model K juga memiliki mode inframerah, (tidak jelas apakah ada juga di model G)tetapi ini bukan jaminan penembak musuh tidak dapat mengikuti sinar infra merah yang dipancarkan dari pesawat. Model K juga diberi tambahan Dua pod mesin jet General Electric J85 dengan daya dorong masing-masing 2850 Ibs. Dengan mesin J85, memungkinkan pesawat ini lepas landas dengan berat kotor ebih besar dari 80.400 lbs. – 15.000 lbs lebih besar dari AC-119G.

AC-119K mudah diidentifikasi dengan penambahan mesin jet J-85 dibawah sayapnya.

Penambahan peralatan dan ditambah waktu yang dibutuhkan untuk pengujian, menambahkan sekitar sepuluh bulan waktu pengiriman. Pada 3 November 1969 AC-119K pertama dikirim ke SOSq ke-18 di Pangkalan Udara Nha Trang. Kemudian mereka terbang misi pertama mereka ketika Flight C menerbangkan misi dukungan TIC untuk sebuah Firebase di dekat Da Nang. AC-119K telah dalam evaluasi tempur hampir sebulan ketika menerima callsign resmi. Skuadron Operasi Khusus ke-18 mengkaji daftar calldign yang tersedia termasuk diantaranya nama-nama seperti “Gun Shy”, “Poor Boy”, dan “Charlie Brown”. Orang-orang di skuadron lebih memilih nama Charlie Brown sebagai “paling baik” diantara nama-nama menyedihkan itu, tetapi mereka dengan tegas menyatakan pesawat mereka pantas untuk mendapatkan “callsign” yang lebih baik. Ternyata kemudian Wing Tempur Taktis ke-366 di Da Nang ternyata telah memiliki nama “callsign” taktis yang tidak biasa – Stinger. SOS ke-18, yang didukung oleh Wing Operasi Khusus ke-14, mengajukan nama itu. Angkatan Udara Ketujuh menyetujui transfer nama “callsign” itu dan AC-119K secara resmi diberi nama Stinger pada 1 Desember 1969. Stinger sekarang bergabung dengan AC-130 Spectre dalam misi pengintaian bersenjata jalur pasokan musuh di Laos dan Shadow menjalankanberbagai misi di Vietnam Selatan. Sementara itu AC-47 Spooky memang masih ada, tapi dengan membawa bendera negara-negara sekutu. Semua AC-119 ditugaskan ke Wing Operasi Khusus ke-14 yang berpusat di Nha Trang. Model G ditugaskan ke SOSq ke-17, sedangkan model K SOSq ke-18. SOW ke-14 dengan demikian menjadi unit paling unik di Asia Tenggara, mereka memiliki satu-satunya unit AC-47 di SOS ke-3 dan ke-4; dua unit psywar (satu-satunya) di SOS ke-5 dan ke-9; sementara SOS ke-20 adalah satu-satunya unit helikopter bersenjata di Angkatan Udara; ditambah dua unit AC-119. Pada suatu waktu di tahun 1968, awak SOW ke-14 menerbangkan delapan jenis pesawat berbeda dari sepuluh pangkalan berbeda di seluruh Vietnam. SOWq ke-14 telah dikenal sebagai Wing Komando Udara ke-14 sebelum 1 Agustus 1968. Moto dari Wing ke-14 adalah ‘Day or Night, Peace and War’. Mereka terbang rata-rata 175 misi per hari, dan telah menerbangkan misi ke-200.000 pada Maret 1970.

Perangkat FLIR amat membantu Proses identifikasi visual di malam hari.

Gunship pertama dari 26 AC-119K tiba di Vietnam pada akhir 1969. Pada Februari 1970, 18 gunship tersedia untuk misi tempur. “Stingers” membentuk Skadron Operasi Khusus ke-18 dari Grup Operasi Khusus ke-14 dan pada awalnya memiliki home base di Pangkalan Udara Phan Rang dengan dua detasemen dioperasikan di Da Nang AB dan Phu Cat AB. Karena sensor canggih AC-119 dan peningkatan persenjataan, misi pesawat lebih berorientasi pada pengintaian bersenjata dan “pembunuhan truk” daripada AC-119G. Pada April 1971, pesawat didistribusikan di Da Nang AB dan Nakhon Phanom (NKP) AB, Thailand. Penerbangan di Da Nang terutama berkaitan dengan pengintaian bersenjata di wilayah “Steel Tiger” di Laos dengan misi sekunder memberikan dukungan udara jarak dekat bagi pasukan yang melakukan kontak senjata di wilayah utara Vietnam Selatan. Penerbangan di NKP terutama berorientasi pada dukungan udara jarak dekat bagi pasukan yang melakukan kontak senjata di wilayah “Barrel Roll” Laos dengan misi sekunder pengintaian bersenjata di “Plain Of Jars” (Laos tengah). AC-119K sangat efektif sebagai pembunuh truk, tetapi harus berhati-hati untuk menghindari terbang di area konsentrasi artileri antipesawat (AAA). AC-119K yang relatif lambat terbangnya dan pola serangan yang mudah diprediksi membuatnya rentan terhadap AAA. Di daerah di mana tidak ada musuh AAA, “Stinger” akan terbang di ketinggian 5.500 kaki di atas permukaan tanah (AGL) sebagai ketinggian normal mereka dan di daerah yang diprediksi terdapat konsentrasi AAA, ketinggian 7.000 AGL digunakan (misi pembunuh truk). Ketinggian terbang normal untuk dukungan udara dekat (CAS) pasukan darat yang sedang terlibat kontak (dengan musuh) adalah 3.500 AGL. Ini memungkinkan AC-119K untuk menembak secara akurat dengan meriam 20 mm dan 7,62 minigun serta relatif aman dari tembakan senjata kecil.

Misi AC-119 sedapat mungkin menghindari konsentrasi kuat AAA musuh.

Masalah amunisi

“Amunisi peluru 7.62mm AC-119G terbukti cukup efektif … sampai [Viet Cong] menambahkan plat baja pada sampan mereka,” Angkatan Udara mencatat dalam ulasan tahun 1971. Laporan itu menggambarkan perahu lapis baja dan kendaraan yang diperkuat serupa menjadi “kebal” terhadap senjata Shadow. Selain itu, gerilyawan komunis terus menerjunkan semakin banyak senjata anti-pesawat. Untuk menghindari ditembak, gunships terutama yang terbang misi di malam hari memilih terbang lebih tinggi untuk mencoba menghindari tembakan musuh. Namun efeknya, Pilot merasa semakin sulit untuk memastikan di mana peluru kecil itu mendarat. Akibatnya, penembak tidak dapat menyesuaikan bidikan mereka untuk mencapai sasaran yang dituju.

Four 7.62 millimeter Miniguns on board AC-119G. Official US Air Force Photograph

Atas permintaan Angkatan Udara, pada bulan Juni 1969, para insinyur di Frankford Arsenal mulai bekerja menyiapkan amunisi baru yang dapat menyelesaikan masalah ini. Pada saat itu, tidak ada satu pun yang memiliki peluru penembus baja dan pembakar – alias API (Armor-Piercing, Incendiary) – yang akan berfungsi digunakan dalam minigun. Untuk mempercepat proses itu, para ahli senjata memutuskan ide baru. Mereka memutuskan menggunakan stok amunisi Perang Dunia II kaliber .30 lama dan memasukkannya ke dalam cartridge berukuran 7,62 milimeter. Cartridge M-14 yang digunakan memiliki inti logam yang padat dengan ujung yang penuh dengan campuran pembakar. Angkatan Darat awalnya membuat amunisi itu untuk bisa menembak pesawat tempur. Setelah sedikit penyesuaian, Frankford Arsenal mengumpulkan 200.000 proyektil baru. Para insinyur merakit 20.000 peluru lagi menggunakan peluru pembakar tanpa inti penembus baja. Angkatan Udara memastikan amunisi baru itu bisa digunakan pada minigun dan membawanya ke Vietnam. Pada Oktober 1970, kru AC-119G mengujinya. Dibandingkan dengan amunisi reguler, para kru melaporkan peluru baru lebih baik dalam hampir semua hal. Selain lebih destruktif, proyektil baru “bersinar” saat menghantam target, membuatnya lebih mudah dilihat dalam gelap. “Sangat bagus terlihat saat menghantam target dibandingkan dengan peluru 7. 62mm biasa,” kata pilot Shadow kepada para evaluator. “Seharusnya (peluru) ini menjadi bawaan standar.”

A AC-119G gunner loads ammunition into a minigun. U.S. Air Force photo

Pengamat “melaporkan bahwa API mampu merobohkan seluruh dinding depan dari sebuah rumah,” kata selebaran lain. “Luar biasa, dapatkan lebih banyak.” Pada saat yang sama, Angkatan Darat mengumpulkan lebih banyak data dan menemukan cacat serius dalam peluru yang didaur ulang itu. Pada tahun 1975, Frankford Arsenal mengeluarkan laporan akhir tentang proyek tersebut. Meskipun sangat mirip dalam ukuran dan bentuk, proyektil kaliber 0,30 tidak bekerja dengan baik pada laras 7,62 milimeter. Peluru tidak akan terbang lurus dan sering drop saat terbang. Saat digunakan untuk menghancurkan seluruh area dari udara, hal ini tidak menjadi masalah. Namun, Angkatan Darat atau Angkatan Udara khususnya tidak senang dengan kurangnya akurasi ini. Lebih mengkhawatirkan, usia amunisi ini terhadap proyektil. Dalam satu percobaan, dua peluru meledak persis ketika mereka meninggalkan laras. Untungnya, campuran pembakar hanya membuat kilatan yang terang dan tidak membakar apa pun yang mudah. Secara umum peluru ini bisa bekerja dengan sejumlah syarat namun tidak ideal untuk digunakan dalam waktu lama, sehingga diperlukan pembuatan tipe peluru baru, akan tetapi karena masalah dana, hal ini tidak pernah terlaksana.

The interior view of the gun positions.

Taktik tempur AC-119K “Stinger”

Dalam upaya meningkatkan kemampuan efektif operasi dari AC-119K gunship, Angkatan Udara AS dan Angkatan Darat AS mencoba beberapa teknik. Beberapa teknik melibatkan beacon marker berbasis darat dan yang lainnya melibatkan pesawat patroli yang terbang beriringan untu membentuk tim “pencari” atau “pemburu”. Di antara teknik-teknik dasar yang paling primitif yang digunakan untuk mengarahkan penembakan gunship adalah “panah api”. Teknik sederhana ini membutuhkan pasukan darat untuk membuat panah dari peluru suar digunakan untuk menandai musuh. Panah api bekerja dengan cukup baik, tetapi hanya dalam cuaca yang cerah ketika pasukan darat ada di tempat terbuka. Untuk memberikan sistem pendeteksi target yang efektif yang dapat digunakan melacak di bawah kanopi hutan atau dalam cuaca buruk, sistem detektor darat dikembangkan. Detektor darat memberikan titik referensi tetap untuk pesawat gunship terlepas dari kondisi cuaca apapun. Jarak sasaran kemudian dapat diteruskan ke pesawat gunship dan dimasukkan ke dalam komputer fire control yang akan menentukan titik bidik terbaik untuk pilot. Dengan menggunakan teknik ini, pesawat gunship bisa tetap ada di atas awan dan tetap masih mampu mengarahkan tembakan ke posisi musuh. AC-119K dilengkapi dengan AN / APQ-133 Beacon Tracking Radar (BTR) yang dapat menerima sinyal dari ground-beacon X-band. Sistem ini dinamai Combat Rendezvous. BTR mampu melakukan pencarian, akuisisi, dan pelacakan sudut detektor darat. Fungsi pelacakan sudut sangat penting karena gunship harus terbang melingkar ke arah kiri 30 ° selama melakukan serangan. Pola serangan yang dapat diprediksi (lingkaran belok kiri) mengharuskan area bebas dari konsentrasi berat artileri antipesawat (AAA); Namun, AC-119K tetap dapat menyerang ketika terdapat artileri konsentrasi AAA ringan atau sedang.

OV-1 Mohawk sempat diujicoba menjadi bagian Tim Hunter-Killer di jalur Ho Chi Minh Trail bersama AC-119K Stinger, namun karena konflik dan gengsi antar Angkatan, proyek ini cuma berumur pendek.

Metode lain yang diuji untuk mencoba meningkatkan efektifitas AC-119K adalah penggunaan Grumman OV-1 “Mohawk” (atau lebih umum disebut “Spud”) sebagai pencari target. Setelah target diidentifikasi oleh Mohawk, Pesawat gunship akan dipanggil untuk menyerang. Dua versi OV-1 digunakan, yakni OV-1B yang mengusung Side Looking Airborne Radar (SLAR) dan OV-1C dengan detektor InfraRed (IR). OV-1 Angkatan Darat terbang dari Pangkalan Udara di Thailand, Udorn dan melakukan patroli pengintaian malam hari di wilayah “Plain of Jars” (atau Barrel Roll) di Laos. IR yang melengkapi OV-1C dapat mendeteksi panas dari mesin truk dan bahkan api unggun. Sementara SLV yang melengkapi OV-1B digunakan untuk mendeteksi objek yang bergerak. Dalam banyak kasus, target yang diidentifikasi oleh OV-1 hilang pada saat data pengintaian yang direkam dikumpulkan, ditafsirkan dan dianalisis. Idealnya adalah data target dapat disampaikan secara real time muncul pada monitor OV-1 ke AC-119K gunships yang beroperasi di daerah tersebut.

OV-1 Mohawk vs Konvoi Truk Vietnam Utara: You can run but you can’t hide!

Periode uji pertama tim OV-1 Seeker dan AC-119K Destroyer (atau Hunter Killer) dilakukan antara 27 April dan 23 Mei 1970. Data intelijen menunjukkan sebagian besar pergerakan pasukan musuh dilakukan pada malam hari sehingga misi evaluasi diterbangkan. antara jam 8 dan 11 malam. Ketika OV-1 mendeteksi sebuah target, informasi itu disampaikan ke Airborne Battlefield Command and Control Center (ABCCC). ABCCC atau “Alleycat” yang adalah Lockheed HC-130 yang terbang di atas Laos dan digunakan untuk mengoordinasikan pesawat yang terbang di dalam zonanya. Jika gunship tersedia (dukungan pada pasukan yang sedang terlibat kontak senjata (TIC) didahulukan dari semua misi lainnya) dan validasi target dapat diperoleh, ABCCC mengirimkan informasi tersebut ke gunship itu. AC-119K kemudian terbang ke area target dan berusaha mengidentifikasi target menggunakan Forward Looking Infrared (FLIR) atau Night Observation Device (NOD). Tes ini relatif berhasil ketika semua peralatan bekerja dengan baik, namun, hal ini jarang terjadi. Sistem SLAR pada OV-1B rentan terhadap kegagalan dan hanya ada satu pesawat yang ditugaskan untuk detasemen Angkatan Darat di Udorn. Sistem AC-119K juga rentan terhadap kegagalan. Hanya ada tiga Stinger yang ditugaskan di Udorn dan masing-masing dijadwalkan (terpisah) untuk misi setiap malam. Musim berubah dari “musim kemarau” ke “musim hujan” dan beberapa misi dibatalkan karena cuaca buruk. Selain itu, kemampuan deteksi IR OV-1C berkurang dengan meningkatnya kelembaban. Cuaca basah secara virtual menghilangkan kemampuan deteksi IR AC-119K.

Target utama AC-119K Stinger.

Masalah paling serius adalah tim seek and destroy OV-1 / AC-119K adalah aturan yang ada. Karena adanya beberapa insiden friendly fire, hampir semua target yang diidentifikasi oleh OV-1 dilaporkan ke ABCCC yang pada gilirannya menyampaikan informasi tersebut ke kedutaan AS di Laos untuk divalidasi. Setelah divalidasi, informasi target dikirim kembali ke ABCCC yang kemudian akan meminta gunship menghancurkannya. Gunship kemudian diberi wewenang untuk menyerang ke koordinat awal yang pertama kali dilaporkan, tetapi jika target telah bergerak, seluruh proses validasi harus diulang lagi.

Peta posisi pangkalan udara utama Amerika di Vietnam.

Periode tes kedua untuk tim OV-1 / AC-119K adalah antara 19 September dan 19 November 1971 – 16 bulan setelah tes awal. Tes kedua dibentuk secara ad hoc pada awal musim kemarau. Satu formasi besar truk musuh terdeteksi pada pagi hari tanggal 19 September dan Angkatan Darat dengan segera meminta dukungan gunship. OV-1 masih berbasis di Udorn, tetapi AC-119 telah pindah ke Pangkalan Udara Nakhon Phanom (NKP) di Thailand. Meskipun taktik pada dasarnya sama selama periode tes kedua, hasilnya tidak. Informasi yang disuplai OV-1 jumlahnya tidak signifikan dari total serangan yang berhasil. AC-130 “Spectre” gunships telah digunakan saat itu dan sangat efektif dalam menemukan target mereka sendiri dan menghancurkannya tanpa perlu relay rumit dan skema validasi umumnya digunakan pada OV-1. Dengan kegagalan tes Hunter Killer kedua, konsep itu kemudian dibatalkan.

Karir tempur

Phan Rang Air Base, Vietnam

Pada akhir 1969, Wing Operasi Khusus ke-14 memiliki 16 model G dan 12 model K yang beroperasi dari lima pangkalan udara berbeda di seluruh Vietnam. “Dan pada saat itu, kru Shadow dan Stinger telah membangun reputasi tangguh mereka di seluruh Tenggara Asia. Seperti yang disebutkan sebelumnya, AC-119 memiliki dua misi yang sangat berbeda. Model G hanya untuk dukungan TIC dan pertahanan pangkalan udara. Model K digunakan hampir secara khusus untuk peran berburu truk. Beberapa buku menyebutkan bahwa kanon kembar 20mm dapat menghancurkan sebagian besar jenis truk buatan Soviet, tetapi tidak efektif bahkan terhadap tank yang paling ringan sekalipun. Yang tidak diketahui oleh para penulis itu adalah bahwa dalam sebuah misi yang diterbangkan oleh pada tanggal 28 Februari 1971, di mana sebuah Stinger menghadapi tank-tank Vietnam Utara saat mendukung ofensif Vietnam Selatan ke Laos (Lam Son 719). Stinger menghancurkan delapan tank PT-76 Rusia dalam satu misi. AC-119K memiliki catatan luar biasa meskipun menghadapi cuaca buruk di awal musim perburuan dan saat memperoleh permintaan bantuan untuk dukungan darurat atas Situs Lima dan pasukan di darat. Di akhir perang, beberapa model K menghilangkan semua persenjataan 7,62 demi peningkatan jumlah pasokan amunisi untuk kanon 20mm.

AC-119K Stinger in Action.

Stingers dengan cepat menjadi mimpi buruk pengemudi truk Vietnam Utara di Ho Chi Minh Trail di Laos, sebuah taktik baru digunakan di mana kru tempur dan pilot Angkatan Darat menerbangkan pesawat pengawas canggih Mohawk OV-1 mereka yang dibentuk menjadi tim pemburu-pembunuh ad hoc. Konsep hunter-killer-team menyatukan kemampuan sensor terbaikyang dipasang pada OV-1 dan AC-119K, keduanya ditugaskan untuk mencari truk musuh yang lewat di Ho Chi Minh Trail, dimana Stinger ditugaskan untuk menghancurkan target. Karena kedua pesawat terbang di atas wilayah yang sama mencari target yang sama mengapa tidak menggabungkan kedua kemampuan itu? Dengan baik Angkatan Udara maupun Angkatan Darat yang walau tidak secara resmi menyetujui konsep tersebut, keduanya mengizinkan awak pesawat mereka untuk berpartisipasi dalam program uji sebulan dari April hingga Mei 1970.

An Air Force Technician and Staff Sergeant James Hammack working on the AC-119 Gunship Side Looking Radar at Phan Rang.

Lewat 14 kali misi bersama selama periode ini, tim pemburu-pembunuh OV-1/AC-119 menghancurkan atau merusak 60 dari 70 truk yang diserang. “Sementara laporan lapangan menunjukkan tidak semua truk yang hancur berasal dari laporan awal OV-1, namun keseluruhan “truk hancur/rusak” secara total persentasenya melonjak 60 persen dibandingkan dengan yang dicapai ketika AC-119 beroperasi sendirian. ” Lebih mengesankan lagi, hasil ini dicapai hanya dengan koordinasi yang paling singkat dan sederhana antar kedua awak pesawat itu. Tampaknya tes ini menjadi awal yang menjanjikan. Sayangnya, konsep tim pemburu-pembunuh-tidak ditakdirkan untuk bertahan lama. Kerja sama apa yang bisa dilakukan oleh awak pesawat di lapangan tidak diulangi oleh kantor pusat masing-masing. Angkatan Udara Ketujuh enggan untuk menempatkan pesawatnya dalam hubungan komando dibawah awak kapal udara Angkatan Darat, sementara Angkatan Darat sama-sama benci untuk melihat Angkatan Udara mendapatkan semua kredit untuk peningkatan jumlah penghancuran truk. Kerjasama Ad hoc ini hanya berlangsung selama beberapa bulan lebih lama sebelum dihentikan karena kurangnya dukungan.

A gunship crew planning a mission

Untuk waktu yang singkat perhatian dialihkan dari Laos yang “kaya target”, ketika aktivitas relatif musuh yang pasif di Vietnam Selatan berakhir tiba-tiba pada bulan Mei, dengan adanya serangan besar-besaran terhadap kamp-kamp milisi pemerintah yang terisolasi di Dak Pek dan Dak Seang. Terbang sebanyak 147 sorti dalam tujuh minggu, AC-119G dan K menghabiskan lebih dari dua juta amunisi minigun dan hampir 22.000 peluru kanon 20mm untuk mempertahankan kamp. Ketika serangan berakhir, kamp masih bertahan.

Sands working on AC-119 fire control systems at Phan Rang.

Masalah dengan AC-119 tidak terlalu banyak, sebagian besar disebabkan oleh organisasi yang buruk atau persaingan antar satuan. Masalah lain muncul dengan model K ketika Angkatan Udara ke-7 menempatkan mereka terlalu jauh dari daerah target mereka untuk bisa menjadi efektif. Flight type K memiliki pangkalan di DaNang, Phu Cat dan Phan Rang. Dari DaNang, kru K memiliki waktu 1 3/4 jam di atas target; dari Phu Cat – 1 jam; dan dari Phan Rang, target tidak dapat dijangkau! Sebuah penerbangan yang berbasis di Ubon adalah tempat paling logis untuk model K karena sangat dekat dengan Ho Chi Minh Trail dan dukungan untuk AC-119K dapat berasal dari SOS ke-16, yang juga berbasis di Ubon. Tapi ini tidak pernah terjadi. Namun, setelah pertarungan singkat antara orang-orang larangan dan orang-orang pendukung TIC, dua flight type K dipindahkan – pertama ke Udorn, kemudian ke Nakhon Phanom. Dari kedua pangkalan tersebut, Stinger dapat berkeliaran di Ho Chi Minh Trail sesuka hati tetapi bukan tanpa konsekuensi. Permintaan yang besar akan dukungan AC-119K untuk operasi darat dan penyerangan jalur pasokan musuh pada musim kering berkontribusi pada beberapa kerugian awal AC-119.

A gun computer on board the AC-119G

Yang pertama terjadi pada 19 Februari 1970, ketika Stinger menabrak landasan di Da Nang saat kembali dari misi tempur. Pendekatan terakhir telah berjalan normal sampai roda pendaratan dan flaps turun sekitar dua mil di ketinggian 500-600 kaki. Hilangnya daya secara tiba-tiba pada jet dan mesin di sisi kiri, tampaknya karena habisnya bahan bakar, mencegah pilot mempertahankan kontrol arah dan ketinggian. Kecelakaan itu menghancurkan pesawat tetapi para awak berhasil menyelamatkan diri dengan hanya menderita luka ringan. AC-119K lain hampir hilang ketika peluru 37mm menghancurkan bagian hidung saat pesawat bertugas beberapa mil di utara Ban Bak, Laos. Kekhawatiran tentang kerentanan AC-119K terhadap tembakan antipesawat, khususnya tembakan yang banyak ditemui pada jalan dan jalur pasokan di Laos, menyebabkan digunakannya sistem pengawalan tempur seperti yang digunakan pada operasi AC-130. F-4 Phantom dari Fighter Wing taktis ke-366 di Da Nang menerbangkan pengawalan dan penyerangan situs-situs anti-pesawat untuk semua penerbangan pengintaian bersenjata Stinger. Pada puncak “musim” berburu truk, Tactical Fighter Wing (TFW) ke-366 rata-rata melakukan enam sorti pengawal per malam.

Flare launcher

Skuadron Operasi Khusus ke-18 kehilangan pesawat kedua pada malam 6 Juni 1970. Tak lama setelah pesawat lepas landas dari Da Nang, baling-baling mesin kiri tidak terkendali. Pilot mencoba untuk kembali ke pangkalan tetapi situasinya memburuk dan para kru bail out di Laut Cina Selatan di sebelah timur Da Nang. Pesawat kosong itu terus melaju ke arah laut, menciptakan kegembiraan sesaat karena tampaknya menuju Pulau Hainan, Cina. Stinger jatuh di tempat yang tidak diketahui. Semua anggota kru kecuali satu berhasil diselamatkan.

IR light on the AC-119G

Pada malam 8 Mei 1970 sebuah aksi luar biasa dari crew “Stinger 21” yang beroperasi di Ban Ban, Laos, berhasil membawa kembali gunship mereka meskipun mengalami kerusakan besar akibat artileri anti pesawat (triple-A). Kapten Alan D. Milacek dan krunya yang beranggotakan sembilan orang telah memeriksa kembali ruas jalan yang dipertahankan kuat di dekat Ban Ban, laos, ketika mereka menemukan, menyerang dan menghancurkan dua truk. Kapten James A. Russell dan Kapten Ronald C. Jones, operator sensor, menemukan tiga truk lagi. Saat pesawat membelok ke orbit serangan, enam posisi musuh terlihat dengan diikuti rentetan tembakan triple-A. Kopilot, Kapten. Brent C. O’Brien, memberi kesempatan para pesawat pengawal untuk melakukan serangan dan gunship itu berputar ketika F-4 bekerja menyerang triple-A lawan. Di tengah-tengah tembakan berat musuh Kapten Milacek melanjutkan serangan dan menghancurkan truk lain. Pada pukul 0100, hanya sekitar 2 jam setelah misi dimulai “seluruh kompartemen kargo menyala” ketika peluru musuh merobek sayap kanan Stingers tiba-tiba pesawat menukik dan Milacek memanggil, “Mayday, Mayday, Mayday, kita akan jatuh.” Dia meneriakkan perintah kepada SSgt Adolpho Lopez, Jr., IO (Operator Illuminator), untuk membuang peluncur suar. Kapten Milacek memerintahkan seluruh kru untuk bersiap-siap untuk terjun. Ketika pesawat itu jatuh sekitar 1.000 kaki dalam beberapa detik, Kapten Milacek dan O’Brien mengumpulkan kekuatan mereka untuk menarik pesawat keluar dari posisi menukik. Dengan menggunakan kemudi kiri penuh, aileron kiri penuh, dan daya maksimum pada dua engine kanan, mereka mendapatkan kembali penerbangan yang stabil. Kekuatan mesin penuh memicu kobaran api setinggi 2 hingga 3 kaki memberi penembak musuh pengarah saat Stinger yang lumpuh itu mati-matian terbang menuju wilayah kawan. Navigator, Kapten Roger E. Clancy, memberi informasi arah yang tepat ketika memperingatkan juga bahwa pesawat mereka terbang terlalu rendah untuk melewati beberapa gunung yang menjulang di antara mereka dan lokasi aman untuk mendarat. Terlebih lagi, para kru menemukan bahwa konsumsi bahan bakar kemungkinan akan habis sebelum mencapai pangkalan. Awak kemudian membuang setiap item yang mungkin untuk meringankan beban dan pesawat perlahan naik hingga 10.000 kaki. TSgt Albert A. Nash, insinyur penerbangan, melaporkan tingkat konsumsi bahan bakar telah turun. Kapten Milacek memilih untuk mendaratkan pesawat yang rusak dan ketika dia mendekati area pangkalan dia menjalankan pengamatan cermat. Dia menemukan bahwa kemudi dan aileron kiri yang hampir digunakan maksimal akan memungkinkan dia untuk tetap memegang kendali. Dengan kerusakan flap yang tidak pasti, Milacek memilih pendekatan pendaratan no-flap pada 150 knot (biasanya 117 knot). Dengan memanfaatkan hampir setiap keterampilan pilot yang dimilikinya, dia berhasil mendaratkan pesawat dengan selamat. Setelah meninggalkan Stinger 21, para kru melihat sekitar sepertiga dari sayap kanan (bagian sepanjang 14 kaki dan aileron) telah robek. Kepala Staf Angkatan Udara kemudian memberi Kapten Milacek dan kru Trofi Mackay 1970 “untuk penerbangan paling berani tahun ini.”

The photo is of a broken Gunship. This photo was given to Sergeant Sands by another photographer in Vietnam.

Untungnya, kerugian pesawat dan awak pesawat dalam program tempur AC-119 terhitung sedikit. Sebuah fakta yang secara langsung berkaitan dengan keahlian luar biasa dari para awak gunship dan sistem pengawalan tempur. AC-119 sama serbagunanya dengan AC-130, hanya saja tidak terlalu kuat dipersenjatai. Mereka beroperasi di setiap peran normal gunship; mulai dari dukungan TIC malam, dukungan TIC siang, pertahanan pangkalan, misi FAC malam, pengintaian bersenjata malam hari, flareship, dll. Tetapi era mereka telah berakhir. Pada 30 September 1971, SOW ke-14 dinonaktifkan, dan pada akhir 1972, intensitas perang mulai berkurang untuk skuadron Shadow/Stinger. AC-130 mulai berdatangan dalam jumlah yang terus bertambah dan kecuali untuk beberapa AC-119G, dan sedikit AC-119K, diserahkan kepada VNAF, AC-119 gunship tidak akan bertarung lagi bersama crew Amerika.

This photo is from Robert Branscomb, crew member of Shadow 77. In the photo from left to right are Major Thomas H. Cougill(P), Maj. Paul Maxwell (C/P), Capt. John McGary (Nav/NOS), Capt. James Davis (NOS/Nav), SSgt. Bart H. Dye (F/E), SSgt. Robert Branscomb (I/O), SSgt. Thomas Newbold (A/G), Sgt. Russell Steffensmeier (A/G).

Bagaimanapun mereka telah menjadi satuan tempur yang sangat efektif dalam waktu keterlibatan mereka yang singkat dalam perang. Dalam 6 bulan terakhir tahun 1970, Stinger menghancurkan 275 kendaraan dan merusak 275 lainnya. Pada 16 Desember 1970, sebuah AC-119K mencatat rekor tahun itu dalam menghancurkan atau merusak armada truk musuh dalam satu sortie, yakni 29 truk dihancurkan dan 6 lainnya dirusakkan. Dalam periode yang sama mereka juga menghancurkan 279 sampan dan merusak 64 lainnya. Namun harap diketahui masa itu adalah masa musim penghujan, dimana arus lalu lintas truk logistik tidak seramai di musim kering. Sementara itu dalam mendukung pasukan darat, Stinger mencatat 329 enemy confirmed kill pada tahun 1970. Sebagai tambahan dalam 3 bulan pertama di tahun 1970, AC-119K mencatat total 1.845 kendaraan musuh dihancurkan atau dirusakkan.

Captain Bob Reess in the cockpit of a 71st SOS AC-119G gunship in Vietnam.

Pada tahun 1972, Pentagon telah memberikan sebagian besar AC-119 ke Angkatan Udara Vietnam Selatan. Angkatan Udara mengirim banyak AC-47 yang lebih tua ke sekutu Amerika lainnya di Asia Tenggara dan Amerika Latin. Selama perang hanya 5 AC-119 (dari kedua tipe) yang hancur karena berbagai sebab.

Patch Crew AC-119K Stinger
71st SOS Glossary of Terms in Vietnam
Jalur Ho Chi Minh Trail

SPESIFIKASI

AC-119G SHADOW

Type: AC-119G Shadow, fixed wing gunship
Number Built/Converted: 26
Remarks: Gunship version of C-119
Serial numbers:
52-5898, 52-5905, 52-5907, 52-5925, 52-5927, 52-5938, 52-5942, 53-3136, 53-3136, 53-3145, 53-3170, 53-3178, 53-3189, 53-3192, 53-3205, 53-7833, 53-7848, 53-7851, 53-7852, 53-8069, 53-8089, 53-8114, 53-8115, 53-8123, 53-8131, 53-8155

SPECIFICATIONS
Span: 109 ft. 3 1/4 in.
Length: 86 ft. 5 3/4 in.
Height: 26 ft. 7 3/4 in.
Weight: 62,000 lbs. max.
Armament: Four SUU-11A 7.62 mm “miniguns” with 50,000 rounds of ammunition for daytime missions; 35,000 rounds and 60 MK 24 flares (max.) for night missions. Later, the SUU-11A’s were replaced by General Electric MXU-470/A gun modules. The AC-119G was equipped with a computerized fire control system (FCS) with fully auto, semi-auto, manual and offset firing capabilities. The Shadow also has a 1.5 million candlepower Illuminator with a variable beam
Engines: Two Wright Wright R-3350s of 3,500 hp. ea.
Crew: Six (day) or eight (night) – pilot, copilot, navigator, night observation sight (NOS) operator, flight engineer, illuminator operator, two gunners

PERFORMANCE
Combat speed: 130 knots
Cruising speed: 180 knots
Duration: approximately 6 hours (plus 30 minutes reserve)
Attack altitude: approximately 3,500 ft. above ground level.

AC-119K STINGER

Type: AC-119K Stinger, fixed wing gunship
Number Built/Converted: 26
Remarks: Improved the AC-119G
Serial/Tail Numbers:
52-5864, 52-5889, 52-5910, 52-5911, 52-55926, 52-5935, 52-5940, 52-5945, 52-9982, 53-3154, 53-3156, 53-3187, 53-3197, 53-3211, 53-7826, 53-7830, 53-7831, 53-7839, 53-7850, 53-7854, 53-7877, 53-7879, 53-7883, 53-8121, 53-8145, 53-8148

SPECIFICATIONS
Span: 109 ft. 3 1/4 in.
Length: 86 ft. 5 3/4 in.
Height: 26 ft. 7 3/4 in.
Weight: 80,400 lbs.
Max. Armament: Four SUU-11A 7.62 mm “miniguns” with 21,500 rounds of ammunition. Two M61-A1 20 mm vulcan cannons with 3,000 rounds of ammunition. 24 MK 24 flares and an LAU-74/A flare launcher. Later, the SUU-11A’s were replaced by General Electric MXU-470/A gun modules. The AC-119K was equipped with a computerized fire control system (FCS) with fully auto, semi-auto, manual and offset firing capabilities. The Stinger also had a 1.5 million candlepower illuminator with a variable beam, APQ-136 forward looking radar, AAD-4 forward looking infrared radar (FLIR), APQ-25/26 electronic countermeasures (ECM) warning device, and AN/APQ-133 Beacon Tracking Radar (removed in December 1970).
Engines: Two Wright R-3350s of 3,500 hp. ea. and two General Electric J85-GE-17 turbojets of 2850 lbs. thrust each
Crew: Ten – pilot, copilot, navigator, night observation sight (NOS) operator, radar/FLIR operator, flight engineer, illuminator operator, three gunners.

PERFORMANCE
Combat speed: 180 knots
Duration: approximately 5 hours (plus 30 minutes reserve)
Attack altitude: Approximately 3,500ft. above ground level (AGL) for close air support; 5,500ft AGL for ground attack in areas without AAA and 7,000ft AGL in areas with AAA.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

Who Knows What Evil Lurks? The Shadow Knows, A history of the AC-119G Shadow gunship 
https://www.456fis.org/AC-119G_SHADOW.htm

A History of The AC-119K Stinger Gunship https://www.456fis.org/AC-119K_STINGER.htm

Gunship History 101: Between Spooky and Spectre There Were Shadow And Stinger
https://www.google.com/…/gunship-history-101-between-s…/amp/

During the Vietnam War, U.S. Air Force Gunships Blasted Enemies With Old Bullets
https://medium.com/…/during-the-vietnam-war-u-s-air-force-g…

AC-119K Stinger
https://www.globalsecurity.org/…/syste…/aircraft/ac-119k.htm

Gunship History 101: Between Spooky and Spectre There Were Shadow And Stinger

https://www.google.com/amp/s/www.avgeekery.com/gunship-history-101-between-spooky-and-spectre-there-were-shadow-and-stinger/amp/

71ST SPECIAL OPERATIONS SQUADRON IN VIETNAM

http://www.atterburybakalarairmuseum.org/71st-sos—in-vietnam.html?fbclid=IwAR3SywlsQJ5K1yIduX9ecNp4Y08L3Z0dgbutfS3BmkLepWY4WFReehOQ_R0

One thought on “Project Gunship III: AC-119G “Shadow” & AC-119K “Stinger”, the Vietnam War Truck Buster

  • 22 October 2020 at 9:34 am
    Permalink

    Can I just say what a reduction to search out someone who truly is aware of what theyre talking about on the internet. You definitely know the way to bring a problem to light and make it important. Extra people need to learn this and perceive this facet of the story. I cant believe youre not more popular since you positively have the gift.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *