Rangers Lead The Way: Kisah Pertempuran Merebut Bendungan Hadhita Di Irak (1-10 April 2003)

Pada tanggal 1 April 2003, Kompi B, Batalyon Ranger ke-3, Resimen Ranger ke-75, menyerbu kompleks Bendungan Al-Qadisiyah (Hadithah) di barat laut Baghdad. Misi mereka adalah untuk mencegah Saddam Hussein dan pasukannya menghancurkan bendungan itu. Jika bendungan itu dijebol, banjir yang diakibatkan tidak hanya akan menghalangi gerak maju Divisi Infanteri ke-3 melalui jalur Karbala dalam perjalanan ke Baghdad, tetapi juga menghancurkan rumah-rumah penduduk dan pusat-pusat pertanian di dataran rendah. Namun, Pasukan Rangers kemudian membuktikan keefektifan mereka sebagai pasukan penyerang dengan bertempur dan memenangkan pertempuran sengit selama seminggu untuk mencegah penundaan strategis dari pihak musuh, serta mencegah terjadinya bencana kemanusiaan dan lingkungan. 

Sebuah helikopter Blackhawk terbang di atas Bendungan Haditha, yang menyediakan listrik untuk sepertiga kebutuhan listrik Irak. Dalam Operasi Pembebasan Irak tahun 2003, salah satu tugas utama dari pasukan khusus Amerika adalah melindungi elemen-elemen penting dari infrastruktur Irak, sehingga tidak dihancurkan oleh pasukan Rezim Saddam Hussein. (Sumber: https://www.tactical-life.com/)

LATAR BELAKANG

Beberapa minggu pertama Operasi Pembebasan Irak (Operation Iraqi Freedom/OIF) adalah waktu yang sibuk, dan orang-orang Amerika dapat dipahami jika mereka melewatkan isi pengarahan CENTCOM (Komando Pusat Militer Amerika) pada tanggal 1 April yang mengumumkan direbutnya Bendungan besar Haditha dan Jembatan Jalan Raya Ramadi. Bagdad waktu itu sudah hampir jatuh, sementara pasukan SOF AS di bagian utara Irak melakukan ofensif untuk merebut ladang minyak Kirkuk, dan direbutnya dua buah infrastruktur Irak itu tampak seperti hal yang sepele. Faktanya perebutan Bendungan Haditha sama sekali bukanlah hal yang sepele. Ide perebutan Bendungan Haditha sesungguhnya sudah ada jauh sebelum dimulainya OIF, dimana senantiasa menjadi pikiran perencana koalisi adalah taktik “bumi hangus” yang digunakan oleh Saddam Hussein selama Operasi Badai Gurun pada tahun 1991. Di awal perang itu, pasukannya telah membanjiri kawasan Teluk Persia dengan minyak mentah untuk menghancurkan daerah penangkapan ikan serta mencemari pabrik desalinisasi. Kemudian Saddam juga diketahui memerintahkan penghancuran ladang minyak Kuwait dengan meledakkan sumur-sumur minyak utama. Jadi, bersama dengan target yang jelas bisa diprediksi seperti ladang minyak di dekat Basra dan Kirkuk, para perencana CENTCOM mulai melihat infrastruktur-infrastruktur yang mungkin memiliki nilai di Irak pascaperang, dan efek destruktifnya di masa perang. Jembatan, pembangkit listrik, dan segala macam struktur modern dimasukkan ke dalam basis data, bersama dengan gagasan tentang cara menetralkan atau merebutnya. Dan di bagian paling atas daftar itu adalah Bendungan Haditha di atas Sungai Efrat. 

Dalam Perang Teluk tahun 1991, Saddam Hussein terbukti nekad dalam melakukan taktik bumi hangus saat mundur dari Kuwait, dengan membakar sumur-sumur minyak yang ada di Kuwait. Dalam invasi tahun 2003, pasukan Amerika ingin sedapat mungkin mengamankan aset-aset infrastruktur penting yang bisa dihancurkan pasukan Irak sesegara mungkin. (Sumber: https://www.theatlantic.com/)

Sebagai salah satu bendungan terbesar di dunia, kompleks Haditha menyediakan sepertiga dari beban jaringan listrik Irak pada tahun 2003. Terletak di barat laut Baghdad, bendungan ini dibangun selama Perang Dingin untuk menyediakan tenaga air bagi kawasan Irak tengah, termasuk Baghdad. Bendungan Haditha juga mengendalikan aliran Sungai Efrat ke hilir Lembah Sungai Efrat / Tigris. Kota Haditha sendiri ditempati oleh sekitar 75.000 penduduk dan terdapat 28 sekolah. Keberadaan bendungan ini, pada kenyataannya, menjadi ketakutan besar di antara para perencana strategi CENTCOM; dimana ada kemungkinan Saddam akan memerintahkan agar pintu air di bendungan tersebut dibuka atau bendungan itu dihancurkan sama sekali, sehingga aliran airnya membanjiri seluruh bagian tengah Lembah Sungai Efrat / Tigris, yang kemudian akan menciptakan bencana ekologi dan kemanusiaan di sekitar wilayah Baghdad, Karbala, dan daerah berpenduduk lainnya. Masalah yang dihadapi oleh CENTCOM adalah bahwa Bendungan Haditha sangat jauh dari daerah perbatasan negara kawan, dan sama sekali tidak dapat diakses. Namun, situasi itu berubah pada akhir bulan Maret 2003. Sejak awal perencanaan di CENTCOM untuk OIF, unit SOF telah dilihat sebagai unsur penting dalam invasi ke Irak. Setelah kampanye Afganistan yang brilian pada musim gugur 2001, pasukan SOF Amerika memiliki kredibilitas untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan kepada mereka. Yang paling penting di antaranya adalah upaya netralisasi rudal balistik potensial Irak yang dipersenjatai dengan hulu ledak senjata pemusnah massal (WMD). Ditembakkan dari wilayah Irak barat, rudal-rudal ini mungkin digunakan untuk menyerang sasaran di Israel dan negara-negara sahabat di kawasan lainnya dalam upaya untuk memecah belah koalisi sekutu. Solusi untuk masalah ini adalah dengan melakukan pembentukan Gugus Tugas Operasi Khusus Gabungan – Barat (CJSOTF-W). 

John Mulholland, Komandan Gugus Tugas Operasi Khusus Gabungan – Barat (CJSOTF-W) dalam Operasi Iraqi Freedom tahun 2003. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

CJSOTF-W adalah kekuatan campuran Pasukan Khusus Angkatan Darat AS (SF), Special Air Service Inggris dan Australia (SAS), elemen Resimen Penerbangan Operasi Khusus (SOAR) ke-160, dan pesawat-pesawat dari Angkatan Udara AS (USAF), Royal Air Force (RAF), dan Royal Australian Air Force (RAAF). Satuan-satuan ini kemudian bergabung dengan beberapa formasi infanteri seukuran batalion lainnya, termasuk Batalyon ke-3 dari Resimen Ranger ke-75 (Ranger Ke-3 / ke-75). CJSOTF-W juga memiliki kekuatan udaranya sendiri, yang termasuk tiga skuadron dari satuan Air National Guard yang dilengkapi dengan pesawat tempur multirole F-16 dan pesawat serang darat A-10 yang dimodifikasi dengan penambahan pod penargetan Litening III buatan Israel. Semua unit CJSOTF-W, termasuk detasemen kecil zeni dan pasukan pertahanan udaranya, bermarkas di negara tuan rumah yang berdekatan dengan Irak. Komandan CJSOTF-W, Kolonel John Mulholland (yang sebelumnya pernah menjadi komandan Task Force Dagger di Afghanistan utara), memiliki niat untuk menggunakan semua aset yang dimiliki secara maksimal. Misi CJSOTF-W adalah menyapu wilayah Irak barat untuk menemukan dan menetralkan setiap rudal balistik taktis (TBM) yang dipersenjatai dengan hulu ledak senjata pemusnah massal. CJSOTF-W juga akan ditugaskan untuk mengambil alih sejumlah lapangan udara dan target penting, jika kondisi memungkinkan. Di Wilayah Irak barat, CJSOTF-W berhasil mencapai beberapa tujuan yang direncanakan dengan relatif mudah, yakni diantaranya mereka berhasil mengambil alih dua lapangan udara (H2 dan H3) dan dengan cepat mengetahui bahwa tidak ada rudal balistik taktis atau WMD yang dapat ditemukan. Namun demikian, CJSOTF-W memiliki target lain yang harus mereka dapatkan dengan cepat, dengan satuan Rangers ke-3/75 akan memegang peranan penting. 

Pangkalan Udara H1 di Irak Barat menjadi pangkalan aju bagi Pasukan Ranger dalam Operasi Iraqi Freedom. (Sumber: https://www.globalsecurity.org/)
Layout Bendungan Haditha. (Sumber: https://www.researchgate.net/)

Pada malam tanggal 24 Maret, Kompi C dari Rangers ke-3 / 75 terjun dekat Al Qaim di perbatasan Suriah, dan merebut sebuah lapangan terbang kecil. Kemudian, pada 27 Maret, Kompi B yang naik helikopter-helikopter dari SOAR ke-160 untuk menyerbu Pusat Penelitian Al Qadisiyah (“Objective Beaver”), yang diduga merupakan sebuah fasilitas pengujian WMD. Akhirnya, pada tanggal 28 Maret, Kompi A dari Rangers ke-3/75, dengan diperkuat dengan para pasukan zeni dan pengendali tempur USAF, dibawa dengan pesawat transport jet C-17 dan terjun ke H1 Airfield (“Objective Serpent”), pangkalan udara paling utara dari unit pesawat-pesawat tempur Irak. Hanya dalam waktu 10 hari sejak dimulainya OIF, CJSOTF-W telah menguasai sepertiga dari bagian barat Irak. Mulholland kemudian dengan cepat memindahkan markas CJSOTF-W ke Lapangan Udara H1 dan mulai mempertimbangkan perebutan target-target baru dibawah komandonya. Perebutan cepat Lapangan Udara H1 tiba-tiba menempatkan beberapa infrastruktur penting dalam jangkauan CJSOTF-W. Dua target paling utama adalah bagian terpenting dari fasilitas umum di seluruh Irak, yakni: Jembatan Jalan Raya Ramadi dan Bendungan Haditha. Jembatan Jalan Raya Ramadi adalah satu dari hanya dua jembatan penyeberangan di Sungai Efrat yang mampu menopang beban berat melalui jalur darat dari wilayah Yordania; kehancuran atau pemblokirannya akan membuat suplai atas kota-kota di Irak tengah menjadi mustahil untuk dilakukan pada hari-hari pertama ketika rezim Saddam Hussein berhasil dijatuhkan. Yang lebih penting dibanding jembatan itu, bagaimanapun, adalah Bendungan Haditha (“Objective Lynx”). Selain menyediakan infrastruktur pengendalian banjir dan sepertiga dari kapasitas pembangkit listrik Irak, bendungan itu juga menjadi satu-satunya jalur penyeberangan Sungai Efrat di barat Baghdad. Sebagai bonus tambahan, pengambilan kedua target itu akan membantu menarik perhatian sebagian pasukan Irak dari pertahanan kota Baghdad sendiri, yang sedang diserang oleh Korps ke-V. Namun, orang-orang Irak bukannya mengabaikan begitu saja nilai bendungan tersebut, dan mereka secara mengejutkan telah menempatkan kekuatan pertahanan yang kuat di sekitar bangunan tersebut, yang mana termasuk: 

  • Satuan Lapis Baja, yang terdiri dari empat kompi lapis baja, dengan sekitar 44 tank T-55 buatan Rusia dan kendaraan tempur pengangkut personel infanteri BMP-1. 
  • Satuan Infantri: Meskipun hanya ada satu kompi pasukan pengamanan yang terdiri dari sekitar 120 prajurit yang ada di dekat bendungan itu sendiri, namun terdapat juga 6.000 tentara Irak yang berada dalam jarak sekitar 30 kilometer dari lokasi. 
  • Artileri: Diperkirakan terdapat 14 howitzer GHN-45 155 mm buatan Afrika Selatan yang hebat dan mendukung langsung pertahanan bendungan itu. Orang-orang Irak juga diketahui memiliki banyak mortir yang ditempatkan di sekitar area Haditha. 
  • Pertahanan Udara: Beberapa peluncur rudal permukaan-ke-udara (SAM) Roland buatan Prancis-Jerman yang dipasang di truk juga dikerahkan di daerah Haditha, bersama dengan hampir selusin baterai artileri anti-pesawat (AAA) S-60 kaliber 57 mm buatan Soviet dan hampir 70 buah senjata AAA (Anti Pesawat) ringan.

Semua hal diatas menjadikan Bendungan Haditha sebagai salah satu target penting dengan pertahanan yang paling ketat di seluruh Irak.

Tank T-55 Irak. Meskipun bukan tank canggih pada tahun 2003, namun bagaimanapun Tank senantiasa menjadi lawan yang berat bagi pasukan bersenjata ringan seperti Resimen Ranger ke-75. (Photo by SPC Maria Mengrone, 100th MPAD, U.S. Army/https://warisboring.com/)
Kendaraan Tempur Pengangkut Personel BMP-1 milik Irak. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
Howitzer GHN-45 kaliber 155 mm. (Sumber: https://weaponsparade.com/)
Irak diketahui mengoperasikan beberapa sistem rudal SAM Roland yang ditempatkan diatas chasis AMX-30. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

PERSIAPAN

Kompi B tiba di H1, sebuah lapangan terbang berdebu di barat-tengah Irak, pada tanggal 29 Maret 2003. Di sana, mereka bergabung dengan sebagian besar Batalyon Ranger Ke-3, yang telah diterjunkan lima hari sebelumnya. Namun, para pendatang baru hanya punya sedikit waktu untuk bereuni dengan kawan-kawannya, karena mereka hampir dengan segera diperintahkan untuk pindah ke Objective Lynx — yakni Hadithah Dam. Misi dari Batalyon ke-3 adalah untuk menarik perhatian Tentara Irak dari bendungan, sehingga pasukan operasi khusus dapat menyeberang dan mengamankan fasilitas tersebut. Setidaknya, itulah rencananya. Pada tanggal 30 Maret, Kapten (CPT) David Doyle memimpin Kompi B, dan seksi mortar berat kaliber 120 mm, dari H1 ke lapangan udara di gurun terpencil (Desert Landing Strip/DLS) dengan mengendarai Ground Mobility Vehicles (GMV – HMMWV yang dimodifikasi khusus dan bersenjata berat) untuk mengisi bahan bakar dalam perjalanan ke situs Remain Over Day (ROD). CPT Doyle segera mengetahui bahwa misinya terus berkembang dari menit ke menit, karena saat di DLS kompinya dilengkapi dengan satu peleton dari Kompi C dan unit dari pusat operasi taktis Batalyon ke-3 (TOC) II, yang terdiri dari: seorang Air Force enlisted terminal attack controller (ETAC), seorang physician assistant (PA), Command Sergeant Major (CSM), dan battalion’s executive officer (XO), serta sepasang tim sniper. Setelah semua kendaraan diisi bahan bakar dan ditempatkan, konvoi yang terdiri dari tujuh belas kendaraan dan sekitar 140 prajurit Ranger menembus malam tanpa bulan. 

GMV – HMMWV yang dilengkapi dengan senjata peluncur granat otomatis MK-19 kaliber 40 mm. Dalam misi merebut Bendungan Haditha, pasukan Ranger menggunakan kendaraan serupa. (Sumber: https://www.americanspecialops.com/)

Kompi Ranger tiba di lokasi ROD tepat saat matahari menyambut hari baru. Saat mengumpulkan informasi intelijen tentang lokasi musuh dan kekuatan pasukan, CPT Doyle menerima pesan dari Mayor (MAJ) Kilburn (nama samaran), batalion XO; pada pukul 1400, Kompi B telah menerima perintah terpisah yang dikirimkan secara digital untuk merebut Bendungan Hadithah dan mencegah penghancurannya. Kembali ke lokasi ROD, CPT Doyle mengumpulkan Sersan Pertama, MAJ Kilburn, dan SFC Stanley Morgan (nama samaran), perwira non-komisioner pendukung penembakan, untuk menyusun rencana. Membuka buku pegangan Ranger yang sudah usang di kap kendaraannya, Doyle dengan cepat membuat perintah operasi. Para pemimpin peleton dengan cepat membuat catatan saat Doyle menetapkan rencananya di peta, dan kelompok itu mengamati foto-foto yang tersedia. Waktu itu pukul 1730. Para Ranger memperkirakan bahwa bendungan itu akan dipertahankan dengan sangat baik, oleh setidaknya satu peleton pasukan musuh di Objective Lynx, dan kompi mekanis di sebelah selatan, dekat desa Hadithah. CPT Doyle menguraikan rencananya: Peleton Kedua akan memimpin serangan utama, merebut pijakan di bendungan dan membersihkan bagian dalam kompleks bendungan; Peleton Pertama akan melakukan serangan pendukung, dengan merebut dataran tinggi yang mendominasi di sebelah barat bendungan; dan peleton Kompi B, Peleton Ketiga, Kompi C, akan membersihkan Objective Cobalt, sebuah area di selatan struktur bendungan yang terdiri dari bangunan pembangkit listrik dan lapangan transformator. Rencananya membutuhkan aksi yang dieksekusi dengan cepat, dan Doyle memproyeksikan operasi akan berlangsung dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, setelah itu pasukan Doyle akan digantikan dan kembali ke H-1.

Dalam perjalanan menuju Bendungan Haditha, pasukan ranger dilindungi oleh helikopter-helikopter ringan bersenjata AH-6 Little Bird dari 160th SOAR “Night Stalker”. (Sumber: http://www.military-today.com/)

Percaya bahwa mereka hanya punya waktu dua jam untuk bersiap, para pemimpin peleton dan pemimpin regu lebih jauh mendefinisikan misi unit mereka dan menyebarluaskan rencana terkoordinasi mereka. Sementara para personel Rangers bergegas untuk menyelesaikan rincian operasional mereka, sepasang helikopter serang AH-6 Little Bird tiba di lokasi persiapan untuk memberikan pengawalan udara dan dukungan udara jarak dekat untuk pasukan penyerang. CPT Doyle menjelaskan rencananya kepada pilot Resimen Penerbangan Operasi Khusus (SOAR) ke-160 dan mengubah rencana dukungan tembakan. Setelah beberapa kali penundaan koordinasi, Rangers akhirnya bergerak pada pukul 2240, dua jam lebih lambat dari yang direncanakan. Dengan Letnan Satu (1LT) Graham White memimpin didepan, konvoi menuju timur laut menuju malam, mengikuti rute yang dirancang untuk menghindari konsentrasi pasukan musuh. Medan semakin berbahaya saat mereka mendekati bendungan, dengan gurun tandus berubah menjadi bukit-bukit yang tertutup semak belukar dan wadi kering (batu-batu kerikil). Konvoi kehilangan pengawalan udaranya ketika terdapat gearbox kendaraan konvoi yang rusak (dan kemudian diperbaiki dengan mengkanibal suku cadang dari tiga kendaraan lain) menunda kemajuan hingga titik di mana helikopter-helikopter Little Birds harus pergi meninggalkan mereka untuk melakukan pengisian bahan bakar. Dengan Flight Little Bird pengganti yang menyediakan pengintaian, pasukan Rangers menembus penghalang terakhir, berlomba untuk mencapai bendungan sebelum siang hari tiba. 1LT White dan pengemudinya, Sersan (SGT) Thomas Corley (nama samaran), kemudian memandu formasi melalui celah sempit di pagar yang dibongkar, dan bergerak diatas jalan kerikil yang ditinggikan, yang dengan cepat membawa ke jalan dengan jurang tiga puluh kaki ke bawah di setiap sisi. White dengan putus asa berusaha mencari jalan berkerikil yang akan membawa mereka ke bendungan. Kemudian, seolah-olah seperti di film, dia menemukannya: terdapat jalan berkerikil, dan jalan aspal dua ratus meter lebih jauh. Ini adalah jalan untuk melakukan serangan itu. Para Rangers dengan cepat mengurangi jarak antar kendaraan, dan bergerak cepat menuju sasaran dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam. Saat mereka mendekati bendungan sepanjang enam mil, para Ranger mengenali jalur pembuangan air, derek bendungan, dan menara masuk yang tinggi di kedua sisi pembuangan air. Bendungan itu sendiri adalah struktur beton besar yang menjulang lebih dari lima belas lantai bangunan di atas tanah, dan memiliki enam jalur pembuangan air utama. Konvoi kemudian berpisah dan para Rangers mengikuti rencana penyerangan, setiap peleton berfokus pada tujuan yang telah ditetapkan.

OBJECTIVE LYNX 

Membagi Peleton ke-2 menjadi dua elemen, 1LT White memimpin satu bagian menuju menara administrasi barat, dan sersan peletonnya, Sersan Kelas Satu (SFC) Jeffrey Duncan, memimpin bagian lainnya ke arah timur melintasi jalan lintas bendungan. Berjuang dalam menembus kegelapan, para Rangers yang menggunakan kacamata night-vision mereka mendapatkan keuntungan besar selama tahap awal penyerangan. Ranger terdepan di elemen Duncan turun dari kendaraan mereka di dekat pintu masuk barat bendungan, dan berhenti sejenak untuk menentukan arah. Melihat dua penjaga bersenjata Irak dengan perangkat penglihatan malamnya (“Nods”), lead vehicle gunner Specialist (SPC) Watson mengarahkan senapan mesin M2 kaliber .50 ke arah mereka. Sambil menahan tembakan dan meneriakkan perintah dalam bahasa Arab, Sersan Staf (SSG) James Narrow (nama samaran) dan beberapa Rangers lainnya memborgol para penjaga di pegangan di sepanjang jalan. Saat elemen tersebut pindah ke posisi pemblokiran, mereka tiba-tiba mendengar suara tembakan Saat 1LT White sedang berjalan di seberang jalan dan mencari pintu masuk ke gedung administrasi barat, dia mendengar seorang Ranger berteriak, “Dia punya senjata!” SSG Smith telah mengamati seseorang merunduk di bawah sepotong lembaran logam, dan kemudian melihat adanya laras senjata. Smith membidik dan membunuh musuh pertamanya dalam operasi tersebut. Segera setelah penembak jitu itu “diamankan”, dua lagi Ranger menemukan tiga penjaga bersenjata dan dalam keadaan bingung di sebuah gubuk yang tampaknya kosong. Ketiga orang Irak itu ditangani dengan langkah serupa. Setelah melakukan kontak dengan musuh, para Rangers bersiaga dan siap untuk menghadapi kontak senjata lebih lanjut. Namun, tidak ada orang yang keluar dari sisi timur bendungan

Pasukan Pengawal Republik Irak di pinggiran Baghdad, 3 April 2003. Pada saat invasi Amerika tahun 2003, Pasukan Irak bisa dikata sudah lemah dan moralnya hancur, namun saat mereka masih memegang senjata, mereka tetap tidak boleh diremehkan. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

Akhirnya menemukan pintu ke gedung administrasi, White membawa dua regu untuk membersihkan fasilitas itu dan mencari perangkat penghancuran. Menggunakan alat “hooligan” — kombinasi kapak dan linggis yang digunakan oleh personel penyelamat darurat — Rangers membuka pintu logam berat. White segera menyadari bahwa membersihkan gedung administrasi akan memakan waktu setidaknya tiga jam. Tugas berat untuk membersihkan sembilan lantai dengan sepuluh kantor masing-masing, yang terdiri dari ruang kontrol, kamar mandi yang terkunci, dan balkon, dengan hanya bertumpu pada pasukan White yang terdiri dari sekitar dua puluh personel Rangers. Dengan gaya Ranger sejati, mereka secara metodis membersihkan gedung dengan mendobrak pintu, membuka kunci, dan menempatkan item yang memiliki nilai intelijen potensial ke dalam lorong. Para Rangers mulai menunjukkan hasil dari pekerjaan yang melelahkan ketika mereka membuat penemuan yang memacu adrenalin. Di lantai enam, Rangers menemukan dua puluh lima pekerja bendungan sipil yang ketakutan. Didorong oleh temuan itu, Rangers memisahkan pekerja bendungan dan menempatkannya ke dalam sel, memotret setiap orang, dan menahan mereka untuk sementara. Karyawan senior pekerja tersebut mempercepat pencarian peralatan penghancur dengan memandu satu regu ke lokasi utama di dalam fasilitas tersebut. Setelah empat jam, 1LT White menghubungi CPT Doyle melalui radio dan melaporkan bahwa bangunan itu telah berhasil dibersihkan. Meninggalkan beberapa penjaga untuk menjaga para pekerja, para Rangers lainnya pindah ke atas, dan mengamati bahwa di luar gedung “pertempuran sengit sudah pecah.” 

Gedung administrasi di Bendungan Haditha yang terdiri dari beberapa lantai memberi pekerjaan berat bagi para personel Ranger yang ditugaskan untuk memeriksa dan membersihkannya lantai demi lantai. (Sumber: https://arsof-history.org/)
Sebuah Truk yang membawa empat belas penjaga Irak menyerang pasukan Peleton 2 saat melintasi bendungan. Beberapa ratus peluru kaliber .50 ditembakkan untuk menghentikan truk itu, dan menyisakan sembilan penumpangnya hidup-hidup untuk menantang pasukan Rangers dalam baku tembak selama satu jam. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Elemen dari SFC Duncan mendapati sedikit pekerjaan tambahan hingga fajar menyingsing. Saat matahari menyinari daerah sekitarnya, penembak jitu, SSG Ronnie Jones (nama samaran) melihat orang-orang Irak menembakkan granat berpeluncur roket (RPG) dari sisi barat sungai, sejauh 990 meter. Seorang pria berdiri di depan tangki propana dengan memanggul RPG, dan dua lainnya berdiri di belakang tangki. SSG Narrow mengijinkan Jones untuk menyerang, dan dalam beberapa detik peluru senyap dari senapan Jones menghantam orang Irak pertama, menembus tubuhnya, dan mengenai tangki propana, yang kemudian meledak dan menewaskan dua orang lainnya. Segera setelah ketiga orang Irak itu ditangani, CPT Doyle memerintahkan Duncan untuk memindahkan elemennya dan mengamankan sisi timur bendungan. Seperempat jalan menyeberang, sebuah kendaraan meluncur ke arah para Rangers. SPC Watson lalu menembakkan beberapa ratus peluru kaliber .50 ke kendaraan itu, menghentikannya dengan dingin. Lima dari penjaga bersenjata Irak tewas seketika, dan sembilan lainnya keluar dari truk, berlindung di balik pagar beton di sepanjang bendungan. Dalam baku tembak selama satu jam, personel-personel Rangers membunuh atau melukai beberapa penjaga, dan memaksa lima orang untuk menyerah. Dalam bentrokan itu, dua orang Irak yang terluka melompati tembok beton dan mencoba melarikan diri ke tanggul yang curam. CSM Alfred Birch dan SFC Duncan memutuskan bahwa mereka tidak dapat membiarkan orang-orang yang terluka itu mati. Duncan menghubungi CPT Doyle melalui radio, menyampaikan situasinya, dan meminta izin untuk menyelamatkan orang-orang Irak yang terluka. Dengan izin yang diberikan, Birch dan Duncan berlari menuruni bukit, di bawah tembakan artileri antipesawat (menembak dalam mode tembakan langsung) dari arah selatan. Para Ranger menemukan para penjaga, memberikan pertolongan pertama, dan membawa mereka ke puncak bendungan, semuanya dilakukan saat mereka masih diserang dari arah selatan. Atas aksi mereka CSM Birch dan SFC Duncan mendapatkan medali Silver Star

OBJECTIVE COBALT

Sementara Peleton Kedua memulai serangannya, Peleton Ketiga berfokus untuk merebut Objective Cobalt, yang terdiri dari titik kontrol masuk ke pembangkit listrik, pembangkit listrik itu sendiri, dan halaman trafo di selatan bendungan. Karena tidak dapat mengakses area dari atas bendungan, CPT Taylor mengarahkan anak buahnya untuk berbalik arah dan kembali melalui posisi pemblokiran Peleton Satu. Dengan pemimpin Skuad 1 SSG Jesse Ragan memimpin, tiga kendaraan dan dua puluh tujuh prajurit Rangers bermanuver menuruni tanggul curam menuju Objective Cobalt. Melalui kegelapan dini hari, para personel Ranger melihat tiga orang bersenjata berdiri di depan sebuah bangunan kecil, tampaknya hanya sedang melihat sekeliling. Berdasarkan pengalaman Afghanistan mereka, para Rangers tahu bahwa seorang pria dengan senjata sebenarnya tidak selalu menunjukkan status sebagai kombatan; setiap orang membawa senjata, bisa jadi milisi maupun warga sipil. Namun, ketika orang-orang Irak itu menembak kendaraan yang didepan dan kemudian masuk ke dalam bunker, para Rangers menyimpulkan bahwa orang-orang bersenjata ini memang berniat bermusuhan. Saat CPT Brad Thompson bergerak maju ke kendaraan terdepan, pemimpin tim, SSG Pete Corrigan (nama samaran) melemparkan granat dan berteriak, “Frag out!!” Granat fragmentasi meledak, menerangi sasaran dan cukup banyak orang-orang Irak terlihat sehingga menyebabkan peleton itu memutuskan untuk mundur untuk berkumpul kembali.

Objective Cobalt terletak di sebelah selatan bendungan, dan terdiri dari kompleks pembangkit listrik dan halaman transformator — serta akademi artileri antipesawat yang sebelumnya tidak diidentifikasi oleh sumber-sumber intelijen Amerika. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Thompson dengan cepat menyesuaikan serangannya. Dia mengarahkan Skuad 1 untuk menekan para penjaga, sementara Skuad 3 mengapit dari kiri dan masuk di dekat gerbang. Sersan peleton SFC Roger Sherry (nama samaran) melihat seorang Irak mengintip dari balik pos jaga, tetapi dia segera ditangkap. Sementara itu, Rangers menjaga keamanan belakang menemukan bunker dengan lima orang bersenjata Irak dan peluncur RPG. Tampaknya orang-orang itu pasrah pada nasib mereka, mereka hanya duduk di sana dan memandang para penangkap mereka tanpa ekspresi. Para Rangers menerima penyerahan orang-orang Irak itu, tapi meninggalkan mereka di dalam bunker, dalam keadaan tidak bersenjata dan diborgol; peleton Ranger itu tidak memiliki tenaga atau waktu untuk menjaga mereka. Sementara itu setelah berhasil menembus sasaran, CPT Thompson memanggil kendaraan yang ditinggalkannya di atas bendungan dengan elemen TOC II. Sayangnya, SPC Alan (nama samaran) salah belok saat turun, dan memasuki area tetangga yang berfungsi sebagai akademi artileri antipesawat. Hampir seketika, RPG dan tembakan senjata kecil saling mendesing di atas kap kendaraan. Satu peluru menghantam kaki kiri Alan, lalu menembus filter oli truk. Saat kendaraan mundur, meninggalkan jejak minyak di belakangnya, peluru AK-47 lain menghantam Kopral (CPL) penembak peluncur granat otomatis MK19, John Gale (nama samaran) di pelindung tubuhnya, menjatuhkannya ke belakang. Terkait kejadian itu nanti, Cpl. John Gale (nama samaran) kemudian berkata, “Saya menghadap ke depan ketika saya merasakan hantaman ini di punggung kiri bawah saya. Melihat kebawah, aku dapat melihat bahwa aku telah tertembak, tapi peluru itu telah mengenai lempengan “terakhir” di bagian belakang pelindung armor-ku. Melihat bahwa aku tidak terluka, aku kembali ke senjataku dan membantu kami keluar dari sana. Kemudian saya menemukan bahwa peluru telah mengenai lempengan sekitar satu inci ke atas dan dari sudut kiri bawah, yang berada tepat di atas ginjal kiri saya. Jika meleset sedikit, saya hampir pasti akan mati. ” SPC Alan kemudian segera menginjak pedal gas dan melaju keluar dari zona mematikan itu dengan empat ban yang kempes. Kendaraan yang penuh lubang peluru dan minyak yang bocor itu akhirnya mogok tidak jauh dari posisi Peleton Satu. Para Rangers mendorongnya sejauh lima puluh meter terakhir ke tempat yang aman. Hebatnya, Alan lolos hanya dengan luka tembak di jari kakinya, dan Gale tidak terluka.

POSISI PEMBLOKIRAN 

Yang terakhir dalam urutan pergerakan yang direncanakan, Peleton Satu membuat dua posisi pemblokiran di seberang jalan menuju kompleks bendungan. Sersan peleton, SFC James Lauder (nama samaran) memimpin satu regu ke sisi selatan jalan untuk membersihkan gedung-gedung. Mengira hanya ada dua bangunan, Lauder dan anak buahnya segera menemukan dua belas bangunan lagi yang tidak tergambar di peta. Mencari bangunan lainnya, Para Rangers menemukan bahwa satu bangunan berisi materi pelatihan untuk sekolah artileri antipesawat, yang terdiri dari: meja pasir yang menggambarkan wilayah Irak barat, poster yang merinci sistem senjata Irak, dan foto-foto senjata artileri. Mendengar berita serangan yang dialami SPC Alan dan CPL Gale di selatan, SFC Lauder memanggil pemimpin peletonnya untuk mengirimkan bala bantuan. Skuad Ranger Kedua memposisikan ulang kendaraan mereka di sisi utara jalan dan membalas tembakan musuh dengan pelontar granat otomatis MK19 dan senjata berat yang mereka punya. Lauder lalu memanggil helikopter serang Little Bird untuk mendapatkan dukungan tambahan. Setelah tiga puluh menit pertempuran yang intens, Helikopter-helikopter Night Stalkers telah membungkam posisi mortir lawan, dan Pasukan Rangers telah mematahkan serangan musuh.

Pelontar granat otomatis MK-19 kaliber 40 mm menjadi senjata terberat yang dipasang pada kendaraan yang digunakan para Ranger dalam mempertahankan Bendungan Haditha. (Sumber: https://www.dreamstime.com/)

MEMENANGKAN PERTEMPURAN KERAS

Segera setelah baku tembak yang dihadapi Peleton Pertama, CPT Doyle memposisikan kembali pasukannya dan bersiap untuk fase berikutnya dari misi yang awalnya tidaklah rumit. Doyle menarik Peleton Ketiga kembali ke bendungan dan menempatkannya di antara Peleton ke-2 dan ke-1. Mengetahui bahwa helikopter-helikopter Night Stalkers telah tinggal lama di luar perlindungan kegelapan, dia melepaskan mereka dengan disertai rasa syukur. Pada tengah hari tanggal 1, CPT Doyle merasa bahwa pasukan Rangers secara efektif telah mengendalikan bendungan. Mengambil keuntungan dari siang hari yang cerah, dia mengarahkan peletonnya untuk berkonsentrasi pada area terbuka yang dilewati selama hiruk pikuk serangan awal. Peleton 1 terus bekerja di dua bangunan yang disebut sebagai CAS 1 dan CAS 2, tempat sebagian besar pasukan musuh berkumpul dan menyerang. Peleton 2 menyempatkan diri untuk memperkuat posisinya di sisi timur bendungan. Sementara Peleton Ketiga menghabiskan pagi hari itu dengan mengumpulkan tahanan musuh dan memperbaiki posisi bertempurnya sendiri Sore harinya, CPT Doyle mengeluarkan perintah kepada CPT Thompson untuk membersihkan setengah bagian timur dari kompleks bendungan. Thompson lalu mengambil dua puluh orang dari Peleton 3 dan memulai tugas berat membersihkan lima belas lantai dan lebih dari seratus kantor. Para prajurit Rangers mengikuti prosedur yang sama seperti di gedung barat, mendobrak dan meledakkan pintu, dan mengumpulkan semua item yang memiliki nilai intelijen potensial. Dua jam kemudian, bangunan itu sudah dibersihkan. Setelah misi selesai, CPT Thompson mengkonsolidasikan peletonnya di atas bendungan dan bermalam disitu.

Pembangkit listrik dan halaman transformator terletak di selatan Bendungan Haditha, di mana kegelapan dini hari awalnya menyembunyikan penjaga yang agresif dari pandangan para Ranger. Namun dengan strategi dan pelatihan yang unggul memungkinkan regu Ranger untuk menetralkan beberapa penjaga, dan menahan lima orang lagi. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Saat Fajar pertempuran baru pecah di bendungan. Saat kegelapan menghilang, orang-orang Irak menyerang kedua sisi bendungan dengan elemen berukuran pasukan sepuluh hingga dua belas orang. Para Rangers dengan cepat menangkis serangan awal, tetapi, saat pagi berlalu, tembakan tidak langsung musuh meningkat. Kombinasi dari tembakan mortir dan peluru artileri kaliber 152 milimeter menghujani permukaan beton di dekat posisi Ranger. Untungnya, para Rangers memiliki dukungan udara yang cukup, dan meneruskan permintaan misi penembakan ke pilot-pilot pesawat A-10 Thunderbolt (“Warthog”). Sepanjang hari, pesawat A-10 menghantam musuh tanpa henti. Pada siang hari, 1LT White telah membawa pasukannya ke timur, melewati bangunan bendungan. Malam itu musuh mendekat dalam jarak dua ratus meter dari posisi Peleton ke-2, menjepit posisi Rangers dengan tembakan RPG. Sudut serangan musuh mencegah Pasukan Rangers untuk bisa membalas tembakan dengan efektif, jadi mereka terpaksa memanggil bantuan udara. Dalam beberapa menit, sebuah A-10 meluncur masuk dan menjatuhkan bom seberat dua ribu pound hanya tiga ratus meter dari lokasi Peleton ke-2. Bom tersebut melenyapkan para penyerang, dan menghancurkan setiap jendela di kompleks bendungan. Para Rangers terus meminta serangan udara, yang menghantam struktur bendungan dengan total 20 bom. Namun, orang-orang Irak terus berusaha untuk kembali ke bendungan. Sepanjang hari pada tanggal 1 April, kelompok yang terdiri dari 50 hingga 100 tentara Irak akan membentuk serangan “gelombang manusia” pada kompi 3 / C, hanya untuk dipukul mundur oleh dua tabung mortir Ranger 120 mm, serangan udara, dan tembakan senjata kecil yang akurat. Serangan ini akan terus datang setiap 30 menit selama dua hari berikutnya. Sepuluh unit mortir Irak, bersama dengan puluhan senapan mesin dan peluncur RPG, menyerang para Rangers di tempat terbuka, membuat mereka segera lari berlindung. Setelah menstabilkan diri, para Rangers mulai membalas tembakan dan mulai melakukan serangan udara untuk menghancurkan posisi mortir musuh. Itu adalah rutinitas yang akan mereka lakukan berkali-kali dalam seminggu ke depan. Hebatnya, tidak ada Rangers yang tertembak. Satu posisi mortir yang sangat mengganggu, di sebuah pulau sekitar 2.000 yard di belakang bendungan, dihancurkan dengan rudal anti-tank Javelin, bersama dengan sepasang bom 1.000 pon. Belakangan, tentara Irak mencoba menyusupkan beberapa personel di dekat jembatan dengan kayak dan beberapa perahu kecil, yang segera ditenggelamkan.

Rudal anti tank Javelin. Dalam menahan gempuran pasukan Irak di Bendungan Hadhita, pasukan Ranger menggunakan senjata apapun yang mereka bawa, termasuk menembakkan rudal anti tank Javelin untuk menghantam satu posisi mortir Irak. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)

Pada tanggal 3 April, intensitas serangan tembakan mortir musuh telah menurun menjadi satu peluru setiap dua jam. Sayangnya, tembakan mortir telah diganti dengan tembakan artileri berat kaliber 152 milimeter dari barat daya. Sementara sebagian besar peluru jatuh di waduk, setiap peleton menerima beberapa peluru yang jatuh dalam jarak satu kilometer dari posisi mereka. Satu peluru bahkan menghantam rel beton yang hanya berjarak tujuh puluh lima meter dari posko CPT Doyle; untungnya, peluru itu tidak pernah meledak. Sayangnya, peluru artileri lain meledak, kali ini langsung dalam sebuah posisi mortir Ranger. SFC Lauder berlari ke area ledakan bersama dengan petugas medis dan sopirnya. Berhenti sebentar karena posisinya masih diserang, para Rangers meninggalkan kendaraan mereka di balik tembok beton setinggi tiga kaki dan menempuh jarak seratus meter terakhir dengan berjalan kaki. Ledakan itu telah mengirimkan fragmen artileri ke wajah SPC Jeremy Feldbusch, menembus lobus orbital kanan. Saat Lauder dan timnya tiba, Feldbusch tidak bernapas dan wajahnya membiru. Petugas medis melepas helm berlumuran darah Feldbusch dan menyedot saluran napasnya, berharap menghindari trakeotomi. SPC Feldbusch, melanjutkan pernapasannya sendiri, dan warna wajahnya kembali, memberi semua orang harapan baru bahwa ia bisa bertahan hidup. Petugas medis membalut wajah Feldbusch dan membawanya ke truk, menghindari tembakan artileri yang menghantam di sepanjang jalan. Begitu mereka masuk ke dalam truk, Lauder dan timnya bergerak ke tengah bendungan, di mana Feldbusch akan aman sampai dia bisa dievakuasi untuk menjalani perawatan bedah dengan segera.

Peleton 1 mendirikan dan mempertahankan posisi pemblokiran di selatan bendungan. Saat membersihkan area tersebut, Ranger Peleton Satu menemukan materi pelatihan untuk sekolah artileri antipesawat. (Sumber: https://arsof-history.org/)

TOC di H1 bereaksi cepat mendengar adanya berita tentang jatuhnya korban di bendungan, membangunkan kru SOAR ke-160 dari tempat tidur mereka. Dalam waktu kurang dari empat puluh menit, penerbangan yang terdiri dari tiga helikopter berangkat dari H1 menuju bendungan: satu MH-47E Chinook, dan dua MH-60L Defensive Armed Penetrator Black Hawks. Terbang di siang hari bolong, penerbangan itu tiba di bendungan kurang dari satu jam setelah Feldbusch tertembak. Helikopter Chinook mengevakuasi Feldbusch selama jeda dalam serangan artileri, dan para dokter mulai menangani dia segera setelah dia dinaikkan helikopter. Di H1, personel medis memindahkan Feldbusch ke Tim Bedah Garis Depan untuk menjalani perawatan darurat. SPC Feldbusch akhirnya menerima medali Purple Heart untuk luka-lukanya, dan Bronze Star atas keberaniannya. Sementara itu sistem roket HIMARS menjalani misi tempur pertamanya di bendungan ini, dengan menembakkan roket dalam misi kontra-baterai artileri musuh. Tiga Rangers kemudian terbunuh pada tanggal 3 April oleh VBIED di posisi pemblokiran saat mereka memeriksa mobil, dimana mobil tersebut dikemudikan oleh seorang wanita Irak hamil muda yang tampak tertekan dan ingin meminta air.

Dalam mempertahankan bendungan Haditha, pasukan Ranger didukung oleh pesawat-pesawat A-10 Thunderbolt yang memberikan keunggulan atas pasukan Irak yang jumlahnya lebih besar. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Kompi B, Batalyon ke-3, Resimen Ranger ke-75, mengamankan Bendungan Hadithah setelah pertempuran selama seminggu dengan para penjaga Irak. Kemenangan Rangers menjamin bahwa bendungan tidak akan hancur dan melepaskan air yang membanjiri dataran di sebelah tenggara, dan meyakinkan pasukan kawan serta penduduk lokal bahwa mereka dengan aman dapat menyeberangi Sungai Efrat. (Sumber: https://arsof-history.org/)

sSerangan artileri tampaknya menjadi titik balik dalam pertempuran memperebutkan Bendungan Hadithah. Selama beberapa hari berikutnya, tembakan mortir dan artileri terus berkurang. Kedatangan elemen tank M1A1 pada tanggal 6 April, dan bantuan dari ulama lokal, memastikan kendali Ranger atas bendungan dan area sekitarnya. Mereka juga mengamankan akademi artileri antipesawat di selatan, dan membersihkan gudang amunisi. Dengan semua kombatan musuh baik telah ada di bawah kendali koalisi atau telah melarikan diri, pada akhir minggu para Rangers mengalihkan perhatian mereka untuk membantu tim Urusan Sipil yang baru tiba merehabilitasi bendungan. Meski butuh waktu, pasukan Ranger dan Satuan pendukungnya akhirnya berhasil menghancurkan 24 mortir Irak, 28 artileri kaliber 155 mm, dan 23 senjata AAA saat mereka mempertahankan bendungan. Dua puluh sembilan tank dan tiga truk juga dihancurkan dalam serangan udara yang diarahkan oleh personel Ranger, bersama dengan 300 hingga 400 musuh terbunuh hingga saat mereka digantikan. Satuan Ranger sendiri menderita korban 4 tewas dan 6 luka-luka. Dengan ini, tidaklah mengherankan bila personel-personel 75th Rangers dianugerahi Valorous Unit Award, bersama dengan lima Purple Hearts, 4 Silver Star dan 26 Bronze Stars, serta 71 Army Commendation Medals atas aksi mereka di Bendungan Haditha. Penguasaan Bendungan Hadithah oleh para Ranger sangat penting dalam tahap awal Operasi IRAQI FREEDOM. Serangan itu mencegah potensi bencana kemanusiaan dan lingkungan di sepanjang Sungai Efrat, dan mengurangi risiko pasukan koalisi yang bergerak cepat menuju ke Baghdad. Direbutnya bendungan itu juga mencegah penggunaan lebih lanjut dari fasilitas tersebut sebagai jalur penyeberangan sungai yang bisa digunakan oleh teroris asing, sambil memastikan ketersediaannya untuk pasukan koalisi. Akhirnya, Satuan Rangers telah mendemonstrasikan nilai yang dapat diberikan oleh pasukan penyerang yang fleksibel, kohesif, dan sangat terlatih dalam medan perang modern.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

THE RANGERS TAKE HADITHAH DAM by James Schroder

https://arsof-history.org/articles/v1n1_hadithah_dam_page_1.html

The Haditha Dam Seizure – The Target BY JOHN D. GRESHAM – MAY 1, 2010

Haditha

https://www.globalsecurity.org/military/world/iraq/haditha.htm

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Haditha_Dam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *