Resolusi Tahun 1961 dan Rencana Perang Hanoi yang Menentukan Hasil Perang Vietnam

Pada awal tahun 1957, tidak banyak kader komunis Vietnam Selatan (yang memilih tetap tinggal di selatan setelah Prancis hengkang dan Vietnam terbagi menjadi dua) yang masih tersisa. Tewas karena diburu oleh tentara rezim Saigon, dimasukkan dalam kamp konsentrasi, dan desersi telah membuat jumlah mereka turun menjadi sekitar 2.000-2.500 personel saja dari sebelumnya sekitar 8.000-10.000 pada tahun 1955. Dari catatan sejarah partai yang berhasil dirampas oleh tentara Angkatan Darat Amerika setelah tahun 1965 dan interview yang dilakukan pada ex-Vietminh yang menjadi tawanan atau membelot ke pihak Saigon kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ho Chi Minh dan para pemimpin Partai Komunis di Vietnam Utara waktu itu masih disibukkan dengan upaya perbaikan atas kehancuran yang ditimbulkan oleh Perang melawan Prancis sebelumnya dan kerusakan yang ditimbulkan atas program Land Reform yang salah dijalankan oleh rezim Hanoi, sehingga mereka tidak ingin terlibat lagi dalam perang yang baru. Perintah dari Hanoi yang diberikan pada kader di selatan waktu itu menyatakan agar mereka menjalankan perjuangan politik dan menghindari konfrontasi langsung secara militer dengan rezim Saigon. Akan tetapi kampanye pembersihan masif atas orang-orang Komunis yang dijalankan oleh rezim Saigon pada penghujung tahun 1950an, membuat para kader di selatan mengangkat senjata melanggar perintah dari Hanoi untuk menghindari konfrontasi terbuka. Sementara itu pada tanggal 20 Desember 1960, National Liberation Front of Southern Vietnam or FNL (Vietnamese: Mặt trận Dân tộc Giải phóng miền Nam Việt Nam) atau yang lebih dikenal sebagai VietCong didirikan, dan dalam waktu setahun, menurut sebuah studi, jumlah anggotanya berlipat empat menjadi sekitar 300.000 orang. Kini pada awal tahun 1960an setelah rezim Hanoi cukup stabil, mereka merasa sudah waktunya untuk membantu pemberontakan di selatan dan menbawa konflik ke level yang berbeda.

Presiden Ngo Dinh Diem dari Vietnam Selatan berkampanye ke desa-desa di Vietnam Selatan pada tahun 1950an. Pada akhir dekade tersebut, gerakan komunis di Vietnam Selatan dalam kondisi terjepit dan mengalami pengurangan personel drastis akibat aksi agresif Diem dalam memburu para simpatisan komunis. (Sumber: https://www.economist.com/)

RESOLUSI VIETNAM UTARA PADA TAHUN 1961

Pada tahun 1994 Tentara Rakyat Vietnam menerbitkan sejarah resmi di Hanoi yang menjelaskan sejumlah tindakan penting yang diambil oleh kepemimpinan Vietnam Utara semasa perang. Beberapa bulan sebelum keputusan Presiden John F. Kennedy pada bulan November 1961 untuk meningkatkan keterlibatan Amerika di Vietnam Selatan, para pemimpin Vietnam Utara telah bertemu di Hanoi dan diam-diam memutuskan serangkaian tindakan yang secara substansial meningkatkan partisipasi langsung Vietnam Utara dalam konflik di Vietnam Selatan. Tanpa diketahui oleh para pembuat kebijakan AS pada saat itu, keputusan ini memberi pihak Komunis Vietnam sarana yang mereka butuhkan untuk melawan pengaruh keputusan Kennedy dan dengan demikian mempertahankan inisiatif strategis mereka di Vietnam Selatan. Buku sejarah yang berjudul History of the People’s Army of Vietnam, Volume II: The Coming of Age of People’s Army of Vietnam During the Resistance War Against the American to Save the Nation (1954-75), tidak menggunakan istilah Viet Cong, Tentara Pembebasan Vietnam Selatan atau Tentara Vietnam Utara, tetapi sebaliknya memperlakukan semua pasukan militer Komunis di Vietnam Utara dan Selatan sebagai komponen dari Tentara Rakyat Vietnam (PAVN), nama resmi untuk apa yang oleh orang Amerika kerap disebut sebagai NVA (Tentara Vietnam Utara). Satu-satunya referensi dalam sejarah PAVN kepada Tentara Pembebasan menyatakan bahwa pada bulan Januari 1961, setelah terbentuknya Tentara Pembebasan Vietnam Selatan, Komite Partai Militer Pusat Vietnam Utara mengeluarkan arahan khusus yang menyatakan bahwa Tentara Pembebasan Vietnam Selatan adalah merupakan komponen bawahannya dari Tentara Rakyat Vietnam yang berpusat di Hanoi, hal ini tentunya bertentangan dengan pendirian banyak orang yang kerap mereka gembar-gemborkan di masa perang bahwa VC adalah entitas independen dari masyarakat Vietnam Selatan. Menurut sejarah tersebut, Politbiro Partai Komunis Vietnam telah mengadakan serangkaian pertemuan penting di Hanoi mulai tanggal 31 Januari dan berakhir pada tanggal 25 Februari 1961. Selama pertemuan tersebut, Politbiro memperdebatkan dan menyetujui resolusi mengenai tanggung jawab militer PAVN untuk jangka waktu lima tahun berikutnya, antara tahun 1961-1965, serta menentukan arah yang akan diambil dalam waktu dekat berkaitan dengan revolusi yang dikobarkan di selatan. Karena butuh waktu hampir sebulan untuk mengesahkan resolusi tersebut, sepertinya isi dari resolusi tersebut menjadi subyek perdebatan yang sengit dan tajam diantara para pemimpin Vietnam Utara.

Pemimpin Partai Komunis Vietnam Utara, Le Duan dalam sebuah konggres partai komunis. Di bawah kepemimpinannya, Vietnam Utara mengambil keputusan untuk memperkuat dan membantu perjuangan bersenjata gerakan komunis di Vietnam Selatan. (Sumber: https://www.nytimes.com/)
Gerilyawan wanita Vietcong memanggul perbekalan dengan menyandang senapan M-1 Carbine buatan Amerika. Berlawanan dengan propaganda yang kerap digembar-gemborkan oleh pihak Hanoi semasa perang sebagai gerakan perlawanan independen rakyat Vietnam Selatan yang menentang rezim Saigon, Viet Cong sedari awal memang merupakan organ kepanjangan tangan dari pemerintah Vietnam Utara. (Sumber: https://www.vintag.es/)

Resolusi yang dibuat Politbiro dimulai dengan menegaskan kebijakan dari pedoman Partai Komunis sebelumnya, yang menyatakan bahwa membangun sosialisme di Utara harus mendapat prioritas di atas dukungan untuk perang di Selatan. Resolusi tersebut menyatakan bahwa, meskipun intensitas konflik meningkat di Indochina, mereka memiliki prospek yang cukup besar untuk dapat menjaga perdamaian di Vietnam Utara selama lima tahun ke depan. Menurut resolusi tersebut, menjaga perdamaian dan menjamin kelanjutan pembangunan sosialisme di Vietnam Utara adalah tanggung jawab [mereka] yang paling vital. Namun Resolusi 1961, bagaimanapun, telah mengubah formula sebelumnya dengan mengarahkan militer Vietnam Utara agar bersiap untuk mengambil tindakan untuk menjamin kemenangan revolusi di Vietnam Selatan saat ada kesempatan. Dalam apa yang tampaknya menjadi salah satu dari beberapa kompromi kunci dalam resolusi tersebut, pernyataan ini agak dilunakkan dengan syarat bahwa setiap tindakan PAVN harus dipilih dengan cermat untuk menghindari intervensi bersenjata besar-besaran oleh kaum imperialis – buat mereka ini artinya merujuk pada Amerika. Resolusi Politburo juga menyetujui modifikasi yang signifikan pada strategi Partai Komunis dalam perang di wilayah Vietnam Selatan. Sementara resolusi sebelumnya telah mengarahkan bahwa pasukan Komunis harus mengambil tindakan militer hanya untuk melindungi dan mendukung perjuangan politik di Selatan, resolusi bulan Februari 1961 menetapkan bahwa perjuangan militer di Vietnam Selatan akan dinaikkan ke level prioritas yang sama dengan perjuangan politik. Politbiro telah memberi wewenang kepada PAVN untuk mengambil hampir semua tindakan militer yang diinginkannya selama mereka tidak memprovokasi tindakan militer AS secara langsung terhadap gerakan Komunis Vietnam. Bagian dari debat Politbiro tahun 1961 dibahas secara rinci oleh pensiunan Letnan Jenderal Philip B. Davidson dalam buku karyanya “Vietnam At War”, yang diterbitkan pada tahun 1988. Tetapi bagian selanjutnya dari musyawarah Politbiro pada bulan Februari 1961, termasuk pengaturan rencana militer lima tahun yang memiliki tujuan rinci untuk melakukan ekspansi dan operasi PAVN di Vietnam Selatan, tetaplah tidak terungkap di buku itu. Sasaran tersebut dan persetujuan resolusi strategi untuk meningkatkan aksi militer di Selatan kemudian terbukti meletakkan dasar bagi Vietnam Utara untuk lebih terlibat secara langsung dalam perang di Vietnam Selatan. 

Philip B. Davidson dalam buku karyanya “Vietnam At War” yang diterbitkan pada tahun 1988 membahas secara rinci debat yang dilakukan politbiro Vietnam Utara dalam menentukan strategi perang pada awal tahun 1961. (Sumber: https://www.amazon.com/)

Tujuan yang ditetapkan dalam rencana militer tahun 1961-65 yang disetujui oleh Politbiro untuk pasukan PAVN yang dikirimkan ke Vietnam Selatan adalah untuk membangun pasukan reguler yang kuat di Vietnam Selatan dengan peralatan teknis, dukungan logistik, dan kepemimpinan taktis yang baik. Rencananya menetapkan bahwa, selain pembentukan satuan pasukan lokal setingkat kompi di tingkat distrik dan ukuran batalion di tingkat provinsi, tentara Komunis di Vietnam Selatan akan mengatur, melengkapi, melatih, dan mengerahkan kekuatan pasukan utama sebesar 10 sampai 15 satuan setingkat resimen infanteri. Resimen ini akan didukung oleh sejumlah unit artileri komposit baru yang yang mampu menghancurkan posisi yang dibentengi dengan kuat dan mampu untuk melawan tank dan pesawat musuh. Pada awal tahun 1961, unit militer Komunis terorganisir terbesar di Vietnam Selatan, menurut sejarah PAVN, adalah seukuran batalion, dan hanya ada tiga batalyon pasukan utama yang ada pada waktu itu di seluruh Vietnam Selatan. Menurut catatan resmi PAVN, total kekuatan pasukan Komunis di Vietnam Selatan kira-kira 15.000 pasukan penuh waktu, namun hanya sekitar 3.000 di antaranya yang ditugaskan ke unit pasukan utama. Unit baru yang direncanakan dalam rencana  tersebut (setara dengan tiga sampai lima divisi pasukan utama) akan memberikan pasukan Komunis di Selatan kekuatan antara 25.000 dan 40.000 pasukan utamanya saja (belum termasuk unit regional, paruh waktu, simpatisan dan unit pendukungnya). Rencana tersebut juga menghendaki adanya penguatan kendali Partai Komunis atas urusan militer di Vietnam Selatan, yang merefleksikan penekanan baru pada aspek militer dibanding aksi politik. Pada titik ini, untuk pertama kalinya sejumlah markas wilayah militer di Vietnam Selatan akan diorganisir dan dikelola oleh satuan staff yang profesional. 

Struktur Organisasi Vietcong dan NVA yang menjalankan pemberontakan komunis di Vietnam Selatan. Terlihat pada diagram, mereka kerap membuat organisasi-organisasi perwakilan masyarakat sipil yang sebenarnya merupakan “boneka” dari partai Komunis. Pada ujungnya semua strategi utama berpulang pada pembuat kebijakan di Hanoi dan bukan muncul dari masyarakat Vietnam Selatan. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Pertemuan Presiden Souphanouvong (kiri) dengan Presiden Vietnam Ho Chi Minh (kanan) di zona revolusioner. Sejak masa Perang Indochina, pihak Komunis Vietnam memang sudah turut campur dalam urusan dalam negeri di Laos dengan mendukung kelompok Pathet Lao pimpinan Pangeran Souphanouvong. (Sumber: http://english.hochiminh.vn/)

Rencana tersebut juga mengarahkan agar PAVN memasok penasihat militer kepada pasukan Pathet Lao (sayap militer Partai Komunis Laos) dan bersiap untuk mengirimkan unit sukarelawan PAVN untuk berperang di Laos atas permintaan sekutu Laos mereka. Ketentuan ini tampaknya merupakan pengesahan atas kegiatan-kegiatan yang sudah lama dijalankan PAVN selama ini. Sejarah PAVN mencatat bahwa, sebagai tanggapan atas permintaan dari pemimpin partai Komunis Laos, pada bulan November 1960 sejumlah penasihat militer dan sebuah baterai howitzer kaliber 105 mm milik PAVN dikirim ke wilayah Vientiane untuk membantu pasukan Pathet Lao memerangi pasukan sayap kanan pemerintah Laos yang didukung AS untuk mencoba untuk merebut kembali ibukota Laos itu. Sejumlah unit PAVN tambahan segera menyusul grup awal yang dikirimkan ke Laos. Berdasarkan arahan resolusi Politbiro bahwa pasukan militer diharuskan bersiap untuk bergerak untuk menjamin kemenangan di Vietnam Selatan jika atau ketika ada kesempatan. Komite Partai Militer Pusat Partai Komunis (organ partai yang bertanggung jawab untuk mengawasi semua kegiatan PAVN) memerintahkan staf umum PAVN untuk membuat persiapan darurat bagi tentara mereka untuk terlibat dalam operasi tempur di Vietnam Selatan dan melaksanakan tugas internasionalnya di Laos. Staf umum PAVN kemudian segera merespon dengan meningkatkan sejumlah unit PAVN ke level masa perang. Divisi ke-325, brigade ke-316, 335 dan 341, dan resimen ke-148 dan ke-244 dipilih dan dibawa taraf organisasi dan peralatan (table of organization and equipment/TOE) masa perang penuh dan ditempatkan dalam status siaga. Brigade PAVN saat itu memiliki TOE berkekuatan 3.500 pasukan yang terdiri dari empat batalyon infanteri, satu batalion artileri, satu batalion antipesawat dan sejumlah unit pengintai, signal, engineer, chemical defence dan unit pendukung lainnya yang lebih kecil. Perintah staf umum PAVN secara khusus menyatakan bahwa peningkatan tersebut dimaksudkan untuk memberi PAVN sejumlah unit infanteri yang kuat yang dapat digunakan ketika diperlukan untuk operasi di medan perang Vietnam Selatan dan Laos. 

IMPLEMENTASI & INVASI KE LAOS SELATAN

Pada musim semi tahun 1961, ketika perintah diumumkan, banyak dari unit yang ditingkatkan sudah beraksi di Laos. Sementara Vietnam Utara menolak untuk mengakui secara terbuka bahwa mereka memiliki pasukan di Laos, catatan sejarah PAVN mengungkapkan bahwa pada paruh pertama tahun 1961 total terdapat 12.000 pasukan sukarelawan PAVN, termasuk infanteri reguler, artileri dan batalyon zeni dari Divisi 325 PAVN, Divisi ke-316 dan brigade ke-335 serta Resimen ke-271, yang bertempur di Laos bersama sekutu Pathet Lao mereka. Pada masa ini para pengamat internasional (yang ditugaskan mengawal perjanjian Jenewa yang mengakhiri perang Indochina pertama lawan Prancis) asal Polandia dan India kerap mengambil sikap “pura-pura tidak tahu” ketika menyaksikan pesawat-pesawat transport asal Soviet di bandara Gia Lam-Hanoi mengirimkan material perang ke Laos, yang jelas-jelas melanggar perjanjian Internasional yang telah pihak Hanoi sendiri sepakati. Intervensi PAVN yang sedang berlangsung di Laos kemudian akan memainkan peran utama dalam keputusan kunci PAVN berikutnya pada tahun 1961. Rute pasokan dan infiltrasi Vietnam Utara ke Vietnam Selatan, yang kemudian biasa disebut Jalur Ho Chi Minh, masih merupakan jaringan jalur hutan kecil dan tidak jelas yang sebagian besar melewati wilayah Vietnam Selatan pada awal tahun 1961. Perbekalan diangkut hampir seluruhnya oleh porter manusia, dengan beberapa lainnya menggunakan sepeda, gajah dan kuda beban. Ketika PAVN Transportation Group 559 pertama kali mengerjakan jalan setapak selama musim panas tahun 1959, jalur Ho Chi Minh Trail menuju ke selatan dibuat melalui bagian barat Zona Khusus Vinh Linh, melintasi DMZ antara Vietnam Utara dan Selatan di Sungai Ben Hai dan dilanjutkan melalui pegunungan terjal di barat provinsi Quang Tri dan Thua Thien di Vietnam Selatan. Di sana jalan setapak kemudian terhubung dengan pasokan klandestin dan rute penghubung Komunis Interzone 5 (kemudian disebut sebagai Daerah Militer 5). 

Barisan tentara Vietnam Utara. Pada paruh pertama tahun 1961 terdapat setidaknya 12.000 tentara Vietnam Utara di wilayah Laos membantu sekutu Pathet Lao mereka. (Sumber: https://www.thedailybeast.com/)

Jalur suplai ke bagian selatan Vietnam Selatan tidak juga selesai sampai bulan Oktober 1960, ketika, menurut catatan sejarah PAVN, personel pembangunan jalur logistik dikirim ke utara oleh Komite Partai untuk Vietnam Selatan (kemudian disebut sebagai Kantor Pusat untuk Markas Besar Vietnam Selatan/Elemen Gerakan Revolusi Vietnam Selatan) akhirnya bertemu dengan personel pembuatan jalan dari Interzone 5. Mereka bergerak ke selatan di daerah pertemuan perbatasan Vietnam Selatan, Kamboja, dan Laos. Seluruh rute diketahui hanya cocok untuk melakukan infiltrasi klandestin sejumlah kecil pasukan dan sejumlah kecil perbekalan. Karena Vietnam Selatan wilayahnya panjang dan sempit (lebarnya kurang dari 50 mil di ujung utaranya), jalur itu juga sangat rentan terhadap serangan oleh pasukan lawan. Jalur yang ada pada awal tahun 1961 tidak dapat mendukung pengiriman sejumlah besar pasukan, pasokan dan alat berat yang akan dibutuhkan oleh 10 sampai 15 resimen kekuatan utama di Vietnam Selatan yang dirancang dalam rencana lima tahun PAVN. Pada musim semi tahun 1961, para pemimpin Vietnam Utara memutuskan untuk memanfaatkan keterlibatan pasukan PAVN yang secara de-facto sudah ada di Laos untuk kemudian ikut membantu menyelesaikan masalah pasokannya. Intervensi PAVN besar-besaran di Laos membuat pasukan pemerintah Laos kembali dalam kebingungan dan memicu krisis internasional yang serius. Untuk beberapa waktu pemerintah AS saat itu telah menganggap Laos sebagai masalah yang lebih serius daripada konflik di Vietnam Selatan. Di media massa waktu itu nama Loos lebih sering mendapat pemberitaan ketimbang Vietnam, pada surat kabar “New York Times” misalnya, mereka memberi porsi pemberitaan Laos tiga kali lebih banyak ketimbang Vietnam.

Headline surat kabar “The Washington Post” yang memuat berita diskusi soal Laos antara Presiden Kennedy dan Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev. Pada masa-masa awal kepemimpinannya, Kennedy lebih banyak disibukkan oleh masalah Laos ketimbang Vietnam. (Sumber: https://www.washingtonpost.com/)

Beberapa hari sebelum Kennedy resmi menjadi Presiden Amerika menggantikan Eisenhower, pada tanggal 6 Januari 1961 Pemimpin Soviet, Nikita Khrushchev membuat pernyataan keras bahwa ia akan membantu gerakan-gerakan revolusioner di seluruh dunia, sementara di Laos sendiri Angkatan Darat Laos sedang bertempur menghadapi pemberontakan Komunis, Pathet Lao. Bahkan sebelum pengangkatannya sebagai Presiden, Presiden Eisenhower sendiri sempat mengadakan pertemuan dengan Kennedy dengan didampingi para penasehat-penasahatnya. Dalam pertemuan itu, Eisenhower menegaskan kepada Kennedy bahwa Laos adalah kunci dari stabilitas di Asia Tenggara, dimana jika Laos jatuh ke tangan Komunis, maka akan diikuti dengan jatuhnya Vietnam Selatan, Kamboja, Thailand dan Burma ke tangan komunis. Menanggapi peringatan itu, Pemerintahan baru Kennedy, dalam upaya pertamanya pada apa yang kemudian disebut sebagai keterlibatan konstruktif, sekarang berusaha membujuk Soviet untuk membantu mengatur gencatan senjata dan konferensi internasional di Jenewa, yang bertujuan untuk mencapai penyelesaian kompromi yang akan menetralkan Laos dan mencegah pengambilalihan secara penuh negara itu oleh kekuatan komunis. 

Selama sebagian besar masa perang Vietnam, wilayah Laos yang berbatasan dengan Vietnam senantiasa berada di tangan pasukan komunis. Hal ini memudahkan pihak Vietnam Utara untuk menggunakan wilayah Laos bagi jalur logistik mereka. (Sumber: https://www.history.com/)

Di bawah tekanan internasional yang meningkat untuk menyetujui gencatan senjata segera, Vietnam Utara bergerak untuk mengeksploitasi serangan diplomatik Amerika untuk keuntungan mereka sendiri. Setelah mendapat persetujuan khusus dari Vietnam Utara dan partai-partai Komunis Laos, Komite Partai Militer Pusat Vietnam Utara segera menyetujui rencana operasi ofensif besar yang akan dilakukan atas nama Pathet Lao di kawasan Laos selatan. Tujuan utama dari rencana tersebut, yang dirancang oleh PAVN Transportation Group 559 dan PAVN Military Region 4, adalah untuk menguasai wilayah yang luas dari kawasan “panhandle” Laos (wilayah selatan Laos yang bentuknya mirip gagang panci) dengan tujuan untuk memindahkan rute transportasi strategis Group 559 [Ho Chi Minh Trail] ke wilayah sisi barat Pegunungan Annamite – singkatnya adalah untuk memindahkan Jalur Ho Chi Minh ke daerah Laos. Rencana tersebut menyatakan secara eksplisit bahwa gencatan senjata yang akan datang akan memberikan peluang dan waktu yang menguntungkan untuk melaksanakan operasi. Meskipun catatan sejarah PAVN tidak secara khusus mengakui hal ini, operasi tersebut dirancang untuk menyembunyikan keterlibatan PAVN dalam serangan militer yang mengatasnamakan pasukan Pathet Lao dan untuk memanfaatkan prospek kesepakatan internasional tentang kenetralan Laos. Mereka dengan ini kemudian dapat menghilangkan bahaya militer AS yang mengganggu jaringan pasokan PAVN. Serangan PAVN di selatan Laos diluncurkan bersamaan dengan serangkaian serangan kuat Pathet Lao – Tentara Vietnam Utara di wilayah utara dan tengah Laos. Serangan serentak tersebut tampaknya dimaksudkan untuk mengikat pasukan Laos di seluruh negeri dan untuk lebih mengalihkan perhatian AS dari tujuan strategis utama PAVN — yakni memperoleh jalur komunikasi dan logistik baru yang aman di wilayah Laos selatan untuk mendukung rencana perang mereka di Vietnam Selatan.

Truk Vietnam Utara di Ho Chi Minh Trail. Di saat berbagai pihak yang bertikai di Laos membahas mengenai penghentian perang saudara dan mewujudkan netralitas Laos, Vietnam Utara memanfaatkan waktu yang ada untuk memperluas jalur logistik mereka ke Vietnam Selatan dengan memanfaatkan wilayah Laos. (Sumber: http://www.psywarrior.com/)

Serangan ke Laos selatan, yang diarahkan oleh staf komando yang dipimpin bersama oleh komandan Divisi ke-325 PAVN dan Grup 559, dimulai pada tanggal 11 April 1961. Resimen ke-101 dari Divisi ke-325 menyerang dan merebut kota Tchepone, Laos, di jalur Rute 9, sebelah barat provinsi Quang Tri Vietnam Selatan. Sementara itu, Batalyon Pasukan Provinsi PAVN ke-927 dari Provinsi Ha Tinh merebut Muong Phin, di Laos dan tenggara Tchepone, sedangkan Batalyon Pertahanan Perbatasan ke-19 PAVN, disertai pasukan Pathet Lao, melakukan serangan sekunder di daerah sekitarnya. Segera setelah Tchepone dan Muong Phin diamankan, pasukan PAVN dan Pathet Lao menyerang ke barat dan timur untuk mengamankan sebanyak mungkin kawasan panhandle Laos. Pada saat pemimpin Pathet Lao mengumumkan penerimaan gencatan senjata di seluruh Laos pada tanggal 3 Mei 1961, pasukan pemerintah Laos di selatan Laos telah dihancurkan dan pasukan PAVN kini menguasai 100 kilometer jalur Rute 9 dari A Luoi (yang Orang Vietnam Utara disebut Ban Dong), dekat perbatasan Vietnam Selatan, ke Muong Pha Lan, sekitar dua pertiga dari jalan yang melintasi panhandle Laos. Sementara pers asing sesekali memberitakan pertempuran di Laos selatan selama periode ini, serangan itu kurang diperhatikan oleh pers dan di mata para pembuat kebijakan AS umumnya yang lebih menaruh perhatian pada serangan Pathet Lao dan Vietnam Utara yang sedang berlangsung terhadap target yang lebih sensitif di utara dan tengah Laos. Segera setelah Tchepone dan Muong Phin diambil alih, dan bahkan sebelum gencatan senjata tanggal 3 Mei diberlakukan, Grup 559 segera mengalihkan pasokan dan rute infiltrasi Jalur Ho Chi Minh dari sisi timur, sisi Vietnam Selatan dari rantai Gunung Annamite ke sebelah barat sisi pegunungan di wilayah Laos. Batalyon Transportasi Darat ke-301 dari Grup 559, yang merupakan satu-satunya unit transportasi darat grup pada saat itu, segera diperbesar menjadi ukuran resimen. Didesain ulang sebagai Resimen ke-70, unit tersebut mulai bekerja membangun rute transportasi baru untuk kuli angkut dan armada transportasi sepeda dari Vit Thu Lu di Vietnam Utara, tepat di utara DMZ, ke barat ke arah Laos dan kemudian ke selatan melalui wilayah yang baru ditaklukkan PAVN di kawasan panhandle Laos.

PENGEMBANGAN & DAMPAK INSTAN HO CHI MINH TRAIL

Staf umum PAVN kemudian segera mengirim Resimen Zeni ke-98nya ke daerah selatan Rute 9, di mana resimen tersebut mulai membangun kembali ruas jalan dari A Luoi, sebelah timur Tchepone, selatan Muong Noong. Setelah jalan itu selesai, para personel resimen itu mulai membangun jalur suplai dan infiltrasi dari Muong Noong tenggara ke provinsi Thua Thien dan Quang Nam di Vietnam Selatan. Sementara itu, dua batalyon zeni PAVN, dengan dibantu oleh Batalyon Provinsi ke-927, memulai pembangunan jalan yang dapat digunakan oleh kendaraan bermotor dari Rute 12 dan Jalan Mu Gia di perbatasan Vietnam Utara-Laos selatan ke Rute 9. Jalan baru ini, yang kemudian diberi nama Rute 129, yang selesai pada bulan Desember 1961. Segera setelah jalan tersebut selesai, truk dari Grup Transportasi Motor ke-3 PAVN memulai pengoperasian reguler mereka, dengan membawa perbekalan dan peralatan dari Vietnam Utara ke gudang penyimpanan di Muong Phin dan Tchepone. Untuk pertama kalinya, Vietnam Utara dapat dengan cepat memindahkan pasokan dan alat berat dalam jumlah besar ke sebagian besar rute ke medan perang di selatan. Transportasi darat sendiri bukanlah satu-satunya “anak panah” yang dilepaskan dari tabung anak panah Vietnam Utara. Segera setelah Muong Phin dan Tchepone direbut, catatan sejarah PAVN mengungkap bahwa Resimen Angkatan Udara PAVN ke-919, yang dilengkapi dengan pesawat Ilyushin Il-14, Lisunov Li-2 dan pesawat angkut Antonov An-2 buatan Soviet serta dibantu oleh pilot-pilot angkatan udara Soviet, memulai pengangkutan pasokan untuk disimpan di depot logistik PAVN yang baru di Rute 9. Bantuan ini adalah satu-satunya referensi sejarah PAVN yang mencatat keterlibatan langsung personel Soviet dalam operasi militer selama Perang Vietnam. Senjata dan peralatan militer yang dikirimkan, termasuk senjata recoilless, mortir berat, howitzer kaliber 75mm, amunisi, radio dan peralatan penyiaran untuk radio Front Pembebasan Nasional yang baru, yang dijatuhkan dengan parasut di Muong Phin. Setelah bandara di Tchepone diperbaiki oleh unit zeni Divisi ke-325, penerjunan pasokan juga dilakukan di lapangan terbang Ta Khong-Tchepone. Selain itu, setelah beberapa kali gagal dalam pengiriman pasokan melalui laut pada tahun 1959 dan 1960, pada awal tahun 1961 Vietnam Utara mengatur ulang upaya infiltrasi lautnya. Komite Partai Komunis dari provinsi pesisir Vietnam Selatan diperintahkan untuk mengirim personel dan kapalnya sendiri ke Utara untuk menerima pasokan dan untuk membantu Kelompok Infiltrasi Laut ke-759 PAVN yang baru dalam merencanakan dan melaksanakan upaya pengiriman pasokan lewat laut.

Pesawat angkut Ilyushin Il-14 milik digunakan untuk mengangkut senjata dan peralatan militer ke wilayah Laos Selatan segera setelah wilayah tersebut diamankan oleh tentara PAVN. Beberapa pesawat diawaki oleh pilot-pilot asal Soviet, dalam suatu operasi rahasia langka di Laos yang melibatkan pilot-pilot asal Soviet. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Dari awal pembangunan Jalur Ho Chi Minh pada tahun 1959 hingga akhir tahun 1960, hanya 3.500 tentara dan perwira yang telah dikirim ke selatan melewati jalan setapak itu. Hanya sebagian kecil dari tentara tersebut yang bergerak menuju ke daerah Saigon dan Delta Mekong, sebagian besar ditugaskan ke daerah Interzone 5 dan Central Highlands yang lebih dekat dan lebih mudah dijangkau. Pada tanggal 5 Mei 1961, hanya dua hari setelah berakhirnya operasi PAVN di kawasan panhandle Laos, sekelompok dari 500 perwira PAVN senior dan menengah dijadwalkan untuk ditugaskan ke resimen kekuatan utama baru yang direncanakan dan komando wilayah militer di Selatan memulai perjalanannya ke Vietnam Selatan. Pada tanggal 28 Juli, kelompok yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Tran Van Quang, wakil kepala staf dari staf umum PAVN, mencapai tujuannya di provinsi Binh Long di utara Saigon. Sementara itu pada tanggal 1 Juni, sekelompok 400 penyusup lainnya meninggalkan Vietnam Utara, dan tiba di Binh Long pada bulan September 1961. Sepanjang tahun 1961, total 7.664 petugas PAVN dan tamtama, (lebih dari dua kali jumlah yang dikirim pada gabungan tahun 1959 dan 1960), melakukan perjalanan menyusuri Ho Chi Minh Trail ke Vietnam Selatan. Menurut sejarah PAVN, 317 ton pasokan militer, terutama senjata dan amunisi, disalurkan ke Selatan melalui jaringan pasokan Ho Chi Minh Trail oleh Grup ke-559 pada tahun 1961 – jumlahnya empat kali lebih besar daripada tonase yang dikirim pada tahun 1960.

Titik-titik penting di jalur Ho Chi Minh Trail. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pada bulan September 1961, Politbiro Vietnam Utara membuat keputusan militer besar terakhirnya tahun itu. Politbiro telah menyetujui rencana staf umum PAVN untuk mendukung perluasan angkatan bersenjata Komunis di Vietnam Selatan dari tahun 1961 hingga 1963. Rencana tersebut tidak hanya menginstruksikan peningkatan perekrutan lokal di Vietnam Selatan tetapi juga memerintahkan antara 30.000 dan 40.000 personel PAVN Regular yang terlatih – sebagian besar dari mereka akan ditarik dari individu-individu yang memiliki pengalaman sebelumnya bekerja atau berperang di Vietnam Selatan – untuk menyusup ke Selatan. Penjelasan catatan sejarah PAVN menjelaskan fakta bahwa hanya orang selatan, atau mereka yang pernah tinggal di selatan dan bisa lulus menyamar sebagai orang selatan, yang dikirim. Alih-alih mengklaim bahwa para penyusup adalah sukarelawan yang kembali ke desa asal mereka untuk berperang, seperti yang telah diperkirakan — atau bahwa mereka dikirim karena mereka tahu daerah itu dan akan lebih efektif daripada orang utara, seperti yang diyakini oleh banyak pejabat pemerintah AS dan para pendukung perang — Catatan Sejarah PAVN menyebutkan bahwa hanya orang-orang selatan yang dikirim karena pada saat itu situasi internasional masih mengalami sejumlah perkembangan yang rumit. Di Amerika Serikat, misalnya, Presiden John F. Kennedy yang baru terpilih mulai berkonsentrasi pada urusan kontra-pemberontakan di Vietnam dan di tempat lain. Alasan utama Vietnam Utara hanya mengirim orang selatan selama tahun-tahun awal itu adalah alasan yang sama mereka hanya mengirim senjata hasil rampasan yang diproduksi oleh Barat selama tahun-tahun yang sama: Mereka ingin mempertahankan cukup banyak bukti penyangkalan yang memadai mengenai dukungan dan kendali Vietnam Utara atas perang yang mereka kobarkan di Selatan, untuk menghindari pemberian alasan apa pun kepada Amerika Serikat untuk mengirim pasukan militer guna mengesahkan campur tangan langsung mereka di Indocina. Untuk mengoperasikan jalur pasokan ke Vietnam Selatan, sebuah grup asal suku Montagnard (suku minoritas pegunungan) dari provinsi Quang Tri dan Thua Thien telah mendapat pelatihan khusus di Vietnam Utara pada tahun 1958 dan 1959. Pusat pelatihan besar bagi para infiltratoe dilaporkan didirikan pada awal tahun 1960 di Xuanmai dan Son Tay, dekat Hanoi. Selama tahun 1959 dan 1960, pihak intelijen Amerika sendiri memperkirakan ada 26 grup infiltrator dengan total jumlah personel sebanyak 4.500 orang telah melakukan perjalanan ke Vietnam Selatan. Sebuah data yang terbukti cukup akurat dikonfirmasi oleh catatan sejarah PAVN.

Resimen ke-70 menggunakan gajah untuk mengangkut logistik dari provinsi Quang Binh. Dalam mengoperasikan jalur Ho Chi Minh Trail, pihak komunis menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari kendaraan bermotor, sepeda angin hingga gajah. (Sumber: https://e.vnexpress.net/)
Crew anti pesawat Vietnam Utara menjaga jalur Ho Chi Minh Trail. (Sumber: https://e.vnexpress.net/)

Sementara cakupan penuh dari keputusan Vietnam Utara (terutama rencana untuk mengirim 30.000 hingga 40.000 tentara ke Selatan) tidak diketahui oleh Amerika atau Vietnam Selatan, penumpukan pasukan PAVN yang intens di selatan Laos dengan cepat terdeteksi oleh pihak AS dan pemerintah Vietnam Selatan. Selama musim panas dan awal musim gugur tahun 1961, pemerintahan Kennedy mempertimbangkan, tetapi pada akhirnya menolak, beberapa proposal untuk mengirim unit tempur AS ke Laos untuk memblokir peningkatan infiltrasi PAVN ke Vietnam Selatan. Setelah itu, karena Vietnam Utara telah mencapai kendali penuh atas kawasan panhandle Laos, menjadi sangat sulit untuk memantau ukuran operasi suplai dan infiltrasi yang dilakukan oleh pihak Vietnam Utara. Akibatnya, jumlah pasti penyusup dan jumlah pasokan yang bergerak di jalur tersebut menjadi subjek perdebatan terus-menerus baik di dalam maupun di luar pemerintah AS. Sementara itu keputusan Vietnam Utara di tahun 1961 dan konsekuensinya yang jauh lebih terlihat jelas hanya menerima sedikit perhatian dari pers internasional pada saat itu dan sebagian besar tidak diperhatikan oleh sebagian besar sarjana sejarah pascaperang.

Awak satuan Junk Vietnam menggeledah dan mencari perahu nelayan yang digunakan Viet Cong untuk mengirimkan barang selundupan dan senjata, Mei 1962. Selain menggunakan transportasi via darat, penyelundupan via jalur laut juga memegang peran signifikan bagi pemenuhan logistik pasukan komunis di medan Vietnam Selatan. (Sumber: https://laststandonzombieisland.com/)

Bahkan buku putih Departemen Luar Negeri AS tentang agresi Vietnam Utara, yang dikeluarkan pada bulan Februari 1965 dan dikritik secara luas pada saat itu karena dianggap membesar-besarkan dan bersifat propaganda, kini ternyata secara signifikan sebaliknya malah bisa dianggap meremehkan luasnya infiltrasi Vietnam Utara. Dokumen tersebut menegaskan bahwa dari 1959 hingga akhir 1964 sedikitnya 19.000, dan mungkin sebanyak 34.000, pasukan disusupkan ke Vietnam Selatan dari Utara. Sejarah PAVN tahun 1994 mencatat bahwa antara tahun 1959 dan akhir tahun 1963, setahun lebih pendek dari periode yang dicakup oleh buku putih Departemen Luar Negeri, sudah ada lebih dari 40.000 pasukan PAVN, terutama tentara asal Vietnam Selatan yang telah dikumpulkan, dikirim dari Utara ke medan perang di Vietnam Selatan. Di antara penyusup ini ada lebih dari 2.000 perwira senior dan menengah (tingkat perwira lapangan ke atas) dan personel teknis. Pada 1963, penyusup dari Vietnam Utara itu, menurut sejarah PAVN, merupakan 50 persen dari tentara penuh waktu dan 80 persen perwira dan kader teknis dalam organisasi komando dan kepemimpinan tentara Komunis di Vietnam Selatan. Mengenai dukungan logistik, sejarah PAVN membanggakan diri bahwa dari tahun 1961 hingga 1963, Grup ke-559 [Komando di Ho Chi Minh Trail] telah mengangkut ke medan perang 165.600 pucuk senjata dari semua jenis, termasuk artileri, mortir, dan senapan mesin antipesawat. Selain itu, upaya infiltrasi laut Vietnam Utara akhirnya dimulai pada tahun 1962. Pada akhir tahun 1963, Sea Infiltration Group ke-759, dengan menggunakan kapal pengangkut yang disamarkan sebagai jung penangkap ikan, berhasil mengirimkan 25 muatan kapal dengan total 1.430 ton senjata dan amunisi (termasuk mortir, recoilless). senapan dan senjata antipesawat kaliber 12,7 mm) ke dermaga rahasia dan lokasi pendaratan di Delta Mekong dan di provinsi pesisir timur Saigon. Mengingat fakta bahwa selama tahun 1961 hanya 317 ton pasokan militer yang telah diangkut melalui darat menyusuri Jalur Ho Chi Minh, sumbangan yang dibuat untuk upaya perang Komunis melalui operasi pasokan melalui laut, terutama di daerah selatan Dataran Tinggi Tengah dan jauh dari titik transshipment Ho Chi Minh Trail di Laos selatan, sangatlah penting.

PENILAIAN

Berdasarkan pengamatan, nilai penting secara kumulatif atas keputusan yang dibuat Vietnam Utara pada tahun 1961 sangatlah jelas. Pada tahun 1962, pasukan Komunis di Selatan menderita kerugian yang sangat serius (yang diakui sendiri dalam sejarah PAVN) sebagai akibat dari peningkatan bantuan militer dan dukungan udara baru dari AS serta penasihat tempur yang dikirimkan kepada angkatan bersenjata Vietnam Selatan oleh Presiden Kennedy pada bulan November 1961. Tanpa keputusan Politbiro yang dibuat pada tahun 1961, pasukan Komunis akan kehilangan inisiatif militer dan kelangsungan hidup mereka bahkan mungkin terancam. Tetapi kekuatan pasukan Komunis terus meningkat meskipun menderita banyak kekalahan dalam pertempuran, dimana jumlah mereka terus tumbuh hampir lima kali lipat, menurut catatan PAVN, dari 15.000 tentara penuh waktu pada akhir tahun 1960 menjadi 70.000 tentara penuh waktu pada akhir tahun 1963. Pada tahun 1963, lima resimen kekuatan utama komunis baru telah diorganisir dan beroperasi di Vietnam Selatan. Jaringan pasokan Vietnam Utara kemudian memiliki basis logistik baru yang aman di Laos selatan dan sistem transportasi laut yang berfungsi dapat secara efektif mendukung medan perang utama di Vietnam Selatan, termasuk daerah-daerah penting di sekitar Saigon dan di Delta Mekong.

Truk logistik Vietnam Utara melintasi sungai di jalur Ho Chi Minh Trail bulan Maret 1971. Kegagalan Amerika dalam memblokir jalur infiltrasi Vietnam Utara menjadi kesalahan strategis terbesar Amerika dalam Perang Vietnam. (Sumber: https://e.vnexpress.net/)

Pasukan komunis di Selatan juga dapat dipersenjatai dengan lengkap dan menerima banyak persediaan amunisi. Senjata dan personel terlatih yang mampu melawan peralatan militer paling berbahaya yang dikirimkan Amerika, yakni helikopter dan kendaraan pengangkut personel lapis baja, telah tiba di Selatan dan membuktikan keefektifannya. Bukti yang diberikan oleh catatan sejarah PAVN menunjukkan dengan jelas bahwa, setelah 1961, bahkan tindakan pengamanan internal yang paling efektif di Vietnam Selatan tidak akan cukup mengatasi problem infiltrasi Vietnam Utara, jika tanpa didampingi upaya untuk memblokir aliran pasukan dan pasokan dari Utara. Dalam bukunya “The Key to Failure”, mantan perwira Departemen Luar Negeri AS Norman B.Hannah menggambarkan kegagalan Amerika untuk mengambil tindakan tegas di lapangan untuk memblokir infiltrasi Vietnam Utara melalui Laos sebagai kesalahan strategis terbesar pemerintah AS dalam Perang Vietnam. Apakah seseorang percaya tindakan seperti itu layak atau tidak untuk dilakukan pada saat itu dalam hal taktis, strategis dan politik domestik, pengungkapan yang diberikan oleh perwira Vietnam yang menulis sejarah PAVN pada tahun 1994 memberikan dukungan yang kuat untuk mendukung argumen Hannah bahwa jalur suplai pihak Komunis melalui Laos, yang dasar pembangunannya ditetapkan oleh keputusan para pemimpin Vietnam Utara pada tahun 1961, memang merupakan kunci kemenangan pihak Komunis dalam perjuangan mereka untuk menaklukkan Vietnam Selatan.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

North Vietnam’s Master Plan by Merle L. Pribbenow

Planning A Tragedy: The Americanization Of The War In Vietnam; Larry Berman, p 17; 1982

The Ten Thousand Day War : Vietnam 1945-1975; Michael MacLear; p 78; 1981

A Bright Shining Lie: John Paul Vann and America in Vietnam; Neil Sheehan; p 191; 1989

Vietnam: An Epic Tragedy, 1945-1975; Max Hastings; p 109-110 ; 2018

The Pentagon Papers: The Secret History of the Vietnam War; Neil Sheehan-Herick Smith-E.W Kenworthy; p 77-78; p 87; 1971

2 thoughts on “Resolusi Tahun 1961 dan Rencana Perang Hanoi yang Menentukan Hasil Perang Vietnam

  • 27 December 2020 at 12:52 am
    Permalink

    great post , i read that post more than three times to understand it

    Reply
    • 27 December 2020 at 2:02 am
      Permalink

      Tks, i hope you understand

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *