Robert McCawley Short, Sukarelawan Udara asal Amerika kesayangan Rakyat China

Banyak media yang kita dengar belakangan ini menyorot mengenai hubungan China-AS yang tensi “permusuhannya” semakin meningkatnya, baik dari sisi politik, militer hingga ekonomi. Tetapi kurang dari seratus tahun yang lalu Amerika dan Cina tercatat berdiri bersama menentang agresi kekuatan sebuah negara Asia yang sedang tumbuh, yakni, Kekaisaran Jepang. Bertahun-tahun sebelum Amerika secara resmi berperang melawan Jepang setelah serangan Jepang di Pangkakan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbor tahun 1941, beberapa pemuda Amerika secara sukarela membantu militer China Nasionalis dalam perang melawan Jepang. Sumbangsih orang-orang Amerika ini amat dihargai oleh orang-orang China yang kepayahan melawan Jepang, salah satu dari pemuda Amerika yang menonjol dalam konflik ini adalah Robert McCawley Short.

Anggota American Volunteer Group di China/Burma tahun 1941-1942. Jauh sebelum hingar bingar konfrontasi AS-China belakangan ini, kedua bangsa dulunya memiliki catatan persahabatan yang erat dalam melawan agresi Jepang di Asia. (Sumber: Pinterest)

Latar belakang

Lahir di Steilacoom negara bagian Washington pada Oktober tahun 1904 dan kemudian pindah ke Tacoma setelah ayahnya meninggalkan rumah pada tahun 1912. Robert Robert McCawley Short, yang kemudian dibesarkan oleh ibunya adalah anak tertua dari tiga bersaudara dengan seorang adik perempuan dan laki-laki. Ia dikenal karena keberaniannya dalam menghadapi bahaya, namun sifat bebasnya ini membuatnya menghadapi beberapa kesulitan selama bersekolah. Setelah berganti beberapa pekerjaan, Robert bergabung dengan Korps Udara dan memulai pelatihan pilot di March Field. Dia menulis kepada keluarganya, “Saya sangat percaya diri dengan kemampuan saya untuk terbang. Jika saya gagal, itu bisa dipastikan bukan karena kurangnya semangat saya”. Robert McCawley Short memang sudah terpikat dengan petualangan dan penerbangan dari usia muda. Upaya Short untuk mencoba bergabung dengan Korps Udara Angkatan Darat AS itu akhirnya ditolak setelah kabarnya ia membawa beberapa semangka terbang ke udara bersamanya dan “membom” sebuah truk, meski kebenaran kisah ini belum bisa dikonfirmasi. Setelah ditolak oleh Korps Udara ia sempat menjalani serangkaian pekerjaan yang berhubungan dengan penerbangan termasuk sebagai asisten manajer di bandara Tacoma tetapi ia kehilangan pekerjaan itu karena penunjukan yang bersifat politis. Tetap saja, Short adalah seorang pemuda dengan penampilan hampir seperti aktor Hollywood dan punya sikap pemberontak, Short memutuskan bahwa ia tetap akan terbang untuk mencari nafkah, kemudian memilih untuk mengambil tugas berbahaya dengan menerbangkan rute pos udara di Cina.

Robert Short, pilot asal Tacoma. (Sumber: https://www.thenewstribune.com/)

Setelah kedatangannya pada Februari tahun 1931, Short menemukan bahwa pesawat-pesawat yang akan digunakannya ada dalam kondisi yang mengerikan. “Setelah kedatangan saya 24 Februari lalu, saya mengunjungi China Airways dan saya segera kecewa dengan dengan peralatan mereka,” tulis Short dalam sepucuk surat kepada ibunya di Tacoma. “Anda tahu, pesawat terbang mereka telah beroperasi selama dua tahun terakhir dalam cuaca terburuk, terkena air dan debu tanpa perawatan yang tepat.” Saat itu dunia penerbangan memang masih baru di Amerika, dan tentunya masih lebih baru lagi di Cina. Perusahaan-perusahaan Amerika mulai menjual pesawat terbang ke daratan China, salah satunya L.E. Gale Company. Dengan perusahaan ini, Short kemudian mendapat pekerjaan untuk mengirimkan pesawat pesanan dari satu bagian Cina ke bagian lainnya. Pemerintah Cina lalu mempekerjakannya untuk menjadi instruktur bagi angkatan udara Tiongkok yang masih baru.

Personel Angkatan Udara China Nasionalis sekitar tahun 1930. Pada awal kelahirannya, AU China banyak mempekerjakan instruktur asing, termasuk dari Amerika seperti Robert Short. (Sumber: https://monovisions.com/)

Short telah mengembangkan kecintaan pada orang-orang Cina, dan memuji kejujuran dan keramahtamahan mereka. Seiring waktu, dia menyebut kota Shanghai sebagai rumahnya yang jauh. “Orang Cina secara alami menjunjung tinggi kejujuran, dan jika saya beruntung di masa depan seperti saya di masa lalu, saya tidak akan terlalu merindukan sebuah persahabatan, karena disini saya telah menikmati keramahan orang-orang Cina,” tulis Short pada 13 Oktober 1931. Dia juga menulis bahwa kebanyakan orang Amerika yang tinggal di China tidak meluangkan waktu untuk memahami orang-orang China. “Setengah lusin penasihat Amerika yang sudah mendahuluiku sering berbohong dan memberi informasi yang salah untuk keuntungan mereka sendiri; sementara di benak orang-orang Cina, mengapa tidak? Toh mereka orang asing bukan rakyat mereka sendiri “Tulisnya singkat. “Bagi saya tidak ada alasan sama sekali kecuali karena ketulusan dan hati nurani saya yang tertanam dan menyatu dengan kelompok dimana saya berada ditambah dengan patriotisme yang abadi, semangat do or die yang mereka tunjukkan memungkinkan Cina mendapat penghormatan terhadap dunia luar. ” “Dia amat benci melihat orang-orang China itu dimanfaatkan,” kata Lee Corbin, sejarawan yang meneliti riwayat Short.

Pengalaman singkatnya di China, sudah cukup membuat Robert MacCawley Short mengembangkan kecintaannya pada masyarakat China, yang dipandangnya banyak dimanfaatkan oleh pihak asing dan diancam oleh Jepang. (Sumber: https://davidderrick.wordpress.com/)
Pada September tahun 1931, Jepang menginvasi Manchuria setelah pecah insiden di Mukden. (Sumber: https://nisis.weebly.com/)

Pada saat yang sama, Cina dan Jepang mulai terlibat dalam konflik bersenjata secara sporadis. Orang-orang Jepang di China semakin agresif, dan mulai berupaya mempengaruhi kebijakan kekaisaran itu di Cina. Mereka kemudian merekayasa konflik dengan tentara China untuk menyediakan cassus belli/alasan bagi mereka untuk melakukan perluasan wilayah. Insiden Mukden pada September 1931 – di mana Jepang menganeksasi sebagian besar wilayah Cina Timur Laut lalu diikuti oleh Insiden Shanghai tanggal 28 Januari 1932. Ribuan tentara Jepang, dengan didukung oleh pesawat berbasis kapal induk dan bombardemen dari laut, melancarkan serangan terhadap sasaran di daerah Shanghai. Pertempuran berdarah pecah ketika orang-orang Cina yang kalah dalam senjata berperang dengan berani untuk menghentikan gerak maju mereka. Negara lain mengirim protes, tetapi Jepang mengabaikan mereka dan menolak upaya mereka untuk menegosiasikan gencatan senjata. Pada waktu itu, Short memberi tahu ibunya bahwa ia menonton pesawat-pesawat Jepang membom bagian-bagian dari kota Shanghai pada tahun 1932, hal ini membuatnya sangat marah. “Ibu, kau tidak bisa menyadari kebrutalan dan bagaimana tidak bergunanya dari semuanya itu dan apa yang akan dihadapi Amerika Serikat pada waktu-waktu mendatang,” tulis Short dalam surat tertanggal 4 Februari 1932. “Jepang tidak memiliki basis pasokan dan jika kekuatan dunia mengizinkannya mengambil Manchuria, itu tidak akan memakan waktu sepuluh tahun bagi dunia untuk melihat Jepang meluaskan ekspansinya dengan Amerika Serikat sebagai hadiah utamanya.” Short singkatnya sudah bisa memprediksi akan pecahnya konflik terbuka antara Amerika dengan Jepang.

Aksi kepahlawanan yang legendaris

Short masih menyimpan kemarahan yang membakar dirinya hingga tanggal 19 Februari 1932. Pada hari itu Short mengantarkan sebuah pesawat tempur biplane jenis Boeing 218 yang unik dari bandara dekat Shanghai ke Nanking (sekarang bernama Nanjing) untuk menjaganya dari bahaya dihancurkan Jepang, ketika ia melihat pesawat-pesawat tempur A1N2 Jepang dari kapal induk Hosho terbang di atas distrik Nanxiangzhen, Shanghai, ketika mereka terbang ke Nanjing. Pesawat yang digunakan Short ini adalah prototipe dari Boeing P-12 yang kemudian akan diadopsi oleh US Army Air Corps dan US Navy, merupakan pesawat tempur paling canggih di wilayah tersebut pada saat itu. Membawa dua senapan mesin berisi peluru penuh pada biplane Boeing 218 yang diterbangkannya, Short lepas landas, merusak salah satu dari tiga pesawat yang bisa ia jumpai. Short menggunakan pesawat terbangnya yang lebih cepat untuk melancarkan serangan berkecepatan tinggi pada pesawat pemimpin penerbangan Jepang, menimbulkan kerusakan parah pada pesawat dan memaksa formasi untuk memecah dan menyebar. Setelah mendarat dengan selamat di Bandara Hongqiao, ia dipuji oleh penduduk setempat dan jurnalis karena terlibat dalam pertarungan udara yang mana secara teknis tidak pernah ia pelajari. Dalam pertempuran singkat ini, Short dianggap membukukan sebuah catatan “kill”, tetapi kemudian ternyata bahwa pilot pesawat yang rusak, Letnan Kidokoro, akan terus bertempur dalam Perang Dunia Kedua dan baru akan terbunuh pada tahun 1944 di Kepulauan Marshall.

Pesawat Boeing Model 218 yang digunakan Robert Short dalam insiden tanggal 19 Februari 1932. (Sumber: https://militarymatters.online/)
Pesawat tempur Nakajima A1N milik Jepang, yang merupakan pesawat tempur lisensi dari Gloster Gambet, varian Gamecock buatan Inggris. (Sumber: https://alchetron.com/)

Kemajuan cepat Jepang berarti bahwa Cina harus segera mengevakuasi sisa-sisa pesawat mereka ke Nanjing dan karena pesawatnya jauh lebih cepat daripada rekan-rekannya, Short diperintahkan untuk terbang sendiri ke pangkalan barunya. Pada 22 Februari, Short sedang dalam perjalanan ke Suzhou (kota terdekat), terbang sendirian dan terpisah dari formasi pesawat Angkatan Udara Cina Nasionalis ketika ia melihat tiga pembom B1M Jepang yang berpangkalan di kapal induk Kaga dilindungi oleh tiga pesawat tempur A1N (versi pesawat tempur yang dikembangkan dari desain Inggris, Gloster Gamecock dari tahun 1925) formasi Jepang ini kemungkinan akan membom stasiun di kota Suzhou yang dipenuhi dengan pengungsi. Mengetahui bom itu akan jatuh pada orang-orang yang dia cintai, Short segera menyerbu pembom-pembom itu. Dia berhasil membunuh komandan bomber, Lt. Kotani Susumu dengan senapan mesin serta melukai penembak belakangnya dan segera bertempur dengan pesawat-pesawat tempur Jepang untuk beberapa saat, sebelum menembak jatuh salah satu diantaranya. Sayangnya, pertempuran udara 3 banding 1 jarang menguntungkan dalam pertempuran, Short kemudian ditembak jatuh oleh Toshio Kuroiwa dan Nokiji Ikuta, pesawatnya jatuh di danau dangkal dekat Sungai Wusong. Dia menjadi pilot asing pertama yang dibunuh oleh Jepang selama Perang Sino-Jepang Kedua dan merupakan korban Amerika pertama dalam konflik melawan Jepang, sembilan tahun sebelum serangan di Pearl Harbor, usianya saat itu baru 28 tahun. Penerbang Angkatan Laut Kekaisaran Jepang Nokiji Ikuta terpana oleh keberanian Short, dan meskipun pertempuran hanya berlangsung tiga menit, pertempuran itu akan tercetak dalam ingatannya seumur hidup. Saksi mata peristiwa itu, petani bernama Gao Jing-sheng, mengatakan bahwa pilot Jepang, yang terkesan oleh keberanian musuh yang jatuh, kemudian terbang melintas di atas lokasi Short jatuh dan memberi hormat dengan menggoyang sayap pesawat mereka. Ini adalah insiden pertama pertempuran udara antara pilot sukarelawan Amerika yang menerbangkan pesawat tempur Amerika atas nama China dengan pesawat tempur Kekaisaran Jepang dan juga merupakan kemenangan udara-ke-udara Jepang pertama dalam perang.

Pembom Torpedo Mitsubishi B1M AL Jepang, tipe sama yang diserang oleh Robert Short dalam insiden tanggal 22 Februari 1922. (Sumber: http://arawasi-wildeagles.blogspot.com/)
Nakajima Type 3 Carrier Fighter A1N2  yang diterbangkan oleh Nokiji Ikuta, salah satu pilot yang bertanggung jawab menembak jatuh Short. (Sumber: Pinterest)
Pilot pesawat tempur Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (IJN) yang pada 22 Februari 1932, mencetak kemenangan udara pertama dalam sejarah IJN. Penembakan terjadi di Shanghai selama insiden Shanghai dan para pilot menerbangkan pesawat tempur Tipe 3 A1N2. Dari kiri ke kanan pilot adalah: Nokiji Ikuta, Toshio Kuroiwa, dan Kazuo Takeo. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Sekitar empat puluh lima tahun setelah kematian saudaranya, Edward Short menerima telepon dari seorang pensiunan kolonel Angkatan Udara AS yang memberitahunya bahwa ia memiliki surat dari Nokiji Ikuta, salah satu pilot yang menembak jatuh Short, dan telah diminta untuk mengirimkannya jika memungkinkan. Dalam surat itu, Ikuta menggambarkan bagaimana setelah pertempuran ia kehilangan keinginannya untuk bertempur dan tumbuh membenci militer. Dia akhirnya mengundurkan diri dari angkatan laut dan memasuki politik, dengan alasan perdamaian. “Saya kehilangan semangat,” dia menceritakan, “Saya tidak bisa lagi merasakan hal-hal yang membuat saya ingin bertarung. Saya membenci militer apa pun dan meninggalkan profesi saya sebagai pilot pesawat tempur. “Seperti yang ditulis Ikuta: “Aksi [Short] selalu hidup dalam ingatanku … dan dalam hal keberanian tidak ada yang bisa menandinginya.” “Saya sangat tersentuh oleh keberanian pria ini dan keterampilannya,” kata Ikuta kemudian. Tindakan Short nantinya akan mendorong komandan penerbangan militer Jepang yang legendaris dan politisi di masa depan, Minoru Genda untuk menurunkan lebih banyak pesawat modern dalam misi-misi kekuatan udara Jepang di masa depan. Menurut Minoru Genda, kinerja pesawat tempur Boeing 218 telah mengejutkan para pilot Jepang dan pertempuran tanggal 19 dan 22 Februari, dimana hal ini sangat berperan dalam berkontribusi pada pengembangan pesawat tempur Nakajima A2N1 Type 90 untuk menggantikan pesawat tempur Tipe 3 (A1N2). Menurut Aviation of Japan, Ikuta tidak pernah bisa melupakan Short dan terus berdoa bagi jiwanya setiap hari. Kematian Short segera tersebar di seluruh dunia dan Pemerintah Jepang tidak senang mengetahui bahwa mereka telah berperang melawan orang Amerika. “Hal itu menyebabkan masalah saat mereka mengetahui ada orang Amerika bertempur melawan mereka sehingga (Departemen Luar Negeri AS) harus menulis banyak laporan dan mengirimkannya kembali ke Washington, D.C.,” kata Corbin.

Pahlawan China

Menemukan tubuhnya di sungai, orang Cina segera dilanda kesedihan karena mendapati pahlawan mereka telah gugur. Dalam waktu singkat, Tentara Nasionalis Cina mempromosikan Short ke pangkat Kolonel di militer mereka dan memerintahkan pemakaman resmi diadakan atas namanya, sampai mengundang ibunya dan saudaranya, Edmund untuk hadir dalam pemakaman Short pada tanggal 24 April. Rekaman berita menunjukkan polisi harus mendorong kembali kerumunan yang mengantar pemakaman Short. Pengusung jenasah Short termasuk berasal dari pejabat militer Cina dan pilot-pilot asal Amerika. Sekitar iring-irinngan 45 mobil turut berjalan bersama para pengiring di jalan-jalan Shanghai. Koran-koran Cina mendokumentasikan kisah itu lebih jauh dan mengedarkannya secara luas, dan pada saat pemakamannya, di mana saja dari 100.000 hingga 500.000 orang mengawal pemakamannya 20 mil ke Bandara Hongqiao, di mana ia dimakamkan sebagai prajurit kesayangan dan pahlawan nasional. ” Mengatakan bahwa dia berjuang untuk China saja akan mengecilkan perbuatannya yang berani dan rasa kemanusiaannya karena demi kemanusiaan dan keadilan dia gugur,” kata Jenderal Chiang Kwang-nai, commander-in-chief dari Chinese 19th Army menulis kepada ibu Short dalam sebuah surat yang diperoleh oleh News Tribune. “Nama Robert Short akan hidup lama di catatan kehormatan orang-orang hebat, dan pengabdiannya yang penuh kebaikan akan selalu dikenang semua orang Cina.” Waktu, erosi, dan Komunisme sempat mengancam menghancurkan ingatan orang akan Robert Short – sebuah batu peringatan yang ditempatkan di mana pesawat Short ditembak jatuh telah telah rusak dan akhirnya dipatahkan selama revolusi kebudayaan untuk dijadikan tiang pagar untuk kandang babi.

Situasi pemakaman Robert McCawley Short di Shanghai, Cina, 1932. Peti mati dengan karangan bunga di atas berada di latar depan. Ibunya Elizabeth Short, dan mungkin saudaranya, berdiri di belakang peti mati di sebelah kiri. (Sumber: http://www.washingtonhistory.org/)
Pengunjung melihat obelisk di dalam aula peringatan yang dibangun pada 2009 untuk menghormati pilot Tacoma Robert Short di Kota Chefang, Suzhou Cina. Short ditembak jatuh di atas China pada tahun 1932. Obelisk ini dulunya menandai tempat di mana pesawat Short jatuh. Namun kemudian berubah menjadi tiang pagar selama Revolusi Kebudayaan. JACQUELINE SHORT DURGIN/COURTESY
ATTACKS FROM ABOVE (Sumber: https://www.thenewstribune.com/)
Monumen Rober Short di Suzhou, China. (Sumber: http://www.aviationofjapan.com/)

Zou Zhiyi, seorang sarjana Tiongkok yang telah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk meneliti Short, mengatakan bahwa kisah tentang pilot itu diterbitkan dalam sebuah buku teks berbahasa Mandarin pada tahun 1934 dan masih diajarkan sampai sekarang. Peneliti lain, Zhang Jingye, mengatakan bahwa, sebelum kematian Short, publik Amerika tidak tertarik dengan agresi Jepang di Cina. “Tetapi ketika Short terbunuh, mereka menyadari bahwa salah satu rekan mereka meninggal demi Keadilan di Tiongkok,” kata Jingye. “Hal itu benar-benar mempersempit jarak psikologis antara publik barat dan China.” Meskipun terjadi banyak perubahan di China, Short tidak benar-benar dilupakan. Orang-orang China masih bisa menunjuk dimana tempat dia jatuh, dan, pada 2015, batu peringatan dan artefak lainnya ditemukan dan dimasukkan sebagai bagian dari memorial seluas 1.000 kaki persegi yang didedikasikan untuk Short, berjudul, “Pahlawan Amerika-China.” Memorial Short terletak di Taman Industri Suzhou, dan makamnya dipindahkan ke Pemakaman Martir Anti-Jepang di Nanjing. Short, singkatnya, Short adalah pionir bagi kiprah orang-orang Amerika di Cina selama Perang Dunia II. Seorang sukarelawan pemberani yang berjuang berdasarkan prinsip, ia membuka jalan bagi Kelompok Sukarelawan Amerika “Flying Tigers,” yang dikenal secara lokal sebagai “Fei Hu Dui.” Warisan mereka tetap hidup di hati banyak orang-orang Cina, yang masih mengingat mereka, sebagai simbol semangat Amerika. Semangat kesukarelaan dan , dimana Robert Short adalah salah satu orang yang menunjukkannya.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

China’s American Hero: How a renegade pilot won the hearts of Shanghai by Andy Wolf; Oct 8, 2019

https://warisboring.com/chinas-american-hero-how-a-renegade-pilot-won-the-hearts-of-shanghai/

Tacoma pilot is revered as a hero in China but nearly forgotten at home BY CRAIG SAILOR; NOVEMBER 12, 2017 08:00 AM

https://www.thenewstribune.com/news/local/article184009651.html

THE FIRST OF THE FLYING TIGERS; BOB SHORT, THE HERO OF SUZHOU by Ed Nash; May 6, 2019

https://militarymatters.online/the-first-of-the-flying-tigers-bob-short-the-hero-of-suzhou/

Funeral of Robert McCawley Short in Shanghai

http://www.washingtonhistory.org/collections/item.aspx?irn=112232&record=3

Robert Short ~ The First Flying Tiger

http://www.aviationofjapan.com/2013/06/robert-short-first-flying-tiger.html?m=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *