Saat Rommel Dibuat Mati Kutu oleh Pertahanan Prancis di Bir Hacheim, 27 Mei-11 Juni 1942

Pada tahun 1942, pasukan Prancis Merdeka kalah dalam Pertempuran Bir Hakeim melawan pasukan Rommel di gurun Afrika Utara. Namun, dalam perang, terkadang kemenangan bukanlah kemenangan, dan terkadang kekalahan bukanlah kekalahan jika dilihat dari gambaran besarnya. Misalnya pada tahun 280/279 SM, Jenderal Yunani Pyrrhus dua kali mengalahkan pasukan Romawi. Dalam kedua kasus itu, kemenangan itu malah sangat merugikannya sementara kerugian diantara orang-orang Romawi sangat sedikit, sehingga Pyrrhus terpaksa mundur. Pada tahun 1836, pasukan Texas dikalahkan di Benteng Alamo dalam pemberontakan mereka melawan pemerintah Meksiko. Meskipun benar-benar dikalahkan, kekalahan tersebut membuat orang-orang Texas yang tersisa bersekutu dengan Amerika Serikat dan akhirnya menyebabkan kekalahan terakhir bagi pasukan Meksiko satu setengah bulan kemudian. Pertempuran antara pasukan Prancis Merdeka di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Marie Pierre Koenig dan pasukan Axis di bawah komando Jenderal (kemudian Field Marshal) Erwin Rommel dalam upaya Jerman untuk bergerak jauh ke Mesir dan merebut Terusan Suez adalah sebuah kekalahan militer bagi sekutu, dimana pasukan Prancis dipaksa untuk mundur, dan pasukan Jerman serta sekutu Italia nya melaju lebih dari tiga ratus mil lebih jauh ke wilayah Sekutu, TAPI … Pasukan Prancis yang kalah jumlah sangat banyak berhasil menahan pasukan Axis begitu lama sehingga mereka benar-benar menghancurkan kesempatan Jerman untuk merebut Malta (pelabuhan pasokan utama Sekutu dan pangkalan udara di Mediterania, setengah jalan antara daratan Eropa dan Afrika), dan sekaligus memungkinkan Pasukan Inggris serta pasukan negara-negara persemakmuran yang bertempur bersama pasukan Prancis untuk melakukan penarikan mundur secara teratur ke wilayah Mesir, di mana mereka lalu membentuk posisi pertahanan yang kuat di atau dekat wilayah El Alamein, yang pada akhirnya menyebabkan kemenangan Sekutu yang krusial pada musim gugur 1942. Berikut adalah kisah pertempuran Bir Hacheim yang membuat Rommel mati kutu itu.

Lukisan akhir Pertempuran di Benteng Alamo tahun 1836. Dalam Pertempuran ini pasukan Mexico memang memenangkan pertempuran secara mutlak, namun pada akhirnya mereka malah kehilangan wilayah Texas. Pengalaman Mexico menjadi contoh bahwa hasil pertempuran belum tentu menjado penentu pemenang perang. (Sumber: Pinterest)

SEBUAH POS GURUN YANG TIDAK MENARIK 

Pada akhir Mei 1942, Rommel dan lawannya dari Inggris, Jenderal Claude Auchinleck, sama-sama mempersiapkan serangan terhadap apa yang dikenal sebagai “Jalur Gazala” di selatan pelabuhan penting Tobruk, di Libya. Berhadapan satu sama lain adalah sekitar 90.000 pasukan Axis (50.000 Jerman, 40.000 Italia), didukung oleh 560 tank (332 Jerman) dan 542 pesawat Jerman dan Italia), melawan sekitar 110.000 tentara Sekutu dari negara-negara Persemakmuran Inggris, yang dilengkapi dengan 843 tank dan 604 pesawat. Disamping itu, pasukan Sekutu juga didukung oleh sejumlah kecil satuan dari kekuatan Militer Prancis Merdeka nya Jenderal Charles de Gaule yang menentang keputusan kolaborasi dengan Jerman yang diambil oleh pemerintah Prancis Vichy. Sementara sekutu merancang ofensifnya, sebuah satuan Prancis Merdeka ditugaskan untuk menjaga sebuah pos militer terpencil di Gurun dekat Garis Gazala. Ketika Brigadir Jenderal Joseph-Pierre Koenig, komandan Brigade Prancis Merdeka ke-1, mensurvei daerah yang baru saja diperintahkan untuk dipertahankannya, dia pasti sangat kecewa. Wilayah itu ada di tepi (dan juga menjadi bagian paling terpencil) dari apa garis Gazala, serangkaian posisi defensif Angkatan Darat Kedelapan Inggris yang belum selesai yang dirangkai melalui gurun Libya, dari Ain-el-Gazala di pantai Mediterania ke Bir Hacheim sekitar 40 mil ke daratan. Pada pandangan pertama, posisi Bir Hacheim tampaknya hampir tidak dapat dipertahankan. Medannya berupa gurun pasir, terbuka dan datar, tanpa penutup atau adanya tempat penyembunyian alami. Kondisi iklimnya sama buruknya dengan yang ada di Sahara — terbakar matahari di siang hari, dingin di malam hari, ditambah badai pasir, fatamorgana, dan lalat. Wilayah itu kering tanpa air. Dalam bahasa Arab “bir” berarti “sumur,” tetapi sumur di Bir Hacheim sudah kering sejak lama. Yang tersisa hanyalah beberapa tangki beton rusak dan reruntuhan benteng kecil Italia yang pernah menjadi markas kompi meharisti, korps unta asal Italia. Setelah lama ditinggalkan, tempat itu menjadi rumah sementara bagi Brigade India ke-150, Angkatan Darat ke-8, yang mana kemudian digantikan oleh Pasukan Prancis pimpinan Koenig. Di balik puing-puing yang remuk, pasir, batu, dan kerikil yang seolah tak berujung, sesekali terdengar beberapa unta bergemerisik di sekitar semak-semak memecah kebisuan. 

Bir Hacheim tahun 1990, bila dilihat dari alam dan posisinya, wilayah ini sukar dikatakan sebagai tempat yang penting dan nyaman untuk dihuni. Pada tahun 1942, tempat ini menjadi lokasi pertempuran yang memgharumkan nama Prancis. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

Mungkin bagi orang Prancis mereka seperti mendapatkan tugas yang tidak penting ketika mereka ditugaskan ke bagian garis pertahanan terpencil dan tampaknya diabaikan ini. Mungkin memang demikian, karena para perwira Inggris dari Komando Timur Tengah di Kairo cenderung memandang rendah tentara Perancis pada umumnya; sementara penyerahan Prancis tahun 1940 masih membayangi dibpikiran mereka. Sampai waktu itu sebagian besar tugas pasukan Prancis Merdeka yang kecil jumlahnya di Afrika Utara, dengan beberapa pengecualian, merupakan tugas-tugas tidak begitu penting dan ada dibawah komando tertinggi Inggris. Petinggi Inggris tampaknya berpikir bahwa upaya utama dalam melawan Garis Gazala akan lebih jauh ke utara dari Bir Hacheim, dan di situlah mereka membentuk pertahanan yang lebih kuat. Inggris sendiri sepertinya tidak pernah bisa mengkoordinasikan aksi dengan baik setelah kemenangan gemilang mereka melawan Italia hampir dua tahun sebelumnya. Sejak Jenderal Jerman Erwin Rommel dan satuan Deutches Afrika Korps (DAK) dikirim ke Afrika Utara pada awal 1941 untuk membantu militer Italia yang terpukul hebat, medan pertempuran telah bergeser ke daerah yang dikenal sebagai Gurun Barat, semakin mendekat ke wilayah Mesir yang dikuasai Inggris. Medan pertempuran ini terdiri dari bagian barat Mesir dan sebagian besar wilayah tetangganya, Cyrenaica, provinsi timur Libya Italia. Belakangan Inggris berada di atas angin ketika Operasi Crusader yang mereka lancarkan telah mendesak divisi-divisi Rommel asal Jerman dan Italia kembali ke El Agheila di Cyrenaica barat. Tetapi pasukan Axis yang telah diperkuat, dan sekarang dijuluki Panzer Armee Afrika, melakukan serangan balik. Pada akhir 1941, mereka mulai secara perlahan tapi pasti mendorong Inggris kembali ke Mesir sekali lagi. 

ANGKATAN DARAT KE-8 INGGRIS YANG TERDESAK DAN JENDERAL KOENIG

Pasukan Inggris yang terdesak sekarang dalam keadaan yang buruk. Pasukan Gurun Barat, yang sekarang telah berganti nama menjadi Tentara Kedelapan, telah dilucuti kekuatannya, pertama untuk memperkuat kontingen Sekutu di Yunani dan kemudian untuk menopang pasukan di Timur Jauh ketika Jepang mendeklarasikan perang, dimana sebagian kekuatan mereka dialihkan ke medan Malaya dan Hindia Belanda (seperti pasukan Australia misalnya). Mereka juga mulai kekurangan pasokan karena perubahan perimbangan kekuatan angkatan laut di Mediterania. Menambahkan kesulitan mereka, Angkatan Darat Kedelapan sekarang memiliki komandan baru, Mayjen Neil Ritchie, seorang perwira staf yang tanpa memiliki banyak pengalaman di lapangan. Akibatnya, Rommel berhasil mendorong Tentara Kedelapan kembali ke garis pertahanan yang sedang dipersiapkan dari Ain-el-Gazala ke Bir Hacheim. Di sana ia berhenti di sebelah barat garis untuk mengatur ulang pasukannya dan mempersiapkan serangan musim semi yang sangat kuat. Sebenarnya, Garis Gazala sendiri bukanlah garis parit pertahanan gaya Perang Dunia I yang tidak terputus, melainkan serangkaian titik kuat yang disebut “kotak/boxes” yang melengkung ke selatan melintasi padang pasir sekitar 40 mil, dari pantai ke Bir Hacheim yang dikuasai Prancis. dan kemudian timur laut lagi sejauh 20 mil lagi. 

Brigadir Jenderal Joseph-Pierre Koenig, komandan Brigade Prancis Merdeka ke-1. (Sumber: https://www.geni.com/)

Sejak Januari 1942, ketika dia pertama kali melihat hamparan padang pasir tandus yang dia harapkan akan dijadikan benteng pertahanan, Jenderal Koenig kemudian menjadi sibuk. Dia adalah seorang prajurit  khas kolonial Prancis yang, berusia 44 tahun dan sudah menjadi seorang perwira sejak dia berusia 19 tahun, serta merupakan veteran Perang Dunia I dan prajurit Legiun Asing Prancis dalam Perang Dunia II. Tinggi, bertubuh ideal, bermata biru, dengan kumis militer tipis, ia adalah tokoh terkemuka saat mengenakan celana khaki Inggris dan kepi hitam Prancis dengan motif emas — dan ia juga tangguh seperti paku. Koenig telah memimpin satuan 1st Brigade de Française Libre (BFL) yang kekuatan terdiri dari prajurit dengan latar belakang bervariasi yang umumnya dapat ditemukan di mana saja di tentara Prancis Merdeka yang multikultur dan berasal dari berbagai bangsa. Inti dari pasukan Koenig adalah dua batalion dari brigade Demi ke-13 Legiun Asing Prancis (DBLE). Kelompok orang buangan ini sekarang lebih kosmopolitan daripada sebelumnya, para veteran tentara kolonial sebelum perang asal Afrika Utara, kini telah diperkuat oleh para personel asal kaum Republik Spanyol yang dikalahkan, pengungsi Yahudi, Polandia, dan orang Eropa lainnya yang terusir dari negara mereka oleh Adolf Hitler.

Letnan Kolonel Dmitri Amilakvari, komandan DBLE ke-13. (Sumber:https://www.wikidata.org/)

DBLE ke-13 dibentuk pada awal perang pecah. Mereka pernah bertempur di Norwegia dan merupakan salah satu dari beberapa unit Prancis mendukung de Gaulle secara massal ketika pemimpin Prancis Merdeka itu membentuk kelompok perlawanannya di pengasingan. Sekarang komandannya adalah Letnan Kolonel Dmitri Amilakvari, seorang aristokrat asal Georgia (Eropa Timur) yang telah bertugas di Legiun Asing sebagai pilihan profesinya. Amilakvari dan keluarganya melarikan diri dari Georgia ketika negara itu diambil alih oleh Uni Soviet pada tahun 1921. Keluarganya akhirnya mengungsi ke Prancis, di mana ia lalu mengikuti pendidikan di akademi militer di St. Cyr pada tahun 1926. Tetapi tidak seperti kebanyakan tentara asing yang sedikit sekali memikirkan kewarganegaraan majikan mereka, Amilakvari sebenarnya mencintai Prancis dan mengatakan kepada orang-orangnya bahwa mati untuk negara yang mereka adopsi adalah hak istimewa yang besar. Seberapa serius mereka menerima nasihat ini tidak diketahui, tetapi tampaknya mereka bersedia memberikan hidup mereka untuk Amilakvari dan Legiun, jika bukan untuk Prancis sendiri. Sejarah DBLE ke-13 akan membuktikan hal itu, karena bahkan sebelum Bir Hacheim, para Legiuner telah bertempur tidak hanya di Norwegia, tetapi juga di Eritrea dan Suriah, dan beberapa dari mereka telah gugur dalam penugasan. 

DUA PENDETA BERHADAPAN DI MEDAN TEMPUR

Prajurit lain di Bir Hacheim yang punya pengalaman seperti Legiun dalam Perang Dunia II adalah dua kompi dari Bataillon d’Infanterie de la Marine (BIM) ke-1, Marinir Prancis ini menganggap diri mereka sama tangguhnya dengan Legiun Asing. Mungkin tampak aneh bahwa orang-orang yang direkrut sebagian besar dari kalangan nelayan Breton dan yang lainnya memiliki latar belakang profesi kelautan, sekarang menemukan diri mereka di Bir Hacheim di Gurun Sahara yang tidak memiliki air, tetapi Marinir Prancis memang memiliki tradisi panjang dalam dinas luar negeri. Faktanya, resimen infantri dari Tentara Prancis yang kerap disebut sebagai tentara “kolonial” ini pada awalnya memang direkrut dari Marinir. Keanehan lain dari unit khusus ini adalah bahwa pemimpin mereka, Komandan Savey, sebenarnya adalah seorang Pastor Katolik yang telah memimpin mereka ketika mereka ditugaskan bersama dengan Tentara Inggris dalam banyak pertempuran gurun sebelumnya. Namun latar belakang agamanya tidak begitu aneh, karena di sisi lain dari garis depan “Papa Willi” Bach, perwira artileri Jerman yang aksinya di Halfaya Pass telah memperoleh ketenarannya, juga seorang pendeta — seorang pastor Episkopal. Yang lebih aneh lagi adalah Senegalaise Demi-brigade ke-2, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel de Roux, yang kedua batalionnya disatukan dari dua ujung bumi yang berseberangan. Bataillon de Marche de l’Oubangui ke-2 (BM2) terdiri dari tentara kulit hitam yang direkrut dari provinsi Oubangui-Shari di French Equatorial Africa. Mereka sebagian besar buta huruf, dan banyak dari mereka tidak pernah memakai sepatu sebelum mereka masuk ke dalam Angkatan Darat Prancis, tetapi mereka belajar dengan cepat dan menjadi tentara yang hebat. Sementara Batalion Demi brigade “Senegal” itu berasal jauh dari Benua Gelap, 1st Bataillon Pacifique (BP1) malah berasal dari surga turis yang terkenal di pulau-pulau yang tersebar di Pasifik Selatan Prancis. Bir Hacheim pasti mengejutkan mereka, tetapi mereka juga belajar untuk beradaptasi dengan cepat. 

Tampilan Legiun Asing Prancis di Afrika Utara tahun 1942. (Sumber: Pinterest)
Tiga Prajurit Artileri Kolonial Prancis yang membuktikan diri mereka sebagai Prajurit tangguh dalam pertempuran di Bir Hakeim, mereka masing-masing dari wilayah koloni Prancis di Senegal, Equatorial Africa dan Madagaskar. (Sumber:https://www.warhistoryonline.com/)

Dukungan artileri utama dari satuan Prancis ini disediakan oleh resimen meriam lapangan kaliber 75mm di bawah komando Letnan Kolonel Laurent-Champrosay, ditambah dengan kompi senjata antitank. Meskipun kalah jumlah dan kaliber senjata dibanding pihak Jerman, namun akurasi artileri Prancis akan muncul sebagai kejutan yang tidak menyenangkan bagi para penyerang. Pertahanan anti-pesawat terbang di Bir Hacheim dibebankan pada 12 meriam Bofors kaliber 40mm dan senapan mesin dari satuan, Marinir Bataillon de Fusiliers ke-1 (BFM), di bawah komando Capitaine de Corvette Amyot d’Anville. Enam Bofors tambahan lainnya diawaki oleh penembak Inggris. Sementara satuan zeni disediakan oleh Compagnie de Sapeurs-Mineurs ke-1, dan pekerjaan administrasi diambil alih oleh staf Koenig. Kemudian, beberapa marinir dipindahkan ke satuan komando dan digantikan di Bir Hacheim oleh sebuah kompi asal Afrika Utara, yang semakin menambah keberagaman garnisun itu. Bagi pasukan seperti Marinir Prancis yang selalu memiliki reputasi tangguh seperti kebanyakan satuan militer Prancis, tetapi seperti banyak rekan-rekan sebangsanya, mereka telah dipermalukan, baik di dalam maupun luar negeri, setelah ditaklukkannya Prancis oleh Jerman pada tahun 1940. Bagi banyak dari orang-orang ini, tujuan perjuangan mereka bukanlah hanya untuk membebaskan Prancis, tetapi juga untuk memulihkan kehormatan tanah air mereka (yang terkadang mereka adopsi sebagai negara mereka) dan kehormatan mereka sendiri sebagai prajurit.

PENGALAMAN LEGIONNAIRES DATANG DI SAAT YANG TEPAT

Ketika mereka saling berhadapan di gurun pasir barat, kedua belah pihak bersiap-siap untuk melakukan serangan. Pada saat ini Rommel telah membangun reputasi sedemikian rupa sehingga Sekutu khawatir dia akan menyerang lebih dulu dan Koenig tahu dia hanya punya sedikit waktu untuk mengatur pertahanannya. Namun, ia memiliki pasukan Zeni yang terampil untuk mempersiapkan pertahanan di lapangan — dan para Legiun ditugaskan untuk membangunnya. Di Afrika Utara sebelum perang, Legiun Asing Prancis sudah dikenal karena mengerjakan proyek-proyek konstruksi sipilnya yang besar di seluruh bagian wilayah koloni Prancis. Jalan, jembatan, terowongan, perkubuan, semua dibangun oleh Legionnaires, sebagian besar diantaranya hanya dengan menggunakan sekop dan keringat mereka sendiri. Meski demikian para personel Legiun membenci pekerjaan itu. Mereka mengira mereka telah mengerjakan pekerjaan yang merendahkan martabat prajurit, tetapi mereka telah diperintahkan untuk melakukannya, dan mereka telah belajar bagaimana melakukannya dengan baik. Pengalaman kerja seperti itu berguna ketika mereka harus menggali jaringan parit pertahanan, membangun pillbox, memperkuat pos komando, memasang bermil-mil kawat berduri, dan memasang ribuan ranjau (Ladang ranjau di sekitar Bir Hakeim ditanam sesuai dengan rencana yang dibuat dengan hati-hati, dengan garis-garis menonjol dan ketinggian tanah dirancang untuk mengarahkan kendaraan musuh ke rute yang ditentukan). Namun kali ini mereka tidak keberatan mengerjakannya, karena mereka tahu bahwa musuh sudah ada di depan mata. 

Pertahanan Prancis di Bir Hacheim didukung oleh beberapa artileri ringan kaliber 75 mm. (Sumber:https://warfarehistorynetwork.com/)

Sementara itu prajurit-prajurit yang lain juga turut bekerja. Pasukan artileri lapangan mengatur posisi meriam mereka, penembak senjata anti pesawat memasang karung-karung pasir disekitar senjata Bofors mereka, prajurit-prajurit infanteri menempatkan posisi senapan mesin mereka. Semua terus menggali di bawah kondisi gurun yang paling menyedihkan. Afrika Utara dikatakan sebagai tanah yang dingin dengan matahari yang panas, dan pada siang hari suhu biasanya lebih dari 100 derajat Fahrenheit. Ketika malam tiba di Sahara, udara tidak hanya mendingin, tetapi memang menjadi dingin, dan orang-orang menggigil kedinginan dalam waktu yang sangat singkat setelah menderita siksaan matahari yang terik di siang hari. Lebih buruk lagi, adalah adanya “ghibli”, angin gurun yang konstan dan menyebalkan, yang dapat berubah tanpa peringatan menjadi badai pasir yang menyengat dan mungkin berlangsung berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Ketika langit mendung dan siang berubah menjadi malam, angin menjadi seperti badai, pekerjaan berhenti, dan orang-orang segera mencari perlindungan di lubang atau parit meriam. Akhirnya, terlepas dari semua kesulitan yang dihadapi, Jenderal Koenig merasa bahwa pertahanan Bir Hacheim telah lengkap dan garnisunnya, yang terdiri dari sekitar 3.700 personel, siap untuk menghadapi apa pun. Selain kekuatan pertahanannya, Brigade Prancis Bebas ke-1 memiliki kemampuan ofensif yang disebut sebagai “Satuan Jock”, sebuah unit mobil yang bersenjata lengkap yang berpatroli di antara pertahanan di Gazala Line yang tersebar luas. Satuan Jock asal Inggris (dinamai menurut nama Brigjen “Jocki” Campbell, yang mengembangkan teknik ini) ini biasanya menggunakan tank-tank Grant 30 ton yang baru diperoleh Amerika dengan meriam 75mm yang kuat sebagai senjata patroli utamanya. 

SATUAN JOCK PRANCIS

Satuan Jock Perancis, yang kekurangan tank, sangat berbeda dengan milik Inggris. Mereka biasanya mengandalkan infantri yang diangkut truk dengan beberapa senjata AA ringan, ditambah meriam tarik kaliber 75mm atau senjata antitank untuk melindungi mereka terhadap ancaman panser (tank) Jerman. Mereka mungkin juga bisa menggunakan sekitar 70 kendaraan lapis baja ringan beroda rantai yang disebut sebagai Bren Carrier yang diberikan kepada mereka oleh Tentara Kedelapan Inggris, satuan ini dibagi menjadi 3 skuadron. Inggris sendiri tidak terlalu menyukai kendaraan itu yang kadang-kadang tidak bisa diandalkan secara mekanis dan bersenjata terlalu ringan, tetapi bagi orang Prancis yang kekurangan peralatan, kendaraan itu amat disyukuri oleh mereka. Dalam perimeter Bir Hacheim, yang kira-kira berbentuk segitiga dan lebih dari 16 kilometer kelilingnya, pasukan Senegal ditugaskan menjaga sudut barat laut, Batalyon Pasifik di barat daya. Salah satu batalion Legiun (BLE 2) terletak di titik puncak segitiga, sementara yang lain (BLE 3) berada di tengah bersama dengan Markas Besar Brigade dan satuan artileri. 

Karena tidak memiliki tank, pasukan Prancis menggunakan Bren Carrier buatan Inggris untuk mendukung elemen ofensif mobile mereka. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

BLE 1 tidak dikerahkan, karena tidak terdapat perlengkapan yang cukup tersedia bagi pasukan Free French untuk melengkapi mereka dengan baik sehingga bisa dikerahkan untuk membantu pertahanan di Bir Hacheim. Sementara itu Pasukan pendukung, termasuk yang berasal dari Afrika Utara, tersebar di seluruh perkubuan. Namun, tak satu pun dari satuan di garnisun itu yang sepenuhnya statis, tetapi mereka tetap sibuk mengerahkan satuan-satuan Jock untuk terus berpatroli di jalanan gurun. Pada akhir Mei, Jenderal Ritchie akhirnya siap meluncurkan ofensif Angkatan Darat Kedelapan dari belakang Garis Gazala. Tetapi Rommel, yang telah mengatur ulang pasukannya dan sudah disuplai ulang, menghantam mereka lebih dulu. Pada tanggal 26 Mei, ketika Ritchie masih memikirkan rencana ofensifnya, Panzer Armee Afrika menyerang lebih dulu.

RUBAH GURUN MENYERANG DI SEKITAR PERTAHANAN BIR HACHEIM 

Pasukan Axis pertama kali menyerang Garis Gazala di bagian utara, tapi serangan ini hanyalah tipuan. Keesokan harinya Rommel memimpin sebagian besar pasukannya bergeraknya ke selatan dalam sebuah gerakan penyisiran luas di sekitar posisi Bir Hacheim untuk menyerang posisi “Knightsbridge” Inggris yang dipertahanan dengan kuat, setengah jalan dari pantai. Dalam perjalanannya, pasukan kuat itu menghancurkan beberapa brigade Inggris yang terisolasi sebelummenghantam pasukan utama Inggris. Rupanya si Rubah Gurun Rommel sengaja menghindari posisi pertahanan di Bir Hacheim dengan bergerak memutarinya, ia berpikir bahwa orang-orang Prancis yang lemah ini berada di ujung pertahanan Garis Gazala dan nantinya dapat dengan mudah diurus kemudian, setelah dia mengalahkan pasukan Inggris. Dia hanya mengirim beberapa unit lapis baja ringan untuk mengamati posisi Prancis. Hasil pengamatan menemukan bahwa Bir Hacheim bukanlah posisi yang menurut Rommel bisa ditaklukkan dengan mudah. Faktanya, posisi pertahanan itu laksana sarang lebah. 

Serangan Rommel pada Garis Gazalla 26-27 Mei 1942. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Pada tanggal 27 Mei 1942, dua divisi Italia, Divisi Mekanis Trieste dan Divisi Lapis Baja Ariete menyerang posisi pertahanan Prancis di Bir Hacheim dengan dukungan tank-tank medium Carro Armato M13/40. Puluhan tank Italia hancur dalam pertempuran akibat tembakan artileri, senjata anti tank dan ranjau yang ditebar pasukan Prancis. (Sumber: Pinterest)

Ketika berita buruk ini dilaporkan ke markas besar Panzer Armee, Rommel segera memerintahkan dua divisi Italia, Divisi Mekanis Trieste dan Divisi Lapis Baja Ariete, untuk menyerang, sepenuhnya ia mengharapkan bahwa orang-orang Prancis akan menyerah dalam waktu 24 jam. Dia kemudian mengalami kejutan yang tidak menyenangkan. Menurut beberapa laporan, Trieste agak ragu-ragu dalam menyerang, tetapi tank-tank dari Ariete menyerang dengan kekuatan penuh. Tak lama kemudian segera aroma mesiu memenuhi udara, dan awan asap menyatu dengan debu gurun Bir Hacheim ketika artileri berjatuhan, sementara bunyi mortir, dan derak senapan mesin menandakan dimulainya pertempuran yang sesungguhnya. Darah pertama dalam pengepungan Bir Hacheim diciptakan oleh pasukan Prancis. Ketika asap mengepul, 32 tank Italia (kebanyakan dari tipe M13/40) yang sedang terbakar telah menjadi puing-puing, korban ranjau, serangan artileri dan senjata antitank satuan Letkol Laurent-Champrosay dan beberapa dari sekitar 50.000 ranjau yang ditebar di perimeter. Ranjau-ranjau yang dipasang tersebut dimaksudkan untuk bisa menghentikan truk, mobil atau tank lapis baja, dan meledak ketika sebuah kendaraan dengan berat lebih dari 440 pound melewatinya, namun disisi lain ranjau semacam ini tidak berbahaya jika hanya dilewati oleh manusia. Sepuluh tank Italia berhasil melewati rintangan, hanya untuk ditembakkan dan dihancurkan oleh tembakan anti-tank Prancis yang akurat. Tembakan anti-tank pertama ditembakkan pada jarak 400 meter, yang terakhir ditembakkan ketika beberapa tank hanya beberapa meter jauhnya dari parit pertahanan Prancis. Orang-orang Italia kemudian mundur, dengan meninggalkan mereka yang luka-luka, termasuk seorang kolonel dari Resimen Lapis Baja ke-132 Ariete yang ditarik dari tanknya yang hancur oleh para penawannya. Meskipun dia terluka, perwira ini, telah bertarung dengan sangat berani, ia sempat berganti tank tiga kali selama pertempuran. Dia juga mengatakan bahwa, sehari sebelumnya, ketika elemen-elemen terdepan pasukan Prancis sedang mundur, mereka sempat menghancurkan tiga tank resimennya. Seorang sersan staf Legiun telah menghancurkan tujuh tank sendirian dengan meriam 75mm yang dikomandoinya. Sementara itu, Koenig juga memerintahkan satuan Jock-nya untuk menyerang jalur pasokan tentara Axis terdekat.

SETELAH KEMUNDURAN SEMENTARA, ROMMEL MENGARAHKAN PANDANGAN KE TOBRUK

Rommel sangat marah. Dia yang mengandalkan unsur kecepatan dan kejutan untuk membawanya melewati Garis Gazala, sekarang menghadapi orang-orang Prancis yang kurang ajar ini telah menghalangi jalannya. Pada hari yang sama juga tidak ada yang berjalan baik dengan pasukan Axis yang berada di utara Bir Hacheim, di mana mereka telah bertemu dengan pertahanan Inggris yang kuat dari titik pertahanan “Knightsbridge” dengan menggunakan tank Grant baru mereka. Lebih buruk lagi, ranjau Sekutu menyebabkan timbulnya korban pada kendaraan pasokan Axis, sehingga tank dan amunisi artileri tidak dapat melewatinya. Kondisi ini seharusnya menjadi waktu ideal bagi Inggris untuk melakukan serangan balik, tetapi Ritchie ragu-ragu. Itu adalah kesalahan besar. Sementara jenderal Inggris berunding dengan stafnya, Rommel mereorganisasi pasukannya dan menunjukkan kejeniusan taktisnya dengan membuat lubang melewati garis Inggris di sebelah utara Bir Hacheim. Dengan melakukan itu dia tidak hanya membuka jalan untuk armada perbekalannya, tetapi juga menghancurkan brigade infanteri Inggris, serta lebih dari 100 tank, dan mengambil sekitar 3.000 tahanan. Dia sekarang berada di atas angin lagi. Jenderal Jerman ini selalu ambisius, bukan hanya ia ingin melewati Garis Gazala tapi ia juga mengarahkan targetnya ke kota benteng Tobruk, yang telah ia coba taklukkan tiga kali sebelumnya tetapi hingga saat itu masih di tangan Inggris. Laporan intelijen menunjukkan bahwa garnisun di Tobruk baru-baru ini melemah secara substansial — sementara di luar Tobruk terdapat target lainnya seperti Alexandria, Kairo, dan Terusan Suez! 

Dalam serangannya ke Garis Gazalla, pasukan Rommel sempat dikejutkan oleh performa tangguh dari tank-tank medium M3 Grant buatan Amerika yang digunakan oleh tentara ke-8 Inggris. (Sumber:https://www.rcuniverse.com/)
Meriam 75 mm Prancis di Bir Hacheim. (Sumber:https://en.m.wikipedia.org/)

Seperti itulah kepercayaan diri Rommel sehingga dia pikir dia bisa mendesak langsung ke Suez begitu dia menetralisir Tobruk. Dia tahu bahwa Inggris sedang membangun garis pertahanan terakhir di El Alamein, hanya 50 mil dari Alexandria, dan jika dia berharap dapat mencapai Suez, dia harus menyerang pertahanan itu sebelum mereka nantinya menjadi terlalu kuat. Waktu adalah hal yang krusial. Untuk membersihkan jalan menuju ke timur ia harus merebut Tobruk dengan segera, tetapi pertama-tama dia harus menembus Garis Gazala. Rommel sekarang kembali mengalihkan perhatiannya ke Bir Hacheim. Sementara itu pada sore hari tanggal 28 Mei, sekelompok pasukan datang dari arah barat daya. Terdapat sekitar enam ratus prajurit dari mereka, yakni tentara India yang ditangkap Jerman dua hari sebelumnya. Karena orang-orang Jerman tidak dapat memberi mereka air atau perbekalan, dan persediaan mereka sendiri sukar didapat, tentara Jerman kemudian membebaskan dan meninggalkan mereka di tengah padang pasir. Orang-orang malang itu kelelahan setelah berjalan begitu lama. Mereka kemudian disambut dengan tangan terbuka oleh tentara Prancis dan segera menerima jatah air dan perbekalan, serta selimut. Perlu disebutkan bahwa tahanan musuh juga diperlakukan dengan cara yang sama seperti orang-orang di detasemen sekutu sejauh menyangkut jatah air dan makanan. Kembali ke markas Rommel, karena keberhasilannya di utara, dia sekarang telah mengepung Bir Hacheim. Dia pertama kali mengirimkan delegasi perwira Italia dengan membawa bawah bendera putih ke markas Koenig untuk menuntut penyerahan pertahanan Bir Hacheim. Dengan kesopanan yang berlebihan, orang Italia mengingatkan jenderal Prancis itu tentang posisinya yang tidak ada harapan, terkepung oleh kekuatan yang lebih superior. Sama-sama ngototnya, Koenig menjawab bahwa menyerah itu bukanlah suatu pilihan bagi dia, dan orang-orang Italia itupun lalu pergi. Tanggal itu adalah tanggal 2 Juni. Segera setelah mereka pergi, peluru-peluru meriam mulai berjatuhan ke perkubuan-perkubuan di Bir Hacheim, dan untuk beberapa hari berikutnya sebuah pengeboman besar dilakukan. Aksi itu lalu dibalas oleh tembakan balasan akurat satuan Laurent-Champrosay dengan meriam kaliber 75 mm nya, tetapi amunisi Prancis terbatas, dan jalur pasokan mereka akhirnya terputus oleh kepungan pasukan Axis yang semakin erat. 

JERMAN DAN SEKUTUNYA MEMANGGIL DUKUNGAN UDARA

Untuk memperkuat gempurannya, Rommel juga meminta bantuan Luftwaffe, dan kemudian langit siang hari di atas benteng pertahanan Prancis segera dipenuhi oleh pembom tukik Junkers Ju-87 Stuka, pembom Heinkel He-111, dan pesawat tempur Messerschmitt Me-109. Pada tanggal 1 Juni pesawat-pesawat Stuka menyerang posisi Prancis, menjatuhkan bom seberat 1000 lb yang menciptakan kawah besar selebar 16 hingga 20 kaki di tanah. Dua bom semacam ini telah mengenai sebuah truk, dan menghancurkan semua yang ada di dalamnya. Bofors dari satuan D’Inville melepaskan tembakan, tetapi jelas ada kebatasan dalam apa yang bisa dilakukan oleh beberapa senjata anti pesawat terhadap serangan besar seperti itu. Secara keseluruhan, Luftwaffe menerbangkan 1.300 sorti penyerangan terhadap posisi Prancis. Kemudian akan muncul beberapa tuduhan terhadap komando tertinggi Sekutu karena tidak menyediakan lebih banyak perlindungan terhadap serangan udara, tetapi sebenarnya RAF sudah melakukan apa yang bisa mereka lakukan, mereka mengerahkan kekuatannya setiap hari di medan perang untuk melawan kekuatan udara Jerman. Namun, pesawat-pesawat tempur Hawker Hurricane dan Curtiss P-40 tidak mampu menandingi jumlah pesawat Jerman yang terkonsentrasi, dan mereka hanya sedikit membantu tentara Prancis di darat dalam melawan pengeboman yang konstan. Terlepas dari ini, Prancis tetap menghargai bantuan mereka, dan Koenig dikatakan telah mengirim pesan ke Inggris, “Merci pour la RAF.” Yang kemudian dijawab RAF, “Merci pour le sport!”

Dalam menaklukkan pertahanan pasukan Prancis di Bir Hacheim, Rommel juga meminta bantuan Luftwaffe yang dilengkapi dengan pembom-pembom tukik Ju-87 Stuka. (Sumber: https://www.goodfon.com/)
Bantuan dari RAF tidaklah mencukupi, untuk melawan kekuatan udara Jerman, pasukan Prancis menggunakan senjata-senjata antipesawat Bofors. (Sumber: Pinterest)

Serangan udara dan pemboman artileri yang konstan menutupi upaya berkelanjutan dari Jerman untuk menyusup ke posisi Prancis. Mereka menggunakan tank dan infanteri, tetapi pasukan Prancis terus melawan mereka. Persiapan dari personel zeni dan keahlian para Legiuner dalam membangun perkubuan di medan tempur telah membantu membuat korban di pihak Prancis di tetap rendah sementara moral mereka tetap tinggi. Salah satu yang luar biasa dari posisi Prancis di Bir Hakeim adalah sabuk pertahanan yang mereka buat di sekitar area perbentengan lama. Ada lebih dari seribu posisi pertahanan yang dilindungi dengan baik – lubang perlindungan, emplasemen dan bunker besar yang dalam untuk menyimpan kendaraan dan amunisi. Tetapi bagaimanapun hal ini tidak membantu kondisi pasokan logistik mereka, yang dengan cepat menjadi semakin kritis. Meskipun kekurangan air, di tengah padang pasir yang gila panasnya di siang hari dan dingin di malam hari, pasukan Prancis tetap bertahan. Antara tanggal 31 Mei dan 2 Juni, pasukan gabungan Jerman dan Italia meluncurkan serangan demi serangan. Sebagian besar dari mereka dipukul mundur, tetapi superioritas kekuatan mereka mulai menunjukkan efeknya, dan lingkaran pertahanan di sekitar Bir Hakeim semakin mengecil. Kemudian, pada tanggal 2-5 Juni, tekanan Axis sedikit mengendur ketika Ritchie akhirnya meluncurkan serangan balik di daerah utara Bir Hacheim yang kemudian dikenal sebagai “the Couldron.” Pertempuran di sana begitu sengit, dan Rommel harus menarik sebagian pasukan yang mengepung Bir Hacheim untuk menghadapi serangan balik ini. Seperti biasa, jenderal Jerman itu mengungguli manuver dari pihak Inggris dan mencetak kemenangan yang jitu, menghancurkan lebih banyak tank musuh dan mengambil lebih banyak tawanan perang. Kini Rommel sekali lagi menekan pertahanan di Bir Hacheim, kali ini dengan serangan berat yang dilancarkan oleh Divisi Trieste dan Divisi Ringan ke-90 Jerman. Yang menarik adalah bahwa Divisi Ringan ke-90 memiliki dua batalyon tentara Jerman yang, sebelumnya, adalah tentara yang telah mengundurkan diri atau desersi dari Pasukan Legiun Asing dan sekarang mereka balik berperang melawan mantan kawan seperjuangan mereka. Sekali lagi Prancis melawan serangan-serangan ini, tetapi serangan udara dan pengeboman artileri terus berlanjut. Makanan dan air sekarang hampir habis. RAF melakukan segala upaya untuk memasok garnisun yang terkepung itu dengan menggunakan parasut, tetapi targetnya terlalu kecil dan angin gurun yang tidak dapat diprediksi meniupkan sebagian besar pasokan ke posisi pasukan Axis. Tidak ada lagi amunisi yang datang untuk meriam-meriam 75 mm nya.

TENTARA PRANCIS DIMINTA UNTUK BERTAHAN SEDIKIT LAGI

Pada titik ini, Jenderal Koenig tahu ia harus mencoba memimpin pasukannya keluar dari perangkap maut ini, dengan menerobos garis pengepungan Jerman, dan bergabung dengan pasukan Inggris yang berkumpul di El Alamein. Ketika rencananya dikomunikasikan ke markas Sekutu di Kairo, ia malah diminta untuk bertahan sedikit lebih lama. Inggris membutuhkan waktu untuk menyempurnakan pertahanan mereka di El Alamein dan mengatur kembali pasukan yang akan mempertahankan posisi disana. Selayaknya prajurit yang baik, Koenig menjawab bahwa dia akan melakukannya, dan kembali bertempur. Beberapa hari berikutnya di Bir Hacheim adalah serupa di neraka. Rommel yang frustrasi, memerintahkan serangan lebih kuat dan pemboman yang lebih berat. Pasukan Perancis, yang kelelahan dan hampir tanpa makanan atau air dan hanya memiliki sedikit amunisi tersisa, terus berjuang. Rommel sekali lagi mengirim tim negosiasi yang membawa bendera putih untuk meminta penyerahan atau pasukan Prancis akan menghadapi pemusnahan, tetapi Koenig bahkan menolak untuk menemui mereka. Tidak ada lagi sopan santun militer lagi pada saat itu. 

Pasukan Legiun Asing Prancis menyerang kedudukan posisi musuh di Bir Hacheim, Juni 1942. (Sumber: https://id.wikipedia.org/)

Akhirnya, pada 10 Juni, ketika kelompok-kelompok kecil pasukan Axis mulai menembus ke garis pertahanan Prancis, Koenig memutuskan sudah waktunya bagi dia dan pasukannya untuk keluar. Dia menunggu hadirnya kegelapan malam dan kemudian memberi perintah mundur. Pada awalnya gerakan mundur bisa dilakukan secara teratur, karena para Legiuner, Marinir, tentara Senegal, dan sisa-sisa garnisun berbagai bangsa bergerak secara diam-diam melewati celah-celah di ladang ranjau dalam pasukan dan peleton yang disiplin, yang belum juga diketahui oleh musuh. Tetapi kemudian ada terlalu banyak pasukan yang bergerak untuk bisa tetap senyap seperti itu. Ketika orang-orang Jerman mengetahui apa yang sedang terjadi, penembakan dimulai dan pertempuran sengit pecah. Ketika peluru pelacak berdesingan sepanjang malam dan ranjau yang disembunyikan meledak di bawah kendaraan, barisan tentara dari Brigade Prancis Merdeka ke-1 hancur menjadi kelompok-kelompok kecil dan individu. Sekarang mereka bukan lagi kekuatan militer yang kohesif, tetapi sekelompok pelarian yang putus asa. Saat itu setiap orang berjuang untuk dirinya sendiri. Namun Tentara Prancis masih bersenjata dan berbahaya, dan ketika mereka mati-matian menembus malam dan gurun, para pengejar mereka masih waspada pada saat menyerang mereka. Baku tembak kecil pecah di mana-mana ketika pasukan Koenig berjuang ke arah timur laut menuju garis pertahanan pasukan Inggris.

ROMMEL MEREBUT TOBRUK DAN PENGAKUAN ATAS PERTAHANAN BIR HACHEIM

Susan Travers, sukarelawan wanita asal Inggris yang turut bergabung dengan tentara Prancis di Bir Hacheim. Bersama dengan Jenderal Koenig, Travers berhasil menyelamatkan diri ke garis pertahaan Inggris. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Jenderal Koenig dan Kolonel Amilakvari melarikan diri dengan mobilnya, yang dikemudikan oleh Susan Travers, seorang sukarelawan wanita Inggris yang ditugaskan di bagian ambulan pasukan Perancis Merdeka. (Travers adalah adalah satu-satunya wanita yang bisa dianggap sebagai anggota Legiun Asing Prancis, terlepas dari beberapa tulisan karya fiksi yang berlebihan, ia telah bersama tentara Prancis sejak invasi ke Norwegia, jatuhnya Prancis tahun 1940, dan kemudian bergabung dengan Prancis Bebas). Mereka berkeliaran di gurun hampir sepanjang malam, lebih dari sekali lolos dari penangkapan, sampai mereka akhirnya berhasil sampai ke tempat yang aman, meski mobilnya terkena tembakan 11 peluru. Setelah perang berakhir, Susan Travers secara resmi terdaftar di Legiun Asing, ia sempat bertugas di Vietnam, dan akhirnya pensiun di Prancis bersama suaminya, seorang personel Legiuner. Sementara itu lolosnya Koenig dinilai sebagai sebuah keajaiban, tetapi sebagian besar dari personel garnisun Bir Hacheim juga berhasil melarikan diri dengan selamat untuk bertarung lagi di hari lain. Demi-Brigade Legiun ke-13 di bawah pimpinan Amilakvari berhasil mengundurkan diri. Dari 3.600 personel asli di Bir Hacheim, sekitar 2.700 pria (dan satu wanita) berhasil melarikan diri, termasuk 200 orang yang terluka berhasil dibawa keluar. Sedihnya, Amilakvari terbunuh di El Alamein beberapa bulan kemudian. Komando Tertinggi sekutu awalnya telah merencanakan bahwa pertahanan di Bir Hakeim dapat bertahan paling lama sepuluh hari. Perlawanan yang terjadi kemudian ternyata berlangsung lima belas hari. Pada prosesnya Garnisun itu telah diserang oleh sebuah divisi lapis baja, kemudian oleh dua divisi bermotor, divisi ke-90 Jerman dan divisi bermotor “Trieste” Italia. Di Bir Hakeim terdapat sebuah resimen meriam kaliber 75mm. Sementara pihak musuh memiliki setidaknya empat belas baterai artileri dengan senjata kaliber berkaliber lebih besar dan lebih banyak. Kerugian yang ditimbulkan Pasukan Prancis pada pihak musuh adalah sebagai berikut: 50 tank, 11 mobil lapis baja, 5 senjata mobile, 7 pesawat. Brigade Prancis itu juga menangkap 125 tahanan Jerman, salah satunya adalah seorang perwira, dan 154 tahanan Italia, sembilan di antaranya adalah perwira. Di sisi lain kerugian pihak Prancis juga tinggi sebagai berikut: 900 tewas, terluka, hilang atau ditangkap, 600 di antaranya selama pertempuran pada malam tanggal 10 hingga 11 Juni; 40 meriam 75mm, 8 senjata Bofors, 5 senjata kaliber 47mm, dan 250 kendaraan hancur.  Pada tahun 2004, Douglas Porch mencatat bahwa pihak Axis menangkap sekitar 845 tawanan di Bir Hakeim, hanya sepuluh persen di antaranya yang adalah orang asli Prancis dan bahwa Hitler telah memerintahkan agar para pelarian politik Jerman yang tertangkap harus dibunuh, tapi perintah ini diabaikan oleh Rommel. Antara tanggal 2–10 Juni, DAF (Desert Air Force/AU Sekutu) telah menerbangkan sekitar 1.500 sorti dan kehilangan 19 pesawat tempur atas Bir Hacheim, sementara ada sekitar 1.400 sorti dilakukan oleh pihak Axis, dimana 15 pesawat Jerman dan lima pesawat Italia ditembak jatuh.

Pasukan Prancis yang berhasil meloloskan diri dari Bir Hacheim. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Rommel merebut Tobruk, 21 Juni 1942. Kemenangan di Tobruk ini adalah salah satu dari kemenangan-kemenangan terakhir Rommel di Afrika Utara sebelum dikalahkan oleh Angkatan Darat ke-8 Inggris di El Alamein, November 1942. (Sumber: https://www.sarahsundin.com/)
Stasiun Metro Bir Hakeim di Paris. (Sumber:http://metro.paris/)

Sementara itu Rommel akhirnya menembus Jalur Gazala dan merebut Tobruk. Perkiraannya benar; pertahanan kota itu telah sangat melemah sehingga hanya beberapa area yang lebih vital saja yang dapat diperkuat. Setelah pertarungan yang berat sebelah, garnisun di Tobruk menyerah. Jerman akhirnya menduduki kota benteng itu, dan mata Rommel segera beralih ke jurusan Alexandria. Akan tetapi Rommel tidak pernah sampai di sana. Dia telah kelelahan dalam menembus garis Gazala, dan rencananya benar-benar telah dikacaukan oleh pertahanan keras kepala pasukan Prancis di Bir Hacheim. Si Rubah Gurun benar-benar menelan kekalahannya berbulan-bulan kemudian di tangan komandan baru dari Tentara Kedelapan yang angkuh, Field Marshal Bernard Law Montgomery, yang dikenal oleh pasukannya sebagai “Monty.” Tapi Rommel tidak pernah melupakan Bir Hacheim. Kegagalannya dalam merebut Bir Hacheim dengan cepat, yang akan memaksa Sekutu untuk segera mundur kembali ke Mesir, telah menghancurkan kesempatan Hitler untuk mengalihkan beberapa pasukannya di Afrika Utara untuk menaklukkan pulau Malta, yang merupakan duri bagi rute pasokannya dari Eropa ke Afrika Utara. Rommel kemudian menulis tentang pengepungan itu, “Jarang di Afrika saya menghadapi perlawanan yang begitu sukar ditundukkan.” (bahkan dalam buku Rommel Paper, ia menulis bahwa beberapa kali ia harus memimpin langsung serangan-serangan itu). Hitler sendiri juga sempat menyebut Pasukan Prancis Merdeka sebagai “petempur terbaik – (setelah tentara Jerman, tentunya)”. Churchill mulai menyebut mereka “The Fighting French”, dan jenderal Jerman von Mellenthin setelah perang mencatat bahwa dalam seluruh perang gurun “… kami tidak pernah menemukan pertahanan yang lebih heroik dan hebat (dibanding Pertahanan Prancis di Bir Hacheim).” Bangsa Prancis juga tidak akan pernah melupakan tentara-tentara mereka yang bertempur gagah berani di gurun itu, karenanya mereka terus dicatat dalam buku-buku sejarah. Meskipun bagi beberapa orang, mereka mungkin tidak menyadari atau sudah lupa, namun saat ini terdapat stasiun Metro di Paris yang bernama “Bir Hacheim.” untuk mengingat pengorbanan dan kepahlawanan tentara Prancis disana.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Erwin Rommel Frustrated By French Foreign Legion At Bir Hacheim by Edward L. Bimberg

Erwin Rommel Frustrated By French Foreign Legion At Bir Hacheim

Rommel Defeats the Free French: Battle of Bir Hakeim by Matthew Gaskill

https://www.google.com/amp/s/www.warhistoryonline.com/instant-articles/rommel-defeats-the-free-french-battle-of-bir-hakeim.html/amp

BIR HAKEIM AN ACCOUNT OF THE FIGHTING THAT OCCURRED BETWEEN 27 MAY AND 11 JUNE, 1942

http://1dfl.fr/1942-Bir-Hakeim-in-english.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Bir_Hakeim

2 thoughts on “Saat Rommel Dibuat Mati Kutu oleh Pertahanan Prancis di Bir Hacheim, 27 Mei-11 Juni 1942

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *