Serangan Pasukan Khusus SAS Ke Pangkalan Udara Argentina di Pulau Pebble, 14-15 Mei 1982

Tahun ini menandai peringatan 38 tahun salah satu konflik bersenjata paling ikonik di paruh kedua abad ke-20, yakni perang Argentina melawan Inggris untuk memperebutkan Kepulauan Falkland (Malvinas). Selama Perang Falkland, komando militer Inggris secara aktif menggunakan satuan Special Air Service (SAS) dan Special Boat Squadron(SBS) dari angkatan laut untuk mendukung operasi militer mereka dalam merebut Falkland. Operasi Prelim, yang dilakukan oleh SAS di Pulau Pebble dalam perang itu kemudian tercatat sebagai salah satu operasi tempur klasik dari SAS. Operation Prelim (yang dapat diterjemahkan dari bahasa Inggris sebagai “Pre Eliminaries”) adalah bagian dari Operation Sutton yang lebih besar. Operasi ini direncanakan oleh komando Inggris untuk mendukung operasi amfibi di daerah San Carlos dan Ajax Bays dan sebuah kota bernama Pelabuhan San Carlos di pantai barat Falkland Timur yang dilaksanakan dari tanggal 16 sampai 25 pada bulan Mei 1982. Operasi Prelim adalah yang pertama dilakukan sejak Perang Dunia Kedua, dimana SAS ditugaskan untuk menyerang lapangan udara musuh dan merupakan operasi skala besar pertama mereka setelah operasi di Jebel Akbar-Oman pada tahun 1956. Ide awal Operasi Prelim berasal dari komandan kelompok kapal induk yang dipimpin oleh kapal induk Hermes (gugus tugas 317.8), Laksamana Muda John Forster Sandy Woodward. Komandan operasi tersebut adalah Komodor Michael Clapp, dari komandan pasukan amfibi 317 OS (Satuan Tugas 317.0), dan brigadir Julian Thompson, komandan dari Korps Marinir Kerajaan Inggris Raya. Rencana operasi tersebut langsung disetujui oleh komandan operasi ke-3, Laksamana Sir John David Eliot Fieldhouse, serta komandan dan brigadir SAS, Peter de la Billiere. 

Serangan pasukan khusus SAS Inggris ke Pangkalan Udara Argentina di Pulau Pebble, 14-15 Mei 1982, merupakan aksi pertama SAS menyerang pangkalan udara musuh setelah Perang Dunia II. (Sumber: https://alchetron.com/)

Tujuan utama dari Operasi Prelim adalah untuk menghancurkan pesawat musuh yang ditempatkan di sebuah lapangan terbang kecil yang dibuat oleh orang-orang Argentina di Pulau Pebble. Lebih tepatnya, pangkalan operasional di pulau itu merupakan sebuah pangkalan garis depan yang terdiri dari lapangan terbang, titik pertahanan kecil, yang dijaga oleh sebuah garnisun marinir. Unit pertahanan disini berasal dari Batalyon ke-3 Korps Marinir yang dinamai Ilizar Videla, dan berjumlah sekitar 100 orang, dan dipersenjatai dengan senapan mesin kaliber besar serta senjata recoilless kaliber 75 mm. Pangkalan Argentina itu diberi nama sebagai “Elephant naval aviation base” atau juga Pangkalan Udara “Calderon” (Estacion Aero Calderon) menurut Argentina pulau Pebble disebut sebagai Puerto Calderon. Seringkali, sebutan “La Payanca” (La Payanca) digunakan juga dalam callsign, dan komando marinir Argentina sendiri menetapkan pangkalan tersebut sebagai “lapangan udara penerbangan angkatan laut Pulau Bourbon”. Pulau Bourbon adalah versi nama Argentina dari nama pulau itu untuk menghormati dinasti Bourbon yang terkenal, yang berbeda dengan nama Pulau Bourbon yang sama yang digunakan pada pulau Reunion.

PERBURUAN PANGKALAN PESAWAT MUSUH

Dalam buku “Ghost Force: The Secret History Of The SAS”, yang diterbitkan pada tahun 1998, oleh mantan tentara SAS, Ken Connor,  menunjukkan bahwa tugas terpenting kelompok pengintaian dan sabotase SAS di Kepulauan Falkland adalah untuk memantau setiap pergerakan pesawat dan helikopter Argentina. “Salah satu alasan mengapa dilaksanakannya misi ini adalah karena komando militer Argentina sebagian besar mendasarkan strategi pertahanannya pada penggunaan cadangan pasukan dan peralatan militer yang terkonsentrasi di daerah Port Stanley. Dengan cepat personel yang sama akan dikirimkan ke daerah yang paling terancam dengan menggunakan helikopter, termasuk menggunakan helikopter Chinook milik mereka. Taktik semacam itu, menurut pendapat komando militer Argentina, adalah untuk memastikan keberhasilan dan efektifitas dari pasukan mereka dalam memukul mundur setiap serangan dan gangguan dari operasi penyerangan musuh lewat udara dan amfibi. Namun, komando Argentina memahami bahwa memusatkan kekuatan utama satuan penerbangan pada satu pangkalan berarti akan membuat mereka dalam kondisi penuh risiko. Satu serangan udara musuh besar-besaran pada pangkalan itu maka perlawanan aktif dari garnisun mereka di Kepulauan Falkland tidak mungkin untuk dilakukan. Akibatnya, setiap malam, helikopter Argentina dan, jika mungkin, pesawat terbang disebar di sekitar Port Stanley untuk mengurangi kemungkinan terdeteksi dan dihancurkan sekaligus. Lokasi sementara dari satuan-satuan udara ini disimpan dalam kerahasiaan yang paling ketat dan diubah setiap harinya.”

Helikopter CH-47 Chinook AU Argentina. Dalam mendukung mobilitas dan fleksibilitas dari pasukannya, pihak Argentina menggunakan armada helikopter, termasuk Chinook untuk memindahkan pasukannya dari satu tempat ke tempat lainnya. (Sumber: https://www.helis.com/)

Salah satu kelompok pengintai dan sabotase dari kompi “G” SAS memantau pergerakan helikopter Argentina di wilayah barat Port Stanley, dengan melakukan pengintaian sejauh beberapa kilometer. Dua kali pengintai Inggris berhasil menemukan pangkalan sementara untuk helikopter-helikopter Argentina. Mereka lalu memanggil pesawat mereka untuk menyerang, tetapi dalam kedua kasus tersebut, Inggris mengalami kegagalan, dimana pihak Argentina punya waktu untuk merelokasi helikopter-helikopter mereka. Dan hanya pada kesempatan ketiga Inggris mendapatkan keberuntungan mereka dimana helikopter musuh ditemukan dan dapat dihantam dengan serangan udara. Akibatnya, empat helikopter Argentina, termasuk dua Chinook, musnah. Hal ini menyebabkan kerusakan yang sangat signifikan pada kelompok-kelompok pasukan Argentina, dimana satuan cadangan mobile mereka dibiarkan tanpa didukung “kuda-kuda” nya. Namun, komando Inggris tertarik tidak hanya pada helikopter. Menjelang operasi pendaratan di Teluk San Carlos, terdapat pertanyaan tentang perlunya menetralkan pesawat serang musuh yang ditempatkan di lapangan udara terdekat. Selain lapangan terbang utama di wilayah Port Stanley, terdapat banyak lokasi pangkalan udara cadangan di pulau-pulau lain, yang sebagian besar berupa lapangan rumput biasa. Selain itu, terdapat informasi intelijen tentang keberadaan stasiun radar di pulau-pulau tersebut. “Tidak ada yang tahu seberapa besar ancaman yang bisa ditimbulkan dari pangkalan-pangkapan ini terhadap kapal-kapal atau pasukan kami yang seharusnya mendarat di Teluk San Carlos di Falkland Timur. Salah satu lapangan terbang itu ada di Pebble Island. Tapi jika memang ada radar di pulau itu, bahaya yang ditimbulkan dari tempat ini tentu saja menjadi sangat serius.

Pesawat serang darat IA-58 Pucara. Pesawat-pesawat Pucara milik Argentina meski bukan lawan dari jet tempur Harrier milik Inggris, namun tidak bisa dipandang sebelah mata dalam melakukan serangan darat terhadap pasukan darat Inggris yang akan mendarat di San Carlos. (Sumber: https://www.squadron.com/)
Pesawat latih T-34C “Turbo Mentor” milik Argentina. Turbo Mentor juga dapat dipersenjatai dengan pod senapan mesin dan roket sebagai pelengkap dari pesawat-pesawat Pucara. (Sumber: http://www.amilarg.com.ar/)

Admiral Woodward percaya bahwa radar akan dapat mendeteksi kekuatan utama armada Inggris saat mereka berada di luar jangkauan radar di daratan Argentina atau di Falkland Timur, sementara lapangan udara itu hanya berjarak beberapa menit dari lokasi pendaratan yang direncanakan dari pasukan pendaratan utama, meski kemungkinan pesawat yang tersedia (bagi Argentina) “hanyalah” pesawat serang piston, namun bahaya yang bisa ditimbulkan dari pesawat-pesawat semacam ini tidak dapat dikesampingkan. ” demikian tulis Peter Ratcliffe, anggota langsung dalam pelaksanaan operasi” Preliminaries “lewat bukunya ” Eye of the storm. Twenty-five years in action with the SAS. ” Pesawat serang ringan IA-58 “Pucara” dan pesawat latih T-34 C “turbo mentor”, yang diperkirakan oleh intelijen Inggris, dapat ditempatkan di pulau Pebble. Tentu saja, pesawat Pucara, dimana diperkirakan ada lima atau enam dari mereka yang ditempatkan di Pulau Pebble, tidak akan dapat menahan pesawat tempur jet “harrier” Inggris dalam pertempuran udara, tetapi mereka memiliki persenjataan yang cukup untuk melakukan serangan yang kuat terhadap pasukan penyerbu karena dapat dipersenjatai dengan: bom, roket FFAR, napalm, dua senjata kaliber 20-mm dan empat senapan mesin kaliber 7,62-mm. Sementara pesawat “turbo mentor” juga bisa digunakan sebagai pesawat “serang” tambahan yang bagus. Pesawat-pesawat yang berbasis Pebble akan memiliki jangkauan setidaknya 1200 km dan dapat membawa unit pod roket LAU-68 untuk roket FFAR kaliber 70 mm dan dua senapan mesin kaliber 7,62 mm. Oleh karena itu, pesawat-pesawat ini perlu dihancurkan, dan lapangan terbangnya dinonaktifkan.

Kapal Induk HMS Hermes yang menjadi bagian utama dari gugus tugas AL Inggris di Falkland turut dikerahkan untuk mendukung misi pasukan SAS di Pulau Pebble. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Kemudian diputuskan bahwa pekerjaan ini akan dipercayakan pada kompi “D” dari Resimen ke-22 SAS. Kekuatan yang dilibatkan untuk Operation Prelim termasuk kapal induk Hermes, kapal-kapal pengawal kapal induk – fregat Type 22 HMS Broadsword dan juga kapal pendukung tembakan dari grup pasukan khusus – Destroyer kelas County, HMS Glamorgan. Untuk mengoordinasikan dukungan tembakan artileri, tugas khusus diberikan kepada Kapten Christopher Charles Brown dari baterai artileri ke-148 dari Komando Resimen Artileri ke-29. Patut dicatat bahwa, seperti yang diakui oleh pihak Inggris sendiri, penyerbuan di lapangan terbang di Pebble Island adalah aksi yang berisiko, karena beberapa alasan sekaligus. Pertama, sebagian besar helikopter angkut gugus tugas Inggris di Atlantik Selatan terlibat dalam operasi tersebut. Kedua, pada kenyataannya, sepertiga dari semua pasukan khusus Inggris, yang terletak di daerah Falklands, ikut serta dalam penyerbuan tersebut. Ketiga, seorang anggota pasukan yang ditugaskan untuk operasi itu sebagai perwira senior pengendalian tembakan artileri angkatan laut adalah salah satu dari hanya lima pengamat garis depan untuk mengatur tembakan artileri angkatan laut “di seluruh Atlantik Selatan”. Terakhir, yang keempat, di antara kapal-kapal perang yang ditugaskan pada kelompok operasi tersebut juga merupakan salah satu kapal penting dari formasi gugus tugas armada Inggris yang dikirimkan ke Kepulauan Falkland, yakni kapal induk HMS Hermes. Kapal-kapal itu juga harus memasuki zona pantai, di mana kemungkinan besar dapat diserang oleh pesawat-pesawat Argentina, dan yang paling ditakuti oleh laksamana Inggris, adalah oleh kapal-kapal selam angkatan laut Argentina.

PULAU PEBBLE

Pulau Pebble (Pebble Island – nama geografis dari pihak Inggris) adalah bagian dari Kepulauan Falkland (Malvinas – menurut Argentina) dan terletak tepat di utara pulau Falkland Barat – salah satu dari dua pulau utama di kepulauan Atlantik Selatan ini. Penduduk permanen pertama kali muncul di pulau itu pada tahun 1846. Daya tarik utamanya adalah peternakan dombanya yang besar. Pulau itu menjadi “terkenal di dunia”, pada umumnya, hanya terjadi selama perang Falklands tahun 1982. Awalnya pada tanggal 15 Mei, tempat itu menjadi tempat berlangsungnya salah satu operasi klasik SAS Inggris, yang sedang kita bahas. Dan pada tanggal 25 Mei, dalam jarak 10 mil di sebelah utara, kapal perusak tipe 42, HMS Coventry, tenggelam di tempat itu. Pada hari itu, pesawat-pesawat “skyhawks” Argentina dengan dua bom mengirim ke dasar laut kapal yang belum juga genap bertugas selama sepuluh tahun dan berharga 37,9 juta poundsterling itu. Pulau Pebble berukuran kecil, hanya 103,36 km persegi, dimana dari arah barat ke timur membentang kira-kira sejauh 30 km, dan pada bagian terlebar hanya 7 km. Titik tertinggi dari bukit pertama di pulau ini adalah 277 meter di atas permukaan laut, disamping ada juga dua bukit dominan lainnya di pulau itu, yakni bukit Tengah, setinggi 214 meter di atas permukaan laut, dan bukit marmer, setinggi 237 meter di atas permukaan laut. Di timur, Pulau Pebble dipisahkan dari Falkland Barat oleh Selat Tamar dan Inner Strait, dan di selatan oleh Selat Pebble dan Keppel. Bentuk dari pulau terbagi menjadi dua bagian besar, yang seolah dihubungkan oleh tanah genting yang sempit. Yang terakhir terdapat satu-satunya pemukiman di pulau itu, yang disebut Pebble Island Settlement. Hingga bulan April 1982, 22 warga sipil tercatat tinggal di sana, yang kebanyakan bekerja menggembalakan 25.000 domba. Orang-orang Argentina menyebut pemukiman ini Calderon, dan di sebelahnya mereka membangun lapangan terbang berupa landasan pacu tanah.

Pulau Pebble yang lokasinya berdekatan dengan Teluk San Carlos yang rencananya jadi lokasi pendaratan pasukan Inggris. (Sumber: https://sofrep.com/)
Pulau Pebble dari udara. (Sumber: https://www.falklandislands.com/)

Lebih tepatnya, sebuah lapangan terbang sudah ada di sana sebelum pendudukan pulau oleh pasukan Argentina, dimana pihak Argentina hanya memperluas kemampuannya dan membangun posisi pertahanan di sekitarnya. Total ada empat landasan pacu dengan panjang 533,4 meter dan 381 meter, serta dua sepanjang 228,6 meter. Bagian barat pulau itu berbukit, dan bagian timurnya penuh dengan rawa dan danau kecil. Di sebelah utara pemukiman dan tanah genting terdapat Elephant Bay yang besar, di pesisir yang membentang “pantai berpasir putih”, sekitar 5 km. Yang terakhir telah dipilih oleh pasukan Argentina untuk mendaratkan pasukan dan mengirimkan senjata, amunisi serta peralatan untuk memperluas lapangan terbang. Pada tanggal 24 April, Pangkalan Udara Angkatan Laut Calderon (begitu sebutannya) didirikan di sana. Gudang pemotongan bulu domba dan bangunan lainnya diambil alih dan sebuah pesawat Skyvan dari Bandara Stanley digunakan untuk membawa personel dan perbekalan disana. Dalam kasus yang unik, elemen angkatan laut dan angkatan udara dari angkatan bersenjata Argentina tidak setuju satu sama lain sehingga Angkatan Udara memilih bermarkas di Goose Green dan angkatan laut, tinggal di Pulau Pebble. Untuk melindungi lapangan terbang, satu Peleton (Kompi H, Batalyon Infanteri Marinir ke-3), tiba beberapa hari kemudian dan kapal kecil Pemerintah Kepulauan Falklands, Forrester, digunakan untuk membawa bahan bakar, amunisi, dan perbekalan lainnya. Selama beberapa hari berikutnya, satu skuadron pesawat T-34C Mentor tiba. Secara total, ada sekitar 150 personel Argentina di landasan tersebut. Setelah penyerangan terhadap Goose Green pada tanggal 1 Mei, pesawat-pesawat Pucara milik Angkatan Udara dipindahkan ke Pulau Pebble meskipun beberapa hari kemudian landasan pacu di tempat itu tergenang air oleh hujan lebat. Setelah cuaca beku yang keras pada tanggal 7, pesawat-pesawat T-34 melakukan patroli pengintai bersenjata. Lebih banyak patroli lalu menyusul, meski cuaca buruk dan kondisi landasan pacu menghambat operasi. Aktivitas ini dan pendirian Pangkalan Udara Angkatan Laut Calderon tidak luput dari perhatian pasukan Inggris sehingga dibuatlah rencana untuk menetralisir potensinya.

PERSIAPAN 

Awalnya, sebuah kelompok pengintai akan mendarat di Pulau Pebble, yang diperkirakan menjadi lokasi pangkalan bagi sekelompok pesawat dan helikopter Argentina. Pada malam hari dari tanggal 11 hingga 12 Mei, sebuah kelompok pengintai dari Kompi D SAS, dengan komandan Kapten Timothy William Burles, mendarat di Pulau Keppel, di selatan ujung timur Pulau Pebble. Keesokan harinya, kelompok itu dengan bantuan kayak “pasukan khusus” melintasi selat kecil dan menemukan diri mereka di daerah objek yang menarik. Perlu dicatat bahwa ukuran grup Captain Burles di berbagai sumber ditulis berbeda-beda. Misalnya, dalam buku tulisan Francis McKay dan John Cooksey “Pebble Island: Operation Prelim (Elite Forces Operations): The Falklands War 1982” menunjukkan bahwa kelompok tersebut mencapai 17 personel, sedangkan dalam buku Peter Ratcliff “Eye of the storm. Twenty-five years in action with the SAS ” Radcliff, yang merupakan penulis dan anggota langsung dalam operasi tersebut (bagian dari Mobility Troop group), menulis bahwa kelompok kapten Burles terdiri dari 8 orang – yang dibagi menjadi dua kelompok tempur yang terdiri dari masing-masing terdiri dari empat personel.

Tampilan pasukan SAS yang dikerahkan dalam Raid ke Pulau Pebble, Mei 1982. Prajurit pada gambar terlihat membawa senapan serbu M-16 yang dikombinasikan dengan pelontar granat M-203. (Sumber: https://www.sites.google.com/)

Mereka ini adalah bagian dari apa yang disebut “boat group”, kompi D dari Resimen ke-22 SAS dan merupakan spesialis yang dilatih khusus dalam urusan maritim, mereka dikirim turun ke daratan adalah dengan jalur air. Oleh karenanya mereka menjalani pelatihan lanjutan tentang menggunakan peralatan menyelam dan berbagai perahu – seperti kayak Klepper. Kelompok tersebut kemudian berhasil membuat beberapa titik pengamatan, termasuk di sekitar lapangan terbang. Selama pengamatan, pasukan khusus Inggris mengintai objek-objek lapangan udara tersebut, dan juga menentukan koordinat posisi pertahanan garnisun Argentina. Selain itu, selama pengintaian di distrik Philips Cove, orang-orang Inggris menemukan bahwa terdapat “kolam” yang cukup besar yang terletak agak jauh dari garis pantai yang tidak ditandai di peta mereka. Dalam kasus operasi khusus yang mungkin direncanakan, hal ini bisa menjadi kejutan yang sangat tidak menyenangkan, karena di pantai inilah skuadron SAS direncanakan akan mendarat. Pada malam hari tanggal 13 – 14 Mei, komandan kelompok pengintai Kapten Burles mengirim radio ke markas besar: “Sebelas, saya ulangi, sebelas pesawat. Saya menganggapnya nyata. (Kirimkan) Kompi penyerang – malam berikutnya.”

komandan kompi “D” mayor Cedric Norman George Delves (kiri). (Sumber: https://www.specialforcesroh.com/)

Setelah menerima radiogram pada tanggal 14 Mei, seluruh operasi direncanakan secara rinci dalam waktu satu jam. Jenderal masa depan dan komandan pasukan operasi khusus Inggris Raya, serta kemudian komandan dari Resimen ke-22 SAS serta kepala operasi dari semua pasukan operasi khusus selama perang Falklands, Letnan Kolonel Hugh Michael Rose, komandan kompi “D” mayor Cedric Norman George Delves, dan perwakilan komando di Hereford, tempat markas besar SAS berada, segera membahas detail operasi dan menyetujui rencana yang diusulkan. Setelah itu, Michael Rose mulai mengatur dukungan yang diperlukan dari pihak armada. Tugas utamanya adalah untuk menghancurkan pesawat musuh, serta pilot dan para penjaga di lapangan terbang. Pada saat yang sama, diyakini bahwa jumlah personel garnisun Argentina lebih banyak daripada para penyerang setidaknya dua kali lipat. Secara alami, para laksamana setelah pelajaran mengerikan dari tenggelamnya HMS “Sheffield” tidak berusaha untuk sekali lagi membawa kapal mereka ke dekat pulau, sehingga membahayakan mereka. Oleh karena itu, helikopter yang ditugaskan untuk turun dan mengevakuasi kelompok pengintai dan sabotase, harus beroperasi hampir di batas jangkauan mereka. Rencana awalnya dikembangkan sebagai berikut: 

  • kelompok pertama, Pasukan Mobile, harus langsung menghancurkan pesawat, tangki bahan bakar, peralatan di lapangan udara, serta kendaraan dan peralatan lain di sana;
  • Kelompok kedua, Pasukan Serbu Udara, harus menguasai desa; 
  • kelompok ketiga, Pasukan Gunung (dengan komandan – kapten John Gavin Hamilton, yang meninggal pada tanggal 10 Juni 1982 tahun itu, selama operasi khusus di Pulau Falkland Barat – dia baru berusia 29 tahun), membentuk tim pendukung dan reaksi cepat, termasuk satu awak mortir; 
  • Mayor Delves dan Kapten Brown, seorang perwira pengarah tembakan artileri kapal, akan ditempatkan di titik antara desa dan ujung timur lapangan terbang, menjaga kontak dengan semua pasukan khusus, markas besar dan kapal pendukung penembakan, Kapal Perusak HMS Glamorgan.
Kapten John Gavin Hamilton. (Sumber: https://www.defensemedianetwork.com/)

Kelompok kedua, Pasukan Serbu Udara, akan dibantu oleh komandan pendaratan dari armada Inggris, Letnan Komandan Roger Edwards, yang sebelumnya pernah berkunjung di tempat-tempat ini dan sangat ahli dalam mengenali medan disitu. Dalam memoarnya Edwards menulis: “Saya pernah berada di sini pada tahun 1973, tiba dengan kapal patroli Endurance, dan sering bepergian dengan istri saya, warga asli Kepulauan Falkland. Secara khusus, kami mengunjungi Pulau Pebble dan pulau lainnya di utara, tempat pertanian keluarga istri saya berada. Saya membantu SAS dalam menilai medan. Menurut data intelijen, di pulau itu terdapat 300 – 400 personel militer Argentina. Jika benar begitu, maka pasukan SAS akan kalah jumlah sepuluh berbanding satu dibanding lawan yang mungkin mereka hadapi. Faktanya, tentu saja, jumlah Pasukan Argentina jauh lebih sedikit – hanya sekitar 144 orang, termasuk terdiri dari marinir, pilot dan staf pendukung. Pasukan Khusus akan diterjunkan dengan bantuan helikopter khusus HC4 Sea King dari skuadron ke-846 yang dikonfigurasi ulang untuk mendukung pasukan operasi khusus.

Mortir L16 kaliber 81-mm yang turut dibawa oleh pasukan SAS dalam serangan ke Pulau Pebble. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Peluncur roket portabel M72 LAW yang digunakan untuk menambah daya tembak pasukan SAS. (Sumber: https://free3d.com/)
Senapan mesin L7 GPMG (FN MAG versi Inggris). (Sumber: https://www.historicalfirearms.info/)

Masing-masing helikopter tersebut dapat membawa 27 personel tempur dan bisa mengirimkannya hingga jarak 150 mil (sekitar 240 km). Dan seperti pasukan spetsnaz Soviet, awak helikopter tersebut terdiri dari dua pilot, dan bukan satu, seperti biasa. Hal ini memungkinkan penyelesaian masalah yang lebih efektif selama pendaratan / evakuasi kelompok pengintai, serta dalam penerbangan di ketinggian sangat rendah pada malam hari. Akibatnya, untuk operasi “Prelim” diperlukan tiga helikopter yang akan mengirimkan ke pulau 42 personel pasukan khusus, pimpinan Mayor Delves, Kapten Brown dan Letnan Komandan Edwards, dengan persenjataan, satu mortir L16 kaliber 81-mm (seberat 40 kg) dengan lebih dari 30 plastik kontainer berisi amunisi mortir – dua peluru di setiap kontainer, satu dengan peledak fragmentasi, yang lain dengan isian fosfor putih. Berat masing-masing kontainer 8 kg. Setiap anggota pasukan khusus akan membawa masing-masing satu. Sementara itu, para personel Pasukan Khusus akan dikirimkan dalam misi dengan membawa senjata berikut: senapan otomatis M-16 kaliber 5,56 mm (beberapa dengan dikombinasi peluncur granat senapan ringan M203 kaliber 40 mm) atau senapan mesin L7 kaliber 7,62 mm, pistol Browning-High Power 9 mm, peluncur roket anti tank portable M72 LAW, granat tangan, bahan peledak, dan banyak sabuk senapan mesin. Yang terakhir semua pasukan khusus, bukan hanya penembak senapan mesin L7 (FN MAG GPMG versi Inggris) – membawa 200 peluru cadangan senapan mesin per orang. Semua personel juga membawa kotak pertolongan pertama. Mereka juga secara total membawa beban 23 kg di ransel mereka dan 14 kg perlengkapan pendukung lainnya.

OPERASI DIMULAI

Fase pertama dari bagian aktif dari operasi Prelim dimulai pada pukul 20.00 tanggal 14 Mei. Kapal perusak HMS “Glamorgan” menuju Pulau Pebble. Setengah jam kemudian, kapal induk Hermes dan fregat HMS Broadsword mengikuti. Kapal perusak yang dipersenjatai dengan sistem pertahanan udara Sea Cat ini memainkan peran sebagai kapal pertahanan anti-pesawat, sementara kapal fregat yang dipersenjatai dengan sistem pertahanan udara jarak dekat Sea-Wolf memainkan peran sebagai kapal patroli anti-kapal selam dan kapal pertahanan udara. Inggris beruntung karena pada saat itu Argentina tidak mengoperasikan satu pun pesawat Patroli Maritim P-2 Neptune yang bisa digunakan untuk melakukan pengintaian jarak jauh, sehingga manuver ketiga kapal itu luput dari perhatian. Namun kemudian situasinya menjadi rumit. Karena munculnya cuaca badai dan sejumlah gangguan teknis (misalnya, kru Broadsword harus keluar dari jalur pelayaran untuk memperbaiki sistem rudal pertahanan udara Sea Wolf yang gagal beroperasi, dan salah satu helikopter Sea King gagal diterbangkan, mereka harus segera dicarikan pengganti), bagaimanapun akhirnya mereka bisa tiba di tempat yang ditentukan. Sementara itu radar Argentina, yang terletak di Pulau Falkland Timur, menemukan adanya tiga kapal yang terpisah dari satuan utama. Letnan Marege kemudian juga dikirimi radiogram dengan isi yang sama. Komandan Hermes dan Glamorgan sayangnya tidak secara akurat menghitung waktu yang mereka butuhkan untuk menduduki posisi yang direncanakan. Akibatnya, kapal-kapal tersebut harus mengambil posisi dengan “kecepatan yang dipercepat”, tetapi mereka tidak berhasil mempersiapkan helikopter dengan baik untuk pemberangkatan. Semua ini akhirnya menyebabkan penundaan dimulainya operasi sekitar satu setengah jam, membuat waktu keberangkatan baru bisa dilakukan mendekati fajar. Rencana operasi lalu harus diperbaiki. Sekarang tujuannya hanyalah penghancuran pesawat musuh. “Garnisun Argentina bahkan tidak tahu betapa beruntungnya mereka dan betapa mereka baru saja lepas dari situasi yang berbahaya,” tulis Ken Connor dalam memoarnya. “Kelompok Pasukan Serbu Udara, yang awalnya harus menyerang permukiman, sekarang harus mengambil posisi antara lapangan udara dan desa dan, yang jika perlu, akan ditugaskan untuk menangkis serangan pasukan marinir Argentina.”

HMS Glamorgan yang ditugaskan untuk memberikan bantuan tembakan bagi pasukan SAS yang menyerang Pulau Pebble. (Sumber: https://www.sirmarfittings.com/)
HMS Broadsword memberikan perlindungan udara bagi kapal induk HMS Hermes yang ditugaskan untuk mendukung operasi penyerangan di Pulau Pebble. (Sumber: http://www.seaforces.org/)
Helikopter Sea King HC4 digunakan untuk mendaratkan pasukan SAS yang menyerang Pulau Pebble. (Sumber: https://www.corgi.co.uk/)

Akibatnya, pada jam 2 tanggal 15 Mei, kapal induk Hermes terlambat, dan setelah 25 menit, tiga helikopter terbang menuju ke pulau itu. Setelah itu, kapal induk dan kapal fregat mundur, sementara HMS Glamorgan mengambil posisi 6 mil di barat laut lapangan terbang dengan kesiapan untuk melepaskan tembakan artileri meriam kaliber 4.5 inchi ke target dan posisi musuh yang telah diintai. Pilot-pilot helikopter lalu mendaratkan pasukan khusus pada ketinggian yang sangat rendah. Apalagi helikopter itu tidak dilengkapi dengan perangkat radar bisa terbang rendah mengikuti kontur medan. Bagaimanapun para pilot tetap terbantu dengan adanya kacamata penglihatan malam yang baru. Tim penyerangan mendarat pada jam 3 lebih 50 menit sekitar lima mil dari target, di daerah Philips Cove, dan kemudian bergabung dengan kelompok pengintai di pulau itu. Setelah dibriefing selama 15 menit, kelompok penyerang yang terakhir mempersiapkan senjata mortir kaliber 81-mm, yang direncanakan untuk “menerangi” area tersebut dengan amunisi suar, dan kemudian – memberikan dukungan tembakan. Selain itu, dukungan tembakan dari pasukan pengintai selama operasi akan diberikan oleh kapap perusak HMS “Glamorgan”. Tepat pukul jam 4, Kapten Brown menerima informasi via radio bahwa kapal perusak sudah dalam posisi dan siap memberikan dukungan tembakan artileri. Sementara itu helikopter, yang telah membawa pasukan khusus ke pulau itu, kembali ke HMS Hermes untuk mengisi bahan bakar dan siap lepas landas untuk menjemput pasukan penyerang setelah misi usai.

PESAWAT-PESAWAT DIHANCURKAN 

Setelah terhubung dengan kelompok Kapten Burles, detasemen penyerang pindah ke tujuan operasi. Yang pertama adalah Kapten Burles, yang memainkan peran sebagai “pemandu”, bersamanya – Mayor Delves dan Kapten Brown, kemudian – kru mortir, kelompok Pasukan Serbu Udara, personel dari kelompok Kapten Burles, Pasukan Gunung dan, akhirnya, grup Pasukan Mobil. Pada jam 6 lebih 10 menit, para pasukan penyerang telah mencapai posisi di mana mereka harus memasang mortir kaliber 81 mm mereka. Awak mortir kemudian siap untuk melepaskan tembakan dalam jam 6:15. Beberapa saat kemudian, Pasukan Serbu Udara dan Pasukan Gunung mengambil posisi mereka, tetapi kelompok ketiga hilang. Mereka telah meninggalkan zona pendaratan terakhir, namun tidak memiliki cukup “panduan”. Pada akhirnya, dalam kegelapan, mereka menyimpang dari jalur yang seharusnya. Namun, hal ini tidak mempengaruhi jalannya operasi. Grup Pasukan Gunung adalah satuan cadangan, jadi mereka mengubah posisi dan mulai mempersiapkan tugas baru. Di kapal perusak, HMS “Glamorgan” mereka mulai gugup. Agar terhindar dari kemungkinan pemboman dari arah pantai atau serangan dari pesawat-pesawat Argentina, kapal itu harus segera meninggalkan posisinya maksimum sebelum munculnya sinar matahari pertama – tidak lebih dari pukul 7:30.

Meriam kaliber 4.5 inchi. Tipe meriam ini digunakan untuk mendukung serangan pasukan SAS di Pulau Pebble. (Sumber: https://pics.alphacoders.com/)

Sementara itu dilaporkan kepada crew di bahwa Mayor Delves dan Kapten Brown, bersama kelompoknya belum mengambil posisi untuk menyerang. Pada saat yang sama, kapal itu diberi tahu melalui radio bahwa pertama-tama perlu untuk “menembakkan” peluru suar penerangan di atas target pada posisi ZJ5007 – yaitu, lokasi posisi yang seharusnya ditempati oleh marinir Argentina, dan tidak menembakkan peluru fragmentasi high eksplosive di pos pengamatan di Puncak Gunung Pertama (posisi  ZJ5004). Seperti yang direncanakan, Kapten Brown kemudian menghubungi via radio HMS “Glamorgan” pada pukul 7:19 dengan walkie-talkie nya. Setelah tiga menit, peluru penerang menerangi pulau, setelah terbang keluar dari laras meriam kapal perusak dengan interval setiap 15 detik. Pada tembakan peluru pertama, Pasukan khusus Inggris dengan jelas mengetahui bahwa ada 11 pesawat di lapangan terbang, yakni: empat “turbo mentor” dari skuadron serbu ke-4 Angkatan Laut Argentina (Nomor A-401, A-408, A-411 dan A-412), enam ” Pucara “(Nomor A-502, A-520, A-523, A-526, A-529 dan A-552) dari skuadron serbu ke-3 Angkatan Udara Argentina yang direlokasi dari lapangan udara Goose Green sebagai bagian dari operasi untuk memencarkan kekuatan udara mereka, dan satu pesawat angkut Skyvan dari satuan penerbangan Penjaga Pantai (Nomor RA-50, yang tiba di Pulau Pebble pada tanggal 30 April).

Dalam waktu 15 menit pasukan SAS dengan menggunakan kombinasi bahan peledak, roket dan senjata ringan menghancurkan 11 pesawat Argentina di Pulau Pebble. (Sumber: https://www.facebook.com/)

Kopral “Paddy Armstrong yang ahli bahan peledak dan Kapten Hamilton berlari pada pesawat-pesawat “Pucara”, dan memasang bahan peledak plastik di pesawat-pesawat Pucara, mereka berdua tercatat menghancurkan 4 pesawat. Pesawat “turbo mentor” juga dipasangi bahan peledak plastik. Tiga peledak dipasang pada setiap pesawat: satu di bawah stabilizer kiri, yang kedua di bawah mesin, dan di relung roda pendaratan hidung, sementara sisanya ditembaki dengan senjata ringan dan roket yang dibawa oleh personel penyerbu lainnya. Yang menarik adalah deskripsi salah satu kisah yang ditulis oleh Francis MacKay dan John Kuksi dalam buku “Pebble Island: The Falklands War 1982” yang berkaitan dengan tindakan dari pihak Argentina: “Seorang kopral dan dua marinir berpindah ke lapangan terbang, mendaki sebuah lereng dan melihat sebuah gambaran dari banyak sosok gelap yang dengan cepat bergegas bergerak di antara pesawat, berhenti sejenak hanya untuk melempar granat. Marinir-marinir itu diam-diam pindah ke stasiun pemadam kebakaran, dengan diperhatikan oleh dua penjaga (yang ada di stasiun pemadam kebakaran dan tidak mengambil tindakan apa pun sejak awal serangan), yang lalu membiarkan mereka masuk. Mereka semua kemudian dengan cepat menjatuhkan diri ke lantai, karena peluru berdesingan di sekitarnya. Dalam beberapa menit, cahaya dari pesawat yang terbakar menjadi lebih terang daripada dari peluru suar penerangan yang ditembakkan. Segera, semua 11 pesawat hancur, bersama dengan drum-drum bahan bakar dan kotak-kotak amunisi, aksi ini memakan waktu tidak lebih dari 20 menit. Pihak Argentina hanya membuat sedikit perlawanan, dan pada tembakan pertama Mayor Delves telah meminta via radio kepada HMS Glamorgan untuk melepaskan tembakan meriam dengan peluru fragmentasi eksplosif tinggi ke sasaran ZJ5007, dan untuk menerangi penembak mortirnya.

“HASIL SERBUAN” 

Kerugian di antara “pasukan komando” Inggris sangat sedikit – tiga orang terluka: – Kopral Davie dari kelompok Pasukan Gunung mendapat pecahan granat 40 mm di kaki (dia segera diikat oleh rekannya – Sersan Staf Philip Karras, seorang petugas medis); – Kopral Armstrong terluka oleh pecahan peluru dari ranjau yang dikendalikan radio yang meledak terlalu dekat. Yang terakhir, akibat ledakan ranjau Argentina, Kopral Bunker mengalami gegar otak, dan dia benar-benar tidak beruntung untuk kedua kalinya, setelah dia sempat menerima luka pertamanya saat operasi di Georgia Selatan, ketika dia berada di dalam helikopter Wessex yang jatuh. Sementara itu Komandan garnisun Argentina, Letnan Marega, yang tiba di tempat kejadian dan gagal mengatur serangan balik cepat dengan bawahannya yang mengalami demoralisasi, lalu memerintahkan serangan balik saat pasukan penyerbu mulai berkumpul dan bersiap pergi. Sementara itu, pihak penyerang membalas tembakan pihak Argentina dengan menggunakan senjata kecil dan peluncur granat M203, yang mengakibatkan kematian komandan Argentina itu (menurut catatan Inggris). Namun versi Argentina menyatakan bahwa marinir mereka tetap ada di tempat perlindungan selama penembakan yang dilakukan oleh HMS Glamorgan, sehingga mereka tidak dapat menghadapi pasukan SAS dalam pertempuran. Sejarawan Inggris berpendapat bahwa Letnan Marega mungkin membayangkan bahwa pihak Inggris ingin menguasai lapangan udara dan pesawat angkut militer dengan pasukan pendaratan utama akan mendarat di atasnya saat fajar. Bagaimanapun, misi sudah sukses dilakukan dan dalam waktu 30 menit pos Argentina dan pesawat-pesawat yang ada di Pulau Pebble sudah berhasil dinetralisir. Detasemen penyerang kemudian mulai mundur ke zona evakuasi, dan kepada HMS Hermes dilaporkan bahwa operasi telah secara penuh diselesaikan dan helikopter untuk menjemput segera dipanggil.

T-34C yang dihancurkan di Pulau Pebble. (Sumber: https://www.thinkdefence.co.uk/)
Sisa pesawat IA-58 Pucara yang dihancurkan. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Dalam memoarnya, Kapten Christopher Charles Brown menyatakan: “Kami menghancurkan semua pesawat, dan segera mundur, sementara pesawat-pesawat mulai meledak dan terbakar. Musuh tidak mencoba melakukan serangan balik dari desa atau menguasai lapangan terbang. Jika kami punya lebih banyak waktu, kami akan mencoba memusnahkan mereka, tetapi ada bahaya yang nyata kemungkinan hal itu akan merusak properti penduduk setempat atau bahkan membunuh beberapa pemukim. Tetapi kenyataannya, kami sama sekali tidak punya waktu, jadi kami kemudian diberikan sinyal untuk mundur, karena kami memutuskan bahwa kami telah menyelesaikan tugas. Penghancuran pesawat-pesawat Argentina ini telah menghilangkan ancaman pada operasi pendaratan di masa depan. Kami mundur ke tempat yang aman, dijemput oleh helikopter Sea King dan dikirim ke kapal induk HMS Hermes untuk sarapan. ” Menurut sumber Inggris, pada 7:45, kapal perusak HMS “Glamorgan” menembakkan proyektil terakhir ke sasaran. Tembakan terakhir yang ditembakkan, telah “membuat dinding api” antara pasukan khusus yang mundur dan desa, tempat garnisun Argentina berada. Komandan Ian Inskip dari HMS Glamorgan kemudian mengenang: “Kami harus meninggalkan posisi menembak, karena bahaya yang semakin meningkat, jika semakin lama kami berada di situ. Namun, Kapten Barrow (komandan kapal perusak) Memutuskan bahwa kami di sini untuk mendukung pasukan SAS, dan oleh karena itu kami harus tetap ada di posisi. “Akhirnya, kapal meninggalkan perairan pantai dengan kecepatan penuh – kapal itu sempat bertahan di sana 15 menit lebih lama dari yang direncanakan. Pada saat itu, pasukan khusus sudah menaiki empat helikopter” Sea King “, yang menjemput mereka sejauh 2 mil (sekitar 3, 5 km) dari lapangan terbang dan diangkut kembali ke HMS Hermes dan Glamorgan, di mana sarapan pagi ala Inggris yang sudah tersedia menunggu! Secara singkat, Kapten Hamilton kemudian melaporkan bahwa pihak Argentina tidak menempatkan fasilitas radar di pulau itu, dan garnisun itu dianggap tidak lagi efektif. Hasilnya adalah bahwa pasukan Argentina di Pulau Pebble tidak akan berperan sama sekali dalam mengganggu pendaratan Pasukan Inggris di San Carlos. Sekali lagi setelah pendaratan, personel-personel SAS akan mendukung pasukan pendaratan utama melintasi Falkland Timur untuk membebaskan Port Stanley.

Foto udara setelah serangan di Pulau Pebble. (Sumber: https://www.thinkdefence.co.uk/)
Pendaratan di San Carlos 21 Mei 1982. Pada saat pendaratan, pasukan Argentina di Pulau Pebble tidak berperan sama sekali dalam mengganggu pendaratan Pasukan Inggris. (Sumber: https://www.thinkdefence.co.uk/)

Sementara itu dalam memoarnya Peter Ratcliff mencatat: “Dua setengah jam setelah tembakan pertama, kami kembali naik helikopter Sea King dan kembali menuju ke laut. Di belakang kami di landasan pacu tergeletak sisa-sisa enam pesawat Pucara, satu pesawat angkut ringan Skyvan Pendek dan empat pesawat latih Turbo Mentor. Artileri kapal menembaki semua posisi musuh lainnya, yang sangat efektif sehingga seolah-olah seluruh Pulau Pebble terbakar. Pasti di tempat itu menjadi lebih panas daripada selama beberapa juta tahun. ” Secara umum, penyerangan di Pulau Pebble akan tercatat sebagai salah satu aksi operasi klasik satuan Special Air Service Inggris, bersama dengan catatan satuan mereka saat dibawah komando David Stirling, (pencipta SAS pada tahun 1941) selama Perang Dunia II, yang memimpin operasi melawan pasukan Italia di Afrika Utara. Misi penyerangan di Pulau Pebble dilaksanakan dengan ketelitian yang tinggi, dan sebagai hasilnya, risiko bagi seluruh grup pasukan Inggris berkurang secara signifikan sebelum operasi pendaratan di Teluk San Carlos. Sementara itu, Kapten John Hamilton kemudian terbunuh secara tragis pada tanggal 10 Juni 1982, ketika mengendalikan tembakan angkatan laut dari posisi yang menghadap ke garnisun Argentina yang berkekuatan 800 orang. Terkepung, Hamilton terbunuh saat melindungi seorang prajurit yang melarikan diri melewati garis pertahanan Argentina dan akhirnya ditawan. Hamilton dianugerahi Medali Salib Militer, dan kutipannya menyebutkan “tekad dan karakternya yang luar biasa, serta keinginannya yang luar biasa untuk bertempur saat menghadapi rintangan meski tanpa harapan dan menderita luka.” Hanya empat hari kemudian, pasukan Argentina di pulau-pulau itu menyerah kepada Mayor Jenderal Jeremy Moore, dan bendera Union Jack kembali berkibar di Falkland. Setelah perang usai salah satu pesawat serang “Pucara” Argentina dengan nomor A-529, yang rusak kemudian dibawa keluar dari Pulau Pebble setelah perang ke Port Stanley, di mana ia kemudian dipamerkan di museum setempat. Dan salah satu pesawat “turbo mentor”, nomor 0729, secara harfiah telah diselamatkan dari nasib “dibesituakan” oleh anak laki-laki setempat dan kemudian dipindahkan ke Museum Penerbangan Angkatan Laut Inggris di Yeovilton.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Special Operations: Raid on Pebble Island by Vladimir Shcherbakov; October 19 2012

https://en.topwar.ru/19823-specoperacii-reyd-na-ostrov-pebbl.html

The Pebble Island Raid BY HOWARD TUCK, OCTOBER 14, 2016

UK SOF IN THE FALKLANDS WAR: THE SAS STRIKE AT PEBBLE ISLAND by Stavros Atlamazoglou; Sep 19, 2019

https://sofrep.com/news/uk-sof-in-the-falklands-war-the-sas-strike-at-pebble-island-3/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Raid_on_Pebble_Island

One thought on “Serangan Pasukan Khusus SAS Ke Pangkalan Udara Argentina di Pulau Pebble, 14-15 Mei 1982

  • 1 March 2021 at 9:32 am
    Permalink

    This is becoming my favorite history website

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *