SMS Emden, Kapal Bajak Jerman Yang Memporak-Porandakan Arus Perkapalan Sekutu dalam Perang Dunia I

Jerman mungkin bukan negara yang menghasilkan pelaut-pelaut ulung terkenal ala Sir Francis Drake atau Henry Morgan asal Inggris, tetapi mereka masih bisa membanggakan kiprah dari Kapten Karl von Müller, komandan kapal penjelajah ringan SMS Emden. Selama minggu-minggu pembukaan Perang Dunia Pertama dalam kurun waktu sekitar 90 hari, von Müller dan krunya yang berjumlah 360 orang melakukan kampanye bajak laut yang menakjubkan melalui kawasan Pasifik Selatan dan Samudra Hindia. Ekspedisi yang hanya berumur pendek tersebut bagaimanapun telah menyebabkan lebih dari 30 kapal Sekutu hilang, menghentikan perdagangan Inggris di wilayah Timur Jauh dan meneror pelabuhan dan jalur laut di lebih dari seperempat kawasan permukaan bumi. Selama tiga bulan, armada kapal multinasional secara besar-besaran menjelajahi lautan untuk mencari Emden, sebuah kapal yang sering tampak menyerang entah dari mana dan kemudian menghilang secara tiba-tiba tanpa diketahui jejaknya. Dan yang lebih luar biasa adalah keberanian pribadi dari von Müller sendiri. Sementara mendapatkan reputasi sebagai kapten laut yang berani, ia juga memiliki sikap murah hati dan memperlakuan para tahanannya dengan adil, yang membuatnya dihormati dan dikagumi banyak orang, termasuk oleh musuh-musuhnya sendiri.

Kapal Penjelajah Ringan SMS Emden yang menjadi legenda dalam sejarah maritim Bangsa Jerman. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

LATAR BELAKANG

Perang Dunia I baru berumur beberapa hari ketika kapal penjelajah ringan Jerman SMS Emden, yang berpatroli di luar Semenanjung Korea, melihat target pertamanya. Tak lama setelah pukul 4 pagi pada tanggal 4 Agustus 1914, para pengamat melihat apa yang mereka yakini sebagai kapal penjelajah Rusia Askold. Kru Emden bersiap untuk beraksi. Kapal Rusia itu kemudian segera melarikan diri, yang mendorong kru Emden untuk menembakkan serangkaian tembakan peringatan. Kapal itu melambat setelah tembakan kesepuluh dan berhenti setelah dua tembakan lagi. Sekelompok pelaut yang dikirimkan dari Emden mendapati bahwa kapal yang mereka ambil alih itu bukanlah kapal penjelajah “Askold”, melainkan kapal angkut Rusia jurusan Nagasaki-Vladivostok yang berbobot 3.500 ton, bernama “Ryazan”. Kapal yang membawa 80 penumpang itu tidak memiliki muatan di dalamnya sehingga dapat menjadi hadiah yang berharga. Tetapi Kapten Karl von Muller, komandan Emden, memutuskan untuk membawa kapal besar dan cepat (kecepatannya bisa mencapai 17 knot) itu ke pangkalan angkatan laut Jerman di Tsingtao, Cina, untuk diubah menjadi kapal dagang penjelajah bersenjata. Awak kapal Emden mengambil kendali kapal Russia itu dan mengibarkan bendera Jerman. Kedua kapal itu tiba di China pada tanggal 6 Agustus. Pada akhir bulan, “Ryazan” kemudian meninggalkan pelabuhan, berganti nama menjadi Cormoran dan di bawah kendali para pelaut-pelaut Jerman. Itu adalah hadiah perang pertama bagi Angkatan Laut Jerman, dan peristiwa itu menandai awal dari rekor yang luar biasa bagi Emden. Meskipun U-boat sering dipandang sebagai “bintang” bagi Angkatan Laut Jerman selama Perang Besar (sebutan lain dari Perang Dunia I), kekuatan kecil kapal-kapal permukaan dari Kaiser Wilhelm II yang tersebar di seluruh dunia juga memberikan pengabdian yang baik. Beberapa dari kapal-kapal itu adalah kapal perang yang dibuat untuk tujuan tertentu, dan yang lainnya adalah dagang yang diubah menjadi kapal bersenjata. Namun, mereka semua memiliki satu kesamaan, yakni mereka semua ingin menyerang kapal musuh dan “mengikat” sejumlah besar kapal Sekutu yang didedikasikan untuk memburu mereka. Dari semua kapal bajak Jerman, tidak ada yang memiliki karier seberani SMS Emden.

Kapal angkut Ryazan asal Russia yang kemudian diubah namanya menjadi SMS Cormoran. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

SMS EMDEN DAN CREW-NYA

Pada tahun-tahun sebelum Perang Dunia I, Jerman telah berkuasa di atas Kepulauan Mariana, Kepulauan Marshall, dan Samoa di Pasifik tengah. Di Pasifik selatan, Jerman memiliki koloni tambahan, yang termasuk Kepulauan Bismarck dan Kepulauan Solomon. Untuk menjaga wilayah kekuasaannya, Kekaisaran Jerman menempatkan sebuah satuan Angkatan Laut yang dikenal sebagai Skuadron Asia Timur. Skuadron Asia Timur dimaksudkan untuk melindungi kepentingan Jerman di wilayah yang sangat jauh ini — sebuah misi yang pada masanya pernah ditujukan untuk mengawasi setiap gangguan dari pihak Prancis yang berpikiran ekspansionis. Namun dengan berjalannya waktu, meningkatnya permusuhan di benua Eropa menempatkan skuadron ini dalam posisi genting, sementara mereka berjarak enam ribu mil dari Jerman sendiri. Skuadron Asia Timur Jerman berbasis di kota pelabuhan Tsingtao di Cina utara, yang juga digunakan sebagai pangkalan angkatan laut utama Jerman di Pasifik. Berada di pantai selatan provinsi Shandong, kota itu lebih bergaya Eropa daripada Asia. Para insinyur Jerman telah membuat jalan-jalan raya dengan jajaran pohon linden di kanan kirinya. Orang-orang Jerman juga telah membangun landmark dari kota itu, yakni sebuah gereja Lutheran, di atas bukit yang menghadap ke pelabuhan. Skuadron Asia Timur di Tsingtao dikomandoi oleh Konteradmiral Maximillian von Spee, seorang keturunan dari keluarga Prusia terkemuka yang berusia 53 tahun. Admiral Spee adalah seorang profesional angkatan laut yang teliti, dengan minat khusus pada senjata meriam. Armada Spee yang terdiri dari kapal-kapal penjelajah dan kapal-kapal kecil ini didukung dengan kapal-kapal tambahan untuk membawa batu bara, yang merupakan sumber bahan bakar utama kapal-kapal perang pada masa itu. Batubara memang memberi kapal keuntungan besar dalam hal kecepatan dan kemampuan manuver, tetapi daya tahan mereka dibatasi oleh apa yang bisa mereka bawa di bunker persediaan batu baranya.

Qingdao/Tsingtao, Markas Skuadron Asia Timur Jerman jelang pecahnya Perang Dunia I. (Sumber: https://id.wikipedia.org/)
Peta Kota Tsingtao tahun 1912. (Sumber: https://id.wikipedia.org/)
Gerbang utama bekas depot amunisi Tiongkok, yang diambil alih oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jerman, di Teluk Kiautschou, Semenanjung Shandong, tahun 1898. (Sumber: China, Tsingtau Hauptthor des Artillerielagers mit Offiziersgruppe/https://en.wikipedia.org/)
Kota Tsingtao awal tahun 1900-an. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Di antara kekuatan armada von Spee adalah kapal Emden. SMS yang mendahului nama kapal penjelajah ringan itu adalah akronim Jerman untuk “Kapal Yang Mulia” (Kapal milik Kaisar). Kapal ini dibuat pada tahun 1908 di kota Danzig di Laut Baltik. Dengan bobot 3.593 ton, Emden memiliki panjang 387 kaki (117,96 dengan lebar 43 kaki (13,11 meter). Kapal penjelajah itu dipersenjatai dengan 10 meriam kaliber 10,5 cm bersama dengan sembilan meriam 5-pounder, empat senapan mesin, dan dua tabung torpedo. Meriam 10,5 cm dapat digunakan untuk menyerang target hingga jarak 12.200 m (40.000 kaki), dan dilengkapi dengan 1.500 butir amunisi, 150 peluru per meriam. Mesin uapnya menghasilkan kekuatan 13.500 tenaga kuda yang dapat membesut kapal dengan kecepatan tertinggi hingga 24 knot. Sementara itu 790 ton batubara yang bisa dia bawa memberikan jangkauan jelajah hingga jarak 1.850 mil pada kecepatan 20 knot atau 3.790 mil pada kecepatan 12 knot. Ketebalan lapisan baja maksimum kapal ini adalah setebal empat inci. Meskipun relatif baru, Emden, kapal dengan crew 360 pelaut ini bukanlah kapal canggih yang menerapkan teknologi angkatan laut terbaru pada masanya. Bagian halauannya masih dirancang untuk dapat digunakan untuk menabrak kapal musuh dalam kondisi darurat, layaknya kapal-kapal gaya lama, selain masih menggunakan bahan bakar batubara ketimbang minyak dan tidak memiliki perangkat untuk memproduksi air bersih secara mandiri.

Penjelajah ringan SMS Emden di Tsingtao tahun 1914. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Korvettenkapitän Karl Friedrich Max von Müller, Kapten kapal SMS Emden. (Sumber: https://militaryhistorynow.com/)
Kapitanleutnant Helmuth von Mucke, wakil komandan kapal penjelajag ringan SMS Emden. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Kapten Emden, Korvettenkapitän (setara lieutenant commander di Amerika) Karl Friedrich Max von Müller, yang lahir pada tahun 1873, tampaknya memang ditakdirkan untuk berkarir di dunia militer. Ayahnya pernah menjadi kolonel di tentara Prusia yang mengalahkan Prancis pada tahun 1870. Ia sendiri pernah belajar di akademi militer di Schleswig-Holstein dan kemudian masuk Angkatan Darat Prusia. Namun pada tahun 1891, Müller, yang saat itu berusia 18 tahun, dipindahkan ke angkatan laut. Pada tahun 1894 dia menjadi perwira sinyal di sebuah kapal perang, dan dari sana — dipromosikan menjadi letnan — dia mulai bertugas selama dua tahun di kapal perang yang berbasis di Afrika Timur jajahan Jerman (sekarang bagian dari negara Tanzania). Selama bertugas disini dia mengidap malaria, penyakit yang akan mengganggu dia selama sisa hidupnya. Dari tahun 1909 hingga 1912 Müller bertugas di Kantor Angkatan Laut Kekaisaran di Berlin, di mana dia membuat kagum Laksamana Alfred von Tirpitz. Namun, baru pada musim semi 1913, Müller yang telah berusia 39 tahun menerima komando kapal perang pertamanya, Emden. Setelah dua bulan bertugas di Sungai Yangtze, Emden kembali ke Tsingtao, di mana Müller menerima kabar bahwa dia telah dipromosikan menjadi komandan. Spee mengagumi Müller muda, yang sikap pendiamnya menyamarkan pandangan nasionalisnya yang keras. Ketika perang dimulai, dia telah mengantungi 23 tahun pengabdian di Angkatan Laut Jerman.  Müller dikenal sebagai perwira yang tenang dan kompeten serta dihormati oleh krunya. Orang kedua di komando kapal itu adalah Kapitanleutnant Helmuth von Mucke, yang lahir pada tahun 1881 dan juga merupakan anak seorang perwira Angkatan Darat. Mucke telah menjalani masa dinas selama 14 tahun dan merupakan seorang perwira dengan karakter ekstrover yang mendapat kekaguman abadi dari para krunya. Keterampilannya telah melengkapi keterampilan von Muller. Selain itu Emden memiliki dua perwira terkenal lainnya. Yang pertama adalah Leutnant zur See Franz Joseph, keponakan dari Kaiser Wilhelm sendiri. Dia menjabat sebagai perwira torpedo kapal. Yang lainnya adalah Kapitanleutnant Julius Lauterbach, seorang perwira cadangan yang baru saja bergabung dengan kru kapal itu. Lauterbach telah lama bertugas di perairan Samudra Pasifik Barat dan Hindia sebagai perwira Kapal jurusan Hamburg-Amerika dan memiliki pengetahuan luas tentang wilayah tersebut, kapal yang biasa berlayar disana, dan tipe orang yang biasa bertugas sebagai awak di kapal-kapal tersebut. Keberadaan von Mucke dan Lauterbach terbukti sangat berharga selama bertugas di Emden sebagai perompak kapal dagang. 

PECAHNYA PERANG

Pada saat menjelang perang, Emden berada di pelabuhan di Tsingtao. Pada bulan Juni, kapal penjelajah Inggris, Minotaur, berkunjung ke tempat itu. Kru Emden membantu menyelenggarakan acara kunjungan tersebut, yang meliputi permainan sepak bola, jamuan makan, dan perlombaan atletik. Jerman menang di lomba senam dan lompat tinggi sementara kru Inggris menang dalam pertandingan sepak bola. Pelaut dari kedua negara bergaul dengan baik sehingga setelah kepergian Minotaurus ada banyak sikap yang meyakini bahwa kedua negara pasti tidak akan pernah bertarung satu sama lain. Pada bulan-bulan sebelum perang, banyak kru yang kembali ke rumah dengan kedatangan kru pengganti baru. Memiliki kru baru untuk dilatih membuat para perwira sibuk. Pada akhir bulan Juli 1914, perang sudah dekat. Laksamana von Spee khawatir kapalnya akan terperangkap di Tsingtao saat perang pecah. Sementara itu, Jepang yang diperkirakan akan bergabung dengan aliansi Inggris-Prancis, memiliki armada besar di dekatnya. Untuk mencegah hilangnya kemampuan manuvernya, von Spee membawa armadanya ke laut pada tanggal 31 Juli dan kemudian segera setelah memencarkannya. Pada saat itulah para kru Emden merampas Ryazan seperti yang telah diceritakan diatas. Setelah mengirim kapal itu ke Tsingtao untuk diubah menjadi kapal dagang penjelajah bersenjata, Emden bergabung kembali dengan armada di Pagan di rantai kepulauan Mariana pada tanggal 12 Agustus. Menurut rencana operasional Jerman, Skuadron Asia Timur akan memulai penyerangan terhadap kapal-kapal dagang jika terjadi perang dengan Inggris Raya. Secara teori, kampanye semacam itu akan mewajibkan Inggris untuk mengurangi kekuatan mereka di Atlantik untuk melindungi wilayah mereka di seberang lautan dan jalur perdagangannya. Namun, pembajakan kapal-kapal dagang membutuhkan infrastruktur pangkalan atau kapal pemasok yang rumit, terutama untuk kapal perang berbahan bakar batu bara. Meskipun angkatan laut Jerman telah mendirikan depot batubara di beberapa lokasi Laut Selatan, situasi tersebut memaksa Spee untuk meninggalkan satu-satunya pangkalan utamanya, Tsingtao. Sekarang dia tidak memiliki cara untuk melabuhkan kapalnya atau melakukan perbaikan besar. Meskipun dia mungkin bisa bermain petak umpet di pulau-pulau di Pasifik selatan, perairan disitu tidak akan menghasilkan banyak mangsa kapal musuh. Dalam analogi yang penuh warna pascaperang, Winston Churchill menyebut armada Spee sebagai “sebuah bunga terpotong dalam vas; yang terlihat bagus, namun (pada akhirnya) pasti akan mati. ” Spee melihat situasinya sama seperti yang Churchill pikirkan, tetapi dia berharap untuk bisa mencapai banyak hal dalam waktu yang masih tersisa baginya.

Konteradmiral Maximillian von Spee. (Sumber: https://alchetron.com/)
SMS Emden dengan cerobong asap palsunya. (Sumber: http://navrangindia.blogspot.com/)

Laksamana Spee waktu itu mengomandoi dua kapal penjelajah lapis baja, empat kapal penjelajah ringan (salah satunya adalah Emden), dan sejumlah kapal pemasok. Tantangannya saat itu jelas adalah kebutuhan mendesak akan batubara untuk menjaga agar kapal-kapal tersebut dapat tetap berlayar. Laksamana tidak yakin akan adanya pasokan tetap untuk pasukannya di Samudra Pasifik Barat, jadi dia memutuskan untuk berlayar ke Samudra Pasifik Timur. Laksamana von Spee berharap kapalnya dapat dengan mudah mengisi kembali pasokan batu bara mereka dengan berlabuh di pelabuhan kawasan Amerika Selatan. Terlebih lagi, kapalnya akan menemukan banyak kapal dagang Inggris di wilayah Pasifik Timur untuk dimangsa. Dengan tidak bermaksud untuk meninggalkan Pasifik Barat sepenuhnya ke tangan Sekutu, von Spee memutuskan untuk meninggalkan satu kapal penjelajah ringan, yakni Emden, di belakang untuk menyerang jalur pelayaran lokal dan target yang menguntungkan lainnya. Satu kapal batubara, Markomannia, dan satu kapal suplai Prinz Eitel Friedrich akan ditinggalkan untuk menemani Emden. Markomannia membawa muatan 6.000 ton batu bara dan akan mampu membuat kapal penjelajah itu dapat tetap berlayar selama beberapa waktu. Bagaimanapun akhirnya kapal Jerman tetap harus menemukan sumber bahan bakar baru melalui kapal atau pembajakan yang berhasil dilakukannya. Emden dan Markomannia berlayar ke barat daya dari Pulau Pagan pada tanggal 14 Agustus. Kapten von Muller menyuruh kru memasang cerobong palsu di tengah kapal, karena kebanyakan kapal Inggris memiliki dua atau empat cerobong asap, dan Emden akan menjadi satu-satunya kapal di daerah itu dengan hanya tiga cerobong asap. Cerobong asap keempat yang ditambagkan membuatnya secara fisik menyerupai kapal penjelajah HMS Yarmouth untuk mengelabui pandangan dari jarak jauh. Menyamarkan penampilannya bukan hanya taktik bertahan hidup untuk kapal bajak tetapi juga akan membantu membuat kapal target berada dalam rasa aman yang palsu saat dia mendekat. Sementara itu, awak kapal harus menjaga kewaspadaan dengan konstan dan bersiap untuk bertindak cepat, apakah mereka akan menyerang sebuah kapal dagang atau melarikan diri dari kapal perang yang lebih kuat. Sementara itu saat berada dalam jarak dekat, awak Emden akan melepaskan tembakan peringatan, mengibarkan bendera Jerman dan memberi peringatan kepada mangsanya: “Berhenti sekarang juga! (dan) Jangan gunakan radio! ”

MENJADI KAPAL BAJAK

Delapan hari setelah meninggalkan Pagan, kedua kapal Jerman itu diam-diam menyelinap melalui Selat Maluku dekat Indonesia. Mereka berhenti jika memungkinkan untuk mengambil air dan perbekalan. Pada tanggal 29 Agustus mereka pindah ke Samudra Hindia dan memasuki Teluk Benggala dengan jalur pelayarannya yang sibuk. Persediaan batubara sudah menipis dan Emden perlu segera mendapatkannya lebih banyak sebelum dia menjadi terapung-apung tanpa daya. Von Muller mulai berburu kapal saat mereka mendekati Ceylon, dan pada malam tanggal 9 September para awak kapal melihat adanya cahaya dalam kegelapan, pertanda bahwa ada kapal di dekat situ. Mereka segera menyusul kapal tersebut, yang ternyata adalah kapal uap asak Yunani, Pontoporos. Meskipun Yunani adalah negara netral, Letnan Lauterbach tetap naik ke kapal Pontoporos untuk memeriksa identitasnya dan mendapati bahwa kapal itu terikat kontrak untuk mengirimkan batu bara ke pangkalan angkatan laut Inggris di Bombay. Hal ini mengesahkan bahwa kargo yang dibawanya sebagai barang selundupan yang sah diambil alih oleh Jerman. Namun sebaliknya, orang-orang Jerman malah menawarkan kesempatan kepada kapten Yunani itu untuk berlayar dengan mereka di bawah kontrak dan kapten itu setuju. Von Muller kemudian mengintegrasikan Pontoporos dan muatannya yang berjumlah 6.500 ton batu bara ke dalam satuan tugasnya. Kehadiran Emden di Samudra Hindia sejauh ini tidak diduga oleh Sekutu dan ini memberi kebebasan pada kapal itu untuk sementara waktu. Von Muller tidak menyia-nyiakan keuntungan ini dan dengan cepat mulai menyerang kapal-kapal dagang di wilayah tersebut.

Nyaris sendirian dalam jangka waktu 3 bulan SMS Emden menjadi kapal bajak di kawasan Samudera Pasifik dan Hindia. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Pada pagi hari tanggal 10 September jejak asap terlihat dan kapal penjelajah itu mengejarnya. Para pengamat di kapal melihat apa yang tampak seperti sebuah kapal dagang tetapi memiliki struktur putih aneh di deknya yang ditakuti sebagai tempat meriam. Von Muller berjudi dengan mengambil kesempatan yang ada dan mereka mendekat, untuk kemudian memberi isyarat kepada kapal itu untuk berhenti dan tidak menggunakan radionya. Kelompok crew Emden yang naik keatas kapal asing itu kemudian mendapati bahwa mereka telah mengambil alih sebuah kapal Inggris bernama Indus, yang sedang ada di bawah kontrak untuk mengangkut pasukan Angkatan Darat India. Struktur putih itu yang disangka tempat meriam itu ternyata hanyalah kandang kuda yang baru dibangun. Kapal juga membawa barang mewah dan juga makanan yang dengan segera disita. Namun kapal itu diketahui lambat lajunya sehingga krunya dipindahkan ke Markomannia, dan kapalnya sendiri ditenggelamkan.

SMS Emden di tengah lautan. Di lautan, Emden menjadi semacam “hantu” yang tidak diketahui kapan datang dan perginya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Keesokan harinya, “Lovat”, sebuah kargo, juga mengalami nasib yang sama. Belakangan hari, giliran Kabinga, yang mengibarkan bendera Inggris tapi membawa muatan dari Amerika, yang terlihat dari log book-nya. Kapal itu kemudian tidak ditenggelamkan, melainkan digunakan untuk membawa semua awak tawanan, dan kemudian kargo batubara kecil dari kapal Killin, yang juga berhasil ditangkap pada malam tanggal 14. “Skuadron kapal Von Müller” kini bertambah dengan empat kapal kargo sebagai tambahan, selain Emden sendiri. Killin, setelah memindahkan muatannya ke Kabinga, ditenggelamkan. Pada hari yang sama, giliran kapal “Diplomat” yang berhasil ditangkap dan ditenggelamkan. Rangkaian kesuksesan kapal Emden terus berlanjut hingga beberapa bulan berikutnya. Batubara dan pasokan lainnya diambil seperlunya untuk menjaga agar kapal Jerman itu tetap dapat berlayar. Pontoporos akhirnya dikeluarkan gugus tugas karena ada tugas lain tetapi Markomannia tetap tinggal menemani Emden. Sementara itu Kapten von Muller berusaha keras untuk memperlakukan kru yang ditangkap dengan sikap sopan seperti yang diharuskan pada masa perang. Dua dari kapal yang dia tangkap digunakan untuk membawa tahanan ke pelabuhan netral untuk ditahan atau dipertukarkan. Bahkan surat kabar Inggris mendengar tentang sikap sopan dari von Muller dan menulis kata-kata yang baik tentang dia, dengan secara enggan mengagumi juga kesuksesannya. 

MENYERANG KOTA MADRAS

Meskipun memberikan penghormatan pada aksi von Muller dan kapalnya, Sekutu tidak diam saja membiarkan Emden memangsa kapal-kapalnya. Di masa puncaknya, total 78 kapal perang asal Inggris, Prancis, Rusia, dan Jepang menjelajahi laut untuk mencari kapal penjelajah Jerman itu. Stasiun telegraf dan radio dikoordinasikan untuk mengawasi kapal itu dan segera memberi sinyal peringatan jika melihat dia muncul. Banyak dari stasiun ini berjauhan dan tidak bisa berharap untuk diselamatkan tepat waktu, tapi setidaknya mereka akan mampu memberi informasi bagi para pemburu mengenai lokasi terakhirnya yang membantu pencarian Emden. Perintah yang diberikan jelas bahwa Emden harus dihentikan. Arus perkapalan di Samudra Hindia sempat dihentikan dalam waktu singkat, dimana akibatnya angka asuransi meroket, dan konvoi pasukan yang sangat dibutuhkan dari Australia dan Selandia Baru tertunda pengirimannya karena kurangnya pengawalan yang dibutuhkan. Sementara itu bersamaan dengan catatannya merebut kapal dagang musuh, Emden juga melakukan penyerangan demi penyerangan berani yang hanya semakinnmenambah upaya Sekutu untuk mengintensifkan pencarian dan penghancuran Emden. Pada malam hari tanggal 22 September, Emden dengan hati-hati mendekati kota Madras di India. Selama berabad-abad tidak ada kota di pesisir India yang diserang, dimana hal ini menimbulkan rasa aman yang semu. Kota itu dibiarkan terang benderang dengan sedikit tindakan pencegahan yang dilakukan terhadap kemungkinan serangan dari laut. Bagi crew Emden itu adalah risiko yang sudah diperhitungkan. Madras memang memiliki baterai artileri pantai yang kuat yang pastinya akan membalas setiap serangan. Target utamanya adalah fasilitas penyimpanan Perusahaan Minyak Burma dengan tangki-tangki minyaknya. 

Tangki minyak terbakar di Madras-India setelah serangan oleh SMS Emden, kapal penjelajah ringan Jerman. (Sumber: https://militaryhistorynow.com/)

Tepat sebelum jam 10 malam, Emden berlayar hanya 3.000 meter dari lepas pantai, posisinya dirancang sedemikian rupa sehingga peluru yang dilepaskan tidak akan menyerang rumah-rumah warga sipil. Sekali lagi, von Muller menunjukkan sikap ksatrianya, meskipun tidak diragukan lagi dia juga ingin menghindari tuduhan bahwa Jerman bertindak biadab. Beberapa menit kemudian kapal menghentikan mesinnya, mengarahkan posisinya di pelabuhan. Kapten von Muller memerintahkan agar lampu sorot dinyalakan dan mereka segera menyinari target di daratan. Bersamaan dengan perintah untuk menerangi tangki minyak adalah perintah untuk menembak. Baterai bagian kanan Emden menembak, nyala api keluar dari moncong meriamnya saat peluru peledak membumbung menuju ke daratan. Salvo pertama melambung tinggi, mendesing di atas tangki minyak, meskipun beberapa peluru menghantam baterai pantai. Salvo kedua mendarat singkat, dekat tepi air. Para kru telah menandai target mereka, pertanda yang baik. Serangan ketiga menghantam sebuah tangki, mengirimkan minyak hitam yang mengalir keluar yang segera terbakar. Api membumbung ke langit, menimbulkan sorak-sorai diantara para pelaut Jerman. Perwira penembak kemudian mengatur bidikannya. Salvo lainnya segera menghantam tangki berikutnya, namun tidak terjadi apa-apa karena tangki itu kosong. Tangki ketiga yang sudah penuh, meledak dan mengirimkan apinya tinggi ke atas langit. Baterai-baterai pantai membalas tembakan tetapi tidak mengenai Emden. Misi mereka tercapai setelah menembakkan 125 peluru meriam, dan von Muller memerintahkan penghentian menembak dan Emden dengan cepat mundur. Dia terus menyalakan lampu kapalnya saat berlayar ke arah utara. Setelah tidak terlihat, lampunya segera dipadamkan, dan dia mengubah arah ke arah selatan. Sekitar 5.000 ton minyak hancur, dan warga kota Madras dilanda kepanikan. Banyak warga yang panik meninggalkan kota. Itu adalah serangan berani yang menyebabkan kekhawatiran besar bagi Inggris dan semakin meningkatkan reputasi Emden. Dalam beberapa hari berikutnya, Emden akan mengirim enam kapal musuh lagi ke dasar laut. Setelah itu, Von Müller mengarahkan pandangannya ke pelabuhan Inggris di Diego Garcia. Namun, setibanya di sana, dia takjub setelah mengetahui bahwa pihak berwenang di sana tidak menyadari bahwa perang telah diumumkan. Alih-alih mengarahkan senjatanya ke lawan yang tidak curiga, von Müller memanfaatkan kondisi “damai” itu untuk membekali kembali, memperbaiki, dan bahkan mengecat ulang kapalnya. Dia membalas kemurahan hati tuan rumah yang belum sadar ini dengan mempekerjakan awaknya sendiri untuk bekerja memperbaiki perahu penduduk setempat. Dalam beberapa hari, Emden sudah kembali ke laut.

SERANGAN KE PELABUHAN PENANG

Lebih dari sebulan kemudian Emden menyerang lagi, kali ini melawan satuan angkatan laut musuh. Kala itu Kapal penjelajah Rusia veteran pertempuran Tsushima, Zhemchug dan empat kapal torpedo asal Prancis sedang berada di pelabuhan dekat Penang, Malaya. Mereka adalah bagian dari pasukan yang dikhususkan untuk berburu kapal bajak Jerman. Kru Zhemchug sedang membersihkan ketel uapnya. Sementara tiga dari empat kapal torpedo Prancis tidak dapat merespons dengan cepat karena boilernya dingin; Namun, kapal torpedo keempat, Mousquet, secara aktif berpatroli di daerah tersebut. Emden, yang menyamar sebagai kapal penjelajah ringan Inggris, berlayar ke daerah tersebut tanpa dicurigai pada pukul 5:15 pagi tanggal 28 Oktober. Ketika berada dalam jarak 500 meter dari Zhemchug, kru Emden segera mengibarkan bendera Jerman. Kapal penjelajah Jerman itu kemudian menembakkan torpedo dari jarak 200 meter yang lalu menghantam ruang mesin kapal penjelajah Rusia itu. Para pelaut Jerman secara bersamaan menyerang tempat tinggal awak kapal musuh dengan senjata mereka. Para pelaut Rusia membalas dengan melepaskan tembakan beberapa kali sebagai tanggapan, tetapi tidak mengenai sasaran. Emden berbalik untuk mendapat sasaran lainnya. Kali ini ia menembakkan torpedo kedua ke kapal penjelajah musuh, yang kemudian meledakkan gudang amunisinya. Ledakan yang diakibatkannya menyelimuti area tersebut dengan asap. Dalam pertempuran antar kapal yang berat sebelah, Zhemchug telah menderita korban 91 awak tewas dan 106 luka-luka. 

Lukisan kartu pos Jerman menggambarkan pertempuran di Pelabuhan Penang, Oktober 1914. (Sumber: https://www.naval-encyclopedia.com/)
Cruiser Zhemchug, veteran pertempuran Tshushima asal Russia yang ditenggelamkan Emden di Penang. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Destroyer Mousquet asal Prancis. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Peta penyerangan Emden di Pulau Penang. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Emden mengintai di sekitar pelabuhan untuk mencari target lain tetapi segera Mousquet muncul di cakrawala. Von Muller kemudian memerintahkan serangan dan tembakan meriam segera menyerang kapal Prancis kecil itu. Pada jarak 4.000 meter, satu peluru menghantam salah satu boiler Mousquet, yang segera menutupi kapal dengan kabut uap. Sebagai balasannya, kapal Prancis itu meluncurkan torpedo dan membalas dengan tembakan satu meriam. Dalam 10 menit pertempuran berakhir, dan kapal torpedo Prancis itu tenggelam. Emden lalu dikejar oleh dua kapal torpedo lainnya tetapi dengan cepat berhasil melarikan diri. Serangan yang sukses ini semakin meningkatkan reputasi Emden, terutama setelah awak kapal Jerman diketahui menyelamatkan 36 orang yang selamat dalam pertempuran itu. Setelah pelabuhan Penang, target Emden berikutnya adalah Kepulauan Cocos, tempat Inggris memiliki sebuah stasiun komunikasi. Penyadapan radio membuat kru Emden percaya tidak ada kapal musuh yang cukup dekat untuk mengganggunya. Tanpa sepengetahuan mereka, salah satu konvoi kapal berada di dekatnya, dikawal dengan kuat dan di bawah perintah untuk tidak menggunakan radio. Pada saat ini yang mendampingi Emden adalah kapal batu bara Buresk, yang dirampas sebelumnya di dekat Ceylon. Buresk dikirim menyingkir sementara untuk menunggu perkembangan dan Emden berlayar sendirian ke pulau Direction yang menjadi target, tempat stasiun komunikasi dan radio berada. 

PERTEMPURAN PULAU COCOS

Tiba tepat setelah fajar pada tanggal 9 November, von Mucke memimpin rombongan pendaratan yang terdiri dari 50 orang dengan menggunakan tiga perahu. Awak Emden tidak mengira mereka telah terlihat, tetapi seorang pekerja Tiongkok sempat melihat kapal itu dan memperingatkan pihak Inggris. Pihak Inggris segera mengidentifikasi kapal tersebut dan kemudian mengirimkan pesan: “SOS Emden Here.” Von Muller kemudian memutus transmisi itu, tapi sudah terlambat. Baik panggilan darurat radio dan telegraf sudah keluar. Sekitar 55 mil ke arahbutara, HMAS Melbourne (I), kapal pengawal konvoi, telah mencegat panggilan darurat itu setelah pukul 06:30. Masih dalam keyakinannya yang keliru bahwa tidak ada bantuan di dekat mereka, orang-orang Jerman tetap melanjutkan rencana mereka. Sementara itu setelah menerima sinyal SOS dan karena terikat tugasnya untuk tetap bersama konvoi, Kapten ML Silver di Melbourne, memerintahkan HMAS Sydney, kapal pengawal yang paling dekat dengan Cocos, untuk meningkatkan kecepatannya dan menyelidiki. HMAS Sydney dipersenjatai dengan delapan meriam kaliber 6 inci (15,24 cm) dan berlapis baja dengan baik. Apalagi dia lebih cepat dari Emden. Pada pukul 9 pagi, Sydney tiba di dekat Direction Island, tetapi orang-orang Jerman awalnya mengira kapal itu adalah Buresk. Mereka baru menyadari kesalahan mereka 15 menit kemudian dan dengan cepat mulai meninggalkan crew yang ada di pantai. Sayangnya untuk von Muller, ke-10 penembaknya, yaitu orang-orang yang mengarahkan senjata kapal, ikut bersama crew yang berada di daratan, sementara tidak ada waktu lagi untuk menjemput mereka kembali. Pada pukul 9:40 Emden melepaskan tembakan ke arah Sydney dan meskipun tidak ada penembak meriamnya, salvo tembakan pertamanya menghantam kapal Australia itu. Emden terus mendekat agar senjatanya lebih efektif dan bisa menggunakan torpedonya.

Rombongan personel dari Emden saat mendarat di Direction Island; kapal layar Ayesha dengan tiga tiang terlihat di latar belakang. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Kapten Sydney, John Glossop mengetahui hal ini dan membalik kapalnya untuk menjaga jarak tetap cukup jauh. Namun, tembakan ketiga Emden menghantam lagi, melumpuhkan kedua stasiun pengendali penembakan Sydney. Hal ini memperlambat tembakan dari kapal Australia itu dan mengurangi keakuratannya, tetapi lapisan bajanya berhasil bertahan dari peluru-peluru Jerman. Serangan pertama Sydney datang 20 menit kemudian, menghancurkan ruang radio Emden. Glossop terus memutar kapalnya untuk meningkatkan jarak, dan memberikan keunggulan jangkauan pada meriam 6 inci miliknya. Sebuah stasiun penembakan  darurat didirikan dan segera peluru-peluru Sidney menghantam Emden. Pertama yang terkena adalah sistem kelistrikannya yang segera padam. Kemudian, roda kemudinya mengalami kerusakan parah, sehingga mengurangi kemampuan manuver kapal. Hasilnya, tembakan dari kapal Australia menjadi lebih akurat. Lebih buruk lagi, sebuah peluru mendarat di antara meriam buritan dan meledakkan amunisinya, menewaskan beberapa kru dan menyebabkan kebakaran besar. Peluru demi peluru mendarat di Emden, meremuklan geladak atas dan menjatuhkan tiang depan. Pukulan yang mematikan datang pada tembakan yang mengenai cerobong ketiga, dan meruntuhkannya. Terhambatnya udara masuk ke boiler, hal ini mengurangi kecepatan kapal. Emden telah berhasil dikalahkan. Von Muller tahu dia harus berhenti bertarung. Alih-alih meninggalkan kapal, dia mengarahkannya ke Pulau North Keeling di dekatnya. Dia mengandaskan Emden di terumbu karang pulau itu. Sydney menembakkan dua salvo lagi sebelum menyadari bahwa Emden sudah tidak berdaya. Pada saat itu, kapal Australia itu segera mengejar Buresk, yang muncul di dekatnya. Awak kapal itu bergegas menenggelamkan kapal dan meninggalkannya. 

Kapal Penjelajah Ringan HMAS Sidney. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Von Muller dan krunya yang masih hidup menjadi tawanan. Korban di pihak Jerman berjumlah 134 pelaut. Para tawanan pada umumnya diperlakukan dengan baik dan banyak perwira Sekutu secara pribadi mengunjungi para perwira Jerman untuk memberi selamat atas keberanian dan pencapaian mereka, terlepas dari status mereka sebagai musuh. Para perwira Jerman juga diijinkan untuk tetap menyimpan pedang sebagai simbol kehormatan mereka. Di pihak Australia, kemenangan HMS Sidney atas Emden menandai kemenangan pertama kapal perang mereka dalam pertempuran laut selama perang. Sedangkan untuk Emden, dia diam terjebak di antara terumbu karang tempat dia terbengkelai sampai tahun 1950-an, ketika sebuah perusahaan besi tua asal Jepang memindahkan sisa-sisa lambung kapal itu untuk dibesituakan. Tiga dari meriam kapal kemudian dipajang di Australia – satu masih berada di Hyde Park di Sydney. Maskot kapal, yakni sebuah patung wanita, dipamerkan di Nicobar selama beberapa dekade dan salah satu selongsong artileri kapal menjadi koleksi museum di Madras, India. Karier Emden, yang berakhir dengan apa yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Cocos, memang singkat tapi cemerlang. Aksi mereka ditandai tidak hanya oleh banyaknya korban yang jumlahnya mengesankan, tetapi juga oleh sikap penuh kemanusiaan dan ksatria dari krunya.

Kerudakan yang dialami Emden setelah Pertempuran Pulau Cocos. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Para pelaut Australia menyelamatkan crew Jerman yang terluka. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Pertempuran Pulau Cocos menandai kemenangan pertama AL Australia dalam Perang. (Sumber: https://www.naval-encyclopedia.com/)

Sementara itu Kompi infanteri pimpinan Von Mücke, yang berkekuatan 50 orang, dan telah mendarat di Pulau Cocos, kemudian kembali sebagai pelaut, merampas sebuah kapal berbobot 95 metrik ton bernama Ayesha untuk berlayar menuju ke Sumatera. Mereka sengaja melintasi jalur yang jarang dilewati kapal dalam prosesnya, dan sedapat mungkin menghindari kapal-kapal lain dalam perjalanannya. Akhirnya mereka berhasil mencapai tujuan mereka pada tanggal 7 November, tetapi semua bantuan yang mereka minta ditolak oleh otoritas Belanda yang berkuasa di Sumatera, waktu itu Belanda adalah negara netral, sehingga sedapat mungkin untuk tidak membantu pihak yang sedang berperang. Von Mücke dan anak buahnya terpaksa harus menunggu dan naik kapal uap Jerman yang berhenti di sana, sebelum menuju Yaman. Mereka turun beberapa hari kemudian di dekat selat Bab-el-Mandeb, dari situ Von Mücke dan anak buahnya berangkat untuk memulai perjalanan yang luar biasa kembali ke Jerman. Komandan Jerman itu dan anak buahnya memulai perjalanan panjang dengan berjalan kaki dan naik unta dari Bab-El-Mandeb, melintasi  semenanjung Arab, yang sebagian dilakukan dengan berjalan kaki, sebagian lagi dengan unta. Karena Yaman dan Arab adalah bagian dari wilayah Kekaisaran Ottoman, sekutu Jerman, mereka diterima dengan baik oleh suku-suku setempat, dan akhirnya setelah beberapa minggu berhasil sampai di Konstantinopel pada bulan Juni 1915. Di sana, mereka bertemu dengan Vice-Admiral Souchon, kepala armada Turki di atas kapal Goeben. Dari sana, mereka akhirnya dapat kembali ke tanah air dan bertemu keluarga mereka, dimana mereka diperlakukan sebagai pahlawan.

CATATAN AKHIR

Emden adalah yang pertama tapi bukan yang terakhir dari skuadron Spee yang bertemu lawan yang lebih kuat di awal perang. Spee, setelah menghancurkan skuadron Inggris yang jauh lebih lemah di lepas pantai Chili dan berhasil mengitari Cape Horn, kemudian akan berhadapan dengan satuan tugas Inggris yang kuat di Kepulauan Falkland; dimana hampir semua kapal Jerman akan dihancurkan oleh armada Inggris. Pada titik itu, kapal permukaan sebagai kapal bajak sudah dianggap usang. Jerman, yang telah memulai perang dengan lebih sedikit kapal selam daripada Angkatan Laut Kerajaan Inggris, kemudian telah menemukan nilai dari kapal selam U-boat. Kapal bajak permukaan lalu hanya akan memainkan peran kecil dalam tiga tahun terakhir perang. Hari-hari para “pembajak” ksatria telah berlalu. Seperti yang dirangkum dengan tepat oleh Churchill, Skuadron Asia Timur Jerman itu sudah “dikutuk” sejak awal. Namun kapal Emden telah melakukan pelayaran pembajakan perdagangan yang paling luar biasa dalam Perang Dunia I. Dalam periode tiga bulan itu Emden telah menempuh jarak sekitar 30.000 mil laut (56.000 km; 35.000 mil), menghancurkan dua kapal perang musuh dan menenggelamkan atau menangkap enam belas kapal uap Inggris, satu kapal dagang Rusia, ditambah Kapal Penjelajah Rusia Zhemchug dan kapal perang Prancis d’Iberville dan Mousquet, dengan total korban berbobot 70.825 ton. Tak kalah pentingnya, Emden telah mengganggu jalur perdagangan Sekutu di Samudra Hindia dan sangat mempermalukan Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang dikenal sebagai penguasa lautan. Sementara itu yang tidak dapat dikesampingkan sebagai dampak terbesar Emden yang mungkin bersifat psikologis adalah pada saat tentara Jerman di Eropa digambarkan sebagai prajurit yang melanggar netralitas Belgia, kepatuhan ketat kru Emden pada hukum perang sangatlah kontras.

Rute petualangan Emden yang legendaris. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Film tentang Emden: How We Beat the Emden dan How We Fought the Emden, 1928 The Exploits of the Emden, semuanya diproduksi di Australia. Dari pihak Jerman hadir film bisu buatan tahun 1926 Unsere Emden (poster pada gambar) kemudian Kreuzer Emden, sebuah film tahun 1932, dan Heldentum und Todeskampf unserer Emden (1934). Ketiga film tersebut disutradarai oleh Louis Ralph. (Sumber: https://www.naval-encyclopedia.com/)
Meriam kaliber 10,5 cm (4,1 inci) dari kapal Emden, di Hyde Park, Sydney, tahun 2007. (Sumber: http://navrangindia.blogspot.com/)

Müller pertama kali dipenjarakan di Malta dan kemudian di Inggris, di mana dia berusaha melarikan diri tetapi ditangkap kembali. Sebagian besar awak Emden yang ditangkap dipindahkan ke kompleks POW yang dikelola Inggris di Singapura, sampai terjadinya pemberontakan yang dilakukan oleh 800 penjaga dari Infanteri Ringan India ke-5 pada tahun 1915, yang memberi para pelaut Jerman kesempatan untuk melarikan diri. Sementara banyak yang melarikan diri selama kekacauan tersebut, beberapa tetap tinggal, bahkan turut mengumpulkan senjata dan melindungi sekelompok penduduk Inggris yang mencari perlindungan di barak penjara tempat mereka bertahan. Setelah pembebasannya di akhir perang, Müller dielu-elukan sebagai pahlawan dan dipromosikan menjadi kapten penuh. Semua perwira kapal, termasuk komandan terkenalnya, dianugerahi medali Iron Cross kelas 1; kru lainnya menerima Iron Cross kelas 2. Selain itu, semua awak kapal diizinkan untuk menambahkan “Emden” ke nama belakang mereka – dimana nama yang sama dapat diturunkan ke keturunan mereka. Hebatnya, bahkan kapalnya sendiri diberi kehormatan yang sama. Dalam sejarahnya, AL Jerman akan mengoperasikan tidak kurang dari tiga kapal lain bernama Emden, yakni Penjelajah ringan Emden yang dibuat tahun 1922, lalu Kapal Emden dari Fregat kelas Köln (1959) dan dari fregat kelas Bremen (1979), Emden yang terakhir baru dipensiunkan pada tahun 2013. Masing-masing dicat dengan tanda Salib Besi raksasa di lambungnya untuk menghormati pencapaian von Müller. Kisah petualangan Emden juga sempat ditampilkan dalam tiga film Jerman yang berbeda, yakni: Our Emden (1926), The Cruiser Emden (1932) dan yang terbaru The Men of the Emden (2012) – film terakhir menceritakan kisah perjalanan darat yang luar biasa dari 50 awak dari regu yang mendarat di pantai pulau Cocos. Pejabat eksekutif Emden, yakni Mucke, memanfaatkan pengalamannya di Emden dan menjadi makmur setelah perang sebagai penulis dan dosen. Sebaliknya, Müller menolak sebagian besar undangan untuk berbicara dan tinggal dengan tenang di rumahnya di Blankenburg sampai kematiannya pada tahun 1923 akibat komplikasi malaria yang dideritanya saat ditugaskan di Afrika sebelum perang. Ditanya suatu kali mengapa dia tidak menulis memoar, Müller menjawab, “Saya tidak dapat melepaskan perasaan bahwa saya (akan) mendapatkan uang dari darah rekan-rekan saya. “

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Germany’s Bold Naval Raider By Christopher Miskimon

https://warfarehistorynetwork.com/2019/12/20/germanys-bold-naval-raider/

Karl Friedrich Max von Muller: Captain of the Emden During World War I by John M. Taylor 

https://www.historynet.com/karl-friedrich-max-von-muller-captain-of-the-emden-during-world-war-i.htm

A fake smokestack made this German ship an unstoppable predator by Logan Nye, October 09, 2020 07:33:00 EST

https://www.google.com/amp/s/www.wearethemighty.com/amp/emden-german-light-cruiser-pirate-2634975615

November 1914 – Australia’s First Victory at Sea by Dr David Stevens

https://www.navy.gov.au/history/feature-histories/november-1914-australias-first-victory-sea

The Kaiser’s Pirate Ship – The Astounding Voyage of SMS Emden

https://militaryhistorynow.com/2013/05/08/the-kaisers-pirate-ship-the-unbelievable-voyage-of-the-sms-emden/

SMS Emden’s Incredible True Odyssey by dreadnaughtz666

https://www.google.com/amp/s/www.naval-encyclopedia.com/ww1/battles/sms-emdens-incredible-true-odyssey/amp/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/SMS_Emden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *