Tarian “Voodoo” di Kokpit Pesawat McDonnell F-101

McDonnell “F-101 Voodoo” adalah salah satu pesawat tempur supersonik operasional pertama yang dimiliki oleh Angkatan Udara AS. Pesawat ini menjalankan berbagai fungsi mulai dari sebagai pesawat serang nuklir taktis, pencegat, dan khususnya sebagai platform pengintaian foto udara, dengan pengalaman tempur yang cukup besar dalam perannya sebagai pesawat pengintai selama Perang Vietnam dan Konflik di Selat Taiwan. Awalnya pesawat ini dirancang oleh McDonnell Aircraft sebagai pesawat pengawalan pembom jarak jauh (dikenal sebagai pesawat tempur penetrasi) untuk Komando Udara Strategis (SAC) USAF, Voodoo kemudian malah berkembang sebagai pembom tempur-bersenjata-nuklir untuk Tactical Air Command (TAC) USAF dan sebagai pesawat pengintai fotografi dengan menggunakan desain pesawat yang sama.

McDonnell F-101 Vooddoo, salah satu pesawat tempur “terlupakan” era Perang Dingin, yang berumur panjang. (Sumber: Pinterest)

LATAR BELAKANG

Asal-usul F-101 sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang akan dilakukan dalam hampir sebagian besar karir panjangnya bersama Angkatan Udara A.S., Kekuatan Udara Garda Nasional, dan Angkatan Bersenjata Kanada, serta kekuatan udara China Nasionalis (Taiwan). Baik misi pengintaian taktis maupun intersepsi segala cuaca tidak menjadi faktor yang diperhitungkan pada awal tahun 1946 ketika Komando Udara Strategis (Strategic Air Command/SAC) yang baru dibentuk mengajukan proposal untuk pembuatan “pesawat tempur dengan kemampuan penetrasi strategis” yang bermesin jet. Kriteria utama SAC pada saat itu adalah sebuah pesawat tempur yang cukup untuk bisa menemani para pembomnya (Boeing B-29 dan kemudian Convair B-36) sampai ke target mereka, dengan memiliki kecepatan serta daya tembak yang memadai untuk menghadapi pesawat pencegat musuh. Empat desain pesawat bersayap sweptwing akhirnya disetujui untuk dikembangkan prototipenya, yakni: McDonnell XF-88 Voodoo, Lockheed XF-90 (tidak bernama), Republic XF-91 Thunderceptor dan North American YF-93A (pengembangan dari Jet tempur F-86 yang sudah ada sebelumnya) semuanya terbang antara tahun 1948 dan 1950. Ketika sebuah fly-off diadakan pada musim panas tahun 1950, McDonnell’s XF-88A, sebuah perbaikan dari prototipe buatan 1948-nya, muncul sebagai pemenang kompetisi pesawat tempur penetrasi itu. McDonnell saat itu sebenarnya belum pernah membuat pesawat tempur untuk USAAF (USAF/AU AS lahir pada tahun 1947) sebelumnya, tetapi perusahaan ini telah merancang dan membuat pesawat tempur jet FH-1 Phantom untuk Angkatan Laut AS. XP-88 dirancang oleh tim di bawah pimpinan Edward M. “Bud”. Pesawat itu setidaknya dinilai yang paling menjanjikan dari tiga desain lain yang diajukan, dengan badan pesawat ramping yang rapi, sayap rendah yang dipasang dengan sweepback 35 derajat dan sirip ekor tersayung dalam desain konvensional. XP-88 ditenagai oleh dua mesin turbojet Westinghouse J34-WE-13 dengan daya 13 kN (1.360 kgp / 3.000 lbf) masing-masing, dengan intake mesin di bagian wingroot. Persenjataannya direncanakan terdiri dari enam kanon kaliber 20 milimeter. Penerbangan pertama dari dua prototipe XF-88 dilakukan pada tanggal 20 Oktober 1948, dengan pilot uji coba perusahaan itu, Robert Eldholm di kemudi pesawat. Performanya ternyata mengecewakan, sebagian besar karena mesin Westinghouse tidak memiliki daya dorong yang cukup. Westinghouse memang telah menjadi salah satu pelopor mesin jet di AS, tetapi perusahaan itu dengan berjalannya waktu telah berada di belakang para pesaingnya, dan Westinghouse kemudian akan keluar dari bisnis ini dalam beberapa tahun kemudian. 

McDonnell XF-88, prototype awal seri pesawat tempur “Voodoo” yang konsepnya muncul diawal tahun 1950-an untuk memenuhi kebutuhan AU AS akan pesawat pengawal armada bomber strategisnya. (Sumber: https://wall.alphacoders.com/)

Prototype XF-88 kedua kemudian dipasangi kembali dengan mesin J34-WE-22 afterburning yang memberikan daya dorong sebesar 16,0 kN (1.635 kgp / 3.600 lbf). Dengan pesawat yang diperbaiki ini kode penunjukannya berubah menjadi “XF-88A”. Namun, kesuksesan McDonnell dalam program itu hanya berlangsung sesaat; Angkatan Udara, yang dimotivasi oleh pemotongan anggaran yang tak terduga, tiba-tiba membatalkan program XF-88A dan membuat keputusan untuk menggunakan pesawat tempur Republic F-84E Thunderstreak, sebagai pesawat pengawal pembom sementara, dan akibatnya tidak ada satu pun dari tiga pesaing Mcdonnell yang pernah memasuki tahap produksi. Rencananya pesawat “F-88”, jika jadi diproduksi akan ditenagai oleh mesin turbojet Westinghouse J46 afterburning. McDonnell juga telah merencanakan versi pesawat yang dioperasikan dari kapal induk dalam wujud XF-88, serta versi dua kursi dan versi pengintai, tetapi tentu saja rencana itu gagal terealisasi. Namun pengalaman tempur di Korea kemudian segera menunjukkan bahwa F-84 yang bersayap lurus tidak cocok untuk peran tempur udara-ke-udara, dan North American F-86 Sabrejet jelas tidak memiliki jangkauan untuk mengawal pembom ke sasaran dalam jarak jauh. 

F-84 Thunderjet. Kelangsungan program Voodoo sempat terhenti karena pemotongan anggaran dan AU AS memiih Thunderjet sebagai solusi sementara pesawat pengawal bomber. Namun pengalaman dalam Perang Korea menunjukkan bahwa F-84 tidak cocok dalam menjalankan peran itu. (Sumber: Pinterest)
Prototype F-101A yang selesai dibuat pada tahun 1951. (Sumber: https://www.nationalmuseum.af.mil/)

Oleh karenanya, dibutuhkan tipe pesawat yang lebih baik, sehingga SAC — yang bertekad untuk melindungi armada pembom B-36 yang baru muncul — mengeluarkan persyaratan baru untuk pesawat tempur jarak jauh pada bulan Januari 1951, kali ini mereka menambahkan spesifikasi, dimana kemudian dilakukan pengembangan secara paralel versi pesawat photo reconnaissance tipe baru. Proyek ini dilakukan dibawah kode proyek “Weapons System 105A (WS-105A).” Lockheed, North American, Republic, dan McDonnell semuanya mengajukan proposal baru, bergabung dengan tawaran dari Northrop untuk versi jarak jauh dari pesawat tempur F-89 Scorpion-nya. Pada bulan Mei 1951, Angkatan Udara mengumumkan bahwa karya McDonnell, yang pada dasarnya XF-88A yang ditingkatkan kemampuannya dengan mesin Allison J35-A-23 (kemudian J71) yang lebih kuat, sebagai pemenang tender. Tetapi sebelum proses konstruksi disahkan, Angkatan Udara menentukan untuk perlu dilakukan perubahan besar yang ditujukan untuk meningkatkan jangkauan dan kinerja pesawat secara keseluruhan, yang paling signifikan adalah penggantian mesin dengan mesin Pratt & Whitney J57-P-13 (punya daya dorong 15.000 pon dengan afterburner), dimana hal ini membutuhkan pembesaran dan memperpanjang badan pesawat untuk bisa membawa lebih banyak bahan bakar dan menempatkan mesin yang lebih besar serta secara ekstensif merevisi air intake dan saluran mesin terkait. Ketika tim McDonnell yang dipimpin oleh Edward M. Flesh menyelesaikan desain final pada akhir tahun 1951, Voodoo telah berkembang menjadi 13 kaki lebih panjang dan beratnya dua kali lipat dari pendahulunya, XF-88A. Badan pesawat itu cukup berbeda dari desain aslinya sehingga Angkatan Udara memberikannya kode baru sebagai F-101A. 

DESAIN DAN VARIAN

F-101A, pada saat itu, menjadi pesawat tempur berkursi satu terbesar yang pernah dibuat — dengan panjang 67 kaki 5 inci (20,55 meter) dan berat lebih dari 48.000 pound (20 ton lebih) saat membawa beban penuh. Meskipun sayapnya telah sedikit diperbesar dengan meningkatkan chord inboard hingga setengah dari masing-masing panel, luas totalnya masih relatif kecil yakni 368 kaki persegi, yang menghasilkan beban yang luar biasa hingga 135,9 pound per kaki persegi (tertinggi dari Seri “Century” dalam konfigurasi aslinya). Untuk meningkatkan kestabilan yaw pada kecepatan yang diantisipasi lebih tinggi, F-101A memiliki dua kali luas permukaan ekor vertikal XF-88, dan stabilizer horisontalnya semua mampu bergerak yang diposisikan di dekat bagian atas sirip tegak ekor. F-101A menampilkan roda pendaratan berformat tricycle, dengan roda tunggal, roda utama akan menarik diri ke dalam dari sayap menuju badan pesawat dan roda depan ditarik ke depan – sayangnya, jika seorang pilot menggunakan terlalu banyak kecepatan  saat lepas landas, roda depan tidak bisa ditarik kedalam. Terdapat rem udara yang digerakkan secara hidrolik di setiap sisi badan pesawat di belakang sayap, dan rem parasut di ekor. Pilot duduk di kursi ejeksi di bawah kanopi berbentuk cangkang yang membuka ke bagian belakang. Kapasitas bahan bakar internal desain pesawat ini ditingkatkan dari 734 menjadi 2.341 galon, ditambah oleh dua tangki bahan bakar eksternal yang bisa dilepas berkapasitas 450 galon (1.705 liter). Penambahan juga dibuat untuk bisa melakukan pengisian bahan bakar di udara melalui metode boom atau sistem probe-and-drogue untuk meningkatkan radius tempur pesawat menjadi lebih jauh. Sebuah radar pencarian tipe APS-54 memberikan kemampuan pesawat untuk beroperasi dalam segala cuaca, dan persenjataan berat hadir dari pemasangan tiga kanon M39 kaliber 20mm tipe revolver, tiga rudal Hughes GAR-1 Falcon “radar-homing misille” dan bisa membawa hingga 12 roket tanpa kendali, atau 2.000 pound beban bawaan eksternal. Kanon ditempatkan dua di sisi kiri badan pesawat dan satu di kanan bawah. Penembakan kanon dibantu melalui pembidik terkomputasi otomatis bersama dengan sistem radar pengukur jarak. Pemboman dibantu melalui sistem LABS (Low Altitude Bombing System) dan LADD (Low Angle Drogue Delivery).

Pada saat kemunculannya, F-101A telah berkembang menjadi pesawat tempur berkursi tunggal yang terhitung bongsor dibanding prototype awal XF-88. (Sumber: http://warbirdsnews.com/)

Sebelum desain akhir diperbaiki, Angkatan Udara menambahkan potensi penggunaan pesawat tempur ini dengan menambahkan kemampuan untuk membawa senjata nuklir secara eksternal di bagian tengah badan. Perangkat avionik ofensif pesawat ini didasarkan pada MA-7 fire control system (FCS) yang menampilkan radar AN / APS-54 dan MA-2 “Low Altitude Bombing System (LABS)”. MA-2 LABS adalah komputer analog yang memberikan dukungan untuk “menjatuhkan bom”, di mana amunisi akan dilepas saat pesawat menanjak, agar jatuh ke sasaran sementara pesawat peluncurnya melesat ke belakang untuk keluar dari area secepat mungkin. F-101A hanyalah sebuah pesawat untuk menjatuhkan senjata nuklir, tanpa kemampuan serang konvensional nyata kecuali dengan kanon-nya, meski secara teoritis bisa membawa rudal Falcon. Dalam dinas operasionalnya, salah satu kanon pada umumnya dilepas untuk memungkinkan pemasangan penerima sinyal radio navigasi TACAN. Setelah inspeksi mock-up pada Juli 1952, Angkatan Udara mengeluarkan kontrak produksi yang relatif kecil untuk 39 pesawat F-101A. Produksi jenis pesawat itu mengikuti kebijakan pengadaan yang berlaku (yang disebut sebagai Cook-Craigie Production, yang menghilangkan tahap pembuatan model prototipe eksperimental demi bisa langsung ke tahapan status produksi terbatas). Pejabat Angkatan Udara masih ambigu mengenai misi pengawalan pembom strategis dan tidak memiliki rencana yang tegas untuk peran alternatif di mana pesawat baru ini mungkin digunakan. Tidak mengherankan, keputusan kemudian dibuat untuk membatasi produksi pada pengadaan awal sampai pengujian dan evaluasi penerimaan militer berjalan dengan baik. F-101A pertama selesai pada Agustus 1954 dan dikirim ke Pangkalan Angkatan Udara Edwards, di mana ia melakukan penerbangan perdananya pada tanggal 24 September dengan pilot uji McDonnell, Robert C. Little di kontrol pesawat. Pengujian awal menunjukkan kinerja yang mengesankan — kecepatan tertinggi nya mencapai Mach 1,54 (1.009 mph), tingkat menanjak awalnya sekitar 44.100 kaki per menit, ketinggian terbang hingga 49.450 kaki dan jangkauan maksimum terbangnya sampai 2.186 mil. Namun dari pengujian itu juga menunjukkan kelemahan aerodinamis yang cukup serius, pada Mei 1956, Angkatan Udara menghentikan proses produksi pesawat sambil menunggu solusi untuk mengatasi masalah ini.

Sejak awal kehadirannya F-101A Voodoo telah didera masalah serius yang bisa menyebabkan mesin kehilangan daya dan mati total. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Masalah yang paling serius adalah kecenderungan “pitch-up” berbahaya yang dijumpai pada rentang kecepatan udara tinggi dan rendah pada level G dan sudut serang tertentu, yang sering diikuti oleh masalah kompresor mesin yang menyebabkan hilangnya daya atau mesin mati total. Jika pitch-up — kondisi uncontrollable flat spin yang berosilasi antara 20 dan 70 derajat ke atas — terjadi pada ketinggian di bawah 15.000 kaki, pilot Voodoo diperintahkan untuk meninggalkan pesawat. Masalah pitch-up secara substansial kemudian diperbaiki (meskipun tidak sepenuhnya tuntas) dengan memasang penghambat pitch yang tidak mengijinkan tongkat kemudi ditarik melewati titik-titik tertentu pada kecepatan tertentu, dan kemudian intake dan saluran mesin dirancang ulang untuk mengurangi kemungkinan kompresor gagal berfungsi. Setelah dilakukan beberapa perubahan yang berjumlah sekitar 2.000 item, perintah penahanan pada produksi F-101A akhirnya dicabut pada bulan November 1956, dan tipe ini akhirnya diterima dalam dinas operasional pada awal Mei 1957. Pengembangan dan pengujian versi photoreconnaissance, RF-101A, mengikuti versi pesawat tempur sekitar 18 bulan setelahnya, tetapi karena kemunduran dalam program pembuatan versi pesawat tempur, versi photorecon akhirnya memasuki layanan operasional dalam waktu yang hampir bersamaan dengan versi pesawat tempur. RF-101A melakukan penerbangan pertamanya pada bulan Juni 1956 dan yang berbeda dari versi pesawat tempur adalah terutama versi ini membawa 150 galon bahan bakar internal tambahan dan memiliki hidung panjang yang menampung tiga kamera Fairchild vertikal dan dua kamera oblique Fairchild yang dipasang di tempat radar pencarian dan kanon 20mm. RF masih mempertahankan kemampuan untuk membawa senjata nuklir tunggal yang dibawa di rak yang dipasang di tengah badan dan sedikit lebih cepat dari versi pesawat tempur karena bobotnya yang berkurang. 

Sikap ambigu dari AU AS akan peran dari Voodoo, mendorong dikembangkannya varian pesawat foto udara dari pesawat ini, yang dikenal sebagai RF-101A Voocoo. RF-101 dibedakan dari versi F-101A dengan melepas kanon dan menggantikannya dengan perangkat foto udara. (Sumber: Pinterest)

F-101A mulai beroperasi pada bulan Mei 1957 dengan Strategic Fighter Wing ke-27 dalam peran mengawal pembom mereka. Namun, pada saat ini SAC telah memutuskan untuk meninggalkan konsep pesawat tempur jarak jauh. Bahkan dengan catatan di atas rata-rata pesawat tempur pada masanya, Voodoo tidak dapat mengawal para pembom (B-36 dan kemudian pada saat itu B-47 dan B-52) sampai ke sasaran yang dituju. Karier F-101A mungkin bisa dikata telah berakhir saat itu juga, tetapi karena intervensi dari Komando Udara Taktis, yang melihat potensi pesawat tempur besar sebagai platform pembawa senjata nuklir taktis. Dengan demikian pada pertengahan tahun 1957, Strategic Fighter Wing ke-27 diubah menjadi TAC-controlled 27th Fighter-Bomber Wing dan semua F-101A kemudian dipasangi dengan sistem pemboman di ketinggian rendah dan peralatan lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan fungsi baru mereka sebagai pesawat tempur serang nuklir. Pada akhir November 1957, produksi terakhir dari 77 F-101A telah dikirim ke Angkatan Udara, 50 di antaranya ditugaskan ke unit-unit operasional, dengan 27 sisanya disimpan untuk keperluan percobaan dan pengujian. Sebagian besar diantaranya ditempatkan di Eropa. F-101A bertugas dalam peran garis depan sampai 1966, setelah itu mereka dihapus dan diserahkan ke unit-unit Air National Guard. 35 RF-101A produksi-pertama dikirim ke Tactical Wing Reconnaissance (TRW) ke-363 di Pangkalan Angkatan Udara Shaw, NC, pada bulan Mei 1957. Pesawat itu adalah pesawat pengintai supersonik pertama dalam inventaris Angkatan Udara, dan pada 27 November 1957, sebagai bagian dari Operation Sun Run, empat RF-101A mencatat rekor kecepatan lintas benua baru. Mereka terbang pulang-pergi antara Pangkalan Angkatan Udara McGuire di New Jersey dan Pangkalan Angkatan Udara March di California dalam waktu enam jam, 46 menit dan 36 detik (kecepatan rata-rata 721,85 mph). Pada pertengahan hingga akhir 1960-an, RF-101A digunakan sebagai pesawat latih pengintaian dan semuanya dihapus dari inventarisasi Angkatan Udara aktif pada tahun 1971. Beberapa pesawat yang masih dapat dioperasikan, setelah dikonversi ke standar RF-101G, dipindahkan ke unit National National Guard.

Untuk mengisi kekosongan akibat molornya program F-102/F-106, maka McDonnell mengembangkan versi pencegat 2 kursi dari Voodoo, yang kemudian dikenal sebagai F-101B, Varian Voodoo yang paling banyak dibuat. (Sumber: http://warbirdsnews.com/)

Sementara itu versi Voodoo yang paling banyak dibuat dan paling lama digunakan adalah versi dua kursi, pesawat tempur pencegat segala-cuaca, F-101B. Pada akhir tahun 1953, program pesawat pencegat dua tipe yang ambisius dari Angkatan Udara yang dibuat oleh Convair — yakni lewat pesawat tempur F-102A berkecepatan Mach 1 yang dijadwalkan akan diikuti oleh pesawat berkecepatan Mach 2, F-102B (kemudian didesain ulang sebagai F-106A pada tahun 1956) — benar-benar terlambat dari jadwal yang ditentukan. Untuk menunggu dan mengatasi kekosongan ini, sebuah pesawat diperlukan sebagai stopgap antara Tipe pesawat Interceptor Utama dengan pesawat pencegat berkecepatan subsonic seperti Northrop F-89 Scorpion, Lockheed F-94 Starfire dan North American F-86D Sabre yang bertugas di Komando Pertahanan Udara (Air Defence Command). Misi singkat ADC adalah pertahanan strategis — untuk mencegat dan menghancurkan pembom Soviet dalam perjalanan ke wilayah Amerika Serikat sebelum mereka bisa mencapai garis pantai Amerika. Akhir tahun 1953 Angkatan Udara meminta produsen pesawat untuk mengajukan proposal untuk pesawat pencegat segala-cuaca baru yang dilengkapi rudal dengan kode klasifikasi Weapons System (WS) 217A. Northrop merespons dengan F-89 versi lanjutan yang menggunakan konfigurasi sweepwing, dan North American mengusulkan versi segala-cuaca dari F-100 Super Sabre. Sementara itu McDonnell menawarkan versi kursi tunggal atau dua kursi dari F-101 yang akan menggabungkan sistem pengendalian penembakan dan rudal baru serta menggunakan mesin Wright J67 yang lebih kuat (dibuat secara lisensi dari mesin British Bristol Olympus yang seharusnya mampu menghasilkan daya dorong 22.000 pound setiap mesinnya). Angkatan Udara memilih proposal McDonnell pada pertengahan 1954, dengan memilih versi dua kursi, dan mengeluarkan letter of intent pada Maret 1955 untuk batch awal sebanyak 28 pesawat dengan potensi produksi hingga 68 lebih. Harapannya adalah bahwa penerbangan pertama pesawat baru ini akan dapat berlangsung pada pertengahan 1956 dan versi definitifnya akan bisa memasuki layanan operasional pada awal 1958.

Dalam desainnya F-101B dirancang untuk dapat membawa sebagian persenjataannya secara internal. (Sumber: https://www.ausairpower.net/)

Setelah letter of intent diterbitkan, McDonnell meminta kode pesawat barunya sebagai F-109 sebagai hasil dari proyek WS-217A, tetapi Angkatan Udara, jelas menyadari akan ada hambatan pendanaan terkait dengan pesawat “baru”, sebagai ganti dari istilah “perbaikan” dari tipe yang sudah ada, dan memilih menyebutnya sebagai F-101B. Meskipun McDonnell memiliki model pesawat F-101B yang siap untuk diuji pada bulan September 1955, seluruh program Voodoo ditahan tanpa batas waktu sementara masalah aerodinamik yang disebutkan sebelumnya mendera F-101A dapat diselesaikan. Keterlambatan lebih lanjut dan ketidakpastian dengan mesin J67 menyebabkan keputusan untuk menggunakan mesin Pratt & Whitney J57-P-55, yang memiliki fitur afterburner lebih lama dan daya dorong yang lebih kecil dari mesin J-67 dengan daya dorong 16,900 pound per mesin, dengan ventilasi pendingin di bagian bawah. J57-P-55 diujicobakan dalam F-101A yang dirancang ulang sebagai “JF-101A”, yang mencatat rekor kecepatan dunia hingga 1.943 KPH (1.207 MPH) pada akhir 1957. F-101B memiliki desain bagian tengah dan belakang badan pesawat serta bagian ekor yang sama dengan seri F-101A, dan, selain pintu penutup roda yang menggembung untuk menampung roda yang lebih besar, bentuk sayapnya tetap sama. Tetapi F-101B memperkenalkan desain bagian badan pesawat yang sepenuhnya baru, lebih panjang 4 kaki dengan tata letak kokpit tandem untuk pilot dan operator radar. Yang juga baru adalah sistem pelacakan dan kontrol penembakan Hughes MG-13, yang pada dasarnya merupakan peningkatan dari sistem E-6 yang telah digunakan dalam pesawat F-89D, dan tempat senjata yang dapat berputar yang menyimpan empat rudal radar semi-aktif Hughes Falcon (GAR-1) dan rudal inframerah (GAR-2), dalam versi ini semua kanon dilepas. Persenjataan utama F-101B adalah empat rudal udara-ke-udara Falcon (AAM) yang disimpan di ruang senjata, biasanya campuran rudal GAR-1 dengan radar semi-aktif (SARH) rudal pencari panas inframerah GAR-2 – prosedur yang biasa dilakukan, seperti doktrin yang dipakai beberapa pesawat pencegat buatan Soviet, adalah meluncurkan rudal SARH dan pencari panas Falcon secara bersama-sama dengan harapan bahwa jika yang satu tidak berhasil, yang lain akan berhasil. Rudal kode GAR pada rudal Falcon, kemudian diubah menjadi “AIM-4” selama Pentagon mengubah sistem pengkodean pada tahun 1962. Pintu ruang senjata dapat membawa dua rudal di dalamnya di masing-masing sisi. Beberapa sumber mengindikasikan F-101A / C dapat membawa persenjataan AAM juga, tetapi kalaupun pernah direncanakan, tidak pernah diimplementasikan. Versi akhir dari F-101B mampu membawa dua AAM MB-1 Genie menggantikan dua rudal Falcon. Genie adalah roket tanpa pemandu dengan hulu ledak nuklir kecil, diledakkan oleh timer yang ditetapkan oleh FCS. Penggunaan Genie terutama dimaksudkan untuk mendukung teknik intersepsi “collision-course”, di mana Voodoo mendekati target dari sektor terdepan. Itu berarti mereka harus terbang sangat cepat dalam waktu yang singkat untuk mendapatkan “kill” pada target: mengingat relatif kurangnya canggihnya sistem panduan AAM pada saat itu, hulu ledak nuklir dianggap perangkat terbaik untuk pekerjaan itu. 

CF-101 AU Kanada menembakkan roket Genie yang bisa dipasangi hulu ledak nuklir. (Sumber: Pinterest)

F-101B pertama lepas landas dari Lambert Field di St. Louis pada 27 Maret 1957, setahun lebih lambat di belakang jadwal seharusnya, dan Angkatan Udara menghabiskan hampir dua tahun lagi melakukan tes dan evaluasi yang luas sebelum berani melepaskan pesawat interceptor Voodoo ke dalam layanan operasional. Performa penerbangannya memenuhi harapan — kecepatan tertinggi nya adalah Mach 1.66 (1.094 mph), ketinggian jelajah tempurnya hingga 51.000 kaki dan jarak tempuh normalnya 1.387 mil — tetapi F-101B memiliki masalah lain yang secara serius menghambat efektivitas operasionalnya. Posisi operator radar dirancang dengan buruk, dan sedikit yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya selain dari penyesuaian kecil. Yang lebih mengkhawatirkan, sistem kontrol penembakan MG-13 tidak cukup untuk mengontrol senjata pada platform secepat pesawat F-101. Proposal untuk menggantinya dengan sistem MA-1 yang lebih canggih dan dikembangkan untuk tipe pesawat F-106 ditolak karena masalah biaya. Meskipun terdapat kekurangan, F-101Bs mulai beroperasi dengan Fad-Interceptor Squadron (FIS) ke-60 di Pangkalan Angkatan Udara Otis di Massachusetts pada 5 Januari 1959. Sisi positifnya, Voodoos dua kursi telah diuji secara mendalam pada saat mereka mencapai ADC, dan mereka akhirnya memberi Angkatan Udara pencegat yang memiliki kinerja canggih dengan biaya “terjangkau” ($ 1,7 juta per pesawat, dibandingkan dengan $ 4,7 juta untuk F-106A). Dari tahun 1963 hingga 1966, armada F-101B diberi upgrade yang cukup komprehensif di bawah program BOLD JOURNEY. Perubahan utama adalah untuk meningkatkan FCS/Sistem Kontrol Penembakan dan untuk menambahkan sensor pencarian & pendeteksi inframerah (IRST) pada bagian hidung, menggantikan probe pengisian bahan bakar pada pesawat. Secara total, F-101 Voodoo dari semua varian dibuat sebanyak 807 unit.

PERANGKAT AVIONIK DAN PERSENJATAAN

Dalam menjalankan misinya, F-101 didukung dengan berbagai perangkat avionik dan persenjataan yang secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

Radar Hughes MG-13 IIP

Lewat Project Bold Journey, radar Hughes MG-13 IIP yang ditingkatkan dioperasikan dalam I-band dengan mode frekuensi antara 8500 MHz dan 9250 MHz. Frekuensi repetisi pulsa (PRF) adalah 910 Hz dengan rentang pulsa 0,5 mikrodetik, untuk jarak 6, 20, dan 40 mil laut dalam mode SP (pulsa pendek) dan 416 Hz untuk rentang pulsa 1,0 mikrodetik yang memungkinkan dipancarkan hingga jarak 200 mil dalam mode LP (pulsa panjang). Setelah target ditentukan, terdapat tombol switch yang memungkinkan unit MG-13 untuk secara otomatis melacak target. Antena parabola radar berdiameter 25 inci yang dapat diatur untuk secara otomatis memindai dalam mode 4 bar, 2 bar, dan 1 bar ke tengah atau ke kedua sisi jalur penerbangan, bersama dengan mode boresight. Batas limitasi elevasi antena adalah 35 derajat ke atas dan 15 derajat ke bawah. Dengan perangkat ini, kemampuan sensor baru F-101B dapat dipasangkan dengan versi baru dari rudal Falcon, AIM-4D.

Kanon Pontiac M39

Kanon Pontiac M39 adalah kanon revolver kaliber 20 mm yang dikembangkan untuk Angkatan Udara Amerika Serikat pada akhir tahun 1940-an. Kanon ini digunakan pada sejumlah pesawat tempur dari awal 1950-an hingga 1980-an. Senjata ini dioperasikan dengan sistem gas dan terdiri dari lima laras dengan sistem revolver. Sekitar 35.000 unit kanon ini diproduksi sebelum digantikan oleh kanon M61 yang lebih unggul dari M39 dalam hampir segala hal. Dengan peluru berukuran 20 × 102 mm yang ditembakkan dengan kecepatan 1.500 rpm, sebuah munisi tipe M53 dengan ujung proyektil baja AP-I memiliki peluang perkenaan 50% untuk bisa menembus lapisan baja setebal 6,3 mm RHA pada jarak 1.000 meter dan sudut penembakan 0 °. Versi perbaikan terakhir dari M 39 mengharuskan pergantian laras setelah menembakkan 4000 peluru.

Kanon Pontiac M39 kaliber 20 milimeter, kanon utama F-101 Voodoo yang juga digunakan oleh pesawat tempur F-5. (Sumber: http://www.ordtech-industries.com/)

Rudal AIM-4 Falcon

Rudal AIM-4 Falcon buatan Hughes adalah rudal udara-ke-udara berpemandu operasional pertama dari Angkatan Udara Amerika Serikat. Pembuatannya dimulai pada tahun 1946; senjata itu pertama kali diuji pada tahun 1949. Rudal memasuki layanan operasional USAF pada tahun 1956. Diproduksi dalam versi berpemandu pencari panas inframerah dan berpemandu radar, rudal ini bertugas selama Perang Vietnam dengan pesawat McDonnell Douglas F-4 Phantom II milik USAF. Dirancang untuk menembak jatuh pembom yang lambat dengan kemampuan manuver terbatas, rudal ini tidak efektif terhadap pesawat tempur yang punya kemampuan manuver baik di Vietnam. Karena tidak memiliki proximity fuze, rudal itu hanya akan meledak jika menabrak target secara telak. Hanya lima pesawat yang berhasil dijatuhkan rudal ini selama perang. Versi GAR-1 memiliki radar radar semi-aktif (SARH), yang mampu menjangkau target hingga jarak sekitar 5 mil (8,0 km) dengan kecepatan puncak mach 3. Sekitar 4.000 rudal ini telah diproduksi. Tipe ini kemudian digantikan oleh GAR-1D (kemudian AIM-4A), dengan permukaan kontrol yang lebih besar. Sekitar 12.000 varian ini diproduksi, versi produksi utama dari versi ini adalah Falcon SARH. Sementara itu, GAR-2 (kemudian dikenal sebagai AIM-4B) adalah versi rudal pencari panas, yang umumnya terbatas ditembakkan ke bagian belakang pesawat musuh, tetapi  keuntungannya, senjata ini bertipe ‘fire and forget’. Seperti juga praktik yang dilakukan Soviet, lazim tiap pesawat menembakkan dua tipe rudal secara salvo untuk meningkatkan peluang perkenaan (rudal pencari panas yang ditembakkan lebih dulu, diikuti beberapa saat kemudian oleh rudal yang dipandu radar). GAR-2 memiliki ukuran 1,5 in (40 mm) lebih panjang dan bobot 16 lb (7 kg) lebih berat dari rekan SARH-nya. Jarak jangkauannya mirip. Rudal ini kemudian digantikan oleh GAR-2A (dikenal sebagai AIM-4C), dengan pemandu inframerah yang lebih sensitif. Total sekitar 26.000 Rudal Falcon berpemandu inframerah dibuat.

Rudal GAR-2 (kiri) dan Rudal GAR-1D (Kanan), senjata utama pesawat tempur F-101 Voodoo. (Sumber: https://www.ausairpower.net/)

Roket AIR-2 Genie

Douglas AIR-2 Genie (kode sebelumnya MB-1) adalah roket udara-ke-udara yang tanpa pemandu dengan hulu ledak nuklir W25 berkekuatan 1,5 kt. Roket ini digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF 1957-1985) dan Kanada (Angkatan Udara Kanada 1965-1968, Komando Udara 1968-1984) selama Perang Dingin. Produksi roket ini berakhir pada tahun 1962 setelah lebih dari 3.000 unit dibuat, dengan beberapa roket pelatihan terkait dan tes turunannya diproduksi kemudian. Sumber yang bervariasi menyebutkan berbagai ketinggian ledakan, tetapi diperkirakan berada diantara 18.500 dan 20.000 kaki (5.600 dan 6.100 m) di atas permukaan laut, sementara jarak operasionalnya adalah 6 mil (9,7 km), dengan kecepatan puncak mach 3.3. Pada tahun 1962 senjata itu didesain ulang sebagai AIR-2A Genie. Banyak munisi yang ditingkatkan dengan motor roket berdurasi lebih lama; senjata yang ditingkatkan kemudian dikenal (tampaknya hanya penamaan tidak-resmi) sebagai AIR-2B. Munisi pelatihan, awalnya dikenal sebagai MB-1-T dan kemudian disebut sebagai ATR-2A, juga diproduksi dalam jumlah kecil – versi pelatihan dikenal oleh kru Kanada dengan sebutan “dum-dum”.

Roket udara tanpa pemandu berkepala nuklir AIR-2 Genie. (Sumber: https://www.flickr.com/)

DINAS OPERASIONAL 

Pilot yang menerbangkan Voodoo terkesan dengan kinerjanya, menyebutnya sebagai “One-O-Wonder,” tetapi mereka juga menganggapnya sangat sensitif. Kolonel C. Robert “Oz” Osborne Jr. mengatakan: “F-101 adalah layaknya seorang wanita — sebuah pesawat terbang yang fantastis, tetapi sensitif, sangat sensitif. Pesawat itu menuntut harus diterbangkan dengan benar. ” Pilot uji coba Angkatan Udara Richard Baird menyetujui pendapat itu: “Ini adalah pesawat tempur terbesar yang pernah saya terbangkan — Voodoo akan menggigit Anda! Anda benar-benar harus menerbangkannya dengan benar sesuai petunjuk buku. ” Dan pilot pengintai, Kolonel Jonathan Gardner mencatat bahwa “pada penerbangan pertama, Anda tidak menerbangkannya — Anda hanya berusaha tetap mempertahankannya (terbang)!”. F-101C dan RF-101C yang ditingkatkan kemampuannya dipesan pada bulan Maret 1956. Versi C secara eksternal identik dengan model A tetapi telah diperkuat airframe-nya untuk bisa menerima batas beban yang lebih tinggi (6,33 G hingga 7,33 G), dan dalam versi pesawat tempur, versi ini telah dilengkapi sejak awal sebagai pembom tempur taktis. Semua dari 47 unit F-101C yang dibuat dikirim ke Angkatan Udara pada tahun 1957-58, bertugas dengan Wing Tempur Taktis ke-81 sebagai pesawat serang nuklir sampai mereka dihapus dari inventaris pada 1965-66. F-101C adalah pesawat tempur taktis tercepat dalam dinas operasional hingga munculnya Lockheed F-104, dan pada 12 Desember 1957, sebuah pesawat yang telah dilepas berbagai perlengkapan yang tidak dibutuhkan mencatat rekor kecepatan dunia baru sebesar 1.204 mph (Mach 1.83). Baik F-101A/C keduanya dibiarkan tanpa kamuflase dengan cat warna metal. Sementara itu, RF-101C, dibuat dalam jumlah yang lebih banyak daripada F-101C, dan memasuki layanan operasional pada bulan September 1957, dan yang terakhir dari 166 yang dibuat dikirimkan pada bulan Maret 1959. RF-101C digunakan secara luas oleh Wing Pengintai Taktis ke-363 yang berbasis di AS, TRW ke-66 yang berbasis di Eropa dan TRW ke-67 yang berbasis di Timur Jauh. Selama Krisis Rudal Kuba pada bulan Oktober 1962, RF-101A dan C dari TRW ke-363 menerbangkan 82 misi penerbangan pengintaian ketinggian rendah di Kuba. F-101A / C Voodoo Amerika juga dikerahkan ke Formosa selama ketegangan yang terjadi pada tahun 1958. Sementara itu untuk membawa kekuatan Voodoo yang lebih dekat ke Uni Soviet, F-101A / C dipindahkan ke pangkalan udara Royal Air Force Bentwaters / Woodbridge Inggris, menggantikan F- 84F Thunderstreak di Wing Tempur Taktis ke-81. Di sana pada awal 1960-an satuan ini dipimpin oleh “ace” Kolonel (kemudian, Brigadir Jenderal) Robin Olds, yang mengambil langkah berani untuk membentuk tim demonstrasi penerbangan dengan menggunakan Voodoo seperti tim aerobatik Thunderbirds atau Blue Angels. Olds sering berbicara tentang betapa lapangnya kokpit Voodoo dan kepuasan yang dialaminya setelah berhasil menguasai masalah pitch-up pesawatnya. Misi F-101A / C di Eropa adalah untuk terbang sejauh 1.000 mil (1610 kilometer) dan menjatuhkan senjata nuklir taktis tunggal pada target di Soviet atau Eropa Timur. Sistem pemboman ketinggian rendah F-101A / C adalah dengan labirin gyro, timer, dan komputer yang memungkinkan pesawat untuk menjatuhkan muatan nuklir setelah terbang di ketinggian puncak pohon.

RF-101 Voodoo melakukan pengintaian diatas Kuba, 6 November 1962. (Sumber: https://theaviationist.com/)

RF-101C adalah satu-satunya varian Voodoo yang terlibat dalam pertempuran di Vietnam; bahkan, pada awal tahun 1961, RF-101C dari TRW ke-67, yang beroperasi di Pangkalan Angkatan Udara Kadena di Okinawa, mulai melakukan penerbangan pengintaian di Laos dan Vietnam Selatan. Pada tahun 1965, operasi tempur yang sebenarnya dimulai ketika RF-101C dari TRS ke-20, TRW ke-67, pindah ke Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Thailand di Udorn dan mulai menerbangkan pengintaian ke Vietnam Utara. Selama periode waktu yang sama, Voodoo dari TRS ke-45 pindah ke Pangkalan Angkatan Udara Tan Son Nhut di Vietnam Selatan untuk menjalankan operasi di wilayah Selatan, dan berfungsi sebagai pemandu untuk misi pemboman pertama terhadap Vietnam Utara pada 8 Februari 1965. Antara tahun 1965 dan 1970, 33 pesawat RF-101C dijatuhkan oleh senjata anti-pesawat terbang dan rudal musuh, serta satu oleh pesawat tempur MiG-21 Fishbed Vietnam Utara. Mayor Jerry D. Lents menggambarkan sebuah misi pengintaian yang diterbangkan dari Tan Son Nhut dalam mencari situs-situs rudal darat ke udara bersama dengan Kapten Jack W. Weatherby yang mengakibatkan satu pesawat hilang. Lents menceritakan: “Kami turun hingga ketinggian 200 kaki dan menyeberang ke wilayah Vietnam Utara dengan kecepatan garis yang mendekati limit 600 knot …. Tiba-tiba Jack muncul di radio … dan mengatakan:” Aku tertembak. Aku membatalkan misi penerbangan ke utara! “Saya melihat ada lubang di bagian belakang pesawatnya, sedikit di atas dan di depan afterburner. Saya melewatinya dalam penerbangan kembali kami dan menjawab: “Ya, Jack, kamu punya lubang di badan pesawatmu.” Lalu saya melihat sedikit bahan bakar mulai keluar dari badan pesawatnya. Saya memanggil, ‘Ada sedikit bahan bakar yang keluar tetapi tidak buruk.’ Kemudian saya melihat api kecil keluar dari lubang tersebut, dan saya berteriak: ‘Jack! Pesawatmu terbakar! Keluar! Keluar! Keluar! ‘(Lalu) pesawat itu meledak – seluruh bagian ekor terlepas dan jatuh kebumi. Badan pesawatnya menjadi satu bola api besar. Kami hanya berada di ketinggian 200 kaki, tetapi seluruh pesawatnya beserta 13-14.000 pound bahan bakar meledak di udara oleh bola api itu. Sangat sedikit yang tersisa menyentuh tanah. Tidak ada asap hitam. Tidak ada apa-apa.” Kapten Weatherby secara anumerta kemudian dianugerahi medali Air Force Cross. 

RF-101C adalah satu-satunya varian Voodoo yang diterjunkan dalam Perang Vietnam. (Sumber: Pinterest)

Sementara itu, pilot-pilot RF-101C Voodoo terus menjalankan misi-misi berbahaya diatas situs-situs penting Vietnam Utara yang dijaga ketat karena nilainya yang vital dari tiga pangkalan selama perang, salah satunya adalah misi pengintaian yang dijalankan oleh Letnan Kolonel James R. Brickel diatas pabrik baja Thai Nguyen tahun 1967. Ketika Letnan Kolonel James R. Brickel melintas dengan pesawat RF-101C Voodoo-nya untuk memfoto, ia segera menjadi sasaran tembakan paling intens dari satuan senjata anti-pesawat yang pernah ditembakkan pada satu pesawat. Sebagai Perwira operasi Satuan Pengintaian Taktis ke-20 (TRS) yang berpusat di Udorn, Thailand, Brickel telah mengajukan diri secara sukarela untuk menjalankan misi pengambilan foto pasca serangan atas pabrik besi dan baja Thai Nguyen, yang terletak 30 mil di utara Hanoi. Pada awal Maret 1967, sebagai bagian dari Operation Rolling Thunder, para pembuat kebijakan Washington — setelah hampir tiga tahun bimbang  — pada akhirnya menyetujui serangan udara terhadap Thai Nguyen, yang sebelumnya telah diklasifikasikan sebagai salah satu target strategis paling penting di Vietnam Utara. Namun saat persetujuan diberikan, Vietnam Utara telah berhasil memenuhi situs itu dengan berbagai senjata anti-pesawat kaliber 37mm, 57mm dan 85mm yang dikendalikan oleh radar. Pabrik itu juga berada dalam jangkauan 60 mil dari banyak situs rudal permukaan-ke-udara SA-2 dan sekitar 100 pesawat tempur MiG-17 dan MiG-21. Pada saat itu sebenarnya pesawat RF-101C dari TRS ke-20 sudah cukup tua, dan telah dijadwalkan untuk diganti dengan McDonnell RF-4C, dinilai sangat rentan terhadap pertahanan udara yang terkonsentrasi  di sekitar Thai Nguyen, dan Brickel juga tahu itu. Brickel sendiri menyebut Voodoo sebagai “flying in the barrel” alias tong terbang. Tetapi pada hari itu — 10 Maret 1967 — pilihannya terbatas; seseorang harus mendapatkan foto untuk menilai kerusakan akibat pemboman. Brickel kemudian memimpin sebuah flight 2 pesawat RF-101C untuk menjalankan misi berbahaya itu.

RF-101C dari Satuan Pengintaian Taktis ke-20 yang menjalani pengisian bahan bakar dalam pesawat. Pesawat ini kemudian bertugas dengan TRS ke-15 di Vietnam, dan mengalami kecelakaan saat mendarat darurat di Da Nang AFB karena kerusakan akibat pertempuran pada tanggal 5 Oktober 1965. RF-101C termasuk pesawat jet tempur pertama yang dikirim ke Vietnam, dan banyak menjalankan misi-misi pengintaian yang berani selama perang. (Sumber: http://warbirdsnews.com/)

Karena serangan telah dilakukan di awal hari itu, pertahanan udara di dekat pabrik telah dalam keadaan siaga penuh, dan ketika pesawat Brickel dan rekannya mendekat, setiap senjata musuh membuka tembakan. Satu menit menjelang target, sebuah peluru meriam anti pesawat 85mm meledak tepat hampir di bawah sisi kiri jetnya. Lampu peringatan menyala pada panel instrumen, tekanan oli di mesin kiri turun ke nol, tekanan hidrolik kontrol penerbangan mati, aileron kiri berlubang dan kokpit mulai terisi dengan asap. Lebih buruk lagi, kecepatan Voodoo telah melambat 50 knot, menjadikannya sebagai sasaran tembak yang lebih mudah bagi penembak Vietnam Utara. Tapi Brickel tahu dia tidak bisa membatalkan misi selama dia masih bisa membuat pesawatnya terbang. Berjuang mengendalikan pesawat, dia menyalakan kameranya dan mempertahankan arah terbang pesawatnya di atas pabrik. Ajaibnya, ia berhasil menembus badai peluru pelacak dan berhasil membawa RF-101 nya yang rusak parah kembali mendarat dengan aman di Udorn dengan satu mesin, tempat ia mengantarkan foto-foto yang dibuatnya diatas target. Kemudian, selama upacara di mana Brickel dianugerahi medali Air Force Cross, Jenderal William W. Momyer, komandan Angkatan Udara Ketujuh, menyebut aksi Brickle di atas Thai Nguyen sebagai “pertunjukan nyali yang luar biasa.” Komandan skuadronnya, Letnan Kolonel (kemudian, Kolonel) John Bull Stirling, telah memimpin misi dua pesawat RF-101C yang sama di atas lapangan udara Kép 16 mil di timur laut Hanoi sembilan hari sebelum Brickel melakukannya. Stirling mengatakan dia tidak khawatir dengan pesawat-pesawat MiG musuh karena, “Saya bisa tetap terbang dengan kekuatan penuh dan meninggalkannya dalam kesulitan untuk mengejar saya.” Meskipun pesawat tempur yang lebih baru dapat terbang lebih cepat daripada Voodoo, Brickel, Stirling dan veteran RF-101C lainnya percaya pesawat mereka telah melakukan misi tercepat yang pernah diterbangkan pesawat dalam pertempuran sesungguhnya, dengan pengecualian penerbangan yang dilakukan oleh pesawat pengintai tercepat di dunia, SR- 71 Blackbird. 

Peran Voodoo sebagai pesawat pengintai di Vietnam, kemudian diambil alih oleh RF-4C Phantom. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Mulai akhir 1967, ketika lebih banyak pesawat RF-4C Phantom tiba untuk mengambil alih tugas pengintaian, Voodoo dilarang beroperasi di Vietnam Utara. Mereka semua akhirnya ditarik dari zona tempur pada akhir 1970. Selama di Vietnam Voodoo mencatat rekor yang mengesankan dengan melakukan 35.000 sorti penerbangan dengan hanya menderita kerugian 33 pesawat. Setelah kembali ke Amerika, RF-101C pensiun dari layanan aktif Angkatan Udara AS dan banyak yang diserahkan ke unit-unit Air National Guard. Pada tahun 1965, 29 F-101A dan 31 F-101C masing-masing dimodifikasi menjadi RF-101G dan RF-101H, bertugas sebagai pesawat pengintai tidak bersenjata bersama dengan unit Air National Guard. Modifikasi mensyaratkan penghapusan radar dan persenjataan dan mengganti kerucut hidung untuk pemasangan rumahan kamera dan komponen elektronik baru. RF-101G dan H dioperasikan oleh tiga unit Air National Guard: TRS ke-154 di Arkansas, TRS ke-165 di Kentucky dan TRS ke-192 di Nevada. Pada awal 1968, setelah penyanderaan kapal pengintai angkatan laut AS, Pueblo oleh Korea Utara, mendorong Presiden Lyndon B. Johnson untuk mengaktifkan ketiga unit Voodoo Garda Udara Nasional. Masing-masing menjalankan tur rotasi di Pangkalan Angkatan Udara Itazuke, Jepang, dan disana berhasil membukukan catatan yang mengesankan, menerbangkan 19.715 jam terbang dalam 11.561 sorti dan membuat film udara sepanjang 841.601 kaki. Pesawat pengintai satu kursi ini terakhir dikeluarkan dari dinas Garda Nasional pada tahun 1976. 

F-101B menjaga udara Amerika selama hampir 2 dekade semenjak kemunculannya pada tahun 1961. (Sumber: Pinterest)

Sementara itu pada akhir 1960, tidak kurang dari 17 skuadron ADC dilengkapi dengan F-101B Voodoo versi pesawat tempur pencegat. Produksi pesawat ini berakhir pada bulan Maret 1961 dengan total 480 pesawat dikirimkan. Mulai tahun 1959, McDonnell melakukan modifikasi di mana sekitar satu dari setiap F-101B akan dilengkapi dengan kontrol ganda sambil tetap mempertahankan kemampuan misi ADC secara penuh. Digunakan untuk konversi dan pelatihan operasional di bawah kode penunjukan awal TF-101B, pesawat ini didesain ulang sebagai F-101F pada tahun 1961 setelah 79 pesawat dimodifikasi ke versi ini. F-101B versi akhir memiliki sistem pengendalian penembakan yang telah ditingkatkan dan memiliki kemampuan untuk membawa dua rudal Genie MB-1 berhulu ledak nuklir yang menggantikan dua rudal Falcon. Dalam program modernisasi (Proyek Bold Journey) yang diselesaikan antara tahun 1963 dan 1966, sebagian besar F-101B dilengkapi dengan sensor inframerah untuk memfasilitasi pelacakan pesawat musuh yang bebas dari gangguan radar dan juga menerima mekanisme kontrol pitch yang jauh lebih baik yang berfungsi dalam sistem penerbangan otomatis. F-101B/F mulai dihapus dari dinas layanan Angkatan Udara pada tahun 1969 tanpa melepaskan satupun tembakan dalam misi tempur sesungguhnya, dan skuadron tugas aktif yang terakhir mengoperasikan jenis ini, adalah FIS ke-60 dan 62, yang mempensiunkan Voodoo mereka pada bulan April 1971. Secara bersamaan, F-101B / F dikirimkan ke unit Air National Guard, dimulai dengan FIS ke 116, Washington ANG, pada bulan November 1969, dan pada akhirnya berlanjut untuk melengkapi delapan unit pencegat tempur di tujuh negara bagian. Unit Guard terakhir yang mengoperasikan F-101B, FIS ke-111, Texas ANG (unit di mana Presiden George W. Bush Jr. menerbangkan F-102), menyerahkan Voodoo terakhir mereka untuk dipensiunkan pada tahun 1981. Angkatan Udara tetap mempertahankan sejumlah kecil F- 101B setelah 1971 untuk misi pelatihan tempur-pencegat. Voodoo terakhir yang diterbang di Amerika Serikat adalah F-101B yang dikemudikan oleh Letnan Kolonel Bruce Sanders di Pangkalan Angkatan Udara Tyndall, Florida pada bulan September 1982.

Satu-satunya operator utama F-101 Voodoo diluar AS adalah AU Kanada. Kanada mendatangkan Voodoo sebagai pesawat pencegat, setelah dibatalkannya program CF-105 Arrow. (Sumber: http://www.airvectors.net/)

Satu-satunya operator utama Voodoo diluar Amerika adalah Royal Canadian Air Force (RCAF). Setelah pembatalan program pesawat pencegat Avro Canada CF-105 Arrow pada tahun 1959, Royal Canadian Air Force (RCAF) perlu mendapatkan pencegat berkecepatan tinggi untuk menggantikan Avro Canada CF-100  “Canuck” yang kokoh tetapi sudah tua. Setelah berdiskusi dengan AS, Kanada memutuskan untuk mengadopsi F-101B. Sebanyak 56 F-101B dan 10 F-101F disuplai di bawah Operation QUEENS ROW pada tahun 1961 dan 1962. Semuanya adalah pesawat bekas USAF, tetapi semuanya “seperti pesawat baru”, karena baru berusia beberapa tahun saja. Mereka dipersenjatai dengan dua rudal Falcon dan dua roket Genie, dengan Genie yang berhulu ledak nuklir dioperasikan di bawah pengaturan bersama dengan perwira dari USAF. Voodoo Kanada dikenal sebagai “CF-101B” dan “CF-101F” masing-masing. Pada tahun 1970-1971, 46 pesawat pertama yang tersisa “ditukar” dengan 56 F-101B yang telah ditingkatkan kemampuannya dan 10 F-101F di bawah program PEACE WINGS. Pesawat-pesawat ini telah ditingkatkan kapabilitasnya dengan penambahan dan perbaikan perangkat IRST, FCS, dan peningkatan lainnya yang diperoleh dalam program BOLD JOURNEY. CF-101 Kanada tetap dipertahankan hingga awal 1980-an, ketika mereka digantikan oleh pesawat multiperan McDonnell Douglas CF / A-18A / B Hornet. Namun, itu bukan akhir dari karir Voodoo di dinas operasional Kanada, dengan dua F-101B disewa dari USAF pada tahun 1982. Salah satu pesawat ini dikonversi dengan perangkat countermeasures sebagai pesawat peperangan elektronik dengan kode “EF-101B”. Pesawat ini digunakan dalam latihan untuk “mengganggu” jaringan radar. Sementara F-101B lainnya digunakan sebagai pesawat latih kecakapan terbang untuk EF-101B dan tetap mempertahankan konfigurasi aslinya. Kedua pesawat dikembalikan ke USAF pada tahun 1987. Secara total AU Kanada sempat mengoperasikan 132 F-101B/F. 

Awalnya dirancang sebagai pesawat pengawal bomber, Voodoo lebih banyak dikenang dalam kariernya sebagai pesawat pengintai cepat. (Sumber: http://www.airvectors.net/)

Sementara itu Taiwan diketahui juga sempat mengoperasikan beberapa RF-101A/C yang diambil dari inventaris USAF pada tahun 1959, mungkin dengan Taiwan bertindak sebagai kepanjangan tangan dari dinas intelijen AS, untuk melakukan pengintaian di daratan Cina. Dengan kebutuhan untuk memantau aktivitas Cina Komunis setelah krisis terakhir di Selat Taiwan, sebuah perjanjian antara USAF dan Angkatan Udara Republik Tiongkok (ROCAF) ditandatangani pada November 1959 untuk menyediakan pesawat pengintai. Pada titik ini, ROCAF telah menerima beberapa pesawat RF-86F yang saat itu sudah usang, dengan mengoperasikan sekitar 20 Republik RF-84F Thunderstreaks, empat North American RF-100A “Slick Chicks”, dan satu Martin RB-57D untuk pengintaian di ketinggian tinggi. ROCAF diketahui tidak puas dengan performa RF-100A yang mulai beroperasi pada tahun 1959 dan sudah dipensiunkan pada awal 1961, meski ROCAF tidak pernah menerbangkannya dalam misi operasional. Untuk menambah aset pengintaian berkecepatan tinggi dan rendah serta mengganti RF-100A, empat RF-101A Voodoos kemudian dipasok ke Taiwan lewat Project Boom Town. 

Pesawat pengintai North American RF-100A “Slick Chick”. Selama Perang Dingin, Amerika mensuplai Taiwan dengan berbagai pesawat pengintai untuk memata-matai China, termasuk RF-100, yang kemudian digantikan dengan RF-101. (Sumber: https://www.nationalmuseum.af.mil/)

Keempat RF-101A yang ditransfer adalah bernomor 54-1500 yang kemudian diubah menjadi “650”, 54-1503 yang menjadi “652”, 54-1499 menjadi “654”, dan 54-1519 menjadi “656”. Catatan USAF menunjukkan dua pesawat dikirim ke ROCAF pada 28 Oktober 1959 di bawah Program Bantuan Militer (MAP). Pesawat-pesawat ini ditugaskan ke Skuadron Pengintai Taktis ke-4 di Taoyuan AB, sebelah barat ibu kota Taipei. Paling tidak pada bulan Desember 1959, pesawat ini nampaknya tercatat ada di buku-buku PACAF termasuk dalam 40 pesawat RF-101A / C yang ditugaskan dengan TRS ke-15 berbasis di Kadena AB, Okinawa dan TRS ke-45 di Misawa AB, Jepan. Pelatihan konversi untuk pilot ROCAF berlangsung di Kadena AB. Begitu pilot ROCAF dari TRS ke-4 menyelesaikan pelatihan mereka dengan Voodoo, misi atas wilayah pesisir daratan Cina dimulai pada 8 Desember 1960 di bawah Project Sentry Dog, yang mencakup pengintaian di semua pangkalan udara Komunis yang ada di seberang Quemoy. ROCAF sangat puas dengan kemampuan pengintaian di ketinggian rendah dari RF-101A, meskipun faktanya bahwa pesawat mereka menggunakan film A-9B standar tanpa kontrol gambar gerak, yang membatasi ketinggian misi minimum mereka. Rute penerbangan rendah mereka, adalah dengan menghindari pepohonan dan kabel listrik di sepanjang jalan, diikuti oleh manuver “pop-up” pada ketinggian yang sesuai dengan tujuan untuk memastikan kualitas gambar yang baik dan kemudian keluar ke Selat Taiwan dengan kecepatan supersonik maksimum. Selain lapangan udara Cina Komunis, Voodoo juga segera mengumpulkan foto-foto terperinci dari situs radar dan stasiun pemantauan Komunis dan fasilitas sinyal intelijen (SIGINT) yang diarahkan ke bagian utara Taiwan yang berpenduduk padat. Sebuah misi yang dilaksanakan oleh Mayor Yeh Chang-ti pada bulan Juni 1961 berhasil membawa kembali foto-foto dari lima lapangan terbang MiG baru di sepanjang pantai, yang mana Mayor Yeh dan TRS ke-4 secara pribadi dipuji oleh Generalissimo Chiang Kai-shek. Mayor Yeh segera menjadi salah satu pilot ROCAF pertama yang ditugaskan untuk menerbangkan pesawat mata-mata eksklusif U-2 sebagai salah satu anggota skuadron “Black Cat” yang terkenal.

Pesawat RF-101A ROCAF (AU Taiwan) di Taoyuan AB, Taiwan. Dari depan ke belakang: “5652” (ex-54-1503), “5656” (ex-54-1519), “5650” (ex-54-1500), dan “5654” (ex-54-1499). “5656” kemudian akan ditembak jatuh di Selat Taiwan oleh MiG-19 pada 18 Maret 1965, sementara “5650” akan menjadi pesawat RF-101A yang terakhir beroperasi dengan ROCAF hingga Agustus 1973. (Sumber: Foto Koleksi Jim Sullivan/http://fighterwriter101.blogspot.com/)

Kerugian akibat pengoperasian segera mulai berdampak pada armada kecil RF-101A China Nasionalis. Pada tanggal 23 Juli 1961, sebuah RF-101A, nomor 54-1503 yang dikenal sebagai “5652”, rusak parah dalam kecelakaan dan tidak bisa digunakan sampai akhir tahun 1961. Penggantian atas pesawat ini segera diberikan, dengan pesawat nomor 54-1498 yang dikenal sebagai “5649”. Kehilangan pertama dari RF-101 di medan tempur terjadi pada tanggal 2 Agustus 1961, ketika “5649” ditembak jatuh oleh tembakan anti-pesawat di atas pelabuhan Fuzhou di daratan Cina. Pilotnya, Mayor Wu Pao-tze, ditangkap dan menjadi tawanan perang. Mayor Wu menjadi sasaran pencucian otak oleh para penangkapnya, Wu kemudian menjadi kolaborator dengan membuat siaran yang memanggil para pilot Voodoo ROCAF dengan namanya untuk diajak membelot ke China daratan dengan membawa pesawat mereka. Pesawat “5652”, yang rusak kemudian diperbaiki selama musim gugur 1961 dan kembali berfungsi, mengembalikan kekuatan total Voodoo ROCAF ke empat pesawat. Ketika Chiang Kai-shek melanjutkan rencananya untuk menggulingkan pemerintah Komunis di daratan dan Cina Komunis terus bekerja untuk membuat bom atom, pesawat pengintai ROCAF kemudian cukup sibuk untuk melakukan misi di wilayah pesisir China daratan.

Difoto sebelum dipindahkan ke ROCAF pada pertengahan 1961, RF-101A 54-1498 (“5649′), kemudian akan menjadi Voodoo pertama yang hilang karena ditembak jatuh musuh ketika Mayor Wu Pao-tze tertembak oleh AAA dan ditangkap di dekat Fuzhou, Cina pada 2 Agustus 1961. (Sumber: Koleksi Mark Nankivil/http://fighterwriter101.blogspot.com/)
Pesawat tempur J-6 (MiG-19) “Farmer” milik AU China Komunis tercatat setidaknya menjatuhkan 2 unit RF-101 milik AU Taiwan. (Sumber: http://fighterwriter101.blogspot.com/)

Ketegangan di Selat Taiwan meningkat tajam setelah peledakan bom atom oleh Komunis Tiongkok pada tanggal 16 Oktober 1964. Pengintai demi pengintaian oleh pesawat RF-101A ROCAF mulai meningkat selama musim panas tahun 1964. Sementara itu, Taiwan berada di tengah masa transisi dari penggunaan RF-84F ke RF-104G yang baru, yang akan mulai beroperasi dengan TRS ke-12 pada bulan November 1964. ROCAF menderita kehilangan kedua RF-101A dalam pertempuran ketika “5651” (54-1501) rusak parah oleh serangan pesawat pencegat J-6 (MiG-19) “Farmer” di atas Wenzhou, Provinsi Zhejiang pada akhir Desember 1964. Mayor Hsieh Hsiang-ho ditangkap oleh nelayan setempat setelah melompat keluar dari Voodoo yang terserang di lepas pantai dan menjadi POW. Hingga saat itu, RF-101A ROCAF telah menyelesaikan 139 misi pengintaian yang berhasil di atas daratan Tiongkok tanpa dicegat oleh pesawat-pesawat MiG Komunis. Kehilangan kedua Voodoo akibat serangan J-6 yang cepat dan kuat terjadi pada tanggal 18 Maret 1965 dengan hilangnya “5656” (54-1519) dan pilotnya, Letnan Kolonel Chang Yu-pao, yang terbunuh dalam penyergapan itu. Pesawatnya ditembak jatuh di atas Selat Taiwan di lepas pantai Guangdong, dekat Shantou. Ini akan menjadi kerugian operasional terakhir dari RF-101A China Nasionalis. Dengan hanya dua RF-101A Voodoo yang masih operasional dan tampak rentan terhadap serangan MiG-19, pada 22 April 1965, Staf Udara di Markas Besar USAF dilaporkan memerintahkan agar Voodoo digantikan oleh pesawat RF-104G yang punya kecepatan dan akselerasi untuk menghindari pesawat-pesawat pencegat tipe baru. Namun, data ini disangkal oleh beberapa sumber-sumber Taiwan. Analisis memang mencatat adanya pengurangan tajam dalam hal jam terbang per pesawat RF-101A setelah kerugian yang mereka derita, tetapi pada akhir musim panas 1965 keputusan ini telah dibatalkan atau diabaikan oleh ROCAF dengan mengerahkan kembali RF-101A ke level awal tahun 1965. Baik RF-101A dan RF-104G tetap mempertahankan jumlah jam terbang yang sama per pesawat hingga pertengahan 1970, rata-rata sekitar 60 jam per kuartal, sangat menunjukkan bahwa RF-101A tidak digantikan tetapi dilengkapi dengan RF-104G.

RF-101A-25-MC 54-1505 tak lama setelah diperbaiki di Bandara Ontario, CA pada Mei 1964. Segera setelah itu, pesawat ini akan dipindahkan ke Taiwan sebagai pengganti pesawat ROCAF dan diberi nomor “5660.” (Sumber: NARA melalui Mark Nankivil/http://fighterwriter101.blogspot.com/)

Meskipun lebih cepat, RF-104G hanya bisa membawa tiga kamera KS-67A format 70-milimeter dalam konfigurasi trimetrogon di badan depan di depan mesin. Negatif filmnya jauh lebih kecil daripada negatif 9-inci dari kamera KA-2 yang dibawa oleh RF-101A dalam konfigurasi yang sama. RF-104G tidak memiliki perangkat untuk kamera oblique di depan dan tidak bisa melakukan misi “dicing” seperti yang bisa dilakukan oleh RF-101A. Pesawat yang lebih baru itu juga tidak memiliki perangkat sepadan atau mendekati kemampuan perangkat kamera KA-1 vertikal split dari RF-101A. Sementara kamera 70-milimeter nya memang menawarkan resolusi yang baik, namun mengingat ukurannya dan area cakupannya perangkat trimetrogon juga dianggap tidak memadai. Namun demikian, retensi kamera KA-2 Voodoo ROCAF membatasi ketinggian terbang minimum mereka seperti yang terjadi pada pesawat-pesawat yang digunakan USAF selama Krisis Rudal Kuba. Menggunakan magazine film A-9B tanpa kemampuan IMC, RF-101A akan memiliki rasio V / H sekitar 0,26, membatasi ketinggian terbang pesawat mereka hingga ketinggian minimum sekitar 1.700 kaki pada kecepatan 400 knot dan 2.600 kaki pada kecepatan maksimumnya 637 knot. Secara keseluruhan, meskipun kinerja penerbangan ketinggian rendah RF-104G mengesankan, pendapat di lingkungan dalam ROCAF menyatakan bahwa kegunaan pesawat itu terhambat oleh sistem kameranya dan jarang menghasilkan hasil yang berkualitas. Jumlah RF-101A ROCAF kembali ke kekuatan empat pesawat pada akhir tahun 1965 dengan pengiriman dua pesawat yang dari Hill AFB untuk menjalani perawatan. Pesawat ketiga, 54-1503, tampaknya tidak ekonomis untuk diperbaiki dan tidak dikembalikan. Hal ini meninggalkan kekuatan Voodoo ROCAF yang masih tersisa terdiri dari 54-1499 (“5654”), 54-1500 (“5650”), 54-1505 (“5660”) dan 54-1506 (“5658”), yang masih bertugas dengan Skuadron Pengintaian Taktis ke-4. Bersamaan dengan rencana pensiunnya RF-101 dari dinas di USAF, satuan RF-101A Cina Nasionalis berkurang pada musim gugur tahun 1970 dari empat pesawat menjadi satu pesawat yang masih operasional. Tampaknya ketiga pesawat ROCAF yang sudah pensiun itu dipensiunkan untuk menyediakan suku cadang bagi satu-satunya pesawat yang tersisa, yakni pesawat nomor 54-1500 (“5650”). Meskipun usianya sudah tua, namun RF-101A yang tersisa masih menawarkan kemampuan pengintaian yang unik yang tidak dapat disamai oleh RF-104G. Pesawat terakhir ini tetap beroperasi dengan TRS ke-4 sampai unit ini dinonaktifkan pada bulan Februari 1973, ketika dipindahkan ke TRS ke-12 untuk enam bulan terakhir layanan aktifnya di musim panas tahun 1973. Voodoo Taiwan benar-benar pensiun dari dinas operasional pada tanggal 1 Agustus dan kemudian dikembalikan ke Amerika Serikat. RF-101A nomor 54-1500 tidak ada dalam catatan AMARC dan tampaknya discrap di Hill AFB. Tiga pesawat lainnya tetap di Taiwan untuk dipamerkan dalam museum pesawat. 

KARAKTERISTIK UMUM F-101B

• Kru: 2

• Panjang: 67 ft 5 in (20.55 m)

• Lebar: 39 ft 8 in (12.09 m)

• Tinggi: 18 ft 0 in (5.49 m)

• Luas area sayap: 368 sq ft (34.2 m2)

• Airfoil: root: NACA 65A007 (modified); tip: NACA 65A006 (modified)

• Bobot kosong: 28,495 lb (12,925 kg)

• Bobot kotor: 45,665 lb (20,713 kg)

• Max bobot takeoff: 52,400 lb (23,768 kg)

• Kapasitas bahan bakar: 2,053 US gal (1,709 imp gal; 7,770 l) internals plus 2x optional 450 US gal (370 imp gal; 1,700 l) drop-tanks

• Powerplant: 2 × mesin turbojet Pratt & Whitney J57-P-55 afterburning, berkekuatan 11,990 lbf (53.3 kN) tiap mesinnya, dan 16,900 lbf (75 kN) dengan afterburner

Performa

• Kecepatan maksimum: 1,134 mph (1,825 km/h, 985 kn) pada ketinggian 35,000 ft (11,000 m)

• Kecepatan maksimum: Mach 1.72

• Jaraj: 1,520 mi (2,450 km, 1,320 nmi)

• Ketinggian jelajah: 58,400 ft (17,800 m)

• Kecepatan menanjak: 36,500 ft/min (185 m/s) 

• Wing loading: 124 lb/sq ft (610 kg/m2)

• Thrust/weight: 0.74

Persenjataan

Rudal :

• 4 (awalnya 6)× AIM-4 Falcon, atau

• 2× Roket nuklir AIR-2 Genie, plus 2× rudal AIM-4 Falcon

Avionik :

• Sistem Kontrol Penembakan Hughes MG-13

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

One-Oh-Wonder: The Amazing F-101 Voodoo by E.R. Johnson 

The McDonnell F-101 Voodoo v1.0.8 / 01 jul 19 / by greg goebel

http://www.airvectors.net/avf101.html

“Flying the Barrel:” Explaining the F-101 Voodoo By Robert F. Dorr; September 7, 2015

McDonnell F-101 Voodoo, Twin-Engine Interceptor / Reconnaissance Aircraft 

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp?aircraft_id=73

Something extra: Upgrading the F-101B fire control system by Ronald Easley

http://fighterwriter101.blogspot.com/2015/02/something-extra-upgrading-f-101b-fire.html?m=1

Taiwan and the RF-101A Voodoo by Ronald Easley at 2:58 AM; Tuesday, February 9, 2016

http://fighterwriter101.blogspot.com/2016/02/taiwan-and-rf-101a-voodoo.html?m=1

https://en.m.wikipedia.org/wiki/McDonnell_F-101_Voodoo

One thought on “Tarian “Voodoo” di Kokpit Pesawat McDonnell F-101

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *