The “Bloody” Battle of Rapido River 20-22 Januari 1944

Pada akhir tahun 1943 pimpinan tertinggi sekutu merencanakan suatu operasi untuk merebut kota Roma secepatnya. Perebutan Kota Roma lebih berdampak politis, ketimbang militer, karena perebutan kota ini merupakan pertanda ditaklukkannya sekutu Jerman yang paling akrab dalam Perang Dunia 2.

Seperti kita ketahui bersama perebutan kota Roma sebenarnya sudah direncanakan sejak September 1943, yang rencananya dilakukan lewat serbuan udara (Airborne Assault), yang akhirnya dibatalkan di menit2 terakhir setelah mendengar kabar dari Brigadir Jenderal Maxwell Taylor bahwa kota Roma dijaga oleh 48.000 serdadu Jerman, setelah Taylor secara rahasia berunding dengan Marsekal Pietro Badoglio, PM Italia sementara waktu itu. Sebuah informasi yang menyesatkan-mengenai hal ini bisa kita baca dalam buku Perang Eropa-nya PK Ojong Jilid 2.

Pada awal tahun 1944 gerak maju pasukan sekutu dalam merebut kota Roma tertahan di perbentengan Pasukan Jerman, pimpinan Marsekal Albert Kesselring, di sekitar perbukitan Cassino (Monte Cassino-dalam bahasa Italia), yang dikenal sebagai Gustav Line, hanya sekitar 120 km dari Roma. Sementara itu pimpinan tertinggi sekutu berencana untuk melakukan pendaratan Amfibi sebagai serbuan awal dalam merebut kota Roma lewat daratan di pantai Anzio, yang hanya berjarak 54 km dari kota Roma.

Marsekal Albert Kesselring

Untuk menembus garis pertahanan Jerman dan sekaligus menarik perhatian lawan dari Pantai Anzio (lihat gambar peta), yang akan dijadikan tempat pendaratan, Letnan Jenderal Mark W Clark (komandan pasukan AS di Italia-5th Army) merencanakan suatu penyerbuan di sekitar Cassino. Rencananya adalah sebagai berikut: pasukan Perancis Merdeka diperintahkan untuk merebut tempat2 ketinggian di Cassino, sementara Pasukan Inggeris yang berada di bawah komandonya mencoba menerobos kedudukan lawan si St. Ambrogio.

Jika musuh sudah disibukkan dan dihancurkan di kedua tempat tersebut, maka Divisi ke 36 Amerika akan menerobos tepat di tengah2 di antara kedua sayap untuk menyeberangi Sungai Rapido dan setelah itu harus cepat2 membersihkan dataran rendah menuju pantai Anzio.

Peta operasi militer di sekitar Anzio 1943.

Terlalu kuat

Tetapi musuh ternyata terlalu kuat di kedua sayap tersebut. Pegunungan yang tinggi, semangat bertempur pasukan Jerman yang berkobar-kobar dan persenjataan yang lengkap membuat kedua serangan pasukan Clark gagal.

Dalam rapat staf yang dilakukan setelah kedua sayap gagal melakukan tugas, Clark menjelaskan semua risiko yang akan dihadapi oleh Divisi ke 36.”Jika penyeberangan sungai Rapido dilakukan, maka musuh akan terpaksa menarik sebagian kekuatan dari Pantai Anzio (yang rencananya akan dilakukan 22 januari 1944)”, demikian katanya.
Marsekal Kesselring memang akhirnya terpaksa menarik cadangan2nya dari sekitar Anzio-malah jauh sebelum penyeberangan sungai oleh pasukan Amerika dilakukan. Tragisnya Clark tidak tahu akan hal itu. Jika laporan intelijen lengkap telah diketahuinya, tentu ia tidak mau mengambil risiko untuk mengorbankan nyawa begitu banyak serdadu.

American soldiers bring back wounded during the attempt to span the Gari river near Cassino, Italy, January 1944.

Sungai Rapido sebetulnya tidak lebar, dan tidak lebih besar daripada sungai Ciliwung yang membelah jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada di Jakarta ini. Tetapi air yang mengalir dari pegunungan ini sangat deras dan dingin, dan dalamnya lebih dari 3 m-tidak cukup dangkal untuk kendaraan bermotor yang dapat menyeberanginya.
Pihak jerman sepanjang sungai itu telah menebangi semua pohon yang dapat dijadikan sebagai tempat berlindung. Pada sisi mereka setiap gundukan tanah dijadikan pertahanan dan bukit2 dipenuhi dengan ranjau darat. Bahkan kota kecil st. Angelo yang hancur akibat pemboman sekutu malah jadi titik penting pertahanan Jerman.

Jenderal Walker, komandan Divisi 36 yang mempelajari medan tersebut sudah jauh2 hari pesimis akan keberhasilannya. Dan ini terbukti ketika pada tanggal 20 januari 1944, penyerangan penyeberangan dimulai.

Jenderal Fred Walker

Divisinya dibagi dua resimen yang berusaha menyeberang pada dua tempat berbeda dengan sistem pengepungan. Tetapi belum sampai tepi sungai, artileri Jerman telah mengorbankan beberapa puluh prajurit. Ketika dengan susah payah pasukan Amerika mencapai tepi sungai, lebih banyak lagi tentara Divisi 36 yang menjadi korban. “Peristiwa berdarah di tepi sungai Rapido” dianggap sebagai salah satu kekalahan besar pasukan Sekutu, dimana korban mencapai skala seperti pendaratan di Omaha, namun tanpa sukses pada akhirnya.

Gerigi

Setiap kali sebuah perahu dicoba diturunkan di sungai, setiap kali itu pula tembakan telak menghancurkan sarana penyeberangan sekutu tersebut. Sejumlah kecil anggota yang dengan nekad berhasil mencapai tepi seberang sungai harus menghadapi garis pertahanan yang bergerigi dari pihak Jerman.

Foto kondisi di sekitar sungai rapido, Italia.

Garis pertahanan bergerigi (dengan menempatkan sarang senapan mesin, entah MG 34/42, di setiap ujung gerigi) memungkinkan setiap senjata bisa dimanfaatkan secara optimal (saling cover area penembakan): dan pasukan asal Texas yang sukses dalam pendaratan di Salerno terpaksa mengalami kenyataan pahit.

Ada satu-dua sukses kecil yang diraih oleh divisi tersebut pada penyerangan pertama, tetapi nilainya tidak sebanding dengan korban yang jatuh. Resimen ke 143 mula2 agak lega karena berhasil menyeberangkan satu batalyonnya. Tetapi tembakan2 yang menghujani mereka begitu hebatnya hingga keesokan harinya, komandannya terpaksa menarik seluruh pasukan kembali ke seberang sungai.

Pertempuran yang tidak berimbang ini berlangsung seperti neraka bagi prajurit2 Amerika. Pada tanggal 22 Januari 1944, tiba2 tembakan berhenti. Semua serdadu divisi ke 36 yang berhasil menyeberang pada hari pertama sudah lenyap dalam arti mati, luka parah, atau tertawan. Selama 48 jam pertempuran, Jenderal Walker kehilangan 2.100 orang anak buahnya! Pada saat itu perintah penyeberangan dicabut kembali oleh Jenderal Clark, yang amat terpukul oleh kegagalan berdarah itu.

Divisi 36 melintasi ladang ranjau di dekat Sungai Rapido

Para ahli sejarah di kemudian hari, masih terus memperdebatkan untung ruginya operasi tersebut. Salah satu pihak mengetakan bahwa operasi oleh Jenderal Clark berhasil mengurangi konsentrasi Jerman di pantai Anzio. Tetapi banyak pihak pula yang menyalahkan terbuangnya ribuan jiwa secara “hampir2 tanpa perhitungan” itu sebagai kesalahan Clark sesudah perang berakhir. Para veteran divisi 36 menuntu konggres AS agar menyelidiki peristiwa ini dan menyalahkan hal itu pada kepemimpinan Clark yang katanya tidak berpengalaman.

Kontroversi Soft Underbelly

Jenderal Mark W Clark, komandan militer Amerika yg sering disalahkan atas tragedi di tepi sungai Rapido.

Pihak US Army sendiri tidak menyalahkan Clark, buktinya reputasinya di mata Eisenhower naik dengan baik. Pada akhir tahun 1944, ia diangkat sebagai komandan 15th Army Group yang mempunyai wilayah tanggung jawab seluruh semenanjung Italia. Pada 2 mei 1945, Jenderal Clark menerima penyerahan Jerman di Italia di pegunungan Alps. Pada saat berkecamuk perang Korea ia kembali mendapat promosi sebagai komandan tentara PBB di Korea Selatan, sebagai penerus dari jenderal Matthew Ridgway, dan sampai meninggalnya, perdebatan atas peristiwa berdarah di tepi Sungai Rapido belum berakhir dengan memuaskan!

Memang pada kenyataannya Medan pertempuran Italia bukan lah “Soft Underbelly” yang lunak dan mudah untuk ditaklukkan oleh pasukan sekutu seperti ucapan Churchill. Ironisnya medan ini sering dilupakan dan tidak dianggap dalam sejarah, bahkan diabaikan oleh beberapa komandan sekutu sendiri, contohnya Montgomery, yang sangat senang ketika ditarik dari medan pertempuran Italia untuk mempersiapkan pendaratan Normandia. He was glad to leave the “Dog’s Breakfast!!!(demikian ditulis di Wikipedia)…..sebuah kenyataan yang pahit dan tidak se simple gambaran “makanan anjing”nya Montgomery, jika kita adalah anggota dari Divisi ke 36 yang berkorban di tepi Sungai Rapido-the Bloody River….

Sumber :

Rubrik Liku-liku perang, Sinar Harapan Minggu- April 1984

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *