The Last Full Measure: setelah 34 tahun, William Pitsenbarger akhirnya memperoleh Medal Of Honor

Kunjungan William dan Irene Pitsenbarger ke Pentagon pada 22 September 1966, penuh dengan emosi yang campur aduk. Putra mereka, Airmen First Class William H. Pitsenbarger, akan menjadi tamtama pertama penerima medali penghargaan tertinggi kedua Angkatan Udara, Air Force Cross. Sayangnya, medali itu diberikan secara anumerta. “Pits,” seperti yang dikenal teman-temannya, terbunuh dalam tugasnya lima bulan sebelumnya. Pitsenbarger muda adalah seorang PJ (Pararescue Jumper) berusia 21 tahun saat satuan helikopter penyelamat Angkatan Udara nya yang dipanggil untuk tugas evakuasi medis menyelamatkan prajurit yang terluka setelah sebuah unit Angkatan Darat disergap pada 11 April 1966, dekat Xa Cam My. Ketika helikopter sudah siap untuk kembali ke pangkalan membawa mereka yang terluka, Pitsenbarger muda menawarkan diri untuk tetap merawat yang terluka dan sekarat di dalam hutan yang dikepung oleh musuh. Pitsenbarger gugur di hutan itu

William Pitsenbarger berpose di samping helikopter Kaman HH-43 Huskie sambil menyandang senapan M-16 sekitar tahun 1965. (Sumber: https://www.military.com/)

Latar belakang

William Hart Pitsenbarger/Pits lahir di Piqua, Ohio, pada 8 Juli 1944. Pada usia 17 ia ingin mencoba mendaftar Pasukan Khusus Angkatan Darat, tetapi ayahnya membujuknya untuk menyelesaikan sekolah menengah. Setelah ia lulus pada tahun 1962, seorang perekrut Angkatan Udara menginspirasinya untuk mendaftar di Angkatan Udara. Dia menyampaikan berita itu kepada orang tuanya pada Malam Tahun Baru — dan pergi pada malam itu juga. Setelah pelatihan dasar, ia pergi ke sekolah terjun Angkatan Darat, sekolah selam Angkatan Laut, Sekolah Bertahan Hidup Tropis Angkatan Udara dan tempat-tempat lain untuk pelatihan medis dan penyelamatan untuk menjadi salah satu pararescue jumper elit Angkatan Udara, atau “PJs,” yang dalam tugasnya akan diturunkan dari sebuah helikopter untuk memberikan pertolongan pertama bagi pasukan yang terluka dan membantu mengevakuasi mereka dari bahaya lewat jalur udara. Ia lulus pada 14 Juni 1963 dengan pangkat Airman 3rd Class (A3C) – setara prajurit satu. Pits lantas ditempatkan di Okinawa, Jepang. Penugasan itu tak disenanginya. “Kemudian dia mengajukan permintaan tugas di Vietnam. Setelah disetujui, ia dikirim ke pelatihan survival di iklim tropis di Albrook, Panama selama dua pekan.

Airmen 1st Class William Hart Pitsenbarger (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)

Pits kemudian dikirimkan dalam penugasan sementara (temporary duty/TDY) ke Vietnam. Saat menyelesaikan penugasan sementaranya, Pits mengajukan diri secara sukarela untuk kembali ke Vietnam. Sebelum dikirim ke Vietnam, ia pulang ke Piqua dan kemudian pergi untuk tak lagi kembali,” ungkap Chivalette dan Hayes Jr. Pits tiba di Vietnam pada 8 Agustus 1965, sebagai anggota 38th Aerospace Rescue and Recovery Squadron yang berpangkalan di Bien Hoa, dekat Saigon. Detasemen ke-6, unitnya terdiri dari lima awak yang menerbangkan tiga helikopter Kaman HH-43F Huskie, yang tugasnya menemukan penerbang yang jatuh dan pasukan darat yang terluka dengan melayang-layang di atas hutan lebat kemudian menurunkan tandu Stokes (sejenis tandu untuk Penyelamatan prajurit yang terluka) sehingga prajurit yang terluka dapat ditempatkan di dalamnya dan diangkat ke helikopter. Komandannya, Mayor Maurice J. Kessler, mengenal Pits sebagai “Salah satu prajurit yang unik. Waspada dan selalu siap untuk pergi misi apa pun.” Pits terbang lebih dari 300 misi, mempertaruhkan hidupnya sesuai dengan moto PJ: “Hal-Hal Ini Kita Lakukan, Agar Orang Lain Dapat Hidup.” Pada 7 Maret 1966, dia mengajukan diri untuk diturunkan dengan pengerek ke ladang ranjau yang terbakar untuk menyelamatkan seorang Tentara Vietnam Selatan yang terluka. Dia menerima Airman’s Medal karena beraksi “sepenuhnya mengabaikan keselamatannya sendiri.” Pangkatnya kemudian dipromosikan menjadi Airman 1st Class (A1C) atau setara kopral.

Helikopter Kaman HH-43 Huskie melakukan proses evakuasi awak pesawat terbang yang jatuh. (Sumber: https://www.super-hobby.co.uk/)

Aksi Kepahlawanan di Vietnam

Firasat akan kematiannya sudah mencuat beberapa saat sebelum ia ditugaskan di hari yang bersejarah itu. “Saya punya perasaan yang buruk tentang misi ini,” kata A2C Roy A. Boudreaux, rekan Pits, menirukan kata-kata mendiang rekannya itu, dikutip Edward F. Murphy dalam Vietnam Medal of Honor Heroes. Satu bulan kemudian, prajurit-prajurit Divisi Infanteri ke-1 Angkatan Darat bergerak ke dalam hutan Perkebunan Karet Courtenay yang dipenuhi musuh di 35 mil (56 km) sebelah tenggara Saigon, dekat Cam My, Republik Vietnam Selatan dalam Operasi Abilene. Awalnya operasi ini direncanakan sebagai bagian dari misi pencarian dan pemusnahan yang dimaksudkan untuk memancing Batalyon “terlatih” Viet Cong (VC) D800 bertempur. Pada tanggal 11 April, pada pukul 3 petang, sekitar 400 tentara komunis mengepung 134 prajurit dari Kompi Charlie, Batalion ke-2, Resimen Infantri ke-16. Penembak jitu musuh telah menimbulkan korban pertama sebelum datangnya peluru mortir yang berjatuhan secara intens dan tembakan senapan mesin menambah jumlah korban Kompi yang malang itu. Dalam hitungan jam, prajurit-prajurit Amerika yang tewas dan terluka berserakan di semak-semak belukar, tetapi pasukan medis Angkatan Darat tidak dapat mendarat membantu menyelamatkan mereka karena hutan yang lebat. Seruan minta tolong kemudian ditujukan ke 38th Aerospace Rescue and Recovery Squadron, satuan dimana Pits bertugas. Berangkatlah dua Helikopter HH-43F “Huskies” dengan kode misi “Pedro 97” dan “Pedro 73”. Pits yang mengajukan jadi relawan evakuasi medis, berada di heli Pedro 73 dengan pilot Kapten Harold D. Salem, kopilot Mayor Maurice Kessler yang juga komandannya, serta mekanik A1C Gerald C. Hammond. Dua helikopter skuadron itu kemudian menerjang tembakan musuh dan menurunkan tandu Stokes. Dua heli itu setidaknya melakukan masing-masing tiga kali evakuasi udara bolak-balik dari basis udara mereka ke lokasi penjemputan evakuasi di Desa Cam My. Pits menyaksikan para prajurit Amerika di bawah berjuang untuk menangkis serangan musuh sambil mencoba memuat kawan-kawan mereka yang terluka ke atas tandu. Saat upaya keempat, kesulitan makin besar saat pasukan darat kondisinya kian terjepit. Apa yang dilihat Pits saat itu dari dalam helikopter adalah adegan horor dan penuh kebingungan, kemudian karena tergerak hatinya, Pits mengatakan kepada pilotnya, “Aku akan turun membantu.” Dengan menggunakan kerekan penyelamat Pitsenbarger turun dari ketinggian lebih dari 100 kaki masuk ke dalam hutan.

Peta Pertempuran Xa Cam Ky, 11-12 April 1966 (Sumber: http://ibzumin66.blogspot.com/)

Begitu berada diatas tanah, ia tanpa rasa takut “mengorganisir dan mengoordinasikan upaya penyelamatan, merawat yang terluka, menyiapkan korban untuk evakuasi, dan memastikan bahwa operasi penyelamatan berlanjut dengan lancar dan teratur,” demikian kata kutipan pada penghargaan yang diberikan kepadanya. Daniel Kirby, warga asli Louisville, Kentucky, seorang prajurit yang bertugas di Kompi C dari divisi Infanteri pertama, terpana bahwa ada orang yang rela turun kebawah dalam situasi itu, dan memilih menemani mereka di sana dengan kondisi seperti itu. Dia menyebut Pits adalah orang paling berani yang pernah dikenalnya. Pits kemudian menyelamatkan sembilan korban dan menolak untuk pergi. Dia ingin lebih banyak prajurit yang terluka dievakuasi ke tempat yang aman. Pada upaya kelima, Pedro 97 harus diistirahatkan demi mencegah malfungsi heli itu. Sementara Pedro 73 melakukan penjemputan terakhir. Akhirnya, sebuah helikopter lain tiba untuk mengambil lebih banyak lagi yang terluka, tetapi serangan dari Viet Cong semakin intensif memaksa kedua helikopter untuk mundur. Helikopter milik Pits sendiri telah dihantam oleh peluru musuh dan sangat nyaris lumpuh, tetapi sebelum meninggalkan daerah itu, pilot helikopter itu, Harold D. Salem dari Mesa, Arizona, memberi Pit kesempatan terakhir untuk keluar dari medan perang. Pits juga tahu bahwa prosedur standar PJ menginstruksikannya untuk merawat yang terluka dan kemudian segera pergi. Melihat masih banyak pasukan darat yang terluka, Pits memilih menaikkan tiga korban luka terakhir dan memberi kode Pedro 73 untuk beranjak pergi. Ketika Sersan. Gerald Hammond, yang mengoperasikan kerekan, memberi isyarat, Pitsenbarger “memberi kode helikopter untuk pergi meninggalkannya,” kenang Salem.

Ilustrasi Pitsenbarger dalam Film The Last Full Measure (2020). (Sumber: https://historia.id/)

Demi memungkinkan evakuasi satu orang lagi yang terluka, Pits memilih untuk tetap di dibawah ketika helikopternya menerbangkan korban yang telah dimuat ke rumah sakit. Sepanjang malam yang menyedihkan itu, di mana saat itu hanya kurang dari 20 orang personel Charlie Company yang masih selamat, Pits tetap bersama menemani mereka. Selama beberapa jam berikutnya, Pitsenbarger berjongkok dan merangkak menembus hutan lebat untuk mencari prajurit yang terluka. Dia menyeret mereka ke tengah perimeter pertahanan kompi yang terkepung itu, menyembunyikan mereka di balik pohon dan kayu untuk berlindung. Charles Epperson dari Paris, Missouri, menyaksikan ketika dia melihat Pitsenbarger melihat dua tentara yang terluka di luar perimeter. Pits berteriak minta tolong, tetapi Epperson menolak. Epperson ditembaki dan khawatir akan nyawanya. Namun, Pits masih tetap pergi untuk menyelamatkan orang-orang itu dan akhirnya Epperson membantu Pits menyeret prajurit-prajurit yang terluka itu kembali ke tempat yang aman. Keadaan semakin memburuk, memaksa Pits untuk mengangkat senjata dan melawan Viet Cong selama satu setengah jam, berulang kali ia mengekspos dirinya sendiri ke tembakan musuh yang berat sementara dia melakukan yang terbaik berimprovisasi dan membuat tandu dari tanaman di sekitarnya. Amunisi dari waktu ke waktu semakin menipis, Pits terus berpindah-pindah di sekitar medan perang, mempertaruhkan nyawa dan tubuhnya untuk mengumpulkan sisa-sisa amunisi dan mendistribusikannya kepada mereka yang masih bertempur. Masalahnya, ia sendiri sudah menderita tiga luka berbeda dalam melakukan hal ini. Namun, ia mengabaikan luka-lukanya, dan terus berjuang. Dia melakukan yang terbaik untuk mengusir serangan musuh dan merawat yang terluka sampai perimeter pertahanan pasukan Amerika yang tersisa akhirnya ditembus dan Vietcong mulai mengambil korban diantara tentara Amerika dan menggoroki leher tentara AS yang terluka di sepanjang jalan.

Prajurit Amerika dievakuasi dalam Pertempuran Xa Cam Ky, dimana Pitsenbarger menunjukkan kepahlawanannya. (Sumber: http://www.angelfire.com/)
Helikopter Chinook menurunkan pasukan Zeni dan Petugas Medis di pagi hari setelah pertempuran Xa Cam Ky. Di pagi itu mereka menemukan mayat Pitsenbarger. (Sumber: http://www.angelfire.com/)

Fred Navarro, yang terluka parah, mengatakan bahwa Pitsenbarger menyelamatkan hidupnya dengan menutupi tubuhnya dengan dua mayat GI yang mati, melindunginya dari lebih banyak peluru. ‘Kami ditembaki sangat buruk sehingga saya hanya bisa berbaring di tanah untuk berlindung. Pitsenbarger terus memotong kaki celana, kemeja, melepas sepatu bot dan merawat yang terluka. Pada saat yang sama, ia dengan luar biasa melanjutkan untuk membalas tembakan musuh kapan pun ia bisa, “kata Navarro, dari San Antonio, Texas. Pits kemudian tertembak empat kali saat dalam perjalanan untuk merawat orang lain yang terluka, dengan peluru yang keempat menghantam tepat di antara matanya dan membunuhnya seketika. Menurut Sersan. Fred Navarro, yang berada di sebelahnya pada waktu itu, Pitsenbarger tertembak dan gugur sekitar pukul 7:30 malam itu. “Gelap sekali di hutan sehingga kamu tidak bisa melihat tanganmu di depan mukamu,” kata Navarro. Pada pukul 07:00 pagi tanggal 12 April, VC telah meninggalkan medan pertempuran sebelum unit A.S. lainnya datang memberikan bantuan. Pada akhir pertempuran, orang-orang Amerika menderita korban 80 persen di hari yang kelabu itu. Kerugian Amerika berjumlah 36 tewas dan 71 terluka, sementara mengklaim VC menderita kerugian 41 orang mati di medan tempur, lebih dari 80 orang tewas dan terluka yang berhasil dievakuasi dari medan tempur saat mundur. Hari berikutnya, tentara Amerika menemukan mayat Pitsenbarger. Satu tangan Pits masih memegang senapan M16-nya dan yang lain memegangi peralatan medisnya. Dia saat itu baru berusia 21 tahun saat gugur dalam tugas. Dia secara anumerta kemudian dianugerahi medali Air Force Cross. Namun saksi mata seperti Navarro dan Salem tahu bahwa Medal of Honor adalah penghargaan yang lebih tepat diberikan untuk aksi kepahlawanan Pitsenbrier.

34 tahun menunggu

Atas testimoni seperti yang mereka sampaikan, pada akhirnya 34 tahun kemudian, medali Air Force Cross Pitsenbarger ditingkatkan menjadi Medal of Honor. Pada tanggal 8 Desember 2000, orang tuanya menerima medali atas nama putra mereka. Ayahnya, William Pitsenbarger Sr., saat itu sudah berusia 80-an, akan menghadiri upacara di Pangkalan Angkatan Udara Wright-Patterson, Ohio, untuk menerima penghargaan atas nama putranya. Atas tindakan heroiknya pada tahun 1966, yang ini kemudian berarti bahwa Pitsenbarger menjadi tamtama pertama Amerika yang mendapatkan Medali Medal Of Honor dari Angkatan Udara. Heroisme dari Pitsenbarger ini kemudian menginspirasi sebuah film berjudul “The Last Full Measure,” dibintangi oleh Samuel L. Jackson, Peter Fonda, William Hurt, Diane Ladd, Alison Sudol dan Christopher Plummer, dan Jeremy Irvine akan memerankan Pits sendiri.

Poster Film The Last Full Measure (Sumber: https://1st-seek.com/)

Penulis dan sutradara film ini Todd Robinson pertama kali belajar tentang kisah kepahlawanan anggota jumper pararescue (PJ) saat melakukan penelitian untuk film lain pada tahun 1999. Robinson mengunjungi sekolah-sekolah pelatihan Angkatan Udara untuk mempelajari bagaimana PJs dilatih, dan ia terus mendengar satu nama yang terus dikumandangkan untuk mengekspresikan etos kerja satuan khusus ini. “Hampir di setiap tempat saya pergi, para kadet muda PJ ingin memastikan bahwa saya mengetahui kisah William Pitsenbarger,” kata Robinson kepada Air Force Magazine. Kisah itu menggelitik rasa penasaran Robinson, dan bukan cuma karena Pitsenbarger tanpa pamrih menempatkan dan mengorbankan dirinya dalam bahaya. Dia tertarik dengan kisah yang mengikutinya, ketika istri para prajurit yang bertempur dalam pertempuran kelabu itu mengetahui bahwa Pitsenbarger hanya mendapatkan medali Salib Angkatan Udara atas kepahlawanannya, dan bukan Medali Medal Of Honor. Setelah pasangan mereka membantu para para prajurit itu saling berhubungan kembali, mereka “mengajukan upaya ini untuk mengajukan petisi kepada Kongres untuk mempertimbangkannya kembali kemungkinan pemberian Medal Of Honor,” menurut Robinson.

Trailer Film The Last Full Measure (2020)

Robinson dan Produser Sidney Sherman mengajukan gagasan pembuatan film ini ke lebih dari 50 perusahaan produksi. Namun tidak ada sedikit pun yang menerimanya. “Dan kemudian, kami saling memandang, dan aku berkata, ‘Kamu tahu, aku masih percaya ini,'” kata Robinson. “Aku akan tetap menulisnya.” Setelah menyelesaikan skrip, keduanya memasarkan film nya untuk yang kedua kalinya, dan New Line Cinema menerima tawaran mereka. Tapi tidak lama kemudian, New Line dijual ke Warner Bros, dan proyek itu ditangguhkan. Robinson dan Sherman kembali tanpa dukungan. Selama dekade berikutnya, mereka akhirnya memperoleh pendanaan dan memulai produksi pada tahun 2017, syuting dilakukan di AS, Kosta Rika, dan Thailand. Film berjudul “The Last Full Measure,” ini dijadwalkan untuk rilis 19 Oktober 2019 oleh anak perusahaan Lionsgate Roadside Attractions dah ditayangkan 24 Januari 2020 di Amerika Serikat. “The Last Full Measure” juga merupakan film terakhir Peter Fonda, yang memerankan Jimmy Burr, sebelum ia meninggal pada bulan Agustus 2019. Julian Adams, salah satu produser film ini juga mencatat bahwa walau Fonda dulu menentang Perang Vietnam (sama seperti kakak perempuannya, aktris Jane Fonda), dia “menangis saat menyelami kisah film ini” dan mengatakan kepada Adams bahwa dia “sangat bangga” menjadi bagian dari film ini.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Valor: William H. Pitsenbarger By Doug Sterner (Doug Sterner, an Army veteran who served two tours in Vietnam, is curator of the Military Times Hall of Valor, the largest database of U.S. military valor awards.)

Vietnam War Hero the Focus of a New Motion Picture by Jeremy Lions, 19 Juli 2018

https://m.warhistoryonline.com/war-articles/war-hero-motion-picture.html

Valor Friday: Pararescue airman received Medal of Honor for saving soldiers, refusing to leave firefight by J.D. Simkins; July 6, 2018

https://www.militarytimes.com/news/your-army/2018/07/06/valor-friday-airman-posthumously-awarded-medal-of-honor/

Pitsenbarger on the Big Screen By Jennifer-Leigh Oprihory; Sept. 1, 2019

This airman gave his life to rescue soldiers from a massive firefight by Logan Nye; Jan. 09, 2020 12:50PM EST

https://www.wearethemighty.com/history/last-full-measure-william-pitsenbarger

Airman 1st Class William H. Pitsenbarger: Profile by Bethanne Kelly Patrick

https://www.google.com/amp/s/www.military.com/history/airman-1st-class-william-h-pitsenbarger-profile.html/amp

Medali Kehormatan Pahlawan Perang Vietnam yang Dipertanyakan Oleh: Randy Wirayudha

https://www.google.com/amp/s/historia.id/amp/militer/articles/medali-kehormatan-pahlawan-perang-vietnam-yang-dipertanyakan-P9doq

‘The Last Full Measure’ immortalizes Pitsenbarger story by Sam Wildow – Miami Valley Sunday News

https://www.tdn-net.com/features/entertainment/70602/the-last-full-measure-immortalizes-pitsenbarger-story

William H. Pitsenbarger: Bravest Among the Brave Vietnam War Veteran by Lacy Dean McCrary and originally published in the June 2002 issue of Vietnam Magazine.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/William_H._Pitsenbarger

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Xa_Cam_My

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *