Timur Tengah Bergolak, Amerika-Inggris Melakukan Intervensi dalam Krisis Di Lebanon dan Yordania Tahun 1958

Ketegangan di Timur Tengah mulai meningkat pada tahun 1957, ketika Suriah seolah-olah mendekat ke Soviet. Sementara itu, dengan bertindak atas komitmennya yang meningkat baru-baru ini ke wilayah tersebut, dan untuk melindungi negara tetangga Suriah, yakni Turki, Irak, dan Yordania, Presiden Eisenhower menyetujui pengerahan pesawat-pesawat tempur USAF dari Jerman ke Adana, Turki. Krisis dengan cepat mereda, tetapi hal ini belum berakhir. Umat Muslim di Lebanon memberontak karena ketakutan bahwa keseimbangan yang rapuh antara masyarakat Kristen dan Islam dalam pemerintahan Lebanon terancam. Menambah ketegangan regional, perwira dari kelompok kiri di Irak membunuh raja dan Perdana Menteri mereka pada tanggal 14 Juli 1958. Merasa terancam, hal ini mendorong Presiden Lebanon dan Raja Yordania untuk meminta bantuan militer dari AS. Lewat Operasi yang dinamai dengan Operasi Blue Bat, Amerika mengirimkan Marinirnya ke Lebanon beserta dukungan kuat dari armada kapal induknya di Laut Mediterania. Ketegangan kemudian berakhir dan pasukan Amerika ditarik mundur. Bagi Marinir Amerika, mereka baru akan menginjakkan kaki di Lebanon 25 tahun kemudian.

Krisis yang melanda kawasan Timur Tengah mendorong intervensi dari pihak Amerika dan Inggris untuk mengamankan sekutu mereka di kawasan, yakni Lebanon dan Yordania. Tampak pada gambar, Marinir Amerika, selama Operasi Blue Bat, melewati jalanan Beirut dengan Kendaraan Pendarat Amfibi LVTP-5, Lebanon, 19 Juli 1958 (Sumber: Photo by Daily Express/Getty Images/https://www.gettyimages.com/)

LATAR BELAKANG

Krisis Suez pada tahun 1956, serta meningkatnya pengaruh Soviet di negara-negara yang sebelumnya berada di bawah kendali Inggris atau Prancis mengakibatkan meningkatnya keterlibatan AS yang lebih signifikan di Timur Tengah. Hingga akhir dekade 1950-an, bagian dunia ini tidak termasuk dalam medan perang Perang Dingin, namun hal ini akan berubah di tahun-tahun berikutnya. Faktanya, administrasi pemerintahan AS dan Kongres dengan cepat mengenali tanda-tanda waktu, dan pada bulan Maret 1957 lewat dokumen tentang apa yang disebut sebagai “Doktrin Eisenhower” disiapkan dan dirilis, yang menurutnya AS akan menawarkan bantuan, serta dukungan militer kepada sekutunya di wilayah tersebut. Namun, negara-negara dan bangsa-bangsa di tempat itu secara umum hampir tidak tertarik untuk berpartisipasi dalam Perang Dingin, dan lebih tepatnya mereka lebih sibuk dalam masalah mereka sendiri: jika ada kesamaan dalam kepentingan dan politik antara mereka dan Uni Soviet – atau antara mereka dan AS, dalam hal ini – maka ini lebih karena faktor kebetulan daripada yang lainnya. Mesir adalah contoh sempurna untuk situasi seperti itu: negara itu jelas bukan komunis, dan bahkan upaya Presiden Nasser untuk memperkenalkan sistem sosialis gagal total, merusak sebagian besar ekonomi di dalam negeri. Namun demikian, karena tidak ada satupun kekuatan Barat yang siap memasoknya dengan senjata yang dianggap Kairo diperlukan untuk perjuangan melawan Israel, Nasser terpaksa bekerja sama dengan Soviet pada saat itu. 

Tentara Inggris dalam krisis Suez tahun 1956. Meski secara militer sukses dalam konflik itu, namun koalisi Inggris-Prancis dalam menekan Mesir gagal total. (Sumber: https://www.lookandlearn.com/)

Moskow kemudian menggabungkan tawaran pengiriman senjata dan amunisi murah dengan pengaruh politik, sehingga efek spesifik dari hal ini tidak dapat dihindari. Sementara itu, tentu saja pengaruh sebuah negara komunis di Mesir adalah sesuatu yang secara langsung berlawanan dengan rezim royalis di Yordania, Irak, dan Arab Saudi. Terlebih lagi, gelombang pan-Arabisme yang berkembang setelah Nasser mampu bertahan selama Krisis Suez, pada tahun 1956, adalah sesuatu yang tidak satupun dari tiga keluarga kerajaan negara-negara Arab itu atau negara-negara “Superpower”, katakanlah Inggris, Prancis dan Amerika dapat mentolerir. Hal itu jelas memicu munculnya gerakan nasionalis di negara-negara Arab lainnya, yang kesemuanya dengan keras menentang kekuasaan pro-Barat yang berkuasa. Dalam kebanyakan kasus, kekuatan Barat tidak dapat bereaksi dalam menanggapi pemberontakan yang dimotivasi oleh ide-ide pan-Arab, sementara dalam dua kasus lainnya yang akan dibahas disini, justru sebaliknya.

Setelah Krisis Suez tahun 1956, pamor Presiden Mesir Gamal semakin menanjak dan menjadi tokoh yang getol mengkampanyekan konsep Pan Arabisme yang ingin membangkitkan nasionalisme Bangsa Arab. Hal ini dipandang sebagai ancaman bagi Keluarga-Keluarga Kerajaan di Timur Tengah, seperti Yordania, Arab Saudi, dan Irak, selain bagi negara-negara kolonialis Barat yang masih ingin menanamkan pengaruhnya di kawasan itu. (Sumber: https://egyptianstreets.com/)

Meski kalah pada tahun 1956 saat krisis Suez, namun setelah itu posisi Nasser segera jauh lebih kuat dari sebelumnya. Mulai pada tanggal 21 November 1956, Soviet mulai mengirimkan pesawat tempur MiG-15 baru ke Mesir. Pada bulan Maret tahun 1957, menyusul tambahan 50 MiG-17 dikirim dengan beberapa kapal Rumania, dan pada bulan April Angkatan Udara Mesir sudah menjadi dua kali lebih besar dari saat sebelum Krisis Suez. Angkatan Laut Mesir juga segera diperkuat oleh dua kapal selam kelas Whiskey. Dipengaruhi oleh agresi Anglo-Perancis terhadap Mesir, pada tanggal 15 November 1956 beberapa negara Arab menandatangani pakta pertahanan dengan Kairo. Tak lama kemudian bahkan Raja Yordania yang pro-Barat meminta pasukan Inggris untuk meninggalkan negaranya pada tanggal 14 Februari 1957 lewat sebuah perjanjian yang ditandatangani antara Amman dan London, yang menurutnya kontingen pasukan Inggris terakhir harus meninggalkan negara itu dalam waktu enam bulan. 

Pesawat MiG-17 Mesir bermanuver melawan pesawat Super Mystere Israel. Setelah Krisis Suez berakhir, AU Mesir yang praktis dihancurkan kekuatan udara Inggris-Prancis, segera dibangun kembali dengan bantuan Uni Soviet. Puluhan Pesawat tempur MiG-15 dan MiG-17 dikirimkan ke Mesir oleh Soviet, yang membuat kekuatan udara Mesir melonjak jadi dua kali lipat. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Selain Pesawat tempur, Soviet juga mensuplai AL Mesir dengan kapal selam kelas Whiskey. (Sumber: https://www.quora.com/)
Tidak hanya Mesir, Soviet juga mensuplai MiG-17 bagi AU Syria. Tampak pada gambar MiG-17 AU Syria yang dirampas Israel. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pengaruh Mesir dan Soviet segera tampak kuat di Suriah juga. Bersamaan dengan dengan pengiriman besar pesawat-pesawat tempur MiG-17 berikutnya untuk Angkatan Udara Suriah, pada bulan Januari 1957, pengaruh ini diperkuat dengan kunjungan beberapa kapal perang Soviet – dipimpin oleh kapal penjelajah Zhdanov – di pelabuhan al-Ladhiqiyah. Pada akhir tahun Mesir dan Suriah mencapai kesepakatan untuk membentuk Republik Arab Bersatu: sejak saat itu Angkatan Udara Mesir dan Suriah dikenal sebagai Angkatan Udara Republik Arab Bersatu (UARAF). Pada bulan Mei dan Juni 1958 kerusuhan menyebar di Lebanon, sebuah negara yang merdeka dari Prancis pada tahun 1946, dan situasinya segera berubah menjadi perang saudara. Hampir secara bersamaan Raja Hussein dari Yordania harus mengerahkan Pasukannya untuk memadamkan pemberontakan di negaranya. Akhirnya, pada tanggal 14 Juli terjadi kudeta berdarah di Irak, yang dipicu oleh pihak militer yang dipimpin oleh Jenderal Kassem, yang menggulingkan Raja Feisal II dan pemerintahan Perdana Menteri Nuri yang pro-Barat hampir sebelum berita itu sampai di London dan Washington. Baik Putra Mahkota maupun Perdana Menteri Irak dibunuh dan mayatnya dimutilasi untuk kemudian diarak dan dipertontonkan di jalanan Baghdad.

Kudeta di Iraq oleh golongan Pro Nasser, 14 Juli 1958 semakin menambah ketegangan di kawasan, terutama tekanan meningkat bagi pemerintahan Lebanon dan Monarki di Yordania. (Sumber: http://www.rarenewspapers.com/)
Raja Faisal dari Iraq (Kiri) bersama Raja Hussein dari Yordania (Kanan) pada tahun 1957. Keduanya berasal dari dinasti yang sama, yakni Hashemit. (Sumber: https://www.brookings.edu/)

INTERVENSI PERTAMA ARMADA KE-6

Pada awal tahun 1958, muncul protes pertama terhadap politik pro-Barat dari Presiden Kristen-Maronit Camille Chamoun. Awalnya, kaum Muslim di Tripoli memberontak terhadap pernyataan anti-Mesirnya selama Krisis Suez, tetapi seiring dengan waktu kerusuhan menyebar ke Sidon, Beirut, dan kemudian Balbek, dan segera pasukan Suriah melintasi perbatasan dalam upaya untuk mendukung pemberontakan. Presiden Chamoun lalu memobilisasi Tentara Lebanon dan pada bulan Juni terjadi pertempuran sengit di sekitar Tripoli dan Beirut. Presiden Chamoun, yang saat itu sedang mendekati akhir masa jabatan enam tahun nya yang tidak dapat diperbarui, sedang mendapat kecaman dari lawan-lawannya karena diduga memanipulasi pemilihan parlemen pada bulan Juni 1957 untuk menjamin badan legislatif akan mengubah konstitusi untuk memungkinkannya dipilih kembali. Hasil jajak pendapat, yang sangat menguntungkan Chamoun, memicu kerusuhan dan memperkuat perselisihan antara pendukung dan penentang presiden. Meskipun kedua kubu memiliki pemimpin dari afiliasi agama yang berbeda, banyak orang Kristen Lebanon berdiri di samping presiden sementara sebagian besar Muslim menginginkan dia mundur.

Camille Chamoun, Presiden asal faksi Kristen Maronit sedang dalam tekanan di dalam negeri dan di luar negeri setelah krisis Suez tahun 1956 dan kudeta di Iraq, Juli 1958. (Sumber: https://id.wikipedia.org/)
Tentara Lebanon (kiri) dan pejuang Druze yang pro pemerintah (kanan) saling menembak dengan pemberontak anti-pemerintah di Pegunungan Chouf tenggara Beirut. (Sumber:Koleksi Norbert Schiller, Foto AP/http://www.photorientalist.org/)
Pemberontak Bersenjata, salah satunya seorang wanita, berjongkok di belakang barikade di pertahanan pemberontak di Tripoli. (Sumber: Koleksi Norbert Schiller, Phot. NAIK/http://www.photorientalist.org/)

Pimpinan oposisi paling vokal yang kemudian muncul sebagai pemimpin pemberontakan adalah Saeb Salam, seorang Sunni Beirut, Kamal Jumblat, seorang Druze dari Pegunungan Chouf, dan Rashid Karami, seorang Sunni dari Tripoli. Sementara itu dalam Konteks regional dan internasional, situasi ini adalah persaingan antara Pakta Baghdad yang pro-Barat dan gerakan pan-Arab yang dipimpin oleh Mesir dan didukung oleh Uni Soviet. Chamoun menolak untuk memutuskan hubungan dengan Inggris dan Prancis setelah Perang Suez tahun 1956 ketika dua bekas kekuatan kolonial itu memihak Israel untuk melawan Mesir. Selanjutnya, dia mendukung Pakta Baghdad karena merasakan tekanan dari persatuan Mesir dengan Suriah yang kemudian dikenal sebagai Republik Arab Bersatu. Kedua langkah ini membuat marah lawan-lawannya yang melihat mereka sebagai sebuah tusukan bagi identitas Arab Lebanon. Keadaan memuncak setelah terjadi kudeta di Irak, dan kemudian Chamoun meminta bantuan dari AS. Bertentangan dengan Inggris dan Prancis selama Krisis Suez, AS terbukti mampu memberikan reaksi yang cepat. Sejak 1946, mereka telah memiliki formasi khusus Angkatan Laut AS yang dikerahkan di Laut Mediterania dengan tujuan tunggal untuk menampilkan dan membela kepentingan AS di kawasan itu. 

Lewat Doktrin Eisenhower, Armada Kapal Induk dari US 6tf Fleet menjadi kekuatan militer asing yang paling siap sedia di kawasan Timur Tengah dan Mediterania pada saat muncul Krisis di Lebanon dan Yordania. (Sumber: https://www.youtube.com/)

Formasi ini, dinamai Armada ke-6, yang biasanya terdiri dari setidaknya dua kelompok tempur kapal induk dan tiga formasi amfibi, setidaknya satu di antaranya hampir secara permanen berlayar di suatu tempat antara Siprus, Yunani, dan Malta. Dengan demikian, Armada ke-6 adalah sarana yang sempurna untuk melakukan intervensi militer. Dalam kasus ini, mereka diperintahkan untuk memindahkan semua pasukan yang tersedia menuju Lebanon secepat mungkin, dan kemudian membantu mengevakuasi sekitar 2.500 warga AS dari Lebanon, sebelum membantu memulihkan perdamaian dan keamanan di negara itu. Operasi yang kemudian dilakukan ini dinamai sebagai “Operai Blue Bat”. Tujuan dari Operasi Blue Bat di Lebanon adalah untuk mendukung pemerintah Lebanon yang pro-Barat pimpinan Presiden Chamoun melawan oposisi internal dan ancaman dari Suriah dan Republik Bersatu Arab. Rencananya adalah pasukan Amerika akan menduduki dan mengamankan Bandara Internasional Beirut, beberapa mil di selatan kota, kemudian mengamankan pelabuhan Beirut dan jalan  yang menuju ke kota. Hampir 27 jam setelah permintaan bantuan dari Beirut, pada 15 Juli 1958 sekitar pukul 17.00, formasi yang pertama dari 1.700 Marinir dari Resimen Marinir ke-2 Batalyon ke-2 telah masuk ke daratan sekitar delapan kilometer selatan Beirut, sekitar 2 jam setelah mendarat. Hanya dalam satu jam setelah mendarat di Red Beach, tepat di utara kota Khaldeh dan setengah kilometer dari Bandara Internasional Beirut, IAP/Bandara Beirut sudah berada di bawah kendali mereka, sementara pesawat-pesawat tempur FJ3 dan F2H dari Essex memberikan perlindungan udara di wilayah udara di atas ibu kota Lebanon.

Marinir Amerika mendarat di Red Beach, 15 Juli 1958 tepat di utara kota Khaldeh dan setengah kilometer dari Bandara Internasional Beirut. Terlihat perlengkapan yang digunakan Marinir Amerika mayoritas masih menggunakan seragam dan persenjataan era Perang Dunia II dan Perang Korea, seperti senapan semi otomatis M1 Garand (kiri) dan senapan mesin medium Browning M1919. (Sumber: https://www.stripes.com/)
Penduduk sipil Lebanon terheran-heran menyaksikan pendaratan Marinir Amerika. (Sumber: https://www.stripes.com/)
Posisi penempatan pasukan Amerika dalam Operasi Blue Bat dibatasi pada wilayah sekitar kota Beirut dan Bandara Internasionalnya. (Sumber: https://gruntsandco.com/)

Beberapa kapal perusak Armada ke-6 juga ditempatkan di lepas pantai untuk bertindak sebagai kapal pendukung tembakan artileri – jika diperlukan. Dalam dua hari berikutnya Armada ke-6 telah memusatkan tidak kurang dari 70 kapal perang di lepas pantai Lebanon, termasuk kapal induk USS Essex (CV-9) dan USS Saratoga (CV-60). Pada saat Marinir Amerika mendarat medan yang mereka temui bukanlah medan perang. Orang Lebanon dan asing sedang berjemur – beberapa dengan bikini, sebuah inovasi pakaian renang wanita tahun 1950-an – bergegas untuk berlindung. Penjual asongan Lebanon dengan cepat muncul mendorong gerobak yang menjual rokok, minuman dingin cola, dan sandwich untuk tentara Amerika. Puluhan remaja laki-laki Lebanon segera datang terheran-heran, sebagian ingin membantu Marinir menyiapkan peralatan mereka. Gambaran kehidupan normal di tengah kekacauan ini, kemudian akan menjadi ciri dari Lebanon, bahkan selama hari-hari paling suram dari perang saudara yang akan meletus hampir dua dekade kemudian. Ketika Marinir melakukan pendaratan di Khaldeh, komandan mereka menyadari risiko yang mereka hadapi. Pemberontak, yang merupakan pasukan bersenjata ringan berkekuatan 10.000 orang yang terpecah menjadi beberapa faksi, merupakan ancaman yang tidak berbahaya, sedangkan bahaya yang lebih signifikan datang dari Tentara Pertama Suriah yang terdiri dari 40.000 prajurit yang dilengkapi dengan tank Soviet. Namun, ternyata, Suriah tetap berada di luar konflik kecuali untuk memfasilitasi transfer senjata ke pihak pemberontak. Itu adalah operasi tempur pertama Amerika di Timur Tengah. Pasukan Amerika memang telah berada di Timur Tengah sejak Perang Dunia II, tetapi tidak dalam pertempuran. Amerika juga telah membangun pangkalan udara di Arab Saudi, misalnya, tetapi sampai saat itu tidak pernah digunakan untuk berperang.

Konvoi yang terdiri dari truk kargo, LVTP-5 dan M35 USMC, memasuki jalanan Kota Beirut. (Sumber: https://milinme.wordpress.com/)
Setelah mendarat di pantai Khaldeh, Marinir segera mengamankan bandara agar arus transportasi dan pesawat militer lainnya bisa mendarat di sana. (Sumber: Foto. (Kiri) Chuck Smilie, (Kanan) Koleksi Norbert Schiller, Foto AP/http://www.photorientalist.org/)

RESPON MENDESAK 

USS Essex berlabuh di pelabuhan Piraeus, Yunani, sejak beberapa hari, dengan sebagian besar awaknya sedang cuti ketika ada perintah untuk bergerak. Kapal itu memiliki pesawat-pesawat dari satuan ATG.201, yang termasuk diantaranya adalah pesawat tempur F2H Banshees dari skuadron VF-11 dan FJ-3M Furie dari VF-62, serta skuadron VA-83 dengan pesawat serang A4D-2 Skyhawk, VA-105 dengan pesawat serang berpropeler AD-6 Skyraider, dan pembom AJ-2 Savage VAH-7. Sekitar pukul 04:00 pada tanggal 15 Juli 1958, awak kapal dibangunkan oleh suara-suara saat crew menarik jangkar dan segera berangkat. Ini terjadi begitu tiba-tiba, sehingga banyak perwira dan orang yang cuti tidak memiliki kesempatan untuk kembali ke kapal. Oleh karena itu, ketika USS Essex meninggalkan pelabuhan, helikopter kapal menjemput dan membawa mereka ke kapal. Operasi ini berlangsung sedapat mungkin dengan personel yang ada; namun, pada akhirnya 27 perwira dan 81 tamtama tertinggal di Yunani. Segera setelah semuanya beres, ada pertemuan dari perwira kunci ATG.201 dan crew kapal. Mereka diberitahu bahwa USS Essex telah ditugaskan untuk memberikan perlindungan pesawat tempur kepada pasukan penyerang marinir yang dijadwalkan untuk mendarat di Beirut sore itu. Pesawat yang logis untuk tugas ini adalah pesawat FJ Furie dari VF-62 dan F2H dari VF-11. Ray Kolakowski, CO dari VF-62 “The Boomerangs”, kemudian, mengenang: 

Pesawat tempur tipe FJ-3M Furie, memberikan perlindungan udara armada kapal induk USS Essex dalam Operasi Blue Bat, 1958. (Sumber: https://www.wallpaperup.com/)
Jika diperlukan, kapal induk USS Essex (CV-9) dapat menerbangkan juga pembom North American AJ-2 Savage untuk menyerang posisi-posisi lawan yang membahayakan keberadaan Marinir Amerika di sekitar Beirut. (Sumber: https://www.amazon.com/)

“Komandan skuadron kedua unit disuruh mempersiapkan dua divisi untuk menjalankan misi yang ditugaskan. Kami terlalu jauh untuk dapat melakukan ini tanpa mengisi bahan bakar. Kami diberi tahu bahwa Washington telah mengatur pengisian bahan bakar kami di Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris di Akrotiri, Siprus. Dari sana kami akan memiliki bahan bakar yang cukup untuk melanjutkan perjalanan ke Lebanon, untuk memberikan perlindungan udara bagi tim pendarat, kembali ke Siprus untuk mengisi bahan bakar dan kembali ke Essex. Jadwal kami sudah diatur sehingga kami akan tiba di Beirut pada waktu yang ditentukan. Penerbangan dari Essex ke Siprus berlangsung lancar dan segera setelah saya mendarat saya diminta untuk menemui dan dibawa ke kantor Komandan Markas. Dia mengatakan dia terkejut melihat pesawat Angkatan Laut AS mendarat di lapangan udaranya  dan dalam situasi itu, dia tidak tahu apakah dia harus menyambut kami atau menahan kami.

Karena misi mendadak, beberapa pesawat dari USS Essex harus melakukan pengisian bahan bakar di Pangkalan RAF Akrotiri, Siprus. (Sumber: https://legacy.lib.utexas.edu/)

Saya memberi tahu dia apa yang saya ketahui tentang situasinya – briefing yang diberitahukan kepada kami bahwa Washington telah melakukan negosiasi terlebih dulu- dan dia akhirnya setuju untuk mengisi bahan bakar kami, dan memberikan tenaga untuk memampukan pesawat kami lepas landas. Kami sedikit terlambat dari jadwal ketika kami lepas landas, tetapi kami berhasil mengatasinya dan berada dalam posisi patroli udara tempur kami ketika Marinir mendarat. Dari sudut pandang kami, ini adalah misi yang lancar. Kami berada di sana untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada pesawat yang musuh yang memilih untuk ikut campur dalam pendaratan Marinir. Tujuan sekundernya adalah “menunjukkan bendera”. Presiden Lebanon telah mendapat dukungan AS, dan pesawat kami dapat segera dilihat oleh lebih banyak orang daripada yang bisa melihat pendaratan. Kami terus menerbangkan penerbangan rutin setiap hari ke Lebanon sampai misi kami dihentikan, pada bulan Agustus 1958. Tidak menyadari masalah politik seputar keseluruhan operasi tersebut, para penerbang dari USS Essex sebenarnya menambah wilayah operasional mereka selama hari-hari berikutnya, sebagai sebuah demonstrasi kekuatan, seperti yang diingat oleh Ray Kolakowski: “Di atas kapal induk, saya tidak mengetahui rahasia dalam masalah politik yang mungkin ada. Saya ingat bahwa pada hari kedua atau ketiga di Lebanon, saya diarahkan untuk menerbangkan seluruh skuadron saya ke tengah Laut Mati, dari utara ke selatan pada ketinggian rendah. Saya pikir kami terbang pada 500 kaki …”

PARTISIPASI USS SARATOGA

Kapal induk Angkatan Laut AS lainnya yang dikirim ke Lebanon adalah USS Saratoga, sebuah kapal baru – dan satu-satunya “supercarrier” kedua yang pernah ada (setelah USS Forrestal). Pada pagi hari tanggal 15 Juli 1958, kapal itu berada di Mediterania Barat: terlalu jauh untuk melindungi pendaratan di Lebanon. Karenanya kapal induk Essex harus bekerja sendiri. Namun demikian, untuk alasan yang sangat tidak jelas USS Saratoga menarik banyak perhatian publik saat itu. Berkat sebuah artikel di majalah Newsweek, tampak bahwa USS Saratoga ditulis melindungi pendaratan, sementara Essex, “datang dengan bala bantuan”. Bertolak belakang dari berita itu, yang sebenarnya terjadi, Newsweek kemudian memberitakan. Pada saat itu USS Saratoga membawa pesawat-pesawat tempur F8U-1 Crusaders dari skuadron VF-32 – unit pertama yang dilengkapi dengan tipe ini – dan pesawat-pesawat tempur F3H-2N Demon dari skuadron VF-31. Kedua unit ini dioperasikan sebagai bagian dari Carrier Air Group 3 (CAG-3), yang juga terdiri dari skuadron VA-34 (dengan A4D-1 Skyhawks), VA-35 (dengan AD-6 Skyraider) VAH-9 (dengan A3D-2), dan VFP-61 (dengan F9F-6P Panther). Konsisten dengan tugas SIOP mereka (SIOP = Single Interservice Operational Plan; rencana untuk perang nuklir melawan Uni Soviet), kedua kapal induk secara permanen mempertahankan beberapa pesawat A4D Skyhawk dari skuadron VA-34 dan VA-84 yang dipersenjatai dengan bom nuklir – dan siap untuk terbang dalam waktu singkat. Namun demikian, mereka sekarang harus mempersiapkan sejumlah besar pesawat tempur dan pembom tempur untuk melakukan patroli udara tempur di atas Lebanon, untuk memastikan bahwa tidak ada kekuatan asing yang dapat campur tangan. Meskipun telah memiliki sekitar 160 pesawat tempur, kedua kapal induk tersebut masih diperkuat oleh pesawat tambahan. Lebih banyak pesawat F8U Crusader, misalnya, dikirim dari Pantai Timur AS ke USS Saratoga, terbang melalui Azores ke Lyautey, di Maroko, dan kemudian langsung ke kapal induk. Sebagai unit yang dilengkapi dengan pesawat tipe baru, VF-32 mampu beroperasi dengan sangat sukses: dalam 23 hari operasi di lepas pantai Lebanon, pilot-pilotnya mengumpulkan 1295 jam terbang tanpa satu kecelakaan pun. Tak lama kemudian, unit-unit udara angkatan laut dari Armada ke-6 yang terbang dari pantai Lebanon tidak hanya mampu membangun kendali atas perbatasan Lebanon (ada beberapa kekhawatiran bahwa Israel mungkin akan mencoba menyerang Lebanon selatan), tetapi juga membangun superioritas udara penuh atas Lebanon. Tidak ada militer lain di seluruh Timur Tengah yang dapat bersaing dengan daya tembak mereka pada saat itu. 

Selain mengirimkan kapal induk USS Essex (CV-9), AL Amerika mengerahkan juga kapal induk terbarunya dari Kelas Forrestal, USS Saratoga (CV-60) di Lebanon. (Sumber: http://www.seaforces.org/)
Diatas kapal induk USS Saratoga, armada udara AL AS dilengkapi dengan pesawat-pesawat tempur McDonnell F3H-2N Demon. (Sumber: http://www.hobbyboss.com/)
Krisis di Lebanon tahun 1958, juga menjadi “debut” bagi karir tempur pesawat tempur Vought F8U-1 Crusaders, yang nantinya akan menjadi penempur tangguh dalam Perang Vietnam 1 dekade kemudian. Pada saat Krisis Lebanon, Crusader terbang dari Kapal Induk USS Saratoga. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pada tanggal 16 Juli, Batalyon ke-3 dari Brigade Marinir ke-6 dikerahkan ke Beirut IAP dengan pesawat angkut C-124 MATS, yang nantinya diikuti oleh 1.720 pasukan terjun payung dari Brigade Lintas Udara ke-24 Angkatan Darat AS, yang dibawa dengan pesawat angkut C-130 dari Divisi Udara ke-322 dari Jerman ( Menariknya, pada saat itu tidak ada masalah diplomatik besar atas penerbangan pesawat-pesawat Amerika melintasi berbagai negara di Eropa, bahkan di udara Austria yang netral, yang dilanggar oleh pesawat-pesawat USAF). Pendaratan terakhir terjadi pada tanggal 18 Juli ketika Batalyon 1 dari Brigade Marinir ke-8 tiba langsung di Beirut. Dua hari kemudian Angkatan Darat AS telah memiliki 8.000 tentara dan USMC sekitar 6.000 Marinir di wilayah seluas sekitar lebar 20 kilometer dan dalamnya 16 kilometer di dalam dan di sekitar ibukota Lebanon. Partisipasi Angkatan Darat dalam operasi ini dilakukan oleh USAREUR (US Army Europe) di bawah revisi Rencana Darurat (EP) 201 bulan Februari 1958. Rencana tersebut meminta dibuatnya satu satuan tugas (Satuan Tugas Angkatan Darat 201) untuk menangani keadaan darurat di Timur Tengah. Gugus tugas ini terdiri dari dua kelompok satuan Airborne yang diperkuat dengan elemen pendukung tempur. Satgas tersebut akan terdiri dari lima eselon, empat di antaranya benar-benar dikirimkan untuk operasi di Lebanon. Sementara pasukan Angkatan Darat dan Marinir diperintahkan ke Lebanon pada 15 Juli, namun hanya unit Marinir yang melakukan pendaratan. Pasukan dari USAREUR tidak hadir di Beirut sampai tanggal 19 Juli. Pada tanggal ini, Satuan ALPHA, yang terdiri dari 1 satuan Airborne yang diperkuat dan kelompok komando satuan tugas (total terdiri dari 1.729 personel) tiba di Beirut melalui udara. Karena pertempuran tidak terjadi di Lebanon, Satuan BRAVO, kelompok Airborne kedua dan markas besar satuan tugasnya (total berjumlah 1.723 personel) tidak pernah meninggalkan posisinya di Jerman.

Pesawat angkut C-124 Globemaster II di Bandara Beirut. Armada Pesawat Angkut Berat turut mendukung deployment pasukan Marinir dan AD AS ke Lebanon dalam Operasi Blue Bat. (Sumber: https://gruntsandco.com/)
Pasukan Payung Amerika di Beirut, 1958. (Sumber: https://gruntsandco.com/)

Sementara itu Satuan CHARLIE, yang berisi unit tempur, dukungan tempur, dan layanan tempur, meninggalkan Jerman melalui laut dan udara pada tanggal 19 Juli dan semuanya sampai di Beirut pada tanggal 25 Juli. Menurut EP 201, Satuan CHARLIE berisi satuan markas, gugus tugas artileri (2 baterai howitzer airborne kaliber 105 mm), 1 seksi baterai roket 762 mm (M31 Honest Jhon?) dan elemen markas – pasukan pengintai Airborne, kompi zeni konstruksi, pasukan komando pendukung gugus tugas, unit rumah sakit, elemen grup pendukung Airborne, dan detasemen Keamanan Angkatan Darat. Atas pertimbangan politik kemudian baterai roket 762 mm tidak jadi dibawa ke Lebanon. Satuan DELTA, yang terdiri dari  dari Grup Tempur Airborne, termasuk 2 kompi truk ringan, bagian dari satuan baterai roket 762 mm, batalion zeni konstruksi, baterai artileri antipesawat (AW), unit pendukung layanan teknis, dan unit polisi militer berangkat lewat laut. Eselon ini meninggalkan Jerman pada tanggal 26 Juli dan mencapai Beirut dari tanggal 3 hingga 5 Agustus. Sementara itu Satuan ECHO, yang terdiri dari Batalyon tank bersenjata meriam kaliber 90 mm, akan bergerak melalui laut. Embarkasinya sempat ditunda di Bremerhaven sambil menunggu keputusan apakah akan mengirim satu kompi tank atau seluruh batalion. Mereka Meninggalkan Jerman pada tanggal 22-23 Juli, dan eselon ini tiba di Beirut pada tanggal 3 Agustus 1958.

Pasukan Airborne Amerika dan Tentara Lebanon berpatroli di Beirut, 1958. (Sumber: https://gruntsandco.com/)

Marinir kemudian kerap berpatroli di daerah pusat kota di sekitar bagian luar Basta yang merupakan lingkungan Muslim di Beirut. Marinir biasanya berpatroli dengan jip yang dipersenjatai dengan senapan mesin kaliber .50 setiap hari. Suatu ketika, di siang hari bolong, orang-orang bersenjata keluar dari Basta dan merebut jip, menangkap Marinir, beserta senjatanya dan membawanya ke dalam lingkungan mereka. Cukup banyak orang yang melihat kejadian itu yang kemudian segera dilaporkan ke kedutaan dan komandan satgas. Komandan satuan tugas adalah Laksamana [Charles R.] “Cat” Brown. Kemudian terdapat rapat staf yang terburu-buru di kedutaan. Laksamana itu berdiam diri dan tidak yakin apa yang harus dilakukan. Duta Besar mengatakan bahwa dia tahu persis apa yang harus dilakukan. Dia meminta tank dan kemudian memarkirnya di depan gerbang Basta. Meriam kaliber 90 mm tank itu diarahkan ke Basta dan lewat penerjemah di loudspeaker mengumumkan bahwa meriam akan mulai ditembakkan dalam tiga menit jika Marinir, jip, dan senjata tidak segera dikembalikan. ‘Satu peluru akan menghancurkan X meter persegi, dua peluru akan berbuat lebih banyak, dll. Banyak orang jelas akan mati.’ Dalam tiga menit Marinir dan jip keluar. Cat Brown sangat heran, karena itulah hal terakhir yang akan dilakukannya. Dia dilaporkan telah menanya kepada Duta Besar McClintock apakah dia benar-benar akan menembak meriam ke Basta. Jawabannya adalah “tentu saja.” Sementara itu, USAF juga telah diaktifkan untuk melakukan intervensi di Lebanon, dan lapangan udara Adana di Turki menjadi hub utama untuk konsentrasi sekitar 150 pesawat tempur taktis pada waktu itu, termasuk empat skuadron dari TFW (Tactical Fighter Wing) ke-354 – awalnya ditempatkan di Myrtle Beach AFB – dilengkapi dengan pesawat-pesawt tempur F-100D, yang sebenarnya terlibat dalam latihan yang diperpanjang dalam rangka misi penerbangan jarak jauh dengan bantuan pengisian bahan bakar udara. Di lapangan udara Turki lainnya, di Incirlik, ditempatkan juga lima pesawat intai RF-101C dari TRS ke-18 (Shaw AFB), diikuti oleh sejumlah Pembom Taktis B-57B dari 345 BG (Bomber Group) asal Langley AFB, Virginia. Konsentrasi pasukan seperti itu tampaknya diperlukan karena pada tahun 1957, Suriah mulai membangun lapangan terbang baru yang besar di dekat Palmyre, dan juga memperbesar beberapa lapangan udara yang ada – semuanya dengan bantuan Soviet. Soviet atau Suriah kemungkinan bisa ikut campur juga.

Marinir Amerika dengan Jeep M38A1 berpatroli di jalanan Beirut, pada satu kesempatan sekelompok Marinir Amerika beserta Jeep nya disandera oleh salah satu faksi di Lebanon, untung saja tidak terjadi pertumpahan darah saat itu. (Sumber: https://milinme.wordpress.com/)
Untuk menambah daya gempur AD Amerika mengerahkan juga Tank-tank M48A1. (Sumber: https://milinme.wordpress.com/)
Marinir Amerika berjaga-jaga dengan senapan mesin di sekitar Bandara Beirut. (Sumber: DEFENSE DEPT. PHOTO (MARINE CORPS) A17500/https://milinme.wordpress.com/)

REAKSI INGGRIS

Yordania sangat terpukul oleh kudeta yang terjadi di Irak: awalnya, direncanakan bahwa kedua negara ini – keduanya dipimpin oleh Raja yang sama-sama berasal dari keluarga Hashemite – akan menjadi satu kesatuan. Namun, tidak lama setelah kudeta di Baghdad, ada juga upaya kudeta yang terjadi di Amman: Raja selamat, tetapi dia merasa perlu bantuan dari luar dan pada 16 Juli London menerima permintaan bantuan dari Yordania. Serupa dengan AS, Inggris menanggapi dalam waktu sesingkat mungkin, meski mereka, bagaimanapun, tidak lagi memiliki pasukan serupa di daerah tersebut. Pada dini hari tanggal 17 Juli 200 tentara dari Batalyon 2 Resimen Para ke 16 dibawa ke Amman dengan pesawat transport Hastings dari No.70 Sqn. Kekuatan kecil ini awalnya sangat terisolasi sehingga Israel tidak akan mengizinkan pesawat Inggris menggunakan wilayah udara mereka. Namun, di bawah tekanan AS, situasinya berubah. Selain itu, pesawat-pesawat tempur dari USS Saratoga dan Essex juga dikirim untuk berpatroli di wilayah udara Yordania, dan mengawal pesawat-pesawat angkut RAF tambahan yang keesokan harinya membawa sekitar 2.200 pasukan dari Resimen Para ke-16 ke Amman, bersama dengan beberapa satuan artileri ringan. Pada saat itu, pesawat-pesawat tempur dari skuadron VF-62 asal USS Essex masih berpatroli di timur Siprus, di mana mereka beberapa kali bertemu dengan Pesawat-pesawat Pemburu RAF dari Acrotiri, seperti yang diingat Ray Kolakowski: 

Pesawat angkut Handley Page Hastings C.1 TG587 dari No 511 Squadron meluncur melintasi lapangan terbang berdebu di Amman, Yordania, pada bulan Juli 1958, membawa pasokan atau bala bantuan untuk pasukan Inggris di negara itu selama Operasi Fortitude, memperkuat pertahanan Yordania. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

“Satu-satunya pesawat yang pernah saya lihat (saat itu) adalah Pemburu Inggris dari Siprus. Kami sering berlatih dogfight (pertempuran udara jarak dekat) dengan mereka. Ketika kami berhenti melihat mereka selama beberapa hari, saya melewati lapangan terbang mereka dan menjatuhkan pesan yang seolah-olah mengatakan, “Kami telah merindukanmu di sini. Tentunya pilot Pemburu yang perkasa tidak takut pada (pesawat) Fury!” Keesokan paginya mereka telah berada di langit lagi ….”

Bala bantuan tambahan secara bersamaan dibawa ke Siprus, di mana peralatan yang lebih berat dikirim oleh pesawat-pesawat angkut jet Comet C.2 dari No. 216 Sqn, pesawat angkut Avro Shackleton dari 42 dan 204 Sqn, dan Blackburn Beverley dari No. 84 Squadron’s. Secara total, sekitar 1.000 peralatan dan amunisi, 120 kendaraan, dan 18 ton bahan bakar telah dibawa ke Amman pada tanggal 20 Juli, ketika pesawat-pesawat pemburu Hunter F.Mk.6 dari Skuadron No.208 juga ditempatkan di lapangan udara setempat. 

Dalam Operasi Fortitude, AU Inggris mengerahkan juga pesawat-pesawat tempur F.Mk.6 dari Skuadron No.208, yang kemudian kerap berlatih tempur dengan pesawat-pesawat tempur AL Amerika. (Sumber: http://www.naval8-208-association.com/)

Intervensi AS di Lebanon dan Inggris di Yordania tidak dapat lagi mempengaruhi situasi di Irak. Tapi, reaksi cepat dari kedua kekuatan tersebut tentu saja berhasil menstabilkan situasi. Di Lebanon, pemilihan umum baru diselenggarakan pada bulan September dan pemerintahan baru di bawah Presiden Fuad Chahab berhasil memulihkan perdamaian dan ketertiban. Situasi di Yordania berpotensi lebih berbahaya, karena Royal Jordanian Air Force (RJAF) saat itu kemungkinan sama sekali tidak mampu menahan serangan oleh Angkatan Udara Suriah dan Irak. Pada saat itu, RJAF hanya mengoperasikan sembilan pesawat jet tua Vampire FB.Mk.9 dan tujuh Vampire FB.Mk.52 (yang disumbangkan oleh Mesir). Pada saat itu AS dan Inggris tidak mengetahui, bahwa Angkatan Udara Irak (IrAF) telah dibersihkan dari para perwira yang dianggap sebagai kaum “royalis”, juga pada kenyataannya, banyak komandan IrAF dieksekusi atau dipenjara oleh rezim baru. Mereka yang ditangkap akan menghabiskan waktu beberapa tahun di penjara, sementara puluhan lainnya harus meninggalkan negara itu. Akibatnya, meski telah diperkuat oleh pesawat Soviet di tahun-tahun berikutnya, IrAF tidak benar-benar beroperasi penuh sebelum tahun 1960. Kembali ke Yordania, pada tanggal 11 Agustus Raja Hussein menerima jaminan kesetiaan dari semua tokoh suku Badui yang berpengaruh, dan karenanya pasukan Inggris kemudian bebas untuk pergi, yang terakhir dari mereka telah meninggalkan Amman pada tanggal 2 November 1958. Sementara itu, USAF, bahkan meski saat itu sedang terlibat dalam dalam “pertarungan” Perang Dingin, sangat senang ketika kemudian mengambil alih kendali wilayah udara Lebanon setelah USS Saratoga dan USS Essex diperintahkan untuk meninggalkan perairan Lebanon, pada tanggal 23 Agustus 1958 – walau kemudian USS Forrestal (CV- 59) dikirim ke wilayah Mediterania timur, membawa juga pesawat-pesawat tempur F8U-2 dari Squadron VMFA-333. Selama sisa bulan Agustus dan September 1958, pesawat-pesawat tempur USAF menerbangkan lusinan penerbangan pengintaian di seluruh negeri. Dalam salah satu kejadian tersebut, sebuah RF-101C rusak oleh tembakan senjata kecil dari daratan. Pasukan AS terakhir telah meninggalkan Lebanon pada tanggal 25 Oktober 1958. Keadaan darurat, yang ada di Lebanon dan di Yordania diselesaikan tanpa melalui pertempuran apa pun. 

KESIMPULAN

Eisenhower beruntung pada akhirnya. Para diplomat dan jenderalnya di tempat kejadian di Beirut menemukan cara diplomatik untuk menghindari konflik dan mencegah yang terburuk. Setelah beberapa negosiasi politik, Chamoun yang ditekan akhirnya mundur sebagai presiden, dan perang saudara berakhir. Keberuntungan ini tidak datang dua kali, Misi tempur Amerika berikutnya di Timur Tengah tidak akan seberuntung itu atau tanpa biaya. Kembalinya Marinir ke Beirut pada tahun 1982, misalnya, berakhir dengan pengeboman truk dahsyat di barak mereka yang menewaskan 241 tentara. Sementara itu dari sisi militer, kapal-kapal induk Armada ke-6 AS membuktikan kemampuan mereka pada kesempatan ini tanpa keraguan, menghadirkan daya tembak AS yang sangat besar dengan sangat jelas kepada semua lawan potensial. Mereka juga menunjukkan kemampuan luar biasa dari militer AS untuk memindahkan kontingen pasukan besar dari Eropa ke mana pun di Timur Tengah, dan mendukung mereka secara memadai. Menariknya, meskipun mereka tahu betul bagaimana menggunakan kapal induk mereka sebagai alat pencegah yang ampuh, Amerika gagal mengenali peran potensial mereka ini dalam perang konvensional, terutama dalam kasus perang yang lebih kecil atau keadaan darurat seperti yang terjadi di Lebanon, pada tahun 1958, dan kegagalan ini memukul mereka dengan hebat hampir 12 tahun kemudian, selama perang di Vietnam.

Seorang tentara berkeliling dengan keledai yang dibeli dari penduduk lokal untuk mengantarkan koran Stars and Stripes ke sesama prajurit. Seorang Marinir tidur siang di atas perbekalan di depot di pusat kota Beirut. Dalam Operasi Blue Bat, Presiden Eisenhower cukup beruntung karena krisis di Lebanon dan Yordania bisa berakhir dengan relatif damai. (Foto: Koleksi Norbert Schiller, Phot. (Kiri) Foto AP (Kanan) Bill Sauro, UPI/http://www.photorientalist.org/)
Pasukan Amerika berpatroli di Jalanan Beirut dengan menggunakan Jeep M151A2 tahun 1983. Dalam misi menjaga “perdamaian” 25 tahun kemudian di Lebanon, Marinir tidak seberuntung pengalaman mereka tahun 1958, kali ini mereka harus menderita setidaknya 241 korban tewas dalam satu serangan teroris di Barak mereka. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Faktanya, USN tidak sepenuhnya terbebas dari pemikiran dalam kerangka perang nuklir besar-besaran melawan Uni Soviet sampai tahun 1980-an, dan bahkan pada pertengahan 1990-an USN masih berusaha membangun kekuatan untuk melawan sisa-sisa kekuatan Uni Soviet di laut lepas Atlantik dan Pasifik utara, serta di Mediterania. Dapat dipastikan, USN masih cukup berhati-hati untuk terus melatih kemampuan perang konvensional mereka. Uniknya, pemimpin-pemimpin Amerika berkali-kali menekankan bahwa AS selalu memiliki kemampuan yang sangat baik untuk melawan “perang kecil”, karena mobilitas dan kemampuan mereka untuk membawa dan mengirimkan persenjataan dalam jumlah besar dengan bantuan gugus tugas kapal induk cepatnya. Padahal, saat Cdr. Ray Kolakowski menjadi perwira penghubung Angkatan Laut untuk Komando Sistem Angkatan Udara, pada tahun 1960, terdapat kantor khusus yang dikhususkan untuk perang konvensional dan pengembangan senjata dan taktik dalam peperangan semacam itu di dalam USN. Beberapa pengamatan tambahan terkait penerbangan angkatan laut AS pada akhir 1950-an dirangkum oleh Kolakowski, sebagai berikut: 

“Pada akhir 1950-an setiap pelayaran dijadwalkan berlangsung selama sekitar tujuh bulan. Pelayaran USS Essex pada tahun 1958 tidak biasa karena pelayaran kami hampir berakhir dan kapal sedang berlabuh di Teluk Napoli, kami menerima perintah untuk melanjutkan pelayaran ke Pasifik Barat di TAIWAN – karena Krisis Formosa – dengan cara melewati Terusan Suez. Kami ditugaskan untuk melindungi evakuasi dari Kepulauan Ta-Chen oleh orang-orang China yang ingin melarikan diri ke Formosa daripada tinggal di China komunis. Kami tidak keberatan dengan misi tersebut. Apa yang membuat kami tidak bahagia adalah bahwa kami akan menggantikan sebuah kapal induk yang telah meninggalkan pelabuhan asalnya setelah kami meninggalkan Mayport. Akibatnya kami tidak bisa pulang sampai tanggal 16 November. Berkenaan dengan kesiapan skuadron: ketika skuadron beroperasi dari pangkalan mereka selalu rutin dalam latihan. Terdapat berjam-jam pelatihan pertempuran udara-ke-udara taktis. Untuk penembakan udara-ke-udara yang sebenarnya, skuadron pelatihan akan ditempatkan di area di mana pilot dapat menembak dengan bebas. Dalam kasus squadron VF-62 kami dikirim ke Teluk Guantanamo, Kuba, selama sebulan kami berlatih menembakkan kanon dengan intensif.

Meski berlalu tanpa terjadi pertempuran, namun Operasi Blue Bat baik sebagai sarana latihan AL Amerika dalam menjalankan misi-misi contigency di berbagai belahan dunia. (Sumber: https://www.navytimes.com/)

Ketika saya mengambil alih komando squadron VF-62, tidak ada pilot yang memenuhi syarat untuk mendarat di atas kapal induk pada malam hari. Bagaimanapun, kata mereka, kami adalah skuadron pesawat tempur yang beroperasi di siang hari. Tanggapan saya adalah, “apa yang terjadi jika Anda datang untuk mendarat sekitar senja dan geladak sedang berantakan karena ada kecelakaan dan pendaratan Anda tertunda dan malam segera tiba? Jadi begitulah, bahan bakar hampir habis dan harus mendarat di malam itu. Apa yang Anda lakukan? Semua orang harus memiliki kualifikasi penerbangan malam sebelum bisa ditugaskan. ” Kualifikasi terbang malam terdiri dari berjam-jam latihan berbagai jenis pendaratan kapal induk di area landasan pacu yang ditentukan (pada malam hari) sampai Petugas Sinyal Pendaratan merasa bahwa pilot memenuhi syarat untuk melakukan pendaratan malam hari di atas kapal induk – dalam kondisi ideal. Ketika semua pilot siap, sebuah kapal induk akan disiapkan sehingga setiap pilot dapat melakukan enam pendaratan yang memuaskan untuk mencapai kualifikasi yang diperlukan. Pemeliharaan pesawat adalah sebuah operasi berkelanjutan dan selama operasi kapal induk berlangsung selama 24 jam sehari … Beberapa masalah bersifat rutin dan dapat diperbaiki dengan relatif mudah. Terkadang faktor penentu adalah ketersediaan suku cadang. Angkatan Laut melakukan pekerjaan yang baik dalam menjaga skuadron dipasok dengan suku cadang tetapi kita harus mengantisipasi setiap kemungkinan. Seringkali sebuah pesawat yang tidak bisa terbang karena kekurangan sparepart akan dikanibalisasi bagian-bagiannya agar pesawat lain bisa tetap terbang. Terlepas dari segala upaya, saya menganggap bahwa kami melakukannya dengan baik karena 12 dari 15 pesawat kami dapat diterbangkan pada satu waktu. “

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Lebanon and Jordan, 1958 By Tom Cooper, with Ray Kolakowski, CO VF-62 in 1958; Sep 24, 2003, 19:58

https://web.archive.org/web/20060613023950/http://www.acig.org/artman/publish/article_259.shtml

Operation Blue Bat – 1958

https://www.globalsecurity.org/military/ops/blue_bat.htm

Operation Blue Bat: The 1958 U.S. Invasion of Lebanon By Zina Hemady

The 1958 U.S. Marine Invasion of Lebanon – It was no day at the beach

Beirut 1958: America’s origin story in the Middle East written by Bruce Riedel; Tuesday, October 29, 2019

https://www.google.com/amp/s/www.brookings.edu/blog/order-from-chaos/2019/10/29/beirut-1958-americas-origin-story-in-the-middle-east/amp/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *