Unit Elit Sapper VC/NVA: Mimpi Buruk Prajurit Amerika dan Sekutunya Dalam Perang Vietnam

Serangan mendadak oleh unit elit Komunis yang dikenal sebagai pasukan Sapper (satuan unik yang menggabungkan fungsi pasukan komando pelopor penyerangan dan sebagian pekerjaan yang dilakukan oleh unit zeni tempur) adalah salah satu ancaman yang paling serius — dan ditakuti — bagi orang-orang Amerika dan sekutunya dalam Perang Vietnam. 

Apa yang tersisa dari sebuah pesawat C-130 Hercules yang terkena serangan unit Sapper di Vietnam. (Sumber: https://war-stories.com/)

 

LATAR BELAKANG

Di pagi hari yang diselimuti kabut pada tanggal 28 Maret 1971, 50 anggota pasukan penyerang Angkatan Darat Vietnam Utara (NVA) yang terlatih khusus, dengan tubuh mereka dilumuri oleh debu arang dan minyak yang membuat mereka hampir tidak terlihat dalam kegelapan, mendekati Pangkalan Pendukung Tembakan/Firebase Mary Ann, sebuah perkemahan kecil milik Angkatan Darat AS di provinsi Quang Tin di bagian utara Vietnam Selatan. Pos terdepan yang terpencil itu dengan sekitar 30 bangunan, termasuk bunker dan tempat tidur, dipertahankan oleh 231 prajurit Amerika dari Brigade Infanteri Ringan ke-196, Divisi Infanteri ke-23 (Americal), bersama dengan 22 tentara Vietnam Selatan. Garnisun itu sendiri telah melalaikan langkah-langkah keamanan mendasar, sebagian karena jarangnya kontak dengan musuh, menurut wawancara pasca-pertempuran dengan John Patrick, seorang prajurit infanteri dari Kompi C, Batalyon 1, Resimen Infantri 46, yang ada di bawah Brigade ke-196. Para penyusup, dari Kompi ke-2 Batalyon Sapper Pasukan Utama NVA ke-409, telah berjongkok rendah dalam tim yang terdiri dari tiga dan enam orang, diam-diam menyelinap melalui pagar kawat berduri yang menandai pertahanan luar firebase itu. Di bawah payung tembakan mortir NVA, para sapper berlari melintasi kompleks itu sambil melemparkan granat gas dan tas kanvas yang berisi bahan peledak. Mereka kemudian mengarahkan tembakan senjata otomatis ke sasaran yang telah dihancurkan atau dibakar. Para penyusup itu menghantam pusat operasi taktis batalion dan bunker komando Kompi C, menewaskan Kapten Richard V. Knight, pemimpin kompi. Para prajurit ditembaki saat mencoba melarikan diri dari tempat tinggal mereka atau terkubur hidup-hidup ketika bahan peledak musuh dilemparkan ke tenda-tenda mereka. Pangkalan itu menjadi “berantakan … dengan banyak yang terbakar di mana-mana,” tulis komandan Divisi Americal, Mayor Jenderal James L. Baldwin, dalam sepucuk surat kepada keluarganya. Setelah satu jam pertempuran jarak dekat, 30 orang Amerika tewas dan 82 lainnya luka-luka. Jumlah musuh yang tewas setidaknya ditunjukkan dengan adanya 15 mayat NVA di dalam dan sekitar kamp. 

Firebase Mary Ann setelah serangan Sapper NVA, 28 Maret 1971. (Sumber: https://whowhatwhy.org/)

Serangan itu adalah contoh nyata dari keefektifan pasukan sapper NVA. Para sapper NVA yang dengan begitu dahsyatnya telah menyerang firebase Mary Ann — serta ratusan pos terdepan, pangkalan utama, lapangan udara, dusun berbenteng, dan kota-kota besar di seluruh Vietnam Selatan — adalah anggota dari Bo Doi Dac Cong (secara kasar diterjemahkan sebagai “prajurit dalam pasukan khusus”), sebuah organisasi yang sangat terorganisir, terlatih dan dilengkapi dengan baik yang melakukan operasi khusus. Orang-orang Amerika menyebutnya “sappers”, dari bahasa Prancis “saper”, sebuah kata yang berarti melemahkan, biasanya dengan menggali. Dalam penggunaan militer, istilah tersebut awalnya diterapkan pada tentara Prancis yang menggali parit sempit, atau “saps,” menuju benteng musuh untuk menyediakan jalur manuver yang agak terlindungi untuk memindahkan orang dan senjata artileri lebih dekat ke benteng musuh dalam rangka persiapan untuk penyerangan. Pada masa kini, “sapper” mengacu pada penugasan yang lebih luas yang biasa dikerjakan oleh unit zeni tempur yang menangani berbagai tugas konstruksi dan penghancuran. Di Vietnam, bagaimanapun, pasukan Amerika menggunakan nama tersebut terutama untuk unit Angkatan Darat Vietnam Utara (NVA) dan Viet Cong yang biasa menerobos garis pertahanan dengan menggunakan taktik yang lebih mirip dengan penyerangan satuan komando daripada pekerjaan unit zeni. 

Unit Sapper dalam Perang Napoleon. Dalam Perang Vietnam, unit Sapper telah mengalami pergeseran makna, menjadi lebih sebagai unit pasukan komando pelopor ketimbang sebagai unit Zeni seperti dalam era Napoleon. (Sumber: https://www.pinterest.fr/)

Presiden Vietnam Utara, Ho Chi Minh telah menetapkan persyaratan resmi untuk pembentukan pasukan sapper, sebagai berikut: “Penerapan taktik sapper harus fleksibel. Penguasaan taktik harus relevan dengan teknik pertempuran. Semangat mereka harus stabil. Disiplinnya harus ketat. Tekad untuk menang dan menghancurkan musuh juga harus kuat. Menjadi loyal pada partai dan rakyat. Bisa menyelesaikan semua misi dan mengatasi kesulitan apa pun. ” Meskipun kesetiaan kepada Partai Komunis merupakan syarat untuk lolos seleksi satuan, namun mereka tidak harus menjadi anggota partai. Sementara itu karena pasukan sapper yang dibutuhkan besar, kesetiaan sekedar basa-basi sudah cukup bagus untuk bisa diterima. Namun, sebagian besar perwira dan perwira NCO dari pasukan sapper adalah anggota partai. Keberanian dan kecerdikan adalah karakter yang terpenting, karena para rekrutan akan beroperasi di wilayah musuh melawan kekuatan yang lebih kuat. Karekteristik penting lainnya adalah kecerdasan tinggi, disiplin dan keterampilan berorganisasi untuk beroperasi secara mandiri dalam pertempuran. Tapi pola pikir ala kamikaze malah tidak dihargai. Para prajurit sapper yang sangat terlatih terlalu berharga untuk disia-siakan dalam misi bunuh diri. Mereka diajari untuk menyelesaikan misi mereka dan kembali dalam keadaan hidup-hidup. Perubahan sekecil apa pun pada sistem pertahanan di area target akan dapat menyebabkan penundaan atau pembatalan serangan yang telah direncanakan. Hal ini menunjukkan bahwa pasukan Sapper tidak akan digunakan secara serampangan yang akan menimbulkan banyak korban sia-sia.

Unit Sapper VC/NVA bukanlah unit nekad dengan semangat kamikaze seperti serangan banzai pasukan Jepang. Unit Sapper VC/NVA terlalu berharga untuk disia-siakan dalam serangan tanpa arah. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

“Semangat tempur sapper adalah simbol nyata dari karakter dan jiwa nasional kita, semangat juang kita yang gigih, dan energi kreatif kita,” Kolonel Bach Ngoc Lien, seorang komandan sapper senior NVA, menulis di sebuah surat kabar Partai Komunis, Nhan Dan, pada bulan Desember 1979. “ Pertempuran pasukan sapper adalah esensi dari bangsa Vietnam. ” Premis di baliknya, tambahnya, adalah “untuk mengijinkan sedikit orang melawan yang lebih banyak; yang lemah untuk melawan yang kuat. ” Meskipun teknik pertempuran pasukan sapper tampak hampir identik dengan taktik perang gerilya klasik, orang-orang Vietnam Utara melihatnya berbeda. Dalam perang gerilya, sebuah unit kecil menyerang dan menghancurkan formasi pasukan musuh kecil yang terisolasi. Dalam operasi pasukan sapper, sebuah unit komando kecil yang terlatih justru ditugaskan untuk menyerang sebuah pos yang dipertahankan oleh kekuatan yang lebih unggul secara numerik (meskipun masih agak kecil juga jumlahnya) yang berada di dalam garis pertahanan musuh. Orang-orang Vietnam menyebut jenis pertempuran ini sebagai taktik “bunga lotus yang mekar” — yakni menembus wilayah yang dibentengi dan menyerang ke arah luar. Pasukan sapper umumnya tidak menyerang pasukan musuh yang bergerak di sekitar medan pertempuran. Manuver dari unit-unit itu tidak dapat diprediksi, dan para sapper membutuhkan cukup waktu untuk melakukan pengintaian menyeluruh terhadap posisi pasukan musuh. Selain itu, pengalaman menunjukkan bahwa mundur dari pertempuran di medan tempur lebih sulit daripada mundur dari daerah perkotaan atau firebase musuh. 

STRUKTUR, TAKTIK & PELATIHAN SAPPER

Sejak serangan “Tet” yang menghancurkan struktur Vietcong pada tahun 1968, pihak Komunis secara bertahap kembali ke jenis operasi skala kecil yang menjadi ciri dari perang di Vietnam pada masa awal tahun 1960-an. Inti dari doktrin baru ini tampaknya bertumpu pada serangan yang dilakukan oleh tim sapper. Sebelum Serangan Tet yang dilancarkan pasukan Komunis terhadap target-target di seluruh Vietnam Selatan pada awal tahun 1968, para sapper di Selatan dikendalikan oleh Viet Cong dan dioperasikan secara independen dari NVA. Tetapi setelah kerugian besar yang diderita Viet Cong selama Serangan Tet, semua operasi pasukan sapper di Vietnam Selatan kemudian diawasi oleh Grup Sapper ke-429, yang wajib melapor langsung ke Komando Tinggi Sapper, sebuah departemen di Komando Tinggi NVA di Hanoi. Komando Tinggi NVA kemudian juga merancang program pelatihannya. Setelah tahun 1968 pusat pelatihan di Vietnam Selatan dan Kamboja dijalankan oleh Sapper Group ke-429, sedangkan pusat pelatihan di Vietnam Utara dan Laos dipimpin langsung oleh Komando Tinggi NVA. Instruksi pelatihan dapat berlangsung mulai dari tiga hingga 18 bulan, tergantung pada apakah peserta pelatihan akan menjadi tentara di unit reguler atau unit penyerang yang beroperasi di luar struktur militer formal.

Anggota polisi miiliter Amerika menggiring gerilyawan Viet Cong yang berdarah keluar dari Kedutaan Besar Amerika di Saigon pada 31 Januari 1968, setelah pertempuran pecah tak lama setelah fajar. Setelah serangan Tet, unit-unit VC, termasuk satuan Sapper-nya yang hancur langsung diambil alih kepemimpinannya oleh pihak Hanoi. (Sumber: Associated Press/https://www.businessinsider.com/)

Indoktrinasi politik, yang dilakukan oleh pejabat atau komisaris partai, adalah bagian penting dari program, tetapi keterampilan pengintaian dan observasi paling ditekankan. Personel Sapper diajarkan untuk menggunakan peta dan kompas dan belajar bagaimana menemukan posisi pertahanan musuh, rutinitas para penjaganya, pusat komando, depot bahan bakar dan tempat penimbunan amunisi. Mereka juga diajarkan metode kamuflase dan berlatih bergerak berjingkat, berjalan menunduk, merangkak, dan teknik lainnya untuk menghindari deteksi saat bergerak melintasi tanah yang keras, lapangan rumput, daerah berpasir, lumpur, rawa, dan rintangan air. Mereka belajar menjinakkan ranjau dan melakukan manuver melalui kawat berduri atau kawat concertina. Ada juga kelas-kelas pembuatan bom dan pertempuran infanteri jarak dekat. NVA dan Viet Cong keduanya memiliki tiga tipe kecabangan sapper: Sapper angkatan laut, perkotaan dan Sapper lapangan. Sapper angkatan laut bertugas untuk menyerang jalur pasokan air dan instalasi pantai. Sapper perkotaan bertugas untuk menyerang posisi musuh di kota-kota, menyebarkan propaganda, melakukan operasi sabotase dan mengumpulkan data intelijen. Sedangkan Sapper lapangan, yang merupakan cabang terbesar, memiliki dua misi utama, yakni: menyusup ke instalasi milik tentara AS dan Vietnam Selatan untuk menghancurkan target-target seperti pos komando, posisi artileri, dan tempat penimbunan amunisi; dan melatih prajurit infanteri konvensional dalam melakukan penetrasi perimeter pertahanan dan serangan pendadakan. Personel Sapper juga bisa melakukan misi intelijen dan dapat bekerja dengan cara menyamar. Salah satu personel sapper dalam serangan spektakuler di Tet Offensive tahun 1968 terhadap Kedutaan Besar AS, misalnya, pernah menjadi sopir Duta Besar AS. Serangan sapper biasanya menandai dibukanya serangan yang dilakukan oleh pasukan reguler NVA atau Viet Cong. Sappers terkadang juga berpartisipasi dalam serangan infanteri konvensional. Dukungan mereka biasanya mencakup penerobosan garis pertahanan dan menciptakan celah yang bisa dilalui pasukan infanteri reguler. Sayangnya untuk detasemen sapper yang terlibat dalam misi-misi tersebut, pertempuran berkelanjutan dalam pertempuran konvensional seringkali akan semakin mengurangi ketersediaan personel yang sudah terkuras oleh aktivitas komando tradisional yang umumnya dilakukan para sappers.

Tembok kedutaan Amerika yang dijebol pasukan sapper VC saat serangan Tet, Januari 1968. Salah satu personel sapper penyerang ternyata pernah menjadi sopir Duta Besar AS. (Sumber: https://www.flickriver.com/)

Organisasi sapper lapangan yang dibentuk oleh Viet Cong terdiri dari tingkat regu independen hingga batalion. Sementara Satuan Sapper lapangan NVA (Selama perang diperkirakan sekitar 50.000 prajurit PAVN bertugas sebagai pasukan sapper) dikelompokkan menjadi tingkatan batalyon dan resimen. Personel spesialis seperti petugas radio, petugas medis, dan ahli bahan peledak juga ditambahkan pada unit-unit sapper. Banyak dari mereka adalah sukarelawan. Unit Sappers sering juga ditugaskan ke unit yang lebih besar (seperti resimen, divisi, dll.) – melakukan serangan dan tugas pengintaian, tetapi juga dapat digunakan sebagai formasi independen. Batalyon standar memiliki satu peleton markas besar yang terdiri dari 15 hingga 20 orang dan tiga kompi lapangan yang masing-masing terdiri dari 60 anggota. Setiap kompi dibagi menjadi tiga seksi yang terdiri dari 20 orang. Sebuah seksi terdiri dari enam sel yang masing-masing terdiri dari sekitar tiga personel. Melengkapi batalion tersebut terdapat sebuah peleton sinyal yang terdiri dari 30 prajurit dan sebuah peleton pengintai yang terdiri dari 30 personel. Beberapa unit sapper dipersenjatai dengan berat, dengan daya tembak yang lebih besar daripada unit infanteri NVA konvensional dengan ukuran yang sama, sementara unit-unit lain menggunakan senjata standar. Senjata yang paling umum di arsenal sapper lapangan termasuk senapan serbu AK-47 dan tas peledak TNT. Sementara itu senjata lainnya, termasuk peluncur granat berpeluncur roket B40 / 41 (varian RPG), torpedo bangalore, senapan mesin ringan RPK buatan Soviet, berbagai granat tangan, ranjau, pistol, dan senapan mesin ringan. Beberapa unit memiliki seksi senjata berat yang dilengkapi dengan senjata recoilless kaliber 57mm dan 75mm, mortir kaliber 60mm atau kaliber 82mm, dan senjata penyembur api.

Senapan varian AK-47 dengan popot lipat yang kerap digunakan oleh Tim Sapper. (Sumber: http://www.zib-militaria.de/)
Peluncur roket B-40 (Clone Vietnam Utara dari RPG-2). (Sumber: https://www.firearmsnews.com/)
Unit Sapper NVA terkadang juga dilengkapi dengan senjata penyembur api/flamethrower. (Sumber: https://www.scribd.com/)

Sebelum menjalankan misi, personel-personel sappers melakukan pengintaian secara menyeluruh. Mereka tidak hanya mengamati target dari luar dan menggunakan sumber-sumber seperti dari gerilyawan lokal, tetapi juga mengumpulkan data intelijen dengan menggunakan agen-agen yang beroperasi dari dalam target yang diincar. Perbedaan antara operasi sapper yang berhasil dan yang gagal adalah sejauh mana pengintaian mereka dilakukan dengan baik, dengan mengamati kebiasaan buruk prajurit musuh, tidak adanya kawat jerat, dan pengetahuannya tentang perimeter bagian dalam. Untuk alasan ini, setiap serangan direncanakan dengan sangat detail. Informasi mendetail itu mencakup tentang posisi bunker yang menjadi target, tempat penimbunan amunisi, pusat komando dan komunikasi, barak, fasilitas pembangkit listrik, dan titik-titik penting lainnya. Jarak tembak mortir yang terperinci untuk setiap target juga telah diplot. Pengintaian sedari awal dianggap sangat penting untuk kesuksesan serangan. Tanpa pengetahuan yang mendalam tentang daerah sasaran, tim sapper tidak akan menyerang. Tepat sebelum serangan terhadap Firebase Mary Ann, orang-orang Amerika diperingatkan bahwa beberapa tentara Vietnam Selatan yang dianggap sekutu, diam-diam bekerja sebagai operator NVA. Mungkin itu masalahnya. Selama pertempuran, beberapa prajurit AS melepaskan tembakan dari posisi tentara Vietnam Selatan di dalam pangkalan, dan personel sapper lawan tidak menyerang sektor tersebut. Setelah pengintaian terakhir dilakukan, biasanya selama tiga sampai tujuh hari, komandan sapper dapat menentukan posisi pertahanan musuh dan rintangan lain yang akan dihadapi anak buahnya. Dia kemudian merencanakan bagaimana serangan itu dilakukan.

Contoh layout dari Firebase Amerika. Sebelum melakukan serangan, pemimpin unit sapper selalu memetakan posisi-posisi penting dari firebase musuh yang diserang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Unit penyerbuan yang umumnya, tanpa mendapat dukungan infanteri, akan dibagi menjadi empat elemen: personel keamanan, penyerangan, dukungan tembakan, dan cadangan. Tim keamanan terdiri dari seksi yang diperkuat (empat orang), dengan dipersenjatai setidaknya satu peluncur RPG, beberapa AK-47, dan beberapa ranjau untuk dimaksudkan untuk menghentikan bala bantuan musuh mencapai medan tempur. Komponen kunci dari kelompok penyerang adalah elemen penyerangan, yang terdiri dari dua atau lebih tim yang disebut “anak panah”. Bergerak di sepanjang rute tertentu, setiap “panah” bergerak dalam tiga seksi — kontingen untuk penetrasi, penyerangan, dan dukungan tembakan langsung. Seksi penetrasi memiliki empat anggota, biasanya hanya mengenakan celana pendek dan dilapisi lumpur atau arang, yang membawa AK-47, pemotong kawat, tiang bambu untuk mengangkat kawat berduri, torpedo Bangalore, dan alat penusuk seperti tiang logam, pisau, dan bayonet. Seksi penyerang, membawa sebagian besar bahan peledak, dan mempekerjakan empat atau lima orang yang membawa beban seperti AK-47, RPG, granat anti-tank, dan sejumlah bahan peledak. Seringkali lebih dari satu seksi penyerang digunakan dalam suatu operasi. Sementara itu seksi pendukung tembakan langsung, yang terdiri dari dua atau tiga personel, membawa RPG dan AK-47 ke dalam penyerangan. 

Bangalore torpedo dan tas peledak yang digunakan pasukan sapper. (Sumber: https://www.facebook.com/)

Tim penyerang juga menerima bantuan dari tembakan tidak langsung yang dilakukan oleh tim pendukung lainnya. Kru penembakan tidak langsung yang terdiri dari 30 orang, menggunakan senjata mortir kaliber 60mm atau 82mm dan AK-47, akan menyamarkan suara yang dibuat oleh unit-unit sapper saat mereka memulai infiltrasi, serta mengalihkan perhatian musuh dari bagian perimeter tempat tim penyerang beroperasi dan sekaligus menghantam posisi-posisi musuh, yang mencoba untuk bereaksi terhadap serangan itu. Unit bantuan tembakan itu sendiri juga dijaga oleh seksi keamanannya sendiri. Sementara itu unsur-unsur cadangan, yang biasanya merupakan pasukan infanteri yang diperkuat (terdiri dari 13 orang), siap memberikan dukungan jarak dekat bila diperlukan. Persenjataan mereka terdiri dari senapan mesin, peluncur RPG, AK-47 dan selusin atau lebih bahan peledak. Dalam proses perencanaan, komandan penyerbuan akan menentukan rute menuju posisi musuh, infiltrasi dan rute penarikan, serta posisi unit pendukung tembakan dan prioritas sasaran. Dia kemudian akan mengadakan latihan yang menggunakan peta, maket dan diagram dari area target dalam latihan yang mungkin bisa berlangsung berhari-hari. Keberhasilan sebuah serangan juga bergantung pada elemen kejutan, yang merupakan satu-satunya hal yang dapat memberikan keunggulan bagi para sappers melawan keunggulan daya tembak pasukan Amerika. Untuk mencapai keunggulan itu, komandan sapper akan menekankan pada kemampuan kamuflase, penyamaran, kecepatan eksekusi dan — seperti pada yang bertugas di Firebase Mary Ann — kelengahan garnisun yang memiliki asumsi bahwa serangan semacam itu tidak akan terjadi. Sistem sinyal kadang-kadang dibuat dengan menggunakan suar berwarna. Sistem sinyal khas bagi tim penyerang bisa jadi sebagai berikut: suar merah: artinya area yang sulit dimasuki; suar putih: untuk penarikan; hijau diikuti putih: meminta bala bantuan; suar hijau: berarti kemenangan.

Struktur Organisasi Unit Sapper. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Unit Mortir biasa ditugaskan untuk membuat serangan pengalih pada saat personel Sapper terdepan menerobos pertahanan lawan. (Sumber: https://www.pinterest.com.au/)

Misi sapper untuk melakukan serangan di larut malam biasanya dimulai saat senja karena mungkin diperlukan enam atau tujuh jam melakukan gerakan lambat dan hati-hati untuk mencapai jarak 200 yard terakhir tanpa terdeteksi. Para Sapper biasanya memilih jalan yang paling sulit ke markas musuh dengan berharap bahwa musuh tidak akan mengira mereka akan mengambil jalur itu. Ketika mereka mencapai posisi penghalang pertahanan, para sapper lebih suka memotong kawat berduri daripada meledakkannya dengan bahan peledak, yang mana akan menunjukkan posisi mereka. Kawat berduri, yang merupakan bagian penting dari sebagian besar pertahanan, memiliki nilai yang kecil kecuali digunakan dengan adanya jerat kaki yang ditata dengan benar. Harap diingat bahwa personel sapper harus bisa masuk dan pergi melalui kawat berduri, malam demi malam tanpa menunjukkan kehadirannya. Sepotong “jerat kaki”, selebar enam kaki di dalam kawat berduri ganda, tidak lebih dari empat inci tingginya dari tanah, ditarik kencang dan diikat dengan setiap 18 inci, akan memaksa para sapper melewati bagian atas kawat atau memotong kawat. Jika keduanya gagal dilakukan, hal itu akan memaksa mereka untuk membatalkan misinya. Kawat berduri kadang-kadang hanya dipotong sebagian, dengan sisa helai kawat dipatahkan dengan tangan untuk mengurangi tanda-tanda telah dilakukan pemotongan menggunakan pemotong kawat. Tripflare biasanya dinetralkan dengan membungkus pelatuknya dengan kain atau potongan bambu yang dibawa dengan gigi para sapper terdepan. Ranjau Claymore kemungkinan diubah arahnya. Sementara itu untuk menarik perhatian prajurit musuh yang bertahan dari aksi penetrasi mereka, maka elemen tembakan tidak langsung mungkin akan menggunakan tipuan pengalih, seperti dengan melakukan penembakan artileri untuk membuat garnisun mengira itu berada di bawah serangan rutin yang dilancarkan hanya untuk menguji pertahanan mereka. Sebagai tanggapan, biasanya pasukan musuh akan berlindung di bunker mereka. Sementara itu, jika unit sapper yang melakukan penetrasi ditemukan sebelum waktunya atau ditembaki oleh tembakan musuh, seksi penyerang akan menggunakan RPG untuk mempercepat serangan, sementara seksi yang melakukan penetrasi akan mulai melemparkan bahan peledak ke segala arah dalam upaya terakhir untuk menjebol perimeter. Begitu bisa masuk perimeter, para sapper akan bergerak dengan cepat. Mereka menempatkan bahan-bahan peledak pada instalasi utama, melemparkan tas-tas peledak dan granat, serta menembakkan RPG untuk menimbulkan banyak korban, menekan perlawanan musuh dan menjaga pasukan garnisun tetap berlindung di bunker mereka sehingga mereka tidak dapat mengatur tembakan pertahanan atau melakukan serangan balik, seperti di pangkalan tembak Mary Ann.

Personel Sapper memperagakan cara melakukan penerobosan kawat berduri. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Personel Sapper Vietcong. (Sumber: https://www.deviantart.com/)

Serangan semacam itu tidak selalu berjalan sesuai rencana. Pada bulan Juni 1969, saat bergerak menyerang pangkalan tembak Marinir Charlie One tepat di bawah Zona Demiliterisasi, para sapper NVA diserang dengan tembakan dari artileri Vietnam Selatan sebelum mereka berhasil mencapai pagar kawat berduri di luar pangkalan. Elemen tembakan tidak langsung mengira dentuman meriam musuh kaliber 105mm yang sebagai ledakan yang dipasang rekan-rekan sapper mereka dan menahan tembakannya. Para sappers, yang tanpa bantuan tembakan yang melindungi, kemudian dihancurkan di tempat terbuka, dan 67 diantaranya tewas. Sementara itu setelah para sappers menyelesaikan tugas mereka (waktu penyelesaian optimal adalah 30 menit) atau jika mereka tidak dapat mengatasi perlawanan musuh, kelompok penyerang akan mundur, dengan dilindungi oleh unit dukungan tembakan langsung dan cadangan. Mereka bergerak kembali melalui jalur penetrasi awal mereka ke titik berkumpul. Unit-unit sapper Vietnam Utara dan Viet Cong kerap menghadapi musuh dengan keunggulan luar biasa dalam hal teknologi, daya tembak dan pasukan, namun mereka mampu menghancurkan ratusan gudang pasokan dan bahan bakar, pangkalan militer dan peralatan, serta membunuh dan melukai banyak pasukan musuh dalam prosesnya. Serangan mendadak dan tak terduga mereka juga menciptakan ketakutan bahwa tidak ada tempat — tidak peduli seberapa kuat pertahanan dan persenjataan mereka — yang aman dari serangan pasukan sapper. Pertahanan terbaik melawan unit sapper adalah kesiagaan prajurit, pelaut, penerbang atau marinir di pangkalan masing-masing. Setiap upaya harus dilakukan untuk mencegah musuh mendapatkan informasi tentang pertahanan mereka. Seperti dalam kebanyakan situasi, hal-hal kecil kerap membuat perbedaan, seperti: Jangan merokok sambil berjaga, hindari gerakan yang tidak perlu dan tempatkan radio di area yang tetap. Hindari membuat pola atau rutinitas apa pun yang mudah terlihat. Jangan berjaga pada posisi yang sama malam demi malam. Periksa perimeter luar setiap hari untuk mengamati kemungkinan tanda-tanda kehadiran musuh. Periksa ranjau dan pagar kawat berduri untuk memastikan tidak ada yang dirusak. Pindahkan ranjau, jebakan, dan perangkat lain sesering mungkin untuk membingungkan penyerang potensial. Ini hanyalah beberapa dari tindakan yang dapat dilakukan untuk menggagalkan aktivitas pasukan sapper lawan. Dari semua itu telah menggaris bawahi bahwa kewaspadaan itu penting.

CONTOH-CONTOH LAIN SERANGAN SAPPER

Serangan terhadap pangkalan Divisi Infanteri AS ke-25 di Củ Chi, pada tahun 1969, menggambarkan operasi sapper yang walau menyebabkan lebih sedikit kerusakan, tetapi dilakukan di salah satu pangkalan AS yang paling penting dan dipertahankan dengan baik di Vietnam. Aksi khusus ini melibatkan operasi gabungan elemen VC dan NVA yang berhasil menghancurkan sembilan helikopter angkut berat Boeing CH-47 Chinook, merusak tiga lainnya lagi dan meledakkan tempat penimbunan amunisi. Sapper VC oleh beberapa laporan disebut memimpin serangan tersebut, dengan prajurit-prajurit NVA mengikuti melakukan serangan lanjutan atau memberikan dukungan tembakan. Namun, pada tahun 1969, diperkirakan sebagian besar formasi Utama VC telah digantikan oleh tentara Vietnam Utara, dan pasukan komunis terus menggunakan nomor unit yang berbeda-beda untuk membingungkan pihak ARVN dan dan pengamat AS, sehingga perbedaan antara unit VC-NVA serta unitnya menjadi kurang begitu jelas. Hasil interogasi dari POW yang ditangkap menunjukkan adanya koordinasi yang erat dengan elemen gerilya lokal dan informan, termasuk dalam penyediaan gambar dan sketsa rinci dari wilayah sasaran. Tim yang melakukan penetrasi benar-benar memberikan kejutan yang hampir lengkap, dengan para sappers berhasil memotong 10 titik pada pagar kawat berduri, dan maju tanpa terdeteksi oleh para penjaga, rintangan atau patroli. Serangan roket yang dilancarkan menjadi sinyal bagi para sappers untuk beraksi menyerang helikopter dan personel pangkalan. Selain kerugian helikopter, kerugian di pihak pasukan AS relatif ringan (1 tewas, 3 terluka versus sekitar 30 NVA atau VC yang tewas), namun insiden tersebut menunjukkan kemampuan VC / NVA untuk tetap bertahan di medan tempur Vietnam Selatan, sementara mereka membangun kembali kekuatannya setelah kerugian yang mereka derita dalam Serangan Tet tahun sebelumnya.

Unit Sapper Komunis menghancurkan 9 helikopter angkut berat dan merusak 3 lainnya di Kamp Pangkalan Cu Chi, 26 Februari 1969. Pangkalan itu dibangun di dekat daerah “sarang lebah musuh” yang membangun bermil-mil terowongan dan tempat persembunyian Vietcong. Unit-unit Sappers dikirimkan dengan menggunakan terowongan tersebut dalam operasi tahun 1969. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sementara itu di Malam Tahun Baru 1968, di sebuah base camp SOG (Special Operation Group/Tim Pasukan Khusus) yang sangat rahasia di FOB 1 di Phu Bai, Komandan Kamp Mayor William Shelton memerintahkan agar keamanan pangkalan ditambah, karena berdasarkan laporan yang ia terima, diketahui akan ada serangan VC atau NVA yang direncanakan malam itu. Beberapa bulan sebelumnya, agen VC telah menempatkan penanda di atap ruang tunggu, yang dapat digunakan oleh awak mortir VC atau NVA sebagai panduan target. Sehari atau dua hari sebelumnya, seorang NCO Baret Hijau telah menemukan seorang pekerja kamp sedang dengan hati-hati menghitung langkahnya saat dia berjalan menjauh dari clubhouse — sebuah praktik umum bagi awak mortir atau artileri untuk meningkatkan akurasi mereka terhadap target yang direncanakan (kalau anda pernah nonton film “The Green Beret” nya John Wayne, anda akan melihat praktek ini ditampilkan). Malam itu di Green Baret Lounge, sedang disiapkan untuk merayakan Tahun Baru, dengan jukebox meraung, minuman beredar, para pria memainkan mesin slot, dan bertaruh poker dengan taruhan tinggi. Tapi ada batasan bagi pesta malam itu, karena berdasar laporan intel dan perintah Shelton, mereka diwajibkan untuk menutupnya lebih awal jika ada aktivitas musuh. Sebelum klub ditutup, percakapan di sekitar meja poker beralih ke tim FOB 4, RT Diamondback, yang sedang berada di lapangan di target MA, di Laos, sebelah barat Vietnam Selatan. Personel Baret Hijau di tim itu, SSG James M. Hall, Spesialis Kelas Empat Wayne L. Hawes, dan Michael J. McKibban, tidak senang karena harus menjalankan operasi pada Malam Tahun Baru. Sekitar jam 2200, SSG Robert J. “Spider” Parks memberi tahu bahwa dia dan pilot Covey (pengontrol udara garis depan tim SOG) akan terbang ke AO tim pada tengah malam untuk mengucapkan “Selamat Tahun Baru” kepada orang-orang itu. Sementara pesawat O-2 Spider’s berada di atas area target, awak mortar di FOB 1 menerangi langit dengan semburan berbagai warna dan perangkat peledak lainnya, untuk menyambut di Tahun Baru. Ketika dia kembali ke pangkalan, Spider memberi tahu bahwa dia juga memberi selamat liburan pada tim dan mengingatkan bahwa tim RT telah berada di wilayah. Laos. Satu-satunya aktivitas musuh yang ada di FOB 1 adalah berasal dari kru mortir VC yang kurang terlatih dengan baik yang melemparkan beberapa peluru mortir ke arah pasukan Amerika, tetapi malah mendarat di kompleks ARVN di selatan FOB 1.

Pesawat pengintai bersenjata Cessna O-2 Skymaster. (Sumber: https://www.themodellingnews.com/)

Pagi-pagi sekali tanggal 1 Januari 1969, Spider meninggalkan FOB 1 untuk mengontak RT Diamondback, mendapati tim dalam kondisi baik dan sedang kembali ke Phu Bai. Namun, di pagi hari, operator radio tim meminta dilakukannya ekstraksi taktis dari AO karena ada banyak aktivitas musuh di sekitar tim itu. Pilot O-2 Angkatan Udara dan Spider dengan cepat kembali ke area operasi di atas target MA. Spider mendapatkan kembali kontak radio dengan Hawes, yang berbicara dengan jelas tapi pelan tentang aktivitas musuh di daerah tersebut. Saat Hawes berbicara dengan Spider, dia mendengar ledakan tembakan AK-47 yang tiba-tiba dan suara teriakan. Kemudian terdiam. Untuk waktu yang lama, Spider tidak dapat menerima kontak radio apapun. Dia tahu ada yang tidak beres. Akhirnya, seorang anggota tim dari orang Vietnam berbicara di radio. Dia mengatakan personel-personel Amerika sudah tewas, tetapi personel tim dari orang Vietnam selamat dari serangan itu. Kembali ke FOB 1, sekitar jam 1200, seseorang dari pos komunikasi datang ke klub dan mengatakan seorang anggota tim Vietnam dari RT Diamondback mengontak radio, berbicara dengan Spider. Itu adalah berita yang sangat buruk. Beberapa anggota tim pengintai di FOB 1 menuju ke pos komunikasi. Sebelum kami sampai di sana, Tony Herrell, seorang veteran pengintaian, datang dari sudut dengan membawa lebih banyak berita buruk. “Mereka terkena sergapan sappers (NVA). Ini tidak terlihat bagus, “katanya. Seperti biasa, ketika sebuah tim mendapat masalah, beberapa anggota tim akan menarik PRC-25 mereka, memasang antena panjang, dan memantau setiap lalu lintas radio yang bisa mereka dapatkan. Satu-satunya berita yang datang di hari pertama Tahun Baru ini jelas buruk. Mereka bisa mendengar Covey dengan sabar berbicara dengan anggota tim Vietnam di lapangan. Mereka jelas terguncang. Tampaknya pihak Amerika lambat bereaksi terhadap serangan sapper yang cepat dan mematikan itu. Dalam hitungan detik, para sappers telah membunuh tiga pasukan SF dan memilih membiarkan anggota tim Vietnam Selatan tetap hidup. Berita tentang adanya para sappers hanya menambah berita menjadi lebih  buruk.

Unit Elit Recon SOG Amerika di Vietnam mengakui betapa berbahayanya unit-unit Sapper NVA dalam melakukan penyergapan. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pertama, pihak Amerika menderita korban tiga personel Baret Hijau yang tewas. Kedua, laporan intel yang diterima oleh para pemimpin tim di awal tahun tentang aktivitas sappers NVA menjadi kekuatan baru dan lebih mematikan sekarang telah dikonfirmasi kebenarannya dengan tragedi itu. Bertahun-tahun kemudian, pemimpin tim pengintai SOG John Plaster merinci bagaimana, bahwa pada tanggal 19 Maret 1967, Ho Chi Minh secara pribadi mengunjungi upacara kelulusan di Son Tay, 30 mil sebelah timur Hanoi di Vietnam Utara, dari brigade sapper pertama — yang kemudian disebut “ Pasukan Operasi Khusus dalam Perang Rakyat Vietnam. ” Brigade Sapper itu adalah Brigade Lintas Udara NVA ke-305 lama dan elit yang kemudian diubah menjadi penyusup malam yang terkenal karena kerap menyerbu base camp pasukan A.S. hanya dengan mengenakan celana pendek sambil membawa muatan tas peledak dan AK-47. Sekarang, unit kontra-pengintaian dari NVA akan beroperasi sebagai sebuah kompi beranggotakan 100 orang yang dibagi menjadi peleton untuk menyapu dan memburu tim pengintai SOG. Personel keamanan NVA telah menyerang pangkalan rahasia FOB 4 di Da Nang pada tanggal 23 Agustus 1968, juga telah menewaskan 18 personel Baret Hijau dan puluhan pasukan Vietnam dalam serangan pagi hari yang direncanakan dengan baik. Ini adalah pertama kalinya tim sapper NVA membunuh personel SOG saat berada di medan tempur, di wilayah Laos atau Kamboja. NVA kemudian memiliki penghargaan Order for Heroes Who Destroy American, yang biasa disebut “American-Killer Award.” Ketiga, dengan hanya membunuh orang-orang Amerika, pihak NVA melancarkan sebuah “serangan psikologis” yang besar. Dengan membiarkan anggota tim Vietnam tetap hidup, akan menanam benih keraguan dan perselisihan antara pasukan SF dan orang-orang Vietnam. Taktik itu berhasil untuk beberapa waktu di Phu Bai. Beberapa personel AS di kamp yang tidak bekerja setiap hari dengan pasukan pribumi secara terbuka mempertanyakan kesetiaan anggota tim asal Vietnam. Hasil Otopsi kemudian mengungkapkan bahwa tiga personel Baret Hijau terbunuh dari peluru AK-47 yang ditembakkan oleh para sappers, sementara Anggota tim asal Vietnam membawa senapan CAR-15, yang menembakkan amunisi 5,56 mm, hasil ini secara tidak langsung mengurangi ketegangan diantara mereka. Pada tanggal 30 November, pihak SOG kehilangan tujuh personel SF dan seluruh kru Kingbee. Tiga puluh dua hari kemudian, mereka kehilangan tiga orang Amerika lainnya. Namun karena ini adalah perang rahasia, mereka tidak dapat memberi tahu publik Amerika tentang aktivitas di Tim SOG dan korban-korban yang mereka derita. Terlepas dari itu, perang rahasia terus berlanjut hingga tahun 1972. Tim SOG memiliki tingkat korban tertinggi dalam perang, yakni pada level lebih dari 100 persen, termasuk KIA dan personel SOG Baret Hijau legendaris seperti Bob Howard yang menerima delapan Purple Hearts, bersama dengan Medal of Honor atas aksinya di Laos.

Sapper perenang yang tertangkap. (Sumber: https://www.navyhistory.org.au/)
Ranjau tempel BPM 2 asal Soviet. Sebuah studi dari Angkatan Laut AS menghitung bahwa ada 88 serangan perenang / sapper yang berhasil terhadap kapal-kapal angkut di perairan Vietnam antara bulan Januari 1962 dan Juni 1969 yang menewaskan lebih dari 210 personel dan melukai 325 lainnya, sementara unit sapper komunis cuma menderita 20 korban. (Sumber: https://www.navyhistory.org.au/)

Sapper VC/NVA tidak hanya melakukan serangan pada target-target Angkatan Darat, tapi juga target-target Angkatan Laut yang dilakukan oleh unit sapper angkatan laut mereka. Tim Sapper angkatan laut diatur sama seperti satuan sapper lainnya, perbedaan utamanya adalah bahwa unit sapper angkatan laut cenderung kurang terikat secara hierarkis dan lebih terpusat serta fleksibel dalam organisasi mereka. Target sapper angkatan laut termasuk kapal-kapal angkut komersial dan militer, jembatan, dan dermaga, pangkalan militer terapung, pangkalan pantai, pembangkit listrik, dan target lain yang dekat dengan air. Dalam peleton sapper angkatan laut, biasanya ada dua kelompok tempur yang terdiri dari dua hingga lima orang. Diketahui pada saat itu bahwa Grup ke-10 VC, diperkuat oleh 126 Perenang Sapper Resimen Angkatan Laut Vietnam Utara, ditempatkan di suatu area di Zona Khusus Rung Sat, dekat Vung Tau. Metode yang disukai untuk memasukkan perenang sapper adalah dengan mengunakan sampan. Sampan adalah perahu yang paling umum di Vietnam dan dengan begitu menjadi alat transportasi rahasia yang sempurna untuk para perenang sapper. Sampan memungkinkan para perenang sapper untuk memperluas jangkauannya dari pangkalan utama dan membawa perlengkapan yang lebih banyak atau lebih berat. Sampan juga bisa berbaur dengan lalu lintas jalur air ‘normal’ yang menjadikannya platform pengintaian yang sempurna bagi perenang sapper. Sebuah studi dari Angkatan Laut AS menghitung bahwa ada 88 serangan perenang / sapper yang berhasil terhadap kapal-kapal angkut di perairan Vietnam antara bulan Januari 1962 dan Juni 1969 yang menewaskan lebih dari 210 personel dan melukai 325 lainnya. Terhadap aksi ini hanya ada 20 sapper musuh yang terbunuh atau berhasil ditangkap untuk semua serangan, baik berhasil atau tidak, dimana hal ini jelas menunjukkan efektifitas dari serangan jenis ini.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Sapper Attack: The Elite North Vietnamese Units by Arnold Blumberg


Sapper Combat Arm

https://www.globalsecurity.org/military/world/vietnam/nva-sapper.htm

https://en.m.wikipedia.org/wiki/NLF_and_PAVN_battle_tactics#Sapper_attack_on_Firebase_Mary_Ann,_1971


NEW YEAR’S DAY, 1969: NVA SAPPERS KILL SOG GREEN BERETS by John Stryker Meyer; Jan 1, 2016

https://sofrep.com/news/new-years-day-1969-nva-sappers-kill-sog-green-berets/


The Swimmer/Sapper Attack at Vung Tau 23 May 1969

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *