USMC and The Battle For Kuwait

Setelah Iraq menginvasi Kuwait dan terlihat mulai mengancam Arab Saudi, Presiden Bush menawarkan untuk membela dan mengamankan Arab Saudi dari ancaman militer Irak serta mengirim Menteri Pertahanan Richard Cheney dan Jenderal Norman Schwarzkopf, komandan Komando Pusat AS, ke Jeddah untuk berkonsultasi dengan Raja Fahd dari Saudi, yang meminta bantuan militer AS pada 6 Agustus. Presiden Bush segera memerintahkan pengiriman pasukan ke Arab Saudi, dan hari berikutnya pesawat-pesawat tempur Angkatan Udara AS terbang ke timur dan brigade dari Divisi Lintas Udara ke-82 mulai dikerahkan, memulai apa yang kemudian disebut sebagai Operasi Desert Shield.

Promoted to commander of the 1st Marine Division on 8 August 1990—six days after Iraq invaded Kuwait—Major General James M. “Mike” Myatt (far left) transferred his headquarters to Saudi Arabia within a month. He’s pictured with Army General H. Norman Schwarzkopf and I MEF commander Lieutenant General Walter E. Boomer-USMC History Division

Unsur-unsur pertama dari Divisi ke-82 tiba pada tanggal 9 Agustus dan membentuk posisi pertahanan di selatan perbatasan Kuwait. Tetapi para penerjun payung bersenjata ringan itu tidak lebih dari “polisi tidur” jika pasukan Irak yang mekanis datang melintasi perbatasan dan mendesak ke selatan. Pada tanggal 14 Agustus pasukan darat dari Brigade Ekspedisi Marinir ke-7 (MEB) dengan pesawat tempur dan jet penyerang dari 3d Marine Aircraft Wing (MAW) terbang ke Arab Saudi. Kemudian kapal-kapal dari Skuadron Preposisi Maritim ke-2 berlabuh ke pelabuhan Teluk Persia, Al Jubayl di negara itu dan mulai menurunkan senjata berat, peralatan, dan persediaan Marinir.

Tindakan ini memberikan kekuatan pertahanan substansial pertama. Dalam dua minggu, 15.248 Marinir, di bawah komando Mayor Jenderal John I. Hopkins, dikerahkan di gurun utara Al Jubayl, berusaha menyesuaikan diri dengan panas hingga 110 derajat dan pasir yang menutupi tubuh mereka yang berkeringat dan mengotori senjata mereka . Mereka kemudian akan diperkuat dengan lebih banyak Marinir dari Divisi-1 di bawah komando Major General James M. “Mike” Myatt, serta ribuan tentara dari Korps XVIII Angkatan Darat, dan ditambah banyak pasukan internasional yang termasuk sekutu tradisional Eropa dan kontribusi yang mengejutkan dari negara-negara Arab, termasuk Syria.

Organisasi Marinir dan kendaraan tempurnya

Pada Februari 1991, pasukan A.S. akan berjumlah lebih dari 500.000, termasuk 92.000 Marinir — pengerahan pasukan Amerika terbesar sejak Perang Vietnam. Pasukan AS yang termasuk dalam Operation Desert Shield itu termasuk Divisi Marinir ke-2 yang dipimpin oleh Mayor Jenderal William M. Keys, dan skuadron penerbangan dari 2nd MAW (Marine Air Wing) yang ada di bawah kendali komandan 3rd MAW, Mayor Jenderal Royal N. Moore. Telah menjadi satuan mekanis, Divisi Marinir ke-2 masih diperkuat dengan Brigade 1 dari Divisi Lapis Baja ke-2 Angkatan Darat, yang disebut “Brigade Harimau” dan dilengkapi dengan tank M-1 Abrams yang kuat dan Kendaraan Tempur Bradley.

Khawatir T-72 Iraq bakal bisa menghabisi tank M60A1 marinir, maka beberapa tank M1A1 milik Divisi ke-2 US Army diperbantukan ke Divisi ke-2 USMC.

Keys juga mendapat tambahan kekuatan dari Bravo Company, Batalion Tank ke-4, sebuah unit Cadangan Korps Marinir yang baru saja dilatih menggunakan tank M-1 yang dipinjam dari Angkatan Darat. Semua ini memberi Keys kekuatan sebesar 257 tank, termasuk diantaranya 185 tank Abrams. “Satuan ini mungkin menjadi divisi marinir terberat, dengan kekuatan tempur paling besar, yang pernah dikirimkan dalam perang,” kata komandan divisi itu. Sementara itu Divisi-1 pimpinan Myatt memiliki sekitar 123 tank Patton M-60 yang lebih tua, yang kemudian akan terbukti lebih dari cukup untuk menandingi tank Saddam buatan Soviet.

Tank M-60A1 USMC.

Kedua divisi ini juga memiliki batalion kendaraan amfibi serbu AAV-7 yang beroda rantai dan kendaraan lapis baja ringan LAV-25 beroda delapan, ditambah ratusan truk dan Humvee untuk mengangkut Marinir mereka dalam serangan ofensif yang bergerak cepat. Selain dua divisi Marinir dan ratusan pesawat sayap tetap dan helikopter yang berada di Arab Saudi, ada ribuan Marinir di MEB ke-4 dan ke-5 yang ada di Teluk Persia di atas kapal amfibi. Karena banyak dari Marinir di bawah komandonya berasal dari unit-unit di luar Divisi-1, Myatt memutuskan untuk mengatur mereka menjadi satuan tugas yang dirancang untuk berbagai misi. Dia menciptakan dua unit mekanis, berat dengan tank dan kendaraan lain untuk melakukan serangan utama: Gugus Tugas Ripper, dibentuk di sekitar 7th Marine di bawah Kolonel Carlton W. Fulford, dan Gugus Tugas Papa Bear, dari 1st Marine dibawah pimpinan Kolonel Richard N. Hodory.

With its crewmen wearing chemical protective gear, a Marine light armored vehicle moves through a breach in a minefield on the first day of the Operation Desert Storm ground war, 24 February 1991. Once past the obstacles, Leathernecks had relatively little trouble routing Iraqi forces in Kuwait.

Myatt juga membentuk dua unit infantri murni dengan beberapa kendaraan, yang akan membuat serangan awal ke Kuwait untuk melindungi sisi-sisi dari dua kolom serangan. Ini adalah Gugus Tugas Grizzly, yang dipimpin oleh Kolonel James A. Fulks dari 4th Marine dan Gugus Tugas Taro, dipimpin oleh Kolonel John H. Admire dari 3rd Marine. Dan dia juga membentuk gugus tugas Sepherd, dengan diperkuat LAV dari batalyon Infanteri Lapis Baja ke-1 dan ke-3; sementara Cadangan dari Batalion-1, Marinir ke-25 akan berurusan dengan tawanan perang Irak; dan Troy, unit kecil yang beragam yang akan berpura-pura menjadi satuan besar untuk menutupi gerak divisi berpindah ke posisi serangannya. Baterai artileri dari Marinir ke-11 dan ke-13 akan mendukung satuan tugas serangan. Sementara itu, Keys mempertahankan penetapan normal unit-unit Divisi 2-nya — resimen infantri Marinir ke-6 dan ke-8 dan resimen artileri Marinir ke-10, ditambah Brigade Tiger.

Pertempuran Awal

Ketika pasukan koalisi semakin bertambah besar, AS memberi Saddam tenggat waktu 15 Januari untuk setuju menarik pasukannya dari Kuwait. Ketika permintaan itu diabaikan, sekutu melakukan serangan, yang dimulai pada dini hari tanggal 17 dengan serangan oleh pesawat dan oleh rudal jelajah Tomahawk yang ditembakkan dari kapal perang dan kapal selam Angkatan Laut. Serangan awal menghantam fasilitas komando dan kontrol Irak dan situs pertahanan udara, kemudian kampanye sekutu fokus pada serangan yang lebih luas terhadap pasukan darat Irak.

Dua minggu setelah perang udara, Saddam tampaknya memutuskan untuk mencoba mencegah serangan darat koalisi dengan meluncurkan sejumlah serangan dan serangan mekanis besar ke Arab Saudi untuk menguji kekuatan darat sekutu. Tetapi serangan itu memiliki hasil sebaliknya. Bentrokan pertama terjadi pada malam 29-30 Januari dengan serangan oleh berbagai kendaraan lapis baja, tank, dan pasukan infanteri terhadap dua pos pengamatan yang dipertahankan oleh pasukan kecil di selatan tanggul pasir di sepanjang perbatasan. Serangan-serangan yang tidak terkoordinasi dengan baik terhadap OP 4 dan OP 6 di dekatnya dipukul mundur oleh satuan LAV Marinir yang menembakkan rudal TOW dan dengan serangan udara koalisi, yang mengakibatkan 22 kendaraan musuh hancur dan beberapa ratus tentara Irak menyerah. Tetapi dua LAV turut hancur dalam insiden “friendly fire”, satu tertembak oleh rudal TOW dari LAV Marinir lain dan yang lain oleh rudal yang ditembakkan oleh pesawat A-10 Warthog Angkatan Udara. Sebelas Marinir terbunuh.

Pasukan marinir saat Operasi Badai Gurun dengan senjata M60 GPMG, senapan serbu M16A2, dan senjata anti tank personal.

Alih-alih terintimidasi oleh serangan yang sia-sia itu, para komandan Marinir menyimpulkan bahwa tentara Irak tidak termotivasi, kurang terlatih, dan dipimpin dengan buruk, dan pertahanan Irak tidak akan sekuat yang diperkirakan sebelumnya. Tetapi insiden friendly fire yang mematikan itu membuat Komando Pusat memerintahkan semua kendaraan yang sekutu ditandai dengan simbol “V” terbalik, panel oranye, chemical light stick, dan selotip.

Tentara Irak melakukan serangan yang lebih besar pada tanggal 30 Januari – 1 Februari, terhadap Khafji, beberapa mil di selatan perbatasan. Satu-satunya kehadiran pasukan koalisi di kota Saudi itu, dimana warga sipil telah dievakuasi, adalah empat tim pengintai Divisi Pertama ke-1. Ketika pertempuran di OP 4 dimulai, kekuatan udara sekutu melihat brigade mekanis Irak bergerak menyusuri jalan raya pantai menuju Khafji dan brigade kedua bergerak melalui ladang minyak Al Wafrah di Kuwait.

Terlepas dari serangan udara sekutu, pasukan Irak masuk ke kota yang ditinggalkan itu, menjebak dua tim pengintaian Marinir, yang akan tetap bersembunyi di sepanjang pendudukan Irak, menyiarkan informasi lewat radio mengenai pasukan musuh. Meskipun Myatt ingin menggunakan pasukan Marinir untuk menyelamatkan kedua tim, Khafji berada di zona pertahanan Arab Saudi dan dia dengan enggan menyetujui untuk membiarkan Saudi membebaskan kota mereka sendiri. Didukung oleh kekuatan udara dan artileri Marinir, unit-unit mekanis Saudi dan Qatar meluncurkan serangan siang hari pada tanggal 31 Januari, mengusir tentara Irak dari Khafji, menghancurkan 90 kendaraan musuh, dan menangkap lebih dari 600 tentara, dengan kerugian minimal.

Ubah Rencana

Menggagalkan serangan Irak yang mudah menegaskan kembali pandangan negatif komandan Marinir tentang pasukan musuh. “Kami tahu bahwa orang Irak tidak sebagus yang semua orang gambarkan tentang mereka pada saat itu,” kata Myatt. Perkiraan kemampuan militer Irak dan kemauan untuk berperang yang lebih rendah juga membuat Letnan Jenderal Walter E. Boomer merevisi rencananya untuk serangan ke Kuwait. Awalnya, komandan Ist MEF itu telah merencanakan agar Divisi 1 melakukan penyerangan dari dua ladang ranjau, kemudian membiarkan Divisi ke-2 yang lebih kuat melewati garis mereka dan melanjutkan serangan. Keputusan itu terutama didorong oleh kurangnya aset teknik yang diperlukan untuk membersihkan jalur yang cukup menembus sabuk pertahanan untuk memungkinkan Divisi Marinir bergerak cepat.

Tetapi tidak ada pemimpin Marinir yang menyukai gagasan itu (sebagai pembuka jalan untuk mempersilahkan satuan lain beraksi), dan dengan semakin banyak peralatan teknik yang tersedia, Keys pergi ke Boomer untuk mengusulkan agar masing-masing divisi melakukan operasi pelanggaran independen. “Aku tidak nyaman dengan rencana semula itu,” kata Keys. Boomer mengatakan bahwa ia keputusannya untuk mengubah rencana didasarkan pada kepercayaannya pada Keys, yang telah bertarung bersamanya ketika mereka menjadi “co-van” – penasihat untuk marinir Vietnam Selatan selama Perang Vietnam.

In the Saudi Arabian desert near the border with Kuwait, the I Marine Expeditionary Force (MEF) had time to train and perfect its plan of attack. Left: Marines gather for one of many sand-table drills. The 1st Marine Division’s largest “table” measured 40 by 40 meters.

Tetapi revisi tersebut membutuhkan waktu bagi Keys untuk memindahkan divisinya ke barat laut, ke sebelah kiri zona serangan yang direncanakan Divisi-1. Hal ini juga memerlukan perubahan besar dan bagaimana Marinir kemudian memberikan dukungan logistik untuk serangan ke Kuwait, akan menghasilkan prestasi luar biasa dari unit-unit logistik dan teknik dari Marinir. Selama perencanaan awal untuk ofensif darat, Brigadir Jenderal Charles C. Krulak, komandan Satuan Dukungan Logistik dari Divisi ke-2 dan kemudian akan menjadi komandan Korps Marinir di masa depan, menginstruksikan pembangunan basis dukungan logistik besar, yang disebut Kibrit, di padang pasir. Pada 2 Februari, mereka sudah siap, dengan “penyimpanan bahan bakar besar, pusat pasokan amunisi terbesar dalam sejarah Korps Marinir, dan semua persediaan yang MEF-I butuhkan untuk serangan ke Kuwait,” kata Krulak.

Tetapi dengan keputusan untuk membuat dua serangan terpisah dan untuk memindahkan poros serangan ke barat laut, Krulak mengatakan kepada Boomer bahwa dia tidak dapat mendukung rencana baru dari Kibrit dan harus mencari basis dukungan lain. Stafnya menemukan tempat di barat perbatasan Kuwait, yang ia beri nama Al Khanjar — bahasa Arab untuk “pisau.” Para Tim Zeni marinir dan Seabees Angkatan Laut bergerak dengan alat berat dan pergi bekerja mengubah sepetak gurun yang luas menjadi basis logistik besar lainnya.

Pasukan marinir berlatih menembus pagar kawat duri di perbatasan Arab Saudi.

“Kami mulai membangun mukjizat ini di padang pasir pada 6 Februari dan selesai pada pukul 0100 pada 20 Februari,” kata Krulak. Khanjar luasnya 11.280 hektar, dengan 780 hektar merupakan tempat penyimpanan amunisi; 5 juta galon bahan bakar, “penyimpanan bahan bakar terbesar yang pernah ada di Korps Marinir”; 100.000 galon air; dan rumah sakit Angkatan Laut terbesar ketiga di dunia dalam hal ruang operasi. Semua itu ada di dalam tanah, tidak ada yang di atas tanah, jelasnya. Untuk mengantisipasi kemungkinan serangan bahan kimia, Khanjar memiliki sejumlah besar air dan sebanyak mungkin kendaraan pembawa air yang bisa diperoleh Krulak, untuk dekontaminasi. Meskipun tidak mengesampingkan peran prajurit udara dan darat, “ketika sejarawan dan ahli strategi dan ahli taktik mempelajari Perang Teluk, apa yang akan mereka pelajari dengan seksama adalah logistik,” Krulak, yang merupakan seorang perwira infanteri karier, mengatakan. “Ini adalah perang logistik.”

Menjebol penghalang

Map of ground operations of Operation Desert Storm concentrating on the “heel” of Kuwait.

Ketika tanggal untuk perang darat mendekat, Keys memindahkan Divisi ke-2 ke posisi serangannya dan Myatt memerintahkan Fulks dan Admire untuk mulai memindahkan Grizzly dan Taro ke posisi dekat ladang ranjau pertama. Myatt sudah mengirim tim pengintai ke ladang ranjau untuk mencari jalan melalui rintangan tersebut. Mereka menemukan jalan untuk Taro, tetapi tidak untuk Grizzly. Pada saat ini, panas terik musim panas telah digantikan oleh cuaca dingin dan basah, dengan angin kencang yang kadang-kadang menghancurkan beberapa tenda komando. Marinir di unit serangan, yang telah meninggalkan tenda mereka, bisa bertahan atas serangan iklim ini karena mereka memiliki panas.

Karena jarak yang harus ditempuh oleh Marinir mereka dengan berjalan kaki, Fulks dan Admire telah memindahkan mereka di dekat tanggul sepanjang perbatasan Kuwait pada malam 20 Februari. Fulks mengirim tim pengawas ke ladang ranjau berulang kali untuk menemukan jalan bagi Grizzly, tetapi upaya mereka terganggu oleh serangan udara sekutu yang tak terduga tepat di luar ladang ranjau, patroli lapis baja Irak, dan tembakan artileri sporadis, yang tidak akurat. Pada akhir tanggal 22, tim zeni yang ada pada Taro mulai menandai jalur yang sebelumnya ditemukan melewati ranjau di sektor mereka. Tetapi Fulks mulai putus asa dan mengatakan kepada Myatt bahwa ia mungkin harus menggunakan peralatan peledak ranjau untuk membuat jalan.

Kemudian Tim Grizzly mendapat istirahat. Para pengintai mengamati jalan melalui ladang ranjau yang diambil oleh para pembelot Irak dan menggunakannya untuk melintasi penghalang, mereka turut menguasai bunker musuh dan mengambil beberapa tahanan setelah menembak tiga prajurit yang bertahan. Tetapi ketika Fulks meminta izin untuk bisa mengeksploitasi pendobrakan tersebut, Myatt memberitahu tentang adanya perintah presiden yang membatasi gerakan ke Kuwait, jadi dia harus menarik kembali tim pengintai dan tahanan mereka. Dengan menyatakan keprihatinannya tentang penundaan itu, Fulks mengatakan bahwa dia akan membutuhkan enam jam untuk bergerak dari area pertahanannya ke posisi blocking. Myatt mengerti tapi tidak bisa melakukan apa pun selain memberi tahu Fulks tentang time line yang diperintahkan.

Tank M-60A1 marinir yang dilengkapi dengan perangkat dozer penguruk pasir.

Terlepas dari ditemukannya sabuk ranjau anti-personil yang tak terduga di belakang ladang ranjau pertama, diledakkan oleh Tim Zeni, kedua pasukan pemblokiran itu sudah berada di posisi mereka pada pukul 0430 tanggal 24 Februari— “G-Day” – Divisi 1 memulai penyerangan utama Amerika pada posisi antara dua lokasi penetrasi awal. Meskipun Taro dan Grizzly mampu berjalan melalui jalan sempit antara ladang ranjau, tim zeni tempur yang menyertai Ripper dan Papa Bear harus membuat beberapa jalur yang cukup lebar untuk tank, traktor amfibi, dan truk mereka untuk melintasi wilayah yang aman. Mereka menembakkan bahan peledak ranjau berpelontar roket yang meledak di penghalang untuk meledakkan ranjau anti-tank dan anti-personil, kemudian mengirim tank M-60 dengan peralatan bajak ranjau masuk untuk menyingkirkan ranjau yang belum meledak. Seorang reporter yang melewati ladang ranjau di belakang Ripper melihat setidaknya dua tank rusak setelah melanggar ranjau yang tidak tersentuh merusakkan roda rantai mereka.

Meriam Howitzer USMC di tengah Gurun.

Satu jam kemudian, Divisi ke-2 mulai menembus sekitar 15 mil ke barat laut. Keys telah memerintahkan Marinir ke-6 untuk melakukan penerobosan dan komandan resimen, Kolonel Lawrence Livingston, meminta tiga batalion mekaniknya membuat dua lubang masing-masing melalui penghalang, menggunakan jalur yang sama yang telah dibuat oleh tank yang dilengkapi perlengkapan bajak ranjau. Mereka memiliki masalah yang sama dengan yang dialami Divisi ke-1, yakni jalur yang tidak efektif dan tank yang rusak karena melanggar ranjau. Pasukan Myatt hanya menghadapi tembakan artileri ringan dan tidak efektif di sabuk penghalang pertama, tetapi pasukan Marinir Keys harus menekan lebih kuat, meskipun sebagian besar tidak akurat, pasukan Irak memberi tembakan artileri balasan dan serangan udara. Kedua divisi menghadapi artileri, tank, dan tembakan infanteri yang lebih berat di ladang ranjau kedua, dan para tim zeni Marinir ke-6 bahkan memiliki lebih banyak masalah dalam membersihkan keenam jalur yang diperlukan.

Setelah melewati rintangan, kedua pasukan Marinir dengan cepat mengatasi para prajurit Irak di parit-parit dan menggunakan rudal TOW dan tembakan tank untuk mengusir serangan balik yang ringan dan tidak terkoordinasi. Kedua kolom pasukan penyerang itu menjadi terbebani dengan banjir tentara Irak yang ingin menyerah. Dalam banyak kasus, Marinir mengabaikan kelompok-kelompok lelaki yang acak-acakan melambaikan kain putih kotor, dan hanya mengarahkan mereka ke selatan ke tempat unit pendukung dapat menahan mereka.

Infanteri Iraq tidak banyak memberi perlawanan selama perang, banyak diantaranya langsung mengibarkan bendera putih saat mendengar letusan senjata pertama.

Menyerbu ke Kuwait

“Saya benar-benar tidak melihat adanya pertempuran yang dilakukan oleh tentara Irak,” kata Kopral Raymond Campbell, seorang penembak rudal TOW. “Mereka semua menyerah. Tank-tank [Marinir] menembaki mereka dengan gencar jadi saya pikir mereka segera menyerah. ”Hal sama diamini oleh Clifton Hogan:“ Tidak ada yang bisa dilakukan dalam kondisi ini. Ini seperti naluri alami. Mereka melompat seperti tupai untuk menyerah. ” Ketika dua divisi Marinir memasuki Kuwait, sekitar 7.500 marinir dari MEB ke-5 diturunkan di pelabuhan Saudi untuk menjadi pasukan cadangan 1st MEF.

Kendaraan angkut personel marinir AAV-7 dalam Operasi Badai Gurun.

Sebelum G-Day, para marinir itu telah melakukan serangkaian latihan pendaratan ketika armada amfibi bergerak ke utara melalui Teluk Persia, mengingatkan orang Irak akan kekuatan yang akan menyerang pantai dekat Kota Kuwait. Intelijen menunjukkan bahwa pasukan amfibi itu berhasil mengikat sekitar sepuluh divisi Irak yang berjumlah 80.000 orang di garis pantai Kuwait, pasukan yang sebenarnya bisa saja digunakan untuk bertempur melawan Divisi 1 dan 2. Kemungkinan untuk menyerang pantai-pantai yang dipertahankan dengan baik itu akhirnya tidak diperlukan, karena divisi Marinir dengan cepat bergerak melalui para defender Irak yang putus asa. Menjelang hari G-Day, Divisi 1 telah mencapai tujuan awalnya, lapangan terbang Al Jaber yang luas, yang diamankan pada hari berikutnya.

Aksi Divisi Marinir ke-1

Task Force Ripper di bawah Kolonel Carlton W. Fulford Jr memimpin Divisi Marinir ke-1 langsung menuju ke Kota Kuwait. Menghancurkan satuan lapis baja dan segala tindakan menghambat yang dilakukan musuh. Ketika Divisi-1 Marinir semakin dekat dengan kota, komandan mendengar laporan tentang dua serangan balasan yang coba dilakukan oleh pasukan Irak. “Kami menembak pada dua titik kumpul musuh dan tidak sampai 30 menit kami mencerai-beraikan mereka seperti kelinci keluar dari semak-semak,” kata Myatt, komandan divisi. “Helikopter Cobra dan kendaraan lapis baja ringan LAV mendapat peran lapangan” sebagai “paket pemburu-pembunuh” untuk mencari dan menghancurkan peralatan militer Irak.

AH-1W Cobra menjadi payung udara bagi pasukan Marinir Amerika yang menerobos masuk wilayah Kuwait menjagal Angkatan Darat Iraq.

Dalam perjalanan ke tujuan mereka, Bandara Internasional Kuwait, tank M-60A1 Patton Satuan Tugas Ripper menghancurkan sekitar 100 tank Irak dan kendaraan pengangkut personel lapis baja, termasuk sekitar 50 tank buatan Soviet T-72, yang jadi andalan Angkatan Darat Iraq. Komandan Divisi Marinir ke-1 Mayor Jenderal J.M. Myatt berkata, “Selama hari pertama operasi tempur Peleton 1, Kompi D, Batalion Tank ke-3 telah menghancurkan 15 tank Irak”. Marinir juga menghancurkan 25 APC dan mengambil 300 tawanan perang. Gugus Tugas “Sepherd” Divisi-1 kehilangan 14 prajurit tewas dalam aksi selama operasi tempur dalam perjalanan ke Bandara Internasional Kuwait. Gugus Tugas Taro yang juga merupakan peserta dalam operasi tempur Divisi Marinir ke-1 dan Gugus Tugas Papa Bear, kompi C dan D dari Divisi Marinir ke-1, yang merupakan cadangan tempur divisi turut memukul mundur serangan besar musuh sambil mempertahankan lokasi penerobosan di dekat ladang ranjau. Divisi Marinir ke-1 juga menghancurkan sekitar 60 tank Irak di dekat ladang minyak Burgan tanpa mengalami kerugian.

Tank M-60A1 yang telah dimodifikasi dengan perangkat pembidik dan armor reaktif terbukti lebih dari cukup untuk menangani tank-tank Iraq buatan Soviet seperti T-55, T-62 dan T-72 yang diandalkan oleh Iraq.

Mungkin bagian terberat dari perjalanan Marinir datang pada hari kedua itu, ketika kekuatan mekanis Irak yang kuat keluar dari ladang minyak Al Burqan, yang tampaknya tidak dapat terlewati karena banyaknya tembakan disana. Serangan itu terjadi dalam jarak 100 meter dari pos komando Myatt sebelum dipukul mundur oleh pertahanan agresif Satgas “Sepherd”, dalam aksi yang memberikan Kapten Eddie Ray Medali Navy Cross, dan oleh hujan rudal dan tembakan kanon 25 mm dari sekelompok helikopter AH-1W Cobra yang terbang tepat di atas mereka karena kawasan itu dipenuhi asap.

Serangan balasan Irak berantakan oleh tembakan dari 5 batalion artileri Marinir. Serangan oleh Brigade ke-22 dari Divisi Mekanis ke-5 Irak digagalkan oleh serangan Infanteri Marinir. Kompi I dari Batalion ke-3, Marinir ke-9 menghantam Brigade ke-22 Irak dengan tembakan jarak dekat dari ATGM Dragon mereka dan senjata antitank lainnya. Kompi C, Batalion Tank 1 kemudian menghancurkan 18 kendaraan Irak selama pertarungan ini. Divisi Marinir ke-1 kehilangan 1 tank M60A1 yang sedang membuka jalan melewati ladang ranjau. Divisi Marinir ke-1 menghadapi lebih banyak oposisi Irak saat mereka bergerak ke utara. Elemen-elemen dari Divisi Marinir-1 berhadapan dengan Brigade Mekanis ke-15 Irak, Divisi Lapis Baja ke-3. Selama pertempuran ini Marinir menghancurkan 46 kendaraan musuh tambahan dan mengambil sekitar 929 tawanan perang, Tiga marinir terluka dalam proses itu.

Tank Iraq tidak memanfaatkan mobilitasnya dengan lebih banyak digunakan sebagai pertahanan statis dengan sebagian dikubur di tanah.

Ketika Divisi Marinir Pertama melanjutkan perjalanan, mereka menghancurkan lagi 29 kendaraan tempur Irak dan menangkap 320 tawanan perang. Selama periode ini, unit Irak yang paling efektif adalah Brigade Artileri ke-449 Irak. Tembakan akuratnya menewaskan seorang Marinir dan melukai 12 lainnya. Kompi C, Batalion Tank ke-3 menderita kerugian sebuah tank yang rusak oleh tembakan artileri Irak. Sebagai balasan, artileri Divisi Marinir ke-1 membuktikan kemampuannya dalam menghancurkan banyak target musuh atau mengusir pasukan Irak lainnya. Divisi Marinir 1 akan menghadapi lebih banyak perlawanan Irak di sepanjang jalan menuju Bandara Internasional Kuwait dengan menghancurkan puluhan tank dan APC Irak sambil menangkap ratusan POW tambahan. Begitu Divisi Marinir ke-1 mencapai Bandara Internasional Kuwait, mereka menemukan apa yang tersisa dari Brigade Lapis Baja ke-12 Irak, Divisi Lapis Baja ke-3 yang mempertahankan tempat itu. Marinir menghancurkan 30 hingga 40 tank Irak T-72 yang telah mengambil posisi defensif di sekitar bandara. Marinir juga menemukan tank T-62 di pleton dan unit-unit kompi yang tersebar dan telah berkurang kekuatannya. Mereka dihancurkan oleh TOW dari jarak jauh. Pada akhir hari, Divisi Lapis Baja ke-3 Irak telah hancur total. Kerugian Divisi Lapis Baja ke-3 Irak adalah lebih dari 250 T-55 / 62 dan 70 T-72 tank.

Aksi Divisi Marinir ke-2

Armada LAV-25 USMC melaju menuju Kuwait City.

Divisi Marinir ke-2 masuk dari sisi lain kota. Unit Cadangan Marinir Bravo Company, Batalion Tank ke-4, Divisi Marinir ke-4 ditugaskan ke Divisi Marinir ke-2. Pada tanggal 25 Februari 1991, Hari ke-2 perang darat Operasi Badai Gurun, Batalyon Tank ke-4 kompo Bravo menemukan 35 tank Garda Republik Irak melintas di depan mereka, tidak menyadari pada saat itu bahwa mereka kalah jumlah 3-1. Dengan 13 tank M1A1 Abrams mereka, Bravo Company dari Batalion Tank Ke-4 bergerak berurutan untuk menghancurkan 53 tank Garda Republik Irak yang diperkuat dengan lusinan tank T-72 buatan Soviet yang disegani saat itu. Dengan menggunakan perangkat thermal sight dan pembidik yang superior dari tank Abrams, dalam waktu kurang dari 90 detik mereka menghancurkan armada lapis baja Iraq itu. Sekitar 30 tank T-72, 4 tank T-62, dan 9 APC milik garda republik hancur. Pertempuran ini dinamai “Reveille Engagement” dan kemudian menjadi pertempuran tank terbesar dan tercepat dalam sejarah Korps Marinir Amerika Serikat. Mereka adalah satu-satunya unit Marinir yang dilengkapi dengan tank M1A1 Abrams. Kompi Bravo kemudian tercatat menghancurkan 59 tank, 32 APC, 26 kendaraan tanpa lapis baja, dan senjata artileri dan menangkap 800 POW. Awak tank “Stepchild” memiliki catatan “kill” terjauh (atas BMP Irak) oleh sebuah tank di jarak 3.750 meter (2,33 mil). Namun, banyak pertempuran tank Marinir dilakukan dalam jarak dekat karena kondisi visual yang buruk di medan perang.

Lieutenant Colonel Michael O. Fallon, CO of Task Force Papa Bear’s 1st Battalion, 1st Marines, snapped this photo at noon on 25 February in Kuwait’s Al Burqan oil field. That day, an Iraqi attack from the smoke-shrouded oil field came within 100 yards of Myatt’s command post before being repelled.
U.S. Naval Institute Photo Archive (COL Michael O. Fallon)

Marinir dibantu oleh Brigade Harimau Divisi Lapis Baja ke-2 Angkatan Darat Amerika Serikat yang dipelopori oleh Satuan Tugas Batalyon Infanteri Straight dan Stalwart 3-41. Pasukan Batalyon Straight dan Stalwart 3-41 Divisi Lapis Baja ke-2 menghancurkan sejumlah besar kendaraan musuh dan menangkap lebih dari 1.000 tahanan selama pertempuran. Brigade Harimau ke-1 mengklaim 181 tank musuh yang dihancurkan atau berhasil direbut, 148 APC, 40 artileri, 27 sarang AA, menewaskan 263 tentara Irak dan menangkap 4.051 tawanan selama 100 jam pertempuran. Divisi Marinir ke-2 kehilangan 9 tank M60A1 yang menabrak ladang ranjau. Satu tank M1A1, milik Brigade Harimau Divisi Lapis Baja ke-2, juga rusak oleh ranjau darat. Serangan balasan yang direncanakan sebelumnya oleh Brigade Mekanis ke-8 dari Divisi Lapis Baja ke-3 Irak menyerang tank2 M1A1 di sektor Divisi Marinir ke-2 dan dihancurkan tanpa ada kehilangan di pihak marinir, sedangkan Batalyon Tank ke-8 Marinir menghancurkan tank-tank Irak lainnya. Batalyon Tank ke-3 Marinir menghancurkan sejumlah tank T-62 Irak yang tidak diketahui jumlah pastinya di sekitar Lapangan Terbang Al Jaber. Pada hari kedua gerakan maju pasukan Amerika, satu peleton dari Batalyon ke-8 Marinir menghancurkan 13 tank Irak dalam pertempuran di dekat posisi defensif yang dikenal sebagai Ice Tray.

Tank terbaru Iraq T-72 tidak mampu menandingi si “tua” M-60A1 milik marinir. Selain kualitas ekspor T-72 tidak sebagus versi orisinil milik Soviet, faktor kualitas awak juga ambil peranan di sini.

Kekuatan udara Angkatan Laut dan Marinir kemudian menimbulkan banyak korban pada pasukan Irak yang mundur ke utara dari Kota Kuwait. Malamnya, beberapa pertempuran semakin meningkat intensitasnya ketika pasukan marinir mengepung Bandara Internasional Kuwait yang dijaga ketat. Kapal perang Angkatan Laut AS di lepas pantai di Teluk Persia menghantam hangar bandara, terminal dan bangunan lainnya, membuatnya amburadul dimana logam bengkok dan beton menghitam dalam upaya untuk mengusir pasukan Irak dari lapangan udara. Para komandan marinir mengatakan bahwa kamera-kamera dalam pesawat terbang yang mengawasi dari jarak jauh memperlihatkan prajurit-prajurit Irak “benar-benar melompat keluar dari tank-tank mereka.” Setelah Marinir menguasai lapangan udara, tim Pasukan Khusus tiba untuk mengeliminasi para penembak jitu dan kantong-kantong perlawanan lain yang tetap bercokol di sekitar kompleks bandara yang besar itu. Sementara personel Marinir dan Pasukan Khusus secara aktif mengamankan lapangan terbang, personel komunikasi Angkatan Udara tiba dan mengatur sistem kontrol lalu lintas udara taktis dan sistem pendaratan untuk menggantikan sistem yang rusak dengan mundurnya pasukan Irak. Marinir kehilangan 5 orang tewas dan 48 lainnya cedera dalam tiga hari pertempuran, kata para pejabat Marinir. Tank M60A1 Marinir telah menampilkan performa yang mengesankan melawan pasukan lapis baja Irak. Batalion Tank ke-1 mengklaim menghancurkan 50 tank T-55 dan T-62 dan 25 APC Irak. Batalion ke-3 mengklaim 57 T-55 dan T-62 (ditambah 5 T-72), 7 APC, dan 10 truk. Batalion ke-8 menghancurkan lebih dari tiga lusin tank dan sejumlah kendaraan lain.

Hari-hari terakhir

A United States Marine Corps tank bears witness to burning Iraqi tanks and Iraqi soldiers leaving their fighting positions at a battle that took place at Burgan Oil Field during the 1st Gulf War, February 1991.

Dua hari berikutnya, hambatan utama untuk kemajuan Marinir adalah kombinasi asap dari sumur minyak yang terbakar dan awan yang menggantung rendah membuat sore hari menjadi sangat gelap sehingga kendaraan harus dipandu ke lingkaran pertahanan oleh Marinir dengan berjalan kaki sambil melambaikan tongkat kimia berwarna. Meskipun cuaca, yang juga menghambat dukungan udara, Divisi ke-1 mengepung Bandara Internasional Kuwait pada hari ketiga, didukung oleh tembakan meriam 16 inci dari USS Missouri dan Wisconsin, dan mengamankannya pada hari berikutnya. Pada 28 Februari, Marinir menyingkir untuk membiarkan unit-unit Arab masuk ke Kota Kuwait, yang telah ditinggalkan oleh pasukan Iraq.

Marinir Amerika meninggalkan lapangan minyak Burgan yang terbakar.

Pada hari ketiga dan terakhir pertempuran, Divisi Marinir ke-2 membebaskan kota Al Jahra dan kemudian menduduki dataran tinggi di Bukit Mutla memotong jalur pelarian pasukan Irak dari Kuwait ke Basra. Tank M1A1 menghancurkan mayoritas dari 166 tank Irak yang diklaim hari itu oleh divisi tersebut. Jenderal Irak Ra’ad Hamdani mengomentari keterlibatan pasukan lapis baja: “Kami memiliki masalah tidak fleksibelnya penggunaan pasukan lapis baja. Kami selalu lebih suka mendekatkan pasukan infantri ke divisi-divisi tank.” Mereka tidak memiliki kreativitas ketika harus bermanuver.

Tank M-60A1 marinir melaju meninggalkan tank Iraq yang terbengkelai.

Kemudian pada hari itu, Presiden Bush memerintahkan gencatan senjata, mengakhiri perang darat setelah 100 jam. Pada waktu itu, Marinir telah melaju sekitar 100 mil, mengalahkan setidaknya 11 divisi Irak, menghancurkan lebih dari 1.600 tank dan kendaraan lapis baja, dan menangkap lebih dari 22.000 tahanan. Selama periode yang sama, pasukan besar Angkatan Darat Amerika dan pasukan sekutu di barat menyelesaikan manuver penyisiran mereka ke Kuwait utara dan Irak selatan untuk menghancurkan pasukan Pengawal Republik dan divisi militer reguler Irak, namun gencatan senjata yang dini mencegah penghancuran total pasukan utama Saddam (yang baru terlaksana 12 tahun kemudian, saat Amerika yang dipimpin putra Presiden Bush, yakni Bush Jr. menumbangkan rezim Saddam Hussein).

2 tank Iraq terbengkelai di sekitar Kuwait City.

Konflik berakhir

Untuk semua cabang angkatan bersenjata A.S., kemenangan yang cepat dan luar biasa di Desert Storm mengakhiri tren historis yang suram dari pasukan Amerika yang tidak siap menerima kekalahan pertempuran pertama mereka dalam perang. Hal ini bisa terjadi berkat pembangunan sektor pertahanan pada dekade 1980-an dan kinerja kuat dari calon komandan yang telah punya pengalaman tempur di Vietnam.

Kesuksesan militer Amerika dalam Perang Teluk 1991 sedikit banyak mengobati trauma kegagalan mereka di Vietnam, banyak komandan Amerika di teluk Persia merupakan Alumni perang Vietnam.

Bagi para pemimpin Marinir, kemampuan untuk dengan cepat mengangkut, melengkapi, dan mempersiapkan pasukan tempur yang kuat ribuan mil dari pangkalan mereka memvalidasi konsep skuadron preposisi maritim dan kombinasi unit-unit tempur dan unit logistik di udara dan lautan satuan tugas (MAGTF). MAGTF yang lebih kecil lagi akan membuktikan nilainya satu dekade kemudian ketika serangan teroris 11 September memicu perang di Afghanistan dan Irak. Dan bagi Amerika Serikat, Badai Gurun adalah pembuka keterlibatan secara langsung militer Amerika di Teluk Persia dan Asia Barat Daya.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

Marines’ Desert Victory By Otto Kreisher, February 2016 https://www.usni.org/magazines/naval-history-magazine/2016/february/marines-desert-victory

Battle of Kuwait International Airport  https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Kuwait_International_Airport

How the Marines ripped through the Iraqis in Operation Desert Storm https://www.wearethemighty.com/articles/how-the-marines-ripped-through-the-iraqis-in-operation-desert-storm

One thought on “USMC and The Battle For Kuwait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *