Wings Of Israel Part-III: Mirage III (Shahak)

Ketika Israel menggunakan Mirage dengan amat baik dalam serangan pembukaan Perang Enam Hari 1967, Dassault jelas menikmati “iklan” yang sangat efektif atas produk kebanggaannya itu. Dassault Mirage berhasil memenangkan sebagian besar pangsa pasar dunia untuk pesawat tempur berkecepatan mach 2 generasi pertama, Mirage memperoleh keberhasilan ekspor yang tidak dimiliki oleh rivalnya British Electric Lighting atau Lockheed Starfighter (keberhasilan bukan cuma dinilai dari skedar banyaknya jumlah pesanan, tapi juga dari performa saat pengoperasian). Nama “Mirage” kala itu telah menjadi identik dengan “pesawat tempur modern canggih” (meski menurut para pilot Israel sendiri, ada beberapa performa Mirage yang tidak sebaik MiG-21 punya negara-negara Arab, demikian pula sebaliknya) dimana negara demi negara berbondong-bondong untuk memesan tipe pesawat ini.

Kesuksesan Mirage III di AU Israel telah menarik minat banyak negara untuk mengakuisi jet tempur buatan Prancis ini.
Rival Mirage III asal Inggris, English Electric Lightning cuma dipakai oleh AU tiga negara: Inggris, Arab Saudi dan Kuwait.
Meski diproduksi lebih banyak dari Mirage III, namun F-104 Starfighter memiliki reputasi yang tidak begitu menyenangkan saat dioperasikan.

Dengan Mirage, Dassault mengadopsi konfigurasi desain baru pesawat tempur yang memiliki sayap delta 60° tanpa ekor yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan menanjak dan performa tempur pada ketinggian, meski tidak begitu bagus dalam bermanuver di ketinggian rendah. Baik prototype non-afterburning MD.550 Mirage (pertama kali diterbangkan pada 25 Juni 1955) dan Mirage II (yang tidak jadi dibuat), keduanya bermesin ganda merupakan desain yang dikembangkan dari pelajaran yang didapat dari Perang Korea. Desain mereka berasumsi bahwa lewat formula gun sight radar, sistem IFF (Identification Friend / Foe) dan radio sudah cukup untuk pertempuran kecepatan supersonik. Namun konsep ini, segera ditinggalkan digantikan dengan pesawat yang lebih lengkap peralatannya dan lebih berat. Prototipe Mirage III, didukung oleh mesin tunggal Atar ber-afterburning, pertama kali mengudara pada 18 November 1956, mampu menorehkan kecepatan Mach 1,6 dalam waktu sepuluh minggu pengujian. Hal ini sudah cukup meyakinkan Angkatan Udara Perancis untuk memesan prototype pesawat tempur praproduksi Mirage IIIA yang nantinya berevolusi menjadi pesawat Mirage IIIC, yang pertama kali dikirim pada Oktober 1960. Banyak negara di seluruh dunia sejak saat itu mengoperasikan pesawat jenis ini, termasuk diantaranya Australia, Pakistan, Afrika Selatan dan Argentina, yang setidaknya kehilangan sepasang Mirage selama Perang Falklands 1982.

Dassault MD.550/Mirage I, pertama kali diterbangkan pada 25 Juni 1955

Program pembelian Mirage Israel

IAF telah lama mengikuti pengembangan Mirage III. Sementara itu sebagai perusahaan swasta yang ingin mempromosikan produknya, Dassault telah mengundang personel IAF untuk mengunjungi pabriknya dan menerbangkan pesawat baru tersebut. Pada tahun 1959 itu, Komandan IAF, Ezer Weizmann, pergi ke Prancis bersama Letnan Kolonel Moti Hod dan pilot uji Danny Shapira. Mereka menyaksikan salah satu Mirage terbang pertama kali, dan Shapira diberi kesempatan untuk menguji-terbang pesawat Mirage III-001. Dia terbang ke ketinggian 11.600 meter, dan melaju ke hingga ke kecepatan Mach 2 (sehingga menjadi pilot ke-12 di dunia untuk melakukannya dengan Mirage, dan pertama diluar Pilot Prancis). Mengingat rekomendasi dari Prancis yang sejauh ini jadi pemasok utama AU Israel dan kesan IAF sendiri terhadap pesawat itu, Israel memutuskan untuk membeli Mirage pada tahun 1959, sebagai tanggapan yang tepat terhadap pasokan pesawat Soviet ke Mesir dan Suriah, termasuk pasokan jet tempur terbaik Soviet saat itu, yakni MiG-21. Komandan IAF awalnya ingin membeli 100 Mirage III, yang menurutnya cocok tidak hanya untuk intersepsi, tetapi juga untuk serangan penetrasi ke wilayah musuh. Namun, karena tingginya biaya yang dibutuhkan (sekitar $200 juta) dan menjadikannya program pengadaan senjata termahal Israel hingga saat itu, permintaan tersebut menemui perlawanan sengit di Staf Umum IDF. Menyusul kemudian adalah debat internal di dalam komunitas pertahanan Israel, dimana pada akhirnya diputuskan pembelian Mirage, namun dengan jumlah yang lebih sedikit dari rencana awal. Pesanan awal pada Mei 1960 untuk 24 pesawat akhirnya ditambah lagi pada tahun 1961 untuk total pesanan 72 Mirage (70 Mirage IIICJ dan 2 Mirage IIIRJ). Pada tahun 1966-1968 Israel menerima 4 Mirage IIIBJ berkursi ganda.

Mirage III-001 yang pernah dijajal pilot uji Israel, Danny Shapira.
Suplai MiG-21 buatan Soviet ke AU Negara-negara Arab membuat program pengadaan Mirage III yang mahal menjadi tidak dapat ditunda-tunda lagi bagi Israel.

Mirage IAF pertama tiba di Hazor AFB pada 7 April 1962 dan mulai beroperasi dengan skuadron “first fighter” ke-101. Pada bulan Juni 1962, skuadron “first jet” ke-117 di Ramat-David menjadi skuadron IAF kedua yang mengoperasikan Mirage dan pada Maret 1964 skuadron “Atalef” (Bat) ke-119 di Tel-Nof juga mulai menerima juga pesawat tipe ini. Tiga skuadron juga mengoperasikan varian kursi ganda Mirage IIIB, yang berbeda dari IIIC dengan tiadanya perangkat radar untuk intersepsi. Versi IIIB pertama kali tiba di Israel pada tahun 1966. Israel juga menerima dua type Photo Reconnaissance (PR) Mirage IIICJ (R) yang turut dioperasikan oleh skuadron “Atalef”. Israel kemudian mulai membuat versi PR sendiri dengan kamera yang dapat dipertukarkan di bagian hidung, 4 atau lebih IIICJ dimodifikasi untuk melengkapi IIICJ (R) yang sudah ada.

7 April 1962, Mirage III pertama kali diterima oleh AU Israel

Pengoperasiannya Mirage di Israel tidaklah semulus yang dibayangkan. Mesin SNECMA Atar 09B secara kronis tidak dapat diandalkan dan menyebabkan sejumlah kecelakaan. Demikian pula, ada masalah kritis dengan radar dan sinkronisasi dua meriam kaliber 30mm, sementara – meskipun diberi kode nama ‘Berlian’ di IDF/AF – rudal R.530 terbukti tidak mudah dioperasikan. Ratusan, jika tidak ribuan modifikasi teknis diperlukan untuk mengubah Mirage IIICJ menjadi pesawat tempur yang benar-benar efektif. Sementara Mirage Prancis dirancang untuk menyergap pembom yang terbang tinggi, Israel menginginkan pesawat buru sergap taktis. Mirage Israel karena itu lebih banyak membawa tangki bahan bakar tambahan daripada roket lepas landas seperti yang dipasang di Mirage Prancis, dan juga lebih mengandalkan dua kanon DEFA sebagai senjata utamanya.

Mirage III AU Israel mampu membawa Rudal Matra R.530, namun performa rudal ini diketahui tidak memuaskan
Pilot-pilot Israel lebih memilih menggunakan kanon DEFA 30 mm sebagai senjata utama Mirage mereka.

First Blood

“Shahak” (surga), sebagaimana Mirage dikenal di Israel, adalah pesawat IAF pertama yang dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara. Pesawat itu bisa membawa rudal Matra R.530 Prancis dan Shafrir I buatan Israel, tetapi rudal-rudal ini sangat tidak dapat diandalkan sehingga pilot IAF lebih suka menggunakan kanon kembar DEFA sebagai gantinya, sementara dengan berjalannya waktu penggunaan rudal terus meningkat (saat Yom Kippur penggunaan rudal mendominasi jumlah “kill” Israel). Sementara di bulan-bulan pertama pengoperasiannya Mirage lebih dimanfaatkan untuk pelatihan ekstensif, seperti layaknya pesawat tempur IAF, Mirage segera terlibat dalam pertempuran. Selama tahun 1960-an Israel telah bertarung melawan Suriah dalam apa yang kemudian dikenal sebagai “Perang untuk Air”, dengan menyerang usaha-usaha Suriah untuk mengalihkan sumber-sumber air dari wilayah Israel.

Kapten Yoram Agmon membukukan “kill” pertama Mirage III AU Israel dan di seluruh dunia pada 14 Juli 1966. Korban Agmon kala itu adalah MiG-21 milik Suriah. Yoram Agmon mengakhiri karir tempurnya dengan 6 catatan “kill” (5 terkonfirmasi, 1 tidak terkonfrmasi).

Pada 19 Agustus 1963, pertempuran kembali pecah setelah dua tentara Israel terbunuh dalam serangan Suriah. Dalam pertempuran pertamanya, sepasang Mirage dari skuadron tempur ke-117 menghadapi 8 MiG-17 dan berhasil menembak salah satunya, meskipun pesawat musuh itu berhasil kembali dengan aman ke pangkalan. Pada 13 November 1964, misi serangan darat pertama dilakukan oleh Israel terhadap artileri Suriah di Dataran Tinggi Golan. Pada hari berikutnya sepasang Mirage bertemu dengan Suriah MiG-21 dan untuk pertama kalinya, Mirage dan MiG masing-masing meluncurkan rudal udara-ke-udara dalam pertempuran udara, meskipun tidak ada pesawat yang jatuh. IAF mulai beraksi lagi selama bulan Juli 1966 setelah beberapa prajurit Israel terbunuh oleh ranjau darat Suriah. Pada tanggal 14 Juli, Mirage yang terbang melindungi pesawat jet IAF lainnya saat menyerang posisi Suriah, mendeteksi adanya 4 MiG-21 Suriah mendekati zona pertempuran. Mirage-mirage dari Skuadron ke-101 diarahkan ke MiG-MiG tersebut dan pesawat no. 4, yang dipiloti Kapten Yoram Agmon, berhasil menjatuhkan salah satu MiG menggunakan kanonnya. Ini adalah “kill” pertama di seluruh dunia untuk Mirage, sekaligus “kill” pertama Israel atas MiG-21. Sebuah MiG lain dijatuhkan di atas Danau Galilea pada 15 Agustus, setelah mencoba untuk menyerang kapal-kapal sipil Israel.

Pada November 1966 sebuah Hawker Hunter milik Yordania menjadi korban Mirage III sebagai balasan tewasnya 3 tentara Israel karena ranjau Yordania.
Dua MiG-19 Mesir juga menjadi mangsa sebuah Mirage pada 29 November 1966 setelah menyusup ke wilayah udara Israel untuk menembak jatuh pesawat Piper J-3 Cub milik Israel. Salah satu MiG itu dijatuhkan menggunakan rudal udara-ke-udara Matra R.530, yang menjadi kemenangan IAF pertama dengan menggunakan rudal, sementara satunya lagi ditembak jatuh dengan tembakan kanon.

Pada 11 November 1966, tiga tentara Israel kembali terbunuh oleh ranjau darat di dekat perbatasan Yordania. Selama serangan balasan berikutnya, sebuah pesawat Pemburu Hawker Hunter Yordania dijatuhkan oleh komandan skuadron “Atalef”. Dua MiG-19 Mesir juga menjadi mangsa sebuah Mirage pada 29 November setelah menyusup ke wilayah udara Israel untuk menembak jatuh pesawat Piper J-3 Cub milik Israel. Salah satu MiG itu dijatuhkan menggunakan rudal udara-ke-udara Matra R.530, yang menjadi kemenangan IAF pertama dengan menggunakan rudal, sementara satunya lagi ditembak jatuh dengan tembakan kanon. Pada 7 April 1967, mendekati pecahnya Perang Enam Hari, sebuah insiden yang diawali oleh penembakan traktor Israel oleh Suriah di daerah pertanian berkembang menjadi penembakan pemukiman Israel di sepanjang perbatasan kedua negara. Pada siang harinya, lima skuadron IAF, termasuk skuadron Mirage ke-117, diperintahkan untuk melakukan serangan terhadap posisi Suriah di Dataran Tinggi Golan. Serangan itu terhenti setelah MiG-21 Suriah terdeteksi ada di lokasi target dan pesawat yang menyerang mundur untuk memberi ruang bagi Mirage dari skuadron “first fighter” ke-101 untuk menyerang MiG tersebut. Dalam pertempuran udara yang kemudian berlangsung, dua MiG ditembak jatuh di atas Damaskus. Pada saat yang sama, lebih banyak lagi MiG terdeteksi terbang di Laut Galilea bagian selatan karena mereka berhasil menghindari intersepsi oleh Mirage dari skuadron ke-117. Ketika penembakan Suriah atas permukiman Israel dilanjutkan pada pukul 14:45, IAF sekali lagi beraksi. Seperti sebelumnya, MiG Suriah berusaha untuk mengganggu serangan dan sekali lagi sebuah MiG-21 berhasil dijatuhkan, kali ini oleh Mirage dari Skuadron ke-119. Pada pukul 16:30, 6 Mirage yang sedang berpatroli di Israel utara bertemu dengan 4 MiG-21 dan berhasil menembak jatuh 3 diantaranya, sehingga total hari itu 6 pesawat Suriah menjadi korban Mirage Israel.

Perang 6 hari 1967

Mirage IAF menjadi lebih dikenal dalam Perang Enam Hari 1967. Mirage-Mirage Israel mempelopori serangan pre-emptive yang menentukan hasil akhir peperangan terhadap lapangan-lapangan udara negara-negara Arab. Operasi “Moked”/“Focus” sukses menghancurkan pasukan udara negara-negara Arab, dan benar-benar menumpas pesawat-pesawat musuh yang berani menantang pesawat-pesawat IDF. Israel memulai perang dengan 65 pesawat Mirage yang operasional dan semuanya kecuali 12 buah (4 senantiasa terbang di wilayah udara Israel sementara 8 lainnya ada di landasan untuk mempertahankan wilayah udara Israel) turut berpartisipasi dalam serangan yang diluncurkan pada pagi hari 5 Juni 1967. Dalam formasi masing-masing Empat pesawat, hampir semua pesawat tempur IAF turun menyerang pangkalan-pangkalan Angkatan Udara Mesir, menghancurkan mayoritas pesawatnya di landasan. Mirage, sebagai pesawat tempur utama IAF, ditugaskan untuk menyerang pangkalan udara terjauh dan paling kuat pertahanannya, yakni: Abu-Sweir, Cairo West, Helwan dan banyak lagi.

Pada 5 Juni 1967 Mirage III sebagai pesawat tempur utama IAF, ditugaskan untuk menyerang pangkalan udara terjauh dan paling kuat pertahanannya, yakni: Abu-Sweir, Cairo West, dan Helwan
Ilustrasi Pilot Pakistan, Saiful Azam (diperbantukan di AU Yordania dan Iraq) menembak jatuh Mirage III AU Israel yang menyerang Pangkalan Udara H3 Iraq pada 7 Juni 1967.

Ketika operasi “Moked” mulai menyerang kekuatan udara negara-negara Arab lainnya, Mirage sekali lagi berada di garis depan pertempuran, menyerang pangkalan-pangkalan udara Yordania, Suriah dan juga Irak. Setelah menghancurkan lusinan pesawat musuh selama hari-hari pertama perang, 4 Mirage dilaporkan hilang. Lebih banyak lagi Mirage yang hilang selama sisa perang, salah satunya dalam serangan terhadap pangkalan udara H3 Irak. Pada akhir perang, Mirage tercatat menembak jatuh 48 pesawat tempur Arab (dari total 58 kill yang dibukukan AU Israel selama perang). Kebanyakan pesawat-pesawat Arab yang ditembak jatuh adalah pesawat-pesawat yang sempat selamat diawal serangan. “Shahak” juga dianggap berjasa menjaga Libanon untuk tidak terlibat jauh dalam perang dengan menjatuhkan sebuah Hawker Hunter Libanon di dekat perbatasannya pada pagi hari tanggal 5 Juni.

Perang Atrisi (1967-1970)

Kemenangan luar biasa yang diraih Israel dalam Perang Enam Hari tidak mengakhiri konflik antara Israel dan tetangga-tetangga Arabnya. Perang Atrisi yang pecah tak lama setelah perang berakhir berkobar hingga tahun 1970, menyediakan banyak kesempatan beraksi bagi berbagai skuadron Mirage. Area konflik yang paling tidak stabil adalah front Mesir, dimana garis depan Mesir telah mundur ke seberang Terusan Suez. Untuk mengatasi meningkatnya jarak ke garis depan, skuadron Mirage mulai dikerahkan ke bekas pangkalan udara Mesir di Bir Gifgafa, yang diganti namanya menjadi Rephidim oleh IAF. Kill IAF pertama pasca perang terjadi pada tanggal 8 Juli 1967, ketika skuadron Mirage “Atalef” menembak jatuh MiG-21 yang mencoba mengganggu operasi IAF terhadap posisi artileri Mesir. Enam MiG lainnya ditembak jatuh pada 15 Juli, termasuk “kill” rudal udara-ro-udara Shafrir buatan Israel untuk pertama kalinya. Kill Shafrir lainnya terjadi pada 29 Mei 1968, ketika skuadron “first fighter” Mirage menjatuhkan sebuah MiG-21 Suriah. Mirage juga sesekali menerbangkan misi serangan darat, tetapi kedatangan A-4 Skyhawk di IAF membuat hal ini tidak lagi perlu dilakukan dan mulai dari tanggal 4 Agustus 1968, mereka hanya terbatas menjalankan misi penyergapan.

Dengan kedatangan pesawat-pesawat buatan Amerika seperti A-4 Skyhawk dan F-4 Phantom, Mirage III Israel lebih difokuskan untuk misi penyergapan.
Tidak cuma lawan Pilot negara-negara Arab, Pilot Mirage III Israel juga sukses mempecundangi Pilot Soviet yang membantu AU Mesir pada 30 Juli 1970.

Meskipun pertempuran telah terjadi secara teratur sejak akhir Perang Enam Hari, Perang Atrisi baru secara resmi dimulai pada 3 Maret 1969, dengan deklarasi Mesir tentang pembatalan perjanjian gencatan senjata tahun 1967. Deklarasi ini menandakan dimulainya eskalasi besar pertempuran, dengan meningkatnya aktivitas Angkatan Udara Mesir di zona Terusan Suez dan mulai digelarnya sejumlah besar SAM buatan Soviet untuk menghambat operasi udara IAF. Antara tahun 1969 dan 1970, dunia menyaksikan pertempuran ekstensif di sepanjang Terusan Suez, dengan serangan yang berulang kali dilakukan oleh pasukan udara Mesir dan Israel. Mirages mengambil bagian mayoritas dalam 97 kali bentrokan udara antara pesawat tempur Israel dan Arab saat itu, dengan menembak jatuh sejumlah besar pesawat musuh. Kill pertama oleh rudal Shafrir-2, rudal AAM Israel yang terbaru, terjadi pada 24 Juni 1969 oleh sebuah Mirage dari skuadron “first fighter”. Sebelas MiG Mesir berhasil dijatuhkan pada tanggal 11 September saja, sementara lusinan lainnya ditembak jatuh hingga akhir perang atrisi pada 7 Agustus 1970. Mungkin pertempuran paling terkenal pada masa ini terjadi tanggal 30 Juli 1970, ketika Mirage IAF dan F-4 Phantom menembak jatuh lima MiG-21 yang diterbangkan oleh pilot-pilot Rusia, tiga di antaranya dibukukan oleh Mirage. Pertikaian antara Israel dan Suriah juga turut mengakibatkan beberapa jet Suriah ditembak jatuh IAF, di antaranya adalah 4 Suriah MiG-21 yang dijatuhkan pada 11 Desember 1969.

Perang Yom Kippur 1973

Sama seperti saat mendekati Perang Enam Hari, Mirage juga terlibat dalam pertempuran menjelang pecahnya Perang Yom Kippur. Pada 13 September 1973, empat F-4 Phantom Israel melakukan misi pengintaian diatas Suriah barat laut ketika 16 MiG-21 diluncurkan untuk menyergap mereka. Dalam peristiwa yang kemudian banyak dispekulasikan sedari awal merupakan bagian dari rencana “penjebakan” oleh IAF, F-4 berhasil menarik MiG terbang di atas laut Mediterania, di mana disana telah menunggu lebih banyak jet tempur IAF yang sedang berpatroli, termasuk 8 pesawat Dassault Mirage. Diawal pertempuran, 8 MiG Suriah jatuh, sementara Israel menderita satu kerugian sebuah Mirage. Dalam Dogfight yang terjadi kemudian, 4 MiG-21 lainnya berhasil ditembak jatuh.

Meski bukan lagi pesawat tempur utama AU Israel serta jumlahnya terus menurun karena atrisi, namun Mirage III masih mampu untuk membukukan kemenangan atas 106 pesawat negara-negara Arab dalam Perang Yom Kippur 1973.
Giora Epstein Ace terbesar Israel membukukan 17 kemenangan dengan menggunakan Mirage III & IAI Nesher (Mirage V versi Israel).

Pada saat pecahnya Perang Yom Kippur pada 6 Oktober 1973, lewat konflik-konflik yang telah terjadi sebelumnya telah membuat armada Mirage berkurang menjadi hanya 40 buah. Dua skuadron IAF yang masih dilengkapi dengan Mirage selama perang Yom Kippur adalah: skuadron “first Jet” ke-117 dan skuadron “first fighter” ke-101 yang juga mengoperasikan IAI Nesher (Mirage V versi “buatan” Israel). Dioperasikan sebagai pesawat tempur superioritas udara murni, Mirage (bersama Nesher) menikmati kesuksesan besar selama perang, mencetak banyak “kill”. Pada hari-hari awal perang Mirage menghabiskan waktu berpatroli di wilayah udara Israel untuk menangkal kemungkinan serangan musuh terhadap kota-kota dan instalasi penting Israel. Dalam sebuah patroli semacam itu, Mirage menembak jatuh sebuah rudal jelajah AS-5 Kelt yang diluncurkan dari pembom Tupolev Tu-16 Mesir. Pada hari ketiga perang, Mirage yang lepas landas dari Rephidim di tengah-tengah serangan 4 pesawat serang Su-7 Mesir, berhasil menembak jatuh seluruh pesawat musuh itu. Pada tanggal 24 Oktober, hari terakhir pertempuran antara Israel dan Mesir, terjadi pertempuran besar yang melibatkan 8 Mirage dan 12 MiG yang terjadi di wilayah Mesir. 7 MiG berhasil ditembak jatuh, sementara semua Mirage berhasil kembali dengan selamat ke pangkalan. Giora Epstein, pilot Ace terbaik IAF sepanjang masa (dengan 17 kemenangan), dalam waktu satu minggu antara 18 dan 24 Oktober berhasil menembak jatuh 12 jet Mesir saat menerbangkan Mirage (kemungkinan juga dengan Nesher). Pada satu sortie ia berhasil menembak jatuh 4 pesawat, sementara pada sortie lainnya ia menembak jatuh 3. Pada akhir perang IAF mengakui kehilangan 12 Mirage karena berbagai sebab, 5 diantaranya dalam pertempuran udara (meski sumber lain menyatakan 26 Mirage dan Nesher hilang dalam perang). Sebagai perbandingan AU Israel mengklaim bahwa Mirage telah menembak jatuh 106 pesawat sementara Nesher membukukan 140 kill atas pesawat-pesawat negara-negara Arab.

Akhir karir

Menurunnya jumlah Mirage di skuadron-skuadron IAF serta dengan kedatangan pesawat tempur yang lebih baru, pertama-tama F-4 Phantom dan kemudian F-15 Eagle, membuat Mirage tidak lagi relevan untuk tetap digunakan. Tipe tersebut terus bertugas dengan IAF hingga 1982, dan meskipun Mirage yang tersisa siap untuk digunakan selama operasi “Peace for Galilee” pada Juni 1982, mereka tetap tidak berpartisipasi dalam pertempuran. Satu pesawat yang masih layak terbang, Mirage no. 59, kini masih ada di Museum IAF di Hatzerim. Ini adalah pesawat yang menjatuhkan MiG-21 Suriah pertama pada tanggal 14 Juli 1966, dan juga pesawat dengan skor “kill” tertinggi IAF dengan 13 kemenangan udara. Prestasi ini hanya disamai oleh hanya dua pesawat lainnya: Satunya adalah Mirage IIICJ (no. 58) sementara yang lain adalah IAI Nesher (no. 510), yang merupakan turunan Mirage “buatan lokal”.

Mirage III No. 59 di Museum Hatzerim. Pesawat ini adalah pesawat dengan skor “kill” tertinggi di AU Israel dengan 13 kemenangan udara.
Antara September-Desember 1969 mengorder tidak kurang dari 110 pesawat Mirage 5 dari Prancis, 26 diantaranya dipinjamkan ke Mesir saat Perang Yom Kippur 1973.
Pakistan masih terus mempertahankan armada Mirage 5 tuanya di abad ke 21.

Keluarga Mirage tidak hanya digunakan oleh Prancis dan Israel saja, Keluarga Mirage III/5/50 membawa Prancis menjadi negara produsen pesawat tempur terkemuka di dunia. Sebanyak 1.401 Mirage III/5/50 dibuat dalam 90 versi berbeda, telah pertama kali diproduksi sejak 1958. Mereka telah bertugas di 21 negara di seluruh dunia dan mencatat total 3 juta jam terbang. Bekas lawan-lawan Israel seperti Mesir, Lebanon dan Libya juga turut mengoperasikan varian keluarga pesawat tempur Mirage. Pakistan hingga kini terus mengoperasikan Mirage bahkan “aktif berburu” pesawat-pesawat ini di negara-negara yang telah mempensiunkannya. Sebuah testimoni mengenai betapa baiknya konsep pesawat tempur buatan Prancis yang desainnya sudah berusia 60 tahun ini.

General characteristics

• Crew: 1

• Length: 15.03 m (49 ft 4 in)

• Wingspan: 8.22 m (27 ft 0 in)

• Height: 4.5 m (14 ft 9 in)

• Wing area: 34.85 m2 (375.1 sq ft)

• Empty weight: 7,050 kg (15,543 lb)

• Gross weight: 9,600 kg (21,164 lb)

• Max takeoff weight: 13,700 kg (30,203 lb)

• Powerplant: 1 × SNECMA Atar 09C afterburning turbojet engine, 41.97 kN (9,440 lbf) thrust dry, 60.8 kN (13,700 lbf) with afterburner

• Powerplant: 1 × SEPR 841 liquid-fuelled rocket engine, 14.7 kN (3,300 lbf) thrust

Performance

• Maximum speed: 2,350 km/h (1,460 mph, 1,270 kn) at 12,000 m (39,000 ft)

• Maximum speed: Mach 2.2

• Combat range: 1,200 km (750 mi, 650 nmi)

• Ferry range: 3,335 km (2,072 mi, 1,801 nmi)

• Service ceiling: 17,000 m (56,000 ft)

• Rate of climb: 83 m/s (16,400 ft/min)

Armament

• Guns: 2× 30 mm (1.181 in) DEFA 552 cannon with 125 rounds per gun

• Rockets: 2× Matra JL-100 drop tank/rocket pack, each with 19× 68 mm (2.7 in) SNEB rockets and 250 l (66 US gal; 55 imp gal) of fuel

• Missiles: 2× AIM-9 Sidewinder Air to Air missiles (AAM)

OR

• 2x Matra R.550 Magic AAMs plus 1× Matra R.530 AAM

• Bombs: 4,000 kg (8,800 lb) of payload on five external hardpoints, including a variety of bombs, reconnaissance pods or Drop tanks; French Air Force IIIEs through to 1991 were equipped to carry the AN-52 nuclear bomb.

Avionics

• Thomson-CSF Cyrano II radar; Marconi continuous-wave Doppler navigation radar

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

IAF Aircraft Inventory: Dassault Mirage IIICJ (Shahak)

https://www.jewishvirtuallibrary.org/dassault-mirage-iiicj-shahak

French Mirage Fighters Turned Israel Into a Major Air Power by Tom Cooper; May 19, 2017

https://warisboring.com/french-mirage-fighters-turned-israel-into-a-major-air-power/

Dassault Mirage IIIC (Hebrew nickname: ‘Shahak’)

https://www.iaf.org.il/184-18178-en/IAF.aspx?indx=2

Dassault Mirage III in Service with the IDF/AF by Nigel Baker & Tom Cooper

https://web.archive.org/web/20140726102431/http://www.acig.org/artman/publish/article_274.shtml

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dassault_Mirage_III

An Illustrated Guide To The Israeli Air Force by Bill Gunston; 1982

2 thoughts on “Wings Of Israel Part-III: Mirage III (Shahak)

  • 25 October 2020 at 9:39 pm
    Permalink

    Hi, I do believe this is an excellent blog. I stumbledupon it 😉 I may revisit yet again since I book marked it. Money and freedom is the best way to change, may you be rich and continue to help others.

    Reply
  • 28 October 2020 at 7:04 am
    Permalink

    You need to take part in a contest for one of the greatest websites on the net. I will highly recommend this blog!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *