Setelah berbulan-bulan menjalani pelatihan intensif di gurun pasir Saudi yang terpencil, dua tim helikopter berteknologi tinggi menyerbu masuk wilayah udara Irak. Lima puluh enam menit setelah tengah malam pada tanggal 17 Januari 1991, empat helikopter operasi khusus Angkatan Udara AS jenis MH-53J Pave Lows III dan sembilan helikopter serang AH-64A Apache milik Angkatan Darat Amerika mulai lepas landas dari Forward Operating Base Al Jouf di Arab Saudi menuju dua target jauh di dalam wilayah udara Irak. Berjam-jam pelatihan melelahkan yang yang sudah mereka jalani, dan keberhasilan misi bergantung pada setiap aspek dari operasi yang dilaksanakan pada saat yang tepat—termasuk pengoperasian sistem GPS onboard yang mengandalkan satelit, yang dikendalikan dari jarak jauh. Misi mereka menjadi salvo pembuka serangan udara terkoordinasi yang diluncurkan terhadap militer rezim Saddam Hussein. Diktator Irak ini telah mengirim angkatan bersenjatanya ke negara tetangganya Kuwait pada tanggal 2 Agustus 1990, dan mengklaim negara monarki konstitusional penghasil minyak yang kaya itu sebagai provinsi ke-19 Irak. Saddam kemudian memicu kemarahan internasional lebih lanjut, dengan tampaknya sedang mempersiapkan militernya untuk melancarkan invasi lebih lanjut ke Arab Saudi—jika ini berhasil, langkah ini akan memberikan orang kuat Irak itu kendali atas hampir setengah dari cadangan minyak dunia yang diketahui, serta mengacaukan kawasan Teluk Persia dan mengganggu ekonomi dunia. Tanggapan internasional terhadap agresi Irak pada awalnya terbatas pada jalur diplomatik, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Liga Arab masing-masing mengutuk invasi dan menyerukan penarikan segera angkatan bersenjata Irak dari Kuwait. Berikutnya mengikuti sanksi ekonomi dan embargo senjata terhadap Irak. Amerika Serikat, sementara mendukung langkah-langkah tersebut, mengambil garis yang lebih keras. Lima hari setelah invasi Irak—dengan restu Raja Fahd dari Arab Saudi—Presiden George H.W. Bush meluncurkan Operasi Desert Shield, dengan memerintahkan pasukan udara dan darat Amerika ke Arab Saudi untuk membantu menopang pertahanan kerajaan itu, dan mengirim dua kelompok tempur Angkatan Laut AS ke Teluk Persia sebagai unjuk kekuatan.
MILITER IRAK HARUS “DIBUTAKAN”
Pada tanggal 29 November, mengingat penolakan keras Saddam untuk menarik pasukannya keluar dari Kuwait dan ancamannya yang semakin agresif terhadap Arab Saudi dan negara-negara lain di kawasan itu, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 678, serta menetapkan batas waktu tanggal 15 Januari 1991 untuk penarikan tentara Irak dari Kuwait dan sekaligus memberi wewenang kepada masyarakat internasional untuk menggunakan “semua cara yang diperlukan” guna mengusir pasukan Saddam dari negara kecil itu, jika pasukan Irak tidak mau pergi secara sukarela. Itu, pada dasarnya, merupakan otorisasi untuk menyatakan perang terhadap Irak. Bahkan ketika upaya diplomatik sedang berlangsung, Amerika Serikat mempelopori upaya untuk membentuk koalisi militer internasional untuk kemungkinan digunakan melawan Saddam, dengan 34 negara—menjadi koalisi terbesar sejak berakhirnya Perang Dunia II—pada akhirnya menyediakan pasukan, perangkat keras militer dan/atau bantuan keuangan dan logistik pendukung. Sementara itu, Jenderal Angkatan Darat AS H. Norman Schwarzkopf Jr., komandan pasukan koalisi, memerintahkan para perencananya untuk merumuskan serangan untuk mengurangi risiko serangan Irak terhadap Arab Saudi dan mengusir pasukan Saddam dari Kuwait. Untuk melakukannya, para perencana harus mengatasi sejumlah rintangan, termasuk persaingan politik dan agama di antara negara-negara anggota koalisi, komplikasi logistik dan operasional yang melekat dalam pelaksanaan kampanye militer multinasional dan berbagai tantangan yang dihadirkan dalam sebuah perang gurun yang mekanis.
Para perencana taktik kemudian memberi Schwarzkopf draf awal rencana operasi koalisi pada tanggal 10 Agustus, hanya delapan hari setelah invasi Irak ke Kuwait. Dengan nama sandi Operasi Instant Thunder, rencana itu menekankan serangan udara besar-besaran di ibu kota Irak, Baghdad, dan banyak bunker komando pasukan militer Saddam yang terlindungi dengan kuat. Meskipun rencana tersebut mencakup operasi yang inovatif dan umumnya diterima dengan baik untuk melumpuhkan pertahanan udara Irak, namun rencana ini gagal di area lain. Di antara poin-poin utama yang menjadi pertikaian adalah asumsi bahwa rencana serangan semacam itu akan menyebabkan penarikan pasukan Irak, namun disaat yang sama gagal mempertimbangkan bagaimana Pengawal Republik, unit elit Saddam—yang dihilangkan dari daftar target—akan menanggapi serangan pasukan koalisi. Kekurangan ini dan kekurangan lainnya lalu menyebabkan rencana tersebut ditolak dalam waktu singkat. Pada tanggal 21 Agustus Letnan Jenderal Angkatan Udara AS Charles Horner, komandan operasi udara koalisi yang berbasis di Riyadh, membawa Brigjen Angkatan Udara. Jenderal Buster C. Glosson untuk merevisi rencana, serta memberinya waktu kurang dari seminggu untuk mempersiapkan pengarahan. Glosson dan timnya kemudian bekerja sepanjang waktu dari sebuah kantor di ruang bawah tanah gedung Royal Saudi Air Force di Riyadh. Pada hari-hari berikutnya kelompok perencana Glosson—dijuluki “Black Hole”, karena mereka yang bergabung tampaknya tidak pernah muncul kembali—menetapkan dasar-dasar kampanye udara strategis dalam empat fase. Fase pertama yang kritikal menyerukan dilaksanakannya serangan darat oleh pasukan operasi khusus yang dimaksudkan untuk menghancurkan situs radar di Irak barat. Berdasarkan informasi Situs Radar peringatan dini Irak diatur seperti “pagar pembatas” antara Irak dengan Kuwait dan Yordania. Dari penilaian pertama yang dilakukan oleh Sekutu, mengungkapkan bahwa Saddam memiliki sistem peringatan dini yang sangat baik, yang secara efektif mencakup seluruh perbatasan Kuwait-Irak. Menurut para perencana perang mereka telah mensimulasikan kasus terburuk dengan akan timbulnya kerugian sekitar 2 persen dari pesawat-pesawat tempur yang menyerang ke wilayah Irak. Jadi, hingga 6 sampai 10 pesawat bisa ditembak jatuh pertahanan udara Irak di hari-hari pertama perang. Disamping itu menurut perkiraan untuk setiap kelompok sekitar 50 tentara Irak, diperkirakan akan ada unit bersenjata rudal anti pesawat jarak pendek SA-7 atau SA-14, disamping sistem SAM yang berjangkauan lebih jauh. Oleh karenanya penghancuran situs radar pendukungnya menjadi prioritas untuk dinetralisir di jam-jam pertama perang.
KOMBINASI APACHE & PAVE LOWS
Para Perwira Komando Pusat pasukan Amerika dan sekutu (CENTCOM), kemudian mempertimbangkan tiga opsi untuk menghancurkan situs radar Irak, yakni:
- Opsi pertama: Menggunakan unit Pasukan Khusus, yang dengan menyusup, akan menyerang posisi radar musuh.
- Opsi kedua: Mengkombinasikan aksi unit Pasukan Khusus dan helikopter tempur, dengan unit darat membantu menginformasikan posisi radar kepada helikopter penyerang, dengan menggunakan perangkat laser penanda.
- Opsi ketiga: Menyerang posisi radar, dengan pesawat-pesawat angkatan udara.
Briefing mengenai rencana-rencana baru itu lalu dilakukan pada tanggal 3 September, Schwarzkopf awalnya terkesan dengan rencana Glosson, tetapi tiga minggu kemudian perencanaan tiba-tiba terhenti ketika permintaan untuk kendaraan darat yang dilengkapi GPS tiba di meja Schwarzkopf, dan lantas memicu kemarahan sang jenderal. Glosson segera dipanggil ke hadapan Schwarzkopf yang marah, yang mengecam gagasan untuk menggunakan pasukan darat operasi khusus. Seorang prajurit yang sangat dihormati, Schwarzkopf telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin tempur yang pandai dan dapat diandalkan di Vietnam. Tetapi juga di Asia Tenggara di mana serangkaian pengalaman buruk dengan pasukan operasi khusus telah memperburuk pendapat sang jenderal tentang unit-unit “pahlawan” semacam itu, dan Schwarzkopf menjelaskan dengan sangat jelas bahwa dia bermaksud untuk menjaga jumlah mereka sekecil mungkin. Dia kemudian membatalkan Fase I dari rencana Glosson secara keseluruhan. Para perwira Angkatan Udara kembali menghilang ke Black Hole, sembari menyadari bahwa penghancuran situs radar Irak tetap menjadi fase penting untuk setiap serangan udara skala besar terhadap Saddam dan pasukan militernya. Dengan kemungkinan penggunaan pasukan darat ditolak, tim kemudian mempertimbangkan penggunaan helikopter. Dalam hitungan jam Glosson dan bawahannya menyiapkan rencana serangan terbaru yang dibuat di sekitar pemakaian helikopter tempur AH-64A Apache milik Angkatan Darat, sebuah mesin perang yang telah dilengkapi dengan hampir semua yang diperlukan untuk melancarkan serangan udara pertama yang sukses, termasuk daya tembak dan kemampuan untuk memverifikasi kerusakan secara fotografis. Tetapi Apache sayangnya tidak memiliki peralatan navigasi yang diperlukan untuk memandu mereka ke dan dari target mereka, jadi Glosson dan para perencananya menambahkan pengerahan helikopter MH-53J Pave Lows III Angkatan Udara ke dalam tim penyerang. Dilengkapi dengan peralatan penerima GPS baru, Pave Lows mampu memberikan akurasi data navigasi yang dibutuhkan oleh helikopter-helikopter Apache.
Glosson lalu mempresentasikan rencana yang telah direvisi ini kepada Schwarzkopf, dengan merinci alasannya dalam menggunakan helikopter-helikopter Pave Lows. Operasi kekuatan gabungan semacam itu, Glosson menjelaskan, akan lebih dari sekadar mampu untuk membuat lubang menganga di sistem pertahanan udara Irak, sehingga membuka jalan bagi serangan udara selanjutnya. Jenderal Angkatan Udara itu juga menekankan bahwa tanpa kombinasi helikopter Angkatan Darat dan Angkatan Udara tersebut, misi tersebut tidak akan dapat berjalan. Terlepas dari ketidaksukaannya terhadap apa pun yang berlabel “operasi khusus”, Schwarzkopf melihat logika dari Glosson dan menyetujui rencana tersebut. Sementara itu, tentara Saddam adalah yang terbesar keempat di dunia pada saat itu, dengan hampir 1 juta orang bersenjata. Rezim ini telah lama mengandalkan Uni Soviet untuk dukungan material, dan pertahanan udaranya dibangun di sekitar berbagai radar pengawasan dan akuisisi target yang dipasang di truk yang disebut di Barat sebagai “Flat Face,” “Squat Eye” dan “Spoon Rest.” Radar-radar ini mengendalikan berbagai sistem senjata dan rudal anti-pesawat terkait, membentuk “pagar pertahanan” di sekitar Irak.
Rencana Glosson menyerukan agar tiga lokasi di Irak barat dihancurkan secara bersamaan untuk membuka koridor aman bagi pesawat-pesawat pasukan koalisi yang masuk menuju Baghdad dan target lainnya. Misi itu penuh dengan kompleksitas. Para awak pesawat akan ditugaskan untuk menemukan tiga situs yang terhubung secara elektronik dengan jarak sekitar 70 mil, kemudian memusnahkannya secara bersamaan dan sepenuhnya. Kesuksesan misi bergantung pada waktu dan keahlian—belum lagi unsur kejutan. Helikopter-helikopter AH-64A yang dikerahkan untuk berpartisipasi dalam serangan itu adalah milik Batalyon ke-1, Resimen Udara ke-101 yang berbasis di Fort Campbell, Ky., dan dipimpin oleh Letnan Kolonel Dick Cody. Sebagai bagian dari Divisi Lintas Udara ke-101 yang terkenal, batalion tersebut telah memilih moto, “Expect No Mercy,” yang secara tepat mencerminkan kekuatan helikopter yang diterbangkan unit tersebut. Segera setelah Irak merebut Kuwait, Divisi ke-101 disiagakan untuk memulai proses pengerahan ke Arab Saudi. Dua belas Apache dengan awak pesawat mereka dari batalion itu dibagi antara dua pesawat kargo C-5 Galaxy Angkatan Udara saat mereka lepas landas menuju ke Arab Saudi. Sementara itu, dengan persenjataannya yang mencakup rudal anti tank AGM-114 Hellfire, roket Hydra 70 dan chain gun M230 berkaliber 30 mm, Apache memiliki daya tembak yang untuk melenyapkan targetnya dan kemampuan untuk memverifikasi kehancurannya. Situs-situs yang menjadi target berada di utara kota Saudi bernama Arar, sekitar 300 mil (482 km) barat laut Kota Militer Raja Khalid, dan tepat di bawah daerah tiga perbatasan dekat Wadi Al-Batin.
Sementara itu, meskipun tampaknya ideal untuk misi yang diusulkan, helikopter AH-64 menghadapi masalah yang signifikan. Apache dikenal perlu mendapatkan perawatan yang ekstensif bahkan dalam keadaan terbaiknya, setiap jam helikopter ini ada di udara membutuhkan waktu tiga jam perawatan di darat. Disamping itu, untuk sebagian besar tahun, suhu tinggi rata-rata di wilayah itu berkisar sekitar 100 derajat Fahrenheit (37 derajat celcius), yang mana bisa mendatangkan malapetaka bagi perangkat elektronik sensitif helikopter dan menghasilkan tingkat kesiapan misi yang jauh lebih rendah daripada saat digunakan di Amerika Serikat. Selain itu, pasir halus yang tertiup angin mampu membuat baling-baling helikopter Apache seperti pisau cukur, yang mengharuskan kru darat untuk mengecat ulang baling-baling secara teratur untuk melawan efek abrasifnya. Jangkauan AH-64 Apache yang relatif terbatas (265 mil/426,5 km) juga menjadi perhatian, karena tanpa upaya pengisian ulang tangki bahan bakar mereka, helikopter serang ini tidak akan memiliki cukup bahan bakar untuk menyelesaikan misi—dengan asumsi mereka dapat menemukan target mereka. Perangkat Doppler navigation attitude-heading reference system Apache tidak berguna di dataran gurun yang datar dan tanpa ciri-ciri penanda, karena tidak ada gelombang Doppler yang bisa dipantulkan. Hanya satu helikopter militer di area itu yang bisa memecahkan masalah navigasi yang dihadapi para perencana Amerika, yakni Pave Lows. Helikopter-helikopter MH-53J Pave Lows III milik Angkatan Udara dari Skuadron Operasi Khusus (SOS) ke-20 pimpinan Lt. Col. Richard Comer ini telah menerima modifikasi ekstensif pada akhir tahun 1980-an—termasuk pemasangan sistem penentuan posisi global yang canggih. Meskipun perangkat navigasi ini tidak pernah digunakan dalam pertempuran sebelumnya, Pave Lows lebih dari mampu untuk membimbing helikopter-helikopter Apache ke target mereka. Selain itu, SOS ke-20 adalah satu-satunya unit di area tersebut yang dilengkapi dengan kemampuan GPS. Terbang sebagai pemandu ke titik yang telah ditentukan, Pave Lows dapat memperbaiki akurasi posisi hingga delapan grid – sekitar sepuluh meter, dibandingkan sistem Apache, yang hanya memiliki akurasi posisi di kisaran angka 100 meter.
PERSIAPAN & LATIHAN
Sementara masalah operasional lainnya masih tetap ada, salah satu keputusan termudah komandan satuan tugas Cody adalah menyangkut nama tim gabungan antara pihak Angkatan Darat-Angkatan Udara. Mengingat cara di mana pasukan Divisi Lintas Udara ke-101 dan unit penerbangan Angkatan Darat telah bekerja sama selama invasi D-Day 1944, Cody membuat pilihan yang logis, dengan memberi nama Task Force (TF) itu sebagai Satuan Tugas Normandia. Organisasi gabungan itu dibagi menjadi tiga tim, Merah, Putih dan Biru. Masing-masing akan ditugaskan untuk mengeliminasi salah satu dari tiga situs radar peringatan dini Irak, untuk membuka jalan bagi serangan udara besar-besaran di Baghdad. Kolonel Cody ingat bahwa usia orang-orang yang dipilihnya untuk misi itu rata-rata berumur dua puluh enam tahun. Dia memiliki dua puluh empat awak di batalion-nya. “Saya memilih delapan orang untuk misi ini,” katanya, “tetapi kedua puluh empat orang itu (sebenarnya) bisa melakukan misi ini.” Segera setelah rapat operasi khusus, batalyon Apache Cody ditempatkan di bawah kendali operasional Komando Pusat Operasi Khusus dan mulai berlatih dengan helikopter MH-53 Pave Low dari Skuadron Operasi Khusus ke-20 Angkatan Udara. Taktik, teknik, dan prosedur infiltrasi penerbangan rendah dan jarak jauh diterbangkan selama misi pelatihan. Para kru akan terbang ke titik yang ditetapkan, pindah ke formasi tempur dan berlatih menembak target. Pada awal bulan November 1990, target dibuat di area garis belakang Arab Saudi yang menyerupai situs peringatan dini Irak. “Kami terbang ke sana dan mempraktikkan latihan misi yang lengkap, mereplikasi jarak dan kondisi terbang. Kami masuk dan ‘menghancurkan’ target latihan itu, menggunakan perekam video onboard di Apache selama pelatihan tembakan langsung”, kata Cody. Waktu adalah segalanya dalam misi yang akan datang. “Tidak ada gunanya menghancurkan satu situs radar dan, (baru) dua menit kemudian, mengenai radar yang lainnya,” kata Kolonel Cody. “Kami harus melakukannya sedemikian rupa sehingga kami mengeliminasi elemen-elemen penting dari situs-situs radar itu secara bersamaan sehingga Baghdad tidak bisa menyiagakan pesawat-pesawat tempur MiG-29 Fulcrum andalan mereka dan sistem pencegat yang dikendalikan oleh kontrol darat.”
Sementara itu, saat Irak terus memantau operasi pasukan koalisi di seluruh wilayah waktu itu, para perencana tetap merahasiakan pelatihan dan rincian misi anti-radar ini. Spesifik operasional dari misi ini tetap tidak diketahui bahkan oleh para pilot, yang terlepas dari pelatihan tanpa henti, mempelajari peta intel, foto, dan maket dari target mereka. Tim pemeliharaan dan teknik juga tetap sibuk. Terlepas dari reputasi temperamental Apache dan kondisi gurun yang ekstrem, kepala kru Cody mampu mempertahankan tingkat kesiapan helikopter harian sebesar 94 persen. Dengan bahan bakar internal, Apache sebenarnya dapat terbang dengan muatan tempur penuh (delapan rudal Hellfire, tiga puluh delapan roket Hydra, dan 1.200 peluru chain gun) untuk terbang dalam waktu kurang dari dua jam. Untuk mengatasi keterbatasan ini, unit mengadopsi saran yang pertama kali diajukan oleh Letnan Tim De Vito, pilot Apache lainnya. Dia merekomendasikan agar kru memasang tangki bahan bakar eksternal seberat 1.700 pon, berkapasitas 230 galon ke area senjata Apache. Para perencana tidak ingin mempersiapkan titik pengisian bahan bakar seperti pangkalan di Desert One yang digunakan dalam penyelamatan sandera tahun 1980 yang gagal di Iran. Untuk memberi ruang bagi bahan bakar, setiap pesawat mengurangi jumlah roketnya menjadi tinggal sembilan belas roket. Menyeimbangkan konfigurasi asimetris ini, maka membutuhkan penempatan dua peluncur rudal Hellfire format quad (4) di posisi terluar sayap, dan peluncur roket berkapasitas 19 roket di dua lokasi di sayap terdalam. Lewat pengaturan tersebut, maka Apache dapat memperpanjang kemampuan serangnya hingga lebih dari 400 mil (643 km), yang memungkinkan Apache terbang diatas target selama 20 menit, meskipun rencana tersebut hanya membutuhkan seperempat dari waktu itu. Detail penting lainnya tetap ada. Saat tenggat waktu PBB mendekat, para perencana menetapkan sinyal cahaya yang digunakan oleh Pave Lows, mencakup teknik terbang dan kecepatan serta ketinggian di mana tim akan terbang.
Sementara itu, awak pesawat berlatih menempuh jarak ratusan mil, selalu di malam hari dan tanpa lampu komunikasi, navigasi, atau formasi. Jari-jari tiga rotor ditentukan untuk memisahkan mereka, saat mereka terbang ke target mereka, di mana bus-bus tua disimulasikan menjadi target mereka. Di akhir setiap latihan, pilot melaporkan tingkat kehancuran yang dicapai sebagai “Charlie” (kerusakan minimal), “Bravo” (kehancuran sebagian) atau “Alpha” (kehancuran total). Sebuah tinjauan rekaman video setelah satu misi pelatihan tembak langsung menawarkan jaminan tambahan bahwa Apache memiliki daya tembak untuk menyelesaikan pekerjaannya — di mana bus berada (saat latihan), hanya tersisa potongan logam yang berasap. Pada awal bulan Desember 1990, pihak intelijen mengindikasikan bahwa instalasi radar yang ditargetkan diserang oleh Tim Biru tidak terkait dengan pusat operasi pertahanan udara mana pun, yang berarti situs tersebut tidak perlu diserang. Daripada membubarkan tim, Cody kemudian menugaskan kru Tim Biru membantu Tim Merah dan Putih, meskipun dia terus menyembunyikan anak buahnya tentang detail misi, termasuk lokasi target yang tersisa, dimana kemudian diberi nama Objectives California dan Nevada. Akhirnya, tepat setelah hari Natal, komandan Desert Shield, Schwarzkopf memberikan lampu hijau untuk misi tersebut.
GO AHEAD
TF Normandia lalu akan tetap berada di wilayah utara Arab Saudi karena alasan kerahasiaan dan keamanan saat kalender beralih ke tahun 1991. Dua minggu lagi berlalu sebelum orang-orang dan helikopter mereka pindah ke Forward Operating Base Al Jouf, sebuah pos terdepan di barat laut Arab Saudi yang terdiri dari depot bahan bakar kecil dan landasan pacu berjalur tunggal. Bahkan kemudian langkah itu dilakukan secara diam-diam. Ketika mereka mendarat untuk mengisi bahan bakar dalam perjalanan di Kota Militer Raja Khalid, kru darat di lokasi itu masih tidak mengetahui rahasia misi mereka. Al Jouf jauhnya 6 jam penerbangan dari Bandara Internasional King Fahd tempat helikopter-helikopter Pave Lows ditempatkan. Helikopter-helikopter gugus tugas kemudian berbaur dengan mulus dengan helikopter lain yang beroperasi di luar kompleks. Ketika batas waktu tanggal 15 Januari PBB untuk penarikan pasukan Irak dari Kuwait berlalu tanpa adanya tindakan berarti dari Saddam, perang menjadi sebuah kepastian. Hari itu juga Cody dan Comer akhirnya memberi pengarahan kepada pilot mereka tentang misi spesifik, mendistribusikan peta dan foto terbaru dari target dengan detail yang mencengangkan — begitu jelas, gurauan awak pesawat, sehingga mereka bisa menentukan bahwa seekor anjing liar di Objective California adalah anjing jantan, dan bercanda dengan menjulukinya sebagai Jamal. Sekitar pukul 2 siang. pada tanggal 16 Januari Gugus Tugas Normandia menerima perintah singkat, “Wolfpack Execute Mission.” Jam-H—waktu mulainya Operasi Badai Gurun—ditetapkan pada pukul 3 pagi pada tanggal 17, yang berarti grup pertama dari dua grup, Tim Putih, akan lepas landas pada pukul 12:56, diikuti lima menit kemudian oleh Tim Merah. Jika semua berjalan sesuai rencana, kedua tim akan tiba di tujuan mereka tepat pada pukul 2:38 pagi. Waktu serangan Gugus Tugas Normandia disamakan dengan waktu yang diproyeksikan ketika radar Irak akan mendeteksi pesawat EF-111A Raven mendahului pesawat tempur siluman F-117A Nighthawk Angkatan Udara dalam serangan awal ke pusat kota Baghdad. Keempat Pave Lows, sembilan Apache (satu sebagai cadangan), dua HH-60H Sea Hawk Angkatan Laut dan dua MH-60G Pave Hawk Angkatan Udara berangkat dari Al Jouf. Helikopter-helikopter Pave Lows membawa personel pararescue jumper (unit penyelamat udara) Angkatan Udara, untuk mengantisipasi jika ada helikopter jatuh di area target, sementara helikopter-helikopter Sea Hawk dan Pave Hawk tetap siaga di wilayah udara Saudi, siap untuk menyelamatkan awak dari setiap helikopter yang jatuh dalam perjalanan. Sementara itu, setiap Apache dipersenjatai dengan delapan rudal anti tank Hellfire, 19 roket Hydra kaliber 2,75 inci dan 800 hingga 1.000 butir amunisi kaliber 30 milimeter.
Helikopter-helikopter TF Normandy terbang ke target mereka 50 kaki (15 meter) diatas tanah dengan kecepatan 138 mph (222 km/jam), dalam keheningan radio total dan penerangan nyaris nol. Sistem GPS yang mereka andalkan tidak hanya belum pernah digunakan dalam pertempuran, tetapi juga bergantung pada beberapa satelit yang dikendalikan dari Colorado Springs, Colorado. Karena sistem jaringan satelit GPS yang baru lahir masih belum sempurna, MH-53 hanya dapat memperoleh informasi navigasi yang akurat hanya selama jangka waktu tertentu, hal ini lebih lanjut membatasi parameter dari misi yang dijalankan. Helikopter-helikopter Pave Lows bukan satu-satunya yang bergantung pada para pengontrol di Colorado Springs. Saat TF Normandy mendekati targetnya, tujuh pengebom B-52G Angkatan Udara juga berada di udara, dalam penerbangan nonstop dari Pangkalan Angkatan Udara Barksdale di luar Shreveport, La., bersiap untuk meluncurkan 35 rudal jelajah berpemandu GPS ke sasaran di Irak utara. Tak lama setelah menyeberang ke wilayah udara Irak, para penerbang dari Tim Putih menyaksikan langit di bawah dan di depan mereka diterangi dengan peluru pelacak senjata ringan. Cody kemudian membagi kedua tim. Tim Merah yang dipimpin oleh Kapten Newman Shufflebarger, menyusul 12 menit setelah tim putih. Instalasi radar dekat yang dituju keduanya dekat dengan perbatasan tetapi dipisahkan oleh jarak 70 mil (112 km). Kedua tim Apache lalu mendekati situs radar target masing-masing. Setiap tim dibagi menjadi dua kelompok dua helikopter yang diposisikan setengah mil terpisah satu sama lain. Cody, yang menerbangkan salah satu helikopter memimpin tim putih, menduga para tentara musuh di darat telah mendengar suara helikopter yang datang dan menembak secara membabi buta ke langit malam. Seandainya misi itu telah bocor, mereka akan segera tahu. Sementara itu, untuk membantu helikopter-helikopter Apache yang menavigasikan penerbangan selama pendekatan terakhir mereka ke sasaran, helikopter-helikopter Pave Lows akan menjatuhkan lampu kimia inframerah hijau pada titik yang telah ditentukan 12-14 km dari setiap target, yang hanya akan terlihat melalui kacamata penglihatan malam dan sensor forward-looking infrared. “Lampu-lampu ini digunakan untuk menandai titik data sistem navigasi inersia Global Positioning System (GPS) yang sudah diprogram dalam sistem navigasi Doppler helikopter. Karena Pave Lows memiliki sistem navigasi yang sangat akurat, mereka akan memberikan akurasi data yang tinggi, memungkinkan kita terbang tepat di atas lampu kimia, menentukan tingkat kesalahan dari penerbangan di ketinggian rendah, dan memperbaikinya”, kenang Cody.
HANCURKAN!
Tepat pada 90 menit setelah misi berlalu, helikopter-helikopter Pave Lows menjatuhkan lampu-lampu kimia mereka di titik referensi dan kemudian membelok saat kru Apache memperbarui sistem navigasi mereka dan menuju target masing-masing. Helikopter-helikopter AH-64A ini kemudian bergerak ke posisi menembak dan menyalakan laser pengukur jarak mereka dalam hitungan detik dari waktu serangan pukul 2:38 pagi. 1st Lt. Tom Drew, yang menerbangkan Apache No 976 kemudian memecahkan keheningan radio dengan mengucapkan: “Party in 10!” Sepuluh detik kemudian kru penembak pada Apache melepaskan tembakan. “Yang satu ini untukmu, Saddam,” gumam CW03 Dave Jones, pilot Apache lainnya. Dua puluh detik setelah itu rentetan rudal Hellfire yang meledak menghancurkan instalasi-instalasi radar Irak, menerangi gurun itu sejauh bermil-mil. “Rudal pertama menghancurkan sistem komunikasi dan tropospheric scatter systems, menutup kemungkinan para kru radar Irak membunyikan peringatan ke pusat operasi intelijen Irak di Baghdad, yang menghubungkan semua situs radar negara itu,” kata Cody. “Kemudian, kami secara sistematis mulai menghancurkan van yang mengendalikan sistem radar Spoon Rest, Squat Eye, dan Flat Face.”
Setelah rudalnya habis, helikopter-helikopter Apache mendekat, melanjutkan serangan mereka dengan semburan tembakan roket Hydra dan semburan tembakan kanon kaliber 30 mm, yang menghancurkan. Roket flechette Hydra 70 dan chain gun kaliber 30 milimeter ini digunakan untuk menyerang posisi senjata anti-pesawat ZPU yang menjaga situs radar, saat helikopter-helikopter Apache bergerak ke dalam jarak 4.000 meter dari posisi tersebut. Helikopter-helikopter Apache menghancurkan setiap peralatan radar di setiap lokasi, menghancurkan bangunan dan van pendukungnya. Wingman Cody menerima tembakan musuh, dan dengan tiga lubang peluru menembus baling-baling, namun Apache yang diterbangkannya terus terbang tanpa terganggu. Meskipun tim penyerang ini telah diberikan waktu lima menit untuk menyelesaikan pekerjaannya, penghancuran target hanya memakan waktu kurang dari empat menit. Dalam empat menit itu, kedelapan Apache menembakkan 27 rudal, sekitar seratus roket 70 mm, dan sekitar 4.000 butir amunisi kaliber 30 mm. Kini hanya ada satu tugas tersisa, yakni: helikopter-helikopter Apache melayang di atas instalasi dan memfilmkan kehancuran yang melanda situs radar Irak itu. Dari pengamatan, menunjukkan bahwa apa yang tidak meledak dalam bola api telah menjadi puing-puing, termasuk setiap peralatan yang ditargetkan dan setiap personel yang ada di lokasi. Hanya “Jamal” si anjing yang selamat, melesat ke gurun pada ledakan pertama. Saat helikopter-helikopter Apache ini berbalik menuju titik pertemuan mereka, kru mereka mengirim pesan radio ke Pave Lows dengan berita tentang keberhasilan misi: “California. Alfa, Alfa.” “Nevada. Alfa, Alfa.” Di ruang perang CENTCOM, Jenderal Schwarzkopf mendengar berita itu, menarik napas, mengatupkan rahangnya dan bergumam, “Terima kasih Tuhan.”
MEMBUTAKAN MILITER SADDAM
Serangan pasukan udara Amerika ini nyaris tanpa perlawanan berarti kecuali beberapa rudal SA-7 yang dilepaskan terhadap helikopter-helikopter Pave Lows, yang memaksa mereka melakukan manuver menghindar. Misi gabungan Angkatan Darat-Angkatan Udara Amerika kini telah membuat lubang besar selebar 10 km dalam sistem pertahanan udara Irak, dan militer Irak sekarang tidak lagi memiliki “mata” untuk mengawasi sebagian besar wilayah perbatasan mereka. Saat tim Satgas Normandia mendekati perbatasan, mereka dapat melihat konstelasi suar yang berkedip saat gelombang pertama pesawat-pesawat serang sedang melintas di atas, terbang tanpa terdeteksi dan tidak menghadapi perlawanan dalam menyerang target-target mereka. Hampir 100 pesawat sekutu, tiba dua puluh dua menit setelah serangan itu, menderu melalui lubang menganga di jaringan pertahanan Irak dan terbang ke utara untuk menyerang sasaran penting pada malam pertama perang. Pesawat-pesawat F-117 Angkatan Udara, dengan mengandalkan kemampuan silumannya, memang telah menembus wilayah udara Irak dan mendekati Baghdad pada saat Apache menembaki situs radar Irak, tetapi penghancuran situs peringatan dini ini jelas sangat meringankan tugas pesawat sekutu non-siluman yang dikirimkan malam itu.
Operation Eager Anvil, demikian nama operasi ini—sebuah misi yang dalam beberapa kesempatan tampaknya ditakdirkan untuk menghilang bersama Black Hole—kemudian telah menghadirkan era baru peperangan berteknologi maju. Dalam jangka pendek cara berperang baru ini akan mendorong penarikan pasukan Irak dari Kuwait pada tahun 1991, sementara dalam jangka panjang akan meletakkan dasar bagi jenis serangan “shock and awe” yang membuka Operasi Pembebasan Irak belasan tahun kemudian. Sementara itu setelah serangan pembuka di situs-situs radar Irak, batalion Apache Cody bergabung kembali dengan Divisi Lintas Udara ke-101, yang menjadi induk mereka saat bersiap untuk melancarkan perang darat skala besar yang akan datang. Unitnya kemudian akan mengambil bagian dalam serbuan udara ke beberapa pangkalan operasi garis depan di dalam wilayah Irak. Batalyon helikopter Apache ini lalu akan segera terlibat dalam misi menyerang situs-situs rudal SAM SA-6 Irak, rudal pertahanan udara lainnya, dan kendaraan lapis baja musuh, karena mereka bertugas melindungi brigade infanteri yang diproyeksikan menusuk masuk sejauh lebih dari seratus mil (160 km) ke dalam wilayah musuh. Tidak ada Angkatan Darat lain di dunia dalam sejarah yang bisa bergerak secepat itu dengan menggunakan helikopter, Cody menyimpulkan. Dia menambahkan bahwa serangan di situs peringatan dini Irak bagaimanapun “adalah debut pembuka yang luar biasa untuk helikopter-helikopter Apache (dalam perang itu).”
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
Blinding Saddam by Beth Underwood
https://www.historynet.com/blinding-saddam.htm
Gulf War: Apache Raid BY CLARENCE A. ROBINSON JR., FEBRUARY 2, 2011
Operation Eager Anvil: Pave Low Leaders An inside look at the mission that kicked off Operation Desert Storm BY MAJ. GEN. RICHARD COMER (USAF-RET) – OCTOBER 17, 2019
Apache Attack By Richard Mackenzie; Oct. 1, 1991, airforce mag
Task Force Normandy Fired the Opening Shots of Desert Storm BY ROBERT F. DORR – NOVEMBER 23, 2021
Operation ” Eager Anvil ” – GENERAL. (1991)
https://armyaviation.wordpress.com/
PARTY IN 10’ — HOW TASK FORCE NORMANDY EXECUTED THE 1ST STRIKES OF DESERT STORM By Matt Fratus | January 19, 2021
