Sejarah Militer

Babak Pertama Perang Saudara Lebanon (1975-1978): Tidak Ada Kawan/Lawan Sejati

Perang Saudara Lebanon (bahasa Arab: الحرب الأهلية اللبنانية, diromanisasi: Al-Ḥarb al-Ahliyyah al-Libnāniyyah) adalah perang saudara yang punya “banyak segi” di Lebanon, yang berlangsung dari tahun 1975 hingga 1990 dan mengakibatkan sekitar 120.000 korban jiwa. Pada tahun 2012, diperkirakan sekitar 76.000 orang tetap menjadi mengungsi di Lebanon. Disamping itu, ada juga eksodus hampir satu juta orang dari Lebanon sebagai akibat dari perang saudara tersebut. Jika di masa sekarang kita melihat bahwa perang Saudara Suriah yang sudah berlangsung sejak tahun 2011 adalah sebuah perang yang membingungkan karena didukung oleh berbagai faksi yang berbeda, maka di tahun 1970-80an, konflik di Lebanon lebih ruwet lagi. Perang Saudara Lebanon tidak saja melibatkan berbagai faksi dalam jumlah besar dan kepentingan dari negara-negara besar, namun dalam berjalannya perang, satu faksi bisa berganti sekutu dengan cepat selama beberapa kali. Contoh yang unik adalah keterlibatan Suriah, sebagai salah satu kekuatan paling dominan di Lebanon saat itu. Awalnya Suriah banyak membantu dan memanfaatkan kelompok Muslim dan Palestina, namun diawal perang saudara tahun 1976, Suriah malah hadir untuk membekingi kelompok Kristen Maronit, yang awalnya meminta bantuan Suriah dalam melawan kelompok Muslim sayap kiri Lebanon! Sebuah posisi yang unik dimana, pada titik ini, Suriah dan Israel secara teknis mendukung faksi yang sama.

Pasukan Syria di Lebanon. Selama hampir 30 tahun, semenjak tahun 1976, dengan berbagai alasan, Tentara Syria bertahan di Lebanon. Dalam prosesnya, seperti faksi-faksi lain yang terlibat dalam Perang Saudara di Lebanon, Syria kerap berganti aliansi untuk mengamankan posisinya. (Sumber: http://www.cedarsrevolution.net/)

MASUKNYA SURIAH DI LEBANON

Sebelum perang, Lebanon adalah sebuah negara yang multi-sektarian, dengan orang-orang Muslim Sunni dan Kristen menjadi mayoritas di daerah kota-kota pesisir, sedangkan Muslim Syiah sebagian besar berbasis di selatan dan Lembah Beqaa di timur, serta dengan populasi di wilayah pegunungan sebagian besar dihuni oleh orang-orang Druze dan Kristen. Sebelum perang, Pemerintah Lebanon telah dijalankan di bawah pengaruh signifikan dari para elit di antara  kaum Kristen Maronit. Hubungan antara politik dan agama telah diperkuat di bawah mandat kekuatan kolonial Prancis dari tahun 1920 hingga 1943, dan struktur parlementer dibuat untuk mendukung posisi penduduk Kristennya, yang pada masa itu merupakan mayoritas di Lebanon. Namun, negara itu bagaimanapun memiliki populasi Muslim yang besar dan banyak kelompok pan-Arab dan sayap kirinya menentang pemerintahan yang pro-barat. Sementara itu, pembentukan negara Israel dan perpindahan seratus ribu pengungsi Palestina ke Lebanon selama eksodus 1948 dan 1967 juga turut berkontribusi pada pergeseran keseimbangan demografis yang semakin berpihak pada populasi Muslim. Sedari awal, Organisasi Pembebasan Palestina/PLO, sebagai representasi organisasi politik Palestina adalah entitas yang sangat tidak biasa di antara gerakan-gerakan sejenisnya, karena mereka tidak pernah memiliki lebih dari sekedar pijakan di negara-negara Arab, yang diharapkannya dapat digunakan untuk “membebaskan” negerinya yang diduduki Israel. Pangkalan gerakan itu awalnya berada di seberang perbatasan Israel, yakni di Yordania, sampai Raja Hussein, yang takut dengan meningkatnya dominasi pasukan komando Palestina atas urusan negaranya, menyerang mereka pada tahun 1970, serta mengusir mereka dari kota-kota Yordania. Orang-orang Palestina yang selamat dari perang mini itu, kemudian mengenangnya sebagai peristiwa “September Hitam”. Mereka lalu mengungsi ke Lebanon — satu-satunya “pangkalan” yang tersisa di dunia Arab di mana mereka dapat beroperasi dengan bebas.

Gerilyawan PLO di Lebanon. Semenjak terusir dari Yordania tahun 1970 dalam Peristiwa Black September, Organisasi Pembebasan Rakyat Palestina (PLO) menjadikan Lebanon sebagai basis mereka untuk menyerang Israel. Hal ini kemudian menimbulkan implikasi yang rumit di Lebanon yang sedari awal rawan konflik sektarian. (Sumber: https://twitter.com/)

Sementara itu, di Suriah, yang secara terbuka mengklaim dirinya sebagai “sahabat Palestina”, pasukan komando Palestina berada di bawah kendali yang kuat dari penguasa Surian. Misalnya sebelum melancarkan serangan terhadap Israel dari wilayah Suriah, seorang pemimpin gerilya pernah mengeluh, bahwa dia harus menyerahkan rencana rangkap tiga kepada pihak berwenang. Akibatnya Faksi Saiqa yang dibiayai oleh Suriah, statusnya tidak lebih menjadi “bidak catur” yang digunakan oleh rezim Suriah. Perang Dingin, bagaimanapun juga memiliki efek disintegrasi yang kuat di Lebanon, yang terkait erat dengan polarisasi yang mendahului krisis politik pada tahun 1958, dimana orang-orang Maronit berpihak pada Barat sementara kelompok kiri dan pan-Arab berpihak pada negara-negara Arab yang bersekutu dengan Soviet. Secara bertahap, penyerangan yang dilakukan oleh gerilyawan Palestina dari wilayah Lebanon memicu pembalasan Israel dan memicu kebencian pada orang-orang Palestina, terutama di kalangan sayap kanan Maronit, yang menganggap diri mereka sebagai penjaga kedaulatan nasional Lebanon. Kemudian dengan didorong oleh negara-negara Arab konservatif lainnya, para pemimpin Kristen sayap kanan mulai memikirkan cara-cara untuk melemahkan orang-orang Palestina. Pertempuran antara faksi Maronit dan Palestina (terutama dari Organisasi Pembebasan Palestina/PLO) dimulai pada tahun 1975, kemudian kelompok Kiri, pan-Arabis dan Muslim Lebanon membentuk aliansi dengan Palestina. Selama pertempuran, aliansi kerap bergeser dengan cepat dan tidak terduga. Selanjutnya, kekuatan asing, seperti Israel dan Suriah, mulai turut terlibat dalam perang dan bertempur bersama faksi yang berbeda. Menghadapi situasi ini, Pasukan penjaga perdamaian, kemudian ditempatkan di Lebanon.

Di Lebanon, Faksi Kristen menjadi lawan dari PLO dan kelompok Muslim sayap kiri. Orang-orang Kristen Maronit ini ingin mempertahankan dominasi politik mereka di Lebanon, sekaligus mengusir kekuatan asing yang bercokol di Lebanon, seperti PLO. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

Yang mengejutkan, Suriah secara resmi memasuki perang Lebanon atas permintaan kelompok Kristen Maronit. Ketika perimbangan militer lebih menguntungkan pasukan Muslim sayap kiri, kelompok Kristen Lebanon meminta bantuan Suriah, meski Damaskus sebelumnya mendukung kelompok Muslim dengan mengirimkan unit-unit asal Palestina yang berbasis di Suriah. Kepala pasukan milisi Kristen, Bashir Gemayel, berharap Suriah akan dapat membantunya menyingkirkan pendudukan Lebanon yang sebenarnya dilakukan oleh orang-orang Palestina. Namun, Damaskus sebenarnya punya rencana sendiri untuk Lebanon. Orang Suriah, bukannya tanpa alasan, mereka menganggap Lebanon sebagai bagian dari wilayah masa lalu negara mereka. Juga, dengan hilangnya Dataran Tinggi Golan ke tangan Israel sejak tahun 1967 telah menempatkan Suriah pada posisi militer strategis yang sangat tidak menguntungkan dalam kaitannya dengan Israel. Pengerahan pasukan Suriah di Lebanon kemudian diharapkan akan memungkinkan untuk sedikit meningkatkan keseimbangan kekuatan antara Suriah dan Israel, dimana Lebanon setidaknya dapat menjadi semacam “buffer” antara Suriah dan musuhnya, Israel. Selain itu, Hafez al-Assad tidak menginginkan kemenangan baik dari kelompok kiri, menguatnya posisi orang-orang Palestina, maupun kelompok kanan, sebaliknya, ia berencana untuk memulihkan keseimbangan di negara-negara sekitarnya dan kawasan itu secara keseluruhan. Suriah yang memiliki reputasi di Barat sebagai “radikal”, tetapi faktanya sikap itu terutama tidak lebih merupakan wujud perlawanannya terhadap kekuatan Israel di kawasan. Toh dalam kaitan konfrontasi antara Arab dan Israel istilah ideologi “kiri” dan “kanan” hampir tidak ada artinya. Kebanyakan rezim Arab adalah rezim tradisional dan otoriter, dan seringkali berupa diktator militer juga. Para pemimpin mereka lebih peduli pada bagaimana caranya untuk tetap berkuasa. Presiden Assad pun tidak terkecuali.

Hafez al-Assad (tengah) diapit Presiden Nixon (kiri) dan penasehat keamanan nasional Amerika, Henry Kissinger (kanan). Assad diketahui memiliki sikap cukup unik dan punya banyak motivasi untuk melibatkan Suriah di dunia perpolitikan Lebanon, yang utama langkah dia adalah untuk mengcounter langkah-langkah lawannya, Israel. (Sumber: https://historyofyesterday.com/)

Di bawah Assad, yang berkuasa pada tahun 1971, Suriah sebenarnya menjadi lebih moderat dalam beberapa hal: Pemerintah Assad melonggarkan kontrolnya atas sektor-sektor ekonomi tertentu; ia mendorong para pengusaha Suriah yang melarikan diri untuk kembali dengan uang mereka, tanpa terlalu ditanya-tanya lagi: ia juga membuka kembali hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, dan mulai menyambut modal asing asal Amerika dan Eropa Barat, yang secara drastis menggusur neraca perdagangannya dengan blok Soviet. Disamping hal-hal diatas ada alasan lain bagi Assad untuk mendukung faksi Kristen Maronit di Lebanon. Assad berasal dari sekte Alawite, sebuah kelompok Islam skismatis yang tertutup yang merupakan minoritas di Suriah. Di bawah Prancis, kaum Alawi yang miskin bergabung dengan tentara kolonial sebagai sarana untuk meningkatkan derajat mereka ke atas; setelah kemerdekaan, kaum Alawi secara tidak proporsional terwakili dalam ketentaraan, yang lalu menjadi basis kekuatan utama negara itu. Assad, sebagai seorang  penguasa dari kelompok minoritas, tidak senang dengan prospek rezim minoritas lain — Maronites Lebanon, yang di tahun 1970an mulai bukan lagi menjadi mayoritas di Lebanon— digulingkan; karena hal itu mungkin akan memberi ide yang sama kepada kelompok mayoritas di Suriah. Kedekatan Suriah dan Faksi Maronit ini bahkan muncul di tingkat yang lebih pribadi; Rifat Assad, saudara laki-laki presiden Assad dan kepala pengawal rezimnya, diketahui memiliki sejumlah perjanjian bisnis bersama dengan Tony Franjieh, seorang Maronit Lebanon.

Pasukan Suriah menginvasi Lebanon, Juni 1976. Ironisnya, Pasukan Suriah bisa dikatakan hadir atas “undangan” pihak Faksi Kristen Maronit, yang berharap kehadiran pasukan Suriah dapat membantu mereka untuk mendesak gerilyawan Palestina dan faksi Muslim kiri. (Sumber: http://syrianhistory.com/)
Peta yang menunjukkan keseimbangan kekuatan di Lebanon, tahun 1976:
Hijau Tua – dikendalikan oleh Suriah;
Ungu – dikendalikan oleh kelompok Maronit;
Hijau Muda – dikendalikan oleh milisi Palestina. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada tanggal 31 Mei 1976, Tentara Suriah memulai invasi ke Lebanon. 2000 tentara Suriah dengan didukung oleh 60 tank terbagi dalam 3 pasukan yang melakukan 3 serangan terpisah. Pasukan pertama berbaris ke selatan melintasi Shuf menuju Sidon, di mana mereka dihentikan oleh pasukan PLO. Pasukan kedua bergerak ke barat di sepanjang Beirut – Damaskus, sebelum dihentikan di dekat Beirut. Sedang pasukan lainnya bergerak ke utara melalui lembah Bekaa, sebelum kemudian ke barat menuju Tripoli, di mana mereka dihentikan oleh pasukan Kristen. Ofensif kemudian dihentikan pada tanggal 10 Juni. Total 12 ribu pasukan Suriah sudah memasuki Lebanon pada bulan Juni 1976. Serangan Suriah kedua kemudian mengikuti pada pertengahan bulan Oktober 1976, yang lalu berhasil merebut semua wilayah Lebanon tengah serta beberapa pusat kota terpenting negara itu. Intervensi ini kemudian memungkinkan Suriah untuk menjadi kekuatan politik utama di Lebanon. Secara bertahap, kehadiran militer Suriah lalu meningkat menjadi 30 ribu orang. Pemimpin komunitas Kristen Lebanon saat itu mendukung aksi pasukan Suriah dan orang-orang Kristen menjumpai pasukan Suriah sebagai pembebas. Sementara itu, Amerika Serikat juga tidak menentang intervensi semacam itu oleh Suriah. Dalam perkembangan ini, upaya putus asa dari Kamal Jumblatt, pemimpin faksi Druze untuk bernegosiasi, melalui mediasi dengan Presiden Lebanon yang baru terpilih, Elias Sarkis, tentang rekonsiliasi nasional dengan faksi Kristen dan aksi bersama mereka untuk melawan pasukan Suriah tidak membuahkan hasil. Permohonan Jumblatt kepada negara-negara Arab dan Prancis lainnya untuk membantu perang melawan pasukan Suriah juga sama-sama tidak berhasil. Pasukan Suriah memasuki Lebanon dan mulai bergerak menuju Beirut, membebaskan blokade di sekitar desa-desa Kristen di sekitarnya. Pertempuran sengit antara tentara Suriah dan gerilyawan Palestina pun terjadi. Suriah tidak bisa dihentikan bahkan oleh berbagai upaya mediasi dari berbagai negara Arab, yang tidak puas dengan persekutuan Damaskus dengan orang-orang Kristen dan pertempuran yang terjadi antara Suriah melawan kelompok PLO-Palestina. Pada tanggal 7 Juni Suriah menyerang pinggiran kota Beirut yang dikuasai kelompok Palestina, dimana gerilyawan Palestina berhasil dikalahkan. Menanggapi hal ini, para Militan Palestina dari kelompok PFLP menculik di Beirut, duta besar Amerika (Francis E. Meloy Jr) penasihat ekonomi kedutaan dan sopir kedutaan. Semua yang diculik lalu dieksekusi. Pihak Amerika kemudian mengevakuasi personel kedutaan dari Beirut. Dengan demikian, intervensi terbuka Suriah secara radikal telah mengubah situasi di Lebanon. 

AKSI FALANGIST & SURIAH MENDESAK GERILYAWAN PLO

Milisi Kristen seperti Kataeb Regulatory Forces dan Guardians of the Cedars mulai menyerang kamp pengungsi Palestina tak lama setelah perang saudara Libanon dimulai tanggal 13 April 1975, karena dukungan PLO kepada faksi Muslim dan kiri. Pada tanggal 18 Januari 1976, mereka secara paksa mengambil alih distrik Karantina, yang lalu mengakibatkan Pembantaian yang dikenal sebagai Karantina Massacre, dengan korban sekitar 1.000-1.500 orang. Pasukan milisi Kristen awalnya enggan untuk membawa PLO jauh terlibat ke dalam perang, tetapi wilayah Karantina dihuni sebagian oleh Muslim Lebanon dan terletak di sepanjang jalan utama yang mereka butuhkan untuk mengamankan posisi mereka di Beirut, jadi tempat itu lalu dianggap sebagai target yang sah. Namun, PLO yang bergabung dengan milisi Muslim sayap kiri membalas Pembantaian Karantina dengan membantai penduduk Kristen di Damour pada tanggal 20 Januari 1976. Damour adalah benteng pertahanan Partai Liberal Nasional (NLP), sebuah faksi Kristen yang berafiliasi dengan Front Lebanon. Dua puluh milisi Falangis dieksekusi, dan warga sipil dibariskan di dinding untuk kemudian dihabisi dengan tembakan senapan mesin. Perkiraan jumlah yang terbunuh berkisar dari 100 hingga 500 orang. Pembantaian ini kemudian menyebabkan milisi Kristen mengumumkan perang terhadap PLO pada akhir bulan Januari. Kelompok Kristen Falangist lalu melancarkan serangan balik. Pertempuran skala besar dalam merebut Tal Zaatar dimulai – yakni kamp pengungsi Palestina terbesar di distrik Dekvane, Beirut. Sekitar 15 ribu orang diketahui tinggal di kamp, termasuk garnisun yang terdiri dari 1.200 militan Palestina. Kamp ini awalnya terletak di zona industri, jadi pada awal pertempuran, orang-orang Palestina dapat dengan mudah mengubahnya menjadi wilayah yang dibentengi secara kuat. Pada tanggal 22 Juni 1976 dimulailah pengepungan kamp yang berlangsung selama 2 bulan. Kekuatan utama dari faksi Kristen Lebanon adalah gabungan formasi Guardians of the Cedars (dipimpin oleh Etienne Sakr), Tigers of Akhrar (Pimpinan Dani Chamoun), dan kelompok El-Tanzim (pimpinan George Advan). Total kekuatan faksi Kristen adalan 3.000 personel, yang dilengkapi dengan tank Super Sherman, yang berasal dari bantuan Israel dan satu skuadron mobil lapis baja bermeriam Panhard AML-90. 

Salah satu dari tiga puluh lima tank M-50 Super Sherman yang dipasok ke Angkatan Darat Lebanon Selatan di dekat dua tank AMX-13-75 lama. Tank Super Sherman turut digunakan oleh milisi Kristen untuk mengepung basis gerilyawan PLO di Tal Zaatar. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

Menghadapi pengepungan, orang-orang Palestina lalu mengirim pasukan dari selatan negara itu, mencoba untuk memutus lingkaran blokade, tetapi tidak berhasil. Kelemahan di pihak Palestina, terutama pada faksi-faksi mereka yang terpecah-pecah sehingga tidak dapat memberikan perlawanan yang kompak dan terkoordinasi. Makin memperumit masalah, adalah adanya pejuang yang tidak terafiliasi yang berjuang di bawah payung PLO tetapi tidak mendukung satu faksi manapun, kebanyakan dari mereka adalah personel fedayeen asing. Sejak tanggal 22 Juni, milisi Tiger yang dipimpin oleh Danny Chamoun, dan milisi Kristen asal Ras el-Dekweneh dan Mansouriye yang dipimpin oleh Maroun Khoury meningkatkan blokade menjadi serangan militer skala penuh yang berlangsung selama 35 hari. Pada tanggal 29 Juni, Pasukan Kristen menyerbu kamp kecil Palestina Jisr Al-Bash, yang terletak di dekat Tal Zaatar. Sebagai balasan, pada tanggal 5 Juli, gerilyawan Palestina menyerbu kota Kristen, Kura dan Cecca di Lebanon utara. Setelah memindahkan sebagian pasukan dari pengepungan Tal Zaatar. Orang-orang Kristen pada saat-saat terakhir berhasil menyelamatkan penduduk kota-kota ini dari pembantaian. Pada tanggal 8 Juli 1976, kelompok Palestina dan sekutunya mencoba lagi untuk menerobos blokade kamp. Dalam upaya untuk memecah kepungan, Pasukan Jumblatt menyerang orang-orang Kristen di daerah pelabuhan dan kota bisnis Beirut, sementara orang-orang Palestina berusaha mendobrak kepungan di sekitar kamp. Namun, upaya ini gagal. Pada tanggal 13 Juli Penembak jitu Palestina dari Tal Zaatara berhasil membunuh pemimpin sayap militer Falangis, William Xavi, yang datang untuk memeriksa pasukannya di garis depan. Akibatnya, komando milisi Falangis dan detasemen faksi Kristen yang bersatu, kini terkonsentrasi sepenuhnya di tangan Bashir Gemayel.

Bashir Gemayel, komandan faksi Kristen garis keras, yang segera mencuat posisinya dalam pengebungan Tal Zaatar. (Sumber: https://www.pinterest.se/)

Pada pertengahan bulan Juli sampai awal Agustus, dengan dukungan kelompok “Palang Merah”, penduduk sipil dievakuasi dari Tal Zaatar. Evakuasi ini berlangsung dibarengi dengan provokasi bersenjata dari kedua belah pihak. Pada awal Agustus, Pihak Palang Merah melaporkan bahwa 90% penduduk sipil kamp telah dievakuasi. Kebanyakan dari mereka lalu menetap di bekas pemukiman Kristen di Damur. Pada tanggal 6 Agustus, kaum Falangis menguasai distrik Syiah di Beirut Nabaa, di mana orang-orang Palestina mencoba menerobos pengepungan dari Tal Zaatar. Mereka menawarkan kepada pihak musuh untuk menyerah guna menyelamatkan penduduk sipil. Namun pihak Palestina menolak. Yasser Arafat malahan bertekad untuk mengubah Tal Zaatar menjadi semacam Stalingrad. Pada tanggal 12 Agustus setelah melakukan penyerangan sengit, faksi Kristen berhasil menduduki kamp Tal Zaatar. Para militan Kristen kemudian membalas dendam pada orang-orang Palestina atas pembantaian di Damour, yang dilakukan gerilyawan Palestina pada tanggal 20 Januari 1976, dengan tidak membawa tawanan baik di pihak militan maupun warga sipil yang tersisa: sekitar 2 ribu orang tewas dan 4 ribu lainnya luka-luka. Sementara itu di pihak milisi Kristen yang mengepung menderita korban 200 orang. Pada saat yang sama, orang-orang Falangist dengan buldoser menghancurkan kamp untuk mencegah pemukiman kembali oleh orang-orang Palestina. Dalam skala kekejamannya, pembantaian di Tal Zaatara melampaui pembantaian di Damur, yang memakan korban 150-582 orang. Marah, orang-orang Palestina dan detasemen Jumblatt kemuduan membalas dendam. Pada tanggal 17 Agustus mereka memulai menembakkan roket dan artileri ke Beirut. Lebih dari 600 tembakan yang dilepaskan telah mengubah ibu kota Lebanon itu menjadi neraka. 

Seorang kombatan dalam pertempuran Tal Zaatar. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Reruntuhan bekas pertempuran Tal Zaatar. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

Namun, pada bulan Agustus dan September, pasukan Suriah terus mengepung orang-orang Palestina, yang sudah terdesak di utara Lebanon. Sekarang PLO berada dalam situasi yang nyaris tanpa harapan. Sementara itu, di tempat lain pada tanggal 19 Oktober 1976, Pertempuran Aishiya pecah, ketika kekuatan gabungan PLO dan milisi Komunis menyerang Aishiya, sebuah desa Maronit yang terisolasi di daerah yang sebagian besar Muslim. Korps Artileri Pasukan IDF Israel menembakkan 24 peluru (masing-masing berisi 66 kilogram TNT) dari unit artileri lapangan meriam kaliber 175 milimeter buatan AS ke pihak penyerang, menangkis upaya pertama mereka. Namun, pasukan PLO dan Komunis kembali pada malam harinya, ketika jarak pandang yang rendah membuat artileri Israel menjadi kurang efektif. Akibatnya, pada bulan Oktober 1976, pasukan Suriah secara brutal menindas semua kelompok Palestina dan membangun kendali mereka atas seluruh wilayah Lebanon. Pada titik ini, Israel dan Suriah di Lebanon ada pada posisi yang unik, dimana secara efektif mereka mendukung faksi yang sama, yakni kelompok Kristen Maronit Lebanon. Aksi ini lalu memaksa negara-negara Arab untuk campur tangan dalam perang saudara Lebanon, yang sangat tidak puas dengan tindakan Damaskus. Perlu dicatat bahwa, seperti saat ini, persatuan Arab hanyalah sebuah impian saja, dengan beberapa negara mengklaim kepemimpinan regional (khususnya, Mesir, Suriah, Arab Saudi) dan saling bersaing. Oleh karena itu, penguatan posisi Damaskus di Lebanon membuat jengkel negara-negara Arab lainnya. Pada awal bulan Oktober, pertemuan yang dihadiri olah hampir semua pihak yang terlibat konflik Lebanon diadakan di Prancis dan Arab Saudi. Presiden Lebanon Elias Sarkis, Presiden Mesir Anwar Saddat, Presiden Suriah Hafez Asad, Emir Kuwait, Raja Arab Saudi, Gemayel, Kamal Jumblatt, dan pemimpin PLO Yasser Arafat bertemu di meja perundingan. Para pihak kemudian menyepakati diadakannya gencatan senjata, penarikan pasukan Suriah, masuknya pasukan penjaga perdamaian Arab, pembentukan pasukan Arab permanen untuk menjaga stabilitas di Lebanon. Selama tahun ini, klausul utama perjanjian diterapkan. “Helm hijau” dari pasukan penjaga perdamaian Arab tampak menduduki semua wilayah, kecuali wilayah selatan Lebanon yang dikuasai oleh tentara pimpinan Saad Hadad, sekutu Israel. Pada saat yang sama, pasukan penjaga perdamaian Arab sebagian besar terdiri dari tentara Suriah (85% dari total pasukan). Artinya, kini Suriah telah mempertahankan posisinya di Lebanon.

Tentara Suriah, anggota pasukan penjaga perdamaian Arab gabungan ke Lebanon, di atas tank buatan Rusia, mengambil posisi pada November 1976 di Beirut. Pada awal Juni 1976, Suriah melancarkan invasi skala penuh ke Lebanon secara resmi untuk mengakhiri perang saudara dan memulihkan perdamaian, tetapi secara tidak resmi, menjadi jelas, mereka datang untuk menghancurkan kekuatan Palestina. Selama pertempuran terjadi lebih dari 50 gencatan senjata yang gagal terjadi dan diperkirakan 60.000 orang telah tewas dan sekitar 100.000 lainnya luka-luka. (Sumber: https://www.gettyimages.fi/)

Dengan demikian, tahap pertama perang di Lebanon telah berakhir. Selama dua tahun perang diperkirakan 60 ribu orang tewas, sementara infrastruktur negara hancur. “Swiss dari Timur Tengah” yang makmur, demikian Lebanon pernah mendapat sebutan, kini hanyalah sesuatu kenangan dari masa lalu. Ibukota Lebanon, Beirut, berada dalam reruntuhan, dua pertiga dari populasi sebelum perang yang berjumlah satu setengah juta telah meninggalkannya. Pasukan Palestina dan unit-unit pendukungnya, seperti kelompok kiri Muslim (NPS) telah dikalahkan. Terlepas dari kenyataan bahwa di beberapa tempat bentrokan terus berlanjut, pada awal tahun baru sebagian besar kelompok Palestina dan Lebanon meletakkan senjata berat mereka. Beirut kemudian dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu bagian barat (untuk orang-orang Palestina dan Muslim) dan bagian Timur (untuk orang-orang Kristen). Persatuan Partai Kristen “Front Lebanon” kini secara signifikan memperkuat posisinya, dan “Pasukan Lebanon” yang bersatu di bawah komando pemimpin muda bernama Bashir Gemayel yang secara bertahap menjadi suatu kekuatan yang signifikan. Pada tanggal 4 Desember 1976 terjadi upaya pembunuhan pemimpin Lebanon Druze dan salah satu pemimpin utama gerakan kiri Lebanon, Kamal Jumblatt. 4 orang tewas, 20 orang terluka. Kamal sendiri masih hidup. Pemimpin pasukan Muslim kiri (NPS) Kamal Jumblat, akhirnya ditembak mati pada tanggal 16 Maret 1977 di dalam mobilnya di antara permukiman Baaklin dan Deir-Durrit di distrik Shuf, tenggara Beirut. Sebagai tanggapan, orang-orang Druze lalu membantai orang Kristen di daerah yang berdekatan dengan lokasi pembunuhan, dengan membunuhi warga sipil, yang menurut berbagai sumber berjumlah 117 hingga 250 oramg. Desa Deir Durrit kemudian diratakan dengan tanah. Di wilayah Kristen, kabar meninggalnya Jumblatt disambut dengan gembira. Ini tidak mengherankan, Jumblatt di Lebanon sendiri dibenci banyak orang. Jika di Beirut dan bagian lain Lebanon, kelompok Druze mendukung orang-orang Palestina, di pegunungan Lebanon, di tempat kediaman orang-orang Druze asli, mereka “membersihkan” wilayah itu dari semua orang yang bisa mereka temukan. Tidak hanya orang Kristen yang dibantai, tapi juga orang Palestina, Sunni, dan Syiah. Pembantaian etnis semacam ini di Lebanon saat itu adalah hal yang biasa terjadi. Jumblatt sudah melakukan banyak aksi semacam itu, dan oleh karenanya banyak orang akan dengan senang hati melihat dia disingkirkan oleh perwakilan dari salah satu grup yang berseberangan dengan dia. Alhasil, kelompok NPS akhirnya hancur. Diketahui kemudian, bahwa pihak Suriah lah yang diduga sebagai pembunuh Jumblatt. Sesaat sebelum kematiannya, Jumblatt mulai secara sembrono melakukan serangan agresif menyerang kepemimpinan Assad yang berasal dari kelompok Alawit di Suriah, sambil menyatakan konflik terbuka antara Sunni dan Alawit dan menuduh adanya aliansi Alawit dengan pihak Kristen Maronit Lebanon.

TAHAP KEDUA PERANG SAUDARA LEBANON 

Tampaknya untuk sementara waktu perang telah usai dan perdamaian akan berlangsung lama. Tahun 1977 menjadi waktu untuk istirahat. Lebanon perlahan menjauh dari peperangan. Kedutaan besar dari berbagai negara di dunia kembali ke Beirut. AS termasuk negara yang membuka kembali kedutaannya ke Beirut. Seniman-seniman terkenal dunia, seperti Charles Aznavour, Julio Iglesias, Demis Rusos, Joe Dassin dan Dalida tampil di Beirut yang hancur dalam konser mereka. Di musim panas, kelompok turis pertama tiba di Lebanon. Namun, “Permainan Besar” terus berlanjut di Timur Tengah. Amerika Serikat tidak ingin Suriah (sekutu Uni Soviet) memperkuat posisinya di kawasan itu. Israel juga tidak puas dengan hasil perang: Suriah dianggap mendapatkan terlalu banyak pengaruh di Lebanon. Suriah sebenarnya menempati bagian utara Lebanon, yang dianggap sebagai wilayahnya. Sementara itu Israel tidak bisa mentolerir keberadaan pasukan Suriah di daerah di mana mereka dapat menyerang negara Yahudi dengan melewati benteng pertahanan di Dataran Tinggi Golan. Pada saat yang sama, pasukan penjaga perdamaian Arab (secara de facto adalah Suriah) seharusnya menjalankan fungsi menjaga perdamaian di selatan Lebanon, namun serangan orang-orang Palestina terhadap permukiman Yahudi di utara Israel tidak juga kunjung berhenti. Setelah menandatangani perjanjian damai dengan Mesir pada 17 September 1978 di Camp David, Israel berharap untuk bisa menandatangani perjanjian yang sama dengan Lebanon. Masalahnya adalah, dengan siapa mereka harus menandatanganinya? Presiden Lebanon Elias Sarkis ada di posisi pro-Suriah. Satu-satunya kandidat yang cocok untuk peran pemimpin bersahabat dengan Israel adalah Bashir Gemayel. Oleh karena itu, pemerintah Israel senantiasa memelihara kontak dengan Bashir Zhmeyel dan memperkuat kekuatannya. Pada saat yang sama, hubungan Suriah dengan partai-partai Kristen, yang kini menuntut penarikan segera kontingen penjaga perdamaian Suriah, yang pada dasarnya telah menjadi pasukan pendudukan, memburuk. Orang-orang Kristen Lebanon takut bahwa Suriah akan tinggal di Lebanon untuk waktu yang lama dan merebut bagian dari negara itu. Para pemimpin Kristen Lebanon kemudian mulai bekerja sama secara rahasia dengan Israel, yang memasok senjata dan teknologi militer ke milisi Kristen, dan juga memberikan dukungan keuangan. Milisi-milisi Kristen dilatih juga di Israel. Sementara itu Amerika Serikat juga membantu mempersenjatai milisi Kristen dengan mentransfer senjata dan peralatan melintasi laut. Pada gilirannya, Damaskus lalu mengubah taktiknya di Lebanon. Suriah mulai menarik dukungan mantan lawan dari barisan NPS yang hancur. Pasukan Suriah kini mulai memperlengkapi kembali kelompok Muslim Palestina dan Lebanon yang ada di bawah kendali mereka.

Presiden A.S. Jimmy Carter (kedua dari kiri), Perdana Menteri Israel Menachem Begin (kiri), dan Presiden Mesir. Anwar Sadat bergandengan tangan di halaman Gedung Putih usai penandatanganan resmi perjanjian damai antara Israel dan Mesir, 26 Maret 1979. Perdamaian antara Israel dan mesir menimbulkan harapan tercapainya kesepakatan yang sama antara Israel dan Lebanon. (Sumber: https://www.britannica.com/)
Bashir Gemayel, pemimpin Faksi Falangist menjadi harapan Israel untuk bisa berdamai dengan Lebanon. Namun kedekatan faksi Kristen dengan Israel, pada akhirnya menimbulkan ketidaksukaan pihak Suriah dan PLO. (Photo by Alain Dejean/Sygma via Getty Images/https://www.gettyimages.com/)

Pada tanggal 7 Februari 1978, pasukan Suriah dari kontingen pasukan penjaga perdamaian Arab menangkap pemimpin militer “pasukan Lebanon” Bashir Gemayel di sebuah pos pemeriksaan di distrik Ashrafia, Beirut, meski kemudian dibebaskan. Pada hari yang sama, Suriah menyerang barak tentara Lebanon di Fedaya. Tentara Lebanon kemudian menunjukkan perlawanan kuat yang tak terduga, akibatnya Suriah kehilangan 20 orang tewas dan lebih dari 20 personelnya ditahan. Hingga lalu pada tanggal 9 Februari, pasukan Suriah, dengan dukungan artileri, menyerang barak tentara Lebanon. Sementara itu, guna membantu tentara Lebanon datang bantuan dari milisi Kristen “Tigers Ahrar.” Dalam pertempuran puluhan orang tewas di kedua pihak. Pada tanggal 16 Februari, mereka yang bertarung saling bertukar tahanan. Bersamaan dengan ini, pertempuran antara faksi falangis dengan PLO juga dimulai. Para pemimpin komunitas Kristen mengumumkan bahwa mulai saat ini tentara Suriah di Lebanon dianggap sedang melakukan pendudukan dan oleh karenanya, mereka menuntut untuk dilakukan penarikan pasukan Suriah dari Lebanon. Pada saat yang sama, suara kepemimpinan di Lebanon terpecah karena kehadiran Suriah di negara itu. Namun, unit-unit milisi Kristen yang relatif kecil dan kekuatannya tersebar tidak dapat melawan tentara Suriah bersama unit-unit gerilyawan Palestina. Faksi Kristen jelas membutuhkan dukungan langsung dari Israel, yang juga berkepentingan untuk menciptakan zona penyangga di Lebanon selatan, di mana tidak memungkinkan adanya unit PLO dan tentara Lebanon pro-Israel reguler yang dapat dibentuk saat itu. Ariel Sharon, Menteri Pertahanan Israel saat itu, sejak pertengahan tahun 1970an, telah bersikeras untuk membuat zona penyangga di 15 mil sebelah utara perbatasan dengan Lebanon di sepanjang Sungai Litani. Yang dibutuhkan hanyalah alasan untuk menyerang Lebanon. 

COASTAL ROAD MASSACRE

Alasan itu segera muncul. Pada tanggal 9 Maret 1978, 13 orang personel fedayeen Palestina dari faksi Fatah, termasuk Dalal Mughrabi, seorang wanita berusia 18 tahun meninggalkan Lebanon dengan kapal menuju ke garis pantai Israel. Mereka dilengkapi dengan senapan Kalashnikov, granat berpeluncur roket, mortir ringan, dan bahan peledak. Pada tanggal 11 Maret, mereka berpindah ke dua perahu Zodiac dan menuju ke pantai. Salah satu perahu Zodiak terbalik dalam cuaca buruk, dan dua militan tenggelam, tetapi 11 lainnya yang selamat terus melanjutkan misi mereka. Para teroris lalu mendarat di pantai dekat kibbutz Ma’agan Michael, di utara Tel Aviv. Mereka kemudian bertemu dengan fotografer Amerika Gail Rubin, yang sedang mengambil foto alam di pantai, dan bertanya di mana mereka berada. Setelah dia memberi tahu mereka, mereka segera membunuhnya. Kedua penyerang yang selamat kemudian mengatakan bahwa Mughrabi sendiri yang menembak Rubin. Rubin merupakan keponakan dari Senator Amerika Serikat, Abraham A. Ribicoff. Setelah membunuh Rubin, para militan Palestina kemudian berjalan kurang dari satu mil ke jalan raya empat jalur, dan menembaki mobil yang lewat, serta membajak sebuah taksi Mercedes putih, dengan menewaskan penumpangnya. Di jalan raya menuju ke Tel Aviv, mereka lalu membajak sebuah bus sewaan yang membawa supir-supir bus perusahaan Egged yang sedang bertamasya sehari bersama keluarga mereka, di sepanjang Coastal Highway. 

Dalal Mughrabi, salah satu personel faksi Fatah Palestina yang terlibat dalam Coastal Road Massacre. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Di sepanjang perjalanan, para militan menembak dan melemparkan granat ke mobil-mobil yang lewat, menembaki penumpang dan melemparkan setidaknya satu mayat keluar dari bus. Pada satu titik, mereka menyita Bus nomor 901, yang sedang melakukan perjalanan dari Tel Aviv ke Haifa, dan memaksa penumpang dari bus pertama untuk menaikinya. Suatu saat, bus itu berhenti, dan salah satu pelaku keluar dan menembak langsung ke sebuah mobil yang lewat, menewaskan seorang remaja, Omri Tel-Oren, dan melukai ayahnya, Hanoch. Sharon Tel-Oren, ibu Omri, bersaksi: “Kami berada di station wagon kami, mengemudi di sepanjang jalan raya pesisir. Kami kemudian melihat sesuatu yang aneh di depan – sebuah bus, tetapi sepertinya bus itu sedang berhenti. Kami lalu melihat seseorang tergeletak di jalan. Di sana ada kaca pecah di mana-mana, anak-anak berteriak. Lalu kami mendengar suara tembakan. Omri tertidur di kursi belakang. Peluru menembus kursi depan dan mengenai kepalanya, langsung membunuhnya seketika. Suamiku tertembak di bagian lengan, dan kehilangan kemampuan menggerakkan jari-jarinya. “Tidak lama kemudian Polisi disiagakan untuk menghadapi serangan itu; mobil mereka mengejar bus dan mengikutinya. Meskipun para militan menembaki mobil polisi yang mengejar, polisi tidak membalas tembakan, takut mereka akan menembak warga sipil di dalam bus. Polisi segera membuat penghalang jalan, tetapi para militan yang membajak bus mendobraknya dan melanjutkan perjalanan mereka. Menurut Khaled Abu Asba, salah satu dari dua penyerang yang masih hidup, polisi memasang beberapa penghalang jalan, dan terjadi baku tembak di setiap persimpangan. Bus itu akhirnya bisa dihentikan oleh penghalang jalan besar yang dipasang polisi di Glilot Junction dekat Herzliya, termasuk dengan memasang paku yang ditanam di jalan untuk melubangi ban bus. 

Sisa-sisa bus yang dibajak sedang diperiksa tak lama setelah serangan. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sementara itu, karena kecepatan serangan itu, pasukan anti-terorisme Israel tidak dapat bergerak cukup cepat, dan penghalang jalan terpaksa dibuat oleh petugas patroli biasa dan polisi lalu lintas, yang bersenjata ringan dan tidak terlatih dalam menangani para militan dalam situasi penyanderaan. Baku tembak kemudian meletus, dan polisi memecahkan jendela bus dan meneriaki penumpang untuk melompat. Para penumpang yang melarikan diri lalu ditembak oleh salah satu militan. Menurut keterangan polisi Israel, Assaf Hefetz, yang saat itu adalah kepala unit kontra-terorisme Polisi Israel, tiba di tempat kejadian sebelum unitnya datang, dan memutuskan untuk menyerbu bus, dan berhasil menewaskan dua militan. Hefetz mengalami cedera bahu selama pertempuran, dan kemudian dianugerahi Medali Keberanian Polisi Israel. Pertempuran mencapai klimaksnya ketika bus meledak dan terbakar. Ledakan mungkin disebabkan oleh tangki bahan bakar yang terbakar, atau granat. Sementara itu, pihak Palestina mengklaim bahwa Israel menghancurkan bus dengan tembakan dari helikopter tempur. Sebanyak 38 warga sipil tewas dalam serangan itu, termasuk 13 anak-anak, sementara 71 lainnya luka-luka. Dari 11 pelaku, 9 tewas. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai serangan teroris paling buruk dalam sejarah Israel. PLO sendiri mengakui bahwa mereka adalah pelakunya. Menurut seorang komandan Fatah yang telah membantu merencanakan serangan itu, serangan itu bertujuan untuk membatalkan pembicaraan damai antara Israel-Mesir yang dilakukan oleh Menachem Begin dan Anwar Sadat serta untuk merusak sektor pariwisata di Israel.

INVASI ISRAEL KE LEBANON SELATAN TAHUN 1978

Sebagai tanggapan, Israel lalu memulai operasi militer yang dinamai “Litani”, yang berlangsung selama tiga bulan. Tiga hari setelah Pembantaian Coastal Highway, pada malam tanggal 14 Maret 1978, pasukan IDF Israel memutuskan untuk membalas, dan melancarkan operasi besar-besaran di Lebanon selatan, yang dipimpin oleh brigade infanteri dari Divisi ke-36 dan Markas Besar Pasukan Infanteri serta Korps Pasukan Terjun Payung. Kemudian, pasukan ini bergabung dengan Korps Lapis Baja dan unit operasional yang lebih kecil. Operasi ini pertama kali dinamai sebagai Operasi “AVI HACHOCHMA” (Bapak kebijaksanaan). Tujuan resmi dari operasi tersebut adalah untuk menghancurkan pangkalan PLO di selatan Sungai Litani untuk memulihkan keamanan bagi kawasan Israel utara, yang kerap ditembaki oleh militan Palestina dari wilayah Lebanon. Tentara Israel yang berjumlah 25.000 personel kemudian melintasi perbatasan Lebanon dan mulai bergerak ke utara. Pesawat dan kapal-kapal Israel membantu mengamankan gerak maju pasukan darat. Rencana operasi tersebut, yang dirancang oleh Kepala Staf Motta Gur, dan Komandan Komando Wilayah Utara, Avigdor “Yenosh” Ben Gal, adalah termasuk operasi darat dan pendudukan wilayah yang membentang sekitar 6 mil. Diperkirakan wilayah ini seharusnya menampung sekitar 4.000 militan. Tentara Israel pertama-tama merebut wilayah sedalam sekitar 10 kilometer, dengan melancarkan serangan darat ke semua posisi PLO di sepanjang perbatasan Lebanon dengan Israel. Pasukan darat yang dipimpin oleh dua komandan divisi, menyerang secara bersamaan di sepanjang front. Pasukan terjun payung mendarat dari helikopter untuk merebut semua jembatan yang membentang diatas Sungai Litani, memotong jalur mundur gerilyawan PLO, dan kemudian memperluas gerakannya ke utara ke Sungai Litani. Selain menghancurkan banyak sarang militan, dan penghancuran sebagian besar infrastruktur mereka, operasi tersebut bertujuan untuk memastikan kontinuitas keamanan teritorial di Lebanon Selatan lewat kerja sama dengan Angkatan Darat Lebanon Selatan, yang dipimpin oleh Mayor Saad Haddad. Sementara itu, kota Kuzai, Damur dan Tirus dibombardir. Pada tanggal 17 Maret, di akhir operasi tahap pertama, diputuskan untuk memperluas wilayah operasi dan maju ke tepi Sungai Litani. Nama asli operasi diubah lalu disesuaikan menjadi Operasi Litani. Banyak desa dan kota yang digunakan sebagai markas militan diduduki selama operasi, dan tujuan operasi ini dinyataian tercapai sepenuhnya. Namun, toh belum sepenuhnya infrastruktur militan dihancurkan, dan kota Tyre tidak diduduki, karena Kepala Staf Umum khawatir pertempuran di daerah perkotaan akan menimbulkan terlalu banyak korban jiwa. 300-550 militan dikabarkan berhasil dieliminasi selama pertempuran. IDF sendiri hanya kehilangan 18 tentara. IDF bagaimanapun tidak berhasil menghabisi sejumlah besar pasukan PLO, yang mundur ke wilayah utara. 

Tank Centurion Israel melintasi perbatasan dengan Lebanon dan menuju ke utara dalam Operasi Litani, Maret 1978. (Sumber: https://www.idf.il/)

Sementara itu, banyak warga sipil Lebanon terbunuh oleh tembakan hebat artileri Israel dan serangan udara, yang juga menyebabkan kerusakan properti yang luas dan munculnya para pengungsi. Menurut Augustus Richard Norton, profesor hubungan internasional di Universitas Boston, operasi militer IDF diperkirakan menewaskan sekitar 1.100 orang, kebanyakan dari mereka adalah warga Palestina dan Lebanon, sementara menurut sumber-sumber lainnya, korban yang ditimbulkan mencapai 2.000 orang. Jumlah orang yang mengungsi akibat operasi militer Israel berkisar dari sedikitnya 100.000 sampai 250.000. Menanggapi masuknya pasukan Israel ke Lebanon Selatan, pasukan Suriah lalu dikerahkan di wilayah Lebanon, beberapa di antaranya sempat berada dalam jangkauan visual pasukan IDF, tetapi pasukan Suriah memilih untuk tidak ambil bagian dalam pertempuran tersebut. Sementara itu, Gerilyawan PLO mundur ke utara Sungai Litani, sambil terus menembak ke arah Israel. Dalam operasi militer ini, pasukan IDF dituduh menggunakan bom cluster yang disediakan oleh Amerika Serikat. Menurut Presiden AS Jimmy Carter, penggunaan bom cluster ini telah melanggar perjanjian antara Israel dan AS karena senjata telah disediakan ditujukan untuk tujuan pertahanan Israel, bukan untuk aksi ofensif. Israel ditengarai juga mentransfer senjata buatan Amerika ke milisi Lebanon pimpinan Saad Haddad, yang juga merupakan pelanggaran hukum Amerika. Pemerintahan Carter kemudian bersiap untuk memberi tahu Kongres bahwa senjata Amerika digunakan secara ilegal, yang bisa mengakibatkan terputusnya bantuan militer ke Israel. Konsul Amerika di Yerusalem lalu memberi tahu pemerintah Israel tentang rencana mereka dan, menurut Carter, Perdana Menteri Begin mengatakan bahwa operasi telah selesai. Pada tanggal 21 Maret, Menteri Pertahanan Ezer Weizman secara resmi memerintahkan pasukan IDF untuk mengakhiri operasi tersebut. 

Pasukan Israel di tepi Sungai Litani. Operasi Litani berlangsung singkat, pada tanggal 21 Maret 1978, operasi ini dinyatakan secara resmi usai. Namun bagaimanapun, operasi ini tidak benar-benar menghentikan serangan PLO atas target-target Israel. (Sumber: https://www.idf.il/)
Tentara Israeli bertemu dengan Saad Haddad selama operasi Litani. Setelah menarik mundur pasukannya, Tentara Israel menyerahkan wilayah Libanon Selatan yang direbutnya pada pasukan Libanon Selatan pimpinan Haddad. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sebagai akibat Operasi Litani, pasukan Israel lalu menduduki bagian selatan Lebanon dan menyerahkannya di bawah kendali “Tentara Pertahanan Lebanon Selatan” (“Tentara Lebanon Selatan/SLA”), yang pertama kali dipimpin oleh Mayor Saad Haddad dan kemudian oleh Jenderal Antoine Lahad. Tentara ini dibentuk dengan dukungan tentara Israel untuk menciptakan “zona penyangga” antara negara Yahudi itu dan pasukan lawan yang memusuhinya di utara. Persiapan tentara Lebanon Selatan, beserta perlengkapan dan perawatannya dilakukan langsung oleh militer Israel. “Tentara Lebanon Selatan” sekitar 80% nya terdiri dari orang-orang Kristen. Sisanya adalah Muslim Syiah, serta sejumlah kecil Muslim Druze dan Sunni. Menanggapi perkembangan ini, pasukan PBB kemudian mengirimkan pasukan ber-helm biru UNIFIL ke Lebanon untuk mengendalikan penarikan pasukan Israel dan untuk mempromosikan kembalinya kedaulatan Lebanon atas wilayah Lebanon selatan. Israel lalu memulai penarikan pasukannya secara bertahap hingga akhir 1978, dan mengalihkan kendali wilayah Lebanon yang direbut pada “Tentara Lebanon Selatan”. Selain itu, Israel juga menetapkan “garis merah” di sepanjang tepi Sungai Litani. Israel kemudian memperingatkan Suriah bahwa jika tentara Suriah melewati “garis merah” itu, tentara Israel akan menyerang Suriah.

Markas Pasukan PBB di Lebanon tahun 1981. Konflik di Lebanon tidak saja menimbulkan petaka bagi warga Lebanon, tetapi juga bagi pasukan PBB yang kerap mendapat serangan dari berbagai faksi yang bertikai. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada saat yang sama, unit “Tentara Lebanon Selatan” mulai menyerang pasukan penjaga perdamaian PBB. Pada tanggal 19 April 1978, SLA menyerang markas UNIFIL, yang menewaskan 8 tentara PBB. Pada bulan April 1980, tiga tentara PBB asal Irlandia (Prajurit Barrett, Smallhorne dan O’Mahoney) diculik dan dua di antaranya dibunuh oleh Milisi bersenjata Kristen. Prajurit O’Mahoney, yang selamat (ditembak oleh senjata sub-machine gun selama insiden tersebut) di wilayah SLA; dan dalam insiden terpisah, seorang tentara Irlandia lainnya, Prajurit S. Griffin, ditembak oleh anak buah Haddad, dan dievakuasi ke Israel di mana dia kemudian meninggal selama perawatan medis. Pers Israel saat itu, khususnya The Jerusalem Post, menuduh orang-orang Irlandia bias dan pro-PLO. Sialnya kemudian, pasukan PBB sendiri juga diserang oleh gerilyawan Palestina. Gerilyawan Palestina diketahui menculik seorang tentara UNIFIL Irlandia pada tahun 1981 dan terus menduduki daerah-daerah di Lebanon selatan. Akibatnya, pasukan penjaga perdamaian tidak bisa memulihkan kedaulatan Lebanon di selatan negara itu. Sementara itu, di bawah kedok invasi Israel, detasemen Falangis melancarkan serangan besar-besaran terhadap lawan-lawan mereka. Perang kini dimulai dengan kekuatan baru. Suasana permusuhan terus berlanjut dan pertempuran semakin intensif di Lebanon selatan. Serangan lanjutan di wilayah Israel oleh pihak PLO yang berbasis di Lebanon kemudian memuncak dengan invasi Israel kedua pada tahun 1982 yang mengakibatkan gejolak di negara malang dan terpecah-pecah itu, yang kemudian berlangsung selama dekade berikutnya.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Syria against the Palestinians. Israeli invasion of Lebanon by Alexander Samsonov, April 5 2017

https://en.topwar.ru/112672-siriya-protiv-palestincev-vtorzhenie-izrailya-v-livan.html

Lebanon: The insane war By James M. Markham, Aug. 15, 1976

Operation Litani

https://www.idf.il/en/minisites/wars-and-operations/operation-litani/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Lebanese_Civil_War

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Syrian_intervention_in_the_Lebanese_Civil_War

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Siege_of_Tel_al-Zaatar

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Damour_massacre

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Coastal_Road_massacre

https://en.m.wikipedia.org/wiki/1978_South_Lebanon_conflict

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Syrian_occupation_of_Lebanon

Exit mobile version