Sejarah Militer

Blue Division Asal Spanyol Di Front Timur: Disukai Tentara Jerman, Jadi Lawan Berat Tentara Merah Russia (1941-1944)

Musim dingin Rusia pada tahun 1941-1942 melanda dengan keganasan yang mengerikan. Memerangi hawa dingin yang mematikan dan brutal serta sejumlah besar pasukan Tentara Merah adalah sejumlah tentara asal Spanyol yang iklim negerinya cerah disinari matahari. Namun para pria, yang lebih terbiasa menyesap sangria (semacam anggur merah) di pantai Mediterania daripada mencoba bertahan hidup di neraka Arktik yang putih dan punya suhu di bawah nol, memberi sebanyak yang bisa mereka berikan di medan perang. Mereka adalah orang-orang—semuanya sukarelawan—dari Divisi Azul, atau Divisi Biru, yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Agustin Muñoz-Grandes yang berusia 45 tahun, dan juga salah satu pahlawan Perang Saudara Spanyol.

Di front timur Perang Dunia II, sukarelawan asal Spanyol dikenal sebagai petempur yang gigih meski harus menghadapi situasi dan kondisi yang jauh berbeda dengan yang ada di Spanyol. Nampak pada gambar, pasukan Spanyol bertempur di wilayah dingin bersalju dengan menggunakan berbagai tipe senjata, termasuk senapan SMG PPSh-41 buatan Soviet. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

KEGIGIHAN GURIPAS SPANYOL

Dalam pertempuran pada tanggal 4 Desember 1941, di mana pasukan Soviet menang jumlah atas tentara Spanyol 2 banding 1, suhu telah turun ke -40 derajat Celcius, namun para prajurit Divisi Biru bertempur dengan berani dan mendapatkan kembali beberapa wilayah yang telah hilang. Ketika pertarungan usai, orang-orang Spanyol menemukan tumpukan mayat yang diselimuti salju—ratusan rekan mereka yang telah ditawan oleh Soviet dan disiksa sampai mati. Memutuskan untuk membalas kematian rekan-rekan mereka, beberapa anggota Divisi Biru menemukan batalion infanteri Tentara Merah sedang mencoba menyeberangi sungai yang membeku dan melepaskan tembakan senapan mesin ke arah mereka, membunuh mereka semua. Ketika dikepung atau terpojok, tentara sukarela Spanyol, yang dikenal sebagai ‘guripas’, bertempur sampai mati seperti yang dilakukan orang-orang Rusia: “Satu-satunya pilihan yang tersisa bagi kita adalah mati dengan gaya terbaik,” kata salah satu diantara mereka. Jarang kedua pihak disana mengambil tahanan, dan kematian sering datang dengan cara yang mengerikan. Pada tanggal 27 Desember 1941, dilaporkan, “Orang-orang Spanyol yang tewas tergeletak di tanah dengan alat pemecah es Soviet. Yang terluka telah dihabisi. Sebuah pemecah es berkilau tertancap di tengah dahi para guripas yang tewas.” Selama musim dingin pertama tahun 1941-1942 di Rusia, beberapa unit tentara Jerman hampir tersapu dalam cuaca yang sangat dingin, dengan seluruh resimen-resimen tertutup es dan membeku serta tampak seperti hantu. Kendaraan membeku, kuda mati. Beberapa pria bahkan meninggal ketika cairan otak di otak mereka membeku di bawah helm baja mereka. Meski demikian, perang musim dingin yang brutal terus berlanjut. Pada bulan Januari 1942, dengan suhu turun hingga -55 derajat Celcius, sebuah divisi infanteri Jerman terjebak di dekat Danau Ilmen, dan Jenderal Muñoz-Grandes menerima perintah untuk mengirim Divisi Biru untuk menyelamatkan unit tersebut. Mempekerjakan gugus tugas yang terdiri dari 370 pria yang meluncur di atas alat ski, bersama satu peleton Latvia yang terdiri dari 40 pria, dan kereta luncur kuda yang diawaki oleh 70 pembantu orang Rusia yang anti-Soviet, pasukan itu melakukan perjalanan 11 hari, menyeberangi danau yang membeku dan menyerang kedudukan musuh. Pada saat pertempuran dua hari berakhir, hanya 14 orang Spanyol yang masih hidup, tetapi pasukan Soviet telah dihancurkan.

Para ‘Guripas’ Spanyol tidak kenal rasa takut, dikagumi kawan dan dibenci lawan. (Sumber: https://www.arizonaskiesmeteorites.com/)

MEMPELAI KEMATIAN

Muñoz-Grandes sering memuji pasukannya yang tangguh dengan kata-kata seperti: “Sekeras-kerasnya musuh dan musim dingin Rusia—lebih keras lagi orang-orang saya.… Anda semua adalah kebanggaan ras kami. Percayalah pada Tuhan dan menyeranglah seperti orang Spanyol!” Garnisun Spanyol memang jarang menyerah, dan lebih banyak tewas dalam pertempuran dengan senjata di tangan mereka, ala Tentara Kekaisaran Jepang di medan Perang Pasifik. Namun, lebih dari itu, gaya bertarung para Africanista—veteran asal Maroko di Divisi Biru—membuat jengah para prajurit Tentara Merah. Orang-orang Maroko di Divisi Biru kerap mengirim orang-orang Rusia yang sudah mati kembali ke pasukan mereka tanpa telinga, hidung, dan jari. Mereka adalah tentara yang brutal dan kejam—“Mempelai Kematian” seperti yang kerap disebut oleh Muñoz-Grandes—dan mereka memaksa Tentara Merah untuk menyerah berkali-kali, baik dalam penyerangan dan pertahanan, terkadang hanya dipersenjatai dengan pisau, bayonet, perkakas, dan popor senapan. “Ke mana jalan itu menuju?” para pria bertanya pada diri sendiri, dan akan memberikan jawaban mereka sendiri: “Menuju Kemenangan!” Jadi dari berbagai gambaran diatas, pertanyaannya adalah bagaimana Spanyol bisa turut berperan dalam invasi Hitler ke Uni Soviet? Itu adalah kisah yang kompleks, yang semuanya dimulai pada bulan April 1931 ketika raja Spanyol, Alfonso XIII, diasingkan setelah pemilihan umum yang membawa ke tampuk kekuasaan pemerintahan yang dijalankan oleh kaum komunis dan sosialis yang menyebut diri mereka “Republik.” Para pemilih telah marah dengan raja dan perdana menteri diktatornya, Miguel Primo de Rivera, yang telah melibatkan negara itu dalam perang yang tidak populer di Maroko, dan dengan demikian memilih mereka untuk meninggalkan dari jabatannya, menjungkirbalikkan tradisi kekuasaan yang sudah berlangsung berabad-abad di Spanyol.

Pendaratan Alhucemas, yang terjadi pada tanggal 8 September 1925, di bawah komando Jenderal Miguel Primo de Rivera (PM Spanyol) dan yang mengawali berakhirnya Perang Rif antara Spanyol dan Republik Rif di Maroko. Berdiri di atas kapal torpedo 22 (Kelas T-1) adalah Jenderal de Rivera dan José Sanjurjo Sacanell. Gunung Morro Nuevo muncul di latar belakang. Perang di Maroko dan gejolak krisis ekonomi yang melanda dunia, kemudian menimbulkan ketidakstabilan di Spanyol. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
Anggota Pemerintahan Sementara dari Kelompok Republik Spanyol. Berkuasanya kelompok Republik yang mayoritas didominasi oleh orang-orang kiri, kemudian menimbulkan ketidakpuasan dari kelompok sayap kanan Spanyol yang menamakan dirinya sebagai kaum nasionalis. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

HUBUNGAN FRANCO DENGAN HITLER DAN MUSSOLINI 

Para pendukung kaum Republik berpawai di Barcelona, Juli 1936 untuk memprotes kudeta yang dilakukan oleh pihak militer. Kudeta ini kemudian memancing pecahnya perang saudara yang akan berlangsung hingga tahun 1936. (Sumber: https://www.theguardian.com/)

Maju cepat ke awal tahun 1936, ketika Generalissimo Francisco Franco, yang sangat tidak senang dengan arah yang telah diambil pemerintahan negaranya, memimpin kudeta militer terhadap pemerintah kiri Spanyol, yang memicu Perang Saudara Spanyol yang berdarah. Pada awalnya, kelompok “Nasionalis” pimpinan Franco mendapatkan keuntungan yang sangat mudah melawan musuh Republik mereka di utara dan barat, tetapi perlawanan kemudian menguat di daerah perkotaan seperti Madrid, Barcelona, dan Toledo. Untuk membantu mematahkan perlawanan, Franco memohon kepada Adolf Hitler dari Nazi Jerman dan Benito Mussolini dari Italia untuk datang membantunya. Melihat peluang untuk menambahkan Spanyol ke dalam lingkup pengaruh mereka (Jepang kemudian akan bergabung dengan Blok Poros/Axis pada bulan September 1940) dan dengan demikian meningkatkan kekuatan fasis di Eropa, kedua pemimpin itu sepakat. Kedua negara lalu mengirimkan skuadron demi skuadron pesawat tempur dan pasukan darat, termasuk tank. Pada bulan Agustus 1937, “Legiun Condor” Jerman—satuan tugas angkatan udara-yang beranggotakan 19.000 orang yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat pengebom dan pesawat tempur di bawah Komando Hugo Sperrle dan pasukan lapis baja kecil di bawah pimpinan Wilhelm Ritter von Thoma—dibentuk dan dikerahkan ke Spanyol. Mussolini juga mengirim Aviazione Legionaria, sebuah unit penerbangan dengan lebih dari 700 pesawat dari semua jenis dan lebih dari 6.000 orang, bersama dengan 78.500 orang Corpo Truppe Volontarie (“Korps Pasukan Sukarelawan”). Hitler, yang saat itu tertarik untuk melihat bagaimana kekuatan udara dapat digunakan untuk menghancurkan kota-kota, memberikan kebebasan kepada Sperrle untuk mengebom kota-kota Spanyol, termasuk kota Guernica di Basque, pada tanggal 26 April 1937. Selain itu, sejumlah besar senjata dan amunisi juga dipasok oleh Jerman dan Italia kepada kelompok Nasionalis. Sebagai tanggapan, pihak Republik lalu meminta dan menerima pesawat dan tank dari Uni Soviet. Perang Saudara Spanyol kemudian berkecamuk hingga bulan Maret 1939, dengan kelompok Nasionalis Franco akhirnya bisa menyatakan kemenangan mereka. Enam bulan kemudian, Jerman berperang dengan Prancis dan Inggris, dan Hitler segera memanggil Franco. Karena dia telah datang untuk membantu Franco, dia sekarang menginginkan pasukan Franco berada di pihaknya dalam perang melawan Prancis dan Inggris, tetapi Franco ternyata menolak.

Tank T-26 buatan Soviet di tangan tentara kaum Republik Spanyol. Secara ‘tradisional’ kaum Republik mengandalkan bantuan dari pihak Soviet dalam menghadapi pasukan Nasionalis. (Sumber: http://www.hobbyboss.com/)
Di udara kaum Nasionalis Spanyol dibantu oleh pilot-pilot Jerman yang menerbangkan pesawat-pesawat tempur Messerschmitt Bf 109, yang tergabung dalam Legion Condor. Perang Saudara Spanyol, kemudian memberi kesempatan bagi Hitler untuk menguji kekuatan udara Luftwaffe, sebelum melibatkan diri dalam Perang Dunia II. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Prajurit dari Divisi Lapis Baja ke-133 Angkatan Darat Italia selama Perang Saudara Spanyol. Selama perang, Italia terhitung cukup banyak mengirimkan bantuan pada kaum Nasionalis Spanyol pimpinan Franco. (Sumber: https://www.superstock.com/)

SETELAH PERANG SAUDARA, DIVISI BIRU MENCARI RELAWAN

Sikap Franco kemudian agak berubah ketika Hitler menginvasi Uni Soviet pada musim panas tahun 1941. Franco telah berperang melawan pemerintah komunis yang berkuasa di Spanyol, dan sekarang, di sinilah sekutunya Jerman berperang melawan tempat kelahiran komunisme dan rumah bagi para dedengkot ‘ateisme’ dan musuh utama Gereja Katolik—bagaimana mungkin dia tidak datang membantu? Namun, alih-alih mengirim unit dari pasukannya, Franco memilih untuk memanggil para sukarelawan, sebuah keputusan yang “bijaksana” dari sisi Spanyol. Jumlah orang-orang yang mendaftar kemudian memampukan Pemerintah Spanyol menawarkan sebuah divisi lengkap beranggotakan 18.700 orang yang disebut sebagai Divisi Biru (biru adalah warna yang diadopsi oleh tentara Nasionalis Franco, dan para personelnya lalu mengenakan kemeja biru di bawah seragam Jerman mereka); ke pihak Jerman, satuan itu kemudian dinamai sebagai Divisi Infanteri ke-250. Lima skuadron tempur juga dibentuk yang akan terbang bersama dengan Luftwaffe. 

Para rekrutan Divisi Biru Spanyol. Seragam mereka melambangkan berbagai ‘warna’ politik di Spanyol saat itu. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

KISAH JENDERAL AGUSTIN MUNOZ-GRANDE

Dipilih untuk memimpin Divisi Biru adalah Jenderal kelahiran Madrid, Agustin Muñoz-Grandes. Dia adalah seorang veteran Perang Saudara Spanyol dan telah memimpin Legiuner Spanyol dalam mengalahkan pasukan Republik di Pertempuran Malaga pada bulan Februari 1937. Demikianlah informasi singkat mengenai latar belakang Grandes, namun bagaimanakah sebenarnya, sosok orang yang akan hidup untuk dikenal sebagai Kapten Jenderal Seluruh Spanyol dan yang memimpin Divisi Biru, yang sangat dihormati oleh sekutu Jermannya dan ditakuti oleh musuh Tentara Merahnya ini? Seorang sukarelawan Inggris yang bertugas di bawahnya di Spanyol selama Perang Saudara menyebut Muñoz-Grandes ”seorang prajurit yang hebat, dan kebetulan juga seorang pria yang sangat menawan”. Selain itu, pihak intelijen militer Inggris menilai dia sebagai “salah satu jenderal terbaik dan paling tegas dimiliki Spanyol.” Muñoz-Grandes lahir pada tahun 1896 di distrik kelas pekerja kota Madrid di Carabranchel Bajo dan lulus dari Akademi Infanteri di Toledo pada tahun 1913 menjelang Perang Dunia I, di mana Kerajaan Spanyol dengan bijaksana memilih tetap netral. Menjadi sukarelawan untuk tugas di Maroko Spanyol, ia memenangkan promosi untuk memimpin pasukan pribumi yang disebut regulares, dan bahkan membentuk sebuah unit elit, atau harka, yang diberi nama menurut dirinya sendiri. Ketika Republik Spanyol didirikan pada tahun 1931, Muñoz-Grandes ditunjuk untuk mengepalai Assault Guards, “kekuatan paramiliter yang dirancang untuk mengimbangi kelompok tradisionalis, dan karena itu menimbulkan kecurigaan dari, Guardia Civil (Polisi Nasional),” menurut dua orang sejarawan. 

Jenderal Muñoz Grandes sebagai perwira Wehrmacht, 1941–43. Grandes adalah sosok prajurit populer di Spanyol saat itu. Bagi Franco sendiri, pengiriman Grandes ke front timur sekaligus berfungsi untuk menjauhkannya dari persaingan politik di Spanyol menantang dirinya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Dia kemudian diberhentikan dari jabatan ini menyusul kemenangan Front Populer sayap kiri dalam pemilihan tahun 1936. Pada tanggal 18 Juli 1936, hari pecahnya perang saudara, Muñoz-Grandes berada di Madrid yang kacau dan mungkin nyaris dibantai oleh massa kelompok kiri atau milisi, tetapi ia diselamatkan oleh anggota Assault Guards dan Jenderal Republik, Vicente Rojo. Dia dipenjara oleh pemerintah Republik sayap kiri, tetapi berhasil melarikan diri ke posisi pertahanan kaum Nasionalis sayap kanan Franco. Selama Perang Saudara, Muñoz-Grandes memimpin korps tentara Nasionalis dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Gerakan dan Kepala Milisi Falangis di kabinet pertama Franco setelah kemenangannya di bulan Maret 1939. Ini adalah Falange de las JONS, atau Phalanx Spanyol dari Komite Aksi Sindikalis Nasional. Warna dari kelompok Falange adalah biru, maka warna itu selanjutnya dipakai oleh Divisi Biru (warna Partai Republik, sebaliknya, sama dengan bendera komunis: merah). Sembilan kali terluka dan dianggap oleh semua kaum Nasionalis Spanyol sebagai salah satu tentara terkemuka Spanyol, prajurit pemberani ini dikenal karena keberanian dan kegigihannya dalam pertempuran. Sementara itu, saingan yang dibencinya dalam gerakan Falangis adalah menteri luar negeri Spanyol (dan saudara ipar Franco sendiri), Ramon Serrano Suñer, yang pada hari ketika Nazi Jerman menginvasi Uni Soviet—22 Juni 1941—menawarkan Hitler sebuah divisi sukarelawan Spanyol untuk berperang di Uni Soviet. Meskipun Führer lebih suka deklarasi perang bersama Spanyol terhadap Inggris dengan pendudukan bersama wilayah Gibraltar, tawaran itu (pengiriman sukarelawan Spanyol) diterima sebagai sarana untuk lebih mendekatkan kedua negara fasis itu.

“KAMI AKAN MEMBALAS KUNJUNGAN ORANG-ORANG RUSSIA”: PARA RELAWAN DIKUMPULKAN

Divisi Biru yang baru akan terdiri dari unsur tentara reguler dan milisi Falangis, dengan total terdiri dari 18.000 perwira dan prajurit—semuanya sukarelawan. Faktanya, 40.000 orang akhirnya akan bertugas di divisi ini. Pilihan pertama Franco untuk memimpin Divisi Biru yang baru adalah Muñoz-Grandes, terutama hal ini dipandang sebagai salah satu cara untuk menyingkirkan saingan domestik yang berbahaya dalam mempertahankan kekuasaan politik Franco di Spanyol; Suñer juga menerima penunjukan Grandes untuk alasan yang sama. “Kami (akan) membalas mengunjungi Rusia!” menjadi slogan penyemangat para sukarelawan, dan seragam baru mereka merupakan pakaian berwarna-warni yang menggambarkan politik di Spanyol: kemeja biru Falangis, baret merah Carlist, celana khaki Legiun Asing Spanyol, dan sepatu bot hitam untuk para tamtama, simbol dari guripas. Setiap perwira mengenakan baret merah, tunik khaki dengan kerah dan manset berwarna biru, sabuk pengaman dari kulit, celana khaki, dan sepatu bot hitam tinggi. Adalah dominasi dari seragam berwarna biru yang mendorong hampir semua orang untuk menyebut unit baru ini sebagai Divisi Azul, atau Divisi Biru. Hari pertama pembentukan divisi itu adalah pada tanggal 4 Juli 1941—kurang dari sebulan setelah invasi Hitler ke Uni Soviet—dan para pria anggota Divisi Biru menyanyikan himne Falangist, “Cara al Sol/Face to the Sun.” Mereka juga menyanyikan ”the Bridegrooms of Death”.

Keberangkatan rekrutan baru Divisi Biru di San Sebastián, 1942. Meski memutuskan bergabung dengan pasukan Axis memerangi Soviet, namun Franco menjaga agar partisipasi Spanyol tetap minimum dengan ‘risiko’ sekecil-kecilnya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Insignia dari Divisi Biru Spanyol. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada tanggal 13 Juli—hanya 20 hari setelah perang dimulai di Timur—kerumunan massa di Madrid keluar untuk menyambut keberangkatan 19 kereta api yang berisi 17.924 prajurit saat mereka memulai perjalanan mereka menuju Jerman, sementara Muñoz-Grandes sendiri sudah terbang lebih dulu dengan sebuah pesawat Lufthansa Focke-Wulf Condor 200. Awalnya Divisi ini dibagi menjadi empat resimen infanteri, seperti dalam divisi standar Spanyol. Namun, untuk membantu proses integrasi mereka ke dalam sistem pasokan Jerman, mereka kemudian segera mengadopsi model tiga resimen standar Jerman. Salah satu resimen lalu disebar di antara yang lain, yang kemudian dinamai menurut nama dari tiga kota Spanyol yang sebagian besar berasal dari lokasi asal para sukarelawan—yakni, Madrid, Valencia, dan Sevilla. Setiap resimen memiliki tiga batalyon (masing-masing terdiri dari empat kompi) dan dua kompi senjata, didukung oleh resimen artileri yang terdiri dari empat batalyon (masing-masing terdiri dari tiga baterai artileri). Sisanya masih ada cukup banyak orang untuk membuat batalion penyerang, terutama yang bersenjatakan senapan mesin ringan. Kemudian, karena timbulnya banyak korban, unit penyerang ini lalu dibubarkan. Sementara itu, relawan penerbang Spanyol membentuk Skuadron Biru (Escuadrillas Azules) yang, menggunakan pesawat-pesawat tempur Messerschmitt Bf 109 dan Focke-Wulf Fw 190s, buatan Jerman.

KETAATAN MUTLAK PADA ADOLF HITLER DALAM PERANG MELAWAN KOMUNISME

Pada suatu pagi kelabu menjelang hujan di tempat latihan Grafenwöhr di Jerman tenggara pada tanggal 31 Juli 1941, Divisi Biru yang secara sukarela siap melawan komunis bersama Jerman di front Soviet berdiri berbaris, siap untuk bersumpah setia kepada Adolf Hitler dan Reich Ketiga. Setelah misa Katolik dirayakan, Muñoz-Grandes menghunus pedangnya saat sumpah diucapkan: “Apakah Anda bersumpah di hadapan Tuhan dan demi kehormatan Anda sebagai orang Spanyol,” kata petugas lain yang memimpin upacara tersebut, “ketaatan mutlak kepada Panglima Tertinggi Jerman. Angkatan Darat, Adolf Hitler, dalam perang melawan komunisme, dan apakah Anda bersumpah untuk berperang sebagai prajurit yang gagah berani, siap kapan saja untuk mengorbankan hidup Anda untuk memenuhi sumpah ini?” Para prajurit Spanyol—dengan lengan kanan mereka terangkat untuk memberi hormat Fasis—berseru, “Ya, aku bersumpah.” Tampaknya upacara itu menjadi laksana adegan dari film epik era 1960-an “El Cid”, tokoh heroik, yang mana ironisnya Franco, bukanya Grandes yang menganggap dirinya sebagai penerusnya. Divisi Infanteri ke-250 sekarang secara resmi diterima masuk ke dalam angkatan bersenjata Jerman. Jenderal Muñoz-Grandes kemudian melangkah ke mikrofon untuk menyatakan, “Relawan Spanyol! Prajurit kehormatan tanah airku! Di depan bendera Jerman dan Spanyol yang agung, Anda telah bersumpah untuk mati sebelum membiarkan Bolshevisme biadab melanjutkan pekerjaan penuh kebencian dan penghancurannya yang telah membanjiri tanah air kita, dan yang hari ini secara kriminal mencoba memaksakan dirinya berkuasa di seluruh Eropa…. Anda hanya ingin menghancurkan monster ini — noda umat manusia ini — di sarangnya sendiri…. Beritahu Führer bahwa kami siap dan atas perintahnya. Katakan padanya bahwa kita telah bersumpah, dan katakan padanya bahwa orang-orangku akan memenuhi apa yang disumpahkannya.” Muñoz-Grandes memang kemudian terbukti menepati janjinya—demikian juga beberapa lainnya. Memang, dalam salah satu pertemuan mereka kemudian, Hitler mengatakan kepada Muñoz-Grandes bahwa Divisi Biru adalah “satu-satunya ras Latin yang jantan, setara dengan divisi Jerman terbaik,” sebuah kritikan tajam pada prajurit Fasis Italia andalan Mussolini. Beberapa minggu kemudian, pada musim gugur 1941, orang-orang Spanyol tiba di Front Timur, di mana pasukan Jerman telah memukul mundur musuh Bolshevik dan menimbulkan banyak korban. Awalnya, Divisi Biru ditugaskan ke Grup Angkatan Darat Tengah untuk terlibat dalam serangan ke Moskow, tetapi lalu dipindahkan ke Grup Angkatan Darat Utara, yang bergerak mendekati kota Leningrad.

Personel Divisi Biru Spanyol dengan seragam khas Jerman. (Sumber: https://twitter.com/)

“APAKAH MEREKA PRAJURIT ATAU ORANG GIPSI?” 

Sejujurnya, orang-orang Jerman yang disiplin pada awalnya merasa jengah pada rekan-rekan Spanyol mereka, yang digambarkan oleh seorang sejarawan sebagai “sekelompok pria macho yang tidak disiplin yang menolak untuk berlatih, berbaris dalam formasi, memberi hormat, mengenakan seragam militer, atau mematuhi perintah…. Aktivitas utama mereka di Rusia tampaknya adalah mengejar wanita lokal dan bersenang-senang.” Itu benar adanya. Dalam sedikit waktu luang yang dimiliki Divisi Biru, para guripas Spanyol kerap tidak mematuhi peraturan Jerman dan terlibat dalam hubungan intim dengan orang-orang Yahudi Rusia yang terkenal, yang membuat Field Marshall Angkatan Darat Jerman Hans Günther von Kluge bertanya, “Apakah mereka tentara atau orang gipsi?” Sebaliknya, mereka juga menjelaskan bahwa mereka berada di Uni Soviet lebih untuk memerangi komunis, dan bukan untuk membantu Jerman. Namun, begitu berada di garis depan, Muñoz-Grandes langsung membuktikan kepada Hitler bahwa dia adalah komandan tempur seperti Andrew Jackson (mantan Presiden dan Jenderal Amerika terkemuka) dari Front Timur. “Kami akan memulihkan diri di garis pertahanan. Prajuritku akan bertarung sampai mati!” dia menyatakan. Faktanya, divisi itu terkenal karena suka meneriakkan “Long live death!” saat mereka menyerang tanpa rasa takut dalam pertempuran. Pada bulan Oktober 1941, tak lama sebelum musim dingin Rusia melanda dengan ganas, Divisi Biru telah berbaris ke garis depan, mempertahankan garis depan sejauh 30 mil di sepanjang Sungai Volkhov dari pantai selatan Danau Ladoga ke Danau Ilmen di Oblast Novgorod di selatan, Leningrad. 

Dengan salju di bulan April yang masih menutupi tanah di Front Timur pada tahun 1942, tentara dari Divisi Biru diinstruksikan untuk mengoperasikan senapan mesin buatan Jerman. Pada awalnya para prajurit Jerman jengah dengan tingkah laku tidak disiplin dari tentara Spanyol, namun hal ini kemudian terbalaskan dengan performa tempur mereka yang oke di medan tempur. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

KEMENANGAN AWAL DIVISI BIRU

Divisi Biru pertama kali dilemparkan ke dalam pertempuran pada tanggal 12 Oktober dan dengan cepat mencetak kemenangan. Aksi ini diikuti oleh gerak maju selama dua hari ke selatan untuk menyerang kota Dubrovka, 100 mil barat daya Moskow. Pasukan Muñoz-Grandes merebut kota itu tetapi kemudian harus menghabiskan tiga minggu untuk melawan serangan balik Tentara Merah. Di wilayah antara Moskow dan Leningrad (sekarang St. Petersburg), orang-orang Spanyol bertempur dengan sangat ganas sehingga mereka mendapatkan rasa hormat dari orang-orang Jerman dan menjadi ditakuti oleh orang-orang Rusia, yang segera menjadi takut melawan mereka dalam pertempuran. Seorang jenderal Jerman mengatakan bahwa orang-orang Spanyol bertempur dengan begitu liar, seolah-olah orang-orang Rusia telah mencuri istri mereka. Sementara itu, tahun 1942 dibuka dengan pertempuran sengit baru dalam cuaca dingin yang tak henti-hentinya. Pada tanggal 21 Januari, sebuah batalion Divisi Biru yang beranggotakan 800 orang praktis dihancurkan oleh serangan Soviet; hanya 42 orang yang selamat dari serangan itu. Bulan berikutnya divisi itu berada di tengah ofensif Tentara Merah untuk memecah garis pasukan Poros yang mendesak batalyon-batalyon Spanyol ke belakang dalam badai salju yang menyilaukan; hanya setelah intervensi tepat waktu dari serangan balik gabungan  tentara Jerman-Walloon (Belgia)-Latvia yang menyelamatkan mereka dari kehancuran. Saat “orang-orang Rusia” yang kalah mundur, para guripas akan mengejek mereka, “Otro toro! Otro toro!” (“Kirim banteng yang lain!”). Melucuti orang-orang Rusia yang mati dari pakaian hangat mereka, mereka juga akan mencongkel senjata dari jari-jari tentara Russia yang membeku untuk melanjutkan pertempuran. 

Tentara Spanyol berlindung di selokan saat berada di bawah tembakan, untuk sementara meninggalkan senjata artileri mereka. Sebagian besar pertempuran yang dijalani oleh Divisi Biru terjadi selama pengepungan kota Leningrad, di wilayah timur laut jauh Uni Soviet. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Hitler menerima Agustín Muñoz-Grandes (kiri), komandan Divisi Biru, di markas Front Timurnya untuk memberinya medali Knight’s Cross of the Iron Cross with Oak Leaves. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Di tempat lain, skuadron-skuadron angkatan udara Spanyol juga menampilkan catatan yang baik tentang diri mereka sendiri. Dua puluh dua pilot Spanyol diketahui menembak jatuh sekitar 156 pesawat tempur Soviet. Kanselir Reich, Hitler sangat terkesan dengan performa Divisi Biru sehingga dalam pidatonya pada tanggal 26 April di Reichstag Jerman di Gedung Opera Kroll Berlin ia menegaskan, “Orang-orang Spanyol telah melakukan semua yang kami minta dari tentara kami sendiri.… Mereka dan jenderal mereka (Muñoz- Grandes) tahu arti dari kesetiaan dan keberanian sampai mati.” Untuk memberi penghargaan kepada Jenderal Muñoz-Grandes atas kepemimpinan dan bantuannya dalam perang melawan Uni Soviet, Hitler secara pribadi memberinya medali Knight’s Cross of the Iron Cross with Oak Leaves. Ketika musim semi mencair, Jerman kembali memperbaharui serangan mereka. Dilemparkan ke dalam pertempuran di kawasan Bolshoye Shamoshe di sebelah timur Sungai Keresti, Divisi Biru yang kekuatannya sudah terkuras bertempur dengan gagah berani. Di dekat Maloye Shamoshe, divisi itu membunuh atau menangkap lebih dari 5.000 orang Rusia sementara mereka hanya kehilangan 274 orang di pihak mereka sendiri.

AKANKAH SPANYOL AKAN MEMPERTAHANKAN NETRALITASNYA DI TENGAH PIHAK AXIS DAN PIHAK SEKUTU?

Muñoz-Grandes kemudian digantikan sebagai komandan Divisi Biru oleh Brig. Jenderal Emilio Esteban Infantes (yang juga akan dianugerahi medali Knight’s Cross pada tanggal 5 Oktober 1943). Pengganti Grandes ini sebenarnya sudah merencanakan dikrimkannya divisi kedua sukarelawan Spanyol untuk berperang bersama Jerman di Uni Soviet, tetapi hal itu tidak terjadi, karena Franco telah memutuskan untuk mengubah arah politiknya sehubungan dengan kekalahan Jerman di Stalingrad dan Kursk. Franco telah menggantikan Suñer, menteri luar negerinya yang pro-Poros—tidak peduli bahwa ia saudara iparnya atau bukan—pada bulan September 1942 dengan seorang jenderal Spanyol yang pro-Sekutu sebagai tanda dari kebijakannya yang memperkeras sikap netralitas resminya, dan ketika Muñoz-Grandes pulang dalam penyambutannya sebagai pahlawan di Madrid pada 24 Mei 1942, Franco mempromosikan Grandes ke pangkat letnan jenderal di Angkatan Darat Spanyol, tetapi di sisi lain, ia juga sangat menyadari bahwa baik Jerman dan Grandes sendiri melihat yang dirinya adalah penerus Franco—atau mungkin penggantinya dengan lebih cepat. Memang, jika Spanyol secara resmi memasuki perang di pihak Poros, disepakati bahwa Muñoz-Grandes akan menduduki jabatan menteri dalam negeri—mirip dengan peran yang dimainkan oleh kepala polisi Hitler, Heinrich Himmler, kepala Gestapo dan SS di Reich Ketiga.

Franco dan Hitler. Meski menyumbangkan tentara ke Front Timur untuk bertempur bersama tentara Jerman, tapi Franco sama sekali tidak memutus hubungannya dengan pihak sekutu. Saat arah peperangan di Front Timur berbalik melawan Jerman, Franco secara berlahan menjaga jarak dengan Hitler. (Sumber: https://kyleorton.co.uk/)

Lebih dari itu, Jerman juga melihat Muñoz-Grandes sebagai bagian dari junta militer Spanyol yang akan memaksa Franco untuk bergabung dengan pihak Poros dan juga membantu Jerman. Untuk sedikit mengkooptasi dia, Franco kemudian menawarkan Muñoz-Grandes pilihan untuk mengambil jabatan di kabinet baru atau menjadi duta besar Spanyol di Berlin, tetapi sang jenderal menolak keduanya agar tidak menjadi alat bagi mereka yang dianggap reaksioner. Pada tahun 1942, dengan Divisi Biru menderita banyak korban dari pertempuran dan penyakit radang dingin, Franco memutuskan bahwa unit Spanyol dan Muñoz-Grandes sudah cukup membantu pihak poros dan membawa mereka pulang. Namun, ribuan sukarelawan Spanyol yang keras kepala, bersama dengan para penggantinya yang baru tiba, menolak untuk pergi, memilih untuk tetap berjuang sampai akhir meskipun harus melepas kewarganegaraan Spanyol mereka untuk bisa melakukannya. Pasukan yang berjumlah 3.000 orang yang dibentuk kembali ini dikenal sebagai Legiun Azul, atau Legiun Biru, yang dikomandoi oleh Miguel Ezquerra. Setelah kembali ke rumah untuk disambut sebagai pahlawan, Muñoz-Grandes juga dianugerahi penghargaan Falangis tertinggi. Ada juga penghargaan lain tetapi juga kecurigaan besar: seseorang yang berprestasi seperti Muñoz-Grandes bisa memimpin kudeta untuk menggulingkan Franco. Perhatian besar jelas harus diarahkan padanya.

MEMPERTAHANKAN POSISI MEREKA MELAWAN PASUKAN SOVIET YANG TUJUH KALI LEBIH BESAR

Pada bulan Agustus 1942, Legiun Biru dipindahkan ke utara ke sisi tenggara pengepungan kota Leningrad, tepat di selatan Sungai Neva, dekat Pushkin dan dekat Sungai Izhora. Front selatan Jerman di Leningrad kemudian runtuh dalam menghadapi serangan Tentara Merah yang ganas dan Legiun Spanyol berada di bawah tekanan berat dari Tentara Soviet ke-55 pada bulan Februari 1943 ketika pasukan Soviet itu menyerang posisi pertahanan Spanyol di Pertempuran Krasny Bor dekat jalan utama Moskow-Leningrad. Pada pagi yang dingin tanggal 10 Februari 1943, 5.900 tentara dari Divisi Biru sedang duduk di parit dan tempat istirahat mereka ketika peluru high explosive ditembakkan dari ratusan artileri Soviet berjatuhan dari langit. Bagi para prajurit itu, dunia seakan berubah menjadi badai api. Dua jam kemudian, tiga divisi infanteri Soviet menyerbu ke posisi pertahanan pasukan Poros, menandai dimulainya pertempuran Krasny Bor, pertempuran yang tidak jelas tetapi terbukti signifikan di dekat Leningrad — yang masih dikepung pada saat itu — yang memuncak dalam kemenangan pasukan Poros dengan mengorbankan Divisi Biru, yang nyaris seluruhnya hancur. Krasny Bor adalah bagian dari Operasi Polar Star, sebuah ofensif Soviet yang lebih besar, gagasan dari Jenderal Georgy Zhukov menyusul keberhasilan Operasi Iska dua minggu sebelumnya, yang sukses membuka koridor pendek — dan segera diikuti dengan jalur kereta — menuju ke Leningrad, untuk membawa pasokan yang sangat dibutuhkan ke dalam kota. Namun, Operasi Polar Star jauh lebih ambisius dari Iska, dan Zhukov menugaskan pasukan dari tiga front tentara Soviet untuk menerobos ke arah jurusan negara-negara Baltik dalam contoh lain dari taktik “deep operation” Soviet, yang bertujuan untuk menjebak dan memusnahkan Grup Angkatan Darat Utara Jerman di hutan selatan kota Leningrad. Tujuan kedua Zhukov adalah untuk memotong kantong Demyansk di dekatnya, sebuah tonjolan berbentuk ibu jari jauh di dalam garis pertahanan Soviet.

Para prajurit dari Panzerjägerabteilung (unit pemburu tank) Spanyol berlari melintasi medan tempur selama serangan terhadap posisi Soviet di luar kota Leningrad. Meskipun dianggap tidak disiplin oleh beberapa komandan Jerman, hanya sedikit sekutu Jerman lainnya yang dapat menandingi keberanian mereka. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Krasny Bor, terletak 20 mil di tenggara pusat kota Leningrad, adalah titik strategis di dekat jalan raya yang menghubungkan Leningrad yang terkepung ke kota Moskow. Di sinilah Divisi Biru berada ketika artileri Angkatan Darat ke-55 pimpinan Jenderal Vladimir Sviridov — yang terdiri dari sekitar 38.000 tentara — menghujani posisi mereka. Deskripsi pertempuran, dari sejarawan Amerika spesialis militer Soviet, David M. Glantz dari, mencatat pasukan Spanyol — dipersenjatai dengan senapan, senapan mesin, dan bom molotov — diserbu dan dibunuh dengan bayonet setelah melawan beberapa serangan oleh pasukan infanteri dan tank Soviet yang jumlahnya tujuh kali lebih besar. Kemungkinan kerugian terberat Divisi Biru didapat selama rentetan tembakan artileri pembukaan. Pasukan Tentara Merah diketahui juga mengeksekusi mereka yang terluka. Sementara itu, Pasukan Spanyol yang menuju ke garis depan dengan peralatan ski terkena serangan udara Soviet. Hari pertama pertempuran dikenal sebagai “Rabu Hitam” bagi pasukan Spanyol. Namun pertempuran itu jauh lebih berdarah bagi Soviet, yang mungkin telah menderita sekitar 20.000 korban setelah menembus sejauh lima kilometer garis pertahanan pasukan Poros sebelum serangan mereka terhenti. Ringkasan dan deskripsi kejadian harian yang komprehensif tentang unit-unit spesifik yang terlibat dalam pertempuran ini tersedia di Steven’s Balagan, sebuah situs web yang didedikasikan untuk sejarah militer Spanyol dan Portugis. Angkatan Darat ke-55 Soviet yang kehabisan tenaga lalu menghentikan operasi pada sektor penting dalam Operasi Polar Star ini, yang kemudian juga terhenti di sektor lain. Namun, kekalahan Soviet tidak menghentikan strategi “deep operation” mereka, karena Tentara Merah akan terus mengandalkannya dalam serangan-serangan mereka selanjutnya. Sebaliknya meski Krasny Bor dan Polar Star adalah kemenangan bagi pasukan Axis, namun kemenangan sangat mahal harga.

Tentara Spanyol—sekarang dikenal sebagai Legiun Biru—berlari maju selama serangan terhadap posisi Soviet yang mempertahankan Leningrad selama musim panas 1943. Semangat orang-orang Spanyol untuk berperang membuat mereka kehilangan banyak korban, meski demikian pengepungan atas kota Leningrad diperpanjang setahun lagi karena aksi mereka. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sementara itu, meskipun menderita banyak korban, namun orang-orang Spanyol terus bertahan melawan pasukan Rusia, yang menyebabkan ofensif mereka tertahan dan pengepungan Leningrad harus berlanjut selama satu tahun lagi. Tiga perempat dari pasukan Divisi Biru tewas, terluka atau telah ditawan, dimana hal ini secara efektif mengakhiri divisi ini sebagai sebuah kekuatan tempur. Untuk mendukung penurunan jumlah Legiun, Franco mengirim lebih banyak bala bantuan, termasuk para wajib militer serta sukarelawan. Sepanjang musim panas 1943, Legiun Biru yang terkuras kekuatannya terus mempertahankan posisinya mereka sementara bala bantuan dari Spanyol mengalir masuk. Ketika barisan Legiun Spanyol semakin menipis, Jerman menempatkan unit-unitnya yang tersisa ke unit-unit Waffen-SS seperti Divisi Panzer Grenadier Nordland dan Brigade “Badai” Wallonien. Orang-orang Spanyol juga digunakan untuk mendukung gerak mundur militer Jerman di seluruh Rusia pada tahun 1943 dan 1944. Seorang sejarawan mencatat bahwa mereka juga “terbukti tanpa ampun dalam menghancurkan perlawanan anti-Jerman di Yugoslavia, Rumania (di Bukovina), dan Prancis. Beberapa dari mereka juga mengambil bagian dalam serangan Ardennes.” Bertemu dengan Franco dan Muñoz-Grandes pada 20 Agustus 1943, Duta Besar Inggris untuk Madrid Sir Samuel Hoare menuntut penarikan mundur Blue Legion dari Rusia. Enam minggu kemudian, pada tanggal 1 Oktober, Franco menyatakan netralitas resmi Spanyol dalam perang di Eropa.

HITLER MENGIRIM PULANG LEGIUN SPANYOL

Legiun Biru sekarang dalam masa-masa yang buruk. Pada bulan Desember 1943, Jerman memerintahkan legiun ke garis depan di mana mereka diperintahkan untuk menjaga garis pertahanan sepanjang enam setengah mil di Kostovo. Luasnya jarak yang harus dijaga oleh barisan legiun Spanyol, sehingga dikatakan bahwa dua tank sejajar bisa melewati antara setiap prajurit infanteri mereka yang mempertahankan garis itu. Pada hari Natal, serangan Soviet dimulai, tetapi legiuner Spanyol menolak untuk menyerah, dengan menembaki pasukan Soviet yang maju selama berhari-hari dan kemudian berminggu-minggu. Korban pun berguguran diantara mereka sendiri, ketika mereka dikepung, Tentara Merah akan mengejek, “Bunuh perwira Anda dan bergabunglah dengan kami.” Saat truk-truk terakhir Legiun mundur, prajurit Legiun Spanyol menghapus semua tanda-tanda salib dari kuburan mereka sehingga tubuh rekan-rekan mereka tidak dapat digali dan dinodai oleh Tentara Merah. Akhirnya mereka diperintahkan untuk meninggalkan posisi mereka selama badai salju. Mereka yang masih hidup ditarik kembali dan berhasil mencapai wilayah Estonia pada tanggal 7 Januari 1944. Di sana tentara Spanyol yang membeku dan mati rasa ditugaskan untuk menjaga pantai Laut Baltik. Pada tanggal 20 Februari 1944, Hitler memberi tahu Franco bahwa Legiun Spanyol telah melaksanakan tugasnya dan ia akan mengirimnya kembali ke Spanyol, dan pada tanggal 6 Maret, banyak guripas berkumpul untuk melakukan perjalanan pulang terakhir mereka. Seperti yang dikatakan seorang perwira, “Ini adalah saat yang pahit.… Legiun harus kembali ke Spanyol!… Kembali ke rumah dengan perasaan bangga bahwa Anda telah melakukan tugas Anda.… Pada hari kesedihan ini, Anda akan membawa laras senapan Anda ke bawah, seperti di pemakaman, atau di Pekan Suci. Hidup Legiun! Franco! Franco! Franco!”

Prajurit Artileri Spanyol, mengenakan jas hujan yang disamarkan, mengawaki howitzer berkaliber 15 sentimeter di suatu tempat di Front Timur pada tahun 1942. Pada awal tahun 1944, para prajurit Spanyol secara resmi dipulangkan ke negerinya, meski beberapa memilih tinggal bertempur bersama tentara Jerman. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

YANG TERSISA DARI LEGIUN BIRU

Yang selamat dari Legiun kembali ke Spanyol pada akhir bulan April 1944, meskipun beberapa memilih untuk tetap tinggal dan berperang (dengan konsekuensinya nanti mungkin akan mereka sesali), dan dengan demikian dimasukkan ke dalam pasukan Jerman. Dengan berakhirnya perang di Eropa, banyak dari personel Legiun Biru yang selamat berakhir di Berlin, bertempur bersama para prajurit Wallonians dan Divisi Nordland di luar bunker Hitler. Tetapi perlawanan itu sia-sia dan mereka yang tidak terbunuh ditangkap oleh Tentara Merah dan dikirim ke kamp-kamp tawanan perang di dalam Uni Soviet, di mana banyak diantaranya yang tewas. Orang-orang Spanyol memang meninggalkan catatan pertempuran yang tak tertandingi di Front Timur, tetapi itu semua harus dibayar mahal. Pada akhir perang, sekitar 22.000 sukarelawan telah menjadi korban—5.000 tewas, 8.000 terluka, dan ratusan hilang atau ditawan. Di pihak lain, dalam aksinya bertempur melawan Divisi Biru, Tentara Merah menderita 49.300 korban. Satu dekade setelah perang, 300 penyintas Spanyol yang ditangkap dibebaskan dari kamp penjara Siberia mereka dan akhirnya diizinkan pulang. Dan bagaimana dengan komandan pertama mereka, Agustin Muñoz-Grandes sendiri? Seperti dugaan Franco, dia kembali ke rumah dengan tujuan ingin membersihkan negaranya dari komplotan militer, tokoh-tokoh intrik dari Falangis seperti Suñer, dan bahkan Franco. Sebaliknya, sekali lagi Generalissimo Franco dengan licik berhasil mengkooptasi ketenaran militernya, dan pada tahun 1953 membuat Muñoz-Grandes menjadi negosiator dengan Amerika Serikat dengan sesama jenderal dan saat itu presiden Amerika, Dwight D. Eisenhower untuk mengizinkan berdirinya pangkalan udara Amerika di Spanyol, yang membuka jalan bagi kembalinya Franco kepada masyarakat Eropa setelah ia sempat berbulan madu panjang dengan fasisme. Dalam kapasitas sebagai wakil Perdana Mentri Spanyol, Grandes sempat menyarankan Franco untuk terlibat dalam Perang Vietnam supaya memiliki hubungan yang lebih baik dengan Amerika Serikat. Namun, Franco yang cerdik, seperti biasa, enggan secara terbuka mendukung perang atau Amerika Serikat, dan akhirnya hanya beberapa tim tenaga medis yang dikirim, secara diam-diam. Muñoz-Grandes lalu pensiun dari Angkatan Darat pada tahun 1966 pada usia 70, tetapi mempertahankan pangkatnya sebagai kepala staf, serta tetap sebagai wakil perdana mentri pertama, sebuah jabatan yang dia emban pada tahun 1962. Franco kemudian tiba-tiba mencopotnya dari posisi itu juga pada bulan Juli 1967. Muñoz-Grandes meninggal pada usia 74 tahun pada tanggal 12 Juli 1970, dan Franco sendiri mengikutinya meninggal pada tanggal 20 November 1975. Pada bulan Februari 2015, dikabarkan sekelompok radikal antifasis sayap kiri mengamuk di Madrid dan menghancurkan makam Muñoz-Grandes.

Franco, kanan, memeluk Presiden AS Dwight Eisenhower, pada tahun 1959, pada akhir kunjungan Eisenhower di Madrid. Franco merupakan politikus ulung yang licin, selain sukses menghindarkan Spanyol dari sebagian besar bencana perang dunia II, ia juga sukses dalam mempertahankan kekuasaannya selepas perang, sembari mendekatkan diri dengan negara-negara Barat serta Amerika yang terlibat perang dingin dengan Soviet. Agustin Muñoz-Grandes turut berperan mendekatkan Franco dengan Amerika. (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/)
Korps Medis Spanyol di Vietnam. Muñoz-Grandes merupakan salah satu pendukung Spanyol untuk terlibat dalam perang Vietnam demi mendekatkan negara itu dengan Amerika. Namun, Franco yang cerdik, seperti biasa, enggan secara terbuka mendukung perang atau Amerika Serikat, dan akhirnya hanya beberapa tim tenaga medis yang dikirim, secara diam-diam. (Sumber: https://english.elpais.com/)
Makam prajurit Divisi Biru Spanyol di Madrid. Hingga kini jejak kelabu Spanyol dalam Perang Dunia II masih jadi sumber perdebatan di Spanyol dan di luar negeri. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Tujuh puluh tahun kemudian kontroversi seputar peran Divisi Biru di pihak Axis tidak juga kunjung padam, setelah terungkap fakta bahwa pemerintah Jerman terus membayar pensiun para tentara Spanyol yang secara sukarela berperang bersama Nazi selama Perang Dunia II itu. Menurut laporan, Berlin masih menghormati perjanjian tahun 1962 yang dibuat dengan Diktator Spanyol Francisco Franco. Sebagai bagian dari perjanjian, Jerman bersedia membayar €100.000 ($109.000) setiap tahunnya dalam bentuk dana pensiun yang diberikan kepada 41 tentara dan kerabat tentara yang secara sukarela berperang di Front Timur antara tahun 1941 dan 1943. Pada tahun 1962, Jerman Barat dan Spanyol sepakat bahwa veteran Divisi Biru yang terluka dalam pertempuran, janda dan anak yatim mereka akan menerima pensiun dari Berlin. Sebagai gantinya, Madrid akan membayar tunjangan kepada veteran Jerman dari Legiun Condor Hitler, yang diketahui pernah melakukan serangan bom pada masyarakat sipil Spanyol dalam Perang Saudara tahun 1937. Anggota parlemen sayap kiri Jerman, Andrej Hunko mengatakan pertanyaan yang dia ajukan selama diskusi parlemen baru-baru memicu pengakuan resmi dari Berlin yang mengungkapkan adanya pembayaran uang pensiun yang masih berlangsung. “Ini adalah skandal bahwa hampir 70 tahun setelah perang berakhir, Jerman terus membayar lebih dari €100.000 per tahun kepada kolaborator Nazi,” Di The Telegraph Hunko menyatakan. “Orang-orang ini secara sukarela bergabung dengan kaum fasis Jerman dalam perang pemusnahan di Eropa Timur dan tidak dapat dipahami bahwa pemerintah Jerman terus melanjutkan pembayaran ini sementara begitu banyak korban perang masih menunggu kompensasi yang sah,” katanya. Pada tahun 1998, undang-undang baru mulai berlaku di Jerman yang menetapkan harus dilakukannya pemeriksaan untuk melihat apakah para veteran telah melanggar hak asasi manusia selama era Nazi. Menurut pernyataan dari pihak pemerintah Jerman, kasus Spanyol juga harus ditinjau menurut undang-undang ini. Sementara itu, Jon Iñarritu, seorang menteri di partai sayap kiri Basque Spanyol, mengatakan kepada surat kabar berbahasa Inggris negara itu ‘The Local’ bahwa pengungkapan itu adalah “aib” yang “melukai para korban fasisme.” Namun, di tengah segala kontroversinya, ada juga yang berpendapat bahwa para personel Divisi Biru tidak harus menanggung penilaian yang sama seperti pasukan Jerman yang terlibat dalam kejahatan perang Nazi. Menurut berbagai sejarawan, termasuk penulis Rusia, Boris Kovalev dan sejarawan Amerika Wayne Bowen, orang-orang Spanyol yang berperang dengan Nazi tidak dianggap sekejam rekan Jerman mereka. Buku terbaru Kovalev, Voluntarios En Una Guerra Ajena (Relawan Dalam Perang Orang Lain), menerbitkan kisah orang-orang Soviet yang berhadapan dengan orang-orang Spanyol dalam konflik tersebut. Beberapa menceritakan kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang Spanyol tetapi, terlepas dari segalanya, Kovalev menulis: “Orang Spanyol jauh lebih manusiawi daripada orang Jerman.” Meski dalam perang kejam seperti di Front Timur saat Perang Dunia II, arti kata “manusiawi” itu tentunya relatif.

Personel Divisi Biru di Front Timur. Pada tahun 2015 sebuah skandal menyeruak saat diketahui bahwa pemerintah Jerman masih rutin membayar uang pensiun bagi ahli waris personel divisi biru. Bagi para penetang, hal ini tidak layak, karena divisi biru adalah simbol kolaborasi orang-orang Spanyol pada rezim fasis Jerman. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Blue Division and the Spaniards Who Fought Against Stalin By Blaine Taylor

The Death of the Spanish Blue Division by Robert Beckhusen, WIB (War Is Boring) HISTORY; December 15, 2017

Germany said to still pay pensions of Spain’s Nazi volunteers By TAMAR PILEGGI; 7 November 2015, 9:24 pm

https://www.google.com/amp/s/www.timesofisrael.com/germany-said-to-still-pay-pensions-of-spains-nazi-volunteers/amp/

Germany pays Spanish volunteers who fought with Nazis By Alyssa McMurtry

https://www.aa.com.tr/en/todays-headlines/germany-pays-spanish-volunteers-who-fought-with-nazis/477162#

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Blue_Divisionhttps://en.m.wikipedia.org/wiki/Agust%C3%ADn_Mu%C3%B1oz_Grandes

Exit mobile version