Browning Automatic Rifle (BAR), senapan otomatis “ringan” legendaris regu infanteri Amerika.

Dalam Perang Dunia 1 (1914-1918), senjata otomatis tingkat regu infanteri baru saja mulai muncul ke permukaan potensinya. Senapan dengan pengisian peluru otomatis ini (dalam artian tidak perlu mengisi peluru satu persatu dan mengokang) muncul potensinya seperti halnya senapan mesin berkemampuan tembak otomatis penuh dan pistol tipe semi otomatis. Dalam upaya untuk memberikan pasukan infantri Amerika dengan senjata berdaya tembak tinggi yang lebih portabel, John Browning kemudian merancang “Browning Automatic Rifle” (“BAR”) yang kemudian diadopsi oleh Angkatan Darat AS sebagai “Model 1918” – atau M1918. Awalnya senjata itu hanya berfungsi sebagai senapan otomatis, yang khusus ditujukan untuk digunakan oleh prajurit infanteri yang menembakkannya dari bahu atau dari pinggul ketika maju ke posisi musuh. Senjata ini juga dimaksudkan untuk menyediakan daya tembak mobile untuk setiap regu, karena senapan mesin standar pada periode itu terlalu berat dan sukar untuk diajak bermanuver. Namun, BAR M1918 sendiri juga terbukti terlalu berat untuk senjata yang ditembakkan dari bahu. Senapan ini bobotnya dua kali lipat lebih berat daripada senapan bolt action Springfield M1903 dan persis dua kali lipat lebih berat dari senapan semi-otomatis M1 Garand. Di sisi lain, senapan ini terlalu ringan untuk dapat dengan mudah dikontrol dalam mode otomatis penuh, terutama saat menembakkan peluru yang kuat dari posisi bahu. Meski demikian, desain klasik ini benar-benar dapat diandalkan dan bertugas dengan baik dalam Kedua Perang Dunia (PD I & II) dan selama beberapa periode Perang Dingin (1947-1991).

Browning Automatic Rifle (BAR), senapan otomatis andalan Amerika yang berumur panjang. (Sumber: Pinterest)

Latar belakang

Perang Dunia I sering disebut “perang senapan mesin” karena penggunaan masif senjata otomatis itu yang punya efek menghancurkan seperti senapan mesin Maxim. Waktu itu juga menandai beberapa perkembangan drastis dalam teknologi senapan mesin. Memang benar bahwa tembakan artileri menewaskan lebih banyak orang daripada senapan mesin, tetapi statistik juga menunjukkan kengerian pasukan Eropa di Front Barat dalam menghadapi tembakan otomatis. Misalnya, hanya dalam satu hari pada tahun 1916 di Pertempuran Somme, Inggris kehilangan 21.000 orang – banyak dari mereka terbunuh oleh senapan mesin Spandau, versi Jerman dari senapan Maxim. Tapi senapan mesin Maxim itu juga dikenal berat. Beratnya kosongnya hampir 60 pon sebelum diisi dengan sabuk amunisi dan air di jaket pendinginnya, dan butuh empat hingga enam orang untuk memindahkan dan mengoperasikannya.

Dalam pertempuran Somme Inggris kehilangan 21.000 orang – banyak dari mereka terbunuh oleh senapan mesin Spandau, versi Jerman dari senapan Maxim. (Sumber: http://panzer.vip.lv/)

Pasukan Prancis dalam Perang Dunia 1 mengapresiasi konsep senjata otomatis di tingkat infanteri dan, ketika Amerika akhirnya berkomitmen untuk terjun dalam perang pada tahun 1917, Prancis menularkan konsep ini kepada sekutunya yang baru tiba, yakni konsep yang dikenal sebagai “Walking Fire”. “Walking Fire” adalah istilah yang diberikan untuk konsep prajurit infanteri reguler yang menggunakan senjata yang mampu menembakkan volume amunisi berjumlah besar kepada musuh dengan menggunakan senapan otomatis. Ketika tipe perang parit meluas digunakan di medan perang di seluruh Eropa pada saat itu, senjata api berdaya tembak tinggi banyak dibutuhkan untuk membersihkan rintangan seperti parit pertahanan musuh yang dipertahankan dengan kuat. Pada tahun 1918 Prancis membuat senjata dengan kriteria semacam itu yang disebut sebagai senapan Chauchat, dinamai menurut kepala desainer senjata Kolonel Louis Chauchat. Chauchat dengan peluru 8 x 51 milimeter itu cukup portabel – beratnya sekitar 20 pound – dan memiliki magazine yang bisa dilepas pasang. Senapan itu bisa menembak dengan mode semi-otomatis (tembakan tunggal) dan full-otomatis, diatas kertas cukup mengesankan…..namun kemudian terbukti sebagai senjata yang payah. Bagian-bagian logamnya yang tipis dan sistem magazine yang terbuka di satu sisi pada desain senapan itu untuk mengurangi biaya pembuatan adalah hasil dari keputusan yang dibuat oleh individu yang tidak mengerti dan mempertimbangkan tentang bagaimana jika kotoran dari parit yang tersumbat lumpur dapat menyebabkan Chauchat sering mengalami malfungsi. Prajurit yang menggunakan Chauchat menyebutnya sebagai senjata “terkutuk dan gampang macet.”

Senapan mesin portable Chauchat (bawah) buatan Prancis terbukti tidak reliable saat digunakan bertempur karena kerap macet. (Sumber: Pinterest)

Pada saat itu, Amerika Serikat telah memutuskan terlibat dalam Perang Dunia I. Masuknya Amerika dalam perang tidak hanya berarti tambahan prajurit bagi sekutu tetapi juga ilmu dan kekuatan industri Amerika – termasuk kemampuan hebat dari John Moses Browning, desainer senjata yang jenius. Salah satu hasilnya adalah Browning Automatic Rifle, salah satu senapan mesin paling berpengaruh dan sering digunakan yang pernah dirancang. “Selama hampir lima puluh tahun, Browning Automatic Rifle, atau BAR yang berdaya hantam besar, dan mobile, bertugas di unit-unit infanteri AS sebagai senjata otomatis tingkat regu yang menyediakan semburan cepat tembakan terkonsentrasi,” tulis sejarawan senjata Robert R. Hodges , Jr., mencatat tercatat bahwa BAR beraksi sejak dari hari-hari terakhir Perang Dunia I hingga Perang Vietnam dan seterusnya.

Saat Amerika masuk gelanggang PD I, John Moses Browning menghadirkan senapan otomatis BAR yang kelak akan berumur panjang hingga era konflik modern seperti Perang Vietnam. (Sumber: Pinterest)

Desain

Browning mulai bekerja untuk mengembangkan senjata otomatis ringan dengan menggunakan sistem yang dioperasikan gas yang mengandalkan piston yang bergerak di dalam dudukan silinder. Perangkat ini dipasang di bawah laras dengan bolt terbuka terdapat pada receiver berbentuk persegi panjang. Tonjolan di bagian atas receiver didorong maju oleh kunci bolt yang ditarik ke atas. Port ekstraksi ditempatkan di sisi kanan receiver seperti biasa. Port Magazine ditempatkan tepat di depan trigger dan senapan menggunakan tipe popor senapan tradisional. Popor dan handguard depan terbuat dari kayu. Magazine berbentuk lurus dalam desain tradisional dan sedikit miring di bagian bawah. Sebuah pembidik besi masing-masing ada di depan dan belakang memungkinkan penembak untuk melontarkan beberapa tembakan akurat pada jarak cukup jauh, pembidik ini disetting untuk penembakan dari jarak 100 hingga 1.500 yard (91-1.372 m). M1918 memang menunjukkan beberapa kekurangan dalam desainnya – M1918 mengandalkan mekanisme internal yang cukup rumit dalam pengoperasiannya yang mengakibatkan proses pembuatannya cukup mahal dan memakan waktu. Namun, disisi lain, hal ini juga menciptakan sebuah senjata yang benar-benar dapat diandalkan dalam kondisi medan perang yang buruk dan praktis tidak gampang rusak pada saat digunakan.

Detail part senapan otomatis BAR (Sumber: http://don.genemcguire.com/)

Senjata itu dirancang, dikembangkan, dan diujicobakan dalam waktu singkat. Pada model awal terdapat mode selektor yang memungkinkan operator untuk memilih tipe tembakan tunggal (semi-otomatis) atau otomatis penuh. Pada akhirnya, fitur ini dihapus dan digantikan dengan selektor kecepatan tembakan yang dapat diatur antara 350 atau 550 peluru per menit. John Browning merancang senapan mesin ringan ini untuk dapat menembakkan peluru kaliber .30-06 yang tangguh, amunisi yang sama dengan yang digunakan oleh tentara AS pada senapan M1903 Springfield bolt-action. “Ringan” disini tidak berarti ringan secara bobot – senjata dengan magazine kotak 20-peluru (belakangan muncul versi anti pesawat dengan magazine 40 peluru, yang kemudian ditarik dari peredaran tahun 1927) ini memiliki berat lebih dari 20 pound – tetapi jika dibandingkan dengan Chauchat, senjata ini semacam “anugerah dari sorga”. BAR pada akhirnya memang tidak pernah memenuhi harapan Browning tetapi senapan itu tetap merupakan senjata yang efektif. Senapan ini menjadi senjata “tweener”: senapan ini tidak dapat dianggap sebagai senapan mesin ringan karena kotak pelurunya terbatas menampung 20-peluru (sehingga harus sering diisi ulang) dan sukar dikontrol saat digunakan dengan mode menembak otomatis penuh serta senjata ini tidak bisa dianggap sebagai battle rifle sejati karena bobotnya yang cukup berat untuk digunakan sebagai senapan infanteri dan kurang akurat karena getaran yang dihasilkan. BAR menjadi standar Light Machine Gun (LMG) pasukan infanteri Amerika pada saat Perang Dunia 2 (1939-1945). Unit marinir juga menggunakan senjata ini tetapi dengan tipe single-shot seperti versi aslinya dan mengembalikan selektor penembakan ke mode tembakan tunggal/otomatis penuh. Senjata ini memiliki masa pakai panjang di militer Amerika karena secara resmi belum pensiun dari garis depan sampai akhir tahun 1950-an. BAR juga digunakan oleh elemen Home Guard Inggris selama Perang Dunia 2. Di luar masa dua Perang Dunia, M1918 juga digunakan secara luas dalam Perang Korea (1950-1953) dan Perang Vietnam (1955-1975).

Magazine klasik BAR yang berkapasitas 20 peluru. (Sumber: https://www.gunsinternational.com/)
Browning BAR dengan kotak magazine 40 peluru yang kemudian dipensiunkan pada tahun 1927. (Sumber: Reddit)

Model asli adalah M1918 tidak memiliki bipod. Dudukan tali senapan dipasang pada pegangan laras dan ujung popor. M1922 adalah upaya besar pertama dalam meningkatkan senapan M1918. Tipe ini menampilkan laras berulir di bagian luar. Model ini hanya sedikit dibuat dan digunakan terbatas dengan pasukan AD AS. Pada tahun 1931, versi untuk penjaga penjara/penegakan hukum dipasarkan oleh Colt sebagai “Colt Monitoring Automatic Machine Rifle (R80)”. Versi ini tidak memiliki bipod dan memiliki pegangan model pistol khusus. M1918A1 versi tahun 1937 menampilkan buttplate ganda yang berfungsi penyangga bahu. Sebuah bipod berengsel (dengan ujung runcing) sekarang ditambahkan pada tabung gas di depan pegangan kayu. M1918A2 versi tahun 1938 memiliki pelat logam forend yang diperpendek dan plat metal internal untuk menjaga pegas recoil dari panas yang berlebih dan kemungkinan berubah bentuk/patah. Bipod juga direvisi dengan memiliki ujung skid dan monopod opsional. Salah satu perubahan utama pada tipe ini adalah perpindah dari penembakan mode single shot ke otomatis penuh pada tipe M1918A2. Selain selector yang dimodifikasi, M1918A2, diperkenalkan ke Angkatan Darat AS pada tahun 1940, dilengkapi dengan pegas penyangga di popor (mirip yang diterapkan juga pada Bren), yang sangat mengurangi efek hentakan (recoil), dan bipod lipat seberat 21⁄2 pon. Bipod itu mudah dilepas, dan sebagian besar GI melepasnya, menganggapnya sebagai penghalang kecuali mereka berada dalam posisi bertahan yang tetap. Sebuah flash suppressor dipasang ke M1918A2 — tidak untuk menyembunyikan kilatan cahaya penembakan dari musuh, tetapi untuk melindungi mata penembak dan memastikan ia tidak kehilangan penglihatan di malam hari. Sebagai tambahan terakhir, A2 dapat membawa empat jenis peluru: peluru M2 150-grain dengan muatan 50-grain (150/50); peluru pelacak M25M1, digunakan untuk mengidentifikasi target dan untuk pensinyalan; M2 165/53 penembus baja, diidentifikasi dengan ujungnya yang berwarna hitam, untuk digunakan melawan halftracks ringan atau mobil lapis baja; dan penembus baja pembakar, untuk digunakan melawan target kendaraan lapis baja ringan yang mudah terbakar. Dalam semua aspek, BAR baru sedikit lebih unggul dari versi lamanya, meskipun Korps Marinir AS, yang mengorganisir 13-regu pasukannya menjadi tiga tim penembak, masing-masing dilengkapi dengan sebuah Browning BAR, mereka lebih suka mode semi otomatis di banyak situasi taktis dan kemudian memodifikasi model M1918A2 milik mereka. Sebagai senjata pendukung, BAR tidak dilengkapi dengan dudukan untuk pemasangan bayonet.

BAR M1918A2, versi standar pada era Perang Dunia II. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Tipe Amunisi BAR M1918 (Sumber: https://www.nicolausassociates.com/)

Varian BAR dibuat oleh Colt, Winchester dan Marlin Rockwell Corporation, sejumlah 85.000 BAR dibuat saat Gencatan Senjata disetujui pada bulan November 1918. Colt sendiri akhirnya membuat lima model yang berbeda. M1918 memperoleh penjualan ekspor yang cukup besar (lebih dari 300.000 dibuat dari tahun 1917 hingga 1945) yang terus digunakan hingga tahun 1970-an. Operator senapan ini mulai dari Argentina, Austria hingga Turki dan Uruguay dengan digunakan dalam konflik yang meliputi Perang Sino-Jepang Kedua, Perang Sipil Tiongkok, Perang Sipil Palestina, Perang Indocina Pertama, Invasi Teluk Babi, Perang Sipil Kamboja dan Invasi Turki ke Siprus. Model ekspor termasuk Model senapan mesin otomatis 1919 (Model U), Model 1924 dan bentuk Model 1925 (R75) yang ditingkatkan. Belgia mengadopsi senjata tersebut sebagai FN Mle 1930 dan juga versi FN Mle D. Model Polandia adalah Browning wz. 1928 dan Karabin Maszynowy Obserwatora wz. 37. Versi Swedia termasuk Kg m/21, Kg m/37 dan Kg m/21-37.

Prinsip kerja dan doktrin pengoperasian

Untuk memuat peluru pada BAR, penembaknya harus memutar tuas selector kembali ke posisi “S” (mode aman) dan mendorong magazine peluru ke magazine port sampai tuas penahan mengunci magazine ke rumahannya. Kemudian kokang senjata, meskipun peluru akan tetap ada di magazine sampai pelatuk ditarik, di mana pada saat itu, dalam gerak maju bolt akan mendorong peluru masuk ke ruang peluru. Penembak kemudian dapat mengatur tuas selector di sebelah kiri, di atas rumahan pelatuk, dari posisi S ke “F” untuk tembakan tunggal mode semi otomatis atau “A” untuk mode operasi penembakan otomatis penuh. Lokasi tuas cocking yang berdekatan membuat si penembak tidak harus melepaskan jarinya dari pelatuk ketika melakukan pengokangan. Banyak versi yang muncul belakangan dengan tali penyangga bahu, penahan bahu pada popor, memungkinkan BAR untuk dibawa dan ditembakkan dari pinggul dengan lebih mudah.

Tuas selektor penembakan pada BAR: S (Safe), F (Semi Otomatis) dan A (Full Otomatis). (Sumber: https://www.forgottenweapons.com/)
Pembidik belakan BAR yang dapat disetting untuk jarak 100 hingga 1.500 yard (91-1.372 m). (Sumber: https://www.militaryfactory.com/)

Ketika Browning ditembakkan, gas dari peluru yang ditembakkan diarahkan melalui port atau regulator ke silinder di bawah laras, yang berisi piston yang terhubung ke slide. Tekanan gas residual ini mendorong slide ke belakang, membantu pengokangan senjata. Dalam mode semi otomatis, piston ditangkap dan ditahan dengan mekanisme khusus sehingga pelatuk perlu ditekan lagi untuk menembak. Mengubah tuas ke mode otomatis penuh melepaskan perangkat penahan itu, sehingga memungkinkan senjata tetap menembak selama pelatuk tetap tertekan dan peluru masih tersedia di magazine. Sangat penting untuk memastikan bahwa gas yang menggerakkan piston memasuki silinder pada tekanan yang tepat, tetapi setelah sejumlah peluru ditembakkan, residu bubuk mesiu mulai menumpuk di port gas, yang pada akibatnya akan mengurangi jumlah gas yang memasuki port, bisa menyebabkan kegagalan pengeluaran selongsong peluru dan pengokangan. Dengan maksud untuk mengatasi masalah ini, BAR dilengkapi dengan tiga jenis regulator port gas, sehingga jika senjata gagal untuk mengeluarkan selongsong peluru, penembak dapat secara manual membuang selongsong peluru dan memindahkan regulator gas ke bukaan terbesar berikutnya. Namun, kehati-hatian harus dilakukan pada mekanisme ini, terutama pada saat mengatur ulang regulator kembali ke bukaan terkecil setelah pembersihan — jika tidak, menembakkan Browning yang baru diservis menimbulkan begitu banyak hentakan sehingga senapan menjadi tidak terkendali saat ditembakkan.

Adjustment pada port silinder gas senapan otomatis BAR. (Sumber: http://www.90thidpg.us/)

Pengembangan senapan mesin pada masa jeda perang dunia di Amerika Serikat, sebagian besar terbatas pada senjata yang lebih besar, seperti senapan mesin Browning kaliber .50 dan .30. Pada saat Jepang menyerang Pearl Harbor pada 7 Desember 1941, personel infanteri Angkatan Darat AS disusun dalam regu senapan berjumlah sembilan orang yang dengan satu penembak BAR. Waktu itu BAR yang digunakan juga telah sedikit berubah, tipe M1918A2 tidak lagi memiliki selektor untuk penembakan semiotomatis, selektor terbagi dalam dua posisi sekarang, yakni yang lambat (300-450 peluru per menit) atau cepat (500-650 rpm). Sangat menarik untuk dicatat bahwa manual lapangan asli untuk M1918A1 BAR menyatakan, “Senapan otomatis Browning terutama dimaksudkan untuk digunakan untuk memberikan tembakan tunggal yang cepat dan akurat,” dan, “Karena sulitnya mengendalikan senapan ketika ditembakkan terus menerus, rentetan panjang hanya boleh ditembakkan dalam keadaan darurat pada sasaran tertentu, dan hanya maksimal tiga hingga lima peluru. “

Pada versi BAR M1918A2, fitur semi otomatis dihapuskan dengan selektor yang terbagi dalam dua posisi sekarang, yakni yang lambat (300-450 peluru per menit) atau cepat (500-650 rpm), kecuali yang digunakan oleh Marinir Amerika yang tetap mempertahankan fitur penembakan semi otomatis. (Sumber: http://www.historic-firearms.com/)

Meskipun memiliki banyak kualitas bagus, BAR masih memiliki ketertinggalan dengan semua senapan mesin ringan berpendingin udara lainnya yang beredar saat itu. Ketika laras mulai terlalu panas setelah penembakan yang berkelanjutan, akurasi akan turun. Para pakar Jerman mengatasi masalah itu dengan menggunakan senapan mesin ringan MG34 yang larasnya dapat cepat diganti. Problem BAR ini menyebabkannya memiliki kelemahan dibanding dengan beberapa senjata otomatis ringan buatan Eropa lainnya seperti Bren, Degtyarov DP-27, dan Madsen dari Denmark yang bisa diganti larasnya. Hal ini merupakan salah satu alasan utama untuk segera melakukan penggantian BAR setelah Perang Korea.

Senapan mesin ringan DP-27 buatan Soviet di tangan tentara merah keturunan Mongolia. (Sumber: Pinterest)
Senapan mesin ringan Bren buatan Inggris dengan kemampuan penggantian laras cepat. Ketiadaan fitur semacam ini membuat BAR harus segera dicarikan pengganti setelah Perang Korea usai. (Sumber: https://nationalinterest.org/)
Operator BAR dalam film Band Of Brothers. Penembak BAR memiliki peran pendukung tembakan utama bagi regu infanteri Amerika dalam Perang Dunia II. (Sumber: https://intscalemodeller.com/)

Pada mulanya doktrin taktis awal Angkatan Darat AS menentukan hanya ada satu unit M1918A2 per regu infanteri, dengan beberapa personel lainnya untuk mendukung dan membawa amunisi tambahan untuk senapan itu. Taktik menembak dan bergerak infanteri Amerika berpusat pada senapan standar M1 yang dibawa personel lain dalam satu regu, sementara penembak BAR memberi dukungan tembakan otomatis kepada para penembak senapan M1 lainnnya yang bermanuver terhadap posisi lawan. Doktrin ini menghadapi masalah di awal keterlibatan pasukan darat AS saat menghadapi pasukan Jerman, yanf dipersenjatai dengan senjata otomatis, termasuk senapan mesin portabel yang dapat menembakkan dengan cepat. Dalam beberapa kasus, terutama dalam serangan itu, seorang prajurit infanteri dari tiap 4 prajurit Jerman dilengkapi dengan senjata otomatis, baik SMG atau senapan mesin. Dalam upaya untuk mengatasi kemampuan tembakan terus menerus yang terbatas dari BAR, divisi Angkatan Darat AS kemudian mulai menetapkan dua tim penembak BAR per regu, mengikuti praktik Korps Marinir AS. Satu tim biasanya akan memberikan tembakan perlindungan menghabiskan satu magazine peluru, dimana tim kedua akan melepaskan tembakan, sehingga memungkinkan tim pertama untuk melakukan pengisian ulang. Di Pasifik, penembak BAR sering digunakan pada bagian depan atau belakang patroli atau barisan pasukan infanteri, di mana daya tembaknya dapat membantu menghentikan tekanan tembakan musuh di hutan jika terjadi penyergapan. Setelah pengalaman tempur mereka menunjukkan manfaat memaksimalkan senjata otomatis portabel ini dalam formasi ukuran regu, Korps Marinir AS mulai meningkatkan jumlah BAR di divisi tempurnya, dari 513 per divisi pada 1943 menjadi 867 per divisi pada 1945. Skuad yang terdiri atas tiga belas orang dikembangkan, yang terdiri dari 3 regu tembak beranggotakan empat orang, dengan satu BAR per regu tembak, atau tiga BAR per regu. Alih-alih mendukung senapan M1 dalam serangan itu, doktrin taktis marinir difokuskan di sekitar BAR, dengan penembak senapan yang mendukung dan melindungi penembak BAR.

Varian / Model Utama

Browning BAR memiliki beberapa varian utama, sebagai berikut:

  • M1918 – Debut pada tahun 1917; varian dasar BAR dengan sistem smooth tapered barrel system; swivel stock; dan tipe sans bipod. Varian ini menyediakan pilihan penembakan semi otomatis dan otomatis penuh.
  • M1922 – Senjata ini diadopsi oleh unit kavaleri tahun 1922 dimaksudkan sebagai sebagai senapan mesin ringan menggunakan laras tipe ribbed profile berat yang baru, bipod dengan ujung lancip yang bisa disetel (dipasang pada selubung laras) dengan monopod yang dipasang di belakang popor, tali gantungan yang dipasang di samping dan dekat popor, dipasang pada penahan lengan pada popor. Pegangan tangan diubah, dan pada tahun 1926, BAR dirancang ulang untuk mengakomodasi peluru berat 172-grain M1 .30-06 yang kemudian mulai digunakan senapan mesin.
  • Monitor Automatic Machine Rifle (R 80), versi ini dimaksudkan terutama untuk digunakan oleh penjaga penjara dan lembaga penegak hukum untuk digunakan sebagai senapan otomatis yang bisa ditembakkan dari bahu, Monitor menghilangkan bipod, sebagai gantinya menampilkan pegangan pistol dan popor yang dipasang pada receiver yang ringan, bersama dengan laras yang pendek, 458 mm (18,0 in), yang dilengkapi dengan kompensator 4- inci (100 mm). Dengan bobot kosong 16 lb 3 oz (7,34 kg), Monitor memiliki kecepatan tembak sekitar 500 rpm. Sekitar 125 unit pernah diproduksi; 90 dibeli oleh FBI. Sebelas lainnya digunakan oleh Departemen Keuangan AS pada tahun 1934, sedangkan sisanya digunakan di berbagai penjara negara, bank, perusahaan keamanan dan departemen kepolisian yang terakreditasi. Meskipun tersedia untuk penjualan ekspor, tampaknya tidak ada unit yang diekspor.
  • M1918A1 – Disetujui untuk dibuat pada 24 Juni 1937; terdapat tambahan pelat penyangga bahu; perakitan bipod berengsel; peningkatan bobot keseluruhan menjadi 18,3 lbs; fitting bipod spike; mode penembakan tunggal dan otomatis otomatis penuh. Hanya sedikit M1918 yang diupgrade ke tipe M1918A1.
  • M1918A2 – Debut pada tahun 1940; dilengkapi dengan bipod dengan ujung versi skid; hanya tersedia pilihan tembakan otomatis yang disesuaikan menurut kecepatan tembaknya; terdapat pegangan yang bisa dimasukkan; pembidik belakang yang bisa disesuaikan.
  • FN Mle 1930, pada dasarnya versi berlisensi dari senapan mesin otomatis Colt, Model 1925 (R75). Mle 1930 memiliki katup gas yang berbeda dan mekanisme mekanisme pengendalian laju penembakan yang dirancang oleh Dieudonne Saive, yang terletak di rumahan pemicu-pistol grip. Beberapa mekanisme peredam dari FN ini kemudian dibeli oleh Springfield Armory untuk evaluasi dan kemungkinan diadopsi pada pengganti M1918. Senjata itu juga memiliki pelat bahu berengsel dan diadaptasi untuk digunakan pada dudukan tripod. Pada tahun 1932 Belgia mengadopsi versi baru FN Mle 1930 yang diberi kode FN Mle D (D-demontable atau “removable”), yang memiliki laras cepat-ganti, sandaran bahu dan metode take-down yang disederhanakan untuk memudahkan pembersihan dan pemeliharaan. Mle D diproduksi bahkan setelah Perang Dunia II berakhir dalam versi yang disesuaikan untuk peluru kaliber .30-06 Springfield (untuk militer Belgia) dan amunisi kaliber 7.92 Mauser (untuk militer Mesir). Varian terakhir untuk militer Belgia adalah Model DA1 yang dilengkapi dengan peluru 7,62 × 51mm NATO yang dimuat dalam magazine 20-peluru yang biasa digunakan untuk senapan FN FAL.
  • Browning vz. 1928 – Merupakan tipe M1918 yang diproduksi Polandia menggunakan peluru 7.92 × 57mm Mauser, yang mirip dengan varian R75 tetapi dirancang khusus untuk memenuhi persyaratan tentara Polandia. Perubahan pada desain dasar termasuk pegangan pistol, tipe bipod yang berbeda, tipe pembidik belakang V-notch terbuka dan laras yang sedikit lebih panjang. Senapan ini diproduksi di Polandia di bawah lisensi oleh pabrik senapan negara (Państwowa Fabryka Karabinów) di Warsawa. Wz. 1928 mulai diterima oleh tentara Polandia pada tahun 1927 dengan nama resmi 7,92 mm rkm Browning wz. 1928 dan — hingga pecahnya Perang Dunia II — adalah merupakan senjata pendukung ringan utama dari formasi infantri dan kavaleri Polandia (pada tahun 1939 Polandia memiliki total sekitar 20.000 wz. 1928). Modifikasi detail tambahan yang diperkenalkan di antaranya adalah penggantian pembidik besi dengan versi yang lebih kecil dan penggantian popor menjadi berbentuk seperti ekor ikan.
  • IMG 28 (hal) – Kode Nazi Jerman untuk Browning wz. 1928 Polandia yang dirampas.
Varian Standar BAR M1918 (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
BAR M1922 untuk pasukan Kavaleri. (Sumber: https://www.historicalfirearms.info/)
Monitor Automatic Machine Rifle/R 80 (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
BAR FN model D (Sumber: https://www.forgottenweapons.com/)
Partisan Polandia dengan BAR M1918 versi Polandia (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Penggunaan di medan perang

Pada Juli 1918, senjata baru ini tiba di Prancis dan dengan cepat sampai ke tangan prajurit Divisi Infanteri ke-79 Angkatan Darat AS. Disebut sebagai “Rifle, Calibre .30, Automatic, Browning, M1918,” salah satu orang yang menerima senjata adalah Letnan Dua Val Browning, putra dari perancang senapan baru itu. Dia dengan cepat memanfaatkannya dengan baik. Browning dan orang-orang di bawah komandonya maju ke posisi Jerman, menembakkan M1918 yang mereka bawa dengan efek menghancurkan dengan keandalan yang lengkap. Seorang pejabat Departemen Perang mengomentari penggunaan BAR mengatakan, “Senapan itu sangat dipuji oleh perwira dan orang-orang kami yang harus menggunakannya. Meskipun senjata ini digunakan dalam medan yang berat, berada di garis depan selama berhari-hari pada saat hujan dan ketika para operator penembaknya memiliki sedikit kesempatan untuk membersihkannya, mereka selalu berfungsi dengan baik. ” Segera, para tentara Prancis juga mulai menukar Chauchat-nya dengan BAR. Dua hal yang menonjol tentang BAR adalah bahwa ia mewakili kemajuan besar dalam sistem senjata pasukan infanteri ketika pertama kali muncul pada tahun 1918, dan keandalannya – senapan itu bekerja ketika dibutuhkan, ”kata John C. Nystrom, mantan polisi dan petugas Kepolisian Negara Bagian Indiana. pelatih senjata api yang menjadi penasihat polisi Irak dan Afghanistan. “BAR memberi regu infanteri senjata otomatis yang bisa dibawa ke mana pun seorang pria bisa membawanya.” Meski demikian, BAR hanya sedikit beraksi di Prancis selama Perang Dunia I, dan baru mulai digunakam pada September 1918, kurang dari tiga bulan sebelum Gencatan Senjata. Penundaan ini kabarnya disengaja oleh Jenderal Pershing, A.E.F. Komandan, karena tidak ingin membiarkan BAR jatuh ke tangan musuh terlalu dini. Lima puluh dua ribu BAR tersedia pada bulan November 1918 dan mereka mungkin akan digunakan dalam jumlah yang jauh lebih besar jika perang itu berlangsung hingga tahun 1919.

Letnan Dua Val Browning dengan senjata otomatis buatan ayahnya, John Moses Browning. (Sumber: http://www.historic-firearms.com/)

Pada masa jeda perang, BAR juga digunakan oleh unit Korps Marinir AS yang berpartisipasi dalam intervensi di Haiti dan Nikaragua, serta dengan personil kapal Angkatan Laut AS yang bertugas di kapal patroli dan kapal bersenjata di sepanjang Sungai Yangtze di Cina. Brigade Marinir Pertama yang ditempatkan di Port-au-Prince, Haiti, mencatat bahwa melatih seorang pria untuk menggunakan BAR dengan mahir memerlukan waktu dua hari latihan penuh dan instruksi, dibandingkan dengan setengah hari dengan Submachine gun Thompson kaliber .45. Di Eropa selama Perang Dunia II, doktrin taktis yang digunakan adalah menggunakan satu BAR type M1918A2 yang diperbarui per regu. Doktrin ini kemudian menjadi tidak relevan ketika dalam banyak kasus G.I memohon, meminjam, atau mencuri BAR tambahan untuk menambah firepower di hadapan pasukan Jerman yang membawa lebih banyak senapan mesin portabel. Ketika mendekati pecahnya Perang Dunia II, Militer AS terlambat menyadari bahwa mereka tidak memiliki senapan mesin ringan portabel, dan berusaha untuk mengubah BAR M1918 ke peran itu dengan diadopsi M1918A2 oleh Angkatan Darat AS pada 30 Juni 1938. BAR menjadi satu-satunya penyokong tembakan otomatis untuk regu dua belas orang, dan semua orang dilatih di tingkat dasar mengenai cara mengoperasikan dan menembakkan senjata ini jika operator BAR yang ditunjuk tewas atau terluka. Pada awal perang, kompi-kompi infantri memiliki tim BAR yang terdiri dari 3 personel yakni, seorang penembak, seorang asisten penembak, dan seorang pembawa amunisi yang membawa magazine tambahan untuk senjata itu. Pada tahun 1944, beberapa unit menggunakan tim BAR satu orang, dengan riflemen lainnya dalam pasukan membantu membawa magazine BAR tambahan atau bandolier amunisi kaliber .30 tambahan. Di Pasifik, BAR adalah salah satu senjata utama Marinir yang menggunakannya dalam peperangan hutan dan selama kampanye “island hopping”. Di kedua teater (Eropa dan Pasifik), salah satu kegunaan BAR yang menarik adalah sebagai senjata anti-sniper. Setelah pasukan mengidentifikasi posisi penembak jitu, seorang penembak dengan BAR dapat menembaki “persembunyian” sniper tersebut dengan tembakan otomatis lebih tepat dan cepat daripada senapan mesin atau senapan mesin ringan. Salah satu kegunaan BAR lain yang paling tidak biasa adalah sebagai senjata defensif anti pesawat. Pada tahun 1944, Kapten Wally A. Gayda, dari Komando Transportasi Udara USAAF, dilaporkan menggunakan BAR untuk membalas tembakan terhadap sebuah pesawat pemburu Nakajima Angkatan Darat Jepang yang telah menyerang pesawat kargo C-46 nya di atas jalur “The Hump” di Burma. Gayda menembakkan BAR keluar dari jendela kabin pesawatnya, mengosongkan sebuah magazine dan tampaknya berhasil membunuh pilot Jepang itu.

Operator penembak BAR tidak bisa dikatakan membawa beban yang ringan, selain sistem senjata BAR nya yang punya bobot hampi 9 kg, mereka juga harus membawa kotak amunisi cadangan. (Sumber: http://www.historic-firearms.com/)
Richard Reiben, Operator BAR paling ikonik dalam film Perang Dunia II (Sumber: Internet Movie Database)

Pada pagi hari tanggal 6 Juni 1944, sebuah detasemen yang terdiri dari 200 personel Rangers Angkatan Darat AS mendekati pantai Normandia dan bersiap untuk melaksanakan misi yang gila yaitu mendaki tebing tegak lurus di belakang pantai dan kemudian membungkam baterai meriam 155mm yang terletak dalam serangkaian bunker beton bertulang besar di atas Pointe du Hoc. Dilengkapi dengan berbagai senjata yang tidak lebih berat daripada mortir dan senapan Browning Automatic Rifles, atau BAR, mereka berhasil berjuang sampai ke puncak, hanya untuk menemukan tiang telegraf menggantikan merian, yang telah dilepas tetapi kemudian ditemukan agak jauh di belakang. Tidak terpengaruh, para Rangers terus melanjutkan ke tujuan kedua mereka, yaitu jalan antara Grandcamp-Maisy dan Vierville-sur-Mer, di mana Sersan William “L-Rod” Petty tiba-tiba menemukan dirinya berhadapan muka dengan muka — secara harfiah — dengan dua orang Jerman yang telah melompat keluar dari lubang perlindungan mereka yang dalam. Petty berdiri tepat di atas mereka, tetapi sersan itu langsung menjatuhkan diri ke tanah, menembakkan BAR-nya dengan gencar seperti orang gila. Peluru kaliber 30.06 mendesing tanpa membahayakan kedua tentara Jerman, tetapi raungan suara BAR yang keras begitu membuat mereka takut sehingga mereka menjatuhkan senjata dan mengangkat tangan mereka, yang mendorong seorang teman Petty, berjalan di belakangnya, untuk berkomentar datar, “Sial, L-Rod , itu cara yang baik untuk menghemat amunisi — hanya cukup menakuti mereka sampai mati. ”

Ilustrasi penembak BAR dalam penyerbuan di tebing Pointe Du Hoc, 6 Juni 1944. (Sumber: https://misternizz.wordpress.com/)

BAR jauh lebih dari sekadar senjata psikologis untuk para GI Amerika selama Perang Dunia II. BAR dirancang dengan baik, dibuat dengan baik, dapat diandalkan, dan mudah digunakan. Mereka dapat dibongkar di lapangan tanpa menggunakan alat, dan punya desain senjata yang sederhana dan toleransi penggunaan yang cukup rendah berarti bahwa debu tidak pernah memberi masalah pada operator BAR seperti masalah yang dialami oleh MG34 Jerman, terlepas dari sistem pengisian dengan model sabuk yang superior dan Mekanisme recoilnya yang canggih. Pesaing BAR lainnya, mungkin hanya senapan Bren Inggris yang lebih unggul. Senapan itu sedikit lebih ringan dan disukai banyak orang karena akurasinya yang lebih besar ketika digunakan dalam mode semi otomatis. Browning Automatic Rifles masuk dalam kategori senapan mesin ringan, meskipun mengingat bahwa sebuah BAR bisa berbobot 40 pound saat dilengkapi dengan 12 magazine penuh, tidak banyak prajurit yang dikirim ke Normandia dan Rhineland mungkin akan setuju dengan deskripsi itu. Mungkin sebutan yang lebih tepat adalah “portabel,” karena sebagian besar pendahulu BAR membutuhkan sebanyak empat orang untuk mengoperasikannya.

BAR memang tidak memiliki fitur penggantian laras cepat dan daya tembak sebesar MG-34 (gambar atas) namun BAR jelas lebih portable. (Sumber: http://alifrafikkhan.blogspot.com/)

Tidak seperti Perang Dunia I, Perang Dunia II didominasi oleh perang mobilitas, dan teknik pertempuran Amerika cocok dengan Browning BAR yang sangat mobile. Di Pearl Harbor, BAR digunakan sebagai senjata anti-pesawat terbang dadakan saat pengebom tukik Jepang menyerbu pada 7 Desember 1941. Mereka juga memberikan dukungan infantri dalam pertempuran dalam lingkungan “hedgerow” yang ganas yang menjadi ciri sebagian besar kampanye militer di Normandia. BAR-lah, paling tidak sebagian, dengan keandalan tempur dan laju tembakan yang tinggi, telah menyelamatkan para prajurit dan NCO unit-unit seperti peleton Letnan Lyle Boucks. Pada 16 Desember 1944, anggota intelijen dan peleton pengintaian Resimen ke-394, Divisi ke-99, menemukan diri mereka di Ardennes, di sebuah kota kecil bernama Lanzerath, ketika Pertempuran Bulge berubah menjadi kampanye militer secara penuh. Menghadapi beberapa barisan Jerman dan dengan perintah untuk “menahan dengan segala cara,” tentara Jerman? Bouck mendorong 18 anak buahnya masuk ke lubang perlindungan di tepi desa dan bersiap untuk menyergap Jerman, dengan menugaskan satuan BAR-nya ke posisi depan untuk memaksimalkan daya tembak mereka. Sayangnya untuk Amerika, lokasi penyergapan mereka diketahui tentara Jerman dan Bouck serta orang-orangnya segera menemukan diri mereka dalam baku tembak melawan musuh yang jauh lebih besar. Prajurit William James, menembakkan BAR-nya pada apa yang dia sebut sebagai “anak-anak yang tinggi dan tampan,” (tentara Jerman) saat mengingat apa yang dia rasakan ketika dia membunuhi mereka. “Siapa pun yang memerintahkan serangan itu pasti dalam kondisi panik,” katanya. “Tidak ada orang waras yang akan mengirim pasukan ke tempat seperti ini tanpa dukungan tembakan.” Akhirnya, amunisi untuk BAR dan senapan mesin mereka habis, dan Bouck dan yang tersisa dari orang-orangnya menyerah. Bouck merayakan hari ulang tahunnya yang ke-21 pada 17 Desember, berbaring di tandu di rumah sakit lapangan.

Letnan Lyle Boucks dan penembak BAR nya berhasil menewaskan banyak tentara Jerman pada hari pertama Pertempuran Bulge, Desember 1944. (Sumber: Pinterest)

BAR terbukti bermanfaat di teater Pasifik juga. Di Bukit 700, Bougainville, orang-orang dari Batalion ke-2, Infanteri ke-145, terjebak di tempat mereka berdiri, tanpa harapan kewalahan oleh banyaknya jumlah tentara Jepang yang mereka hadapi. Sersan yang memimpin pos pengawasan mortir depan Kompi E diperingatkan oleh suara beberapa tentara Jepang yang memotong pagar kawat keempat dan terakhir yang melindungi pillbox pertahanan mereka. Mereka sebenarnya meletakkan torpedo Bangalore di bawah kawat, ketika sersan yang tidak disebutkan namanya itu melepaskan tembakan dengan Browning BAR-nya, meninggalkan delapan orang Jepang tewas tergantung di kawat. Tidak terpengaruh oleh kedatangan tentara Jepang berikutnya, sersan itu menahan serbuan mereka dengan BAR, sambil memanggil tembakan rentetan mortir 60mm yang sangat akurat, yang dengan tenang dia pandu di sekitar kawat sebelum menghindar masuk kembali ke dalam pillbox. Di sana ia menghabiskan sisa malam itu, menembaki para penyerang yang tidak beruntung dengan mortir 60mm, yang ia arahkan di sekitar posisinya, memastikan keselamatan dirinya dan orang-orangnya.

Di medan Pasifik saat Perang Dunia II, doktrin marinir menjadikan operator BAR (prajurit di sebelah kanan) sebagai pusat serangan yang dilindungi oleh penembak senapan lain dalam regu-regu infanterinya. (Sumber: Reddit)

Dalam Perang Korea sejarawan SLA Marshall mencatat bahwa sebagian besar responden memuji BAR dan kegunaan tembakan otomatis senjata ini baik di siang dan malam hari. Dalam otobiografinya Kolonel David Hackworth memuji BAR sebagai ‘senjata terbaik dalam Perang Korea’. Seorang penembak BAR dalam Perang Korea biasanya membawa bandolier dua belas magazine dan kantong suspender tempur, dengan tiga atau empat magazine tambahan di dalamnya. Tempat minum tambahan, pistol kaliber .45, granat, dan rompi antipeluru yang kemudian menambah bobot lebih berat. Seperti dalam Perang Dunia II, banyak penembak BAR membuang bipod senapan yang berat dan perlengkapan lainnya yang dinilai tidak dibutuhkan dari M1918A2 yang mereka gunakan, tetapi tidak seperti konflik sebelumnya, flash hider umumnya tetap dipertahankan karena kegunaannya dalam pertempuran malam. Dalam pertempuran, M1918A2 sering menentukan hasil dari serangan pasukan komunis Korea Utara dan Tiongkok. Doktrin taktis komunis berpusat pada mortir dan senapan mesin, dengan serangan yang dirancang untuk mengepung dan memotong pasukan PBB dari pasokan dan bala bantuan yang kemudian dikirim. Tim senapan mesin komunis adalah orang-orang yang paling terlatih dalam unit infanteri Korea Utara atau Cina mana pun, yang terampil menempatkan senjata mereka yang sangat dikamuflase dan dilindungi serta menempatkannya sedekat mungkin dengan posisi pasukan PBB. Setelah disembunyikan, mereka sering mengejutkan pasukan PBB dengan melepaskan tembakan pada jarak yang sangat pendek dan akurat. Dalam kondisi seperti ini, sering kali mustahil bagi kru senapan mesin AS untuk memindahkan senapan mesin Browning M1919A4 dan M1919A6 sebagai respons tembakan tim senapan mesin komunis tanpa menimbulkan korban besar ketika mereka mampu melakukannya, posisi mereka dengan rinci telah dicatat oleh musuh, yang kemudian sering membunuh kru senapan mesin dengan mortir atau tembakan senapan mesin ketika mereka masih menggunakan senjata mereka. Untuk mengatasi ini, penembak BAR, kemudian dengan sembunyi-sembunyi akan mendekati posisi senjata musuh sendirian untuk mengeliminasi ancaman mereka.

Tim Senapan mesin China dalam Perang Korea menggunakan senapan mesin Browning M1917 buatan Amerika. (Sumber: http://koreanhistory.info/)
Penembak BAR berlindung di balik Tank dalam Perang Korea. Di Korea, operator BAR kadang bertugas sebagai kontra tim senapan mesin pihak Korea Utara dan China. (Sumber: http://www.historic-firearms.com/)

M1918A2 digunakan pada tahap awal Perang Vietnam, ketika AS mengirimkan sejumlah senjata ringan “usang” kepada Angkatan Darat Vietnam Selatan dan sekutu terkait, termasuk suku Montagnard di Vietnam Selatan. Para Penasihat Pasukan Khusus AS sering memilih BAR daripada senjata infanteri yang tersedia saat itu. Seperti yang dikatakan oleh seorang sersan Pasukan Khusus, “Sering kali dalam tiga masa tugas saya di Vietnam, saya berterima kasih kepada Tuhan karena … memiliki BAR yang benar-benar berfungsi, berbeda dari M16 (versi awal) yang sering macet… Kami memiliki banyak penyusup Viet Cong di semua kamp Pasukan Khusus kami, yang sering mencuri senjata di setiap kesempatan yang mereka dapatkan. Tak perlu dijelaskan, senjata paling populer untuk dicuri adalah BAR tua yang terpercaya ” Operator satuan khusus juga terkadang memilih BAR sebagai senjata pribadi mereka. Nystrom, yang juga seorang veteran Korps Marinir AS, Garda Nasional, dan Komando Operasi Khusus Angkatan Darat AS, menceritakan kisah seorang kenalan sekolah menengah yang bergabung dengan Komando Khusus Angkatan Udara AS dan menjadi penembak BAR paling berpengalaman yang pernah dikenalnya. Dikirim dalam misi ke Laos untuk menyusup ke Ho Chi Minh Trail, pria itu menginginkan senjata yang bisa dia percayai. Di markasnya, dia memutuskan untuk mencoba beberapa. “Ada beberapa peti berbagai jenis senjata dari seluruh dunia, dan dia mencoba semuanya. Dia akhirnya memilih BAR, ”kata Nystrom. “Dengan pasokan senjata dan amunisi yang tidak terbatas, dia memutuskan suatu hari untuk menembakkan BAR sampai tidak bisa menembak lagi – dia ingin tahu seberapa tahan bantingnya senapan ini dalam situasi darurat.” “Pada akhirnya, saat larasnya sudah menyala merah, handguard kayu depan terbakar, peluru akhirnya terjebak di laras yang berhenti, tetapi senjata itu tidak meledak,” lanjutnya. ” Senapan itu kemudian dibuang karena sudah tidak dapat digunakan lagi, tetapi ada beberapa peti lain untuk menggantinya, dan pada akhirnya senapan itu menjadi senjata yang dia percaya untuk ia gunakan dalam pertempuran.”

Prajurit Lewis Carlesse (gambar depan membawa BAR) dan Charles Younts dari Divisi Infanteri ke-27 “Wolfhound” menunggu bombardemen sebelum menyerbu ke bukit dalam sebuah Latihan Militer di Thailand, 19 Juli 1962. Meski di awal tahun 1960-an senapan mesin multifungsi M60 mulai menggantikan BAR, namun senapan otomatis buatan Browning tahun 1918 ini masih beredar di prajurit-prajurit infanteri garis depan Amerika. (Sumber: United States Army: The Definitive Illustrated History)
Tentara Vietnam Selatan berjaga-jaga dengan senapan otomatis BAR. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Vietcong dengan senapan otomatis BAR (Gambar depan). BAR tua tetap dihormati sebagai senapan yang handal di Vietnam, bahkan oleh pihak komunis. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Senapan BAR yang menjadi koleksi War Remnant Museum di Ho Chi Minh City. Perhatikan besarnya ukuran senapan BAR dibanding operator Vietnam Selatan pada foto. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada awal tahun 1960an, senapan mesin serba guna M60 mulai menggantikan BAR, seperti halnya seri senapan mesin tingkat regu M240 dan M249 kemudian menggantikan M60. Tapi penggunaan BAR masih ada dan belum dilupakan. Bahkan hingga hari ini, ada upaya serius untuk mengembalikan BAR ke dinas operasional. The Heavy Counter Assault Rifle kreasi Ohio Ordnance Works adalah versi modern dari senjata klasik ini, memiliki magazine 30-peluru, popor Magpul yang bisa disetel, pegangan pistol polimer, dan rel Picatinny – dan tetap dilengkapi dengan peluru kaliber .30-06 seperti halnya senapan aslinya yang legendaris. Perusahaan ini berharap bahwa Pentagon akan mengambil perhatian serius pada HCAR. Argumen mereka adalah inkarnasi BAR abad ke-21 dengan peluru .30-06 yang memiliki daya hantam lebih besar daripada senjata otomatis regu M249 dengan peluru kaliber 5,56 x 45 milimeter atau Battle Rifle M14 kaliber 7,62 x 51 milimeter. Apakah Departemen Pertahanan pada akhirnya menunjukkan minat serius? Semuanya masih harus dilihat. Yang jelas adalah, BAR, senjata yang dirancang hampir seabad yang lalu telah memperkenalkan senjata portabel dan andal ke Front Barat yang mengalami jalan buntu, tetap menjadi senjata api berpengaruh yang masih menarik hingga hari ini.

Heavy Counter Assault Rifle (HCAR) BAR kreasi Ohio Ordnance Works, inkarnasi BAR di abad ke-21. (Sumber: https://www.rockislandauction.com/)

SPESIFIKASI

Tipe: Automatic rifle, Light machine gun, Squad automatic weapon

Bobot kosong :

7.25 kg (15.98 lb) (M1918)

approx. 11 kg (24 lb) (M1922)

6.0 kg (13.2 lb) (Colt Monitor)

8.4 kg (19 lb) (M1918A1)

8.8 kg (19 lb) (M1918A2)

9.0 kg (19.8 lb) (wz. 1928)

Panjang:

1,194 mm (47.0 in) (M1918, M1922, M1918A1)

1,215 mm (47.8 in) (M1918A2)

1,110 mm (43.7 in) (wz. 1928)

Panjang laras:

610 mm (24.0 in) (M1918, M1922, M1918A1, M1918A2)

611 mm (24.1 in) (wz. 1928)

458 mm (18.0 in) (Colt Monitor)

Tipe peluru:

.30-06 Springfield (7.62×63mm)/.303 British (7.7×56mmR)/7.92×57mm Mauser (M1918, M1922, M1918A1, M1918A2)

7.92×57mm Mauser (wz. 1928)

6.5×55mm (Kg m/21, m/37)

Sistem operasi: Gas-operated, rising bolt lock

Kecepatan tembak:

500–650 rounds/min (M1918, M1922, M1918A1)

500 rounds/min (Colt Monitor)

300–450 or 500–650 rounds/min (M1918A2)

600 rounds/min (wz. 1928)

Kecepatan peluru:

860 m/s (2,822 ft/s) (M1918, M1922, M1918A1, M1918A2)

853 m/s (2,798.6 ft/s) (wz. 1928)

Jarak tembak efektif: 100–1,500 yards (91–1,372 m) sight adjustments (maximum effective range)

Jarak tembak maksimum: sekitar 4,500–5,000 yards (4,100–4,600 m)

Kapasitas peluru:

20-peluru detachable box magazine (7oz empty; 1lb, 7oz full)

40-peluru detachable box magazine (14 oz empty; 2lb 7oz full. Used for anti-aircraft)

Pembidik:

Rear leaf, front post

784 mm (30.9 in) sight radius (M1918, M1922, M1918A1)

782 mm (30.8 in) (M1918A2)

742 mm (29.2 in) (wz. 1928)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Browning M1918 BAR (Browning Automatic Rifle) Light Machine Gun (LMG)

https://www.militaryfactory.com/smallarms/detail.asp?smallarms_id=58

Scaring Them to Death: The BAR By Gareth J. Prendergast

John Browning’s Automatic Rifle Is a Killing Machine by PAUL HUARD, September 10, 2015

Browning Automatic Rifle (BAR)

https://www.forgottenweapons.com/light-machine-guns/browning-automatic-rifle-bar/

Browning M1918 BAR

https://modernfirearms.net/en/machineguns/u-s-a-machineguns/browning-m1918-bar-eng/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/M1918_Browning_Automatic_Rifle

14 thoughts on “Browning Automatic Rifle (BAR), senapan otomatis “ringan” legendaris regu infanteri Amerika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *