Pada hari-hari awal Operasi Badai Gurun tahun 1991, kapal-kapal dan pesawat-pesawat dari Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, mencegat kapal-kapal Angkatan Laut Irak ketika mencoba melarikan diri ke Iran. Pertempuran yang terjadi di perairan antara jalur air Shatt al-Arab dan Pulau Bubiyan adalah salah satu pertempuran laut yang paling timpang dalam sejarah, dan setelah pertempuran ini, Angkatan Laut Irak pada dasarnya sudah tidak ada lagi sebagai sebuah kekuatan tempur.
AL IRAK DALAM PERANG TELUK 1990
Setelah tanggal 2 Agustus 1990 dan Irak berhasil menguasai mantan sekutunya yang malang, yakni Kuwait, kapal-kapal patroli angkatan laut Irak berhasil menyelinap keluar dari Umm Qasr dan menyusuri pantai antara Kuwait dan Pulau Bubiyan. Irak dengan cepat mengamankan pangkalan angkatan laut di Al Ahmadi, selatan Kota Kuwait, dan Shuwaikh, serta merebut sebagian besar Angkatan Laut Kuwait secara utuh. Kuwait saat itu memiliki sekitar dua puluh tiga kapal patroli dan kapal-kapal penjaga pantai, dimana yang paling signifikan adalah enam kapal rudal TNC-45 buatan Jerman dan dua kapal patroli rudal FPB-57 buatan Jerman yang dilengkapi dengan rudal anti kapal MM38 Exocet berjangkauan 42 km. Beberapa di antaranya digunakan untuk mendukung serangan Irak terhadap Khafji hampir enam bulan kemudian, namun secara garis besar Angkatan Laut Irak hanya berperan kecil dalam operasi Badai Gurun. Jet-jet Jaguar AU Inggris (RAF) dan helikopter-helikopter Lynx AL Inggris yang menderu-deru di atas Selat Bubiyan pada awal tahun 1991 membuat angkatan laut Saddam ‘berlumuran darah’ dan berupaya melarikan diri dari pertempuran; tanpa bisa untuk menyembunyikan hasilnya yang sudah dapat diprediksi. Pulau Bubiyan di Kuwait adalah pusat armada Irak, namun begitu berada di tangan Saddam, pulau ini menjadi lonceng kematian bagi Angkatan Laut Irak. Angkatan laut Saddam dalam sejarahnya selalu menjadi rekan yang lemah bagi angkatan darat dan angkatan udaranya yang kuat. Secara geografi hal ini cukup wajar. Irak sebagian besar merupakan negara yang terkurung daratan, meskipun negara ini mempunyai jalan keluar kecil ke Teluk dan sebagian perbatasan timurnya dengan Iran membentang di sepanjang Jalur Air Shatt-al-Arab yang terkenal. Pada saat kampanye udara di awal operasi Badai Gurun dibuka pada pertengahan bulan Januari 1991, Koalisi telah mulai membersihkan kehadiran kekuatan maritim Irak di wilayah Teluk sekitar Kuwait. Meskipun sebagian besar upaya udara diarahkan pada Angkatan Darat Irak, Garda Republik dan Angkatan Udara Irak, angkatan laut Saddam pasti terkejut dengan intensitas dan tempo serangan yang mereka alami. Pihak koalisi menilai aset angkatan laut Irak yang paling berbahaya adalah kapal TNC-45 bekas Kuwait yang dipersenjatai rudal MM38 Exocet dan kapal-kapal kelas Osa buatan Rusia yang dipersenjatai dengan rudal Styx (dianggap sebagai ancaman efektif terhadap target kapal-kapal permukaan), dan kelas Zhuk, kapal patroli mereka yang berkemampuan lebih rendah. Pasukan koalisi lalu memutuskan untuk memburunya secepat mungkin. Serangan udara dari pasukan koalisi kemudian menghantam dan melumpuhkan sebuah fregat latih Irak, dan serangan rutin dilancarkan terhadap Umm Qasr pada tanggal 21 Januari.
AL YANG LEMAH
Salah satu peran Angkatan Laut Irak adalah mengevakuasi pasukannya dari pulau-pulau terdekat dan anjungan minyak setelah mereka mengetahui betapa rentannya mereka terhadap serangan udara. Dalam salah satu operasi ini, sebuah kapal ranjau Irak dilumpuhkan di dekat pulau Qaruh di Kuwait, yang kemudian direbut kembali pada tanggal 24 Januari. Meskipun mendapat berbagai serangan udara, Angkatan Laut Irak diinstruksikan untuk membantu serangan penyelidikan terhadap Arab Saudi di kota Khafji. Peran angkatan laut Irak dibatasi oleh luasnya garis pantai di luar Jalur Air Shatt-al-Arab. Bergerak ke arah barat, Irak hanya memiliki garis pantai sepanjang 25 km; sebaliknya, negara tetangganya Kuwait yang lebih kecil memiliki garis pantai sepanjang 180 km, ditambah pulau-pulau strategis Warbah dan Bubiyan, yang mendominasi muara yang mengarah ke pelabuhan Umm Qasr di Irak, dan pelabuhan alami besar di utara Kota Kuwait. Situasi ini terbukti menjadi sumber konflik yang berlangsung terus-menerus antara Irak dan tetangga-tetangganya. Pada akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an Moskow memberi Baghdad 12 kapal torpedo P-6, 6 kapal patroli kecil, dan 3 kapal pemburu kapal selam SO-1 (secara umum Irak menggunakannya untuk tugas patroli). Sementara itu, Inggris juga memasok Irak dengan enam kapal patroli. Namun, akuisisi yang dilakukan angkatan laut Irak ini tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan sejumlah besar kapal perang besar yang diperoleh Iran pada saat itu, yang termasuk sebuah kapal perusak dan sejumlah korvet. Apa yang dibutuhkan Irak adalah pengganda kekuatan, dan mereka menemukannya dalam bentuk kapal patroli rudal Soviet, yang dianggap revolusioner ketika muncul pada awal tahun 1950an. Pada saat itu, kapal-kapal torpedo menjadi semakin rentan, seperti yang ditemukan oleh Angkatan Laut Vietnam Utara (NVN) pada awal tahun 1960an. Menariknya, meski Moskow memilih untuk tidak mempersenjatai NVN dengan kapal bersenjata rudal, mereka memasok Baghdad dengan kapal-kapal tipe itu. Impor senjata awal angkatan laut Irak diikuti oleh empat kapal patroli rudal kelas Osa-I dan tiga kelas Osa-II, yang masing-masing dipersenjatai dengan empat peluncur rudal kapal-ke-kapal (SSM) SSN-2 Styx.
PENGEMBANGAN AL IRAK ERA SADDAM
Keberadaan kapal-kapal baru ini membentuk Angkatan Laut Irak yang baru dan efektif, yang berbasis di Basra di Jalur Air Shatt-al-Arab dan di Umm Qasr, tepat di utara perbatasan Kuwait. Perkembangan ini menjadi perhatian bagi Kuwait dan Iran karena rudal Styx, dengan jangkauan 40 km, dapat digunakan untuk menyerang sasaran-sasaran di pesisir pantai, meskipun pada dasarnya merupakan senjata anti-kapal. Selama tahun 1975 dan 1976 Irak menerima lima kapal kelas Osa-II tambahan dari Soviet, dan orang-orang Irak begitu terpikat dengan rudal Styx sehingga mereka mulai mengembangkan versi dalam negeri buatan mereka sendiri. Bagi Saddam, kapal-kapal patroli berudal hanyalah permulaan. Dia memiliki rencana yang jauh lebih ambisius untuk armada barunya: dia menginginkan kapal perang permukaan yang besar. Program akuisisi kapal-kapal perang besar-besaran yang dilakukannya menjadi nyata pada tahun 1979, ketika sebuah kontrak ditandatangani dengan Yugoslavia untuk memasok fregat latih seberat 1.850 ton, yang dikirimkan pada awal tahun 1980-an. Kapal ini dirancang untuk mampu membawa empat rudal anti-kapal MM38 Exocet dengan dua peluncur, namun peluncurnya sendiri tidak pernah dipasang di AL Irak. Sepanjang akhir tahun 1970-an, Saddam menjalin hubungan dengan berbagai produsen kapal perang besar, karena ia berencana mendapatkan angkatan laut yang dapat digunakan untuk melawan Iran. Saddam menunjukkan skala program percepatan ekspansi Angkatan Laut Irak pada awal tahun 1980an, ketika ia memesan tidak kurang dari 11 kapal: 4 fregat kelas Lupo (dijuluki Hittin oleh orang-orang Irak), 6 korvet kelas Wadi (Assad atau Hussa el Hussair), dan kapal pendukung kelas Stromboli (Agnadeen) dari Italia senilai $1,5 miliar. Untuk melengkapi kapal-kapal ini, Irak juga memesan dua helikopter perang anti-kapal selam A109 dan lima AB212, serta rudal anti pesawat Albatross, Aspide dan rudal anti-kapal Otomat-2. Kucuran dollar dari minyak Irak memastikan bahwa Saddam bisa mendapatkan yang terbaik yang bisa dibeli dengan uang.
AL IRAK DALAM PERANG LAWAN IRAN
Ketika Perang Iran-Irak pecah, Angkatan Laut Irak hanya berjumlah 4.250 orang, dimana 3.200 di antaranya adalah wajib militer. Mereka hanya dapat mengerahkan 5 kapal patroli besar bekas Soviet (3 kapal pemburu kapal selam SO-1 dan 2 kapal patroli kelas Poluchat), 12 kapal serang cepat kelas Osa (4 Osa-I dan 8 Osa-II) dan 12 kapal serang cepat P-6 yang dipersenjatai torpedo untuk melawan armada Iran. Yang terakhir, dibangun oleh Shah Iran, berkekuatan 20.000 personel dan dilengkapi dengan 3 kapal perusak, 4 fregat, 4 korvet, 9 FAC(M) dan 14 hovercraft. Selama perang, Angkatan Laut Irak menghabiskan sebagian besar waktunya bersembunyi di pangkalannya. Kapal-kapal ini memainkan peran yang sangat terbatas dalam ‘Perang Tanker’, yang dilakukan di Teluk dengan penuh semangat oleh angkatan udara kedua belah pihak, meskipun kapal-kapal patroli Irak juga digunakan untuk menangkis serangan komando angkatan laut Iran terhadap anjungan-anjungan minyak Irak. Pada pertengahan tahun 1980-an China memasok Saddam dengan kemungkinan sekitar lebih dari seratus rudal (beberapa dengan pelacak IR/Infra Merah) pertahanan pantai Hai Ying-1/2 (HY-1/2) untuk mempersenjatai kapal-kapal kelas Osa-II Irak dan 4 pembom B-6/Xi’an H-6D miliknya (versi China dari pembom Tu -16). Pada dasarnya merupakan salinan dari rudal Styx Soviet, rudal HY-1/2 masing-masing disebut oleh Barat sebagai CSSC-3 Silkworm (Ulat Sutra) dan Seersucker. Sekitar lima puluh rudal anti-kapal C-601 China juga turut disediakan pada tahun 1987. Mesir, sekutu setia Irak, mungkin juga menyediakan rudal HY-2 tambahan. Dalam perang, kapal-kapal rudal kelas Osa Irak yang dilengkapi dengan rudal SS-N-2 Styx menggunakannya untuk melawan angkatan laut Iran, berhasil menghantam dan menenggelamkan kapal serang cepat kelas Kaman Iran, namun mengalami kerugian besar, terutama dari rudal Harpoon dan Maverick Iran. Dalam apa yang disebut dengan Perang Tanker, pasukan Irak menggabungkan SS-N-2 (P-15 Termit) yang diluncurkan dari pembom Tu-22, rudal Exocet yang diluncurkan dari jet tempur Mirage F1 dan Super Etendard, serta rudal Silkworm dan rudal C-601 yang diluncurkan dari pembom Tu-16 dan H-6 yang dibeli dari Uni Soviet dan China untuk melawan Angkatan Laut Iran dan kapal-kapal tanker yang membawa minyak Iran. Kapal sipil pertama yang terkena rudal Silkworm adalah kapal barang Iran Entekhab pada tanggal 5 Februari 1988. Angkatan Udara Irak kemudian menyerang empat belas kapal tanker dan kapal pengangkut menggunakan pembom H-6D dan rudal Silkworm.
Satu pembom H-6D Irak diketahui ditembak jatuh oleh jet F-14 Tomcat Iran selama perang, sementara tiga H-6D sisanya dihancurkan dalam pemboman Pangkalan Udara Al Taqaddum oleh Amerika Serikat pada Perang Teluk Persia tahun 1991. Pada saat perang melawan Iran berakhir, di atas kertas Angkatan Laut Irak memiliki 5 fregat dan 38 patroli dan kombatan pesisir, termasuk 4 korvet. Namun, setelah perang empat fregat Hittin (kemudian dipakai oleh AL Italia), empat korvet Hussa el Hussair (kemudian dijual ke Angkatan Laut Malaysia sebagai korvet kelas Laksamana pada tahun 1995) dan kapal pendukung Agnadeen yang dipesan dari Italia tetap ditahan di Italia, karena sanksi internasional setelah invasi Irak ke Kuwait pada tahun 1990. Fregat yang tersisa, Ibn Khaldun (bertipe sama dengan korvet Indonesia KRI Ki Hajar Dewantara) adalah kapal latih, jadi sebenarnya pasukan penyerang Angkatan Laut Irak hanya terdiri dari delapan kapal cepat kelas Osa dan enam FAC P-6, didukung oleh delapan kapal ranjau dan enam kapal pendukung amfibi (terdiri dari tiga kelas Al Zahraa dan tiga bekas kapal pendarat kelas Polnocny buatan Polandia), serta sekitar 150 kapal pendukung kecil lainnya. Setelah gencatan senjata dengan Iran, Saddam bergerak cepat membersihkan pelabuhan Umm Qasr dan Khor al-Zubair, menuntut agar tujuh puluh lima kapal komersial yang terjebak di Jalur Air Shatt-al-Arab dipindahkan. Pada tahun 1989 Saddam berusaha memberi Irak kekuatan anti-kapal yang lebih kuat dengan memesan enam helikopter AS-332 Super Puma dari Perancis yang dipersenjatai dengan tiga puluh enam rudal AM-39 Exocet dan enam helikopter AS-365N Dauphine yang dipersenjatai dengan empat puluh delapan rudal AS-15TT (bersama dengan 350 rudal anti-kapal AS-30L untuk pesawat-pesawat tempur Mirage F-1). Beruntung bagi pasukan Koalisi, mereka tidak dikirim tepat waktu untuk dipakai dalam Perang Teluk.
BUBIYAN TURKEY SHOOT
Operasi Badai Gurun dimulai dengan sungguh-sungguh pada tanggal 17 Januari 1991 ketika pasukan Irak pimpinan Saddam Hussein menolak meninggalkan Kuwait, negara tetangga yang mereka serang dan duduki beberapa bulan sebelumnya. Ketika batas waktu untuk keluar dari Kuwait telah berlalu, pasukan Koalisi mengambil tindakan. Salah satu tindakan tersebut melibatkan kekuatan angkatan laut dalam jumlah besar di Teluk Persia. Dalam menghadapi perlawanan yang sangat besar ini, Angkatan Laut Irak memutuskan untuk mengikuti langkah-langkah memalukan yang dilakukan oleh Angkatan Udara Irak. Mereka akan segera bersiap, berangkat, dan berusaha melarikan diri ke Iran dan berupaya menghindari kehancuran. Berbeda dengan Angkatan Udara Irak, Angkatan Laut Irak tidak pernah berhasil mencapai tujuan tersebut. Sementara itu, Angkatan laut Sekutu sebenarnya adalah pihak pertama yang merespons agresi Irak. Satuan tugas gabungan Amerika-Kuwait merebut anjungan-anjungan minyak Irak dan menahan tawanan di pulau-pulau terpencil Irak. Di ujung utara Teluk Persia, operasi pembersihan ranjau dimulai untuk memungkinkan mobilitas kapal pendukung tembakan dan untuk mempersiapkan operasi amfibi yang akan dilakukan. Untuk melindunginya, sebagian besar kapal perusak pertahanan udara Tipe 42 asal Inggris, HMS Gloucester dan Cardiff dikerahkan, sedangkan fregat yang dilengkapi rudal anti kapal ditempatkan agak lebih kebelakang. Untuk menetralisir armada laut Irak, operasi udara dilakukan terhadap pangkalan-pangkalan mereka, selain dengan tujuan menghancurkan dermaga dan kqpal-kapalnya, juga untuk membersihkan ranjau yang mungkin bisa menghambat mobilitas kapal-kapal pasukan koalisi. Pada tanggal 24 Januari 1991 sebuah helikopter Lynx menyerang dan menenggelamkan dua kapal penyapu ranjau Irak di dekat Pulau Qurah. Kapal yang ketiga lalu ditenggelamkan. Pada malam tanggal 29 Januari 1991, elemen Divisi Mekanis ke-5 Angkatan Darat Irak bergerak sejauh 50 mil (80 km) untuk menyerang kota Khafji di Saudi. Mereka melintasi perbatasan Kuwait tanpa terdeteksi dan bergerak ke selatan dekat pulau Failaka, dengan didukung oleh tujuh belas kapal patroli cepat, yang bergerak menyusuri pantai dengan membawa pasukan pendarat. Malam antara tanggal 28 dan 29 Januari 1991 langit tidak berbulan dan jarak pandang pada umumnya buruk karena cuaca dan kebakaran minyak yang sedang berlangsung.
Kontak pertama dengan angkatan laut Irak dilakukan oleh pesawat serang A-6E Intruder dari skuadron VFA-145 asal kapal induk USS Ranger. Pesawat tersebut sedang melakukan misi pengintaian setelah sebelumnya mengebom baterai rudal di pesisir Irak. Empat objek tak kemudian dikenal muncul di layar radar pesawat A-6E sedang menuju area pertempuran di Khafji. Melalui perangkat FLIR (Forward Looking Infra Red) pesawat tersebut, objek-objek tersebut diidentifikasi sebagai kapal-kapal patroli Irak. Serangan lalu dapat segera diluncurkan dengan menjatuhkan bom berpemandu laser seberat 250kg. Korban pertama adalah dua kapal rudal TNC-45, dengan satunya lagi rusak pada serangan pertama. Pelacakan atas target diserahkan kepada pesawat peringatan dini di area tersebut, sebuah pesawat E2C Hawkeye yang juga memanggil bala bantuan ke area tersebut. Serangan berikutnya dilakukan dengan kanon otomatis oleh dua pesawat CF-18 Hornet Kanada terhadap kapal rudal kelas Osa. Pesawat-pesawat Jaguar RAF, yang beroperasi dari pangkalan udara Muharraq di Bahrain, kemudian turut menyerang unsur angkatan laut Irak dalam penyerangan tersebut. Dua kapal tercatat berhasil ditenggelamkan oleh rudal Sea Skua yang ditembakkan oleh empat helikopter Lynx. Kapal-kapal yang tersisa dirusak, dihancurkan atau dihalau oleh pesawat-pesawat yang di berbasis kapal induk Amerika dan helikopter Sea King. Sebuah kapal pendarat diyakini telah tenggelam, dan kapal Irak lainnya tercerai-berai.
Konyolnya, keesokan harinya konvoi kedua yang terdiri dari 13 kapal dari pangkalan Irak di az-Zubayr dan Umm Qasr muncul melalui jalur antara Bubiyan dan Warbah ke perairan Iran. Konvoi itu termasuk sebuah kapal penyapu ranjau kelas T-43 Irak, 3 kapal serang cepat TNC-45 bekas Kuwait dan 3 kapal pendarat Polnocny. Kemungkinan besar kejadian malam sebelumnya telah menyebabkan komando angkatan laut Irak mengambil keputusan yang sama seperti yang diambil angkatan udara Irak sebelumnya ketika mereka menyadari sejauh mana kekuatan mereka – yaitu mencoba melarikan diri ke Iran agar tidak mengalami kematian yang mengerikan. Mereka mengandalkan pada gagasan bahwa kapal-kapal berudal yang kecil, cepat, dan memiliki kemampuan manuver yang tinggi dapat membuat perairan pesisir menjadi terlalu berbahaya bagi kapal-kapal besar yang berlayar di lautan. Pesawat pengintai maritim koalisi P-3 Orion berhasil menjalin kontak awal dengan armada Irak yang mencoba melarikan diri dan mengarahkan sumber daya pasukan koalisi yang ada di wilayah tersebut ke sasaran empuk itu. Yang tercepat merespon adalah helikopter-helikopter Lynx Inggris, yang dilengkapi dengan rudal anti kapal berpemandu semi-aktif Sea Skua. Helikopter-helikopter ini menyerang di ketinggian rendah dengan presisi tinggi. Taktik dengan cepat dikembangkan di mana helikopter helikopter Lynx Inggris dengan rudal yang lebih baik menerima data target dari helikopter-helikopter SH-60 Seahawk Amerika yang tidak memiliki rudal tetapi memiliki radar yang lebih baik. Rudal Sea Skua yang dibawa oleh helikopter-helikopter Lynx relatif kompak dengan panjang 2,85m, diameter 0,22m dan berat hanya di bawah 150kg, antara dua dan empat rudal dapat dibawa oleh helikopter-helikopter Lynx. Hulu ledak semi-armor-piercing-nya berbobot 30kg dan 9kg di antaranya adalah terdiri dari bahan peledak RDX, yang lebih dari cukup untuk menghadapi kapal-kapal serang cepat dan kapal-kapal berukuran setara korvet. Rudal-rudal Sea Skua yang ditembakkan dari empat helikopter Lynx menghancurkan tiga kapal serang cepat, dan merusak kapal penyapu ranjau dan satu kapal pendarat. Kapal pendarat ini kemudian dihancurkan oleh pesawat-pesawat Jaguar RAF. Selama 13 jam pertempuran, kapal-kapal perusak canggih Inggris digunakan sebagai pangkalan pengisian ulang di mana helikopter-helikopter dapat mengisi bahan bakar dan mempersenjatai kembali untuk melancarkan serangan baru pada kapal-kapal Irak. Semua kapal Irak kemudian tenggelam atau dibuat rusak parah. Total 7 kapal rudal, 1 kapal pendarat, satu kapal penyapu ranjau dan 9 kapal lainnya berhasil dilumpuhkan. Hanya dua kapal yang rusak – sebuah kapal patroli kelas Osa II dan sebuah kapal amfibi – yang berhasil lolos dari hujan bom dan rudal yang dijatuhkan pada mereka.
Saat itu, tidak ada penjelasan mengapa kapal-kapal yang diantaranya membawa rudal-rudal antikapal Exocet dan Styx tenggelam dengan mudahnya, alih-alih melawan dan mencoba mendapatkan keberuntungannya. Dalam hal ini masih terdapat ketidakjelasan mengenai tindakan yang diambil Irak. Apakah mereka sedang dalam perjalanan untuk mendukung serangan darat atau memilih untuk melarikan diri. Demikian pula, kepasifan Irak dalam menghadapi ancaman udara menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tertentu. Kapal-kapal patroli Irak bisa saja mempertahankan diri mereka sendiri, namun mereka mungkin tidak memiliki kemampuan untuk menangani kapal-kapal pasukan koalisi, dan yang terpenting, terdapat kelemahan dalam sistem kendali mereka. Analisis Inggris mengatakan bahwa peralatan radar di kapal berudal Irak yang dirampas tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi radar “Seaspray” helikopter Lynx, yang digunakan sebagai radar pengawasan permukaan dan pemandu untuk rudal Sea Skua. Secara total hingga tanggal 2 Februari, selama 21 upaya serangan terhadap kapal-kapal Irak, dua puluh lima rudal Sea Skua ditembakkan, dimana delapan belas di antaranya mengenai sasarannya. Pada hari itu Angkatan Laut Irak dinilai sudah tidak mampu lagi melakukan tindakan ofensif lebih lanjut, dengan cuma menyisakan memiliki sedikit kapal, yang semuanya dalam kondisi buruk.
Panggung kini telah siap untuk pasukan koalisi melakukan operasi penyapuan ranjau dan amfibi, dengan cuma rudal Ulat Sutera Irak yang tersisa sebagai ancaman utama kekuatan laut pasukan koalisi. Sementara itu selama beberapa pertempuran lainnya di bulan Februari, helikopter-helikopter Lynx dengan rudal-rudal Sea Skua menghancurkan sebuah kapal patroli kelas Zhuk, sebuah kapal penyelamat dan kapal pendarat kelas Polnocny lainnya, dan merusak 1 kapal patroli kelas Zhuk lainnya. Helikopter-helikopter Lynx Angkatan Laut Kerajaan Inggris, dengan menggunakan rudal Sea Skua, bertanggung jawab menghancurkan 14 kapal Irak (3 kapal penyapu ranjau, 1 kapal ranjau, 3 Kapal Serangan Cepat TNC-45, 2 kapal patroli kelas Zhuk, 2 kapal pendarat kelas Polnocny, 2 kapal penyelamat , 1 kapal ranjau Tipe 43, dan 1 kapal lainnya) selama pertempuran Bubiyan. Pertempuran tersebut melibatkan 21 pertempuran terpisah selama kurun waktu 13 jam. Sebanyak 21 dari 22 kapal Irak yang berusaha melarikan diri dihancurkan. Sementara itu pesawat tempur CF-18 Hornet Kanada mencatat kemenangan resmi di awal pertempuran ini melawan Angkatan Laut Irak. Dengan amannya perairan Kuwait, kapal-kapal perang AS mulai menembaki pertahanan pantai Irak di sekitar Kota Kuwait pada tanggal 23 Februari dan keesokan harinya perang darat dimulai. Namun, pertahanan angkatan laut Irak belum selesai, karena pada tanggal 25 Februari dua rudal HY-2 Silkworm yang berpangkalan di darat ditembakkan ke kapal tempur AL AS USS Missouri, saat kapal tersebut mengawal armada kapal penyapu ranjau yang terlibat dalam operasi anti-ranjau di perairan pesisir, bekerja sama dengan frigat USS Jarrett dan kapal perusak HMS Gloucester. Satu rudal berhasil ditembak jatuh oleh tembakan salvo sistem rudal Sea Dart HMS Gloucester yang menghancurkannya dalam waktu 90 detik dan membuatnya jatuh ke laut kira-kira 700 yd (640 m) di depan USS Missouri. Sementara itu rudal lainnya jatuh di perairan Teluk. Selama keseluruhan perang, dua puluh sasaran angkatan laut Irak mengalami 247 serangan udara. Sementara itu satu-satunya kerusakan yang dialami pasukan angkatan laut koalisi disebabkan oleh ranjau. Setelah perang Angkatan Laut Irak bisa dikatakan sudah tidak ada lagi. Secara total, lebih dari 100 kapal Irak dihancurkan dalam perang itu.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
Obliterating Saddam’s Navy
The Bubiyan turkey shoot By Holmamiralen
That time the US and its allies destroyed the entire Iraqi Navy By Blake Stilwell Updated on Oct 16, 2021 6:31 AM
https://www.wearethemighty.com/mighty-trending/us-navy-gulf-war
The Storm at Sea By Vice Admiral Stan Arthur, USN, and Dr. Marvin Pokrant; May 1991
https://www.usni.org/magazines/proceedings/1991/may/storm-sea
Sea Venom
The Iraqi Submarine Chaser type SO-1
http://iraqimilitary.org/forums/viewtopic.php?t=146
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Bubiyan
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sea_Skua
https://en.m.wikipedia.org/wiki/P-15_Termit
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Xi%27an_H-6
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Iraqi_Navy
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Iraqi_frigate_Ibn_Khaldun
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Assad-class_corvette
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Lupo-class_frigate
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Silkworm_(missile)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/USS_Missouri_(BB-63)
