Burma, Mei 1942: Gerak Mundur Legendaris Barisan Compang-Camping Jenderal “Vinegar” Joe Stilwell Dari Kejaran Tentara Jepang

Pada awal bulan mei 1942, sekumpulan pria dan wanita, melintasi sungai sedalam sepatu boot mereka di wilayah Burma Barat. Pada kedua sisi sungai ada hutan lebat dan monyet-monyet bersuara, saat orang-orang itu lewat didepan mereka. Pada bagian depan barisan, berjalan, seorang tua kurus dengan kacamata berbingkai baja dan rambut memutih yang dipotong pendek. Ia adalah seorang Letnan Jenderal Angkatan Darat Amerika, namun tidak ada yang bisa menebaknya dengan sekedar melihat tampilannya, karena dia tidak mengenakan penanda satuan, pangkat, dan dengan senapan karabin tersampir di bahu serta topi masa Perang Dunia I diatas kepala. Selain itu Jenderal bintang tiga, umumnya mengepalai satuan setingkat Korps beranggotakan puluhan ribu prajurit dengan dukungan tank dan artileri. Tapi barisan yang mengikuti prajurit tua ini hanya berjumlah seratusan orang yang membawa tas dan beberapa senapan, karabin dan “Tommy Gun”. Mereka ini adalah rombongan kecil pasukan sekutu, yang mundur dibawah pimpinan Jenderal Stilwell. Letnan Jenderal Joseph ‘Vinegar Joe’ Stilwell, pimpinan rombongan yang telah berusia 59 tahun, tidak terbiasa menyerah begitu saja. Selama ada kemungkinan sekecil apa pun untuk menyelamatkan situasi, prajurit infanteri tua yang pemarah itu melihat dirinya berkewajiban untuk terus mencoba. Di Burma selama hari-hari kelam di bulan Mei 1942, desakan keras kepala Stilwell bahwa upaya harus tetap dilakukan untuk membangun kembali kendali atas mundurnya pasukan China, telah menempatkan si jenderal dan staf kecilnya secara langsung dalam bahaya. Di tengah kekacauan total keruntuhan kekuatan militer Sekutu, Stilwell akhirnya terpaksa menjalani perjalanan panjang mundur ke India dengan dikejar oleh tentara Jepang.

Pada bulan Mei 1942, Letnan Jenderal Joseph Stilwell (jeep terdepan mengenakan topi, tepat di sebelah sopir) bersama rombongan kecilnya mundur dari medan perang Burma ditengah kejaran tentara Jepang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

LATAR BELAKANG

Pada akhir bulan April 1942, terlihat jelas bahwa pasukan Burma (sebutan kekuatan darat Inggris di medan tempur Burma) pimpinan Letnan Jenderal Sir Harold Alexander tidak dapat lagi mempertahankan garis pertahanan mereka melawan Jepang, yang bergerak ke utara dari Rangoon menuju ke Mandalay. Saat itu Tiga satuan tentara China setingkat Army (meski satuan Army tentara China kekuatan nya secara efektif paling hanya setingkat kekuatan Divisi saja) telah pindah ke medan perang Burma dari provinsi Yunnan antara bulan Februari dan April untuk memulihkan situasi. Generalissimo Chiang Kai-shek juga telah menempatkan jenderal Stilwell sebagai komandan Pasukan Ekspedisi China ini. Sayangnya bagi Sekutu, bagaimanapun, Stilwell mendapati bawahannya di China kerap membangkang dalam mengikuti instruksinya, yang seringkali bertentangan dengan perintah langsung Chiang dengan para jenderalnya. Situasi komando ini semakin rumit ketika pasukan China kemudian secara keseluruhan ditempatkan di bawah komando Alexander. Ketika Alexander berusaha untuk mempertahankan garis pertahanan dari Prome di barat ke Toungoo di timur, pada akhir bulan April, pasukan Jepang menghancurkan Divisi ke-55 China di front Toungoo dan dengan cepat mendesak ke utara menuju Lashio (titik awal dari Jalan Burma yang penting) dan Myitkyina. Tindakan ini membuat panik pasukan Sekutu, yang juga sedang mengundurkan diri di sepanjang Sungai Irrawaddy dan mulai mundur secara bersamaan menuju ke Mandalay. 

Jenderal Stilwell dengan kacamata dan topi legendarisnya berunding bersama jenderal-jenderal China di front Toungoo. Stilwell diperbantukan di medan Burma untuk mengepalai tentara China, namun hubungannya yang buruk dengan Chiang Kai Sek, membuat pasukan China pimpinannya tidak efektif di medan tempur. (Sumber: Time Life World War II series: China – Burma – India)

Stilwell sendiri telah tiba di Burma pada bulan Maret, dengan berpikir untuk bisa menggunakan pasukan China-nya guna melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Jepang. Pada bulan Februari ia telah dikirim ke ibu kota sementara pemerintah China, di Chungking dengan tugas meningkatkan efisiensi tempur tentara China, yang sudah sangat terlihat kepayahan dalam memerangi pasukan Jepang selama bertahun-tahun. Chiang Kai-shek sendiri adalah komandan tertinggi Sekutu untuk medan tempur China, dan Stilwell telah ditunjuk sebagai kepala staf pasukan Sekutu disana. Orang-orang Cina sementara ini telah memperoleh pasokan perbekalan dari Amerika Serikat melalui pelabuhan di Rangoon; dimana barang-barang ini kemudian diangkut dengan truk ke China melalui Jalan Burma yang berbahaya. Sementara itu, di pihak lain, tujuan utama Jepang di medan tempur Burma adalah untuk memutus jalur pasokan ke tentara Chiang ini dengan menginvasi Burma dan merebut rute tersebut. Karena hal ini menjadi ancaman langsung terhadap kepentingan dan kemampuan bertahan China dalam perangnya melawan Jepang, Chiang akhirnya bersedia mengirim pasukannya ke Burma, dan Stilwell yang sejak awal mencari kesempatan ini, pada akhirnya menerima tongkat komando untuk memimpin Pasukan Ekspedisi China ini. Tetapi pada kenyataannya, Chiang menolak untuk mengizinkan Stilwell menggunakan tentara Cina tanpa ijin dari Chiang sendiri, dan campur tangan ini pada akhirnya membuat pasukan Cina di medan perang menjadi kurang efektif daripada yang seharusnya. Terkadang, Chiang, yang berada jauh dari garis depan, memberitakan perintah yang cenderung konyol. Misalnya di tengah situasi genting, saat pasukan China bertempur mati-matian, Stilwell mendapat pesan dari Generalissimo, yang berbunyi: “Semangka bagus untuk moral prajurit yang kehausan. Stilwell akan menyediakan sebuah semangka untuk setiap 4 prajurit China”.

KEKACAUAN TOTAL DI BURMA

Sementara itu, dengan jatuhnya seluruh posisi Sekutu pada akhir bulan April, Stilwell mendapati dirinya tidak dapat mengendalikan pergerakan pasukannya. Chiang, dari markas besarnya di Chungking, tetap mengeluarkan perintah yang kontradiktif baik kepada Stilwell maupun para jenderal Cina di Burma. Dalam satu contoh, Chiang mengirim kabar kepada Stilwell pada 29 April bahwa Mandalay (kota yang secara militer tidak dapat dipertahankan) harus ditahan dengan segala cara. Keesokan harinya, Chiang membalikkan dekrit ini. Meskipun gangguan seperti itu membuat frustasi, setidaknya temperamen Chiang yang tidak dapat diprediksi ini adalah masalah Stilwell yang paling kecil. Pada akhir bulan April, Stilwell memiliki dua markas besar garis depan di Burma — satu di Shwebo (utara Mandalay) dan satu di Lashio. Ada sedikit staf Amerika di masing-masing markas ini, tetapi pada tanggal 25 April markas Lashio ditinggalkan dan stafnya dikirim kembali ke China melalui Jalan Burma. Stilwell berada di Shwebo ketika Alexander memerintahkan evakuasi pasukan sekutu di seluruh Burma. Perintah itu hanyalah konfirmasi dari apa yang sudah terjadi sebelumnya, ketika pasukan berkebangsaan Inggris, India, Burma dan Cina terlibat dalam kekacauan di sepanjang rute gerak mundur mereka ke India dan Cina. Di jalan menuju Shwebo, yang dipenuhi truk dan kereta-kereta serta tumpukan gerobak pengungsi, para pengungsi mundur bergerak dalam hembusan debu dan panas serta ketakutan yang menyelimuti. Orang-orang Sikh yang dulunya gagah menjadi orang-orang yang berpakaian kotor dan acak-acakan dengan serban compang-camping. Tentara Cina berbaris dengan mata memancarkan ketakutan di negeri yang asing di mana mereka tidak bisa melepaskan seragam begitu saja dan menyelinap pergi bersembunyi pedesaan. Jenazah beberapa biksu Buddha dengan jubah kuning tergeletak di tanah, setelah ditembak oleh tentara Cina yang percaya bahwa mereka adalah mata-mata yang menyamar.

Penduduk Burma tidak begitu tertarik dengan kedatangan pasukan pendudukan Jepang di desa mereka, selama Perang Dunia II, sekitar tahun 1942. Namun situasi berbeda dengan pihak sekutu yang segera panik dengan kedatangan tentara Jepang. (Sumber: Photo by Keystone/Hulton Archive/Getty Images/https://www.gettyimages.com/)

Sementara itu pesawat-pesawat Zero Jepang terbang di udara, memberondong jalanan dengan tembakan senapan mesin. Para jenderal Cina di dalam mobil mereka, dan perwira Inggris yang sadar akan kehadiran mereka ditengah “penduduk asli”, tidak khawatir untuk kehilangan muka, tetapi semua orang sadar bahwa mereka semua telah kehilangan muka, di mata orang-orang Asia, dunia, dan “yang terburuk dari semuanya,” sebagaimana kolonel Frank Dorn, bawahan Stilwell menulis, “adalah dimata bangsa mereka sendiri.” Stilwell juga mengkritisi orang-orang Inggris, “Limey (julukan orang-orang Inggris) yang bodoh hanya diam saja. Sementara Radio London mengabarkan ‘Jenderal Alexander yang berkemauan keras dan pandai, telah bertempur dalam salah satu perang defensif terbesar dalam perang’ dan banyak omong kosong lainnya tentang apa yang Limey kerjakan”, sindir Stilwell dengan muak. Sementara itu, terlepas dari kekacauan yang mengelilinginya, Stilwell tetap tenang, bahkan setelah Jepang berusaha mengebom markasnya (seorang pendeta Buddha yang berkhianat telah membocorkan lokasinya kepada musuh). Pada tanggal 30 April, Stilwell menulis dalam buku hariannya: ‘Bahaya kehancuran dan keruntuhan akan segera terjadi. Kami telah mengirim 40 orang ke Myitkyina, 12 ke Katha dan meninggalkan 20 orang di sini. ‘Stilwell berencana terbang ke Loiwing, dekat Lashio, keesokan harinya dalam upaya membangun kembali kendali di front timur. Tapi peristiwa demi peristiwa berjalan terlalu cepat. Loiwing, yang pernah menjadi markas yang digunakan oleh Kelompok Relawan Udara “Flying Tiger” Amerika pimpinan Claire Chennault, yang terkenal, pada saat itu sudah dievakuasi. 

Jenderal Alexander asal Inggris yang gagal mempertahankan Burma. Stilwell sama sekali tidak terkesan dengan performa pasukan Inggris, yang dianggapnya tidak memberikan perlawanan maksimal invasi Jepang. (Sumber: https://firstnighthistory.wordpress.com/)

Stilwell juga telah meminta pesawat di Shwebo untuk mengevakuasi sebagian stafnya ke India. Pesawat itu, yang dipiloti oleh Kolonel Caleb V. Haynes dari Angkatan Udara Kesepuluh A.S., tiba di Shwebo sekitar tengah hari pada tanggal 1 Mei, dan Stilwell menempatkan 15 anggota stafnya di pesawat tersebut, yang akan terbang ke Calcutta. Kolonel Haynes menemui Stilwell di markas besarnya, “Jenderal Arnold mengirim kami untuk menyelamatkanmu pak”, kata Haynes. Ketika penerbang itu mendengar bahwa Stilwell tidak ada rencana untuk pergi, mereka kaget. “Ayo kita pukul saja orang tua bodoh ini di kepalanya dan bawa dia pergi” kata Haynes pada rekannya. Sementara itu, pesawat lain akan tiba nanti, tapi Stilwell tidak berniat tinggal di Shwebo sampai mereka tiba. Sebaliknya, ia memimpin rombongan kecilnya ke utara dengan truk dan jip menyusuri jalan setapak yang kasar dan jalan yang paralel dengan rel kereta api jalur Mandalay-Myitkyina. Dari Shwebo, Stilwell berencana menuju ke Myitkina, 250 mil ke utara. Awalnya, grup ini terdiri dari sekitar 80 orang, tetapi pada akhirnya akan bertambah menjadi 114 orang. Stilwell dan rombongannya mencapai Zigon (markas besar Angkatan Darat Kelima China) pada tanggal 1 Mei. Menurut ajudannya, Letnan Kolonel Frank Dorn: ‘Pasukan tentara China yang berantakan adalah perhatiannya yang paling mendesak. Rencananya adalah pergi ke Myitkyina di mana lapangan terbang disitu masih beroperasi. Dari sana dia bisa menerbangkan semua orang Amerika kecuali staf kecil dan beberapa dokter, yang akan tinggal bersama orang-orang Cina, mengevakuasi orang sakit dan terluka melalui udara, dan mendirikan pangkalan di Lembah Hukawng dari mana dia bisa melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali Burma. ‘Bahkan pada hari-hari yang suram tanpa harapan itu, dan saat tengah menghadapi kehancuran total kekuatan Sekutu, Stilwell masih berpikiran untuk melakukan aksi ofensif. Namun, rencana untuk bisa mencapai Myitkyina bergantung pada ketersediaan transportasi kereta api. Petugas transportasi Stilwell, Kapten Paul Jones, mengamati jalur rel ke utara dan menemukan bahwa sebuah tabrakan telah memblokir rute perjalanan ke utara dan selatan. Stilwell kemudian mengetahui bahwa Jenderal Lo telah pergi meninggalkan Myitkyina dan lapangan udaranya. Dia kemudian memaksa dengan todongan senjata sebuah lokomotif dengan tujuh belas gerbong untuk membawanya dan pasukannya pergi, dan setelah melakukan perjalanan sejauh dua puluh lima mil, kereta yang ditumpanginya menabrak kereta tak terjadwal yang lain, menghalangi jalan kereta api selama dua hari. “Sayangnya dia tidak terbunuh”, ujar Stilwell kemudian sambil mengutarakan kemarahannya.

Frank Dorn, bawahan Jenderal Stilwell yang banyak mencatat peristiwa di sekitar gerak mundur sang jenderal dari Burma, Mei 1942. (Sumber: http://www.cbi-theater.com/)

Sikap pengecut itu makin memperburuk keadaan, bahkan kepala perwira infanteri Stilwell, Brigadir Jenderal Franklin Sibert, yang sampai saat itu masih bertahan di antara mereka. “Ya Tuhan, Joe, ayo kita pulang (saja),” pintanya. Wilayah Loiwing saat itu telah tertutup, tetapi Stilwell masih merasa berkewajiban untuk melakukan apa yang dia bisa untuk memastikan bahwa di sepanjang rute pelarian orang-orang Cina tersedia beras yang cukup. Staf Stilwell juga berargumen bahwa tempatnya berada seharusnya di markas besar di Delhi. “Tidak,” katanya, “dan saya akan memberi tahu Anda alasannya.” Dengan kekalahan demi kekalahan, termasuk kekalahan Amerika di Filipina, prestise bangsa Barat tidak pernah serendah ini. Itu adalah tugasnya untuk menjaga agar orang-orang Cina tetap bisa dia komandoi, setidaknya di atas kertas. “Jika saya pergi sekarang, itu akan menjadi satu kekalahan lagi, satu penyerahan lagi dan saya (akan) tidak bisa memerintah tentara Cina lagi”, demikian alasan Stilwell bertahan. Sementara itu karena jalur kereta terblokir, rombongan Stilwell harus melanjutkan perjalanan ke utara melalui jalan darat dan jalan setapak. Jenderal itu tetap berharap bahwa jalur ke Myitkyina pada akhirnya akan bisa dibereskan. Rombongannya lalu mencapai Pintha pada malam 2 Mei dan Wuntho pada 3 Mei. 

Pasukan China yang dilengkapi dengan baik maju dalam satu barisan melalui wilayah hutan Burma yang khas, Maret 1942. Menurut Stilwell, pasukan China bisa bertempur jika dipimpin dengan baik, namun campur tangan yang lebih bersifat politis dari Chiang Kai Sek, mengurangi efektifitas mereka. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Di Wuntho, beberapa orang Amerika bergabung dengan rombongan Stilwell. ‘Sekarang jelas bahwa kita tidak bisa lagi berguna’ tulis Stilwell. ‘(Saya) memutuskan untuk mengirim orang-orang kita keluar.’ Frustrasi karena dia tidak bisa mengetahui sedikit dari situasi yang sebenarnya, Stilwell menyadari bahwa situasi militer sekutu sekarang benar-benar sudah tidak ada harapan dan bahwa tugas utamanya sekarang adalah menyelamatkan rombongan kecilnya. Keesokan harinya, pada pagi hari tanggal 4 Mei, Stilwell menulis dalam buku hariannya: ‘Disintegrasi (pasukan) terjadi di Shwebo…. (tentara) Jepang menyusuri Sungai Chindwin. Perang saudara berulang lagi-lagi. Orang-orang Cina lepas kendali. Kolone [Kelima] sibuk. “Bagaimanapun ia masih ingin naik kereta ke utara ke Mogaung atau Myitkyina, tetapi Jones melaporkan bahwa rel kereta api macet parah, dan tidak mungkin pergi lebih jauh ke utara. Tidak ada jalan menuju Myitkyina yang bisa dilalui kendaraan. Jenderal dan rombongannya yang berkembang harus berbelok ke barat dan menuju Sungai Chindwin. Dari sana, kelompok itu dapat melintasi pegunungan dan akhirnya mencapai pangkalan Inggris di Imphal, di negara bagian Manipur, India. Stilwell tidak yakin seberapa jauh dia bisa membawa kendaraannya setelah berbelok ke barat, tetapi dia tahu perjalanan melintasi pegunungan ke India akan mengharuskan mereka ditinggalkan di beberapa titik. Terlepas dari kesulitan yang bisa diantisipasi, Stilwell juga sangat menyadari perlunya membuat orang-orangnya berada di depan gerombolan pasukan China yang bergerak mundur, para pengungsi Inggris yang tersesat dan berjalan dengan susah payah ke utara di sepanjang satu-satunya jalan yang baik. Saat itu kekurangan makanan adalah ketakutan utama yang membuat sesama pengungsi sama bahayanya dengan musuh. Tiga divisi tentara Cina telah membuat rute pelarian di sebelah barat sungai Irrawaddy ditambah banyak penduduk sipil lainnya yang melarikan diri.

Pasukan Jepang memasuki kota di Burma selatan. (Sumber: http://ww2throughthelens.blogspot.com/)

Hampir sejuta orang keturunan India juga telah pergi atau mencoba meninggalkan Burma, banyak dari mereka sudah tewas karena kekurangan makanan di sepanjang jalan. Ribuan orang lainnya masih bergerak ke arah pegunungan, dan tulang-belulang memutih dari mereka yang berguguran ditengah jalan akan ditemukan di samping jalan setapak pada saat pasukan sekutu kembali masuk ke Burma. Orang-orang India yang malang itu, umumnya merantau ke Burma untuk menjadi pegawai administrasi kolonial, atau sekedar mengadu nasib. Namun dengan karakter ulet mereka, orang-orang keturunan India kemudian bisa mengontrol ekonomi di Burma. Di tengah situasi perang yang kacau, saat orang-orang keturunan India kabur, warga-warga desa Burma kerap menyerang mereka serampangan memenggal dengan pedang tajam yang dikenal sebagai ‘dah’. Puluhan ribu orang India diperkirakan menjadi korban dalam perjalanan mereka kembali ke India. Selain orang-orang India, orang-orang Burma diketahui juga menyerang tentara-tentara China, yang sebagai balasan kerap menembak orang-orang Burma begitu saja. Rasa frustrasi Stilwell dengan situasi tersebut terlihat dalam catatan hariannya pada tanggal 5 Mei: Jika saya hanya bisa mendapatkan mereka tersudut… .saya harus tetap berusaha untuk membawa mereka maju, mendahului tentara China …. Semua orang kebingunan, dan benar saja orang-orang China mulai datang dan keluar. Mereka melewati kami seperti Red Grange (pemain American Football). ” Ditengah jalan dua brigadir Inggris yang memimpin rombongan yang terdiri dari dua belas orang berusaha keras untuk membujuk Stilwell agar bergabung dengan mereka pada rute yang lebih langsung, tetapi dia menolak dan mengetahui beberapa minggu kemudian bahwa rombongan Inggris itu telah disergap oleh tentara Jepang dan beberapa dari mereka terbunuh.

Para pengungsi keturunan India melarikan diri dari Burma, saat pasukan Jepang masuk. Dari 900.000 diantara mereka, puluhan ribu dikabarkan menjadi korban di jalanan karena kelaparan dan serangan dari penduduk lokal. (Sumber: Time Life World War II series: China – Burma – India)

Akhirnya pada tanggal 5 Mei, Stilwell memerintahkan agar semua truk ditinggalkan, yang terus-menerus macet di sepanjang jalan primitif dan memperlambat rombongan mereka. Setelah mencapai kota Indaw yang padat pada tanggal 5. Di Indaw, harapan terakhir untuk bisa menaiki kereta api terbukti sia-sia. Di kota semua ketertiban telah hilang, tentara menjarah, warga sipil kehilangan harapan; sementara beberapa pejabat Inggris yang kebingungan menyaksikan akhir dari kemaharajaan mereka di wilayah Timur. Tentara China di dalam truk memukul tangan rekan-rekan mereka yang berpegangan erat dengan popor senapan. Stilwell mengatakan setelah itu bahwa kekacauan di Indaw adalah pemandangan terburuk yang pernah dia lihat di wilayah Timur Jauh. Dia lalu memperingatkan rombongannya bahwa mereka mungkin harus berjuang untuk bisa selamat. “Terus bergerak. Jangan berhenti untuk apapun. “, demikian perintahnya. Pada titik ini keputusan akhir untuk berjalan telah diambil, dan mereka berbelok dari jalur kereta api masuk ke dalam hutan yang tidak mereka kenal. Dari Indaw rombongan Stilwell kemudian berbelok ke barat menuju Chindwin. Stilwell bagaimanapun tidak tahu di mana musuh berada dan untuk pada suatu saat yang menegangkan, mereka sempat mengira barisan tentara yang turun dari jalan adalah orang-orang Jepang. “Ya Tuhan, aku tidak pernah begitu takut dalam hidupku.”, kenang Stilwell kemudian. Sementara itu, meskipun dia meninggalkan truknya, Stilwell tetap mempertahankan semua jip pendukungnya untuk mengangkut perbekalan paling kritisnya. Jenderal itu percaya bahwa dia telah ‘mendahului banjir pengungsi’ pada saat dia berkemah pada sore hari tanggal 5 Mei. Rombongan multinasional-nya sekarang terdiri dari 26 anggota Angkatan Darat AS (kebanyakan perwira), 15 tentara Inggris dan 14 tentara China; unit rumah sakit di bawah komando Gordon S. Seagrave (‘Ahli Bedah Burma’ yang terkenal), yang mencakup 19 perawat asal Burma; unit ambulans Quaker kecil; dan segelintir warga sipil, termasuk koresponden Jack Belden dari Time and Life dan Pendeta Breedham C. Case. Case memiliki pengalaman panjang sebagai misionaris yang erat bekerja sama dengan penduduk asli Burma bagian atas dan dapat berbicara dalam sejumlah bahasa suku pegunungan. Karena itu, Stilwell membiarkan Case yang melakukan negosiasi untuk mendapatkan para porter yang akan dibutuhkan di sepanjang rute tersebut. Sementara itu, meski dalam gerak mundur, namun kelompok Stilwell memiliki keunggulan tertentu dibandingkan tentara dan pengungsi lain yang mencari jalan keluar dari Burma. Pertama, Stilwell sendiri benar-benar bertekad untuk membawa setiap anggota rombongannya keluar hidup-hidup, terlepas dari kesulitan yang dihadapi. Kedua, para prajuritnya masih bersenjata dan tahu bagaimana menggunakan senjata mereka. Ketiga, personel medis merupakan bagian yang signifikan dari kelompok tersebut, dan persediaan medis dalam jumlah terbatas terus dibawa bahkan setelah semua kendaraan ditinggalkan. Para perawat Burma juga memberikan kontribusi yang kuat untuk moral seluruh kelompok melalui nyanyian pujian mereka seperti ‘Onward Christian Soldiers’ dan ‘The Battle Hymn of the Republic’ selama perjalanan. Dan yang terakhir, rombongan Stilwell memiliki cukup uang untuk mengizinkan membeli apa pun yang layak dibeli dalam perjalanan mereka.

Dr. Gordon Seagrave mengambil fragmen dari punggung seorang tentara China. Keberadaan Seagrave sangat vital bagi rombongan Stilwell dalam perjalanan berat mereka menuju ke India. (Sumber: Time Life World War II series: China – Burma – India)

Pada pagi hari tanggal 6 Mei, Stilwell mengumpulkan kelompoknya di sekitarnya dan memberi mereka obrolan ringan. Rombongan kemudian berangkat dengan berjalan kaki, kecuali 11 pengemudi jip. Rute itu membawa mereka melewati desa Mansi dan terus ke Magyigan. Mereka berada di luar jalur pengungsi utama saat ini – sesuatu yang sangat disyukuri semua pihak. Pihak berwenang Inggris telah memperingatkan Stilwell bahwa rute yang dia usulkan melewati jalur pegunungan sangat sulit dilewati karena berupa jalan setapak curam di sisi jauh dari sungai Chindwin. Rute yang lebih selatan telah disarankan, tetapi Stilwell tahu bahwa tentara Jepang menjaga semua pintu keluar dari Burma, dan rute yang lebih mudah ke Imphal, melalui Sittaung dan Tamu, sangat rentan disergap patroli Jepang. “Vinegar” Joe tahu dia harus memaksa setiap anggota rombongannya dengan keras, meskipun mereka menderita berbagai penyakit. Seagrave, misalnya, telah menulis pada tanggal 30 April: ‘Pembicaraan tentang jalan keluar kami dari Burma ini membuat saya khawatir. Sudah sangat lama sekali sejak saya melakukan banyak gerak kaki di hutan, dan saya merasa jauh lebih tua dari usia empat puluh lima tahun, dengan penyakit malaria yang terus-menerus muncul kembali. Dan tidak ada pengobatan apa pun yang dapat membantu keempat luka di kaki saya ini. ” Musuh yang sedang mabuk kemenangan bukanlah satu-satunya perhatian sang jenderal. Stilwell tidak hanya berpacu dengan kejaran tentara Jepang tetapi juga musim hujan. Musim hujan sudah semakin dekat, dan hujan lebat bisa menjadi tantangan lain untuk mengganggu pelarian mereka. Meskipun demikian, Stilwell percaya bahwa dengan usaha yang gigih, dia bisa mengalahkan keduanya. Ia mengingatkan bahwa rombongan itu hanya bisa bertahan melalui disiplin yang ketat. Siapapun yang tidak ingin menerima perintahnya bisa pergi meninggalkan rombongan dengan membawa bekal seminggu dan membuat jalannya sendiri. Dia lalu melihat sekeliling; tidak ada yang beranjak pergi meninggalkan rombongan. “Saat kita keluar dari sini,” dia mengakhiri, “banyak dari kamu akan membenciku, tapi aku akan memberitahu kalian satu hal: kamu semua akan keluar dengan selamat.”

Rombongan Stilwell terpaksa meninggalkan kendaraan mereka karena tidak ada lagi jalan yang mungkin dilewati. Mereka kemudian berjalan kaki menembus hutan. (Sumber: Time Life World War II series: China – Burma – India)

Agar berhasil, dia memperkirakan bahwa grup tersebut harus berjalan setidaknya 14 mil per hari, apa pun kondisinya. Jika musim hujan tiba lebih awal, jalan setapak ke India akan menjadi rawa berlumpur dan sungai akan berubah menjadi arus yang sangat deras. Rombogan tersebut memiliki cukup makanan untuk beberapa hari perjalanan, tetapi setelah itu mereka akan bergantung pada mengumpulkan makanan dari hutan, atau mungkin memperoleh beberapa makanan dari penduduk desa asli. Stilwell telah menghubungi pihak sekutu di India melalui radio tentang keadaannya, tetapi tidak memiliki konfirmasi yang pasti bahwa pesannya telah diterima. Sejauh yang dia tahu, kelompoknya sepenuhnya harus berusaha sendiri. Perangkat radio berat yang dimiliki Stilwell hanya dapat diangkut dengan kendaraan. Ketika jip yang masih tersisa telah dibawa sejauh mungkin, mereka juga akhirnya ditinggalkan, dan perangkat radionya dihancurkan. Stilwell mengirim pesan terakhirnya pada tanggal 6 Mei: ‘Gen. Brereton, New Delhi – Am menuju ke Homalin dan Imphal, dengan rombongan seratus orang. Harapan untuk bisa mencapai Homalin (tanggal) Sepuluh Mei. Jika memungkinkan, kirim lima ratus pon makanan dari Imphal dengan operator untuk menemui kami di Homalin. Pemerintah di India harus diperingatkan (bahwa) beras, polisi, dan dokter sangat dibutuhkan oleh para pengungsi di semua rute menuju ke India dari Burma. Sejumlah besar (sedang) dalam perjalanan. Semua kendali (telah) hilang. Bencana sangat mungkin terjadi. Selesai.’ Stilwell tahu bahwa makanan dan perbekalan lain mungkin diperoleh di Homalin, tetapi dia juga tahu ada kemungkinan bahwa pihak Jepang bisa lebih dulu sampai di sana. Jika demikian, Vinegar Joe siap untuk terus berusaha. “(Jika) kita bertemu (Jepang), mereka harus bertempur,” katanya pada Dorn. ‘Aku tidak akan membiarkan mereka menangkap orang-orang ini tanpa menghadapi perlawanan.’ 

MENEMBUS BELANTARA MENUJU INDIA

Awal tanggal 7 Mei, pendakian yang sebenarnya dimulai. Untungnya untuk rombongan tersebut, mereka sempat bertemu dengan rombongan 20 bagal Cina dan 2 perawatnya pada hari sebelumnya, yang sangat meringankan beban mereka. Para perawat bagal itu telah kembali dengan tangan kosong dari India ke Cina ketika kelompok Stilwell melihat dan menemukan mereka. Sejak saat itu, bagal akan ditugaskan untuk membawa beban terberat. Selain itu, 60 porter asli telah diminta oleh sepasang pemandu Dinas Kehutanan Inggris untuk menyertai Stilwell. Perjalanan dimulai dari Magyigan dengan Stilwell memimpin pada apa yang digambarkan si jenderal sebagai ‘langkah mudah’ – dengan tingkat kecepatan gerak tentara 105 langkah per menit – menyusuri Sungai Chaunggyi menuju desa Saingkyu. Stilwell menggiring kelompoknya ke tengah sungai, yang tidak terlalu dalam, karena vegetasi lebat di tepi sungai akan menyulitkan perjalanan darat. Tetap saja, panas siang hari sangat mengerikan, dan kondisi peserta rombongan yang sudah melemah mulai terlihat seiring berlalunya hari. Beberapa orang jatuh karena sengatan panas, atau lebih buruk. Ketika Kolonel William H. Holcombe keluar jalur, dia harus disadarkan kembali dengan kristal amonia. Mayor Frank D. Merrill, yang kemudian akan menjadi komandan ‘Merrill Marauders’ yang terkenal, terhuyung-huyung ke tepi sungai dan jatuh tertelungkup ke dalam vegetasi, tampaknya menderita serangan jantung (yang akan beberapa kali menyerangnya selama perang). Dia terpaksa ditarik ke hilir di atas kasur udara saat masih pingsan. Stilwell berkomentar, ‘Ya Tuhan, tapi kita (jelas) sangat lemah.’ Untuk menghemat tenaga, Stilwell mengumumkan bahwa setiap anggota kelompoknya secara pribadi akan membawa beban tidak lebih dari 10 pound. Selain itu, atas desakan kepala petugas medisnya, Kolonel Robert P. Williams, sang jenderal kemudian setuju untuk menghindari berjalan selama periode terpanas hari itu. Kapten Jones mencatat bahwa ‘ransum kami saat itu terdiri dari bubur, nasi, kornet, dan teh. Tidak banyak tapi itu membuat kami tetap bisa terus bergerak maju. “

Mayor Frank D. Merrill, salah satu personel rombongan Stilwell yang merasakan kerasnya hutan Burma saat bersama Stilwell mundur ke India. Merrill nantinya akan mengomandani salah satu unit Amerika yang terkenal dalam perang di Burma, yakni “Merrill Marauders”. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Stilwell memerintahkan rombongannya untuk beristirahat selama 5 menit setelah berjalan selama satu jam, namun setelah anggota rombongan mulai terkena malaria dan disentri, gerak mereka semakin melemah. Kini rutinitas diubah menjadi 50 menit berjalan diikuti istirahat 10 menit, diulang sampai waktu istirahat siang. Setelah istirahat, Stilwell akan menjaga rombongannya terus bergerak, memungkinkan untuk istirahat singkat, sampai dia merasa nyaman bahwa kemajuan yang cukup telah dibuat untuk hari itu. Perjalanan itu sudah mulai melelahkan bahkan bagi peserta yang paling tangguh dalam kelompok itu, dan Stilwell tahu bahwa bagian tersulit dari perjalanan itu ada di depan mata. Sementara peserta lainnya mulai tersendat dan terjatuh. Williams memohon agar orang-orang sakit ini bisa berhenti untuk beristirahat. “Barisan ini tidak bisa berhenti”, jawab Stilwell. “Sialan, Williams, kau dan aku bisa menahannya. Kita berdua lebih tua dari mereka. Mengapa mereka tidak bisa bertahan? “, gerutunya. Stilwell mendesak rombongan terus berjalan tanpa ampun. Ia sendiri sudah hampir 60 tahun, tapi dia ada dalam kondisi fisik lebih baik dari kebanyakan anggota rombongan. Ketika Mayor Jenderal Frank Sibert, tidak mampu mengimbangi gerak jalan Stilwell, jenderal tua itu berujar: “Kamu harus melakukan lebih baik. Kamu adalah jenderal. Seorang Infanteri, kamu harus menjadi contoh”. “Maaf, pak. Tapi saya tidak bisa (lagi)”, jawab Sibert kepayahan. “Brengsek kau Sibert, aku mengatakan padamu untuk bisa mengikuti barisan ini. Dan itu yang aku maksudkan”, ujar Stilwell kesal. Dia terus menjaga rombongan tetap bergerak dengan ucapannya yang keras menyakitkan dan teladan yang tegas. Dalam kecemasannya yang terus-menerus tentang persediaan makanan untuk lebih dari seratus orang, dia meminta jatah makanan dikurangi setengah dan menunjuk perwira perbekalan, Dorn untuk mencegah terjadinya kecurangan. Dia sendiri bersikeras untuk berdiri paling terakhir di antrian makanan. Stilwell memang berusaha menekan sikap egois, termasuk pada dirinya sendiri.

Stilwell membersihkan senapan Thompson-nya. Selama perjalanan Stilwell menginspirasi anggota rombongannya lewat keteladanan yang ia berikan. (Sumber: Time Life World War II series: China – Burma – India)

Pada satu saat, rombongan ini menjumpai seekor gajah, yang mereka kemudian mengetahui bahwa 2 warga desa telah tewas diinjak-injak gajah itu. Stilwell dan yang lainnya mengarahkan senjatanya pada hewan itu sampai semua orang bisa lewat dengan selamat. Pada tanggal 8 Mei, pembom Jepang terbang di atas kepala mereka, menyebabkan rombongan tersebut berpencar untuk berlindung dan mengingatkan semua orang bahwa mereka masih jauh dari tempat aman. Kesulitan itu toh tidak semuanya negatif; pada tanggal 9 Mei, Stilwell mencatat bahwa rombongan itu ‘secara bertahap mendapatkan tingkat disiplin yang diinginkan.’ Seringkali jika seseorang jatuh karena kelelahan, Vinegar Joe terus berjalan dengan susah payah, percaya bahwa personel medis dalam kelompok akan mengurus yang sakit, menempatkan mereka pada keledai jika perlu, tetapi tetap menjaga mereka terus bergerak, sampai mereka mengejar sisa barisan selama waktu istirahat atau di bivak malam. Sore hari pada tanggal 9 Mei, Stilwell mencapai desa Maingkaing, di Sungai Uyu. Uyu lebih besar dari Chaunggyi, dan Stilwell berharap dapat mengirim orang-orangnya ke bawah dengan perahu atau rakit sampai mereka mencapai sekitar wilayah Homalin di Chindwin. Bepergian dengan menggunakan perahu, diperkirakan, akan menjadi istirahat yang menyenangkan daripada berjalan kaki. Kepala desa di Maingkaing telah diberitahu tentang perlunya alat transportasi air bagi mereka, tetapi ketika Stilwell tiba hanya beberapa rakit yang disiapkan. Namun, keesokan paginya, jumlah yang memadai sudah siap. 

Rakit rombongan Stilwell melintasi sungai Uyu. (Sumber: Time Life World War II series: China – Burma – India)

Rombongan lalu berangkat menyusuri sungai dalam lima kelompok. Seorang penjaga depan yang terdiri dari empat perwira Amerika menduduki satu rakit, yang panjangnya sekitar 20 kaki dan lebar 10 kaki. Empat kelompok lainnya masing-masing memiliki tiga rakit yang diikat menjadi satu, sehingga panjang keseluruhan masing-masing sekitar 60 kaki. Semua kapal dibuat agak longgar dari bambu dan tanaman merambat, dan setiap bagian rakit memiliki gubuk beratap jerami untuk melindungi dari matahari. Kolonel Williams berkomentar: “Di rakit kami diatur menjadi tiga shift, masing-masing dari kami bertugas selama satu jam, tidak bertugas selama dua jam, sepanjang 24 jam. Saat bertugas kami mengayuh, mendayung, dan menyetir. Saat tidak bertugas kami tidur, makan sesekali (biasanya sekali sehari) dan selalu siap untuk pergi ke samping untuk mendorong rakit dari halangan. ‘Sayangnya, apa yang dimaksudkan Stilwell sebagai pengalaman yang agak santai ternyata sulit dilakukan. Kapten Jones mencatat bahwa: ‘Kami harus mendayung di banyak tempat untuk mendapatkan momentum rakit agar maju ke depan. Mendayung rakit kotak kasar buatan sendiri di sungai yang arusnya tenang di bawah terik matahari Burma, adalah jenis pekerjaan yang bisa menyebabkan seseorang berhenti untuk menjadi tentara. ” Sementara sebagian besar rombongan Stilwell akan menghabiskan dua hari yang padat untuk mengarungi Sungai Uyu dengan rakit, sang jenderal telah mengirim kereta bagal dan porternya melalui darat ke Homalin, di bawah perlindungan pengawal tentara China yang beranggotakan 14 orang dan dipimpin oleh Letnan asal Amerika, Eugene Laybourn. Stilwell dan armada keledai ini direncanakan akan bertemu di dekat Homalin pada tanggal 12 Mei. 

Stilwell dan seorang porter asal Burma mengambil suplai yang dijatuhkan dari udara. (Sumber: Time Life World War II series: China – Burma – India)

Sementara itu, rakit mulai berantakan di sungai. Pada tanggal 11, hujan mulai turun, tanda datangnya musim hujan yang bisa melepaskan diri dengan kekuatan penuh kapan saja. Sementara itu rombongan terus bergerak menuju Homalin siang dan malam. Pada satu titik, sebuah pembom Inggris yang sendirian lewat di atas kepala rendah, kembali dan menjatuhkan paket makanan yang dibungkus ke sebuah gundukan pasir. Itu adalah indikasi pertama bahwa siapa pun di India telah menerima pesan Stilwell yang meminta bantuan. Ketika Homalin akhirnya tercapai, Stilwell menemukan bahwa tempat itu telah ditinggalkan dengan tergesa-gesa oleh para pejabat Inggris dan sebagian besar penduduk asli. Tidak ada berita tersedia tentang keberadaan Jepang, dan tidak ada makanan yang tersisa untuk rombongan Stilwell oleh orang-orang Inggris yang mundur. Kantor telegraf telah ditutup. Ketika kelompok Laybourn tiba dengan keledainya, Stilwell memerintahkannya untuk membawa berenang hewan-hewan itu melintasi sungai Chindwin dan bergabung lagi dengan kelompok utama di sisi lain sungai. Jenderal itu kemudian memimpin sisa rombongannya melalui kota ke kuil Buddha yang berada beberapa mil di utara, di mana mereka menghabiskan malam disana, meski sebenarnya banyak ketidaksetujuan dari para pendeta tidak ramah yang tinggal di sana. Pada tanggal 13 Mei, akhirnya tiba waktunya bagi Stilwell untuk menyeberangi sungai Chindwin yang besar, yang menjadi penghalang air utama terakhir bagi para pengungsi yang kabur dari pihak Jepang. Setelah berjalan dua mil dari kuil ke sungai, sang jenderal dan beberapa perwira Amerika berdiri di tepi sungai mencoba mencari cara untuk menyeberanginya. Kolonel Dorn menceritakan: ‘Stilwell menggigit tempat rokoknya dan mengerutkan keningnya, menatap ke sungai seolah-olah dengan kekuatan kemauan dia dapat memaksa sebentuk perahu sungai untuk muncul. Tiba-tiba, lima kano dan sebuah perahu pengangkut barang melesat di sekitar tikungan setengah mil di atas gelombang air yang mengamuk. ‘Pemandu Kachin sang jenderal memanggil para tukang perahu, yang segera menanggapi dengan berbelok ke arah tepi sungai. Stilwell kemudian memerintahkan agar enam barisan dibentuk, dan perahu-perahu itu mengangkut kelompok itu sedikit demi sedikit ke tepi barat sungai. Sesampai di sana, Stilwell menunggu keledai yang menyeberang itu tiba dan para kuli angkut bersiap-siap. Akhirnya, seluruh rombongan bisa berpindah ke Bukit Naga yang curam. Stilwell tetap tidak terkesan dengan upaya beberapa perwiranya. ‘Hanya mudah mengikuti saja,’ kata jenderal yang frustrasi itu, ‘tetapi ketika sikap manja itu keluar. Mereka tidak bisa menerimanya. “

Sungai Chindwin tahun 1944. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Setelah melintasi Chindwin, untuk pertama kalinya anggota rombongan Stilwell tahu bahwa mereka mungkin sudah aman dari kejaran Jepang. Tapi faktanya mereka nyaris saja tertangkap Jepang. Kurang dari 36 jam setelah Stilwell meninggalkan Homalin, sebuah detasemen besar pasukan kavaleri Jepang memasuki kota. Anehnya, kelompok Stilwell tidak merasakan kegembiraan yang nyata bahwa mereka telah sukses melarikan diri dari cengkeraman musuh. Seperti yang dikemukakan Kolonel Dorn, ‘(sikap) Apatis dan kelelahan fisik tampaknya mempengaruhi semua pihak – bahwa masih ada elemen ketakutan tertentu pada pemikiran mereka tentang adanya gunung yang harus diseberangi, puncak dan punggung bukit yang lebih tinggi yang harus dilewati.’ Memang, pendakian tersulit dari seluruh perjalanan masih akan ditemui di sebelah barat sungai Chindwin. Menurut Seagrave, hanya enam orang yang pernah menggunakan jalur gunung ini untuk keluar dari Burma sebelum rombongan Stilwell. Pada sore hari tanggal 14 Mei, Stilwell memimpin rombongan dalam pendakian panjangnya ke desa Naga di Kawlum. Karena tidak ada makanan yang dikirim ke Homalin, fokus utama rombongan ini adalah pada kebutuhan makanan. Namun, setelah mencapai Kawlum, kekhawatiran mereka berakhir. Administrator Inggris Tim Sharpe saat itu telah memimpin ekspedisi bantuan ke arah timur dari Imphal. Setelah lima hari, dia berhasil membuka kontak dengan Stilwell di Kawlum. Setelah melihat barang-barang kebutuhan rombongannya tersedia, Stilwell yang bangga menulis: ‘Makanan, dokter, kuda poni, dan segalanya. Cukup melegakan, meskipun kami tetap harus pergi sendiri. ” 

TAHAP AKHIR PERJALANAN

Namun, masih banyak perjalanan berat yang harus dilalui. Untungnya, mereka yang sakit dan kecapekan di antara kelompok itu sekarang yang dapat menunggang kuda poni atau menunggang kuda hampir sepanjang perjalanan, sampai ke jalan bermotor menuju Imphal tercapai. Namun puncak gunung yang dilintasi jalan setapak itu mencapai ketinggian 7.500 kaki. Di Chammu, Stilwell disambut oleh seorang kepala suku dengan memakai selimut merah cerah yang kemudian menawari sang jenderal sebotol bir beras sebagai tanda persahabatan dan rasa hormat. Di desa lain, sang jenderal diberikan seekor kambing – Stilwell lalu menawarkan rokok sebagai imbalan. Saat rombongan itu melanjutkan perjalanan ke Imphal, mereka itu berulang kali dihentikan oleh berbagai kepala desa yang menawarkan bir beras di mana-mana, yang sangat disukai oleh Stilwell yang biasanya tidak minum alkohol. Jenderal itu terkesan dengan para porter Naga, yang dia gambarkan sebagai ‘tampan dan tangguh, periang dan ramah.’ Dia juga terpesona dengan pemandangan pegunungan yang luar biasa yang tersaji di jalan setapak yang curam. Pada tanggal 18 Mei, di desa besar Ukhrul (yang dibandingkan dengan baik oleh Stilwell seperti tempat peristirahatan gunung Baguio di Filipina), prajurit Assam Rifles dari tentara India memberi hormat resmi kepada Stilwell untuk menghormati kedatangannya. Keesokan harinya, setelah berjalan sejauh 21 mil, kelompok itu mencapai truk yang akan membawa mereka ke Litan, tempat dua perwira Amerika bertemu dengan rombongan itu dengan membawa berita mengenai perang, cokelat batangan, rokok Amerika, dan wiski. Imphal telah dibom oleh Jepang, dan kawah bom terlihat jelas ketika Stilwell akhirnya tiba di sana pada sore hari tanggal 20 Mei. Perjalanan dengan truk dari Litan ke Imphal dilalui dengan menembus lumpur tebal sejauh 16 mil, diikuti perjalanan sejauh 10 mil yang lebih mudah melintasi jalanan berkerikil. Pada saat ini, cuaca musim penghujan sangat parah. Di Imphal, seorang perwira menyambut Stilwell dan menanyakan berapa orang yang “hilang” dalam perjalanannya meninggalkan Burma. “Tidak satupun”, jawab Stilwell. “Tidak seorangpun”.

Stilwell memperbincangkan masalah perbekalan dengan rombongannya, Mei 1942. Setelah melewati belasan hari melintasi medan yang berat di belantara Burma, rombongan Stilwell berhasil mencapai India, tanpa menderita satupun korban. (Sumber: https://line.17qq.com/)

Hingga saat itu Stilwell, pada usianya yang sudah mencapai 59, telah memaksa dirinya sendiri dan anggota rombongannya tanpa henti, tetapi seluruhnya, yang terdiri dari 114 orang selamat dalam perjalanan mundur dari Burma. Jenderal itu sendiri, tiba di Imphal dengan menderita flu yang parah, telah kehilangan setidaknya 25 pon berat badannya dan menderita penyakit kuning yang kemudian berubah menjadi penyakit kuning yang parah. Beberapa anggota kelompoknya perlu dirawat di rumah sakit. Namun, setelah tinggal sebentar di Imphal, Stilwell melanjutkan perjalanan ke Tinsukia di Assam utara, di mana dia bertemu dengan Mayor Jenderal Lewis Brereton dari Angkatan Udara Kesepuluh, perwira Amerika lainnya, dan jenderal Inggris Sir Archibald Wavell dan Sir Harold Alexander. Dari sana, dia terbang ke markasnya di New Delhi. Perjalanan Stilwell dari Burma ini bagaimanapun sangatlah luar biasa. Dengan ribuan pasukan dan pengungsi melarikan diri dari Jepang, rombongan Stilwell mungkin menjadi satu-satunya kelompok yang cukup besar melarikan diri tanpa kehilangan satupun nyawa. Selama berhari-hari, kehadiran mereka tidak diketahui dunia luar, dan sang jenderal bahkan didaftarkan sebagai prajurit yang hilang dalam tugas. Pada tanggal 12 Mei, Kepala Staf Angkatan Darat AS, George C. Marshall telah menghubungi Stilwell melalui radio: ‘Presiden, Mentri Peperangan, dan seluruh Departemen Perang dipenuhi dengan rasa kekaguman atas sikap berani di mana Anda telah menghadapi bahaya dalam sepuluh hari (perjalanan berat). ‘Pada saat itu, Stilwell sedang berada di Homalin, sedikit di depan pasukan Jepang yang mengejar, dan dia telah menghancurkan peralatan radionya, jadi pesan itu tidak akan sampai padanya sampai tanggal 20 Mei. Dalam catatan hariannya untuk tanggal itu, Stilwell mempertanyakan mengapa Departemen Perang mengirimkan kepadanya apa yang tampak seperti pesan ucapan selamat saat mereka menghadapi bencana militer yang besar. Mengenai jatuhnya Burma, sang jenderal telah berkomentar kepada ajudannya, Kolonel Dorn: ‘Betapa menyedihkan semua ini tragedi. Lebih buruk karena mungkin (sebenarnya) bisa dihindari. ” Ketika Stilwell tiba di New Delhi pada 24 Mei, dia disambut oleh kerumunan koresponden berita yang sangat ingin mendengar komentarnya soal perjalanan yang telah dilaluinya dan pandangannya tentang bencana militer di Burma. Malam harinya, sang jenderal mengadakan konferensi pers di mana dia menggambarkan kampanye militer di Burma. “Saya merasa kami mendapat pukulan yang sangat keras,” bentaknya. “Kami dipukul mundur di Burma, dan itu sangat memalukan. Saya pikir kita harus mencari tahu apa yang menyebabkannya, kembali kesana dan merebutnya kembali. “

Stilwell membaca surat di sebuah gubuk. Bagaimanapun, gerak mundur dari Burma tidak menghentikan karir Stilwell. Namun karakter Stilwell yang tanpa basa-basi, pada akhirnya akan “memakan karirnya” dalam perang di medan CBI (China-Burma-India). Setelah menjalani hubungan panas dingin dengan Chiang Kai Sek, pada tahun 1944, Stilwell ditarik kembali ke Amerika atas desakan pihak China, dan baru kembali ke Pasifik jelang akhir perang, saat ditugaskan untuk menggantikan Letnan Jenderal Simon Bolivar Buckner Jr. yang gugur di Pertempuran Okinawa. (Sumber: https://line.17qq.com/)

Rasa terhina Stilwell sebagai seorang prajurit membutuhkan pembenaran, dan laporan selanjutnya ke Departemen Perang tentang kampanye militer di Burma (ditulis oleh Dorn dengan tambahan Stilwell) begitu menyakitkan sehubungan dengan kegagalan Inggris dan Cina sehingga semua salinan yang dibuat kemudian dihancurkan. Dari laporannya,  penampilan militer Inggris dapat dirangkum dalam satu kalimat, yakni: bahwa mereka tidak pernah bermaksud sejak awal untuk mempertahankan Burma dan dengan sengaja pergi untuk melemahkan China. Laporan ini menunjukkan bahwa apa yang benar dalam sejarah seringkali kurang penting daripada apa yang diyakini orang sebagai kebenaran. Di tempat lain Stilwell meringkas penyebab kekalahan sekutu sebagai akibat dari inferioritas teknis — baik di kekuatan udara, tank, artileri, senapan mesin, mortir parit, amunisi, dan alat transportasi — penduduk yang bermusuhan, inisiatif dari pihak Jepang, dan “pola komando yang bodoh tanpa keberanian, campur tangan CKS (Chiang Kai Sek), komunikasi busuk, sikap defeatist dari pihak Inggris, situasi taktis yang rentan. ” Daftar tersebut hanya memberikan terlalu sedikit pujian kepada musuh, yang tentunya mengalami kesulitan fisik dalam kampanye militernya di Burma, yang tidak kurang merepotkan dibanding kesulitan taktis di lapangan. Perbedaan mendasarnya adalah, para penyerang telah merencanakan, mempersiapkan, dan bergerak di bawah kekuatannya sendiri, sedangkan pihak yang bertahan tidak merencanakan atau mempersiapkan atau bertekad kuat dengan tujuan yang mereka miliki. Dampak kata-kata itu yang jujur dan keras, disebut oleh San Francisco Chronicle di kemudian hari, seperti “angin asin yang tajam.” The New York Times dalam editorial utama menyatakan bahwa Churchill dan Roosevelt, dengan semua retorika mereka yang luar biasa, “masing-masing … (seharusnya) dapat belajar sesuatu dari Jenderal Stilwell,” dan pejabat yang lebih rendah dapat mengindahkannya “baik dalam hal diksi maupun kebijakannya.” Pernyataannya itu menjadi semakin identik dengan julukannya, yang kemudian dikutip setiap kali dia membuat berita, yakni “vinegar” (cuka). Dia terbukti telah memilih untuk melakukan hal yang sederhana, yakni: mengatakan yang sebenarnya kepada publik. Bagaimanapun karakter Stilwell yang tanpa basa-basi ini, pada akhirnya akan “memakan karirnya” dalam perang di medan CBI (China-Burma-India). Setelah menjalani hubungan panas dingin dengan Chiang Kai Sek, pada tahun 1944, Stilwell ditarik kembali ke Amerika atas desakan pihak China, dan baru kembali ke Pasifik jelang akhir perang, saat ditugaskan untuk menggantikan Letnan Jenderal Simon Bolivar Buckner Jr. yang gugur di Pertempuran Okinawa.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Joseph Stilwell’s Escape from Burma During World War II by Marc D. Bernstein

The Retreat From Burma by Barbara W. Tuchman, February 1971

https://www.americanheritage.com/retreat-burma

Stilwell (Ballantine’s illustrated history of the violent century. War leader book no. 4) by D.D Rooney, 1971; p 45

Time Life World War II series: China – Burma – India by Don Moser, 1978, p 16, p 24, p 27, p 29-30, p 32-33

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *