Changhe Z-10 (Hanzi: 直-10, “helikopter-10”) adalah helikopter serang menengah asal China yang dikembangkan untuk Angkatan Darat Tentara Pembebasan Rakyat China. Helikopter ini dirancang selain terutama untuk misi peperangan anti-tank, juga memiliki kemampuan tempur udara-ke-udara sekunder. Diprakarsai oleh kepala desainer Wu Ximing, proyek ini awalnya melibatkan Biro Desain Kamov asal Rusia berdasarkan kontrak dengan pemerintah China, tetapi kolaborasi tersebut tiba-tiba dihentikan karena ketidaksepakatan filosofi desain yang mendasar. Para perancang China dan pengguna produk mereka, Departemen Persenjataan Umum PLA, lebih memilih badan helikopter yang lebih ringan, lebih lincah dan tidak terlalu menekankan pada lapisan pelindung. Helikopter ini dikembangkan lebih lanjut oleh Changhe Aircraft Industries Corporation (CAIC) dan diproduksi secara lokal. Nama panggilan karakter dalam novel klasik China Water Margin telah digunakan untuk memberi nama Z-10 dan padanannya yang ringan, Harbin Z-19: Z-10 disebut Fierce Thunderbolt (Pi Li Huo, 霹雳火), nama panggilan dari Qin Ming, sedangkan Z-19 disebut Black Whirlwind (Hei Xuan Feng, 黑旋风), julukan Li Kui. Pada bulan September 2016, PLA mengumumkan bahwa semua unit penerbangan militernya telah dilengkapi dengan Z-10. Di pasaran helikopter saat ini, Z-10 dapat dibandingkan dengan helikopter buatan negara-negara Barat, termasuk helikopter AH-1 Cobra varian terbaru, Eurocopter Tiger, AH-2 Rooivalk dan A-129 Mangusta. Meski demikian, beberapa pengamat menyatakan bahwa helikopter ini tidaklah sehebat AH-64 Apache.
PENGEMBANGAN
Pada tahun 1979, militer China mempelajari problem dalam melawan formasi lapis baja besar. Disimpulkan bahwa solusi konvensional terbaik adalah dengan menggunakan helikopter serang. Delapan helikopter Aérospatiale Gazelle yang dipersenjatai dengan rudal Euromissile HOT kemudian dibeli untuk evaluasi. Pada pertengahan tahun 1980-an, China memutuskan bahwa diperlukan helikopter serang khusus. Pada saat itu, mereka menggunakan helikopter sipil yang diubah menjadi helikopter militer; dimana helikopter-helikopter ini tidak lagi memadai untuk peran menyerang, dan hanya cocok sebagai pengintai. Setelah itu, China mengevaluasi helikopter tempur Agusta A129 Mangusta, dan pada tahun 1988 mendapatkan perjanjian dengan Amerika Serikat untuk membeli helikopter AH-1 Cobra dan lisensi untuk memproduksi rudal BGM-71 TOW; yang terakhir kemudian dibatalkan setelah protes akibat pembantaian di Lapangan Tiananmen tahun 1989 serta embargo senjata yang diakibatkannya. Revolusi warna di Eropa Timur juga mencegah pembelian helikopter serang dari Eropa Timur pada tahun 1990 dan 1991; dimana Bulgaria dan Rusia menolak tawaran China untuk membeli helikopter tempur Mil Mi-24. Meskipun upaya untuk mengimpor desain asing gagal, latihan perang menetapkan bahwa helikopter serang harus dikomandoi oleh angkatan darat, bukan angkatan udara. Hal ini menyebabkan terbentuknya Kekuatan Udara Angkatan Darat Tentara Pembebasan Rakyat (PLAGFAF), dengan kekuatan awal 9 helikopter Harbin Z-9. PLAGFAF kemudian melakukan eksperimen taktis yang akan membantu menentukan kebutuhan akan helikopter Z-10 di masa depan. Penelitian juga memutuskan bahwa rudal anti-tank seperti BGM-71 TOW tidak lagi memadai, dan lebih memilih rudal yang sepadan dengan AGM-114 Hellfire. Temuan ini memastikan desain Z-10 akan berbasis pada rudal baru.
Kurangnya helikopter serang dipandang sebagai kelemahan utama PLA. Sebelumnya, pengujian telah dilakukan di China dengan menggunakan helikopter Z-5 (MI-4). Namun berbagai kekurangan kemudian terlihat jelas, seperti kurangnya sistem pengendalian tembakan helikopter serang, tenaga mesin yang buruk, dan kerentanan terhadap tembakan dari darat. Helikopter SA342 Gazelle Prancis yang dibeli secara terbatas oleh PLA pada tahun 1980-an adalah helikopter tempur nyata pertama yang beroperasi di China. Dari pengalaman mengoperasian helikopter ini, China menyimpulkan bahwa helikopter tersebut tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan PLA. Ukuran Gazelle terlalu kecil (sekitar 2 ton), sehingga sangat membatasi kemampuan tempur dan jangkauan helikopter ini. Namun SA342 memainkan peran penting dalam pengembangan unit Penerbangan Tentara PLA. Sebagai helikopter serang pertama di Angkatan Darat China, mereka memampukan komandan-komandan China untuk mengembangkan taktik dan prosedur dalam mengerahkan helikopter serang. Perang Teluk tahun 1991 kemudian menyoroti kebutuhan mendesak akan helikopter serang, dan memvalidasi ulang penilaian bahwa diperlukan desain yang dibuat secara khusus. Pada saat itu, militer China bergantung pada helikopter utilitas bersenjata seperti Changhe Z-11 dan Harbin Z-9. Helikopter Z-9 merupakan varian buatan China dari SA365N Dauphin-2 asal Prancis, yang dilengkapi dengan pylon di sisi badan pesawat, yang di atasnya digantung rudal anti-tank HJ-8 dan pod dengan senjata. Meskipun Z-9W merupakan sebuah langkah maju bagi militer China, helikopter ini juga menunjukkan sejumlah kekurangan serius, termasuk peralatan yang buruk, dan ketidakmampuan untuk digunakan pada malam hari dan dalam kondisi cuaca buruk. Beberapa masalah ini diselesaikan dengan pembuatan helikopter Z-9WA, yang mana jumlah pylon eksternal ditingkatkan dari dua menjadi empat, sehingga jumlah rudal HJ-8 yang dapat dibawa bertambah dari 4 menjadi 8. Helikopter ini juga dapat menggunakan rudal udara-ke-udara TY-90. Turret berputar yang dipasang di hidung helikopter mencakup sistem pengawasan inframerah, kamera CCD, dan pengintai laser. Namun, helikopter tersebut juga tidak memenuhi persyaratan PLA, dan hanya dapat dianggap sebagai helikopter transisi sebelum helikopter serang khusus mulai beroperasi. Berdasarkan pengalaman yang diperoleh militer China, selain menjalankan misi regulernya, helikopter serang baru harus mampu mempertahankan diri dari helikopter dan pesawat lain. Pihak militer merasa bahwa begitu helikopter serang baru mulai beroperasi, helikopter yang sudah ada akan digunakan sebagai helikopter pengintai.
Tim Kerja Pengembangan Helikopter Serang (武装直升机开发工作小组) kemudian dibentuk untuk mengembangkan desain helikopter medium baru, dan bukan mendasarkan desain baru pada helikopter ringan yang saat itu masih beroperasi. Lembaga Penelitian ke-602 dan ke-608 lalu memulai pengembangan program Helicopter Medium China (CHM) kelas 6 ton pada tahun 1994. Untuk mendukung hal ini sebuah kontrak rahasia ditandatangani dengan Biro Desain Kamov Rusia untuk merancang dan memverifikasi badan dan propulsi helikopter. Pada tahun 1995, mulai Kamov mengembangkan desain awal pada kelas helikopter dengan berat 6 ton berdasarkan kontrak dengan pemerintah China, kata Sergey Mikheev, kepala insinyur desain Kamov, berbicara di pameran dagang Heli-Expo di Las Vegas, Nevada. “Karena alasan yang dapat dimengerti, informasi ini dirahasiakan,” katanya. Desain Proyek 941 ini tidak didasarkan pada proyek helikopter serang era Soviet dan dirancang khusus untuk kebutuhan unik China, kata Mikheev. “Mereka memberi kami bobot yang diinginkan, kami mendiskusikan parameter kinerja awal, lalu kami menandatangani kontrak dan kami memenuhi kontrak tersebut,” katanya. Setelah Kamov menyelesaikan desainnya, biro desain Rusia ini memverifikasi desain tersebut melalui pengujian. Kamov kemudian mengirimkan desain tersebut ke China dan konsep Proyek 941 diterima oleh pemerintah negara tersebut untuk pengembangan lebih lanjut, katanya. Kamov tidak berpartisipasi dalam pekerjaan pengembangan lebih lanjut pada Z-10, tegasnya. Setelah itu, menurut Mikheev, China-lah yang menangani sisa pekerjaan pembuatan. Itu termasuk pengembangan prototipe dan helikopter operasional yang saat ini diproduksi untuk militer China. “Jadi saya berharap helikopternya sukses,” kata Mikheev. Mikheev sendiri tidak mau mengomentari kinerja Z-10. “Itu adalah pertanyaan bagi orang-orang China,” katanya. “Saya tahu apa yang telah saya lakukan.” Demikian menurut informasi dari flightglobal.com mengenai keterlibatan biro desain asal Russia dalam proyek Z-10. Menurut laporan lain, PLA awalnya memilih Mi-35 tetapi akhirnya memilih helikopter Tiger Perancis-Jerman sebagai sumber rujukan. Sekitar tahun 1991-92 PLA kabarnya sempat menyewa satu helikopter AH-1 Cobra Pakistan untuk kebutuhan evaluasi teknis.
Program ini dipromosikan sebagai proyek sipil, dan berhasil mendapatkan bantuan teknis yang signifikan dari Barat, seperti dari Eurocopter (konsultan desain instalasi rotor), Pratt & Whitney Canada (mesin turboshaft PT6C), dan Agusta Westland (transmisi), sementara pihak China sendiri berkonsentrasi di area-area yang tidak memperoleh bantuan asing. Dalam prosesnya Pratt & Whitney, bersama divisi Hamilton Sundstrand dari United Technologies Corporation, secara tidak sah membawa dan menyediakan teknologi militer AS ke dalam program ini. Dalam upaya mempertahankan keuntungan, mereka bersekongkol untuk menutupi fakta tersebut. Mereka dinyatakan bersalah atas dakwaan ini pada bulan Juni 2012, walau beberapa dakwaan ditangguhkan keputusannya. Sementara itu pada tahun 1998, Lembaga Penelitian ke-602 mengusulkan untuk memisahkan program helikopter bersenjata dari program helikopter menengah, atau mencurahkan semua sumber daya untuk program helikopter bersenjata. Lembaga Penelitian ke-602 menyebut rancangan helikopter bersenjata yang diusulkannya sebagai Z-10 (Bahasa Cina: 直-10; artinya. ‘helikopter-10’). Akibatnya, sebagian besar sumber daya disalurkan ke Z-10, meskipun program helikopter menengah tetap dilanjutkan dengan prioritas yang dikurangi. Sebagai kompensasi helikopter medium dapat terus mengembangkan teknologi yang digunakan baik oleh helikopter militer maupun sipil. Program Z-10 kemudian disebut Proyek Bersenjata Khusus (专武工程), kependekan dari Proyek Helikopter Bersenjata Penggunaan Khusus (专用武装直升机工程). Pengembangannya dijaga kerahasiaannya lebih ketat dibandingkan program pesawat tempur Chengdu J-10. Dana sebesar hampir ¥ 4 miliar pada awalnya diinvestasikan dan Z-10 menjadi salah satu program terpenting yang dimulai dalam rencana 5 tahun ke-9. Di depan umum, Lembaga Penelitian ke-602 ditugaskan sebagai kepala perancang untuk mempromosikan ilusi bahwa helikopter tersebut merupakan helikopter serang yang dikembangkan di dalam negeri, sementara Harbin Aircraft Manufacturing Corporation (HAMC) dari China Aviation Industry Corporation II (AVIC II) ditugaskan sebagai pabrikan utama. Hampir empat lusin perusahaan lain dikabarkan turut berpartisipasi dalam program ini.
Pada musim panas tahun 1999, AVIC II mulai menggunakan CAMC Z-8 untuk menguji sub-sistem Z-10 yang baru dikembangkan. Pada musim gugur tahun yang sama, Harbin Z-9 ditambahkan ke inventaris pesawat uji. Pengujian ini terkonsentrasi pada sub-sistem seperti sistem pengendalian tembakan, kontrol HOTAS, dan sistem navigasi. Afrika Selatan sempat memberikan bantuan terbatas di bidang stabilitas penerbangan, berdasarkan pengalaman merancang helikopter tempur Denel Rooivalk. Bantuan Afrika Selatan berhenti pada tahun 2001. Pada tahun 2000, China kembali berusaha untuk mendapatkan helikopter serang buatan Rusia, namun kesepakatan untuk memperoleh helikopter Kamov Ka-50 gagal seperti kesepakatan pengadaan Mil Mi-28 beberapa tahun sebelumnya. Kegagalan berulang kali dalam memperoleh helikopter serang asing pada akhirnya memperkuat perasaan bahwa China tidak punya pilihan selain mengabaikan opsi asing dan mengembangkan helikopter semacam itu sendiri, serta mempercepat pengerjaan Z-10. Pada tahun yang sama, HAMC mengalihkan sebagian besar tanggung jawab produksinya kepada CAIC dari AVIC II. Alasan resmi yang diberikan untuk hal ini adalah beban kerja yang berlebihan; HAMC sibuk memproduksi HC120 dan Harbin Z-9, serta pesawat sayap tetap lainnya seperti Harbin Y-12, dan dengan demikian telah mencapai batas kapasitasnya nya. Namun, banyak yang berspekulasi bahwa HAMC tidak berkinerja cukup baik karena menggunakan praktik manajemen ala Soviet yang kaku dan tidak efektif, yang diyakini menyebabkan perusahaan tersebut terlilit utang. Meskipun HAMC sedang dalam proses reformasi, yang akhirnya berhasil, pihak pemerintah dan militer merasa lelah dan tidak sabar. Pabrik SH-5 kemudian menjadi sangat menguntungkan setelah restrukturisasi dan reformasinya berhasil, namun pabrik tersebut harus keluar dari bisnis manufaktur pesawat terbang, dengan memproduksi tangki bertekanan dan kontainer khusus lainnya. Akhirnya diputuskan bahwa program Z-10 terlalu penting untuk dijalankan oleh HAMC, sehingga dicari kontraktor yang lebih stabil dan CAIC dipilih. HAMC masih tetap bertanggung jawab atas produksi sub-sistem dan komponen tertentu, yang mana mereka dapat memanfaatkan pengalaman yang diperoleh dari pembuatan suku cadang untuk helikopter asing dan pesawat sayap tetap seperti keluarga Embraer ERJ 145.
Pada bulan Mei 2002, rotor ekor Z-10 dan beberapa komponen lainnya diuji di lapangan oleh Lembaga Penelitian ke-602. Pada bulan April 2003, prototipe Z-10 menyelesaikan penerbangan perdananya di lapangan terbang Lumeng (吕蒙), lapangan terbang tersebut telah ditugaskan ke CAIC untuk penggunaan tersebut. Menurut sumber China, uji penerbangan awal berhasil diselesaikan pada tanggal 17 Desember 2003, sedangkan menurut sumber lain, uji terbang tersebut diselesaikan beberapa bulan sebelumnya, pada 29 April 2003. Menurut Jane’s Information Group, total 3 prototipe telah menyelesaikan lebih dari 400 jam penerbangan uji penerbangan hingga saat itu. Dalam pengerjaannya helikopter serang Z-10 mengalami beberapa penundaan karena masalah mesin. Awalnya prototipe Z-10 ditenagai oleh mesin PT6C-76C dari Kanada tetapi versi produksinya akan menggunakan mesin WZ-9. Pada suatu waktu Z-10 diyakini memiliki dua mesin turboshaft MTR 390 asal Eropa, meskipun sekarang hal ini tampaknya merupakan kesalahan. Awalnya ada spekulasi bahwa desainnya menggunakan mesin dan transmisi yang berasal dari helikopter Harbin Z-9, dengan badan pesawat dimodifikasi untuk menampung dua pilot. Namun, seiring berjalannya waktu, upaya menunjukkan Z-10 sebagai Helikopter Menengah China (CMH), dan mungkin berbagi power train yang sama dengan helikopter Z-15 (AC352). Pada tahun 2004, 3 prototipe lagi dibuat, dengan total ada 6 prototipe, dan uji terbang tahap kedua diselesaikan pada tanggal 15 Desember 2004. Dalam salah satu uji terbang, calon panglima Kekuatan Udara Angkatan Darat Tentara Pembebasan Rakyat (PLAGAF), Song Xiangsheng (宋湘生), ikut terbang di dalam prototipe tersebut. Tahap ketiga dari uji terbang intensif menyusul, dengan dilakukan penerbangan siang dan malam. Pada bulan Januari 2006, uji persenjataan dan sensor, termasuk penembakan amunisi aktif, sedang dilakukan. Prototipe dan sejumlah kecil pesawat pra-produksi terus digunakan oleh militer China untuk evaluasi. Desain helikopter kemudian terus mengalami modifikasi kecil dan peningkatan berdasarkan masukan yang didapat. Pada tahun 2012, helikopter Z-10 mulai diproduksi, dan batch awal dikirim ke Tentara Pembebasan Rakyat China pada tahun 2009 dan 2010. Z-10 diperkenalkan untuk pertama kalinya ke publik pada AirShow China 2012 di Zhuhai.
Beberapa helikopter bersenjata Z-10 yang dikembangkan secara mandiri oleh China dari resimen penerbangan militer di bawah Komando Wilayah Militer Shenyang (MAC) dari Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) dikabarkan melakukan uji penembakan rudal udara ke darat di wilayah udara selatan provinsi Liaoning pada tanggal 12 November 2012. Meskipun kondisi iklim ekstrem, helikopter ini disebutkan mencapai tingkat ketepatan serangan seratus persen. Dicirikan oleh performa penerbangan yang luar biasa dan kemampuan manuver di ketinggian rendah yang ekstrem, helikopter Z-10 dapat dilengkapi dengan beberapa senjata berpemandu udara-ke-udara dan udara-ke-darat presisi, serta memiliki kemampuan tempur siang dan malam. Pada bulan Maret 2014, PLA merilis gambar helikopter Z-10 yang melakukan uji coba dek dengan kapal pendarat Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tipe 072A. Tujuannya mungkin agar helikopter di kapal memenuhi syarat untuk memberikan dukungan udara bagi operasi pendaratan yang diluncurkan dari kapal, walau kapal kelas Tipe 072A memiliki helipad tetapi tidak memiliki hanggar atau fasilitas pendukung pesawat di dalamnya. Z-10 juga mungkin memenuhi syarat pada kapal amphibious transport dock Tipe 071 yang lebih besar.
DESAIN
Seperti yang sudah disinggung diatas, Biro desain Kamov dikontrak untuk melakukan pekerjaan pengembangan berdasarkan kontrak rahasia. Kamov bekerja dengan China untuk menetapkan spesifikasi dasar, seperti berat, kecepatan, dan kapasitas muatan, setelah itu mereka memiliki kebebasan penuh untuk merancang helikopter yang akan dibuat. Kamov merancang, menguji, dan memverifikasi tahap awal desain helikopter, setelah itu pekerjaan diberikan kepada tim China dan dimodifikasi secara substansial. Meskipun tahap awal desain dibuat di Rusia, konstruksi prototipe, pengujian penerbangan, dan pengembangan lebih lanjut dilakukan oleh China sendiri. Z-10 memiliki tata letak helikopter serang konvensional, dengan pilot dan operator senjata duduk bersama-sama, dalam kokpit berundak depan belakang. Bagian bawah dan samping kokpit dilindungi oleh lapisan baja komposit, begitu pula mesin dan tangki bahan bakar yang terletak di tengah badan pesawat. Material komposit banyak digunakan pada Z-10 namun China menghadapi kesulitan dalam bidang ini, khususnya dalam bidang kemampuan bertahan saat terjadi kecelakaan. Badan Z-10 ramping sehingga menghasilkan profil depan yang sangat sempit dan memuat sepasang mesin turboshaft yang dipasang tinggi. Badan helikopter memiliki sisi miring untuk mengurangi penampang radar (RCS), dan ramping serta meruncing ke belakang, dengan roda pendaratan tetap. Boom ekor meruncing ke belakang, dengan sirip tinggi menyapu ke belakang dengan ujung berbentuk persegi. Bagian datarnya meruncing tidak rata dengan ujung persegi, sedangkan sirip perut dilengkapi roda pendaratan belakang. Rotor ekor dipasang di sisi kanan badan helikopter. Z-10 memiliki desain non-konvensional yang menggunakan bahan komposit penyerap radar. Kaca antipeluru kabin dapat menahan amunisi kaliber 7,62 milimeter dan lapis baja komposit di bawah kabin tahan terhadap tembakan senapan mesin kaliber 12,7 milimeter. Kabin awak dilengkapi dengan proteksi kebakaran maksimal dan Z-10 juga dilengkapi dengan kursi lontar. Rotor utama helikopter dipasang di bagian tengah badan, dan terdiri dari total lima bilah. Rotor ekor 4 bilah menggunakan tata layout yang mirip dengan rotor ekor AH-64 Apache, dengan dua pasang pada jarak yang tidak sama, bukan 4 bilah pada jarak yang sama, dan salah satu tujuan utama pengaturan tersebut adalah untuk mengurangi kebisingan. Bilah rotor ekor terdiri dari total 11 lapisan plastik yang diperkuat kaca dan material komposit, memungkinkannya menahan tembakan peluru langsung. Dudukan roda pada helikopter bersifat tetap dan terdiri dari dua kaki utama beroda tunggal dan satu kaki ekor beroda tunggal. Z-10 memiliki panjang 14,1m, diameter rotor 13m, dan tinggi 3,8m. Berat lepas landas maksimum Z-10 adalah 8 ton.
Instrumen Penerbangan
Helikopter Z-10 dilengkapi dengan sistem kendali ‘fly-by-wire‘ (FBW), dan glass cockpit modern dengan layar tampilan multifungsi (MFD). Ada dua konfigurasi instrumen penerbangan untuk Z-10, satu dikembangkan dari sistem asing yang serupa (dikabarkan berasal dari Perancis), dan yang lainnya dikembangkan di dalam negeri, dan kedua konfigurasi tersebut berbagi tampilan head-up holografik yang sama. Perbedaan tata letak antara kedua konfigurasi tersebut adalah pada satu konfigurasi, terdapat tiga layar LCD multi-fungsi (MFD) berwarna, sedangkan pada konfigurasi lainnya digantikan oleh dua MFD LCD yang lebih besar. Tidak jelas mana yang berasal dari sistem asing dan mana yang dikembangkan di dalam negeri, namun dilaporkan bahwa praktik memiliki konfigurasi yang berbeda, berkat desain yang modular, adalah untuk tujuan ekspor, agar sesuai dengan kebiasaan pilot di negara pembeli potensial. Namun, pada awal tahun 2018, terungkap bahwa versi MFD 2 bagianlah yang dipilih untuk memasuki layanan.
Avionik
Helikopter Z-10 dilengkapi dengan sistem navigasi inersia onboard yang sepenuhnya terintegrasi dengan sistem GPS/GLONASS, dan pengaturan dibuat untuk peningkatan di masa depan dengan menyertakan sistem navigasi Galileo (navigasi satelit)/Beidou ketika kemampuan yang diperluas dari sistem ini tersedia. Salah satu dari dua sistem pengendalian tembakan utama (FCS) adalah sistem elektro-optik (optronik), yang memanfaatkan pengalaman yang diperoleh dari pembuatan sistem serupa di Perancis dan Israel sebelumnya, dimana China menggabungkan yang terbaik dari keduanya, namun hanya dari segi perangkat keras. Perangkat lunak ini sepenuhnya dikembangkan di dalam negeri oleh China. FCS Optronik diproduksi oleh Pabrik ke-218 China North Industries Group Corp, yang kemudian direformasi menjadi China North Industries Group Corporation Electro-Opticals Science & Technology Ltd. Selain radar pengendali tembakan gelombang milimeter dan FCS optronik, pilot Z-10 memiliki FCS lain, yaitu helmet mount sight (HMS) yang dirancang oleh Lembaga Penelitian ke-613 untuk menampilkan informasi dan kontrol senjata. HMS adalah standar untuk Z-10. HMS ini didasarkan pada HMS sebelumnya yang digunakan pada Z-9W, yang pertama kali ditampilkan pada Zhuhai Airshow ke-5 yang diadakan pada tahun 2004. Pada Zhuhai Airshow ke-7 yang diadakan pada tahun 2008, pengembang mengonfirmasi bahwa HMS sepenuhnya terintegrasi ke dalam FCS dan sistem navigasi onboard. Informasi navigasi dapat ditampilkan di MFD, pilot juga dapat menerbangkan Z-10 secara ‘langsung’, termasuk di malam hari menggunakan kacamata penglihatan malam (NVG) yang kompatibel dengan HMS mirip dengan HMS TopOwl Prancis yang digunakan pada helikopter tempur Eurocopter Tiger.
HMS milik China dapat mengendalikan rudal udara-ke-udara dan udara-ke-darat, senjata terarah lainnya, serta menyediakan informasi navigasi. Selain itu, tampilan yang dipasang di helm (HMD) dikembangkan untuk Z-10, mirip dengan Sistem Penampakan Helm dan Tampilan Terintegrasi Honeywell M142 (IHADSS) yang digunakan pada helikopter tempur AH-64 Apache. Pengembang menegaskan bahwa HMD tidak standar karena tidak kompatibel dengan NVG, keduanya tidak dapat dipasang secara bersamaan. Tidak jelas apakah NVG merupakan standar; namun, pengembang telah mengklaim bahwa helm dan HMS sepenuhnya kompatibel dengan NVG. Gambar yang dirilis oleh sumber resmi pemerintah menunjukkan bahwa Z-10 menggunakan NVG bentuk teropong (seperti helikopter-helikopter lain dalam layanan China). Pada akhir tahun 2018, HMS generasi ke-2 China yang dirancang untuk Z-10 telah terungkap, dengan penutup mata tunggal yang besar menggantikan teropong dua bagian pada HMS generasi pertama. Laporan menunjukkan bahwa Z-10 memiliki sistem optik yang menyampaikan informasi sensor ke helm pilot; dimana pada dasarnya ini adalah sistem yang mirip dengan Sistem Penglihatan Helm dan Tampilan Terpadu (IHADSS) asal Amerika. Sistem helm ini juga mengontrol arah bidikan senapan mesin. Hal ini memungkinkan pilot untuk memiliki kesadaran situasional yang lebih baik karena mereka dapat memantau sistem penerbangan dan mengamati medan, serta mengarahkan persenjataannya.
Sistem peperangan elektronik (EW) Z-10 adalah sistem EW China pertama yang mengintegrasikan radar, penerima peringatan radar (RWR), penerima peringatan laser (LWR), tindakan dukungan elektronik (ESM) dan tindakan balasan elektronik (ECM). Sistem ini diberi nama YH-96, yang diambil dari nama radarnya. YH-96 diklaim memiliki tingkat intersepsi sinyal musuh yang tinggi, dan dalam mode otomatis penuh, ia dapat secara otomatis menganalisis ancaman dan meluncurkan berbagai decoy dan sinyal gangguan yang sesuai. Alternatifnya, pilot dapat memilih untuk meluncurkan decoyatau mengganggu sendiri perangkat sensor musuh. Sistem identifikasi teman atau musuh (IFF) Z-10 dirancang khusus untuk bekerja di lingkungan dengan gangguan musuh yang berat. Semua sistem pengacau dan peluncuran decoy yang dipasang secara internal dibuat dengan konsep desain modular, sehingga dapat dengan mudah diganti ketika teknologi yang lebih baru telah tersedia. Unit pengamatan yang terdiri dari Forward Looking Infra Red (FLIR) dan televisi dengan cahaya rendah dipasang pada platform yang dapat dikemudikan di hidung helikopter. Rangkaian perangkat penanggulangan elektronik (ECM) pada Z-10 terdiri dari sistem penerima peringatan radar (RWR), penerima peringatan laser, jammer inframerah, dan dispenser decoy/suar. Selain radar pengendali tembakan gelombang milimeter dan FCS optronic, pilot Z-10 memiliki FCS lain, yaitu helmet mount sight (HMS).
Helikopter Z-10 dapat dilengkapi dengan radar pengendali tembakan (FCR) gelombang milimeter (MMW). Radar kendali tembakan (FCR) gelombang milimeter (MMW) untuk Z-10 ini dikembangkan oleh China Northern Electronic Co. (中国北方电子公司), anak perusahaan Norinco. MMW FCR ini canggih dan sepenuhnya digital, dengan berat 69,5 kg, kurang dari setengah dari sistem serupa dari bekas Soviet. Sebagai perbandingan, MMW FCR Rusia Arabelet / FH-101 yang digunakan pada helikopter tempur Kamov Ka-50N dan MMW FCR Khinzhal Ukraina yang digunakan pada Mil Mi-28N memiliki berat sekitar 150 kg. Berbeda dengan sistem Rusia yang menggunakan dua antena, MMW FCR China mengadopsi pendekatan barat yang menggunakan antena tunggal, mirip dengan AN/APG-78 yang digunakan untuk AH-64D Apache Longbow. Radar tersebut diberi nama YH, kependekan dari Yu Huo(浴火), yang berarti mandi dalam api. MMW FCR yang memiliki jangkauan sekitar 37 km ini, sepenuhnya terintegrasi dengan subsistem lain dari sistem peperangan elektronik onboard, seperti penerima peringatan radar (RWR), penerima peringatan laser (LWR), tindakan dukungan elektronik (ESM), dan penanggulangan elektronik (ECM), dengan keseluruhan sistem EW di atas Z-10 dinamai sesuai dengan radar yang digunakan, sementara konfigurasi radar akhir yang dipakai belum ditentukan. Sistem EW dan RWR pada Z-10 diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 11,1 km.
Kokpit
Kokpit tandem bertingkat di Z-10 bisa menampung dua penerbang – penembak di belakang dan pilot di depan – berbeda dari tata letak konvensional kebanyakan helikopter serang. Hal ini dikonfirmasi oleh laporan video kantor berita resmi China. Kontrol penerbangan kedua penerbang berfungsi untuk saling mendukung, dan pilot, yang juga merupakan pemimpin tim awak helikopter, dapat mengesampingkan perintah dari penembak. Kanopi pada kokpit diperlakukan secara khusus untuk mencegah silau dari sinar matahari, dan, sebagai opsi tambahan, versi berwarna kecokelatan juga tersedia untuk tujuan kamuflase, meskipun ini bukanlah standar. Kaca kanopi antipeluru mungkin setebal 38 milimeter, dan mampu menahan hantaman langsung pecahan peluru dan peluru yang ditembakkan dari senapan mesin hingga ukuran kaliber .50. Pelat baja tambahan dapat dipasang untuk meningkatkan perlindungan bagi para awaknya.
Mesin
Mesin yang dipakai oleh Z-10 adalah WZ-9 (Cina: 涡轴-9; artinya. ‘turboshaft-9′) buatan domestik, yang dirancang oleh Institut Penelitian ke-602. Mesin ini berdasarkan desain sipil dari mesin Pratt & Whitney Canada (PT6C-67C) yang bisa ditemukan pada helikopter-helikopter China lainnya. Pratt & Whitney Canada diketahui telah memasok perangkat lunak yang tersedia kepada China untuk mengubah mesin sipil ini untuk bisa digunakan secara militer. Klaim sebelumnya bahwa WZ-9 adalah versi China dari MTR390 terbukti salah, karena menurut dokumen teknis resmi pemerintah China yang dipublikasikan, VK-2500, TV3-117, dan PT6 semuanya diklasifikasikan sebagai mesin turboshaftgenerasi ketiga, seperti WZ-9, sedangkan MTR390 diklasifikasikan sebagai mesin turboshaft generasi keempat. WZ-9 adalah mesin paling bertenaga kedua dari lima mesin yang diuji pada Z-10, namun memiliki keuntungan karena tidak memiliki komponen buatan luar negeri. Selain itu, karena 100% dibuat di China, tidak akan ada masalah politik yang akan mempengaruhi pembelian suku cadang penting di kemudian hari. Sistem transmisi mesin ini diselesaikan dengan bantuan dari AgustaWestland asal Inggris-Italia. WZ-9 sedang dalam proses produksi penuh untuk menggerakkan Z-10. Mesin tersebut dilengkapi dengan sistem Full Engine Digital Control (FADEC). Spesifikasi mesin turboshaft WZ-9 yang dipasang pada Z-10 untuk produksi massal adalah:
- Daya: 930 – 957 kW
- Konsumsi bahan bakar: 0,311 kg/(kW·h)
- Rasio tekanan: > 8
- Suhu masuk: 1355 derajat Celcius Rasio kekuatan terhadap berat: 5,4
WZ-9 telah diperbarui dengan varian baru, yakni WZ-9G, dengan daya dorong lebih tinggi yaitu 1200 kW.
Persenjataan
Karena konsep desain modularnya, Z-10 dapat dipersenjatai dengan berbagai macam persenjataan. Adaptasi standar GJV289A oleh China, yang setara dengan arsitektur databus MIL-STD-1553B, memungkinkan persenjataan asal Soviet dan Barat untuk diadopsi oleh Z-10. Persenjataan ofensifnya terdiri dari senapan mesin, meriam, roket, dan rudal. Sayap pendek Z-10 memiliki dua cantelan yang masing-masing berjumlah empat, masing-masing cantelan mampu membawa hingga 4 rudal, dengan total hingga 16 rudal dapat dibawa. Persenjataan internal Z-10 terdiri dari dudukan senjata yang dipasang di dagu helikopter. Dua sayap pendek menyediakan titik pemasangan untuk persenjataan eksternal atau pod senjata. Meriam dipasang dalam bentuk chain gun, atau di turret. Peluru tungsten alloy penembus lapisan baja, peluru penembus lapisan baja khusus (depleted uranium), dan peluru pembakar penembus lapisan baja dapat digunakan. Turret dan bagian yang berputar mengadopsi dudukan senjata berputar dengan bodi terbuka, dengan jarak tembak 180 derajat, yang dapat mengikuti pandangan dan pembidik helm secara fleksibel. Garis pandang helm dapat digunakan untuk mengatur arah tembakan dengan cepat dan mengunci target. Selain itu, karena recoil dari peluru kaliber 23x115mm yang digunakan senjata ini, kecepatan peluncurannya cepat dan akurasinya tinggi. Senjata ini sangat cocok untuk Z-10, dalan menjalankan misi pengawalan, memberi tembakan perlindungan dari udara, dan menghilangkan ancaman helikopter yang terbang di ketinggian rendah dan target ringan di darat yang bisa muncul kapan saja. Meriam kuat Z-10 ini memiliki latar belakang yang panjang. Asal usulnya dapat ditelusuri kembali ke senapan mesin antipesawat empat laras kaliber 14,5 mm tipe ZPU-4 yang terkenal. Peluru kaliber 14,5x115mm yang digunakan oleh senjata ini sebanding dengan peluru kaliber 20mm Barat, sehingga sangat kuat. Pada saat itu, Uni Soviet ingin merancang meriam kaliber 23 mm dengan recoil (daya tolak balik) rendah untuk pesawat tempur. Para peneliti kemudian mengganti proyektil kaliber 14,5 mm dengan proyektil standar kaliber 23 mm, dan kemudian memodifikasi pelurunya untuk mengembangkan proyektil kaliber 23×115 mm yang kemudian menjadi sangat sukses. Otomatisasi chain gun pada Z-10 menggunakan motor eksternal untuk menggerakkan rantai guna menggerakkan bolt senjata, meluncurkan peluru demi peluru, mengeluarkan, dan memasukkan peluru ke dalam kamar peluru untuk menyelesaikan siklus penembakan. Sistem ini memiliki kelebihan dalam membuat struktur menjadi lebih sederhana, berukuran kompak, dan ringan. Semua senjata pada Z-10 dapat digunakan menyerang sasaran darat atau sasaran udara, dan dapat langsung diarahkan oleh helm HMS pilot. Dua jenis autocannon tersedia untuk Z-10, yang paling umum adalah chain gun otomatis kaliber 23 mm yang dikembangkan sendiri oleh China ini. Meriam otomatis lain yang dapat dipasang pada Z-10 adalah kanon otomatis hasil reverse engineered dari M242 Bushmaster kaliber 25 mm yang diadopsi untuk penggunaan helikopter. Awalnya dipasang pada kendaraan tempur NVH-4 turunan dari AFV Tipe 85, dimana militer China memodifikasi senjata tersebut untuk penggunaan di udara.
Rudal udara-ke-permukaan yang dapat dibawa oleh Z-10 termasuk rudal anti-tank buatan China HJ-8 dan AKD-10. AKD-10 memiliki kemampuan serupa dengan rudal AGM-114 Hellfire dan memiliki kemampuan anti-helikopter selain kemampuan anti-tank. Z-10 juga dapat menembakkan rudal anti-tank jarak jauh BA-21, yang dapat ditembakkan dari jarak 11 mil (17,7 km), dan mengarah ke sasaran yang terhubung dengan data radar gelombang milimeter. Rudal udara-ke-udara utama yang digunakan oleh Z-10 adalah TY-90, sebuah rudal yang dirancang khusus untuk digunakan oleh helikopter dalam pertempuran udara. TY-90 jauh lebih berat daripada rudal MANPAD yang biasanya dibawa oleh helikopter, sehingga memberikan tingkat kehancuran dan jangkauan yang lebih baik. Rudal seri FN-6 dan QW China juga dapat dikerahkan, seperti halnya MANPAD non-China lainnya. TY-90 dan MANPAD sering kali dibawa dalam rak rudal, dengan total 4 rudal dibawa per cantelan. Saat menggunakan rudal udara-ke-udara yang lebih besar seperti PL-9 atau rudal serupa seperti AIM-9 Sidewinder, jumlah totalnya berkurang menjadi 2. Z-10 menembakkan rudal udara-ke-udara pertamanya pada pertengahan bulan Agustus 2013 selama latihan tembakan langsung dan berhasil mencegat target di ketinggian rendah. Z-10 dapat dipersenjatai dengan berbagai macam roket tanpa pemandu, mulai dari kaliber 20 mm hingga 130 mm. Roket terbesar yang diuji adalah jenis roket kaliber 130 mm yang dibawa dengan cantelan seperti halnya rudal, sedangkan roket kaliber lebih kecil dipasang di pod roket konvensional. Roket yang paling sering digunakan adalah yang berukuran antara kaliber 57 mm hingga 90 mm dan total 4 buah pod dapat dibawa di bawah sayap pendeknya, satu di bawah setiap cantelan. Keluarga dari roket berpemandu kaliber 90 mm yang diproduksi oleh anak perusahaan Norinco, Harbin Jiancheng Group (哈尔滨建成集团有限公司), pertama kali terungkap pada Zhuhai Airshow ke-9 yang diadakan pada bulan November 2012, diberi nama Sky Arrow 90 (Tianjian 90 atau Tian Jian 90, bahasa Cina: 天箭 90).
DETAIL PERSENJATAAN
Desain Z-10 memang masih banyak diselimuti misteri, sehingga detailnya masih samar-samar dan kebanyakan hanya berdasarkan spekulasi berdasarkan analisa dari berbagai sumber dan gambar-gambar yang beredar. Hal ini termasuk juga dari segi persenjataan yang dapat dibawanya. Berikut adalah beberapa detail dari persenjataan yang diperkirakan dapat dibawa oleh Z-10.
RUDAL
HJ-8
HJ-8 atau Hongjian-8 (Bahas China: 红箭-8; pinyin: Hóng Jiàn-8; artinya. ‘Red Arrow-8′) adalah rudal anti-tank yang diluncurkan melalui tabung, diarahkan secara optik, dan dipandu kabel generasi kedua, yang awalnya digunakan oleh Tentara Pembebasan Rakyat sejak akhir tahun 1980an. HJ-8 adalah desain rudal anti-tank pertama buatan China dan dapat dianggap setara dengan rudal anti-tank BGM-71 TOW asal Amerika dan MILAN buatan Perancis-Jerman/rudal Euromissile HOT. HJ-8 dipersenjatai dengan hulu ledak anti-tank HEAT. HJ-8 adalah desain kombinasi yang diyakini banyak ahli dari tiga sistem rudal antitank Barat yang diperoleh dari negara-negara di Timur Tengah dan Asia yang kemudian diperiksa dan direkayasa ulang serta dimodifikasi, dimana tripodnya berasal dari BGM-71 TOW AS; unit kontrol pelacak dari rudal MILAN Perancis/Jerman; dan rudalnya dari rudal Swingfire asal Inggris. Ada banyak model yang ditingkatkan setelah kemunculan HJ-8 varian awal, yang diberi nama HJ-8A hingga HJ-8H, dimana masing-masing menggabungkan fitur yang ditingkatkan dari model sebelumnya. HJ-8E mulai beroperasi pada pertengahan tahun 1990. Rudal anti-tank HJ-8E berbobot 24,5 kg, memiliki jangkauan hingga 4.000 m, dan juga dapat mengalahkan lapisan baja reaktif eksplosif (ERA). Rudal ini dapat menembus lapisan RHA setebal 800–1100 mm pada sudut 0° / RHA setebal 180+ mm pada sudut 68°. Didesain agar dapat diandalkan dan akurat, HJ-8 sekarang menjadi persenjataan anti-tank standar dari helikopter tempur PLA tipe Z-9W, Mi-17, dan Gazelle (mengganti rudal Euromissile HOT).
HJ-9
HJ-9, HongJian-9 (China: 红箭-9; pinyin: Hóng Jiàn-9; artinya. ‘Red Arrow-9′), adalah sistem peluru kendali anti-tank generasi ketiga yang canggih, yang dapat dibawa manusia atau dipasang di kendaraan yang digunakan oleh Angkatan Darat Tentara Pembebasan Rakyat. HJ-9 memiliki jangkauan maksimum 5,5 km (3,4 mil), dan jangkauan minimum 100 m (110 yd). Rudal ini dipandu oleh perintah semi-otomatis menggunakan sinar laser. Penetrasinya terhadap lapis baja homogen yang digulung (RHAe) diklaim adalah sebesar 120 cm (3,9 kaki), lebih besar dari HJ-8. Rudal ini dapat dipasangkan dengan berbagai hulu ledak termasuk peledak tandem high-explosive anti-tank (HEAT), high-explosive(HE), atau thermal, untuk digunakan terhadap target status non-lapis baja, bunker, dan perbentengan. Seperti HJ-8, HJ-9 menggunakan wadah sekali pakai dan tabung peluncuran, namun yang untuk HJ-9 lebih berat, dengan berat 37 kg (82 lb) karena diameter HJ-9 yang besar yaitu 152 mm (6,0 in). Rudal ini kompatibel dengan berbagai perangkat bidik pencitraan termal dan dapat dipasang pada Pengangkut Rudal AFT-9.
AKD-10
AKD-10 merupakan turunan udara-ke-permukaan dari HJ-10, meskipun seperti HJ-10, AKD-10 juga dapat diluncurkan dari berbagai platform. Pengembangan AKD-10 didasarkan pada fakta bahwa di medan perang modern, lebih dari 70% targetnya tidak berlapis baja, seperti bunker, perbentengan, dan kendaraan tanpa lapis baja. Dalam pertunjukan udara di China baru-baru ini, foto platform truk peluncur AKD-10 yang tidak berlapis baja ditampilkan dalam materi presentasi. Platform ini dibentuk oleh kendaraan mirip truk, dengan rakitan peluncur/sensor yang dapat ditarik, dan kabin pengontrol yang menghadap ke belakang. Rakitan peluncur/sensor mampu mendeteksi/menyerang target saat kendaraan berada di belakang gedung atau pepohonan. Efektifitas rudal ini akan semakin meningkat di lingkungan perkotaan dimana rudal anti-lapis baja khusus tidak efektif terhadap target yang lebih lunak. Hasilnya, AKD-10, menjadi alternatif yang lebih murah dibandingkan HJ-10, untuk menghadapi sasaran lunak. Secara eksternal, AKD-10 hampir identik dengan HJ-10. Beberapa penggemar militer Tiongkok berpendapat bahwa AKD-10 hanyalah solusi sementara, karena China sedang mengembangkan hulu ledak multiguna yang serupa dengan senjata berpemandu anti-tank BILL 2 dan FGM-148 Javelin; dimana satu rudal dapat digunakan melawan sasaran lapis baja dan sasaran lunak. Namun klaim tersebut ditolak oleh China North Industries Group Corp pada pameran pertahanan, hal ini dikarenakan rudal dengan hulu ledak multiguna akan lebih mahal, sehingga AKD-10 akan tetap dipakai di medan tempur, seperti di tempat sempit, daerah pegunungan dan perkotaan di mana sulit bagi pasukan lapis baja untuk dikerahkan. Kecuali ada cara untuk menurunkan biaya hulu ledak multiguna yang sedang dikembangkan (sejauh ini pengembang belum menemukannya), AKD-10 yang lebih murah akan tetap digunakan di masa mendatang sampai hulu ledak multiguna bisa dibuat untuk tujuan tersebut. Alasan lain yang memperkirakan umur panjang AKD-10 adalah karena AKD-10 dapat digunakan, seperti rudal AGM-114 Hellfire, sebagai rudal anti-kapal terhadap kapal-kapal kecil. HJ-10 yang bisa menembus lapisan baja tidak efektif dalam peran ini karena sering kali menembus kedua sisi kapal, tanpa menimbulkan kerusakan nyata, sedangkan AKD-10 akan lebih efektif ketika meledak, yang mungkin bisa menyebabkan kerusakan yang cukup besar hingga menenggelamkan atau menonaktifkan kapal-kapal kecil. Jika merujuk sepesifikasi keluarga rudal HJ-10, rudal ini memiliki jangkauan sekitar ≈ 10+ km.
AKD-9
AKD-9, juga dikenal sebagai Blue Arrow 9 untuk tujuan ekspor, adalah rudal udara-ke-darat berpemandu laser asal China. Mengadopsi sistem panduan laser semi-aktif, rudal ini dapat digunakan oleh helikopter ringan, UAV, kapal perang kecil, dan kendaraan lapis baja ringan. Rudal ini dapat dioperasikan dalam pertempuran seperti di darat, laut, dataran tinggi, dan lain-lain. Blue Arrow 9 mampu menyerang target darat yang berharga dalam jarak 6 km pada siang dan malam hari. Rudal ini mengadopsi hulu ledak HEAT tandem. Selama operasi, penetapan target dapat dilakukan dengan iluminator stabil dari udara atau iluminator target menggunakan laser di darat.
AKD-21
Rudal anti-tank AKD-21 atau Blue Arrow-21 dilengkapi dengan radar, mirip dengan AGM-114L “Longbow Hellfire” Amerika. Rudal ini memiliki panjang 1,7 meter, berat 46 kg, dengan jangkauan maksimum 8 km. AKD-21 menggunakan peledak cekung dengan kemampuan menembus lapisan baja gulung homogen (RHA) setebal 1.400 mm. Dengan radar pemandu terminal gelombang milimeter, rudal Blue Arrow-21 memiliki dua keuntungan utama yaitu bisa mengabaikan pergerakan rudal setelah peluncurannya dan mengunci target setelah rudal diluncurkan. Helikopter pembawa rudal dapat mengunci data target ke sistem panduan rudal sebelum diluncurkan, dan mencari target berdasarkan informasi yang telah ditentukan setelah rudal diluncurkan. Rudal kemudian akan mengidentifikasi dan melacak target, lalu menghancurkan target, sehingga rudal tidak perlu mengunci target sebelum diluncurkan. Hal ini pada akhirnya mampu meningkatkan jangkauan serangan rudal. Selain itu, helikopter dapat dengan cepat melakukan manuver menghindar atau beranjak pergi setelah rudal diluncurkan, yang akan meningkatkan kemampuan bertahan di medan perang. Di medan tempur, helikopter dapat mendeteksi target yang tersembunyi di balik pelindung, menetapkan target ke rudal, lalu melompat dan meluncurkan rudal tersebut. Setelah rudal diluncurkan, helikopter yang menembakkan akan segera bersembunyi di balik pelindung, sehingga hanya akan terpapar sistem pertahanan udara lawan dalam waktu yang lebih singkat.
AG300M
Rudal udara-ke-permukaan berpemandu laser AG300M atau AG300L adalah rudal buatan China yang dapat digunakan untuk menyerang target darat dan laut. Rudal ini memiliki jangkauan sekitar 9,3 km.
CM-501G
CM501G adalah rudal serang darat China yang pertama kali terungkap pada Pameran Udara Zhuhai ke-9 yang diadakan pada tanggal November 2012. Dikembangkan oleh China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC), CM-501G juga tersedia dalam versi peluncuran udara dan kapal berdasarkan permintaan pengguna, tetapi hanya versi darat yang melakukan debut publik di pameran udara tersebut. Rudal CM-501G telah dikatakan oleh banyak sumber internet China sebagai rudal buatan China yang setara dengan rudal NLOS-LS Netfires Amerika atau rudal JUMPER Israel, namun rudal China ini jauh lebih besar daripada dua rudal itu. Dibandingkan kedua rudal yang memiliki berat rudal 50 dan 60 kg, CM-501G memiliki berat sekitar 150 kg, hampir tiga kali lipat dari berat rudal Netfires atau JUMPER. Jangkauan CM-501G >70 km setara dengan rudal Netfires, namun lebih jauh dari jangkauan rudal JUMPER yang sekitar 50 km. Hulu ledak CM-501G sekitar 40 kg. CM-501G juga memiliki lebih banyak opsi panduan seperti Satelit/INS, pencitraan inframerah (IIR), semi-active laser homing (SAL) dan pembaruan data dalam penerbangan untuk penargetan ulang jika diperlukan. Pengembang telah mengklaim bahwa arsitektur terbuka dan konsep desain modular membuat sistem CM-501G cukup fleksibel untuk memenuhi berbagai kendala keuangan yang dihadapi pelanggan dengan bisa memilih sistem panduan yang berbeda. Ketika kendala anggaran membatasi pendanaan, data link dua arah dan IIR dapat diganti dengan SAL yang lebih murah, dan panduan satelit dapat berupa GPS, GLONASS, atau BeiDou.
TY-90
TY-90 (China: 天燕-90; pinyin: Tiān Yàn-90; artinya. ‘Sky Swallow-90′) adalah rudal udara-ke-udara China yang khusus dikembangkan untuk pertempuran udara bagi helikopter serang. Bertentangan dengan klaim yang salah, rudal tersebut tidak dikembangkan dari rudal MANPADS, melainkan dirancang khusus sebagai rudal udara-ke-udara untuk terlibat dalam pertempuran helikopter. China memutuskan bahwa rudal MANPAD yang dikonversi untuk pertempuran udara bagi helikopter tidak memadai, sehingga rudal udara-ke-udara baru yang khusus untuk penggunaan helikopter disetujui, dan TY-90 adalah produk yang dihasilkan. Hulu ledak rudal, yang seberat 3 kg (6,6 lb) dirancang khusus untuk memotong baling-baling dengan satu tembakan, dan rudal tersebut memiliki kemampuan serang all aspect (bisa menyerang dari berbagai sisi). Rudal tersebut dirancang untuk memastikan satu tembakan akan cukup untuk menjatuhkan helikopter serang lawan atau setidaknya melumpuhkannya. Rudal berbobot 20 kg ini memiliki kecepatan maksimum > Mach 2, dan jangkauan antara 0,5 sampai dengan 6 km.
ROKET
Roket S-5
S-5 (pertama kali disebut ARS-57) yang ditembakkan dari tabung kaliber 57 mm adalah roket tanpa pemandu yang dikembangkan oleh Angkatan Udara Soviet dan digunakan oleh pesawat militer untuk menyerang target di darat. Roket ini ada dalam dinas operasional dengan Angkatan Udara Rusia dan berbagai pembeli ekspor lainnya. Roket ini didasarkan pada desain Jerman dari masa Perang Dunia Kedua dan diproduksi dalam berbagai sub-tipe dengan hulu ledak yang berbeda-beda, termasuk jenis HEAT anti-armor (S-5K), fragmentasi eksplosif tinggi (S-5M/MO), asap, dan peluru pembakar. Setiap roket memiliki panjang sekitar 1,4 meter (4 kaki 6 inci) dan berat sekitar 5 kg (11 lb), tergantung pada hulu ledak dan fuze-nya. Jangkauannya adalah antara 3 hingga 4 kilometer (1,9 hingga 2,6 mil).
Roket S-8
S-8 adalah senjata roket yang dikembangkan oleh Angkatan Udara Soviet untuk digunakan oleh pesawat militer. Roket ini tetap beroperasi dengan Pasukan Udara Rusia dan berbagai negara pembeli ekspor. Dikembangkan pada tahun 1970-an, S-8 adalah roket berkaliber 80 mm (3,1 in) yang digunakan oleh pesawat pembom tempur dan helikopter. Sistem ini mulai beroperasi pada tahun 1984 dan diproduksi dalam berbagai subtipe dengan hulu ledak yang berbeda, termasuk hulu ledak tipe HEAT anti-armor, high-explosive fragmentation, asap, dan pembakar, serta amunisi khusus penghancur landasan pacu S-8BM dan S-8DM varian bahan bakar-udara. Setiap roket memiliki panjang antara 1,5 meter (4 kaki 11 inci) dan 1,7 meter (5 kaki 7 inci) dan berat antara 11,3 kg (25 lb) dan 15,2 kg (33,5 lb), tergantung pada hulu ledak dan sekering yang digunakan. Jangkauannya adalah 2 hingga 4 kilometer (1,3 hingga 2,6 mil). Roket S-8 umumnya dibawa dalam pod roket seri B, yang membawa tujuh atau 20 roket.
CHAIN GUN
M242 Bushmaster
M242 Bushmaster chain gun adalah kanon otomatis berpenggerak rantai laras tunggal kaliber 25 mm (25×137mm). Istilah “chain gun” berasal dari penggunaan rantai berputar yang menggerakkan bolt senjata bolak-balik. M242 adalah senjata berlaras tunggal yang digerakkan oleh rantai dan bertenaga eksternal yang dapat ditembakkan dalam mode semi-otomatis, burst (rentetan pendek), atau otomatis. Senjata ini disuplai oleh sabuk penghubung logam dan memiliki kemampuan pengumpanan amunisi ganda. M242 dapat dipakai untuk menghancurkan kendaraan lapis baja ringan dan sasaran udara (seperti helikopter dan pesawat yang terbang lambat). Ia juga dapat dipakai untuk memberikan tembakan penekan terhadap pasukan dalam posisi terbuka, posisi pertahanan, dan wilayah yang sudah diduduki. Kecepatan tembakan standarnya adalah 200 peluru per menit. Senjata ini mempunyai jangkauan efektif 2.000 meter (6.600 kaki), tergantung pada jenis amunisi yang digunakan. Dengan lebih dari 11.000 unit terjual di seluruh dunia, ini adalah salah satu kanon otomatis modern yang paling sukses di dunia. Beberapa pengamat menyatakan bahwa helikopter Z-10 mungkin dipersenjatai oleh kanon otomatis ini, yang dibuat oleh China setelah melalui proses reverse engineering.
VARIAN
Prototipe Z-10: adalah versi-versi prototipe untuk tes dasar. Tidak semua memiliki tata letak yang sama, beberapa memiliki konfigurasi rotor fenestron sementara yang lain memiliki konfigurasi rotor ekor tradisional; beberapa memiliki turret senjata dagu sementara yang lain memiliki chain gun; beberapa memiliki sistem elektro-optik yang dipasang di hidung sementara yang lain memiliki sistem elektro-optik yang dipasang di dudukan.
Z-10H: adalah seri pra-produksi yang ditenagai oleh mesin turboshaft Pratt & Whitney Canada PT6C-76.
Z-10 Standar: adalah Z-10 standar yang ditenagai oleh mesin WZ-9 buatan domestik China. Lapisan armor pelindung dipasang pada posisi bahu pilot dan penembak. Beberapa upgrade ditransfer dari program Z-10M, termasuk mesin WZ-9 yang lebih bertenaga, dengan rudal berkemampuan data-link baru, pelat baja tambahan keramik/graphene, MAWS, IRCM, dan nosel knalpot mesin yang menghadap ke atas.
Z-10 Upgrade: adalah Z-10 yang ditingkatkan kemampuannya dengan dilengkapi nozel knalpot mesin baru yang mengarah ke atas untuk mengurangi jejak inframerah helikopter. Pelat baja tambahan dipasang pada penutup mesin dan di bawah jendela kokpit. Sistem identifikasi teman-atau-lawan (IFF) baru dan antena baru untuk sistem navigasi satelit BeiDou juga ditambahkan untuk operasi gabungan yang lebih baik.
Z-10K: adalah Z-10K dimodifikasi dari standar Z-10 atas permintaan Korps Lintas Udara Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat. Varian yang ditingkatkan ini dapat membawa senjata udara-ke-udara serta udara-ke-darat. Z-10K juga dapat dilengkapi dengan pod roket baru yang membawa 19 roket untuk melengkapi meriam kaliber 23 mm yang dipasang di hidung. Varian ini juga dilengkapi sensor baru pada dua pylon helikopter. Pengembangan penyempurnaan Z-10K baru, yang mulai digunakan pada tahun 2014, dimulai pada akhir tahun 2011. Z-10 ditenagai oleh dua mesin WZ-9 domestik, yang masing-masing berkekuatan 1000 kw (1350 shp). Varian ini dirancang terutama untuk misi perang anti-tank tetapi juga memiliki kemampuan udara-ke-udara sekunder. Helikopter ini dapat dipersenjatai dengan berbagai macam senjata, seperti roket berpemandu BRM-1 90 mm dan rudal udara ke darat Blue Arrow 7 dan Blue Arrow 9.
Z-10M: 3 sampel dibuat untuk Pakistan, varian ini ditenagai oleh mesin WZ-9C dengan tenaga maksimum sekitar 1000 – 1100 kW. Versi ini akhirnya tidak dipilih oleh Pakistan setelah proses evaluasi, namun desain tersebut digunakan untuk mengupgrade Z-10 yang dibuat sebelumnya, ketika mesin yang lebih bertenaga telah tersedia.
Z-10ME: adalah varian yang ditingkatkan yang pertama kali diluncurkan pada tahun 2018 dengan perangkat penanggulangan aktif dan pasif, sistem peringatan ancaman rudal yang mendekat, penerima peringatan radar, nosel knalpot mesin baru yang mengarah ke atas untuk mengurangi jejak inframerah, sistem filtrasi masuk baru, mesin WZ-9G berkekuatan 1200 kW yang lebih bertenaga, magasin amunisi yang lebih besar, panel pelindung berbasis graphene applique, jammer inframerah, dan perangkat interogator IFF baru. Radar pengendali tembakan gelombang milimeter yang dipasang di atas dan stasiun jammer laser aktif dapat dipasang sesuai permintaan pembeli. Varian ini memiliki kemampuan untuk mendukung operasi anti-kapal selam dan pasukan khusus.
Z-10 dengan radar gelombang milimeter: adalah varian Z-10 yang dilengkapi dengan radar gelombang milimeter Z-19 untuk pengujian darat.
PESANAN DAN EKSPOR
Z-10 adalah salah satu pesaing untuk menggantikan helikopter serang Bell AH-1F Cobra milik Pakistan. Tiga Z-10 diperoleh Pakistan untuk keperluan uji coba pada tahun 2015, namun kemudian ditolak karena mesin WZ-9 dinilai tidak memadai. Kontrak untuk mengakuisisi AH-1Z dan kemudian TAI/AgustaWestland T129 ATAK (yang menggunakan mesin LHTEC CTS800–4A Amerika) gagal karena memburuknya hubungan Pakistan dengan Amerika Serikat. Pada bulan Januari 2022, negosiasi untuk mengakuisisi Z-10ME sedang berlangsung; dimana Z-10ME telah diidentifikasi sebagai opsi cadangan pada bulan Februari 2020. Harga helikopter serang CAIC Z-10 terbaru ini berkisar sekitar US$ 17 juta.
OPERATOR
Angkatan Darat Tentara Pembebasan Rakyat — 200 unit varian Z-10
Korps Lintas Udara Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat — 8 unit Z-10K
Korps Penerbangan Angkatan Darat Pakistan — 3 Z-10ME Dalam dinas operasional pada tahun 2022.
IMPLIKASI STRATEGIS
Pada bulan Juni 2012, Amerika Serikat menuduh United Technologies dan dua anak perusahaannya, Pratt & Whitney Canada dan Hamilton Sundstrand, menjual perangkat lunak kontrol mesin ke China yang membantu pengembangan helikopter tempur Changhe Z-10. Meskipun Kementerian Pertahanan China membantah bahwa China membeli atau menggunakan perangkat lunak tersebut, Pratt & Whitney Canada dan Hamilton Sundstrand setuju untuk membayar lebih dari $75 juta kepada pemerintah AS untuk menyelesaikan tuduhan tersebut. Sementara itu, karena situasi geografis China, Angkatan Darat PLA harus menghadapi beberapa medan yang memiliki perbedaan kondisi geografis yang signifikan, termasuk yang berkaitan dengan kemungkinan mendapat dukungan dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Di beberapa wilayah khusus, seperti Tibet, dengan jaringan pangkalan udaranya yang terbatas, kemungkinan dukungan udara akan terbatas dan Angkatan Darat PLA harus bergantung pada kekuatan mereka sendiri. Oleh karena itu, pertanyaan tentang kebutuhan helikopter serang PLA masih bisa diperdebatkan. Di satu sisi, mengingat skala kekuatan angkatan laut China, serta panjangnya perbatasan darat, negara tersebut membutuhkan helikopter serang kelas berat seperti Mi-28 dan AH-64, dengan berat lepas landas maksimum sekitar 10 ton, dapat membawa banyak senjata, terutama senjata antitank, dan juga memiliki durasi terbang yang lama. Meskipun jumlah pasukan darat China melebihi jumlah pasukan darat Rusia dan Amerika Serikat, proporsi kekuatan komponen helikopter jauh lebih rendah. Inggris, Perancis dan Italia mengadopsi helikopter yang lebih ringan, berbobot 4-5 ton. China lalu mengadopsi Z-10 yang serupa, dan mungkin ini bukan pilihan terbaik. Terlepas dari kenyataan bahwa beberapa orang menempatkan Z-10 di kelas yang sama dengan Augusta WestlandA129 Mangusta dan Eurocopter Tiger, helikopter China ini jauh lebih berat daripada helikopter buatan Eropa. Berat lepas landas maksimum helikopter China diyakini adalah 7.500 kg, dengan berat kosong 5.400 kg. Untuk A129 angkanya adalah 4600 kg pada bobot penuh dan 2530 kg pada bobot kosong, dan untuk Eurocopter Tiger (HAP), 6000 kg dan 3060 kg. Meskipun pengembang China mendasarkan pada helikopter Eropa untuk target kinerja dan rencana konseptualnya, pada saat yang sama mereka gagal memenuhi spesifikasi berat helikopter dari helikopter-helikopter tempur buatan Eropa.
Garnisun Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) Hong Kong baru-baru ini melakukan patroli dengan helikopter serang Z-10, yang mengonfirmasi bahwa jenis helikopter tersebut telah ditugaskan di pangkalan tersebut. Z-10K yang dikenal sebagai ‘Fierce Thunderbolt‘ akan memberikan pengawalan dan dukungan udara kepada helikopter, kapal, dan pasukan darat lainnya dalam operasi gabungan. Outlet media China, CCP Global Times, melaporkan bahwa Garnisun PLA di Hong Kong melakukan patroli maritim dan udara gabungan rutin untuk kedua kalinya pada tahun ini. Kursus pelatihan ini tidak hanya mencakup patroli udara tetapi juga latihan pencarian dan penyelamatan. Untuk pertama kalinya, helikopter serang militer China bergabung dengan helikopter-helikopter angkut dalam patroli perbatasan di dataran tinggi Pegunungan Karakoram, menurut laporan media China pada tanggal 14 Juli 2022. Sebuah brigade penerbangan militer yang tergabung dalam Komando Militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Xinjiang baru-baru ini bekerja sama dengan pasukan khusus dan unit medis dalam latihan tembakan langsung di Pegunungan Karakoram pada ketinggian 5.200 meter, lapor media milik pemerintah China. Fitur yang luar biasa dari latihan tembakan langsung ini adalah partisipasi helikopter serang Z-10, yang dilaporkan untuk pertama kalinya. Di masa lalu, hanya helikopter angkut yang dapat membawa pasukan pertahanan perbatasan untuk misi patroli. Menurut pakar militer China, menambahkan helikopter serang ke misi patroli akan memberikan dukungan udara kepada pasukan darat PLA yang dikerahkan di perbatasan China dan bisa lebih menjaga kedaulatan nasional serta integritas wilayah negara tersebut. Seperti diketahui China dan India terlibat dalam perselisihan perbatasan yang sudah berlangsung lama dan memasuki tahun ketiga pada bulan Mei 2022 dan terus berlanjut meskipun terdapat banyak dialog tingkat tinggi antara para pejabat tinggi kedua negara. Para ahli percaya bahwa pengerahan helikopter serang Z-10 di dataran tinggi Pegunungan Karakoram hanya beberapa hari sebelum perundingan penting perbatasan bisa menjadi unjuk kekuatan yang tepat waktu dari China. “Langkah ini (Penempatan Z-10 di wilayah perbatasan) menandakan sikap agresif dan tegas sebelum pertemuan Komandan Korps antara India & China pada tanggal 17 Juli 2022,” kata Letkol JS Sodhi (Purn) dari Angkatan Darat India menurut EuroAsian Times.
Z-10 dikenal secara operasional tidak cocok untuk operasi di ketinggian karena mesin WZ-9 buatan dalam negeri, yang menurut para ahli terlalu lemah untuk mendukung helikopter berbobot 5,5 ton. Inilah sebabnya para ahli China memuji partisipasi terbaru mereka dalam patroli perbatasan di Pegunungan Karakoram sebagai bukti bahwa mesin tersebut cukup bertenaga untuk misi di ketinggian. “Penempatan rutin helikopter serang Z-10 dalam patroli perbatasan di dataran tinggi menunjukkan bahwa mesinnya cukup kuat untuk menghadapi udara yang tipis, kata seorang pakar penerbangan militer yang berbasis di Beijing kepada Global Times. Z-10 yang dikerahkan dalam patroli perbatasan terbaru juga bisa dilengkapi dengan mesin baru yang lebih bertenaga yang disebut WZ-16, yang dilaporkan sedang dikembangkan dengan bantuan produsen pabrikan mesin helikopter Perancis Turbomeca – yang kemudian menjadi ‘Safran Helicopter Engines‘ – untuk mewujudkan kemampuan terbang Z-10 pada ketinggian tinggi. Dua mesin WZ-9, masing-masing menghasilkan kekuatan 1.350 tenaga kuda, memberikan helikopter ini kemampuan terbang setinggi 6.000 meter. Di pihak India, helikopter Z-10 China disaingi oleh armada 28 unit helikopter Apache buatan Amerika, 22 di antaranya milik Angkatan Udara India (IAF), dan enam milik Wing Udara Angkatan Darat India. Helikopter Apache ini dipersenjatai dengan rudal udara-ke-udara Stinger dan rudal udara-ke-permukaan Hellfire untuk menghancurkan armada lapis baja musuh. Selain itu, dari 22 Apache IAF, 11 dilengkapi dengan sistem radar kendali tembakan Longbow. Apache juga memiliki chain gun M230 kaliber 30 mm yang dipasang di antara roda pendaratan utama, di bawah badan helikopter bagian depan yang dapat menembakkan 625 peluru penembus lapisan baja per menit ke pasukan darat musuh dan struktur lapis baja ringan. Didukung oleh dua mesin turboshaft General Electric T700 GE 701C yang masing-masing menghasilkan 1.890 tenaga kuda, Apache memiliki jangkauan layanan 6.400 meter.
Apalagi, India baru-baru ini memesan 15 Light Combat Helicopters (LCH) dari Hindustan Aeronautics Limited (HAL). Ditenagai oleh dua Mesin Shakti, LCH berbobot maksimum 5,5 ton ini memiliki ketinggian operasional 6.500 meter. Helikopter ini dapat membawa meriam kaliber 20 mm dan roket kaliber 70 mm, rudal udara-ke-udara MBDA Mistral Prancis, dan rudal udara-ke-darat Helina, yang merupakan versi udara dari rudal anti-tank NAG. Selain Apache, Angkatan Darat India saat ini memiliki sekitar 75 Helikopter Ringan Tingkat Lanjut (ALH) Rudra, versi bersenjata dari helikopter utilitas Dhruv, yang juga diproduksi oleh HAL. Di pihak China mereka punya 100 Z-10, ditambah lagi ada Z-19 yang merupakan helikopter pengintai dengan kemampuan serang terbatas. “China memiliki keunggulan yang sangat besar dibandingkan dengan India dalam hal helikopter serang,” kata Letkol JS Sodhi, menjelaskan, “China memiliki brigade penerbangan pada masing-masing Korpsnya.” Helikopter Serang adalah fitur penting dari medan perang mekanis. Menurut Sodhi, helikopter-helikopter ini terutama digunakan dalam peperangan lapis baja untuk memberikan perlindungan pada barisan kendaraan lapis baja yang bergerak maju, “karena formasi lapis baja sangat rentan terhadap serangan udara karena bagian atas tank memiliki perlindungan lapis baja paling sedikit dibandingkan bagian sampingnya.”
SPESIFIKASI (ESTIMASI)
- Kru: 2
- Panjang: 14.15 m (46 ft 5 in)(diperkirakan)
- Tinggi: 3.85 m (12 ft 8 in) (diperkirakan)
- Bobot kosong: 5,100 kg (11,244 lb)
- Bobot kotor: 5,540 kg (12,214 lb)
- Bobot maksimal takeoff: 7,000 kg (15,432 lb)
- Mesin: 2 × mesin turboshaft WZ-9, masing-masing berkekuatan 930–957 kW (1.247–1.283 hp) (diperkirakan)
- Diameter rotor utama : 12 m (39 ft 4 in)
Performa
- Kecepatan maksimum: 270 km/h (170 mph, 150 kn)
- Kecepatan jelajah: 230 km/h (140 mph, 120 kn)
- Jangkauan: 800 km (500 mi, 430 nmi)
- Ketinggian jelajah: 6,400 m (21,000 ft)
- g limits: +3
- Kecepatan menanjak: 10 m/s (2,000 ft/min)+
Persenjataan
- Kanon: 1x kanon revolver kaliber 23 mm (0,906 inci) atau 1x salinan chain gun M242 Bushmaster kaliber25 mm (0,984 inci)
- Cantelan senjata: 4 dengan kapasitas muatan 1.500 kg (3.307 lb) (diperkirakan)
- Rockets: Pod roket tanpa berpemandu berkaliber 57 mm (2,244 inci) atau 90 mm (3,543 inci)
- Rudal: untuk masing-masing cantelan:
- 4× Rudal udara-ke-permukaan berpemandu laser HJ-8, HJ-9
- 4× Rudal udara-ke-permukaan berpemandu laser AKD-10 (BA-7)
- 4× rudal udara-ke-permukaan berpemandu laser AKD-9 (BA-9)
- 4× rudal udara-ke-permukaan gelombang milimeter AKD-21 (BA-21)
- 4× Rudal udara-ke-permukaan berpemandu laser AG300M atau AG300L
- 4× Rudal udara-ke-permukaan CM-502KG atau CM-502V NLOS
- 2× Rudal udara-ke-permukaan CM-501GA NLOS
- 1× CM-501XA loitering munition
- 4× Rudal udara-ke-udara TY-90
Perangkat Avionik
- Radar pengendali tembakan gelombang milimeter YH
- Helmet mounted sight dengan night vision goggles
- Pod jamming perlindungan diri BM/KG300G
- Pod navigasi Blue Sky
- Pod pengintaian KZ900
- Perangkat peperangan elektronik YH-96
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Changhe_Z-10
WZ-10 or Z-10 Attack helicopter
Z-10 Attack Helicopter, China
https://www.army-technology.com/projects/z-10-attack-helicopter-china-liberation-army/?cf-view
Z-10 Attack helicopter
https://www.militarytoday.com/helicopters/z10.htm
CAIC Z-10 (Fierce Thunderbolt) Dedicated Two-Seat Attack Helicopter [ 2012 ]
https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.php?aircraft_id=600#google_vignette
Chinese CAIC Z-10Ks enter service with the PLA’s Hong Kong garrison BY Glenn Sands
CAIC Z-10 Specs, Cockpit, Weapon, and Price
https://www.helicopterspecs.com/2019/12/caic-z-10-attack-helicopter.html?m=1
CAIC Z-10 Attack Helicopter
WZ-10 Attack Helicopter
https://www.globalsecurity.org/military/world/china/wz-10.htm
WZ-10 Attack Helicopter – Program
https://www.globalsecurity.org/military/world/china/wz-10-program.htm
Hampir 50 tahun, Sukhoi Su-24 “Fencer” Masih Bertaji di Langit Ukraina
https://en.m.wikipedia.org/wiki/M242_Bushmaster
https://en.m.wikipedia.org/wiki/HJ-8
https://en.m.wikipedia.org/wiki/HJ-9
https://military-history.fandom.com/wiki/HJ-10
BA-9 Blue Arrow 9 air-to-surface missile (AKD9)
https://www.globalsecurity.org/military/world/china/ba-9.htm
BA-21 Blue Arrow 21 air-to-surface missile
https://www.globalsecurity.org/military/world/china/ba-21.htm
AG-300/M ATGM (China)
http://cmano-db.com/pdf/weapon/3489/
https://en.m.wikipedia.org/wiki/CM-501G
https://en.m.wikipedia.org/wiki/TY-90
‘Underpowered’ China’s Z-10 Attack Helicopters Undertake High-Altitude Patrols In Karakorams In A Show Of Strength To India? By Tanmay Kadam – July 19, 2022
https://www.eurasiantimes.com/chinas-z-10-attack-helicopters-undertake-high-altitude-patrols/amp/
