Colt XM-148, Pionir Pelontar Granat Pada Senapan Serbu.

XM148 adalah senjata revolusioner yang memungkinkan prajurit infanteri untuk melontarkan munisi eksplosif kearah musuh di luar jangkauan granat tangan tanpa harus menanggung bobot dan kompleksitas selayaknya mortir ringan. Sejak abad ke-17, infanteri telah mencoba menembakkan granat dari senjata api mereka. Sampai tahun 1960-an, cara menembakkan granat dari senapan hampir pasti adalah dengan menembakkan proyektil granat khusus dari ujung laras senapan. Granat senapan semacam ini telah digunakan sejak Perang Dunia I dan upaya untuk meluncurkan granat senapan dari M1 Garand semi-otomatis berhasil pada tahun 1943 dengan diperkenalkannya sistem M7. Dengan menggunakan munisi kosong yang diproduksi secara khusus, fitur semi otomatis dari senapan akan dinonaktifkan untuk sementara waktu agar semua energi peluru kosong itu dapat ditransfer ke dalam peluncuran granat senapan. Meskipun sistem granat senapan M7 terbukti efektif di medan tempur, sistem ini memakan waktu dan berpotensi membahayakan nyawa, mengingat bahwa fitur semi-otomatis M1 Garand dinonaktifkan untuk menembakkan granat senapan. Diperlukan sistem yang lebih sederhana, dimana kemudian menghasilkan pengembangan peluncur granat mandiri M79: sistem yang didedikasikan semata-mata untuk menembakkan granat bertekanan rendah kaliber 40mm.

Granat senapan M7 yang muncul pada era PD II untuk disandingkan dengan senapan M1 Garand.
Penembakan granat senapan seperti M7 membutuhkan peluru khusus agar bisa ditembakkan dari laras senapan.

Program peluncur granat awalnya dimulai dari program Special Purpose Individual Weapon pada tahun 1951 yang gagal. Yang diinginkan oleh pihak militer adalah bahwa peluncur baru menggunakan munisi granat kaliber 40×46 milimeter yang sama dengan yang digunakan oleh peluncur mandiri M79 yang sudah beroperasi saat itu. Dengan menggunakan sistem pelontar granat yang bisa dipasang pada senapan infanteri, maka jumlah penembak senapan pada regu infanteri kembali dapat dipulihkan.

Desain

Setelah M79 diadopsi menjadi jelas bahwa sistem granat 40mm adalah senjata perantara yang efektif yang harus dimiliki dan dikembangkan untuk digunakan di medan perang. Namun demikian, para penembak granat terpaksa menerima konsekuensi sebagai imbalan kemampuan melontarkan granat pada target hingga jarak 350 meter. Sumbu peledak pada granat 40x46mm membutuhkan jarak 30 meter baru bisa efektif digunakan, sehingga menembakkan granat 40mm pada target yang lebih dekat dari 30 meter menjadi tidak efektif. Kelemahan lain dari sistem pelontar granat mandiri M79 adalah senjata ini mengurangi jumlah penembak senapan pada satuan infanteri setingkat regu, karena penembak M79 (sering disebut sebagai “grenadier”) hanya dibekali pistol otomatis sebagai senjata bela diri selain M79 nya itu sendiri.

M79 peluncur granat tunggal memang dikenal efektif dan disukai pasukan, namun keberadaan penembak M79 mengurangi jumlah penembak senapan pada regu.

Pada Mei 1963, militer AS memerlukan peluncur granat baru untuk melengkapi senapan AR-15 yang saat itu masih dalam pengujian awal. Pada bulan Mei 1964, Colt meluncurkan CGL-4. Karl Lewis dan Robert Roy dilaporkan menyusun cetak biru dari CGL-4 hanya dalam waktu 48 hari. Untuk memuat peluru, laras CGL-4 didorong ke depan, untuk memungkinkan penembak menempatkan munisi granat di pangkal laras. Penembak kemudian mengokang sehingga mekanisme pelatuk panjang yang terletak dekat “trigger guard” senapan dapat ditekan oleh penembak untuk melontarkan munisi granat. Ide utama sistem XM148 ini adalah memungkinkan granat untuk ditembakkan tanpa penembak melepaskan tangan dari pistol grip. Angkatan Darat menguji peluncur ini dan mengadunya dengan desain dari Springfield Armory, Ford dan AAI. Pada bulan Maret 1965, Angkatan Darat memilih CGL-4 untuk pengujian lebih lanjut dan memesan 30 peluncur.

Detail trigger dari XM148.
Detail laras XM148 yang telah terisi munisi granat 40mm.

Meskipun ada beberapa masalah dengan retaknya laras, pada Januari 1966 Angkatan Darat memesan 10.500 peluncur granat baru, yang sekarang disebut sebagai XM148. Masalah kapasitas produksi dan masalah dengan pembidik pada peluncur granat ini telah menunda proses produksi. Pada bulan Desember 1966, batch pertama dari 1.764 peluncur tiba di Vietnam untuk pengujian lapangan oleh semua brigade Angkatan Darat mulai pertengahan Januari 1967.

Evaluasi di lapangan

Pada Januari 1967, XM148 diuji di Vietnam dengan dibagikan ke berbagai unit unit tempur yang memiliki karakteristik medan tempur yang berbeda-beda.

XM148 dikirim ke setiap batalyon tempur di Vietnam dengan penggelaran dua unit per regu senapan. Semua peluncur granat lainnya juga diganti dengan penggantian satu senjata diganti satu XM148 yang menghasilkan sekitar 84 unit XM148 dibagikan per batalion. Pada bulan November 1966 (sebelum XM148 dibagikan ke unit-unit tempur) Kantor Asisten Kepala Staf untuk Pengembangan Kekuatan, Angkatan Darat AS, secara informal meminta bantuan elemen komando dari US Army Vietnam (USARV) untuk mengumpulkan informasi tentang kinerja XM148 saat digunakan dalam pertempuran. Pada tanggal 25 Desember 1966, USARV meminta agar dilakukan evaluasi terhadap XM148 yang digunakan dalam Operasi yang dilakukan oleh Brigade Infantri Ringan ke-199 (beroperasi di dalam Zona Khusus Rung Sat di Vietnam). Proses Pengumpulan data dimulai pada 11 April 1967, dengan lima aspek penting yang ingin diketahui, yakni:

  1. Efek senjata itu terhadap taktik unit kecil;
  2. Performa senjata tersebut dalam pertempuran;
  3. Data-data mengenai kegagalan dan masalah pemeliharaan, dengan penekanan jumlah rata-rata kegagalan pada bagian-bagian tertentu senjata;
  4. Memastikan apakah XM148 benar-benar diinginkan oleh para prajurit infanteri sebagai pengganti peluncur granat M79; dan
  5. Jika diadopsi, berapa beban dasar yang perlu dipersiapkan untuk setiap individu prajurit yang ditugaskan untuk mendukung pasukan tempur dan unit-unit pendukung operasional tempur.
Seperti rancangan semula XM148 disandingkan dengan senapan serbu AR-15 yang terhitung sama-sama baru.

Survei itu akhirnya berkembang hingga mencakup evaluasi pada 12 unit tempur dari tujuh brigade, dalam empat divisi terpisah. Dari pandangan analitis, unit-unit terpilih yang diwawancarai dan wilayah operasinya mewakili berbagai tipe medan dan kondisi pertempuran yang beragam dari masing-masing unit, untuk mendapatkan data akurat mengenai performa sistem senjata baru itu di berbagai kondisi. 12 unit yang terpilih, diantaranya adalah:

  1. Divisi Infanteri ke-1, berlokasi di Di An;
  2. Divisi Infanteri ke-4, berlokasi di Pleiku;
  3. Divisi Infanteri ke-9, yang terletak di Camp Bearcat;
  4. Divisi Infanteri ke-25, berlokasi di Cu Chi;
  5. Brigade 3, Divisi Infanteri ke-25, berlokasi di Pleiku;
  6. Brigade 1, Divisi Lintas Udara ke-101, berlokasi di Kontum;
  7. Brigade Lintas Udara ke-173, yang terletak di Bien Hoa;
  8. Brigade Infantri Ringan ke-196, yang terletak di Tay Ninh;
  9. Brigade Infantri Ringan ke-199, yang terletak di Long Binh;
  10. Brigade ke-3, Divisi Infanteri ke-4, berlokasi di Dau Tieng;
  11. Resimen Kavaleri Lapis Baja ke-11, terletak di Long Giao; dan
  12. Divisi Kavaleri Udara ke-1, terletak di Binh Dinh.

Laporan yang dikumpulkan mendapati bahwa para pengguna M79 menggunakan XM148 baru mereka rata-rata selama 8,9 minggu pada saat survei, dengan beberapa unit menggunakan senjata hanya selama 3 minggu, sementara unit lain telah menggunakan senjata selama hampir 16 minggu. Apapun itu, jumlah waktu XM148 digunakan secara aktif pada saat survei sangat singkat. Survei menemukan bahwa pengguna M79 menyambut konsep senapan yang digabung dengan pelontar granat.

Prajurit Brigade Infanteri Ringan ke-196 “Charger” dengan M16 yang dipasangi sistem XM148.

Dengan berbagai jenis medan dan situasi yang dihadapi oleh masing-masing unit yang dievaluasi, target yang paling sering dijumpai adalah target disembunyikan dan (atau diduga) posisi musuh, serta kombatan musuh yang ada di tempat terbuka. Namun demikian, responden juga melaporkan bahwa mereka menjumpai target bunker, sampan, lubang perlindungan, dan gubuk. Enam puluh tujuh persen responden melaporkan kisaran di mana sebagian besar target ditembak adalah antara 50 hingga 150 meter, dengan 11% ada di bawah 50 meter, 20% antara 150-300 meter, dan hanya 1% responden melaporkan menembak target dari jarak lebih dari 300 meter. Karena pembulatan, persentase total tidak mencapai 100%.

Prajurit Brigade Infanteri Ringan ke-196 “Charger” dengan M16 yang dipasangi sistem XM148.
Teknisi senjata SAS Australia menemukan cara untuk memadukan XM148 ke senapan Battle Rifle L1A1, yakni dengan membuang handguard senapan dan memasang langsung XM148 ke laras senapan.

Laporan awal di lapangan terlihat menjanjikan (mirip case saat AR-15 digunakan pertama kali di Vietnam). Para prajurit memuji “keunggulan taktis dari konsep point-fire dan area-fire system”. XM148 juga diterima dengan baik oleh satuan khusus macam Navy SEAL dan SAS Australia. Di tangan pasukan khusus Amerika, XM148 disandingkan dengan versi pendek dari M-16, yakni XM177E2. Teknisi senjata SAS Australia menemukan cara untuk memasang XM148 ke senapan L1A1 Australia dengan melepas handguard L1A1 dan menempelkan XM148 langsung ke laras senapan. Namun, penguji mencatat beberapa masalah serius, termasuk diantaranya dudukan pembidik yang terlalu rumit dan cenderung mudah tersangkut pada semak dan peralatan lainnya, pengokangan yang terlalu membutuhkan banyak tenaga (sekitar 30Ibs), mekanisme pemicu yang terlalu rumit dan sulit untuk diperbaiki dan dibongkar. Pin pengunci yang digunakan untuk mengunci sistem XM148 ke M16E1 mudah hilang. Selain itu, bagian kecil dari sistem sulit dibersihkan, sekrup mudah berkarat, dan pistol gripnya mudah patah.

Sisi kiri dari XM148 menunjukkan perangkat bidik model tangent yang kompleks.

Salah satu masalah pengamanan yang serius adalah perangkat trigger yang terlalu panjang pada XM148, yang dapat merobek apapun didekatnya dan secara tidak sengaja bisa meluncurkan granat. Masalah juga muncul pada kuadran pembidik yang bisa menyebabkan kesalahan defleksi penembakan pada jarak yang lebih jauh. Pemasangan XM148 juga menghalangi penggunaan bayonet pada senapan. Ketika ditembakkan, XM148 bisa melontarkan bayonet jatuh dari laras senapannya. Secara keseluruhan, pasukan merasa XM148 terlalu rapuh dan kompleks untuk digunakan secara luas. Mayoritas responden (53%) melaporkan bahwa tingkat rate of fire dari XM148 tidak memuaskan.

Para mantan penembak M79 merasa sistem XM148 ini sulit dioperasikan maksimal karena 4 faktor utama, yaitu:

  1. Tingkat dan kuantitas penembakan menurun;
  2. Waktu reaksi grenadier yang lebih lambat untuk menembak sasaran;
  3. Gerakan grenadier terhambat karena vegetasi lebat; dan
  4. Perlu perhatian luar biasa untuk menjaga senjatanya agar tetap bersih dan berfungsi.

Dalam hal taktik unit kecil, sebagian besar responden melaporkan bahwa penggunaan XM148 tidak mengubah taktik yang sudah ada. Dalam beberapa bulan, unit-unit yang dilengkapi dengan XM148 menuntut agar M79 mereka dikembalikan lagi. Meski demikian beberapa unit masih tetap mempertahankan XM148, Unit Navy SEAL masih menggunakannya hingga awal tahun 1970-an.

Sama seperti M-16 versi awal, XM148 memiliki karir awal yang tidak menyenangkan. Namun M16 survive sedangkan XM148 tidak.
Penembak pada helikopter pengintai H-19 menemukan kegunaan dari XM148 untuk menambah firepower M60 GPMG mereka.

Namun setidaknya ada satu unit tempur yang menemukan kegunaan dari XM148. Laporan Operasional dari Divisi Kavaleri 1 (Airmobile) untuk Periode Triwulan Akhir 31 Oktober 1967, mencatat bahwa XM148 “Terbukti tidak memuaskan digunakan di unit infantri karena kurangnya daya tahan; akibatnya, USARV memerintahkan agar mereka dikembalikan. Namun, satuan 1/9 Cav telah menemukan metode pemasangan peluncur XM148 secara koaksial pada senapan mesin M60C yang digunakan oleh crew pada helikopter pengintai OH-13. Daya tahan senjata untuk digunakan di udara tidak menjadi masalah karena senjata ini tidak menghadapi medan berat seperti saat digunakan oleh pasukan darat. Dengan ditambah XM148 daya tembak pada helikopter pengintai meningkat secara signifikan. Lima puluh dua XM148 tetap dipertahankan untuk digunakan pada satuan 1/9 CAV. “

Nasib akhir dan lahirnya M203

Terlepas dari upaya Colt untuk memperbaiki berbagai masalah yang berkembang, Tim dari Angkatan Darat menganggap XM148 tidak memuaskan untuk ditempatkan di Vietnam. Hal ini merupakan pukulan besar bagi Colt, yang telah memproduksi 27.400 XM148. Banyak dari yang diproduksi sudah ada di Vietnam. Angkatan Darat meluncurkan program Grenade Launcher Attachment Development (GLAD) baru pada musim panas 1967, hanya sekitar 6 bulan sejak XM148 dioperasikan. Sejumlah besar produsen senjata mengajukan desain mereka, termasuk Colt yang menawarkan CGL-5 yang dirancang lebih baik oleh Henry Into. Angkatan Darat menolak tawaran 20 peluncur buatan Colt yang telah diperbaiki dan langsung menolak desain CGL-5. Tiga perusahaan – Philco-Ford, Aero Jet General, dan AAI masing-masing mengusulkan sistem yang berbeda-beda untuk pelontar granat 40mm. Aero Jet mengajukan pelontar granat semi-otomatis tipe SPIW. Tidak ada yang mirip dengan desain Aero Jet sejak muncul atau dikembangkan untuk digunakan. Mirip dengan sistem modern Heckler & Koch M320, Philco-Ford menawarkan desain yang menampilkan laras pelontar granat yang berayun terbuka ke kedua sisi receiver. AAI menawarkan senjata tembakan tunggal yang sederhana, dengan trigger tunggal, dan sistem pump action.

Sistem perbaikan XM148, CGL-5 langsung ditolak AD Amerika saat pertama kali ditawarkan.
M203 yang kini menjadi sistem pelontar granat favorit pada senapan-senapan serbu muncul tepat setelah sistem senjata XM148 dianggap gagal di Vietnam

Program GLAD akhirnya memilih desain AAI, yang kemudian diberi kode XM203. Desain yang sederhana ini, mampu menembakkan peluru 40×46 milimeter, dan resmi memenangkan kontes pada Agustus 1968. Otorisasi pembuatan 600 XM203 diberikan pada bulan Desember 1968, dengan unit-unit awal dikirim ke Vietnam untuk pengujian tambahan. AAI membuat 600 sistem senjata XM203 pertama, yang Ironisnya pada akhirnya Angkatan Darat memberikan Colt kontrak utama untuk benar-benar memproduksi peluncur granat ini mulai tahun 1971, karena kapasitas produksi Colt yang lebih besar dibandingkan dengan AAI (setelah memproduksi 10.000 pucuk senjata). Diluar beberapa kelemahan desainnya, XM148 telah memainkan peran penting dalam membuktikan kelayakan operasional konsep peluncur granat yang dipasang pada senapan. Hingga sekarang M203 yang lahir dari gagalnya XM148 masih terus diproduksi dengan logo kuda poni Colt!

Meski gagal dalam proyek pelontar granat senapan, namun Colt Firearms mendapat kontrak besar untuk memproduksi M203 yang dipilih menggantikan XM148.

Spesifikasi:

Pabrikan: Colt Firearms

Panjang senjata : 16.5 inchi

Panjang laras: 10 inchi

Bobot senjata: ~3lbs (1.36 kg)

Kaliber: 40x46mm

Sistem Operasi: single shot, striker-fired single action

Kapasitas Peluru: 1

Kecepatan tembak: ~4 rpm

Kecepatan Peluru: 247 ft/s (74.5 m/s)

Jarak tembak maksimum: 437 yd (400 m)

Alat bidik: Quadrant sight

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Colt’s Underslung Grenade Launcher Was Too Complex. The later M203 was much more reliable by Matthew Moss; May 15, 2017

https://warisboring.com/colts-underslung-grenade-launcher-was-a-overly-complex-proof-of-concept/

THE XM148: BIRTH OF THE MOUNTED 40MM GRENADE LAUNCHER by Jason Wong

http://www.smallarmsreview.com/display.article.cfm?idarticles=1061

Colt CGL-4 (XM148) 40mm GrenadeLauncher

https://www.google.com/amp/s/armourersbench.com/2019/02/19/colt-cgl-4-xm148-40mm-grenade-launcher/amp/

XM148 UNDER BARREL GRENADE LAUNCHER by Moore Militaria

https://www.mooremilitaria.com/blog/cat/reference-articles/post/xm148-under-barrel-grenade-launcher/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/XM148_grenade_launcher

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *