Desember 1941: Kisah heroik defender Pulau Wake di hari-hari pertama Perang Pasifik.

Orang Amerika secara alami adalah orang-orang yang suka tantangan dan mengidolakan kisah-kisah “pertempuran habis-habisan” yang berani. Mulai dari kisah pengepungan Benteng Alamo oleh orang-orang Mexico sampai ke kisah “Batalyon yang Hilang” dari Perang Dunia I, para petarung Amerika telah diabadikan dalam cerita-cerita rakyat dan catatan-catatan sejarah karena berkali-kali melakukan pertempuran dengan sedikit peluang untuk memperoleh kemenangan atau sekedar bertahan hidup. Pada hari-hari awal setelah serangan di Pearl Harbor, sebuah pulau yang sepi di Pasifik segera menjadi tempat “pertempuran habis-habisan” prajurit Amerika, dan memunculkan kisah kepahlawanan yang akan mendapatkan penghargaan militer tertinggi dari bangsanya. Dengan hanya memiliki luas 2,85 mil persegi, Pulau Wake adalah tempat kecil yang terletak antara Jepang dan Hawaii di Samudra Pasifik yang luas. Pada tahun 1941, Pulau Wake adalah sebuah garnisun yang dihuni oleh lebih dari 500 prajurit di pulau itu, yang terutama terdiri dari para Marinir, mereka bertugas di untuk menjaga instalasi pangkalan Kapal Selam dan pangkalan udara yang belum sepenuhnya jadi. Pulau itu dipertahankan dengan segelintir senjata artileri, dan selusin pesawat tempur Grumman F4F-3 Wildcat yang sudah termasuk ketinggalan zaman (dalam beberapa poin maksudnya, seperti dari sisi kecepatan dan kemampuan manuver jika dibanding dengan pesawat tempur Top Jepang pada masa itu, yakni Zero, meski demikian Wildcat unggul dalam airframe yang kuat dan kemampuan menukiknya, serta firepower yang cukup mumpuni).

Alamo Last Stand: Pertempuran di benteng Alamo melawan pasukan Jenderal Santa Anna yang fenomenal. Kesukaan orang-orang Amerika akan kepahlawanan melawan musuh yang lebih kuat terus dijunjung hingga Perang Dunia II, seperti perlawanan habis-habisan garnisun Marinir di Pulau Wake. (Sumber: Pinterest)

Pertempuran di Pulau Wake menjadi legenda dan terpatri dalam publik Amerika lewat frase-frase yang muncul selama pertempuran berlangsung, seperti: “Jangan menyerah” dan “Jangan tembak sampai kamu melihat putihnya mata musuh”. Koran-koran Amerika memuat headline-headline yang heroik: “Marinir masih bertahan di Wake; Marinir di Wake menenggelamkan dua kapal Jepang; Garnisun di Wake melawan serangan Jepang; dan Kapal-kapal Jepang meninggalkan pertempuran”. Sehari sebelum pulau itu (akhirnya) jatuh ke tangan Jepang, ahli komunikasi di pulau itu, Mayor Walter L.J Bayler diperintahkan untuk pergi dengan sebuah pesawat PBY Catalina yang mampu terbang rendah dan mendarat di tengah laguna itu. Bayler diperintahkan ke Midway, untuk menyampaikan informasi mengenai pertempuran yang telah terjadi di Pulau Wake, dan dapat dipastikan dari informasi dialah deskripsi pertempuran di Wake didapat selama perang. Kisah lengkap dari pertempuran heroik dan brutal ini baru diketahui seluruhnya setelah perang berakhir. Berikut adalah kisah pertempuran mereka…

Menjelang serangan

Pulau Wake hingga saat itu lebih dikenal sebagai tempat transit untuk maskapai udara Pan American Airways daripada sebagai sebuah pangkalan militer. Sebelum perang, Laksamana Husband E. Kimmel, komandan Armada Pasifik, menilai adanya kesempatan bagus untuk dapat memerangi armada Jepang di perairan Wake jika pasukan Jepang memulai invasi untuk menguasai pulau itu. Untuk menahan musuh di daerah itu, pertahanan Wake yang lemah harus diperkuat. Kimmel memerintahkan batalion pertahanan Marinir dan lebih dari pekerja konstruksi sipil dikirimkan ke Wake untuk mendirikan barak, jalan setapak, dan membentengi pulau itu. Menjelang perang Pulau Wake penuh dengan aktivitas, dimana selama berbulan-bulan, atol di Pasifik yang memiliki tiga pulau kecil — Wake, Wilkes, dan Peale — dengan panjangnya kurang dari 10 mil dan nyaris di atas permukaan laut ini, telah menjadi tempat dimana pekerjaan konstruksi dilakukan. Mereka yang ditempatkan di kepulauan itu untuk bekerja dengan tergesa-gesa menyelesaikan landasan terbang dan benteng pertahanan adalah terdiri dari 449 Marinir AS dari Batalion Pertahanan ke-1, yang dipimpin oleh Mayor James P.S. Devereux; disitu juga terdapat Skuadron pesawat tempur marinir VMF-211, yang dilengkapi dengan 12 Grumman F4F-3 Wildcats, yang dipimpin oleh Mayor Paul A. Putnam; serta 71 personil Angkatan Laut; detasemen radio Angkatan Darat beranggotakan lima orang, yang dipimpin oleh Kapten Henry S. Wilson; dan 1.146 pekerja konstruksi sipil Amerika dari Perusahaan Konstruksi Morrison-Knudsen Civil Engineering Company. Semua satuan militer Wake ada di bawah komando Komandan Angkatan Laut Winfield S. Cunningham. Selain personil militer dan pekerja sipil di pulau itu, di Wake juga memiliki sekitar 45 penduduk asli Mikronesia (Chammoro), yang sebagian besar bekerja di bidang konstruksi atau bekerja untuk maskapai penerbangan.

Pertahanan Amerika di Pulau Wake. (Sumber: Pinterest)
Foto udara pulau Wake. (Sumber: https://www.historynet.com/)
Jelang perang pecah, marinir di Wake masih dilengkapi dengan helm dan persenjataan dari era PD I. (Sumber: http://letgoddecidethejust.blogspot.com/)
Belum ada senapan semi otomatis Garand, garnisun Wake dibekali dengan senapan bolt action Springfield M1903. (Sumber: http://letgoddecidethejust.blogspot.com/)
Meriam anti pesawat M3 kaliber 3 inchi seperti yang digunakan para defender Pulau Wake. (Sumber: https://www.ibiblio.org/hyperwar/)

Perang dengan Jepang sudah dekat dengan memburuknya perundingan antara Jepang ada Amerika, sementara landasan udara di Wake, hanya sekitar 2.000 mil sebelah barat Hawaii. Keberadaan Pulau Wake yang strategis memungkinkan pembom berat Amerika menyerang Kepulauan Marshall yang dikuasai Jepang. Dan, jika Guam berhasil dikuasai Jepang, Wake akan menjadi salah satu pos terdepan Amerika dari daratan Jepang. Setiap hari pekerjaan dimulai lebih awal dan selesai lebih lambat. Tidak ada tambahan kekuatan lain yang dikirimkan ke pulau kecil yang tandus itu, dan mereka yang mempertahankan pulau itu semua menyadari bahwa perang dapat pecah kapan saja. Para Marinir di Wake dipersenjatai dengan enam buah meriam 5-inci (127 mm) yang berasal dari kapal tempur tua USS Texas; dua belas buah meriam anti pesawat 3 inchi (76 mm) (dengan hanya satu pengarah tembakan anti-pesawat yang bisa digunakan di antara mereka); delapan belas senapan mesin berat Browning kaliber .50 inchi (12,7 mm); dan tiga puluh senapan mesin kaliber .30 inchi (7,62 mm) berpendingin air dan udara. Sementara itu para Marinir Amerika yang mempertahankan Pulau Wake masih mengenakan helm tua era Perang Dunia I dan dipersenjatai dengan senapan standar Amerika di awal Perang Dunia II, yakni senapan bolt action springfield M1903.

Tampilan Marinir defender Pulau Wake. (Sumber: Pinterest)

Jepang menyerang

Pada tanggal 8 Desember (perlu diingat, Wake berada di sisi yang berlawanan dari Garis Waktu Internasional), sekitar jam 7 pagi itu seorang teknisi radio Angkatan Darat di Wake menerima peringatan radio dari Hawaii yang menyampaikan: ‘Lapangan terbang Hickam telah diserang oleh pembom tukik Jepang. Ini adalah hal serangan betulan. ‘ komandan Marinie, Devereux kemudian berteriak kepada peniup terompetnya, Alvin J. Waronker, dan segera dengan nada jelas memberi komando ‘ General Quarters ‘terdengar di seluruh atol. Pada pukul 8:50 marinir mengibarkan bendera Amerika, sesuatu yang dilakukan Marinir setiap pagi di seluruh dunia, dan Waronker mulai membunyikan mars ‘To the Colours.’, semua aktivitas berhenti ketika masing-masing prajurit berdiri memperhatikan dan memberi hormat pada bendera. Devereux mengenang: ‘Saat bendera naik, dan setiap nada mars terdengar dengan jelas. Hal itu membuat setiap prajurit mengikuti prosesi dengan khidmat. ‘Tidak lama setelah pengibaran bendera, 36 pembom Mitsubishi G3M3 Jepang tiba-tiba menyerbu ke Pulau Wake dengan 3 formasi “V”, menjatuhkan bom ke atol kecil itu dengan diikuti tembakan senapan mesin dan menghancurkan semua kecuali empat dari 12 pesawat tempur Wildcat yang diparkir landasan pacu. Dipercayai bahwa semua pesawat akan hancur seandainya empat diantaranya tidak mengudara pada saat. Empat Wildcat yang tersisa ini berada di udara untuk berpatroli, tetapi karena jarak pandang yang buruk, mereka gagal menemukan pembom Jepang yang menyerang, namun pesawat-pesawat Wildcat ini menembak jatuh dua pembom pada hari berikutnya. Setelah serangan awal, 55 personil Satuan Penerbangan Marinir tiba-tiba menyusut dengan 23 orang tewas dan 11 lainnya luka-luka. Menyadari apa yang terjadi, semua karyawan Pan Am (kecuali para pekerja Chamorro) diperintahkan untuk mengungsi, menggunakan pesawat terbang penumpang “Philippine Clipper,” untuk meninggalkan pulau. Pertempuran memperebutkan Pulau Wake telah dimulai.

8 Maret 1941, armada pembom G3M3 Jepang mulai membombardir Pulau Wake tepat setelah Pearl Harbor diserang. (Sumber: Pinterest)
Karena jarak pandang buruk, Wildcat gagal menembak jatuh armada pembom Jepang di hari pertama serangan. (Sumber: https://www.oldgloryprints.com/)

Bersiap menghadapi serangan kedua, pasukan Amerika menyiapkan baterai anti-pesawat mereka, memindahkan mereka dan memasang decoy kayu untuk mengelabui Jepang jika mereka melakukan pengintaian. Pada tanggal 9 Desember, Jepang menyerang lagi, kali ini mereka menyerang rumah sakit dan fasilitas bandara Pan Am. Hari berikutnya, pasokan dinamit diserang, menghancurkan amunisi senjata anti-pesawat untuk Pulau Wilkes yang terdekat. Sementara itu pesawat-pesawat berbasis darat Jepang dari Roi di Marshalls, kemudian bergabung dengan pesawat dari kapal induk Jepang yang mendekat ke Pulau Wake, menyerang atol itu hari demi hari. Dalam setiap serangan, sejumlah pejuang Wildcat Amerika yang jumlahnya sedikit terbang untuk menghadapi mereka. Pada pukul 3 pagi pada tanggal 11 Desember, satuan tugas invasi Jepang dari South Sea Forces yang dipimpin oleh Laksamana Muda Sadamichi Kajioka, terdiri dari tiga kapal penjelajah ringan (Yubari, Tenryū, dan Tatsuta), enam kapal perusak (Yayoi, Mutsuki, Kisaragi, Hayate, Oite, dan Asanagi), dua kapal patroli (awalnya merupakan destroyer kelas Momi yang diubah jadi kapal patroli no 32 dan 33), sebuah Submarine Tender (Jingei) dan dua kapal pengangkut (Kinryu Maru dan Kongō Maru)yang membawa 450 Infantri Angkatan Laut Jepang dengan percaya diri mendekati pantai Wake. Para penembak meriam pantai marinir membiarkan mereka mendekati 4.500 yard sebelum senjata angkatan laut kaliber 5 inci (127 mm) mereka melepaskan tembakan. Kesabaran mereka membuahkan hasil dengan tenggelamnya satu kapal perusak Jepang dan merusak kapal penjelajah dan tiga perusak tambahan. “Baterai L “, di pulau Peale, menenggelamkan Hayate pada jarak 4.000 yd (3.700 m) dengan setidaknya dua tembakan langsung ke ruang amunisinya, menyebabkannya meledak dan tenggelam dalam dua menit. Sementara itu “baterai A” mengaku telah mengenai Yubari beberapa kali, tetapi laporan dari Jepang tidak menyebutkan adanya kerusakan.

11 Desember 1941, pasukan Jepang menyerbu Pulau Wake yang segera mendapat sambutan hangat dari para defender. (Sumber: Osprey Publishing)
Meskipun gagal di serangan pertama, namun armada udara Jepang berhasil menghancurkan pesawat-pesawat Wildcat yang berjajar di landasan hingga cuma tersisa 4 pesawat. (Sumber: https://www.artrabbit.com/)
Destroyer Hayate yang tenggelam dalam serangan pertama Jepang di Pulau Wake (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Selama pertarungan, kapten laut Henry “Hammerin’ Hank ”Elrod sendirian menghadapi 22 pesawat musuh, dan menembak jatuh dua pesawat tempur Zero Jepang. Kemudian, ia menorehkan prestasi luar biasa dengan menjatuhkan dua bom kecil ke bagian buritan kapal perusak Kisaragi yang dipenuhi dengan deretan bom dalam. Kapal itu meledak menjadi bola api besar dan kemudian tenggelam, membuat Elrod sebagai pilot tempur pertama dalam sejarah yang sendirian menenggelamkan kapal perang dengan pesawat tempur. Tenggelamnya dua destroyer Jepang membawa serta semua awaknya (kecuali satu yang selamat dari Hayate), dimana Hayate menjadi kapal perang permukaan Jepang pertama yang tenggelam dalam PD II. Melihat perkembangan ini Kajioka mundur, karena tahu bahwa Wake tidak akan direbut tanpa adanya perlawanan. Meskipun di udara, orang Amerika tidak diperlengkapi dengan baik, sebagai pesawat tempur terbaik yang dimiliki saat itu, F4F tidak lebih baik dari lawannya dan sering kalah dengan pesawat tempur Jepang pada saat itu. Menghadapi beberapa gelombang serangan, semua kecuali dua pesawat dapat diterbangkan selama beberapa hari serangan itu berlangsung, namun demikian tidak ada satu pun dari keempat pesawat itu yang ditembak jatuh dalam pertempuran udara. Terlepas dari kendala yang dihadapi, Elrod dan rekan-rekan pilot-pilotnya terus-menerus terbang ke udara ketika Jepang tanpa henti-hentinya melanjutkan serangan mereka – dan para kru darat yang berani terus memperbaiki pesawat-pesawat yang rusak karena pertempuran dengan sebaik mungkin.

Kapten Henry T. Elrod yang berhasil menenggelamkan kapal perusak Kisaragi. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Dengan kanibalisasi crew satuan udara marinir berusaha agar 4 pesawat Wildcat tersisa dapat tetap terbang. (Sumber: http://wallpaperweb.org/)

“Bagian-bagian dan suku cadang telah dipertukarkan antar pesawat satu dengan yang lain sehingga tidak ada satupun pesawat yang dapat diidentifikasi keasliannya,” tulis Mayor Paul Putnam dalam sebuah laporan. “Mesin telah ditukarkan dari pesawat satu ke pesawat lainnya, dibuang, dibongkar, dibangun kembali, dan semuanya untuk dapat tetap terbang.” Kerugian di pihak Angkatan Laut Jepang sangat besar, dengan tenggelamnya setidaknya dua kapal perusak yang menewaskan lebih dari 407 korban, sementara dalam serangan pertama ini pihak Marinir Amerika cuma menderita 4 korban luka-luka dan tidak ada satupun yang terbunuh. Pasukan pendarat mereka hancur sebelum mereka bisa mencapai pantai, pasukan Jepang kemudian mundur sebelum mereka bisa menginjakkan kaki di Wake. Komandan Winfield Scott Cunningham, seorang mantan pilot Angkatan Laut dan komandan pasukan Pulau Wake, memuji para penerbang dan memberikan pujian kepada baterai artileri untuk pekerjaan luar biasa yang telah mereka lakukan tanpa kenal lelah. Dalam catatannya, ia memuji Marinir yang mengoperasikan baterai anti-pesawat tanpa sistem pengendalian tembakan dan mencatat fakta bahwa empat pilot Wildcat telah berjuang melawan gelombang pesawat musuh, tanpa ditembak jatuh, tidak lain merupakan sebuah “keajaiban.” Namun, kini pihak Amerika telah kehabisan amunisi, perbekalan, dan peralatan tempur yang masih berfungsi.

Koran-koran Amerika memberitakan kisah heroik pertahanan Marinir di Pulau Wake. (Sumber: http://www.rarenewspapers.com/)

Setelah serangan awal Jepang berhasil digagalkan, media massa Amerika melaporkan bahwa, ketika ditanyai tentang perlunya penguatan dan pasokan, Komandan Pulau Wake, Cunningham dilaporkan menjawab, “Kirimi kami lebih banyak lagi (orang) Jepang!” Faktanya, Cunningham mengirim daftar panjang peralatan penting — termasuk senjata, suku cadang, dan radar pengendali tembakan — ke atasan langsungnya, Komandan, Distrik Angkatan Laut ke-14. Namun selama pengepungan dan serangan udara Jepang di garnisun Wake berlanjut, tanpa adanya pasokan yang datang untuk tentara Amerika yang bertahan. Pada tanggal 21, Wildcats terakhir telah rusak dalam dogfight di atas atol. Dengan tidak ada pesawat tersisa yang bisa diterbangkan, para penerbang Marinir ditugaskan untuk untuk menjadi prajurit infanteri. Pesawat-pesawat Jepang sekarang bebas berkeliaran di atas pulau sesuka hati, menggempur posisi Amerika sebagai persiapan untuk upaya baru mereka merebut atol.

Rencana Penyelamatan yang dibatalkan

Sementara itu Gugus Tugas 14 (TF-14) pimpinan Admiral Frank Fletcher ditugaskan untuk menyelamatkan personel di Garnisun Pulau Wake, sementara Gugus Tugas 11 (TF-11) pimpinan Admiral Wilson Brown akan melakukan penyerangan ke pulau Jaluit di Kepulauan Marshall sebagai pengalihan. TF – 14 armadanya terdiri dari kapal induk Saratoga, kapal tanker Neches, kapal amfibi Tangier, tiga kapal penjelajah berat (Astoria, Minneapolis, dan San Francisco), dan 8 kapal perusak (Selfridge, Mugford, Jarvis, Patterson, Ralph Talbot, Henley, Blue, dan Helm). Konvoi ini membawa serta Batalyon Pertahanan Laut ke-4 (Baterai F, dengan empat 3 senjata AA, dan Baterai B, dengan dua senjata kaliber 5 inchi dan skuadron tempur VMF-221, yang dilengkapi dengan pesawat tempur Buffalo Brewster F2A-3, bersama dengan tiga set lengkap peralatan FC (Fire Control) untuk 3 baterai AA yang sudah ada di pulau itu, ditambah alat dan suku cadang tambahan; suku cadang untuk 5 senjata pertahanan pantai dan penggantian alat kontrol penembakan; 9.000 amunisi meriam 5-inci, 12.000 amunisi meriam 3-inci (76 mm), dan 3.000.000 peluru senapan mesin .50-inci (12,7 mm); tim senapan mesin dan elemen-elemen layanan dan pendukung Batalyon Pertahanan ke-4; Detasemen VMF-221 (pesawat-pesawatnya sudah mulai lepas landas dari Saratoga); serta radar pencarian udara SCR-270 dan radar kontrol tembakan SCR-268 untuk senjata 3 inci, dan sejumlah besar amunisi untuk mortir dan senjata kecil batalyon lainnya.

AL Amerika sempat berencana mengirimkan armada yang dipimpin oleh USS Saratoga untuk memperkuat pertahanan Pulau Wake, namun dibatalkan setelah mendengar adanya 2 kapal induk Jepang di sekitar Wake. (Sumber: https://www.lasegundaguerra.com/)

TF – 11 terdiri dari kapal induk Lexington, kapal minyak Neosho, tiga kapal penjelajah berat (Indianapolis, Chicago dan Portland), dan sembilan kapal perusak Skuadron Perusak ke-1 (Phelps sebagai kapal yang memimpin bersama dengan Dewey, Hull, MacDonough, Worden, Aylwin, Farragut, Dale, dan Monaghan). Pada pukul 21:00 tanggal 22 Desember, setelah menerima informasi yang mengindikasikan keberadaan dua kapal induk IJN dan dua Battleship cepat (yang sebenarnya adalah kapal penjelajah berat) di dekat Pulau Wake, Wakil Laksamana William S. Pye — Pejabat Pelaksana Tugas Armada Pasifik AS — Memerintahkan TF 14 untuk kembali ke Pearl Harbor dan membatalkan misi.

Last Stand

Ketika serangan kedua dimulai ditengah kegelapan dan hujan yang turun pada dini hari tanggal 23 Desember, Kajioka kembali, armadanya didukung oleh dua kapal induk (Soryu dan Hiryu), bersama dengan pengawalnya, dari Cruiser Division ke 8 (Chikuma dan Tone), dan Destroyer Division ke 17 (Tanikaze dan Urakaze), semuanya baru kembali dari serangan di Pearl Harbor; Divisi Penjelajah ke-6 (Kinugasa, Aoba, Kako, dan Furutaka), kapal perusak Oboro, pesawat amfibi Kiyokawa Maru, dan kapal angkut Tenyo Maru yang baru saja dari invasi Guam; dan Destroyer Division ke- 29 (Asanagi dan Yūnagi) yang baru datang dari invasi Kepulauan Gilbert, untuk mendukung serangan menyerang pantai-pantai pulau Wake dengan setidaknya lebih dari 1.500 prajurit infantri terlatih satuan Pendarat Khusus Angkatan Laut. Pada pukul 02.35 pagi, kapal pendaratan pertama Jepang mendarat di darat. Segera pertempuran sengit terjadi di atol antara kelompok-kelompok prajurit yang bertarung dengan senapan, bayonet, granat, dan tinju. Orang-orang Amerika berjuang keras, tetapi lebih banyak orang Jepang mendarat dan berhasil mendesak mereka ke tengah pulau, meski dua kapal patrolinya hancur selama upaya mereka untuk mendarat. Para pekerja konstruksi sipil, yang sebelumnya banyak dari mereka yang mengawaki senjata anti-pesawat, sekarang mengambil senapan dan granat untuk bertarung di samping prajurit Amerika. Selama pertempuran, Kapten Elrod telah kehilangan pesawatnya dan terluka parah saat melindungi anak buahnya, yang sibuk membawa amunisi ke tempat senjata. Dia kemudian akan dipromosikan secara anumerta menjadi Mayor dan kemudian dianugerahi Medal of Honor.

Lukisan sketsa pertahanan Marinir di hari-hari terakhir sebelum Pulau Wake jatuh karya Albin Henning. (Sumber: https://www.ibiblio.org/hyperwar/)
Lukisan pasukan Jepang menyerbu Pulau Wake dengan Samurai terhunus. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Pulau Wake tengah diserang, dimana markas Mayor James P.S. Devereux ada di lokasi yang dilingkari warna merah. (Sumber: https://www.ibiblio.org/hyperwar/)

Saat fajar, Devereux dan Cunningham, yang dalam posisi terpisah tetapi masih mampu berkomunikasi melalui saluran telepon tunggal di antara pulau-pulau, memperhatikan situasi yang ada. Bendera Amerika memang masih berkibar dari menara air yang penuh bekas tembakan dan merupakan titik tertinggi di Wake, tetapi bendera Jepang telah berkibar di mana-mana. Laporan yang didapat dari ketiga pulau itu mengecewakan; terlalu banyak prajurit Jepang dan hanya ada sedikit orang Amerika. Cunningham kemudian menghubungi lewat radio di Pearl Harbor: ‘Musuh telah mendarat di pulau. pertahanan pulau (dalam kondisi) meragukan. ” Sementara itu, pesawat-pesawat musuh terus membom dan memberondong sementara kapal-kapal Jepang, yang ada di luar jangkauan beberapa baterai meriam pantai yang tersisa, menembaki kantong-kantong perlawanan Amerika. Devereux, tidak dapat menghubungi titik-titik pertahanan kuat yang tersisa, bahkan tidak tahu apa yang terjadi beberapa meter di luar pos komandonya sendiri. Kemudian dia merenung: “Saya mencoba memikirkan sesuatu … kita mungkin bisa terus bertempur, tetapi tidak ada apa-apa yang tersisa di pulau …. Kita hanya bisa terus menghabiskan nyawa prajurit yang tersisa, tetapi itu tidak ada gunanya dan mengubah apapun.” Cunningham, sebagai perwira tertinggi, membuat keputusan yang tak mungkin terelakkan lagi, yakni memerintahkan untuk menyerah. Komandan Angkatan Laut itu kemudian menelepon Devereux untuk memberitahukan berita yang menyedihkan itu. Sang mayor menelan ludah, lalu diam-diam setuju, “Aku akan menyampaikan perintah itu.” Devereux dan Sersan Donald R. Malleck, yang membawa kain putih yang diikat pada gagang pel, kemudian berjalan menyeberangi pulau, memerintahkan orang Amerika yang masih hidup untuk meletakkan senjata mereka. Para prajurit itu yang awalnya terpana itu kemudian membuang baut-baut senapan, menghancurkan instrumen-instrumen pembidik senjata, membuang cairan hidrolik dari silinder-silinder recoil dan kemudian menyerah. Delapan puluh satu marinir, delapan pelaut dan 82 pekerja konstruksi sipil telah gugur atau terluka.

Dalam tawanan Jepang

Jepang akhirnya mengambil Pulau Wake tetapi dengan biaya yang besar. Aksi mereka itu menelan korban sekitar 500 orang tewas, empat kapal (2 destroyer dan 2 kapal patroli tenggelam), 10 pesawat ditembak jatuh, 20 pesawat lainnya rusak, serta merusak beberapa kapal, dan melukai banyak orang. Orang Amerika telah kehilangan 52 personel gugur di pihak mereka, yang hampir sama jumlahnya dengan terluka, dan kehilangan 12 pesawat tempur Wildcat. Pada saat penyerahan, dari 1.616 orang Amerika yang ditangkap, 433 diantaranya adalah personel militer, sebagian kemudian dibawa ke Jepang dan bahkan ke China. Adapun warga sipil dan kontraktor Amerika, mereka mengalami nasib yang jauh lebih tragis. Banyak dari mereka ditahan sebagai pekerja paksa, dan setelah serangan dari USS Lexington, Jepang membunuh 98 tawanan Amerika.

Para kontraktor sipil di Pulau Wake menuju tempat penawanan Jepang. 98 diantaranya akan dieksekusi pada 5 Oktober 1943. (Sumber: https://www.ibiblio.org/hyperwar/)

Marah karena kehilangan banyak korban diantara mereka, Jepang memperlakukan tahanan mereka – baik militer maupun sipil – secara brutal. Beberapa ditelanjangi, yang lain hanya memakai pakaian dalam. Sebagian besar tangan mereka diikat di belakang punggung mereka dengan kabel telepon, dengan kabel kedua diikat erat-erat dari leher mereka ke pergelangan tangan mereka sehingga jika mereka menurunkan tangan mereka akan mencekik diri mereka sendiri. Barang-barang pribadi diambil dan luka-luka mereka diabaikan. Para tahanan kemudian dimasukkan ke dalam dua bunker amunisi beton yang sesak. Kemudian mereka digiring ke landasan terbang dan disuruh duduk, telanjang, di atas beton panas hingga melepuh. Ketika Jepang memasang senapan mesin di dekatnya, sebagian besar tahanan mengira akan dieksekusi. Malam itu, angin yang menusuk tulang menggantikan panas menyiksa para tawanan. Para tahanan duduk di sana, sambil masih menunggu makanan, air, atau perawatan medis.

Tentara Jepang dari satuan Special Naval Landing Force memperingati rekan-rekan mereka yang gugur dalam pertempuran Pulau Wake. (Sumber: https://www.ibiblio.org/hyperwar/)

Para tahanan yang malang itu tetap duduk di lapangan terbang selama dua hari. Akhirnya, mereka diberi makanan, yang tidak enak karena terkena panas, air, dan terkontaminasi karena ditempatkan dalam drum bensin yang tidak bersih. Tumpukan pakaian yang disita sebelumnya ditempatkan di depan mereka untuk mereka kenakan; setiap orang hanya memiliki sedikit peluang untuk bisa menemukan pakaian aslinya. Banyak Marinir kemungkinan mendapati diri mereka mengenakan pakaian sipil, sedangkan para pekerja sipil mendapat seragam angkatan laut. Prajurit Kelas Satu Carl Stegman, Jr., mengenakan kemeja yang berlumuran darah, celana marinir yang tidak pas dan sepasang sepatu kets. Letnan John Manning memulai penahanannya dengan mengenakan celana panjang Marinir dan dua sepatu bot karet yang terlalu besar. Setelah mengembalikan pakaian para tahanannya, Laksamana Kajioka, yang berpakaian seragam putih dan pedang samurai berkilau, membacakan maklumat kepada para tahanan yang berkumpul. Ketika dia membacakan, seorang penerjemah Jepang memberi tahu orang-orang Amerika bahwa ‘Kaisar dengan baik hati telah menyerahkan hidupmu kepadamu.’ Seorang Marinir, kemudian membalas sengit ‘ya ucapkan terima kasihku pada bajingan itu!” Selama 10 hari berikutnya para tahanan diberi sejumlah kecil makanan yang diambil dari sisa perbekalan di pulau itu. Mereka merawat luka-luka mereka sendiri dengan persediaan apa pun yang bisa mereka peroleh.

Laksamana Muda Sadamichi Kajioka (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Tawanan Marinir Amerika di Wake ditelanjangi dan dipermalukan oleh Tentara Jepang selama penawanan yang brutal. (Sumber: Reddit)

Pada 11 Januari 1942, Kajioka memberi tahu para tahanan bahwa mereka akan segera dipindahkan. Ini adalah berita yang mengkhawatirkan karena meskipun mereka diperlakukan dengan buruk oleh penahannya, kedua belah pihak telah saling memahami satu sama lain di Pulau Wake. Sekarang semua itu akan berubah. Keesokan harinya sebagian besar tahanan dibawa ke kapal dagang Nitta Maru. Namun, sebelum naik, mereka dipaksa untuk berjalan melewati para pelaut Jepang yang mengutuki, meludahi, memukuli mereka dengan pentungan, tinju dan ikat pinggang yang berat. Mereka akan memulai perjalanan berat menuju tempat penawanan mereka di Yokohama (Jepang dan China). Meski begitu, mereka lebih beruntung dari para tahanan yang diperbolehkan Jepang tetap di pulau Wake untuk membangun kembali pertahanan pulau tersebut. Mereka yang malang itu akan menjadi pekerja paksa sampai Oktober 1943.

Kolonel Bayler diberi kehormatan untuk mendarat pertama kali, saat Pulau Wake direbut kembali pada 4 September 1945. (Sumber: https://www.ibiblio.org/hyperwar/)

Pada 5 Oktober 1943, pesawat angkatan laut Amerika yang terbang dari kapal induk USS Lexington menyerang Pulau Wake. Dua hari kemudian, karena khawatir akan terjadi invasi, Laksamana Muda Jepang Shigematsu Sakaibara memerintahkan eksekusi 98 pekerja sipil Amerika yang ditahan yang pada awalnya ditahan untuk melakukan kerja paksa di pulau itu. Seorang diantara mereka berhadil melarikan diri selama peristiwa itu dan menuliskan kata-kata, “98 US PW 5-10-43 ″ di atas batu besar dekat kuburan massal tempat para pria itu dikuburkan, bekas situs ini masih ada hingga sekarang. Tawanan yang sempat lari itu kemudian dilaporkan berhasil ditangkap kembali dan dipenggal oleh Laksamana Muda Jepang Shigematsu Sakaibara, yang nantinya akan digantung setelah perang karena kejahatan perang yang dilakukannya. Pulau Wake akhirnya bisa direbut kembali oleh Amerika pada 4 September 1945. Pada saat itu Bayler (kini telah berpangkat Kolonel) sebagai prajurit terakhir yang meninggalkan Pulau Wake sebelum jatuh ke tangan Jepang, diberi kehormatan untuk jadi prajurit pertama yang kembali ke pulau itu.

Kapten Winfield Scott Cunningham (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Mayor James P.S. Devereux (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Mayor Paul Albert Putnam (Sumber:https://www.ibiblio.org)

Sementara itu saat Perang berakhir, eks komandan pulau Wake, Cunningham selama penahanannya dua kali berusaha melarikan diri dan kemudian ditangkap kembali oleh Jepang. Selama penahanannya, ia telah kehilangan bobot tubuhnya lebih dari 70 pound. Pada 18 Agustus 1945, setelah 1330 hari dalam kurungan, komandan penjara Jepang mengumumkan berakhirnya perang. Pada 24 Agustus 1945, Cunningham meninggalkan Tiongkok dengan pesawat Angkatan Darat A.S. Dia akhirnya tiba di AS, kembali pada 4 September 1945, pada hari yang sama Pulau Wake secara resmi diserahkan oleh Jepang ke detasemen Marinir A.S. yang tiba. Komandan Marinir Pulau Wake, Devereux bersama Paul Albert Putnam dibebaskan dari kamp penjara Pulau Hokkaidō pada 15 September 1945. Saat ini, Pulau Wake tetap menjadi pos militer A.S. yang berharga dan umumnya terlarang bagi publik. Namun, mereka yang cukup beruntung untuk mengunjunginya, dapat merasakan apa yang terjadi di sana – sebuah aksi pertahanan terakhir yang brilian yang menggambarkan semangat juang Amerika.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Pacific Alamo: The tiny island the U.S. defended for 15 days at the start of WWII by Andy Wolf; 16 October 2019

Battle Of Wake Island

The Battle of Wake Island was Special Sort of World War II Hell by Warfare History Network

https://nationalinterest.org/blog/buzz/battle-wake-island-was-special-sort-world-war-ii-hell-96431

Semper Fi: The Definitive Illustrated History of the U.S. Marines by Colonel H. Avery Chenoweth USMCR; November 2, 2010 page 174-179

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Wake_Island

One thought on “Desember 1941: Kisah heroik defender Pulau Wake di hari-hari pertama Perang Pasifik.

  • 12 November 2020 at 9:53 pm
    Permalink

    I just want to tell you that I am just new to blogging and site-building and honestly liked this website. Very likely I’m want to bookmark your site . You absolutely have tremendous well written articles. With thanks for sharing with us your web page.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *