Saat itu tanggal 29 April 1975, kekacauan telah menyelimuti Vietnam Selatan. Dua tahun sebelumnya, perjanjian damai di Paris tahun 1973 secara teoritis telah mengakhiri perang, tetapi setelah pasukan tempur Amerika meninggalkan negara itu, Vietnam Utara mengambil kesempatan untuk menekankan keunggulan strategis yang mereka miliki. Perang panjang antara Vietnam Utara dan Selatan hanya sempat berhenti sebentar sebelum pertempuran sengit dilanjutkan kembali. Pada awal tahun 1975, Angkatan Darat Vietnam Utara telah merebut pangkalan-pangkalan penting di Dataran Tinggi Tengah, dan, pada akhir bulan Maret, mereka telah merebut daerah-daerah di sepanjang pantai Vietnam Selatan. Melihat perkembangan ini, para penasihat Amerika yang tersisa dan banyak keluarga Vietnam Selatan memulai proses evakuasi menggunakan pesawat-pesawat militer Amerika dan pesawat angkut sipil. Pesawat-pesawat besar itu kemudian menerbangkan ribuan orang ke kamp-kamp yang dibangun dengan tergesa-gesa di Filipina, Guam, dan Pulau Wake. Situasinya sungguh putus asa, misalnya pesawat terakhir yang terbang dari Da Nang, yakni sebuah Boeing 727 sipil pada tanggal 29 Maret, tidak dapat menarik kembali roda pendaratnya dalam penerbangan karena setidaknya tujuh dari 290 penumpang telah naik ke lubang rodanya. Segera setelah itu pasukan Vietnam Utara mulai mengarahkan sasarannya ke ibukota Vietnam Selatan di Saigon.
OPERASI FREQUENT WIND
Minggu-minggu awal bulan April 1975, kapal induk USS Midway (CV-41) berlayar menuju pantai Vietnam Selatan untuk bergabung dengan sejumlah kapal perang lainnya termasuk kapal induk USS Coral Sea dan kapal induk bertenaga nuklir USS Enterprise dalam Task Force 76, yang bersiap untuk mendukung Operation Frequent Wind, sebuah operasi evakuasi massal atas semua warga negara Amerika dan sebanyak mungkin personel militer Vietnam Selatan (dan keluarga mereka) selama ofensif terakhir Angkatan Darat Vietnam Utara ke Vietnam Selatan. Mencapai posisinya pada tanggal 19 April, USS Midway sebelumnya telah menurunkan setengah dari wing udaranya di Subic Bay, Filipina dalam perjalanannya ke Vietnam dan para pelautnya kini bersiap untuk menerima ribuan pengungsi dalam beberapa hari mendatang. Untuk membantu evakuasi, sepuluh helikopter raksasa Sikorsky CH-53/HH-53C Super Jolly Green Giant milik Angkatan Udara AS dari 21st Special Operations Squadron (8 helikopter CH-53) dan 40th Aerospace Rescue and Recovery Squadron (2 helikopter HH-53) dimuat ke Midway saat berlabuh di Subic, menggantikan sebagian ruang yang biasa digunakan Wing Udara Midway (terdiri dari sekitar 70 jet tempur dan serang). Super Jolly Green Giants, ini adalah helikopter besar, panjangnya hampir 100 kaki (30,5 meter), dan mampu membawa hingga 55 penumpang. Pada tanggal 29 April, perintah diturunkan dari komando yang lebih tinggi. Operasi Frequent Wind kini siap dimulai. Dalam Operasi ini, awak helikopter-helikopter Super Jolly Green Giants mendapat perintah untuk terbang ke Saigon, memuat sebanyak mungkin pengungsi yang bisa mereka bawa, dan membawa mereka kembali ke Midway. Pada hari itulah Mayor Buang Lee (juga dieja sebagai Bung-Ly di sejumlah sumber lain) dari Angkatan Udara Vietnam Selatan secara tidak sengaja mengukir namanya ke dalam buku rekor dengan mencoba dan menyelesaikan salah satu pendaratan kapal induk yang paling aneh dalam sejarah di atas kapal yang dikomandani oleh Kapten Lawrence Chambers itu.
Kapten Chambers sendiri, yang menjadi orang Afrika-Amerika pertama memimpin sebuah kapal induk, baru mengambil alih pimpinan di USS Midway pada bulan Maret 1975. Hanya lima hari setelah memulai tour penugasannya, Chambers segera ditugaskan mempersiapkan misi darurat untuk melaksanakan evakuasi di Vietnam Selatan. Kapal induk tua yang dikomandani Chambers itu telah beroperasi sejak bulan September 1945 dan baru saja memulai masa perbaikan di dermaga. Mesinnya, yang telah dimatikan untuk pemeliharaan, perlu segera dipulihkan untuk beroperasi, dan kapal itu mulai berlayar dengan lebih sedikit pelaut dari biasanya. Sementara itu di sepanjang masa perang, sebagian besar operasi udara yang dilaksanakan dari kapal induk seperti Midway adalah misi-misi operasi tempur, seperti: pengeboman, pengumpulan data intelijen, dan patroli udara tempur. Operasi logistik non-tempur biasanya hanya mengambil sebagian kecil dari aktivitas sehari-hari di dek penerbangannya. Awak logistik biasanya memindahkan beberapa lusin penumpang setiap hari, mungkin membawa mesin jet baru atau perlengkapan lainnya, dan mengirimkan surat melalui pesawat atau helikopter. Biasanya, seorang junior air transfer officer, yang memimpin awak sekitar selusin pelaut dapat dengan mudah menangani tugas ini. Tetapi untuk Operasi Frequent Wind, seluruh kapal dan awaknya difokuskan untuk upaya tersebut. Para tamtama pelaut di Midway, kemudian memimpin kru lainnya dalam latihan yang dirancang untuk memperhitungkan setiap masalah yang bisa dibayangkan dalam misi darurat yang akan datang itu.
Sementara itu, pada akhir perang di Vietnam, cukup banyak perwira Angkatan Militer Republik Vietnam (Selatan) dan tentara/penerbang senior, serta keluarga mereka, yang ditarget untuk ditangkap. Rekan-rekan sipil mereka di Selatan juga sangat takut akan pembalasan dari Tentara Vietnam Utara yang menyerang karena dianggap mendukung dan menyembunyikan personel berpangkat militer Vietnam Selatan. Siapa pun yang terlihat atau dianggap telah membantu Amerika Serikat dengan cara atau bentuk apa pun, diburu dan terancam mendapat hukuman. Menghadapi situasi ini, Militer AS menawarkan beberapa bantuan, selama Operasi Frequent Wind, bagi orang-orang ini dan keluarga mereka untuk melarikan diri ke tempat yang aman. Tempat perlindungan bagi mereka adalah di geladak dari sekitar 50 kapal-kapal Angkatan Laut AS yang terapung di lepas pantai Vietnam (sebuah konsentrasi kapal-kapal armada angkatan laut Amerika terbesar sejak meningkatnya eskalasi perang di Vietnam tahun 1964 setelah Insiden Teluk Tonkin). Pada pagi hari tanggal 29 April, mantan Perdana Menteri dan Wakil Presiden Vietnam Selatan Nguyen Cao Ky, dengan didampingi oleh Letnan Jenderal Ngo Quang Truong, meminta izin untuk mendarat di Midway, setelah melakukan penerbangan menggunakan helikopter selama satu jam 15 menit dari daratan. Kedatangan mereka memberi isyarat kepada perwira di kapal induk itu, bahwa Operasi Frequent Wind telah dimulai. Sekitar jam 11 pagi itu, Menteri Luar Negeri Amerika, Henry Kissinger akhirnya memberi perintah kepada para diplomat Amerika untuk mengungsi. Sebuah stasiun radio Amerika lalu menyiarkan kode rahasia, yang berbunyi: “Suhu di Saigon adalah 105 derajat (fahrenheit) dan terus naik,” yang kemudian diikuti oleh lantunan lagu “White Christmas” dari Tennessee Ernie Ford—karena DJ di radio itu tidak dapat menemukan versi Bing Crosby yang lebih terkenal. Kode tersebut memberi tahu para pengungsi di Saigon untuk segera berpindah ke lokasi ekstraksi yang telah ditentukan sebelumnya, kemudian naik bus dari sana dan menuju ke bandara. Saat evakuasi resmi dimulai, banyak orang-orang Vietnam Selatan berusaha menguasai pesawat apa pun yang mereka bisa dapatkan untuk terbang ke tempat yang aman. “Setidaknya 74 pesawat Angkatan Udara Vietnam Selatan, termasuk sekitar 30 pesawat tempur F-5, mengalir ke pangkalan udara U-Tapao di Thailand selatan dari Vietnam Selatan tanpa peringatan,” The New York Times melaporkan pada hari berikutnya. “Pilot dan penumpang—sekitar 2.000 orang—telah meminta suaka,” dan lebih banyak pesawat terus berdatangan. Pejabat Thailand sempat menyatakan niat mereka untuk mengembalikan pesawat-pesawat itu ke Vietnam Selatan, yang kemudian segera menjadi tidak mungkin karena Selatan akan disatukan bawah kepemimpinan rezim komunis Hanoi. Dari waktu ke waktu, lebih banyak helikopter mulai berdatangan di dek penerbangan Midway.
Selama operasi berlangsung, banyak helikopter UH-1 Huey yang dipenuhi tentara Vietnam Selatan yang bersenjata lengkap mendarat di Midway. Setelah mendarat, para prajurit ini, yang dengan cepat dilucuti oleh detasemen Marinir yang ada diatas kapal induk. Awalnya, para Marinir dengan hati-hati menyimpan senjata yang mereka sita, tetapi ketika helikopter-helikopter lainnya terus mendarat dengan frekuensi yang sangat tinggi, para Marinir mulai melemparkan senjata yang disita ke laut. Kemudian setelah itu, mereka membantu para pengungsi masuk ke struktur komando kapal di sisi kanan, yang dikenal sebagai “pulau/island“, di mana anggota kru memberi mereka makanan dan perawatan medis dasar. Semua kecuali 80 atau lebih kasus yang paling kritis dipindahkan dengan helikopter ke kapal lain untuk didistribusikan ke seluruh armada, sebuah proses yang berlangsung hingga hari berikutnya. Para pelaut muda dan tangguh yang terbiasa menangani bom, rantai, dan saluran bahan bakar di tengah deru mesin jet, kini mengabdikan diri untuk merawat orang tua yang kebingungan, anak-anak yang ketakutan,, dan orang sakit. Dek penerbangan kini dipenuhi helikopter dan barisan pria dan wanita yang membawa koper dan anak-anak. Hanggar di bawah geladak dengan cepat kehabisan ruang untuk bisa menampung lebih banyak pesawat, karena upaya untuk membantu ratusan pengungsi terus berlanjut di sana. Dalam sebuah wawancara televisi 35 tahun kemudian, kapten Chambers mengingat proses evakuasi saat dia melihat dari kursinya di anjungan kapal: “Dek penerbangan adalah area operasi berbahaya dalam kondisi normal. Dan ketika Anda melihat anak-anak kecil dan ibu menggendong bayi kecil, sementara pesawat terbang, helikopter lepas landas dan mendarat, Anda hanya bisa menahan napas.” Di sisi lain, para pilot-pilot Vietnam Selatan kemudian mendapati bahwa USS Midway, laksana salah satu bandara tersibuk di tengah laut. Kondisi cuaca saat itu sayangnya tidak ideal, menurut Air Boss Midway, Cmdr. Vern Jumper, dari tempat tugasnya di lima lantai di atas dek penerbangan pada ruang Kontrol Penerbangan Utama. Jumper bertanggung jawab atas semua aspek operasi penerbangan, termasuk setiap pesawat yang terbang di dekat kapal, semua tindakan di atas dek penerbangan, dan pekerjaan yang terjadi di hanggar bay. Dia mencatat hujan turun dari langit-langit awan 500 kaki, dengan kecepatan angin 15 knot (17 mph) di atas geladak dan jarak pandang 5 mil. Tapi laut tetap relatif tenang, yang berarti geladak, meskipun terkadang licin karena air, tidak terlalu berbahaya. Dari waktu ke waktu petugas pengendali lalu lintas udara di dalam kapal dan pengatur sinyal pendaratan di dek menggunakan cara apa pun yang diperlukan untuk menjaga agar helikopter tetap teratur saat mereka mendekat keatas kapal. Komunikasi berjalan lancar dengan 10 helikopter H-53 yang menjadi bagian dari operasi tersebut. Mereka akan mendarat, membongkar muatan, mengisi bahan bakar, dan melakukan perjalanan berulang kali ke Saigon. Hal berbeda terjadi dengan helikopter-helikopter para pengungsi, yang tidak teratur. Menjelang sore hari, ada tambahan 45 helikopter UH-1 Iroquois “Huey” yang tiba dari daratan. Setiap pilot yang ingin mendarat mengatur bahan bakarnya dan dengan sabar menunggu gilirannya. “Pada satu titik kami (bersama asistennya Cmdr. Pete Theodorelos) menghitung ada dua puluh enam Huey berputar-putar di sekitar kapal,” kenang Vern Jumper, “dan tidak seorang pun yang memiliki kontak radio.”
BUNG LY DAN PESAWAT BIRD DOG KECILNYA
Dalam situasi mencekam ini, Mayor Bung Ly, seorang perwira muda Angkatan Udara Vietnam dari Squadron Observasi ke-114, sangat mengkhawatirkan keselamatan istri dan lima anaknya, yang berusia antara 14 bulan sampai 6 tahun. Jika tentara Utara menemukan mereka, atau tetangga mereka menyerah, penyiksaan dan eksekusi adalah nasib brutal yang dikhawatirkan menunggu mereka. Tidak ingin membiarkan ini terjadi, dia menjejalkan mereka semua ke dalam pesawat Cessna O-1 Bird Dog kecil yang diparkir di landasan terbang di Pulau Con Son dan lepas landas. Pulau Cong Son berada sekitar 50 mil (80,5 km) di lepas pantai Vietnam selatan dan menjadi salah satu pangkalan terakhir yang masih berada di bawah kendali militer Vietnam Selatan. Digunakan terutama sebagai kamp penjara, pulau itu juga memiliki lapangan terbang kecil. Sementara itu pesawat Bird Dog, yang digunakan Mayor Bung Ly adalah versi militer dari pesawat Cessna 170 bermesin tunggal dan umumnya terbang dengan dua awak – pilot dan pengamat; pesawat Bird Dog Ly kini penuh sesak dengan tujuh orang, termasuk pilotnya. Dibuat dengan kokoh dan sangat lincah bermanuver, Bird Dog terbang di atas medan Vietnam Selatan selama perang, untuk menemukan target musuh dan kemudian menandai mereka dengan roket fosfor putih guna memandu tembakan artileri dan serangan udara AS. Pesawat ini bisa lepas landas dan mendarat di tempat sempit, tetapi jangkauannya terbatas hanya lebih dari 500 mil (800 km) saat membawa bahan bakar penuh—sayangnya tangki bahan bakar pesawat Mayor Ly tidak membawa bahan bakar penuh. Setelah lepas landas dari Con Son, pesawat Bird Dog Ly ditembaki, tetapi secara ajaib dibiarkan tanpa cedera. Rencana Ly saat itu, adalah terbang keluar dan mudah-mudahan menemukan kapal perang Amerika, mendaratkan pesawatnya di air dan berenang ke tempat yang aman. Saat Mayor Ly berusaha keras mengendalikan pesawatnya yang kelebihan beban itu mengudara, dia menghadapi tantangan yang sangat besar. Bird Dog tidak dirancang untuk beroperasi di atas air. Pesawat itu tidak memiliki peralatan navigasi yang canggih, rompi pelampung dan kemampuan untuk mendarat di air dengan aman dalam keadaan darurat. Selain itu, Ly belum pernah melihat, apalagi mendarat, di kapal induk—dan yang lebih parah, Bird Dog-nya tidak memiliki radio yang berfungsi karena ia tidak dapat membawa perangkat headset-nya. Namun, dia tahu bahwa keluarganya lebih mungkin menyelamatkan diri di laut, di mana Angkatan Laut AS memegang kendali, daripada di daratan yang sekarang dikuasai oleh pasukan komunis di bawah pimpinan Jenderal Van Tien Dung. Namun, jika mereka tidak dapat menemukan kapal, mereka tidak akan memiliki pilihan lain selain mendarat di air. Setelah terbang selama setengah jam, Mayor Ly melihat sekelompok helikopter di kejauhan menuju ke timur. Pada saat itu dia tidak tahu bahwa mereka dipenuhi dengan pengungsi Vietnam, tetapi sepertinya ide yang bagus untuk mengikuti mereka. “Saya sedang mencari tempat yang aman,” kenang Mayor Ly kemudian. “Itu membuatku berpikir ada sesuatu di luar sana yang bisa mereka andalkan.” Benar saja, keluarga Ly kemudian melihat sekelompok kapal di kejauhan, dan Ly segera memutar pesawatnya ke arah itu.
Di atas USS Midway, Operasi Frequent Wind mulai mereda (Operasi ini lalu dianggap sebagai evakuasi kemanusiaan terbesar yang menggunakan helikopter dalam sejarah militer AS). Helikopter-helikopter UH-1 Huey Vietnam Selatan dan Amerika, yang sebelumnya mengangkut para pengungsi, dirantai di dek penerbangan sementara awak bergerak ke sana kemari di tengah hujan rintik-rintik yang membasahi kapal induk. Anjungan Midway kemudian menerima laporan tentang adanya sebuah pesawat kecil yang mendekat, meskipun mereka tidak dapat menentukan asal dan tujuannya. Pengamat di kapal dengan teropong yang kuat melihat Bird Dog dari kejauhan, yang terbang menuju kapal induk besar itu, perlahan tapi pasti. Ly lalu menyalakan lampu pendaratan O-1-nya, dan membelok dalam pola kecil di atas kapal, terbang berputar-putar. Chambers, di atas anjungan Midway di kursi kapten, dapat dimengerti sangat bingung tetapi juga mencoba mencari tahu apakah pesawat kecil itu membahayakan Midway dan awaknya, atau sebaliknya. Secara berkala pilot Bird Dog itu menggoyangkan sayap pesawatnya. Seorang penerjemah bahasa Vietnam dibawa ke Kontrol Penerbangan Utama untuk bergabung dengan Jumper dan Theodorelos di anjungan kapal, tetapi upaya untuk mengirim pesan radio ke pesawat itu menemui jalan buntu. Kebingungan dengan cepat hilang ketika Chambers dan perwira lainnya di anjungan menyadari bahwa Cessna itu berisi lebih dari seorang pilot; dimana terdapat anak-anak dan seorang wanita di dalamnya juga. Tidak dapat menjalin kontak radio dengan kapal di bawahnya, Ly lalu memutuskan pendekatan yang lebih sederhana. Mencoret-coret catatan yang menggambarkan situasinya di selembar kertas yang diambil dari kokpit Bird Dog, dia kemudian menukik rendah di atas dek penerbangan dan melemparkannya ke luar jendela, berharap seseorang bisa menangkapnya. Upaya ini, bersama dengan percobaan kedua gagal karena kedua catatan diterbangkan di sisi kapal sebelum awak di dek penerbangan bisa mendapatkannya. Sekarang dengan sisa bahan bakar kurang dari satu jam di tangkinya, Lee memutuskan untuk menambahkan sedikit bobot pada catatan ketiganya, yang ditulis pada peta di kokpit. Ia menempelkan catatan itu ke holster pistolnya, dan sekali lagi melakukan penerbangan rendah di atas kapal induk, serta menjatuhkannya dari ketinggian sekitar 100 kaki (30,5 meter) sebelum menanjak pergi. Kali ini, kru dek Midway berhasil mendapatkan pesannya itu, dan segera membawanya ke pusat komando kapal induk, untuk kemudian naik ke anjungan menuju Chambers.
PENDARATAN YANG LUAR BIASA
“Bisakah Anda memindahkan Helikopter ke sisi lain, saya bisa mendarat di landasan Anda, saya (hanya) bisa terbang 1 jam lagi, kita punya cukup ruang untuk bergerak. Tolong selamatkan aku. Mayor Bung, istri dan 5 anak.” Chamber kini menghadapi dilema. Kondisi saat itu memang sangat kritikal, namun membiarkan pendaratan kapal induk pertamanya bagi Mayor Ly, menjadi ancaman juga bagi Midway—dek penerbangannya sekarang penuh sesak dengan helikopter-helikopter bermuatan bahan bakar—dan 4.000 awaknya. Bisa dibayangkan terjadi kebakaran dahsyat jika Mayor Ly melakukan kesalahan kecil dan menabrak salah satu helikopter terdekat. Beberapa tahun sebelumnya, kebakaran yang mengamuk di dek penerbangan kapal induk USS Oriskany dan Forrestal telah menewaskan ratusan awak dan membahayakan keselamatan kedua kapal. Jelas tidak ada yang menginginkan terulangnya bencana itu. Sebaliknya pendaratan yang gagal juga akan menimbulkan risiko besar bagi mayor dan keluarganya. Jika mereka mendarat terlalu rendah, mereka bisa mengenai tepi belakang dek kapal induk dan pesawat mereka akan berubah menjadi bola api yang mematikan. Jika mereka mendarat terlalu tinggi dan lama, pesawat mereka akan meluncur begitu saja dari ujung geladak, dan menukik tajam ke dalam air 60 kaki (18 meter) di bawahnya. “Chambers lalu mengadakan pertemuan dadakan dengan Air Boss Midway, Commander Vern Jumper dan komandan Gugus Tugas Kapal Induk Midway, Laksamana William L. Harris. “Laksamana memerintahkan saya untuk memberitahu pilot Bird Dog untuk mendarat di air,” kenang Chambers kemudian. Namun jelas ini berbahaya, Helikopter bisa diminta untuk menjatuhkan penumpangnya ke dalam air untuk kemudian diselamatkan. Pilot lain yang menerbangkan helikopter di dekat kapal Armada ke-7 lainnya melakukan hal semacam itu. Ketika semua penumpang telah meninggalkan helikopter dengan aman, si pilot bermanuver dan mengarahkan helikopternya ke jalur yang aman untuk terjun ke perairan terbuka. Pada saat terakhir dia akan melompat menjauhi baling-baling dan jatuh ke laut, lalu berenang menuju kapal terdekat. Namun, Bird Dog tidak dapat melayang untuk menurunkan penumpangnya, dan roda pendaratnya yang terpasang mati akan menyebabkan pesawat terbalik segera setelah rodanya menyentuh air. Hanya anggota kru yang terlatih, yang akan keluar hidup-hidup dari situasi semacam itu.
Menguraikan situasi yang sedang berlangsung tepat di depan mata mereka, mereka dengan cepat menentukan bahwa penumpang Bird Dog hanya memiliki peluang yang sangat kecil untuk bisa bertahan hidup jika mereka mendarat di Laut Cina Selatan, di sebelah kapal induk. “Penilaian saya mengatakan kepada saya, jika saya tidak memberinya kesempatan untuk mendarat, dia akan memaksakan (juga) untuk mendarat di geladak,” kata Chambers. Air Boss Vern Jumper dan Harris sependapat dengan Chambers bahwa memberi Bird Dog lampu hijau untuk mendarat langsung di atas kapal akan menjadi alternatif yang lebih baik. Chambers melakukannya dan segera menempatkan awak kapal dalam posisi siaga. Mereka memiliki pekerjaan yang cocok untuk mereka. Selama Operasi Frequent Wind dan penghentian operasi evakuasi secara bertahap, Midway hampir tidak membuat banyak pergerakan – hanya melakukan cukup gerakan maju untuk mengarahkan kapal secara efektif. Kapal tidak perlu bergerak lebih cepat, karena mereka seharusnya hanya mengoperasikan helikopter selama Operasi Frequent Wind. Biasanya, mereka harus menghasilkan banyak angin di atas dek penerbangan, untuk meluncurkan pesawat sayap tetap dari ketapelnya, tetapi helikopter tidak membutuhkan persyaratan seperti itu. Oleh karena itu Chambers mengizinkan kru teknik kapal untuk mematikan sebagian mesin untuk pemeliharaan, atas permintaan mereka. Sekarang mereka membutuhkan kecepatan untuk membantu pendaratan Ly. Chambers lalu memanggil chief engineer Midway dan meminta agar dia diberi cukup tenaga untuk meningkatkan kecepatan kapal menjadi 25 knot. Karena penutupan sebagian tenaga mesin, ini tidak akan mungkin segera dilakukan, jadi Chambers meminta kru teknik memindahkan beban hotel (listrik yang digunakan untuk setiap tujuan lain di atas kapal selain mesin) ke mesin diesel darurat sambil menghidupkan mesin utama. Dengan masalah itu terpecahkan, masalah lain muncul di luar di geladak.
Meskipun Operasi Frequent Wind akan segera berakhir (Ketika operasi berakhir, lebih dari 7.000 orang telah dievakuasi ke tempat yang aman di atas banyak kapal-kapal Angkatan Laut AS yang beroperasi di Laut Cina Selatan), helikopter-helikopter masih terbang menuju ke kapal. Chambers kemudian memerintahkan semua orang yang tersedia ke dek penerbangan, terlepas dari pangkatnya, untuk membantu memindahkan pesawat apa pun yang diparkir di dek ke tempat yang berbeda, membersihkan jalur mendarat yang panjang bagi Ly untuk mendarat. Helikopter apa pun yang tidak dapat dipindahkan dengan cara yang aman dan tepat waktu harus didorong ke sisi geladak setelah melepas persneling dengan cepat. Diperkirakan helikopter-helikopter UH-1H Vietnam Selatan senilai $10 juta dilucuti dan dibuang dari dek penerbangan. “Kami mendorong ke samping empat helikopter Huey dan satu Chinook,” ingat Jumper. Kemudian ketika lima lagi Helikopter Huey Vietnam Selatan mendarat di geladak selama aksi cepat untuk membersihkan geladak, penumpang mereka lalu segera digiring ke dalam kapal dan helikopter mereka mengalami nasib yang sama seperti yang lain. Sementara itu, kabel penahan, yang digantung di geladak miring di Midway juga dilepas, agar peralatan pendaratan Ly tidak tersandung kabel selama pendaratannya. Mengawasi geladak dengan cermat, Ly membawa Bird Dog-nya berkeliling dan menyejajarkan dengan kapal, mendekat ke dek tepat di atas kecepatan stall. Chambers kemudian mengingat bahwa kecepatan pesawat Mayor Ly tidak lebih dari 20 hingga 25 knot (37-46 km/jam). Seolah-olah dia telah berlatih belasan kali, Ly mendaratkan pesawatnya di dek penerbangan dan dengan cepat berhenti di tengah teriakan dan teriakan kru yang berkumpul di dek. Lusinan pelaut sempat berlarian ke arah pesawat untuk menahannya jika momentum pesawat terlalu besar saat mendarat, tetapi Bird Dog itu bisa berhenti dengan sempurna. Banyak dari kru setuju, jika Mayor Ly memiliki tailhook di pesawatnya, dia pasti akan mengaitkan pesawatnya pada kabel ketiga (posisi yang ideal untuk pendaratan sesuai buku teks). Mayor Ly dan istrinya dengan gemetar tapi benar-benar lega melompat keluar dari kokpit, menarik kursi belakang ke depan, dan semua anak-anaknya muncul keluar dari pesawat Bird Dog. Istri Ly menggendong bayi di tangannya ketika mendarat. Ly dan keluarganya kemudian dan dibawa ke dalam bangunan utama kapal segera, di mana mereka bertemu dengan Kapten Chambers yang sama leganya.
HAPPY ENDING
Secara keseluruhan, 71 helikopter Amerika menerbangkan total 662 sorti penerbangan dari Saigon ke kapal-kapal Armada ke-7, menyelamatkan lebih dari 7.800 orang. 10 helikopter raksasa H-53 dari Angkatan Udara terbang empat kali bolak-balik dari USS Midway ke Saigon, mengevakuasi lebih dari 1.400 personel dari awal operasi pada pagi hari tanggal 29 April hingga berakhir pada jam 9 pagi pada tanggal 30 April. Tiga jam kemudian, Jenderal Duong Van Minh asal Vietnam Selatan menyerahkan kota Saigon kepada Kolonel Vietnam Utara, Bui Tin, yang secara efektif mengakhiri perang—serta negara Vietnam Selatan. Dalam menghadapi berbagai tantangan yang menakutkan, kisah Mayor Ly berakhir dengan sangat baik. Para awak Midway kemudian beramai-ramai menyumbangkan uang sebagai dana yang akan membantu keluarga Ly menetap di Amerika Serikat setelah mendapatkan status pengungsi, yang mereka mampu mereka dapatkan, sesudah mencapai AS. Tujuh anggota keluarga Mayor Ly kemudian menjadi bagian dari sekitar 130.000 pengungsi Perang Vietnam yang akhirnya bermukim di Amerika Serikat. Sementara itu tindakan Kapten Chambers pada tanggal 29 April itu bisa saja membuatnya diadili di pengadilan militer dan membunuh karirnya di Angkatan Laut. Dia sangat menyadari hal itu. Meski begitu, dia mempertaruhkan profesinya dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan keluarga Ly. Untungnya, Chambers pada akhirnya dapat pensiun dari Angkatan Laut setelah mencapai pangkat perwira tinggi dan menjadi Laksamana Muda. Bertahun-tahun kemudian, dia akan bertemu kembali dengan keluarga Ly, yang masih selalu bersyukur pada Chambers dan para kru Midway, serta apa yang mereka lakukan untuk menyelamatkan hidup mereka pada hari-hari di bulan April yang mendung pada tahun 1975. Mayor Ly dan keluarganya, sekarang tinggal di Florida, sementara pesawat Bird Dog tuanya, berada di museum di Pensacola. Pada tahun 2014, Bung-Ly dan keluarganya dihadiahi model replika pesawatnya di Sun ‘n Fun International Fly-In & Expo di Lakeland, Florida, untuk menghormati penerbangannya yang berani itu.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
The South Vietnam Pilot Who Performed a Daring Feat To Save His Family by Paul X. Rutz; June 2019
A South Vietnamese Air Force Officer Was Responsible for One of the Craziest Carrier Landings of All Time PUBLISHED BY Ian D’Costa
Please Rescue Me! By Robert Sproule
THIS VIETNAMESE PILOT STOLE A PLANE AND LANDED ON A US AIRCRAFT CARRIER WITH HIS FAMILY By Matt Fratus | June 28, 2021
https://coffeeordie.com/pilot-midway/
ADMIRAL LAWRENCE CHAMBERS: THE PATHFINDER BY KARL ZINGHEIM; APRIL 8, 2019
That time a South Vietnamese O-1 Bird Dog landed aboard USS Midway
CHAOS AND TRAGEDY IN A “POST-WAR” ZONE: LAST DAYS IN VIETNAM BY DAVID MATTINGLY
THE OPPORTUNITY TO MAKE HISTORY: VIETNAM WAR HERO’S FLIGHT TO FREEDOM REMEMBERED
