Howitzer D-30 kaliber 122-mm (indeks GRAU 2A18) adalah meriam howitzer Soviet yang pertama kali mulai beroperasi pada tahun 1960. Ini adalah meriam kuat yang berfokus pada fitur-fitur penting dari meriam lapangan yang ditarik yang cocok untuk segala kondisi. D-30 memiliki jangkauan maksimum 15,4 kilometer, atau lebih dari 21 km dengan menggunakan amunisi proyektil berbantuan roket. Dengan dudukan tiga kakinya yang mencolok, D-30 dapat dengan cepat diputar 360 derajat. Meski tidak lagi diproduksi di negara-negara bekas Uni Soviet, D-30 masih diproduksi secara internasional dan beroperasi di angkatan bersenjata lebih dari 60 negara. Rakitan laras meriam 2A18 juga digunakan oleh howitzer self-propelled 2S1. Ada juga varian dan konversi senjata self-propelled berbasis howitzer D-30 dari Mesir, China, Serbia dan Suriah. Konversi asal Suriah diketahui menggunakan lambung tank tua T-34.
SEJARAH PENGEMBANGAN
Kaliber 122 mm yang diadopsi oleh Rusia pada awal abad ke-20, menjadi sangat penting bagi unit artileri Soviet selama Perang Dunia Kedua. Pengembangan D-30 dimulai pada 1950-an, sebagai pengganti dari howitzer M-30, yang banyak digunakan dalam unit artileri tingkat divisi dan resimen. D-30 juga menggantikan sisa meriam M1942 kaliber 76 mm di resimen senapan bermotor. Persyaratan militer yang mengarah pada desain D-30 hanya dapat diperkirakan. Perannya dalam mendukung resimen tank dan senapan motor, serta doktrin Soviet dari Perang Patriotik Hebat (sebutan Soviet untuk Perang Dunia II), menunjukkan bahwa meskipun tembakan tidak langsung adalah peran utama dari howitzer, tembakan anti-tank langsung juga sangatlah penting. Yang terakhir ini dibuktikan dengan pemakaian peluru HEAT (peluru peledak tinggi anti tank) yang sangat efektif, siluet yang rendah dari meriam, kemampuan berputar cepat serta perisainya. D-30 aslinya dikembangkan untuk mendukung elemen senapan bermotor yang dilengkapi dengan kendaraan Pengangkut Personil Lapis Baja (APC) seri BTR. Menurut sumber lain D-30 dirancang untuk menyerang personel, senjata, dan peralatan militer musuh yang tidak terlindungi dan tertutup di tepi depan area pertempuran dan di area operasi resimen. Sebuah batalyon D-30 juga dikabarkan dapat ditambahkan ke beberapa resimen tank sebagai unit pendukung sementara. D-30 ini pada akhirnya akan digantikan oleh satu batalion howitzer self-propelled 2S1 kaliber 122 mm. D-30 dirancang oleh biro desain yang telah mapan di Pabrik Artileri No 9 di Sverdlovsk (sekarang Ekaterinburg), yang pada saat itu dipimpin oleh perancang senjata artileri terkemuka Fëdor Fëdorovich Petrov (1902–1978), sebelum diproduksi melalui Pabrik Motovilikha. Tim ini bertanggung jawab merancang meriam M-30 sebelumnya, meriam howitzer D-20 kaliber 152 mm pascaperang, dan meriam lainnya. Pembagian unit artileri militer Soviet dikelompokkan dalam satuan tingkat resimen manuver (dalam kelompok artileri resimen – RAG) dan sebagai satuan divisi (dalam kelompok artileri divisi – DAG). RAG biasanya terdiri dari tiga baterai, masing-masing terdiri dari enam buah meriam, untuk setiap resimen senapan bermotor dan tank. Sementara itu DAG sebagian besar dilengkapi dengan meriam kaliber 152 mm, tetapi DAG dari divisi senapan bermotor menyertakan batalion howitzer D-30. Peran RAG adalah peran artileri lapangan biasa untuk mendukung kekuatan manuver dengan tembakan tidak langsung, semi langsung, dan langsung. D-30 memasuki dinas operasional Soviet pada tahun 1963 dan oleh karenanya kadang-kadang disebut sebagai M1963.
Pada tahun 1967, pengenalan senjata self-propelled (berpenggerak mandiri) secara luas disahkan dan laras serta amunisi howitzer D-30 digunakan untuk meriam berpenggerak mandiri 2S1 yang baru. Ketika 2S1 mulai beroperasi, biasanya ia ditugaskan ke resimen tank dan resimen senapan bermotor yang dilengkapi dengan kendaraan tempur infanteri (IFV) BMP. Meski demikian, D-30 juga tetap dipertahankan di resimen senapan bermotor yang dilengkapi dengan APC BTR. Howitzer D-30 telah banyak diekspor dan digunakan dalam berbagai perang di seluruh dunia, terutama di kawasan Timur Tengah, dan khususnya dalam Perang Iran-Irak, sebuah perang atrisi berlarut-larut yang mirip dengan Perang Dunia I. Meriam howitzer ini tersebut tetap menjadi andalan pasukan artileri di negara-negara berkembang dan digunakan dalam perang di Afghanistan. Tentara dari beberapa negara Barat telah dilatih menggunakan D-30 oleh berbagai negara pengguna agar dapat melatih tentara Afghanistan menggunakan howitzer D-30. Pada tahun 2017, militer Aljazair menampilkan varian yang dikembangkan secara lokal yang dipasang pada truk Mercedes-Benz Zetros. Ini mencakup penambahan empat kaki yang distabilisasi untuk menyerap dampak hentakan penembakan meriam.
DESKRIPSI
Fitur khas pada howitzer D-30 termasuk sistem dudukan mobile yang berprofil rendah dan sistem recoil di atas laras. Dudukan mobile berkaki tiga yang tidak biasa untuk artileri lapangan ini dilengkapi dengan stabilisator yang dijepit untuk ditarik dan digunakan saat beraksi. Tautan derek besar dipasang pada moncong larasnya; dalam pengangkutan, laras berfungsi sebagai gandengan. Pengaturan serupa merupakan fitur dari beberapa meriam universal (baik dipakai meriam lapangan maupun antipesawat) kaliber 76 mm sebelum masa perang (1931–1935) yang dirancang oleh Pabrik Kirov di Leningrad (L-1, L-2 dan L-3). Model lainnya adalah meriam APX 47SA39 asal Prancis tahun 1939, dan howitzer lapangan ringan kaliber 105 mm Jerman tahun 1943 yang dirancang oleh pabrik Skoda dan Krupp; namun tidak ada yang memasuki dinas operasional. Meriam Bofors L28 Light Field Howitzer 4140 kaliber 105 mm juga dirancang serupa dengan empat kaki dan memasuki dinas operasional Swedia. Meriam anti-tank 2-pdr Inggris yang dirancang tahun 1930-an adalah senjata lain yang dilengkapi dudukan berkaki tiga. Dibandingkan dengan M-30, howitzer D-30 ini memiliki laras senjata kaliber 35 yang jauh lebih panjang, tidak seperti meriam howitzer umumnya menurut definisi Soviet. Seperti meriam lain pada masa itu, howitzer ini memiliki muzzle brake (peredam laras) dengan efisiensi tinggi; yang meningkatkan muzzle velocity sebesar 175 m/s menjadi total sekitar 650 m/s untuk peluru HE (High Explosive/peledak berkekuatan tinggi), dan meningkatkan jangkauan maksimum sebesar 3.500 m melebihi meriam M-30 yang serupa. Jangkauan maksimum D-30 2 km lebih baik daripada meriam M1942 kaliber 76 mm, yakni berjangkauan 15,3 km. Berat D-30 bertambah 650 kg dibandingkan M-30, menjadi 3.150 kg. Sementara itu D-30 memiliki berat dua kali lipat dari M1942 kaliber 76 mm. Di sisi lain akurasinya meningkat, dengan kesalahan rata-rata pada jarak sekitar 10 km turun dari 35 m dengan M-30 menjadi hanya 21 m. Panjang efektif perangkat stabilisasi adalah aspek mendasar dari dudukan senjata, dan jarak kaki dengan sudut 120° harus lebih panjang dibandingkan dengan sudut yang lebih kecil. Desain D-30 meminimalkan masalah ini dalam beberapa cara. Trunnion meriam dibuat berada dekat dengan tanah, akibat penempatan sistem recoil dan cradle di atas laras. Trunnionnya juga berada di bagian paling belakang senjata (breech); ini memaksimalkan ruang mundur saat menembak pada sudut ketinggian yang lebih tinggi. Posisinya yang ke belakang juga mendorong elemen recoiling ke depan pada dudukannya, memaksimalkan rentang stabilisator yang relatif ke belakang dan juga stabilitas selama efek recoil (tolak balik). Selain itu ada muzzle brake yang sangat efisien, yang menyerap sekitar setengah recoil. Sementara itu tidak ada mekanisme untuk mengurangi panjang recoil seiring bertambahnya sudut elevasi.
Beberapa keputusan desain diatas bagaimanapun mempunyai efek samping. muzzle brake D-30 menghasilkan tekanan berlebih sekitar dua kali lipat di area sekitar senjata dibandingkan yang dapat diterima pada desain senjata-senjata buatan Barat, dan merupakan alasan muzzle brake sering terlihat ditembakkan dengan tali pengikat yang panjang, yang mengurangi laju penembakan senjata. Selain itu, sudut elevasi maksimum dibatasi hingga 18° (versi awal) atau 22° (versi selanjutnya) ketika breech berada di atas kaki meriam. Hal ini diperkuat oleh bagian mekanis yang mencegah meriam menembak sekitar 60% dari total lintasan vertikal senjata, dan membatasi jangkauan hingga sekitar 12 km, dengan jangkauan maksimum penuh hanya mungkin dilakukan di lingkaran pusat sekitar 48° di antara setiap pasang kaki senjata. Lokasi trunnion yang sangat ke belakang berarti pengangkatan bobot senjata tidak seimbang, sehingga memerlukan mekanisme penyeimbang yang kuat untuk memungkinkan pengangkatan secara manual. Untuk melakukan ini, D-30 menggunakan roda penyeimbang terkompresi. Perangkat pengangkat di bagian tengah digerakkan oleh tenaga hidrolik yang dioperasikan dengan tangan. Perangkat ini ini diturunkan sementara roda dinaikkan sehingga dua kaki penstabil dapat diayunkan 120° ke belakang. Pemasangannya kemudian diturunkan dan ujung kaki dipaku ke tanah. Pemasangan ini memungkinkan pergerakan cepat untuk menembak ke segala arah. Sepasang ban besar digantung pada satu lengan belakang; kecepatan tarik senjata maksimum adalah 60 km/jam di jalan raya. Di jalan raya, howitzer D-30 dapat ditarik oleh truk militer atau kendaraan beroda empat. D-30 sering ditarik oleh truk 6×6 seperti Ural 375D atau ZIL-131. Truk-truk tersebut biasanya juga membawa awak dan beberapa dari 80 peluru yang biasanya tersedia per senjata. Pada posisi travelling ketiga kaki dan laras senjata diputar pada posisi yang sama dan D-30 ditarik dengan pengait yang dipasang pada moncong larasnya. Hal ini membuat kombinasi truk dan senjata menjadi agak kompak dan sangat stabil untuk ditarik dengan kecepatan hingga 80 km/jam. Seperti umumnya pada desain Soviet, ban diisi dengan busa. Awalnya, D-30 tidak memiliki rem dan tidak ada tempat duduk berlapisan—kemewahan yang dianggap tidak penting. Pengerahan howitzer D-30 juga dapat dilakukan dengan menggantungkannya pada sling luar menggunakan helikopter Mi-8.
Breech block geser pada D-30 diadopsi sebagai pengganti pola screw pattern sebelum tahun 1914 pada M-30, sehingga memberikan sedikit peningkatan dalam laju penembakan. Ini adalah block breechgeser vertikal semi-otomatis, dengan bukaan terikat. Pada mekanisme ini blok bergerak ke bawah untuk membuka dan membuka secara otomatis mengeluarkan selongsong peluru kosong saat recuperator memaksa tabung senjata kembali ke baterai setelah peluru ditembakkan. Desainnya terkait erat dengan desain breech pada meriam dan howitzer Soviet pasca-Perang Dunia II. Instrumen penembakan pada howitzer D-30 termasuk pembidik panorama Tipe PG-1M, pembidik teleskopik Tipe OP4M-45, dan kolimator Tipe K-1. D-30 juga dapat dilengkapi dengan perangkat Infra Merah/IR atau sistem penglihatan malam pasif untuk menembak langsung. Pembidik non-reciprocating yang D-30 adalah pola standar Soviet, yang dirancang untuk digunakan satu orang. Termasuk di dalamnya adalah teleskop tembakan anti-tank langsung, pembidik tembakan tidak langsung dengan periskopik panorama (dial sight) dalam dudukan bolak-balik, skala sudut pandang, dan drum pengukur jarak untuk setiap munisi yang diukir dengan skala jangkauan (jarak). Gelembung perata ketinggian dipasang pada dudukan dial sight. Drum pengukur jarak memungkinkan teknik tembakan tidak-langsung standar Soviet ketika senjata diarahkan secara visual pada target dan jarak yang diatur dengam drum pengukur jarak. Untuk tembakan langsung, digunakan teleskop OP-4M. Pembidik panorama PG-1 ditujukan untuk posisi target yang relatif tertutup. Pembidik dan tuas roda pengarah, serta tuas pemicu terletak di atas di sebelah kiri senjata.
Howitzer kaliber 122 mm Soviet menggunakan amunisi yang berbeda dengan meriam kaliber 122 mm, meskipun ada beberapa kompatibilitas. Dalam hal amunisi untuk D-30, peluru howitzer standar kaliber 122 mm dengan berat 21,8 kg dipertahankan, dengan selongsong kartrid logam yang menampung muatan pendorong variabel. Kartrid dan selongsong dimuat secara terpisah; ini berarti selongsongnya harus didorong dengan tangan oleh orang di sebelah kanan breech dengan batang pendorong. D-30 bisa menembakkan amunisi M-30 yang lebih tua; namun, peluru baru juga diperkenalkan, termasuk proyektil berbantuan roket (Rocket-Assisted Projectiles (RAP)) dengan jangkauan hingga 21,9 km. Kisaran muatan pendorong peluru M-30, yang terdiri dari basis dan delapan peningkatan, digantikan oleh satu set baru yang terdiri dari basis dan empat peningkatan; dengan propelan dasar tunggal dipertahankan. D-30 dapat menembakkan peluru standar FRAG-HE (FRAGmentation, High-Explosive/Fragmentasi, Peledak Tinggi) dan HEAT-FS (High-Explosive, Anti-Tank, Fin-Stabilized/Peledak tinggi, Anti Tank, dengan sirip penstabil). Peluru Peledak Tinggi (HE) yang lebih efektif kemudian dikembangkan, serta proyektil berisi asap, suar, dan bahan kimia. Sesuai dengan doktrin Soviet, peran anti-tank sangatlah penting; sehingga untuk howitzer D-30 ada peluru HEAT yang mampu menembus pelat baja baja setebal 460 mm. Jenis proyektil lainnya termasuk proyektil bahan kimia, suar (S-462 seberat 22,4 kg), asap (D-462 seberat 22,3 kg), leaflet, flechette, dan pembakar. Setidaknya ada dua proyektil bermuatan kimia untuk howitzer D-30, dengan muatan CW disebarkan oleh peledak TNT. Proyektil Sarin memiliki berat 22,2 kg dengan muatan 1,3 kg agen Sarin, sedangkan berat proyektil Lewisite kaliber 122 mm adalah 23,1 kg dengan muatan Lewisite kental seberat 3,3 kg.
Laju tembakan maksimum D-30 adalah 6–8 peluru per menit, dan sekitar 75 peluru per jam. Terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah laju tembakan maksimum ini dapat dicapai untuk tembakan tidak langsung. Berdasarkan kecepatan isi ulang senjata serupa yang menggunakan pendorong terpisah, peletakan ulang tunggal, dan diberi emplasemen yang stabil, breech semi-otomatis dan tanpa lanyard panjang, (contohnya adalah meriam 25-pdr. dan meriam kaliber 105 mm L118), dan dengan asumsi penyesuaian penempatan secara bersamaan selama isi ulang, kemungkinan besar itu terjadi ketika berada di tangan personel detasemen artileri yang kompeten. Namun, laju penembakan 5–6 peluru per menit mungkin lebih realistis jika digunakan oleh kru senjata kurang terlatih. Howitzer D-30 dilengkapi dengan perisai pelindung untuk memberikan perlindungan dari arah depan bagi 7 awaknya. Howitzer D-30 terkenal karena kemudahan perawatannya oleh penggunanya. Konon tidak ada alat khusus, semua pekerjaan bisa dilakukan dengan kunci inggris dan palu besar. Namun, seperti senjata lainnya, perawatan rutin sangatlah penting, dan pasukan Barat di Afghanistan telah melaporkan bahwa D-30 yang dioperasikan oleh tentara Afghanistan mengalami masalah dengan peluru yang menempel di larasnya karena kurangnya pembersihan. Howitzer D-30 dikenal sebagai hehtaaripyssy (secara harfiah berarti “Meriam Hektar”) di militer Finlandia, karena luas pecahan pelurunya kira-kira satu hektar.
VERSI PENGGERAK MANDIRI (SELF-PROPELLED)
- 2S1 Gvozdika dikembangkan berdasarkan kendaraan beroda MT-LB yang sering digunakan oleh pasukan Soviet sebagai kendaraan penarik. Menggabungkan howitzer D-30 dengan sasis MT-LB, dibuatlah 2S1 Gvozdika. Ini adalah senjata artileri self-propelled dengan turret tertutup pertama Soviet, yang mulai digunakan pada awal tahun 1970-an. 2S1 sangat ringan dan mobile, serta bisa dipakai amfibi dengan tanpa persiapan. Mobilitas yang baik dan kemampuan reaksi cepat 2S1 meningkatkan fleksibilitas dari howitzer D-30 yang dibawanya dan mengurangi kerentanannya dalam pertempuran manuver.
- Sora kaliber 122mm adalah versi self-propelled paling modern dari howitzer D-30J dengan pemuat peluru otomatis, sistem navigasi inersia (INS) dan sistem pengendalian tembakan, serta dipasang pada sasis FAP 2026 yang dimodifikasi yang dirancang oleh Institut Teknik Militer Beograd.
- SH-2 adalah versi beroda Cina dikembangkan oleh Norinco. Versi ini memiliki sistem pengendalian tembakan modern dan howitzer digerakkan vertikal oleh motor listrik.
- PLZ-07 adalah versi Cina dari howitzer D-30 kaliber 122 mm dengan penggerak beroda rantai. Ia memiliki sistem perlindungan NBC, sistem penglihatan berkendara malam/siang, sistem kontrol penembakan.
- Semser adalah versi yang dikembangkan oleh Soltam Israel di bawah kontrak dengan Kementerian Pertahanan Kazakhstan, dan diproduksi oleh perusahaan lokal Kazakh. Varian ini memiliki sistem komando dan kontrol otomatis terintegrasi, yang disediakan oleh Soltam dan Elbit. Varian ini kemudian ditempatkan pada sasis truk KamAZ-6350 8×8.
Ada lebih banyak versi self-propelled yang dikembangkan oleh negara-negara lain dengan memasang howitzer D-30 pada beberapa kendaraan beroda rantai atau beroda yang dimiliki angkatan bersenjata mereka. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki sistem pengendalian tembakan yang rumit dan dimuat serta ditinggikan secara manual. Kuba, Sudan, Laos, Suriah dan Mesir tercatat telah menghasilkan varian yang disederhanakan. Pasca tahun 1973, angkatan bersenjata Suriah dan Mesir menerjunkan howitzer D-30 yang dipasang pada lambung tank T-34 yang sudah usang, mirip dengan lambung tank Sherman yang dikonversi membawa meriam oleh Israel. Modifikasi yang agak kasar ini meningkatkan kecepatan senjata artileri tingkat divisi, dengan kemampuan untuk mengimbangi kecepatan dengan pasukan mekanis di garis depan. Kelemahan utama dari modifikasi ini adalah kurangnya perlindungan bagi para penembak.
VARIAN
2A18 atau D-30 – model dasar, seperti yang telah dijelaskan.
- 2A18M atau D-30M – memiliki muzzle brake berpenyekat ganda baru, pelat dasar tengah persegi, dudukan penarik lunette.
- 2A18M-1 atau D-30M-1 – dengan sistem pemuat semi-otomatis (Hanya prototipe).
- D-30A – memiliki sistem recoil yang dimodifikasi, muzzle brake baru.
- Versi self-propelled 2S1 Gvozdika.
Tipe 85 atau D-30-2, versi self-propelled China dari howitzer D-30.
- D-30-3 – merupakan versi peningkatan China terhadap meriam lapangan Tipe 56 kaliber 85 mm dengan memasang howitzer kaliber 122 mm.
- Tipe 86, Tipe 83, Tipe 96 – Versi produksi lisensi China atau turunan dari howitzer D-30.
D30 RH M-94 – Versi buatan Kroasia, memiliki muzzle brake baru, roda yang didesain ulang, dan rem hidrolik yang ditingkatkan.
D 30-M – D-30 versi lisensi Mesir.
- SPH 122 – Versi self-propelled, yang dipasang pada sasis M109/M992 Field Artillery Ammunition Support Vehicle (FAASV) yang dimodifikasi, dengan superstruktur tertutup sepenuhnya di bagian belakang yang di dalamnya dipasang dudukan lengkap dari howitzer tarik D-30 buatan Mesir. Sejauh ini Angkatan Darat Mesir telah menerima pengiriman total 124 tipe ini.
- T-122 – Versi self-propelled, yang dipasang pada sasis T-34 yang dimodifikasi.
HM 40 atau D-30I – Adalah versi Iran. Dipercayai sebagai versi salinan tanpa perubahan visual atau fungsional.
D-30J – D-30 versi Yugoslavia – versi yang banyak dimodifikasi berdasarkan lisensi yang dirancang oleh Institut Teknis Militer Beograd
- Saddam – Sebutan Irak untuk D-30J yang diproduksi Yugoslavia berdasarkan lisensi yang dibeli Irak dari Yugoslavia.
- D-30JA1 – Peningkatan versi Serbia – pengembangan lebih lanjut dari D-30J.
- Sora kaliber 122mm – D-30J versi self-propelled
- M-91 “Mona” – Varian Yugoslavia dengan meriam MT-12 kaliber 100 mm. Hanya prototipe.
- Khalifa-1 – D-30 versi berlisensi dari Sudan.
PROSEDUR PENEMPATAN
Lokasi yang dipilih untuk penempatan D-30 harus setinggi mungkin. Pertama, dudukan beroda dinaikkan menggunakan dongkrak hidrolik internal yang terletak di bawah dudukan meriam. Setelah meriam berada pada ketinggian yang diperlukan, roda diangkat melalui tuas pengangkat roda; hal ini memungkinkan dua kaki penstabil terpisah dipisahkan dari kaki penstabil mono dan dibawa ke belakang ke dalam konfigurasi penembakan. Kaki kemudian dikunci di tempatnya dengan pin pengunci. Dudukan kemudian diturunkan melalui dongkrak hidrolik sehingga kakinya menyentuh tanah; pasak integral kemudian dipalu ke tanah. Waktu yang dibutuhkan untuk membawa senjata ke posisi tempur diperkirakan cuma memakan waktu sekitar 100-150 detik. Pada titik ini, senjata siap untuk digunakan menembak langsung menggunakan penglihatan tembakan langsung OP4, atau dapat diarahkan dan posisinya ditetapkan melalui lingkaran bidik untuk tembakan tidak langsung berikutnya menggunakan penglihatan Pantel.
PENGOPERASIAN
Secara umum, penggunaan howitzer dapat dideskripsikan sebagai berikut. Setelah menerima perintah, kru, dengan menggunakan traktor, memindahkan senjata ke posisinya serta bersiap untuk menembak. Unit pengamatan menerima koordinat target, untuk kemudian membuat perhitungan yang diperlukan dan melepaskan tembakan. Jika perlu, penyesuaian dan pengambilan target baru dilakukan. Setelah mengenai sasaran dan/atau setelah berada di posisinya untuk waktu yang cukup lama, howitzer akan bergerak menjauh untuk menghindari serangan balasan. Posisi menembak jangka panjang yang disamarkan juga digunakan. Untuk menghindari deteksi musuh, senjata disamarkan dalam kamuflase berbentuk jaring, dahan, dan lain sebagainya. Howitzer juga dapat ditempatkan di tepi hutan di bawah naungan dahan-dahan pepohonan. Dalam sebagian besar kasus, jika dikamuflase dengan baik peluang musuh untuk mendeteksi posisi howitzer dari udara berkurang tajam, sementara keselamatan senjata serta awaknya meningkat. Howitzer D-30 dapat menembak berbagai sasaran. Mereka dipakai untuk menghancurkan personel dan peralatan di ruang terbuka dan di tempat tertutup.
Dengan howitzer, perbentengan dan bangunan lainnya juga dapat dihancurkan. Howitzer D-30 juga digunakan dalam peperangan kontra-baterai artileri. Sesuai dengan tren karakteristik peperangan di masa kini, D-30 dapat menghancurkan personel pengendali UAV, yang akan meninggalkan musuh tanpa kemampuan pengintaian dan serangan. Tergantung pada tugas yang diberikan, howitzer dapat mencapai target tertentu, termasuk target yang diidentifikasi melalui pengintaian, melindungi seluruh area dengan tembakan atau mendukung gerak maju pasukan. Dengan organisasi penggunaan tempur yang tepat, hasil yang diinginkan dapat dicapai dalam semua kasus. Berbagai sarana pengintaian bekerja untuk mendukung howitzer D-30 dan senjata lainnya. Pendeteksian sasaran dan penentuan koordinatnya dilakukan oleh personel pengintai di garis depan dengan menggunakan peralatan optik dan radio. Berbagai kendaraan udara tak berawak juga aktif dipakai. Pengintai dan UAV juga bertanggung jawab untuk mengatur akurasi tembakan. Transfer informasi secepat mungkin dari unit pengintaian ke kru senjata dapat mempersingkat kecepatan reaksi dan meningkatkan kemungkinan keberhasilan mengenai target.
OPERATOR
Aktif
Afghanistan: 85, IISS mempertanyakan kelayakan operasionalnya pada tahun 2020
Taliban Afghanistan: 200 sedang diperbaiki, menurut media pemerintah Afghanistan
Aljazair: 160
Angola: 500
Armenia: 69
Azerbaijan: 129
Bangladesh: 54 varian PL-96
Belarusia: 48
Bosnia-Herzegovina: 100
Burundi: 18
Kamboja
China: 500 varian Tipe 96
Republik Kongo: 10
Republik Demokratik Kongo
Kroasia: 54
Kuba: 100 dipasang pada sasis T-34, 55 dipasang pada sasis T-55 dan 25 dipasang pada truk KrAZ-255 6×6.
Mesir: 190 D-30M
Djibuoti: 9
Eritrea
Estonia: 42 tipe H63, dikirimkan pada tahun 2009.
Etiopia: 309 dikirimkan pada tahun 1998–2000.
Pasukan Pertahanan Tigray
Finlandia: 471 tipe H63
Ghana: 6
Georgia: 58
Guinea-Bissau: 18
India: 520
Iran: 540
Irak
Wilayah Kurdistan: 200, menjadi andalan Artileri pasukan Peshmerga
Kazakstan: 100
Kirgistan: 72
Laos
Libanon: 42
Libia
Madagaskar: 12
Mauritania: 20
Mongolia
Montenegro: 12
Mozambik: 12
Myanmar: 560
Nikaragua: 12
Nigeria
Niger: 20
Korea Utara
Oman: 30
Pakistan: 189. Pakistan menerima pengiriman 80 unit varian buatan China pada tahun 2003 diikuti tambahan 63 unit pada tahun 2004.
Peru
Rusia: 4.570
Rwanda: 6
Republik Demokratik Arab Sahrawi: 12
Serbia: 78
Slovakia: masih digunakan tetapi hanya untuk parade
Sudan Selatan: 5 diterima dari Ukraina pada tahun 2013.
Tentara Pembebasan Rakyat Sudan: merampas dari pihak lain selama Perang Saudara Sudan Kedua
Sudan: 21
Suriah
Tajikistan: 10
Tanzania: 20
Turkmenistan: 350
Ukraina: 129
Uzbekistan: 60
Vietnam
Zambia: 25
Zimbabwe: 4
Somalia: 31
Bekas Pengguna
Artsakh − Direbut oleh Azerbaijan setelah serangan Azerbaijan tahun 2023 di Nagorno-Karabakh
Boko Haram
Cekoslovakia
Jerman Timur: Diteruskan ke Jerman yang bersatu kembali.
ISIS
Israel: 5 pada 2016
Moldova – 18 dari Rumania, dikirim pada tahun 1992.
Polandia – Tidak lagi beroperasi.
Somalia: 12
Uni Soviet – Diwariskan ke negara-negara penerus.
Yaman: 130 pada tahun 2015
Yugoslavia – Diwariskan ke negara-negara penerus.
RAHASIA USIA PANJANG D-30
Pada saat pertama kali diperkenalkan, howitzer D-30 lebih unggul dari senjata kaliber 122 mm yang telah ada dalam segala hal. Keunggulannya dalam karakteristik teknis, tempur dan operasional diperoleh melalui sejumlah faktor dan teknologi yang orisinal. Selain itu, howitzer ini mampu beradaptasi untuk menghadapi tantangan di masa depan, yang terbukti dengan fakta bahwa D-30 yang masih relevan dan mempertahankan tempatnya di banyak angkatan bersenjata di dunia hingga kini. Keunggulan signifikan D-30 dibandingkan M-30 yang sudah ada sebelumnya diperoleh melalui penggunaan material dan teknologi baru. Selain itu, desain asli dudukan juga turut berkontribusi. Jadi, dalam posisi tersimpan, D-30 lebih pendek sekitar 200 mm dari M-30 – meski menggunakan laras yang lebih panjang. D-30 lebih berat 150-200 kg dari howitzer tipe sebelumnya, tetapi hal ini diimbangi kekuatannya. Howitzer D-30 dapat ditarik dengan berbagai traktor. Faktanya, fungsi ini dapat dilakukan oleh kendaraan mana pun dengan kapasitas muatan dan kait yang memadai. Pasukan Lintas Udara juga dapat diterjunkan dengan payung membawa howitzer 2A18(M) menggunakan platform parasut yang ada, yang dibantu oleh berat dan ukuran senjata yang kompak.
Dudukan senjata dengan desain asli kaki tiga dirancang untuk membantu pergerakan melingkar horizontal – tidak ada howitzer buatan Soviet sebelumnya yang memiliki kemampuan seperti itu. Berkat dudukan ini, pengaturan tembakan pada sudut besar tidak memerlukan pergerakan senjata keseluruhan. Pada saat yang sama, dimungkinkan untuk mempertahankan kemungkinan penembakan pada lintasan horizontal. Berbagai macam amunisi yang kompatibel untuk berbagai keperluan telah diciptakan untuk howitzer 2A18(M). Dengan bantuan mereka, senjata ini dapat mengenai berbagai sasaran atau menyelesaikan tugas lain pada jarak lebih dari 15 km dan hingga 22 km. Amunisi yang sama juga digunakan oleh senjata self-propelled 2S1. Hal ini menyederhanakan penyediaan logistik unit artileri dan memampukan penggunaan bersama amunisi yang sama untuk berbagai jenis senjata. Dalam beberapa tahun terakhir, efektivitas tempur howitzer ditingkatkan lebih lanjut. Unit dengan senjata tersebut menerima sistem pengendalian tembakan, komunikasi dan transmisi data modern. Perangkat baru mempercepat proses akuisisi target untuk menembak dan menyerang sasaran. Terlepas dari desain dudukan yang spesifik, howitzer D-30(A) tidak sulit untuk dioperasikan. Penggelarannya hanya membutuhkan waktu yang minimal, sementara perawatannya relatif sederhana. Howitzer D-30 juga dikenal dengan keandalannya yang tinggi. Pengalaman penggunaannya dalam berbagai konflik selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa senjata ini dapat bekerja secara efektif dalam berbagai kondisi dan berhasil melakukan misi tembakan di medan tempur. Dengan penggunaan yang tepat, kerusakan praktis bisa dieliminasi, dan kemungkinan terjadinya masalah dapat diperbaiki secara rutin.
CATATAN
Howitzer tarik D-30 kaliber 122 mm Soviet diadopsi oleh Angkatan Darat Soviet pertama kali pada tanggal 12 Mei 1960. Howitzer ini kemudian dimodifikasi pada tahun 1978 dan saat ini digunakan di banyak negara dengan nama D-30A. Tercatat ada sekitar 3.600 senjata ini yang digunakan di 35 negara, tidak termasuk negara-negara bekas Uni Soviet. Finlandia belakangan dikabarkan memutuskan untuk mengizinkan Estonia mengekspor kembali howitzer D-30 dan amunisinya ke Ukraina. Hal ini tertuang dalam pesan yang dikeluarkan oleh pemerintah Finlandia. Berdasarkan izin ekspor ulang, Estonia dapat mengekspor howitzer D-30 kaliber 122 mm beserta amunisinya ke Ukraina. Tercatat bahwa Estonia memiliki 42 howitzer, yang sebelumnya dibeli di Finlandia, dan berencana untuk mentransfer sebagian dari mereka ke Angkatan Bersenjata Ukraina. Pemerintah Finlandia juga melaporkan bahwa Estonia mengharuskan jumlah senjata yang diekspor dirahasiakan. D-30 tercatat digunakan oleh bekas tentara Jerman Timur dan setelah reunifikasi Jerman pada tahun 1990an, beberapa howitzer D-30 diekspor ke Finlandia, yang kemudian diserahkan ke Estonia pada tahun 2009. Total ada 49 howitzer D-30 dibeli dari Finlandia pada tahun 2009 untuk menggantikan howitzer kaliber 105mm yang digunakan sebelumnya. Di antara sekutu Kyiv, Jerman berada di bawah tekanan untuk memasok lebih banyak senjata, namun mereka masih ragu-ragu. Kritik terhadap Berlin sedang meningkat dan serangan terhadap kebijakan pemerintah Jerman adalah hal yang biasa terjadi. Keretakan antara Eropa Timur dan Jerman terancam terbuka lebar pada musim dingin tahun 2022, ketika Estonia ingin mengirimkan howitzer D-30 Jerman Timur yang digudangkan ke Ukraina dan Berlin sempat keberatan, dan hanya menyetujui langkah tersebut setelah invasi Rusia terjadi.
Howitzer ini masih digunakan di Estonia, sebagai cadangan untuk kebutuhan Brigade Infanteri ke-2, yang menjadi milik Angkatan Darat jika perang terjadi, tetapi tidak aktif selama masa damai. Organisasi brigade tersebut mencakup batalion artileri, atau baterai, yang kekuatannya tidak diketahui. Pada tahun 2009, 42 howitzer dan amunisi dibeli oleh Estonia dari Finlandia, jumlah meriam dalam baterainya hampir tidak terlalu besar dan perkiraannya adalah sepertiga atau setengah dari jumlah tersebut kini dikirim ke Ukraina. Sebagian dari bantuan alutsista Finlandia yang dikirim ke Ukraina dimungkinkan oleh intensifikasi kerja sama bilateral antara Finlandia dan Swedia. Menurut deklarasi yang akan ditandatangani, Finlandia akan mentransfer material ke Ukraina, dan Swedia menyatakan kesiapannya untuk mendukung Finlandia sesuai kebutuhannya. Angkatan Pertahanan Finlandia dan Swedia sedang meninjau dan, jika perlu, memperbarui rencana operasional mereka sehubungan dengan hal ini. Kementerian Pertahanan Finlandia telah mengembangkan rencana yang jelas tentang bagaimana menyediakan bahan pertahanan yang diperlukan Ukraina sedemikian rupa sehingga dukungan material tersebut tidak mengancam pelaksanaan pertahanan nasional Finlandia atau Swedia. “Dukungan bersama untuk Ukraina adalah bukti rasa saling percaya yang mendalam antara Finlandia dan Swedia dan semakin eratnya kerja sama pertahanan,” tegas badan tersebut.
SPESIFIKASI
Bobot tempur: 3,210 kg (7,080 lb)
Panjang saat diangkut: 5.4 m (17 ft 9 in)
Panjang laras: 4.66 m (15 ft 3 in) kaliber 38
Lebar saat diangkut: 1.9 m (6 ft 3 in)
Tinggi saat diangkut: 1.6 m (5 ft 3 in)
Kru: 1+7
Peluru: 122x447mm .R pendorong dan proyektil dipisahkan
Kaliber Peluru: 122 mm (4.8 in)
Breech: Semi-automatic vertical sliding-wedge
Recoil: Hidro-pneumatik
Muzzle brake: Multi-slotted
Muzzle velocity: 690 m/detik dengan peluru fragmentasi peledak tinggi (HE-Frag) dan 740 m/detik dengan BK-6M HEAT
Penarik: tripod
Elevasi:−7° to 70°
Kemampuan melintas: 360°
Kecepatan tembak: Maksimum: 10–12 peluru per menit, rata-rata: 5–6 peluru per menit
Jarak tembak efektif: 15.4 km (9.6 mi) atau
21.9 km (13.6 mi) (dengan proyektil yang dibantu pendorong roket)
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/122_mm_howitzer_2A18_(D-30)
D-30 122-mm howitzer
https://www.globalsecurity.org/military/world/ukraine/ua-d-30.htm
Successful design and solid age: the potential of the D-30 howitzer by Ryabov Kirill; 13 September 2022
https://en.topwar.ru/201689-udachnaja-konstrukcija-i-solidnyj-vozrast-potencial-gaubicy-d-30.html
A modern approach to an old weapon. Howitzer D-30 in Special Operations
by Ryabov Kirill; 7 June 2024
https://en.topwar.ru/243823-sovremennyj-podhod-k-staromu-orudiju-gaubica-d-30-v-specoperacii.html
D-30 2A18
D-30 / 2A18 (Model 1963) 122mm Towed Field Howitzer
https://www.militaryfactory.com/armor/detail.php?armor_id=89
122mm D-30
https://weaponsystems.net/system/897-122mm%20D-30
D-30A / 2A18M
http://www.army-guide.com/eng/product3380.html
D-30 2A18M 122-mm Towed Howitzer
https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/d-30.htm
D-30 2A18M 122-mm Towed Howitzer
https://man.fas.org/dod-101/sys/land/row/d-30.htm
Soviet howitzer D-30 caliber 122 mm; July 5 2012
https://en.topwar.ru/16076-sovetskaya-gaubica-d-30-kalibra-122-mm.html
