Januari 1789, Nguyen Hue Mengusir Tentara China dan Serangan Tet Pertama dalam Sejarah Vietnam

Pada bulan Januari 1789 orang-orang Vietnam sukses mengalahkan tentara China dan mengusirnya dari Vietnam. Apa yang bisa disebut Serangan Tet pertama ini kemudian dianggap sebagai pencapaian militer terbesar dalam sejarah Vietnam modern. Sama seperti serangan Jepang tahun 1904 di Port Arthur yang membayangi serangan mereka pada tahun 1941 di Pearl Harbor, serangan pada tahun 1789 ini seharusnya menjadi pelajaran bagi Amerika Serikat bahwa hari raya Tet tidak selalu dijalani secara damai di Vietnam. Anehnya, kemenangan pada tahun 1789 sebagian besar tidak disebutkan dalam sejarah Barat mengenai Vietnam. Misalnya, Joseph Buttinger dalam bukunya The Smaller Dragon: A Political History of Vietnam hanya menuliskan kurang dari satu kalimat untuk aksi ofensif ini, dan Stanley Karnow di bukunya yang terkenal Vietnam, A History malah tidak menyebutkannya sama sekali mengenai peristiwa ini. Karnow bahkan hanya menyinggung mengenai Dinasti Tay Son yang memimpin kemenangan itu dalam satu paragraf singkat saja. Berikut ini adalah kisah mengenai kemenangan fenomenal bangsa Vietnam ini, dimana beberapa taktik yang sama kemudian diulang kembali dalam salah satu aksi militer terpenting yang menentukan dalam perang Vietnam 179 tahun kemudian.

Pertempuran di tengah kota Saigon selama Serangan Tet tahun 1968. 179 tahun sebelumnya taktik serangan umum di hari raya tet sudah dilakukan terhadap tentara China yang menduduki wilayah Kerajaan Vietnam. (Sumber: https://www.pinterest.cl/)

LATAR BELAKANG

Pada pertengahan abad ke-18 Vietnam untuk kali yang kedua, terbagi menjadi dua wilayah kekuasaan yang berbeda. Wilayah kekuasaan itu kira-kira terbagi di sepanjang apa yang kemudian dikenal sebagai garis DMZ paralel 16 derajat selama Perang Vietnam di abad ke-20. Wilayah itu terbagi dengan para penguasa Trinh yang memerintah di utara dan keluarga Nguyen yang memegang kekuasaan di selatan. Kedua keluarga ini saling membenci dan memerintah atas nama raja Le yang tidak berdaya di Thang Long (sekarang Hanoi). Perpecahan ini awalnya terjadi sekitar tahun 1620, ketika keluarga bangsawan Nguyen dari kota Hue, yang telah memerintah provinsi-provinsi di wilayah selatan yang sedang berkembang di negara itu sejak tahun 1558, menolak kekuasaan Kaisar Thang Long. Sebelumnya, saat negara itu bersatu kembali setelah pembagian yang pertama, para raja Le di Thang Long hanya menjadi penguasa berdasar nama saja; sedang semua kekuasaan yang nyata ada di tangan keluarga Trinh, yang telah menjadikan diri mereka pangeran turun-temurun yang bertanggung jawab atas pemerintahan sesungguhnya. Selama 50 tahun para penguasa Trinh mencoba dengan sia-sia untuk mendapatkan kembali kendali atas bagian selatan kerajaan dengan cara militer. Kegagalan kampanye terakhir mereka pada tahun 1673 diikuti oleh gencatan senjata selama 100 tahun, di mana keluarga Nguyen dan Trinh hanya berbasa-basi saja mengenai persatuan Vietnam di bawah Dinasti Le tetapi tetap mempertahankan pemerintahan yang terpisah di dua bagian negara itu. Sementara itu, korupsi yang meluas di seluruh Vietnam telah menyebabkan meningkatnya tuntutan upeti kepada penduduk dan juga munculnya pemberontakan para petani. Diantara semuanya ini yang paling penting adalah Pemberontakan Tay Son melawan penguasa Nguyen di wilayah selatan. Pemberontakan itu dipimpin oleh tiga bersaudara, yang bernama (secara kebetulan) Nguyen Nhac, Nguyen Lu dan Nguyen Hue, dari desa Tay Son di provinsi Binh Dinh sekarang. 3 bersaudara ini sebenarnya berasal dari klan Ho, namun kemudian mengadopsi nama Nguyen. Tay Son bersaudara, sebutan bagi ketiga saudara itu dan pengikut mereka, menganjurkan untuk merebut properti dari orang-orang kaya dan membagikannya kepada orang-orang miskin. Mereka juga menarik dukungan dari para pedagang China yang kuat yang menentang praktik perdagangan yang membatasi mereka. Pemberontakan kemudian dimulai dengan petani dan pedagang menentang para penguasa dan pemilik tanah besar. Kakak laki-laki tertua dari Tay Son bersaudara, Nguyen Nhac, memulai serangan terhadap keluarga Nguyen yang berkuasa dengan merebut provinsi Quang Nam dan Binh Dinh pada tahun 1772.

Kerajaan Vietnam yang terbagi jelang Pemberontakan Tay Son di abad ke-18. (Sumber: https://www.cambridge.org/)
Patung 3 bersaudara Nguyen dari desa Tay Son di provinsi Binh Dinh. 3 bersaudara ini kemudian memimpin pemberontakan yang sukses menyatukan kedua Vietnam. (Sumber: https://zingnews.vn/)

Tay Son lalu membangun pasukannya di Dataran Tinggi An Khe di provinsi Binh Dinh barat. Daerah itu secara strategis penting, dan di sana mereka bisa mendapat dukungan dari komunitas minoritas yang tidak puas. Ketiga bersaudara itu juga terbantu oleh fakta bahwa yang termuda dari mereka, Nguyen Hue, ternyata adalah seorang jenius militer. Pada pertengahan tahun 1773, setelah dua tahun persiapan yang hati-hati, pasukan Tay Son yang terdiri dari sekitar 10.000 orang menyerang penguasa Nguyen. Segera Tay Son berhasil merebut benteng di Qui Nhon; dimana mereka selanjutnya merebut seluruh provinsi Quang Ngai dan Quang Nam, dan pada akhir tahun mereka tampaknya siap untuk menggulingkan sama sekali keluarga Nguyen yang berkuasa. Namun, pada titik ini, pada tahun 1775, pasukan Trinh bergerak ke selatan atas nama Dinasti Le dan merebut Phu Xuan (kini Hue). Trinh berhasil mengalahkan Tay Son dalam pertempuran dan mengumumkan bahwa mereka akan tinggal di selatan untuk menghentikan pemberontakan. Tay Son akhirnya berhasil bertahan hanya dengan mencapai kompromi dengan Trinh, sampai yang terakhir lelah dengan kampanye militer mereka di selatan dan mundur ke utara. Kini Tay Son sekali lagi bebas untuk berkonsentrasi melawan Nguyen, meskipun para pemberontak membutuhkan waktu 10 tahun lagi untuk bisa mengalahkan mereka. Pada tahun 1776 mereka menyerang benteng Nguyen di provinsi Gia Dinh dan merebut Sai Con (kemudian Saigon dan sekarang Kota Ho Chi Minh). Hanya ada satu pangeran dari keluarga Nguyen, yakni Nguyen Anh, yang lolos; dia dan beberapa pendukungnya melarikan diri ke rawa-rawa di Delta Mekong bagian barat. Setelah mengalahkan keluarga Nguyen, pada tahun 1778 Nguyen Nhac memproklamasikan dirinya sebagai raja, dengan ibukotanya di Do Ban di provinsi Binh Dinh. 

MENGALAHKAN INVASI SIAM & UPAYA PENYATUAN VIETNAM

Kemudian setelah terbuang, Nguyen Anh melancarkan serangan balik, merebut kembali provinsi Gia Dinh dan Binh Thuan. Pada tahun 1783, pasukan Tay Son yang dipimpin oleh Nguyen Hue kembali mengalahkan Nguyen Anh dan memaksanya berlindung di Pulau Phu Quoc. Tak lama kemudian, dia bertemu dengan uskup misionaris asal Prancis, Pigneau de Behaine dan memintanya menjadi utusan guna mendapatkan dukungan dari Prancis untuk bisa membantu mengalahkan Tay Son. Pigneau de Behaine membawa putra Nguyen Anh yang berusia lima tahun, Pangeran Canh, dan berangkat ke Pondichery di wilayah India-Prancis untuk memohon dukungan bagi pemulihan kekuasaan Nguyen. Karena tidak menemukannya, dia pergi ke Paris pada tahun 1786 untuk melobi atas nama Nguyen Anh. Menanggapi permintaan ini, Raja Louis XVI seolah-olah setuju untuk menyediakan empat kapal, 1.650 orang, dan perbekalan sebagai imbalan atas janji Nguyen Anh untuk menyerahkan pelabuhan Tourane (Da Nang) dan pulau Poulo Condore kepada Prancis. Namun, otoritas Prancis setempat di India, di bawah perintah rahasia dari raja, menolak untuk memasok kapal dan orang yang dijanjikan. Bertekad untuk mewujudkan intervensi militer Prancis di Vietnam, Pigneau de Behaine sendiri mengumpulkan dana untuk dua kapal dan pasokan dari komunitas pedagang Prancis di India, menyewa desertir dari angkatan laut Prancis untuk mengawaki mereka, dan akhirnya berlayar kembali ke Vietnam pada 1789.

Pangeran Canh yang dibawa uskup Pigneau de Behaine untuk menemui Raja Louis XVI pada tahun 1786 untuk memulihkan kekuasaan keluarga Nguyen yang didesak oleh pemberontakan Tay Son. (Sumber: https://twitter.com/)

Untuk sementara waktu, dalam menanti bantuan Prancis yang tidak kunjung datang, Nguyen Anh yang putus asa berpaling dengan meminta bantuan orang-orang Siam. Pada tahun 1784, orang-orang Siam (sekarang Thailand) mengirim antara 20.000 hingga 50.000 orang dan 300 kapal ke Delta Mekong bagian barat. Kebijakan pasukan pendudukan Siam yang keras, bagaimanapun, malah menyebabkan banyak orang Vietnam bergabung dengan Tay Son. Pada tanggal 19 Januari 1785, Nguyen Hue memancing orang-orang Siam dan menyergapnya di Sungai My Tho di daerah Rach Gam-Xoai Mut di provinsi Tien Giang yang sekarang ada di Delta Mekong dan mengalahkan mereka. Menurut sumber Vietnam, hanya 2.000 orang Siam yang berhasil lolos. Anggota keluarga Nguyen yang tersisa kemudian melarikan diri ke Siam. Pertempuran Rach Gam-Xoai Mut di dekat Kota My Tho, provinsi Dinh Tuong, adalah salah satu peristiwa yang terpenting dalam sejarah Vietnam karena telah berhasil menghentikan ekspansi orang-orang Siam ke Vietnam selatan dan aksi ini sangat menguntungkan Nguyen Hue, yang kemudian dianggap sebagai pahlawan nasional. Sementara itu, Keluarga Trinh di utara tidak dapat memanfaatkan situasi ini karena masalah di wilayah mereka sendiri. Panenan buruk yang dimulai pada tahun 1776 telah menyebabkan kekacauan, dan terjadi pemberontakan di beberapa daerah untuk memisahkan diri. Trinh Sam, si kepala keluarga, meninggal pada tahun 1786, dan kedua putranya, Trinh Khai dan Trinh Can, malah saling bertarung memperebutkan takhta. Akhirnya Trinh Khai bisa mengambil kendali di wilayah utara, tetapi karena masih muda dan fisiknya lemah, kedua faktor ini menghasilkan pemerintahan lemah, yang bergantung dengan keinginan para pemimpin militer yang telah membantu mengangkatnya berkuasa.

Lukisan Nguyễn Ánh (atau Ong Chiang Sue dalam bahasa Thailand) di hadapan Raja Rama I di Amarin Throne Hall di Bangkok 1782. Saat terdesak oleh pasukan Tay Son, Nguyen Anh meminta bantuan dari Kerajaan Siam. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Tentara Pemberontak Tay Son. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Nguyen Hue sekarang berusaha memanfaatkan situasi tersebut untuk mencoba menyatukan kembali Vietnam. Dia membawa pasukannya ke utara dengan alasan ingin menyelamatkan bekas raja dari keluarga Le melepaskan diri dari kendali Trinh dan sekaligus bisa memenangkan dukungan massa yang cukup besar dengan menjanjikan makanan bagi para petani. Dalam kampanye militernya di bulan Mei-Juni 1786 yang brilian, Nguyen Hue sukses pertama kali merebut provinsi Phu Xuan, kemudian Quang Tri dan Quang Binh. Pada bulan Juli, pasukan Tay Son telah mencapai wilayah Delta Sungai Merah dan mengalahkan orang-orang Trinh. Raja Le Hien Tong kemudian berhasil mencapai kompromi dengan Nguyen Hue dengan menyerahkan beberapa wilayah dan memberikan putrinya Ngoc Han untuk dinikahi. Le Hien Tong meninggal pada tahun 1787, dan cucunya, Le Chieu Thong, menggantikannya. Sementara Nguyen Hue memulihkan dinasti Le di utara, saudara-saudaranya menguasai seluruh negeri. Nguyen Hue kini mendominasi wilayah utara Pass of Clouds (antara Hue dan Da Nang saat ini) dari Thanh Hoa; saudaranya Nguyen Nhac memegang wilayah tengah, dengan ibukotanya di Qui Nhon; dan Nguyen Lu menguasai wilayah selatan, dari Gia Dinh dekat Saigon. Kini Nguyen Anh kembali aktif di selatan, di provinsi Gia Dinh, dan Nguyen Hue kembali ke sana untuk membantu saudara-saudaranya menundukkan perlawanan ini. Nguyen Hue mengirim gajah-gajah kerajaan ke selatan bersama dengan harta kekayaan dari Raja Le dan kemudian berlayar ke Phu Xuan. Dia meninggalkan bawahannya, Nguyen Huu Chinh, yang telah meninggalkan raja dan bergabung dengan Tay Son, untuk mempertahankan Thang Long. 

MASUKNYA INTERVENSI CHINA

Nguyen Huu Chinh, bagaimanapun, memanfaatkan ketidakhadiran Nguyen Hue untuk mengutamakan kepentingannya sendiri. Dia dan Raja Le Chieu Thong berusaha untuk mendapatkan kekuasaan untuk diri mereka sendiri, memperkuat wilayah utara melawan Nguyen Hue. Komandan Tay Son ini, kemudian di Phu Xuan, mengirim salah satu jenderalnya, Vu Van Nham, ke utara dengan pasukannya untuk menyerang Thang Long. Dalam pertempuran berikutnya, Nguyen Huu Chinh terbunuh dan raja Le melarikan diri ke utara. Setelah mengamankan wilayah ibu kota, Jenderal Vu Van Nham kemudian mengambil alih kekuasaan bagi dirinya sendiri, dan memerintah sebagai raja. Nguyen Hue sempat berpikir bahwa Vu Van Nham mungkin melakukan hal ini, jadi dia mengirim dua jenderal lainnya, Ngo Van So dan Phan Van Lan, untuk mengejarnya. Mereka berhasil mengalahkan Vu Van Nham dan mengeksekusinya. Nguyen Hue kemudian mengundang raja Le untuk kembali, tetapi dia menolak. Di tengah perkembangan ini, Nguyen Hue kembali terpaksa mengalihkan perhatiannya ke selatan untuk menangani Nguyen Anh. Namun, sebelum meninggalkan wilayah utara, Nguyen Hue memerintahkan agar istana Le dihancurkan. Setelah mengirim perbendaharaan kerajaan ke selatan dengan kapal, dia meninggalkan garnisun yang terdiri dari 3.000 orang di Thang Long. Raja Le Chieu Thong, sementara itu, berada di Bac Giang di ujung utara Vietnam, tetapi ia mengirim ibu dan putranya ke China untuk meminta bantuan dari kaisar Dinasti Qing dalam upaya untuk merebut kembali tahtanya. Sun Shi-yi, raja muda di Kanton dan gubernur provinsi Kwang-tung (Guang dong) dan Kwang-si (Guang xi), kemudian mendukung intervensi militer di Vietnam. Dia percaya akan mudah bagi China untuk membangun protektorat atas wilayah yang telah dilemahkan oleh perang saudara yang berlarut-larut. Kaisar China, Quian-long (Kien Lung, 1736-1796) setuju, tetapi pernyataan publiknya menekankan bahwa Le selalu mengakui hegemoni China dengan akan rutin mengirimkan upeti. Dia mengatakan bahwa China melakukan intervensi hanya untuk mengembalikan Le ke kekuasaannya. 

Lukisan yang menggambarkan Pejabat China dari Dinasti Qing menerima kaisar Vietnam yang digulingkan Lê Chiêu Thống. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada bulan November 1788, pasukan ekspedisi Tiongkok yang dipimpin oleh Sun Shi-yi dan dibantu oleh Jenderal Xu Shi-heng melintasi perbatasan di Cao Bang, Tuyen Quang dan Lang Son. Barisan demi barisan tentara ini kemudian berkumpul di Thang Long. Pasukan China, yang diperkirakan berjumlah hingga 200.000 orang, maju dengan mulus ke Vietnam, dan pasukan China tidak menimbulkan permusuhan diantara rakyat Vietnam dalam perjalanan ke ibukota. Faktanya, dekrit dari pihak Cina dan Le yang menyatakan bahwa intervensi militer ini hanya untuk menghentikan perampasan kekuasaan Tay Son berhasil menarik beberapa dukungan dari orang-orang Vietnam. Pada saat yang sama, orang-orang Cina menunjukkan bahwa mereka berada di Vietnam untuk tetap tinggal disana; hal ini ditunjukkan di sepanjang rute ke Thang Long, dimana mereka mendirikan sekitar 70 gudang-gudang militer. Mendengar berita invasi tentara China, banyak pasukan Tay Son yang berjaga di pos terdepan utara melarikan diri. Tentara China dengan mudah memenangkan serangkaian pertempuran kecil di awal dan pertengahan bulan Desember. Dihadapkan dengan kekuatan yang luar biasa, Ngo Thi Nham, seorang penasihat Tay Son, mengusulkan pasukan Tay Son untuk mundur. Dia menunjukkan jumlah pasukan China yang sangat banyak dan pasukan Tay Son tidak ada harapan. Dia mengatakan bahwa orang-orang utara sedang melakukan desersi, dan bahwa ‘menyerang dengan pasukan seperti ini akan seperti berburu harimau dengan sekelompok kambing.’ Dia juga menambahkan bahwa menpertahankan ibu kota akan sulit karena orang-orang di sana tidak berkomitmen: ‘ bahayanya akan datang dari dalam … dan tidak ada jenderal … yang bisa menang dalam kondisi seperti itu. Ini seperti meletakkan lamprey dalam sekeranjang kepiting. ‘Ngo Van So, komandan Nguyen Hue di utara, setuju, dan Ngo Thi Nham kemudian memerintahkan kapal-kapal bermuatan perbekalan dikirim ke selatan ke Thanh Hoa dan mengirim sisa pasukan darat Tay Son untuk membentengi garis dari Pegunungan Tam Diep ke arah laut. 

Pasukan China bertempur dengan pasukan Tay Son pada akhir tahun 1788. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sementara itu, orang-orang Cina sukses merebut Thang Long. Setelah memasang jembatan ponton melintasi Sungai Merah, pada 17 Desember mereka memasuki kota dengan sedikit perlawanan. Untuk keberhasilan ini, kaisar Tiongkok membuat Sun Shi-yi sebagai bangsawan dan memberinya gelar ‘Ahli Taktik yang Pemberani.’ Xu Shi-heng sendiri diangkat menjadi seorang baron, dan perwira China lainnya juga diberi gelar bangsawan atau pangkat yang tinggi. Sun Shi-yi kemudian berencana untuk memperbarui serangannya terhadap Tay Son setelah perayaan tahun baru; sementara itu, dia akan tetap berdiam di Thang Long. Dia menempatkan pasukannya di tiga lokasi utama. Kekuatan utama berada di lapangan terbuka di sepanjang dua tepi Sungai Merah, dihubungkan dengan jembatan ponton. Di selatan ibu kota, orang-orang China memegang serangkaian posisi bertahan yang berpusat di Ngoc Hoi, di pinggiran kota Thang Long. Bagian ketiga dari tentara itu berada di barat daya, di Khuong Thuong. Pasukan kecil bangsa Vietnam, yang setia pada Raja Le Chieu Thong tetap tinggal di ibu kota. Orang Cina saat itu terlalu percaya diri. Karena sejauh ini mereka hanya mengalami sedikit perlawanan, mereka yakin Tay Son secara militer dapat diabaikan, dan bahwa akan mudah bagi mereka untuk membawa seluruh wilayah Vietnam ke bawah kendali mereka. Namun, sumber daya di wilayah utara langka, dan akan sulit untuk mempertahankan kekuatan besar di sana. Gubernur China di provinsi Kwang-si melapor kepada kaisar bahwa dibutuhkan sedikitnya 100.000 orang hanya untuk menjaga jalur suplai ke Thang Long. 

BERSIAP MENGUSIR TENTARA CHINA

Kejadian-kejadian yang menyusul belakangan mulai merugikan posisi China. Untuk satu hal, orang-orang Cina memperlakukan Vietnam seolah-olah wilayah yang berhasil direbutnya. Meskipun orang-orang Cina mengakui Le Chieu Thong sebagai raja An Nam, namun ia harus mengeluarkan pernyataannya atas nama kaisar Cina dan secara pribadi melapor setiap hari kepada Sun Shi-yi. Le Chieu Thong juga melakukan pembalasan terhadap para pejabat Vietnam yang pernah membantu Tay Son, dan tampaknya tidak menyadari perlakuan buruk yang diterima rakyatnya dari orang-orang China. Lê Chiêu Thống semakin mengecewakan para pendukungnya karena dia dikabarkan berpikiran sempit dan sangat kejam, yang telah memotong kaki ketiga pamannya, yang telah menyerah kepada tentara Tây Sơn sebelumnya. Dia juga telah membelah rahim beberapa putri yang hamil hidup-hidup, karena telah menikah dengan beberapa jenderal Tây Sơn. Aksi-aksi ini membuat para pendukungnya sendiri sampai kesal, mereka setuju bahwa ‘dari raja Vietnam pertama, tidak pernah ada yang pengecut seperti itu.’ Sementara itu, angin topan dan bencana panen, terutama pada tahun 1788, membuat orang-orang utara percaya bahwa raja telah kehilangan ‘Mandat Langitnya’ (suatu hal yang amat penting dalam budaya Vietnam) dan mereka mulai menjauhkan diri darinya. Orang-orang Vietnam di utara sangat menderita karena mereka harus memberi makan orang-orang Cina dari persediaan makanan mereka yang sedikit karena kegagalan panen mereka. Jadi, iklim psikologis di utara saat itu mendukung Tay Son. Sementara ini terjadi, Nguyen Hue sibuk dengan persiapan militer di Phu Xuan (Hue). Pada saat itu dia hanya memiliki sekitar 6.000 orang di pasukannya. Mata-mata di utara telah memberinya informasi yang baik tentang niat pihak China, tetapi dia menghadapi keputusan yang sulit. Nguyen Anh kini kembali menimbulkan masalah di selatan, dan Nguyen Hue harus menentukan ancaman mana yang lebih besar. Meskipun dia akhirnya memutuskan bahwa ancaman Cina adalah masalah yang lebih besar, Nguyen Hue tetap mengirim seorang jenderal terpercayanya ke selatan untuk menangani Nguyen Anh jika dia mencoba memanfaatkan situasi tersebut.

Sun Shi-yi, pejabat Kekaisaran China yang memimpin invasi China ke Vietnam di akhir abad ke-18. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada tanggal 22 Desember 1788, Nguyen Hue mendirikan sebuah altar di sebuah bukit di selatan Phu Xuan dan memproklamasikan dirinya sebagai raja, yang pada dasarnya menghapuskan Dinasti Le, dimana dulu ia pernah mengabdi. Dia kemudian mengambil nama Quang Trung. Empat hari kemudian, Quang Trung sedang di Nghe An merekrut pengikutnya. Provinsi ini (tempat kelahiran Ho Chi Minh yang nantinya akan jadi pemimpin Vietnam terkemuka), dengan angka kelahiran yang tinggi dan produksi beras yang rendah, secara tradisional telah diakui sebagai salah satu tempat terbaik di Vietnam untuk merekrut tentara yang cakap. Banyak pria setuju untuk bergabung dengan tentara Tay Son, yang dilaporkan segera bertambah menjadi 100.000 pria dengan 100 gajah. Untuk menanamkan kepercayaan, semua rekrutan baru ditempatkan di bawah komando langsung Quang Trung. Dalam upaya untuk memperluas daya tariknya, Quang Trung mempermainkan isu nasionalisme, dengan menyatakan: (Dinasti) Qing telah menginvasi negara kita… Di alam semesta setiap bumi, setiap bintang memiliki tempat tertentu; Utara (Cina) dan Selatan (Vietnam) masing-masing memiliki pemerintahannya sendiri. Orang-orang di Utara bukan dari ras kita, mereka tidak akan memikirkan cara kita atau bersikap baik kepada kita. Sejak dinasti Han, mereka telah menginvasi kita berkali-kali, membantai dan menjarah rakyat kita. Kita sudah tidak tahan dengan hal semacam itu. Hari ini, orang-orang Qing telah menginvasi kita lagi dengan harapan untuk membangun kembali prefektur China (di Vietnam), sambil melupakan apa yang terjadi pada (Dinasti) Song, Yuan, dan Ming. Itulah mengapa kita harus mengumpulkan pasukan untuk mengusir mereka. Anda, para pria yang memiliki hati nurani dan keberanian, bergabunglah dengan kami dalam usaha besar ini.” Pada saat yang sama, Quang Trung berusaha menipu lawan-lawannya. Dia mengirim surat kepada Sun Shi-yi berbohong dengan menyatakan bahwa Tay Son ingin menyerah. Hal ini membuat orang-orang Cina menjadi lebih percaya diri dan mengabaikan persiapan militer. 

SERANGAN TET PERTAMA

Pada tanggal 15 Januari 1789, Quang Trung menggerakkan pasukannya dan, di Gunung Tam Diep, mereka bergabung dengan pasukan di bawah pimpinan Ngo Van So. Meskipun sebelumnya dia menuduh Ngo Van So mundur dari hadapan musuh, Quang Trung sekarang berkata: “Dalam seni perang, ketika pasukan dikalahkan, jenderal pantas mati. Namun, Anda benar ketika Anda memutuskan untuk memberi jalan kepada musuh ketika mereka dalam kondisi terbaiknya untuk memperkuat pasukan kita dan mundur untuk memegang posisi strategis. Itu membuat orang-orang kami bersemangat tinggi dan membuat musuh lebih sombong. Itu adalah operasi yang cerdik… Kali ini saya secara pribadi memimpin pasukan kita. Saya telah membuat rencana saya. Dalam 10 hari kita akan mengantar mereka kembali ke China dan semuanya akan berakhir. Tapi karena negara mereka 10 kali lebih besar dari kita, mereka akan sangat malu atas kekalahan mereka dan pasti akan membalas dendam. Akan ada pertempuran tanpa akhir antara kedua negara, yang akan mendatangkan malapetaka bagi rakyat kita. Oleh karena itu setelah perang ini saya ingin Ngo Thi Nham menulis kepada mereka dengan cara yang elegan untuk menghentikan perang sepenuhnya. Dalam waktu 10 tahun, ketika kita telah membangun negara yang kaya dan kuat, dan kita tidak perlu takut lagi.” Quang Trung mengetahui dari mata-matanya bahwa orang-orang China berencana memulai serangan mereka ke arah selatan dari Thang Long pada hari keenam tahun baru dalam sebuah serangan terhadap Phu Xuan. Dia merencanakan serangan yang menentukan dan memerintahkan tentaranya untuk merayakan Tet lebih awal, berjanji bahwa mereka akan dapat merayakannya dengan lebih baik nanti di Thang Long. Pada tanggal 25 Januari, hari terakhir tahun itu (tahun baru Vietnam), Tay Son meninggalkan Tam Diep untuk melakukan serangan. 

Pasukan Tay Son didukung oleh gajah-gajah tempur yang amat membantu dalam menggempur posisi-posisi pertahanan musuh. (Sumber: https://indianembassy-tm.org/)

Hampir separuh tentara China saat itu berada di dekat ibu kota. Pasukan Sun Shi-yi yang tersisa dikerahkan di jalur utara-selatan di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Thang Long ke wilayah dekat ke Pegunungan Tam Diep. Rute ini dilindungi oleh pertahanan alami Sungai Merah dan tiga aliran air lainnya – sungai Nhuc, Thanh Quyet, dan Gian Thuy. Jalur itu diapit ke barat dan ke timur dari Thang Long oleh pos di Son Tay dan di Hai Duong. Hal ini memaksa pasukan Tay Son untuk menyerang garis utama pasukan China agak jauh dari ibu kota dan secara berturut-turut untuk mengurangi kekuatan perbentengan mereka yang paling penting. Sementara itu, Sun Shi-yi percaya bahwa, jika terjadi serangan Tay Son yang tidak terduga, disposisi ini akan memberi tambahan waktu bagi pasukan China untuk bisa campur tangan kemudian. Hal itu juga memastikan bahwa pihak China dapat mempertahankan kontak antara ketiga elemen utama pasukan mereka dan melindungi jalur komunikasi mereka kembali ke wilayah China selatan. Tapi itu strategi ini menekankan operasi ofensif, bukan defensif. Sun Shi-yi awalnya tidak khawatir tentang serangan Tay Son. Tetapi ketika menjadi jelas bahwa pasukan Tay Son akan menyerang, dia terlambat mengirim pasukan untuk memperkuat pos-pos penting dan jenderal terbaiknya untuk memimpin garis pertahanan di selatan. Dalam proses memperkuat benteng, orang-orang Cina mengaturnya untuk melumpuhkan para penyerang; setiap benteng yang lebih dekat ke ibu kota lebih kuat dari yang terakhir.

Kanon yang digunakan oleh pasukan Tay Son. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pasukan Quang Trung bergerak cepat ke utara dalam lima pasukan terpisah untuk kemudian berkumpul di Thang Long. Quang Trung memimpin pasukan utama yang terdiri dari prajurit infanteri, penunggang kuda, dan gajah yang mengangkut artileri berat tentaranya. Serangan itu akan menyerang Ngoc Hoi, posisi utama pasukan Cina di selatan ibu kota dan markas besar jenderal Cina yang memerintah di selatan. Untuk memaksa tentara Cina membubarkan diri, Quang Trung mengirim sebagian armadanya, yang dipimpin oleh Jenderal Nguyen Van Tuyet, ke pelabuhan Hai Phong. Tugas mereka adalah untuk menghancurkan pasukan kecil Le di sana, lalu menyerang tentara Cina di timur Sungai Merah dan mendukung kekuatan utama dalam perjalanannya ke Thang Long. Bagian lain dari armada itu berlayar ke utara menuju provinsi perbatasan Yen The dan Lang Giang untuk mengganggu jalur komunikasi pasukan China di utara. Pasukan keempat dari Tay Son, dipimpin oleh Jenderal Bao, yang memiliki prajurit penunggang kuda dan gajah serta infanteri. Pasukan ini akan mengambil rute yang berbeda dari pasukan utama tetapi akan bergabung dalam penyerangan di Ngoc Hoi. Sementara itu pasukan kelima Tay Son, dipimpin oleh Jenderal Long, yang termasuk para penunggang kuda dan gajah, akan melakukan serangan cepat dan tiba-tiba di Thang Long untuk membuat orang-orang Cina putus asa. Mereka ditugaskan untuk menghancurkan pasukan China di barat daya ibu kota, kemudian bergerak ke timur ke markas Sun Shi-yi dan menyerang pasukan China yang mundur dari arah lain. 

Pasukan Tay Son menyerbu perbentengan Pasukan China. (Sumber: https://alchetron.com/)

Pada tengah malam tanggal 25 Januari, pasukan Quang Trung merebut pos terdepan lawan di Son Nam di provinsi Nam Dinh yang dipertahankan oleh pengikut raja Le, yang sedang merayakan tahun baru. Kemudian dengan cepat, pasukan Quang Trung merebut satu demi satu benteng yang mempertahankan akses ke ibu kota. Pada hari ketiga Tet, tanggal 28 Januari, pasukan Tay Son mengepung pos penting Ha Hoi, sekitar 20 kilometer barat daya ibu kota. Karena lengah, para prajurit China di sana menyerah dengan senjata dan perbekalan mereka yang masih utuh. Pada tanggal 29 Januari pasukan Tay Son mencapai wilayah Ngoc Hoi, 14 kilometer di selatan ibu kota dan merupakan benteng terakhir tentara China sebelum Thang Long. Posisi pertahanan terkuat China ini, dihuni oleh 30.000 pasukan terlatih dan dilindungi oleh parit, ladang ranjau, jebakan, dan tiang bambu runcing. Quang Trung lalu menunggu satu hari sampai pasukan Long bergabung dari arah barat daya. Saat fajar keesokan harinya, pasukan Tay Son menyerang dari dua arah. Pasukan Gajah memimpin serangan dan dengan mudah mengalahkan para penunggang kuda China. Orang-orang Cina kemudian mundur ke dalam benteng, yang kemudian diserang oleh pasukan elit Tay Son yang dibentuk dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 20 orang, yang melindungi diri mereka sendiri dengan memegang di atas kepala mereka papan kayu yang dilapisi jerami yang dibasahi air. Pasukan penyerang segera diserang oleh tembakan meriam dan panah berat tentara China. Pasukan Infanteri Tay Son lalu mengerahkan roket pembakar kecil yang disebut hoa ho. Duduk di atas gajah, Quang Trung mengarahkan operasi militernya. Sejarawan Vietnam mengisahkan bahwa baju zirah besinya ‘hitam karena asap bubuk’. Segera setelah pasukan penyerang mencapai tembok dan benteng, pasukan itu menurunkan perisai mereka dan bertarung dari dalam jarak dekat. Setelah pertempuran sengit, pasukan Tay Son muncul sebagai pemenang, dan sejumlah besar tentara China, termasuk beberapa jenderal, tewas. 

Quang Trung memimpin pasukan Tay Son menaklukkan Pasukan China dalam salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah militer Vietnam. (Sumber: https://lichsuhuyenbivietnam.blogspot.com/)

Pasukan Tay Son lainnya juga berhasil. Pasukan Jenderal Long mengalahkan pasukan China di Khuong Thuong, dan komandan mereka lalu bunuh diri. Pasukan Jenderal Bao di Dam Muc juga sukses menyergap pasukan China yang mundur dari Ngoc Hoi ke Thang Long. Orang-orang Vietnam membunuh ribuan pasukan China. Garis pertahanan orang-orang China di selatan ibu kota kini benar-benar hancur. Pos Dong Da, yang berada di dalam kota Ha Noi, diambil setelah lewat pertempuran sengit seharian. Komandan Cina di sana kemudian gantung diri. Sun Shi-yi telah mengetahui kekalahan pasukan China di Ngoc Hoi dan Khuong Thuong pada tengah malam tanggal 29 Januari, kira-kira pada waktu yang sama ketika Tay Son memasuki pinggiran ibu kota. Dengan api yang terlihat di kejauhan, Sun Shi-yi tidak repot-repot segera mengenakan baju besi atau pelana kudanya, tetapi menaikinya tanpa pelana dan melarikan diri ke Sungai Merah, diikuti oleh yang lain dengan menunggang kuda. Pasukan Infanteri China segera bergabung dengan pelarian tersebut, tetapi jembatan yang mereka coba gunakan untuk melarikan diri menjadi begitu terbebani dan runtuh karena beban mereka. Menurut catatan Vietnam, Sungai Merah dipenuhi dengan ribuan mayat tentara China. Sementara itu, Raja Le Chieu Thong juga melarikan diri bersama keluarganya dan mencari perlindungan di China, sekaligus mengakhiri Dinasti Le yang telah berkuasa selama 300 tahun di Vietnam. pada sore hari hari kelima tahun baru, pasukan Quang Trung memasuki Thang Long. Seperti yang dijanjikan oleh komandan mereka, mereka merayakan Tet di sana pada hari ketujuh tahun baru. Quang Trung kemudian mengirimkan perintah kepada para jenderalnya untuk mengejar orang-orang China, berharap untuk bisa menangkap Sun Shi-yi. Niatnya adalah untuk menakut-nakuti orang Cina sehingga mereka akan melepaskan impian mereka untuk menaklukkan Vietnam. Dia berjanji, bagaimanapun, untuk memperlakukan secara manusiawi semua yang menyerah, dan ribuan tentara China lalu melakukannya. 

PAHLAWAN VIETNAM 

Orang-orang Vietnam kini mengenal kampanye militer ini dengan berbagai nama seperti Kemenangan di Ngoc Hoi-Dong Da, Kemenangan Kaisar Quang Trung atas Manchu, atau Kemenangan Musim Semi tahun 1789. Hari ini, kemenangan ini masih dirayakan di Vietnam sebagai prestasi kemenangan militer terbesar negara itu. Untuk mencapai hal ini, Quang Trung mendapat untung dari kesalahan yang dibuat orang-orang Cina. Alih-alih melanjutkan serangannya untuk menghancurkan Tay Son, Sun Shi-yi malah berhenti. Percaya diri dengan jumlah tentaranya yang superior, dia telah meremehkan musuhnya dan mengendorkan disiplinnya. Tapi menghadapi ini, Quang Trung telah mempersiapkan kampanye militernya dengan hati-hati. Seperti yang dicatat oleh sejarawan Le Thanh Khoi, selama kampanye militer 40 hari, Quang Trung telah mencurahkan 35 hari diantaranya untuk persiapan dan hanya lima hari untuk pertempuran yang sebenarnya. Keputusan bijak bawahannya untuk mundur dari utara telah membebaskan cukup banyak pasukan untuk bisa digunakan. Kunci lainnya adalah sikap penduduk sipil, yang bersatu dengan pasukan Tay Son dalam perjalanan mereka ke utara, menyediakan makanan, dukungan material, dan puluhan ribu tentara. Hal ini memberi Quang Trung sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan serangan. Dia juga berhasil menjaga kerahasiaan militer hingga saat terakhir serangannya, sehingga ia bisa dalam posisi ofensif, disamping juga membantu mengimbangi inferioritas tentaranya secara numerik 2 banding 1. Dan serangannya pada malam perayaan Tet merupakan pukulan yang sangat brilian karena membuat orang-orang Cina lengah, ketika mereka bersiap-siap untuk merayakan tahun baru mereka.

Patung Kaisar Quang Trung, yang dianggap sebagai role model pahlawan Vietnam. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Persenjataan Pasukan Tay Son. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Setelah diluncurkan, serangan Quang Trung terus berlanjut tanpa jeda selama lima hari. Serangan biasanya diluncurkan pada malam hari, untuk menciptakan kebingungan maksimum di pihak musuh. Siang hari, sementara itu, dihabiskan untuk persiapan. Quang Trung dilaporkan mengorganisir pasukannya menjadi tim yang terdiri dari tiga orang, dua di antaranya akan membawa yang personel ketiga di tempat tidur gantung. Mereka kemudian akan berpindah tempat secara berkala untuk meminimalkan waktu berjalan. Sifat serangan yang cepat dan simultan, telah mencegah orang-orang China mengumpulkan pasukan cadangannya, menambah kebingungan diantara mereka dan mencegah mereka mengalihkan sumber daya mereka. Serangan Quang Trung mencakup jarak hampir 80 kilometer dan merebut enam benteng – dengan kecepatan 16 kilometer dan lebih dari satu benteng sehari. Menghitung mundur dari Thang Long, pasukannya telah menempuh jarak 600 kilometer hanya dalam 40 hari. Mengingat keadaan jalan di Vietnam pada saat itu, ini adalah pencapaian yang luar biasa. Serangan, konsentrasi kekuatan, pelatihan yang sangat baik, penggunaan senjata gabungan yang efektif dan mobilitas yang cepat memberi kemenangan bagi Tay Son. Bagaimanapun jumlah pasukan tidak sepenting faktor moral; para penyerang jelas dimotivasi oleh keinginan kuat untuk membebaskan negara mereka dari dominasi bangsa asing. Quang Trung dapat dianggap sebagai salah satu pemimpin terbesar Vietnam, seorang komandan yang memenangkan dua kemenangan militer terpenting dalam sejarah Vietnam. Dia menyatukan kembali kerajaan, mengusir bangsa Siam dan menyelamatkan negaranya dari dominasi China. Misionaris Barat modern di Vietnam kerap membandingkannya dengan Alexander Agung. Tapi Quang Trung lebih dari sekedar pahlawan militer; dia juga salah satu raja terbesar Vietnam.

Quang Trung thông bảo (光 中 通寶), Koin yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Kaisar Quang Trung. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Nguyễn Huệ, seperti yang tergambar pada uang kertas Vietnam Selatan bernilai 200 đồng. Nguyễn Huệ/Quang Trung menjadi pahlawan universal di seluruh Vietnam. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Bahkan, reputasi Quang Trung telah berkembang sejak tahun kemenangan pasukan komunis tahun 1975 – ia dianggap sebagai raja yang dibesarkan dari rakyat. Ironisnya, pada masanya banyak orang Vietnam yang menganggap Quang Trung sebagai perampas kekuasaan karena dia bukan berasal dari keluarga bangsawan. Terbukti mereka lebih menyukai raja yang buruk dari keluarga yang baik daripada raja yang efektif dari keluarga miskin. Menyadari kebutuhan akan perdamaian dan kompromi dengan kekaisaran China, Quang Trung segera menormalisasi hubungan perdagangan dengan China setelah pertempuran dan berjanji setia kepada kaisar mereka. Dia lebih lanjut meminta izin untuk melakukan perjalanan ke China, perjalanan yang dia lakukan pada tahun 1790. Sementara itu, pada bulan Desember 1789 seorang utusan kekaisaran China memberinya penegasan secara ritual sebagai raja An Nam. Bagaimanapun Nguyễn Huệ tetap tidak puas, ia terus melatih pasukannya, membangun kapal perang besar dan menunggu kesempatan untuk bisa membalas dendam pada dinasti Qing pada waktunya. Dia juga diketahui memberikan perlindungan kepada organisasi anti-Manchu seperti Tiandihui dan Teratai Putih. Bajak laut Tiongkok yang terkenal, seperti Chen Tien-pao (陳 添 保), Mo Kuan-fu (莫 觀 扶), Liang Wen-keng (梁文庚), Fan Wen-tsai (樊文 才), Cheng Chi (鄭 七) dan Cheng I (鄭 一) diberikan posisi resmi dan / atau pangkat bangsawan di bawah kekaisaran Tây Sơn. Bagaimanapun serangan balasan tersebut tidak pernah terwujud, karena Quang Trung meninggal pada tahun 1792.

Lukisan akhir abad ke-18 yang menggambarkan Kaisar Qianlong menerima Nguyễn Quang Hiển, utusan perdamaian dari Nguyen Hue di Beijing. Meski berhasil mengusir tentara China dari Vietnam, namun Quang Trung segera menormalisasi hubungannya dengan tetangga raksasanya itu. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sementara itu, sebagai penguasa, Quang Trung menunjukkan kesediaannya untuk bekerjasama dengan individu yang punya kemampuan, terlepas dari kesetiaan mereka di masa lalu. Ini membantu menarik orang-orang terbaik untuk bertugas dibawahnya. Dia mengatur kembali tentaranya dan melakukan reformasi di bidang fiskal. Dia mendistribusikan kembali tanah yang tidak digunakan, terutama kepada para petani. Dia mempromosikan kerajinan dan perdagangan, serta mendorong reformasi dalam bidang pendidikan, dengan menyatakan bahwa ‘untuk membangun negara, tidak ada yang lebih penting daripada mendidik rakyatnya.’ Quang Trung juga percaya akan pentingnya mempelajari sejarah; dia menyuruh gurunya memberi pelajaran tentang sejarah dan budaya Vietnam enam kali sebulan. Dia juga ingin membuka hubungan perdagangan dengan Barat, dan misionaris Barat pada zamannya mencatat bahwa mereka dapat menjalankan aktivitas keagamaan mereka dengan lebih bebas daripada sebelumnya. Quang Trung adalah pemimpin Vietnam pertama yang menambahkan ilmu sains ke dalam ujian pejabat negara. Dia juga memperkenalkan mata uang Vietnam dan mendesak agar Nom, sistem penulisan demotik yang menggabungkan karakter Cina dengan Vietnam, digunakan dalam dokumen pengadilan. Sayangnya, pemerintahan Quang Trung terhitung singkat-dia meninggal karena penyakit yang tidak diketahui pada bulan Maret atau April 1792. Banyak orang Vietnam percaya bahwa jika dia hidup satu dekade lebih lama, sejarah mereka akan berbeda. Putra Quang Trung, Quang Toan, naik tahta, tetapi dia baru berusia 10 tahun. Quang Trung yang meninggal, tanpa meninggalkan penerus yang cukup kuat untuk mengambil alih kepemimpinan negara, mendorong timbulnya perpecahan.

Uskup Pigneau de Behaine yang membuka jalan masuknya pengaruh Prancis ke Vietnam. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Nguyen Anh atau Kaisar Gia Long, yang mengganti Dinasti Tay Son yang berumur singkat. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada saat ini, Nguyen Anh dan pendukungnya telah memenangkan kembali sebagian besar wilayah selatan dari Nguyen Lu, saudara laki-laki Tay Son yang paling lemah. Ketika uskup Pigneau de Behaine kembali ke Vietnam pada tahun 1789, Nguyen Anh telah mengendalikan wilayah Gia Dinh. Pada tahun-tahun berikutnya, sang uskup membawa kepada Nguyen Anh kapal-kapal, senjata, dan penasihat Eropa, yang lalu mengawasi pembangunan benteng, galangan kapal, pengecoran meriam dan pabrik bom, dan melatih orang Vietnam dalam pembuatan dan penggunaan persenjataan modern. Perjuangan Nguyen untuk merebut kembali kekuasaan juga sangat terbantu oleh perpecahan dalam kepemimpinan Tay Son, setelah kematian Quang Trung, dan ketidakmampuan para pemimpin baru untuk menangani masalah kelaparan dan bencana alam yang melanda negara yang baru saja dilanda perang. Para penentang kekuasaan Tay Son juga bertambah, dimana setelah pembantaian etnis China di Vietnam pada tahun 1782 yang dilakukan oleh pasukan Tây Sơn, dukungan dan simpati dari orang China mulai bergeser ke arah keluarga Nguyễn. Setelah serangan mantap di wilayah utara, pasukan Nguyen Anh merebut Phu Xuan pada bulan Juni 1801 dan Thang Long setahun kemudian. Dalam satu dekade Nguyen Anh, penguasa Nguyen yang masih hidup, akhirnya bisa naik ke tampuk kekuasaan dan memproklamasikan dirinya sebagai raja sebagai Gia Long, mendirikan dinasti Nguyen. Dari sini, kekuatan Kerajaan di Vietnam terus memudar hingga masuknya kekuasaan Prancis ke Vietnam yang ironisnya salah salah satunya dimulai dari aksi uskup Pigneau de Behaine dalam membantu Nguyen Anh untuk merebut kembali kekuasaannya.

Pasukan Prancis di Vietnam pada awal abad ke-20. Hampir setengah abad lebih Prancis akan berkuasa di Vietnam sebelum bangsa Vietnam bisa merdeka lagi. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The First Tet Offensive of 1789

Ronald J. Cima, ed. Vietnam: A Country Study. Washington: GPO for the Library of Congress, 1987.

http://countrystudies.us/vietnam/

https://www.britannica.com/place/Vietnam/The-Tran-dynasty#ref509960

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Ng%E1%BB%8Dc_H%E1%BB%93i-%C4%90%E1%BB%91ng_%C4%90a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *