Sejarah Militer

Kapal Induk Kelas Clemenceau: Simbol Kemandirian dan Kebangkitan Maritim Prancis

Kapal induk kelas Clemenceau merupakan sepasang kapal induk serang armada bertenaga konvensional kebanggaan Angkatan Laut Prancis (Marine Nationale) yang bertugas sepanjang era Perang Dingin hingga pergantian abad ke-21. Terdiri dari dua kapal kembar, yakni FS Clemenceau (R98) sebagai kapal utama (lead ship) dan FS Foch (R99), kelas ini menorehkan sejarah sebagai rancangan kapal induk pertama Prancis yang sepenuhnya dibangun secara mandiri di dalam negeri sejak kelas Joffre pada 1938. Mengusung desain Catapult Assisted Take-Off But Arrested Recovery (CATOBAR) yang mengintegrasikan berbagai teknologi penerbangan mutakhir pada zamannya, kehadiran kelas Clemenceau tidak hanya menjadi tulang punggung (mainstay) bagi proyeksi kekuatan laut Prancis selama beberapa dekade, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan kembali kapasitas industri pertahanan dan kemandirian maritim Prancis dari puing-puing Perang Dunia II.

Kapal induk kelas Clemenceau yang menjadi kebanggaan Angkatan Laut Prancis (Marine Nationale) yang bertugas sepanjang era Perang Dingin hingga pergantian abad ke-21. (Sumber: https://www.seaforces.org/marint/French-Navy/Aircraft-Carrier/R-98-FS-Clemenceau.htm)

SEJARAH PENGEMBANGAN

Sejarah pengembangan kapal induk kelas Clemenceau berawal sejak era Perang Dunia II, ketika kapal induk tua Béarn dipensiunkan. Meskipun Prancis merupakan salah satu pemenang dari Perang Dunia II, kekuatan militernya sangat menderita. Di masa setelah perang ini, sebagian besar kapal Angkatan Laut Prancis merupakan rongsokan akibat perang. Menyusul kejatuhannya yang memalukan di tangan Jerman pada musim semi tahun 1940, Angkatan Laut Prancis yang dibanggakan dilucuti kekuatannya; banyak unit yang selamat telah dihancurkan oleh armada Inggris yang ketakutan, sementara sebagian lainnya ditenggelamkan (scuttled) oleh awaknya sendiri untuk mencegah penyitaan oleh pihak Poros (Jerman). Untuk membentuk angkatan laut Prancis yang baru, sumbangan kapal bekas masa perang dalam jumlah besar telah diberikan oleh Inggris dan Amerika Serikat (yang kemudian dimodifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan operasional pihak Prancis). Akan tetapi, untuk mendapatkan kembali posisi yang menonjol dalam kancah dunia—sebagai bagian integral dari strategi Prancis untuk membangun tatanan pasca-perang (yang digagas oleh Jenderal Charles de Gaulle)—Prancis harus membangun kembali industrinya agar mampu membangun alutsista tingkat lanjut yang relevan di masa depan.

Pemandangan udara kapal induk Prancis, Béarn. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/French_aircraft_carrier_B%C3%A9arn)

Oleh karenanya, pada tahun 1945, Prancis mulai melakukan studi pembuatan kapal pengganti yang didasarkan pada proyek rahasia era pendudukan—sebuah penyempurnaan dari desain kelas Joffre akhir 1930-an yang memang direncanakan untuk langsung dibangun begitu perang usai. Hasil studi ini melahirkan rancangan kapal induk bertajuk PA 28. Desain tersebut disetujui pada Agustus 1947 dan konstruksinya dipesan untuk diletakkan lunasnya di Brest, di mana kapal ini semula direncanakan menyandang nama Clemenceau. Secara desain, PA 28 sangat terinspirasi dari kapal induk ringan Inggris dengan geladak penerbangan lurus berpelapis baja, dua hanggar yang bergeser ke sisi kiri (port), serta dua lift berukuran 15 x 10 m berkapasitas 12 ton di depan dan belakang island (bangunan utama kapal induk). Kapal berawak 1.800 personel ini dirancang menggunakan tujuh kabel penahan (arrestor cables), dua ketapel uap, dan persenjataan anti-udara berupa delapan kubah meriam ganda caliber 100 mm serta enam meriam ganda caliber 57 mm. Mengandalkan dua kali lipat sistem pendorong kapal perusak besar kelas Mogador yang menghasilkan daya 105.000 hp dari dua poros turbin Parsons, kapal berbobot 15.700 / 20.000 ton dan berdimensi 214/230 m; 25,4 m/36 m; dengan draft 6,5 m ini ditargetkan mampu menembus kecepatan 32 knot (59,3 km/jam) serta mengangkut 45 pesawat kombinasi pesawat tempur bermesin piston SNCASE SE.580 dan jet SNCAC NC.1070.

Draf awal PA 28. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)
Desain kapal induk Prancis paska PD II yang diberi kode PA 28. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/pa-28-class-aircraft-carrier.php#google_vignette)

Akan tetapi, pada tahun 1949 Staf Umum Angkatan Laut mulai menyiapkan spesifikasi baru yang meminta empat kapal induk berbobot 20.000 ton untuk dikirim dalam dua tahap, sementara Dewan Tertinggi Angkatan Laut dalam rapat 22 Agustus 1949 bahkan mengajukan target lebih ambisius hingga enam kapal. Di saat yang sama, menyusul pergantian menteri pada tahun 1949, desain PA 28 direvisi dan akhirnya resmi dibatalkan pada tahun 1950 karena dianggap sudah ketinggalan zaman. Pengalaman Amerika Serikat dalam memodernisasi kapal eks-Perang Dunia II menunjukkan bahwa doktrin baru lebih menguntungkan jika mengadopsi pesawat jet yang berbobot lebih berat.

Kapal induk Prancis, Arromanches (eks-HMS Colossus) di Mediterania, 1961. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/French_aircraft_carrier_Arromanches)
Kapal induk Prancis, Lafayette (eks-USS Langley) pada bulan September 1951. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/lafayette-class-aircraft-carrier.php)

Memasuki awal tahun 1950-an, Prancis berusaha penuh untuk memulihkan statusnya sebagai kekuatan militer utama. Saat itu Angkatan Laut Prancis mengoperasikan empat kapal induk sumbangan peninggalan Perang Dunia II. Arromanches (eks-HMS Colossus) dari Inggris yang dioperasikan pada 1946–1974 menjadi yang paling modern dan terbesar, disusul kapal-kapal yang lebih kecil seperti kapal pengawal Dixmude (eks-HMS Biter C3) yang dipakai hingga tahun 1960, serta dua kapal induk ringan cepat kelas Independence yaitu Lafayette (eks-USS Langley) dan Bois Belleau (eks-USS Belleau Wood) yang bertugas pada 1950–1963. Seluruh kapal tersebut dinilai hanya cocok untuk mengoperasikan pesawat bermesin piston dan terlalu kecil untuk mengoperasikan pesawat jet modern. Demi memastikan kemandirian Prancis dalam konstruksi kapal induk (sebagai bagian kebangkitan industry alutsista Prancis pasca-perang dan sebagai desain kapal induk armada pertamanya yang sepenuhnya dibuat di dalam negeri), dirancanglah pembangunan dua kapal induk armada modern berbobot sekitar 35.000 ton—sebanding namun sedikit lebih kecil dari kelas Audacious milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Pembangunan dari nol ini dimanfaatkan untuk mengintegrasikan fasilitas teknologi paling mutakhir pada zamannya, seperti geladak penerbangan miring (angled flight deck), kemampuan untuk meluncurkan pesawat bermesin jet baru menggunakan sistem peluncuran ketapel uap bertenaga tinggi, dan sistem/alat bantu pendaratan optik cermin (mirror landing aid), serta kemampuan penuh mengoperasikan jet tempur generasi baru buatan dalam negeri.

HMS Ark Royal (R 09) dari kelas Audacious milik AL Inggris tahun 1971. (Sumber: https://www.seaforces.org/marint/Royal-Navy/Aircraft-Carrier/Audacious-class.htm)

Dinamika perencanaan armada laut Prancis terus berkembang di tengah keterbatasan ekonomi. Pada 15 Juli 1952, Angkatan Laut merevisi targetnya menjadi lima kapal untuk seluruh wilayah Uni Prancis. Berdasarkan keputusan Konferensi Lisbon NATO tahun 1952 (RCM 12), Prancis diminta menyediakan satu kapal induk yang siap pada hari pertama konflik (D-Day), dua pada hari ke-30, dan tiga pada hari ke-180, yang mengisyaratkan peletakan lunas tiga kapal secara berdekatan. Namun pada tahun 1953, rencana disesuaikan secara bertahap hingga Angkatan Laut mengorganisasi kekuatannya menjadi dua gugus tugas (task force), yang pada akhirnya hanya membutuhkan dua kapal induk utama. (Awalnya konsep dasar kapal kelas Clemenceau ini direncanakan hanya berbobot 22.000 ton pada tahun 1953).

PA 54, sebuah desain tahun 1953 yang benar-benar baru. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Realisasi pembangunan kedua kapal tersebut akhirnya disetujui, dan hal ini sekaligus menandai upaya pengembangan mandiri pertama Prancis dalam membangun kapal induk yang sukses. Proyek PA 54 dianggarkan pada tahun 1953 tetapi peletakan lunasnya ditunda hingga November 1955. Kapal ini dibangun oleh pembuat kapal Arsenal de Brest, Brittany, Prancis, lalu diberi nama Clemenceau (yang juga sering mendapat julukan kesayangan “Clem“). Kapal ini mengusung nomor lambung R98 sebagai lead ship (kapal utama) dari kelas Clemenceau. Nama ini mengabadikan Georges Benjamin Clemenceau (1841–1929), yang merupakan seorang negarawan Prancis yang memimpin negaranya pada masa Perang Dunia I. Sebagai seorang tokoh di Partai Radikal, ia memainkan peran sentral dalam kancah politik selama periode Republik Ketiga, menjabat sebagai Perdana Menteri Prancis (1906–1909 dan 1917–1920), serta menjadi salah satu arsitek utama Perjanjian Versailles pada Konferensi Perdamaian Prancis tahun 1919. Clemenceau dikenal mengambil posisi yang amat keras terhadap Jerman yang kalah (berhasil menuntut ganti rugi reparasi perang yang besar) dan dijuluki “Si Macan” (Le Tigre) atau “Bapak Kemenangan” (Père la Victoire). Kapal ini diluncurkan pada 21 Desember 1957 dan resmi bertugas (commissioned) ke dalam armada Angkatan Laut Prancis pada 22 November 1961. Clemenceau menjadi kapal perang Prancis kedua yang menyandang nama tersebut, setelah kapal tempur (battleship) kelas Richelieu yang diletakkan lunasnya pada tahun 1939 namun tidak pernah diselesaikan pembuatannya.

Georges Benjamin Clemenceau, negarawan Prancis yang memimpin negaranya pada masa Perang Dunia I. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Georges_Clemenceau)
Ferdinand Foch, Jenderal dan pemikir militer Prancis yang diangkat menjadi Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu (Généralissime) pada musim semi tahun 1918 selama Perang Dunia Pertama. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Ferdinand_Foch)

Sementara itu, proyek PA 55 dianggarkan untuk tahun 1955 tetapi ditunda. Pembangunan kapal kedua (kapal saudari / sister ship) kelas Clemenceau ini ditangani oleh pembuat kapal Chantiers de l’Atlantique di Saint-Nazaire, Prancis. Peletakan lunas kapal (laid down) ini dilakukan pada 15 November 1957, lalu kapal diluncurkan pada 23 Juli 1960. Mengusung nomor lambung (pennant number) R99, kapal ini diberi nama Foch (pengucapan bahasa Prancis: [fɔʃ]) yang mengabadikan Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu/Entente masa Perang Dunia I (Marsekal Pasukan Sekutu), Marsekal Ferdinand Foch. Sosok Marsekal Ferdinand Foch (2 Oktober 1851 – 20 Maret 1929) sendiri merupakan seorang jenderal dan pemikir militer Prancis yang diangkat menjadi Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu (Généralissime) pada musim semi tahun 1918 selama Perang Dunia Pertama. Ia memainkan peran kunci dalam menghentikan serangkaian serangan Jerman di Pertempuran Kedua Marne dan menerima penyerahan diri Jerman pada Armandis 11 November 1918. Ia juga menjadi sosok yang menyampaikan kalimat profetik “Ini bukanlah perdamaian. Ini adalah gencatan senjata selama dua puluh tahun,” ketika merespon Perjanjian Versailles 1919 yang dinilainya terlalu lunak (dan pernyataan tersebut terbukti tepat ketika PD II pecah 20 tahun kemudian). Kapal Foch merupakan kapal perang kedua yang diberi nama untuk menghormati Marsekal Prancis tersebut, menyusul kapal penjelajah berat (heavy cruiser) yang bertugas (commissioned) pada 1932 dan ditenggelamkan (scuttled) pada tahun 1942 di Toulon. Kapal Foch kemudian resmi bertugas (commissioned) di Angkatan Laut Prancis pada 15 Juli 1963. Pada saat kapal-kapal ini tiba dan ditugaskan, armada sayap udara (air wing) Prancis juga telah dimodernisasi.

Kelas Clemenceau, merupakan satu-satunya kapal induk serang bertenaga konvensional bertipe CATOBAR (Catapult Assisted Take-Off But Arrested Recovery) di Eropa pada akhir 1970-an. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Kedua kapal ini menjadi rancangan khusus (purpose-built) pertama Prancis sejak kelas Joffre pada tahun 1938. Desainnya sedikit terinspirasi dari kapal induk kelas Essex Amerika Serikat yang telah dimodernisasi, dan menjadikan mereka sebagai satu-satunya kapal induk serang bertenaga konvensional bertipe CATOBAR (Catapult Assisted Take-Off But Arrested Recovery) di Eropa pada akhir 1970-an. Secara praktis, kelas Clemenceau menjadi satu-satunya kapal induk Prancis yang aktif serta menjadi tulang punggung armada Prancis selama sebagian besar Perang Dingin hingga pergantian abad ke-21. Kelas Clemenceau terdiri dari dua kapal induk ini yang bertugas di Angkatan Laut Prancis dari tahun 1961 hingga 2000. Setelah masa dinas yang panjang, Clemenceau sebagai kapal utama di kelas ini dioperasikan dan dikeluarkan dari armada pada 1 Oktober 1997, dan nasibnya berakhir dijual untuk besi tua / dibongkar di Inggris (2009-2010). Sedangkan Foch dihentikan pengoperasiannya dari dinas aktif Prancis pada pergantian abad (15 November 2000) sebelum akhirnya diakuisisi dan dijual ke Brasil pada waktu yang berdekatan dengan nama NAe São Paulo (A12). Ia lalu ditugaskan kembali (recommissioned) oleh Angkatan Laut Brasil pada November 2000 dan bertugas selama 17 tahun berikutnya. Seluruh peran kapal-kapal kelas ini pada akhirnya digantikan secara keseluruhan oleh satu-satunya kapal induk Angkatan Laut Prancis masa kini, yakni kapal bertenaga nuklir FS Charles de Gaulle (R91), yang mulai bertugas pada bulan Mei 2001 setelah melalui studi panjang rancangannya yang mulai direncanakan sejak tahun 1982.

DETAIL DESAIN

Kelas ini merupakan kapal induk armada serbaguna (multi-role) untuk menggantikan seluruh kapal peninggalan PD II. Meskipun mengadopsi fitur-fitur menarik dari model Inggris dan AS, secara keseluruhan tampilannya lebih condong ke model AS—mirip versi skala kecil dari kelas Essex SCB-27C yang dimodernisasi atau kelas Forrestal.

USS Ticonderoga pada tahun 1971, setelah peningkatan SBC-27C. Secara keseluruhan tampilan kelas Clemenceau lebih condong ke model AS—mirip versi skala kecil dari kelas Essex SCB-27C yang dimodernisasi atau kelas Forrestal.. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/us/essex-class.php#google_vignette)

Karakteristik Umum

Sejak awal, kelas ini dirancang mengusung konfigurasi kapal induk CATOBAR konvensional. Berbobot standar 22.000 ton (atau menurut sumber spesifikasi Foch lainnya tercatat 24.200 ton hingga 30.884 ton standar) dan muatan penuh (displacement full load) mencapai 32.780 ton hingga 33.673 ton—ukuran yang mana merupakan hasil pembesaran dari konsep awal desainnya—sehingga ukurannya sekitar setengah dari kelas Forrestal. Panjang keseluruhannya 265 meter (869 kaki 5 inci) – 266 meter di tingkat geladak penerbangan, lebar (beam/breadth) 51,2 meter (168 kaki), dan draft mencapai 8,6 meter (28 kaki 3 inci). Desain geladaknya memadukan geladak penerbangan memanjang dan area pendaratan miring. Selain itu, bagian island superstruktur diposisikan di sisi kanan (starboard), yang mana merupakan penempatan khas untuk desain jenis kapal induk ini. Kapal ini memiliki batas stabilitas tertentu pada desain awal yang memerlukan penambahan benjolan (bulge) pada lambung kapal untuk meningkatkan stabilitas. Kapal ini dirancang untuk menampung awak yang besar; di mana terdapat sumber mencatat kapal menampung 1.920 personel termasuk awak kapal (ship company), grup udara (airgroup), dan pasukan. Secara rinci awak Kapal terdiri dari 80 perwira, 500 bintara, dan 800 tamtama (total awak kapal induk 1.338 personel, atau 984 personel jika beroperasi sebagai kapal induk helikopter). Di samping itu, sumber spesifikasi lainnya mencatat pembagian total awak kapal sebanyak 1.340 personel untuk kapal dan 580 personel untuk Wing udara (kru penerbangan). Kapal beridentifikasi R98 ini menggunakan Brest sebagai pelabuhan induknya (home port).

Desain Kelas Clemenceau: 1 : Meriam kaliber 100 mm; 2 : Radar kendali senjata tipe DRBC-31; 3 : Lift pesawat; 4 : Derek kapasitas 15 ton; 5 : Radar pemandu pendaratan pesawat tipe NRBA-50; 6 : Radar ketinggian tipe DRBI-10; 7 : Cerobong asap; 8 : Radar jarak dekat tipe DRBV-20; 9 : Antena TACAN; 10 : Radar gabungan ketinggian rendah dan permukaan-ke-udara tipe DRBV-50; 11 : Radar jarak dekat tipe DRBV-23; 12 : Radar ketinggian tipe DRBI-10; 13 : Radar kendali senjata tipe DRBC-31. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Clemenceau-class_aircraft_carrier)

Sistem Pendorong

Sistem pendorong kelas Clemenceau menggunakan konsep klasik yang menghasilkan daya menuju poros kembar di bagian buritan. Konfigurasinya menggunakan dua set mesin turbin uap Parsons (4 × turbin uap) yang dihubungkan ke enam boiler Indret yang menyediakan pembangkit uap untuk turbin propulsi utama. Daya terpasang ini menghasilkan output yang mencapai 63.000 shp per poros—angka yang sangat luar biasa untuk kapal seukurannya dan hanya dilampaui oleh supercarrier AS. Spesifikasi pendorong setelah overhaul 1978–1980 mencakup penggunaan 4 poros baling-baling dan 4 turbin uap (meskipun secara desain awal beberapa data teknis mencatat penggeraknya digolongkan dalam 2 poros baling-baling yang dipasang pada dua baling-baling melalui dua poros). Selain itu, digunakan 6 tabung minyak bertekanan sangat tinggi yang menghasilkan total daya terpasang sebesar 126.000 shp (94.000 kW / 94 MW). Kecepatan Maksimumnya mencakup 30 knot hingga lebih dari 32 knot (59 km/jam) dan mampu mencapai 32,5–33 knot saat uji coba. Jangkauan (jarak jelajah) kapal mencapai lebih dari 7.500 mil laut (13.900 km / nm) pada kecepatan 18 knot (33 km/jam), atau 3.500 mil laut pada kecepatan 32 knot. Daya listrik di atas kapal dihasilkan dan ditunjang pula oleh 2 mesin turbo alternator (berkekuatan 2.000 kW) serta 6 generator diesel / unit pembangkit diesel cadangan (2.000 kW).

Panel kendali mesin Kelas Clemenceau. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Perlindungan Lapis Baja

Perlindungan pasif kelas Clemenceau terdiri dari pelindung baja klasik yang dirancang untuk memperkuat daya tahan kapal. Geladak Penerbangannya memiliki Lapisan baja penuh setebal 45 mm (2 inci). Bagian Kotak Pelindung Ruang Mesin menggunakan baja ketebalan 50 mm (2,5 inci). Sementara itu, Pelindung Ruang Amunisi dilapisi baja setebal 30 mm (1 inci). Terakhir, area Citadel yang mencakup Sisi, sekat, dan geladak hanggar dilindungi oleh pelat yang diperkuat setebal 51 mm (2 inci).

Detail sponson buritan.FS Clemenceau. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

PERSENJATAAN DAN SISTEM SENSOR

Keluarga kapal induk ini menampilkan persenjataan pertahanan konvensional yang memadai dan didukung oleh sistem pertahanan titik (point-defense) serta perangkat radar dan sensor elektronik untuk melindungi diri dari ancaman udara/permukaan, berikut adalah detailnya:

Persenjataan

kapal induk kelas Clemenceau dirancang terutama untuk mempertahankan kapal dari ancaman udara dan permukaan melalui kombinasi meriam kaliber menengah, sistem rudal pertahanan titik (point-defence missile system), serta senapan mesin berat untuk perlindungan jarak dekat. Pada konfigurasi awal, kapal dipersenjatai delapan meriam angkatan laut GIAT kaliber 100 mm/55 Modèle 1953 (Modèle 64) yang dipasang dalam empat kubah kembar (twin turrets) pada sponson di sisi kiri dan kanan kapal, masing-masing dua di bagian haluan dan dua di bagian buritan. Penempatan tersebut memberikan sektor tembakan yang luas tanpa mengganggu operasi penerbangan di dek. Meriam otomatis kaliber 100 mm ini mampu menembakkan hingga 78 peluru per menit per laras dengan kecepatan luncur sekitar 870 m/detik, serta memiliki jangkauan efektif terhadap sasaran permukaan sekitar 17 km dan jangkauan tembak antiudara hingga sekitar 12 km, sehingga efektif digunakan untuk menghadapi pesawat, rudal anti-kapal, maupun sasaran permukaan berukuran kecil. Sistem pengendalian tembaknya terintegrasi dengan radar DRBC-32A/32C, yang meningkatkan akurasi penembakan terhadap sasaran bergerak.

Meriam GIAT kaliber 100 mm/55 Modèle 1953 (Modèle 64) yang dipasang pada kapal induk Foch. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Seiring berkembangnya ancaman rudal anti-kapal pada dekade 1980-an, konfigurasi persenjataan kapal mengalami modernisasi. Antara 1 September 1985 hingga 31 Agustus 1987, empat kubah meriam 100 mm dilepas dan digantikan oleh dua sistem rudal permukaan-ke-udara (Surface-to-Air Missile/SAM) SACP Crotale EDIR (Écartométrie Différentielle Infrarouge). Modernisasi ini meningkatkan kemampuan pertahanan titik (point defence) kapal terhadap pesawat tempur, helikopter, dan rudal anti-kapal yang terbang rendah (sea-skimming missiles). Setiap peluncur Crotale membawa delapan rudal siap luncur dalam tabung kedap air, sementara 18 rudal cadangan disimpan pada magazine di bawah dek sehingga keseluruhan sistem kapal membawa sekitar 52 rudal. Rudal Crotale R440 memiliki jangkauan intersepsi sekitar 8–11 km, mampu menyerang sasaran hingga ketinggian sekitar 5–6 km, dengan kecepatan lebih dari Mach 2,3. Sistem ini bekerja secara terpadu dengan radar pencarian DRBV-15 Sea Tiger, radar penjejakan DRBV-51B/C, serta sistem kendali tembak terpusat, sehingga memungkinkan deteksi, penjejakan, dan penghancuran sasaran dalam waktu singkat.

Sistem rudal permukaan-ke-udara Crotale. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Sebagai lapisan pertahanan terakhir (last-ditch defence), sejak dekade 1980-an kapal juga dipersenjatai lima senapan mesin berat Browning M2HB kaliber 12,7 mm yang ditempatkan pada beberapa titik strategis di dek penerbangan. Senjata ini memiliki laju tembak siklik sekitar 450–600 peluru per menit, dengan jangkauan efektif sekitar 1.800 meter terhadap sasaran permukaandan hingga 1.000 meter terhadap sasaran udara, sehingga berfungsi untuk menghadapi ancaman asimetris seperti kapal cepat, perahu kecil, maupun sasaran udara yang berada sangat dekat dengan kapal.

Sistem rudal Mistral diatas kapal perang. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Pada modernisasi terakhir menjelang pengalihan Foch kepada Angkatan Laut Brasil pada tahun 1997–2000, kemampuan pertahanan udara kembali ditingkatkan melalui pemasangan Système d’Autodéfense Rapprochée Antiaérienne Léger (SADRAL)yang menggunakan rudal Mistral SATCP (Sol-Air Très Courte Portée). Konfigurasi tersebut terdiri atas dua peluncur SADRAL, masing-masing membawa enam rudal siap luncur, serta didukung empat peluncur ganda SIMBAD untuk rudal Mistral. Rudal Mistral memiliki jangkauan efektif sekitar 6 km, mampu mencapai ketinggian intersepsi hingga 3 km, dan melesat dengan kecepatan sekitar Mach 2,7. Dengan pemandu inframerah pasif (passive infrared homing), sistem ini dirancang untuk menghancurkan pesawat, helikopter, maupun rudal anti-kapal pada fase terminal, sekaligus melengkapi sistem Crotale dalam membentuk pertahanan udara berlapis (layered air defence) di sekitar kapal induk.

Elektronik & Sensor:

Sistem sensor pada kapal induk kelas Clemenceau dirancang untuk memberikan kemampuan pengawasan udara, permukaan, navigasi, pengendalian tembakan, peperangan bawah air, serta peperangan elektronik secara terpadu. Sebagai lapisan deteksi utama, kapal dilengkapi radar pencari udara DRBV-20C yang mampu mendeteksi sasaran udara hingga sekitar 150 mil laut (±278 km) pada kondisi ideal, sehingga berfungsi sebagai radar peringatan dini terhadap ancaman udara jarak jauh. Kemampuan tersebut dilengkapi oleh radar DRBV-23B, yang berperan sebagai radar pencari sekaligus penunjuk sasaran (target designation radar) dengan jangkauan deteksi sekitar 110 mil laut (±204 km). Untuk mendeteksi sasaran permukaan maupun sasaran udara yang terbang rendah, kapal pada awalnya menggunakan radar DRBV-50, yang kemudian digantikan oleh DRBV-15 Sea Tiger selama program modernisasi. Radar pengganti ini memiliki kemampuan mendeteksi sasaran hingga sekitar 110 km, sekaligus meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap ancaman rudal anti-kapal yang terbang rendah (sea-skimming missiles). Dalam mendukung operasi penerbangan di kapal induk, radar pendekatan NRBA-50 bekerja bersama sistem Carrier Controlled Approach (CCA) untuk memberikan panduan selama proses pendekatan dan pendaratan pesawat di dek kapal, meskipun jangkauan operasional resminya tidak dipublikasikan.

Radar pencari udara DRBV-20C. (Sumber: https://www.radartutorial.eu/19.kartei/11.ancient5/pic/img115-039-01s.jpg)

Untuk mendukung sistem persenjataan, kelas Clemenceau mengoperasikan dua radar tiga dimensi (3D) DRBI-10 yang berfungsi sebagai height-finder sekaligus radar pengawasan udara. Kedua radar ini mampu mendeteksi pesawat pada ketinggian sekitar 21.000 meter hingga jarak 80 mil laut (±148 km) dan menyediakan informasi posisi tiga dimensi bagi pusat informasi tempur. Data tersebut kemudian diteruskan kepada dua radar pengendali tembakan DRBC-32A atau DRBC-32C, yang menggantikan radar DRBC-31C/31D pada konfigurasi awal. Radar DRBC tidak berfungsi sebagai radar pencarian, melainkan sebagai radar penjejakan presisi untuk memberikan solusi penembakan bagi meriam maupun rudal pertahanan udara. Selain itu, kapal juga dilengkapi radar navigasi DRBN-34 yang digunakan untuk navigasi dan pengawasan permukaan selama pelayaran, walaupun spesifikasi jangkauan deteksinya tidak pernah dipublikasikan secara resmi.

Radar pengendali tembakan DRBC-32. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Commandant_Blaison_DRBC_32e_radar_2.JPG)

Kemampuan deteksi bawah air pada awalnya didukung oleh sonar lambung tetap SQS-503, yang digunakan untuk mendeteksi kapal selam di sekitar gugus tempur. Namun, perangkat ini dilepas pada program modernisasi sekitar tahun 1980 karena peran peperangan anti-kapal selam semakin banyak dialihkan kepada pesawat Breguet Alizé dan helikopter organik yang memiliki jangkauan deteksi lebih luas. Di bidang peperangan elektronik, kapal dibekali ARBR-16 sebagai Radar Warning Receiver (RWR) untuk mendeteksi pancaran radar lawan, ARBX-10 sebagai sistem Electronic Support Measures (ESM) untuk intersepsi dan analisis emisi elektromagnetik, serta dua peluncur umpan Syllexyang kemudian digantikan oleh Sagaie untuk mengacaukan sistem pemandu rudal musuh. Seluruh data dari radar, sonar, dan sistem peperangan elektronik tersebut diintegrasikan melalui Combat Direction System SENIT-1, yang kemudian ditingkatkan menjadi SENIT-2 pada masa modernisasi, serta didukung oleh sistem komunikasi satelit Syracusedan FleetSatCom. Integrasi ini memungkinkan kapal membangun gambaran taktis secara real-time, mendistribusikan data sasaran kepada sistem persenjataan, serta mengoordinasikan operasi udara dan pertahanan gugus tempur secara lebih efektif.

Fasilitas Penerbangan & Unit Udara (Air Group)

Area pendaratan bersudut memiliki panjang 165,5 meter (543 kaki) dan lebar 29,5 meter (97 kaki) dengan lintasan bersudut miring 8 derajat dari poros utama kapal. Geladak penerbangan utama memiliki total area sepanjang 265 m – 266 m. Elevator pesawat depan terletak di sebelah kanan (starboard), sementara elevator pesawat belakang diposisikan di tepi geladak bagian belakang (deck edge) untuk menghemat ruang hanggar. Kapal dilengkapi dua ketapel uap BS-5 sepanjang 52 meter (satu terletak di depan dek / di haluan sebelah kiri/port, dan satu lagi bersudut di area depan geladak pendaratan miring). Ketapel ini dapat meluncurkan pesawat seberat antara 15 ton hingga 20 ton dengan kecepatan hingga 110 knot. Hanggar internal memiliki luas 3.648 meter persegi yang berukuran panjang 180 m (atau rincian: 152 m × 22 m di depan / hingga 24 m di belakang) dengan tinggi ruang 7 meter, beserta dua lift (elevator) berkapasitas mengangkat pesawat 15 ton dalam sembilan detik. Kapal mampu membawa ruang untuk menyimpan 1.800 meter kubik hingga 3.000 meter kubik bahan bakar jet, 400 meter kubik bensin penerbangan (avgas), serta 1.300 ton hingga 3.000 meter kubik amunisi untuk unit penerbangan.

Tampilan geladak penerbangan bersudut pada kapal induk kelas Clemenceau. (Sumber: https://www.seaforces.org/marint/French-Navy/Aircraft-Carrier/R-98-FS-Clemenceau.htm)
Konfigurasi dek kelas Clemenceau tahun 1990. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)
Pesawat tempur SE.20 Aquilon 202/203 yang melengkapi kelas Clemenceau diawal penugasannya. (Sumber: https://www.airway.com.br/wp-content/uploads/2020/11/aquilon3.jpg)

Mengenai Komposisi Pesawat, kelompok sayap udara yang terdiri dari berbagai macam jenis pesawat ditempatkan di dalam hanggar internal dan dibawa ke atas menggunakan lift. Kapal ini mampu membawa hingga 37 pesawat sayap tetap (fixed-wing aircraft) dan dua helikopter (hingga total sekitar 40 pesawat dari berbagai jenis—yang selalu berevolusi dan berubah mengikuti perkembangan dekade masa dinas penugasannya). Pada era awal penugasan di 1950-an–1960-an, armada sayap udara kapal ini mengangkut 40 pesawat yang terdiri dari pesawat pencegat bermesin jet SE.20 Aquilon 202/203 (varian buatan Prancis dari de Havilland Sea Venom milik Inggris), pesawat latih bersenjata Fouga Magister milik Prancis, pesawat tempur Étendard IVM/P, dan pesawat Anti-Kapal Selam (ASW) Br.1050 Alizé. Pada tahun 1967 komposisinya berubah menjadi 6 × F-8E(FN) Crusader, 18 × Étendard IVM, dan 8 × Alizé. Memasuki tahun 1977, kapal membawa 10 × F-8E(FN) Crusader, 16 × Étendard IVM, 4 × Étendard IVP (sebagian besar merupakan varian Pengintai), 6 × Alizé, 2 × helikopter Super Frelon, dan 2 × Alouette II.

Vought F-8E(FN) Crusader, pesawat pemburu andalan kelas Clemenceau. (Sumber: https://www.seaforces.org/marint/French-Navy/AVIATION/F-8E-FN-Crusader.htm)
Pesawat serang Super-Etendard diatas FS Clemenceau dalam operasi tahun 1980-an. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)
Pesawat anti kapal selam Breguet Br.1050 Alizé. (Sumber: https://www.key.aero/article/breguet-alize-multirole-maritime-turboprop)

Pada tahun 1983, seiring banyaknya pesawat yang dipensiunkan dari dinasnya, susunan diubah menjadi 15 × Dassault-Breguet Super Étendard yang menjadi andalan sayap udara (pesawat serang) baru, 4 × Étendard IVP (pesawat pengintai), 8 × jet tempur Vought F-8E(FN) Crusader yang diakuisisi dari Amerika Serikat, 8 × pesawat Breguet Br.1050 Alizé (pesawat anti-kapal selam), 2 × Aerospatiale AS365 Dauphin Pedro (helikopter utilitas), dan 2 × SA321 Super Frelon. Khusus untuk armada Étendard, banyak tipe Etendard IV lama yang sudah dipensiunkan sebelum era ini. Super Etendard M versi modernnya juga tercatat tidak dilengkapi senjata nuklir bawaan awalmaupun persenjataan konvensional berat reguler lainnya. Oleh karenanya, pesawat Etendard IV dioperasikan bersamaan dengan kombinasinya, baik itu Etendard biasa atau modifikasinya (seperti Super Etendard M yang terus ditingkatkan kapabilitas senjatanya). Pada era 1990-an saat Perang Teluk, komposisi utamanya terdiri atas 10 × F-8E(FN), 16 × Super Étendard, 3 × Étendard IVP, 7 × Alizé, dan 2 × Alouette III. Secara keseluruhan, selain pesawat sayap tetap, sayap udara kapal ini juga terus diisi oleh helikopter, mulai dari jenis helikopter utilitas Aerospatiale SA-330 Puma, SA-341/342 Gazelle, AS365 Dauphin, SA321 Super Frelon, hingga Helikopter Anti-Kapal Selam (ASW). Mengenai pesawat ASW Alize, jenis ini dilaporkan hanya berdinas reguler di kelas kapal Clemenceau hingga pertengahan era 1990-an, sebelum selanjutnya bertugas singkat pada dekade 2000-an awal untuk beroperasi di atas kapal Charles de Gaulle (CDG). Nantinya saat kapal beroperasi bersama Brasil, kapal ini juga dapat mengoperasikan pesawat Super Etendard dan S-2T Turbo Tracker milik Angkatan Laut, termasuk membawa A-4KU Skyhawk, helikopter AS 532 SC Cougar, helikopter SH-3A / B Sea King, dan helikopter angkut Eurocopter AS350 Ecureuil.

A-4KU Skyhawk berada diatas geladak kapal induk Sao Paulo. (Sumber: https://www.naval-technology.com/projects/clemencauclassaircra/?cf-view)

PA 58 (Kelas Verdun): Rencana Kapal Induk Nuklir yang Batal

Segera setelah kelas Clemenceau disetujui, Staf Angkatan Laut Prancis merencanakan kelas kapal berikutnya yang jauh lebih besar untuk mengoperasikan jet tempur pembawa senjata nuklir. Proyek tersebut (PA-58 Verdun) sebenarnya dimulai sebagai usulan untuk kapal induk ketiga dari Kelas Clemenceau (Clemenceau No. 3), atau dikenal dengan rencana kelas “Clemenceau yang Ditingkatkan” (Improved Clemenceau). Ide ini dilaporkan dibahas pada Mei 1956, ketika pembuatan Clemenceau baru saja dianggarkan dan dana yang cukup belum disetujui untuk kapal kedua (yang mana akhirnya akan menjadi Foch / PA-55). Meskipun spesifikasi awal untuk kapal PA-58 Verdun ini tidak dijelaskan secara rinci, proyek tersebut pada awalnya dibayangkan setidaknya akan dirancang sedikit lebih besar dan mungkin menggunakan penyempurnaan dimensi model dari ukuran Clemenceau dan Foch yang berbobot 32.800 ton muatan penuh (yang di mana desain aslinya mungkin merombak ukuran agar sedikit lebih lebar/panjang, atau memindahkan posisi elevator/lift belakang ke lokasi lain agar tidak memotong landasan pendaratan miring). Di tahun 1956 tersebut, sebuah rancangan kapal induk berbobot 35.000 ton merupakan target bagi kelas Clemenceau ketiga untuk bisa beroperasi (menampung sayap udara) sekitar tahun 1960.

Desain rancangan PA 58 (kelas Verdun). (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Namun di luar rencana awal, Angkatan Laut kemudian menuntut platform yang dapat mengoperasikan pembom strategis bermesin ganda kelas 20.000 kg dan pesawat tempur segala cuaca kelas 15.000 kg. Hal ini pada akhirnya menuntut kapal dengan ukuran lebih besar dari yang bisa disediakan kelas Clemenceau, sehingga proyek PA-58 ini akhirnya berkembang membesar hingga bobot sekitar 45.000 ton dengan panjang 286 meter. Meskipun dirancang untuk serangan nuklir, teknologi reaktor nuklir Prancis saat itu belum siap, sehingga diputuskan menggunakan turbin uap 4 poros berdaya 200.000 shp (kecepatan 33 knot). Sayap udaranya direncanakan membawa varian angkatan laut dari pembom nuklir Mirage IVM (berbobot 20 ton) bersama gabungan pesawat Alizé dan Étendard (total 50 pesawat). Karena keterbatasan anggaran dan penundaan, program ini dibatalkan pada tahun 1961. Sebagai gantinya, kemampuan serangan nuklir diintegrasikan ke kapal kelas Clemenceau dan Foch melalui bom nuklir taktis AN52 pada modifikasi tahun 1978 dan kemudian rudal jelajah Air-Sol Moyenne Portée (ASMP) berkapabilitas nuklir yang dimodifikasi pada 1993 untuk diusung oleh pesawat Super Étendard.

Riwayat Modernisasi & Perombakan

Pemandangan dek penerbangan bagian depan kapal São Paulo pada tahun 2003. Terlihat empat pesawat tempur McDonnell Douglas AF-1 Skyhawk dan sebuah pesawat Grumman S-2T Tracker milik Angkatan Laut Argentina. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Brazilian_aircraft_carrier_S%C3%A3o_Paulo)

CATATAN OPERASIONAL

FS Clemenceau (R98)

Mulai dibangun pada bulan November hingga Desember 1955 di galangan Arsenal de Brest, Brittany, kapal induk FS Clemenceau (R98) secara resmi diluncurkan pada tanggal 21 Desember 1957 dan mulai bertugas pada 22 November 1961. Sepanjang 36 tahun masa dinas aktifnya yang gemilang, kapal ini telah menjelajahi seluruh samudra dan lautan di dunia dengan total jarak pelayaran mencapai lebih dari 1.000.000 mil laut (1.900.000 km), yang setara dengan mengelilingi bola bumi sebanyak 48 kali. Pengabdian panjangnya ini dibuktikan melalui catatan 3.125 hari waktu tempuh di laut—mencapai 80.000 jam operasional secara fungsional—serta berhasil melaksanakan tidak kurang dari 70.000 peluncuran pesawat menggunakan ketapelnya.

Kapal induk FS Clemenceau (R98), yang mulai bertugas pada 22 November 1961. (Sumber: https://www.seaforces.org/marint/French-Navy/Aircraft-Carrier/R-98-FS-Clemenceau.htm)

Memulai kiprahnya pada awal dekade 60-an, tepatnya dari 12 Januari hingga 5 Februari 1962, Clemenceau berpartisipasi dalam latihan gabungan NATO bersandi BigGame bersama Armada Keenam Amerika Serikat di wilayah Mediterania Barat, di mana kapal ini menjalankan perannya sebagai kapal induk anti-kapal selam. Misi latihan ini langsung disusul dengan partisipasi dalam operasi NATO bertajuk OTAN Dawn Breeze VII di perairan zona Gibraltar dari 9 Maret hingga 2 April pada tahun yang sama. Enam tahun berselang, pada Januari 1968, kapal ini memimpin operasi pencarian penting di perairan Mediterania, merespons hilangnya kapal selam Minerve setelah komunikasi terputus sekitar 25 mil laut (46 km; 29 mil) dari Pelabuhan Toulon. Meskipun selama berpuluh tahun pencarian kapal selam tersebut dianggap buntu tanpa meninggalkan jejak, misteri itu akhirnya terpecahkan ketika Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengonfirmasi penemuan bangkai kapal Minerve pada 22 Juli 2019. Masih pada rentang tahun 1968 yang sama, kapal induk ini mendapat tugas krusial dari pemerintah untuk dikerahkan jauh ke Pasifik Selatan dalam mendukung uji coba senjata nuklir Prancis di wilayah Polinesia, termasuk peledakan bom hidrogen perdana Prancis dalam uji coba bertajuk Canopus. Melalui pengerahan kekuatan laut masif yang tergabung dalam Operasi Force Alfa, Clemenceau ditunjuk menjadi kapal flagship bagi konvoi gugus tugas berisi empat puluh kapal, kekuatan yang mempresentasikan lebih dari 40 persen total tonase gabungan armada Angkatan Laut Prancis di masa itu.

Clemenceau, tampak dari atas, pada tahun 1981. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Memasuki paruh kedua dekade 1970-an, dari tahun 1974 hingga 1977, kapal ini menjalani pengerahan dalam Operasi Saphir I dan Saphir II di Samudra Hindia, meronda lepas pantai Afrika dengan tujuan memberikan sokongan armada mengawal negara Republik Djibouti yang baru memperoleh kemerdekaan. Situasi memanas yang dipicu oleh Perang Saudara Lebanon lalu memaksa Clemenceau dikerahkan menuju Mediterania Timur sepanjang tahun 1983 hingga 1984. Dalam pergelaran utamanya di bawah nama Operasi Olifant di lepas pantai Lebanon, kapal ini bertugas memberikan sokongan perlindungan udara secara berkesinambungan bagi kontingen pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) dan Pasukan Multinasional di Lebanon (FSMB), menjalani giliran (rotasi) penugasan secara bergantian dengan kapal saudaranya, Foch. Tahun 1983 juga menandai pencapaian bersejarah bagi kesetaraan gender di militer Prancis, di mana Clemenceau mencatatkan rekor sebagai kapal militer dari Angkatan Laut Prancis yang pertama kali menugaskan tiga personel perempuan di atas kapal tempur: satu maître principal (bintara tinggi), satu secrétaire militaire (sekretaris militer), dan satu premier maître (bintara utama). Terkait hal unik lainnya, selaras dengan pelestarian tradisi yang dipegang Angkatan Laut, kapal ini secara reguler menyambut kedatangan para seniman lukis fine art yang diundang menetap dan berkarya di atas geladaknya dengan rentang masa menetap dari seminggu hingga dua bulan lamanya. (Untuk referensi pembuatan set diorama atau modeling/modelling kit, dekade 1980-an sering direkomendasikan sebagai era favorit merakit yang bagus untuk kapal ini karena keberagaman formasi sayap udaranya).

Helikopter Aerospatiale SA-330 Puma di atas kapal FS Clemenceau (R 98) selama Operasi Desert Shield. (Sumber: https://www.seaforces.org/marint/French-Navy/Aircraft-Carrier/R-98-FS-Clemenceau.htm)

Pada tahun 1987 dan 1988, tensi global di kawasan Timur Tengah yang meninggi akibat Perang Iran-Irak mendorong pengerahan kapal ini pada Operasi Prométhée di Teluk Oman. Ia diintegrasikan ke dalam satuan tempur Promethée (Gugus Tugas 623), bergabung dalam deretan armada yang melibatkan kapal pendukung antipengranjauan Loire beserta kapal-kapal tanker logistik kelas Durance seperti Meuse, Var, dan Marne. Memasuki periode 1990-an di tengah kemelut konflik antara Irak dan Kuwait yang berbuntut pada pecahnya Perang Teluk, kapal ini mengampu peranan logistik kunci di bawah mandat Operasi Salamandre melintasi perairan Laut Merah dan Laut Arab. Dikawal oleh kapal penjelajah Colbert dan kapal tanker Var, kapal induk ini dialihfungsikan untuk mengangkut kebutuhan operasional berupa truk-truk pasukan darat serta 40 helikopter militer (terdiri dari varian SA-341F/-342 Gazelle dan SA-330 Puma) ditambah dukungan udara tiga unit pesawat Br-1050 Alizé langsung ke garis depan Irak dan Teluk Persia selama berlangsungnya Operasi Desert Shield dan Desert Storm. Pada masa ini, edisi perayaan (tahun 1994) pada peringatan ke-50 tahun invasi Pendaratan D-Day juga menampilkan rupa armada pesawat beraliran garis-garis invasi (invasion stripes) berjejer di atas kapal ‘Clem‘ yang sering menjadi keunikan tersendiri. Mendekati akhir masa kedinasannya pada rentang tahun 1993 hingga 1996, Clemenceau kembali mencatat riwayat tempurnya melalui sejumlah dinas operasional di wilayah bekas Yugoslavia, mendukung operasi tempur berserta misi patroli udara mengawal pasukan tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam penugasan Operasi Balbuzard dan penugasa berkelanjutan melalui operasi Salamandre saat Perang Yugoslavia di kawasan perairan Adriatik.

Kapal induk Clemenceau di Brest, tahun 2008, sebelum dipindahkan ke Inggris untuk dibesituakan. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Kariernya berakhir saat secara resmi dipensiunkan atau didekomisikan dari Angkatan Laut Prancis pada tanggal 1 Oktober 1997. Proses disposal atau pembongkarannya berjalan dramatis kala armada yang telah usang tersebut meninggalkan Toulon pada 31 Desember 2005 menuju Alang, India. Rencana peremukan besi tuanya seketika mengundang kritik dan reaksi protes mancanegara karena pembuangannya yang dipandang menyalahi aturan menyusul dugaan kurangnya ketersediaan manajemen fasilitas pengolahan racun asbes di wilayah tersebut. Rentetan polemik ini berujung pada Mahkamah Agung India yang pada 6 Januari 2006 sementara memboikot dan melarang berlabuhnya kapal itu di Pantai Alang. Berlanjut setelah sempat diduduki pegiat peduli lingkungan, ditahan kepolisian Mesir, serta pelayarannya yang telah melalui Terusan Suez per 15 Januari, kejelasan lalu didapat melalui hasil pengadilan tata usaha negara dari dewan tertinggi Conseil d’État Prancis yang menyuruh armada ditarik mundur ke wilayah maritim Prancis. Pada akhirnya, perizinan pengelolaan bongkar ranjau bertaraf standar yang telah diakui secara sah dialihkan ke Inggris kepada perusahaan pembongkaran bernama Able UK yang bertempat di pelataran galangan kapal Graythorp dekat area Hartlepool. Eksekusi pemotongan fisik kapal perdana berjalan mulai tanggal 18 November 2009 dan pembongkarannya beserta daur ulang material seutuhnya dituntaskan jelang penghujung kalender 2010. (Sebagai catatan di tahun 1985 silam deck geladak Clemenceau sempat bertindak sebagai set tempat sirkuit laga bagi pembuatan sebuah adegan promosi berdurasi pendek bagi televisi menampilkan kendaraan roda empat merek Citroën seri Visa GTI yang beradu kecepatan dengan salah satu unit jet buru sergap jagoannya yakni Dassault Étendard IV, yang berakhir dengan adegan mobil jatuh terlontar melewati tepi runway hingga akhirnya diperlihatkan timbul menyembul di ujung landasan kapal bawah laut kelas Agosta).

FS Foch (R99) / NAe São Paulo (A12)

FS Foch Resmi bertugas pada 15 Juli 1963 (selama 37 tahun pengabdiannya di Angkatan Laut Prancis, Foch terlibat dalam berbagai misi operasional penting di seluruh dunia). Pada kurun tahun 1966, kapal ini berpartisipasi bersama Pasukan Alfa (Force Alfa) dalam mendukung kampanye eksperimen nuklir pertama Prancis (Uji Coba Nuklir Pasifik) di kawasan Pasifik Selatan. Berlanjut pada 1977–1978, kapal ini kembali Bertugas di Laut Merah dalam Operasi Saphir II untuk mengawal proses kemerdekaan Djibouti. Pada rentang 1980–1981, Foch menjalani studi dan sertifikasi platform geladak untuk peluncuran pesawat pengangkut rudal AM-39 Exocet dan uji coba senjata bom nuklir taktis AN52 (berkekuatan 15 kiloton). Ia kemudian terlibat dalam Operasi Olifant di Mediterania Timur (Lebanon) pada periode 1983–1984. Dikerahkan secara bergantian dengan Clemenceau, kapal ini bertugas memberikan dukungan udara bagi pasukan penjaga perdamaian PBB dan Pasukan Multinasional di Lebanon. Pada tahun 1984, ia melakoni Operasi Mirmillon di lepas pantai Libya saat krisis Teluk Sidra. Sepanjang tahun 1993–1999, kapal ini rutin dikerahkan dan berpartisipasi dalam Operasi Balbuzard, Salamandre, dan Trident di Laut Adriatik untuk mendampingi misi PBB dan NATO (termasuk mengawal pasukan UNPROFOR, SFOR, dan KFOR) selama masa Perang Yugoslavia & Konflik Kosovo. Pada tahun 1999, pesawat Super Étendard yang diusungnya tercatat melakukan serangan udara melintasi Serbia sebagai bagian dari Operasi Allied Force NATO. Sebelum dinonaktifkan, Foch sempat melakukan Pelayaran Perpisahan pada tahun 2000 dengan memimpin Gugus Tugas 473 (Task Force 473) dalam pelayaran mengelilingi dunia selama empat bulan.

Pesawat F-14 Tomcat dari USS JF Kennedy berada di atas FS Foch saat latihan gabungan pada tahun 1990. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Ada catatan khusus terkait sejarah dan publisitas dari Foch. Foch pernah digunakan sebagai lokasi shooting untuk merepresentasikan kapal militer dalam film thriller kapal selam terkenal Hollywood keluaran tahun 1995, yaitu Crimson Tide, di mana peran visualnya didandani atau difungsikan sebagai kapal induk kembarannya, Clemenceau, untuk adegan siaran berita TV fiktif yang dimainkan oleh aktor di dalamnya. Penggunaan kapal Prancis ini dilakukan setelah Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dilaporkan menolak memberikan bantuan produksi pada pembuatan film tersebut.

Etendard IVM dan Super-Etendard di atas kapal FS Foch pada tahun 1983. (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Mengenai Dinas di Brasil (NAe São Paulo), pada 15 November 2000 Foch dijual/diakuisisi oleh Angkatan Laut Brasil seharga US$ 12 juta – US$ 30 juta untuk menggantikan kapal induk tua Minas Gerais dan diberi nama baru NAe São Paulo (A12). (Catatan: Pada saat diakuisisi, kapal induk bekas milik Prancis ini merupakan salah satu platform kapal tertua di dunia yang masih beroperasi). Brasil lalu menugaskannya kembali pada November 2000 dan mengoperasikannya bersama jet tempur AF-1 (A-4 Skyhawk / A-4KU Skyhawk) yang dibeli dari Kuwait dan menjadi kapal utama (flagship) andalan mereka yang baru. Namun, masa dinasnya di Brasil diwarnai kendala teknis yang berat (Foch dilaporkan dibatasi karena beberapa masalah, dan setelah banyak mengalami masalah kelaikan dinas / serviceability). Pada tahun 2005 terjadi Kebakaran besar akibat ledakan pipa uap yang menewaskan banyak anggota kru (tercatat satu awak tewas dan melukai 10 lainnya). Pada 2009–2010 kapal selesai menjalani overhaul total pada mesin pendorong dan sistem penerbangannya (selesai dari program upgrade pada 2009 dan kembali melaut pada Desember 2009), tetapi pada tahun 2012 kapal Mengalami kebakaran besar kedua. Akibatnya, dalam sepuluh tahun terakhir dari masa dinasnya tersebut, kapal induk ini dikabarkan hampir tidak ada atau tidak pernah berlayar. Karena tingginya biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan, program peremajaan kapal kemudian ditinggalkan. Akhirnya, militer Brasil mulai menghentikan penggunaannya pada Januari 2017, dan karena biaya perbaikan yang sangat tinggi pada periode 2017–2018 tersebut, setelah menghabiskan 18 tahun di militer Brasil, kapal bertenaga konvensional tersebut akhirnya secara resmi dipensiunkan atau dinonaktifkan (decommissioned) pada 15 – 22 November 2018.

Kapal induk São Paulo (A12). (Sumber: https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php)

Mengenai proses penonaktifan dan pembongkarannya, bekas kapal induk ini dilaporkan berisi sekitar 900 ton asbes / zat berbahaya. Meskipun pada saat itu (setelah pensiun) kapal dimiliki oleh Angkatan Laut Brasil, klausul kontrak aslinya (pada penjualan kapal Foch) menetapkan bahwa Perancis (sebagai pemilik asli / pertama kapal tersebut) memiliki kewenangan dan kata akhir tentang ke mana kapal tersebut dapat pergi atau dibongkar. Sama halnya seperti proses pembongkaran bekas kapal saudarinya, Clemenceau (yang dibongkar dan dihancurkan di Inggris pada tahun 2010 dengan berbagai polemik isu lingkungan), perdebatan kemudian muncul dalam memilih pabrik atau galangan kapal (pendaurulangan kapal) yang memadai untuk penanganan material beracunnya; yang mana galangan-galangan yang diizinkan untuk berpartisipasi dalam penawaran (lelang) harus disetujui terlebih dahulu oleh pihak berwenang Prancis. Memasuki bulan Januari 2020, Prancis dilaporkan mulai mempertimbangkan keputusan akhir terkait lokasi pembongkaran dengan mengevaluasi tiga tawaran pabrik (galangan kapal) – yang masing-masing berlokasi di India, Turki, dan Brasil – di mana ketiga tawaran yang sedang dipertimbangkan tersebut seluruhnya memiliki sejarah mengelola material beracun di masa lalu.

Kapal induk Sao Paulo, tahun 2013. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Brazilian_aircraft_carrier_S%C3%A3o_Paulo)

Menyikapi hal tersebut, sempat muncul inisiatif dan upaya dari publik untuk mengubah kapal perang itu menjadi museum maritim sebagai alternatif yang ramah lingkungan. Tercatat pada bulan Juni 2018, Institut Sao Paulo / Foch, yang merupakan sebuah asosiasi nirlaba (not-for-profit), dibentuk dengan tujuan untuk mencegah penghancuran kapal perang tersebut dan menawarkan untuk mengubahnya menjadi museum angkatan laut dengan menggunakan tenaga investor serta membebaskan pemerintah maupun Angkatan Laut Brasil dari biaya pengeluaran. Institut ini mengambil rujukan model acuannya dari USS Intrepid, yang merupakan salah satu dari beberapa kapal museum ikonik di Amerika Serikat. Harapannya, nasib kapal induk São Paulo tidak akan berakhir miris seperti kapal induk pendahulunya, yakni kapal induk Minas Gerais (kapal kelas Colossus yang sebelumnya bernama HMS Vengeance) yang dibongkar pada tahun 2001 di Alang, India. Institut tersebut memandang tawaran alternatif yang aman bagi lingkungan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Kapal induk São Paulo dijual ke Turki untuk dibongkar, namun dilarang memasuki negara itu. (Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRhjF9WC5zSJ13KkxljLtYOdCZS3mJfXK4Vo6bJ1eDPOQ&s=10)

Namun rencana itu urung terjadi. Pelelangan untuk memutuskan masa depan kapal berzat berbahaya tersebut sejatinya telah dimulai pada Desember 2019, namun sempat tertunda akibat badai pandemi COVID-19. Selama musim panas di tahun 2020, Prancis mengirim tanggapan resmi ke Brasil, yang menunjukkan bahwa hanya galangan kapal yang termasuk dalam daftar fasilitas daur ulang kapal yang disetujui Uni Eropa (UE) yang memenuhi syarat untuk menerima dan membesituakan kapal tersebut (menurut keterangan LSM / NGO Shipbreaking Platform). Menyusul tanggapan tersebut, Brasil meninjau ulang pilihan yang ada, dan pada awalnya hanya menemukan satu galangan kapal terdaftar di Uni Eropa yang telah menyediakan seluruh dokumentasi yang diperlukan untuk ikut berpartisipasi. (Meski kemudian setidaknya ada satu lagi galangan kapal terdaftar di UE yang dilaporkan berhasil melengkapi serta menyerahkan dokumen persyaratan yang kurang pada minggu-minggu berikutnya). Tampaknya semuanya telah siap untuk dilanjutkan ke langkah berikutnya ketika secara mengejutkan pada September 2020 pelelangan itu secara tiba-tiba ditangguhkan (tanpa diungkap penyebab pastinya ke publik), dan Angkatan Laut Brasil kembali mengambil alih kendali atas kapal induk São Paulo yang dinonaktifkan tersebut. LSM Shipbreaking Platform juga ikut mendesak Brasil dan Prancis tetap mengirim kapal tersebut ke fasilitas yang disetujui UE (Alih-alih ke pantai-pantai Asia Selatan yang bereputasi buruk dalam pengelolaan limbah beracun). Sayangnya, setelah rentetan polemik penangguhan lelang dan tarik-ulur yang pada akhirnya turut membatalkan rencana pembongkaran yang disepakati sebelumnya di galangan kapal Turki (di Aliaga), kapal malang ini akhirnya ditenggelamkan secara terkendali (scuttled) di laut oleh Angkatan Laut Brasil di lepas Samudra Atlantik pada 3 Februari 2023.

Pengguna Terakhir “Le Crouze” (F-8 Crusader)

Ketika kelas Clemenceau mulai bertugas, Prancis membutuhkan pesawat pencegat yang lebih andal daripada SE. Aquilon. Pilihan jatuh pada jet tempur buatan AS, Vought F-8 Crusader (“Le Crouze“). Prancis memesan 42 unit varian khusus F-8E(FN) yang dimodifikasi, di mana sayapnya dapat diubah sudut insidensinya untuk menurunkan kecepatan mendarat hingga 12 knot (22,2 km/jam) agar sesuai dengan geladak Clemenceau yang lebih kecil. Pesawat ini dioperasikan oleh Skadron (Flotille) 12F dan 14F. Karena penundaan proyek Dassault Rafale M, F-8 Crusader terus dimodernisasi pada akhir 1980-an menjadi standar F-8P (Prolongé) dengan kursi lontar baru, kabel, avionik modern, dan sistem penerima peringatan radar SHERLOC. Varian terakhir ini baru resmi dipensiunkan pada 15 Desember 1999 setelah bertugas lebih dari 35 tahun.

Pesawat tempur Vought F-8 Crusader milik Angkatan Laut Prancis bersiap untuk lepas landas dari kapal induk Clemenceau. (Sumber: https://www.reddit.com/r/WarplanePorn/comments/1i8t3uj/french_navy_vought_f8_crusader_fighter_preparing/)

Data Teknis & Spesifikasi Utama

Karakteristik Umum

Sistem Pendorong (Propulsion)

Persenjataan (Armament)

(4 meriam digantikan oleh 2 × sistem rudal permukaan-ke-udara / SAM SACP Crotale EDIR pada dekade 1990-an)

Fasilitas Penerbangan (Aviation)

Sistem Radar & Sensor

Diterjemahkan, ditambahkan, dan disunting kembali dari:

https://naval-encyclopedia.com/cold-war/france/clemenceau-class-aircraft-carriers.php

https://en.wikipedia.org/wiki/Clemenceau-class_aircraft_carrier

https://en.wikipedia.org/wiki/French_aircraft_carrier_Clemenceau

https://www.seaforces.org/marint/French-Navy/Aircraft-Carrier/R-98-FS-Clemenceau.htm

https://www.seaforces.org/marint/French-Navy/Aircraft-Carrier/R-98-FS-Clemenceau.htm

https://www.naval-technology.com/projects/clemencauclassaircra

https://forums.civfanatics.com/resources/clemenceau-class-aircraft-carrier.24167

https://www.militaryfactory.com/ships/ship-classes/clemenceau-class-aircraft-carriers-france.php

https://www.key.aero/forum/modern-military-aviation/naval-aviation/65493-little-info-on-the-clemenceau

https://www.navaltoday.com/2020/01/30/france-to-decide-where-to-dismantle-clemenceau-class-aircraft-carrier

https://www.secretprojects.co.uk/threads/was-there-a-proposed-%E2%80%98improved-clemenceau-class-aircraft-carrier.29327

https://www.militaryfactory.com/ships/detail.php?ship_id=fs-clemendeau-r98-aircraft-carrier-french-navy

https://en.wikipedia.org/wiki/French_aircraft_carrier_Foch

https://www.scribd.com/document/959320099/warship-2023-1472857135-9781472857132-compress?utm

Warship 2023 – Clemenceau and Foch: France’s First Modern Aircraft Carriers (John Jordan, Conway/Seaforth Publishing)

Jane’s Naval Weapon Systems (edisi 1988–1998) — spesifikasi GIAT 100 mm, Crotale Naval, dan Mistral.

MBDA – Crotale Naval dan MBDA – Mistral (spesifikasi rudal dan performa sistem).

Exit mobile version