Sejarah Militer

Kekalahan Militer Terbesar Inggris (Bagian I): Perang Kilat Jepang Di Semenanjung Malaya

“Bulan yang seperti nampan tenggelam di laut sebelah barat dan matahari berwarna merah tua menunjukkan wajahnya ke arah timur. Pelabuhan Samah, berkilauan dengan ombak berwarna emas dan perak, seindah gambar lukisan. Orang-orang di konvoi melihat ke arah haluan … ketika Angkatan Laut membentuk dua barisan ke kanan dan kiri konvoi … Ini pasti titik awal yang akan menentukan nasib bangsa kami untuk abad berikutnya. Takdir sudah ditentukan. ” Demikian tulis Kolonel Masanobu Tsuji, kepala perencana perang Angkatan Darat ke-25 Jepang, pada malam tanggal 4 Desember 1941. Dia menggambarkan serbuan mendadak konvoi yang membawa pasukan Jepang dari Pulau Hainan untuk menyerang Malaya dan menaklukkan benteng Inggris di Singapura. Singapura yang digambarkan sebagai benteng yang tak tertembus kemudian akan jatuh dalam waktu 73 hari, lebih cepat dari perkiraan Jepang yang memproyeksikan penaklukannya membutuhkan waktu 100 hari.

Pasukan bersepeda Jepang di Malaya. Kampanye militer Jepang di Malaya dan Singapura kemudian berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan oleh perencana militer Jepang. (Sumber: https://www.quora.com/)

MILITER INGGRIS BERKONFLIK MENGENAI STRATEGI PERTAHANANNYA

Meriam kaliber 15 inchi Inggris di Singapura. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Singapura dan Malaya adalah pusat dominasi bangsa Eropa di Asia Tenggara. Sejak didirikan pada tahun 1821, Singapura telah berkembang menjadi salah satu “permata yang paling bersinar” di mahkota kekaisaran Inggris. Malaya telah memproduksi 60 persen karet dunia dan 58 persen produksi timah dunia. Kota Singapura adalah pelabuhan utama dan pusat perdagangan, yang dipenuhi oleh orang-orang Melayu, Cina, India, Indonesia, dan Eropa, semuanya berusaha untuk menjadi kaya di tengah panas dan kelembapan Semenanjung Malaya yang luar biasa. Pada tahun 1941, populasi Malaya berjumlah sekitar 4,5 juta, setengah dari mereka adalah orang-orang Cina, sisanya keturunan Tamil India, yang diperintah oleh sekitar 20.000 orang Inggris melalui jaringan kompleks perjanjian dengan sultan lokal, negara federasi, dan koloni kerajaan Inggris. Ketika imperialisme Jepang menyebar ke seluruh Asia pada tahun 1920-an dan 1930-an, Singapura juga dipandang sebagai benteng pertahanan utama kepentingan Inggris di area Pasifik yang luas, termasuk mencakup wilayah Australia dan Selandia Baru. Strategi Inggris pada saat itu adalah merencanakan pengerahan armada besar ke Singapura jika terjadi krisis di wilayah itu. Rencana ini membutuhkan sebuah pangkalan angkatan laut utama, yang mulai dibangun pada tahun 1930-an. Pangkalan itu pada gilirannya membutuhkan pertahanan terhadap serangan musuh, yang menyebabkan perdebatan sengit antara Angkatan Laut Kerajaan, Angkatan Darat, dan Angkatan Udara Kerajaan mengenai manfaat pesawat torpedo dan meriam-meriam berat. Pada akhirnya, para penembak artileri menang dan pertahanan Singapura mencakup tiga meriam besar kaliber 15 inci (38,1 cm). Berlawanan dengan kepercayaan populer yang beredar selama ini, meriam-meriam tersebut bisa menembak ke arah daratan maupun ke laut. Akan tetapi, mereka kekurangan amunisi berdaya ledak tinggi untuk digunakan melawan pasukan darat yang menyerang. Persenjataan mereka adalah peluru penembus lapisan baja untuk menyerang lambung kapal perang. Selain pengerahan artileri pantai, kekuatan pertahanan di Malaya tidak menyetujui apa pun. Pihak Angkatan Darat telah berulang kali mengabaikan studi staf dan simulasi permainan perang yang menunjukkan bahwa kekuatan musuh dapat menyerbu melalui hutan Malaya dari arah utara ke selatan. Mereka sebaliknya memilih untuk mempersiapkan pertahanannya terhadap invasi lintas laut di dekat Singapura. Sementara itu, tanpa berkonsultasi dengan Angkatan Darat, Angkatan Udara Kerajaan Inggris mendirikan serangkaian lapangan udara di wilayah Malaya Utara untuk melihat apakah mereka dapat dipertahankan dari serangan darat. 

Kuala Lumpur tahun 1884. Malaya dan Singapura sebelum pecahnya Perang Dunia II menjadi wilayah penting penghasil bahan mentah bagi penguasa kolonial Inggris. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Perkebunan karet di Malaya. Karet menjadi salah satu komoditas ekspor utama bagi penguasa kolonial Inggris di Malaya. (Sumber: https://varnam.my/)
Sir William Dobbie, Jenderal Inggris yang mampu memprediksi aksi musuh dalam merebut Malaya, sayangnya laporannya diabaikan. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa pertahanan Singapura dan Malaya saling berkaitan adalah Jenderal Sir William Dobbie yang sangat religius dan berkemampuan tinggi, yang memimpin pertahanan Malaya pada akhir tahun 1930-an. Dia melaporkan ke London bahwa meskipun periode musim penghujan Oktober-Maret, pasukan musuh dapat mendarat di pelabuhan-pelabuhan Melayu Utara seperti Kota Bahru, atau pelabuhan-pelabuhan Thailand selatan seperti Singora dan Patani, dan bergerak melalui jaringan jalan yang luas menuju ke Singapura. Bagaimanapun, laporan Dobbie diabaikan, kecuali untuk pembangunan bunker-bunker pertahanan beton senilai £60.000 di pantai selatan Pulau Singapura dan Johore. Ketika pasukan Jepang menginvasi China, yang menewaskan ratusan ribu warga sipil, para pemimpin sipil dan militer Malaya mengabaikan bahaya yang terus meningkat, alih-alih memperkuat diri, mereka malah tetap sibuk memenuhi pesanan yang meningkat dari Inggris dan Amerika akan kebutuhan karet dan timah. Pada kuartal ketiga tahun 1941, Malaya mengirimkan 137.331 ton karet ke Amerika Serikat saja. Di Singapura, pengusaha dan pejabat kulit putih mengenakan gaun malam untuk makan malam, menandatangani kontrak dengan wiski dan soda di restoran ber-AC di Robinson’s Department Store, dan bermain tenis dan golf di klub mereka. London telah memerintahkan Malaya untuk mengembangkan kedinasan pertahanan sipil—seperti Layanan Sukarela Wanita dan Unit Kewaspadaan Serangan Udara—yang digunakan dengan sukses besar di Inggris, tetapi tidak ada yang menganggapnya serius, apalagi Gubernur Straits Settlements, Sir Shenton Thomas. Dia tidak akan membiarkan Angkatan Darat menggunakan tenaga kerja sipil untuk membangun perkubuan, dengan mengatakan bahwa industri membutuhkan para pekerja, bukan pihak militer. Walaupun, semuanya tampak cukup berpendidikan. Tidak ada yang menganggap Jepang serius. Semua orang percaya bahwa mereka keras kepala, tidak kompeten dalam meniru dengan penglihatan malam yang buruk dan tidak ada bakat mekanik, serta terbukti tidak mampu mengalahkan orang-orang Cina yang lebih lemah. Kenyataan bahwa Jepang mengalami kebuntuan di China, buat orang-orang Inggris lebih disebabkan oleh buruknya kualitas tentara Jepang ketimbang hebatnya perlawanan orang-orang China. Tentara Jepang digambarkan tidak dapat menembak lurus atau menerbangkan pesawat dengan benar — sebuah pandangan yang bernada rasis karena tampilan mata sipit mereka. Laporan intelijen dari perwira-perwira Inggris di Cina tentang keganasan pasukan Jepang dalam pertempuran diabaikan. Sebuah laporan tentang pesawat tempur Mitsubishi Zero Jepang yang gesit dan mematikan juga menghilang.

86.000 PRAJURIT DI BAWAH JENDERAL PERCIVAL

Di atas kertas, Pertahanan Malaya cukup tangguh. Bosnya adalah Marsekal Udara Sir Robert Brooke-Popham, seorang veteran Korps Penerbangan Kerajaan Inggris saat Perang Dunia I. Dari kantor pusatnya di Fort Canning Singapura, ia kerap mengeluarkan komunike penuh percaya diri yang tidak banyak berhubungan dengan kenyataan dan ia sendiri sering tertidur selama rapat staf. Di bawahnya terdapat komandan tertinggi Angkatan Darat, Letnan Jenderal Arthur Percival. Bergigi bergerigi, kurus, dan tidak menarik, Percival tidak membawa citra seorang jenderal yang mampu memerintah. Pasukannya suka mencibir Percival, yang bersikeras untuk berkeliling dengan helm kolonial seperti pada cerita Rudyard Kipling. Percival adalah administrator yang baik dan veteran tempur yang telah mendapatkan bintang jasa, tetapi tidak memiliki ketangguhan, kecemerlangan, dan semangat. Lahir pada tahun 1887, ia telah bergabung dengan Angkatan Darat Inggris sebagai seorang prajurit dalam Perang Dunia I pada usia 27 dan naik pangkat menjadi letnan kolonel, selamat dari horror perang parit di Prancis untuk memimpin sebuah batalion pada tahun 1918. Ia mendapatkan medali Distinguished Service Order and Bar, sebuah Military Cross, dan Croix de Guerre dari Prancis. Setelah perang, ia bertugas di Irlandia dan lulus dari Sekolah Staf, menunjukkan kemampuan luar biasa untuk pekerjaan staff, meski mendapat umpatan dari mayoritas prajurit. Dengan pecahnya Perang Dunia II, Percival mencari sebuah lowongan komando tempur dan pada bulan Maret 1941 ia diangkat sebagai Komandan Jenderal di Malaya. Percival memerintahkan kekuatan yang tergolong besar. Korps India ke-3, di bawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Lewis Macclesfield “Piggy” Heath, bertanggung jawab atas area Malaya Utara. Pasukannya terdiri dari dua divisi, yakni divisi India ke-9 dan ke-11 (kedua divisi kekuatannya kekurangan satu brigade), serta Brigade India ke-28. Di Johore, Percival memiliki Divisi Australia ke-8, yang terdiri dari dua brigade, di bawah Komando Mayor Jenderal Gordon Bennett, seorang veteran Gallipoli dan perwira milisi. Di Singapura, Percival memiliki Brigade Malaya ke-1 dan ke-2 dan cadangan komandonya, Brigade India ke-12. Pasukan Percival berjumlah sekitar 86.000 orang, yang terbagi dalam 31 batalyon, termasuk beberapa unit terkenal seperti Gurkha, Sikh, Punjab, dan 2nd Argyll serta Sutherland Highlanders.

Marsekal Udara Sir Robert Brooke-Popham. (Sumber: http://malayacommand.blogspot.com/)
Letnan Jenderal Arthur Percival, Komandan Pasukan Darat Inggris di Malaya. (Sumber: https://news.yahoo.com/)
(Kiri ke Kanan) Air Force Marshall Conway Pullford, Mayor Jenderal Arthur E. Percival, Air Chief Marshall Sir Robert Brooke-Popham dan Vice Admiral Sir Geoffrey Layton membahas manuver militer pada akhir tahun 1941. Sayangnya para komandan Inggris di Malaya kerap berselisih paham mengenai strategi untuk membendung Jepang. (Sumber: http://malayacommand.blogspot.com/)

KEKURANGAN MILITER INGGRIS DI SINGAPURA

Pada kenyataannya, itu adalah kekuatan yang hanya nampak besar diatas kertas. Sebagian besar batalyon India telah “kehilangan” perwira dan NCO berpengalaman, yang telah dikirim untuk melatih batalyon baru atau mengisi batalyon-batalyon yang babak belur di medan tempur Libya dan Afrika Timur. Seringkali perwira Inggris penggantinya tidak dapat berbicara bahasa anak buah mereka, seperti bahasa Urdu atau Hindustan. Sementara itu, para prajurit Australia hanya mendapat sedikit pelatihan, serta sangat sedikit yang pernah mengalami pengalaman tempur apa pun. Seorang perwira Australia mengamati bahwa anak buahnya seperti prajurit yang “mendaftar masuk tentara pada hari Jumat dan tiba di Singapura pada hari Senin itu juga.” Tak satu pun dari pasukan yang mempertahankan Malaya telah dilatih untuk dapat melawan tank. Banyak yang bahkan belum pernah melihatnya. Tidak ada satu tank pun di seluruh komando Pertahanan Malaya. Kumpulan selebaran tentang cara membangun dan menggunakan pertahanan antitank ada di rak-rak di Singapura dan tidak pernah sampai ke pasukan garis depan sampai krisis sebenarnya didepan mata. Pelatihan itu sendiri sulit, dan tidak realistis. Para perwira mengabaikan rawa dan hutan bakau dalam latihan dan perencanaan. Satu-satunya unit yang dilatih untuk perang hutan adalah Argylls ke-2, yang komandannya, Kolonel Ian Stewart, dianggap eksentrik oleh atasannya karena aturannya yang keras. Angkatan Udara Kerajaan juga tidak jauh lebih baik. Brooke-Popham berkata, “Kita bisa baik-baik saja dengan menerbangkan Buffalo di sini.… Biarkan Inggris memiliki Hyper-Hurricanes dan Super-Spitfires.” Sebenarnya, Brooke-Popham sedang menutupi fakta yang tidak menyenangkan bahwa Inggris tidak dapat menyisihkan pesawat tempur modern mana pun untuk dikerahkan ke Malaya karena komitmennya yang lebih besar di medan tempur Eropa dan Timur Tengah. Pertahanan udara Malaya membutuhkan 582 pesawat tempur garis depan, sementara kenyataannya hanya ada 158 pesawat yang siap terbang dan 88 lainnya sebagai cadangan, bukan 157 seperti laporan resminya. Parahnya, tidak satu pun pesawat Inggris, Australia, atau Selandia Baru di Malaya yang merupakan pesawat mutakhir. Empat skuadron tempur (No. 243 RAF, No. 21 dan 453 RAAF, dan No. 488 RNZAF) menerbangkan total pesawat tempur 60 F2A Brewster Buffalo buatan Amerika, yang lebih lambat dari Zero Jepang dan sering mengalami problem kehilangan tenaga karena penurunan tekanan minyak dan mesinnya terlalu panas. Empat skuadron, yang dilengkapi dengan 47 pembom Blenheim RAF tampaknya berguna, seperti halnya dua skuadron dari 24 pesawat patroli Hudson RAAF, tetapi 24 pembom torpedo Vickers Vildebeeste sudah ketinggalan jaman dengan kecepatannya kurang dari 90 mil per jam. Dengan kokpit terbuka dan banyak dipenuhi struktur kawat, mereka tampak seperti pesawat tua era Perang Dunia I. Selain itu sebagian besar pilot Sekutu juga baru saja menyelesaikan pelatihan penerbangan solo mereka.

Resimen Punjab sedang naik kereta untuk mempertahankan Malaya Utara. Beberapa unit militer Inggris di Malaya tidak memiliki pengalaman tempur dan telah kehilangan komandan-komandan terbaiknya. (Sumber: http://malayacommand.blogspot.com/)
Pesawat tempur Brewster Buffalo: Gemuk, lambat dan kurang mampu bermanuver. Buffalo menjadi pesawat tempur garis depan militer Inggris selama kampanye militer di Malaya melawan Jepang. (Sumber: https://www.goodfon.com/)
Pembom torpedo Vickers Vildebeest, masih menjadi andalan Inggris saat Jepang menyerang Malaya. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

Para perwira tinggi juga tidak akur. Heath lebih senior dari Percival, yang telah dipromosikan sebagai atasan Heath untuk pertahanan di Malaya. Sementara itu, Sir Shenton Thomas menganggap persiapan militer mengganggu bisnis. Kepala Sekretaris Kolonial Stanley Jones adalah seorang birokrat penghalang yang menghargai peraturan daripada tindakan. Ke dalam campuran berbagai masalah ini hadir Sir Alfred Duff-Cooper, seorang menteri kabinet yang tidak bijaksana dan agresif yang telah dikirim dari London pada bulan Desember 1941 dengan kekuasaan eksekutif untuk melayani sebagai Anggota Kabinet Residen untuk wilayah Timur Jauh. Dia mencaci-maki Brooke-Popham sebagai “orang jadul yang paling buruk” dan mengejek Thomas. Royal Navy juga tidak dalam kondisi yang lebih baik. Tiga kapal penjelajah ringan yang sudah ketinggalan zaman memimpin skuadron mereka di Singapura. Ketika perang semakin dekat, Perdana Menteri Winston Churchill memerintahkan satuan tugas yang terdiri dari dua kapal tempur dan sebuah kapal induk yang dikirim ke Singapura sebagai tindakan pencegahan dan pemacu semangat. Kapal-kapal yang dipilih adalah Prince of Wales, kapal tempur terbaru Inggris berbobot 35.000 ton, dan Repulse yang lebih tua, sebuah battlecruiser yang telah beroperasi sejak pertempuran Jutland, namun tidak pernah menembakkan senjatanya dalam pertempuran. Repulse yang berbobot 32.000 ton dibangun pada tahun 1915, dan kerap mendapat pembaharuan sehingga dijuluki sebagai HMS Repair. Kapal induk, Indomitable, yang akan dikirim, sayangnya kandas selama pengerjaan di Jamaika dan tidak pernah berhasil sampai ke Malaya, yang akan berakibat fatal bagi dua kapal utama lainnya. Kedua kapal tempur itu berlayar ke Singapura pada tanggal 1 Desember 1941, di bawah komando Laksamana Sir Tom Phillips. Kapal-kapal besar ini menarik sorakan saat mereka berlayar ke pelabuhan Singapura, sebagai simbol tradisi kekuatan Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan nampaknya tak terkalahkan

INTELIJEN JEPANG DI MALAYA

Namun, orang-orang Jepang tidak terkesan. Mereka memiliki gambaran intelijen yang sangat jelas tentang Malaya. Agen-agen Jepang tersebar di wilayah itu, bekerja sebagai dokter gigi, fotografer, nelayan, dan pedagang. Bahkan fotografer resmi Pangkalan Angkatan Laut Singapura adalah seorang mata-mata Jepang. Jepang juga membuka konsulat di Singora dan Patani yang ada di wilayah Thailand dan mengisinya dengan “atase khusus”, yang sebenarnya adalah mata-mata. Mayor Terundo Kunitake, seorang insinyur, telah ditugaskan di konsulat Jepang di Singapura. Dia menghabiskan waktunya dengan membuat survei rinci mengenai jalan, jembatan, dan sungai di Malaya, serta membuat peta yang lebih akurat daripada yang digunakan oleh pihak Inggris. Orang-orang Jepang mencatat bahwa terlepas dari pegunungan dan hutan lebat di Malaya, jaringan jalan disana cukup baik dengan jalanan yang terbuat dari beton, termasuk jalan raya utama dari Singora, yang melewati Pantai Barat menuju ke Singapura, sempurna untuk digunakan kendaraan bermotor. Mata-mata Jepang melaporkan ke Tokyo bahwa propaganda Inggris tentang Singapura yang tidak dapat ditembus hanyalah sekedar gertakan. Mata-mata Jepang juga membentuk kolumnis angkatan kelima dan membuat tulisan yang menyebabkan pasukan keturunan India tidak puas dengan Inggris. Agen Jepang turut mendanai Liga Kemerdekaan India, serta menyebarkan propaganda anti-Inggris. Namun, salah satu pria yang mereka rekrut bukanlah orang India, melainkan seorang orang Selandia Baru, Kapten Patrick Heenan, perwira penghubung Angkatan Darat Inggris dengan Angkatan Udara Kerajaan. Dilengkapi dengan satu set radio portabel di set komuni pendeta palsu, ia memberikan informasi berharga kepada Jepang tentang kondisi lapangan udara di wilayah Malaya Utara milik RAF dan kurangnya pertahanannya hingga dua hari pertama perang. Sumber intelijen penting lainnya mendarat ke tangan Jepang pada tanggal 11 November 1940, ketika kapal dagang bajak Jerman yang menyamar, Atlantis, menghentikan kapal barang Inggris Automedon di Samudra Hindia. Ketika orang Inggris itu menolak untuk mematikan radionya, Atlantis menembakkan peluru kaliber 5,9 inci (149,86 mm) ke anjungan dan ruang radio Automedon, membunuh semua orang yang ada di sana. Letnan Ulrich Mohr dan rombongannya segera menaiki Automedon dan membongkar ruang kuat di kapal tua itu. Mereka menemukan 15 kantong surat rahasia, termasuk tabel decoding kapal dagang Inggris, perintah dari armada Inggris, petunjuk penembakan, dan laporan intelijen angkatan laut. Di sebelah konsol radio yang hancur, Mohr menemukan sebuah tas bertanda “Sangat Rahasia … Untuk Dihancurkan.” Di dalamnya ada laporan yang ditujukan kepada “C-in-C Far East … Agar Dibuka Secara Pribadi.” Kembali ke Atlantis, Mohr dan nakhodanya, Kapten Bernhard Rogge, membuka surat-surat itu. Mohr adalah seorang ahli bahasa yang terampil dan dengan mudah menerjemahkan petunjuk terbaru Divisi Perencanaan Kabinet Perang tentang kekuatan Kerajaan Inggris di Timur Jauh. Dia ternganga pada data penggelaran unit-unit RAF dan kekuatan angkatan laut di Malaya, bersama dengan catatan besar tentang benteng Singapura. Informasi itu bahkan menunjukkan bahwa tidak mungkin Singapura dapat bertahan jika terjadi pengepungan yang lama. Rogge, yang akan pensiun seorang laksamana meskipun memiliki latar belakang Yahudi, mengirimkan dokumen itu ke Yokohama dengan menggunakan kapal tanker Norwegia Ole Jacob. Ketika orang Jepang menerima dokumen tersebut, mereka awalnya mengira itu palsu. Tetapi ketika mereka membandingkannya dengan apa yang dilaporkan mata-mata mereka di Malaya, mereka tercengang. Setelah Singapura jatuh, Rogge akan menjadi salah satu dari tiga orang Jerman (dua lainnya adalah Hermann Göring dan Erwin Rommel) yang akan menerima pedang samurai yang dihiasi permata dari Kaisar Jepang sebagai tanda terima kasih.

Kapten Patrick Heenan, mata-mata Jepang di Malaya. (Sumber: https://3.bp.blogspot.com/)

“PASUKAN RISET ANGKATAN DARAT TAIWAN” 

Semua data intelijen ini berguna bagi Jepang, karena tentara mereka hanya memiliki sedikit pengalaman beroperasi di hutan. Untuk mengatasi masalah ini, Jepang menciptakan “Unit Penelitian Angkatan Darat Taiwan” di Formosa pada tahun 1941, di bawah Kolonel Masanobu Tsuji, seorang perwira yang arogan tetapi brilian. Unit yang diberi nama biasa-biasa saja ini, terdiri dari 11 orang, yang akan meneliti dan mengembangkan setiap aspek kampanye militer di daerah tropis. Tsuji dan anak buahnya menyusun taktik dan logistik, sering kali pergi ke hutan Formosa untuk menguji teori mereka. Hasil dari perencanaan mereka adalah sebuah pamflet tebal yang dikeluarkan untuk setiap prajurit yang ditugaskan untuk menyerbu Malaya, yang dengan percaya diri diberi judul oleh Tsuji, “Baca Ini Saja—Dan Perang Bisa Dimenangkan”. Dia nyaris benar. Buklet itu memberi tentara Jepang semangat propaganda, panduan yang berguna untuk diikuti selama pelayaran laut ke Malaya, dan prosedur untuk bertempur, berbaris, menjaga kebersihan, dan mengurai sinyal di medan Malaya. Bahkan didalamnya juga mengingatkan pasukan untuk membawa kipas tangan saat berjalan untuk membantu tetap tenang. “Para perwira dan prajurit, mata seluruh dunia akan tertuju pada Anda dalam kampanye militer ini, dan harus bekerja sama penuh semangat, Anda harus menunjukkan kepada dunia nilai sejati dari kedewasaan pria Jepang,” buku itu menyimpulkan.

Kolonel Masanobu Tsuji yang turut membantu menerbitkan pamflet panduan bagi prajurit Jepang yang ditugaskan untuk merebut Malaya. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

TENTARA KE-25 YAMASHITA

Para “pria dewasa” yang ditugaskan untuk menaklukkan Malaya adalah prajurit-prajurit dari Angkatan Darat ke-25, yang berbasis di Pulau Hainan. Komandan mereka, Yamashita diangkat pada tanggal 2 November 1941. Letnan Jenderal Tomoyuki Yamashita adalah seorang perwira kekar yang pernah menjabat sebagai atase militer di Swiss dan komandan Tentara Kwantung di Cina. Yamashita sangat akrab dengan senjata dan teknik perang modern Eropa. Pada tahun 1940, ia memimpin misi militer ke Jerman yang mempelajari mesin perang Nazi secara rinci. Yamashita telah pergi jauh-jauh ke Calais, menyaksikan pesawat Inggris dan Jerman bertempur di atas Selat Inggris. Menikah dengan putri seorang jenderal, Yamashita adalah seorang pria yang sangat religius yang tidak memiliki atau mengendarai mobil dan menikmati memancing serta berkebun. Yamashita juga terlibat dalam politik haus darah Angkatan Darat Jepang pada masa jeda perang yang terkait dengan upaya kudeta dan pembunuhan selama tahun 1930-an. Perdana Menteri Hideki Tojo tidak menyukai dan tidak mempercayai Yamashita. Faktanya perasaan itu muncul diantara keduanya. Ketika Yamashita mengambil alih komando Angkatan Darat ke-25, enam hari sebelum ulang tahunnya, dia hanya tahu sedikit tentang situasi Malaya, tetapi segera menyerap segala informasi Tsuji dengan cepat dan menempatkan tim kolonel di staf komandonya. Tsuji percaya bahwa cara terbaik untuk merebut Malaya adalah dengan menyerbu semenanjung dari arah utara, menyerbu ke darat di Singora dan Patani di Thailand, kemudian berkendara ke selatan menyusuri jalan raya utama di pantai barat, dan merebut benteng pertahanan Inggris dari belakang—persis seperti rencana permainan perang Inggris dan konsep yang Dobbie percayai diatas. Yamashita setuju dengan para perencananya. Ditawarkan lima divisi untuk mengambil alih Malaya, Yamashita mengatakan dia hanya membutuhkan tiga. Para perencana Tokyo dikejutkan oleh Yamashita—tiga divisi melawan benteng terbesar di Asia—tetapi Yamashita menyadari bahwa jalur suplainya akan panjang dan tipis, dan dia kekurangan alat transportasi laut dan darat. Sebuah kekuatan yang ramping akan lebih bisa berguna ketimbang kekuatan yang lebih besar. Dua dari divisi Yamashita adalah unit yang luar biasa: Mayor Jenderal Renya Mutaguchi memimpin Divisi Infanteri ke-18 dan pernah menjabat sebagai kepala staf Yamashita. Mutaguchi sangat ambisius. Divisi ke-18 memiliki 22.206 personel, tetapi hanya memiliki 33 kendaraan. Sebanyak 5.707 kuda akan mengangkut perbekalan divisi ke dalam pertempuran. Satunya lagi Jenderal Takuro Matsui memimpin Divisi Infanteri ke-5, yang pernah meluncurkan serangan amfibi ke China. Divisi ke-5 dilengkapi dengan transportasi beroda, berjumlah 1.008 kendaraan, untuk memindahkan 15.342 personelnya. Kedua divisi itu adalah divisi gaya lama, yang terdiri dari dua brigade dan empat resimen.

Letnan Jenderal Tomoyuki Yamashita, komandan Tentara ke-25 Jepang yang ditugaskan untuk merebut Malaya dan Singapura. (Sumber: http://japanesemonarchist.blogspot.com/)
Tampilan tentara Jepang yang ditugaskan untuk merebut Asia Tenggara, tahun 1941-1942. (Sumber: https://www.pinterest.at/)
Pesawat tempur Zero Jepang. Meski kekurangan armada transportasi lainnya, namun Jepang memiliki armada pesawat tempur Zero yang mampu mendominasi udara diatas Malaya dan Singapura. (Sumber: https://www.wallpaperflare.com/)

Divisi yang ketiga, Divisi Pengawal Kekaisaran Jenderal pimpinan Takuma Nishimura, bagaimanapun, tidak pernah bertempur sejak tahun 1905. Orang-orangnya dipilih karena tinggi badan mereka, bukan karena kemampuan bertempurnya, dan mereka digunakan terutama untuk acara-acara seremonial. Ketika Yamashita melihat mereka bermanuver di Pulau Hainan, dia sangat marah pada ketidakmampuan mereka. Dia memerintahkan Nishimura untuk berlatih pertempuran yang realistis, tetapi Pimpinan Unit Pengawal yang sombong itu menolak. Ketika Pengawal Kekaisaran diangkut ke dalam armada transportasi mereka untuk invasi, mereka dianggap sebagai salah satu divisi yang paling “buruk” di Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Divisi gaya baru ini dilengkapi dengan tiga resimen, memiliki 12.649 personel dan 914 kendaraan. Selain 3 Divisi ini, Yamashita juga memiliki unit zeni pendukung dan resimen tank untuk masing-masing dari tiga divisinya, yang dilengkapi dengan baik untuk bisa menggantikan jembatan yang terputus. Meskipun kekurangan unit transportasi dan logistik, yang menjadi kelemahan khas Jepang, Angkatan Darat ke-25 adalah salah satu tentara terkuat di dunia. Senjata rahasianya adalah sepeda, yang memungkinkan pasukan Jepang bergerak cepat dan diam-diam menyusuri jalan-jalan di wilayah Malaya. Termasuk unit markas dan administrasinya, pasukan ini semuanya berjumlah 88.000 orang. Disamping itu, pasukan Yamashita juga menikmati perlindungan angkatan laut yang kuat, dengan pasokan kapal perang yang cukup untuk mengawal konvoi mereka menuju selatan. Kartu trufnya adalah Divisi Udara ke-3 Angkatan Darat dan Armada Udara ke-22 Angkatan Laut. Angkatan Darat akan membawa 146 pesawat tempur, 172 pesawat pengebom, dan 36 pesawat pengintai ke dalam pertempuran, sementara Angkatan Laut memiliki 36 pesawat tempur, 138 pesawat pengebom, dan enam pesawat pengintai. Dengan 564 pesawat, Yamashita menikmati keunggulan numerik 5-banding-1 atas kekuatan udara Sekutu. Yamashita juga memiliki keunggulan teknologi udara yang sangat besar. Pesawat tempur Zero Angkatan Laut dan ‘pesaing’ Angkatan Daratnya, yakni “Oscar,” bisa bermanuver lebih lincah di sekitar pesawat Buffalo Inggris yang canggung. Sementara itu, pembom Ki-97 “Sally” milik Angkatan Darat mampu membawa muatan bom seberat 2.200 pon (998 kg), hampir dua kali lipat dari kapasitas pembom Blenheim Inggris. Kemudian ada juga Pembom Mitsubishi “Betty” Angkatan Laut dapat membawa beban yang berbobot sama atau torpedo Type 95 Long Lance, yang terbaik di dunia. Tidak seperti lawan-lawan Inggris mereka, para penerbang Jepang sudah memiliki pengalaman yang luas, setelah bertempur di Cina.

“INVASI SUDAH MENDEKAT” 

Rencana perang Jepang bergantung pada unsur kejutan, kecepatan, dan waktu. Pada tanggal 8 Desember 1941 (7 Desember di Amerika), mereka akan menyerang melintasi Pasifik, menghantam Hawaii, Guam, Wake, Filipina, Hong Kong, dan Malaya. Pasukan Jepang akan berbaris menuju ke Thailand dan membangun aliansi negara itu. Inggris berencana, jika terjadi invasi di Malaya, mereka akan meluncurkan Operasi Matador, yang merencanakan kelompok brigade yang disebut Unit Kroh untuk bergerak dari Malaya ke Thailand dalam serangan pendahuluan guna merebut Singora dan Patani sebelum pasukan Jepang tiba. Tak seorang pun di pihak Inggris berpikir bahwa hal ini akan pernah terjadi. Bahkan ketika armada kapal transport Yamashita terlihat di Teluk Siam pada tanggal 6 Desember, dan Koran Straits Times melaporkan “invasi akan segera terjadi,” Brooke-Popham menelepon editor surat kabar itu, Jimmy Glover, dan menuduhnya membuat laporan yang mengkhawatirkan. “Situasinya tidak seserius yang Anda bayangkan,” kata Brooke-Popham. “Itu tidak adil,” balas Glover. “Informasi ini telah disahkan oleh badan sensor. Bagi saya, kehadiran armada transport itu di wilayah Kamboja berarti perang.” Brooke-Popham tidak punya jawaban, tetapi dia dan stafnya kemudian memperdebatkan masalah besar: apakah akan meluncurkan Operasi Matador atau tidak. Jika Unit Kroh dan pasukannya berpacu menuju ke Thailand, pemerintah Thailand yang netral dan bimbang mungkin akan bereaksi terhadap invasi ini sebagai alasan untuk bersekutu dengan Jepang. Di sisi lain, jika pasukan Inggris sampai ke Singora dan Patani sebelum konvoi Yamashita datang, tentara Jepang bisa dihentikan di pantai. London telah mendelegasikan keputusan penting ini kepada Brooke-Popham, dan dia serta stafnya berdebat karenanya. Apakah ini benar-benar invasi Jepang atau tipu muslihat untuk membuat Inggris menginvasi Thailand dan pada akhirnya menempatkan negara itu di pihak Jepang? Hujan deras mencegah pengintaian lebih lanjut di lepas pantai, tetapi jawaban Brooke-Popham datang dalam telegram panik dari Sir Josiah Crosby, Menteri Inggris di Thailand. Dia berkata, “Demi Tuhan jangan biarkan pasukan Inggris menduduki satu inci pun wilayah Thailand kecuali dan sampai Jepang melakukan pukulan pertama di Thailand.” Dilema itu terselesaikan untuk Brooke-Popham. Dia lalu memerintahkan Divisi India ke-11 untuk bersiap memulai Matador, tetapi tidak segera meluncurkannya. Unit Kroh dan pasukan India kemudian bergerak maju ke perbatasan di tengah hujan lebat, menunggu perintah.

Disposisi pasukan Inggris di Malaya jelang invasi Jepang, 7 Desember 1941. (Sumber: https://www.forces.net/)

“KESIAPAN TINGKAT PERTAMA” 

Saat cuaca memburuk dengan awal musim hujan, konvoi Jepang berpisah untuk mencapai target mereka. Yang pertama adalah kekuatan yang menuju Kota Bahru, di bawah pimpinan Mayor Jenderal Takumi, yang tujuan utamanya sebenarnya adalah merebut pelabuhan dan mengalihkan perhatian Inggris dari pendaratan utama di Singora dan Patani. Tepat setelah tengah malam pada tanggal 8 Desember, Jepang mulai menurunkan muatan dari kapal transport mereka. Takumi menulis, “Ada cahaya redup dari bulan berbentuk oval dari atas laut ke arah timur. Angin sepoi-sepoi bertiup kencang dan aku bisa mendengarnya bersiul di antena radio. Ombaknya sekarang setinggi enam kaki.” Di laut yang deras dan angin kencang, sulit untuk menurunkan kapal pendarat ke dalam air. Mereka mengayunkan davit mereka dan menabrak sisi kapal transport. Lebih banyak angin dan kekacauan akan terjadi. Di kapal pendarat, pasukan Takumi “tidak hanya dibebani dengan jaket penyelamat, tetapi juga dengan senapan, senapan mesin ringan, amunisi, dan peralatan. Sangat sulit untuk melompat ke kapal pendarat, dan bahkan lebih sulit untuk bergerak maju ke tempat kami. Kadang-kadang seorang tentara akan jatuh berteriak ke laut, dan pasukan zeni akan menariknya keluar.” Butuh satu jam bagi kapal-kapal pendarat untuk bisa mencapai pantai, tetapi ketika mereka melakukannya, mereka mendapat tembakan senapan mesin berat dari Brigade India ke-8 pimpinan Brigadir Billy Key. Pendaratan itu memicu alarm, yang mengalir di sepanjang rantai komando ke Fort Canning di Singapura. Pada pukul 01:15 Percival menelepon Sir Shenton Thomas untuk memberitahunya tentang invasi Jepang. Reaksi Thomas cukup biasa: “Yah, saya kira Anda akan bisa mendesak orang-orang (bertubuh) kecil itu pergi!” Setelah berhasil, Thomas membangunkan istri dan pelayannya, memesan kopi di balkon besar lantai satu rumahnya, dan menulis perintah untuk mengumumkan “Kesiapan Tingkat Pertama.” Hebatnya, perintah itu tidak menyerukan adanya pemadaman lampu.

Peta invasi Jepang ke wilayah Thailand yang mendahului kampanye penaklukan semenanjung Malaya. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

PERANG UDARA DIMULAI

Sementara itu, di Kota Bahru, perang memanas. Pembom-pembom Blenheim RAF menyerang pasukan invasi, mengenai kapal markas Takumi, Awajisan Maru. Alih-alih menghantam kapal lain, Takumi langsung menuju pantai, mengabaikan permintaan angkatan laut untuk membatalkan serangan. Di pantai, anak buahnya ditembaki oleh senjata Bren pasukan India. Namun salah satu prajurit Jepang berlari maju melompati parit, menginspirasi rekan-rekannya untuk terus menyerang. Para prajurit Jepang yang telah diajarkan untuk berani mati dalam menjalankan tugasnya, tidak ragu-ragu untuk meledakkan diri diatas ranjau agar rekan-rekannya dapat maju. Takumi memerintahkan perwiranya untuk memimpin prajuritnya masuk ke pedalaman, mengepung posisi pasukan Inggris, dan menaklukkan mereka. Pada pukul 4 pagi, anak buah Takumi sudah keluar dari pantai dan menuju ke daratan. Dalam waktu 24 jam setelah pendaratan kota Bahru dan lapangan udaranya sudah ada di tangan Jepang. Berita itu sampai ke telinga Yamashita saat pasukan utamanya mendarat di Singora. Tidak menemukan perlawanan, pasukan Jepang masuk ke daratan seperti berparade. Yamashita sendiri pergi ke kediaman gubernur provinsi Thailand untuk meminta kebebasan bergerak melalui wilayah Thailand. Pada saat yang sama, Air Vice Marshal C.W.H. Pulford menelepon Sir Shenton Thomas dengan membawa berita buruk lainnya: Pesawat-pesawat musuh mendekati Singapura, yang lampunya tidak dipadamkan. Thomas, tertegun, memberi tahu Dewan Pelabuhan dan Kewaspadaan Serangan Udara, tetapi tidak ada yang bisa menemukan insinyur yang memiliki kunci sakelar besar pada pembangkit listrik. Lagipula itu tidak jadi soal. Sebagian besar lampu jalan di Singapura adalah lampu gas dan harus dinyalakan atau dipadamkan oleh seorang pria dengan tiang panjang, satu per satu, proses yang biasanya memakan waktu berjam-jam. Ketika pesawat pengebom “Betty” dan “Sally” Armada Udara ke-22 Jepang meraung di atas Singapura pada pukul 04:15, seluruh kota, termasuk Fort Canning, masih terang benderang. Bom-bom Jepang berjatuhan di Singapura. Enam puluh satu orang tewas dan 133 lainnya terluka. Satu bom meledakkan restoran ber-AC milik Robinson di Raffles Place. Pembom Jepang bergemuruh di atas kota, tanpa hadangan pesawat tempur malam RAF. Meskipun tiga pesawat Buffalo RAAF sudah diisi bahan bakar dan siap terbang, komando RAF tidak membiarkan mereka mengudara, karena takut akan ditembak jatuh oleh penembak senjata antipesawat yang tegang. Menjelang fajar, serangan udara berakhir dan Singapura kini ada dalam keadaan perang. Begitu juga dengan seluruh wilayah Samudra Pasifik, saat berbagai berita memuntahkan laporan tentang: serangan Jepang di Pearl Harbor … Wake … Guam … Filipina … dan Hong Kong, semuanya menggambarkan serangkaian bencana yang dialami Sekutu.

Pesawat Lockheed Hudson dari Skuadron No. 1 sedang dipersiapkan di RAAF Station Richmond. Hudson di latar depan kanan diterbangkan oleh Flt Lt John Lockwood, yang memimpin serangan Sekutu pertama terhadap Jepang. Dia dan wing udaranya berhasil merusak berat kapal pengangkut Jepang, Awajisan Maru, yang menyebabkan kapal itu terpaksa ditinggalkan. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Pantai Bachok, Kota Bharu, Juli 1941, yang mungkin salah satu titik pendaratan tentara Jepang, Desember 1941. Dalam waktu 24 jam, pasukan Jepang secara efektif sudah dapat menguasai Kota Bharu. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

JEPANG MENDAPATKAN SUPERIORITAS UDARA

Kekacauan berlanjut di perbatasan Malaya-Thailand. Sementara pasukan Jepang diturunkan di Singora dan Yamashita menggertak para pejabat Thailand agar memberikan kebebasan bergerak kepada anak buahnya (selesai pada pukul 1 siang), Divisi India ke-11 bermandikan hujan, menunggu perintah. Brooke-Popham tidak dapat menemukan Percival sepanjang pagi, jadi baru pada pukul 1 siang Mayjen D.M. Murray-Lyon mengetahui bahwa Matador sedang berlangsung, dan dia harus menarik pasukannya ke parit yang sama-sama tergenang air di Jitra. Segalanya sedikit lebih baik di Kota Bahru. Jepang menderita 15 persen korban melawan pasukan Inggris, yang berjuang untuk mempertahankan lapangan terbang dari serangan darat dan udara. Pukul 4 sore, sebuah desas-desus mencapai garis pertahanan pasukan India bahwa pasukan Jepang telah mendobrak masuk. Awak darat di lapangan terbang kemudian meledakkan instalasi mereka dan pergi sebelum Key dan stafnya dapat mengatasi kepanikan. Penarikan unit-unit RAF menghapus segala bentuk perlindungan udara bagi pasukan Key, jadi Key terpaksa mundur. Sepanjang hari Angkatan Udara Jepang menggempur pangkalan RAF yang lokasi dan kekuatannya telah disediakan oleh Patrick Heenan, si pengkhianat. Dari markasnya di Alor Star, Heenan mengirimkan laporan tentang aktivitas RAF ke pasukan Jepang melalui radionya. Ketika Jepang belum mencapai Alor Star pada pukul 10 pagi, seorang penerbang RAF bertanya kepada Heenan, “Mengapa kita tidak diserang? (Padahal) Kita berada di garis depan.” “Oh, mereka akan melakukannya,” jawab Heenan santai. “Mereka akan melakukannya.” Pada pukul 11 pagi, tak lama setelah pembom-pembom Blenheim pangkalan itu mendarat untuk mengisi bahan bakar dan dipersenjatai kembali, 27 pembom Jepang tiba, meledakkan sembilan Blenheim dengan bom fragmentasi ringan dan menewaskan sembilan orang. Satu bom menghantam apotek, meledakkan pasokan obat-obatan. Waktunya sangat sempurna. Jepang telah mengetahui dari Heenan untuk tidak menyerang Alor Star sampai pengebomnya mendarat. Prajurit Angkatan Darat “Bladder” Wells menunjukkan kepada sersannya, “Setiap kali kita bergerak, Kapten Heenan sepertinya pergi ke suatu tempat.” Heenan punya trik jitu menghilang sebelum beraksi di Alor Star hari itu. Tingkah lakunya yang aneh menarik perhatian komandannya, Mayor James Cable France, tetapi France terlalu sibuk menghadapi bencana daripada untuk menyelidiki Heenan. Tim RAF di Alor Star diperintahkan untuk berkemas pada malam hari untuk mengungsi ke selatan ke pangkalan di Butterworth. Pada akhir hari, kekuatan RAF turun dari 110 pesawat menjadi sekitar 50. Jepang kini telah memperoleh keunggulan udara sepenuhnya.

Pesawat-pesawat tempur Buffalo terbang diatas bomber Blenheim. Atas informasi dari Patrick Heenan, armada pembom Jepang bisa menghancurkan pesawat-pesawat Blenheim di pangkalan udara Alor Star saat pesawat-pesawat itu mendarat. (Sumber: https://www.awm.gov.au/)

TURUNNYA MORAL INGGRIS

Bencana terus bertambah dengan cepat bagi Inggris. Malam itu, kapal tempur Prince of Wales dan kapal penjelajah tempur Repulse berlayar ke laut tanpa perlindungan udara untuk mencegat konvoi Jepang di Singora. Pada tanggal 10 Desember, pengebom Jepang menyerang dua kapal itu dan menenggelamkannya. Phillips yang tenggelam bersama dengan lebih dari 830 anak buahnya, masih sempat mengirim pesan radio ke Singapura untuk mengirim kapal tunda alih-alih pesawat tempur. Kapal-kapal Inggris tidak pernah bisa mendekati konvoi Jepang. Tenggelamnya kedua kapal tempur itu menjadi bencana bagi moral Inggris, sekaligus menunjukkan bahwa pilot-pilot Jepang adalah pilot jempolan, bukan pilot buruk seperti yang dikira. Reporter Ian Morrison menulis, “hilang begitu saja salah satu pilar utama di mana rasa aman  dimana kita bersandar.” Di Hotel Raffles, pengumuman radio menghentikan tarian dan musik, dan semua orang langsung pulang. Pada pagi hari tanggal 9, tim RAF di Alor Star berangkat. Saat mereka berangkat, Mayor France diminta untuk meletakkan set komuni pendeta di mobilnya. France melakukannya, tetapi dia terkejut melihat ada satu lagi set komuni di belakang truk. France tahu pendetanya hanya memiliki satu set seperti itu di unitnya. Dia membawa koper kedua ke kantornya, membukanya, dan menemukan radio Heenan. Mengatur jebakan, France lalu menempatkan kedua set di mobilnya dan berangkat ke Butterworth. Sesampai di sana, dia dan ajudannya mengawasi mobil yang diparkir untuk melihat siapa yang akan mengambil set palsu. Heenan membuka mobil, melihat-lihat set, dan pergi dengan mobil yang berisi radio. France kini punya bukti kuat. Dia lalu memberi tahu atasannya, dan Kepala Inspektur Sandy Minns dari Straits Settlement Police datang dengan sebuah kompi sipil bersenjata dan polisi RAF untuk menahan Heenan. Pengkhianat itu mencoba melarikan diri dengan pakaian sipil sebelum polisi dan polisi muncul, tetapi tidak memiliki keberanian, jadi dia kembali setelah memberi tahu Jepang lewat radionya tentang gerakan RAF di Butterworth. Jepang kemudian menggempur pangkalan dan melumpuhkan semua pesawat kecuali satu Blenheim. Menjelang malam Heenan sudah berada di sel penjara Penang, menunggu pengadilan militer di Singapura. Berita pengkhianatannya, yang dibesar-besarkan, kemudian menyebar ke seluruh pasukan Inggris, yang justru makin merusak moral pasukan Inggris yang sudah babak belur lebih jauh.

Lukisan penenggelaman kapal tempur Prince of Wales dan Repulse oleh pembom-pembom Jepang karya Kenichi Nakamura. Penenggelaman kedua kapal kebanggaan Inggris itu amat memukul moral pemerintah Inggris dan rakyatnya. (Sumber: https://www.reddit.com/)

“KEKACAUAN, KEBINGUNGAN, DAN KEBODOHAN” 

Organisasi kepemimpinan Inggris tidak menjadi jauh lebih baik. Churchill telah menunjuk Duff-Cooper sebagai presiden Dewan Perang untuk wilayah Malaya, dengan pangkat selevel pejabat kabinet. Cooper tidak menyukai panglima militer di Malaya, yakni Brooke-Popham. Ketidaksukaan itu saling terjadi diantara keduanya, karena Brooke-Popham membenci kepribadian kasar Duff-Cooper. Keduanya berdebat tanpa henti. Sementara komando Inggris berselisih, orang-orang Yamashita, dengan beberapa menggunakan truk-truk Thailand yang diambil alih, bergerak dengan sangat hati-hati menuju Jitra dan lapangan terbang di Alor Star. Kunci mobilitas Jepang adalah senjata rahasia mereka, sepeda, yang dapat digunakan di banyak jalan Malaya dan di jembatan kayu sempit yang dengan tergesa-gesa dipasang oleh pasukan zeni. Ketika ban pecah, orang-orang Jepang terus mengayuh ke depan dengan menggunakan pelek logamnya. Uniknya derap pelek sepeda terdengar bagi pasukan Inggris seperti tank yang sedang bergerak maju, semakin menambah kekacauan. Pasukan Jepang menggunakan tank dan pasukan infanterinya dengan efisien. Ketika mereka berhadapan sebuah posisi pasukan Inggris, tank akan bergerak maju terlebih dahulu, dengan diikuti oleh pasukan infanteri yang mengendarai truk. Jika tank-tank mereka dihentikan, pasukan infanteri akan melanjutkan serangan. Sementara itu, saat menghadapi penghalang jalan, pasukan infanteri Jepang akan meninggalkan jalanan dan masuk kedalam hutan atau hutan bakau di kedua sisinya. Dalam kelompok-kelompok kecil mereka akan mencoba menyerang musuh dari sisi-sisinya. Saat datang dari belakang posisi musuh, tentara Jepang akan menyerang musuh dengan gencar untuk memberi gambaran bahwa seolah-olah kekuatan mereka lebih besar. Berlawanan dengan pendapat populer, orang-orang Jepang sebenarnya tidak terlalu berpengalaman dalam perang hutan. Mereka sedapat mungkin selalu memanfaatkan jaringan jalan di Malaya untuk memastikan gerak maju mereka berlangsung dengan cepat (selama kampanye militer di Malaya mereka akan bergerak maju rata-rata 15 kilometer per hari). Namun tidak semuanya berjalan seperti rencana Jepang. Sementara Yamashita dan petingginya menikmati informasi-informasi intelijen mereka yang bagus, para perwira garis depan Jepang harus puas dengan peta yang diambil dari atlas buku sekolah. Rantai pasokan juga terganggu.

Duff Cooper, politisi pilhan Chuchill yang kerap berselisih paham dengan pejabat sipil dan militer Inggris selama kampanye militer di Malaya dan Singapura. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Pasukan bersepeda Jepang. Sepeda memudahkan mobilitas pasukan Jepang yang kekurangan alat-alat transportasi bermotor. (Sumber: https://www.ehm.my/publications/)

Di lini pertahanan Jitra, Divisi India ke-11 pimpinan Murray-Lyon menggali garis pertahanan panjang yang memiliki terlalu banyak celah. Garis pertahanan Brigade ke-15 panjangnya 6.000 yard (5.486,4 meter), sedangkan milik Brigade ke-6 membentang 18.000 yard (16.459 meter). Tidak ada brigade yang bisa mendukung yang lainnya. Di tengah hujan lebat, pasukan India hanya punya cukup waktu untuk memasang beberapa helai kawat berduri dan saluran telepon sebelum pasukan Jepang tiba. Jepang menyerang pada jam 8 pagi pada tanggal 11, yang memaksa Brigade ke-15 untuk mundur di tengah hujan lebat. Jepang lalu menyerang lagi dengan tank, yang membuat panik orang Punjab, yang sebagian besar bahkan belum pernah melihatnya, baik milik pasukan kawan atau musuh. Unit-unit Punjab runtuh, meninggalkan pasukan Gurkha 2/1 untuk menghadapi seluruh serangan Jepang. Pasukan Gurkha lalu terjepit dan tercabik-cabik, dan kemudian mundur dalam kelompok-kelompok kecil kembali ke garis pertahanan Inggris. Brigade ke-6 tidak lebih baik. Ketika beberapa pasukan dari pos terdepan mundur dengan membawa tujuh meriam anti-tank dan empat meriam gunung, mereka mencapai sungai di Manggoi di sebelah barat Jitra, yang jembatannya telah disiapkan untuk dihancurkan. Perwira yang bertanggung jawab atas jembatan mendengar pasukan itu bergemuruh datang dan meledakkan jembatan, memaksa Brigade itu untuk meninggalkan meriam dan truknya di tepi utara. ”Jarang dalam sejarah perang ada kekacauan, kebingungan, dan kebodohan yang tak habis-habisnya,” tulis sejarawan Arthur Swinson.

BENCANA DI JITRA

Tentara Jepang terus melaju, bergerak dengan sepeda menyusuri jalan beraspal hampir sepanjang waktu dan melalui hutan bila perlu untuk menyergap tentara Inggris. Pada tanggal 12 Desember, ‘Order of the Day’ Percival yang terlambat dua hari mencapai pasukan yang basah kuyup dan putus asa di Jitra: “Mata Kerajaan (Inggris) tertuju pada kita. Seluruh posisi kita di Timur Jauh dipertaruhkan. Perjuangannya mungkin panjang dan suram, tetapi marilah kita bertekad untuk berdiri teguh, apa pun yang terjadi, dan membuktikan diri kita layak atas kepercayaan besar yang telah diberikan kepada kita.” Siang hari, Divisi Infanteri ke-5 Jepang kembali meneror Brigade ke-15. Segera pasukan dan kendaraan transport mengalir kembali di tengah kekacauan dan desas-desus, dan Divisi ke-11 kembali diburu, dengan pasukan Gurkha ditempatkan di barisan belakang. Pasukan India, yang kekurangan senjata dan pelatihan antitank, serta komunikasi yang baik, peta yang layak, dan waktu untuk mempersiapkan pertahanan, panik saat melihat monster darat Jepang yang berpaku itu. Divisi ke-11 mundur 15 mil di tengah hujan lebat, dengan unit-unitnya terus kehilangan perlengkapan dan kohesi. Brigade ke-15 kemudian muncul dengan hanya dengan 600 orang. Hanya satu batalyonnya, Leicesters ke-1, yang mampu bertahan dengan Bren Carrier dan mortir-nya. Pasukan Sepoy India membuang senapan mereka saat mereka melarikan diri. Sedangkan jumlah personel unit Gurkha 2/1 turun hingga tinggal satu kompi. Korban Jepang hingga saat itu adalah 27 tewas dan 83 terluka. Divisi ke-11 telah hancur, kehilangan ratusan orang, serta senjata, peralatan, alat transportasi, dan bahkan satu set peta dengan semua posisi pertahanan yang ditandai. Jepang tercatat menangkap 3.000 tawanan. Pasukan Jepang yang menyerang sebenarnya hanya terdiri dari dua batalyon infanteri dan satu kompi tank. Banyak tentara India yang membelot, yang kemudian menjadi inti Tentara Nasional India yang disponsori Jepang, yang akan menjaga tawanan perang dan berperang bersama Jepang di wilayah Burma. Kumpulan ‘pengkhianat’ buat Inggris ini dipimpin oleh Mohan Singh, seorang kapten di Angkatan Darat Inggris, yang dinaikkan ke pangkat jenderal INA oleh Jepang, yang senang dengan hasil tangkapan mereka. Jenderal Matsui menulis, “Pasukan musuh tidak memiliki semangat juang … mereka senang menyerah … mereka lega karena bisa keluar dari perang.” Sejarawan Inggris lebih keras, menyebut bencana Jitra sebagai “aib terbesar bagi angkatan bersenjata Inggris/India sejak pertempuran Chillianwala dalam Perang Sikh Kedua tahun 1848.”

Di tengah hutan lebat Malaya, tentara India menembakkan mortir dari kebun tapioka ke Jepang yang mendekat. Kurangnya pelatihan dan kepemimpinan membuat banyak formasi India gagal membendung agresifitas tentara Jepang di Malaya. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Posisi tempur pasukan Inggris di Jitra, 11-12 Desember 1941. (Sumber: https://darkofmystery.blogspot.com/)
Bren Carrier tentara India membantu menarik truk yang mogok di semenanjung Malaya. (Sumber: https://www.awm.gov.au/)

EVAKUASI PENANG

Pada tanggal 13, Divisi India ke-11 mengalir melintasi Sungai Sungei Kedah dekat Alor Star. Saat fajar, Murray-Lyon menyaksikan anak buahnya mundur melintasi paralel jalan dan jembatan rel. Ketika pasukan Sepoy terakhir melintas, Murray-Lyon melihat dua pengendara sepeda motor Jepang menuju ke arah mereka. Senapan mesin tentara India melepaskan tembakan dan membunuh tentara-tentara Jepang itu. Murray-Lyon kemudian memerintahkan agar jembatan diledakkan. Bahan peledak dan asap mengotori udara, tetapi ketika asap menghilang, jembatan kereta api ternyata masih berdiri. Sebelum Murray-Lyon sempat menunjukkan kemarahannya, sebuah kereta api turun dari utara. Semua orang santai, mengira bahwa berat kereta akan menyelesaikan pekerjaan penghancuran itu, tetapi kereta itu bisa melewati celah di rel dan terus berjalan. Pasukan zeni lalu memasang lebih banyak ranjau dan meledakkan jembatan tepat ketika lebih banyak orang Jepang tiba. Tentara Jepang kemudian menyeberangi sungai dan segera dipukul kembali oleh pasukan 2/9 Gurkha. Tapi Murray-Lyon memutuskan anak buahnya tidak dalam kondisi untuk bisa melawan dan memerintahkan penarikan sejauh 20 mil lebih lanjut ke Gurun. Pasukan Lyon terhuyung mundur, kecapekan dan tidak bisa tidur, tidak menemukan adanya pertahanan. Pasukan Gurkha 2/1 berjalan sejauh 64 mil dalam empat hari tanpa bekal makanan. Mereka berharap punya waktu untuk bisa memasang kawat berduri dan ranjau lalu tidur. Murray-Lyon memperkirakan Jepang membutuhkan waktu tiga hari untuk mengganti jembatan yang putus, faktanya Jepang hanya butuh waktu satu setengah hari saja. 

Para wanita yang dievakuasi dari pulau Penang, menyegarkan diri dengan teh di salah satu stasiun kereta api di sepanjang jalan menuju ke Singapura Desember 1941. (Sumber: https://searchingforsilvestr.wordpress.com/)
Meriam anti tank 2 pounder Inggris. Tentara Inggris di Malaya sebenarnya dilengkapi dengan beberapa senjata anti tank, namun kurangnya pengenalan dan latihan membuat unit-unit anti tank nya menjadi tidak efektif. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada jam makan siang tanggal 14, tiga tank Jepang dan 12 truk infanteri menyerbu Brigade ke-6 di Gurun. Kali ini tentara India telah mengerahkan senjata anti-tank 2-pounder mereka dan meledakkan tank terdepan. Dua lainnya mundur. Infanteri Jepang melompat dari truk mereka dan menyerang pasukan Punjab 5/2. Dalam dua jam, mereka menembus posisi orang-orang India yang kelelahan dan mengirim para Sepoy berhamburan kembali. Brigadir W.O. Lay, yang memimpin Brigade ke-6, mengenali tanda-tanda keruntuhan pasukannya yang baru dimulai dan secara pribadi memimpin serangan balik yang menstabilkan situasi. Namun, kemenangan itu bersifat sementara. Percival mengizinkan gerak mundur lainnya hari itu, 60 mil ke selatan ke Sungai Perak, dengan evakuasi Pulau Penang, wilayah tertua Inggris di Timur Jauh. Jepang tidak menunggu Inggris mundur ke Perak. Tepat setelah tengah malam, mereka membuka pemboman mortir, dan kemudian prajurit infanteri yang menggunakan bayonet langsung menyerbu ke jalanan. Mereka menyerbu melalui pertahanan pasukan Punjab dan memasuki posisi pasukan 2nd East Surreys, sambil membunuh komandan batalion dan stafnya. Pasukan Jepang menyerang dan menghancurkan markas Brigade ke-6, meninggalkan lubang menganga di tengah pasukan. Brigadir Carpendale dari Brigade ke-28 lalu mengambil alih, tetapi Divisi ke-11 dihancurkan lebih lanjut. Satuan Punjab 5/2, adalah salah satu unit yang paling “terindianisasi”, berantakan. NCO dan perwira yang baru dilatih mundur dengan panik. Seorang perwira ditanyai dengan todongan pistol mengapa dia mundur tanpa perintah. Para prajurit Sepoy lalu muncul di tempat perawatan dengan luka yang ditimbulkan mereka sendiri. Itu adalah akibat dari mengirimkan orang-orang yang kurang terlatih ke dalam medan pertempuran tanpa dukungan. Lebih buruk lagi, rencana evakuasi Penang juga berubah menjadi kepanikan. Orang-orang Inggris melarikan diri pada tanggal 16, meninggalkan penduduk sipil, bersama dengan pembangkit listrik yang masih utuh, stasiun radio, dan sekitar 24 jung dan tongkang bermotor, yang kemudian digunakan oleh Jepang.

PENURUNAN MORAL DENGAN “GERAK MUNDUR STRATEGIS”

Di Alor Star, pasukan Jepang mengerumuni markas yang baru saja direbut. Kolonel Masanobu Tsuji menemukan “hadiah bom yang ditumpuk tinggi, dan terlebih lagi, di salah satu bangunan, sup panas sudaj diatur di atas meja ruang makan. Di antara pohon-pohon karet di sekitarnya, terdapat 1.000 drum berisi bensin beroktan 90 bermutu tinggi yang ditumpuk tinggi.” Pesawat Jepang mendarat di Alor Star pada hari pasukan mereka merebutnya, mengisi bahan bakar dan mempersenjatai kembali dengan bahan bakar dan bom Inggris, lalu kembali terbang ke medan perang. Di udara, RAF tidak ada harapan bisa menandingi Jepang. Pembom-pembom Jepang terus menggempur RAF hingga kekuatannya nyaris tidak ada lagi. Para pilot Brewster Buffalo yang selamat mendapati tunggangan mereka tidak mampu menanjak dengan kecepatan penuh, terbang di ketinggian tinggi, atau melawan pesawat-pesawat Zero Jepang. Skuadron-skuadron yang babak belur lalu ditarik kembali ke Pulau Singapura. Sementara itu, Belanda mengirim skuadron-skuadron pengebom dan pengintai dari pulau Jawa; mereka bertempur dengan gagah berani, tetapi juga kewalahan. Jepang terus menyerbu kedepan, tidak repot-repot untuk mengkonsolidasikan atau berkumpul kembali. Meskipun terlihat seperti bungkusan yang buruk dalam seragamnya yang nampak berantakan, tentara Jepang itu keras dan tangguh. Mereka bisa hidup dari makan nasi dan ikan asin selama berhari-hari. Pada tanggal 18, rencana keropos Percival untuk mempertahankan Malaya telah hancur. Angkatan udara dan angkatan lautnya dihancurkan. Satu-satunya cadangannya yang tersisa adalah Divisi India ke-9, yang menguasai pantai timur, dan dua brigade Divisi Australia ke-8 yang belum teruji, yang tersebar di Provinsi Johore dan Pulau Singapura. Jika dia mengerahkan mereka untuk berperang, Jepang bisa mendarat di Johor, dan memotong wilayah Singapura. Dia tidak punya pilihan selain mempertahankan Divisi India ke-11, meskipun mengalami disintegrasi, sampai Divisi India ke-17 dan Divisi Inggris ke-18 tiba dari India untuk memperkuat mereka. 

Pasukan India bergerak di Malaya, tahun 1941. Gerak mundur yang kerap dilakukan berulang kali selama kampanye di Malaya mematahkan banyak semangat pasukan Inggris. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Saat Divisi ke-11 mundur kembali ke Sungai Perak, Percival mengatur ulang kekuatannya yang terbatasnya. Pada tanggal 17, ia menugaskan Divisi ke-11, Brigade ke-12, Brigade ke-15 yang menyerap sisa-sisa Brigade ke-6 untuk membentuk formasi komposit. Di antara unit ad hoc yang dibentuk adalah “Batalyon Inggris”, yang terdiri dari 1st Leicesters dan 2nd East Surreys, keduanya sudah babak belur dalam pertempuran sebelumnya. Keesokan harinya, Duff-Cooper bertemu dengan para komandan senior di Fort Canning. Setelah mendengar keluhan mereka, dia mengirim pesan ke London untuk mengatakan bahwa Malaya membutuhkan empat skuadron pesawat tempur dan empat skuadron pembom dan empat brigade infanteri. Saat itu Divisi ke-18 Inggris, yang dilatih untuk berperang di Afrika Utara, sudah dialihkan ke Malaya. Sekarang seratus pesawat tempur Hawker Hurricane juga harus dikirimkan segera. Setelah pertemuan itu, Duff-Cooper berbicara di radio untuk membangkitkan semangat orang-orang yang lesu. Dia menggambarkan evakuasi Penang dalam laporan yang aneh, yang mengatakan semua warga sipil Asia telah ikut dievakuasi ketika faktanya tidak, yang mana hal ini hanya membuat marah para pemimpin komunitas Cina, India, dan Melayu, yang memprotes Sir Shenton Thomas. Duff-Cooper membuka siarannya dengan mengatakan, “Saya menganggap bahwa salah satu tugas saya adalah untuk tetap berhubungan dekat dan terus-menerus dengan orang-orang Singapura dengan berbicara kepada mereka di radio dari waktu ke waktu.” Sebenarnya, dia kemudian tidak akan pernah melakukan siaran lagi. Ini sebenarnya adalah hal yang baik juga mengingat buruknya cara dia berkomunikasi. Moral di Singapura telah runtuh. Tidak ada yang percaya komunike resmi yang nampak bodoh tentang pasukan Inggris “mundur kembali untuk mempersiapkan posisi” atau tentang “penarikan strategis” yang tidak memberikan informasi nama tempat yang sebenarnya. Warga sipil yang ingin mengetahui gerak kemajuan Jepang cukup memperhatikan informasi pemberitahuan Bank Hong Kong dan Shanghai mengenai cabang-cabang mereka yang ditutup “sampai pemberitahuan lebih lanjut.”

PERTAHANAN YANG TERGANGGU OLEH KEBODOHAN BIROKRASI

Selain serangan udara, satu-satunya tanda perang di Singapura adalah aliran tak berujung dari orang-orang terluka yang turun dari kereta api dari garis depan yang memadati rumah sakit, dan kebingungan serta kebodohan para pejabatnya. Wakil Insinyur Kota Gilmore diperintahkan untuk menggali parit selebar enam kaki dan sedalam tiga kaki di lapangan olahraga untuk mencegah pesawat dan glider Jepang mendarat. Dia mengumpulkan beberapa ratus kuli untuk melakukannya. Ketika mereka setengah jadi, pejabat lain mengatakan parit-parit itu harus digali ulang—karena parit yang lurus tidak akan memberikan perlindungan dalam serangan udara. Gilmore memerintahkan anak buahnya untuk menggali kembali parit, yang menciptakan gundukan tanah yang luas. Pejabat lain mengatakan kepada Gilmore untuk membawa memindahkan tanah itu agar tidak digunakan oleh pasukan terjun payung sebagai tempat pendaratan. Setelah Gilmore melakukannya, otoritas kesehatan datang untuk memperingatkan bahwa parit-parit itu bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk dan harus segera diisi kembali. Setelah beberapa argumen, mereka setuju untuk mengisinya setengah. Kuli-kuli itu pergi untuk mengangkut kembali tanah yang dibuang untuk mengisi setinggi dua kaki bagian bawah parit. Di dermaga, perbekalan menumpuk karena kekurangan tenaga kerja untuk menurunkannya dari kapal. Tak seorang pun bisa menyepakati upah bayaran untuk kuli. Angkatan Darat juga ikut-ikutan bertindak bodoh. Pemimpin klub golf menolak izin Angkatan Darat untuk mengubah lapangannya menjadi posisi pertahanan sampai dia mengadakan rapat komite khusus. Perwira lain juga ditolak izinnya untuk menebang sederet pohon untuk memperbaiki area tembaknya di pinggiran kota Singapura sampai ia memiliki perintah tertulis. Ketika Brigadir Ivan Simson, chief engineer, pergi menemui Mayor Jenderal Gordon Bennett tentang membangun rintangan antitank, Bennett yang ketus tidak ingin membahas masalah itu sama sekali. Bennett berkata, “Saya (hanya) punya sedikit waktu untuk (membicarakan) rintangan ini … (saya) lebih memilih untuk menghancurkan tank dengan senjata anti-tank.” Sementara itu, Percival mencoba memulihkan ketertiban, namun itu tidak mudah. Semua brigadir Divisi ke-11 telah menjadi korban pertempuran, dan Letnan Kolonel H.D. Moorhead mengambil alih Brigade ke-15 sementara Letnan Kolonel W.R. Selby memperoleh Brigade ke-28. Percival memecat Murray-Lyon dan menempatkan bos Brigade ke-12, Brigadir A.C.M. Paris, untuk bertanggung jawab sebagai pengganti. Letnan Kolonel Stewart dipromosikan dari komando Argyll dan Sutherland Highlanders untuk menjadi komandan Brigade ke-12.

Selama latihan di bulan Desember 1941, orang-orang dari satuan Argylls dan Sutherland Highlanders berlindung. Kedua satuan ini adalah unit andalan Inggris di Malaya. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

TIDAK ADA PERKUATAN PERTAHANAN DI SINGAPURA

Di garis depan, gerak mundur tentara Inggris berlanjut. Seorang perwira Inggris menulis, “Tidak bisa terus-menerus seperti ini. Para prajurit benar-benar kecapekan. Satu-satunya istirahat yang mereka dapatkan adalah berdiam yang tidak nyaman saat mereka berjongkok di truk yang penuh sesak yang menyentak jalan mereka sepanjang malam. Ketika mereka tiba, mereka terjatuh dan harus langsung bekerja. Mereka kurang tidur, dan harus bekerja sebelum mereka bisa bersiap. Kemudian mereka bergerak seperti robot atau meringkuk saat pesawat Jepang terbang 200 kaki (60,96 meter) terbang di atas mereka.” Para penembak jitu Jepang menyusup melalui garis pertahanan Inggris untuk mengganggu daerah belakang mereka, memakai sepatu karet untuk menghindari membuat kebisingan, membuat mereka yang bertahan kelelahan. Seorang brigadir Inggris pergi tanpa tidur selama 36 jam berturut-turut. Di Pembangkit Listrik Danau Chenderoh, sekelompok unit 5/2 Punjab tidak akan berpatroli malam hari, karena tentara Jepang melepaskan squib (petasan). Kolonel mereka sampai harus memberi tahu kapten mereka, “Tidak ada kasus squib yang diketahui menyebabkan hilangnya nyawa, keluar dan segera tahan tentara Jepang.” Tentara Inggris juga memiliki masalah lain. Kelembaban dan hujan merusak radio dan mengganggu komunikasi. Peralatan yang hilang dalam gerak mundur tidak dapat diganti. 

Tentara Inggris di Malaya. Banyak tentara Inggris di Malaya tidak mendapatkan pelatihan yang realistis, terutama mengenai taktik perang hutan. (Sumber: https://www.beastsofwar.com/)
Hingga menjelang invasi Jepang, pertahanan di Singapura belum juga diperkuat oleh para penguasa kolonial Inggris. Hingga saat-saat terakhir, banyak penduduk masih melanjutkan aktivitas biasa seperti tidak terjadi perang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Di Singapura, pertikaian kepemimpinan terus berlanjut. Duff-Cooper telah memecat Sekretaris Kolonial Stanley Jones. Kemudian dia mengatur penggantian Brooke-Popham dengan Jenderal muda Sir Henry Pownall, seorang veteran Dunkirk dan sosok yang dianggap lebih mampu. Pownall tiba pada tanggal 23 Desember dan mengambil alih posisinya empat hari kemudian. Meskipun demikian, Duff-Cooper terus menggerutu, menjengkelkan para komandan militer dan warga sipil. Dia tidak tahu apa-apa tentang Malaya, bahkan menyarankan agar Angkatan Darat membakar semua 300 juta pohon karet untuk menggagalkan penggunaannya bagi Jepang. Simson tidak diizinkan membangun perkubuan di Pulau Singapura. Dia mengeluh kepada Percival, menanyakan mengapa dia tidak bisa membuat breastworks (pertahanan sementara dari kayu). “Saya percaya bahwa pertahanan seperti yang Anda ingin buat buruk bagi moral pasukan dan warga sipil,” jawab Percival. Simson ngeri dan merasakan darahnya menjadi dingin. Dia menjawab, “Tuan, moralnya akan jauh lebih buruk jika orang-orang Jepang mulai menyerbu ke seluruh pulau.” Sebenarnya, Percival hanya menggemakan rencana Brooke-Popham sebelumnya. Namun setelah Brooke-Popham pergi, Percival masih belum juga membangun perkubuan. Sebaliknya, pada tanggal 30 Desember, Duff-Cooper menempatkan Simson sebagai penanggung jawab pertahanan sipil, menyia-nyiakan bakatnya sebagai chief engineer.

“SAYA TIDAK INGIN MEREKA DIDESAK. SAYA INGIN MEREKA DIHANCURKAN” 

Sementara itu, tentara Jepang terus bergerak maju, menuju Sungai Perak. Divisi Pengawal akhirnya memasuki medan pertempuran, melewati daerah bermedan berat di timur Kuala Kangsar dan melintasi kawasan Perak. Yamashita, mengandalkan keunggulan psikologisnya, memerintahkan komandannya, “Saya tidak ingin mereka (musuh) mundur. Saya ingin mereka dihancurkan. ” Yamashita punya alasan lain untuk bergegas. Garis pasokannya yang memanjang berarti dia terancam kehabisan amunisi artileri. Pada tanggal 28, Jepang melancarkan serangan balik pada satuan 4/19 Hyderabad dan menyerang menembus pertahanan 2nd Argyll dan Sutherland Highlanders yang biasanya dapat diandalkan. Dalam momen satu-satunya selama kampanye pertempuran di Malaya, para perwira Argyll sampai harus mengacungkan pistol mereka untuk menghentikan gerak mundur pasukannya. Orang-orang Skotlandia itu lalu berkumpul kembali dan berjuang keras, tetapi hal itu saja tidak cukup. Resimen ke-11 pimpinan Kolonel Watanabe, kemudian menggunakan kapal kecil yang dirampas di Penang, mendarat di selatan Sungai Perak. Tentara Inggris lalu meninggalkan Ipoh dan terus mundur. Pada tanggal 30 Desember, Kabinet Perang di London menunjuk Field Marshal Sir Archibald Wavell sebagai Panglima Tertinggi wilayah Komando Australia-Inggris-Belanda-Amerika, termasuk area Malaya. Dia menerima telegram itu saat berburu babi hutan dengan keluarganya di Meerut, 40 mil dari Delhi, India. Ketika Wavell membaca telegram itu, dia berkata, “Saya pernah mendengar tentang seseorang harus menggendong bayinya … tapi ini bayinya kembar!” Pownall kemudian diangkat sebagai kepala stafnya, dan jabatan Panglima Tertinggi Timur Jauh dihapuskan. Wavell hingga saat itu telah membawa catatan panjang prestasi dan layanan tempur waktu menerima tugas barunya, termasuk saat ia memimpin kemenangan Inggris atas Tentara Italia di Afrika Utara pada tahun 1941. Dia juga masih memimpin saat kekalahan Inggris di Libya, Yunani, dan Kreta terjadi setelah itu. 

Letnan Jenderal Sir Archibald Wavell (kiri) dan Letnan Jenderal Sir Henry Pownell (kanan). (Sumber: https://www.nas.gov.sg/)

Pada tanggal 31 Desember, Korps ke-3 pasukan Inggris-India yang babak belur telah mundur kembali ke Kampar, 25 mil selatan Ipoh. Sekali lagi, Heath mengerahkan pasukannya untuk berperang, dan Matsui memutuskan untuk meluncurkan serangan dua cabang, dengan Resimen ke-11 bergerak di jalanan, sedangkan Resimen ke-42 memutar ke arah barat. Pada Hari Tahun Baru tahun 1942, pasukan Jepang menyerang. Rencana perang Matsui berantakan karena medan yang berat, Resimen ke-42 terjebak di rawa-rawa. Namun, rentetan tembakan artilerinya telah melemahkan pertahanan Inggris, dan serangan frontalnya mulai menyerang Batalyon Inggris. “Serangan (musuh) dilakukan dengan penuh keberanian dan mengabaikan keselamatan. Ada perlawanan keras meskipun menderita kerugian besar, akibat orang-orang dari Batalyon Inggris dan artileri pendukung mereka, dan akhirnya, ketika musuh telah merebut posisi kunci dan cadangan dari batalion habis, ada serangan bergaya tradisional dilakukan oleh kompi Sikh dari Resimen Punjab 1/8,” tulis seorang sejarawan Angkatan Darat India. “Serangan itu dilakukan dengan menembus tembakan mortir dan senapan mesin Jepang yang berat, menewaskan komandan kompi India. Serangan itu berhasil merebut kembali beberapa posisi, tetapi hanya 30 prajurit Punjab yang tersisa setelah pertempuran.” Sementara pertempuran ini berkecamuk, Yamashita, menggunakan kapal-kapal yang dirampas di Penang, mengirimkan pasukan pendarat 20 mil selatan dari garis pertahanan Inggris di Utan Melintang. Lagi-lagi tentara Inggris kembali dipaksa mundur. Pada hari yang sama, tentara Jepang mendarat di Kuantan di pantai timur dan mengusir Brigade India ke-22 dari lapangan terbang Kuantan, sehingga menempatkan tentara Jepang hanya dalam jarak 160 mil dari Singapura. Setelah lapangan terbang direbut, Jepang mulai memindahkan pesawat pengebom dan pesawat tempur ke landasan yang direbut, yang, seperti banyak pangkalan RAF lainnya yang direbut, penuh dengan perbekalan Inggris yang masih utuh, ditinggalkan dalam suasana kepanikan dan gerak mundur.

KEDATANGAN WAVELL DI SINGAPURA: “HARI-HARI PENUH URUSAN ADMINISTRASI TELAH BERAKHIR”

Dua hari kemudian, Brigade Infanteri ke-45 mendarat di Singapura. Percival mendapati mereka “(masih) sangat muda, tidak berpengalaman dan kurang terlatih, dan langsung turun dari kapal setelah pengalaman pertama mereka di atas laut.” Bagian dari Divisi India ke-17, yakni Brigade ke-45 dan ke-44 baru saja menyelesaikan pelatihan di Poona di India. Dilatih dan diperlengkapi untuk bertempur di gurun Afrika Utara, brigade itu tidak memiliki perangkat kompas dan perangkat nirkabel. Direktur Pelatihan Angkatan Darat India Brigadir Punch Cowan mengatakan bahwa tanpa pelatihan lebih lanjut, Divisi ke-17 hanya bagus untuk berperang melawan musuh kelas dua. Meskipun demikian, mereka cepat-cepat dikirim ke Malaya. Di Singapura, serangan udara Jepang sudah menjadi rutinitas harian. Pengeboman terus-menerus membuat para kuli ketakutan, dan pasukan Inggris harus bekerja menggantikan mereka sebagai buruh pelabuhan. Setidaknya 150 orang per hari meninggal karena bom, dan keadaan darurat militer diumumkan. Angkatan Darat akhirnya dapat menempatkan senjata AA (Artilerti Anti Pesawat) di properti klub golf, tetapi masih ada acara dansa setiap malam di Raffles Hotel. The Straits Times menulis, “Semua orang di negara ini tampaknya telah terbuai dengan rasa aman yang salah dengan pernyataan percaya diri mengenai penambahan terus menerus pada kekuatan angkatan bersenjata kita. Satu-satunya pihak yang tidak bisa digertak oleh mereka adalah orang-orang Jepang.” Yamashita lalu meluncurkan manuver amfibi lainnya di pantai barat pada tanggal 2 Januari, ketika detasemen Divisi Pengawal mendarat di Kuala Selangor dan Port Swettenham. Kali ini pihak Inggris bertahan, dan tentara Jepang tidak berhasil mendapatkan pijakan di Kuala Selangor sampai tanggal 4 Januari. Percival lalu memerintahkan Angkatan Laut Kerajaan untuk menggagalkan pendaratan Jepang. Namun, Laksamana Muda Geoffrey Layton, yang mengambil alih pimpinan setelah Laksamana Phillips tenggelam bersama Prince of Wales, telah menarik kapal penjelajah dan kapal perusaknya yang masih tersisa ke Ceylon. Pesan terakhirnya—“Saya pergi untuk mengumpulkan Armada Timur. Tetap tegakkan kepala dan teguhkan hatimu sampai aku kembali”—hanya merusak moral para pelaut yang tersisa. Yang tertinggal kini hanyalah dua kapal perusak dan dua perahu motor.

Pasukan Inggris berjalan diantara tank-tank ringan yang dihancurkan dalam pertempuran di Malaya. (Sumber: https://www.pacificatrocities.org/)

Dengan Angkatan Laut tidak mampu mengatasi Jepang, RAF telah dikalahkan, dan Angkatan Daratnya terus mundur, Wavell terbang ke Singapura untuk memeriksa situasi disana. Langkah pertamanya adalah mengirimkan telegram ke Duff-Cooper yang memerintahkan pulang politisi itu. Duff-Cooper dengan senang hati pergi, setelah melihat berbagai peristiwa yang terjadi. Meski begitu, Duff-Cooper menjelaskan keluhan Simson kepada Wavell, dan Field Marshal itu heran bahwa benteng pertahanan belum dibangun di Singapura. Wavell awalnya berpikir bahwa Simson adalah pembuat onar yang berbohong, ingin membalas dendam dengan melawan Percival. Wavell kemudian memanggil Percival, dan dua perwira tinggi itu pergi ke pantai utara Singapura. Wavell tercengang melihat bahwa keluhan Simson benar. “Sangat terguncang,” saat dia menulis dalam sebuah surat, Wavell bertanya kepada Percival mengapa tidak ada yang dilakukan, dan juga meminta penjelasan “atas kelalaiannya.” Percival memberikan jawaban yang menyangkut tentang moral. Wavell mengulangi (mungkin tanpa sadar) kata-kata Simson tentang orang-orang Jepang yang mengalir masuk ke pulau itu malahan bisa lebih buruk bagi moral. Wavell lalu memerintahkan tim pertahanan Singapura untuk mulai menggali kubu pertahanan. Kemarahan Wavell, bagaimanapun memiliki beberapa dampak. Sir Shenton Thomas mengirimkan surat edaran kepada Pegawai Negeri Sipil Malaya: “Hari-hari penuh urusan administrasi telah berlalu. Tidak boleh ada lagi perpindahan berkas dari satu departemen ke departemen lain, dan dari satu petugas di satu departemen ke departemen lain.” The Straits Times dengan asam mengomentari ini: “Pengumuman ini terlambat sekitar dua setengah tahun.”

UNIT PUNJAB KOLONEL DEAKIN RUNTUH

Divisi ke-11 sekarang mundur ke Sungai Slim untuk membuat pertahanan, namun di bawah pengeboman dan penembakan terus-menerus, para prajurit tidak bisa beristirahat. “Batalion itu sangat kelelahan,” tulis Kolonel Deakin dari satuan Punjab 5/2. “Kebanyakan dari semua komandan, yang karena tanggung jawabnya telah mencegah mereka dari tidur nyenyak. Batalion itu telah mundur sejauh 178 mil dalam waktu tiga minggu dan hanya memiliki waktu istirahat tiga hari. Kami telah menderita 250 korban yang sebagian besar telah tewas. Semangat para prajurit itu rendah, dan batalion kami telah kehilangan efisiensi tempurnya hingga 50 persen.” Pada tanggal 5 Januari, Deakin menulis, “Saya menemukan banyak prajurit lesu yang tampaknya tidak ingin melakukan apa-apa selain duduk di parit. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa tidur karena serangan udara musuh yang terus berlanjut. Bahkan, mereka benar-benar tertekan. Tidak ada pergerakan di jalan, dan kesunyian mematikan yang ditekankan oleh efek hutan yang ada di sekeliling mereka membuat para prajurit menjadi gelisah.… Hutan membuat orang-orang itu merasa buta.” Hari itu tentara Jepang menyerang lagi. Kali ini senapan mesin ringan Bren dari satuan Hyderabad 4/19 menghentikan serangan itu, menyebabkan 60 orang tewas di medan tempur. Pada pukul 3 pagi keesokan harinya, di bawah rembulan, pasukan Jepang mengirim beberapa tank dan truk yang membawa pasukan infanteri. Tank-tank ini kemudian dihentikan oleh ranjau, dan pasukan infanterinya melompat keluar dari truk untuk menyerang. Tentara Inggris menyerang balik dengan bayonet, menghancurkan tiga tank. Tentara Jepang lalu berkumpul kembali dan mengapit posisi pasukan Inggris melalui beberapa jalan melingkar yang ditumbuhi semak-semak. Tank Jepang kemudian bergemuruh di atas semak-semak dan melindas Kompi Cadangan pasukan Punjab. “Pertempuran yang … membingungkan terjadi,” tulis Deakin dari unit Punjab. “Tank-tank itu maju, mesin menderu, kru berteriak, senapan mesin menembak kesana-kemari, dan mortir serta meriam menembak habis-habisan. Peleton yang yang bertahan melemparkan granat, dan satu tank dihantam oleh senapan anti-tank. Dua senjata anti-tank menembakkan dua peluru yang salah satunya menghantam tepat sasaran, dan kemudian mundur ke area Argylls. Satu lagi tank menghancurkan dirinya sendiri setelah melindas ranjau.” 

Untuk membuka serangan, pasukan Jepang kerap mengerahkan tank-tank ringannya. Tank-tank Jepang sebenarnya ringkih dan banyak yang dihancurkan, namun sayangnya banyak pasukan Inggris yang belum dilatih untuk menghadapinya. (Sumber: https://www.wallpaperflare.com/)
Sebuah manuver mengapit dua sisi, satu sisi sebagai tipuan – sebuah taktik yang bisa dilakukan Inggris jika pelatihan perang hutan diperluas sebelum invasi Jepang. (Sumber: https://www.forces.net/)
‘Pertahanan agresif’ Inggris (berwarna biru) mengantisipasi serangan sayap Jepang – sebagian besar unit Inggris di Malaya tidak dilatih untuk melakukan hal ini. (Sumber: https://www.forces.net/)

Dihantam dengan keras, tentara Jepang menemukan jalan melingkar lainnya dan mengepung pasukan Punjab. Orang-orang India mencoba memperingatkan satuan Argylls melalui telepon, tetapi tank-tank Jepang memutuskan saluran telepon tepat setelah pasukan sapper memberi informasi. Enam mil di utara jembatan sungai Slim, 30 tank Jepang menyerang satuan Argylls dan 3rd Indian Hussars, yang dilengkapi dengan mobil lapis baja yang dipasangi senapan mesin Vickers dan senapan antitank Boys. Sayangnya para kru tidak pernah dilatih menggunakan kedua senjata tersebut. Tank-tank Jepang kemudian menghancurkan mobil-mobil lapis baja itu dan terus bergerak, merebut jembatan sebelum ada yang bisa meledakkannya. Orang-orang Skotlandia yang kecewa itu mundur sementara tentara Jepang menghantam pasukan Punjab dari belakang, memaksa mereka mundur juga. Deakin sangat marah saat unitnya berantakan di sekelilingnya. “Berapa banyak prajurit dari Batalyon yang terbunuh dan terluka dan berapa banyak yang pergi ke dalam hutan tidak diketahui dan mungkin tidak akan pernah diketahui. Apa pun yang terjadi, batalion itu telah hancur dan gagal untuk bertahan dan bertempur sampai orang terakhir. Apakah Batalyon India dapat diharapkan untuk melawan sejumlah besar tank tanpa pertahanan anti-tank bukanlah alasan, ”tulisnya. Deakin menambahkan, “Harus diakui sekaligus bahwa Batalyon telah mengecewakan dan gagal memenuhi harapan sebagai unit tempur dan kadang-kadang menunjukkan kurangnya keberanian secara kolektif dan individu. Para Perwira India yang bertugas, kecuali Letnan Chadda telah gagal menunjukkan kepemimpinan dan semangat pengorbanan diri serta keberanian yang penting bagi pasukan asal India. Apakah Perwira Inggris akan melakukannya dalam kondisi yang sama tidak dapat dikatakan, tetapi dua orang Inggris di Batalyon itu yang memiliki kesempatan, telah melakukannya.”

DIVISI INDIA KE-11 HANCUR

Ada lebih banyak kegagalan yang terjadi. Banyak dari orang-orang terbaik telah mati dalam pertempuran sebelumnya dan tidak ada penggantinya. Orang-orang itu telah bertempur siang dan malam selama sebulan tanpa istirahat melawan musuh yang terus-menerus menyerang dan senantiasa ada di bawah pengeboman terus-menerus. Kecepatan dan kerasnya serangan Jepang membuat Divisi ke-11 kehilangan keseimbangan. Lebih buruk lagi, orang-orang India amat mengandalkan komunikasi telepon, yang terus terputus ketika pasukan Jepang merobohkan tiang-tiang kabel komunikasinya. Orang-orang Jepang menyerang dengan cepat pasukan Gurkha 2/9 dan ke Gurkha 2/1, dan mencerai-beraikannya. Kemudian tank-tank Jepang menembaki dua baterai artileri yang diparkir di pinggir jalan dan mencapai jembatan sungai Slim. Pertahanan di sana terdiri dari pasukan yang mengawaki senjata antipesawat Bofors, yang menembaki tank-tank Jepang yang maju tanpa berhasil mengenainya. Peluru-peluru kaliber 40mm memantul dari lambung tank Jepang, dan senapan mesin Jepang memusnahkan para penembak senjata Bofors. Kemudian tank-tank itu menyeberangi jembatan dan melaju ke selatan dua mil lagi. Di sana mereka bertemu dengan Resimen Artileri Lapangan ke-155 Kerajaan Inggris. Kedua belah pihak terkejut mendapati satu sama lain, tetapi meriam kaliber 4,5 inci (114 mm) Inggris meledakkan tank terdepan dari jarak 30 yard (27 meter), akhirnya menghentikan serangan Jepang untuk sesaat. 

Mayor Jenderal Gordon Bennett, komandan Divisi ke-8 Australia. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Pasukan Australia memasang mortir di kebun karet di Malaya selama Perang Dunia II sekitar tahun 1942. Meski masih banyak yang kurang terlatih, namun pasukan Australia menunjukkan determinasi dan kemampuan tempur yang baik di Malaya. (Sumber: https://www.couriermail.com.au/)

Pertempuran itu hampir menghancurkan Brigade India ke-12. Sementara itu unit Argylls yang dapat diandalkan tinggal berjumlah seratus orang. Tentara Jepang telah menangkap atau menghancurkan sejumlah besar senjata dan kendaraan transportasi Inggris. Percival terpaksa melanjutkan penarikan mundur, dan mengakui bahwa “Divisi India ke-11 untuk sementara sudah tidak lagi layak disebut sebagai sebuah formasi tempur.” Satu-satunya unit Percival yang masih ada adalah Divisi Australia ke-8 pimpinan Gordon Bennett. Banyak orang-orang Australia dari satuan itu baru saja belajar cara menembakkan senapan mereka. Artileri Australia juga terdiri dari beberapa senjata yang dirampas dari tentara Italia di Libya dan meriam kaliber 75 mm buatan Prancis yang didapat di Suriah, dan para krunya tidak terlatih dalam menggunakannya. “Kami akan bertempur dengan meriam 2 pounder, yang tidak pernah kami tembakkan, kecuali secara teori,” tulis seorang penembak meriam antitank. Di satu sisi sikap apatis dari orang-orang Melayu belum juga terpatahkan. Sebuah unit medis Angkatan Darat pergi ke bungalo di sebuah perkebunan karet untuk mendirikan pusat perawatan, dan manajernya melarang pihak militer untuk keluar masuk tanpa izin di properti pribadinya. Pengaduan resmi akan dikirimkan untuk setiap pelanggaran peraturan semacam ini. Para Perwira Inggris yang kesal yang memimpin detasemen itu berkata, “Kami akan segera pergi, dan orang Jepang akan tiba. Mungkin mereka akan mendengarkan keluhanmu.”

“EMOSI JENDERAL KITA HAMPIR MELEDAK” 

Di pihak Jepang, Yamashita juga mengeluh pada buku hariannya. Laporan liputan pers yang gembira tentang kemenangannya datang dari Tokyo, yang tidak menyenangkan sang jenderal. Dia masih menjadi salah satu musuh Tojo dan takut perdana menteri itu akan bergerak untuk melenyapkan saingan potensialnya, terutama yang sukses. Lebih buruk lagi, Yamashita dan perwira stafnya, Tsuji, berselisih. Yang terakhir menentang gerakan amfibi mengapit Yamashita dan telah berbicara untuk mendukung pasukan Jepang yang telah melakukan tindak pemerkosaan dan pembunuhan di Penang. Yamashita berteriak pada Tsuji, yang membuat perwira staf itu kehilangan muka. Ketika Tsuji menawarkan pengunduran dirinya, Yamashita mengabaikannya. Tsuji yang marah sekarang mengirim pesan rahasia kembali ke Tokyo mencela Yamashita. Yamashita sendiri juga tidak bisa mempercayai atasannya, Field Marshal Hisaichi Terauchi, yang juga merupakan saingan lamanya. Uniknya, kemenangan Jepang datang dengan diliputi ketegangan. Angkatan Darat ke-25 telah bergerak lebih cepat dari jalur pasokannya. Para prajurit Jepang itu kelaparan, sakit, dan kekurangan amunisi. Mereka bisa bertahan dengan menggunakan amunisi dan ransum Inggris yang dirampas. Yamashita mengisi buku hariannya dengan nada marah. 1 Januari: “Saya tidak bisa mengandalkan komunikasi dengan Terauchi dan Tentara Selatan, atau dukungan udara dari mereka. Sangat buruk bahwa Jepang tidak memiliki seorang pun di posisi tinggi yang dapat diandalkan. Kebanyakan perwira menyalahgunakan kekuasaan mereka. Mereka tidak memiliki hati nurani dan satu-satunya tujuan mereka adalah meraih lebih banyak kekuasaan.”

Tank Chi-Ha dan truk tentara Jepang selama invasi Malaya, 1942. Meski tentaranya bisa bergerak cepat, namun Jenderal Yamashita menghadapi masalah perbekalan yang pelik. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Personel Royal Engineers bersiap untuk meledakkan jembatan di dekat Kuala Lumpur selama gerak mundur pasukan Inggris. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Tentara Jepang bergerak masuk Kuala Lumpur. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Ketika delegasi dari Tokyo berkunjung pada tanggal 9 Januari, Yamashita menulis, “Lima perwira staf telah tiba dari Tokyo. Aku benci mereka. Terauchi brengsek itu! Dia tinggal dalam kemewahan di Saigon dengan tempat tidur yang nyaman, makanan enak, dan bermain catur Jepang.” Yamashita juga mengecam juniornya, khususnya dari Divisi Pengawal Kekaisaran. “(Nishimura) telah menyia-nyiakan satu minggu dengan tidak mematuhi perintahku.” Divisi 5 Matsui: “Pada tanggal 6 saya memerintahkan mereka untuk melakukan gerakan mengapit dan dengan demikian menjebak musuh dan menghancurkannya. Tapi perintahku tidak dipatuhi. Saya muak dengan kurangnya pelatihan dan kualitas rendah dari para komandan saya.” Pada tanggal 8 Januari: “Para komandan batalyon dan pasukan tidak memiliki semangat juang. Mereka tidak tahu bagaimana cara menghancurkan musuh.” Dia memiliki keluhan serius tentang masalah yang akan merusak Jepang dalam pertempuran selama bertahun-tahun yang akan datang. Pasukan Jepang banyak bicara saat mereka bergerak melewati hutan; mereka kerap tersesat; banyak perwira dan prajurit tidak bisa membaca peta; koordinasi infanteri-artileri yang buruk; patroli yang lemah. Yang pasti, Yamashita sendiri telah kelelahan, dan seorang perwira staf berkata, “Jenderal kita hampir mengalami ledakan emosi.” Pada tanggal 11 Januari, dia bergembira, ketika Inggris menarik diri dari ibu kota Malaya, Kuala Lumpur, meninggalkan lapangan terbang yang cukup utuh disana, dengan lebih banyak perbekalan, tangki minyak yang terbakar, dan peta baru Singapura di dalam gerbong kereta api.

BALA BANTUAN TIBA

Sepanjang hari pada tanggal 10, Inggris menarik diri dari Kuala Lumpur, dengan pasukan yang kelelahan mengendarai mobil-mobil pribadi yang diambil alih, sepeda motor, 11 mesin giling, dan bahkan dua mobil pemadam kebakaran. Penduduk asli Cina, Melayu, dan India menyaksikan dengan diam ketika orang-orang kulit putih yang dulu berkuasa melarikan diri dalam kekalahan dan kelelahan. Gambaran itu tidak akan hilang dimata pemduduk-penduduk Asia. Yamashita senang tetapi tidak membuang waktu melakukan parade kemenangan. Dia menuliskan apresiasinya terhadap situasi yang terjadi untuk tiga komandan divisinya. Sementara itu garis pertahanan Inggris berikutnya kemungkinan adalah Sungai Muar. Untuk mencegah hal ini, Pengawal Kekaisaran akan berkonsentrasi di Malaka dan menuju ke selatan, bergabung dengan Divisi ke-18, yang baru saja mendarat. Setelah istirahat, Divisi ke-5 akan terus menyusuri jalan utama. Pada tanggal 13, konvoi lain tiba di Singapura, membawa 51 pesawat tempur Hurricane, pesawat pemenang dalam Pertempuran Inggris. Meski demikian, saat itu Hurricane sudah kalah kelas dengan tipe terbaru dari pesawat tempur Me-109 Jerman, ia juga tidak berdaya melawan pesawat tempur Zero dan Oscar Jepang yang mendominasi langit Malaya. Disamping itu konvoi tersebut hanya membawa 24 pilot Hurricane, oleh karenanya pilot-pilot Buffalo yang kelelahan harus berlatih kembali di pesawat yang baru. Sebuah konvoi lainnya pada tanggal 22 membawa 1.900 pasukan bala bantuan Australia, termasuk Batalyon Senapan Mesin 2/4 dan Brigade Infanteri ke-53 Divisi Inggris ke-18. Divisi ke-18 tidak punya waktu untuk berlatih di kapal perang mereka selama perjalanan 11 minggu atau sekalipun di Malaya. Para pemuda itu, semuanya prajurit lini kedua, dikejutkan oleh kehancuran dan kepanikan yang mereka lihat ketika mereka tiba. Mereka bahkan tidak memiliki pakaian tropis. Orang-orang Australia ini termasuk orang-orang yang hanya memiliki tujuh hari pelatihan. Banyak yang tidak pernah menembakkan senapan.

Hurricane IIC, mungkin milik Skuadron No.488 (NZ) di lapangan terbang Kallang Singapura, Jan/Feb 1942. Meski sukses digunakan dalam Battle of Britain, namun Hurricane sukar menandingi Zero Jepang di Malaya. (Sumber: https://thejavagoldblog.wordpress.com/)

Dengan meriam Jepang kini cuma berjarak 100 mil dari Singapura, Percival mengatakan kepada pasukannya bahwa mereka mendapatkan “bantuan” mereka dan mendesak orang-orangnya yang kelelahan dan kurang terlatih untuk bertarung seperti gerilyawan. Brigade ke-27 Australia dikirim ke utara untuk bergabung dengan Divisi India ke-9 dan Brigade India ke-45 yang baru tiba, di bawah pimpinan Brigadir H.C. Duncan. Semua grup ini akan disebut sebagai Westforce. Mereka akan menguasai wilayah barat laut Johor. Kekuatan utama lainnya, Brigade ke-22 Australia dan Divisi India ke-11, di bawah Korps ke-3, akan menjadi Pasukan Timur dan akan mempertahankan seluruh Johore sampai ke pantai timur Malaya. Setelah Divisi Inggris ke-18 terbentuk, mereka akan menggantikan tentara Australia dan Divisi India ke-11, dan mereka akan digunakan sebagai kekuatan untuk melakukan serangan balik. Akan ada lebih banyak perubahan, saat Billy Key mengambil alih Divisi India ke-11 dari Mayor Jenderal Paris, memberikan satuan yang babak belur itu komandan ketiganya dalam waktu dua bulan.

PENYERGAPAN PADA DETASEMEN MUKAIDE

Di atas kertas, rencana tersebut terlihat baik-baik saja, tetapi ada banyak kelemahan. Divisi India ke-11 sudah kelelahan. Tidaklah bijaksana untuk memisahkan orang-orang Australia. Brigade India ke-45 Duncan dikirimkan ke dalam pertempuran yang menentukan tanpa mendapat pelatihan perang hutan. Bahkan Winston Churchill menunjukkan bahwa satu-satunya titik vital di Malaya adalah Benteng Singapura, dan pertempuran yang terjadi di utara hanya melemahkan pertahanan pulau itu. Meskipun demikian, perintah itu disergap, pengendara sepeda motor yang ditugaskan untuk mengirimkannya ditembak, dan tentara Australia memasuki pertempuran di Gemas, menghadapi Divisi Infanteri ke-5 Jepang yang tangguh. Bennett percaya pada taktik penyergapan, jadi pada tanggal 14 Januari, tentara Australia dari unit 2/30 membuat salah satu diantaranya di jalan utama Gemas di sebelah timur jembatan di sana. Letnan Kolonel F.G. Galleghan mengatakan kepada perwira 2/30-nya, “Reputasi tidak hanya AIF di Malaya, tetapi juga orang-orang Australia, ada di tangan unit ini.” Saat minum teh, kompi Detasemen Mukaide yang beranggotakan 250 orang (batalyon infanteri bersepeda, yang didukung oleh tank, meriam, dan pasukan zeni) turun ke jalanan. Saat mereka lewat, tentara Australia meledakkan jembatan, menyergap tentara Jepang, dan melepaskan tembakan dengan segala yang mereka miliki, menghancurkan serangan Jepang itu. Taktik itu berhasil. “Sergapan itu melemparkan pecahan kayu, sepeda, dan mayat ke angkasa dalam ledakan yang mematikan,” lapor batalion itu. Komandan Kompi B berkata, “Sejauh 300 yard (274 meter) jalan dipenuhi dengan orang-orang mati dan sekarat—akibat ledakan ketika jembatan diledakkan dan tembakan mematikan dari senjata Bren kami.”

Jembatan Gemencheh dekat Gemas. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Tentara Jepang bergerak dekat Gemas, Malaya. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Seorang awak tank Jepang yang tewas tergeletak di samping tanknya sementara tank lain yang rusak membara di latar belakang. Kendaraan lapis baja itu hilang dalam bentrokan keras dengan pasukan Australia yang melakukan perlawanan sengit. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Keesokan harinya, Jepang menjawab penyergapan dengan mengebom posisi tentara Australia dan menyerang lagi. Tentara Australia membuka tembakan dan membakar tank pertama, melumpuhkan yang kedua, dan memaksa yang ketiga ditarik mundur. Empat tank lagi terhuyung-huyung, dan mortir dan senjata antitank Australia mengenai yang pertama, melumpuhkan yang kedua, membakar yang ketiga, dan menghancurkan yang keempat ketika sebuah bom mortir menghantam turret sempitnya. Unit 2/30 sementara itu menderita korban 17 tewas, sembilan hilang, dan 55 terluka, tetapi mengambil banyak korban di pihak Jepang sebelum mundur. RAF kemudian muncul pada tanggal 16, dengan 12 pesawat tempur Buffalo dari Skuadron RAAF ke-453 meluncur di atas barisan tentara Jepang, dan memberondong mereka dengan berat. Jepang lalu membalas dengan mengirimkan 27 pesawat pengebom untuk menggempur pangkalan RAAF di Sembawang. Pengeboman itu membuat Inggris hanya tinggal memiliki 74 pesawat pengebom dan 28 pesawat tempur, yang harus melawan 250 pesawat pengebom Jepang dan 150 pesawat tempur di Malaya. Sementara itu, Matsui yang kesal, mengirim serangan setara divisi penuh, sementara Pengawal Kekaisaran Nishimura menyerang Brigade India ke-45 yang baru di Sungai Muar dekat pantai pada tanggal 15. Pengawal Kekaisaran sedang beruntung. Ketika mereka menyerang Satuan Senapan Rajputana ke-7/6, mereka menemukan mereka, sesuai perintah Bennett, di utara garis sungai, bukan di selatan. Pasukan Pengawal menghancurkan dua kompi Rajput dan kemudian Jat 4/9 dan Garwhal 5/8. Brigade ke-45 yang dipimpin langsung Brigadir Duncan secara pribadi memimpin serangan bayonet dan terbunuh. Brigade ke-45 hancur. Bennett lalu menempatkan Batalyon 2/29 di Bakri untuk mempertahankan barisan dan menemukan orang-orang India berlari kembali dari garis depan dengan berjalan kaki dan dengan truk. Orang-orang Australia menembaki tentara India untuk menghentikan mereka pergi, dan orang India mengira mereka berada di bawah serangan Jepang, yang memicu beberapa baku tembak “antar kawan” yang tidak menguntungkan. Posisi Australia yang baru didirikan tidak dapat dipertahankan. Bennett, yang terpana oleh kegagalannya, putus asa.

Awak meriam 25 pounder Australia bersiap melepaskan tembakan saat tentara Jepang mendekat di Bakri. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

BARISAN ANDERSON

Asap mengepul di perkebunan karet di Malaya, saat tentara Inggris bergerak mundur ke Singapura. (Sumber: https://www.forces.net/)

Ketika orang-orang Australia itu mundur pada tanggal 20 Januari, Letnan Kolonel C.G.W. Anderson, yang memimpin Batalyon 2/19, mendapati dirinya memimpin sekumpulan pasukan Australia dan India, termasuk sebagian besar Brigade India ke-45, yang telah dihancurkan di belakang garis depan Jepang. Dengan ketenangannya, Anderson memimpin kelompok campuran prajuritnya keluar melalui garis depan musuh, di bawah tembakan senapan mesin dan serangan udara. “Barisan Anderson” terjebak lima mil di belakang wilayah musuh dan bergerak ke timur menuju Parit Sulong. Di sana, Anderson menerima permintaan menyerah Jepang. Jika Anderson menyerah, Jepang akan membiarkan ambulans yang membawa korban terluka lewat. Anderson menolak permintaan itu. RAF mencoba membantu, ketika dua pembom torpedo biplane Fairey Albacore menjatuhkan makanan dan morfin ke barisan itu. Pada pukul 9 pagi, Anderson mendapati dirinya tidak dapat memindahkan kendaraannya melintasi Jembatan Parit Sulong. Dia memerintahkan penghancuran kendaraan-kendaraan Bren Carrier, artileri kaliber 25 pounder, dan kendaraannya, serta menyuruh anak buahnya mundur melalui rawa-rawa dan hutan-hutan. Dia terpaksa meninggalkan 110 orang Australia yang terluka dan 40 orang India yang tidak bisa bergerak. Ketika Jepang menangkap mereka, mereka menelanjangi orang-orang yang terluka dan memukuli mereka, sementara mereka tidak diberi air dan perawatan medis. Ketika tim kamera Jepang muncul, para penjaga Jepang menunjukkan botol air minum dan rokok, berpura-pura memberikannya kepada tawanan perang sementara kamera mengabadikan foto. Segera setelah kru kamera itu pergi, Jepang membuang air minum dan melanjutkan membayoneti dan menembak sebanyak 150 tawanan perang. Dua dari mereka pura-pura mati dan mampu melarikan diri ke garis pertahanan Inggris, sambil membawa bukti yang pada akhirnya akan mengirim komandan Divisi Pengawal, Nishimura, ke tiang gantungan. Anderson dan 900 anak buahnya yang tersisa, kelelahan, kelaparan, dan ditembaki, terus berjalan hingga tanggal 23, ketika mereka mencapai garis pertahanan satuan 2/29. Anderson lalu mendapatkan medali Victoria Cross atas kepemimpinan dan keberaniannya. Sementara itu, orang-orang Jepang telah kehilangan satu kompi tank dan satu batalyon pasukan karena orang-orang Anderson, dan catatan mereka menunjukkan kapabilitas dari orang Australia yang berkacamata itu dan anak buahnya. Anderson kemudian berkomentar, “Unit Australia yang terlatih menunjukkan kekuatan moral di hadapan musuh. Mereka mengungguli tentara Jepang dalam bersembunyi di hutan dan kemampuan mengatur tembakan … (dan menimbulkan) banyak korban dengan korban kecil diantara mereka sendiri. Dalam pertempuran jarak dekat (Jepang) membuat penampilan yang sangat buruk melawan semangat yang superior dan pelatihan yang bagus dari AIF.”

Penembak senjata anti-tank Australia menembaki tank Jepang di Jalan Muar-Parit Sulong. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Gerak maju Pasukan Jepang di Semenanjung Malaya. (Sumber: https://www.pacificatrocities.org/)

Bersambung…….

Baca juga Part II:

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Fall of Malaya: Japanese Blitzkrieg on Singapore By David H. Lippman

https://warfarehistorynetwork.com/2019/01/28/the-fall-of-malaya-japanese-blitzkrieg-on-singapore/

Time Life World War II series Volume 4: The Rising Sun by Arthur Zich, 1977, p 119-122, p 126

Invasion of Malaya

https://www.awm.gov.au/collection/E84717

A World Turned Upside Down – British Defeat In Malaya And Singapore

https://www.forces.net/heritage/wwii/world-turned-upside-down-british-defeat-malaya-and-singapore

Exit mobile version