Sejarah Militer

Kembali & Mencari Yang Masih Tersisa: Pengalaman Serdadu Keturunan Yahudi Jerman-Austria dalam Pasukan Sekutu

Sekitar 1,5 juta orang keturunan Yahudi bertempur bersama tentara reguler Sekutu dalam Perang Dunia II. Dalam banyak kasus, persentase orang Yahudi yang berperang lebih besar daripada persentase orang Yahudi dalam populasi mereka. Dari sekitar 500.000 tentara Yahudi yang bertempur bersama Tentara Merah selama Perang Dunia II, sekitar 120.000 orang tewas dalam pertempuran dan dalam menjalankan tugas. Pihak Jerman sendiri diketahui membunuh 80.000 diantaranya sebagai tawanan perang. Sementara itu lebih dari 160.000 personel, di semua tingkatan komando, mendapatkan penghargaan, dengan lebih dari 150 diantaranya mendapat gelar “Pahlawan Uni Soviet”—penghormatan tertinggi yang diberikan kepada tentara dalam dinas Tentara Merah. Sekitar 550.000 tentara keturunan Yahudi lainnya bertempur dalam Angkatan Bersenjata AS selama Perang Dunia II. Mereka bertugas di semua lini di Eropa dan Pasifik, dimana 10.000 diantaranya tewas dalam pertempuran, dan lebih dari 36.000 mendapatkan penghargaan. Banyak dari tentara keturunan Yahudi itu juga ambil bagian dalam pembebasan kamp-kamp tawanan dan kamp konsentrasi di seluruh Eropa. Kemudian, sekitar 100.000 orang keturunan Yahudi diketahui bertempur bersama tentara Polandia dalam melawan invasi Jerman. Mereka menyumbang 10% dari total tentara Polandia, sepadan dengan persentase orang Yahudi dalam populasi di negara itu. Sekitar 30.000 orang Yahudi gugur dalam pertempuran, ditawan oleh Jerman, atau dinyatakan hilang selama pertempuran mempertahankan Polandia, 11.000 diantaranya gugur dalam pertahanan kota Warsawa. Ribuan orang Yahudi kemudian juga turut bertugas di berbagai unit tentara Polandia dalam Pasukan Sekutu yang berperang melawan Jerman. Sementara itu, lebih dari 60.000 orang Yahudi sempat bertugas di Angkatan Bersenjata Inggris (tidak termasuk personel wilayah dominion atau kolonial), termasuk 14.000 di Angkatan Udara dan 15.000 di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Selain itu, sekitar 30.000 orang Yahudi dari Wilayah Mandat Palestina juga ikut bertugas dalam militer Inggris, termasuk 5.500 yang bertugas dalam Brigade Yahudi, sebuah formasi militer yang terdiri dari tentara Yahudi dari wilayah Palestina yang dipimpin oleh perwira Inggris-Yahudi. Sekitar 17.000 orang Yahudi Kanada tercatat turut bertugas di Angkatan Bersenjata Kanada. Dari berbagai cerita, salah satu yang cukup unik dari pengalaman orang-orang Yahudi dalam Perang Dunia II, adalah mereka yang dulunya secara turun temurun tinggal di wilayah Jerman dan Austria, kemudian harus menjadi pengungsi saat rezim Nazi berkuasa di kedua negara itu pada awal tahun 1930an.

Veteran Perang Dunia II Yahudi Soviet, Matvey Gershman, 90, berpose di rumahnya di kota Ashkelon, Israel selatan, Jumat, 12 April 2013. Diketahui sekitar 500.000 tentara keturunan Yahudi bertempur bersama Tentara Merah selama Perang Dunia II. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)
Tentara Yahudi Amerika dalam Perang Dunia II. Sekitar 550.000 tentara keturunan Yahudi bertempur dalam Angkatan Bersenjata AS selama Perang Dunia II. Mereka bertugas di semua lini di Eropa dan Pasifik, dimana 10.000 diantaranya tewas dalam pertempuran, dan lebih dari 36.000 mendapatkan penghargaan. (Sumber: https://www.jewishboston.com/)
Para pengungsi Yahudi melarikan diri dari teror rezim Nazi di Jerman dan Austria pada tahun 1939. Pada tahun 1940, sekitar 280.000 orang Yahudi telah meninggalkan Jerman dan 117.000 lainnya telah meninggalkan Austria. Dari 95.000 orang Yahudi Jerman dan Austria yang berimigrasi ke Amerika Serikat, diperkirakan 9.500 bertugas di angkatan bersenjata AS, banyak diantaranya ada di unit tempur. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)

Begitu mereka bisa melarikan diri dari Eropa yang didominasi Nazi, ratusan orang Yahudi Jerman dan Austria bergabung dengan militer Amerika dan Inggris untuk membantu mengakhiri teror Nazi. Masing-masing dari mereka telah menghadapi teror Holocaust, dan tahu betul bahwa, jika mereka tidak pergi tepat waktu, mereka kemungkinan akan berakhir di kamp konsentrasi atau mengalami pemusnahan. Juga dengan keberanian yang sama besarnya, sebagian dari mereka memilih kembali untuk melawan Nazi, karena mereka sadar bahwa dengan melakukan itu, mereka sadar akan menghadapi bahaya besar jika mereka sampai ditangkap musun. Pada tahun 1940, sekitar 280.000 orang Yahudi telah meninggalkan Jerman dan 117.000 lainnya telah meninggalkan Austria. Dari 95.000 orang Yahudi Jerman dan Austria yang berimigrasi ke Amerika Serikat, diperkirakan 9.500 bertugas di angkatan bersenjata AS, banyak diantaranya ada di unit tempur. Sementara itu, hampir 13.000 pengungsi Yahudi—pria dan wanita—bertugas di angkatan bersenjata Inggris. Para pengungsi ini memiliki pengetahuan langsung tentang musuh, pemahaman yang luas tentang jiwa orang Jerman, pengetahuan rinci tentang negara itu, dan, tentu saja, memiliki keterampilan sebagai penutur asli bahasa Jerman. Sekutu kemudian menggunakan keterampilan dan pengetahuan para pengungsi untuk mengumpulkan data intelijen militer, dan banyak yang dipercayakan dengan peran penting dalam pendudukan Jerman dan Austria. Peran mereka yang menonjol dan pas adalah saat ditugaskan dalam unit interogasi tahanan di garis depan, yang menginterogasi oknum-oknum Nazi yang pernah menganiaya mereka, terbukti sangat penting untuk kemenangan Sekutu. Berbagai peristiwa dan keadaan yang luar biasa, jika tidak bisa dibilang belum pernah terjadi sebelumnya, yang melibatkan sejumlah tentara Sekutu bekas pengungsi yang mengesankan selama periode itu, dapat disimpulkan dengan baik oleh sejarawan Arnold Pauker, mantan pengungsi asal Jerman dan tentara di Angkatan Darat Inggris: “Sungguh mengerikan untuk harus mengatakan ini, tetapi dalam satu hal kami orang Yahudi Jerman cukup beruntung bahwa Hitler datang kepada kami terlebih dahulu. Ini berarti bahwa mayoritas dari kami dapat melarikan diri atau berimigrasi tepat waktu, dan di antara jumlah ini, generasi muda mewakili bagian terbesarnya. Ketika perang pecah, ada banyak diantara kami yang memasuki usia militer, yang telah sabat menunggu kesempatan untuk melawan Nazi Jerman.” Berikut ini adalah kisah mereka, yang dituturkan dengan kata-kata mereka sendiri.

Siegmund Spiegel, Divisi Infanteri ke-1, Markas Besar SHAEF, Gera, Jerman 

“Awal bulan Agustus 1944 telah terjadi penerobosan di front Normandia. Setelah jatuhnya St. Lô, sebuah kota, yang untuk semua maksud dan tujuan, hancur total, garis depan kemudian menjadi cair. Saat itulah, pada tanggal 7 Agustus 1944, setelah mengetahui bahwa markas Angkatan Darat Jerman di dekat Mayenne telah direbut, tim kami akan melanjutkan informasi ini ke Bagian G-2 (Intelijen) Angkatan Darat Ketiga. Pada saat kami sampai di sana, garis depan telah berubah lagi, dan sebagai gantinya, kami harus menuju Falaise. “Kami turun ke lembah di jalan pertanian satu jalur ketika suara ‘rentetan’ tembakan senapan mesin ringan Jerman semakin dekat. Di sanalah saya memberi tahu kapten saya, Curts, seorang perwira pengamat bahwa lembah itu ‘terlalu tenang’, bahkan meski dengan diiringi suara-suara dari tembakan senjata ringan. Saya bahkan ingat menggunakan kata Jerman unheimlich saat itu. “Setelah itu neraka kemudian serasa pecah. Mungkin beberapa detik, mungkin juga beberapa menit, telah berlalu ketika saya mendapati diri saya mengangkat kepala dan melihat sekeliling. Jip kami hancur di seberang jalan dengan saya hanya berjarak 20 yard (18 meter) darinya. Kapten Curts terbaring di jalan, kakinya di dalam sepatu botnya bengkak, kulit sepatunya seolah-olah pecah. Kopral, Trombley, sedang meringkuk di selokan dan mengeluarkan banyak darah dari tangan kanannya di mana pecahan peluru menembusnya. “Pada awalnya, saya pikir kami mendapat serangan langsung dari peluru artileri. Aku berjongkok di atas kapten, mencoba memberikan pertolongan pertama sejauh mungkin, sementara Trombley mengikatkan torniket di lengannya. Saya tahu saat itu bahwa kami telah menabrak Ranjau Teller (dengan bahan peledak seberat 13 pon/5,9 kg). Aku kemudian berbalik dengan cepat, bahkan yakin mendengar suara orang Jerman di dekatku, dan berjalan kembali.

Jalan macet di Falaise Pocket, bulan Agustus 1944. (Sumber: https://www.normandythenandnow.com/)
Siegmund Spiegel, dari Divisi Infanteri ke-1, difoto di Afrika Utara. Datang ke AS pada tahun 1938; orang tuanya dideportasi dari Jerman ke Polandia dan tidak pernah terdengar kabar lagi. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

“Saya dikirim ke rumah sakit lapangan di mana saya dirawat dengan beberapa memar dan luka di lutut kiri dan tulang rusuk, luka bakar akibat ledakan, dan syok. Kaki kapten Curts keduanya hancur. Di sana saya berada di dipan di tenda ketika serangan balik Jerman sedang berlangsung (merebut salah satu rumah sakit lapangan kami). Konvoi ambulans membawa GI yang terluka parah, dan mereka tetap di atas tandu yang diletakkan di tanah tandus. Ketika saya melihat ini terjadi, saya menelepon petugas administrasi rumah sakit dan meminta untuk dipulangkan, karena kondisi saya tidak seserius prajurit yang tidak memiliki ranjang. “Pagi itu, seorang petugas datang dengan sekumpulan majalah Stars and Stripes yang baru saja tiba dari Inggris. Di dalamnya saya melihat beberapa berita singkat yang membuat saya sangat bersemangat: Tentara Rusia telah membebaskan Lwów, sebuah kota di Polandia tempat saya tahu orang tua saya terakhir tinggal. Tentu saja, saya tidak menyadari apa yang terjadi pada orang-orang Yahudi, termasuk orang tua saya yang malang. “Saat itu seorang gadis Palang Merah memasuki tenda kami menanyakan apakah kami membutuhkan kertas tulis, pisau cukur, atau apa pun yang dia miliki untuk dibagikan. Saya bertanya kepadanya, ‘Anda bersama Palang Merah Amerika, bukan? Anda memiliki kontak dengan Palang Merah Internasional?’ Ketika dia mengangguk sebagai jawaban, saya menunjukkan artikel di koran, memberinya nama orang tua saya dan alamat terakhir yang diketahui di Lwów, dan memintanya untuk segera memulai langkah-langkah untuk menemukan mereka melalui Palang Merah Internasional. “Dia menatapku seolah-olah aku terkena shell shock (trauma akibat tembakan artileri), karena tidak menyangka bahwa seorang prajurit yang terluka akan khawatir tentang sesuatu yang terjadi di garis depan yang jauh dari pertempuran saat ini di Eropa Barat. Saya meyakinkannya bahwa saya memiliki masih sadar dan mendapatkan jaminan bahwa saya akan mendengar kabar dari Palang Merah (mengenai nasib orang tua saya). Enam puluh sembilan tahun kemudian telah berlalu dan saya masih menunggu.”

Henry Kissinger, Resimen Infanteri ke-335, Divisi Infanteri ke-84, Markas Besar Divisi, G-2, Fürth, Jerman 

“Saya berangkat berperang dengan Divisi Infanteri ke-84, pertama ke Inggris dan kemudian ke Prancis, di mana kami mendarat di Pantai Omaha pada awal bulan September, setelah penerobosan di Normandia. Kami kemudian pergi ke garis depan di perbatasan Jerman dan Belgia pada bulan November, dan resimen kami ditugaskan ke Divisi Infanteri ke-30 untuk mendapatkan pengalaman tempur. “Pertempuran biasanya merupakan pengalaman yang terdiri dari rangkaian kebosanan ekstrem, yang diikuti oleh saat-saat berbahaya yang intens, tetapi periode berbahaya yang intens ini berlangsung sangat singkat. Saya awalnya datang ke garis depan sebagai prajurit infanteri. Kemudian suatu hari, ketika saya sedang bertugas di tempat jamban, sebuah pertemuan terjadi, yang akan mengubah banyak hal. Orang yang bertanggung jawab atas tugas di tempat jamban saat itu harus menyimpan peta situasi––yang ada di ruang operasi––di mana garis depannya berada. “(Saat itu) Jenderal kami datang untuk melakukan inspeksi dan berkata, ‘Prajurit, datang ke sini dan jelaskan peta ini kepada saya.’ Saya menerjemahkannya dan dia berkata, ‘Apa yang Anda lakukan di kompi senapan?’ Saya dengan mantap berkata, ‘Saya tidak tahu. Saya ditugaskan di sini.’ Jadi, ketika kami masih di garis depan, dia memberi perintah untuk menarik saya kembali ke markasnya, tetapi ini tidak dieksekusi untuk sementara waktu, jadi saya tetap berada di garis depan.

Henry Kissinger (kanan) dengan sesama GI dan anak-anak Jerman yang bahagia. Kissinger, lahir di Fürth, Jerman, kemudian menjadi Menteri Luar Negeri AS. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

“Setelah kami meninggalkan Divisi ke-30, saya melapor ke markas divisi untuk Bagian G-2, yaitu Intelijen. Tugas saya adalah merampas dokumen dan membantu menginterogasi tahanan, meskipun tugas utama saya adalah menjaga keamanan, menangkap mata-mata, dan mencegah dokumen penting kami jatuh ke tangan musuh. “Begitu saya ditugaskan ke bagian Counter Intelligence Corps (CIC), saya kemudian dikirim dari markas divisi ke markas resimen, yang bahkan lebih dekat ke garis depan, dan saya bekerja di bagian kontraintelijen di sana. “Setelah fase pertempuran selesai, saya ditugaskan ke area regional Jerman, sebuah daerah di zona pendudukan Amerika di dekat kota Frankfurt, dengan populasi sekitar dua ribu orang. Tugas saya adalah menjaga keamanan daerah itu dan menangkap semua tokoh Nazi di atas tingkatan tertentu. Saya memiliki hak untuk menangkap siapa pun yang saya inginkan untuk alasan keamanan, yang merupakan pembalikan peran yang aneh. Tentu saja, tidak ada orang Jerman yang pernah mengaku sebagai Nazi. “Semuanya telah hancur di Jerman; tidak ada layanan pos, tidak ada telepon, tidak ada komunikasi—sebuah bencana total. Kami di militer memiliki telepon sendiri ke pos militer lain, tetapi tidak ada yang bisa menelepon orang Jerman dengan telepon. Terdapat kekurangan makanan dan maraknya pasar gelap yang mengerikan. Sulit membayangkan di hari ini bagaimana suatu masyarakat dapat menghancurkan sebuah negara sepenuhnya. Pada saat itu, jika ada yang menunjukkan kepada saya gambar kota-kota Jerman hari ini, saya akan berkata, ‘Kamu gila. Butuh waktu 30 tahun hanya untuk membersihkan puing-puingnya (saja).”

Warga sipil melakukan barter secara terbuka dengan tentara Soviet pada musim panas tahun 1945 dengan harapan mendapatkan makanan, rokok, alkohol, dan komoditas langka lainnya. Seperti yang dicatat oleh Henry Kissinger, dengan masyarakat Jerman yang benar-benar hancur, pasar gelap ilegal pascaperang berkembang pesat. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Henry Kissinger dan Le Duc Tho dari Vietnam Utara selama proses perundingan untuk mengakhiri Perang Vietnam. (Sumber: https://photos.com/)

“Pada tingkat tertentu, kembali ke Jerman sebagai tentara penakluk memberi saya beberapa tingkat kepuasan ketika saya melihat orang-orang yang telah begitu angkuh sekarang ada di sisi lain. Tetapi secara keseluruhan, saya merasa bahwa saya memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, yang kebetulan menurut saya sangat menarik. Saya selalu tertarik pada kebijakan luar negeri, tetapi saya mencoba untuk menyembunyikan pengalaman pribadi saya sebisa mungkin. “Setelah penyerahan, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari anggota keluarga saya untuk melihat apakah ada di antara mereka yang selamat, tetapi tidak ada yang selamat. Saya kembali ke kampung halaman saya, tempat kakek-nenek saya pernah tinggal, dan itu merupakan pengalaman yang emosional. Setelah kehilangan banyak anggota keluarga saya karena Nazi, saya memiliki permusuhan yang cukup besar terhadap mereka, tetapi bahkan dengan ini, menangkap orang dan melihat istri serta anak-anaknya menangis, tidaklah menyenangkan. Setidaknya itu tidak menyenangkan bagi saya. Itu memberi saya beberapa rasa kepuasan abstrak tetapi tidak ada kepuasan pribadi. “Bagi kami para pengungsi Jerman, pergi berperang adalah sesuatu yang kami rasa perlu dilakukan, tetapi kami mungkin tidak akan menikmatinya begitu hal itu terjadi. Bagi saya, bagaimanapun, saya sekarang berpikir bahwa itu adalah pengalaman paling penting dalam hidup saya.” Henry Kissinger kemudian akan menjadi Menteri Luar Negeri dalam pemerintahan Richard Nixon dan dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian atas perannya dalam mengakhiri Perang Vietnam.

Jack Hochwald, 6860 HQ Detachment Assault Force, Angkatan Darat AS Ketujuh, Wina, Austria 

“Pada minggu kedua bulan Maret, semua tim kami menyeberangi Sungai Rhine—berkat keberanian sebuah kompi infanteri—di tempat bernama Remagen, salah satu jembatan terakhir tersisa yang masih utuh. Juga, di bawah tembakan berat, pasukan zeni Angkatan Darat telah membangun jembatan ponton di beberapa tempat lain di Rhine, yang kemudian akan membantu pergerakan cepat pasukan sekutu ke Jerman. “Pada minggu kedua bulan Maret, kami sedang menuju target intelijen besar pertama kami di Jerman. Target itu adalah Kompleks I.G. Farben di kota kembar Ludwigshafen dan Mannheim. Kita nantinya akan mengetahui bahwa pabrik Farben sangat terlibat dalam mendukung upaya perang Jerman, dan juga berpartisipasi dalam pembuatan gas Zyklon B yang digunakan di kamp-kamp konsentrasi, namun kami saat itu tidak mengetahui luas dan penggunaannya di kamar-kamar gas yang dioperasikan oleh Nazi. Ketika kami menyerbu ke gedung administrasi, kami mengejutkan para direktur, yang sedang mengadakan rapat dewan. “Kami menjadi kewalahan dengan target-target kami—apa pun yang berhubungan dengan pekerjaan intelijen—tetapi kami terus bergerak sangat cepat dan terikat pada unit yang bergerak maju dengan cepat, ini membuat kami cukup sulit untuk bisa tetap berada di satu tempat selama lebih dari satu hari. Kami kemudian menemukan diri kami bergerak bersama Divisi ke-45, yang mendekati Munich. Bersama dengan Divisi ke-42, Divisi ke-45 sedang dalam perjalanan untuk memasuki kamp konsentrasi Dachau. Kebetulan, saya beruntung ditugaskan ke Letnan Salzman, seorang pengungsi lain, yang menyarankan agar kami pergi ke kamp dan menawarkan bantuan kami. “Menjelang sore, kami melihat pagar kawat berduri dan menara pengawas, kemudian berhenti di gerbang utama dengan slogan di atasnya yang berbunyi, ‘Arbeit Macht Frei‘ (Pekerjaan akan membuat Anda bebas). Seorang perwira datang ke arah kami, ketika kami mencoba masuk, mengatakan bahwa ada bahaya nyata dari epidemi tifus dan sebagian besar personel Angkatan Darat dilarang masuk. Jadi, kami memutuskan untuk berjalan diatas pagar sebentar, di mana kami sekarang bisa melihat para narapidana dengan pakaian bergaris berdiri di sekitar dan melambai kepada kami. 

Kompleks I.G. Farben tahun 1942-1944. (Sumber: https://auschwitz.camp/)
Begitu unitnya mencapai Dachau, Jack Hochwald dikejutkan oleh pemandangan ribuan mayat yang ditemukan di gerbong kereta yang ditinggalkan di luar kamp konsentrasi. Kereta datang dari Buchenwald dan merupakan bagian dari upaya untuk menggagalkan upaya pembebasan para narapidana. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

“Setelah melihat mereka, kami meninggalkan jip kami dan berjalan menuju sekelompok pria yang berkerumun di sekitar api unggun. Kami mencoba berbicara dengan kelompok yang kami temui; kami mengalami kesulitan karena mereka orang Serbia dan Kroasia. Tidak lama kemudian beberapa narapidana lain bergabung dan, berbicara dalam bahasa Jerman dan Yiddish (Yahudi), membuat kami dapat berkomunikasi. “Salah satu dari mereka, mengenakan Bintang Daud, bertanya kepada kami kapan para rabi akan datang, karena dia ingin melantunkan Kaddish (doa Ibrani untuk orang mati). Dari dia, kami mengetahui bahwa sehari sebelum pasukan Amerika pertama tiba, menyerbu masuk dan merobohkan dengan menggunakan senapan mesin dan senapan para penjaga Jerman yang mereka temui. “Dia kemudian menunjuk ke beberapa gerbong yang berdiri di atas rel, beberapa ratus meter jauhnya, jadi kami berjalan perlahan ke sana. Tak lama kemudian bau busuk mengelilingi kami, tetapi kami berhasil melihat di gerbong yang setengah terbuka sisa-sisa tubuh, yang telah menjadi kerangka dan tulang. Kami diberitahu bahwa ini hanya sebagian dari kiriman pendatang baru dari kamp lain (Buchenwald) yang tidak selamat dari perjalanan karena penyakit dan kelaparan. “Ketika kami pergi, salah satu narapidana Yahudi datang kepada kami dan, dengan suara rendah, bertanya kepada kami siapa tentara berwajah Asia dan Meksiko itu, yang dia temui sehari sebelumnya. Kami mengatakan kepadanya bahwa mereka semua adalah orang Amerika yang baik dan bahwa di antara kami juga, adalah mantan pengungsi Nazi yang baru beberapa tahun lalu melarikan diri dari Jerman. “Dia tampak tercengang tetapi kemudian mengerti siapa kami; dia menceritakan kepada kami bahwa dia dan beberapa orang lain dari baraknya telah membalas dendam pada beberapa kapo (penjaga blok dan narapidana yang bertindak sebagai pengawas), terutama mereka yang kejam. Kami meyakinkannya bahwa dia dan rekan-rekan tahanannya melakukan hal yang benar, dan kami akan melakukan hal yang sama jika kami tiba di sana lebih awal. “Ketika perang berakhir, kami kembali bergabung dengan pasukan utama Angkatan Darat Ketujuh di Heidelberg. Dengan tekanan dari publik Amerika dan pers, Jenderal Eisenhower memerintahkan operasi yang disebut Tally-Ho—nama kode untuk penggerebekan mendadak di tempat-tempat persembunyian, di mana kami menemukan orang-orang SS bersembunyi di loteng dan kandang di Bavaria. “Mungkin menarik untuk dicatat bahwa sebagian besar dari mereka yang diwawancarai dan ditanya di mana mereka berada pada tanggal 9 November 1938, di malam Kristallnacht, ketika banyak rumah dan toko Yahudi dijarah, sinagoga dibakar, dan ribuan orang Yahudi ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi, mereka semua selalu menjawab bahwa mereka adalah ‘zu haus‘, yang berarti ‘di rumah’. “(Jelas) itu Omong kosong!”

Harold Baum, Divisi Infanteri ke-97, Berlin, Jerman 

“Saya melihat pertempuran nyata pertama saya di dekat Düsseldorf dan berpartisipasi dalam kampanye militer Ruhr Pocket pada tanggal April 1945.” Pasukan dari Divisi Infanteri ke-97 telah menyeberangi sungai Rhine dekat Bonn. “Pertempuran pertama kami adalah di Nois, di mana kompi saya dipilih untuk mengirim patroli dengan kapal pendarat ke Düsseldorf. Ada enam GI di atas kapal, dan kami berada dalam keadaan diare dan ketakutan permanen selama seluruh serangan. Saya tetap menundukkan kepala, mencoba mengintai area tersebut saat diserang, dan saya berhasil kembali dengan selamat. “Kami datang dari tepi barat sungai Rhine, dan orang-orang Jerman yang berada di tepi timur dengan kejam menembaki kami. Hal itu, tentu saja, diikuti oleh upaya kebingungan untuk mengidentifikasi dari mana arah tembakan meriam itu datang dan kemudian mengarahkan tembakan mortir ke arah itu. Hal yang paling menakutkan selama pertempuran, di mana saya menghabiskan selama 60 hari berturut-turut, adalah ketidakpastian dari mana musuh menembaki kami. “Untungnya, di kompi kami, kami memiliki seksi senapan mesin ringan, seksi senapan mesin berat, dan seksi mortir. Orang-orang ini melakukan pekerjaan yang luar biasa setelah kami mengidentifikasi target. Suatu kali, kami menyerbu posisi meriam anti pesawat kaliber 88 Jerman; pengintai kami melihat mereka saat fajar dan memanggil tembakan mortir di posisi mereka. Mereka akhirnya dihancurkan. Meriam kaliber 88 mm adalah senjata yang menakutkan karena digunakan untuk menembak langsung pada kami, dan bukan pada pesawat. Melihat seorang prajurit muda di sebelah Anda jatuh, terluka atau terbunuh, adalah pengalaman yang menakutkan. Saya tidak bisa mulai menjelaskan kemarahan saya ketika melihat tentara Jerman keluar dengan bendera putih setelah penyergapan. Tak perlu dikatakan, ada kalanya kami tidak mengambil tahanan. “Kami menghadapi perlawanan fanatik tentara Jerman di Ruhr Pocket, terutama dari anak-anak muda yang berusia 14 dan 15 tahun yang rela mati untuk Führer dan Tanah Air-nya. Kadang-kadang kami melihat orang-orang tergantung di pohon, digantung oleh orang-orang SS, dengan tulisan di leher mereka bertuliskan, “Ich bin ein feigling” (Saya pengecut). Hal semacam itu hanya semakin mengintensifkan kebencian saya.

Ruhr Pocket. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)
Unit Baum berperang melawan pemuda-pemuda Jerman fanatik berusia 14 dan 15 tahun selama pertempuran di Ruhr Pocket. Salah satu foto terakhir yang diambil dari diktator Jerman, Führer memberi penghargaan kepada anggota Pemuda Hitler atas keberanian mereka mempertahankan Berlin, bulan Maret 1945. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Harold Baum kelahiran Berlin datang ke AS melalui Portugal pada tahun 1940, kemudian bertugas di Divisi Infanteri ke-97. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

“Saya memiliki pengalaman unik di Solingen di mana seorang wanita Jerman datang ke pos komando kami dan memberi tahu kami bahwa seorang jenderal Jerman bersembunyi. Kapten kami kemudian berkata, ‘Letnan Winsam, Sersan Miller, Baum, pergi dan tangkap dia.’ Kami mengepung rumah itu. Disitu ditemukan pria paruh baya ini, dan saya mulai menanyainya. Dengan sikap yang hampir menantang dan arogan, tanpa bangun dari duduknya, dia berkata, “Ich bin Gustav-Adolf von Zangen.” “Tanpa ragu-ragu, saya mengatakan kepadanya, ‘Hände hoch‘ (angkat tangan), mengarahkan senapan saya ke bajingan itu, dan dia menjadi pucat pasi. Kemudian saya mengatakan kepadanya, ‘Ich bin ein Deutcher Jude‘ (Saya seorang Yahudi Jerman), dan orang ini benar-benar ketakutan. Dia tidak percaya bahwa ada satu yahudi “kecil” dari lima juta GI (tentara Amerika). Senapan yang diarahkan ke perwira yang sombong menjadi sarana pembujuk yang kuat. Itu adalah perasaan yang menyenangkan. “Gustav Adolph Von Zangen adalah seorang letnan jenderal, komandan Grup Tentara Kelimabelas. Penugasan terakhirnya ada di Ruhr Pocket. Saya mengantarnya bersama sang letnan ke markas divisi di mana dia menyerah dalam prosedur biasa, seperti seorang tentara, yang membuat saya mual—bagi saya dia adalah seorang Nazi, bukan seorang tentara. Jenderal (Milton B.) Halsey, komandan Divisi ke-97, menginterogasinya saat saya menjadi penerjemah. “Setelah kami menduduki Solingen, ada pekerja paksa Rusia yang, setelah dibebaskan, mengejar orang-orang Jerman, dan orang-orang Jerman menginginkan perlindungan dari ancama orang-orang Rusia. Seperti yang dapat Anda bayangkan, kami menolak dan keadilan segera berjalan cepat. “Setelah menyelesaikan kampanye Ruhr, kami dikirim ke Jerman selatan dan mulai bergerak ke arah Cekoslowakia. Di perbatasan barat Cekoslowakia dan Jerman, kami menemukan kamp konsentrasi yang disebut Flossenbürg dan membebaskan salah satu kamp yang lebih kecil di dekat fasilitas itu. Kami melihat banyak tahanan yang sekarat dan kelaparan. Itu mengerikan, dimana bau serta bau kematian disana tidak akan pernah saya lupakan. “Ada juga narapidana yang bisa mendapat cukup makan, yang mengenakan seragam narapidana yang sama. Saya tidak berhasil berkomunikasi dengan mereka dalam bahasa Jerman; satu prajurit di kompi saya bisa berbicara bahasa Rusia dan Polandia, mencoba berbica kepada mereka dan mereka juga tetap tidak mengerti. Kami tidak bisa mengetahui identitas mereka. “Kapten saya memutuskan untuk menelanjangi mereka dan menemukan bahwa mereka memiliki tato golongan darah di bawah lengan mereka, yang merupakan ciri-ciri dari pasukan SS. Mereka kemudian diperintahkan ke kuburan massal dan membantu membuang semua mayat, tetapi mereka akan tidak dihadapkan ke pengadilan kriminal perang. Hukuman mati bagi mereka lalu segera dilaksanakan. Ini karena mereka telah berganti seragam, yang menurut Konvensi Jenewa merupakan sebuah pelanggaran yang dapat dihukum. Mereka lalu akan tetap berada di dalam lubang bersama mayat-mayat itu.”

Manfred Steinfeld, Divisi Lintas Udara ke-82, Kompi Markas Besar, Josbach, Jerman 

“Setelah serangan balasan Jerman terhenti, kami dikirim kembali ke base camp di Prancis. Pada pertengahan bulan Maret, kami ditugaskan ke Angkatan Darat Kesembilan AS yang baru dibentuk, untuk kemudian menguasai tepi barat Sungai Rhine di sekitar Cologne. Kami berada di sana sampai pertengahan bulan April, ketika Divisi Lintas Udara ke-82 mendirikan pijakan terakhir di sepanjang Sungai Elbe. “Pada tanggal 2 Mei 1945, saya berada dalam misi patroli pengintaian yang terhubung dengan pasukan Rusia. Pada saat yang sama, saya terlibat dalam tugas menerjemahkan dokumen penyerahan tanpa syarat; dimana Divisi Lintas Udara ke-82 akan menerima penyerahan sekitar 400.000 tentara Jerman yang menghadapi sektor kita pada tanggal 3 Mei 1945. “Kami juga menemukan kamp kerja paksa Wöbbelin, sub-kamp dari sistem kamp konsentrasi Neuengamme yang lebih besar. Saya tentu saja putus asa secara emosional di kamp, karena selalu ada kemungkinan melihat ibu dan saudara perempuan saya di antara orang-orang yang mati atau setengah mati. Itu adalah salah satu ketakutan yang saya miliki. Ketika kami menemukan mayat-mayat di kamp, kami memutuskan untuk mengubur mereka di alun-alun kota terdekat. Saya membuat pengaturan pemakaman dan pendeta Amerika memberikan eulogi. “Orang Jerman, tentu saja, merasa bahwa kami melakukan ketidakadilan kepada mereka dengan menuduh mereka melakukan kejahatan ini, meskipun mereka tinggal hanya tiga mil (4,8 km) jauhnya. Mereka bersumpah bahwa mereka tidak mengetahui tentang kekejaman itu. ‘Kami tidak tahu’ adalah alasan khas Jerman. “Pada bulan Juni, ketika saya menjadi gubernur militer sebuah kota bernama Busenberg, seorang wanita mendatangi saya dengan pakaian bergaris kamp konsentrasi. Dia memberi tahu saya bahwa seorang pria yang berjalan di seberang jalan adalah seorang penjahat, dan kami menangkap dan menginterogasinya. Ternyata namanya adalah Ludwig Ramdohr dan dia adalah asisten komandan kamp konsentrasi Ravensbrück yang terkenal untuk wanita, di mana wanita ini adalah seorang narapidananya. “Kami membawanya keluar untuk menjadi target latihan, dan mengancamnya dengan pistol kami sebelum menyerahkannya ke pengadilan militer Inggris pada 10 Juni. Dia kemudian menjalani pengadilan militer dan digantung oleh Inggris tiga tahun kemudian.”

Lahir di Josbach, Jerman, Manfred Steinfeld bergabung dengan Divisi Lintas Udara ke-82 dan berpartisipasi dalam pembebasan bekas tanah airnya. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Manfred Steinfeld (kanan) berjabat tangan dengan seorang tentara wanita Soviet saat Pasukan dari Timur dan Barat bertemu di Sungai Elbe, 2 Mei 1945. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Eric Boehm, Prajurit Unit Udara Angkatan Darat AS, Hof, Jerman 

“Karena kekurangan perwira yang bisa berbahasa Jerman, saya dipinjamkan ke pihak Angkatan Darat sebagai perwira penerjemah untuk menangkap Field Marshal Wilhelm Keitel. Jenderal Rooks, perwakilan Eisenhower, memanggil Field Marshal Keitel ke tempat kami beroperasi, sembari memintanya berkemas dan bersiap untuk diterbangkan dari Flensburg beberapa jam kemudian. “Sekitar pukul 2 siang itu, seorang Letnan Kolonel bernama Boehm-Tettelbach dan aide de camp (ajudan), dari staf Keitel datang ke kapal dan menjemput saya sehingga kami bisa berkendara ke markas OKL–– Oberkommando der Luftwaffe (Komando Tinggi Angkatan Udara). Kami sempat berbicara sangat singkat tentang kesamaan nama kami . Saya kemudian mengetahui dari ayah saya bahwa nama keluarga ini berasal dari Upper Franconia, daerah Bavaria tempat saya dilahirkan. Saya agak enggan untuk berbasa-basi dalam hal apa pun, karena saya memiliki perasaan tidak suka yang kuat, terutama tentang Field Marshal Keitel. “Dia dikenal sebagai antek Hitler, tetapi saya tidak tahu pada saat itu bahwa dia ditangkap untuk mengantisipasi diadakannya Pengadilan Nuremberg, di mana dia akan dijatuhi hukuman gantung—ia pantas menerima nasib ini—karena dia adalah salah satu dari tipe orang paling jahat yang melayani Hitler. “Keitel mengizinkan sejumlah besar jenderal pendamping untuk mengantarnya ke bandara, dan Jenderal Rooks telah menyediakan empat mobil staf. Saya terkejut dengan jumlah bagasi yang dibawa Keitel bersamanya––sebuah kendaraan pengangkut senjata yang penuh dengan setidaknya setengah lusin koper, beberapa di antaranya berukuran cukup besar. Saya ingat satu kotak yang mendekati ukuran steamer trunk. “Ketika kami tiba di bandara, ternyata pesawat yang akan membawa Keitel ke tujuannya, telah mendarat dan kemudian lepas landas untuk melihat-lihat kota Kopenhagen dari udara; pesawat itu tidak pasti kapan akan kembali. “Karena itu adalah hari yang luar biasa hangat, saya mengatur agar seluruh kelompok dibawa ke salah satu barak. Keitel tampak terkejut dengan kenyataan bahwa dia harus menunggu. Karena dia tidak memiliki pemahaman yang baik tentang posisi barunya, dia cukup bodoh untuk mengatakan kepada saya sesuatu yang menyatakan bahwa dia telah diburu-buru berkemas dan sekarang dia harus menunggu. Saya mengabaikannya dan tentu saja tidak meminta maaf, tetapi berharap dalam retrospeksi bahwa saya bisa mengatakan sesuatu kepadanya, yang menyatakan bahwa kami harus menunggu enam tahun untuk menangkapnya, jadi dia seharusnya bisa menunggu beberapa jam untuk kami. “Akhirnya, kru pesawat C-47 Amerika itu kembali dan mereka siap untuk mentransfer Keitel. Dia dengan bijaksana telah digantikan dari memegang otoritas tertinggi dari OKW. Dia kemudian menjadi tawanan perang dan ditempatkan di salah satu benteng pertahanan, yang kami sebut dengan nama ‘Tempat Sampah.’ Saya kembali melihat Keitel di Pengadilan Nuremberg ketika saya berada di antara penonton. Keitel, yang saya perkirakan memiliki tinggi 6 kaki 4 inci, dan berat 250 pon, tampak sangat berkurang bobotnya maupun nilai pentingnya di pengadilan penjahat perang.”

Letnan Boehm menerjemahkan selama proses interogasi Field Marshal Keitel. Di sini Keitel menandatangani persyaratan penyerahan yang telah diratifikasi di Berlin, tanggal 8 Mei 1945. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Letnan Pasukan Udara AS Eric Boehm, yang berasal dari Hof, Jerman, “dipinjamkan” ke Angkatan Darat untuk bertindak sebagai penerjemah setelah penangkapan Field Marshal Wilhelm Keitel. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

John Brunswick, Korps XV, Angkatan Darat Ketiga, Bocholt, Jerman 

“Karena perlawanan Jerman yang berat yang memperlambat kemajuan kami, kami tinggal selama sekitar dua minggu di sebuah kota kecil di Prancis bernama Gerbéviller, tetapi kami kadang-kadang sangat sibuk dengan para tahanan Jerman yang dibawa ke markas kami untuk diinterogasi. Kemudian suatu hari sesuatu yang aneh terjadi. Saya duduk di satu sisi meja bersama dengan salah satu orang kami dan seorang tahanan dibawa ke dalam ruangan. “Sebelum menginterogasinya, dia harus mengosongkan sakunya dan menunjukkan surat-surat Angkatan Darat Jerman, yang berisi nama dan nomor serinya. Pria ini adalah Martin Look, yang mengatakan bahwa dia lahir di Bocholt. Saya dulunya telah bersekolah bersama Martin Look selama empat tahun, dari usia enam hingga 10 tahun, dan bahkan pernah berada di rumah orang tuanya. “Sekarang saya bertemu dengannya lagi, sekitar 25 tahun kemudian, dan tidak mengenalinya. Saya ragu bahwa dia mengenali saya, dan dia jelas tidak dalam posisi untuk mengajukan pertanyaan kepada seorang perwira Amerika, tetapi selama setengah menit saya tergoda untuk bertanya kepadanya apakah dia masih memiliki tungku kayu bakar di dapur keluarganya. “Kemudian saya memutuskan bahwa saya tidak hanya tidak tahu apakah dia pernah menjadi anggota Partai Nazi atau tidak, tetapi saya juga tidak ingin ada gosip di antara tawanan perang lainnya, jadi saya mengirimnya dalam perjalanan, sama seperti orang lain. Saya kemudian mengetahui dari tetangga lama saya di Bocholt bahwa Martin Look telah memberi tahu seseorang bahwa ‘Hans Braunschweig adalah perwira Amerika yang menginterogasi saya.’ Saya masih menyesal tidak mengungkapkan diri saya selama proses interogasi.

Letnan Satu. John Brunswick (sebelumnya Hans Braunschweig asal Bochum, Jerman), dari XV Corps, Third US Army, membantu menerjemahkan Jenderal Friedrich Foertsch, kepala staf Jenderal Albert Kesselring, komandan semua tentara Jerman di Italia, Austria, dan Jerman selatan, saat menandatangani dokumen penyerahan. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

“Interogasi lain, yang saya ingat dengan jelas terjadi di bawah kondisi yang lebih tenang, saya lakukan beberapa waktu sebelumnya pada musim gugur tahun 1944. Pria yang saya interogasi tampak cerdas dan dapat diandalkan. Dia bertugas bersama apa yang mungkin paling baik diterjemahkan sebagai kompi hukuman. Setelah dia memberi saya semua informasi yang saya inginkan, seperti persenjataan, perwira, dan resimen pihak lawan, saya bertanya mengapa dia mengenakan pakaian hukuman. “Dia berkata, ‘Saya berada di Front Timur dekat Riga, Latvia, di mana tentara SS mengumpulkan ribuan pria, wanita, dan anak-anak Yahudi. Mereka menyuruh orang-orang Yahudi menggali parit, menanggalkan pakaian, dan berdiri sehingga, ketika mereka ditembak, mereka akan langsung jatuh ke dalam parit. Ini berlangsung setiap hari. Ada begitu banyak, sehingga tentara SS membutuhkan bantuan dan meminta pasukan dari unit tentara reguler untuk membantu membunuh orang-orang Yahudi. Saya menolak dan itulah sebabnya saya berada di batalyon hukuman.’ “Sementara saya telah mendengar desas-desus tentang kamp konsentrasi, dan terputus dari semua berita terkini, pembunuhan massal yang terjadi melampaui apa pun yang saya bayangkan. Saya kemudian meneruskan laporan hasil interogasi saya segera ke divisi dan juga langsung ke Markas Besar Korps, di mana saya berharap itu akan naik ke markas yang lebih tinggi. Saya masih memiliki salinan hasil interogasi ini ada dalam file saya, karena saya sangat terkejut, meskipun ini bertentangan dengan semua aturan Angkatan Darat. 

Julius Streicher, seorang anti-Semit yang sangat sadis. John Brunswick turut terlibat dalam penangkapan Streicher. (Sumber: https://id.m.wikipedia.org/)

“Kami ikut menangkap Julius Streicher. Dia adalah seorang anti-Semit yang sangat sadis. Surat kabarnya Der Stürmer menunjukkan karikatur paling kejam mengenai orang-orang Yahudi, sambil mengatakan kebohongan yang paling keterlaluan tentang orang-orang Yahudi, serta menghasut orang-orang untuk melakukan kekerasan terhadap mereka. Makalah itu dibaca di seluruh Jerman dan Austria. Pria itu sendiri biasa mondar-mandir dengan cambuk kuda di tangannya. Bagaimanapun, dia lalu dipenjara dan saya menginterogasinya di selnya sebelum dia dikirim kembali untuk diinterogasi lebih rinci selama beberapa hari. “Saya kagum mendengar bahwa dia sebenarnya adalah teman dari orang Yahudi, dan seperti Zionis, temannya ini hanya cuma ingin mereka pergi ke Palestina. Saya bertanya, mendengarkan jawabannya dengan takjub, dan mencatat. Dia terdengar sangat konyol dan menyedihkan sehingga aku bahkan tidak bisa membencinya. Dia kemudian dijatuhi hukuman mati sebagai penjahat perang selama Pengadilan Nuremberg dan akhirnya digantung. “Saya kemudian menerima perintah untuk melapor lebih awal pada tanggal 5 Mei ke markas besar Korps XV, tepat di luar Munich. Selanjutnya, saya mengetahui bahwa saya telah dipilih untuk menjadi penerjemah resmi pada penyerahan semua tentara Jerman selatan. Jenderal Jerman Friedrich Foertsch adalah kepala staf Jenderal Albert Kesselring, yang merupakan komandan semua tentara Jerman yang pernah berada di Italia, Austria, dan Jerman selatan. Ada enam jenderal Amerika, termasuk Jenderal ‘Jake’ Devers, yang merupakan komandan dua tentara Amerika di bagian selatan Prancis dan Jerman. Lalu ada juga satu Lt. Brunswick yang berpangkat rendah. “Terdapat negosiasi panjang dengan orang-orang Jerman—para perwira ingin tetap memimpin pasukan, mereka ingin mempertahankan senjata cadangan mereka, dan seterusnya—semuanya sia-sia. Akhirnya, seorang pengungsi Yahudi yang, delapan tahun sebelumnya harus meninggalkan tanah airnya, bertanya kepada jenderal Jerman berpangkat tinggi ini: ‘Apakah Anda sadar bahwa ini adalah penyerahan tanpa syarat? , saya mengerti.’ Bagaimanapun, itu adalah momen dalam hidup saya yang akan saya nikmati selama saya hidup.”

John Stern, Resimen Infanteri ke-397, Divisi Infanteri ke-100, Gilserberg, Jerman 

“Resimen Infanteri ke-397 menjadi bagian dari tentara pendudukan di Stuttgart dan sekitarnya selama beberapa bulan. Kami telah berada di medan perang selama 192 hari, dengan jeda kecil di antaranya. “Sementara di daerah Stuttgart, saya dapat meminta sebuah jip, dan seorang letnan Polandia dari kompi pengawasan tenaga kerja (sebuah kompi Polandia), yang pergi bersama saya untuk mengawal saya mengunjungi tempat kelahiran saya, di Marburg, Sungai Lahn. Saya juga pergi ke Battenberg, tempat kelahiran ibu saya, dan Gilserberg, tempat orang tua saya tinggal sebelum pindah ke Frankfurt. “Di Gilserberg, saya bertemu dengan beberapa kenalan saya sebelumnya yang satu sekolah dengan saya sebelum tahun 1933 dan itu menarik karena cukup banyak orang yang menyambut saya. Nama kakek saya adalah Gutkind—mereka biasa memanggil saya Hans Gutkind. “Jelas bahwa mereka terkejut bahwa saya adalah seorang tentara Amerika dan kembali ke sana. Beberapa wanita berkata, ‘Kamu tidak pernah terlihat seperti orang Yahudi. Kamu selalu sangat baik.’ Yang lainnya bersikap dingin. Mereka mengira bahwa kami akan mengambil kembali semua properti mereka. “Saya mencari keluarga saya di Marburg. (Namun) Tidak ada yang ingin memberi tahu saya apa pun. Kami tahu seorang paman, bibi, sepupu, dan bayi sepupu saya diangkut ke Theresienstadt dan akhirnya tewas di sana. Selama Holocaust, keluarga Stern kehilangan 26 kerabat dekat dan jauh. Hal ini, dengan sendirinya, meredam semangatku saat mudik. “Kapten dan letnan unit kami telah mengatur agar saya bertindak sebagai penerjemah ketika menanyai pejabat Jerman, seperti walikota, kepala polisi, dan orang militer Jerman, berlangsung. Saya menerjemahkan selama beberapa bulan. “Setiap kali burgermeister (walikota) ditarik ke markas dan ditanyai banyak pertanyaan, saya terlibat. Di sebagian besar kesempatan, orang-orang Jerman memiliki permintaan yang tak terhitung banyaknya, untuk mendapatkan rokok dan cerutu, tetapi saya tidak akan memberikannya.”

Zona pendudukan sekutu atas Jerman setelah Perang Dunia II. (Sumber: https://www.dreamstime.com/)

Karl Goldsmith, Tim IPW ke-142, Angkatan Darat AS, Eschweige, Jerman 

“Ketika perang selesai, saya langsung mengajukan permintaan untuk terlibat dalam program de-Nazifikasi di kampung halaman saya. Saya sangat ingin melakukannya. Mereka melakukan banyak hal buruk pada saya saat masih anak-anak. “Saya telah mendapatkan beberapa poin brownies dengan sejumlah perwira besar karena saya telah membantu mereka dalam kapasitas tim saya sebagai juru bahasa dan interogator. Saya mendapat transfer, dan sejauh yang saya tahu, saya adalah satu-satunya interogator yang pernah berhasil melakukan hal itu. “Hal pertama yang menjadi perhatian saya adalah mengeluarkan guru-guru Nazi dari sekolah-sekolah. Saya bekerja keras keras untuk menyelesaikan masalah ini. “Ini adalah kota saya, memori mengenai Eschweige—taman, hutan, jalan setapak, bukit, teman, musuh, Bar Mitzvah, pesta, pemukulan mengerikan, parade obor Nazi, Kristallnacht, dan populasi Yahudi di kota itu telah berakhir pada tahun 1942, setelah lebih dari 600 tahun orang-orang Yahudi bermukim disana.

Polisi berjaga di depan toko milik orang Yahudi yang hancur selama kekerasan Kristallnacht, November 1938. Serangan Nazi terhadap orang Yahudi merupakan faktor utama dalam keputusan Karl Goldsmith untuk meninggalkan Jerman. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Staf Sersan. Karl Goldsmith, 142nd IPW (Interogation of Prisoners of War) Team, lahir dengan nama Karl Goldschmidt di Eschweige, Jerman, dan datang ke AS pada tahun 1938. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

“Sebagai gubernur militer, saya benar-benar berpikir bahwa saya seorang pragmatis. Saya percaya pada hukum dan ketertiban, dan saya hadir di kota itu. Ya, saya menemukan orang-orang Nazi dan mereka akan berakhir di penjara. Selain itu, kami membersihkan kota. Semua orang mengenal saya, dan tentu saja orang-orang datang dan meminta ini dan itu—dan saya tidak melakukan apa-apa. Saya tidak akan memperlakukan yang ini lebih baik dari yang itu. Kenalan lama akan datang kepada saya dan mengatakan hal-hal seperti, ‘Oh, Anda ingat Analee?’ Tentu saja, saya ingat Analee––dia tinggal empat rumah dari kami. ‘Yah, dia akan melahirkan dan dia berada di lantai tiga. Bisakah Anda membantu kami?’ “Jawaban saya selalu: ‘Maaf, saya tidak bisa berbuat apa-apa.’ Apa yang harus saya lakukan, menyusahkan satu orang Jerman yang sengsara untuk orang Jerman yang sengsara lainnya? Saya terperangah bahwa orang-orang ini memiliki keberanian untuk menghadapi saya dan mengatakan hal-hal ini kepada saya, ketika mereka tahu apa yang telah mereka lakukan terhadap saya dan keluarga saya. Mereka sendiri telah melupakan orang-orang lain yang terbakar di kamp-kamp konsentrasi. “Salah satu tetangga lama memanggil saya Der Ungerkronte König, ‘raja tanpa mahkota.’ Saya hidup dengan nyaman dan memiliki kedudukan sosial yang baik. Saya ragu apakah ayah saya akan menyetujuinya, tetapi saya tidak berkompromi atau mencemarkan negara atau keluarga angkat saya. “Sekitar dua tahun kemudian, setelah saya kembali ke Amerika, ibu saya pergi ke Eschwege untuk mengurus properti kami di sana. Ketika dia kembali, dia berkata, ‘Karl, kamu tidak akan pernah bisa kembali ke Eschwege; mereka akan membunuhmu.’”

Manfred Gans, 3 Troop, 10 Commando, Angkatan Darat Inggris, Borken, Jerman 

“Saya benar-benar ingin melihat perang dan memastikan bahwa saya ada di sana untuk melihat Jerman dibebaskan dari belenggu pemerintahan Nazi. Sangat sering, saya berpikir tentang apa yang mungkin terjadi pada orang tua saya, dan kadang-kadang saya menjadi sangat tertekan. “Pada musim gugur tahun 1944, saya mendengar dari paman saya di New York bahwa dia telah menerima kabar dari seorang teman keluarga di Swiss yang telah mendengar bahwa orang tua saya dikabarkan masih hidup di kamp konsentrasi Theresienstadt. Nah, sejauh yang saya ketahui, perang telah berakhir pada tanggal 7 Mei, dan saya lalu membujuk unit saya untuk membiarkan saya pergi, memberi saya sebuah jip dan sopir, dan pergi mencari orang tua saya. “Berada di daerah Jerman, saya mencoba melewati wilayah yang saya kenal. Intinya, saya mencoba melaju di autobahn ke arah timur secepat mungkin. Saya tidak benar-benar takut; Saya lebih khawatir tentang rem jip saya daripada berada di belakang garis musuh. Ketika sopir saya dan saya mencapai Aue, kota itu tidak rusak dan belum dijarah. Polisi Jerman dan ribuan tentara Jerman berada di jalan. Dua setengah divisi Jerman belum menyerah dan masih utuh. Kami melewati banyak posisi yang masih sepenuhnya dijaga. Ada penghalang jalan dengan senjata antitank yang sangat bagus menjaga mereka, tetapi tidak ada yang pergi ke belakang senjata mereka atau meletakkan jari mereka di pelatuk. Mereka benar-benar membiarkan kami lewat. Tidak ada yang mengharapkan kami berada disana. “Saya segera mengambil seorang tentara Jerman yang terluka dan pacarnya, karena saya merasa lebih aman memiliki orang-orang seperti mereka di dalam jip kami. Semua orang Jerman yang saya temui membicarakan masalah apakah mereka bisa menyerah kepada saya dan saya berkata, ‘Tidak, Anda tidak bisa. Anda melawan tentara Rusia dan Anda akan menyerah kepada mereka.”

Manfred Gans, yang bertugas di unit komando Inggris, mencari orang tuanya yang telah dipenjara selama bertahun-tahun di kamp konsentrasi. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

“Seorang wanita Jerman berkata, ‘Anda tahu, Rusia akan memperkosa semua orang, mereka sangat kejam. Bagaimana Anda bisa melakukan ini pada kami?’ “Dalam jawaban yang cepat, saya berkata, ‘Ini juga yang kalian lakukan di Rusia dan Polandia. Kamu juga sangat kejam.’ “Reaksi mereka terhadap itu adalah, ‘Ada orang jahat di antara semua bangsa.’ “Saya kemudian berpikir, ‘Apa yang saya katakan di sini di antara dua divisi terakhir Angkatan Darat Jerman yang belum secara resmi menyerah?’ Bayangkan saya menuduh mereka kejam terhadap orang-orang Eropa Timur! “Ketika kami turun dari pegunungan ke wilayah Ceko, kami bertemu dengan Tentara Rusia. Itu adalah pengalaman yang hebat. Mereka sangat senang melihat kami! Anda tidak akan percaya antusiasme mereka—mereka telah melihat tahanan Amerika dan Inggris yang dibebaskan, tetapi mereka belum pernah bertemu seorang perwira di dalam kendaraan yang bersenjata sebelumnya, dan mereka berada di samping kami dengan bergembira. Sebagian besar anggota polisi militer yang mengatur lalu lintas adalah perempuan, dan mereka semua memeluk kami. Bahkan, mereka praktis seperti “memperkosa” kami. “Ketika kami sampai di posisi pasukan Rusia, saya masih harus menempuh jarak seratus mil (160 km) lagi, tetapi kami memanfaatkan waktu kami dengan baik. Tentara Rusia datang dari arah yang berlawanan, tetapi tidak ada lalu lintas yang padat. Kami terus memanfaatkan waktu dengan baik, berkendara sekitar seratus mil dalam waktu dua setengah jam. Menjelang malam, kami berhasil sampai ke Theresienstadt. “Kamp itu berada di belakang kawat berduri yang tebal, dengan penjaga Rusia di luar. Saya berjalan ke penjaga Rusia di gerbang, dan sekali lagi semua orang senang melihat kami. Setelah semua berjabat tangan, memberi selamat, menampar punggung satu sama lain, dan mengatakan betapa bahagianya kami bertemu satu sama lain, saya kemudian mengatakan kepadanya apa yang saya inginkan.

Tahanan dari kamp konsentrasi Ebensee. Mereka yang selamat dari kamp konsentrasi biasanya dalam keadaan buruk. (Sumber: https://www.wunc.org/)
Keinginan membara dari banyak tentara Yahudi kelahiran Jerman seperti Gans yang bertugas bersama Sekutu adalah untuk mengakhiri kekuasaan Nazi dan menyelamatkan orang-orang Yahudi di kamp konsentrasi. Anak-anak Yahudi di Theresienstadt, tempat Gans kemudian menemukan orang tuanya, menunggu untuk diangkut ke kamp pemusnahan Auschwitz. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Jalanan itu naik dan kami terus melaju ke kamp. Ada banyak sekali orang di sana, semuanya sangat ramai; kebanyakan terlalu lemah untuk menyingkir. Orang-orang lain praktis merangkak melalui kaki kami. “Saya tidak tahu harus mulai mencari dari mana. Seseorang menarik perhatian saya menunjukkan ada bangunan register pusat, jadi saya pergi ke sana. Kamp, yang baru saja berada di tangan orang-orang Jerman, tentu saja sangat terorganisir sejauh dalam hal daftar dan hal-hal seperti itu. “Ada seorang gadis di sana yang berbicara bahasa Inggris, dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya sedang mencari orang tua saya, Moritz dan Else Gans. Sementara itu terdapat daftar tak berujung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan berkata, ‘Kamu beruntung, mereka masih di sini. Mereka hidup.’ “Saya berkata kepadanya, ‘Yah, itu masih harus dibuktikan. Anda harus menunjukkannya kepada saya, dan Anda akan membawa saya kepada mereka sekarang.’ “Dia datang bersama kami dengan jip dan membawa kami ke rumah tempat orang tua saya terdaftar untuk tinggal. Orang tua saya tinggal di lantai dua sebuah rumah di bagian ghetto Belanda. Saya mengatakan kepada gadis itu untuk naik ke atas dan memberi tahu mereka bahwa putra mereka ada di sana, tetapi persiapkan mereka sedikit terlebih dahulu. Aku hanya menunggu di luar. “Dia masuk ke dalam dan memberi tahu mereka, ‘Saya punya pesan yang sangat menggembirakan untuk Anda.’ “Ibuku bertanya, ‘Apakah kita mendapatkan makanan tambahan?’ “Gadis itu berkata, ‘Tidak, putramu ada di sini.’ “Saya berdiri di luar dalam kegelapan dan, setelah mungkin satu menit, orang tua saya keluar. Tentu saja, mereka berada dalam kondisi yang sulit dipercaya. Ayah saya dalam kondisi sangat menyedihkan, jika saya bertemu dengannya di jalan, saya tidak akan mengenalinya.”

Kurt Klein, Divisi Infanteri ke-5, Walldorf, Jerman 

“Begitu kami mencapai perbatasan Jerman dan Cekoslowakia, kebetulan saya mengalami apa yang saya sebut ‘pertemuan dengan takdir’. Kami menemukan sekelompok yang dulunya adalah pekerja budak, yang terdiri dari wanita muda Yahudi asal Polandia dan Hongaria. Mereka telah ditinggalkan oleh penjaga SS mereka, di kota yang penyerahannya telah kami terima hanya beberapa hari sebelum akhir perang. Kami telah mendengar tentang mereka dan tahu kami harus pergi ke sana bersama batalion medis kami dan memberikan bantuan. “Begitu saya masuk ke pabrik tempat prajurit SS mengunci mereka, saya bertemu dengan seorang wanita muda yang berdiri di pintu masuk dan yang membawa saya ke dalam ketika saya bertanya padanya. Dia meninggalkan kesan yang cukup mendalam untukku. Dia berada di ujung kekuatannya dan hampir pingsan. Petugas medis kami membawa mereka semua ke rumah sakit lapangan yang kami temukan di kota. Dari pertemuan itu berkembang sebuah persahabatan antara diriku dengan seseorang yang berkaliber langka, yang terus berkembang lebih jauh. Satu tahun kemudian kami menikah di Paris. “Sekarang hal ini membuat saya merenungkan fakta bahwa saya telah pergi ke Eropa untuk melawan Nazi dengan kebencian di hati saya atas semua yang telah mereka lakukan dengan begitu saja kepada orang-orang Yahudi dan dunia. Saya harus menyaksikan hasil dari apa yang telah mereka lakukan terhadap orang-orang saya. Juga, saya 95 persen yakin bahwa orang tua saya tidak akan selamat dari perang. Meskipun semua itu benar, bagi saya pribadi, pengalaman itu adalah kunci bagi masa depan saya sendiri.” 

Pasukan sekutu membebaskan salah satu kamp konsentrasi. Bagi para bekas pengungsi Yahudi yang bertempur di pihak sekutu, pengalaman mereka selama sebelum dan di masa perang telah mengubah hidup mereka sepenuhnya. (Sumber: https://encyclopedia.ushmm.org/)

Sebagian besar pengungsi yang kembali untuk berperang melawan Nazi dan membebaskan tanah kelahiran mereka, melakukannya dengan keberanian dan keyakinan, beberapa bahkan gugur dalam prosesnya. Setelah perang, banyak yang membangun kehidupan baru dan sukses di Amerika, menjadi dokter, arsitek, kepala eksekutif perusahaan internasional, pemilik usaha kecil, pekerja Wall Street, ekonom, pengacara, pendidik, penemu, penghibur, penulis, pegawai negeri, yang produktif dan warga pekerja keras. Kurt Klein berbicara mewakili banyak orang lain: “Saya merasa bangga bahwa saya dapat mengabdi pada Amerika Serikat dalam kapasitas yang saya lakukan. Tidak ada yang membuat saya lebih bahagia daripada menjadi berguna bagi Amerika, setelah apa yang telah mereka berikan kepada saya, yaitu gagasan bahwa saya dapat hidup dalam kebebasan. Saya hidup dengan penyesalan bahwa orang tua saya tidak bisa selamat, kalau tidak kebahagiaan saya akan lengkap.” 

Artikel ini diadaptasi dari buku Steven Karras, The Enemy I Knew (Zenith, 2009).

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The German and Austrian Jews of the Allied Armies By Steven Karras

Jewish Soldiers in the Allied Armies

https://www.yadvashem.org/holocaust/about/combat-resistance/jewish-soldiers.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Jews_during_World_War_II

Exit mobile version