Khyber Pass, 1842: Kuburan Serdadu Inggris di Afghanistan

Medan yang tidak bersahabat, cuaca yang tak kenal ampun dan tak terduga, politik kesukuan yang terpecah-belah, hubungan tidak sehat dengan penduduk lokal dan banyaknya warga sipil bersenjata: hal-hal ini adalah beberapa masalah yang menyebabkan kejatuhan Inggris di Afghanistan. Peristiwa ini bukan merujuk pada perang terbaru di Afghanistan pada abad ke-21, tetapi peristiwa buruk yang dialami Inggris di Kabul hampir 200 tahun yang lalu. Kekalahan epik ini terjadi selama perang Afghanistan pertama dan invasi Inggris ke Afghanistan pada tahun 1842.

Karakteristik medan dan kesukuan di Afghanistan yang terpecah-pecah membuat negara asing manapun tidak pernah sukses dalam menaklukkan dan bertahan disana (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/)

Pada pertengahan abad ke-19, Pertarungan seru terjadi antara Kekaisaran Rusia dan Inggris, terutama dalam menguasai Asia. Kedua kekuatan berusaha mendapatkan lingkup pengaruhnya sendiri. Inggris, yang sudah memiliki kendali atas India, berharap dapat mempertahankan kendali atas Afghanistan yang ada di dekatnya. Jatuhnya Afghanistan ke tangan Russia, dikhawatirkan akan membuka jalan invasi Russia ke Selatan (uniknya kekhawatiran ini baru benar-benar terwujud 140 tahun kemudian, saat Soviet menguasai Afghanistan tahun 1979). Pada tahun 1839, raja Afghanistan adalah Dost Mohammad Khan, yang sudah lama bersahabat dengan Inggris dan Perusahaan India Timur yang berpengaruh. Dost pada tahun 1818 berhasil menyatukan suku-suku yang terpecah-pecah di Afghanistan, dan sejak saat itu erat bekerjasama dengan Inggris, namun tahun 1837, Dost mulai membuka kontak dengan pihak-pihak Russia. Agen-agen Inggris mendapat kabar bahwa agen-agen Rusia mungkin telah bertemu dengan Dost, dan mereka khawatir bahwa ia akan segera berpihak kepada Rusia.

Afghanistan merupakan “pintu gerbang” Russia ke Asia Selatan yang dikuasai Inggris pada abad ke-19. (Sumber: https://fineartamerica.com/)

Meski faktanya pembicaraan Dost dengan Russia sebenarnya sudah terputus sebelum Inggris menyiapkan pasukannya. Inggris berencana untuk menggulingkan Dost dan mengangkat Emir Shah Shujah Durrani yang sebelumnya digulingkan sebagai pengganti. Sebuah garnisun besar Inggris ditempatkan di Jalalabad, hanya 90 mil di sebelah timur ibukota Kabul, tetapi satu-satunya rute diantara keduanya adalah jalanan yang melalui gunung yang tinggi dan sempit. Dengan demikian, rencananya pasukan Inggris yang besar sekitar 16.000-20.000 (yang sering disebut sebagai “Army Of Indus”) akan digunakan untuk mengambil alih Kabul dan dengan mengambil perjalanan jauh ke Selatan di sekitar pegunungan untuk kemudian menempatkan Shah Durrani di atas takhta. Pada akhir 1838, pasukan Inggris mulai masuk Afghanistan. Setelah melewati pegunungan yang sukar dilewati, Inggris menguasai Kandahar pada tanggal 25 April 1839. Mereka bergerak nyaris tanpa hambatan ke ibu kota Afghanistan dan menguasainya pada 7 Agustus 1839.

Dost Mohammad Khan, penguasa Afghanistan yang dituduh Inggris ingin bersekongkol dengan Russia (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/)
Dost Mohammad Khan menyerah kepada Sir William McNaughten saat Inggris menaklukkan Afghanistan. (Sumber: https://www.britishbattles.com/)

Setelah misi selesai, rencana semula adalah Inggris akan menarik semua pasukannya, tetapi karena kekuasaan Shah Shuja lemah, akhirnya dua brigade pasukan Inggris yang berjumlah sekitar 5.000 tentara tetap tinggal di Kabul. Bersama dengan Tentara Inggris ada dua tokoh penting yang ditugaskan untuk membantu pemerintah Shah Shuja, yakni Sir William McNaughten dan Sir Alexander Burnes. Keduanya merupakan perwira politik yang terkenal dan sangat berpengalaman. Burnes pernah tinggal di Kabul sebelumnya, dan telah menulis buku tentang pengalamannya di sana. Pendudukan itu, pada awalnya, mudah dan berjalan damai tanpa menimbulkan bahaya atau kerusuhan, terutama karena suku-suku terpencil telah menerima suap terus menerus secara langsung bekerja sama dengan mereka. Banyak anggota keluarga prajurit dibawa serta, beserta kenyamanan lainnya, dan pertandingan kriket yang semarak turut diselenggarakan. Pasukan Inggris yang tinggal di Kabul sebenarnya bisa saja pindah ke benteng kuno Bala Hissar yang menghadap ke arah kota, tetapi Shah Shuja merasa bahwa hal itu akan membuat terlihat seperti Inggris yang memegang kendali. Oleh karenanya, Inggris kemudian membangun kamp baru, yang nantinya terbukti akan sangat sulit dipertahankan. Sir Alexander Burnes, dengan perasaan cukup percaya diri, tinggal di luar barak, di sebuah rumah di Kabul.

Tentara Inggris bisa saja bertempat tinggal di Benteng Bala Hissar yang kuat mengawasi Kabul, namun karena alasan politis, hal itu tidak dilakukan yang akhirnya akan membawa bencana. (Sumber: https://www.britishbattles.com/)
Sebagai ganti Bala Hissar, Tentara Inggris berkemah di luar kota yang nyaris tanpa perlindungan. (Sumber: https://m.warhistoryonline.com/)

Sementara itu bagi penduduk asli yang rindu ketentraman hidup dimasa lalu dan penggulingan Dost, penguasa yang mereka cintai mulai membuat kesal penduduk asli Afghanistan dan kebencian pada penjajah pun mulai tumbuh. Seorang pemimpin muda karismatik Akbar Khan, putra Dost yang digulingkan, mulai mendesak munculnya pemberontakan. Dia sangat terbantu dengan perlakuan terhadap warga Kabul oleh orang Inggris, yang memandang rendah mereka dan terkenal karena suka mencari kesenangan seksual dari para wanita Afghanistan. Suku-suku yang suka berperang yang terpencil mendapat dorongan yang mereka butuhkan ketika Inggris memutuskan untuk secara drastis memotong jumlah uang suap yang dibayarkan untuk menjaga perdamaian.

Akbar Khan, putra Muhammad Dost yang memimpin pemberontakan rakyat Afghanistan dalam mengusir Inggris dari Kabul (Sumber: https://m.warhistoryonline.com/)

Pecah Pemberontakan

Pada bulan November 1841, pemberontak Afghanistan menyerbu rumah Alexander Burnes, yang sebenarnya tidak setuju dengan banyak tindakan politik Inggris, tetapi memiliki reputasi suka menggoda wanita Afghan yang sudah menikah. Burnes mencoba untuk membagikan uang kepada orang banyak, namun hal ini tidak dihiraukan. Burnes, saudaranya dan para pengawalnya ditikam sampai mati, dan rumahnya dibakar. Asap dapat terlihat dari kamp Inggris di luar kota, tetapi komandan yang baru diangkat, Lord Elphinstone, sangat bimbang sehingga ia tidak melakukan apa-apa sampai malam tiba. Pemberontak bertindak jauh lebih berani setelah tidak ada tindakan yang berarti, kemudian lebih banyak pasukan berkumpul dan mulai mengepung kamp Inggris. Karena pendudukan sebelumnya tampaknya merupakan tugas yang mudah, kamp militer Inggris adalah tempat yang nyaman, dan bukan tempat pertahanan. Lokasinya hanya di luar kota di dataran rendah dengan bukit-bukit di sekitar menyediakan tempat persembunyian sniper yang dengan mudah bisa menembaki kamp. Hampir semua toko makanan terletak di bangunan di luar dinding kamp dan ini dengan cepat diduduki. Upaya untuk evakuasi dari kamp oleh Inggris disambut dengan meriam dan tembakan senapan dari arah perbukitan yang memaksa pasukan Inggris kembali ke kamp mereka untuk mencari perlindungan terbaik yang bisa mereka temukan.

Lukisan pembunuhan Sir Alexander Burnes (Sumber: https://www.britishbattles.com/)

Diplomat Inggris untuk Afghan, William Macnaghten, berusaha menemui Akbar Khan untuk bernegosiasi. Macnaghten dan para petugasnya segera ditangkap ketika mereka datang ke kemah Akbar. Macnaghten dikenal sebagai pendukung penurunan ayah Akbar dan juga diduga pada saat yang sama berusaha mengadakan pertemuan rahasia dengan suku-suku lain untuk menyabot pemberontakan. Akbar dengan cepat mengirim pesan secara pribadi untuk mengeksekusi Macnaghten pada 23 Desember 1841 (rumornya dilakukan oleh Akbar sendiri dengan tembakan tepat di mulut), meninggalkan satu-satunya kepemimpinan Inggris di Afghanistan di tangan Lord Elphinstone yang sudah tua, sakit-sakitan, dan ragu-ragu. Meskipun menghadapi ancaman pembunuhan, Lord Elphinstone tetap ingin bertemu dengan Akbar, dan kesepakatan diantaranya dibuat, dimana dengan aman tentara Inggris diperbolehkan melewati Khyber Pass ke Jalalabad di timur, dengan imbalan Inggris harus meninggalkan semua meriam dan banyak senapan musket yang baru. Tentara Inggris hanya diperbolehkan membawa satu baterai artileri berkuda dan 3 meriam gunung. Keselamatan dijamin untuk orang-orang sakit dan terluka yang tetap ditinggalkan di Kabul, Elphinstone meninggalkan mereka dan berangkat pada 6 Januari 1842. Pasukan Inggris yang saat itu meninggalkan Kabul terdiri dari infanteri ke-44, yang kemudian dikenal sebagai Essex Regiment dan sekarang sebagai Royal Anglian Regiment ditambah Regiments of the Bengal Army yang terdiri dari: 2nd Bengal Light Cavalry, 1st Bengal European Infantry, 37th Bengal Native Infantry, dan 48th Bengal Native Infantry, 2nd Bengal Native Infantry, 27th Bengal Native Infantry, dan Bengal Horse Artillery.

Pembunuhan Sir William Macnaghten yang kabarnya dilakukan oleh Akbar sendiri. (Sumber: https://www.britishbattles.com/)

Perjalanan maut menuju pembantaian

Berangkatlah tentara Inggris menuju ke timur. Segera setelah meninggalkan Kabul, tentara Inggris melihat ke belakang dan melihat asap dari kamp mereka dan itu semua dapat dipastikan bahwa mereka yang tertinggal dibunuh, pertanda buruk ini masih ditambah dengan tidak adanya tanda-tanda pasukan Akbar menepati janji untuk mengawal pasukan Inggris melalui celah Khyber. Infanteri Inggris waktu itu mengenakan jaket merah berpotongan panjang, celana panjang putih dan topi shako yang memudahkan mereka terlihat jelas dari jarak jauh, dipersenjatai dengan senapan Brown Bess tua dan bayonet. Infanteri India sama-sama bersenjata dan berseragam seperti Tentara Inggris. Dengan stok makanan terbatas dan senjata terbaik mereka telah diserahkan kepada musuh, pasukan Inggris berjuang maju menuju celah dan berjalan sembilan puluh mil menuju ke arah Jalalabad. Total selama perjalanan maut itu Inggris memiliki kekuatan kurang dari 5.000 prajurit, yang sebagian besar adalah infanteri asal India, tetapi dengan ditambah keluarga prajurit dan warga lainnya menjadikan jumlah kelompok itu menjadi sekitar 16.000 orang (rinciannya sekitar 4.500 tentara Inggris dan 12.000 warga sipil). Jumlah orang Afghanistan yang memburu sukar dipastikan karena organisasi pemberontak dan kesukuan yang terpecah-pecah, tetapi jelas pemberontakan itu mendapat banyak dukungan, sehingga jumlahnya kemungkinan antara 20-30.000.

Mayor Jenderal Major-General William George Keith Elphinstone yang memimpin gerak mundur tentara Inggris dari Kabul. (Sumber: https://collection.nam.ac.uk/)

Hari pertama kelompok itu hanya menempuh jarak lima mil dan harus bertahan dari suhu malam yang membeku dengan harus diingat bahwa setiap api yang dinyalakan akan memberikan “bantuan” bagi penembak jitu untuk membidik korbannya. Hari berikutnya, 7 Januari 1842, pasukan Inggris melanjutkan perjalanan. Brigadir Shelton, menunjukkan kemampuannya dengan memimpin serangan balik untuk melindungi bagian utama barisan. Di Bootkhak, Akbar Khan tiba, mengklaim bahwa dia telah ditugaskan untuk memastikan tentara Inggris bisa menyelesaikan perjalanannya tanpa gangguan lebih lanjut. Dia bersikeras bahwa barisan Inggris itu harus berhenti dan berkemah, sembari memeras sejumlah besar uang dan bersikeras agar beberapa perwira lagi diserahkan sebagai sandera. Salah satu syarat yang dinegosiasikan adalah bahwa Inggris harus meninggalkan Kandahar dan Jellalabad. Akbar Khan meminta para sandera untuk memastikan Brigadir Sale meninggalkan Jellalabad dan mengundurkan diri ke India.

Jalur maut Kabul-Jallalabad yang harus dilalui Tentara Inggris. (Sumber: https://www.britishbattles.com/)

Barisan Inggris diserang ketika mencapai jalanan gunung, Khurd Kabul. Gerak mundur ini kemudian berubah menjadi ajang pembantaian. Para penembak jitu yang terlatih menembak dari tebing dengan senapan Jezail (musket Khas Afghanistan) ketika tentara Inggris berjuang untuk mencapai puncak hanya untuk menghadapi badai salju yang mengamuk. Kejadian hari ini menyebabkan korban terbanyak dan hari berikutnya Elphinstone secara sukarela menyerahkan warga sipil berpikir bahwa mereka akan memiliki peluang yang lebih baik untuk bertahan hidup sebagai tahanan daripada tetap dalam barisan bersama Tentara Inggris yang mundur. Setelah meminta pertemuan lain dengan Akbar, pada 11 Januari 1842, Elphinstone pergi sendiri untuk menyerahkan diri, dan Akbar kemudian menangkapnya dan para perwiranya serta meninggalkan 1.000 prajurit yang tersisa tanpa pemimpin dengan kira-kira masih tujuh puluh mil lagi perjalanan yang harus ditempuh.

Gerilyawan Afghanistan dengan senapan tradisional Jezail. (Sumber: https://m.warhistoryonline.com/)
Menyerahnya Jenderal Elphinstone justru membuat pasukan yang tersisa tampa pimpinan yang efektif dan menjadi bulan-bulanan gerilya Afghanistan di Khurd Kabul. (Sumber: https://www.britishbattles.com/)

Pasukan yang tersisa mencoba bergerak di malam tetapi mendapati diri terjebak dalam deretan hutan dan semak duri yang sukar dilewati. Mayoritas dari 1.000 tentara yang tersisa tewas saat mencoba melewati penghalang ini atau karena menghadapi lawan mereka. Para penyintas yang entah bagaimana berhasil melewati petaka ini berjumlah lusinan. Para penyintas ini sebisa mungkin mengumpulkan kuda-kuda yang tersisa dan berlari secepat mungkin tetapi mereka bertemu dengan beberapa kantong perlawanan. Pada pagi 13 Januari 1842 di tengah salju 20 perwira dan 45 tentara Eropa, sebagian besar dari Infanteri ke-44, menemukan diri mereka terkepung di atas bukit dan membuat pertahanan terakhir mereka. Orang-orang Afghanistan berusaha membujuk para prajurit untuk menyerah dan bahwa mereka tidak bermaksud membahayakan mereka. Kemudian penembakan dimulai, diikuti serangkaian serangan. Kapten Souter membungkus bendera resimen di sekitar tubuhnya dan diseret ke dalam penahanan dengan dua atau tiga tentara. Sisanya ditembak atau ditebas mati. Hanya enam perwira yang dibiarkan lolos. Dari jumlah tersebut, lima diantaranya terbunuh di sepanjang jalan. Sebanyak 690 tentara Inggris, 2.840 tentara India, dan 12.000 pengikut tewas, atau, dalam beberapa kasus, ditahan. Infanteri ke-44 kehilangan 22 perwira dan 645 tentara, sebagian besar terbunuh. Korban di pihak Afghanistan, yang sebagian besar berasal dari suku Ghilzai, tidak diketahui.

Satu-satunya yang selamat

Pada 13 Januari 1842, seminggu setelah barisan Tentara Inggris berangkat menuju Jalalabad, seorang prajurit, Dr. William Brydon, juru bedah tentara Inggris mencapai gerbang kota dengan menderita luka yang nyaris fatal sementara kuda yang digunakannya segera mati. Brydon orang Skotlandia berusia 30 tahun itu mengalami beberapa luka tebas dan tikam dan sebagian tengkoraknya terbuka karena hantaman pedang. Pertempuran terakhirnya dengan gerilya Afghanistan terjadi di depan gerbang kota, dan sebuah regu penyelamat harus dikirim untuk menyelamatkannya. Ketika ditanya di mana sisa tentaranya itu berada, Brydon menjawab, “Akulah (sisa) tentara itu.”

Lukisan karya Lady Buller “Remnant Of An Army”: Dr. William Brydon saat mencapai pintu kota Jallalabad, 13 Januari 1842. (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/)

Sebuah majalah yang berbasis di Boston, North American Review, menerbitkan artikel yang detail berjudul “The English in Afghanistan” enam bulan kemudian, pada bulan Juli 1842. Berisi deskripsi yang akurat, diantaranya sebagai berikut (beberapa ejaan kuno telah dibiarkan utuh):

“Pada 6 Januari 1842, pasukan Caboul memulai gerak mundur mereka melalui jalan yang suram, (yang) ditakdirkan untuk menjadi kuburan mereka. Pada hari ketiga mereka diserang oleh orang-orang gunung dari berbagai tempat, dan pembantaian yang menakutkan dimulai … “Pasukan terus bergerak, dan pemandangan mengerikan terus berlanjut. Tanpa makanan, hancur dan dibantai habis, masing-masing hanya menyelamatkan dirinya sendiri, semua bawahan telah melarikan diri, dan para prajurit dari resimen Inggris empat puluh empat dilaporkan telah merobohkan perwira mereka dengan popor dari senapan mereka. “Pada tanggal 13 Januari, hanya tujuh hari setelah pengunduran diri dimulai, seorang pria, berlumuran darah dengan banyak luka, mengendarai kuda poni yang menyedihkan, dan dikejar oleh para penunggang kuda, terlihat dengan penuh kemarahan melintasi dataran ke Jellalabad. Orang (malang) itu adalah Dr. Brydon, satu-satunya orang (selamat) yang mampu menceritakan kisah perjalanan Khourd Caboul. “

Dari 16.000 orang yang berangkat dari Kabul, praktis hanya 1 yang bisa menyelesaikan perjalanan ke Jallalabad. (Sumber: https://www.britishbattles.com/)

Lebih dari 16.000 orang telah berangkat pada dari Kabul, dan pada akhirnya, hanya satu orang, Dr. William Brydon, seorang ahli bedah Angkatan Darat Inggris, yang tetap hidup sampai di Jalalabad. Dipercayai bahwa orang-oranh Afghanistan sengaja membiarkannya hidup sehingga dia bisa menceritakan kisah yang mengerikan itu. Kisah Dr. William Brydon, sebagai satu-satunya survivor di pembantaian Khyber Pass, kemudian diabadikan dalam lukisan tahun 1870-an, seorang pelukis Inggris, Elizabeth Thompson, Lady Butler, lewat karyanya yang dramatis (meski tidak cukup akurat) menggambarkan seorang prajurit yang sedang mengendarai seekor kuda yang sekarat, berdasarkan dari kisah pengalaman Brydon. Lukisan yang berjudul “Remnants of an Army,” kemudian menjadi terkenal dan sampai sekarang masih ada dalam koleksi Galeri Tate di London.

Kisah akhir

Pada akhirnya, beberapa ratus hingga ribuan warga sipil dan perwira bisa selamat sebagai tawanan, tetapi Dr. Brydon adalah satu-satunya prajurit aktif yang berhasil menyelesaikan perjalanan sembilan puluh mil menuju Jalalabad. Secara keseluruhan kampanye Inggris di Afghanistan, mulai dari deposisi Dost Mohammed adalah serangkaian perencanaan yang buruk dan keputusan yang mengerikan, atau malah sama sekali tidak ada keputusan yang benar. Dost Mohammed memiliki beberapa masalah dengan Inggris, tetapi setelah mendapatkan kembali kekuasaannya, ia akhirnya akan menjadi sekutu Inggris yang solid. Garnisun sederhana dan desain kamp yang buruk dari militer Inggris akhirnya memaksa mereka mundur dalam keputusasaan. Jauh berada di dalam wilayah yang sama sekali asing, pengunduran diri itu tidak memiliki harapan akan berakhir dengan baik, dan Elphinstone yang mudah tertipu hanya bergantung harapan pada negosiasi daripada mengambil langkah keras dan berat dengan terus maju untuk mencapai satu tujuan. Brydon akan terus bertugas dalam militer Inggris dan terlibat dalam Perang Anglo-Burma Kedua tahun 1852. Pada tahun 1857, ia adalah seorang dokter resimen di Lucknow di mana, bersama dengan istri dan anak-anaknya selamat dari pengepungan yang terkenal, meskipun terluka parah di paha. Tahun berikutnya, ia diangkat sebagai Companion of the Order of the Bath dan akan hidup lagi selama 15 tahun di masa damai. Brydon akhirnya meninggal di rumah dekat Nigg, Ross-shire, pada tahun 1873 di usia 61 tahun.

Hilangnya begitu banyak pasukan oleh suku-suku pegunungan, tentu saja, merupakan sebuah penghinaan memalukan bagi Inggris yang hanya dapat ditandingi dengan jatuhnya Singapura pada tahun 1942 (tepat 100 tahun setelah petaka di Afghanistan). Kegagalan memalukan di Afghanistan ini ditengarai turut memicu pecahnya pemberontakan dari Bengal Army pada tahun 1857. Lord Auckland, Raja Muda India, dikatakan menderita stroke ketika mendengar berita itu. Brigadir Sale dan pasukannya di Jellalabad pada satu waktu sempat bermaksud mundur ke India, tetapi dewan yang berdiskusi dengan tegas menolak rencana itu, terutama dari Kapten Broadfoot dan Havelock, buat mereka garnisun harus bertahan dan sangat diperlukan sebagai batu loncatan untuk masuknya Tentara Inggris yang akan “Melakukan Pembalasan’ ke Afghanistan di tahun berikutnya.

Dengan jatuhnya Kabul, sebuah kampanye militer dilancarkan untuk mengevakuasi sisa pasukan Inggris dari garnisun di Afghanistan, dan Inggris kemudian menarik diri sepenuhnya dari negara itu. Dan sementara legenda populer menyatakan bahwa Dr. Brydon adalah satu-satunya yang selamat dari pengunduran diri yang mengerikan dari Kabul, beberapa tentara Inggris dan istri mereka yang telah disandera oleh orang Afghanistan, kemudian berhasil diselamatkan dan dibebaskan. Beberapa korban lainnya muncul selama bertahun-tahun. Salah satu catatan, dalam sejarah Afghanistan yang ditulis oleh mantan diplomat Inggris Sir Martin Ewans, menyatakan bahwa pada 1920-an dua wanita tua di Kabul diperkenalkan kepada diplomat Inggris. Yang mengejutkan, mereka masih bayi saat tentara Inggris mundur dari Kabul tahun 1842. Orang tua Inggris mereka rupanya terbunuh, tetapi mereka telah diselamatkan dan dibesarkan oleh keluarga Afghanistan.

Dost Mohammad kemudian kembali ke tampuk kekuasaannya menggantikan, putranya Akbar Khan yang mati muda. Hingga akhir hayatnya Dost tetap bersekutu erat dengan Inggris (Sumber: https://www.historic-uk.com/)

Meskipun mengalami bencana di tahun 1842, Inggris tidak pernah benar-benar meninggalkan harapan untuk bisa mengendalikan Afghanistan. Pada tahun 1843, Inggris menginvasi Kabul dan membakar sebagian dari kota itu setelah menimbulkan kekalahan besar bagi Akbar Khan. Pada Mei 1842, Akbar Khan menguasai Bala Hissar di Kabul dan menjadi amir baru Afghanistan. Dia memerintah sampai kematiannya pada tahun 1845 di usia 28/29 tahun. Beberapa percaya bahwa Akbar Khan diracun oleh ayahnya, Dost Mohammed Barakzai, yang takut akan ambisinya. Pada tahun 1843, perang berakhir, dan pada 1857 Emir Dost Mohammad, yang telah dikembalikan ke tampuk kekuasaan pada tahun 1845 menggantikan putranya (hingga ia sendiri meninggal pada tahun 1863 di usia 69 tahun), menandatangani aliansi dengan Inggris. Pada tahun 1878, Perang Anglo-Afghanistan Kedua dimulai, yang berakhir dua tahun kemudian dengan Inggris memenangkan kendali atas urusan luar negeri Afghanistan. Perang Inggris-Afghanistan Kedua yang pecah pada tahun 1878-1880 itu memastikan solusi diplomatik yang membuat pengaruh Rusia tetap berada di luar Afghanistan selama sisa abad ke-19. Perang Afghanistan Pertama memberikan pelajaran yang jelas kepada pihak Inggris (yang nampaknya pelajaran itu masih valid hingga sekarang), sebagai berikut:

  1. Bahwa, meskipun mungkin relatif mudah untuk menyerang Afghanistan, sama sekali tidak mudah untuk menduduki negara itu atau untuk memaksakan pemerintahan buatan yang tidak diterima oleh penduduk lokal. Satu-satunya yang akan dihasilkan adalah kegagalan dan pengorbanan yang besar dalam biaya dan nyawa.
  2. Tentara Inggris mendapat beberapa pelajaran dari episode sejarah yang menyedihkan ini. Salah satunya adalah bahwa para pemimpin politik tidak boleh diijinkan untuk mendominasi keputusan yang berkaitan dengan militer.
  3. Perang memberikan ilustrasi yang menarik tentang bagaimana karakter dan tekad para pemimpinnya dapat menentukan moral dan keberhasilan sebuah ekspedisi militer.
  4. Sungguh luar biasa aneh bahwa para perwira, terutama perwira senior seperti Elphinstone dan Shelton, memilih menyerahkan diri sebagai sandera, yang dengan demikian memastikan kelangsungan hidup mereka, sementara prajurit mereka dibiarkan berjuang sendiri, untuk dibantai oleh orang Afghanistan.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Akbar’s Trap: The Khyber Pass Massacre by William McLaughlin; 15 February 2018

https://m.warhistoryonline.com/history/akbar-trap-khyber-pass-massacre.html

Battle of Kabul and the retreat to Gandamak

https://www.google.com/amp/s/www.britishbattles.com/first-afghan-war/battle-of-kabul-and-the-retreat-to-gandamak/%3Famp

Britain’s Disastrous Retreat from Kabul by Robert McNamara, January 11, 2019

https://www.thoughtco.com/britains-disastrous-retreat-from-kabul-1773762

Britain’s Retreat from Kabul 1842 by Terry Stewart

https://www.historic-uk.com/HistoryUK/HistoryofBritain/Britains-Retreat-From-Kabul-1842/

Sole British soldier escapes Kabul

https://www.google.com/amp/s/www.history.com/.amp/this-day-in-history/sole-british-soldier-escapes-kabul

Incredible story of the British soldier who was the only survivor of a 19th century Afghan conquest – and the warnings for today’s military missions by Tom Kyle, 25 March 2013

https://www.google.com/amp/s/www.dailymail.co.uk/news/article-2299043/amp/Incredible-story-British-soldier-survivor-19th-century-Afghan-conquest–warnings-today-s-military-missions.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Wazir_Akbar_Khan#

2 thoughts on “Khyber Pass, 1842: Kuburan Serdadu Inggris di Afghanistan

  • 18 September 2020 at 6:15 am
    Permalink

    Thank you for any other informative web site.
    The place else may just I get that type of information written in such an ideal manner?

    I’ve a undertaking that I’m just now operating on, and I have been at the glance
    out for such information.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *