Sejarah Militer

Kisah Epik Pengembaraan 3 Tahun Legiun Cekoslovakia di Russia Menuju Kemerdekaan

Salah satu kisah dalam Perang Dunia I dan Revolusi Rusia yang paling spektakuler namun kurang begitu dikenal adalah perjalanan epik Legiun Cekoslovakia, yang petualangannya muncul dari Siberia dan menyebar ke panggung dunia hampir 100 tahun yang lalu. Selanjutnya kisah ini tertutupi oleh beberapa kisah sejarah dari masa yang penuh gejolak tersebut. Episode ini dimulai di masa-masa terakhir perang dunia I yang mengerikan dan menuju kekacauan saat revolusi pecah di Russia. Legiun Cekoslovakia ini pada dasarnya adalah tentara tanpa negara yang “terdampar” di negeri asing sembari mendambakan kemerdekaan negerinya. Berikut adalah kisahnya yang luar biasa.

Tentara dari Legiun Ceko-Slovakia bertempur dengan pasukan Sekutu selama Perang Dunia I dengan harapan mendapatkan kemerdekaan dari Kekaisaran Austria-Hongaria. Kisah epik perjalanan mereka menuju kemerdekaan di Russia kemudian menjadi salah kisah paling spektakuler dalam Perang Dunia I. (Sumber: https://www.historynet.com/)

LATAR BELAKANG LEGIUN CEKOSLOVAKIA

Awalnya merupakan bagian dari kerajaan Bohemia dan Hongaria lama, bangsa Ceko dan Slovakia menjadi warga dari Kekaisaran Habsburg dari Austria mulai abad ke-16. 300 tahun kemudian, semua wilayah yang sekarang membentuk Republik Ceko dan Slovakia modern adalah bagian dari Kekaisaran Austria. Namun, kebangkitan Prancis dibawah Napoleon dan dukungan langsungnya terhadap minoritas yang hidup di bawah kekuasaan kekuatan asing menyulut api awal gerakan kemerdekaan orang-orang etnis Slavia di seluruh Eropa tengah. Selama abad ke-19, Ceko, Slovakia, dan bangsa minoritas lainnya yang ada di bawah hegemoni wangsa Habsburg bangkit memberontak melawan penguasa mereka, menuntut berdirinya negara mereka sendiri di tanah leluhur mereka. Pada tahun 1848, ketika berbagai revolusi meletus di seluruh Eropa dalam apa yang dikenang hari ini sebagai Musim Semi Rakyat, orang-orang Slavia, Rumania, Hongaria, dan bangsa lain yang menjadi bagian dari Kekaisaran Austria menggulingkan Kaisar Ferdinand I. Akan tetapi intervensi Rusia pada bulan Agustus 1849 berhasil menyelamatkan kekuasaan monarki Habsburg, namun demikian, bangsa-bangsa minoritas memperoleh beberapa kemenangan kecil seperti penghapusan perbudakan dan diakhirinya penyensoran. Selain itu, nama Kekaisaran akhirnya berubah menjadi “Austria-Hongaria” di bawah pemerintahan Franz Joseph I. Tetapi reformasi tahun 1849 tidak cukup untuk memadamkan api nasionalisme. Selama paruh kedua abad ke-19, berbagai minoritas terus merencanakan untuk memerdekakan diri. Selain itu, netralitas Austria selama Perang Krimea, yang mengadu Rusia dengan koalisi yang terdiri dari Inggris Raya, Prancis, dan Kekaisaran Ottoman, mendorong tsar untuk memutuskan aliansinya dengan wangsa Habsburg. Yang terakhir kemudian menemukan diri mereka terisolasi dan semakin dekat dengan Prusia. Pada tahun 1870-an, Rusia mulai mengancam kepentingan Austria di wilayah Balkan. Pada tahun 1877, tsar campur tangan dengan mendukung orang-orang minoritas Slavia di bawah kekuasaan Ottoman, dan dengan tegas mengalahkan tentara Turki serta nyaris tidak menyembunyikan niatnya untuk melakukan hal yang sama di Austria-Hongaria jika minoritas Slavia yang tinggal di sana meminta bantuannya. Didorong oleh dukungan Rusia, kelompok minoritas Cekoslovakia melanjutkan perjuangan mereka untuk memperoleh kemerdekaan. 

Kaisar Franz Josef mengunjungi Praha pada tahun 1891, ketika itu Republik Ceko dan Slovakia saat ini adalah bagian dari Kekaisaran Austro-Hungaria. Selama abad ke-19, Ceko, Slovakia, dan bangsa minoritas lainnya yang ada di bawah hegemoni wangsa Habsburg bangkit memberontak melawan penguasa mereka, menuntut berdirinya negara mereka sendiri di tanah leluhur mereka. Pada tahun 1848, ketika berbagai revolusi meletus di seluruh Eropa dalam apa yang dikenang hari ini sebagai Musim Semi Rakyat, orang-orang Slavia, Rumania, Hongaria, dan bangsa lain yang menjadi bagian dari Kekaisaran Austria menggulingkan Kaisar Ferdinand I. Akan tetapi intervensi Rusia pada bulan Agustus 1849 berhasil menyelamatkan kekuasaan monarki Habsburg. (Sumber: https://www.rferl.org/)
Legiun Ceko-Slovakia di front timur. Menjanjikan kemerdekaan untuk orang-orang Cekoslovakia, Rusia berhasil mengamankan lebih dari 40.000 tentara sukarela di bawah panji Legiun Cekoslovakia. Pada bulan Oktober 1914, batalion ini dimasukkan ke Angkatan Darat Rusia ke-3 dan dikirim ke front Barat Daya. (Sumber: https://www.rferl.org/)
Legiun Ceko-Slovakia menyerbu di medan pertempuran melawan Austria selama pertempuran Zborov di Front Timur. Dalam pertempuran tersebut orang-orang Cekoslovakia memenangkan reputasinya sebagai petempur yang gigih dan ulung. (Sumber: https://www.rferl.org/)

Pembunuhan terkenal terhadap Archduke Franz Ferdinand di Sarajevo oleh seorang nasionalis Serbia pada bulan Juni 1914 kemudian menyulut api yang memicu Perang Dunia I. Sejak awal Perang Dunia I, orang-orang Ceko di luar negeri mulai membentuk unit nasional untuk berperang di pihak Sekutu. Kecil pada awalnya, jumlah dan signifikansi mereka mulai menjadi seperti “bola salju” ketika jumlah mereka ditambah dengan para tahanan dan desertir dari tentara Austro-Hongaria yang berperang bersama Jerman. Menjanjikan kemerdekaan untuk orang-orang Cekoslovakia, Rusia berhasil mengamankan lebih dari 40.000 tentara sukarela di bawah panji Legiun Cekoslovakia. Pada bulan Oktober 1914, batalion ini dimasukkan ke Angkatan Darat Rusia ke-3 dan dikirim ke front Barat Daya. Pada tahun 1915 unit ini berkembang menjadi empat resimen senapan di Angkatan Darat Russia dan beraksi untuk pertama kalinya pada tanggal 2 Juli 1917. Saat itulah sebuah detasemen yang terdiri dari 3.500 prajurit menyerbu parit pertahanan tentara Austria di Zborov, Ukraina. Legiun Cekoslovakia diketahui mengambil bagian dalam operasi di wilayah Belarus, Polandia, Ukraina, dan Rumania modern. Legiun ini juga berpartisipasi dalam Ofensif Brusilov yang terkenal, yang menghentikan kemajuan tentara Jerman dan Austria di Ukraina dan Galicia. Legiun Cekoslovakia terus bertempur bersama Tentara Rusia setelah Revolusi Februari, yang menyebabkan jatuhnya Tsar Nicholas II dan munculnya Pemerintahan Sementara. Yang terakhir ini memungkinkan lebih banyak kebebasan untuk orang-orang Cekoslovakia, yang lalu merekrut orang-orang tambahan dan mengatur ulang diri mereka menjadi beberapa resimen senapan. Tak lama setelah Revolusi, Tomas Masaryk, ketua Dewan Nasional Cekoslowakia, tiba di Rusia. Pada bulan Juli 1917, legiun mengambil bagian dalam Serangan Kerensky dan memberikan kontribusi besar dalam kemenangan di Pertempuran Zborov. Kemenangan ini menyebabkan adanya reorganisasi pada sukarelawan Cekoslovakia sehingga menjadi kekuatan seukuran divisi penuh, yang disebut sebagai “Divisi Korps Cekoslovakia Pertama di Rusia”, yang terdiri dari empat resimen. Pada bulan Oktober, divisi Cekoslovakia lainnya didirikan, yang terdiri dari empat resimen lainnya. Meskipun menang di Zborov, Serangan Kerensky gagal. Selain itu, ketidakmampuan Pemerintahan Sementara Rusia untuk menegaskan otoritasnya menyebabkan meningkatnya ketidakstabilan, yang didominasi oleh upaya kelompok komunis Bolshevik untuk merebut kekuasaan. Pada bulan November 1917, di bawah kepemimpinan Vladimir Lenin, kelompok komunis akhirnya berhasil menggulingkan pemerintah sementara, mengambil alih kekuasaan di Moskow dan Saint-Petersburg, serta membuka panggung untuk berlangsungnya Revolusi Rusia dan kemudian Perang Saudara Rusia.

RENCANA MASARYK

Di Rusia, revolusi telah membuka jalan bagi lahirnya Uni Soviet, dan Amerika Serikat serta sekutunya melakukan upaya setengah hati untuk menggulingkan rezim Komunis yang baru berdiri di negara itu. Di Eropa, perdamaian yang rapuh diumumkan, nasib empat kerajaan tergantung pada kesepakatan, dan peta benua Eropa diatur ulang. Sementara itu legiun Cekoslovakia yang menjadi protagonis dalam kisah ini berasal dari berbagai profesi di masyarakat mulai dari pemilik toko, dokter gigi, petani, profesor, pekerja pabrik, dan pegawai bank yang diambil dari penduduk Kekaisaran Austro-Hungaria di jantung Eropa dan diterjunkan begitu saja ke dalam Perang Dunia I. Setelah bertempur di Front Timur—dalam “perang yang tidak dikenal,” demikian Winston Churchill menyebutnya—lebih dari dua juta tentara Austro-Hungaria ini ditawan oleh tentara Tsar dan tersebar di seluruh wilayah Rusia dan Siberia di sekitar 300 kamp tawanan perang. Ketika kekuasaan Tsar Rusia runtuh di tengah revolusi, Tomas G. Masaryk, profesor tua dan buronan dari Praha, melakukan perjalanan ke Rusia dengan visi yang melibatkan upaya bujukan langsung, perjalanan jarak jauh, dan risiko pribadi yang besar: untuk merekrut ribuan orang Ceko dan Slovakia sebagai unit ad hoc dari tentara Prancis, mantan musuh mereka. Masaryk tahu betul bahwa negara merdeka akan membutuhkan tentara sehingga dalam banyak artikel dia menulis bahwa gerakan orang-orang Cekoslovakia melawan Kekaisaran Austria-Hongaria membutuhkan angkatan bersenjatanya yang independen. Jadi Masaryk mencoba menciptakan kekuatan seperti itu dan ini dilakukan di Rusia, di Prancis dan pada akhir perang di Italia dan Amerika Serikat.

Lenin memimpin revolusi kaum komunis di Russia yang membuka pecahnya perang saudara di negeri itu. Setelah revolusi di Rusia tahun 1917 berakhir dengan Bolshevik merebut kekuasaan, situasi mereka di dalam negeri Rusia menjadi semakin genting. Hal ini membuat posisi orang-orang Cekoslovakia tidak nyaman. (Sumber: https://thetyee.ca/)
Tomas G. Masaryk. Masaryk, profesor tua dan buronan dari Praha merekrut ribuan orang Ceko dan Slovakia sebagai unit ad hoc dari tentara Prancis. Untuk ini, orang-orang Cekoslovakia harus mengelilingi bola bumi untuk bisa mencapai front barat, dengan harapan negara-negara barat mendukung berdirinya Cekoslovakia yang merdeka. (Sumber: https://english.radio.cz/)

Di Russia sementara itu, pasukan Cekoslovakia yang ingin melanjutkan pertempuran bersama pasukan sekutu di front barat menghadapi tantangan bagaimana bisa mereka menuju ke Prancis. Jalan mereka menuju ke barat dan ke pelabuhan Baltik utara diblokir oleh tentara Jerman. Mereka kini menghadapi 2 pilihan perjalanan berbahaya, yakni ke selatan menuju Timur Tengah atau lebih jauh ke timur di sepanjang jalur kereta api trans-Siberia ke pelabuhan Vladivostok. Mereka akhirnya memilih rute yang terakhir. Di Russia, rencana Masaryk terhitung sangat berani: Orang-orang Cekoslovakia akan menyeberangi wilayah Siberia menuju ke Vladivostok, pelabuhan Rusia terbesar di Samudra Pasifik, di mana mereka akan menaiki kapal, mengelilingi bola bumi, mendarat di Prancis, dan bertempur di Front Barat—semuanya untuk mendapatkan dukungan Sekutu atas kemerdekaan Ceko dan Slovakia dari Kekaisaran Austria-Hongaria. Tapi membelot ke Sekutu berarti juga melakukan pengkhianatan. Dengan melakukan ini, mereka tidak akan memiliki negara yang dapat mereka sebut rumah, tidak ada pemimpin militer yang diakui atau berpengalaman, tidak ada sarana dukungan yang jelas, sedikit perbekalan, status hukum yang tidak pasti, loyalitas yang dipertanyakan, dan terlalu sedikit senjata. Banyak yang masih harus merawat luka akibat pertempuran atau penyakit. Hebatnya, mengingat risiko yang terkait dengan rencana yang begitu berani, janji akan adanya pertempuran sengit dimasa depan, dan ambisi tinggi dari Masaryk, 50.000 hingga 65.000 orang mengatakan ya. 

NEGOSIASI DENGAN PIHAK RUSSIA

Sementara itu pihak Bolshevik memulai pembicaraan damai dengan Jerman pada awal bulan November 1917. Di saat yang sama pihak berwenang Rusia berencana untuk mengevakuasi pasukan Cekoslovakia melalui kereta api Trans-Siberia ke Vladivostok di Pasifik, dari mana mereka akan diangkut ke Eropa Barat untuk melanjutkan pertempuran sesuai dengan rencana Masaryk. Namun, negosiasi antara Rusia dan Jerman tidak berjalan seperti yang diharapkan Lenin. Berlin menuntut konsesi teritorial besar, termasuk Ukraina merdeka, yang akan menjadi protektorat dari Jerman. Pada bulan Februari, Blok Sentral meluncurkan Operasi Faustschlag untuk memaksa Moskow menyerah pada tekanan mereka. Salah satu tujuan serangan itu adalah untuk menghancurkan Legiun Cekoslovakia guna menghentikan rencana mereka bergabung di Front Barat. Operasi itu sukses secara keseluruhan, dan Lenin terpaksa tunduk pada tuntutan Blok Sentral. Dengan pasukan Jerman mengalir ke daerah Ukraina, Legiun Cekoslovakia berada dalam bahaya nyata untuk dikepung dan ditangkap. Dianggap pengkhianat oleh Blok Sentral, setiap orang Ceko atau Slovakia yang ditawan kemungkinan besar akan ditembak mati. Dengan dua satuan tentara Jerman mendekati pertahanan mereka di Ukraina, orang-orang Ceko dan Slovakia dipaksa mundur dalam waktu lima hari. Legiun Cekoslovakia bagaimanapun berhasil melawan serangan tentara Austro-Jerman di Pertempuran Bakhmach dan melarikan diri dari wilayah Ukraina ke Soviet Rusia. Mereka meninggalkan 186 rekannya tewas dan hilang, sembari membawa 210 orang yang terluka. Setelah aman, Legiun Cekoslovakia naik kereta dan menuju ke timur melintasi Siberia. Di sana, 42.000 sukarelawan Cekoslovakia merundingkan rincian terakhir proses evakuasi mereka. Pada tanggal 25 Maret, kedua belah pihak menandatangani Perjanjian Penza, yang secara eksplisit mengizinkan Legiun untuk menyimpan beberapa senjatanya dan menggunakan kereta api Trans-Siberia untuk mencapai Vladivostok. Ketika otoritas Soviet dan Legiun Cekoslovakia berunding, perlawanan bersenjata terhadap rezim komunis sedang diorganisir di wilayah Rusia Timur dan Selatan. Mengumpulkan kaum republiken dan monarki, Tentara Russia Putih (demikian sebutan kelompok anti komunis dalam Perang Saudara Russia) melawan kekuasaan Bolshevik dan menguasai sebagian besar wilayah Kekaisaran yang sekarat ini. Kepemimpinan Soviet mencoba untuk mendapatkan dukungan militer dari legiun dengan menugaskan komunis Cekoslovakia dengan senjatanya untuk bertempur bersama Tentara Merah. Dengan persetujuan eksplisit dari Vladimir Lenin dan Josef Stalin, orang-orang dari Legiun Ceko-Slovakia kemudian memulai perjalanan berbahaya mereka melintasi Siberia—tempat mereka akan mengukir sejarah secara tak terduga. Peristiwa-peristiwa itu, di samping proses evakuasi, yang memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan karena pertempuran berkelanjutan antara kelompok Merah dan Putih di jalur kereta api yang dilewati menyebabkan ketegangan besar antara pihak otoritas Rusia dan legiuner, yang mencapai titik puncaknya pada bulan Mei 1918. 

Ketika kaum Bolshevik menarik Rusia dari perang pada musim semi 1918, sekitar 40.000 orang Ceko dan Slovakia yang bersenjata lengkap mendapati diri mereka terperangkap di tanah Russia. (Sumber: https://www.rferl.org/)
Dianggap pengkhianat oleh Blok Sentral, setiap orang Ceko atau Slovakia yang ditawan kemungkinan besar akan ditembak mati. Pejuang Ceko ini digantung setelah ditangkap oleh tentara Austria pada tahun 1918. (Sumber: https://www.rferl.org/)

AWAL PERJALANAN

Perjanjian Brest-Litovsk yang ditandatangani antara Soviet Rusia dan Blok Sentral menetapkan bahwa semua tawanan perang harus dibebaskan dan dikirim kembali ke tanah air mereka. Ini termasuk tentara Hongaria yang setia kepada Kekaisaran Habsburg yang ditawan di Siberia. Pertemuan antara tentara Hongaria dengan legiun Cekoslovakia dalam perjalanan ke Vladivostok akan menjadi titik awal dari peristiwa menentukan yang akan sangat berdampak pada Rezim Soviet yang masih muda. Perjalanan para tawanan ini dimulai pada tanggal 14 mei 1918, dengan perdebatan antara dua pria di stasiun Kereta Api Trans-Siberia di Chelyabinsk, lebih dari 1.000 mil (1.609 km) sebelah timur Moskow. Seorang tentara keturunan Hongaria yang masih setia kepada Kekaisaran, marah karena pengkhianatan para legiuner Cekoslovakia terhadap tanah air mereka, melemparkan sepotong logam ke salah satu orang Ceko yang membelot, dan membunuhnya. Prajurit itu dengan cepat ditangkap dan dibunuh sebagai pembalasan. Tetapi peristiwa itu kemudian mendorong pasukan tentara Merah setempat untuk campur tangan dan menangkap beberapa orang Cekoslovakia. Setelah para pelaku ditangkap oleh pihak berwenang Komunis yang bertanggung jawab di Chelyabinsk, para legiuner kemudian mengambil tindakan sendiri dan membebaskan rekan-rekan mereka dari penjara setempat. Tiga ribu legiuner yang marah lalu menguasai kota, menyita 800 senjata dari komisariat militer setempat. Setelah melakukannya, mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka. Menanggapi tantangan langsung ini, Leon Trotsky, pemimpin Tentara Merah, pada tanggal 21 Mei mengirimkan ancaman mengerikan melalui telegram bahwa tentaranya akan menembak para legiuner bersenjata yang terlihat dan memenjarakan yang lainnya. Sudah merasa terancam di tengah kekerasan dan meningkatnya ketegangan dari Perang Saudara Rusia yang pecah, dan bertindak sepenuhnya untuk membela diri, 50.000 legiuner memberontak secara massal. Setelah berbulan-bulan ketidakpastian, para legiuner kemudian mengadakan kongres di Chelyabinsk dan memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri — mereka akan menempuh jalan mereka sendiri ke Vladivostok terlepas dari upaya Bolshevik untuk menghentikan mereka. Terbentang di sepanjang 5.000 mil (8.024 km) jalur Trans-Siberia, para legiuner terbagi dalam tiga formasi utama. Dari barat ke timur, ada sekitar 8.000 legiuner terdampar di sisi Eropa Pegunungan Ural dekat Penza; 8.800 di sekitar Chelyabinsk; sekitar 18.000 timur Omsk; dan 15.000 di dan sekitar Vladivostok. Namun antara Irkutsk dan Vladivostok, puluhan ribu tentara Tentara Merah, juga terperangkap, menunggu dan bersiap untuk bertempur melawan mereka.

Delegasi Rusia dan Jerman bertemu untuk merundingkan perdamaian. Perjanjian Brest-Litovsk yang ditandatangani antara Soviet Rusia dan Blok Sentral menetapkan bahwa semua tawanan perang harus dibebaskan dan dikirim kembali ke tanah air mereka. (Sumber: https://militaryhistorynow.com/)
Legiun membuat kesepakatan dengan Josef Stalin, seorang pemimpin Bolshevik, yang menjanjikan perjalanan yang aman kembali ke negerinya jika orang-orang Ceko dan Slovakia menyerahkan sebagian besar senjata mereka. Akan tetapi keributan antara prajurit keturunan antara Hongaria dengan legiun Cekoslovakia dalam perjalanan ke Vladivostok akan menjadi titik awal dari pemberontakan personel Legiun Cekoslovakia. (Sumber: https://www.rferl.org/)
Dalam prosesnya legiun merebut beberapa kereta untuk mendukung perjalanan mereka menuju pelabuhan Vladivostok. (Sumber: https://www.rferl.org/)

Prioritas pertama orang-orang Ceko kini adalah menghubungkan semua legiuner dalam satu rantai—terutama yang berada di sekitar Penza, yang terjauh dari Vladivostok dan paling rentan. Dari Chelyabinsk, Novosibirsk, dan Penza, kereta api akan menuju timur dan barat dengan kecepatan penuh untuk menyelamatkan “saudara” mereka dan mengalahkan pasukan Tentara Merah di sepanjang Jalur Kereta Trans-Siberia. Ingin mengejutkan dan dengan cepat mengalahkan musuh, para legiuner terkadang menghadapi pasukan yang jauh lebih besar dan bersenjata lebih baik. Awalnya, tanpa senjata ringan yang mencukupi, para legiuner menyerbu unit-unit Tentara Merah, melemparkan granat tangan dan, setidaknya dalam satu pertempuran, melemparkan batu. Mereka merampas berbagai senapan mesin, senapan, meriam artileri, dan bahkan seluruh kereta api dan dengan cepat mengerahkannya untuk melawan musuh. Hari demi hari, minggu demi minggu, satu demi satu kota di Siberia jatuh ke tangan orang-orang Ceko-Slovakia: Novosibirsk pada tanggal 26 Mei, Chelyabinsk pada tanggal 27 Mei, Penza dan Syzran pada tanggal 29 Mei, Tomsk pada tanggal 4 Juni, Omsk pada tanggal 7 Juni, Samara pada tanggal Juni 8, Krasnoyarsk pada tanggal 20 Juni, Nizhneudinsk pada tanggal 24 Juni, Vladivostok pada tanggal 29 Juni, Ufa pada tanggal 4 Juli, Ussuriysk pada tanggal 5 Juli, dan Irkutsk pada tanggal 11 Juli. Meskipun sekitar 15.000 legiuner telah berhasil mencapai Vladivostok pada bulan April, terdapat unit Tentara Merah besar antara kota pelabuhan itu dan Irkutsk, sebuah kota besar di sebelah barat Danau Baikal, terutama di sekitar Chita, dan Khabarovsk. Ketika para pemberontak akhirnya memasuki Irkutsk pada tanggal 11 Juli, mereka disambut dengan membunyikan lonceng gereja dan orang-orang Rusia. Dalam perjalanannya legiuner utamanya menggunakan kereta api sebagai alat transportasi utama. Legiun Cekoslovakia, bersama dengan tanggungan mereka, kemudian mengubah gerbong-gerbong kereta mereka menjadi barak, pabrik roti, bengkel dan rumah sakit. Mereka bahkan menerbitkan koran mereka sendiri di atas kereta. Kereta mereka juga dipersenjatai dengan senjata artileri dan dijaga ketat. Kereta-kereta yang terbaik memiliki gerbong berlapis baja tebal yang dilengkapi dengan lubang senjata dan turret. Beberapa dihiasi dengan slogan-slogan patriotik dan bahkan lukisan pahlawan nasional. Perintah diteruskan diantara pasukan melalui rantai stasiun telegraf yang dirampas di sepanjang rute. Pada tahun 1919, kereta api lapis baja biasanya terdiri dari sebuah kompi infanteri – sekitar 165 orang – yang akan membersihkan posisi musuh dan memberikan keamanan ketika kereta berhenti. Pasukan kavaleri beranggotakan 47 orang lalu memberikan mobilitas tambahan dan kemampuan pengintaian anti-sabotase. Seksi senapan mesin dengan dua gerobak bersenapan mesin yang ditarik kuda turut memberikan dukungan. Dengan tim penyerang ini, kereta lapis baja dapat memproyeksikan kekuatan tidak hanya di sepanjang rel linier, tetapi juga keluar ke instalasi terdekat. Perwira dari Tentara Merah memperkirakan bahwa tim penyerang semacam ini meningkatkan efektivitas kereta lapis baja lima kali lipat.

Roti dibuat di dalam beberapa kereta untuk mendukung logistik pasukan Legiun Cekoslovakia. (Sumber: https://www.rferl.org/)
Kereta Legiun Cekoslovakia dalam perjalanan. (Sumber: https://militaryhistorynow.com/)

TANTANGAN DI DANAU BAIKAL

Sementara itu setelah menguasai benteng Bolshevik di Irkutsk dan Vladivostok, sebanyak 50.000 legiuner masih tetap terpisah di belakang Irkutsk, terputus dari rekan-rekan mereka di Vladivostok. Informasi intelijen yang baik dengan cepat memberi tahu mereka bahwa mereka menghadapi tantangan yang berbahaya dan mengerikan, yakni: harus melewati 39 terowongan yang melintasi jalur Trans-Siberia melalui tebing terjal di sepanjang pantai selatan Danau Baikal, yang permukaannya lebih besar dari Belgia dan kedalamannya menampung seperlima dari jumlah air tawar dunia. Bentangan alam yang berusia 25 juta tahun di bagian pedalaman Rusia, celah Baikal sepanjang 400 mil (643 km), berbentuk bulan sabit di atas lempeng tektonik memiliki danau yang begitu besar sehingga penduduk setempat menyebutnya sebagai lautan. Baikal mengalir tepat di jantung Rusia, menampung 336 sungai dan aliran yang mengalir ke sana; hanya Sungai Angara yang mengalirkan air Baikal ke barat menuju ke pedalaman. Keras dan nyaris belum terjamah, permukaan danau yang tenang menyembunyikan kedalamannya yang luar biasa. Sementara transparan seperti mangkuk ikan di musim panas, di musim dingin danau ini bisa membeku hingga kedalaman enam kaki (1,8 meter). Sementara itu batuan setajam silet melapisi tebing terjal yang berdinding di tepi selatan danau, menjulang ke arah langit dan jatuh jauh ke dalam danau yang tampaknya tak berdasar. Pembukaan Jalur Kereta China Api Timur melalui Manchuria pada tahun 1903 melengkapi Jalur Kereta Api Trans-Siberia yang sudah ada, tetapi menghindari kawasan pegunungan 162 mil (260 km) di sekitar ujung selatan danau. Ketika pembangun rel kereta api akhirnya berhasil melewati tebing gunung ini, yang dibelah oleh aliran sungai dan ngarai sungai yang bermuara ke danau, mereka harus mendinamit potongan ke sisi gunung batu; membangun lebih dari 200 jembatan dan penyeberangan untuk menjangkau ngarai sungai, ceruk, dan anak sungai; menopang bermil-mil tanggul; dan menggali menembus melalui batu untuk membuat 39 terowongan, dimana terowongan terpanjang yang membentang setengah mil (800 meter). Ketika jalur penghubung terakhir ini dibuka pada tahun 1904—lebih dari 13 tahun setelah jalur Trans-Siberia mulai dibuat—Samudra Atlantik dan Pasifik akhirnya dihubungkan oleh jalur Trans-Siberia. 

The Circum-Baikal Railway, salah satu dari tujuh bagian asli dari jalur Trans-Siberian Railway, memiliki 39 terowongan yang melintasi hampir enam mil jalur menembus gunung. (Sumber: https://www.historynet.com/)
Dengan mempersenjatai diri Legiun Cekoslovakia bersiap menghadapi tantangan pertempuran di sepanjang jalur Trans Siberia. (Sumber: https://www.rferl.org/)
Kereta lapis baja bermeriam yang dirampas Legiun Cekoslovakia dari penguasa Bolshevik. (Sumber: https://www.rferl.org/)

Karena Legiun Cekoslovakia lebih cepat menuju ke arah mereka, angkatan bersenjata Soviet meninggalkan Irkutsk. Para legiuner segera mengetahui bahwa kaum Bolshevik yang mundur telah membawa serta seluruh kereta yang penuh dengan bahan peledak, dan berencana untuk meledakkan satu atau lebih terowongan, yang dengan demikian menjebak semua legiuner di sebelah barat Danau Baikal. Namun, keberanian dan energi dari komandan legiun di garis depan di Irkutsk, Kapten Radola Gajda, membuat anak buahnya tetap percaya diri. “Gajda adalah seorang pemimpin yang keyakinannya adalah untuk menyerang segera, menyerang sesering mungkin, dan dengan melancarkannya dengan tekad yang kuat,” kenang Sersan Gustav Becvar. “Pada hari-hari itu, dia sepertinya tidak pernah ragu-ragu dalam tindakannya.” Gajda menyadari bahwa dia dan anak buahnya harus mencapai dan membersihkan terowongan-terowongan itu sesegera mungkin untuk mencegah kehancuran mereka. Namun peristiwa di Irkutsk mengungkap kelemahan politis dari Legiun Ceko-Slovakia di Rusia, bahkan ketika dunia mengagumi kehebatan aksi militernya. “Seolah-olah seperti tersihir, hukum dan ketertiban bisa ditegakkan (dengan kehadiran legiun Cekoslovakia,” Ernest Harris, konsul jenderal Amerika di Irkutsk mengatakan, “dan jalan-jalan menjadi ramai dengan setiap kelas masyarakat yang sangat senang telah diselamatkan dari pemerintahan Bolshevik.” Penduduk Irkutsk dengan hangat menyambut para legiuner. Pada jamuan makan malam perayaan, Becvar mengenang, “Saya mulai dengan berterima kasih kepada orang-orang atas sambutan luar biasa yang mereka berikan kepada kami, mengatakan betapa kami menghargai niat baik mereka. Pernyataan ini berjalan dengan baik, tetapi ketika saya melanjutkan untuk memperingatkan mereka bahwa kami tidak berniat mencampuri urusan internal negara mereka dengan cara apa pun, bahwa setiap pertempuran yang kami lakukan telah dilakukan semata-mata untuk mengamankan perjalanan kami ke Vladivostok, dan bahwa oleh karena itu kami tidak dapat diandalkan untuk tetap tinggal di sekitar Irkutsk, mereka kurang senang. Setelah pengumuman ini, sebagian besar kegembiraan yang disebabkan oleh kedatangan kami menguap.” Pihak sekutu juga perlu diberitahu bahwa orang-orang Ceko-Slovakia sebenarnya tidak ingin melawan Rusia.

Kereta lapis baja “Orlik” (Elang Kecil) yang dirampas legiun Cekoslovakia, dilengkapi dengan senapan mesin, dan dua meriam. (Sumber: https://www.rferl.org/)
Legiuner di dalam kereta Orlik. Pemberontak Cekoslovakia hampir tak terbendung, perjalanannya yang lambat ke Vladovostok. (Sumber: https://www.rferl.org/)

Di Irkutsk, Trans-Siberia dibangun di seberang Sungai Angara dari pusat utama kota, dan jalur awalnya membentang ke timur di sepanjang Angara sejauh sekitar 40 mil (64 km)hingga mencapai Danau Baikal di desa Port Baikal. Kapal feri pemecah es di Baikal dan Angara mengangkut penumpang, kereta api, dan barang dari Port Baikal melintasi danau ke Babushkin sampai tahun 1904, ketika “mata rantai yang hilang” diselesaikan, dengan dua jalur sepanjang 162 mil di sekitar ujung selatan danau dari Pelabuhan Baikal ke Babushkin di pantai timur danau. Di Port Baikal, para legiuner mengetahui, bahwa kaum Bolshevik telah memarkir kereta mereka yang sarat bahan peledak. Stasiun dan jalurnya berada di antara tebing curam di atas Port Baikal dan muara Sungai Angara di danau. Pada tanggal 15 Juli 1918, Gajda mengirim tiga kelompok pasukan ke arah posisi musuh. Satu unit yang terdiri dari 500 prajurit mendaki jalur lintas alam dan diam-diam mendekati desa tepi danau lainnya, Kultuk, di selatan Port Baikal. Rombongan kedua mengikuti jalur Trans-Siberia menuruni lembah Angara menuju Baikal tetapi tetap di perbukitan di atas lembah untuk menghindari deteksi dari orang-orang Bolshevik; kemudian sebuah kereta lapis baja yang telah direbut para legiuner dari Tentara Merah mengikuti perlahan di belakang dan di sebelah kiri orang-orang ini. Di seberang lembah Angara, unit ketiga mengikuti jalan pos Moskow lama dari Irkutsk ke desa tepi danau Listvyanka, di seberang Port Baikal di mulut Angara. Unit ketiga ini lalu berbelok ke kiri dari jalan saat mendekati Listvyanka dan naik ke perbukitan di atas desa. 

Legiun Cekoslovakia memperbaiki jembatan yang rusak. (Sumber: https://www.rferl.org/)
Legiuner menjaga kereta di Siberia pada hari dengan suhu -40C. (Sumber: https://www.rferl.org/)

Setelah beberapa jam, sebuah lereng bukit muncul dan orang-orang itu merangkak ke tepinya dan melihat ke bawah mereka dengan kagum ke danau berkilauan yang sangat besar yang terbentang di bawah mereka. Di sebelah kanan mereka di kejauhan terdapat stasiun Baikal, di mana danau bermuara ke Angara. “Kami diam-diam menatap keindahan pemandangan yang tak terlukiskan,” kenang Becvar. “Para prajurit menarik napas dengan cepat, tetapi hanya sedikit yang memecah kesunyian.” Tiba-tiba, dari arah stasiun Baikal, terdengar suara ledakan besar. Asap hitam tebal membubung ke udara. Dengan asumsi ini menandakan serangan mereka, Becvar dan anak buahnya berlari menuju Listvyanka, menembaki pasukan musuh yang bergegas naik dua kapal uap yang menghilang di seberang danau. Saat mereka merayap maju dengan hati-hati, legiuner pertama yang mencapai Port Baikal melihat gedung-gedung rata, rel terpelintir, gerbong hancur, longsoran batu, dan potongan tubuh di mana-mana. Rekan-rekan mereka yang sebelumnya mencapai tebing di atas stasiun kemudian mengaku bahwa ketika mereka menembaki kereta musuh, beberapa peluru mereka mungkin mengenai dinamit. Gajda lalu muncul dan memerintahkan sebagian besar prajurit untuk mengejar orang-orang Bolshevik melalui terowongan dengan berjalan kaki. Sebuah detasemen kecil dibiarkan tetap di belakang untuk memperbaiki rel dan membiarkan kereta lapis baja miliki legiun lewat. Pagi-pagi keesokan harinya, kereta pasukan mulai bergerak melalui terowongan menuju Kultuk; pasukan lain dikirim ke bukit-bukit di atas terowongan. Setelah lima hari pertempuran, gabungan tiga unit legiuner berhasil merebut Kultuk. Para prajurit kemudian maju menuju Slyudyanka, sebuah kota di ujung selatan Danau Baikal, di luarnya terdapat 39 terowongan terakhir. Kemudian terdengar ledakan dahsyat lainnya yang bergema melalui terowongan dan melintasi danau di sebelah kiri mereka. Orang-orang itu kemudian berlari ke depan sampai rel di depan mereka menghilang di bawah tumpukan batu dan tanah. Para legiuner membutuhkan waktu tiga minggu, bekerja siang dan malam, untuk membersihkan batu-batu besar dan tanah dari rel. Namun mereka menggunakan waktu dengan baik. Berencana untuk menyerang Bolshevik secara bersamaan dari tiga sisi, mereka menaiki satu kereta lapis baja dan beberapa kereta penumpang dan mengitari kerucut selatan Danau Baikal, menuju Tankhoy, sebuah kota di pantai timur. 

Legiuner berpatroli di kawasan Siberia. Meski Perang Dunia I telah usai, Perang Saudara Rusia baru saja memanas. (Sumber: https://www.rferl.org/)
“Kematian lebih baik daripada hidup sebagai seorang budak,” tulisan pada salah satu kereta legiuner. (Sumber: https://www.rferl.org/)

“Orang-orang Bolshevik bertahan kuat di depan stasiun ini, dan bahkan kereta lapis baja kami yang baru tiba tidak dapat mengusir mereka dari sarang mereka yang dibentengi,” tulis Becvar kemudian. Para pengintai lalu melihat sekitar 60 kereta pasukan Tentara Merah memadati jalur antara Tankhoy dan stasiun di Babushkin, yang lebih jauh ke utara di sepanjang pantai. Gajda kemudian memberi tahu orang-orang itu: legiuner yang tertinggal di Listvyanka di seberang danau telah memperoleh tongkang-tongkang sederhana yang mereka perkuat dengan kayu, serta kapal uap yang bisa menarik tongkang. Perahu-perahu akan berangkat melintasi danau malam itu, mendarat di desa tepi danau lainnya, Posolska, di utara Babushkin, di belakang posisi pasukan Tentara Merah. Pada saat yang sama, batalion lain akan berbaris ke timur menuju taiga dan, dengan gerakan mengapit, mendekati musuh dari sisi timur. Sisa pasukan lalu akan maju di sepanjang rel di belakang kereta lapis baja milik legiun. Para prajurit Tentara Merah berjuang dengan keras. Namun, sekitar tengah hari, mereka mulai kabur dari posisi mereka, dan segera seluruh front mereka mundur, tidak diragukan lagi mereka telah mendapat tekanan dari para legiuner yang mendekat dari belakang mereka. “Kemudian gerak mundur ini berubah menjadi kekalahan telak,” tulis Becvar kemudian. “Bolshevik tidak diberi waktu atau kesempatan untuk menggunakan kereta api mereka. Mereka didorong ke dalam kepanikan massal di sepanjang garis depan menuju Posolska.” Apa yang menunggu mereka adalah pembantaian. “Tembakan senapan dan senapan mesin menyapu gerombolan yang terdesak sampai mereka berhamburan ke perbukitan.” Korban diantara Tentara Merah berjumlah ratusan; legiun kini memperoleh kereta yang tak terhitung jumlahnya dan persenjataan yang lebih besar. Para legiuner juga membakar Baikal, mengakhiri keberadaanya di dermaga di Babushkin. 

Legiun Cekoslovakia bersiap mengusir serangan Bolshevik (dan kawanan nyamuk). (Sumber: https://www.rferl.org/)
Dalam perjalanan para Legiuner harus siap memperbaiki rel yang dirusak musuh untuk menghambat perjalanan mereka. (Sumber: https://www.rferl.org/)
Legiuner menjaga terowongan kereta api di Siberia. Atas perintah Sekutu Barat, Legiun Cekoslovakia diminta untuk melindungi Kereta Api Trans-Siberia dan membantu Tentara Russia Putih dalam perjuangannya melawan Bolshevik. (Sumber: https://www.rferl.org/)

Tentara Merah tidak segera pulih dari kekalahan ini. Dengan 39 terowongan Danau Baikal di belakang mereka, lusinan kereta api legiun Cekoslovakia yang bersenjata lengkap berangkat ke barat lagi. Pada pertengahan bulan Juli, Legiun Cekoslovakia, bersama sekutu Russia Putihnya, berhasil menguasai semua kota di Trans-Siberia dari Samara hingga Pasifik. Pada bulan Agustus 1918, pasukan Cekoslovakia dan Tentara Russia Putih dikabarkan berhasil merebut Cadangan Emas Kekaisaran Rusia yang berharga. Pada tanggal 24 Agustus mereka mencapai Ulan-Ude, sebuah kota sekitar 60 mil (96 km) sebelah timur danau. Orang-orang yang telah terperangkap di sebelah barat Danau Baikal akhirnya bisa melihat “saudara-saudara” mereka dari Vladivostok ketika, pada tanggal 1 September, para legiuner merayakan saat-saat terakhir mereka di Olovyannaya, bertemu dengan para legiuner dari Vladivostok, yang telah bertempur di sepanjang Jalur Kereta Api China Timur ke kota kecil di selatan Chita. Pada bulan Agustus pasukan multinasional berkekuatan 90.000 yang terdiri dari pasukan Amerika, Kanada, Inggris, Prancis, Italia, dan Jepang mendarat di Vladivostok untuk merebut kota dan menahannya cukup lama sehingga para Legiun dapat berangkat ke Front Barat. Namun para legiuner telah memfasilitasi pembebasan mereka sendiri menuju Vladivostok, meninggalkan pasukan sekutu dengan sedikit hal yang bisa dilakukan. Selain itu, Sekutu sekarang telah meninggalkan harapan samar mereka untuk menyediakan kapal untuk mengambil para legiuner dari Vladivostok, dan Prancis dan Inggris mulai melobi agar legiuner tetap berada di Rusia untuk mendukung pasukan anti-Bolshevik yang diserang oleh Tentara Merah, dan bahkan untuk bergerak maju ke Moskow. Maka dimulailah campur tangan Sekutu yang membingungkan dan bernasib buruk dalam Perang Saudara Rusia. Setelah itu komandan Amerika William S. Graves dengan baik menyimpulkan pengalamannya sebagai berikut: “Saya memimpin pasukan Amerika Serikat yang dikirim ke Siberia, dan, harus saya akui, saya tidak tahu apa yang coba dicapai Amerika Serikat melalui intervensi militernya ini.” Namun, dalam waktu kurang dari tiga bulan, legiun Cekoslovakia telah merebut seluruh Jalur Kereta Api Trans-Siberia dan, bersamanya, seluruh Siberia mulai dari Pegunungan Ural hingga Laut Jepang—kira-kira jaraknya sama dengan dari Honolulu ke New York. Luasnya hampir sama dengan lima juta mil persegi wilayah Siberia dan mencakup sepersepuluh dari permukaan daratan bumi. Sementara prestasi mereka mengejutkan banyak orang, mereka yang telah mengenal orang-orang itu tidak terlalu terkejut. Penulis Inggris, W. Somerset Maugham, yang bekerja dengan orang-orang Ceko dan Slovakia di Rusia sebagai mata-mata Inggris, memperingatkan, “Mereka terorganisir seperti department store, dan disiplin seperti resimen Prusia.” 

Pelabuhan Vladivostok, tujuan akhir Legiun Cekoslovakia di Russia. (Sumber: https://www.rferl.org/)

SERANGAN BALIK BOLSHEVIK

Sekitar 15.000 lebih tawanan perang Ceko dan Slovakia telah bergabung dengan legiun setelah pemberontakan dimulai, membuat Trotsky dan Lenin melihatnya sebagai ancaman bagi pemerintahan Soviet. Berbicara pada sesi gabungan luar biasa para pemimpin Soviet pada tanggal 28 Juli, Lenin mengatakan bahwa “menghancurkan pasukan Ceko-Slovakia dan partisan kontrarevolusioner mereka” adalah “tugas paling mendesak dari Revolusi Rusia.” Berbicara kepada majelis yang sama pada hari berikutnya, Trotsky mengakui: “Apa yang sekarang terjadi di Volga, dalam bentuk pemberontakan orang-orang Ceko-Slovakia, menempatkan orang-orang Rusia Soviet dalam bahaya dan karena itu juga membahayakan revolusi internasional”. Faktanya saat itu korps Cekoslovakia memiliki sekitar 70.000 tentara asal Ceko dan sekitar 20-30.000 tentara asal Rusia, jadi kekuatannya sekitar 100.000. Dengan jumlah ini sebenarnya mereka bukan kekuatan yang bisa mengalahkan kaum Bolshevik. Namun yang terakhir jelas terganggu dengan keberadaan mereka di tanah Russia. Pada bulan September 1918, Tentara Merah kemudian melancarkan serangan balik besar-besaran di front Siberia. Kurangnya komando pusat di antara Tentara Russia Putih memudahkan gerak maju kaum Bolshevik. Pasukan Soviet lalu berhasil merebut kembali Kazan dan Samara pada awal bulan Oktober, mendesak kembali Legiun Cekoslovakia dan sekutu mereka. Kekalahan-kekalahan tersebut, bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan Cekoslovakia di Praha pada tanggal 28 Oktober, membuat semangat juang para relawan memudar. Yang terakhir akhirnya kehilangan kepercayaan pada sekutu Russia Putih mereka ketika Laksamana Alexander Kolchak yang kontroversial – terkenal karena ketidaksukaannya terhadap tentara asing – memberlakukan kekuasaannya pada kelompok anti-komunis lainnya di Rusia Timur. Sikap Ceko terhadap Kolchak dan pemerintahan Kolchak berubah dengan cepat dari waktu ke waktu.

Prajurit Resimen ke-8 Legiun Cekoslovakia yang dibunuh oleh Bolshevik di Nikolsk-Ussuriysky, 1918. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Laksamana Alexander Kolchak. (Sumber: https://www.thecollector.com/)
Pergerakan pasukan dalam Perang Saudara Rusia. Garis abu-abu gelap menunjukkan kemajuan maksimum pasukan Russia Putih, termasuk Legiun Cekoslovakia. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada awal tahun 1918, legiun Ceko sangat mendukung pasukan Kolchak. Dia menciptakan pemerintahan dengan bantuan orang-orang Ceko. Tapi Kolchak bukanlah seorang demokrat. Dia menciptakan pemerintahan dengan bantuan orang-orang Cossack dan ataman sehingga pemerintahannya tidak terlalu demokratis. Maka sejak saat itu pasukan Cekoslovakia mulai netral dalam pertempuran di Siberia. Pada awal tahun 1919, Kolchak memerintahkan pemindahan tentara asing yang bertempur di Tentara Russia Putih di Jalur Kereta Trans-Siberia antara Novonikolayevsk dan Irkutsk. Saat Tentara Merah berkembang, desersi dan aktivitas pro-komunis tumbuh di belakang garis pertahanan kaum Russia Putih. Kewalahan dengan kondisi yang berkembang, Legiun Cekoslovakia kemudian menyatakan netralitas mereka, dan tidak akan mengambil bagian dalam pertempuran lagi. Pada tahun 1920, pasukan Rusia Putih hampir benar-benar runtuh dan kekuatan Barat serta Jepang akhirnya menarik pasukan. Sekali lagi legiun Cekoslovakia menghadapi kemungkinan terdampar dan tersandera di tanah asing. Dengan Tentara Merah mengancam kota, sudah waktunya bagi unit untuk akhirnya meninggalkan Rusia untuk selamanya. Sementara itu tekanan dari Tentara Merah lalu memaksa pemerintahan Laksamana Kolchak untuk mundur dari Omsk bersama dengan Harta Karun Kekaisaran yang mereka rampas. Ketika kereta yang membawa Kolchak mendekati kota Nezhneudinsk, kaum Bolshevik menyerang lebih jauh, hampir menangkap komandan Russia Putih itu. Kolchak kemudian ditinggalkan oleh para pengawalnya dan diserahkan kepada belas kasihan tentara Cekoslovakia yang ada disekitar situ dan pada Jenderal Prancis Maurice Janin, Komandan Misi Militer Sekutu di Siberia. Pada bulan Januari 1920, daripada mengawal Kolchak ke Vladivostok, Jenderal Janin dan Komandan Cekoslovakia Jan Syrovy menyerahkannya kepada Tentara Merah ke-5. Pada tanggal 7 Februari, mereka lalu diizinkan melewati Pasifik dengan aman oleh otoritas komunis.

EVAKUASI LEGIUN CEKOSLOVAKIA

Pada tanggal 1 Maret 1920, semua pasukan Cekoslovakia sudah berada di luar kota Irkutsk. Kendala terakhir yang masih menghadang, adalah berupa divisi-divisi Tentara Putih dan sekutu asingnya, yang menghentikan pergerakan kereta api yang membawa Legiun untuk mendapatkan posisi strategis yang lebih baik dalam pertempuran mendatang melawan Tentara Merah. Tentara Cekoslovakia akhirnya mencapai kota Vladivostok pada musim panas tahun 1920, dan tentara terakhir dievakuasi pada bulan September tahun yang sama. Para personel legiun dibagi di atas serangkaian kapal yang membawa mereka kembali ke Eropa melalui Samudra Hindia, yang lain berlayar melintasi Pasifik dan melalui Terusan Panama. Jumlah total orang yang dievakuasi dengan Legiun Cekoslowakia di Rusia adalah 67.739; termasuk 56.455 tentara, 3.004 perwira, 6.714 warga sipil, 1.716 istri, 717 anak-anak, 1.935 orang asing dan 198 lainnya.Lebih dari 4.000 tentara Cekoslovakia diketahui tewas dalam pertempuran selama Perang Dunia I dan dalam Perang Saudara Rusia. Sejumlah pasukan yang jumlah pastinya tidak diketahui hilang atau desersi dari Legiun, melakukan perjalanan berbahaya menuju Cekoslovakia melalui garis depan atau bergabung dengan kaum komunis Cekoslovakia. Sebagian besar pasukan yang membentuk Legiun kemudian menjadi inti dari tentara Cekoslovskia yang baru. Beberapa prajurit bahkan menduduki posisi politik penting, seperti Jan Syrovy, perdana menteri negara itu, dari bulan September hingga Desember 1938. Saat ini, Legiun Cekoslovakia masih dihormati di Republik Ceko dan Slovakia sebagai sumber utama kebanggaan nasional mereka.

Perang Saudara Rusia bukanlah peperangan bagi orang-orang Cekoslovakia, dan pada awal tahun 1920, para legiuner hanya ingin pulang. (Sumber: https://www.rferl.org/)
Legiuner naik ke kapal di Vladivostok. Lagiun Cekoslovakia meninggalkan sekitar 4.000 orang rekan-rekannya tewas tetapi membawa serta lebih dari 1.000 wanita lokal yang telah mereka nikahi. (Sumber: https://www.rferl.org/)

CATATAN AKHIR LEGIUN CEKOSLOVAKIA

Merefleksikan kembali sejarah dan kiprah dari Legiun Cekoslovakia, sepintas tampaknya tidak dapat dipahami bahwa beberapa Korps Ceko-Slovakia, yang telah menemukan dirinya ada di Rusia melalui jalan yang berliku-liku dalam perang dunia, pada satu waktu terbukti hampir mempengaruhi jalannya revolusi Rusia. Namun demikian, “itulah masalahnya. ” Legiun Cekoslovakia dalam periode singkat memiliki kekuatan untuk mengganggu rezim Soviet, sebuah hasil yang bisa secara dramatis mengubah jalannya sejarah abad ke-20. Meski demikian pemberontakan mereka juga memiliki banyak konsekuensi yang tidak diinginkan. Gerak maju mereka melawan pasukan Tentara Merah di kota tempat keluarga Romanov ditahan pada bulan Juli 1918 secara langsung memicu perintah Lenin untuk membunuh Tsar Nicholas II dan keluarganya. Legiun tersebut juga mempercepat perkembangan gulag Soviet dengan pendirian kamp-kamp konsentrasi pertama, dan juga mendorong pembentukan dan konfigurasi awal Tentara Merah. Pemberontakan mereka adalah alasan utama Presiden Woodrow Wilson mengirim pasukan AS ke Rusia, yang dikerahkan secara eksplisit untuk membantu orang-orang Ceko dan Slovakia. Namun kesediaan legiun untuk bertempur bagi Sekutu membantu melemahkan dinasti Habsburg dan memungkinkan Masaryk serta rekan-rekannya untuk mengamankan pengakuan Sekutu untuk berdirinya republik Cekoslovakia. Winston Churchill, yang menjabat sebagai menteri perang Inggris selama pemberontakan, menyimpulkan mengenai petualangan Legiun Cekoslovakia ini, “Halaman-halaman sejarah hampir tidak mengingat episode paralel sekaligus begitu romantis dalam karakter dan begitu luas dalam skalanya.” Dalam kesepakatan yang langka dengan Churchill, Perdana Menteri Inggris David Lloyd George berkata, “Kisah petualangan dan kemenangan pasukan kecil ini memang salah satu epos terbesar dalam sejarah.” Mantan presiden AS Theodore Roosevelt, yang sudah lama tidak menjabat dan berduka atas kematian putranya dalam perang, terinspirasi oleh laporan pencapaian legiun ini di Rusia. Dia lalu menyumbangkan $1.000 dari penghargaan uang tunai yang dia terima dari Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1906 kepada legiuner, “karakter luar biasa serta prestasi besar dan heroiknya,” katanya, “secara harfiah tak tertandingi, sejauh yang saya tahu, dalam sejarah perang mulai dari zaman kuno atau modern.” Musuh bebuyutannya, Woodrow Wilson, setuju, kemudian menyambut wakil legiuner ke Gedung Putih. 

Peta rute pulang Legiun Cekoslowakia di Rusia. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Satu abad kemudian, perjuangan Legiun Cekoslovakia di Rusia dikenang lewat museum dan diabadikan dalam monumen serta relief di sebuah bangunan di Praha. (Sumber: https://www.rferl.org/)

Namun, “halaman-halaman sejarah” tidak memberikan banyak keadilan kepada orang-orang ini. Kemerdekaan orang-orang Cekoslovakia ini kemudian ditekan setelah tahun 1938, ketika rezim Nazi Jerman menduduki negara kecil itu, di mana sentimen anti-Jerman telah lama berjalan beriringan dengan nasionalisme Ceko, dan sekali lagi setelah tahun 1948, ketika Cekoslovakia menjadi negara satelit Soviet. Pendudukan tentara Rusia di Praha kemudian mengubur ingatan para pendiri Cekoslovakia, yang telah berperang dan mengalahkan, meskipun sebentar, Tentara Merah dan mengancam kelangsungan hidup Revolusi Rusia. Baru setelah rezim komunis Uni Soviet dan Eropa Timur runtuh, kisah ini dapat diceritakan dengan menggunakan bahan-bahan dari sumber asli. Bertempur melawan Tentara Merah dalam Perang Saudara Rusia memiliki efek yang tidak menguntungkan bagi citra Legiun Ceko-Slovakia, setidaknya di beberapa tempat, dimana mereka dianggap sebagai tentara reaksioner pro-tsar. Namun orang-orang yang telah mempertaruhkan hidup mereka untuk menentang sebuah monarki di Wina, sesungguhnya tidak bermaksud untuk mendukung monarki lainnya di Rusia. Semua bukti yang tersedia menegaskan bahwa sebagian besar prajurit, serta para pemimpin mereka, adalah orang-orang berideologi sosialis, dan sekitar 10.000 tawanan perang Ceko dan Slovakia juga menjadi sukarelawan untuk Tentara Merah. Akhirnya, mereka membenci dan secara terbuka menentang komandan Russia Putih terkemuka, yakni Laksamana Aleksandr V. Kolchak, bahkan menyerahkannya ke pengadilan revolusioner yang netral di Irkutsk pada bulan Januari 1920. Asal-usul dan tujuan legiuner Ceko dan Slovakia ini, sisa-sisa dari pasukan terakhir kekaisaran Eropa dari abad pertengahan, akan lebih tepat mencirikan mereka sebagai kaum revolusioner terakhir dari sebuah rezim kuno. Hanya konsep dan kategori politik baru yang kemudian muncul dari Soviet Rusia yang dapat mengklasifikasikan kaum revolusioner ini sebagai kelompok kontra-revolusioner pertama dari era baru, ketika suasana semangat nasionalisme yang polos berhadapan dengan sosialisme internasional dan komunisme Soviet yang baru muncul.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

THE BATTLE FOR BAIKAL By KEVIN J. MCNAMARA; 8/22/2017

Czechoslovak Legion: Marching to Freedom in the Russian Civil War by Ilyas Benabdeljalil; Dec 22, 2021

https://www.google.com/amp/s/www.thecollector.com/czechoslovak-legion-russian-civil-war-freedom/amp/

The Czechoslovak legions: myth, reality, gold and glory by Chris Johnstone

; 08/18/2010

https://english.radio.cz/czechoslovak-legions-myth-reality-gold-and-glory-8571034

A Long Way From Home – The Czech Legion’s Amazing Trek Across Siberia

https://www.google.com/amp/s/militaryhistorynow.com/2013/06/02/a-long-way-from-home-the-czech-legions-amazing-trek-across-siberia/amp/

A Remarkable Armored Train Fought Its Way Across Eurasia Zaamurets traveled — and battled — for years by JAMES SIMPSON

https://medium.com/war-is-boring/a-remarkable-armored-train-fought-its-way-across-eurasia-db3e3180b50c

From Siberia To Freedom: The Odyssey Of The Czechoslovak Legion By Amos Chapple; February 10, 2019 05:16 GMT

https://www.google.com/amp/s/www.rferl.org/amp/the-odyssey-of-the-czechoslovak-legions-through-siberia-to-independence/29759515.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Czechoslovak_Legion

Exit mobile version