Korvet Kelas Parchim Bekas Jerman Timur Milik TNI AL, Kapal Perang Dengan Banyak Cerita

Korvet kelas Parchim merupakan salah satu andalan TNI AL dalam menghadapi ancaman bawah laut, yang utamanya berasal dari kapal selam. Korvet merupakan kapal perang berukuran kecil dengan bobot antara 500 hingga 2000 ton. Kapal perang kelas korvet dapat beroperasi sebagai kapal patroli pantai atau kapal serang cepat dan mampu melaksanakan pertempuran di atas permukaan dan bawah permukaan air. Saat Jerman Timur bersatu dengan Jerman Barat, kapal-kapal buatan blok timurpun segera dipensiunkan oleh Jerman Timur. Saat itu Indonesia tertarik untuk membeli kapal-kapal eks Jerman Timur tersebut untuk memenuhi kebutuhan minimum kapal perang TNI AL. Indonesia pada akhirnya membeli kapal korvet kelas Parchim, sebagai bagian dari paket pembelian kapal perang bekas ex Jerman Timur pada tahun 1993. Biaya yang membengkak dalam pengadaan kapal-kapal perang ex Jerman Timur ini, pada akhirnya membawa kepada polemik nasional yang berkepanjangan saat itu. Bahkan sebagai buntutnya, majalah Tempo dan tabloid Detik akhirnya kena bredel karena berita investigasinya mengenai perkara ini. TNI AL diketahui mengoperasikan 16 korvet Parchim dan digunakan sebagai pemburu kapal selam. Sejumlah modifikasi telah dilakukan oleh TNI AL untuk membuat kapal-kapal korvet kelas Parchim dapat dioperasikan secara efektif di perairan Indonesia. 

KRI Pati Unus (384) salah satu korvet kelas Parchim bekas buatan Jerman Timur yang dibeli Indonesia. Nasib kapal ini berakhir saat kandas tanggal 13 Mei 2016. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

LATAR BELAKANG DESAIN

Korvet kelas Parchim (Kode Soviet: Proyek 1331M) dikembangkan untuk Angkatan Laut Jerman Timur pada akhir tahun 1970-an, dan dibangun oleh galangan kapal Wolgast Peene-Werft, untuk menanggapi kehadiran kapal-kapal selam NATO di perairan pesisir Eropa. Kapal-kapal itu dirancang untuk menjalankan misi peperangan anti-kapal selam di wilayah pesisir, seperti di laut Baltik yang ada di lepas pantai Jerman Timur. Jika sampai terjadi perang habis-habisan antara NATO dan Pakta Warsawa di Eropa, target utama mereka adalah kapal-kapal selam kecil pesisir tipe U-206 milik angkatan laut Jerman Barat. Kapal pertama, Wismar (sekarang menjadi KRI Sutanto milik Indonesia), diluncurkan pada tanggal 9 April 1981 di Rostock, dan kemudian 15 kapal lagi dibangun hingga tahun 1986. Agar produksi lebih ekonomis, Uni Soviet kemudian setuju untuk membeli 12 kapal lagi dari Wolgaster Peenewerft yang dibuat antara tahun 1986 dan 1990, sehingga secara efektif mensubsidi industri pembuatan kapal Jerman Timur. Kapal-kapal Angkatan Laut pesanan Soviet diberi nama Parchim II oleh NATO. Parchim II merupakan versi modifikasi dari kelas Parchim I (Yang kini digunakan oleh AL Indonesia). Meskipun berguna sebagai platform ASW (Anti Submarine Warfare/Anti Kapal Selam) wilayah pesisir, kapal-kapal produksi Soviet dari kelas Grisha yang serupa tetapi jauh lebih kuat membuat pembelian ini semakin tidak masuk akal bagi Angkatan Laut Soviet. Kemampuan kelas Parchim II, umumnya lebih rendah dari kapal kelas Grisha buatan Soviet dalam banyak hal (tetapi tidak semuanya). Grisha sendiri lebih sering digunakan sebagai kapal SIGNIT atau Signal Intelligence. Pada era Perang Dingin Grisha dan Parchim bekerja sama dalam mengumpulkan data intelejen, Grisha sebagai penangkap data sedangkan Parchim sebagai pelindung. Bahkan kapal selam lawan bisa kandas karena dilumpuhkan oleh peralatan elektronik yang tertanam dalam tubuh Grisha. Meski demikian, setelah keluar dari area perairan dangkal dan pesisir, nilai militer kapal kelas Parchim ini dinilai kecil. Dari 68 Kapal Kecil Anti-Kapal Selam / korvet Proyek 1124 (kelas Grisha) yang dibangun pada era Soviet, sekitar 28 kapal Proyek 1124M (kelas Grisha V) tetap beroperasi pada tahun 2004. Ketidakmungkinan untuk mengganti mesin turbin gas afterburning mereka menjadi salah satu alasan utama yang menarik perhatian banyak orang. Dua belas (per 2004) kapal diesel Proyek 1131M (kelas Parchim II) Kapal / korvet Kecil Anti-Kapal Selam yang dibangun di Republik Demokratik Jerman bernasib jauh lebih baik, setelah memasuki galangan kapal Jerman untuk mendapat perbaikan sedang pada 1990-an.

Korvet kelas Parchim dibuat untuk menghancurkan sebanyak mungkin kapal-kapal selam pesisir Type 206 yang digunakan oleh Jerman Barat. (Sumber: https://marketplace.secondlife.com/)

Setelah penyatuan kembali Jerman, kapal-kapal bekas Jerman Timur dijual kepada TNI-AL (Angkatan Laut Indonesia) pada tahun 1993. Angkatan Laut Indonesia kemudian memperbaharui kapal-kapal kelas Parchim mereka secara ekstensif, sampai pada titik di mana biaya perbaikan tersebut melebihi biaya pembeliannya. Mereka hingga kini masih ada dalam dinas Operasional, baik di Angkatan Laut Indonesia maupun di Armada Baltik Rusia. Kapal-kapal kelas Parchim dibangun untuk menggantikan kapal pemburu kapal selam kelas HAI III yang sudah usang dari Volksmarine (AL Jerman Timur). Secara tradisional, korvet dianggap sebagai jenis kapal perang terkecil utama yang digunakan angkatan laut di seluruh dunia. Hal ini berarti mereka sengaja dibuat dengan dimensi yang relatif kompak dengan rancangan lambung yang dangkal dan persenjataan yang cukup untuk menghadapi sebagian besar ancaman yang umum di lautan. Selain itu, kapal jenis ini memiliki kecepatan dan kemampuan manuver dasar yang bagus. Oleh karena itu, kapal korvet kelas Parchim hanya memiliki bobot 800 ton yang di bawah beban standar dan bisa meningkat hingga 950 ton dengan beban penuh. Panjangnya adalah 237.9 kaki (72 meter) dengan lebar 30.9 kaki (9,4 meter) dan draft 15 kaki (4,6 meter). Karena bobot mereka, yang tidak lebih dari 1000 ton saat bermuatan penuh, mereka dapat meninggalkan wilayah perairan pantai, bahkan saat dalam cuaca buruk. Mesin dari kapal kelas Parchim terdiri dari 3 mesin diesel tipe M 504 56 silinder rancangan Soviet, yang merupakan pengembangan dari mesin kapal serang cepat (FAC) tipe M 503 A. Mesin yang ada di tengah memberikan tenaga ke variabel pitch propeller untuk kecepatan jelajah, sementara dua mesin luar mentenagai dua fixed pitch propeller luar untuk meningkatkan kecepatan. Total output tenaga yang dihasilkan dari mesin-mesin ini adalah sebesar 14.250 hp (10.630 kW). Kapal tersebut memiliki kecepatan puncak sekitar 25 knot dalam kondisi ideal dan dapat menjangkau hingga sejauh 2.100 mil laut. Kapal-kapal kelas Parchim dibuat dengan baja biasa (tahan karat) dan terdiri dari sepuluh kompartemen kedap air.

Desain Korvet Kelas Parchim. (Sumber: https://www.the-blueprints.com/)
Korvet kelas Grisha milik Uni Soviet yang dinilai lebih canggih dibanding dengan kelas Parchim. Namun demi membantu menopang industri perkapalan Jerman Timur, AL Soviet turut membeli dan mengoperasikan 12 korvet kelas Parchim II. (Sumber: https://br.pinterest.com/)

Di atas kapal terdapat sekitar 80 awak, dengan dilengkapi berbagai sensor dan sistem pemrosesan yang dipasang untuk memberikan kemampuan navigasi, pencarian-dan-pelacakan, baik atas target udara, dan target permukaan. Karena kelas tersebut digunakan untuk berburu kapal selam, kapal perang tersebut juga dilengkapi dengan sistem sonar. Secara keseluruhan, kelas tersebut dilengkapi senjata anti-pesawat dan anti-kapal selam yang cukup untuk memenuhi kebutuhan misi tertentu. Dalam praktiknya, kelompok tersebut bekerja dengan baik dalam peran mereka yang dijalankan, terutama dalam pekerjaan patroli dan pencegahan di area dekat pantai. Parchim dianggap memenuhi tugas mereka, yaitu berburu dan menghancurkan kapal selam musuh di perairan pantai. Sementara itu karena ketiadaan senjata anti-kapal yang mumpuni dan yang lebih penting lagi tidak memiliki kemampuan pertahanan udara modern, nilai ‘blue water’ mereka (beroperasi di luar wilayah pesisir) memang kecil. Kekurangan ini sebagian diimbangi oleh doktrin Volksmarine (AL Jerman Timur), yang menganggap fregat kelas Koni, yang dilengkapi dengan sistem pertahanan udara OSA / SA-N-4 SAM yang dipandu radar, sebagai dasar pertahanan udara “blue water navy” mereka. Dengan kata lain, untuk bertahan di kondisi perang laut yang modern, korvet kelas Parchim harus dikawal oleh kapal perang pembawa sistem SAM yang dipandu dengan radar. Tapi, sebagai proyek pembangunan kapal perang GDR terbesar dalam sejarah, kapal kelas Parchim benar-benar adalah “Höhepunkt des DDR-Kampfschiffbaus” alias prestasi puncak dari kemampuan Industri kapal perang Jerman Timur. Angkatan Laut Rusia masih mengandalkan kapal tipe ini dengan kapal yang masih aktif bernama Urengoy, Kazanets, Zelenodolsk, Alexin, Kabrdino-Balkaria dan Kalmykia. Namun, kegunaan jangka panjang dan nilai keseluruhannya kini diragukan karena dengan banyaknya kemajuan teknologi angkatan laut dan teknik konstruksi sejak kapal itu diluncurkan tahun 1980-an. Beberapa Kapal-kapal kelas Parchim yang berdinas di Angkatan Laut Indonesia telah dimodernisasi melalui program mahal yang melibatkan penggantian mesin keseluruhan (dengan menggunakan tipe Deutz, MTU dan Caterpillar). Kapal tipe ini dikenal di Indonesia sebagai kelas Kapitan Patimura.

Gambar udara dari dari Fregat Rostock milik Jerman Timur kelas Koni buatan Soviet sedang berlayar. Karena kelas Parchim diketahui lemah pertahanan udaranya, kekurangan dalam hal pertahanan udara AL Jerman Timur dicover oleh Fregat Kelas Koni. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

SISTEM ELEKTRONIK

Radar pencarian target udara yang digunakan pada kapal korvet kelas Parchim adalah radar MR 302 STRUT CURVE  (nama kode NATO/atau dalam kode Rusia disebut MR-302 Rubka – Deck House) yang banyak digunakan oleh sistem senjata Soviet. Radar ini memiliki antena parabola sepanjang 4 m (13 kaki), yang bekerja pada frekuensi F-band, dan memiliki jangkauan radar yang cukup mengesankan dengan jangkauan 60 mil laut (110 km) terhadap pesawat yang terbang pada ketinggian 5.000 m (16.000 kaki), dan jangkauan radar yang lebih pendek sekitar 20 nautical mil (40 km) terhadap target kapal permukaan atau pesawat yang terbang rendah. Perlengkapan pertahanan elektronik yang digunakan pada kapal ini sangatlah mendasar, dan terdiri dari perangkat penerima dan pemancar IFF (Identification Friend or Foe), dan antena RWR pasif multiband ‘ELOKA’ yang dipasang ke dispenser chaff 16-sel ganda. Secara keseluruhan, pertahanan udara – kekurangan utama kapal ini – adalah faktor yang sangat membatasi kegunaan taktis dari desain korvet kelas Parchim. Sementara itu, peningkatan besar dari kelas Parchim atas desain kapal HAI III lama yang digantikannya adalah dengan dipasangnya sistem hidro-akustik baru. Perangkat sonar yang digunakan terdiri dari bow sonar dan sonar yang bisa dipakai di kedalaman yang bervariasi. Display layar sonar yang ditampilkan memberikan pemandangan perairan di sekitarnya yang menyerupai radar dua dimensi. Ini merupakan perbaikan besar dari sistem auditif lama di kapal kelas HAI III. Kelemahan lain dari kapal kelas HAI III lama adalah ketidakmampuannya untuk ‘melihat melalui’ lapisan air dengan suhu yang berbeda. Meskipun suara merambat dengan cukup baik di air dengan suhu yang sama, namun ia mudah terganggu bahkan oleh perbedaan suhu air yang kecil saja. Terutama di bulan-bulan musim panas yang terik, fenomena yang terjadi secara alami ini memberi kapal selam tempat persembunyian yang mudah untuk mengelabui kapal permukaan yang mengejarnya. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan penggunaan ‘dipping sonar’, yang tidak lebih dari sonar kecil yang dipasang pada kabel panjang. Dengan menggunakan perangkat ini, sistem sonar Parchim dapat mencari kapal selam di berbagai lapisan air yang berbeda-beda. 

Radar MR 302 STRUT CURVE yang digunakan oleh korvet kelas Parchim. (Sumber: https://www.radartutorial.eu/)

PERSENJATAAN

Untuk pertahanan udara, kapal korvet kelas Parchim dilengkapi dengan satu kanon AK-230 berlaras ganda kaliber 30 mm dan satu kanon AK-725 kaliber 57 mm  yang juga berlaras ganda. Kanon AA kaliber 57 mm berlaras ganda Ak-725, dirancang pada tahun 1959, dan diarahkan oleh sistem pengendali penembakan tipe ESP-72, yang menerima informasi mengenai jarak dan sasaran dari radar tipe MR 103 (kode NATO ‘MUFF COB’). MR 103 memiliki antena parabola berdiameter 1,30 m (4,3 kaki), dengan sistem kamera optik yang dipasang padanya, sebagai sistem cadangan jika terjadi kegagalan atau adanya gangguan EW (Electronic Warfare/serangan elektronik) yang berat. Laras kanon ini didinginkan dengan air dan menggunakan rantai amunisi, dengan masing-masing rantai amunisi berisi 550 peluru, tetapi peluru pertama harus diatur secara manual. Dalam keadaan darurat, turret kanon dapat dioperasikan secara manual dengan sistem kendali penembakan optik. Sistem radar MR 103, sebenarnya sudah ketinggalan zaman ketika Parchim dikembangkan, karena menggunakan sistem elektromekanis model era 1950-an,  yang dibangun di sekitar tabung vakum. Akibatnya, kanon ini tidak dianggap sebagai sistem anti-rudal yang efektif, atau CIWS (Sistem senjata jarak dekat), seperti yang dibuktikan oleh kecelakaan dalam pelatihan AL Soviet pada tahun 1987 ketika drone uji coba secara tidak sengaja mengunci sebuah kapal latih kecil Soviet. Meskipun sistem kanon AK-725 di kapal terus menembak hingga saat terjadi benturan, tidak ada tembakan yang mengenai sasaran dan kapal hancur akibat kebakaran yang diduga menewaskan 39 awak kapal. 

Untuk pertahanan udara, kapal korvet kelas Parchim dilengkapi dengan satu kanon AK-230 berlaras ganda kaliber 30 mm dan satu kanon AK-725 kaliber 57 mm  yang juga berlaras ganda. (Sumber: TwoPrinting-blogger)

Sementara itu, kanon AK-230 adalah kanon revolver berkapasitas empat peluru yang sepenuhnya otomatis, dan distabilisasi, dengan laras ganda NN-30, serta berpendingin air. Senjata tersebut memiliki kecepatan tembak 1.000 peluru per menit (rpm) dan disuplai oleh sabuk amunisi berkapasitas 500 peluru independen. Sistem radar terkait yang umumnya digunakan adalah radar DRUM TILT (Kode NATO), yang tidak digunakan di kelas Parchim. Menurut beberapa sumber, AK-230 tidak hanya dapat dihubungkan dengan radar DRUM TILT tetapi juga dengan sistem radar MUFF COB, tetapi hal ini dibantah oleh sumber lama dari angkatan laut Jerman Timur. Menurut sumber-sumber Jerman Timur ini, kanon AK-230 pada korvet kelas Parchim dipandu secara optik, sehingga membiarkan kelas Parchim tanpa sistem CIWS yang efektif, dan karena itu tidak dapat melawan rudal anti-kapal. Sebagai tambahan ada juga dua posisi penempatan MANPAD (senjata anti pesawat portable jarak pendek) tipe SA-N-5 (versi angkatan laut dari rudal anti pesawat SA-7 atau Strela II) di atas kapal kelas Parchim. Tetapi tanpa sistem rudal SAM yang dipandu radar yang efektif, Parchim benar-benar rentan terhadap senjata anti-kapal berpemandu yang dipakai oleh musuh. Ini adalah keterbatasan besar dan membatasi Parchim untuk hanya bisa dipakai beroperasi wilayah perairan pantai, dan harus dekat dengan perlindung dari angkatan udara dan payung pertahanan udara.

Korvet Kelas Parchim TNI AL KRI Kapitan Patimura (371). Nampak pada gambar 2 peluncur roket bom dalam RBU-6000 tepat didepan anjungan kapal. (Sumber: https://lancerdefense.com/)

Parchims juga dilengkapi dengan senjata untuk misi perang anti-kapal selam yang cukup mumpuni. Tabung torpedo kaliber 400 mm (16 inci) dapat dimuati dengan torpedo berpemandu akustik dan / atau pemandu wire guided. Torpedo ini memberi Parchim kemampuan serang kapal selam yang presisi. Disamping torpedo dua peluncur roket bermuatan bom dalam tipe RBU-6000 pada korvet kelas Parchim mampu menciptakan pertahanan penghadang terhadap ancaman kapal selam, torpedo yang datang, dan serangan pasukan katak. Meskipun relatif tidak canggih menurut standar barat, RBU-6000 adalah sistem yang sangat sukses dan populer, digunakan pada banyak kapal permukaan kecil atau besar blok timur. Sistem ini terdiri dari dua belas tabung peluncuran untuk roket tak berpemandu, dipersenjatai dengan bom dalam yang kompak namun kuat. Roket diarahkan hanya dengan mengubah sudut tabung dan menciptakan jangkauan balistik tertentu atas roket yang tidak berpemandu yang ditembakkan. Peluncur ini dapat diatur elevasinya antara -15 ° dan + 60 °, dan dapat berputar 180 °, dengan setiap peluncur mengcover satu sisi kapal. Jarak tembaknya adalah antara 350 m dan 6.000 m, dan bom dalam Yang ditembakkan bisa mencapai kedalaman 500 m, yakni kedalaman maksimum rata-rata kapal selam umumnya. Roket, RGB-60-nya memiliki berat 110 kg (240 lb) dimana 25 kg (55 lb) diantaranya adalah hulu ledak yang memiliki daya ledak tinggi. Amunisi ini dapat dengan cepat dan secara otomatis diisi ulang dari magazine yang ada di bawah dek, dengan memutar tabung 90 ° secara vertikal. Kapasitas magasin maksimum adalah 96 peluru. Seluruh sistem ini dari jarak jauh diarahkan oleh sistem kendali penembakan ‘Burya’. RBU-6000 juga bisa digunakan untuk pemboman pantai. Selain itu Parchim juga dapat dengan mudah menjatuhkan bom dalam yang lebih besar dan lebih kuat, dan dapat mengangkut dan menyebar hingga 60 ranjau. Detail tambahan dari persenjataan korvet kelas Parchim adalah sebagai berikut:

AK-725

AK-725 adalah senjata artileri angkatan laut berlaras ganda kaliber 57 mm yang umum digunakan oleh Soviet. Sistem artileri otomatis ini adalah sistem senjata generasi kedua di kelasnya pasca perang dunia II. Didesain oleh desainer A. I. Arefiev dan P. A. Tyurin, sistem senjata ini diperkenalkan ke dinas operasional pada tahun 1964. Pada 1960-an – 1970-an, sistem ini banyak digunakan pada berbagai jenis kapal perang Soviet, dan secara aktif diekspor ke luar negeri. Kelemahan yang signifikan dari sistem senjata ini adalah efektivitasnya yang tidak memadai untuk melindungi kapal dari rudal anti-kapal. Bobot amunisi yang terdiri satu kesatuan dengan peluru pelacak fragmentasi dengan sistem peledakan berdasar kontak adalah seberat 0,36 kg (berat total pelurunya sendiri adalah 2,8 kg) dengan sekitar 1000 peluru per sistem senjata. Jarak tembak dari kanon ini adalah hingga 13 kilometer (jarak tembak standarnya adalah 8,42 km), dengan kecepatan peluru sekitar 1020 m/s. Kecepatan tembak per laras meriam adalah 100 peluru/menit yang bisa ditembakkan dengan rentetan panjang per 100 peluru. Laras kanon punya sudut elevasi antara +85 °/−12 °. Laras senjata didinginkan oleh air laut. Berat total sistem adalah 17,3 ton. 

Kanon kembar kaliber 57 mm AK-725. Kanon ini diketahui bukan merupakan senjata dengan kemampuan CIWS yang baik. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)

AK-230

AK-230 adalah kanon kembar otomatis kaliber 30 mm yang digunakan oleh angkatan laut Soviet. Fungsi utamanya adalah sebagai senjata anti pesawat terbang. Kanon itu dipasang di turret otomatis tertutup dan diarahkan oleh radar. AK-230 banyak digunakan, dan dipasang di kapal perang besar serta kapal kecil. Sistem senjata ini kemudian digantikan oleh AK-630 yang lebih kuat pada pertengahan hingga akhir tahun 1970-an. Meskipun peluru kaliber 30 × 210 mm yang digunakan AK-230 jauh lebih kuat daripada peluru kaliber 30 × 165 mm yang digunakan AK-630, namun dengan kecepatan lesat peluru 1050 m / s (sama dengan peluru 30 × 173 mm GAU-8 yang digunakan pada pesawat serang A-10 Thunderbolt II Amerika), peluru AK-630 yang dilepaskan dari senjata bertipe Gatling, memungkinkan memiliki kecepatan tembakan yang jauh lebih tinggi, dan dianggap lebih berguna sebagai sistem senjata anti-pesawat. 

Kanon kaliber 30 mm AK-230. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Mekanisme kanon AK-230 dioperasikan dengan prinsip gas. Setiap sistem senjata masing-masing memiliki berat 155 kg dan memiliki laras dengan panjang 1930 mm, dan panjang total senjata adalah 2670 mm. Setiap laras dilengkapi dengan 12 alur. Masing-masing senjata memiliki kecepatan tembak 1.000 peluru per menit, Mereka diberi asupan oleh sabuk amunisi 500 peluru independen. Peluru ditembakkan secara elektrik; gas pendorong digunakan untuk mengeluarkan selongsong bekas peluru dan untain sabuk peluru yang terlepas ke ruang antara magazine dan lambung kapal. Jangkauan maksimum balistik untuk sistem kanon ini adalah sekitar 6,7 km, tetapi jangkauan realistis untuk menyerang target udaranya adalah antara 2,5 dan 4 km. AK-230 menembakkan amunisi kaliber 30x210B 30 mm yang dikembangkan secara khusus yang ditembakkan secara elektrik. Dua peluru dikembangkan untuk senjata ini: peluru berdaya ledak tinggi dengan efek fuze, dan peluru penembus lapisan baja. Versi Type 69 buatan China hanya menembakkan peluru berdaya tinggi versi lokal. Amunisi sistem senjata ini juga diproduksi di Rumania dan Serbia. Sistem senjata ini dapat berputar +180 to -180 derajat dengan kecepatan 35 derajat/detik. Kanon pada sistem ini dapat diarahkan dengan elevasi antara -12 sampai +87 derajat pada kecepatan 50 derajat/detik. Bobot total sistem senjatanya sendiri adalah sekitar 1857 kg sampai 1905 kg.

Type 730 CIWS

Sistem senjata CIWS (Close In Weapon System/Sistem Senjata Pertahanan Diri Jarak Dekat) type 730 digunakan pada korvet kelas Parchim KRI Sultan Thala Syafuddin (376) milik AL Indonesia untuk menggantikan kanon AK-230. Type 730 sendiri adalah sistem senjata CIWS dengan prinsip kanon Gatling kaliber 30 mm berlaras tujuh buatan China. Sistem ini memiliki sebutan pada AL PLA (AL RRC) sebagai H / PJ12. Sistem senjata ini dipasang di turret otomatis tertutup dan diarahkan oleh radar, dan sistem pelacakan elektro-optik. Laju kecepatan tembak maksimumnya adalah 5800 peluru / menit, dan jarak efektif hingga 3 km. Tugas utama sistem ini adalah sebagai perangkat pertahanan terhadap rudal anti-kapal, dan senjata berpemandu presisi lainnya. Namun, senjata ini juga dapat digunakan untuk menghadapi pesawat bersayap tetap / putar, kapal dan kapal kecil lainnya, target pantai, dan ranjau terapung. Meskipun secara eksternal mirip dengan sistem senjata CIWS Goal Keeper buatan Belanda, namun type 730 diperkirakan mengoperasikan sistem radar dan optik buatan RRC sendiri. Sistem ini dapat melacak target yang terbang rendah diatas permukaan laut dengan penampang radar 0,1 meter persegi pada jarak 8 km, dan dapat meningkat menjadi 15 km jika penampang radar target meningkat menjadi 2 meter persegi, dan selanjutnya hingga 20 km jika penampang radar target menjadi 10 meter persegi, meskipun target tidak dapat ditembak sampai jarak lebih dekat (3 km) karena jangkauan senjata yang terbatas. Kecepatan tembak sistem senjata ini adalah 1,200-4,200 peluru/menit, dengan jarak tembak efektif 1–1.5 km (0.62–0.93 mi). Sistem senjata type 730 standar memiliki kapasitas penyimpanan amunisi 640 butir peluru. TV China melaporkan bahwa versi paling mutakhir dari senjata CIWS Type 730 mampu mencegat rudal anti-kapal yang datang dengan kecepatan hingga Mach 4 dengan tingkat keberhasilan hingga 96% perkenaannya.

Type 730 CIWS buatan China. Sebuah korvet kelas Parchim TNI AL diketahui dipasangi senjata ini. (Sumber: http://defense-studies.blogspot.com/)

SAET-40 UAE Torpedo

SAET-40 adalah torpedo akustik asli bawaan korvet Parchim Class yang berkaliber 400 mm. Sistem kendali torpedo ini menggunakan perangkat kendali penembakan jenis 204 A buatan Rusia. Persisnya ada empat tabung peluncur yang dipasang tepat di belakang bangunan utama dan mengapit tempat kedudukan antena radar muff cob. Pada tiap sisi dipasang tabung dengan formasi arah berjajar serong terhadap garis lurus kapal. Torpedo bawaan ini yang terpasang di korvet Parchim Class TNI AL sudah tak lagi difungsikan, dimana TNI AL juga tak memiliki inventaris torpedo kaliber 400 mm. Setidaknya, model peluncur torpedo SAET-40 sampai saat ini masih terpasang di KRI Tjiptadi 381 dan KRI Teuku Umar 385. SAET-40, mengutip sumber dari navweaps.com, disebut bahwa torpedo buatan Rusia (dulu Uni Soviet) ini punya panjang 4,5 meter dan bobot 550 kg. Tergolong heavy torpedo, SAET-40 dilengkapi hulu ledak seberat 80 kg. Torpedo ini dapat mengaktifkan perangkat active/passive acoustic homing pada jarak 600 – 800 meter, sementara jarak luncur maksimum torpedo ini mencapai 8.000 meter. Ditenagai baterai silver-zinc, SAET-40 dapat meluncur dengan kecepatan 29 knots. Sesuai fungsinya, torpedo yang mulai digunakan sejak 1968 ini dapat diluncurkan dari kapal permukaan dan kapal selam.

SAET-40, torpedo bawaan asli korvet kelas Pachim. TNI AL tidak mengoperasikan torpedo ini lagi di korvet kelas Parchim yang mereka beli. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Peluncur Torpedo Mark 32

2 kapal korvet kelas Parchim AL Indonesia dilengkapi dengan peluncur torpedo Mark 32 untuk menggantikan sistem torpedo ex Jerman Timur. Sistem Mark 32 Surface Vessel Torpedo Tubes (Mk 32 SVTT) adalah sistem peluncuran torpedo yang dirancang untuk Angkatan Laut Amerika Serikat. Mark 32 telah menjadi sistem peluncuran torpedo anti-kapal selam standar di atas kapal permukaan Angkatan Laut Amerika Serikat sejak diperkenalkan pada tahun 1960, dan digunakan di atas kapal perang beberapa angkatan laut lainnya. Kebanyakan versi (disebut sebagai modifikasi atau mod) terdiri dari tiga tabung peluncur yang dapat diputar untuk menghadap kearah target. Mark 32 dapat menembakkan torpedo kaliber 12,75 inci (324 mm) dari tipe Mark 44, Mark 46, Mark 50 (dari tabung Mod 17 dan seterusnya, serta Mark 54) dan dapat dimodifikasi untuk meluncurkan torpedo tipe lain (seperti MU90 Impact yang dipasang di atas fregat Royal Australian Navy, atau Royal Navy yang menggunakan torpedo Sting Ray). Tabung torpedo ini dirancang untuk bisa ditembakkan dari jarak jauh, tetapi kontrol penembakan manual tetap dipasang sebagai cadangan untuk semua tipe kecuali Mod 15 yang dipasang pada perusak kelas Spruance, karena semua aspek pengoperasian tabung torpedonya dikendalikan dari jarak jauh. Peluncuran torpedo ini didukung oleh udara terkompresi di tabung belakang, yang juga berfungsi ganda sebagai lubang pengisian masing-masing tabung, dan torpedo yang digunakan adalah tipe senjata fire and forget. Peluncur torpedo ini dapat dibuat dari fiberglass, atau dengan liner fiberglass yang terbungkus logam. Tabung Mark 32 dirancang agar tahan cuaca dan mampu menyimpan torpedo untuk waktu yang lama, tetapi ini hanya bisa didapat dengan perawatan rutin. Setiap set yang terdiri dari tiga tabung memiliki berat sekitar 2.230 pon (1.010 kg), dengan bobot bervariasi antar variannya.

Peluncur torpedo Mark 32. 2 korvet kelas Parchim TNI AL diketahui dilengkapi dengan peluncur torpedo tipe ini. (Sumber: http://www.seaforces.org/)

Peluncur Roket RBU-6000

RBU-6000 Smerch-2 (Реактивно-Бомбовая Установка, Reaktivno-Bombovaja Ustanovka; instalasi bom mesin reaksi & Смерч; waterspout) adalah peluncur roket anti-kapal selam Soviet kaliber 213 mm. Sistem senjata ini pada prinsipnya mirip dengan sistem Hedgehog Royal Navy yang digunakan selama Perang Dunia Kedua. Sistem ini mulai beroperasi pada tahun 1960-61 dan dipasang ke berbagai kapal permukaan Rusia. Sistem ini terdiri dari susunan dua belas tabung peluncur berbentuk tapal kuda, yang diarahkan dari jarak jauh oleh sistem kendali tembakan Burya (yang juga dapat mengendalikan RBU-1000 yang jaraknya lebih pendek). Peluncur ini menembakkan bom dalam RGB-60 tanpa pemandu. Roket biasanya ditembakkan dalam salvo 1, 2, 4, 8 atau 12 peluru. Proses pengisian ulang dilakukan secara otomatis, dengan setiap munisi dimasukkan ke peluncur oleh sistem pemuatan 60UP dari magazine penyimpanan di dek bawah. Kapasitas magazine penyimpanan tipikalnya mampu menyimpan 72 atau 96 amunisi per peluncur. Sistem senjata ini juga dapat digunakan untuk pemboman pantai.

Pelontar roket bom dalam RBU-6000. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Rudal SAM SA-N-5

SA-N-5 adalah versi angkatan laut dari rudal anti pesawat SA-7 atau Strela II. 9K32 Strela-2 (Rusia: Cтрела, “panah”; kode NATO: SA-7 Grail) adalah sistem rudal permukaan-ke-udara (atau MANPADS) yang ringan, dan bisa ditembakkan dari bahu. Sistem senjata ini dirancang untuk menembak pesawat yang terbang di ketinggian rendah, dengan panduan homing inframerah pasif dan menghancurkan targetnya dengan hulu ledak eksplosif tinggi. Strela bekerja dengan sistem pemandu pasif infra red, rudal ini bisa mendeteksi sasaran dengan tepat di atas temperatur 200-400 derajat Celsius–suhu yang dikeluarkan oleh exhaust nozzle pesawat terbang atau helikopter sasaran. Sistem peluncur rudal terdiri dari tabung peluncuran rudal dan silinder baterai termal. Dalam teorinya satu tabung peluncur dapat diisi ulang (reload) hingga lima kali pengisian. Karena sifatnya manpad, rudal ini sepenuhnya dikendalikan oleh awak secara manual. Saat rudal meluncur dari tabung, digunakan sistem pembakaran sesaat (short burnt booster). Pola penembakan ini harus diwaspadai oleh awak, sebab semburan roket dapat mengenai penembak. Sistem pembakar sesaat (short burnt booster), digunakan meluncurkannya dari tabung. Selain membahayakan penembak, sistem ini juga membatasi sudut tembak. Kelemahan lain adalah Strela harus benar-benar diarahkan ke saluran buang (exhaust nozzle) pesawat atau helikopter sasaran. Saat rudal pertama kali meluncur dari tabung, kecepatan yang didapat yakni 32 meter per detik dan rudal berputar pada porosnya sekitar 20 putaran per detik. Setelah rudal keluar dari tabung, otomatis badan rudal akan mengembangkan sirip untuk terbang.

SA-N-5 Grail dioperasikan dari geladak kapal perang. Saat membeli korvet kelas Parchim dari Jerman Timur, TNI AL diketahui turut memboyong 1.550 rudal SA-N-5 Grail. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)

Jarak tembak rudal Strela adalah antara 3,700 m hingga 4,200 m (tergantung versinya). Strela juga bisa menghadang sasaran dalam jarak sangat dekat, tapi minimum jarak target harus 18 meter dan ketinggian minimum 500 meter. Sementara ketinggian jelajahnya adalah 50–1500 m (untuk Strela-2) dan 50–2300 m (untuk Strela-2M). Kecepatan jelajah rudal ini adalah 430 m/s (untuk Strela-2) dan 500 m/s (untuk Strela-2M). Berat rudal Strela mencapai 9,8 kilogram, termasuk hulu ledak seberat 1,15 kilogram, sedangkan berat rudal beserta tabung dalam posisi siap tempur mencapai 15 kilogram. Strela amat pas untuk menghadang pesawat yang terbang rendah dengan manuver tinggi. Berdasarkan pengamatan, sistem rudal ini memiliki problem pada pemandu dan hulu ledaknya yang dianggap kurang mematikan. Versi Angkatan Laut dari Strela, yakni SA-N-5 Grail dirancang oleh Pakta Warsawa (kala itu) untuk ditempatkan pada kapal perang. Yang membedakan dari versi Strela lainnya, SA-N-5 Grail pada kapal perang dilengkapi dengan dudukan (mounting fasta) sebagai pelontar rudal. Tipe mounting yang digunakan adalah peluncur Fasta 4M, model peluncur ini dapat memuat 4 rudal tiap unitnya, tapi dalam beberapa penampilan umumnya satu peluncur hanya disiapkan dengan 2 rudal. Strela yang dioperasikan TNI AL hingga kini memperkuat jajaran armada korvet kelas Parchim. Karena sudah berusia tua dan bekas pakai pula, rudal ini perlu dimodifikasi lebih lanjut agar sesuai kebutuhan dalam gelar operasi. Modifikasi pun telah dilakukan oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AL, alhasil walau rudal ini usianya sudah 34 tahun, rudal ini masih tetap topcer dalam uji coba. Dari hasil modifikasi, Strela kini dinamai rudal AL-1.

DINAS OPERASIONAL 

Saat ini 14 dari 16 kapal korvet kelas Parchim ada dalam dinas operasional angkatan laut Indonesia (TNI AL). 16 kapal Parchim dari GDR dibeli oleh Indonesia pada tahun 1992 dalam kesepakatan senilai US $ 12,7 juta yang diatur oleh Menteri Riset dan Teknologi, Dr B.J. Habibie. Transfer dari Volksmarine juga mencakup, 14 kapal pendarat kelas Frosch dan 9 kapal penyapu ranjau kelas Kondor. Pembelian borongan kapal dalam jumlah besar ini juga termasuk paket persenjataan yang melengkapi kapal-kapal tersebut. Di antaranya untuk korvet Parchim dan LST Frosch dilengkapi dengan 5.000 ton amunisi, meski harus dipreteli, tapi tetap bisa dibawa ke Tanah Air. Yang menarik di paket senjata tadi juga terdapat 1.550 peluru kendali SA-7 Strela (SA-N-5 Grail), sebuah kuantitas yang cukup besar. Meski nampak menggiurkan, namun proyek pembelian ini kemudian diketahui menjadi kisah yang amat kontroversial, berikut ini adalah kisah pembelian, seperti yang dikutip dari majalah Tempo di masa itu. Ihwal pembelian kapal perang bekas angkatan bersenjata Jerman Timur atau NVA (Nationale Volksarmee) dimulai dari ketika dijumpai kondisinya tampak tak terurus selama masuk dok dua tahun lebih. Mungkin karena Perang Dingin telah berakhir, tembok Berlin dibongkar, dan dua Jerman sudah bersatu. Kabarnya, kapal bekas itu tak bisa diintegrasikan dengan sistem armada Jerman Barat yang berstandar Barat, karena masuk NATO. Kebetulan, pada tahun sebelumnya, TNI AL baru saja mengevaluasi armadanya: separuh dari 82 kapal perangnya terbilang uzur. Tak laik layar. Apalagi buat bertempur. “Wajar, wong umurnya sudah 25-30 tahun. Malah, di antara jenis landing ship tank (LST) milik RI, ada yang bikinan 1943, zaman Perang Dunia II. “Jalannya sudah edek-edek-edek,” kata Kepala Staf AL Laksamana M. Arifin, menirukan suara kapal tua milik armadanya itu (TEMPO, 7 November 1992). Padahal, armada TNI AL harus segera diperkuat untuk pelbagai keperluan. Untuk menghadapi penangkapan ikan secara ilegal dan seabrek tindak penyelundupan lainnya. Apalagi, garis pantai RI boleh dibilang kelewat panjang: 81.000 kilometer. Patroli sering kedodoran. Maka, “Jika dihitung secara matematis, berdasar luas laut dan kemampuan tempur, minimal kita harus punya 400 kapal perang,” kata mantan KSAL, Laksamana Arief Kushariadi. Memang, sudah ada perusahaan kapal nasional. Tapi, sejauh itu PT PAL, nama pabrik kapal yang galangannya di Surabaya itu, baru mampu membuat kapal setingkat fast patrol boat, belum bisa setingkat fregat. Jadi, pilihan satu-satunya harus membelinya ke luar negeri. Dan informasi kapal Jerman tadi terasa menggugah. Murah, jelas. Setidaknya jika dibandingkan dengan harga baru. Apalagi, kondisi keuangan Indonesia saat itu sedang pas-pasan. Maka diliriklah kapal perang bekas Jerman Timur itu

KRI Tjiptadi & Hasan Basri di Malaga, 10 Oktober 1994. Dengan bersatunya Jerman Timur dan Jerman Barat, puluhan kapal perang Jerman Timur diketahui mangkrak. Kapal-kapal inilah yang kemudian dibeli oleh Indonesia. (Sumber: https://id.wikipedia.org/)

Negosiasi sempat terhambat akibat meletusnya peristiwa Santa Cruz di Dili, 12 November 1991. Mereka khawatir, kapal-kapal itu dipakai untuk menyerang rakyat Timor Timur. Toh, akhirnya lampu hijau menyala, pada bulan Maret 1992. Pemerintah RI kemudian boleh mengajukan penawaran harga. Maka, digodoklah anggaran kapal itu di Jakarta. Habibie, yang istilah populernya sebagai Ketua Tim Pembelian Kapal, langsung tancap gas. Padahal, sebelumnya ada Tim Departemen Hankam yang diketuai Menteri Pertahanan dan Keamanan Edi Sudradjat. Kabarnya, tim Edi sudah melakukan window shopping ke Amerika Serikat. Proposal awal lalu disusun tim Habibie, muncul angka pembelian kapal US$ 1,1 miliar. “Berdasarkan angka ini, kita bisa mendapatkan seluruh prasarana untuk seluruh armada AL,” kata Habibie. Ongkos ini termasuk pembangunan Pangkalan Utama Teluk Ratai di Lampung (senilai US$ 151 juta), dan sejumlah dermaga dan mes untuk awak kapal di 12 daerah. Mulai dari Sabang sampai Manokwari. Dalam rapat tim, kabarnya, Menteri Edi sempat “menantang”. “Kalau jumlahnya sebesar itu, berikan saja pada kami. Kami lebih tahu kebutuhan Angkatan Laut,” ujar seorang sumber TEMPO, menirukan perkataan Edi. Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad tak kalah kaget melihat bujet raksasa itu. “Ini tak masuk akal. Pinjaman CGI saja cuma US$ 4,9 miliar,” kata sebuah sumber di Departemen Keuangan, menirukan ucapan bosnya (TEMPO, 11 Juni 1994). Mar’ie saat itu hanya memberi plafon US$ 319 juta. Bagaimana kalkulasi versi Mar’ie? Pos-pos anggaran yang tidak penting dihilangkan, misalnya pembangunan Pangkalan Utama Teluk Ratai dan pembelian dua buah kapal tangker. Sementara ditangguhkan. Disarankan pula agar tim memakai “Teknik Madura”. Caranya, mudah saja. Suku cadang dan mesin ke-39 kapal tadi-terdiri dari 16 korvet tipe parchim, 14 LST kelas frosch, dan 9 penyapu ranjau tipe kondor diborong habis, dipreteli, lalu dirangkai di sini.

Menristek BJ Habibie yang terlibat dalam pengadaan pembelian kapal perang ex Jerman Timur. (Sumber: https://tirto.id/)

Namun, Habibie tetap ngotot dengan anggaran US$ 482 juta atau sekitar Rp 600 miliar. Hitungannya adalah begini. Ke-39 kapal itu cuma dihargai DM 25 juta. Tapi, menurut koran beken di Jerman, der Spiegel, pinjaman yang diperoleh untuk kapal itu DM 28 juta. Murah, memang. Belakangan bisa diturunkan menjadi DM 20 juta atau US$ 12,7 juta (sekitar Rp 25,4 miliar). Hanya saja setelah direnovasi, total biaya kapal menjadi US$ 345 juta atau membengkak 27 kali lipat. Rinciannya, satu parchim US$ 11,95 juta, sebiji frosch US$ 11,7 juta, dan satu kondor US$ 4 juta. Kalau ditambah repowering mesin pokok, ceritanya lain lagi. Harus nambah biaya US$ 63 juta. Karena kapal “setengah tua”, perlu diperbaiki di PT PAL. Ongkosnya US$ 64 juta. Lalu perbaikan pangkalan, termasuk amunisi US$ 10 juta. Total jenderal, ya, sekitar US$ 482 juta. Tapi Mar’ie tetap bergeming dengan angka US$ 319 juta. Tarik-ulur terjadi, sampai empat kali. Deadlock. Angka terakhir yang kemudian disepakati berkisar US$ 442,8 juta. Itu pun setelah Pak Harto campur tangan. Bandingkan dengan harga kapal bekas tipe sama yang masih normal alias baru. Jenis parchim harganya US$ 23,8 juta, frosch US$ 17,3 juta, kondor US$ 14,9 juta. Nah, kalau kita mau beli dengan jumlah yang sama tadi, diperlukan dana sedikitnya US$ 757 juta atau hampir dua kali lipatnya. Mau yang betul-betul gres? Satu korvet parchim harganya saat itu sekitar US$ 200 juta. “Itu belum dengan peluru,” kata Habibie. Kalau kita mau pesan kapal, dimulai dari staff study, kontrak, uji coba, sampai jadi, butuh waktu tiga setengah tahun. Itu untuk satu kapal. Kalau mau ngebut pesan paralel, maksimal satu galangan bisa membikin tiga kapal. “Jadi, nggak mungkin kita mampu beli kekuatan sebanyak itu dalam waktu singkat,” kata mantan Danjen Akabri, Laksamana Madya Ahmad Sutjipto, yang baru saja dipromosikan menjadi Wakil KSAL. Sutjipto pernah menjadi komandan tim yang diberi tugas mengawasi kesiapan teknis kapal tersebut. “Dengan angka sekitar US$ 400 juta, bisa diborong 39 kapal, itu suatu keuntungan,” kata mantan KSAL Laksamana Arief Kushariadi.

Reportase majalah Tempo mengenai pembelian kapal perang ex Jerman Timur yang kontroversial. (Sumber: https://www.law-justice.co/)

Bagaimanapun, pembelian ini telah memantik kontroversi besar pada masanya, yang memakan korban dengan dibredelnya majalah Tempo yang cukup berpengaruh di Indonesia saat itu. Media-itu mengkritik pembelian 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur yang dilakukan oleh oleh pemerintahan Soeharto waktu itu. Kabar itu berfokus pada harga pembelian yang diperdebatkan oleh Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie dan Menteri Keuangan Marie Muhammad. Utamanya, besaran harga dari US$ 12,7 juta menggelembung menjadi US$ 1,1 miliar. Hal itu diperburuk dengan kabar bahwa dalam perjalanan panjang dari Jerman, salah satu kapal (kapal pendarat kelas Frosch), dari 16 kapal yang berlayar, hampir tenggelam di Teluk Biscay, Spanyol. Menanggapi hal itu, Habibie justru bilang itulah ketangguhan kapal. “Kalau kondisinya jelek, tak ada lima menit pasti tenggelam,” katanya. Kebetulan pintu depannya tak dilas penuh. Tapi, seorang perwira AL yang ikut konvoi kapal berkisah kepada TEMPO sebaliknya: pelat besinya memang tak tahan guncangan ombak. Sehingga, haluan depan-untuk mengeluarkan tank-pecah dua pertiganya. Cover story yang diterbitkan majalah Tempo kemudian pada tanggal 11 Juni 1994 benar-benar membuat merah telinga penguasa. “Tak sampai sebulan, orang dalam pusaran kekuasaan melaporkan bahwa Goenawan Mohammad sebagai orang paling berbahaya di Indonesia,” begitu Janet Steel menulis dalam buku Wars Within. Sepekan sebelumnya, majalah Tempo telah mengungkapkan pembengkakan harga kapal bekas sebesar 62 kali lipat. Pada akhirnya tidak hanya Tempo, tabloid DeTik, dan majalah Editor juga turut diberedel oleh Menteri Penerangan Harmoko. 

Edisi terakhir majalah Tempo mengenai pembelian Kapal Perang Ex Jerman Timur sebelum dibredel. (Sumber: https://ebooks.gramedia.com/)

Kembali ke Kapal-kapal kelas Parchim, kapal itu Indonesia telah menyelesaikan modifikasi besar untuk memenuhi kebutuhan angkatan laut Indonesia. Badan kapal lalu dipermak, diperbaiki, dan disesuaikan dengan kondisi “lokal”. Semula, kapal ini memang dirancang untuk beroperasi di kawasan Baltik yang dingin dan berudara kering. Maka, alat penjejuk ruangan (AC) tidak diperlukan. Yang tersedia justru penghangat. Sedangkan di perairan Indonesia yang beriklim tropis, AC menjadi keharusan. Apalagi, ada dapur yang siap menyajikan masakan selera Nusantara yang pedas-pedas. Gudang persediaan makanan juga diperbesar agar awak kapal tak kelaparan selama operasi. Daya jelajah kapal juga terbatas. Seorang perwira menengah Angkatan Laut, anggota satgas perbaikan, menjelaskan bahwa kapal itu sebenarnya tidak cocok dengan kondisi di perairan Nusantara yang punya 17 ribu pulau. Karena, kapal-kapal eks Jerman Timur itu cuma tahan melaut tiga sampai lima hari-disesuaikan untuk melawan NATO di Laut Baltik, dan seperti sudah dijelaskan diatas Parchim memang didesain untuk misi di kawasan pesisir bukan di samudera lepas. Idealnya, kapal sanggup berlayar satu sampai dua minggu, tanpa buang sauh. Akibatnya, kapal tipe parchim dioperasikan semampunya: tiga hari berlayar dengan sistem lego jangkar. Kapal tidak bergerak dan baru mengejar kalau ada ancaman. Sementara itu tangki bahan bakar dan mesin ikut pula dirombak. Teknisi di dok Peenewerft menyulap sejumlah tangki ballast-yang berisi air untuk menegakkan dan menyeimbangkan kapal–menjadi tangki bahan bakar tambahan sehingga cukup untuk jarak jelajah jauh. Urusan mesin kapal ini dapat diganti dengan motor Caterpillar-seharga US$ 500 ribu-sehingga kapal seperti baru kembali. Dengan mesin ini, daya jelajah bisa digenjot dari dua hari menjadi tujuh hari. Kapal bisa ngebut dengan kecepatan 22 knot. Selain Mesin Caterpillar, Mesin M504A3 buatan timur yang boros diganti akhirnya diganti dengan mesin MTU-Detroit Type 4000 M90 16V, yang berkekuatan 7.300 hp (5.4 MW). Mesin ini mampu membuat kapal kelas Parchim melaju sampai kecepatan 24 knot dan sanggup menjelajah sampai 3.000 kilometer. Mesin ini memiliki jadwal perawatan harian, setiap 250 jam, setiap 750jam, dan setiap 2.250jam. Konsumsi bahan bakarnya dapat ditekan dari 33.000 liter per hari menjadi separuhnya. Persoalan terakhir menyangkut suku cadang. Untuk sekadar mengubah urutan nomornya dari model Pakta Warsawa menjadi standar “Barat” alias NATO, yang selama ini dijadikan acuan AL, itu bukan soal. Tapi, kenyatannya, banyak onderdil yang susah didapat. Akibatnya, beberapa jenis parchim yang rusak terpaksa diperbaiki nun jauh di sana, di Kiev, Ukraina, karena pabriknya di Jerman Timur sudah tutup. Sialnya, cuma di pabrik di Kiev itulah perbaikan bisa dilakukan.

Dari sisi spesifikasi sebenarnya Korvet Kelas Parchim tidak ideal dioperasikan oleh TNI AL, sehingga perlu dilakukan modifikasi agar bisa dioperasikan secara optimal. Modifikasi terutama dilakukan pada mesinnya. (Sumber: http://garudamiliter.blogspot.com/)

Satu kanon kembar kaliber 57 mm AK-725 dan satu kanon kembar AK-230 kaliber 30 mm dipertahankan kecuali untuk kapal nomor 376 di mana kanon AK-230 kaliber 30 mm digantikan oleh CIWS Tipe 730 buatan China. Pelontar roket RBU-6000 juga tetap dipertahankan sebagai persenjataan utama. Sementara itu dua rudal SAM SA-N-5 dihapus dan diganti dengan dua kanon Vektor G12 20mm. Empat peluncur torpedo 400mm buatan Rusia sudah tidak berfungsi karena tidak ada torpedo buatan Rusia di inventaris angkatan laut Indonesia sehingga peluncur torpedo buatan Rusia ini diganti dengan dua peluncur torpedo format triple buatan barat tetapi hanya untuk dua kapal. Kapal-kapal kelas Parchim, sekarang dikenal sebagai korvet kelas Kapitan Patimura menjalani rehabilitasi yang signifikan termasuk pada sistem AC dan penggantian mesin. Kapal-kapal kelas Parchim yang digunakan AL Indonesia adalah KRI Kapitan Patimura (371), KRI Untung Suropati (372), KRI Nuku (373), KRI Lambung Mangkurat (374), KRI Cut Nyak Din (375), KRI Sultan Thala Syafuddin (376), KRI Sutanto (377), KRI Sutedi Senoputra (378), KRI Wiratno (379), KRI Memet Sastrawiria (380) – sudah pensiunan, KRI Tjiptadi (381), KRI Hasan Basri (382), KRI Imam Bonjol (383), KRI Pati Unus (384 ) – sudah pensiun, KRI Teuku Umar (385), dan KRI Silas Papare (386). Tahun 2004, KRI Kapitan Pattimura (371) pernah mengalami alih bina dari Satuan Kapal Patroli (Satrol) Koarmatim ke Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmabar. Operasi yang pernah dilaksanakan oleh kapal ini antara lain: Operasi Rakata Jaya, Operasi PAM ALKI I, Operasi Rencong Laut, Operasi Trisula, Operasi Gurita, Operasi MSSP, Operasi Indindo, dan Operasi Satuan Tugas Laut. Sementara itu latihan yang pernah dilaksanakan antara lain: Latihan Armada Jaya, Latihan Gabungan TNI, Milan, Patkor Indindo, Latihan Bersama Malindo Jaya, Latihan Bersama Sea Eagle, dan Latihan Opslagab TNI XV/2014. KRI Kapitan Pattimura (371) juga terlibat dalam misi SAR terhadap Pesawat Airasia yang jatuh di perairan Karimata. Sementara itu diluar segala kontroversi pada saat pengadaannya, Korvet Kelas Parchim milik TNI AL telah berjasa besar dalam turut mendukung tugas pengamanan kedaulatan perairan Indonesia selama hampir 3 dekade.

KRI Tjiptadi 381 dan KRI Teuku Umar 385 di Pulau Natuna. Diluar segala kontroversi dalam pembeliannya, Korvet Kelas Parchim milik TNI AL telah berjasa besar dalam turut mendukung tugas pengamanan kedaulatan perairan Indonesia selama hampir 3 dekade. (Sumber Foto: Instagram @navy19489/https://www.indomiliter.com/)

Karakteristik umum Korvet Kelas Parchim

Bobot : 793 ton standar; 854 ton beban penuh

Panjang : 75,2 meter (246,72 ft)

Lebar : 9,78 meter (32,09 ft)

Draft : 2,65 meter (8,69 ft)

Tenaga penggerak : 3 shaft M504 Diesel, 14,250 hp

Kecepatan : 24,7 knot (45,74 km/h; 28,42 mph)

Jarak tempuh : 2100 mil laut (3889,20 km; 2416,64 mi) pada kecepatan 14 knot (26 km/h; 16 mph)

Awak kapal : 62 orang

Sonar & Radar : Radar MR-302/Strut Curve Radar kontrol tembakan MR-123 Vympel Muff Cobb

Perangkat elektronik : Sonar MG-322T; Decoy PK-16 decol RL

Persenjataan : 

2 x SA-N-5 SAM

2 x 57 mm gun (1×2)

2x30mm gun (1×2) atau 1 x AK-630

2 x RBU-6000-peluncur roket anti kapal selam

4 x 400 mm tabung torpedo

60 x ranjau

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Parchim-class_corvette

https://id.m.wikipedia.org/wiki/KRI_Kapitan_Patimura_(371)

Parchim (class) / Project 1331M

Corvette Warship

https://www.militaryfactory.com/ships/detail.asp?ship_id=parchim-class-corvette-east-germany

Project 133.1 Parchim class

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/133_1.htm

https://ru.m.wikipedia.org/wiki/%D0%90%D0%9A-725

https://en.m.wikipedia.org/wiki/AK-230

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Type_730_CIWS

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mark_32_Surface_Vessel_Torpedo_Tubes

https://en.m.wikipedia.org/wiki/RBU-6000

https://en.m.wikipedia.org/wiki/9K32_Strela-2

SAET-40 UAE – Inilah Torpedo ‘Asli’ Di Korvet Parchim Class TNI AL oleh Haryo Adjie

MR-302 “Strut Curve” – Radar Intai Udara Dan Permukaan Di Korvet Parchim Class TNI AL oleh Gilang Perdana

Strela – Rudal Pemburu Panas Andalan Korvet Parchim Dan Arhanud Korps Marinir oleh Haryo Adjie Nogo Seno

Habibie, Heboh Kapal Perang Jerman, dan Beredel Oleh: Tempo.co; Minggu, 3 Februari 2013 15:28 WIB

https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/458741/habibie-heboh-kapal-perang-jerman-dan-beredel

KAPAL JERMAN JANGAN MENGGERGAJI LAUT Tempo Edisi : 12 Oktober 1998

https://www.google.com/amp/s/majalah.tempo.co/amp/investigasi/95882/kapal-jerman-jangan-menggergaji-laut

TEKNIK MENGAKALI ARMADA BEKAS Tempo Edisi : 12 Oktober 1998

https://www.google.com/amp/s/majalah.tempo.co/amp/investigasi/95881/teknik-mengakali-armada-bekas

Parchim Class

http://garudamiliter.blogspot.com/2012/02/parchim-class-tni-al.html?m=1

Mengenal Kapal Perang Pemukul Utama TNI AL oleh Prasto Prabowo; 01:07 WIB | Minggu, 18 Mei 2014

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/mengenal-kapal-perang-pemukul-utama-tni-al

KRI Pati Unus, Kelas Korvet Parchim Si Pemburu Kapal Selam Andalan TNI oleh A Ziyadi; Juni 2, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *