Sejarah Militer

“Lawrence Of Arabia” (1888-1935), Si Ahli Gerilya Yang Membantu Meruntuhkan Imperium Turki Dalam Perang Dunia I

Panasnya udara wilayah Arab naik dalam gelombang yang berkilauan, mengaburkan penglihatan orang Badui dan membuat tenggorokan mereka terasa panas. Mereka dikerahkan di sepanjang puncak bukit, menembaki tentara Turki yang membalas tembakan dari pos pertahanan mereka di bawah. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh saat sekitar 50 penunggang unta, dipimpin oleh pejuang asal Suku Howeitat yang ganas, Auda abu Tayi, berlari menuruni bukit ke bagian belakang orang-orang Turki yang ketakutan. Kemudian seorang pemimpin suku di antara kumpulan beraneka ragam orang-orang Badui yang menembak dari bukit memandang ke satu-satunya perwira Inggris di antara mereka dan berteriak, “Ayo!” Kedua pria itu lalu bergegas ke bawah, diikuti oleh 400 orang Badui yang mengendarai unta, yang dengan mengenakan jubah dan penutup kepala “mengalir” di sekitar mereka, saat mereka menghantam posisi sayap dari pasukan Turki. Sekarang di tengah-tengah musuh, perwira Inggris itu menembakkan pistol dinasnya ke sosok-sosok berseragam warna khaki yang melarikan diri di sekitarnya ketika unta-nya tiba-tiba jatuh, dan melemparkannya ke tanah. Dia terbaring tertegun, menunggu untuk dibunuh oleh orang-orang Turki atau diinjak-injak oleh anak buahnya sendiri. Ketika orang Inggris yang kebingungan itu duduk, dia melihat bahwa pertempuran telah usai. Meski hanya berlangsung beberapa saat, namun pertempuran itu berdarah. Orang-orang Badui telah menghabisi tentara Turki dengan menggunakan senapan dan pedang. Pada akhirnya, 300 pasukan musuh terbaring mati, sementara hanya dua orang Arab yang tewas. Itu adalah pertempuran yang sangat efisien dan brutal yang dilakukan dengan kejutan, kemarahan, keberanian, dan strategi taktis yang bagus — bukti kualitas yang akan menjadi simbol dari kampanye militer melawan kekuatan Turki yang dijalankan oleh T.E. Lawrence, alias “Lawrence of Arabia”, salah satu pemikir militer paling cemerlang dan menarik di abad ke-20. Sebagai contoh dari kemampuan militernya, menurut hitungannya, Lawrence secara pribadi telah meledakkan 79 jembatan di sepanjang rel kereta api, dan menjadi begitu mahir sehingga dia bisa menyempurnakan teknik dalam meninggalkan jembatan yang “secara ilmiah hancur” — namun tetapi masih berdiri. Orang-orang Turki kemudian menghadapi tugas yang memakan waktu untuk membongkar reruntuhan tersebut sebelum perbaikan sebenarnya dapat dimulai, suatu hal yang lebih merepotkan dibanding membangun kembali jembatan yang sudah hancur sama sekali.

Poster Film Legendaris “Lawrence Of Arabia” (1962). Meski banyak publikasi mengenai dirinya, namun tidak seorang pun yang benar-benar memahami pemikiran Lawrence yang berperan penting dalam pemberontakan orang-orang Arab melawan Kesultanan Turki Ottoman. (Sumber: https://www.thetimes.co.uk/)

DARI ARKEOLOG MENJADI TENTARA

Lahir di Tremadoc, Caernarvon-Wales Utara pada tanggal 16 Agustus 1888 (akte kelahirannya menulis tanggal 15, namun ibunya bersikeras bahwa yang benar adalah tanggal 16), Thomas Edward Lawrence adalah sosok unik dan kompleks yang dibentuk oleh beberapa hal. Salah satunya adalah tinggi badannya. Tingginya hanya lima kaki dan lima inci (sekitar 1,64 meter, termasuk pendek untuk ukuran orang Eropa), dimana dia merasa berbeda dari keempat saudara laki-lakinya dan anak laki-laki lain di sekolah. Faktor penentu lainnya adalah kenyataan bahwa dia adalah anak tidak sah dari Sir Thomas Chapman dan kekasihnya yang lahir di Skotlandia, Sarah Junner (kadang dikenal sebagai Maden). Karenanya, sifat independen Lawrence dibentuk oleh perasaan sensitif tentang keanehannya, dalam pemikirannya adalah bahwa apa pun yang dia capai dalam hidupnya adalah karena usahanya sendiri. Dia cerdas dan berkemauan keras. Dan sebagai anak laki-laki, dia mulai menguji dirinya secara fisik dan mental, seolah-olah akan menghadapi cobaan yang tak terelakkan di masa depan. Sebagai seorang siswa yang baik, Lawrence kuliah di Oxford untuk belajar sejarah dan menulis tesisnya tentang kastil Pasukan Salib. Selama tur penelitian yang berlangsung tiga minggu di Levant, dia terpesona oleh orang-orang Arab. Kembali di Inggris, ia menyelesaikan studinya dengan memperoleh gelar First Class Honors, dan kemudian, dengan bersemangat kembali ke Timur Tengah, dimana ia bergabung dengan tim Arkeologi Museum Inggris di situs bangsa Het, Karkemis di Suriah utara, sebagai asisten arkeolog. Dia bekerja terus menerus pada di bidang arkeologi penting itu dari tahun 1910 hingga 1914, lalu belajar bahasa Arab dan bagaimana caranya harus berurusan dengan orang-orang Arab. Setelah itu perang pecah. Sejak berada di Suriah, Lawrence telah mengembangkan pandangannya yang jelas, jika tidak bisa dibilang sederhana, tentang Kesultanan Ottoman — kekaguman Lawrence pada orang Arab yang berjiwa bebas, serta kebenciannya pada korupsi dan inefisiensi dari para penguasa Turki-nya — dan menantikan hari ketika “belenggu penjajahan” Ottoman bisa disingkirkan. Kesempatan itu, dan kesempatan bagi Lawrence untuk berperan, tiba ketika Turki memasuki arena perang di pihak Jerman dan Austria-Hongaria.

Lawrence (kiri), lahir sebagai anak tidak sah dari Sir Thomas Chapman, Lawrence bertumbuh menjadi sosok yang mandiri namun berprestasi dalam hidupnya. (Sumber: https://stevenewmanwriter.medium.com/)
Leonard Woolley (kiri) dan Lawrence di area penggalian arkeologis mereka di Karkemis, tahun 1912. Salah satu ciri fisik yang menonjol dari Lawrence adalah tinggi badannya yang terhitung pendek untuk orang Eropa. (Sumber: https://translate.google.com/)

Lawrence kemudian ditugaskan sebagai letnan di Angkatan Darat Inggris, dan dengan pengetahuan khususnya tentang wilayah tersebut, pada tahun 1915 ia diserahkan kepada Departemen Intelijen Militer di Kairo, di bawah arahan Kolonel Gilbert Clayton. Suasana kantor dimana Lawrence ditempatkan terhitung santai dan hanya menunjukkan sedikit perhatian terhadap etiket tata cara kemiliteran. Staf di sana dengan cepat mengenali Lawrence sebagai anggota mereka yang tak ternilai, dengan pikirannya yang cepat dan gesit. Dia bekerja mengumpulkan data geografis untuk pembuatan peta, mewawancarai tahanan, dan mengerjakan buku referensi, mengenai “Buku Pegangan Tentara Turki”. Sementara itu, para perencana perang yang memiliki sudut pandang yang berpusat pada Barat sering mencemooh medan perang di Timur Tengah sebagai “sideshow of a sideshow” yang menganggapnya bukan sebagai prioritas, tetapi Lawrence sendiri tahu bahwa perang itu sangat penting bagi jutaan orang Arab yang hidup di bawah pemerintahan Ottoman. Terlepas dari kenyataan bahwa dia dan anggota lain dari bagian intelijen mendesak agar Inggris membentuk aliansi dengan kelompok-kelompok Arab yang siap memberontak melawan Turki, para jenderal di Kairo tampaknya berniat untuk menjalankan perang dengan taktik penyerangan frontal konvensional yang sama yang telah terbukti sangat menghancurkan di Eropa. Hasil nyata dari strategi absurd itu terlihat dari kegagalan sekutu dalam pertempuran Gallipoli tahun 1915, di mana negara-negara Persemakmuran Inggris menderita korban hampir seperempat juta orang sebelum akhirnya terpaksa mengakui kegagalan mereka. Meskipun dipromosikan menjadi kapten pada Maret 1916, Lawrence merasa pekerjaan kantor membosankan dan merindukan aksi di medan tempur. Saat itu saudara laki-lakinya Will dan Frank telah meninggal di Front Barat, sebuah tragedi yang membuatnya merasa bersalah karena hal itu terjadi saat dia duduk dalam kenyamanan pemerintahan kolonial Inggris Kairo.  “Mereka berdua lebih muda dariku,” tulisnya kepada seorang teman, “dan tampaknya tidak benar, bahwa aku terus hidup dengan damai dan nyaman di Kairo.” Selain itu, Lawrence juga bermimpi bisa memimpin pemberontakan orang-orang Arab melawan penindas Turki mereka. 

MENJALIN KONTAK DENGAN PEMBERONTAK ARAB

Keinginannya lalu segera terpenuhi ketika pihak Angkatan Darat mengirim dia dan dua perwira Inggris lainnya dalam misi rahasia untuk mengamankan jalur pelarian pasukan Anglo-India yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Charles Vere Ferrers Townshend, yang telah dikepung oleh orang-orang Turki di Kut al- Amara di wilayah Mesopotamia. Lawrence dan rekan-rekannya kemudian bertemu dengan rekan-rekan asal Turki mereka, tetapi yang bisa mereka peroleh hanyalah pembebasan beberapa dari personel yang terluka. Itu adalah pekerjaan yang menyedihkan dan membuat frustrasi. Townshend dan 12.000 anak buahnya yang masih hidup lalu menyerah pada tanggal 29 April 1916. Meski demikian laporan Lawrence yang ditulis dengan baik tentang apa yang terjadi di Kut dan nasionalisme dari bangsa Arab, bagaimanapun, sangat mengesankan atasannya sehingga mereka memutuskan untuk mengirimnya ke misi penting lainnya. 

Sharif Hussein, pemimpin klan Hashemite pada tahun 1916. Hussein adalah pencetus pemberontakan orang-orang Arab atas kekuasaan Ottoman. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Wilayah kontrol Kesultanan Turki Ottoman atas Semenanjung Arab pada tahun 1914. (Sumber: https://www.forces.net/)

Di wilayah Hijaz (pesisir barat semenanjung Arab) telah terjadi suatu peristiwa yang sangat penting. Raja Hussein dari klan Hashemite, grand sharif (keturunan langsung dari Muhammad) di Mekah, telah melancarkan pemberontakan melawan pemerintahan Ottoman pada tanggal 5 Juni 1916. Menyerang orang Turki secara mengejutkan, para pemberontak pimpinan Hussein berhasil merebut kota suci Mekah bersama dengan Jeddah, tetapi pemberontakan itu terhenti di sana. Pada bulan Oktober, Turki tetap memegang kendali kuat atas wilayah pedalaman Arab, termasuk kota Madinah, dimana dan 10.000 personel Turki di kota itu terus diperkuat dan tampaknya siap untuk menghancurkan para pemberontak. Kota Madinah sendiri terhubung dengan rel kereta api ke wilayah utama pasukan Turki di Syria. Ketika pihak Turki melanjutkan serangan ke Mekkah, orang-orang Arab mundur, dan laskar suku yang telah membentuk tentara itu mulai melemah. Pada akhir tahun 1916, Pemberontakan terancam gagal. Ketika Lawrence mengetahui bahwa seorang temannya di Kairo sedang dikirim ke Arab untuk mengamati krisis tersebut, dia meminta cuti sementara dari pekerjaannya di belakang meja untuk ikut serta dalam misi tersebut. Lawrence lalu dikirim ke Jeddah untuk melaporkan perkembangannya.

Feisal bin Hussein bin Ali, pemimpin pemberontak Arab yang dekat dengan Lawrence selama kampanye militer melawan tentara Turki Ottoman. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pasukan pemberontak Arab memang dikenal pemberani dan menguasai medan padang pasir, namun sayangnya kurang memiliki kedisiplinan militer dan senjata berat. (Sumber: https://forum.nationstates.net/)

Selama kunjungan sepuluh hari itu, Lawrence berhasil sepenuhnya menyelaraskan dirinya sendiri dalam perjuangan pemberontakan orang-orang Arab, dan mendapatkan kepercayaan dari kalangan pemimpin pemberontak. Sebagai pengamat manusia dan karakter yang cermat, Lawrence bertemu dengan keempat putra Hussein, yakni Ali, Abdullah, Feisal dan Zeid untuk mengukur mereka guna melihat apakah ada salah satu dari mereka cocok untuk menjadi pemimpin militer pemberontakan. Dalam buku “Seven Pillars of Wisdom”, kisah epik Lawrence tentang pemberontakan orang-orang Arab, dia ingat bahwa ia mengabaikan mereka semua sampai dia bertemu dengan Pangeran Feisal bin Hussein bin Ali yang tinggi dan menarik, serta segera menyadari “bahwa ini adalah orang yang saya cari di Arab — pemimpin yang akan membawa Pemberontakan orang-orang Arab ke dalam kesuksesan penuh. ” Dia lalu kembali untuk melaporkan situasinya, tetapi segera dikirim kembali ke Arab lagi pada bulan Desember untuk bertindak sebagai penasihat dan petugas penghubung ke Feisal. Dalam waktu singkat, tugas sementara itu segera menjadi jabatan yang permanen. Dia akan tetap di tempat penugasan selama dua tahun ke depan. Situasinya saat Lawrence tiba sebenarnya suram. Orang-orang Badui Arab adalah pejuang yang mudah berubah-ubah, bertarung dengan ganas ketika kehormatan atau rampasan dipertaruhkan, tetapi cepat kabur ketika mereka bosan atau menderita terlalu banyak korban. Untuk mendapatkan pengabdian mereka, Feisal dan Lawrence harus membayar mereka dengan emas dan menyelaraskan pertikaian berdarah dan ketidakpercayaan tradisional di antara klan yang ada. Meskipun jumlah mereka tidak sedikit — menurut sebuah laporan yang ditulis Lawrence pada tahun 1919, pada satu titik orang Arab telah mampu “mengumpulkan sekitar 14.000 anggota suku Harb, 11.000 penduduk desa Beni Salem, dan 9.000 Juheina” —sayangnya disiplin mereka lemah, dan senjata artileri sangat dibutuhkan untuk bisa memberi pukulan yang menentukan dalam serangan mereka.

IDE GERILYA LAWRENCE

Tapi Lawrence terkesan dengan sikap dingin dan tekad Feisal. Dengan tetap berada di tenda pemimpin Arab itu, Lawrence dengan cermat mengamati bagaimana dia menangani anak buahnya dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Terlebih lagi, Lawrence belajar untuk menyadari bahwa bertempur di kawasan Arab pada awal abad ke-20 berpusat di sekitar masalah utama yang sama — di mana pasukan yang sedang bergerak bisa menemukan air dan makanan untuk hewan-hewannya — seperti perang di Eropa pada abad ke-14 yang dipelajari Lawrence dengan cermat di Oxford. Selama waktu itu, Feisal menghadiahi Lawrence jubah sutra dan emas yang indah. Lawrence langsung memakainya, karena dengan pakaian seperti itu — simbol visual dari status dan nilai pentingnya — dia akan lebih bisa diterima oleh orang-orang Arab. Gaun yang melambai juga ideal untuk cuaca panas dan menunggang unta. ‘Feisal bertanya apakah saya akan mengenakan pakaian Arab seperti miliknya selama di perkemahan. Saya menemukannya lebih baik dari pakaian yang biasa saya kenakan, karena itu adalah pakaian yang nyaman untuk menjalani gaya hidup orang-orang Arab. Selain itu, para anggota suku akan lebih mudah berkawan dengan saya … Jika saya mengenakan pakaian Mekah, dimana mereka akan berperilaku seolah-olah saya benar-benar salah satu pemimpinnya. ” tulis Lawrence, dalam buku “Seven Pillars of Wisdom”, tahun 1922. Pada tanggal 3 Januari 1917, Lawrence melakukan serangan gurun pertamanya dengan 35 anggota suku bersenjata. Di bawah kegelapan, mereka menunggang unta keluar dari kamp, turun dari kuda, dan mendaki bukit curam yang menghadap ke perkemahan Turki, yang mereka sirami dengan tembakan senapan sampai bisa diusir. Saat kembali, mereka menemukan dua orang Turki yang sedang buang air, dan membawa mereka kembali ke kamp untuk diinterogasi.

Lawrence mendiskusikan taktik tempur dengan pemimpin pemberontak Arab, Emir Feisal. Berdasarkan pengamatannya atas kelebihan dan kekurangan sekutu-sekutu Arabnya, Lawrence merumuskan bahwa taktik gerilya merupakan taktik yang paling sempurna untuk melawan tentara Turki sekaligus memaksimalkan kekuatan para pejuang-pejuang Arab. (Sumber: https://www.forces.net/)

Kemenangan kecil itu kemudian diimbangi dengan tragedi kecil ketika, untuk mencegah perseteruan berdarah yang pecah, Lawrence harus secara pribadi mengeksekusi anggota kelompoknya sendiri, suatu tindakan yang akan menghantuinya selama sisa hidupnya. Sebuah batu loncatan penting dalam pemberontakan tersebut adalah keberhasilan penaklukan kota pesisir Wejh, yang jatuh dengan bantuan penting dari Royal Navy pada tahun 1917. Setelah itu, karena sakit disentri dan malaria, Lawrence — seorang prajurit amatir yang tidak terikat oleh pelatihan militer formal — punya waktu untuk merefleksikan jalannya pemberontakan dan strategi besarnya. Pemikiran Lawrence kemudian mengubah ulang konsep perang yang dilancarkan para pemberontak Arab. Dia mengubah pemikiran militer konvensional dan menciptakan teori baru tentang perang gerilya modern. Bagaimana jika orang-orang Arab mengabaikan posisi-posisi kuat Turki? Bagaimana jika mereka begitu saja menjauh dari mereka ke gurun pasir? Bagaimana jika mereka menyatakan diri mereka sebagai “ancaman diam-diam” dan melakukan “perang kecil-kecilan”? Baik Feisal dan Lawrence kemudian merasa bahwa pemberontakan harus diarahkan ke utara menuju Suriah dan Damaskus, dengan tujuan mencapai kemerdekaan Arab. Ide pemberontakan yang utama adalah selalu untuk mengusir orang-orang Turki keluar dari Madinah dan kota-kota besar Arab lainnya. Namun, ketika dia sakit, Lawrence memutuskan bahwa akan lebih baik untuk menahan orang-orang Turki itu di kota-kota. Pasukan dari suku Badui tidak menyukai perang pengepungan dan tidak bisa bertempur seperti tentara biasa, jadi Lawrence ingin menggunakan kekuatan dari orang-orang Arab — yakni kecepatan, pengetahuan yang luar biasa tentang medan, keberanian individu yang luar biasa — untuk menyerang jalur pasokan tentara Turki, Kereta Api Hejaz, yang membentang hampir 700 mil dari Madinah ke Damaskus.

Ilustrasi Lawrence dan rekan-rekan Arabnya meledakkan jalur kereta yang digunakan oleh tentara Turki. (Sumber: https://www.lookandlearn.com/)

Pada akhir Maret, Lawrence memulai serangan pertamanya terhadap rel kereta api, sebuah stasiun Turki di Abu el-Naam. Setelah dengan hati-hati menyelidikinya, Lawrence merayap ke jalur itu pada malam hari dan meletakkan ranjau Garland di bawah rel, dan memotong kabel telegraf saat dia pergi. Keesokan paginya, orang-orang Badui menyerbu stasiun dengan bantuan meriam gunung dan howitzer, membuat beberapa gerbong kereta api di dekatnya terbakar. Saat kereta itu keluar dari stasiun, Lawrence meledakkan ranjau itu di bawah kereta depan, memutus jalur rel itu. Meskipun pihak Turki kemudian berhasil membuat jalur kereta api itu kembali beroperasi, namun aksi Lawrence itu dinilai berhasil. Kesuksesan seperti itu toh masih bisa hanya dianggap sebagai tusukan jarum terhadap pasukan Ottoman. Pandangan Lawrence sekarang diarahkan pada pelabuhan penting di Laut Merah, yakni Aqaba. Bisa merebutnya, berarti akan mengamankan rute pasokan bagi orang-orang Arab dari arah Mesir, yang memungkinkan pemberontakan memanfaatkan sumber-sumber tenaga baru dan memungkinkan mereka dengan nyaman menyerang di jalur Kereta Api Hejaz. Lawrence telah mengunjungi Aqaba sebelum perang dan mengetahui bahwa pelabuhan itu dipertahankan dengan baik dari arah laut di Wadi Itm, sebuah jalur yang sempit. Jika ia berhasil Wadi Itm, berarti bahwa pelabuhan itu akan berada di tangan orang-orang Arab. Lawrence lalu berkonsultasi dengan Feisal dan para pemimpin Arab lainnya, yang menyukai idenya untuk menyeberangi gurun guna mengejutkan orang-orang Turki dari arah belakang. Sebagai pendahuluan penyerangan, maka dianggap penting untuk menjalin kontak dengan suku Howeitat yang kuat, yang akan mempengaruhi suku-suku lain untuk mendukung pemberontakan. Pada bulan Maret, Lawrence bertemu dengan pemimpin Howeitat yang galak dan tak kenal takut, yakni Auda abu Tayi, yang konon telah membunuh 75 saingan Arabnya dan tidak mau repot menghitung jumlah orang-orang Turki yang telah dibunuhnya. 

MEREBUT AQABA

Lawrence lalu menjelaskan rencananya untuk merebut Aqaba, yang menurut Auda memungkinkan. Kedua orang itu kemudian mengerjakan detailnya. Keduanya saling menyukai satu sama lain, yang menunjukkan banyak hal atas kemampuan Lawrence untuk mempengaruhi pria yang lebih kuat daripada dirinya sendiri. Meskipun ia memiliki karisma yang melimpah dan karakter yang kuat, kekuatannya terletak pada kemampuannya untuk memungkinkan orang lain mencapai tujuan mereka. Dia mengerti bahwa untuk memotivasi orang Badui yang bangga pada dirinya sendiri, seseorang tidak perlu meneriakkan perintah, melainkan untuk mendapatkan rasa hormat mereka melalui perbuatan dan keberanian pribadi yang tinggi. “Lawrence jarang berbicara,” kenang Kolonel Pierce C. Joyce, yang bertempur bersamanya. “Dia hanya mempelajari orang-orang di sekitarnya dan ketika perdebatan berakhir … dia kemudian mendikte rencana tindakannya yang biasanya akan diadopsi dan semua orang pergi dengan perasaan puas.” “Bukan, seperti yang sering diduga, bahwa dengan kepemimpinan individunya gerombolan Badui bisa mencapai kesuksesan,” tambah Joyce, “tetapi dengan caranya memilih pemimpin suku yang bijaksana.” Dan itu bisa dilakukannya dengan membagikan emas. “Saya akan menggabungkan percikan api yang terpisah-pisah,” tulis Lawrence, “(untuk bisa) menjadi nyala api yang kuat….”

Auda abu Tayi, sekutu Lawrence yang keras asal Suku Howeitat. Kemampuan diplomasi Lawrence yang jitu berhasil mempengaruhi Auda untuk memihak dirinya. (Sumber: https://stevenewmanwriter.medium.com/)
Lawrence dengan jubah Arabnya. Dengan berpakaian seperti sekutu-sekutunya, Lawrence mudah untuk respek dari orang-orang Arab. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Ketika pemberontakan Arab menjadi semakin sukses, hal itu menarik perhatian di tingkat diplomatik. Inggris senang dengan perkembangan pemberontakan orang-orang Arab, dan menyokong mereka dalam memerangi orang-orang Turki musuh mereka. Namun, sejak berada di Kairo, Lawrence menyadari janji-janji muluk yang dibuat pemerintah Inggris kepada Hussein untuk meningkatkan semangat Pemberontakan Arab, yakni: kemerdekaan penuh hampir di seluruh wilayah Arab, adalah suatu hal yang berlebihan. Prancis dan Inggris telah memiliki rancangan mereka sendiri di wilayah tersebut dan menentang terbentuknya bangsa Arab yang kuat dan merdeka. Dalam pertemuan antara politikus Inggris Sir Mark Sykes dan diplomat Prancis Georges Picot pada tahun 1916, pembagian wilayah Kesultanan Utsmaniyah diatur, dengan Prancis akan merebut Suriah dan Lebanon, sementara Inggris akan mengelola wilayah Mesopotamia, Transyordania, dan sebagian besar Palestina. Lawrence mengetahui kesepakatan itu dari sepucuk surat sinis yang ditulis Kolonel Clayton yang menguraikan Perjanjian Sykes-Picot, yang menyatakan bahwa “ pendudukan Aqaba oleh pasukan Arab mungkin akan membuat orang Arab mengklaim tempat itu setelahnya. Pada awal musim semi tahun 1917, pembicaraan tentang pendaratan amfibi bersama pasukan Inggris-Prancis di pelabuhan perikanan kecil di Aqaba telah diperhitungkan di antara para pemimpin Sekutu di Kairo. Aqaba adalah pos terdepan terakhir musuh Turki mereka di Laut Merah dan gerbang alami — setidaknya seperti yang terlihat di peta — ke bagian selatan Suriah, jantung dari dunia Arab. Karena itu, sangat penting bahwa Aqaba tetap berada di tangan Inggris setelah perang. ” Mengenai Aqaba, Lawrence merasakan adanya dilema politik. Jika Inggris dan Prancis bisa menguasai Aqaba, mereka akan dapat secara efektif menahan sekutu Arab mereka dan membatasi pemberontakan mereka di wilayah Arab. Jika itu terjadi, ketika dua kekuatan Eropa itu berhasil masuk ke Suriah — seperti yang tercantum dalam perjanjian Sykes-Picot — mereka dapat mengingkari janji yang dibuat kepada Hussein dengan lebih terang-terangan. Ketika para perwira Inggris yang berperang bersama orang-orang Arab mengetahui perjanjian itu, mereka terkejut. Feisal, seorang politikus yang cerdik, merasakan bahwa Inggris dan Prancis telah menyetujui semacam kesepakatan, dan dia mulai kehilangan kepercayaan pada mereka. Dan Lawrence, seorang idealis yang memelihara citra romantis kebebasan orang-orang Arab, jatuh ke dalam depresi berat. Dia mengagumi orang-orang Arab dan menganggap Feisal sebagai teman. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat percaya pada tujuannya tanpa mengetahui kebenaran yang terjadi. “Sebagai balas dendam,” Lawrence berkata pada dirinya sendiri, “Saya bersumpah untuk menjadikan Pemberontakan Arab sebagai upaya yang mandiri… dan ia akan memimpinnya sekuat tenaga dalam mencapai kemenangan akhir sehingga hal itu akan memaksakan negara-negara besar untuk memberikan penyelesaian yang adil bagi orang-orang Arab. ” 

Pasukan pemberontak Arab berkendara dengan unta. Dengan kelompok-kelompok semacam inilah Lawrence berangkat untuk merebut Aqaba dengan melintasi gurun selama dua bulan. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Tetapi masih banyak yang harus dilakukan. Bersama Auda dan anak buahnya, Lawrence berangkat dalam perjalanan panjang melewati teriknya panas gurun ke Aqaba. Tidak seorang pun dari rekan-rekan perwira Inggris Lawrence, yang tahu ke mana dia pergi atau apa yang akan dia lakukan ketika dia sampai di sana. Yang menemaninya dalam perjalanan hanyalah 45 orang pemberontak. Dalam perjalanan mereka, mereka akan menjalani cobaan berat selama dua bulan yang membawa mereka melintasi salah satu wilayah paling keras di dunia. Masing-masing pria memulai perjalanan dengan hanya membawa air dan sekarung tepung seberat 45 pon sebagai bekal. Sepanjang jalan, mereka meledakkan jalur kereta api di dekat kota Deraa dan kemudian memasuki gurun tandus yang diterpa sinar matahari yang disebut El Houl. Mereka mengunjungi perkemahan suku-suku Badui satu demi satu, berpesta dengan nasi dan domba pada malam hari, serta merekrut dan meningkatkan jumlah kelompok mereka pada pagi harinya. Tetapi di dalam benaknya, Lawrence merasa bersalah, merasa bahwa dia mengkhianati orang-orang ini. “Saya harus bergabung dengan rencana konspirasi,” tulisnya di buku Seven Pillars, “dan … meyakinkan orang-orang akan hadiah yang akan mereka terima … tetapi, tentu saja, alih-alih bangga dengan apa yang kami lakukan bersama, saya terus menerus merasa sangat malu.” Krisis pribadinya terus memburuk. Dalam buku catatannya, Lawrence menulis pada tanggal 5 Juni: “(Saya) tidak tahan lagi di sini. Saya akan ke utara dan melepaskannya. ” Pesan lain Lawrence berkata dengan nada tidak menyenangkan, “Clayton. Saya telah memutuskan untuk pergi sendirian ke Damaskus, berharap untuk terbunuh dalam perjalanan: demi semuanya, mencoba dan menyelesaikan masalah ini sebelum terus berlanjut. Kita memanggil mereka untuk memperjuangkan tujuan kita dalam kebohongan, dan saya tidak tahan. “

Peta yang menunjukkan rute yang diambil Lawrence dan Feisal untuk menyerang Aqaba. (Sumber: image from ‘The Arab Revolt 1916-18’ by David Murphy © Osprey Publishing, part of Bloomsbury Publishing/https://www.forces.net/)

Lawrence nanti memang akan memisahkan diri dari kekuatan utama dan memulai perjalanan luar biasa 300 mil ke Lebanon dan Suriah, berbicara dengan para pemimpin klan untuk meminta dukungan mereka atas pemberontakan. Dengan bantuan suku-suku setempat, dia meledakkan jembatan dan berkuda ke pinggiran kota Damaskus untuk bertemu dengan para pemimpin perlawanan. “Pada saat itu,” kenangnya, “Saya sedang dalam suasana hati yang sembrono, tidak terlalu peduli dengan apa yang saya lakukan…. Luka yang diderita tubuhku akan kusyukuri ditengah kebingungan didalam diriku….” Untuk aksi nekadnya itu, pihak tentara merekomendasikan Lawrence untuk mendapatkan penghargaan tertinggi Inggris untuk keberanian, yakni Victoria Cross. Namun ia dinyatakan tidak memenuhi syarat, karena tidak ada perwira Inggris lain yang menyaksikan aksinya. Kembali lagi dengan Auda, Lawrence dan orang-orang Arab lalu melakukan perjalanan yang membentuk setengah lingkaran besar melalui padang pasir dan sampai di Aqaba dari posisi belakang kota pada tanggal 6 Juli. Kisah ini didramatisir dalam film karya sutradara David Lean, “Lawrence of Arabia” dengan adegan ketika Lawrence dan kelompok pemberontaknya melancarkan serangan mendadak mereka di Aqaba. Dipimpin oleh Lawrence yang diperankan oleh Peter O’Toole yang berjubah putih dengan semangat penuh kemenangan, para pemberontak menyerang tentara Turki yang tidak siap. Pada kenyataannya, pertempuran krusial untuk merebut Aqaba terjadi 40 mil di utara, yakni di wadi Aba el Lissan yang “terlupakan”. Di sanalah, setelah melalui perjalanan dua bulan yang mengerikan melalui padang pasir, dan Aqaba nyaris akan jatuh dalam genggamannya, Lawrence mengetahui bahwa pasukan bantuan Turki sedang bergerak ke arahnya. Bahkan jika pasukan pemberontaknya – yang membengkak menjadi hampir 1.000 dengan rekrutan baru – melanjutkan perjalanan ke Aqaba, Lawrence menyadari, bahwa pasukan musuh ini akan segera menyusul; maka tidak ada pilihan bagi mereka selain menghancurkannya terlebih dahulu. Mereka menemukan orang-orang Turki berkemah di Aba el Lissan pada malam tanggal 1 Juli 1917, dan yang terjadi di sana lebih merupakan pembantaian daripada pertempuran. Pasukan Turki yang terdiri dari 550 orang hampir seluruhnya musnah dengan hanya ada dua orang Arab yang tewas di pihak Lawrence. Dengan jalan yang telah terbuka, Lawrence dan anak buahnya bergegas ke Aqaba, dimana garnisun Turki di sana menyerah, nyaris tanpa melepaskan tembakan.

Ilustrasi Lawrence dan pemberontak Arab saat menerima penyerahan pasukan Turki di Aqaba. (Sumber: https://alchetron.com/)
Lawrence mengendarai unta di Aqaba tahun 1917. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Dengan kemenangan yang mencengangkan dan hampir tak berdarah itu, pemberontakan orang-orang Arab kini menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan. Dengan adanya pangkalan baru, pemberontakan kini dapat disuplai saat mereka bergerak ke Suriah. Laporan intelijen Inggris dari tahun 1918 mengungkapkan keberhasilannya. Tentara yang Arab terdiri dari sekitar 5.000 personel tetap dan kekuatan dapat berfluktuasi hingga 20.000  orang laskar suku. Namun akan ada lebih banyak orang Turki yang dikerahkan untuk melawan mereka daripada yang dikirim untuk memerangi pasukan Jenderal Allenby yang terdiri dari sekitar 340.000 orang di sebelah barat Yordania di Palestina. Faktanya, mengingat bahwa sebagian besar pertempuran utama dilakukan oleh Tentara Utara Faisal, yang tidak pernah lebih dari 8.000 orang, seringkali sekecil 3.000 orang, ketidakseimbangannya sangat ekstrim. Statistik kasar menyiratkan bahwa salah satu gerilyawan Faisal 35 kali lebih efektif dalam mengikat pasukan Turki daripada salah satu Tentara Allenby. “Setelah Aqaba direbut,” tulisnya pada tahun 1927, “banyak hal berubah, sehingga saya tidak lagi menjadi sekedar saksi Pemberontakan, tetapi menjadi salah satu tokoh dalam Pemberontakan.” Lawrence bersikap rendah hati, karena dialah sebenarnya yang memainkan peran utama. Dalam hal strategi perang, gagasan Lawrence tentang perang gerilya disinggung dalam “Artikel ke Dua Puluh Tujuh”, yang muncul dalam buletin intelijen internal Inggris pada tahun 1917. Tulisan ini kemudian dikembangkan dalam tiga risalah pasca-perang. Membaca dengan cermat, seseorang akan dapat mengidentifikasi 15 prinsip berbeda dari perang gerilya yang diinisiasi Lawrence di wilayah Arab. Teorinya membalikkan banyak prinsip teori militer konvensional, seperti pemusatan kekuatan, dan sentralitas pertempuran besar untuk menghancurkan kekuatan utama musuh dan kemauannya untuk berperang. Perang gerilya sendiri sebenarnya sudah setua konflik yang melibatkan manusia, tetapi risalah tulisan Lawrence mewakili konseptualisasi sistematis pertama dari strateginya. Dan konseptualisasi ini sangat komprehensif. Para ahli teori perang gerilya kemudian – terutama Mao, Nguyen Giap dan Che Guevara – telah menambahkan sedikit substansinya. Lawrence bisa disebut adalah salah satu guru sejati dari pejuang gerilya.

PENGALAMAN BURUK DI DERAA

Pihak Turki kabarnya telah menawarkan hadiah atas penangkapannya, dan sebuah laporan tentang situasi di Arab, dikirim ke Kairo pada Februari 1917, yang mengatakan bahwa “Lawrence dengan Feisal sangat berharga….” Setelah Aqaba, Lawrence dianugerahi penghargaan “Companionship of the Bath” dan dipromosikan menjadi mayor. Dia kemudian mengadakan pertemuan penting dengan panglima baru Pasukan Ekspedisi Inggris di Mesir, yakni Jenderal Sir Edmund Allenby, yang menyetujui strategi Lawrence dalam melakukan pemberontakan. “Saya memberinya kebebasan,” kata Allenby setelah perang. “Kerja samanya ditandai dengan sikap kesetiaan yang tinggi, dan saya tidak pernah memiliki apa pun selain pujian atas karyanya, yang memang tak ternilai harganya selama kampanye militer di wilayah itu.” Lawrence sekarang telah memegang posisi yang kuat, sebagai penasihat Feisal dan orang yang memiliki kepercayaan dari Allenby. Serangan terhadap jalur rel terus berlanjut sepanjang tahun 1917. Dalam satu kejadian, Lawrence meledakkan sebuah lokomotif dengan sebuah ranjau listrik. “Kami memiliki Lewis (senapan mesin),” tulisnya dalam sepucuk surat kepada seorang teman, “dan menghujani peluru dari samping. Jadi mereka melompat keluar dan berlindung di balik tanggul, dan menembaki kami di antara roda-roda pada jarak 50 yard. ” Orang-orang Arab lalu menembakkan mortir Stokes, dan tentara Turki melarikan diri melintasi tanah terbuka. “Sial bagi mereka,” lanjut Lawrence, “Senapan mesin Lewis menembaki mereka di bentangan terbuka. Seluruh pekerjaan memakan waktu sepuluh menit, dan mereka kehilangan 70 orang tewas, 30 luka-luka dan 80 menjadi tahanan, ”sementara hanya ada satu orang Arab yang menjadi korban. Saat orang-orang Arab menjarah kereta itu, pasukan Turki lainnya tiba, yang hampir berakibat fatal pada orang-orang Badui itu. “Saya kehilangan beberapa bagasi, dan hampir kehilangan nyawa saya sendiri,” tambah Lawrence acuh tak acuh. Dalam surat lain tentang “aksi” yang sama, Lawrence mengaku, “Saya tidak akan bertahan dalam permainan ini lebih lama lagi: kegelisahan dan amarah semakin menipis …. Pembunuhan dan pembunuhan orang Turki ini mengerikan.” 

Tiga tipe senjata berbeda yang diberikan kepada para pemberontak Arab dalam jumlah besar, senapan mesin Lewis (atas); Senapan mesin Hotchkiss M1909 asal Prancis dan Mark III Short Magazine Lee Enfield (bawah); senapan mesin Vickers yang lebih berat juga tersedia, namun dalam jumlah yang lebih sedikit. (Sumber: https://www.forces.net/)

Kelelahan Lawrence meningkat ketika dia dan sekelompok penyerang yang terdiri dari 60 orang Arab gagal meledakkan jembatan kereta api penting di atas Sungai Yarmuk. Allenby telah meminta dilakukannya penyerbuan itu, dan Lawrence kemudian didera rasa bersalah atas kegagalannya ini. Belakangan, ketika mengintai persimpangan kereta api penting di Deraa, Lawrence, mencoba untuk menyamar sebagai orang Sirkasia berkulit terang, dan ditangkap oleh tentara Turki, dibawa ke komandan mereka dan dipukuli dengan kejam sebelum “diseret oleh dua orang, masing-masing kaki saya seolah-olah ingin memisahkan saya: sementara orang ketiga menunggangi saya. ” Lawrence melarikan diri, tetapi siksaan malam itu membakar kesadaran dan jiwanya, serta secara emosional melukai dia. Meskipun tragedi pribadi itu sangat besar, peristiwa global telah menyapu tatanan lama dan membentuk kembali sejarah dunia. Pada bulan November, Kaum Bolshevik merebut kekuasaan di Rusia, menerbitkan dokumen rahasia yang ditemukan dalam tempat penyimpanan milik Tsar Nicholas II. Salah satunya adalah mengenai Perjanjian Sykes-Picot. Pemerintah Inggris yang malu buru-buru meyakinkan orang-orang Arab bahwa syarat-syarat perjanjian itu belum diratifikasi, yang dipercaya oleh Feisal dan para pemimpin Arab lainnya hanya sebagian informasi saja. Belakangan, Deklarasi Balfour diterbitkan, yang menyatakan bahwa pemerintah Inggris dengan senang hati mendukung pembentukan tanah air bagi orang-orang Yahudi di Palestina yang sebagian besar penduduknya adalah orang-orang Arab. Kedua peristiwa itu kemudian akan berdampak besar di kawasan itu dan dunia setelah perang, hingga hari ini. 

KEMENANGAN AKHIR ATAS TURKI

Setelah istirahat selama seminggu di Kairo, Lawrence kembali ke Aqaba, yang sekarang benar-benar telah berubah. Kapal-kapal sedang menurunkan senjata, kantong koin emas, mobil lapis baja Rolls-Royce, satu skuadron pesawat terbang, dan satu batalion Korps Unta Kerajaan Inggris. Kelompok-kelompok gerilyawan pejuang Arab sekarang disebut sebagai Tentara Arab Utara, dan Tentara Reguler Arab kabarnya berjumlah sekitar 6.000 orang. Pada bulan Januari 1918, Lawrence dan pasukan Arab yang dipimpin oleh saudara laki-laki Feisal, Zeid membantu mengarahkan rencana pertempuran yang terkenal dalam seluruh rangkaian kampanye pemberontakan orang-orang Arab. Di Tafileh, sebuah desa di selatan Laut Mati, mereka diserang secara frontal oleh tiga batalyon Turki. Berbaris menuju zona tembak dari orang-orang Arab, tentara Turki kemudian dikalahkan di medan tempur oleh serangan balik yang fleksibel oleh orang-orang Arab. Dalam kekalahan yang mengikuti berikutnya, 400 orang Turki tewas dan lebih dari 200 ditawan dalam apa yang oleh sejarawan militer Basil Liddell Hart disebut sebagai “sebuah karya hebat kecil dalam hal strategi”. Lawrence kemudian dianugerahi medali Distinguished Service Order atas aksinya itu, dan pada bulan Maret dia dipromosikan menjadi letnan kolonel. Meskipun lelah secara mental dan fisik dan ingin agar Allenby menugaskannya kembali ke pekerjaan yang lebih tenang, Lawrence harus terus bertempur. Sepanjang musim semi dan musim panas 1918, ketika Jerman melakukan serangkaian serangan besar-besaran untuk memenangkan perang di Front Barat, Allenby menyusun rencana untuk menggunakan kekuatan yang tersedia baginya untuk melancarkan serangan terakhir ke Damaskus, dengan menugaskan orang-orang Badui bawahan Feisal untuk tugas memotong jalur kereta api dan telegraf. Dalam langkah taktis yang luar biasa, Allenby menyuruh orang-orang Arab melakukan serangan tipuan di Amman, yang berhasil menarik pasukan Turki ke arah itu sementara tentara utama Inggris melancarkan serangan menentukan ke posisi Turki yang melemah di Levant. Ketika Jenderal Allenby melancarkan serangannya terhadap Turki di Palestina pada akhir September 1918, pertempuran dengan pasukan Turki cepat berkembang menjadi kekalahan telak bagi pasukan Turki. Satu-satunya jalan keluar yang dibiarkan terbuka bagi pasukan Turki adalah melalui Yarmouk, melewati jalur rel kereta api di Deraa. Yang bertugas untuk menghadapi orang-orang Turki begitu mereka keluar dari lembah adalah T.E. Lawrence dan ribuan pasukan pemberontak Arab. Satu tahun setelah pengalaman buruknya di Deraa, Lawrence kembali ke tempat penyiksaannya dan sekarang dia akan melakukan balas dendam yang mengerikan.

Pasukan Turki di kota Aleppo, Syria. Pada hari-hari akhir kesultanan Ottoman di jazirah Arab, satuan-satuan Turki kerap menjadi sasaran pembantaian dari pasukan pemberontak Arab pimpinan Lawrence. (Sumber: https://www.forces.net/)
Ilustrasi penyerangan pasukan sekutu atas posisi Turki di Mudawwarah. Keberadaan pasukan pemberontak Arab di pihak sekutu, sangat menguntungkan dalam mengikat sejumlah besar pasukan Turki, yang mungkin bisa digunakan untuk melawan pasukan sekutu. (Sumber: https://www.forces.net/)

Pagi-pagi sekali tanggal 19 September 1918, Lawrence dan para pengikutnya mulai menyelinap keluar dari kastil Azraq, menuju kota tempat Lawrence disiksa. Dengan empat mobil lapis baja, 40 senapan mesin, empat senjata artileri, dua pesawat dan 8.000 personel dari suku-suku Arab, Lawrence dan Feisal menyapu ke kota Deraa dan membantai bagian belakang dari Tentara Keempat Turki. Pada tanggal 27 September, setelah tiba di desa Tafas, di mana orang-orang Turki yang melarikan diri telah membantai banyak penduduk, Lawrence memerintahkan anak buahnya untuk “tidak mengambil tawanan”. Sepanjang hari itu, para pemberontak menyerang barisan-barisan tentara Turki yang mundur sebanyak 4.000 orang, membantai semua yang mereka temukan, tetapi ketika Lawrence melakukan pengecekan sore harinya, dia menemukan satu unit tidak melaksanakan perintahnya dan menangkap 250 orang Turki dan Jerman. “Kami kemudian mengarahkan Hotchkiss (senapan mesin) kami pada para tahanan,” katanya dalam laporan medan perangnya, “dan menghabisi mereka.” Lawrence bahkan lebih eksplisit menceritakan tentang tindakannya hari itu di buku Seven Pillars. “Dalam kegilaan yang muncul dari kengerian di Tafas kami membunuh dan membunuh, bahkan menembaki kepala-kepala mereka yang tewas dan hewan-hewan, seolah-olah kematian dan darah mereka yang mengalir dapat mematikan penderitaan kami.” Setelah itu bergabung dengan unit kavaleri Inggris, mereka dengan cepat berbaris ke utara menuju Damaskus. Lawrence mendorong pasukan Arab, memastikan bahwa mereka akan memasuki kota terlebih dahulu dan dengan demikian bisa menetapkan otoritas mereka untuk mempengaruhi pembicaraan damai sesudahnya. Berkendara dengan Rolls-Royce tender, Lawrence memasuki kota pada tanggal 1 Oktober ketika penduduk membanjiri jalan-jalan, dengan berteriak, “Feisal! Urens! “- seperti yang orang Arab mengucapkan” Lawrence. ” “Dari cangkir ini,” Lawrence kemudian menulis, “Saya minum sedalam yang seharusnya dilakukan orang mana pun, ketika kami mengambil Damaskus: dan merasa kenyang dengannya.” Perangnya telah usai. Tetapi ketika Allenby mencapai Damaskus dua hari kemudian, dia memanggil Lawrence dan Faisal ke Hotel Victoria untuk memberi tahu mereka bahwa, seperti yang dijelaskan dalam perjanjian Sykes-Picot, kota itu akan ditempatkan di bawah pemerintahan Prancis. Tidak lama setelah Faisal yang kecewa meninggalkan ruangan, Lawrence memohon kepada Allenby agar dibebas-tugaskan dari tugasnya. Namun, ketika pasukan Inggris memasuki Yerusalem pada tanggal 11 Desember, Allenby kemudian mengundang Lawrence untuk masuk bersamanya dengan berjalan kaki. Seragam resmi lalu dipinjamkan untuk Lawrence, yang mana ia menyukainya. “Bagi saya,” dia kemudian menulis, “itu adalah momen tertinggi dalam perang.” Tapi Lawrence tetap kecewa melihat rekan-rekan Arabnya dikhianati oleh janji-janji Inggris. 

T E Lawrence, yang dikenal sebagai Lawrence of Arabia, mengenakan kostum tradisional Arab di balkon Hotel Victoria di Damaskus pada tanggal 3 Oktober 1918, setengah jam setelah dia mengundurkan diri dari posisinya di Angkatan Darat Arab. Perjanjian Sykes-Picot yang mengeliminir penguasaan orang-orang Arab atas wilayah Syria, Lebanon, Mesopotamia dan Palestina telah membuat Lawrence dan pemimpin-pemimpin pemberontak Arab lainnya kecewa. (Sumber: https://www.iwm.org.uk/)

GAGAL MEMPERJUANGKAN KEPENTINGAN BANGSA ARAB

Ketika pemerintah Sekutu yang menang berencana untuk bertemu dengan musuh mereka yang ditaklukkan di Versailles pada tahun 1919, Lawrence menyampaikan pandangannya tentang wilayah tersebut kepada kabinet Inggris. Dia memperoleh prestise dan ketenaran tambahan ketika, dalam audiensi pribadi dengan Raja George V, dia menolak untuk menerima lencana penghargaan yang telah diterimanya, dengan alasan bahwa janji Inggris belum terpenuhi kepada orang-orang Arab. Lawrence pergi ke Paris dengan delegasi Inggris ke konferensi perdamaian pada bulan Januari sebagai penasihat dan penerjemah untuk Feisal. Pada konferensi tersebut, didepan pers dan pada pertemuan sosial, Lawrence mengutarakan kepentingan-kepentingan orang Arab. Pada saat yang sama, dia mulai mengerjakan buku Seven Pillars-nya. Timur Tengah, bagaimanapun, hanya mendapat sedikit prioritas bagi negara-negara besar pemenang perang. Dengan niat Inggris dan Prancis untuk membagi wilayah Timur Tengah, Lawrence kembali ke Inggris untuk menulis, menolak semua tawaran untuk berkarir dalam pemerintahan. Pada tahun 1919, jurnalis Lowell Thomas, yang pernah bertemu Lawrence sebentar selama perang, memulai menampilkan serangkaian gambar-gambar tentang pertempuran di Timur Tengah. Eksibisi ini terbukti sangat sukses, dan “Lawrence of Arabia” menjadi terkenal. Meskipun bualan Thomas terkadang murni fantasi — seperti melabeli Lawrence sebagai “raja Arab yang tidak dimahkotai” dan sejenisnya — Lawrence menggunakan kepopuleran baru dirinya untuk menghidupkan kembali upayanya untuk mencari penyelesaian yang adil bagi orang-orang Arab. Dia juga memulai kampanye penulisan surat di The Times dan di tempat lain. Namun, pada tahun 1920, Prancis telah mengusir Feisal dari Suriah dan orang-orang Arab memberontak melawan pemerintahan mandat Inggris di Irak. Lawrence lalu bergabung dengan Winston Churchill di Kantor pemerintahan Kolonial untuk mencari solusi, yang akhirnya membuat Feisal menjadi raja Irak dan saudaranya Abdullah menjadi raja Transyordania. Itu, menurut Lawrence, adalah penyelesaian yang terhormat.

Rombongan Emir Faisal di Versailles, selama Konferensi Perdamaian Paris tahun 1919; kiri ke kanan: Rustum Haidar, Nuri al-Said, Pangeran Faisal (depan), Kapten Pisani (belakang), Lawrence, pelayan Faisal (nama tidak diketahui), Kapten Hassan Khadri. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Tapi Lawrence sendiri adalah orang yang hancur. Tubuhnya dirusak oleh penyakit dan penurunan berat badan serta bekas luka yang disebabkan oleh puluhan luka. Perang, trauma psikologis yang mendalam yang dideritanya di Deraa, politik, menulis buku Seven Pillars dan status selebritinya semuanya telah merugikan dirinya, dan dia menjadi tertekan dan tersiksa oleh kecemasan eksistensial. Indikasi yang mengerikan dari bebannya adalah bahwa sejak tahun 1923 dan seterusnya, Lawrence mengatur agar dirinya sendiri rutin dipukuli oleh orang lain. Apakah itu karena penyesalan, hukuman atau untuk menekan dorongan yang tidak diinginkannya, hal ini tidak diketahui. Sebagai sarana istirahat, ia bergabung dengan jajaran Royal Air Force (RAF) dengan nama John Hume Ross pada tahun 1922. Ketika sosoknya diungkap oleh pers, ia diberhentikan, tetapi ia bergabung dengan Royal Tank Corps tahun berikutnya di bawah nama alias dari TE Shaw. Pada tahun 1926, ia menyelesaikan bukunya “Seven Pillars of Wisdom”, yang hanya tersedia bagi mereka yang berlangganan. Saat itu dia sudah kembali ke RAF dan ditempatkan di India ketika  “Revolt in the Desert”, ringkasan populer dari bukunya, diterbitkan dan langsung menjadi terkenal. Lawrence juga menulis sebuah novel, “The Mint”, tentang kehidupan di RAF, dan menyelesaikan terjemahan modern dari buku tulisan Homerus “Odyssey” yang sangat dipuji. Dia juga terus berkorespondensi dengan beberapa artis dan politisi paling berpengaruh saat itu. Dengan dihantui terus oleh pers, yang sekarang mengklaim bahwa dia adalah mata-mata di India, dia kembali ke Inggris, di mana dia tinggal dalam pengasingan di Clouds Hill, pondoknya di wilayah Dorset. Kemudian ditempatkan di Plymouth, dia berpengaruh dalam desain kapal penyelamat berkecepatan tinggi untuk RAF. Dia juga menikmati salah satu gairah terbesar dalam hidupnya, yakni mengendarai sepeda motor. Dia pensiun dari RAF pada bulan Maret 1935, tetapi hanya dua bulan kemudian, pada tanggal 13 Mei, dia terluka dalam kecelakaan sepeda motor di dekat Clouds Hill, dan meninggal enam hari kemudian karena cedera kepala di usia 46 tahun.

Lawrence dengan sepeda motor Brough Superior SS100 yang dia sebut sebagai “George V” tahun 1925. Lawrence meninggal tahun 1935 saat mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Peter O’Toole sebagai Lawrence dalam film ‘Lawrence of Arabia’, (1962). Sosok Lawrence diabadikan dalam puluhan buku, film, dan drama, bahkan video game. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Lawrence yang mencari ketenaran akhirnya membenci hal itu. Dia ingin diterima oleh orang lain, namun dia adalah seorang individualis yang kuat. Dia adalah pria yang sangat kesepian meski memiliki banyak teman. Orang yang kutu buku, dan mungkin cinta pertamanya dalam hidup adalah menulis dan sastra. Tapi bakatnya sebenarnya sangat banyak, dan dia unggul dalam segala hal yang dia lakukan. Dari campuran karakter seperti itu, lahirlah orang-orang jenius. Orang seperti Lawrence jarang muncul, karena dia berani bermimpi dan mengubah mimpinya menjadi kenyataan. Hingga hari ini, T.E. Lawrence tetap menjadi salah satu tokoh paling ikonik di awal abad ke-20. Kisah hidupnya telah menjadi subyek utama dari setidaknya tiga film — termasuk satu yang dianggap sebagai mahakarya, yakni film “Lawrence Of Arabia” buatan tahun 1962, yang disutradarai oleh David Lean — lebih dari 70 biografi, beberapa drama dan artikel, monograf, dan disertasi yang tak terhitung banyaknya. Memoar masa perangnya, “Seven Pillars of Wisdom”, kemudian diterjemahkan ke dalam lebih dari selusin bahasa, dan tetap dicetak hampir satu abad penuh setelah publikasi pertamanya. Seperti yang dicatat Jenderal Edmund Allenby, komandan pasukan Inggris di Timur Tengah selama Perang Dunia I, Lawrence tidak ada duanya: “Tidak ada orang lain yang saya kenal,” ia menegaskan, “yang dapat mencapai apa yang dilakukan Lawrence.” Di dunia Arab, ingatan tentang Lawrence jauh lebih beragam; memang, perubahan pandangan tentang dirinya di sana menggarisbawahi kepahitan yang masih terasa diantara orang-orang atas perdamaian yang diberlakukan hampir seabad yang lalu. Beberapa orang berpikir dia benar-benar berusaha membantu orang-orang Arab jawabnya, tetapi yang lain berpikir itu semua hanya tipuan, dan bahwa Lawrence sebenarnya bekerja untuk Kerajaan Inggris selama itu. Inilah ironi dari sosok T.E. Lawrence, yang kerap berseberangan pandangan dengan pemimpin bangsanya, namun dipandang curiga oleh sebagian orang dari bangsa lain yang ia perjuangkan. Mungkin cukup tepat jika dikatakan Lawrence adalah figur yang kesepian dan gelisah dengan dirinya dan dunia dimana dia hidup.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

T.E. Lawrence: The Enigmatic ‘Lawrence of Arabia’ by O’Brien Browne, October 2003

The True Story of Lawrence of Arabia By Scott Anderson, SMITHSONIAN MAGAZINE, JULY 2014

https://www.smithsonianmag.com/history/true-story-lawrence-arabia-180951857/?all

WHO WAS LAWRENCE OF ARABIA?

https://www.iwm.org.uk/history/who-was-lawrence-of-arabia

Lawrence of Arabia: The man behind the robes

https://www.nam.ac.uk/explore/lawrence-arabia-man-behind-robes

T.E. Lawrence — The Man Who Was Lawrence of Arabia by Steve Newman; Jul 24, 2018

https://stevenewmanwriter.medium.com/the-man-that-was-lawrence-of-arabia-part-1-f2dd5f69b540

Guerrilla of Arabia: How one of Britain’s most brilliant military tacticians created the Taliban’s battle strategy By Neil Faulkner; Sunday 23 October 2011

https://www.google.com/amp/s/www.independent.co.uk/news/world/asia/guerrilla-arabia-how-one-britain-s-most-brilliant-military-tacticians-created-taliban-s-battle-strategy-2081555.html%3Famp

Leading the Arab revolt, Tue 11 Nov 2008 19.01 EST

https://www.google.com/amp/s/amp.theguardian.com/world/2008/nov/12/lawrence-of-arabia-arab-revolt

Exit mobile version