Mikoyan MiG-31 (Rusia: Микоян МиГ-31; kode NATO: Foxhound) adalah pesawat pencegat supersonik yang dikembangkan untuk digunakan oleh Angkatan Udara Soviet. Pesawat ini dirancang oleh biro desain Mikoyan sebagai pengganti dari MiG-25 “Foxbat“. MiG-31 didasarkan pada dan dikenal berbagi elemen desain dengan MiG-25. MiG-31 adalah salah satu jet tempur tercepat di dunia. Jet ini terus dioperasikan oleh Angkatan Udara Rusia dan Angkatan Udara Kazakhstan setelah berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Kementerian Pertahanan Rusia mengharapkan bahwa MiG-31 akan tetap bisa beroperasi hingga tahun 2030 atau lebih; yang dikonfirmasi pada tahun 2020 ketika pengumuman dibuat untuk memperpanjang masa operasionalnya dari 2.500 menjadi 3.500 jam terbang pada pesawat yang sudah ada.
LATAR BELAKANG PENGEMBANGAN
Meskipun MiG-25 merupakan kemajuan yang cukup besar dalam desain pesawat tempur, tetapi itu tidaklah cukup, dan desain-desain pesawat canggih asal Amerika yang diperkenalkan pada 1970-an mulai mengikis keunggulannya. Akibatnya, Soviet kemudian mengembangkan turunan MiG-25 yang jauh lebih baik dan lebih canggih, yakni “MiG-31”, dan berkeinginan untuk menerjunkannya dalam jumlah besar. MiG-25 yang berkursi satu dapat mencapai kecepatan, ketinggian, dan tingkat kecepatan menanjak yang tinggi; namun, kemampuan manuvernya kurang pada saat terbang dalam kecepatan intersepsi dan sulit untuk diterbangkan pada ketinggian rendah. Kecepatan MiG-25 biasanya terbatas pada Mach 2,83, walau bisa mencapai kecepatan maksimum Mach 3,2 atau lebih dengan risiko mengalami kerusakan mesin. Sementara badan pesawatnya berkemampuan terbang di kecepatan Mach 3, MiG-25 hanya dapat mencapai dan mempertahankan kecepatan seperti itu dalam semburan singkat dengan mesin yang rentan terhadap “kebakaran” selama aktivitas yang berkepanjangan. Masa pakai mesinnya juga pendek – masing-masing diperkirakan sekitar 150 jam – dan terbukti haus bahan bakar karena mesinnya bertenaga, yang selanjutnya membatasi jangkauan operasionalnya. Dengan demikian, pilot Foxbat diinstruksikan untuk mengoperasikan mesin mereka di sekitar kecepatan Mach 2.8 dan pengoperasian reguler Foxbat secara keseluruhan umumnya dibatasi. Faktanya, adalah versi latih Foxbat berkursi dua yang akan lebih banyak terbang daripada rekan-rekan varian pencegat / pengintai satu kursinya. Selain itu, Foxbat – dibangun murni untuk kinerjanya – secara inheren menunjukkan pengendalian yang buruk saat terbang di ketinggian rendah dan kurang dalam hal kemampuan manuver – dia bukanlah petempur “sejati” jika dibandingkan dengan pesawat-pesawat tempur lincah buatan Barat dan memang tidak pernah dirancang seperti itu. Sementara itu selama tahun 1960-an, negara-negara Barat semakin berfokus pada taktik serangan di ketinggian rendah, yang diperkirakan akan sangat efektif dalam menembus pertahanan udara Soviet.
Sebagai tanggapan, Soviet lalu menginvestasikan banyak upaya untuk membangun pertahanan udara mereka. Setelah mempertimbangkan sejumlah opsi yang berbeda, pada tahun 1968 pekerjaan desain dilanjutkan pada seri pencegat MiG-25. Pesawat yang kemampuannya ditingkatkan dimaksudkan untuk memberikan peningkatan secara umum pada kemampuan dan efektivitas dari Foxbat. OKB Mikoyan kemudian sempat mempertimbangkan desain yang lebih radikal untuk memenuhi persyaratan sejak awal, termasuk pemakaian konfigurasi sayap ayun dan sayap delta, tetapi pada akhirnya mereka memutuskan bahwa akan lebih efektif untuk mempertahankan desain dasar MiG-25, dan memberikannya perbaikan menyeluruh. Penelitian dari OKB lalu mengarah pada pesanan untuk membuat pengembangan penuh dan dua prototipe, dengan pengerjaan desain dilakukan oleh tim di bawah pimpinan Gleb Lozino-Lozinsky dari Mikoyan OKB, dan prototipenya dibuat di bengkel OKB. Pengembangan pengganti MiG-25 ini dimulai dengan prototipe Ye-155MP (Rusia: Е-155МП), yang terbang perdana pada tanggal 16 September 1975, dengan Fedotov di kontrol kemudi, dan prototype yang kedua menyusul pada bulan Mei 1976. Meskipun memiliki kemiripan fisik dengan MiG-25, ia memiliki badan pesawat yang lebih panjang untuk mengakomodasi kokpit bagi operator radar dan dalam banyak hal merupakan desain yang sama sekali baru. Perkembangan penting lainnya adalah radar canggih MiG-31, yang mampu melakukan look-up and look-down/shoot-down engagement, serta multiple target tracking. Hal ini memberikan Uni Soviet sebuah pencegat berkemampuan melawan sebagian besar target udara penyusup dari negara-negara Barat (rudal jelajah yang terbang rendah dan pesawat pembom) dari jarak jauh. MiG-31 menggantikan Tu-128 sebagai pesawat pencegat jarak jauh khusus Uni Soviet, dengan sensor dan senjata yang jauh lebih canggih, sementara jangkauannya hampir dua kali lipat dari MiG-25. Seperti pendahulunya MiG-25, pengenalan MiG-31 dikelilingi oleh spekulasi awal dan informasi yang salah mengenai desain dan kemampuannya. Barat belajar mengenai keberadaan pencegat baru ini dari Letnan Viktor Belenko, seorang pilot yang membelot ke Jepang pada tahun 1976 dengan MiG-25P nya. Belenko, selama interogasi dengan pihak intelijen barat menggambarkan “Super Foxbat” yang akan datang sebagai pesawat dua kursi, dengan badan pesawat yang diperkuat untuk terbang di ketinggian rendah, dan memiliki radar berkemampuan look-down / shoot-down yang kuat, serta berkemampuan untuk mencegat rudal jelajah. Menurut kesaksiannya, pencegat baru itu akan memiliki air intake yang mirip dengan Mikoyan-Gurevich MiG-23, yang faktanya tidak dimiliki oleh MiG-31, setidaknya dalam varian produksi.
Detail berlebihan yang kemudian bocor di pers Barat menghasilkan novel technotriller terlaris, FIREFOX karya Craig Thomas, yang memunculkan pesawat tempur super Soviet dengan kecepatan Mach 3, berkemampuan lepas landas vertikal, dan sistem pengendalian pikiran yang berhubungan langsung atas sistem pesawat; novel itu pada gilirannya mengarah ke pembuatan salah satu film terburuk yang pernah dibuat Clint Eastwood. Pada tahun 1978, satelit mata-mata AS mengamati salah satu pesawat evaluasi, yang terbang pada ketinggian 6.000 meter (20.000 kaki), mencegat drone target yang meniru performa rudal jelajah sepanjang 60 meter (200 kaki) yang terbang pada jarak 20 kilometer (12,5 mil). Hal itu mengesankan, sekaligus dengan pihak Soviet tahu bahwa satelit mata-mata Amerika senantiasa mengamati, momen semacam ini menjadi kesempatan mereka memamerkan kemampuan teknologi militernya. Fase pertama pengembangan selesai pada bulan Desember 1978. Fase kedua dimulai pada September 1979 dan berakhir pada bulan September 1980. Uji coba kemudian terus berlanjut hingga tahun 1980, yang mengarah ke perintah formal pada tanggal 6 Mei 1981 untuk melakukan produksi penuh dari apa yang semula disebut “MiG-25MP” dan lalu muncul sebagai “MiG-31”. Di akhir program pengujian, kemampuan MiG-31 untuk menangkis serangan berbagai sasaran diuji. Sepuluh pesawat target dikirimkan “menyerang” wilayah Volgograd di sepanjang garis depan selebar 100 km. Semua target kemudian berhasil ditembak jatuh oleh empat MiG-31. Jenis pesawat ini lalu memasuki dinas operasional garis depan PVO pada tahun 1982, menggantikan Su-15 Flagon dan Tu-128 Fiddler. Para awak pesawat terkesan dengan kecanggihan, jangkauan, kecepatan MiG-31, dan mengatakan pesawat itu bisa mengudara “seperti roket”.
Seperti MiG-25 sebelumnya, MiG-31 tidak terlalu bisa bermanuver dan tidak akan bisa bertarung dalam pertempuran udara-ke-udara melawan pesawat tempur kontemporer seperti F-15, tetapi sebenarnya hal itu memang tidak diperlukan. Foxhound dimaksudkan untuk mendekati pesawat penyusup dengan kecepatan tinggi, menembakkan rudalnya, dan melesat pergi. NATO menamai MiG-31 dengan kode nama pelaporan “Foxhound“. Barat pada akhirnya mendapatkan gambar MiG-31 yang bagus pada tahun 1985, ketika seorang pilot F-16 Norwegia dari Skuadron ke-331 mencegat salah satu pesawat tipe itu di atas Laut Barents dan mengambil beberapa gambarnya. Itu hampir pasti merupakan kesempatan berfoto, Soviet telah lama menggunakan pencegatan seperti itu sebagai sarana untuk “memperkenalkan” pesawat barunya ke dunia Barat, dengan pesawat kembali ke pangkalannya saat “sesi foto” selesai. Namun, rincian dari MiG-31 tetaplah terbatas di tahun-tahun awal itu. Namun, rincian MiG-31 masih sedikit dan jauh di tahun-tahun awal itu. Satu sumber menyatakan bahwa setidaknya ada satu varian MiG-31 diidentifikasi sebagai pesawat satu kursi – meskipun tidak pernah ada MiG-31 dengan satu kursi. Asisten Menteri Luar Negeri AS Donald Latham malah yakin bahwa MiG-31 sekarang telah mengalahkan kemampuan F-15, atau pesawat tempur AS modern lainnya dalam hal ini. Begitulah gambaran “intelijen” yang terkadang tidak akurat di negara-negara Barat selama Perang Dingin.
DESAIN
Seperti MiG-25, MiG-31 adalah pesawat bermesin ganda besar dengan saluran masuk udara yang dipasang di samping, sayap dipasang di bahu dengan rasio aspek 2,94, dan sirip ekor vertikal kembar. Berbeda dengan MiG-25, pesawat ini memiliki dua kursi, dengan bagian belakang ditempati oleh petugas khusus sistem senjata. Soviet pada akhirnya memutuskan bahwa pendekatan pertahanan udara yang sepenuhnya dikendalikan dari darat terlalu tidak fleksibel, sehingga MiG-31 dirancang untuk dapat “berburu” lawan dan bertempur kurang lebih secara mandiri, dengan petugas di kursi belakang mengarahkan pilot ke sasaran menggunakan perangkat sensor yang jauh lebih baik, dan mengendalikan sistem senjata. Kedua kru ditempatkan bersama-sama di bawah kanopi clamshellberengsel belakang, meskipun tim desain sempat juga mempertimbangkan pengaturan kru yang duduk berdampingan. Kokpit MiG-31 dilengkapi dengan perangkat avionik digital seperti MFD (displaymultifungsi) dan liquid crystal displays (LCD), yang memberikan pembacaan instrumen terbaru dan informasi radar. Para awak duduk di kursi lontar Zvezda K-36DM “zero-zero” (kecepatan nol, ketinggian nol), yang memiliki bantalan pijatan bawaan untuk membuat kru lebih nyaman dalam misi patroli yang panjang. Kokpit pesawat dicat menggunakan skema warna biru kehijauan, yang sering digunakan pada pesawat-pesawat buatan Soviet-Rusia, yang telah dinilai oleh ahli ergonomi Soviet sebagai warna yang menenangkan bagi awak pesawat. Kokpit belakang menampilkan seperangkat kontrol penerbangan sederhana dan periskop yang dapat ditarik, untuk memungkinkan awak di kursi belakang membawa pulang pesawat dalam keadaan darurat, serta memberikan kesempatan untuk penggunaan dalam pelatihan penerbangan tanpa memerlukan varian khusus pelatih. Meskipun kontrol kokpit digandakan di seluruh kokpit, biasanya pesawat terbang hanya diterbangkan dari kursi depan. Pilot menerbangkan pesawat dengan tongkat di tengah dan throttle di tangan kiri. Kokpit belakang hanya memiliki dua port penglihatan kecil di sisi kanopi. Kehadiran WSO (operator sistem senjata) di kokpit belakang meningkatkan efektivitas pesawat, karena WSO sepenuhnya didedikasikan untuk pengoperasian radar dan senjata, sehingga mengurangi beban kerja pilot dan meningkatkan efisiensi. Kedua kokpit ini dilengkapi dengan kursi ejeksi zero/zero yang memungkinkan awak untuk melontarkan diri di ketinggian dan kecepatan udara berapa pun.
Sayap MiG-31 sangat berbeda dari sayap MiG-25, dengan ekstensi pangkal sayap terdepan dengan sudut 70 derajat dan penampang yang lebih tipis. Setiap sayap menampilkan empat leading-edge flaps; dua bilah trailing-edge; dan outboard flaperon. Leading-edge flaps dioperasikan secara otomatis pada kecepatan rendah, dan juga digunakan untuk bermanuver dalam pertempuran. Badan pesawat dan saluran masuk udara mesin dirancang untuk berkontribusi pada daya angkat pesawat. Badan pesawat yang didesain ulang juga menampilkan peningkatan dalam hal kapasitas penyimpanan bahan bakar. Rem udara dipasang di bawah lubang masuk udara mesin dan di depan pintu roda utama. Roda pendaratan yang digunakan juga baru dan unik. Roda dua didepan dipasang agak ke depan secara relatif dibanding MiG-25, dan ditarik ke belakang, bukan ke depan seperti pada MiG-25, serta roda utama menampilkan konfigurasi dua roda, disusun berurutan tetapi tidak dalam satu garis. Itu dirancang untuk mencegah roda belakang mengikuti jalur yang dibuat oleh roda depan saat bergulir di atas salju atau lumpur. MiG-31 menggunakan parasut rem ganda bersilangan, disimpan di fairing di antara dan di atas knalpot mesin. Uni Soviet tidak memiliki sistem pertahanan udara berbasis darat yang berkelanjutan seperti pertahanan udara AS-Kanada; MiG-31 kemudian dapat digunakan untuk menutup celah tersebut. Kemampuan manuver MiG-31 dibatasi hingga lima g saat terbang dengan kecepatan supersonik. Saat terbang di bawah bobot tempur, wing-loading nya tergolong kecil dan rasio daya dorong-dibanding-bobotnya masih menguntungkan. MiG-31 tidak dirancang untuk bertempur dari jarak dekat atau untuk melakukan belokan cepat. Meski demikian sayap dan badan pesawat MiG-31 lebih kuat daripada MiG-25, yang memungkinkannya untuk terbang supersonik di ketinggian rendah.
Badan pesawat MiG-31 menampilkan lebih banyak bahan titanium alloy dan aluminium daripada MiG-25. Seperti MiG-25, body-nya dibangun terutama dari nickel-steel alloy, yang memungkinkan pesawat ini untuk mentolerir pemanasan kinetik pada kecepatan udara mendekati Mach 3. Badan pesawat MiG-31 terdiri dari 49% arc-welded nickel steel, 33% light metal alloy, 16% titanium dan 2% komposit. Mesin jet D30-F6-nya (diambil dari basis mesin D-30 pesawat angkut Tu-134), masing-masing memiliki daya dorong mengesankan sebesar 152 kN, yang memungkinkan MiG-31 untuk terbang dalam kecepatan maksimum Mach 1,23 pada ketinggian rendah. Mesin ini juga lebih irit bahan bakar dibanding dengan mesin RB-15 sebelumnya. Kecepatan di ketinggian tingginya di-setting berdasarkan suhu maksimum-nya menjadi Mach 2,83 – meski rasio thrust-to-drag nya cukup untuk terbang dalam kecepatan melebihi Mach 3, tetapi kecepatan seperti itu menimbulkan bahaya yang tidak dapat diterima untuk masa pakai mesin dan badan pesawat dalam penggunaan rutin. Saluran udara mesin, yang merupakan salah satu fokus desain, memastikan efisiensi yang lebih baik, menampilkan rampsaluran masuk yang bergerak atas dan bibir saluran masuk yang bergerak lebih rendah. Terdapat juga pintu saluran masuk tambahan di atas saluran masuk. MiG-31 dapat terbang dengan kecepatan menanjak 208 meter per detik dan memiliki kemampuan terbang di kecepatan 3.000 km/jam. Jangkauan feri dan tempur dari pesawat ini masing-masing adalah 3.300 km dan 720 km. Berat lepas landas maksimum MiG-31 adalah 46.200kg. Jangkauan jelajah dan kapasitas wing loading-nya masing-masing adalah 1.620m dan 665kg/m², sedangkan g-load maksimum-nya adalah 5g.
MiG-31 adalah salah satu pesawat pertama dengan radar phased array, dan salah satu dari dua pesawat di dunia yang mampu menembakkan rudal udara-ke-udara jarak jauh secara mandiri pada tahun 2013. MiG-31 adalah pesawat tempur operasional pertama di dunia dengan radar passive electronically scanned array (PESA), Zaslon (“Shield” / kode NATO “Flash Dance“) SBI-16 (S-800). Radar ini dikembangkan untuk proyek pesawat pencegat berat Tupolev Tu-148, dan juga direncanakan untuk dipasang pada pencegat MiG-25PA. Dengan cakupan 120 derajat, jangkauan maksimum radar ini terhadap target berukuran tempur sekitar 200 km (120 mil), dan dapat melacak hingga 10 target dan secara bersamaan menyerang empat target yang terbang dalam radius sekitar pesawat (di belakang dan di bawah pesawat, yang diprioritaskan diarahkan oleh komputer untuk misi pencegatan) dengan rudal Vympel R-33. Radar ini dicocokkan dengan sistem TP-8 infrared search and track (IRST) di fairing undernose yang dapat ditarik. Keduanya terhubung dengan sistem komputer kontrol penembakan. MiG-31 dilengkapi dengan sensor light duty (LD) / speed and direction (SD), radar track while scan(TWS), sistem IRST dan sistem radar warning receiver (RWR). Pesawat menggunakan sebagian dayanya untuk melacak target dan sisanya untuk memindai. Sistem radar TWS di pesawat menggunakan dua teknologi baru – radar phased array dan perangkat memori komputer. Sementara itu sensor IRST mendeteksi dan melacak pesawat jet dan helikopter yang memancarkan sinar inframerah, sedangkan sistem RWR mendeteksi sistem radar yang memancarkan gelombang radio melalui tanah atau udara. RWR terdiri dari unit tampilan visual (VDU) di kokpit yang memantau radar dengan menghasilkan suara yang dapat didengar. MiG-31 dilengkapi dengan RK-RLDN and APD-518 digital secure datalinks. Tautan data RK-RLDN adalah untuk komunikasi dengan pusat kendali darat. Tautan data APD-518 memungkinkan penerbangan empat pesawat MiG-31 untuk secara otomatis bertukar data yang dihasilkan radar dalam jarak 200 km (120 mil) dari satu sama lain. Hal ini juga memungkinkan pesawat lain dengan avionik yang kurang canggih, seperti MiG-23, 25, dan 29 dan Su-15 dan 27, untuk diarahkan ke target yang terlihat oleh MiG-31 (maksimum empat (target jarak jauh) untuk setiap pesawat MiG-31). Pesawat Ilyushin A-50 “Mainstay” AEW dan MiG-31 dapat secara otomatis menukar informasi target radar udara dan terestrial, serta pertahanan udara. MiG-31 dilengkapi dengan perangkat ECM bagi radar dan penjejak inframerah. Peralatan navigasi penerbangan MiG-31 mencakup kompleks sistem kontrol otomatis SAU-155МP dan kompleks navigasi pencitraan KN-25 dengan dua sistem inersia dan IP-1-72A dengan komputer digital, sistem navigasi jarak jauh elektronik Radical NP ( 312) atau A-331, sistem elektronik navigasi jarak jauh A-723. Sistem avigasi radio jauh dilakukan melalui dua sistem: Chayka (mirip dengan sistem Loran) dan «Rute» (mirip dengan sistem Omega).
Mirip dengan sistem rudal pertahanan udara jarak jauh S-300 yang kompleks, grup pesawat dengan sistem APD-518 dapat berbagi data yang diperoleh oleh berbagai radar dari arah yang berbeda (pemindaian radiasi aktif atau pasif) dan meringkas data yang didapat. Target dapat dideteksi secara pasif (melalui emisi jamming atau penggunaan radarnya) dan/atau secara aktif secara bersamaan dari berbagai arah (dengan pesawat MiG-31 menggunakan radarnya). Setiap pesawat dengan sistem APD-518 akan memiliki data yang akurat, meskipun tidak terlibat dalam pencarian. Pesawat MiG-31 bisa berinteraksi dengan sistem kontrol digital otomatis berbasis darat (ACS «Rubezh» Radius pengoperasian hingga 2.000 kilometer (1.200 mil), dapat mengontrol beberapa kelompok pesawat), mode pengoperasian penargetan jarak jauh, tindakan semi-otomatis (dukungan koordinat), sendiri-sendiri, dan juga: untuk mengarahkan rudal ke sasaran yang diluncurkan dari pesawat lain. Sistem kekebalan digital yang dipakai MiG-31 menyediakan pertukaran informasi taktis otomatis dalam kelompok yang terdiri dari empat pesawat pencegat, yang saling berjauhan pada jarak 200 km (120 mil) dan membidik kelompok sasaran pesawat tempur dengan perangkat avionik yang kurang kuat (dalam hal ini pesawat melakukan peran panduan atau repeater). Diadopsi pada tahun 1981 radar RP-31 N007 backstop (kode Rusia: Zaslon), memiliki kapabilitas sebagai berikut:
- Jangkauan pendeteksian target udara dengan Zaslon-A: 200 km (120 mil) (untuk target dengan penampang radar 19 m2 pada sudut perkenaan gelombang radar dengan probabilitas 0,5)
- Jarak deteksi target dengan penampang radar 3 m2 (32 sq ft) dari belakang dalam jarak 35 km (22 mil) dengan probabilitas 0,5
- Jumlah target yang terdeteksi: 24 (awalnya 10)
- Jumlah target yang bisa diserang: 6 (awalnya 4)
- Jangkauan pelacakan otomatis: 120 kilometer (75 mi)
- Deteksi target jejak inframerah: 56 kilometer (35 mil)
- Efektif dalam mendeteksi rudal jelajah dan target lainnya yang menyusur dengan kontur di darat
- Hingga tahun 2000, MiG-31 adalah satu-satunya pesawat tempur di dunia yang beroperasi yang dilengkapi dengan radar phased array, hingga kemunculan Mitsubishi F-2 dengan radar phased array aktif J/APG-1.
- Mampu mencegat dan menghancurkan rudal jelajah yang terbang di ketinggian sangat rendah.
Persenjataan utama MiG-31 adalah empat rudal udara-ke-udara R-33 (nama kode NATO AA-9 ‘Amos‘) yang dibawa di bawah perut. Terdapat satu kanon enam laras GSh-6-23 kaliber 23 mm (0,91 in), yang dipasang di fairing yang terletak jauh di belakang perut pesawat, tepat di belakang pintu roda pendaratan utama kanan. Kanon tersebut memiliki kecepatan tembak dari 6.000 hingga 8.000 peluru per menit dengan total 260 peluru bisa dibawa (Pendahulu MiG-31, MiG-25 tidak menyertakan senjata kanon). Lekukan pada badan pesawat dapat dipasangi empat rudal R-33 (AA-9 ‘Amos‘) atau empat R-37 (AA-13 ‘Arrow‘) (pada MiG-31M/BM saja). Empat pylon (awalnya dua) dibawah sayap dipakai untuk membawa kombinasi enam gantungan (dua untuk menambahkan tangki bahan bakar yang dapat dilepas), sebagai berikut:
- Enam rudal udara-ke-udara jarak jauh R-37M berjarak 280 kilometer (170 mi). R-37 atau AA-13 Axehead, rudal udara-ke-udara ditembakkan untuk pertama kalinya oleh MiG-31 pada tahun 2011 dan segera setelah memasuki produksi skala penuh di pabrik Tactical Missiles Corporation di Korolyov. Unit operasional pertama yang menerima rudal ini adalah Resimen Penerbangan Tempur ke-712 di Kansk, Distrik Militer Pusat, pada awal tahun 2018. Rudal R-37M, dengan berat 1.124 pound, ukurannya serupa dengan R-33 (1.078 pound), tetapi berkat motor roket propelan padat dua tingkat dan profil penerbangan yang dioptimalkan, jangkauannya hampir dua kali lipat lebih jauh. Rudal ini terbang ke target pada lintasan lofted, dikendalikan oleh sistem navigasi inersia dengan koreksi radio mid-course, dan menggunakan pencari radar aktif X- dan Ku-band ganda untuk serangan fase terminalnya.
- Empat rudal jarak jauh R-33 300 kilometer (190 mi) 2012.
- Rudal udara-ke-darat jarak jauh Kh-31 (berjarak 200 kilometer/120 mil) untuk target berkecepatan tinggi (bermanuver dengan muatan berlebih hingga 8 g).
- R-33 (AA-9 “Amos”) berjarak 120 kilometer (75 mi) atau R-33S yang berjangkauan 160 kilometer (99 mi). R-33 kira-kira di kelas yang sama dan sangat mirip dengan AAM jarak jauh Hughes AIM-54 Phoenix AS yang digunakan pada Grumman F-14 Tomcat. Beberapa sumber telah berspekulasi bahwa R-33 sebenarnya, lebih buruk atau lebih baik, merupakan salinan dari Phoenix, dengan detail desain yang diperoleh dari sampel rudal Phoenix yang diperoleh dari Iran setelah Revolusi Islam di negara itu. MiG-31 dapat membawa empat R-33 di ceruk di bawah badan pesawat, dalam pengaturan yang sama dengan yang digunakan oleh Tomcat untuk membawa AAM Phoenix. Sebuah R-33 mengayunkan trapeze yang digerakkan secara hidrolik saat akan diluncurkan. Keempat rudal dapat diluncurkan secara salvo, dengan masing-masing mencari target yang berbeda secara paralel. Rudal ini dapat dipandu dalam mode semi-active radar homing (SARH) untuk akuisisi target di awal dan mendapat pembaharuan data di tengah jalan. Rudal ini digunakan untuk menyerang target udara besar dan berkecepatan tinggi seperti pesawat intai SR-71 Blackbird, pembom B-1 Lancer, dan B-52 Stratofortress.
- Dua atau empat (batas maksimum) rudal jarak menengah R-40TD1 (AA-6 ‘Acrid‘) (R-40 – 50–80 kilometer (31–50 mil)), yang diluncurkan pada ketinggian 0,5–3 kilometer (0,31–1,86 mil) (bermanuver empat g).
- Empat rudal R-60 (AA-8 ‘Aphid‘).
- Empat rudal IR jarak pendek R-73 (AA-11 ‘Archer‘),
- Empat rudal jarak menengah R-77 (AA-12 ‘Adder‘) (berjangkauan 100 kilometer (62 mi)) untuk target berkecepatan tinggi (bermanuver hingga 12 g).
- Beberapa pesawat dilengkapi untuk meluncurkan rudal anti-radiasi Kh-31P (AS-17 ‘Krypton‘) dan Kh-58 (AS-11 ‘Kilter‘) dalam peran Suppression of Enemy Air Defenses (SEAD).
- Rudal anti-kapal Kh-31A (hingga enam bisa dibawa) dan rudal udara-ke-permukaan X-59 dan X-29T (hingga tiga) atau X-59M (hingga dua unit),
- Hingga enam bom udara KAB-1500 , atau hingga delapan KAB-500 dengan panduan televisi atau laser. Bobot maksimum muatan tempurnya adalah 9.000 kilogram (20.000 lb). Artinya, jika dibandingkan dengan Tu-128 atau MiG-25, MiG-31 bisa membawa senjata dua kali lebih banyak.
- Satu rudal balistik presisi tinggi Kh-47M2 Kinzhal dengan jangkauan sekitar 2.000 km (1.200 mil), dan ber kecepatan Mach 10. Rudal ini dapat membawa hulu ledak konvensional dan nuklir dan memberi kemampuan serangan jarak jauh bagi MiG-31 untuk pertama kalinya, di samping peran pencegat utamanya.
Beban bawaan tipikal dari MiG-31 adalah empat rudal R-33 di bawah badan pesawat dan dua atau empat rudal R-60 di pylon bawah sayap, atau tiga rudal R-33 di bawah badan pesawat, dengan posisi keempat diambil oleh pod pengontrol untuk dua rudal R-40 di bawah sayap. Sebuah tangki bahan bakar eksternal 2.500 liter (660 galon AS) dapat dibawa oleh setiap pylon terluar. Sekelompok empat pencegat MiG-31 mampu mengendalikan area ruang udara dengan panjang total 800 hingga 900 kilometer (500 hingga 560 mil); radarnya memiliki jangkauan deteksi maksimum 200 kilometer (120 mil) dalam jarak (radius) dan lebar deteksi kearah depan umumnya 225 kilometer (140 mi). Pemimpin penerbangan dapat mengarahkan ketiga rekannya ke target tertentu. MiG-31 juga menampilkan peningkatan pada sistem avionik lainnya, termasuk perangkat radio yang diperbarui; IFF; RWR; dan khususnya sistem navigasi NK-25, yang menampilkan receiver untuk sistem navigasi radio jarak menengah Tropik, mirip dengan sistem LORAN Amerika, dan sistem navigasi radio jarak jauh Marshrut, mirip dengan Omega asal Amerika. Salah satu motivasi untuk memperlengkapi MiG-31 dengan peralatan navigasi yang begitu lengkap adalah untuk memungkinkan Foxhound berpatroli jauh ke dalam wilayah udara Arktik untuk mencari pesawat pembawa rudal jelajah negara-negara Barat. Penerbangan percobaan yang pernah dilakukan MiG-31, termasuk misi jauh kedalam kawasan Arktik, termasuk penerbangan yang melintasi Kutub Utara. Sementara itu secara garis besar MiG-31 dirancang untuk memenuhi tujuan misi sebagai berikut:
- Mencegat rudal jelajah dan pesawat peluncurnya dengan mencapai jangkauan peluncuran rudal dalam waktu sesingkat mungkin setelah meninggalkan area berkeliaran;
- Mendeteksi dan menghancurkan rudal jelajah terbang rendah, UAV, dan helikopter;
- Pengawalan jarak jauh pembom strategis;
- Menyediakan pertahanan udara strategis di area yang tidak tercakup oleh sistem pertahanan udara berbasis darat.
MiG-31 terbukti sangat memuaskan dalam pengoperasiannya; komandan lapangan kemudian mulai mempertimbangkannya untuk misi lain, seperti mengawal pesawat patroli laut jarak jauh. Penugasan ini membuat jangkauan Foxhound perlu diperpanjang, sehingga MiG OKB merancang probe pengisian bahan bakar penerbangan semi-tarik yang dipasang di sisi kiri hidung. Probe ini lalu diperkenalkan ke dalam versi produksi standar. Produksi MiG-31 dimulai pada tahun 1979 dan produksinya berakhir pada tahun 1994. Batch produksi pertama dari 519 MiG-31 termasuk 349 “model dasar” diproduksi di pabrik Sokol antara tahun 1976 dan 1988. Batch kedua dari 101 MiG-31DZ diproduksi dari tahun 1989 hingga 1991. Batch terakhir dari 69 pesawat MiG-31B diproduksi antara tahun 1990 dan 1994. Dari batch terakhir 50 unit dipertahankan oleh Angkatan Udara Kazakhstan setelah pembubaran Uni Soviet. Dari “model dasar”, 40 pesawat diketahui telah ditingkatkan menjadi standar MiG-31BS.
VARIAN
- Ye-155MP (MiG-25MP). Modifikasi prototipe MiG-31 awal. Penerbangan pertama pada tanggal 16 September 1975.
- MiG-31. Merupakan varian pertama yang masuk dalam serial produksi. 349 pesawat dibuat.
- MiG-31M. Merupakan pengembangan versi lanjutan yang lebih komprehensif, MiG-31M, dimulai dikerjakan pada tahun 1984 dan terbang pertama kali pada tahun 1985, tetapi bubarnya Uni Soviet mencegahnya memasuki proses produksi penuh. Varian ini memiliki kaca depan bundar satu bagian, jendela samping kecil untuk kokpit belakang, bagian dorsal lebih lebar dan lebih dalam. Kontrol penerbangan digital ditambahkan pada versi ini, dengan tampilan kokpit CRT multifungsi, radar phased array multi-mode. Tidak ada senjata yang dipasang dalam model ini, dengan probe pengisian bahan bakar dipindahkan ke sisi kanan pesawat, cantelan di badan pesawat meningkat dari 4 menjadi 6 dengan menambahkan dua cantelan di garis tengah. Berat maksimum TO (Take Off) meningkat menjadi 52.000 kg (115.000 lb). Versi ini menggunakan mesin D-30F6M, bukan mesin D-30F6, yang memberi peningkatan dalam daya dorong. 1 prototipe dan 6 unit praproduksi versi ini yang dapat diterbangkan, diketahui telah diproduksi.
- MiG-31D. Di bawah naungan program “Kontakt“, dua MiG-31 khusus dibangun pada tahun 1987 sebagai pembawa rudal antisatelit (ASAT), meniru program ASAT Amerika baru-baru itu yang menggunakan jet tempur McDonnell Douglas F-15. Kedua Foxhound ini menampilkan sirip ujung sayap segitiga “”webbed feet“, seperti yang dipasang pada beberapa prototipe MiG-25, dalam hal ini dimaksudkan untuk memberikan stabilitas penerbangan yang lebih baik pada ketinggian tinggi untuk peluncuran rudal. Satu rudal besar akan dibawa di bawah badan pesawat, dan radar khusus yang menghadap ke atas serta sistem pengendalian tembakan pencegatan yang terkait harus dipasang ke pesawat versi produksi. Kanon pada pesawat telah dihapus. Permukaan bawah badan pesawat versi ini datar (yaitu tidak ada sistem senjata yang tersembunyi) dan memiliki wingletbesar di atas dan di bawah ujung sayap. Pesawat ini dilengkapi dengan rudal Vympel ASAT. Program ini kemudian dihentikan pada awal tahun 1990-an – salah satu alasan, selain akibat dari kekacauan sosial di Rusia pada saat itu, kemungkinan karena fakta bahwa upaya untuk membangun senjata ASAT secara tradisional terhenti begitu menyadari bahwa penembakan satelit pihak lain, hanya akan mengundang pembalasan yang sama, dan dapat membawa konsekuensi yang lebih buruk. Pesawat-pesawat ini diberi sebutan “MiG-31D”, yang terkadang juga membingungkan diterapkan pada produksi awal MiG-31 dengan probe pengisian bahan bakar, serta varian Foxhound lainnya yang membingungkan, baik yang nyata maupun imajiner. Hanya dua prototipe dari tipe ini yang sempat dibuat. Program MiG-31D muncul lagi pada akhir tahun 1990-an sebagai proposal “MiG-31A”, pesawat yang digunakan untuk meluncurkan satelit kecil (“smallsat“) berbobot hingga 100 kilogram (220 pon) ke orbit, bukan sebagai sebuah pesawat pencegat ASAT. Program ini juga tidak berhasil, tetapi pada tahun 2005 kolaborasi organisasi Rusia dan Kazakhstan mengumumkan bahwa program untuk melakukan peluncuran wahana luar angkasa dengan MiG-31 telah dimulai dengan dukungan dari pemerintah kedua negara. Boosterbahan bakar padat bernama “Ishim“, diambil dari nama sungai yang mengalir melalui Rusia dan Kazakhstan, dirancang dan dibangun sebagai bagian dari program, dengan Ishim mampu menempatkan satelit seberat 160 kilogram (350 pon) ke orbit Bumi di ketinggian rendah. Idenya menarik, tetapi kemudian menghilang – sampai pada tahun 2017, konsep ASAT muncul kembali, dengan MiG-31BM menjadi platform peluncurannya. Terdapat pembicaraan lebih lanjut tentang penggunaan MiG-31 sebagai peluncur ASAT atau smallsat, tapi itu masih dalam tahap pembicaraan saja.
- MiG-31LL, Merupakan versi modifikasi khusus yang digunakan sebagai laboratorium terbang untuk pengujian kursi ejeksi selama penerbangan.
- MiG-31 01DZ, versi pencegat dua kursi berkemampuan segala cuaca dan ketinggian. Dinamai sebagai MiG-31 01DZ ketika dilengkapi dengan probe pengisian bahan bakar udara-ke-udara. Seratus varian DZ diketahui diproduksi.
- MiG-31B, adalah varian batch produksi kedua dengan perangkat avionik yang ditingkatkan dan probe pengisian bahan bakar dalam penerbangan. Versi ini diperkenalkan pada tahun 1990. Pengembangannya adalah hasil dari penemuan Soviet bahwa insinyur divisi radar Phazotron Adolf Tolkachev telah menjual informasi tentang radar canggih mereka ke Barat. Sebuah versi baru dari radar yang dibocorkan dengan tergesa-gesa kemudian dikembangkan. MiG-31B juga memiliki peralatan ECM dan EW yang ditingkatkan dengan integrasi pada rudal R-33S yang ditingkatkan. Sistem navigasi jarak jauh yang kompatibel dengan stasiun darat Loran/Omega dan Chaka ditambahkan. Model ini menggantikan model 01DZ pada akhir tahun 1990.
- MiG-31E, adalah versi ekspor dari MiG-31B dengan perangkat avionik yang disederhanakan. Versi ini tidak pernah masuk dalam tahapan produksi.
- MiG-31BS, merupakan penamaan diterapkan pada tipe 01DZ ketika diubah menjadi standar MiG-31B.
- MiG-31BM. Setelah melewati pengujian negara pada tahun 2008, varian MiG-31B yang dimodernisasi ini disetujui untuk diperkenalkan ke angkatan udara Rusia. 50 pesawat dimodifikasi menjadi standar MiG-31BM (Bolshaya Modernizatsiya/Big Modernization) sesuai dengan kontrak tahun 2011. Efisiensi dari MiG-31BM yang dimodernisasi adalah 2,6 kali lebih besar dari MiG-31 biasa. Jangkauan deteksi maksimum MiG-31BМ untuk target udara meningkat menjadi 320 km (200 mil). Varian ini memiliki kemampuan untuk melacak hingga sepuluh target secara otomatis, dan unit terbaru dapat melacak hingga 24 target dan secara bersamaan, serta menyerang hingga delapan target sekaligus. Perangkat Argon-K on-board diganti dengan komputer Baget 55-06 baru yang dapat memilih empat target dengan prioritas tertinggi, yang secara bersamaan dapat diserang oleh rudal udara-ke-udara jarak jauh R-33S. Rudal jarak jauh baru R-37 (rudal) dengan kecepatan Mach 6 dan jangkauan hingga 400 km (250 mil) kemudian dikembangkan selama proses modernisasi untuk digunakan dengan MiG-31 yang baru dimodernisasi. MiG-31BM memiliki kemampuan multi-peran seperti mampu menggunakan rudal anti-radar, rudal udara ke kapal dan udara ke darat. Dalam mode operasi udara-ke-permukaan, MiG-31BM dapat digunakan untuk memetakan medan dan menyerang target darat dan air dengan menggunakan berbagai peluru kendali, serta dilengkapi dengan berbagai sistem pelacak, dan bom yang dipandu dengan presisi. Versi ini memiliki beberapa avionik yang disamakan dengan MiG-29SMT dan memiliki probe pengisian bahan bakar. MiG-31BM memecahkan rekor dunia saat menghabiskan waktu tujuh jam empat menit di udara sambil menempuh jarak 8.000 km (5.000 mi). Selama pengujian, MiG-31BM menunjukkan kemungkinan untuk menghancurkan pesawat musuh dalam pertempuran jarak jauh pada jarak sekitar 280 km, yang di masa kini tidak dapat dilakukan oleh pesawat tempur lainnya. Sebagai perbandingan, pesawat pencegat Amerika terbaik, Northrop-Grumman F-14D Tomcat, hanya mampu menyerang target udara pada jarak tidak lebih dari 180 km. Kini Tomcatjuga sudah lama pensiun. Kompleks radar onboard pada MiG-31BM mampu secara bersamaan membayangi 10 target udara, 6 di antaranya dapat diserang secara bersamaan oleh rudal R-33 atau R-37 (yang terakhir – hingga jarak hingga 280 km). Rudal-rudal itu diperkirakan bisa melakukan intersepsi target yang terbang dengan kecepatan mach 6. MiG-31BM saat ini merupakan satu-satunya pesawat di dunia yang mampu secara efektif melawan rudal jelajah yang tidak mencolok dan terbang di ketinggian rendah dari jenis rudal ALCM atau Tomahawk. Seperti yang dinyatakan oleh para ahli Rusia, jika Irak selama operasi Desert Fox pada musim dingin tahun 1998-99 memiliki pesawat MiG-31, maka tidak lebih dari 10% rudal jelajah Amerika dan Inggris akan bisa mencapai target mereka di wilayah Irak.
- MiG-31BSM, adalah varian upgrade dari versi BS, yang merupakan varian modernisasi terbaru dan pertama kali dikontrakkan pada tahun 2014 untuk modernisasi 60 pesawat. Varian ini sangat mirip dalam beberapa aspek dengan standar BM. Berbeda dengan standar BS, pesawat yang dimodernisasi menjadi standar BSM dilengkapi dengan probe pengisian bahan bakar udara. Perbaikan juga dilakukan pada kanopi pesawat, di mana kaca tahan panas yang baru dan lebih baik digunakan, sehingga memungkinkan MiG-31BSM terbang dengan kecepatan jelajah 3.000 km/jam (1.900 mph) pada jarak jauh dengan tanpa mengalami kerusakan apapun. Selain itu, komputer pusat Baget-55-06 baru yang lebih cepat digunakan dengan tambahan tampilan display multifungsi, satu untuk pilot dan tiga untuk operator senjata-navigator. Juga ada satu set peralatan navigasi baru. MiG-31BSM memiliki kemampuan multi-peran dengan kemampuan untuk menggunakan rudal anti-radar, rudal anti-kapal dan rudal udara-ke-darat. Perbedaan utama yang terlihat antara standar BS dan BSM adalah penambahan periskop tampak belakang di atas kanopi kokpit depan.
- MiG-31K, adalah varian MiG-31BM yang dimodifikasi untuk mampu membawa rudal hipersonik ALBM Kh-47M2 Kinzhal. Sepuluh pesawat telah dimodifikasi hingga bulan Mei 2018. Dengan modifikasi ini dan dengan melepas APU untuk rudal udara-ke-udara, pesawat memperoleh peran tunggal sebagai pesawat serang.
- MiG-31F, dengan “F” singkatan dari “frontovy / front AKA tactical” merupakan versi pembom-tempur yang dimaksudkan untuk dilengkapi dengan sistem senjata TV, radar, dan berpemandu laser ASM. Versi ini dilengkapi dengan sistem senjata udara-ke-permukaan untuk misi serangan atau khususnya peran SEAD. Tidak jelas apakah pesawat khusus ini memiliki sistem avionik untuk mendukung senjata semacam itu; pesawat ini mungkin juga MiG-31B konvensional yang telah “dimodifikasi”. Varian ini tidak pernah memasuki fase produksi.
- MiG-31FE, adalah versi ekspor yang direncanakan dari MiG-31F.
- MiG-31I (Ishim), adalah versi usulan modifikasi untuk peluncuran udara ke orbit pesawat ruang angkasa kecil dengan muatan 160 kg (350 lb) hingga ketinggian 300 km (190 mi) atau orbit berbobot 120 kg (260 lb) hingga ketinggian 600 km (370 mi).
- MiG-31 (Izdeliye 08), adalah MiG-31 yang dimodifikasi menjadi platform peluncuran rudal anti-satelit Izdeliye 293 Burevestnik. Setidaknya dua prototipe pesawat telah dikonversi. Tes dari varian ini dimulai dari bulan September 2018.
PERBEDAAN MiG-31BM DENGAN VARIAN LAIN
Perbedaan mendasar antara versi lain dan MiG-31BM adalah:
- Kompleks radar onboard pada MiG-31BM dapat melacak 24 target udara sekaligus, enam di antaranya dapat diserang secara bersamaan oleh rudal R-33S.
- Varian pesawat yang dimodernisasi ini dapat dilengkapi dengan rudal anti-radiasi Kh-31, Kh-25MR atau MPU (hingga enam unit), anti-kapal Kh-31A (hingga enam), rudal kelas udara-ke-permukaan Kh- 29 dan Kh-59 (hingga tiga) atau Kh-59M (hingga dua unit), hingga enam bom presisi KAB-1500 atau delapan KAB-500 dengan panduan televisi atau laser. Bobot muatan maksimumnya adalah 9.000 kilogram (20.000 lb).
- Pesawat standar MiG-31M, MiG-31D, dan MiG-31BM memiliki radar Zaslon-M yang kemampuannya ditingkatkan, dengan antena yang lebih besar dan jangkauan deteksi yang lebih besar (dikatakan hingga 400 kilometer (250 mil) terhadap target berukuran pesawat AWACS) dan kemampuan untuk menyerang beberapa target – udara dan darat – secara bersamaan. Zaslon-M memiliki antena berdiameter (lebih besar) 1,4 m (4,6 kaki), dengan kinerja 50–100% lebih baik daripada Zaslon. Pada bulan April 1994 digunakan meluncurkan rudal R-37 untuk mencapai target pada jarak 300 kilometer (190 mil). Versi ini memiliki jangkauan pencarian 400 km (250 mil) untuk target RCS seluas 19–20 m2 (200–220 sq ft) dan dapat melacak 24 target sekaligus, menyerang enam target sekaligus, atau dari jarak 282 km (175 mil) untuk menyerang target berukuran 5 m2 (54 kaki persegi). Deteksi kecepatan target relatif meningkat dari Mach 5 ke Mach 6, yang meningkatkan kemungkinannya untuk menghancurkan target yang bergerak cepat.
- MiG-31BM adalah satu dari sedikit pesawat yang mampu mencegat dan menghancurkan rudal jelajah yang terbang di ketinggian sangat rendah.
- Hanya sebagian armada MiG Rusia yang telah ditingkatkan menjadi standar MiG-31BM di bawah program upgrade. Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan niatnya untuk berinvestasi dalam program modernisasi dan perpanjangan pengoperasian pencegat MiG-31 Foxhound pada bulan Juli 2020.
MiG-31BSM VS F-22 & F-35
MiG-31BSM adalah versi BS yang ditingkatkan dengan kemampuan yang mirip dengan standar BM, dianggap sebagai “jet aktif Rusia yang paling mumpuni dalam pertempuran udara-ke-udara”. Pesawat itu juga termasuk yang terberat di dunia dan, bagi sebagian orang, merupakan lawan yang layak bagi F-22 Raptor. Berbeda dengan MiG-31 BS, BSM memiliki probe pengisian bahan bakar udara dan kanopi pesawat yang ditingkatkan, yang memungkinkannya menempuh jarak yang jauh dengan kecepatan jelajah 3.000 km/jam tanpa mengalami kerusakan. Kerusakan itu adalah akibat panas yang dihasilkan oleh kecepatan tinggi yang bisa melelehkan kanopi. Sementara kedua versi itu membawa radar yang kuat yang dapat “mendeteksi pesawat tempur siluman pada jarak yang jauh lebih besar,” BSM memiliki komputer pusat baru yang lebih cepat selain tampilan multifungsi yang dapat dioperasikan oleh pilotnya. Periskop pandangan belakang adalah fitur lain dari BSM yang tidak ada dalam standar BS, yang terletak di atas kanopi kokpit depan. Menurut laporan dari Military Watch Magazine tahun 2020, Foxhound tampaknya lebih baik dibanding F-22 Raptor dalam berberapa parameter, terutama pada varian BSM. Seperti disebutkan, selama bertahun-tahun, MiG-31 terus meningkat menjadi lebih baik dan lebih baik, sementara kinerja F-22, di sisi lain, seolah-olah stagnan dan terus berkurang kemampuannya—karena memiliki “arsitektur komputer yang telah menua”, “kelangkaan suku cadang, dan kesulitan serius dalam menjalani peningkatan kemampuan,” dan tantangan yang dihadapinya dalam hal pemeliharaan armada. Pensiun dini untuk Raptor bahkan sudah direncanakan sejak awal tahun 2020-an. Keunggulan utama MiG-31 dibandingkan Raptor adalah radarnya yang lebih kuat, yang memungkinkannya mendeteksi Raptor jauh di luar jangkauan rudal Raptor yang dikombinasikan dengan jangkauan yang lebih jauh dari rudal yang dipakai MiG-31.
Rudal udara-ke-udara jarak jauh R-37 Rusia dapat menjangkau dua kali lebih jauh dari rudal Raptor dengan kecepatan hipersonik Mach 6, sementara AMRAAM buatan AS hanya bisa mencapai kecepatan Mach 4. MiG juga lebih cepat yang akan memungkinkannya untuk mempertahankan jarak terhadap musuh. Tentu saja, perbandingan teknis ini tidak memperhitungkan keterampilan dan pengalaman pilot, dan pilot Amerika adalah yang paling terlatih dan paling mampu di dunia, tetapi berurusan dengan sekelompok MiG-31 akan menjadi tantangan untuk pilot-pilot Amerika. Pada bulan Juni tahun ini, House Armed Service Committee (HASC) bersikeras untuk meningkatkan kemampuan Raptor setidaknya pada “Sistem misi, sensor, dan kemampuan penggunaan senjata di Raptor Block 30/35” daripada menerima proposal awal Angkatan Udara AS untuk menghentikan pengoperasian 33 unit Raptor tertua. Mahal untuk dipertahankan, USAF malah menggunakan sebagian besar Raptor untuk misi pelatihan. Namun, itu “semakin tidak cocok dengan versi tempurnya”, menjadikannya sebagai platform pelatihan agak tidak berguna. Selain itu, seorang pejabat Angkatan Udara mengatakan upgrade jet ini akan menelan biaya sekitar $1 miliar. MiG-31 sebaliknya tidak menghadapi masalah serupa, dengan opsi pensiun dikesampingkan. Belum lagi Rusia ingin mempertahankan pesawat pencegat ini setidaknya selama sepuluh tahun ke depan atau sampai mereka selesai mengembangkan pesawat generasi baru yang memenuhi semua standar Kremlin. MiG-31 adalah pencegat utama Rusia dan mereka memiliki 370 di antaranya dalam dinas operasional. Menggantinya akan menjadi opsi yang sangat mahal.
Adalah hal yang berbeda, jika kita mengadu MiG-31BSM dengan F-35A “Lightning II” yang perkasa, karena untuk satu hal, yang pertama tidak diragukan lagi bukan pesawat tempur siluman, dan dua, mereka kecil kemungkinannya bertemu dalam pertempuran. Ya, F-35 pasti dapat mendeteksi MiG-31 dengan radarnya yang sangat canggih, tetapi mengejar yang terakhir akan menjadi tantangan karena Foxhound masih memiliki keunggulan dalam hal kecepatan — yang akan menjadi pilihan terbaiknya jika dia tidak menginginkan ditembak jatuh oleh Lightning. Ini akan menempatkan MiG-31 dalam posisi defensif karena harus mempertahankan kecepatan tinggi untuk dapat menggagalkan F-35 dari posisi menembakkan rudal ke arahnya tetapi terbang seperti ini akan menghabiskan bahan bakar dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dan memperpendek jangkauan operasionalnya. Meskipun perlu dicatat bahwa F-35 tidak dibuat khusus untuk dogfighting, tetapi ia bisa menggunakan fitur stealth-nya untuk mendekati dan menembak jatuh target sambil tetap tidak terdeteksi. Pertempuran udara jarak dekat adalah tugas dari F-22. Sementara itu kelemahan F-35A adalah perawatannya yang mahal, dibandingkan dengan biaya perawatan dihabiskan untuk MiG-35BSM. Namun, pesawat tempur generasi kelima ini, baru-baru ini mengumumkan penurunan yang stabil dalam hal biaya dan menjadi lebih terjangkau selama lebih dari satu dekade. Pembenahan peralatannya juga sedang berlangsung, termasuk memperluas susunan senjatanya, meningkatkan kemampuan serangannya — menjadi lebih mematikan dari sebelumnya. Di sisi lain meskipun MiG-31 mungkin menua seperti anggur yang berkualitas empat dekade setelah penerbangan pertamanya, hal ini tidak menjamin kemampuannya yang tak terkalahkan. USAF mungkin telah melalui beberapa masa sulit untuk meningkatkan kemampuan jet tempurnya, tetapi mereka masih jauh lebih baru daripada MiG-31 yang menggetarkan dan diawaki oleh pilot-pilot dengan keterampilan yang tak tertandingi.
UPGRADE DAN PENGGANTIAN
Beberapa program peningkatan telah menemukan jalan mereka ke armada pesawat MiG-31, seperti versi multiperan MiG-31BM dengan avionik yang telah ditingkatkan, radar multimode baru, kontrol hands-on-throttle-and-stick (HOTAS), liquid crystal (LCD) color multi-function displays (MFDs), kemampuan untuk membawa rudal R-77 dan berbagai rudal udara-ke-darat (AGM) Rusia seperti rudal anti-radiasi (ARM) Kh-31, komputer yang baru dan lebih kuat, dan digital data links. Sebuah proyek untuk meningkatkan armada MiG-31 Rusia menjadi standar MiG-31BM dimulai pada tahun 2010; 100 pesawat rencananya akan ditingkatkan menjadi standar MiG-31BM pada tahun 2020. Kepala Kementerian Pertahanan Federasi Rusia Kolonel Yuri Balyko telah mengklaim bahwa peningkatan tersebut akan meningkatkan efektivitas tempur pesawat tersebut beberapa kali lipat. 18 MIG-31BM tercatat dikirimkan pada tahun 2014. Militer Rusia juga akan menerima lebih dari 130 MiG-31BM yang ditingkatkan, dan 24 pesawat pertama telah dikirimkan, kata Wakil Menteri Pertahanan Rusia Yuri Borisov kepada wartawan pada tanggal 9 April 2015. Rusia berencana untuk memulai pengembangan pesawat pengganti MiG-31 pada tahun 2019. Pesawat tersebut akan diberi nama PAK-DP (ПАК ДП, Перспективный авиационный комплекс дальнего перехвата – Prospective Air Complex for Long-Range Interception). Pengembangan pesawat baru, yang diberi nama MiG-41, dimulai pada April 2013. Opsi pengembangan tersebut lebih disukai daripada dimulainya kembali produksi MiG-31. Pada bulan Maret 2014, pilot uji Rusia Anatoly Kvochur mengatakan bahwa pekerjaan telah dimulai pada MiG-41 yang berkemampuan terbang hingga kecepatan Mach 4, berdasarkan desain MiG-31. Laporan selanjutnya mengatakan bahwa pengembangan pengganti MiG-31 akan dimulai pada tahun 2017, dengan pesawat pertama akan dikirimkan pada tahun 2020, dan penggantinya akan memasuki dinas operasional pada tahun 2025.
SEJARAH PENGOPERASIAN
Produksi serial MiG-31 dimulai pada tahun 1979. MiG-31 memasuki dinas operasional dengan Pasukan Pertahanan Udara Soviet (PVO) pada tahun 1981. MiG-31 adalah pesawat pertama di dunia dengan radar phased array. MiG-31BM memiliki jangkauan deteksi 282 km (175 mil) untuk target dengan penampang radar 5 meter persegi. MiG-31 selama pengoperasiannya dapat bekerja secara efisien di segala kondisi cuaca dengan tetap bisa menjalankan penerbangan visual (VFR) dan penerbangan instrumen (IFR), baik siang dan malam. Pada tahun 1985, dinas keamanan Soviet menangkap Adolf Tolkachev, kepala biro desain radar Phazotron, karena menjual informasi rahasia ke pihak Barat. Aksi Tolkachev ini telah membocorkan sistem radar sebagian besar pesawat tempur lini pertama Uni Soviet. Tolkachev kabarnya telah menyerahkan 54 data perkembangan rahasia di bidang peralatan elektronik pesawat Soviet ke CIA. Diyakini bahwa kerusakan akibat tindakan Tolkachev lebih serius daripada dari aksi Belenko, yang mencuri dan menerbangkan MiG-25 ke Jepang. Soviet lalu berupaya menutupi aksi pengkhianatan dan Tolkachev dieksekusi, tetapi kerusakan telah terjadi: radar MiG-31 telah dibocorkan, yang memungkinkannya dinetralkan melalui berbagai tindakan pencegahan. MiG OKB kemudian mengerjakan perbaikan pada Foxhound, dan muncul dengan varian Foxhound baru, “MiG-31B”, yang menampilkan radar Zaslon baru dengan peningkatan dalam hal jangkauan dan sistem penanggulangan; serta perangkat avionik terbaru lainnya, termasuk prosesor digital modern; ditambah dukungan untuk rudal R-33S AAM yang ditingkatkan dan pemasangan probe pengisian bahan bakar dalam pesawat sebagai standar. Munculnya MiG-31 pada bulan September 1983 di Sakhalin disebabkan oleh peningkatan ketegangan yang tajam di wilayah ini. Pada tanggal 1 September, pesawat tempur Su-15 mencegat dan menembak jatuh Boeing-747 maskapai Korea Selatan dengan penumpang di dalamnya. Versi resmi dari kisah sensasional Boeing sudah terkenal, tetapi masih belum ada kejelasan akhir tentang apa yang terjadi di langit Kamchatka dan Sakhalin pada tanggal 1 September 1983. Pada akhir bulan September, satu skuadron pesawat tempur MiG-23 dipindahkan ke Kuril, dan pada musim semi 1984, pesawat Pasukan Bela Diri Jepang dan Angkatan Udara AS mulai bertemu MiG-31 secara teratur selama Laut Jepang, yang skuadronnya berbasis di pangkalan udara Sokol-Sakhalin.
MiG-31 secara umum menyempurnakan banyak aspek dari MiG-25, pendahulunya. MiG-31 dapat bertugas dari beberapa daerah yang lebih terpencil di Uni Soviet, dan diduga sepasang pesawat ini mampu mencegah SR-71 Blackbird pada salah satu misinya di bulan Maret 1984, di sekitar Laut Jepang. MiG-31 tampaknya memang telah digunakan untuk mengejar pesawat mata-mata SR-71 Blackbird, yang dapat mempertahankan kecepatan terbang Mach 3,3 atau lebih tinggi pada misi pengintaiannya. Kisah seorang pilot Soviet menunjukkan bahwa Foxhound dapat “mengunci” Blackbird dengan rudalnya. Laporan lain mengklaim bahwa enam MiG-31 mampu mengurung Blackbird dalam insiden terpisah. Namun, Blackbird tidak pernah digunakan untuk benar-benar terbang di atas wilayah udara Soviet, bertentangan dengan apa yang disiratkan oleh beberapa sumber. Blackbird malah dikabarkan terbang di sampingnya — yang akan menjelaskan mengapa pilot MiG-31 tidak pernah punya alasan untuk bisa menembakkan rudal R-33 mereka ke pesawat mata-mata yang cepat itu. Pada tahun 1987, lebih dari 150 Foxhound dikerahkan secara operasional di beberapa lokasi dari wilayah Arkhangelsk di barat laut Uni Soviet hingga Timur Jauh Soviet. Foxhound didedikasikan untuk misi pertahanan udara dalam negeri Soviet. MiG-31 menjadi “pengusir utama” SR-71 Blackbird, terutama di langit di atas Semenanjung Kola, tempat pesawat-pesawat pengintai dari banyak negara NATO umumnya terbang. MiG-31 pada tahun 1988 melakukan 436 sorti untuk mencegat pesawat yang memata-matai di dekat perbatasan Uni Soviet, dimana 86 sorti dilakukan terhadap SR-71. Pilot-pilot MiG-31 di Kamchatka pada tahun yang sama terbang mencegat sebanyak 825 kali. Bagi pesawat “Orion“, “Blackbird“, RC-135 – MiG-31 menjadi penghalang bagi mereka yang suka terbang di dekat perbatasan. Sementara itu dengan runtuhnya Uni Soviet berarti hanya 519 unit MiG-31 yang sempat dibuat, dibandingkan dengan sekitar 1.100+ MiG-25 yang sudah ada.
Dengan runtuhnya Uni Soviet, peran MiG-31 dalam perlindungan dan pertahanan perbatasan udara tidak berubah sama sekali. Mempertimbangkan bahwa semua unit yang mengoperasikan MiG-31 berlokasi di wilayah Rusia, jumlah pesawat yang beroperasi dengan Rusia juga tidak banyak berubah. Pada tahun 1994 dan 1999, MiG-31 terlibat dalam tugas memantau situasi udara di Chechnya, menjalankan fungsi pesawat AWACS. Pada tahun 2000-an, MiG-31 berulang kali terlibat dalam praktik intersepsi musuh tiruan bersama dengan pesawat-pesawat tempur Su-30 dan pesawat AWACS A-50. “Penerbangan luar wilayah” yang dilakukan oleh pesawat-pesawat Tu-22MR dan Tu-95, kerap dilindungi oleh MiG-31 saat terbang di atas perairan Laut Jepang. Pengoperasian pesawat pencegat ini tidaklah mudah, beberapa pesawat telah hilang akibat kecelakaan dalam penerbangan. Di bawah ini hanya beberapa di antaranya:
- 31 Mei 1995: sebuah MiG-31 jatuh di sekitar Komsomolsk-on-Amur, di tepi kanan Sungai Amur. Segera setelah lepas landas, mesin pesawat terbakar, kru berhasil membawa pesawat tempur menjauh dari pemukiman dan berhasil mengeluarkan diri;
- Pada tanggal 6 September 1995, saat meluncurkan rudal, sebuah MiG-31 berguling dengan tajam, diikuti dengan manuver putaran karena rudal tidak meninggalkan pylon kiri. Upaya untuk mengeluarkan pesawat dari putaran tidak berhasil, kru berhasil melepaskan diri;
- Pada musim panas tahun 1996, saat berlatih mendarat dengan alasan kerusakan mesin, saat mencoba berputar, sebuah MiG-31 bertabrakan dengan penghalang, awaknya terlontar, satu orang tewas;
- Pada 15 Januari 1997, sebuah MiG-31 jatuh di dekat Kotlas selama penerbangan setelah menjalani pemeliharaan terjadwal, awaknya meninggal.
Sementara itu perlambatan ekonomi di Uni Soviet telah membuat pemeliharaan pesawat MiG-31 yang kompleks menjadi sulit bagi banyak skuadron yang mengoperasikannya. Akibatnya, sekitar 20% pesawat MiG-31 dinonaktifkan. Sekitar 75% dari pesawat ini, bagaimanapun, masuk kembali layanan dengan Angkatan Udara Rusia pada tahun 2006 ketika pertumbuhan ekonomi yang kuat kembali muncul di negeri itu. Operator MiG-31 saat ini terbatas pada elemen Angkatan Udara dan Penerbangan Angkatan Laut Rusia serta Angkatan Udara Kazakhstan. Yang pertama diperkirakan mempertahankan sekitar 286 sebagai pesawat aktif (melengkapi sekitar 15 resimen tempur) dengan 100 lainnya sebagai cadangan sementara Kazakhstan mengoperasikan sekitar 33 pesawat milik mereka sendiri dengan 10 menunggu proses modernisasi. Pada tahun 2017, total 110 pesawat dilaporkan ditingkatkan menjadi standar MiG-31BM dan MiG-31BMS untuk memperpanjang masa operasionalnya. Selain itu, beberapa pesawat prototipe awal MiG-31 akhirnya diserahkan ke Museum Udara Rusia di Monino di luar kota Moskow. Pengalaman operasional menunjukkan bahwa MiG-31 dinilai kurang dalam hal jangkauan dan sekitar 40-45 pesawat dilengkapi dengan probe pengisian bahan bakar dalam penerbangan semi-tarik. MiG-31 ditugaskan ke Resimen Penerbangan Tempur (IAP) ke-790 di Khotilovo yang mencakup area Moskow, Resimen Penerbangan Komposit Independen (OSAP) ke-98 di Monchegorsk yang mencakup pangkalan strategis Armada Utara di Murmansk, IAP ke-712 di Kansk dan IAP ke-764 di Bolshoye Savino (Perm) yang bertanggung jawab atas wilayah Rusia tengah, serta OSAP 317 di Yelizovo dan 22 IAP di Tsentralnaya Uglovaya yang masing-masing melindungi pangkalan Armada Pasifik di Kamchatka dan dekat Vladivostok.
Selama invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022, pesawat MiG-31 dilaporkan telah menembak jatuh beberapa pesawat Ukraina, terutama dengan memanfaatkan rudal udara-ke-udara jarak jauh R-37. Misalnya, menurut informasi yang dirilis pada tanggal 7 Juli 2022, sebuah MiG-31BM menembak jatuh sebuah pesawat serang darat Su-25 Frogfoot Ukraina di atas wilayah Mykolayiv. Pada tanggal 27 Oktober 2022, dalam sebuah video yang ditayangkan oleh Zvezda TV (berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Rusia), seorang pilot yang hanya dikenal sebagai ‘Alexander,’ berdiri di depan sebuah MiG-31BM, mengatakan bahwa dia menembak jatuh sebuah pesawat serang Su-24 Fencer Ukraina dengan “rudal jarak jauh”. Jenis rudal yang ditembakkan tepatnya tidak dijelaskan. Video yang sama menunjukkan sebuah MiG-31BM ‘24 Red,’ dengan registrasi RF-90888, dari IAP 712 di Kansk, Distrik Militer Pusat. Pesawat itu terlihat lepas landas dari Belbek dipersenjatai dengan tiga rudal R-37M dan dua R-77-1, yang kemudian mendarat dengan set senjata yang sama. Sementara itu dengan tetap pada kecepatan dan ketinggian tinggi, MiG-31 telah mampu beroperasi hampir tanpa lawan karena pesawat tempur Ukraina sendiri kurang dalam hal jangkauan, kecepatan, atau ketinggian. Rudal R-37M, sejak Oktober 2022, menjadi ancaman utama terhadap Angkatan Udara Ukraina. Hal ini disebabkan karena Angkatan Udara Ukraina memiliki kekurangan rudal berkemampuan fire and forget yang signifikan. Mereka mengandalkan rudal R-27, baik R-27ER maupun R-27ET; jangkauan R-27ET adalah 60 mil (96 km). Dengan perlengkapan yang dipakainya, seorang pilot Ukraina harus menyorot pesawat-pesawat Rusia dengan radar untuk memandu rudal menuju ke sasaran.
Sebaliknya pilot-pilot Rusia dapat menembakkan rudal fire-and-forget R-77 dengan radar aktif untuk memberi mereka kemampuan untuk meluncurkan rudal mereka dan kemudian mengambil manuver mengelak. Pilot-pilot Ukraina kemudian dipaksa untuk “mengeksploitasi kontur daratan dan penyamaran di medan tempur agar cukup dekat untuk bisa menembakkan rudal mereka sebelum terlihat”. Selama tiga hari pertama perang, kedua belah pihak kehilangan beberapa pesawat. Ukraina lalu menggantinya dengan pesawat yang lebih tua, yang diterbangkan kembali. Namun Angkatan Udara Rusia telah beralih menggunakan MiG-31 dengan rudal R-37M yang memiliki jangkauan 200 mil (321 km). Dikombinasikan dengan radar superiornya, pada MiG-31 nya, Angkatan Udara Ukraina mulai kehilangan lebih banyak pesawat. Sebuah laporan oleh Royal United Services Institute menyatakan bahwa pada bulan Oktober sekitar enam R-37M ditembakkan ke pesawat-pesawat Angkatan Udara Ukraina setiap harinya. Empat MiG-31 juga diketahui dikerahkan ke Krimea. Untuk menghindari rudal R-37M, Ukraina harus berusaha menghancurkan MiG-31 saat mereka masih di darat, seperti dalam serangan di pangkalan udara Belbek dan upaya serangan drone pada bulan Agustus. Terletak di pinggiran Sevastopol, Pangkalan Udara Belbek sekarang menjadi pusat utama jet tempur Rusia yang beroperasi melawan Ukraina. Sementara itu, yang berbasis permanen di Belbek adalah 38 IAP dengan pesawat tempur Su-27SM dan Su-27SM3 Flanker dan beberapa Su-30M2 dua kursi untuk pelatihan. Sekarang, sebagai tambahan, Rusia telah mengerahkan MiG-31BM, serta pesawat tempur multiperan Su-35S dan Su-30SM Flanker ke pangkalan yang sama. Berbagai macam pesawat angkut dan helikopter juga ditemukan di pangkalan itu.
Dengan rudal R-37M yang mereka miliki, pesawat tempur MiG-31BM dan Su-35S Rusia sekarang dapat menembak pesawat Ukraina dari jarak yang sangat jauh, tanpa perlu memasuki area mana pun di mana pertahanan anti-pesawat Ukraina beroperasi. Untuk mengatasi ancaman tersebut, Ukraina sangat membutuhkan sistem pertahanan anti-pesawat jarak jauh, dengan rudal permukaan-ke-udara (SAM) menjadi solusi yang paling jelas. Namun, SAM jarak jauh yang tersedia untuk Ukraina adalah sistem S-300P (SA-10 Grumble) rancangan Soviet yang digunakan pada awal perang. Sejak saat itu, proses pengurangan yang stabil telah mengurangi jumlah senjata semacam itu yang tersedia, dan kemungkinan akan tetap menjadi target prioritas tinggi untuk pesawat-pesawat penekan pertahanan milik Rusia. Bahkan S-300P yang ada saat ini gagal memberikan pertahanan udara jarak jauh, dengan rudal 5V55R – tipe utama yang tersedia untuk Ukraina – memiliki jangkauan maksimum 56 mil (90 km). Sebuah baterai S-300PMU yang disediakan oleh Slovakia di awal perang dinilai agak lebih mumpuni. Sementara itu, S-300V1 (SA-12 Gladiator/Giant), sebuah sistem yang terkait dengan S-300P, menawarkan peningkatan mobilitas lintas negara dan kemampuan rudal anti-balistik. Sistem itu dapat menembakkan rudal 9M83 (SA-12A Gladiator) dengan jangkauan menyerang maksimum sekitar 47 mil (75 km) sementara 9M82 (SA-12B Giant) dapat melibatkan target hingga 62 mil (sekitar 100 km). Versi SA-12A dari S-300V1 hanya tersedia untuk Ukraina dalam jumlah terbatas dan yang tersisa kemungkinan diprioritaskan untuk pertahanan terhadap serangan rudal balistik. Permintaan berulang dari Kyiv untuk pertahanan udara berbasis darat yang lebih kuat telah membuahkan hasil, termasuk sistem yang jauh lebih maju daripada SAM era Soviet yang dipunyai Ukraina. Namun, senjata yang disediakan atau dijanjikan sejauh ini terutama dioptimalkan untuk pertahanan titik instalasi kritis (seperti rudal IRIS-T SLM, MIM-23 HAWK, NASAMS, Aspide, dan Crotale NG), atau merupakan sistem pertahanan udara jarak pendek, beberapa di antaranya dirancang untuk menemani pasukan darat (Strela-10M, Stormer HVM).
Pilihan terbaik bagi Kyiv untuk mendapatkan sistem SAM jarak jauh yang berpotensi mengancam pesawat tempur Rusia pada jarak yang lebih jauh tetaplah sistem rudal Patriot. Sistem ini dimasukkan bulan lalu dalam daftar sistem pertahanan udara oleh Jenderal Mark A. Milley, Ketua Kepala Staff Gabungan, yang dapat dipakai untuk membantu Ukraina melawan Rusia. Selain kemampuan jarak jauhnya terhadap ancaman udara tradisional, Patriot juga akan memberikan perlindungan lebih lanjut terhadap serangan rudal balistik, yang tampaknya akan meningkat dalam waktu dekat melalui pengiriman senjata tipe ini dari Iran ke Rusia. Bahkan jika Ukraina bisa mendapatkan sistem SAM jarak jauh, jumlah peluncur yang diterima kemungkinan akan diprioritaskan untuk mengendalikan wilayah udara tertentu di atas Ukraina, untuk mempertahankan target prioritas seperti infrastruktur kritis dan pusat populasi. Namun demikian, segala jenis SAM yang dapat secara efektif mengancam target udara pada jarak yang lebih jauh akan membantu Ukraina. Lagi pula, bahkan dengan jaringan pertahanan udara berbasis darat yang cukup sederhana, Ukraina telah berhasil menimbulkan kerugian besar pada VKS dan, pada gilirannya, memaksa pesawat Rusia keluar dari area signifikan di wilayah udaranya. Di daerah di mana pesawat serang Rusia dan helikopter serang beroperasi, mereka didorong untuk mengadopsi taktik terbang rendah yang kurang efektif, sementara pesawat tempur seperti MiG-31BM dan Su-35S terbatas pada patroli jarak jauh di ketinggian tinggi. Apa pun yang dapat menambah pertahanan udara berbasis darat Ukraina hanya dapat memperumit masalah VKS dan semakin membatasi kebebasan mereka untuk beroperasi.
Secara keseluruhan, tidak ada cara yang mudah bagi Ukraina untuk mengatasi ancaman pesawat pencegat Rusia seperti MiG-31BM yang beroperasi dari jarak dekat. Pada akhirnya, harapan terbaiknya mungkin terletak pada penyerangan lapangan udara tempat dimana mereka beroperasi, sesuatu yang tampaknya telah dilakukan dengan sukses besar di Krimea, dengan tanda-tanda bahwa pangkalan udara yang lebih dalam di wilayah Rusia berpotensi menjadi sasaran juga. Di sisi lain, selain peran intersepsi utamanya, Rusia juga menggunakan MiG-31 yang bisa menembakkan rudal Kh-47M2 Kinzhal, untuk misi Penerbangan Jarak Jauh. Pesawat ini, yang menggunakan rudal balistik hipersonik, dilaporkan telah digunakan untuk menyerang sasaran di Ukraina, dalam serangan yang diungkapkan oleh Moskow pada bulan Maret dan April. Sejak itu, Rusia tidak mengklaim telah menggunakan Kinzhal lagi. Pada tahun 1992 Rusia menawarkan MiG-31 ke Finlandia, yang memiliki program seleksi yang sedang berlangsung untuk pengadaan pesawat tempur baru, tetapi tawaran itu tidak diajukan ke program, di mana Rusia saat itu telah menyerahkan proposal MiG-29. Bagaimanapun Finlandia tidak menerima tawaran tersebut, dan memilih pesawat tempur baru untuk program tersebut. Pada tahun 2007, United Aircraft Corporation (UAC) Rusia menandatangani dua kontrak senilai $1 miliar dengan Suriah. Satu kontrak untuk pembelian MiG-29M dan satu lagi untuk MiG-31E. Pengiriman MiG-29M berlanjut, tetapi pengiriman MiG-31 tidak efektif sampai tahun 2009 ketika UAC mengkonfirmasi rencananya untuk mengirimkan delapan pesawat MiG-31 ke Suriah sebagai bagian dari kontrak senilai $1 miliar. Delapan pesawat MiG-31 dipesan dalam kesepakatan senilai $400 juta yang ditandatangani pada tahun 2007. Pembelian itu kemudian ditangguhkan pada bulan Mei 2009, yang dilaporkan terjadi karena tekanan dari Israel atau kurangnya dana Suriah. Selain itu MiG-31 dinilai tidak akan banyak berguna sebagai platform udara-ke-udara berkinerja tinggi dalam perang saudara yang brutal dan didominasi oleh pertempuran darat. Armada pencegat MiG-25 Suriah juga telah terbukti sangat buruk beradaptasi dalam konflik, dengan dipakai untuk menembakkan rudal udara-ke-udara ke sasaran di darat dengan hasil yang dapat diprediksi. Pada tahun 1992 China mencapai kesepakatan dengan Federasi Rusia untuk membeli 24 pencegat jarak jauh MiG-31 Foxhound. MiG-31 diperkirakan akan dirakit di pabrik yang baru didirikan di Shenyang, dengan produksi empat unit per bulan diharapkan bisa dilakukan pada tahun 2000. Pesawat terakhir rencananya akan dikirimkan pada tahun 2000. Menurut beberapa laporan, perjanjian tersebut termasuk lisensi untuk membuat sebanyak 700 pesawat, dan beberapa proyeksi membayangkan bahwa setidaknya 200 unit akan benar-benar dioperasikan pada tahun 2010. Namun semua ini tidak terwujud hingga tahun 2016.
Pencegat MiG-31 Foxhound Rusia akan tetap beroperasi hingga “setidaknya hingga tahun 2028” atau mungkin lima atau 10 tahun lagi, kata Kepala Angkatan Udara Letnan Jenderal Viktor Bondarev pada tanggal 30 Agustus 2013. “Kami puas dengan pesawat ini; karena dapat melakukan fungsinya dengan luar biasa, ”kata jenderal itu, sembari menambahkan bahwa ketika rudal dan pesawat jarak jauh generasi mendatang dikembangkan, fungsi intersepsi dapat ditugaskan ke pesawat tempur yang lebih baru juga. Pernyataan Bondarev tampaknya sedikit bertentangan dengan komentarnya pada bulan April, ketika dia mengatakan bahwa Angkatan Udara berharap untuk menerima pesawat pencegat jarak jauh baru pada tahun 2020 dan mempensiunkan armada MiG-31 yang ada pada tahun 2028. Dia juga berbicara menentang memulai kembali produksi MiG-31, yang dihentikan dua dekade lalu, dengan mengatakan negara itu membutuhkan pencegat yang benar-benar baru untuk memenuhi persyaratan yang lebih modern. Waktu itu Angkatan Udara Rusia memiliki 122 pencegat MiG-31 yang masih beroperasi dan lebih banyak pesawat di posisi cadangan, kata jenderal itu saat itu. Angkatan bersenjata Rusia akan menerima lebih dari 50 pencegat tempur MiG-31 yang dimodernisasi pada akhir 2018, demikian TASS melaporkan tanggal 27 November 2014, mengutip Kementerian Pertahanan. Modernisasi ini akan dilakukan oleh United Aircraft Corporation. Kontrak sebelumnya telah disepakati antara kementerian dan pabrik pesawat Sokol pada tahun 2011. Di bawah kesepakatan itu, Angkatan Udara akan menerima lebih dari 50 MiG-31BM yang dimodernisasi pada tahun 2019. Pesawat pencegat MiG-31 diharapkan mendapat perubahan dan masa pemakaian baru yang dapat berlangsung selama lima belas tahun, kata Wakil Perdana Menteri Dmitry Rogozin pada tanggal 8 Agustus 2014. Dia telah mengunjungi perusahaan-perusahaan kompleks industri militer di Nizhny Novgorod, termasuk di pabrik pembuatan pesawat “Sokol“, yang membuat pesawat ini hingga tahun 1992. “Saat ini, pesawat (MiG-31) sedang ditingkatkan kemampuannya dan di sini, di Nizhny Novgorod, di pabrik pesawat” Sokol “, dan pesawat ini akan dalam lima belas tahun menyediakan banyak opsi kemampuan berbeda dan baru yang memenuhi kebutuhan peperangan modern.”
CATATAN KECELAKAAN
Secara umum, MiG-31 terbukti menjadi pesawat yang sangat efisien. Namun di sisi lain, itu adalah pesawat yang sangat sulit untuk dioperasikan. Sejak awal, MiG-31 kerap mengawali kecelakaan dan bencana. Dari awal pengoperasiannya di tahun 1980an hingga tahun 2000, 35 insiden penerbangan terjadi pada MiG-31, 12 di antaranya adalah fatal. Menurut hasil investigasi, 19 insiden adalah akibat kesalahan pilot dan 16 awak tewas dalam kecelakaan tersebut. Uniknya, penyebab utama kecelakaan bukanlah akibat cacat desain MiG-31, tetapi karena kemampuan awak pesawat yang terus terang tidak mencukupi. Menerbangkan MiG-31 sangatlah ketat dalam hal kontrol dan tidak mentolerir gerakan mendadak pada tongkat kendalinya. Seperti yang telah ditunjukkan, pilot dengan jam terbang yang tidak dapat diterima (karena kurangnya dana dan perawatan), yaitu 30-40 jam per tahun kerap mengalami kecelakaan. Di masa Uni Soviet, seorang pilot-pilot pesawat tempur biasanya terbang selama 150-170 jam, dan di Amerika sekitar 200 jam per tahun-nya. Dalam situasi ini MiG-31, yang lebih sulit dikendalikan daripada MiG-29 atau Su-27, tidak memaafkan kesalahan sedikitpun yang terkait dengan kurangnya jam terbang. Perbaikan kemudian yang terkait dengan situasi di Angkatan Udara Rusia mulai berdampak positif. Dari tahun 2000 hingga saat ini, hanya ada 31 kecelakaan penerbangan yang tercatat dengan partisipasi MiG-31, 3 di antaranya berakhir dengan fatal, dengan 5 orang meninggal. Pada tanggal 4 April 1984, sebuah MiG-31 jatuh saat melakukan uji terbang, menewaskan kepala pilot penguji Mikoyan dan Pahlawan Uni Soviet, Aleksandr Vasilyevich Fedotov dan navigatornya V. Zaitsev. Pada tanggal 26 April 2017, sebuah MiG-31 jatuh setelah secara tidak sengaja terkena “tembakan kawan” selama sesi latihan di dekat tempat pengujian Telemba di Timur Jauh Rusia. Peristiwa ini terjadi selama latihan di atas tempat pengujian Telemba di Buryatia; kedua anggota awak berhasil melontarkan diri.
Sementara media pemerintah Rusia tidak memberikan perincian, penyelidik independen menemukan dari dokumen pemerintah yang bocor bahwa pesawat itu ditembak jatuh oleh rudal R-33 yang ditembakkan dari MiG-31 lain dan bahwa kedua pilot pesawat memiliki andil dalam kecelakaan tersebut. Laporan itu juga menyebutkan adanya masalah dengan radar Zaslon-AM dan sistem pengendalian tembakan Baget-55 yang dapat meningkatkan risiko lebih banyak penembakan yang tidak disengaja. Pada tanggal 16 April 2020, sebuah pencegat MiG-31 Angkatan Udara Kazakhstan jatuh di wilayah Karaganda. Pada tanggal 8 April 2022, sebuah MiG-31 Angkatan Udara Rusia jatuh di wilayah Leningrad. Pada tanggal 1 Oktober 2022, saat lepas landas dari Belbek, sebuah MiG-31BM meninggalkan landasan pacu, jatuh, dan kemudian terbakar habis. Petugas sistem navigator / senjata berhasil mengeluarkan diri dari kokpit belakang sementara pilotnya tewas. Pesawat ini milik 790 IAP di Khotilovo, Distrik Militer Barat. Pada tanggal 2 Desember 2022, sebuah MiG-31 Angkatan Udara Rusia jatuh selama penerbangan pelatihan di Wilayah Primorsky di kawasan timur jauh.
KARAKTERISTIK UMUM
- Kru: 2 (pilot dan weapons systems officer)
- Panjang: 22.62 m (74 ft 3 in)
- Lebar: 13.456 m (44 ft 2 in)
- Tinggi: 6.456 m (21 ft 2 in)
- Luas area sayap: 61.6 m2 (663 sq ft)
- Bobot kosong: 21,820 kg (48,105 lb)
- Bobot kotor: 41,000 kg (90,390 lb)
- Maksimum bobot takeoff: 46,200 kg (101,854 lb)
- Kapasitas bahan bakar: 35.550 lb (16.130 kg) internal, plus tangki bahan bakar eksternal opsional
- Mesin: 2 × Mesin turbofan afterburning Soloviev D-30F6, daya dorong kering 93 kN (21.000 lbf) per mesin, 152 kN (34.000 lbf) dengan afterburner
Performa
- Kecepatan Maksimum: 3,000 km/h (1,900 mph, 1,600 kn) / Mach 2.83 pada ketinggian 21,500 m (70,538 ft) 1,500 km/h (930 mph; 810 kn) / Mach 1.21 pada ketinggian rendah
- Kecepatan jelajah: 2,500 km/h (1,600 mph, 1,300 kn) / Mach 2.35
- Jarak jangkau: 3.000 km (1.900 mi, 1.600 nm) dengan 4 x rudal R-33E dan 2 drop tank; 5.400 km (3.400 mi; 2.900 nm) dengan 4 x rudal R-33E dan 2 drop tank dengan satu pengisian bahan bakar udara
- Jangkauan tempur: 1.450 km (900 mi, 780 nm) pada Mach kecepatan 0,8 dan ketinggian 10.000 m (32.808 ft), 720 km (450 mi; 390 nm) pada kecepatan Mach 2,35 dan ketinggian 18.000 m (59.055 ft)
- Ketinggian terbang: 25,000 m (82,000 ft)
- g limits: +5
- Kecepatan menanjak: 288 m/s (56,700 ft/min)
- Wing loading: 665 kg/m2 (136 lb/sq ft)
- Rasio daya dorong/bobot: 0.85
Persenjataan
- Kanon: 1 × kanon putar kaliber 23 mm Gryazev-Shipunov GSh-6-23M dengan hingga 800 peluru (kemudian dilepas)
- Cantelan: 4 × semi-recessed dibawah badan 4 × dibawah sayap dengan kapasitas maksimum 9,000 kg (20,000 lb), dengan kombinasi sebagai berikut:
- Rudal udara-ke-udara:
- 4 × R-33E
- 2 × R-40RD/TD
- 4 × R-60MK
- 4 × R-73
- 4 x R-37M (hanya MiG-31BM)
- Rudal udara ke permukaan:
- 4 × Rudal anti-radar Kh-58UShKE
- 1 × Rudal udara balistik hipersonik Kh-47M2 Kinzhal
Avionics
- 8TK IRST
- Phazotron Zaslon passive electronically scanned array radar
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mikoyan_MiG-31
MiG-31 Foxhound v1.1.3 / chapter 2 of 2 / 01 jan 22 / by greg goebel
http://www.airvectors.net/avmig25_2.html#
Russia’s MiG-31 Foxhounds Proving To Be A Threat To Ukrainian Aircraft BY PIOTR BUTOWSKI, THOMAS NEWDICK, PUBLISHED NOV 10, 2022 1:57 PM
Airforce Technology: MiG-31 Foxhound Interceptor Aircraft
https://www.airforce-technology.com/projects/mig-31/
MiG-31 FOXHOUND – Program
https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/mig-31-program.htm
MiG-31BM (Bolshaya Modernizatsiya – Big Modernization)
https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/mig-31bm.htm
Mikoyan MiG-31 (Foxhound) Long-Range High-Speed Interceptor Aircraft [ 1979 ]
https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.php?aircraft_id=65
THE MIG-31 IS AGING LIKE FINE WINE, BUT IT’S STILL OLD by SOFREP; Aug 25, 2022
https://sofrep.com/amp/news/mig-31bsm-age-like-wine/
Russia’s Killer: Why the Soviet-Era MiG-31 Fighter Is Still a Big Deal by Sebastien Roblin
MiG-31 – a long story with a possible continuation by Roman Skomorokhov, 15 2022 June
https://en.topwar.ru/197694-mig-31-dolgaja-istorija-s-vozmozhnym-prodolzheniem.html
MiG-31
http://www.airwar.ru/enc/fighter/mig31.html
Mikoyan MiG-31 Long-range interceptor
https://www.military-today.com/aircraft/mikoyan_mig_31_foxhound.htm
How The MiG-31 Foxhound Took The MiG-25 Foxbat To The Next Level BY HENRY KELSALL; PUBLISHED JUN 23, 2022
https://www.hotcars.com/how-the-mig-31-foxhound-took-the-mig-25-to-the-next-level/
