Operasi Vijay 1961: Saat India “menendang” keluar Portugal dari Goa

Pada dini hari tanggal 18 Desember 1961, skuadron pembom Angkatan Udara India melintasi perbatasan, membom lapangan terbang, dan situs komunikasi. Pasukan terjun payung, tank dan artileri melintasi perbatasan yang sama dibawahnya, mereka semua berniat untuk merebut sebuah wilayah. Tetapi daerah yang mereka invasi bukanlah milik Pakistan atau Cina. Sebaliknya, secara de facto adalah milik Portugal – dan telah berkuasa disana selama lebih dari 400 tahun. Portugis merebut provinsi Goa, bersama dengan daerah kantong kecil bernama Daman dan Pulau Diu di barat laut, selama era kolonialisme tahun 1500-an. Mengambil keuntungan dari kelemahan kerajaan-kerajaan di India yang terpecah belah, Portugal tidak hanya merebut wilayah-wilayah ini tetapi juga berhasil mempertahankannya ditengah-tengah perang-perang berikutnya antara Inggris dan Prancis dalam upaya menguasai India. Mungkin yang lebih mengejutkan, Portugis berhasil mempertahankan kendali atas wilayah itu sepanjang era Kemaharajaan Inggris dan Raj.

Portugis menguasai Goa selama hampir 450 tahun
Pada tahun 1947 Inggris memutuskan pergi dari India, namun hal ini tidak diikuti oleh Portugal untuk angkat kaki dari koloninya di Goa.

Setelah Perang Dunia II, Inggris memutuskan untuk pergi dan India yang segera merdeka lahir. Namun bahkan setelah penarikan Inggris, Portugis tetap, dan dengan keras kepala menolak untuk menyerahkan wilayah yang telah lama mereka pegang itu. Namun, zaman telah berubah, dan era kolonialisme serta kekaisaran telah usai. Selain Goa, Daman, dan Diu, wilayah jajahan yang masih dipegang Portugal hanyalah koloni mereka di Mozambik, Angola dan Timor Portugis. Masalah mengenai kepemilikan Goa telah berlarut-larut selama tahun 1950-an dan akhirnya menjadi masalah politik domestik di India. Warga bertanya-tanya mengapa India tidak segera mengusir kekuatan sebuah negara Eropa yang jelas sudah lemah seperti Portugis, tetapi Perdana Menteri Jawaharlal Nehru memilih menghindar melakukannya karena beberapa alasan. Pertama, India masih dalam tahapan mempersatukan negara setelah kemerdekaan, termasuk melakukan operasi militer di Kashmir dan Hyderabad. Alasan yang Kedua, adalah karena faktor gerakan nasionalis di Goa yang didukung oleh saingan politiknya seperti Partai Komunis India dan Partai Sosialis Praja. Keengganan Nehru untuk mengambil tindakan signifikan di Goa ini terkait dengan ketidaksukaannya terhadap partai-partai politik saingan ini. Ketiga, India memperoleh kebebasannya sebagian besar melalui kebijakan tanpa kekerasan dan menggunakan kekuatan militer lebih dari yang diperlukan nampaknya belum perlu dilakukan.

Jalan menuju perang

Pada 18 Juni tahun 1946, Portugis tanpa ampun memukuli sekelompok wanita India yang telah mengorganisir pawai damai di Goa. Para wanita itu tidak hanya itu dipukuli dalam tahanan polisi, tetapi orang-orang Portugis juga mengancam akan menelanjangi putri-putri kecil para demonstran. Ketika tahun-tahun berlalu dan Nehru masih berharap Portugis akan mengambil langkah seperti Inggris, yang memilih menyerah dan pulang. Kadang-kadang muncul tekanan untuk segera mengambil tindakan seperti pada Agustus 1955 dimana polisi Portugis secara brutal membubarkan demo damai, yang menewaskan 22 orang dan melukai 225 lainnya. Selain protes tanpa kekerasan, beberapa kelompok bersenjata seperti Azad Gomantak Dal (Partai Goa Bebas) melakukan operasi gerilya dan terorisme terhadap Portugis di Goa. Pada tahun 1957, tentara India mengerahkan baterai anti pesawat di dekat lapangan terbang Daman dan Diu dan mengancam akan menembak jatuh setiap pesawat yang lewat di wilayah udara India sementara lepas landas atau mendarat di bandara yang baru dibangun di lokasi-lokasi ini. Meskipun demikian, tidak ada tindakan lebih lanjut dari India atas masalah ini, yang bisa India lakukan hanyalah sebatas blokade akses ke Goa, dimana hal ini bisa diatasi dengan mudah oleh Portugis dengan mengangkut suplai logistik via udara dari Pakistan dan Sri Lanka. Sikap pasif Nehru kemudian malah diartikan oleh Portugis sebagai kurangnya keberanian.

Dalam masalah Goa, Nehru dianggap tidak cukup berani dalam menentang tindakan sewenang-wenang Portugis di koloninya yang bermasalah ini

Pada 24 November 1961, Sabarmati, sebuah kapal penumpang yang lewat di antara pulau Anjidiv yang dikuasai Portugis dan pelabuhan India di Kochi, ditembaki oleh pasukan darat Portugis, yang mengakibatkan petugas mesin kapal cedera, serta seorang penumpang meninggal dunia. Tindakan itu dipicu oleh kekhawatiran Portugis bahwa kapal itu membawa tim pendarat militer yang bermaksud menyerbu pulau itu. Investigasi Portugis terhadap masalah ini mengungkapkan bahwa kapal itu juga telah ditembakki satu minggu sebelumnya — pada 17 November — ketika kapal itu secara tidak sengaja menyimpang ke perairan yang dikuasai Portugis. Insiden semakin menumbuhkan dukungan publik yang luas di India untuk segera melakukan invasi militer ke Goa. Pada tahun 1961, India sudah lebih stabil dan seruan untuk merebut kembali Goa semakin meningkat. Nehru ditekan untuk segera bertindak, dan seperti banyak pemimpin yang sedang dilanda perselisihan internal, ia kemudian memilih untuk mengambil tindakan militer melawan kekuatan eksternal (salah satunya sebagai pengalih isu, langkah yang ditiru Argentina 20 tahun kemudian di Malvinas), dalam hal ini negara yang merupakan penjajah wilayah India.

Kameramen Arthur Bonner dan Koresponden U.P. John Hlavacek menyelamatkan Aktivis Satyagraha yang ditembak Polisi Portugis di Perbatasan Goa, 15 Agustus 1955. Akumulasi sikap represif Portugis ini mendorong India untuk mengambil langkah konfrontasi militer.

Nehru memutuskan untuk melakukan serangan yang diberi nama Operasi Vijay (artinya “Kemenangan”) pada akhir November 1961, tetapi sudah memerintahkan angkatan bersenjata India untuk menyiapkan rencana beberapa bulan sebelumnya. Angkatan udara mulai berlatih pada awal Juni sementara angkatan laut melakukan latihan di lepas pantai Goa. Portugal dan dunia memperhatikan aktivitas India ini dan melontarkan keluhan serta dari negara-negara barat telah mengeluarkan peringatan yang sangat banyak. Bahkan Menteri Luar Negeri AS, John Foster Dulles memperingatkan India untuk tidak menggunakan kekerasan di Goa, meskipun ia juga segera menghentikan sikap mendukung pendudukan Portugis. Ada juga ancaman bahwa Portugal, sebagai anggota NATO, mungkin akan meminta organisasi itu untuk memberikan dukungan militer jika India benar-benar menyerang. Inggris diingatkan bahwa berdasar ketentuan Perjanjian Anglo-Portugis 1899 mereka diwajibkan untuk membantu Lisbon jika ada koloni Portugis yang diserang. Presiden AS John F. Kennedy – yang beberapa bulan sebelumnya berusaha melakukan invasi ke Kuba (yang gagal)- menulis surat kepada Nehru, memintanya untuk tidak menggunakan kekerasan.

Kennedy sempat menulis surat kepada Nehru, memintanya untuk tidak menggunakan kekerasan dalam krisis di Goa.

Pada saat yang sama, beberapa negara Afrika menegur India karena dianggap tidak juga memimpin perlawanan terhadap kolonialisme Portugis. Pada akhirnya, kemungkinan risiko Amerika Serikat atau NATO akan melakukan intervensi militer untuk membantu kemaharajaan Portugal yang sedang menuju kehancuran di luar negeri itu tampaknya semakin kecil. Sebagai tambahan di bidang politik, pada saat itu Nehru juga sedang terlibat dalam pertarungan menjelang pemilu melawan seorang kandidat sosialis di Bombay. Operasi untuk merebut kembali Goa memiliki 2 kepentingan, yakni bagi negaranya dan bagi keuntungan politiknya sendiri, sehingga disetujui dan resmi diperintahkan. Portugal mencurigai serangan yang akan datang dan mulai membuat persiapan, meski lemah dan tidak meyakinkan.

Persiapan militer Portugis

Pada bulan Maret 1960, Menteri Pertahanan Portugal Jenderal Júlio Botelho Moniz mengatakan kepada Perdana Menteri Salazar bahwa kampanye berkelanjutan Portugis dalam mencegah dekolonisasi akan membawa petaka bagi tentara “dalam sebuah misi bunuh diri yang tidak dapat dimenangkan”. Pendapatnya yang sama juga diutarakan oleh Menteri Angkatan Darat Kolonel Afonso Magalhães de Almeida Fernandes, Letnan Kolonel Francisco da Costa Gomes dan oleh perwira tinggi lainnya. Mengabaikan saran ini, Salazar mengirim pesan kepada Gubernur Jenderal Manuel António Vassalo e Silva di Goa pada tanggal 14 Desember, di mana ia memerintahkan pasukan Portugis di Goa untuk bertempur hingga orang terakhir: “Jangan berharap adanya kemungkinan gencatan senjata atau adanya tahanan Portugal, karena tidak akan ada penyerahan karena saya merasa bahwa tentara dan pelaut kita bisa menang atau mati. ” Salazar meminta Vassalo e Silva bertahan setidaknya selama delapan hari, di mana pada waktu itu ia berharap untuk mampu menggalang dukungan internasional melawan invasi India. Vassalo e Silva pada kenyataannya tidak mematuhi Salazar demi menghindari kehilangan nyawa manusia yang tidak perlu dan segera menyerah pada hari berikutnya setelah invasi India.

PM Portugis, Antonio Salazar yang keras kepala meminta tentara Portugis di Goa untuk bertempur sampai titik darah penghabisan.
Gubernur Jenderal Goa, Manuel António Vassalo e Silva enggan memenuhi perintah PM Salazar yang dianggapnya tidak masuk akal.

Persiapan militer Portugis sudah dimulai sejak tahun 1954, meresponi blokade ekonomi yang dilakukan oleh India dan awal dari serangan anti-Portugis di Goa dan invasi di Dadra dan Nagar Haveli. Tiga batalyon infantri ringan (masing-masing satu dikirim dari Portugal, Angola dan Mozambik) dan unit-unit pendukung lainnya diangkut ke Goa, memperkuat batalion lokal dan meningkatkan kehadiran militer Portugis di sana dari hampir tidak ada menjadi sekitar 12.000 orang. Sumber-sumber lain menyatakan bahwa, pada akhir 1955, pasukan Portugis di India mewakili total sekitar 8.000 pria (Eropa, Afrika, dan India), termasuk 7.000 di pasukan darat, 250 di pasukan angkatan laut, 600 di kepolisian, dan 250 di kepolisian. Pengawal Fiskal, yang dibagi antara distrik Goa, Daman dan Diu. Menyusul pencaplokan Dadra dan Nagar Haveli, otoritas Portugis memperkuat garnisun Portugis India, dengan unit dan personel yang dikirim dari Metropole dan dari provinsi-provinsi mereka di Afrika Portugis, Angola, dan Mozambik. Pasukan Portugis diorganisasi sebagai Angkatan Bersenjata Negara India (FAEI, Forças Armadas do Estado da Índia), di bawah komando terpadu yang dipimpin oleh Jenderal Paulo Bénard Guedes, yang menggabungkan peran sipil Gubernur Jenderal dengan peran militer sebagai Panglima. Guedes mengakhiri masa jabatannya pada tahun 1958, dan Jenderal Vassalo e Silva ditunjuk untuk menggantikannya dalam peran sipil dan militer.

Tentara Portugis asal Afrika di Goa saat berbaris di depan Gereja Yesus Lahir di Goa tahun 1954
Tentara Portugis di Goa yang bersenjata ringan jelas bukan tandingan militer India yang menjadi raksasa baru di Asia.

Pada tahun 1960, selama kunjungan inspeksi ke India Portugis dan mengacu dengan dimulainya aktivitas gerilya di Angola, Wakil Menteri Angkatan Darat, Francisco da Costa Gomes, menyatakan perlunya memperkuat kehadiran militer Portugis di wilayah Afrika itu, sebagian adalah dengan mengorbankan kehadiran militer mereka di Goa, di mana 7.500 personel yang ada saat itu dinilai terlalu banyak untuk hanya berurusan dengan tindakan anti-Portugis, dan terlalu sedikit untuk bisa menghadapi invasi India, yang, jika itu terjadi, harus ditangani dengan cara lain. Hal ini menyebabkan pasukan Portugis di India menderita pengurangan kekuatan secara tajam menjadi sekitar 3.300 tentara (pada saat invasi diperkirakan cuma sekitar 900-1400 yang efektif bertugas). Menghadapi berkurangnya kekuatan pasukan ini, strategi yang digunakan untuk mempertahankan Goa melawan invasi India didasarkan pada Plano Sentinela (Rencana Sentinel), yang membagi wilayah itu menjadi empat sektor pertahanan (Utara, Tengah, Selatan dan Mormugão), dan Plano de Barragens (Barrage Plan), yang mempersiapkan penghancuran semua jembatan untuk menunda gerakan pasukan penyerbu, serta penanaman ranjau di jalan dan pantai yang diprediksi sebagai jalur invasi. Unit-unit pertahanan diorganisasikan sebagai empat kelompok pertempuran (agrupamentos), dengan satu ditugaskan untuk masing-masing sektor dan bertugas memperlambat kemajuan pasukan penyerbu. Kapten Carlos Azaredo, yang ditempatkan di Goa pada saat konflik pecah, menggambarkan Plano Sentinela di surat kabar Portugis Expresso pada 8 Desember 2001 sebagai “rencana yang sama sekali tidak realistis dan tidak dapat dicapai, serta tidak lengkap. Rencana ini didasarkan pada upaya mengulur waktu. Tetapi, untuk tujuan ini, peralatan komunikasi portabel diperlukan. “Rencana untuk meranjau jalan dan pantai juga tidak dapat dilaksanakan karena kekurangan ranju yang parah.

Perang kolonial Portugis di Afrika menyebabkan mereka harus mengurangi kekuatan mereka di Goa jelang pecahnya konflik dengan India.

Komponen angkatan laut FAEI adalah Angkatan Laut Negara India (FNEI, Forças Navais do Estado da Índia), dipimpin oleh Komandan Angkatan Laut Goa, Komodor Raúl Viegas Ventura. Satu-satunya kapal perang Angkatan Laut Portugis yang signifikan hadir di Goa pada saat invasi adalah NRP Afonso de Albuquerque. Kapal itu dipersenjatai dengan empat meriam 120 mm yang mampu menembakkan dua tembakan per menit, dan empat meriam otomatis cepat. Selain kapal selam, Pasukan Angkatan Laut Portugis memiliki tiga kapal patroli ringan (lanchas de fiscalização), masing-masing dipersenjatai dengan kanon Oerlikon 20 mm, masing-masing berbasis di Goa, Daman dan Diu. Ada juga lima kapal dagang yang diperbantukan di Goa. Upaya Portugal mengirim kapal perang ke Goa untuk memperkuat pertahanan lautnya digagalkan oleh Presiden Nasser dari Mesir yang menolak akses kapal-kapal itu melewati Terusan Suez.

NRP Afonso de Albuquerque, Fregat tua Portugis, satu-satunya kapal perang signifikan yang dimiliki Portugis di Goa.

Portugis tidak mampu menghadirikan Kekuatan Udaranya di Goa, kecuali mengirimkan seorang perwira tunggal dengan peran penasihat udara di kantor Panglima Tertinggi. Pada 16 Desember, Angkatan Udara Portugis disiagakan untuk mengangkut sepuluh ton granat anti-tank di dua pesawat DC-6 dari Pangkalan Udara Montijo di Portugal ke Goa untuk membantu pertahanannya, namun upaya pengiriman ini gagal. Kekuatan udara Portugis di Goa pada saat konflik terbatas pada kehadiran dua pesawat angkut sipil, Lockheed Constellation milik TAP dan Douglas DC-4 Skymaster milik maskapai Goa, Portugis India Airlines. Orang-orang India mengklaim bahwa Portugis memiliki setidaknya satu skuadron F-86 Sabre yang ditempatkan di Bandara Dabolim — yang kemudian ternyata ini adalah laporan intelijen palsu. Pertahanan udara Portugis terbatas pada beberapa senjata anti-pesawat usang yang diawaki oleh dua unit artileri yang telah diselundupkan ke Goa dengan disamarkan sebagai anggota tim sepak bola.

Persiapan militer India

Setelah menerima lampu hijau untuk melakukan aksi militer dan mandat untuk merebut semua wilayah pendudukan Portugis, Letjen Chaudhari dari wilayah Tentara Selatan, menerjunkan Divisi Infanteri ke-17 dan Brigade Para ke-50 yang dikomandoi oleh Mayor Jenderal K.P. Candeth. Serangan atas daerah kantong Daman ditugaskan ke 1st Maratha Light Infantry sementara operasi di Diu ditugaskan ke batalyon ke-20 Rajput dan Madras ke-4. Sementara itu, Panglima Komando Udara Barat India, Air Vice Marshal Erlic Pinto, ditunjuk sebagai komandan semua kekuatan udara yang ditugaskan untuk operasi militer di Goa. Kekuatan udara yang akan dikerahkan untuk melakukan serangan di Goa terkonsentrasi di pangkalan-pangkalan udara di Pune dan Sambre.

Prajurit infanteri India di tahun 1960an masih memakai perlengkapan dan seragam Inggris era PD II

Angkatan Laut India mengerahkan dua kapal perang — INS Rajput, perusak Kelas R, dan INS Kirpan, fregat anti-kapal selam kelas Blackwood — di lepas pantai Goa. Serangan yang sebenarnya di Goa didelegasikan ke empat gugus tugas: Kelompok Kapal perang Permukaan terdiri dari 5 kapal: Mysore, Trishul, Betwa, Beas dan Kelompok kapal Pengangkut Cauverya terdiri dari 5 kapal: INS Delhi, Kirpan, Khukri dan Rajput yang berpusat di sekitar kapal induk ringan Vikrant dan Grup kapal Penyapu Ranjau yang terdiri dari kapal penyapu ranjau termasuk diantaranya kapal Karwar, Kakinada, Cannonore dan Bimilipatan dan Grup Pendukung yang terdiri dari Dharini.

HMS Rotherham yang kemudian diakuisisi India menjadi INS Rajput
Kapal induk pertama India, INS Vikrant turut dilibatkan dalam Operasi Vijay tahun 1961

Misi Angkatan udara utamanya adalah sebagai berikut:

  1. Penghancuran lapangan udara satu-satunya di Goa di Dabolim dengan tanpa menyebabkan kerusakan pada bangunan terminal dan fasilitas bandara lainnya.
  2. Penghancuran stasiun nirkabel di Bambolim Goa.
  3. Pencegahan penggunaan lapangan udara di Daman dan Diu, yang, bagaimanapun, tidak boleh diserang tanpa izin sebelumnya.
  4. Dukungan udara untuk misi pasukan darat.

Angkatan Darat juga meminta dukungan udara jarak dekat yang biasanya disediakan oleh pesawat-pesawat Vampire dari Skuadron No.45 yang terbang dari Cabrank.

Pesawat tempur Vampire dilibatkan oleh India untuk mendukung kekuatan darat yang menyerbu ke Goa.

Sementara itu Angkatan Laut India memiliki target-target berikut:

  1. Menyerang Pulau Anjidiv.
  2. Menyerang pelabuhan Mormugao
  3. Menyerbu Daman dan kemudian pelabuhan di Diu
Peta Wilayah Goa

Operasi Vijay

Operasi yang berlangsung kemudian sebenarnya berlangsung antiklimaks. Tujuan militer utama India sudah tercapai di hari pertama dan pasukan Portugis dengan cepat menyerah, seringkali tanpa perlawanan, mengabaikan perintah “bertarung hingga orang terakhir” yang dinilai konyol. Pada 11 Desember 1961, Divisi Infanteri ke-17 dan pasukan Angkatan Darat India diperintahkan maju ke Goa untuk menguasai Panaji dan Mormugão. Tusukan utama pada Panaji dilakukan oleh Grup Brigade Para ke-50, yang dipimpin oleh Brigadir Sagat Singh dari utara. Serbuan lain akan dilakukan oleh Brigade Infanteri India ke-63 dari arah timur. Serangan tipuan, dalam kekuatan setingkat kompi, harus dibuat dari selatan di sepanjang poros Majali-Canacona-Margao. Meskipun Brigade Para ke-50 ditugaskan hanya untuk membantu serangan utama yang dilakukan oleh Infanteri ke-17, unit-unitnya dengan cepat bergerak melintasi ladang ranjau, penghalang jalan, dan empat rintangan sungai untuk menjadi yang pertama mencapai Panaji.

Pada 11 Desember 1961, tentara India menyerbu masuk Goa.

Pertempuran di Goa dimulai pada pukul 09:45 tanggal 17 Desember 1961, ketika satu unit pasukan India menyerang dan menduduki kota Maulinguém di timur laut, menewaskan dua tentara Portugis. EREC ke-2 Portugis (esquadrão de rechecimento — skuadron pengintaian), yang ditempatkan di dekat Maulinguém, meminta izin untuk memerangi orang-orang India, tetapi izin ditolak sekitar pukul 13:45. Pada sore hari tanggal 17, komando Portugis mengeluarkan instruksi bahwa semua perintah untuk pasukan Portugis akan dikeluarkan langsung oleh markas besar, lewat pos-pos komando lokal. Hal ini menyebabkan kebingungan dalam rantai komando. Pada pukul 02:00 tanggal 18 Desember, EREC ke-2 dikirim ke kota Doromagogo untuk mendukung penarikan pasukan polisi yang ada di daerah itu, dan diserang oleh unit-unit Angkatan Darat India dalam perjalanan mereka kembali.

Berita invasi India di Goa

Pada pukul 04:00, serangan India dimulai dengan pengeboman artileri terhadap posisi Portugis di selatan Maulinguém, serangan ini berdasar atas laporan intelijen yang tidak akurat bahwa Portugis telah menempatkan “tank tempur berat” di daerah tersebut. Pada pukul 04:30, Bicholim ditembaki dengan gencar. Pada 04:40, pasukan Portugis menghancurkan jembatan di Bicholim, dan diikuti dengan penghancuran jembatan di Chapora di Colvale dan di Assonora pada pukul 05:00. Pada pagi hari tanggal 18 Desember, Brigade Para ke-50 Angkatan Darat India masuk ke Goa dalam tiga kolom.

  1. Kolom timur terdiri dari Para Maratha ke-2 yang maju menuju kota Ponda di Goa tengah melalui Usgão.
  2. Kolom pusat yang terdiri dari Para Punjab ke-1 maju menuju Panaji melalui desa Banastari.
  3. Kolom barat — kekuatan utama serangan itu — terdiri dari Infantri Ringan ke-2 dan juga divisi lapis baja yang melintasi perbatasan pada pukul 06:30 dan bergerak maju di Tivim.

Pada pukul 05:30, pasukan Portugis meninggalkan barak mereka di Ponda di pusat Goa dan berbaris menuju kota Usgão, ke arah kolom timur India yang berasal dari Maratha Para ke-2 India, yang berada di bawah komando Mayor Dalip Singh Jind dan juga pasukan tank dari Kavaleri-7 India. Pada pukul 09:00, pasukan Portugis ini melaporkan bahwa pasukan India sudah ada setengah jalan dari kota Ponda.

Pada pukul 10:00, pasukan Portugis dari EREC ke-1, berhadapan dengan Infanteri Ringan ke-2 India yang bergerak maju, memulai penarikan ke selatan ke kota Mapuca di mana, pada pukul 12:00, mereka berada di bawah ancaman dikepung oleh pasukan India. Pada pukul 12:30, EREC 1 memulai gerak mundur mereka, berjalan melewati kepungan pasukan India, dengan mobil lapis baja mereka menembak ke arah depan untuk melindungi penarikan kendaraan pengangkut personel. Unit ini dipindahkan dengan feri lebih jauh ke selatan ke ibu kota Panaji. Pada pukul 13:30, tepat setelah mundurnya EREC ke-2, Portugis menghancurkan jembatan di Banastarim, memutus semua jalan ke Panaji. Pada pukul 17:45, pasukan EREC 1 dan Kompi Caçadores ke-9 dari Grup Tempur Portugis Utara telah menyelesaikan penyeberangan feri mereka dari Sungai Mandovi ke Panaji, hanya beberapa menit sebelum kedatangan pasukan lapis baja India.

Tentara India disambut penduduk di Kota Panaji setelah tentara Portugis mundur.

Tank-tank India telah mencapai Betim, tepat di seberang Sungai Mandovi dari Panaji, tanpa menemui perlawanan apa pun. Infantri Ringan Sikh ke-2 bergabung pada pukul 21:00, melintasi ranjau dan jembatan yang hancur dalam perjalanan. Karena tidak ada perintah lainnya, unit ini istirahat di Betim untuk malam itu. Pada pukul 20:00, seorang Goa bernama Gregório Magno Antão menyeberangi Sungai Mandovi dari Panaji dan menyampaikan surat tawaran gencatan senjata dari Mayor Acácio Tenreiro dari Tentara Portugis kepada Mayor Shivdev Singh Sidhu, komandan Kavaleri India ke-7 yang berkemah di sana . Surat itu berbunyi: “Komandan Militer Kota Goa menyatakan bahwa ia ingin melakukan perundingan dengan komandan pasukan India berkaitan dengan penyerahan diri. Dalam kondisi ini, pasukan Portugis harus segera menghentikan tembakan demikian pula pasukan India untuk mencegah pembantaian penduduk dan kehancuran kota. “

Tentara India masuk wilayah Goa tahun 1961

Malam yang sama Mayor Shivdev Singh Sidhu dengan pasukan Kavaleri ke-7 memutuskan untuk mengambil alih Fort Aguada, setelah menerima informasi bahwa sejumlah pendukung Republik India ditahan di sana. Namun, orang Portugis yang bertahan di benteng itu belum menerima perintah untuk menyerah dan menanggapinya dengan menembaki pasukan India, Mayor Sidhu dan Kapten Vinod Sehgal terbunuh dalam baku tembak. Perintah pasukan India untuk menyeberangi Sungai Mandovi diterima pada pagi hari tanggal 19 Desember, di mana dua kompi senapan Infanteri Ringan Sikh ke-2 maju di Panaji pada pukul 07:30 dan mengamankan kota itu tanpa menghadapi perlawanan apa pun. Atas perintah Brigadir Sagat Singh, pasukan yang memasuki Panaji melepas helm baja mereka dan mengenakan baret marun Resimen Parasut. Benteng Aguada juga berhasil dikuasai pada hari itu, ketika Kavaleri ke-7 India menyerang dengan bantuan dari divisi lapis baja yang ditempatkan di Betim dan membebaskan para tahanan politiknya.

Serangan dari Timur

Sementara itu, di timur, Brigade Infanteri India ke-63 maju dalam dua kolom. Kolom kanan, yang terdiri dari Batalion Bihar ke-2, dan kolom kiri, yang terdiri dari Batalion Sikh ke-3, bergabung di kota perbatasan Mollem dan kemudian maju dengan rute terpisah di Ponda. Menjelang malam, Bihar ke-2 telah mencapai kota Candeapur, sedangkan Sikh ke-3 telah mencapai Darbondara. Meskipun tidak ada yang mengalami perlawanan, kemajuan mereka terhambat karena semua jembatan yang membentang diatas sungai telah hancur. Batalion pengaman di belakang adalah Infanteri Sikh ke-4, yang mencapai Candeapar pada dini hari tanggal 19 Desember, dan dengan tidak menghiraukan kehancuran jembatan Borim, pergi melintasi sungai Zuari yang dalamnya setinggi dada melintasi sungai kecil untuk mencapai dermaga yang dikenal sebagai Embarcadouro de Tembim di desa Raia, dari mana jalan menghubungkan ke Margão, pusat administrasi Goa selatan.

26 Dec 1961, Panaji, India — Original caption: Pangim, Goa: Spoils Of War. This long line of disabled Portuguese military vehicles greeted invading Indian troops as they approached Pangim Airport Dec. 19th during the takeover of this Goan capital. The retreating Portuguese troops purposely damaged the vehicles to prevent their sue by the Indians. — Image by © Bettmann/CORBIS

Batalion mereka beristirahat di kandang ternak dan balkon rumah yang berdekatan sebelum melanjutkan perjalanan ke Margão pada pukul 12:00. Dari sini, mereka maju menuju pelabuhan Mormugão. Dalam perjalanan mereka menghadapi perlawanan sengit dari unit Portugis yang beranggotakan 500 orang di desa Verna, tempat mereka bergabung dengan satuan Bihar ke-2. Unit Portugis akhirnya menyerah pada pukul 15:30 setelah pertempuran sengit, dan Sikh ke-4 kemudian melanjutkan ke Mormugão dan Bandara Dabolim, di mana bagian utama Angkatan Bersenjata Portugis menunggu orang-orang India. Kompi Rajput ke-4 melakukan serangan pancingan ke selatan Margão untuk menyesatkan orang-orang Portugis. Satuan ini melintasi ladang ranjau, penghalang jalan dan jembatan yang hancur, dan akhirnya melanjutkan gerakan mereka untuk membantu mengamankan kota Margão.

Serangan Udara di Goa

Serangan udara India pertama dipimpin oleh Komandan Wing N.B. Menon pada 18 Desember atas Bandara Dabolim dengan menggunakan 12 pesawat pembom English Electric Canberra. 63.000 pon peledak dijatuhkan dalam beberapa menit, benar-benar menghancurkan landasan. Sejalan dengan mandat yang diberikan oleh Komando Udara, struktur dan fasilitas di lapangan terbang dibiarkan tidak rusak. Serangan India kedua dilakukan pada target yang sama oleh delapan Canberra yang dipimpin oleh Komandan Wing Surinder Singh, lagi-lagi meninggalkan terminal bandara dan bangunan lainnya tanpa tersentuh. Dua pesawat angkut sipil – sebuah Lockheed Constellation milik maskapai Portugal TAP dan Douglas DC-4 milik maskapai Goan TAIP – diparkir di apron. Pada malam tanggal 18 Desember, Portugis menggunakan kedua pesawat untuk mengevakuasi keluarga beberapa pejabat pemerintah dan militer setelah pekerja bandara buru-buru memperbaiki bagian landasan yang rusak parah malam itu. Pesawat pertama yang pergi adalah TAP Constellation, dipimpin oleh Manuel Correia Reis, yang lepas landas hanya dengan menggunakan landasan sepanjang 700 meter; Puing-puing dari landasan pacu merusak badan pesawat, menyebabkan 25 lubang dan ban kempes. Untuk memungkinkan ‘lepas landas singkat’, pilot telah membuang semua kursi tambahan dan peralatan lain yang tidak diinginkan.

Serangan udara India pertama dipimpin oleh Komandan Wing N.B. Menon pada 18 Desember atas Bandara Dabolim dengan menggunakan 12 pesawat pembom English Electric Canberra. Tanpa kekuatan udara, pasukan Portugis menjadi bulan-bulanan serangan India

TAIP DC-4 kemudian juga lepas landas, diterbangkan oleh Direktur TAIP Mayor Solano de Almeida. Kedua pesawat berhasil menggunakan gelapnya malam dan terbang pada ketinggian sangat rendah untuk menerobos patroli udara India dan melarikan diri ke Karachi, Pakistan. Serangan India ketiga dilakukan oleh enam pesawat tempur Hawker Hunters, yang berhasil menyerang stasiun nirkabel di Bambolim dengan roket dan tembakan kanon. Perintah untuk mendukung pasukan darat dijalankan oleh skuadron pesawat tempur No. 45 de Havilland Vampire, yang berpatroli di sektor ini tetapi tidak menerima permintaan apa pun untuk bertindak. Dalam insiden “friendly fire”, dua Vampire menembakkan roket ke posisi Infanteri Ringan Sikh ke-2, yang melukai dua orang tentara, sementara di tempat lain, pasukan darat India secara keliru menembaki pesawat T-6 Texan milik IAF, untungnya hanya menyebabkan kerusakan minimal. Pada tahun-tahun berikutnya, komentator menyatakan bahwa serangan udara India yang intens terhadap lapangan udara tidak dapat dilakukan, karena tidak ada bandara yang ditargetkan memiliki kemampuan militer dan mereka tidak melayani pesawat militer apapun. Karena itu, lapangan udara yang diserang sebenarnya adalah sasaran sipil yang tidak berdaya. Angkatan Laut India terus mengendalikan Bandara Dabolim, meskipun pernah digunakan sebagai bandara sipil.

Penyerangan ke Pulau Anjidiv

Anjidiv adalah sebuah pulau kecil yang masuk wilayah India Portugis sepanjang 1,5 km2, yang saat itu hampir tidak berpenghuni, milik Distrik Goa, meskipun di lepas pantai negara bagian India, Karnataka. Di pulau itu berdiri Benteng Anjidiv kuno, yang dipertahankan oleh satu peleton tentara Goan asal Portugis. Komando Angkatan Laut India memberi tugas untuk mengamankan Anjidiv ke kapal penjelajah INS Mysore dan kapal fregat INS Trishul. Di bawah naungan tembakan artileri dari kapal-kapal itu, marinir India di bawah komando Letnan Arun Auditto menyerbu pulau itu pada pukul 14:25 pada 18 Desember dan segera bertarung melawan garnisun Portugis. Serangan itu berhasil dipukul mundur oleh tentara Portugis, dengan tujuh marinir India tewas dan 19 lainnya luka-luka. Di antara korban India adalah dua perwira. Pertahanan Portugis akhirnya dikuasai setelah tembakan gencar dari kapal-kapal India di lepas pantai.

Kapal Penjelajah INS Mysore (ex HMS Nigeria) turut digunakan India dalam merebut Pulau Anjidiv

Pulau itu diamankan oleh orang-orang India pada pukul 14:00 pada hari berikutnya, semua tentara Portugis ditangkap dengan pengecualian dua kopral dan satu prajurit. Bersembunyi di bebatuan, seorang kopral menyerah pada 19 Desember. Yang lain ditangkap pada sore hari 20 Desember, tetapi tidak sebelum melemparkan granat tangan yang melukai beberapa marinir India. Yang terakhir dari ketiganya, prajurit Goa Manuel Caetano, menjadi prajurit Portugis terakhir di India yang ditangkap, pada 22 Desember, setelah ia mencapai pantai India dengan berenang.

Pertempuran laut di Pelabuhan Mormugão

Pada pagi hari tanggal 18 Desember, kapal Fregat Portugis NRP Afonso de Albuquerque berlabuh di Pelabuhan Mormugão. Selain melawan unit-unit angkatan laut India, kapal itu juga bertugas menyediakan baterai artileri pantai untuk mempertahankan pelabuhan dan pantai-pantai yang bersebelahan, dan menyediakan komunikasi radio yang vital dengan Lisbon setelah fasilitas radio di darat dihancurkan dalam serangan udara India. Pada pukul 09:00, tiga fregat India yang dipimpin oleh INS Betwa mengambil posisi dekat pelabuhan, menunggu perintah untuk menyerang Afonso dan mengamankan akses laut ke pelabuhan. Pada pukul 11:00, pesawat-pesawat India membom pelabuhan Mormugão. Pada pukul 12.00, setelah mendapat izin, INS Betwa dan INS Beas memasuki pelabuhan dan menembaki Afonso dengan meriam 4,5 inci mereka sambil mengirimkan permintaan untuk menyerah dalam kode morse di antara jeda tembakan. Sebagai tanggapan, Afonso mengangkat jangkarnya, menuju ke arah musuh dan membalas tembakan dengan meriam 120 mm. Afonso kalah jumlah dengan pihak India, dan berada pada posisi yang sangat tidak menguntungkan karena membatasi manuvernya, dan karena keempat Meriam 120 mmnya hanya dapat menembakkan dua peluru per menit, dibandingkan dengan 16 peluru per menit dari meriam di kapal fregat India.

Kapal baru India, INS Betwa berduel dengan Fregat Portugis NRP Afonso de Albuquerque berlabuh di Pelabuhan Mormugão.

Setelah beberapa menit saling menembak, pada pukul 12:15, Afonso tertembak menara pengontrolnya, melukai perwira senjatanya. Pada pukul 12:25, sebuah pecahan bom anti-personil yang ditembakkan dari sebuah kapal India meledak langsung di atas kapal, menewaskan petugas radionya dan melukai parah komandannya, Kapten António da Cunha Aragão, Perwira pertama Pinto da Cruz mengambil alih komando kapal . Sistem propulsi kapal juga rusak parah dalam serangan ini. Pada jam 12:35, Afonso berbalik 180 derajat dan kandas di pantai Bambolim. Pada saat itu, bertentangan dengan perintah komandan, sebuah bendera putih dikibarkan di bawah instruksi dari sersan yang bertanggung jawab atas sinyal, tetapi bendera itu tidak terlihat oleh orang-orang India, yang meneruskan serangan mereka. Bendera segera diturunkan.

Akhirnya pada pukul 12:50, setelah Afonso menembakkan hampir 400 peluru ke arah orang India, mengenai dua kapal India, dan telah mengalami kerusakan parah, perintah diberikan untuk mulai meninggalkan kapal. Di bawah tembakan gencar yang diarahkan ke kapal dan pantai, kru yang tidak penting termasuk staf senjata meninggalkan kapal dan pergi ke daratan. Mereka diikuti pukul 13:10 oleh kru lainnya, yang, bersama dengan komandan mereka yang terluka, membakar kapal dan turun langsung ke pantai. Setelah ini, komandan dipindahkan dengan mobil ke rumah sakit di Panaji. NRP Afonso de Albuquerque kehilangan 5 orang gugur dan 13 orang terluka dalam pertempuran itu. Awak kapal secara resmi menyerah dengan pasukan Portugis yang tersisa pada 19 Desember 1961 pukul 20:30. Sebagai tanda niat baik, komandan INS Betwa dan INS Beas kemudian mengunjungi Kapten Aragão ketika ia berbaring di tempat tidur di Panaji. Afonso — yang telah diganti namanya menjadi Saravastri oleh Angkatan Laut India — terbengkelai di pantai dekat Dona Paula hingga 1962, ketika kapal itu ditarik ke Bombay dan dijual untuk dibesituakan. Bagian-bagian dari kapal yang tersisa dipajang di Museum Angkatan Laut di Bombay. Kapal patroli Portugis NRP Sirius, di bawah komando Letnan Marques Silva, juga hadir di Goa. Setelah mengamati Afonso kandas dan tidak memiliki komunikasi dari Komando Angkatan Laut Goa, Letnan Marques Silva memutuskan untuk mengaramkan Sirius. Ini dilakukan dengan merusak baling-baling dan membuat kapal menabrak batu. Delapan orang kru Sirius menghindari penangkapan oleh pasukan India dan menaiki kapal barang Yunani di mana mereka berhasil mencapai Pakistan.

Aksi militer di Daman

Daman, memiliki luas sekitar 72 km2, berada di ujung selatan Gujarat yang berbatasan dengan Maharashtra, sekitar 193 km di utara Bombay. Pedesaan terpecah-pecah diselingi dengan rawa, tambak garam, sungai, sawah, pohon kelapa dan kebun sawit. Sungai Daman Ganga membagi ibu kota Daman (Damão dalam bahasa Portugis) menjadi dua bagian — Nani Daman (Damão Pequeno) dan Moti Daman (Damão Grande). Pertahanan penting yang strategis di tempat itu adalah Benteng Daman (benteng São Jerónimo) dan menara pengatur lalu lintas udara Bandara Daman. Garnisun Portugis di Daman dipimpin oleh Mayor António José da Costa Pinto (yang menggabungkan peran Gubernur Distrik dan komandan militer), dengan 360 tentara Angkatan Darat Portugis, 200 polisi dan sekitar 30 pejabat pabean di bawahnya. Pasukan tentara terdiri dari dua kompi cacaador (infantri ringan) dan baterai artileri, yang diorganisir sebagai kelompok tempur “Constantino de Bragança”. Baterai artileri dipersenjatai dengan senjata meriam kaliber 87,6 mm, tetapi hanya punya amunisi tua yang tidak memadai. Portugis juga menempatkan meriam anti-pesawat 20 mm, sepuluh hari sebelum invasi untuk melindungi artileri. Daman telah dilindungi dengan ladang ranjau kecil dan tempat perlindungan telah dibangun.

Daerah kantung Daman

Gerakan militer India di kantong Daman dilakukan oleh Batalyon Infantri Ringan 1 di bawah komando Letnan Kolonel S.J.S. Bhonsle dalam operasi yang dilakukan pada fajar tanggal 18 Desember. Rencananya adalah untuk merebut sedikit demi sedikit Daman dalam empat fase, dimulai dari area lapangan terbang, kemudian secara bertahap pedesaan, Damão Pequeno dan akhirnya Damão Grande termasuk bentengnya. Pergerakan dimulai pada pukul 04:00 ketika satu batalion dan tiga kompi tentara India maju melalui area tengah wilayah utara, yang bertujuan untuk merebut lapangan terbang. Namun, kejutan itu hilang ketika Kompi A mencoba merebut menara kontrol dan menderita tiga korban. Portugis kehilangan satu tentara yang tewas dan enam lainnya ditawan. Kompi D India merebut posisi bernama “Point 365” tepat sebelum pagi berikutnya. Saat fajar menyingsing, dua sorti oleh pesawat tempur Angkatan Udara India menyerang posisi mortir dan senjata Portugis di dalam Benteng Moti Daman.

Pada pukul 04:30, artileri India mulai membombardir Damão Grande. Serangan artileri dan kesulitan transportasi telah mengisolasi pos komando Portugis di sana dari pasukan lainnya di Damão Pequeno. Pada pukul 07:30, sebuah unit Portugis di benteng São Jerónimo menembakkan mortir ke pasukan India yang berusaha merebut landasan udara. Pada pukul 11:30, pasukan Portugis yang menahan serangan India di perbatasan timur di Varacunda kehabisan amunisi dan mundur ke barat ke Catra. Pada pukul 12:00, untuk menunda gerak maju India setelah penarikan dari Varacunda, baterai artileri Portugis di tepi Rio Sandalcalo diperintahkan untuk melepaskan tembakan. Komandan baterai, Kapten Felgueiras de Sousa, sebaliknya membongkar senjata dan menyerah kepada orang-orang India. Pada pukul 12:00, lapangan terbang diserang oleh kompi A dan C secara bersamaan. Dalam baku tembak berikutnya, Kompi A kehilangan satu prajurit lagi gugur dan tujuh lainnya cedera. Pada pukul 13:00, pasukan Portugis yang tersisa di perbatasan timur di Calicachigão kehabisan amunisi mereka dan mundur menuju pantai.

Pada pukul 17:00, tanpa adanya perlawanan, orang-orang India telah berhasil menduduki sebagian besar wilayah itu, kecuali lapangan terbang dan Damão Pequeno, tempat oranf Portugis membuat pertahanan terakhir mereka. Pada saat ini, Angkatan Udara India telah melakukan enam serangan udara, yang sangat menurunkan moral pasukan Portugis. Pada pukul 20:00, setelah pertemuan antara para komandan Portugis, sebuah delegasi dikirim ke garis pertahanan India untuk membuka negosiasi, tetapi ditembaki, dan dipaksa untuk mundur. Upaya serupa yang dilakukan oleh pasukan artileri untuk menyerah pada pukul 08:00 keesokan harinya juga ditolak. Orang-orang India menyerang lapangan udara keesokan paginya, di mana pihak Portugis menyerah pada pukul 11:00 tanpa perlawanan. Komandan Garnisun Mayor Costa Pinto, meskipun terluka, dibawa ke lapangan terbang, karena orang-orang India hanya mau menerima penyerahan diri darinya. Sekitar 600 tentara dan polisi Portugis (termasuk 24 perwira) ditangkap. Orang-orang India menderita kerugian 4 tewas dan 14 luka-luka, sedangkan pihak Portugis menderita 10 tewas dan dua luka-luka. Infantri Ringan ke-1 dalam pertempuran dianugerahi satu medali VSM untuk komandannya dan dua Medali Sena.

Di sektor Daman, pesawat Mystères India menerbangkan 14 sorti terus menerus menyerang posisi artileri Portugis.

Di sektor Daman, pesawat Mystères India menerbangkan 14 sorti terus menerus menyerang posisi artileri Portugis. Sementara itu Seperti kapal Vega di Diu, kapal patroli NRP Antares — yang berbasis di Daman di bawah komando Letnan Dua Abreu Brito — diperintahkan untuk berlayar keluar dan melawan invasi India yang akan segera terjadi. Kapal itu tetap di posisi dari 07:00 pada tanggal 18 Desember dan tetap menjadi saksi bisu selama serangan udara yang diikuti oleh invasi darat sampai 19:20, ketika mereka kehilangan semua komunikasi dari darat. Setelah mendengar semua informasi yang menyatakan bahwa semua posisi sudah ada dibawah kendali India, Letnan Brito memutuskan untuk menyelamatkan awak dan kapalnya dengan melarikan diri; melintasi 530 mil (850 km), lolos dari deteksi pasukan India, dan tiba di Karachi pada pukul 20:00 tanggal 20 Desember.

Aksi militer di Diu

Diu adalah pulau sepanjang 13,8 km dengan lebar 4,6 km (luas sekitar 40 km2) di ujung selatan Gujarat. Pulau ini dipisahkan dari daratan oleh jalur sempit yang mengalir melalui rawa. Jalur itu hanya bisa digunakan oleh kapal nelayan dan kapal kecil. Tidak ada jembatan yang melintasi jalur air itu pada saat konflik pecah. Garnisun Portugis di Diu dipimpin oleh Mayor Fernando de Almeida e Vasconcelos (gubernur distrik dan komandan militer), dengan sekitar 400 tentara dan perwira polisi, diorganisasi sebagai kelompok tempur “António da Silveira”. Diu diserang pada 18 Desember dari arah barat laut di sepanjang Kob Forte oleh dua kompi dari Batalyon Rajput ke-20 – dengan lapangan udara Diu menjadi sasaran utama – dan dari arah timur laut bersama dengan Gogal dan Amdepur oleh Satuan Rajput kompi B dan ke-4 Batalyon Madras. Unit-unit Angkatan Darat India ini mengabaikan permintaan dari Komandan Wing M.P.O. “Micky” Blake, dari Angkatan Udara India, untuk menyerang hanya pada saat fajar ketika dukungan udara jarak dekat tersedia. Pertahanan Portugis memukul mundur serangan dengan didukung oleh artileri dan mortir 87,6 mm, menimbulkan kerugian besar pada orang-orang India. Serangan pertama dilakukan oleh satuan Madras ke-4 pada sebuah pos perbatasan polisi pada pukul 01:30 tanggal 18 Desember di Gogol dan dipukul mundur oleh 13 petugas polisi Portugis. Upaya lain pada pukul 02:00 sekali lagi digagalkan, kali ini dengan didukung oleh artileri dan mortir 87,5mm Portugis.

Pulau Diu

Pada pukul 04:00, sepuluh dari 13 orang Portugis yang bertahan di Gogol telah terluka dan dievakuasi ke rumah sakit. Pada pukul 05:30, artileri Portugis melancarkan serangan baru terhadap satuan Madras ke-4 yang menyerang Gogol dan memaksa mereka mundur. Sementara itu, pada pukul 03:00, dua kompi Rajput ke-20 berusaha melintasi rawa berlumpur yang memisahkan mereka dari pasukan Portugis di Passo Covo dengan rakit yang terbuat dari bambu yang diikat ke tong minyak. Upaya itu adalah bagian untuk membuat pijakan dan merebut lapangan terbang.

Serangan ini dipukul mundur dengan kerugian yang cukup besar oleh unit tentara Portugis yang bertahan gigih dengan senjata otomatis kecil dan senjata Sten serta senapan mesin ringan dan sedang. Menurut sumber-sumber India, unit Portugis ini setidaknya berjumlah antara 125 dan 130 tentara, tetapi menurut sumber-sumber Portugis pos ini dipertahankan oleh hanya delapan prajurit. Ketika satuan Rajput mencapai bagian tengah sungai, orang Portugis di Diu melepaskan tembakan dengan dua senapan mesin ringan dan sedang, membuat beberapa rakit terbalik. Mayor Mal Singh dari Angkatan Darat India bersama dengan lima orang mendesak maju dan menyeberangi sungai. Saat mencapai tepi jauh, ia dan anak buahnya menyerang parit senapan mesin ringan di Fort-De-Cova dan membungkam mereka. Tembakan senapan mesin sedang Portugis dari posisi lain melukainya dan dua orang anak buahnya. Namun, dengan bantuan kompi Havildar pimpinan Mayor Mohan Singh dan dua pria lainnya, ketiganya yang terluka dievakuasi kembali melintasi sungai ke tempat yang aman.

Operasi udara dari kapal induk INS Vikrant dalam Operasi Vijay 1961.

Ketika fajar mendekat, orang-orang Portugis meningkatkan intensitas tembakannya yang mengakibatkan peralatan penyeberangan batalion itu mengalami kerusakan parah. Akibatnya, batalion India diperintahkan untuk kembali ke desa Kob saat fajar. Serangan lain pada pukul 05:00 juga diusir oleh pihak Portugis. Pada pukul 06:30, pasukan Portugis mengambil rakit yang ditinggalkan oleh Rajput ke-20, mengumpulkan amunisi yang tertinggal dan menyelamatkan seorang prajurit India yang terluka, yang kemudian diberi perawatan. Pada pukul 07:00, serangan udara India dimulai, memaksa orang-orang Portugis untuk mundur dari Passo Covo ke kota Malala. Pada pukul 09:00 unit Portugis di Gogol juga mundur, hal ini memungkinkan Kompi Rajput B (yang menggantikan Madras ke-4) untuk maju di bawah tembakan artileri berat dan menduduki kota. Pada pukul 10:15, kapal penjelajah India INS Delhi, berlabuh di Diu, mulai membombardir target di pantai. Pada pukul 12:45, jet-jet India menembakkan sebuah roket ke sebuah mortir di Benteng Diu yang menyebabkan kebakaran di dekat tempat pembuangan amunisi, yang memaksa orang Portugis memerintahkan benteng untuk dievakuasi— tugas yang kemudiam diselesaikan pada pukul 14:15 di bawah pemboman besar-besaran oleh orang-orang India.

INS Delhi (ex HMS Achilles) dikerahkan untuk membombardir Benteng Portugis di Pulau Diu.

Pada pukul 18:00, para komandan Portugis sepakat dalam sebuah pertemuan bahwa, mengingat serangan udara India yang berulangkali dan ketidakmampuan mereka untuk mengadakan kontak dengan markas besar di Goa atau Lisbon, mereka memutuskan untuk menyerah kepada orang-orang India. Pada 19 Desember, pukul 12:00, Portugis secara resmi menyerah. Orang-orang India menangkap 403 tahanan, termasuk Gubernur pulau itu bersama 18 perwira dan 43 sersan. Dalam penyerahan diri kepada orang-orang India, Gubernur Diu menyatakan bahwa dia bisa saja menahan Angkatan Darat India selama beberapa minggu tetapi dia tidak mampu mengatasi serangan dari Angkatan Udara India. Di pihak Angkatan Udara India juga hadir pada upacara tersebut dan diwakili oleh Kapten Godkhindi, Wing Cmdr Micky Blake dan Sqn Ldr Nobby Clarke. 7 tentara Portugis terbunuh dalam pertempuran di Diu. Mayor Mal Singh dan Sepoy Hakam Singh dari pasukan India dianugerahi medali Ashok Chakra (Kelas III). Pada tanggal 19 Desember, Kompi C Madras ke-4 mendarat di pulau Panikot di Diu, tempat 13 tentara Portugis menyerah kepada mereka di sana.

Serangan udara di Diu

Operasi udara India di Sektor Diu dipercayakan kepada Armaments Training Wing yang dipimpin oleh Wg Cdr Micky Blake. Serangan udara pertama dilakukan saat fajar pada tanggal 18 Desember dan ditujukan untuk menghancurkan benteng Diu yang menghadap daratan. Sepanjang sisa hari itu, Angkatan Udara memiliki setidaknya dua pesawat di udara setiap saat, memberikan dukungan udara jarak dekat untuk mendukung infanteri India. Pada pagi hari, angkatan udara menyerang dan menghancurkan ATC Lapangan Terbang Diu serta bagian-bagian Benteng Diu. Atas perintah dari Komando Udara Taktis yang berlokasi di Pune, dua pesawat Toofani (Pesawat tempur Ouragan) menyerang dan menghancurkan landasan pacu lapangan terbang dengan 4 buah bom 1.000 lb Mk 9. Serangan mendadak kedua ditujukan ke landasan pacu dan rencananya akan dilakukan oleh Wg Cdr Blake sendiri akhirnya dibatalkan ketika Blake diberi laporan mengenai adanya orang-orang yang melambaikan bendera putih. Dalam serangan mendadak berikutnya, Angkatan Udara India menyerang dan menghancurkan tempat pembuangan amunisi Portugis serta sebuah kapal patroli yang berusaha melarikan diri dari Diu. Dengan tidak adanya kekuatan udara Portugis, unit-unit anti-pesawat darat Portugis berusaha untuk memberi perlawanan terhadap serangan India, tetapi mereka kewalahan dan dengan cepat dibungkam, memberikan superioritas udara sepenuhnya ke India. Serangan udara yang terus-menerus memaksa gubernur Portugis di Diu menyerah.

Aksi angkatan laut di Diu

Kapal penjelajah India, INS Delhi berlabuh di lepas pantai Diu dan menembakkan rentetan tembakan meriam 6 inci ke arah benteng Diu yang diduduki Portugis. Panglima Angkatan Udara India yang beroperasi di daerah itu melaporkan bahwa beberapa peluru yang ditembakkan dari New Delhi memantul dari pantai dan meledak di daratan India. Namun, tidak ada korban dilaporkan dari Insiden ini. Pada pukul 04:00 tanggal 18 Desember, kapal patroli Portugis NRP Vega bertemu INS Delhi sekitar 12 mil (19 km) di lepas pantai Diu, dan diserang dengan tembakan senapan mesin berat. Karena berada di luar jangkauan, kapal itu tidak menderita korban dan kerusakannya minimal, kapal itu mundur ke pelabuhan di Diu. Pada pukul 07:00, muncul berita bahwa invasi India telah dimulai, dan komandan Vega, Letnan Dua Oliveira e Carmo diperintahkan untuk berlayar dan bertarung hingga peluru terakhir. Pada pukul 07:30, para awak Vega melihat dua pesawat India dalam misi patroli dan menembaki mereka dengan meriam Oerlikon 20mm kapal. Sebagai balasan, pesawat India menyerang Vega dua kali, membunuh kaptennya dan para penembak sertabmemaksa kru lainnya untuk meninggalkan kapal dan berenang ke daratan, di mana mereka ditangkap sebagai tawanan perang.

NRP Vega

Portugis menyerah

Menjelang malam tanggal 18 Desember, sebagian besar Goa telah dikuasai pasukan India yang bergerak maju, sementara lebih dari dua ribu tentara Portugis telah mengambil posisi di pangkalan militer di Alparqueiros di pintu masuk ke kota pelabuhan Vasco da Gama. Sesuai dengan rencana strategi Portugis bernama Plano Sentinela, pasukan pertahanan harus melakukan pertahanan terakhir mereka di pelabuhan, bertahan melawan pasukan India sampai bala bantuan angkatan laut Portugis bisa tiba. Perintah yang dikirim dari Presiden Portugal menyerukan kebijakan bumi hangus — bahwa Goa harus dihancurkan sebelum diserahkan kepada orang-orang India. Terlepas dari perintahnya dari Lisbon, Gubernur Jenderal Manuel António Vassalo e Silva menyadari keunggulan jumlah pasukan India, juga persediaan makanan dan amunisi yang tersedia untuk pasukannya, akhirnya mengambil keputusan untuk menyerah. Dia kemudian menggambarkan perintahnya untuk menghancurkan Goa sebagai “um sacrifício inútil” (pengorbanan yang tidak berguna).

Lt Col Sucha Singh, CO 1 PARA, of India’s Maroon Beret Parachute regiment accepts the surrender of Portuguese forces at a military camp in Bambolim.
The Indian Chief of Army Staff, General Pran Thapar (far right) with deposed Governor General of Portuguese India Manuel António Vassalo e Silva (seated centre) at a POW facility in Vasco Da Gama, Goa.

Dalam komunikasinya dengan semua pasukan Portugis di bawah komandonya, ia menyatakan, “Setelah mempertimbangkan pertahanan Semenanjung Mormugão … dari tembakan udara, laut dan darat musuh dan … setelah mempertimbangkan perbedaan antara pasukan dan sumber daya … situasi tidak lagi mengizinkan diriku untuk melanjutkan pertarungan tanpa pengorbanan besar dari penduduk Vasco da Gama, aku telah memutuskan memerintahkan semua pasukanku untuk melakukan gencatan senjata.” Penyerahan resmi Portugis dilakukan dalam upacara formal yang diadakan pada jam 2030 tanggal 19 Desember ketika Gubernur Jenderal Manuel António Vassalo e Silva menandatangani penyerahan yang mengakhiri 451 tahun Pendudukan Portugis di Goa. Secara keseluruhan, 4668 personel Portugis dipenjarakan oleh orang India — yang mencakup personel militer dan sipil, Portugis, Afrika, dan Goan. Setelah penyerahan gubernur jenderal Portugis, Goa, Daman dan Diu dinyatakan sebagai Wilayah Serikat yang dikelola secara federal ditempatkan langsung di bawah Presiden India, dan Mayor Jenderal K. P. Candeth diangkat sebagai gubernur militernya. Setiap tentara India yang bertugas di wilayah yang disengketakan selama 48 jam, atau menerbangkan setidaknya satu serangan selama konflik, menerima General Service Medal 1947 dengan bar Goa 1961.

Reaksi dan akhir konflik

Secara keseluruhan, militer India kehilangan 22 orang tewas dan 54 terluka, sedangkan kerugian di pihak Portugis berjumlah 30 orang tewas dan lainnya 57 terluka. Namun yang lebih memalukan bagi Portugal adalah bahwa 3.000 tentaranya menjadi tahanan. Sementara itu di dunia internasional reaksi yang bermunculan adalah campuran kecaman dari negara-negara barat seperti Inggris, AS, Kanada, Australia, Selandia Baru, Prancis, Belanda, Spanyol, dan Jerman Barat. Namun muncul kata-kata dukungan dari negara2 Afrika, Asia dan Eropa Timur seperti Yugoslavia, Negara-negara Arab, Ghana, Sri Lanka, dan Indonesia dan bahkan dari duta besar Soviet.

Tentara Portugis menjadi tawanan perang di Kamp Vasco Da Gama, Goa tahun 1961.

Reaksi menarik muncul dari Pemerintah China Komunis Tiongkok yang mengeluarkan pernyataan pada 19 Desember dan memberi “dukungan tegas” atas tindakan India di Goa, namun surat kabar Komunis Hong Kong Ta Kung Pao (yang dianggap mencerminkan pandangan Pemerintah China) menggambarkan serangan di Goa sebagai “upaya putus asa dari Tuan Nehru untuk mendapatkan kembali prestisenya yang menurun di antara negara-negara Asia-Afrika ”. Di PBB, AS, Inggris, Prancis, dan Turki mengusulkan resolusi yang mengutuk invasi India. Mereka menyerukan India untuk segera menarik pasukannya ke “posisi yang berlaku sebelum 17 Desember 1961”. Namun upaya ini gagal karena diveto oleh Uni Soviet. Pendapat publik A.S. berbalik melawan India selama beberapa bulan tetapi hubungan antara kedua negara segera dilanjutkan setelahnya. Portugal dan India menyelesaikan masalah soal Goa ini lewat sebuah perjanjian pada tahun 1974. Hari ini insiden itu dipandang tidak lebih sebagai sekadar konflik pascakolonial yang terjadi setelah penjajah lama dipaksa untuk angkat kaki dari negara jajahannya.

Kekuatan udara India menjadi kartu “truf” kesuksesan Operasi Vijay tahun 1961.
Personel Angkatan Udara India dalam Operasi Vijay 1961 telah menunjukkan profesionalisme dan skill yang cukup baik.

Secara militer, India telah menunjukkan performa yang cukup dengan memanfaatkan keunggulan numerikal, teknis dan timing yang mereka miliki atas lawan mereka yang jauh lebih lemah. Korban jiwa selama operasi militer juga terhitung minim. Angkatan Udara India benar-benar menjadi kartu “truf” selama konflik yang mana mereka dengan cepat memperoleh keunggulan udara di sekitar wilayah Goa serta turut aktif dalam mendukung gerakan pasukan darat. Secara politik, langkah Nehru terbukti cukup tepat dan terukur dalam menakar reaksi dunia atas aksi India sekaligus menegaskan bahwa peran dan posisi India dalam skala global tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebaliknya bagi Portugis, jatuhnya Goa menjadi penanda dimulainya akhir era kolonialismenya yang segera diikuti dengan jatuhnya koloni-koloninya di seberang lautan seperti di Afrika dan Timor Leste.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

In 1961, India Finally Kicked Portugal off the Subcontinent by Christopher Miskimon; December 4, 2018

https://warisboring.com/in-1961-india-finally-kicked-portugal-off-the-subcontinent/

Goa liberation: How Russia vetoed the West by RAKESH KRISHNAN SIMHA, 12 DEC 2014

https://www.rbth.com/blogs/2014/12/12/goa_liberation_how_russia_vetoed_the_west_40297

What happened during Operation Vijay (1961) ? by aurora on Thu, 03/27/2008

http://www.sankalpindia.net/what-happened-during-operation-vijay-1961

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Annexation_of_Goa

One thought on “Operasi Vijay 1961: Saat India “menendang” keluar Portugal dari Goa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *