Pola-pola pembelian senjata yang dilakukan Shah Iran di tahun 1970-an ini belum pernah terjadi sebelumnya dan nampaknya kecil kemungkinannya terjadi di masa depan. Pada masa itu Amerika dan berbagai negara di Eropa bersedia untuk menjual kepada Iran senjata apapun yang diminta asalkan bukan yang berkemampuan nuklir. Berbagai senjata yang dipilih langsung oleh Shah Iran sendiri bukanlah senjata kelas “dua” tapi senjata-senjata terbaik yang dibuat produsennya. Dalam banyak kasus Iran kemudian diperkuat persenjataan canggih, yang bahkan belum dipakai oleh angkatan bersenjata negara-negara yang membuat senjata-senjata itu. Selain kualitas menjadi hal yang utama, Iran juga membeli dalam kuantitas yang luar biasa. Di samping itu Shah Iran memiliki pemikiran jangka panjang, dengan berupaya untuk membuat mandiri industri militer dalam negerinya, dengan memproduksi sendiri senjata-senjata pesanan lewat jalur lisensi. Dengan ini jika semua pesanan Shah terwujud bisa dibilang, Iran akan menjadi kekuatan militer dengan perlengkapan terbaik di kawasan. Dalam hal ini, Israel mah..”lewat”. Walau kemudian Shah dijungkalkan pada tahun 1979, warisan senjata dan fondasi teknologinya masih menjadi tulang punggung dari militer Iran hingga saat ini.
LATAR BELAKANG MILITER KERAJAAN IRAN
Ketika dinasti Pahlevi mulai berkuasa, dinasti Qajar sudah lemah setelah terlibat perang bertahun-tahun dengan Rusia. Angkatan bersenjata Persia hampir tidak tersisa. Raja baru Reza Shah Pahlavi, dengan cepat kemudian mengembangkan kekuatan militer baru, yakni Angkatan Bersenjata Kerajaan Iran. Pada periode ini, Iran mengirimkan ratusan perwira untuk belajar di akademi militer Eropa dan Amerika. Selain itu orang-orang asing juga dipekerjakan untuk melatih kembali tentara yang telah ada di Iran. Pada periode ini juga Angkatan Udara Kerajaan Iran (Iran Imperial Air Force) didirikan dan fondasi baru Angkatan Laut (Iran Imperial Navy) dibuat. Setelah invasi Jerman ke Uni Soviet pada bulan Juni 1941, Inggris dan Uni Soviet menjadi sekutu. Keduanya melihat baru dibukanya Trans-Iran Railroad sebagai sebuah rute strategis untuk mengangkut pasokan dari Teluk Persia ke Uni Soviet dan khawatir bahwa Reza Shah bersimpati dengan kekuatan Poros, meskipun sudah membuat deklarasi netralitas. Pada bulan Agustus 1941, Inggris dan Uni Soviet menginvasi Iran dan menggulingkan Raja serta mendukung anaknya Mohammad Reza Pahlavi untuk naik tahta. Menyusul berakhirnya Perang Dunia Kedua, kedua negara menarik pasukan militer mereka dari Iran.
Sementara itu buntut dari sejumlah bentrokan pada bulan April 1969, hubungan internasional antara Iran dengan Irak mengalami kemunduran. Sebab utama sengketa diantara keduanya terutama disebabkan oleh perebutan jalur perairan Shatt al-Arab sesuai Algiers Accord tahun 1937. Iran telah mencabut kesepakatan yang dibuat pada tahun 1937 dan menuntut negosiasi ulang yang lebih menguntungkan posisi mereka. Pada tahun 1960-an saat Iran mulai berubah menjadi negara kaya dari hasil pendapatan minyak, dan mulai membuka hubungan diplomatik dengan banyak negara, bersamaan dengan itu Iran mulai memperluas kekuatan militernya. Selanjutnya, Mohammad Reza Pahlavi memulai program modernisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya atas angkatan bersenjata Iran. Dalam banyak kasus Iran kemudian diperkuat persenjataan canggih, yang bahkan belum dipakai oleh angkatan bersenjata negara-negara yang membuat senjata-senjata itu. Senjata yang akan dibeli dapat dikatakan sebagian besar ditentukan oleh Shah sendiri, yang selama bertahun-tahun menyukai senjata paling canggih yang diproduksi oleh Amerika Serikat dan yang dengan pendapatan minyaknya memiliki uang untuk membelinya. Sementara itu dari sisi kesejahteraan, tentara Iran di masa itu lebih baik daripada para pekerja sipil. Seorang sopir taksi, misalnya, berpenghasilan rata-rata $338 sebulan, sementara seorang prajurit dengan masa kerja setahun dapat memperoleh gaji bulanan sebesar $588, pakaian gratis, makan dua kali sehari, dan perawatan kesehatan gratis untuk keluarganya. Semua fasilitas ini dimaksudkan untuk memastikan loyalitas tentara kepada rezim.
Selama periode ini kekuatan militer Iran dikerahkan untuk melindungi kepentingan negara itu di wilayah sekitarnya. Di Oman, pemberontakan Dhofar dihancurkan dengan bantuan tentara Iran. Pada bulan November 1971, pasukan Iran menguasai tiga pulau tak berpenghuni namun strategis di mulut Teluk Persia, yakni: Abu Musa dan pulau-pulau Tunb. Pada awal 1970-an perekonomian Iran mencatat rekor pertumbuhan tahunan tertinggi berkat booming harga minyak, dan pada tahun 1976, PDB Iran adalah yang terbesar di seluruh Timur Tengah. Shah (Raja) Iran kemudian berniat melakukan modernisasi militer Iran, dengan membeli peralatan militer paling canggih dan bernilai miliaran dollar, yang dibeli melalui negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Didorong oleh keinginan Shah yang besar akan persenjataan canggih, presiden Nixon memutuskan untuk menjual hampir semua senjata nonnuklir yang dia inginkan. Penulis staf Washington Post George C. Wilson melaporkan bahwa presiden Nixon memutuskan untuk menjual senjata canggih seperti jet tempur Grumman F-14 Tomcat, yang baru digunakan oleh Amerika sendiri kepada Iran untuk mendapatkan uang guna membantu Amerika Serikat membayar impor minyaknya. Dalam kesepakatan ini, Iran kemudian bisa dibebankan sebagian dari biaya pengembangan senjata AS yang dibelinya.
ANGKATAN DARAT
Sepanjang sebagian besar tahun 1960-an, tentara Iran banyak memakai surplus persenjataan era Perang Dunia II, yang diberikan oleh AS. Ini berarti tentara Iran menggunakan senapan M1 Garand, bersama dengan tank M4 Sherman, dan membombardir musuh mereka dengan howitzer kaliber 105mm. Mulai tahun 1966, Angkatan Darat Iran mulai beralih ke senapan tempur Heckler & Koch G3 dan senapan mesin MG3 sebagai senjata infanteri utama mereka. Dalam periode tahun 1970-an Angkatan Darat Iran mencatat beberapa kemajuan dan memastikan beberapa pesanan besar untuk bersaing dengan matra militer lainnya. Untuk memperkuat pasukan darat, Iran membeli 500 M109 howitzer, 460 tank M60 A1 Patton dari Amerika. Orderan terbesar dicatat oleh Inggris untuk pembelian 2000 tank Chieftain, yang telah dirancang khusus untuk Angkatan Darat Iran dan 250 tank ringan FV101 Scorpion. Pada saat revolusi pecah, baru 780 unit Chieftain yang diterima Iran. Pada tahun 1971, Iran memesan 707 modifikasi tank Chieftain Mk-3 dan Mk-5 dari Royal Ordnance Inggris, plus sejumlah kendaraan recovery (ARV) dan kendaraan peletak jembatan (AVLB), yang didasarkan pada chasis Chieftain. Semua pesanan awal ini telah diterima Iran pada awal tahun 1978. Semua pesanan ini dibuat oleh Royal Ordnance di Leeds, sebelum diambil alih oleh Vickers Defense System, yang membuat semua kendaraan ARV. Selain itu Iran juga menerima 187 unit Chieftain versi perbaikan, yang dikenal sebagai FV4030/1 (sebuah pengembangan dari versi Chieftain Mk-5 yang dipakai Angkatan Darat Inggris), yang disesuaikan dengan kebutuhan Iran. Pada tahun 1974 Iran memesan 125 tank varian Shir1 (FV4030/2) dan 1225 unit Shir 2 (FV4030/2) untuk dikirimkan sebelum tahun 1980. Tapi orderan ini dibatalkan sebelum Royal Ordnance di Leeds melakukan pengirimannya. Jika pengiriman tank Shir 2 ini dilakukan, maka Iran akan memiliki tank dengan sistem perlindungan terbaik di kawasan, karena badan dan turret tank ini dilengkapi dengan lapisan baja Chobam yang canggih. Pada tahun 1979, Yordania membeli 274 tank Shir 1, yang kemudian diberi nama Khalid. Setelah revolusi Iran proyek tank Shir 2, kemudian diambil alih oleh Angkatan Darat Inggris, yang kemudian berevolusi menjadi tank Challenger 1, yang dipakai Inggris sejak tahun 1983.
Selain itu Iran juga menerima banyak peralatan kendaraan lapis baja dari Uni Soviet. Kesepakatan ini biasanya dibarter dengan menggunakan minyak murah dan gas alam dari pihak Iran untuk untuk mendapatkan pelatihan dan peralatan dari Russia. Dalam bidang peralatan militer Iran mengorder senjata antipesawat swagerak tipe ZSU-23-4, 300 ranpur BTR-60, bersama dengan 270 ranpur BTR-50 dan 300 peluncur roket BM-21 Grad. Beberapa peralatan utama lainnya yang dipesan dari Russia termasuk ratusan ranpur BMP-1, yang dilengkapi dengan rudal anti-tank. Pesanan tank dan kendaraan tempur yang masih dalam proses saat Revolusi Iran pecah, adalah sebagai berikut:
- Tank Shir 1: 1971 (800), 1974 (740), 1976 (1480), 1977 (1220)
- Tank Shir 2: 1979 (1297)
- Tank pengintai ringan Scorpion: 1976 (250), 1977 (110), 1979 (110)
- Kendaraan lapis baja pengangkut personel M-113A1: 1979 (108)
- Kendaraan tempur BMP-1: 1979 (jumlah tidak diketahui)
*beberapa M-113 dipersenjatai dengan rudal anti tank TOW.
Pada tahun 1976 Iran telah mengakuisisi 500 howitzer swagerak M109 dari Amerika Serikat, 52 baterai anti pesawat MIM-23 HAWK dengan lebih dari 2000 rudal, lebih dari 2500 rudal udara ke darat AGM-65 Maverick dan 2.333 peluncur rudal anti-tank BGM TOW dengan 15.000 rudal serta peluncur rudal antitank portabel M-47 Dragon baru dengan 10.000 rudal. Pembelian senjata lawan tank ini dimaksudkan sebagai pengganti bazooka kuno dan senjata recoilless. Selain itu, Iran mengorder ratusan helikopter dari Amerika Serikat, seperti 202 helikopter Bell AH-1J Sea Cobra, 100 Boeing CH-47C Chinook dan 287 helikopter Bell 214. Pada bulan Desember 1971, Bell menandatangani kontrak dengan Pemerintah Iran untuk helikopter tempur AH-1J Cobra yang ditingkatkan kemampuannya. Helikopter AH-1J yang dibeli Iran, diberi nama “AH-1J International“, oleh Amerika Serikat. Model ini menampilkan peningkatan seperti mesin P&WC T400-WV-402 yang ditingkatkan kemampuannya dan drivetrain yang diperkuat untuk mendukung mesin yang berkekuatan 1.675 tenaga kuda. Selain itu, perlengkapan peredam dipasang pada turret kanon M197 kaliber 20 mm, sementara kru penembak dilengkapi dengan bidikan yang distabilkan bersama dengan kursi yang distabilkan. Dari AH-1J yang dioperasikan oleh Angkatan Darat Kerajaan Iran, 62 di antaranya mampu menembakkan rudal TOW, sementara sisanya tidak. Kemudian, setelah kesepakatan ditandatangani antara Boeing dan Agusta, Angkatan Udara Kerajaan Iran membeli 20 CH-47C buatan Agusta pada tahun 1971. Unit Penerbangan Angkatan Darat Kerajaan Iran lalu ikut membeli 70 CH-47C dari Agusta antara tahun 1972 dan 1976. Pada akhir tahun 1978, Iran memesan 50 helikopter tambahan dengan Elicotteri Meridionali, tetapi pesanan itu dibatalkan segera setelah revolusi; dengan 11 di antaranya dikirim sesudah melalui beberapa permintaan oleh Iran. Kemudian dengan Bell dibuat kesepakatan helikopter yang dipesan Iran akan dibangun oleh Bell di fasilitas Dallas-Fort Worth Amerika, dan 50 helikopter Bell 214A dan 350 Bell 214ST selanjutnya akan dibangun di Iran. Dalam perkembangannya, 296 varian 214A dan 39 214C sempat dikirimkan, sebelum Revolusi Iran tahun 1979 mengakhiri rencana produksi Iran.
Iran juga mengakuisisi lebih dari 100 tipe helikopter Agusta-Bell Model 206 (206A dan 206B), dan memperoleh lisensi memproduksi Bell 206 dan 206B selama pertengahan tahun 1970-an. Selain itu Iran juga berusaha untuk memperkuat posisi mereka di Selat Hormuz dengan mendirikan situs rudal di sekitarnya. Ketika pemerintahan Carter menolak permintaan Iran untuk membeli rudal yang berkemampuan nuklir, mereka berpaling ke Israel. Mereka lalu bekerja sama dalam Project Flower dengan Israel untuk membuat rudal. Proyek ini berfokus pada pengembangan rudal anti-kapal Gabriel dengan jangkauan yang lebih jauh dan varian yang diluncurkan kapal selam di masa depan, dan dimaksudkan untuk mereproduksi rudal rancangan Amerika dengan suku cadang buatan Israel, yang dapat dilengkapi dengan hulu ledak nuklir. Rudal tersebut menggabungkan peralatan navigasi dan sistem panduan asal Amerika. Tahun berikutnya, Iran memasok Israel dengan minyak senilai $280 juta sebagai uang muka. Sebuah tim ahli Iran memulai pembangunan fasilitas perakitan rudal di dekat Sirjan, di Iran tengah selatan, dan tempat uji coba rudal di dekat Rafsanjan. Pada bulan Februari 1979, kekuasaan monarki Mohammed Reza Pahlavi digulingkan dalam Revolusi Iran, dan Proyek Flower berakhir. Insinyur dan pejabat pertahanan Israel kemudian kembali ke Israel dan semua cetak biru serta diagram sistem senjatanya dikirim kembali melalui kurir diplomatik.
ANGKATAN UDARA
Pada tahun 1960 Iran membeli 90 Canadair Sabre (versi terbaik dari jet tempur F-86 Sabre yg dibuat secara lisensi oleh Kanada), pesawat tempur yang dipersenjatai dengan rudal AIM-9 Sidewinder. Canadair Sabre Mk.6 adalah varian terakhir dan dianggap sebagai varian Sabre produksi “terbaik” yang pernah dibuat. Pesawat ini kemudian hari dijual ke Pakistan. Sebelum Revolusi Iran pada tahun 1979 Pembelian Iran dari Amerika Serikat untuk Angkatan Udaranya meliputi: 79 jet tempur F-14 Tomcat , 225 pesawat tempur McDonnell Douglas F-4 Phantom II, termasuk 16 varian pengintai RF-4E; 166 pesawat tempur Northrop F-5 Tiger II dan 15 pesawat pengintai Northrop RF-5A; 12 Pesawat Patroli Maritim Lockheed P-3 Orion (Lockheed memproduksi varian P-3F dari P-3 Orion untuk Iran). Enam sudah dikirim ke Angkatan Udara Kerajaan (IIAF) pada tahun 1975 dan 1976. Angkatan Udara Kerajaan Iran, yang dilatih AS kemudian secara luas dianggap sebagai yang kedua setelah Israel di Timur Tengah – yang lebih dari mampu untuk menandingi Irak dan bahkan menjadi lawan serius bagi Uni Soviet. Pada puncaknya, Angkatan Udara Kerajaan Iran, memiliki lebih dari 450 pesawat tempur modern, termasuk pesawat tempur F-14A Tomcat yang canggih dan sekitar 5.000 pilot terlatih. Dalam perjalanannya, setelah kehadiran Sabre, pembelian besar lanjutan mulai dilakukan oleh AU Iran. Iran mulai menerima 11 F-5A dan dua F-5B pertamanya pada bulan Februari 1965, yang kemudian dinyatakan beroperasi pada bulan Juni 1965. Pada akhirnya, Iran menerima 104 F-5A dan 23 F-5B pada 1972. Kemudian dari bulan Januari 1974 dengan datangnya skuadron pertama yang terdiri dari 28 F-5F, Iran menerima total 166 F-5E/F dan 15 RF-5A tambahan dengan pengiriman berakhir pada tahun 1976. Saat menerima F-5E dan F, Iran mulai menjual F-5A dan B miliknya ke negara-negara lain, termasuk Ethiopia, Turki, Yunani, dan Vietnam Selatan. Pada tahun 1976, banyak yang telah terjual, kecuali beberapa F-5B yang dipertahankan untuk tujuan pelatihan. F-5 kemudian juga digunakan oleh tim tampilan aerobatik IIAF, Golden Crown.
Perkembangan signifikan AU Iran dimulai dengan akuisisi pesawat tempur Phantom. Di era 1960an, Phantom dikenal sebagai pesawat tempur top yang mahal dan tidak diberikan oleh Amerika selain sekutu dekatnya. Di Timur Tengah cuma Israel saja yang diberikan pesawat-pesawat Phantom. Iran, kemudian menjadi pengguna ekspor terbesar kedua dari pesawat tempur Phantom. Angkatan Udara Kerajaan Iran memesan 16 F-4D pada tahun 1967. Batch kedua yang terdiri dari 16 F-4D dipesan kemudian. Batch pertama F-4D tiba di Iran pada tanggal 8 September 1968, dengan total 32 F-4D akhirnya dikirim ke Angkatan Udara Kerajaan Iran. F-4D Iran kemudian digunakan dalam beberapa upaya yang gagal untuk mencegat MiG-25 Soviet yang memata-matai Iran. Penggunaan tempur pertama oleh Iran dari F-4D adalah pada tahun 1975 ketika Iran memberikan bantuan militer kepada Sultan Oman dalam upaya melawan pemberontak. Salah satu F-4D Iran tercatat hilang karena tembakan darat dalam misi di Oman. Pemerintah Iran lalu memesan 208 F-4E dan total 32 RF-4E dari McDonnell selama awal dan pertengahan 1970-an. Pesawat pertama dikirimkan pada Maret 1971. Sebanyak 177 F-4E (ditambah delapan F-4E yang dipinjam dari AS dan kemudian dikembalikan) dan 16 RF-4E dikirim ke Angkatan Udara Kerajaan Iran antara tahun 1971 dan 1979. Berlawanan dengan laporan-laporan dari pihak Barat, skuadron-skuadron F-4 berhasil mempertahankan efektivitas tempur mereka meskipun harus melalui masa-masa sulit akibat pergolakan politik meluas dan pembersihan personel. Malfungsi teknis, yang sering muncul selama proses persiapan penerbangan, memang akan mengurangi paket penerbangan, tetapi misi-misi Phantom Iran jarang dibatalkan karena alasan ini. Hingga kini, 62 F-4D, F-4E, dan RF-4E masih ada dalam dalam dinas operasional Angkatan Udara Republik Islam Iran.
Mengenai pengadaan F-14, Shah, yang adalah orang yang sangat cerdas, sudah mengetahui manfaat yang akan diberikan oleh sistem Jet Tempur F-14/Radar AWG-9/Rudal Phoenixdalam mempertahankan perbatasan negaranya dari penerbangan lintas batas oleh MiG-25 Soviet. F-14 adalah sistem senjata yang mematikan, dimana enam rudal jarak jauh AIM-54A Phoenix yang dibawanya dapat dipandu untuk menghadapi enam pesawat terpisah dari jarak jauh oleh sistem kontrol senjata radar AWG-9 F-14. Untuk pertempuran jarak menengah, rudal Sparrow dapat dibawa; sementara rudal jarak pendek Sidewinder dan kanon 20mm tersedia untuk pertempuran jarak dekat. Pada bulan Januari 1974 Iran memesan 30 F-14 dan 424 rudal AIM-54 Phoenix, dan memulai Proyek Persia King, senilai US$300 juta. Beberapa bulan kemudian, pesanan ini ditingkatkan menjadi total 80 Tomcat dan 714 rudal Phoenix serta suku cadang dan mesin pengganti selama 10 tahun, paket persenjataan lengkap, dan infrastruktur pendukung (termasuk pembangunan Pangkalan Udara Khatami dekat Isfahan). Iran kemudian akan menjadi satu-satunya operator Tomcat diluar AL Amerika. Pesawat-pesawat ini masih menjadi bagian dari kekuatan udara Republik Islam Iran hingga saat ini. Menjelang Revolusi Iran pada tahun 1979, Angkatan Udara, yang berjumlah hampir 100.000 personel, sejauh ini merupakan yang paling maju dari tiga kedinasan militer Iran dan termasuk di antara angkatan udara paling mengesankan di negara-negara berkembang. Angkatan Udara merupakan kecabangan kesayangan Shah, sebagai contoh meskipun biaya pengadaan MiG-21 hanya sepersekian dari F-4 Phantom yang berteknologi tinggi, Shah lebih memilih pesawat tempur buatan AS untuk angkatan udaranya yang disayanginya. Sebanyak 14 pangkalan udara mendukung operasinya, yakni di: Ahvaz, Bandar Abbas, Bushehr, Chan Bahar, Dezful, Doshan Tapeh (Tehran), Ghaleh Morghi (Tehran), Hamadan, Isfahan, Mashhad, Mehrabad (Tehran), Shiraz, Tabriz dan Zahedan. Bandar Abbas, Bushehr, Dezful, Hamadan, Tabriz dan Mehrabad menjadi pusat skuadron serangan darat. Shiraz adalah rumah dari skuadron pencegat. Pangkalan udara itu juga memberikan pelatihan bersama dengan Pangkalan Udara Mehrabad, Doshan Tapeh dan Isfahan. Pangkalan Udara Shiraz juga menampung skuadron transportasi. Markas Angkatan Udara terletak di Pangkalan Udara Doshan Tapeh, dekat Teheran. Pangkalan udara terbesar Iran, Mehrabad, di luar Teheran, juga merupakan bandara sipil utama negara itu. Pangkalan udara operasional utama lainnya berada di Tabriz, Bandar-e Abbas, Hamadan (Pangkalan Udara Shahroki), Dezful (Pangkalan Udara Vahdati), Shiraz, dan Bushehr. Fasilitas pemeliharaan utama Angkatan Udara terletak di Pangkalan Udara Mehrabad. Industri Pesawat Udara Iran ada di dekatnya, yang selain menyediakan cadangan utama untuk unit pemeliharaan, juga aktif dalam pembuatan suku cadang. Sebelum Revolusi, Angkatan Udara Iran diorganisir menjadi 15 skuadron dengan kemampuan tempur dan pengebom tempur dan satu skuadron pengintaian. Selain itu, terdapat 1 skuadron tanker, dan 4 skuadron angkut menengah dan 1 skuadron ringan untuk memberikan dukungan logistik yang mengesankan.
ANGKATAN LAUT
Sebuah pesanan besar juga dibuat oleh pemerintah Iran dalam upaya untuk memodernisasi Angkatan Laut Kerajaan Iran dan memperkuat kemampuannya untuk melakukan patroli di Laut Kaspia, Teluk Persia dan Samudera Hindia. Pembelian senjata Iran yang diperoleh dari Inggris untuk Angkatan Lautnya sebelum revolusi tahun 1979 termasuk 1 kapal perusak modern Inggris yang dinon-aktifkan (HMS Sluys), 4 frigat buatan Inggris (Alvand Class Frigatte) dan sejumlah besar rudal seperti rudal pertahanan udara jarak pendek Rapier dan sistem rudal Seacat. Selain itu Iran membeli beberapa lusin hovercraft varian SR.N6. Angkatan Darat kerajaan Iran kemudian tercatat sebagai operator armada hovercraft penyerang terbesar di dunia. Hovercraft ini diperoleh dari berbagai perusahaan Inggris dan Amerika dan kemudian dilengkapi dengan persenjataan. Dengan memiliki armada ini Angkatan Darat Iran akan mampu melakukan patroli di wilayah dangkal atau teluk dan menghindari ladang ranjau. Iran kemudian membeli dua kapal perusak Amerika dari era Perang Dunia II yang sudah dipensiunkan dan dimodernisasi, (USS Zellars dan USS Stormes). Angkatan Laut Iran saat itu juga telah memesan 4 kapal perusak kelas Kidd yang dilengkapi dengan rudal Standard, rudal Harpoon, CIWS Phalanx dan torpedo Mark 46, 3 kapal selam bekas kelas Tang (kapal ini ditransfer dari militer Amerika bukan dijual) yang dilengkapi dengan rudal sub Harpoon.
Selain itu Angkatan Laut Iran berusaha untuk memperoleh 39 pesawat Lockheed P-3 Orion pesawat intai maritim untuk pengawasan laut dan peperangan anti-kapal selam. Berbeda dengan angkatan udara, Angkatan Laut Iran tidak semata-mata bergantung pada peralatan yang dipasok dari Amerika. Dari Jerman, Iran 6 memesan kapal selam diesel Type 209, yang dijadwalkan tiba pada tahun 1980 dan dirancang untuk digunakan Iran di Samudera Hindia. Dari Italia, Iran memerintahkan 6 frigat Lupo class, yang mampu menjalankan misi peperangan anti-kapal selam dan dilengkapi dengan rudal Otomat. Pada tahun 1978 Iran memesan 8 frigat kelas Kortenaer dari Belanda, masing-masing dilengkapi dengan torpedo Mk. 46, rudal Harpoon dan rudal anti-pesawat Sea Sparrow. Pada tahun yang sama Iran berusaha untuk memesan lebih dari empat frigat kelas Bremen (mirip dengan desain kelas Korteaer). Lebih ambisius lagi, kabarnya Iran juga telah berdiskusi dengan Inggris pada awal 1960-an untuk membeli kapal induk bertenaga nuklir, yang akan memberikan kemampuan serang amfibi bagi Iran di Samudera Hindia. Meskipun awalnya tertarik untuk membeli satu kapal induk CVA-01, yang kemudian dibatalkan oleh Inggris, Iran juga menyatakan minatnya membeli kapal induk kelas Invincible. Pembicaraan Iran adalah untuk membeli 3 kapal induk modifikasi dari kelas ini, namun tidak ada catatan resmi untuk membuktikan bahwa orderan tersebut pernah dilakukan. Dari Perancis, Iran memesan 12 kapal cepat kelas La Combattante IIa, yang dilengkapi dengan rudal Harpoon. Dari pesanan ini, sekitar 6 buah telah dikirimkan sementara 6 lainnya dibatalkan. Dari pesanan ini sebagian besar belum dikirimkan saat Revolusi Iran pecah, kapal kelas Kidd, misalnya kemudian diambil alih AL Amerika sebelum dijual ke Taiwan.
FONDASI INDUSTRI MILITER IRAN
Sebagai tambahan, selain membeli, pemerintah Iran telah mulai bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Amerika dan Inggris untuk secara berlisensi membuat beberapa jenis peralatan militer. Iran sangat aktif di bidang manufaktur helikopter Bell, helikopter Boeing dan rudal TOW, serta mendirikan konstruksi pembuatan pangkalan militer. Dua pangkalan yang sangat besar dan penting akan dibangun di Abadan, di mana unit besar infantri dan Angkatan Udara akan bertempat tinggal dan berfungsi melindungi Iran dari setiap kemungkinan agresi Irak, sementara yang lain di Chabahar adalah sebagai pelabuhan utama yang mampu menjadi markas kapal selam dan kapal induk yang akan memungkinkan Iran untuk melakukan patroli di Samudera Hindia. Saat itu Iran telah menginvestasikan lebih dari $ 10 miliar untuk pembangunan instalasi nuklir, 8 lokasi akan dibangun oleh Amerika, 2 oleh Jerman dan 2 oleh Perancis, untuk proyek nuklirnya yang berkekuatan 23.000 MW, yang bisa menghasilkan cukup uranium untuk 500-600 hulu ledak.
PEMBATALAN ORDERAN
Bagaimanapun militer Iran akhirnya tidak menerima sebagian besar orderan yang dibuatnya pada akhir 1970-an karena meletusnya Revolusi Iran pada bulan Februari 1979. Pada akhir 1970-an, Iran mempercepat pesanan dari Amerika Serikat dalam upaya untuk mendahului orderan dari Inggris, Prancis dan China. Shah Iran percaya bahwa Iran ditakdirkan untuk menjadi super power dunia, dengan diperkuat oleh salah satu kekuatan militer terkuat di dunia. Daftar dibawah berikut ini menyoroti beberapa orderan utama yang dibuat sebelum revolusi Iran tapi tidak pernah diselesaikan atau dikirimkan. Berkenaan dengan Angkatan Udara, Iran telah memesan dari Amerika Serikat pada tahun 1976 300 unit pesawat F-16 Fighting Falcon, tambahan 71 Grumman F-14 Tomcat dari 79 buah yang telah tiba, sehingga total armadanya menjadi 150 unit. Semua pesanan ini harus selesai sebelum tahun 1980. Pelanggan asing pertama dari F-16, di luar empat negara Eropa yang tergabung dalam NATO, adalah Iran. Sebagai bagian dari rencana Shah untuk memodernisasi Angkatan Udara Kerajaan Iran, Iran menandatangani letter of intent pada tanggal 27 Oktober 1976 untuk pembelian 160 pesawat F-16, dengan kemungkinan pesanan lanjutan sebanyak 140 lebih. Namun, revolusi Iran tahun 1979 yang mengakibatkan penggulingan Shah dan kebangkitan rezim fundamentalis Islam yang saat ini menguasai negara tersebut, menyebabkan orderan tersebut dibatalkan. Sayangnya, salah satu efek langsung dari pembatalan pesanan Iran adalah biaya unit individu F-16 meningkat tajam. Namun, banyak F-16 yang ditujukan untuk Iran akhirnya dijual ke Israel. Suku cadang dan peralatan pemeliharaan telah tiba di Iran sejak tahun 1978 dan personel daratnya telah diberikan pelatihan (Peralatan pendukung darat ini kemudian dijual ke Pakistan). Kemudian pada bulan September 1976 Iran secara resmi memesan pembelian 250 F-18 Hornet, namun orderan ini tidak akan tiba sampai tahun 1985. Selain itu pada akhir tahun 1977 Iran memesan 7 pesawat Boeing E-3 AWACS (Untuk melengkapi komponen radar darat dan memberikan cakupan menyeluruh di wilayah Teluk) dan 12 pesawat tanker jet Boeing 707.
Pada bulan Februari 1979, Pemerintah Iran telah memutuskan untuk membatalkan pesanan senjatanya senilai $8 miliar hingga $10 miliar (nilai saat itu), yang telah dilakukan Shah dengan Amerika Serikat. Pembatalan tersebut, yang disepakati dalam pembicaraan antara para pemimpin militer Iran dan utusan khusus Pentagon menghapus sebagian besar paket persenjataan senilai 12 miliar dolar AS yang, selama empat atau lima tahun, yang akan menjadikan Iran sebagai salah satu kekuatan militer terkuat di kawasan Teluk Persia. Kesepakatan juga dicapai untuk secara drastis mengurangi jumlah personil kontrak militer dan Departemen Pertahanan AS di Iran, menurut beberapa sumber-sumber informasi. Kekurangan uang maupun berkurangnya konsep peran internasional Iran sepertinya berada di balik pembatalan tersebut. Iran, yang terpukul keras oleh pemogokan yang telah mengurangi ekspor minyaknya yang menguntungkan, sehingga mengalami kekurangan uang dan tidak lama lagi mungkin tidak dapat membayar pasukan militernya sendiri, demikian dilaporkan oleh Staf Penulis Washington Post, George. Wilson, yang melaporkan di Washington. Para pejabat Pentagon mengakui bahwa Iran mengalami kesulitan untuk memenuhi gaji 500.000 tentaranya, dan para pejabat pemerintahan Carter menyatakan keprihatinannya bahwa hal ini dapat menyebabkan angkatan bersenjata, institusi pemerintah Iran yang masih berfungsi, untuk terpecah belah dalam berbagai kubu-kubu yang saling berseteru. Keputusan untuk membatalkan pembelian secara efektif menghancurkan impian Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang telah terbang keluar dari Iran untuk berlibur tanpa batas waktu pada tanggal 16 Januari 1979, untuk mengubah negara itu menjadi kekuatan militer utama. Dengan ekonomi Iran yang hampir runtuh dan angkatan bersenjata yang tertekan hingga ke titik puncaknya karena kerusuhan oposisi selama lebih dari satu tahun, para jenderal tertinggi negara itu memutuskan bahwa mereka tidak akan dapat menemukan uang atau tenaga kerja untuk melakukan pembelian, kata sumber-sumber itu.
Di antara pesanan utama yang dibatalkan adalah 160 pesawat tempur General Dynamics F-16 senilai $3,5 miliar; tujuh pesawat Boeing AWACS (Airborne Warning and Control System) yang dilengkapi dengan radar seharga $1,3 miliar; dua kapal perusak kelas Spruance senilai $1,4 miliar; sekitar 20 pesawat pengintai McDonnell Douglas F-4 senilai sekitar $500 juta dan 400 rudal Phoenix seharga $1 miliar ditambah pangkalan angkatan laut di Chah Bahar, di Teluk Oman. Pangkalan ini dibangun oleh Brown and Root, sebuah kontraktor yang berbasis di Texas. Pemerintah Iran juga membatalkan ratusan kontrak yang lebih kecil yang mencakup amunisi, peralatan komunikasi, kendaraan, suku cadang, dan layanan dukungan. Selain itu, sumber-sumber tersebut mengatakan, militer Iran ingin keluar dari kontrak militer dengan negara-negara Eropa senilai lebih dari 3 miliar dolar AS untuk persenjataan yang belum terkirim termasuk tank, sistem rudal, dan kapal-kapal pendukung angkatan laut yang dibuat oleh Inggris serta kapal selam kecil yang dibuat oleh Jerman Barat. Iran telah membayar sejumlah besar uang untuk pengiriman senjata dari AS di masa depan di bawah kontrak yang ditandatangani dalam beberapa tahun sebelumnya. Pemerintah Iran kini ingin segera membuka negosiasi untuk mencoba mendapatkan kembali sebanyak mungkin uang tersebut. Namun, bahkan jika Iran berhasil mendapatkan kembali sebagian pembayarannya, sumber-sumber tersebut mengatakan, klausul pembatalan kontrak dapat menyebabkan kerugian yang tak terhitung jumlahnya. Pembatalan tersebut, selain berdampak parah pada industri senjata AS, menghadirkan sejumlah masalah bagi Pentagon. Pemerintah AS akan kehilangan uang ini serta produksi yang lebih tinggi yang diperlukan oleh pesanan Iran sebelumnya, yang berarti biaya individu senjata untuk dinas militer AS akan naik. Misalnya, jika Angkatan Laut ingin membeli 400 rudal Phoenix yang dijadwalkan untuk dibeli Iran, AL Amerika harus pergi ke Kongres untuk mendapatkan uang tambahan. Selain itu, kapal perusak kelas Spruance, yang dibuat khusus untuk Iran kemungkinan sulit dijual di tempat lain. Disisi lain penjualan senjata besar-besaran ke Iran pada dekade 1970-an juga menimbulkan dampak negatif jangka panjang bagi Amerika, yang terasa hingga saat ini, puluhan tahun setelah orderan “gila” Shah Iran dilakukan. Republik Islam sekarang menawarkan berbagai produk senjata canggih yang termasuk salinan rudal TOW dan Dragon. Kecenderungan Iran saat ini adalah melakukan reverse engineering senjata-senjata buatan AS. Mereka telah terbukti berhasil melakukannya karena memiliki persediaan rudal buatan AS yang melimpah seperti HAWK, RIM-66, dan Phoenix—semuanya di-copy dan disiapkan untuk menghadapi kemungkinan agresi dari Washington, DC!
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Military_history_of_Iran
Iran Canceling U.S. Arms Sales Worth Billions By William Branigin; February 4, 1979
Armour In the IIGF
http://aryamehr.org/eng/iia/iigf/2.htm
Iran – Air Force
https://www.globalsecurity.org/military/world/iran/airforce.htm
Cancelled Orders
https://www.f-16.net/f-16_users_article28.html
The day Shah of Iran said he liked the F-15 because it was an Air Superiority Fighter but he liked the F-14 even more because he Needed an Air Supremacy Fighter by Dario Leone
The Shah Of Iran Wanted The Strongest Military In Asia
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Lockheed_P-3_Orion
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Canadair_Sabre
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Grumman_F-14_Tomcat
https://en.m.wikipedia.org/wiki/McDonnell_Douglas_F-4_Phantom_II
F4
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Bell_AH-1_SuperCobra
Iran’s helicopter options
https://www.timesaerospace.aero/features/irans-helicopter-options
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Boeing_CH-47_Chinook
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Bell_214
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Project_Flower
Iran Will Buy $2‐Billion in U.S. Arms Over the Next Several Years By John W. Finney Special to The New York Times; Feb. 22, 1973
Shah Is a Beneficent Father Figure to Iran’s Military By Youssef M. Ibraiiini Special to The New York Times; Nov. 14, 1978
