Sejarah Militer

Pembom Tupolev Tu-22 Blinder Asal Soviet: Cepat, Sangar, tapi Bermasalah

Pada awal tahun 1960-an, Uni Soviet memperkenalkan pesawat pengebom jet supersonik bermesin ganda, Tupolev “Tu-22” Blinder, ke dalam dinas operasional. Dengan kinerja yang kira-kira mirip dengan bomber B-58 Hustler asal Amerika, Blinder mampu terbang dengan kecepatan supersonik dan melaju dengan kecepatan subsonik tinggi. Tupolev Tu-22 kemudian memang menjadi pembom supersonik pertama yang diproduksi di Uni Soviet, meski demikian, kemudian dalam karirnya, Blinder dikenal kerap bermasalah dan kurang disukai oleh para crew-nya.

Pada awal kemunculannya di tahun 1960an, Tu-22 Blinder merupakan pembom supersonik pertama yang diproduksi oleh Uni Soviet. Blinder dianggap memiliki kinerja seperti pembom supersonik B-58 Hustler asal Amerika. (Sumber: https://www.scalemates.com/)

LATAR BELAKANG DESAIN

Pada awal tahun 1950-an, Angkatan Udara Soviet (Voyenno Vozdushniye Sily / VVS) mengakuisisi pembom strategis Tupolev Tu-16, yang dikenal sebagai “Badger” oleh NATO. Sepanjang sebagian besar masa tahun 1950-an, Angkatan Udara Soviet amat mengandalkan Tupolev Tu-16 (NATO: “Badger”) untuk peran pengeboman strategisnya. Tipe ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1954 dan dibuat sebanyak 1.500 unit dengan produksinya secara lisensi dibuat juga di China. Operator Badger di seluruh dunia sangat banyak, termasuk oleh Mesir, Georgia, Irak, Indonesia dan Ukraina serta Uni Soviet/Rusia. Pesawat itu dilengkapi dengan dua mesin turbojet yang menghasilkan daya dorong sebesar 21.000 lbs masing-masing yang memungkinkan terbang dengan kecepatan subsonic (dibawah kecepatan suara) tertinggi 650 mil per jam (1.046 km per jam) dan jangkauan hingga 4.400 mil (7.081 km). Tu-16 adalah pesawat yang sangat baik dan fleksibel — faktanya, pesawat ini masih tetap beroperasi secara ekstensif di China — tetapi teknologi desain pesawat telah mengalami kemajuan pesat pada dekade 1950-an, dan munculnya pesawat pencegat buatan negara-negara Barat yang dapat terbang lebih cepat membuat VVS mempertimbangkan untuk membuat penerus Badger yang lebih baik. Pihak berwenang Soviet kemudian ingin memiliki pesawat baru yang punya kemampuan terbang supersonik sebagai penerus resmi dari Tu-16. Pesawat baru ini harus memiliki kemampuan penetrasi pertahanan udara yang kuat dan bisa membawa muatan yang sebanding dengan Tu-16 yang akan digantikannya. Tentu saja saat itu adalah masa Perang Dingin, kemampuan untuk bisa membawa bom nuklir gravitasi juga merupakan salah satu persyaratan pembuatannya. Sementara itu, bahkan sebelum diperkenalkannya Tu-16, biro desain eksperimental (OKB dalam akronim Rusia) Andrei Tupolev telah melakukan studi pada satu set desain pesawat tempur supersonik besar untuk berbagai kemungkinan peran – sebagai pesawat pencegat jarak jauh, pembom, atau platform pengintaian. Pekerjaan desain formal pembuatan pesawat serang taktis, pembom menengah, dan pembawa rudal jarak jauh yang berat kemudian dimulai pada tahun 1954.

Pembom strategis Tu-16 Badger. Meski dikenal handal dan cukup fleksibel, namun Badger yang hanya memiliki kemampuan terbang subsonic, dinilai perlu dicarikan penggantinya. (Sumber: https://thereaderwiki.com/)

Program untuk membuat pesawat pembawa rudal jarak jauh tidak menghasilkan apa-apa, setidaknya dalam jangka pendek, tetapi dua upaya lainnya membuahkan hasil dalam membuat pesawat yang siap produksi. Versi pesawat serang taktis lalu diberi nama “Samolet 98 (Pesawat 98)”, dan meskipun pesawat itu sendiri tidak akan diproduksi, namun desainnya akan mengarah pada pembuatan pencegat kelas berat “Tu-128”. Sementara itu, desain dari pesawat pembom menengah awalnya diberi nama “Samolet 103”. Konsep asli dari pesawat itu menampilkan penggunaan empat mesin; yang terbukti tidak memuaskan, dan oleh karena itu lalu dipertimbangkan kembali kemungkinan pemakaian mesin ganda, dalam desain baru yang disebut sebagai “Samolet 105”. Konsep ini akhirnya disetujui oleh pemerintah Soviet pada bulan Agustus 1954, meskipun ada banyak keberatan dari para pimpinan Partai Komunis. Desain dasar pesawat ini telah matang pada akhir tahun 1955, dengan pekerjaan kemudian beralih pada pembuatan prototipe. Prototipe awal selesai pada Desember 1957, tetapi proses untuk membuatnya layak terbang terbukti merepotkan dan pesawat itu tidak akan melakukan penerbangan awalnya sampai tanggal 21 Juni 1958. 

Prototype Tu-22 (‘Samolet 105’). (Sumber: http://www.airwar.ru/)
Prototype Samolet 105A. (Sumber: http://www.airwar.ru/)
Tu-22 terbang dalam Pameran di Tushino. Berbagai kecelakaan yang mendera pada saat pengembangan, tidak menghalangi Blinder untuk segera digelar secara operasional. (Sumber: http://www.airwar.ru/)

Sementara itu, insinyur OKB telah mengerjakan program perbaikan sejak sebelum penerbangan prototipe pertama, dan prototipe kedua, “Samolet 105A”, dengan menampilkan sejumlah perubahan signifikan, yang paling menonjol adalah dengan membuang desain roda pendarat utama yang dimasukkan ke dalam sayap untuk memungkinkan perancangan sayap yang lebih tipis. Mereka kemudian memodifikasi pesawat sehingga roda pendarat utama ditarik kembali ke dalam pod di bagian belakang setiap sayap — pod roda pendarat ini lalu menjadi ciri khas dari desain pesawat jet besar Tupolev pada masa itu. Samolet 105A melakukan penerbangan pertamanya pada tanggal 7 September 1959. Prototipe ketiga, sebagai uji statis, juga dibuat. Ijin produksi diberikan pada tahun itu, dengan Pabrik Negara Nomor 22 di Kazan ditunjuk untuk membuat pesawat itu. Dua model akan dibangun secara bersamaan, yakni: pembom “Tu-22B” dan pesawat platform pengintaian “Tu-22R”, dengan “B” berarti “Bombardirovschik / Bomber” dan “R” berarti “Razvedchik / Reconnaissance”. Pengerjaan pesawat produksi pertama terus berlanjut, meskipun Samolet 105A jatuh pada penerbangan ketujuh, pada tanggal 21 Desember 1959 – operator radio berhasil menyelamatkan diri, sedangkan pilot dan navigatornya terbunuh. Itu adalah pertanda kurang baik dari hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang. Tiga pesawat produksi pertama, yaitu Tu-22B, diluncurkan pada akhir musim panas tahun 1960, dengan penerbangan awal pesawat produksi dilakukan pada tanggal 22 September 1960 — meskipun pesawat ini kemudian jatuh pada tanggal 17 November 1960, karena kegagalan mesin yang menyebabkan dilakukannya pendaratan darurat dengan perut pesawat dan api yang muncul menghancurkan pesawat. Para kru, bagaimanapun berhasil selamat dari kecelakaan itu. Dari sini jelas terlihat bahwa Tu-22 tidak memulai awal karirnya dengan baik, meski masih tetap ditampilkan kepada publik selama pertunjukan udara Hari Penerbangan di Tushino / Moskow pada tanggal 9 Juli 1961. NATO sempat memilih beberapa nama kode bagi pesawat baru Soviet ini, mulai dari “Bullshot”, lalu ” Beauty”, tetapi akhirnya memilih “Blinder”. Pesawat prototipe lalu diberi kode sebagai “Blinder-A” ketika varian berikutnya muncul. Pada saat awal kemunculannya, Tu-22 menjadi pesawat pembom supersonik pertama Uni Soviet yang beroperasi.

DESAIN & VARIAN

Tu-22B adalah pesawat besar dan ramping, yang sebagian besar dibuat dari bahan aluminium alloy, dengan badan pesawat berbentuk seperti anak panah, dengan semua permukaan sayapnya menyayung, bermesin turbojet afterburning Dobrynin VD-7M kembar dengan satu di setiap sisi sirip ekor, dan roda pendarat berformat tiga. Salah satu aspek desain yang paling unik dari Tu-22 adalah rumahan bagi nacelles mesin turbojet kembar dipasang di dasar sirip ekor vertikal tunggal. Ini memungkinkan ada lebih banyak volume internal di bagian sayap dan badan pesawat untuk dapat membawa beban persenjataan dan bahan bakar lebih besar. Hal ini juga menghilangkan kebutuhan akan sistem boundary layer separation yang rumit di bagian intake, tetapi menambahkan bobot 15% lebih berat, dan membuat perawatan mesin menjadi jauh lebih sulit karena posisinya yang cukup tinggi dari tanah. Tu-22 adalah pesawat yang menarik dengan tampilan yang agak menyeramkan. Karena bentuk konfigurasinya yang runcing, Tu-22 umumnya dijuluki sebagai “Shilo (Penusuk)” dalam dinas operasional. Sayapnya dipasang rendah, dengan sudut sayung 45 derajat kecuali untuk “leading edge root extension” yang pendek dan sangat menyudut di sebelah badan pesawat. Terdapat wing fence yang menonjol dan fairing besar berbentuk tabung untuk menyimpan roda pendarat utama di bagian belakang setiap sayap; terdapat flap terpisah yang di sekitar fairing roda pendarat dan sebuah aileron di setiap sayap. Badan pesawat itu “ramping” pada bagian tengah di mana sayap bertemu dengan badan pesawat sesuai dengan prinsip “area rulling”, di mana perubahan penampang pesawat secara keseluruhan dibuat setahap demi setahap untuk meningkatkan kemudahan pengendalian saat penerbangan di kecepatan transonik, sementara ekor pesawat memiliki konfigurasi “semua dapat digerakkan”. Mesin VD-7M yang digunakan Blinder masing-masing menghasilkan daya dorong afterburning sebesar 157 kN (16.000 kgp / 32.280 lbf). Sejak tahun 1965, semua produksi Tu-22 menggunakan mesin RD-7M2 yang serupa tetapi telah ditingkatkan kemampuannya dengan daya dorong afterburning menjadi sebesar 162 kN (16.500 kgp / 36.380 lbf); pesawat buatan sebelumnya yang masih ada dalam dalam dinas operasional dipasang kembali dengan mesin yang lebih baru ini. Setiap set roda pendarat utama Blinder memiliki empat roda dalam konfigurasi bogie 2×2, dengan roda pendarat ditarik ke belakang ke dalam fairing sayap. Dispenser chaff diketahui dipasang di bagian belakang fairing. Terdapat roda kembar pada susunan roda di bagian hidung, yang juga ditarik ke belakang. Dua parasut pengurang drag berbentuk cruciform dipasang di bagian ekor untuk mengurangi kecepatan meluncur pesawat saat mendarat. 

Skema desain Tu-22. (Sumber: http://www.airwar.ru/)
Atas bentuknya yang runcing, Tu-22 mendapat julukan “Shilo (penusuk)”. (Sumber: http://www.airwar.ru/)

Semua persenjataan Tu-22 dibawa dalam bombbay internal. Beban normal yang dapat dibawa oleh Blinder adalah 3 ton, dengan beban maksimum efektifnya adalah 9 ton, meski diatas kertas pesawat ini dapat membawa beban hingga 12 ton. Pesawat ini dapat setidaknya diatas kertas dapat membawa satu bom udara FAB-9000M-54 atau 24 bom serba guna FAB-500 500-kilogram (1,100-pound). Pada Blinder terdapat ram-air turbine (RAT) pop-out untuk penambah tenaga darurat di sebelah bombbay. Ketika sumber tenaga utama dan tambahan tiba-tiba hilang, RAT akan memberi tenaga pada sistem vital (kontrol penerbangan, hidrolik terkait, dan juga instrumen kritis penerbangan). Persenjataan untuk pertahanan diri berasal dari turret ekor yang menampung kanon otomatis R-23 kaliber 23-milimeter yang dikendalikan dari jarak jauh, dengan panduan sistem pengarah tembakan yang menggunakan radar PARS-3 Argon-2 ditambah kamera TV sirkuit tertutup — dipasang di atas dan antara mesin — oleh penembak di kokpit depan. Blinder memiliki tiga awak, yang terdiri dari: navigator di bagian hidung, pilot di kokpit, dan penembak/operator radio di belakang pilot. Ketiganya duduk di kursi lontar jenis K-22 yang melontar ke bawah, dengan ketinggian lontaran aman minimum adalah 250 meter (820 kaki). Kursi lontar dapat diturunkan melalui lubang di bagian bawah badan pesawat — dan faktanya, itulah satu-satunya cara agar kru bisa masuk dan keluar dari pesawat. Sementara itu, terdapat radar navigasi / pemboman di bagian hidung, dengan apa yang tampaknya menjadi port untuk sistem pembidik pengeboman optik di belakangnya, ditambah jendela di samping hidung untuk navigator. Pilot duduk di kokpit berbingkai berat, sementara penembak/operator radio memiliki jendela di setiap sisi kokpitnya. Para kru dilindungi dari peluru dan pecahan peluru oleh lapisan armor dengan berat total 305 kg.

Kanon otomatis R-23 kaliber 23 mm pada turret ekor, menjadi senjata pertahanan diri Blinder. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Kursi lontar untuk ketiga awak Blinder yang beroperasi dengan menembak ke arah bawah. Konfigurasi kursi lontar inilah yang kerap menjadi problem. (Sumber: https://twitter.com/)

Peralatan penerbangan dan navigasi dari Tu-22 telah memungkinkannya untuk terbang dalam berbagai kondisi cuaca, siang dan malam, termasuk dalam mode otomatis menggunakan perangkat autopilot AU-105A. Perangkat pendukung lainnya pada pesawat ini adalah: sistem navigasi jarak pendek RSBN-2S, pengukur kecepatan dan drift DISS-1 Doppler, radio kompas ARK-11 dan ARK-92, radio altimeter ketinggian rendah RV-UM, radio altimeter ketinggian tinggi RV-25A, sistem pendaratan buta SP- 50 dan alat perekam penerbangan KRP-F, GRP-2 dan MRP-56P. Sementara itu peralatan komunikasi radio yang digunakan terdiri dari: interkom on-board SPU-7, stasiun radio R-802G, R-836 dan R-847, perangkat penerima R-876 dan stasiun radio darurat R-851. Sistem identifikasi pesawat didapat dari mesin penjawab SRZO-2M dengan antena di badan pesawat dan fairing di ujung sayap. Perangkat SPO-3 dengan antena di permukaan bawah gondola sayap dan roda pendarat berfungsi untuk memperingatkan tentang adanya penyinaran gelombang radar lawan. Perangkat navigasi dari pembom Tu-22R / P / U meliputi: radar Rubin-1A (Kode NATO: Short Horn) untuk memandu pengeboman yang memiliki jangkauan maksimum hingga 324,1 km, perangkat navigasi yang terhubung secara elektrik dan perangkat pembidik pemboman optik OPB-15A, perangkat autopilot AP-7MTs, sistem heading KS 6A, orientator bintang-solar BTs-63A, unit kontrol kecepatan dan ketinggian pusat TsSV-1M, elemen peralatan penerbangan dan navigasi DISS-1, RV-25A dan ARK-11. Perangkat autopilot dapat beroperasi di kisaran ketinggian dari 0 hingga 14000 m dan kecepatan 300 hingga 1600 km / jam. Sistem pendingin udara (ACS) kemudian digunakan untuk memastikan kondisi kerja yang nyaman bagi para kru dan berfungsinya beberapa unit REO.

Tu-22 tidak memiliki jangkauan antar benua, sehingga tidak ditugaskan untuk menyerang benua Amerika. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Kecepatan maksimum dari Tu-22 adalah 938 mil per jam (Mach 1,42) atau 1.509,5 km per jam dengan jangkauan operasionalnya sekitar 3.000 mil (4.828 km). Tu-22 dapat beroperasi di ketinggian 40.500 kaki (12.344 meter). Berat lepas landas maksimumnya adalah 202.400 pon (91.807 kg). Tu-22B tidak memiliki jangkauan operasional antarbenua, dan oleh karenanya tidak dimaksudkan untuk menyerang benua Amerika Serikat. Sebaliknya, mereka ditargetkan untuk menyerang negara yang berdekatan dengan Uni Soviet – Eropa Barat dan Cina – dan untuk melakukan serangan terhadap grup angkatan laut negara-negara Barat. Dalam operasi itu mereka mengikuti mode penerbangan “HI-LO-HI”, dengan terbang ke area target di ketinggian tinggi, kemudian turun ke ketinggian rendah untuk melakukan penetrasi, dan kemudian melakukan serangan pop-up pada target. Blinder meluncur dengan kecepatan subsonik tinggi dan kemudian berakselerasi ke kecepatan Mach 1,5 untuk mencapai sasaran. Hanya 15 Tu-22B yang dibuat. Mereka dikenal sangat sukar diterbangkan dan merepotkan sehingga umumnya tidak pernah benar-benar memasuki dinas operasional garis depan, dan sebagian besar digunakan untuk aktivitas evaluasi dan pelatihan. NATO sebenarnya tidak pernah memberi kode khusus untuk varian itu. Kemudian muncul versi pengintai Tu-22R, yang bagaimanapun, dibuat dalam jumlah besar, dengan total 127 pesawat sempat diproduksi, setengahnya untuk resimen pembom VVS, setengah lainnya untuk skuadron pengintai laut Angkatan Laut Tentara Merah Soviet. Faktanya sangat sulit untuk membedakan Tu-22R dengan Tu-22B, dimana perbedaan utama yang dapat dikenali adalah bahwa Tu-22R memiliki perlengkapan kamera film di bagian hidung dan pada palet kamera film yang dapat dipasang di bombbay. Sistem penanggulangan elektronik (ECM) dapat ditukar dengan palet kamera film untuk memungkinkan Tu-22R digunakan sebagai “pesawat jammer pengawal”, yang menyertai formasi serangan dengan tugas membutakan radar musuh. Tu-22R juga dapat digunakan sebagai pembom, karena tetap mempertahankan sistem navigasi pengeboman standar dari Tu-22B. 

Deretan Tu-22RDM yang dilengkapi dengan peralatan pengintai dan kemampuan pengisian bahan bakar di udara. (Sumber: https://www.airliners.net/)

Tu-22R memasuki dinas operasional pada tahun 1962, dengan NATO memberikan kode pelaporan sebagai “Blinder-C”. Dari tahun 1962, probe pada hidung dipasang untuk bisa melakukan pengisian bahan bakar udara dengan metode probe-&-drogue, dengan pesawat yang dipasangi sistem probe diganti namanya menjadi “Tu-22RD”, di mana “D” berarti “Dalniy (Jarak Jauh)”. Tipe ini juga menampilkan penggunaan mesin RD-7M2 yang kemampuannya telah ditingkatkan. Setelah itu pesawat-pesawat produksi awal kemudian ditingkatkan ke standar Tu-22RD. Pada tahun 1970-an, beberapa Tu-22RD ditingkatkan kemampuannya dengan perangkat electronic intelligence (ELINT) Kub. Pesawat yang ditingkatkan kemampuannya ini lalu dinamai ulang “Tu-22RDK”. Pada masa-masa akhir karir operasionalnya, sejumlah kecil Tu-22RD/RDK dikonversi ke spesifikasi “Tu-22RDM”, yang menampilkan kit pengintaian yang yang kemampuannya ditingkatkan — termasuk penambahan side-looking airborne radar (SLAR) Shompol yang dipasang di bombbay, dengan ciri-ciri fairing pada bagian perut yang menonjol — dan sistem pertahanan diri ECM yang diperbarui. Karena Tu-22 ternyata sulit untuk diterbangkan, sehingga varian latih dengan kokpit belakang berjenjang yang disebut sebagai “Tu-22U” dibuat untuk membuat pilot lebih cepat beradaptasi dengan jenis pesawat ini, “U” sendiri berarti ” Uchyebniye / Pelatih”. Tu-22U tidak memiliki turret ekor, tetapi dilengkapi (setidaknya setelah beberapa pesawat produksi awal) dengan perangkat probe pengisian bahan bakar dalam penerbangan. Versi latih ini diperkenalkan ke dalam dinas operasional pada tahun 1963, dan sebanyak 46 pesawat ini sempat dibuat. NATO menyebutnya sebagai “Blinder-D”. Tidak jelas apakah ada yang digunakan oleh Angkatan Laut Tentara Merah, atau apakah mereka dioperasikan secara esklusif oleh VVS.

Tu-22KD, yang dimodifikasi untuk dapat membawa rudal Kh-22 semi-eksternal di bawah perut. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Varian latih Tu-22UD, dengan konfigurasi kokpit berjenjang. (Sumber: https://www.airliners.net/)

Alasan mengapa pembom Tu-22B tidak pernah memasuki dinas operasional adalah karena pada awal tahun 1960-an pembom konvensional berkecepatan tinggi yang menjatuhkan bom biasa dipandang sebagai konsep yang sudah usang, karena dinilai terlalu mudah ditembak jatuh oleh rudal permukaan-ke-udara (SAM). Faktanya, Perdana Menteri Soviet Nikita Khrushchev percaya bahwa pengebom konvensional benar-benar telah usang dan rudal dipandang bisa melakukan pekerjaan dengan yang lebih baik. Kemudian untuk dapat mengikuti perkembangan zaman, Tu-22 didesain ulang sebagai pesawat “pembawa rudal”, dimana nama pesawat “pembom” dihindari dengan hati-hati. Pesawat “baru” ini dirancang untuk dapat membawa rudal jarak jauh “Kh-22” (NATO AS-4 “Kitchen”). Kh-22 memiliki jangkauan hingga 550 kilometer (340 mil), yang kira-kira sebanding dengan ketinggian peluncurannya. Kh-22 dirancang untuk menyasar target darat dan melakukan serangan antikapal dan biasanya membawa hulu ledak nuklir, meskipun hulu ledak konvensional juga bisa digunakan. Tu-22 dimodifikasi untuk dapat membawa rudal Kh-22 semi-eksternal di bawah perut, dengan varian baru pesawat ini disebut sebagai “Tu-22K”. Tu-22K juga dilengkapi dengan radar Rubin-1 / PN (Kode NATO “Short Horn”) untuk memandu navigasi dan kontrol rudal, dengan radar yang memiliki radome pada bagian hidung yang menonjol. Program pengembangan versi ini terbukti merepotkan, dengan proyeknya hampir saja dibatalkan, dan Tu-22K tidak akan diperkenalkan ke dinas operasional sampai tahun 1967. Sebanyak 76 Tu-22K tercatat dibuat. Beberapa sempat dikirimkan ke Angkatan Laut Tentara Merah untuk menjalani uji coba, tetapi dalam dinas operasional semua versi ini bertugas dengan VVS, sementara Angkatan Laut Tentara Merah yang mengoperasikan pembom Tu-16 pembawa rudal sebagai gantinya. Tu-22K kemudian dilengkapi dengan probe pengisian bahan bakar di udara dan mesin RD-7M2, yang akan dinamai ulang sebagai “Tu-22KD” dan dengan pesawat-pesawat produksi awal ditingkatkan ke spesifikasi setara Tu-22KD. NATO memberi nama varian ini sebagai “Blinder-B”.

Tu-22PD, pesawat untuk peperangan elektronik yang dilengkapi dengan perangkat pengisian bahan bakar di udara. (Sumber: https://www.airliners.net/)

Beberapa Tu-22K dibuat sebagai atau diubah menjadi konfigurasi “defense suppression”, yang disebut “Tu-22KPD”. Mereka membawa peralatan ELINT untuk menemukan lokasi radar musuh, yang kemudian akan diserang oleh rudal Kh-22 versi anti radar, yang disebut “Kh-22P”. Varian produksi terakhir dari Tu-22 adalah “Tu-22P”, yang merupakan varian peperangan elektronik (Electronic Warfare/EW). Bawaan utamanya adalah sistem ELINT REB-EK yang disimpan di bombbay dan ditandai dengan airscoop pada bagian perut yang menonjol untuk pendinginan. Tugas utama Tu-22P adalah untuk menemukan dan mengkarakterisasi perangkat tempur angkatan laut negara-negara Barat dari emisi radio mereka, agar kemudian dapat diserang oleh rudal Kh-22 yang diluncurkan dari pesawat-pesawat Tu-22K. Tu-22P juga membawa sistem ECM untuk mengganggu radar musuh dan melindungi  armada Tu-22K. Meskipun awalnya Tu-22P memiliki turret ekor, namun kemudian keberadaannya ditukar dengan pemasangan sistem ECM; varian Tu-22 lainnya lalu juga ditingkatkan dengan penambahan sistem ECM pada bagian ekor. Sebanyak 47 unit Tu-22P dibuat, dari total 311 Tu-22 yang sempat diproduksi, termasuk dua prototipe, semuanya dibuat di pabrik Kazan. Dua subvarian Tu-22P, yakni “Tu-22P-1″ dan “Tu-22P-2” dengan sedikit peralatan yang berbeda juga diproduksi. Seiring berjalannya waktu, peralatan yang digunakan Blinder dalam dinas operasional menghasilkan subvarian tambahan “Tu-22P-7”. Tidak jelas apakah ada Tu-22P yang dikirimkan ke Angkatan Laut Tentara Merah; mengingat bahwa Tu-22P sering dikenali sebagai Tu-22K, tampaknya tidak mungkin. NATO menyebut varian tersebut dengan kode pelaporan “Blinder-E”. Sementara itu, Tu-22P yang kemampuannya ditingkatkan dengan penambahan probe pada hidung dan dilengkapi dengan mesin RD-7M2, akan didesain ulang sebagai “Tu-22PD”, dengan pesawat-pesawat produksi awalnya lalu ditingkatkan ke spesifikasi yang sama. Sebanyak 311 Tu-22 dari semua varian telah diproduksi, yang terakhir pada tahun 1969. Jumlah produksinya adalah sebagai berikut: 15 dari versi pembom (B), sekitar 127 dari versi pengintaian (R, RD, RK, RDK dan RDM), 47 dari Versi ELINT (P dan PD), 76 pembawa rudal (K, KD, KP dan KPD) dan 46 versi latih (U dan UD).

PERSENJATAAN

Rudal Kh-22

Kh-22 (Rusia: X-22; NATO: AS-4 ‘Kitchen’) adalah rudal anti-kapal jarak jauh besar yang dikembangkan oleh MKB Raduga di Uni Soviet. Rudal ini dimaksudkan untuk digunakan melawan kapal induk Angkatan Laut AS dan grup tempur kapal induk yang mengiringinya, baik dengan hulu ledak konvensional atau nuklir. Kh-22 menggunakan mesin roket berbahan bakar cair Tumanski, berbahan bakar TG-02 (Tonka-250) dan IRFNA (asam nitrat berasap merah), yang memberikan kecepatan maksimum Mach 4,6 dan jangkauan hingga 600 km ( 320nm). Rudak ini dapat diluncurkan dalam mode penembakan di ketinggian tinggi atau ketinggian rendah. Dalam mode ketinggian tinggi, rudal ini akan naik ke ketinggian 27.000 m (89.000 kaki) dan menukik dengan kecepatan tinggi ke target, dengan kecepatan terminal sekitar Mach 4,6. Dalam mode ketinggian rendah, rudal ini akan naik ke ketinggian 12.000 m (39.000 kaki) dan melakukan tukikan dangkal pada kecepatan sekitar Mach 3,5. Rudal ini dipandu oleh sistem autopilot yang distabilkan giroskop bersama dengan radio altimeter. Tes dari pihak Soviet mengungkapkan bahwa ketika hulu ledak jenis shape charge seberat 1.000 kg (2.200 lb) yang digunakan dalam rudal, dapat menghasilkan lubang berdiameter 5 m (16 kaki), luas 19,6 m2 (210 kaki persegi), dan kedalaman 12 m ( 40 kaki).

Rudal anti kapal jarak jauh AS-4 Kitchen. (Sumber: https://www.quora.com/)

Bom FAB-500

FAB-500 adalah bom serba guna yang dijatuhkan di udara yang dirancang Soviet dengan berat total 500 kilogram dengan hulu ledak berdaya ledak tinggi. Bom ini terutama digunakan oleh Angkatan Udara Rusia, bekas republik Soviet, dan negara pembeli persenjataan Soviet. Model M-54 versi awal diluncurkan pada tahun 1954, untuk diangkut secara internal oleh pesawat pengebom berat, sedangkan versi M-62 dengan drag rendah, diluncurkan pada tahun 1962 dimaksudkan untuk dipasang pada hardpoint eksternal pesawat pembom tempur. Bom ini tidak menggunakan pemandu, memiliki sumbu hidung tunggal, dan kompatibel dengan sebagian besar pesawat buatan Soviet. FAB-500 sebagian besar digunakan di Afghanistan oleh pasukan Soviet dan sekutu Afghanistan-nya selama tahun 1980-an. Bom ini baru-baru ini digunakan di Suriah oleh pesawat tempur Rusia dan Suriah. Ketinggian pelepasan dari bom ini adalah: 570–12.000 meter (1.870–39.400 kaki), dengan Kecepatan rilis antara: 500–1.900 kilometer per jam (311–1.180 mph).

Bom serba guna FAB-500. (Sumber: http://roe.ru/)

Bom FAB-9000

FAB-9000 (ФАБ-9000) adalah bom berdaya ledak tinggi konvensional berbobot 9.000 kg (19.842 lb) yang sangat besar, yang dikembangkan pada masa awal Perang Dingin. Bom tersebut diketahui digunakan oleh Angkatan Udara Irak selama perang Iran-Irak, dengan dijatuhkan dari pembom Tu-22 Blinder pada sasaran militer, industri dan sipil.

Bom raksasa FAB-9000. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Kanon Rikhter R-23

Rikhter R-23 adalah kanon otomatis pesawat yang dikembangkan untuk Angkatan Udara Soviet mulai akhir tahun 1950-an. Kanon ini dirancang sependek mungkin untuk menghindari masalah yang ditemukan pada pesawat berkecepatan tinggi ketika senjata diarahkan ke aliran udara. R-23 adalah kanon revolver yang dioperasikan dengan gas yang menggunakan tekanan gas dari lubang di laras untuk sebagai sumber penggerak penembakkan. Dapat menembakkan hingga kecepatan 2.600 rpm, R-23 adalah kanon laras tunggal dengan kemampuan menembak tercepat yang pernah diperkenalkan ke dinas militer operasional. R-23 membutuhkan beberapa waktu untuk dikembangkan, dan tidak digunakan secara operasional sampai tahun 1964. Kanon ini hanya digunakan khusus di turret ekor pembom Tu-22, dan secara eksperimental dipasang di stasiun ruang angkasa Salyut 3. Perannya kemudian diambil alih oleh kanon berlaras kembar Gryazev-Shipunov GSh-23. R-23 berkaliber 23 mm, yang adalah kanon revolver yang dioperasikan dengan gas. Silinder yang berputar memiliki empat ruang peluru. Tiga sistem gas terpisah digunakan; satu untuk mengeluarkan selongsong peluru yang ditembakkan dari kamar peluru, yang lain lain untuk memasukkan peluru baru, dan yang terakhir untuk menggerakkan silinder revolver dan mekanisme pengisian peluru. 

Kanon Rikhter R-23 kaliber 23 mm. (Sumber: https://www.armedconflicts.com/)

DINAS OPERASIONAL 

Pembom Tu-22 sangat mengesankan dalam hal penampilan fisiknya dan kinerja, tetapi umumnya dibenci oleh para awak pesawat, yang membuat perbandingan dengan Tu-16 yang andal dan mudah dikendalikan. Pengebom TU-22 memang dimaksudkan untuk menggantikan TU-16, tetapi karena kinerjanya yang buruk, sehingga dianggap tidak memuaskan. Dengan membawa beban muatan yang serupa dengan jangkauan yang sedikit lebih besar, Tu-22 secara umum tidak menawarkan peningkatan kemampuan yang nyata. Jangkauan terbatasnya adalah kelemahan utamanya, disamping itu TU-22K hanya dapat membawa satu rudal sedangkan TU-16 yang digantikannya malah dapat membawa hingga tiga rudal. Kecanggihan teknologi tinggi dari pesawat ini juga berarti membutuhkan waktu perawatan yang lama dan menyebabkan tingkat kesiapan terbangnya yang rendah. Tu-22 digelar dengan cepat ke dalam dinas operasional dengan kualifikasi personel yang tidak memadai dan pada awalnya memiliki keandalannya buruk, sehingga dibutuhkan serangkaian penyempurnaan yang panjang dan sering membutuhkan perbaikan. Butuh lebih dari satu dekade untuk mengatasi problem-problem utamanya. Lebih buruk lagi, bahkan setelah masalah-masalah tersebut diperbaiki, pesawat ini masih sukar dikendalikan. Andrei Tupolev sendiri menyebutnya “salah satu ciptaan saya yang kurang beruntung.” Pilot yang dipilih untuk menerbangkan skuadron Tu-22 pertama berasal dari jajaran pilot “terbaik” Tu-16, yang membuat transisi ke pesawat baru ini menjadi sulit, karena Tu-16 memiliki co-pilot, dan banyak dari “elit” Pilot Tu-16 yang dipilih telah terbiasa membiarkan co-pilot mereka menangani semua operasi penerbangan Tu-16 kecuali untuk lepas landas dan mendarat. Akibatnya, pilot Tu-16 yang beralih ke Tu-22 tiba-tiba mendapati diri mereka harus melakukan semua tugas uji coba, dan di lingkungan kokpit yang jauh lebih rumit. Banyak, jika tidak sebagian besar dari pilot ini tidak dapat menyelesaikan pelatihan mereka karena alasan ini. Akhirnya, pilot yang dipilih diambil dari jajaran kru Su-17 “Fitter”, dan pilot-pilot ini bisa melakukan transisi dengan lebih mudah.

Pilot dari Resimen Udara Pembom Tempur ke-523 di depan pesawat-pesawat Su-17 Fitter-C versi dasar mereka di wilayah Timur Jauh Soviet. Karena sulitnya transisi pilot-pilot Tu-16 dalam mengoperasikan Tu-22 Blinder, pilot-pilot Fitter kemudian dipilih untuk mengawaki Blinder. (Sumber: http://www.easternorbat.com/)

Sementara itu, ketiadaan kopilot dan kontrolnya yang sangat berat,  sehingga bahkan dengan bantuan perangkat autopilot, dua misi penerbangan dalam sehari akan membuat pilot yang terkuat pun menjadi kelelahan. Kurangnya perangkat kontrol penerbangan kemudian membuat proses pengisian bahan bakar di udara sangat merepotkan, karena sulit untuk menyelaraskan kecepatan terbang dengan pesawat tanker. Tu-22 diketahui memiliki kecepatan stall yang tinggi, lebih dari 290 KPH (180 KPH), dan menjadi tidak aerodinamis di bawah kecepatan itu dengan sedikit atau tanpa peringatan sama sekali. Roda pendaratannya kerap bergetar dan cenderung lemah. Ergonomi didalam kokpit sangat buruk, dengan kru terpaksa berimprovisasi dengan memasang tali tarik dan kait untuk bisa menggunakan perangkat kontrol yang tidak terjangkau. Dengan bidang pandang yang sangat buruk di ketiga posisi kru-nya; sehingga jika mendarat dalam kondisi crosswind yang berat, akan dapat mengakibatkan sumbu pesawat miring dari garis terbangnya, sementara sang pilot hampir tidak bisa melihat landasan. Awak pesawat Tu-22P menggambarkan tunggangan mereka sebagai “pesawat pengintai yang luar biasa di mana pilot yang seharusnya bisa melihat landasan pacu hanya dapat melihat langit, navigator yang seharusnya dapat melihat medan di depan hanya dapat melihatnya di bawah, dan perwira senjata yang harus menjaga matanya pada area ekor hanya bisa melihat sayap pesawat.” Kecepatan mendarat persawat ini terhitung tinggi (Kecepatan pendaratan adalah 100 km/jam atau 62 mph), sehingga membatasinya hanya untuk digunakan di “lapangan udara kelas satu”, yang memiliki landasan pacu setidaknya 3.000 meter (9.800 kaki).

Periode lepas landas dan mendarat adalah periode kritis bagi kru Tu-22 Blinder, karena buruknya pengamatan visual dari dalam kokpit. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pesawat pembawa rudal, yakni Tu-22K bahkan lebih buruk karena rudal Kh-22 bawaannya didorong oleh propelan cair yang dapat disimpan, yang sangat beracun dan korosif sehingga kru operasional darat harus mengenakan pakaian pelindung lengkap untuk mendekati rudal itu. Propelan itu juga “hipergolik”, yang berarti mereka terbakar secara tiba-tiba ketika tercampur; kecelakaan pendaratan dengan Kh-22 di bagian perut adalah sebuah prospek yang mengerikan. Kursi lontar yang menembak ke bawah pada semua varian Tu-22, tidak mengherankan, sangat tidak disukai para awak (sama seperti yang dijumpai dalam pesawat-pesawat barat yang menggunakan konfigurasi sama), karena semuanya memastikan bahwa kecelakaan di ketinggian rendah akan berakibat fatal. Dari 313 Tu-22 yang dibuat, lebih dari 70 hilang dalam kecelakaan, dengan tingkat kerugian lebih dari 20%, jika kru bisa selamat itu adalah keberuntungan semata. Kabarnya terdapat kasus awak pesawat yang sengaja masuk dalam daftar sakit daripada harus menerbangkan pesawat itu. Kru perawatan darat juga tidak senang dengan Tu-22, karena profilnya berdiri tinggi diatas tanah, dan umumnya membutuhkan perangkat khusus untuk bisa menjalani servis eksternal rutin. Mesin, yang bertengger di atas badan pesawat di sirip ekor, adalah gangguan yang spesifik; skema pemasangan ini efektif secara aerodinamis tetapi memusingkan proses perawatannya. Salah satu dari beberapa hal yang “menarik” tentang Tu-22 adalah bahwa sistem hidrolik dan de-icing nya membutuhkan 450 liter (119 galon AS) alkohol (campuran 40% etanol dan 60% air suling, dimana yang paling efektif adalah vodka), sehingga Tu-22 kadang-kadang dijuluki sebagai “pembawa minuman keras” sebagai “plesetan” dari Tu-22K, yang bertugas sebagai “pembawa rudal” — rupanya VVS tidak pernah repot-repot mengubah sifat benda itu agar tidak bisa diminum, mungkin karena takut personel akan tetap mencoba meminumnya. 

Kru darat Soviet memeriksa kanon R-23 kaliber 23-mm di turret ekor Blinder yang dikendalikan dari jarak jauh. Konfigurasi mesin Blinder yang letaknya tinggi dari atas tanah menyukarkan proses perawatan yang dilakukan para awak darat. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sementara itu, Tu-22 “Blinder” memang lebih jarang terlihat di Jerman Timur daripada Tu-16 dan Tu-22M2 – dan pada tingkat lebih rendah dibanding Tu-22M3 – mungkin karena mereka mendarat lebih jarang di lapangan udara lokal. Namun Tu-22 tetap hadir di atas wilayah udara Jerman Timur. Itu terutama pada tipe Tu-22R “Blinder-C”. Penerbangan pengintaiannya yang dilakukan di atas Laut Baltik mengikuti rute yang agak rumit, yang memungkinkannya untuk mencakup lebih banyak target. Pesawat ini terbang melalui Polandia untuk mencapai Cekoslowakia dan akhirnya ke Jerman Timur. “Blinder” terbang di sepanjang perbatasan antar kedua Jerman sebelum akhirnya mencapai Laut Baltik di mana mereka umumnya akan dicegat oleh jet tempur SAAB Draken dan Viggen milik Swedia. Ketika yang terakhir mengawal Tu-22 agak terlalu lama, para kru bomber Soviet akan memanggil pesawat-pesawat tempur dari 871.IAP yang berbasis di Kolobrzeg di Polandia, dekat pantai Laut Baltik untuk “menyelamatkan” mereka. Karena para pilot Swedia kemungkinan besar mendengarkan komunikasi Soviet, seruan permintaan bantuan yang diluncurkan lewat radio ini biasanya cukup untuk mengusir para pencegat. Penerbangan Tu-22RDM ELINT di sepanjang perbatasan antara negara-negara Pakta Warsawa dan NATO – yang disebut sebagai “tugas khusus” (Spetszadaniya) – diadakan setidaknya sebulan sekali. Tujuan mereka umumnya adalah untuk: menemukan dan memetakan radar musuh serta menentukan parameter operasi dan kinerja mereka. Resimen penerbangan pengintaian jarak jauh independen (ODRAP) ke-290 dari Zyabrovka (Gomel) bertanggung jawab atas area Eropa utara dan barat laut, sedangkan 199.OGvDRAP di Nezhin-Ukraina memantau wilayah selatan. Kedua unit ini diperbantukan dengan satuan 46.VA yang berpangkalan di Smolensk. Radar navigasi Rubin-1L (Ruby) terkadang dihidupkan untuk mengarahkan dalam mode manual pancarannya ke target potensial untuk memaksa mereka beralih dari mode siaga ke mode aktif agar dapat dianalisis sinyalnya. Yang lebih tak terduga, Tu-22R juga digunakan untuk menguji kesiapan Pertahanan Udara Uni Soviet (PVO) sendiri di sekitar Moskow dan pusat-pusat industri dan administrasi. Penerbangan khusus ini sering digabungkan dengan misi pengintaian di sepanjang perbatasan antara timur dan barat. “Blinder” terbang dari selatan ke utara dan melintasi Jerman Timur sebelum berbelok ke arah Polandia. Blinder kemudian melanjutkan perjalanannya dalam mematikan radio, dan sistem IFF mereka, untuk mensimulasikan serangan mendadak oleh sekelompok pembom NATO.

Selama masa perang dingin, Blinder jarang terlihat dibandingkan dengan Tu-16 Badger diatas wilayah udara Jerman, akan tetapi Blinder diketahui aktif menjalankan misi pengintaian diatas laut Baltik. (Sumber: https://www.goodfon.ru/)

Tugas tipikal dari resimen pembom berat dalam pelatihan perang adalah untuk menjalankan misi pengeboman, peluncuran rudal, serangan penembakan pada target darat dan misi pengintaian, meskipun yang terakhir bukan peran tempur utama untuk unit Tu-22K. Namun, seperti di semua resimen Angkatan Udara Soviet, keterampilan pengintaian sering dipraktikkan selama sebagian besar tugas penerbangan oleh semua awak. Resimen tersebut, tentu saja, mempraktikkan peran utama mereka dalam semua latihan utama yang diadakan dalam lingkup simulasi operasi militer di medan Barat, salah satunya adalah Latihan Zapad-84 (West-84) yang dipublikasikan dengan baik pada tahun 1984. Salah satu peserta utama dalam latihan ini adalah 121.TBAP. Menanggapi peringatan latihan, Tu-22K dari resimen ini meluncur dari Machulishchi dengan kekuatan setara resimen dan mengatur arah untuk melakukan pengeboman di Riika, yang terletak 35km (22 mil) barat laut Tartu di Estonia. Sesuai dengan rencana latihan, formasi setara resimen ininturun ke ketinggian 100m (328 kaki) dan melanjutkan penerbangan mereka di atas bagian tengah Laut Baltik pada ketinggian itu. Penerbangan mereka berlanjut tanpa terdeteksi di atas Baltik sampai pesawat itu memasuki wilayah Jerman Timur, dimana sistem pertahanan udara Pakta Warsawa di daerah itu tidak dapat melihat para pembom, apalagi mengambil tindakan terhadap mereka. Formasi itu kemudian terpecah menjadi dua bagian, satu menyerang Berlin dari timur dan yang lainnya dari barat. Satu kelompok mendarat di pangkalan Angkatan Udara Soviet di Templin, utara Berlin, sementara yang lain mendarat di Falkenberg di selatan, kedua kelompok mendarat sekitar pukul 23.00. Kehadiran seluruh resimen pembawa rudal “Blinder-B”, ‘yang dipersenjatai’ dengan varian pelatihan dari rudal jelajah (Kh-22) AS-4 “Kitchen”, tidak hanya mengejutkan NATO, tetapi juga para perwira senior di Grup Pasukan Soviet di Markas Besar Jerman di Zossen-Wünsdorf. Hari berikutnya ditetapkan sebagai hari istirahat, dan pada malam hari resimen ini berangkat dari Jerman Timur dan menuju Laut Baltik lagi, kali ini pada ketinggian 9.000-10.000 m (29.530-32.800 kaki), terbang dengan kecepatan tinggi dan menggunakan perangkat ECM, sehingga berhasil menghindari deteksi oleh pertahanan udara ‘kekuatan merah’. (Catatan: Rusia tidak mengikuti praktik Barat yang menunjuk peserta latihan sebagai pasukan “merah” dan “biru”, tetapi kemungkinan besar dalam konteks ini, pasukan Jerman Timur dan Polandia akan memainkan peran sebagai pihak “lawan”). Pada gilirannya, kelompok tersebut melakukan simulasi peluncuran rudal (takticheskiye puski) pada “B-46 Range” di Kurshskaya Kosa (Kurshskaya Spit) dekat Kaliningrad, dan kemudian berangkat ke pangkalan di Byelorussia. Rencana latihan yang sama dilakukan oleh 203.TBAP dari Baranovichi, tetapi dalam kasus ini pesawat mendarat di Debrecen di Hongaria.

Pola penerbangan Blinder diatas wilayah udara Eropa. (Sumber: https://16va.be/)

Armada Tu-22 terutama ditugaskan untuk dua misi khusus, yakni: misi serangan nuklir ke wilayah Eropa Barat, dan serangan terhadap Armada Keenam Angkatan Laut AS di Mediterania. Data intelijen pra-serangan untuk penargetan akan diperoleh oleh platform pengintaian dari pesawat Tu-22R, dengan serangan akan dilakukan oleh Tu-22K dengan rudal Kh-22 dan perlindungan disediakan oleh Tu-22P platform EW. Pada tahun 1970-an, Angkatan Laut AS memperkenalkan sistem pertahanan armada berdasarkan pesawat peringatan dini udara (AEW) Grumman E-2C Hawkeye dan pesawat pencegat Grumman F-14 Tomcat, yang membawa rudal udara-ke-udara (AAM) jarak jauh Phoenix. Kombinasi Hawkeye/Tomcat/Phoenix melakukan banyak hal untuk bisa menetralisir Tu-22, dengan Hawkeye yang memiliki kemampuan melihat penyerang dari jarak jauh sebelum mereka berada dalam jangkauan untuk dapat meluncurkan Kh-22, dan rudal Phoenix sendiri mampu menghancurkan baik Tu-22 maupun rudal Kh- 22. Dari tahun 1980-an Tu-22 umumnya sudah diganti sebagai aset penyerang oleh pesawat yang lebih baik; dimana mereka tidak pernah sangat mengesankan dalam peran itu, karena hanya mampu membawa satu rudal. Blinder tetap dipertahankan dalam peran pengintaian selama dekade ini. Satu-satunya penggunaan tempur dari Tu-22 Soviet terjadi pada tahun 1988, selama proses penarikan tentara Soviet dari perang di Afghanistan. Pesawat Jammer elektronik Tu-22P Blinder-E diberi tugas untuk melindungi rute penarikan tentara ke wilayah Uni Soviet. Pesawat Radar-jamming Tu-22PD kemudian melindungi armada pembom Tu-22M3 Backfire-C yang beroperasi dari lapangan terbang Mary-2 di SSR Turkmenistan dalam misi di Afghanistan dekat perbatasan Pakistan. Mereka melindungi pesawat penyerang dari aktivitas pesawat F-16 Pakistan dan mengganggu sistem radar yang dapat membantu serangan F-16 Pakistan terhadap pengeboman Soviet di wilayah perbatasan. Awak Tu-22PD juga ditugaskan dengan misi pengintaian foto, untuk menilai kerusakan akibat bom, di samping misi peperangan elektronik utama mereka. Tu-22 secara bertahap dihapus dari dinas operasional Soviet demi memberi tempat Tupolev Tu-22M yang lebih mampu. Pada saat pembubaran Uni Soviet ada 154 Blinder yang masih tersisa dalam dinas operasional, tetapi sekarang diyakini tidak ada yang masih digunakan. Tu-22, bagaimanapun, tetap terlibat dalam pertempuran aktif dengan angkatan udara negara lainnya. 

Pada masa-masa akhir perang dingin, peran Blinder mulai digantikan oleh Tu-22M3 Backfire-C, yang punya kemampuan lebih mumpuni. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Tu-22B AU Irak. (Sumber: http://www.airwar.ru/)
Tu-22 AU Libya. (Sumber: http://www.airwar.ru/)

Dua pengguna ekspor dari Blinder adalah Libya dan Irak, yang dipasok dengan sejumlah Tu-22B. Irak menerima sekitar 12 Blinder pada tahun 1973, sementara Libya menerima 12 hingga 18 pesawat ini dari tahun 1977 hingga 1983. Pesawat-pesawat tersebut merupakan konversi langsung dari Tu-22R, bersama dengan jumlah Tu-22U untuk misi pelatihan penerbangan — dan keduanya menggunakan Blinder dalam perang sesungguhnya. Operasi tempur awal armada Tu-22B Libya terjadi pada tahun 1979, ketika Uganda berperang dengan Tanzania. Diktator Uganda Idi Amin telah meminta dukungan dari Libya, dan sebagai tanggapan, dua pesawat Tu-22B melakukan serangan di kota Mwanza, Tanzania, pada tanggal 29 Maret 1979, meskipun serangan itu tidak menyebabkan kerusakan nyata. Pada dekade berikutnya, diktator Libya Muammar Qaddafi mendukung pemberontakan di negara tetangga Chad, dengan Tu-22 melakukan sejumlah serangan pada tahun 1980, 1983, 1986, dan 1987. Tu-22 Libya menerbangkan misi pertama mereka di atas Chad pada tanggal 9 Oktober 1980 melawan pasukan Hissène Habré di dekat ibu kota Chad, N’Djamena. Penyerangan-penyerangan semacam tidak banyak menghasilkan, selain hanya sebagai aksi pamer kekuatan, yang biasanya dilakukan dilakukan oleh hanya satu atau dua pesawat — tampaknya Libya tidak memiliki kemampuan untuk melakukan serangan yang lebih besar. Saat pertempuran di Chad pecah kembali pada bulan Juli 1983, kekuatan udara Libya, menggunakan Tu-22-nya, dalam serangan terhadap pasukan yang setia kepada Habré, sebelum gencatan senjata lebih lanjut menghentikan pertempuran sampai pasukan bantuan Libya memulai serangan baru pada awal tahun 1986.

F-4N Phantom II Angkatan Laut AS dari Skuadron Tempur VF-51 Screaming Eagles mencegat pembom Tupolev Tu-22 “Blinder” buatan Soviet milik Libya di atas Laut Mediterania, sekitar bulan April 1977. Libya dan Irak adalah 2 operator Blinder di luar Uni Soviet. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)

Pada tanggal 17 Februari 1986, sebagai pembalasan atas Operasi pervier yang dilancarkan Prancis (yang menghantam landasan pacu Pangkalan Udara Ouadi Doum Libya satu hari sebelumnya), sebuah pembom Tu-22B menyerang lapangan terbang di N’Djamena. Berada di bawah jangkauan radar Prancis dengan terbang rendah di atas gurun selama lebih dari 1.100 km (700 mil), Blinder Libya melaju hingga kecepatan lebih dari Mach 1, lalu naik hingga ketinggian 5.000 m (16.500 kaki) dan menjatuhkan tiga bom berat. Terlepas dari kecepatan dan ketinggian yang cukup besar, serangan itu sangat tepat: dua bom menghantam landasan pacu, satu menghancurkan taxiway, dan lapangan terbang itu tetap ditutup selama beberapa jam sebagai akibatnya. Namun, pembom itu rupanya mengalami masalah teknis dalam perjalanan pulangnya. Pesawat pengintai peringatan dini AS yang berbasis di Sudan sempat memantau panggilan darurat yang dikirim oleh pilot Tu-22 libya, yang tampaknya kemudian jatuh sebelum mencapai pangkalannya di Aouzou (mungkin terkena senjata antipesawat yang ditembakkan di bandara N’Djamena). Pada tanggal 19 Februari, Tu-22 Libya lainnya mencoba mengebom N’Djamena sekali lagi. Tu-22 itu lalu dicegat oleh patroli pesawat-pesawat Mirage F1C Angkatan Udara Prancis, dan ditembak jatuh sekitar 110 km (68 mil) dari ibu kota Chad. Satu pembom Libya lainnya ditembak jatuh oleh rudal permukaan-ke-udara 2K12 Kub (SA-6) yang dirampas selama serangan bom di pangkalan Libya yang ditinggalkan di Aouzou pada tanggal 8 Agustus 1987. Satu laporan dari saksi mata menunjukkan bahwa pilot sempat terlontar, tetapi parasutnya terlihat terbakar. Blinder lainnya diketahui hilang pada pagi hari tanggal 7 September 1987, ketika dua Tu-22B melakukan serangan terhadap N’Djamena. Sebuah baterai SAM MIM-23 Hawk Prancis dari Resimen Pertahanan Udara 402 menembak jatuh salah satu pembom, menewaskan para awaknya, yang berasal dari Jerman Timur. Serangan ini merupakan aksi terakhir Tupolev Tu-22 dengan konflik Chad-Libya. Selain itu, Tu-22 Libya juga tercatat melakukan sejumlah serangan di Sudan pada tahun 1984 dan 1985, awalnya terhadap pemerintah Sudan dan kemudian, setelah pemerintah digulingkan dan diganti oleh salah satu yang pihak bersahabat dengan Libya, untuk mendukung pihak pemerintah melawan pemberontak. Serangan terhadap Omdurman pada bulan September 1981, telah menewaskan tiga warga sipil dan melukai 20 lainnya. Pemboman semacam ini terus dilakukan sampai gencatan senjata disetujui pada bulan November 1981. Penerbangan terakhir dari Blinder Libya tercatat pada tanggal 7 September 1992. Mereka mungkin sekarang sudah tidak dapat digunakan karena kurangnya suku cadang, meskipun tujuh pesawat masih terlihat di Pangkalan Udara Al Jufra pada koordinat 29°11′58.18″LU 16 °00′26.17″BT. Mereka dilaporkan telah digantikan oleh pesawat-pesawat Su-24 Fencer.

Sistem SAM MIM-23 Hawk Prancis setidaknya merontokkan 1 buah Blinder Libya pada tahun 1987. (Sumber: https://m.kaskus.co.id/)

Sementara itu, Tu-22 Irak digunakan untuk melakukan misi tempur melawan Iran selama Perang Iran-Irak tahun 1980-an. Pada awal konflik, di bulan September 1980, pesawat-pesawat Tu-22 melakukan serangan di kota Teheran dan Isfahan, yang diikuti oleh pola serangan berkala terhadap kota-kota Iran pada interval yang dipisahkan oleh periode di mana Tu-22 Irak melakukan serangan selektif pada target tertentu. Operasi ofensif Blinder dimulai pada hari pertama perang, ketika Tu-22 yang berbasis di Pangkalan Udara H-3 menyerang depot bahan bakar Iran di Bandara Internasional Mehrabad, Teheran, yang bersamaan dengan serangan Irak lainnya mengakibatkan kekurangan bahan bakar penerbangan untuk Iran pada periode awal perang. Meski demikian, serangan awal ini relatif tidak efektif, dengan banyak serangan dibatalkan karena pertahanan udara Iran dan operasi terganggu oleh serangan udara Iran terhadap lapangan udara Irak. Iran mengklaim bahwa tiga Tu-22 ditembak jatuh selama bulan Oktober 1980; satu pada tanggal 6 Oktober di atas Teheran, dan dua pada tanggal 29 Oktober, satu di dekat Najafabad oleh rudal AIM-54 Phoenix yang diluncurkan dari pesawat pencegat F-14 dan satu lagi di atas Qom. Irak telah mengerahkan armada Tu-22 selama “Perang Kota” (bersama dengan pesawat-pesawat Tu-16, Su-22 dan MiG-25), dengan menerbangkan serangan udara terhadap Teheran, Isfahan dan Shiraz, dengan serangan ini dilengkapi dengan penembakan rudal Scud dan Al Hussein Irak. Iran kemudian membalas serangan dengan Scud-nya sendiri terhadap kota-kota Irak. Angkatan Udara Irak adalah pengguna rutin dari bom raksasa serba guna FAB-9000 seberat 9.000 kg (20.000 lb), yang dapat digunakan oleh pilot Tu-22 yang terampil dengan akurasi yang mengesankan, menggunakan teknik pengeboman lemparan (toss bombing) supersonik pada jarak jauh dan memungkinkan pesawat untuk menghindari tembakan balasan senjata anti-pesawat. Penggunaan FAB-9000 begitu ekstensif sehingga Irak kehabisan stok impor dari Soviet dan terpaksa membuat versi mereka sendiri, yang disebut Nassir-9. Tu-22 Irak juga dikerahkan pada tahap terakhir “Perang Tanker”.

Ilustrasi Tu-22 Blinder AU Irak. (Sumber: https://www.super-hobby.de/)
Kru pembom Irak didepan Tu-22U Blinder. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)
Tu-22 Blinder AU Irak dikenal aktif digunakan dalam Perang Iran-Irak tahun 1980-1988. (Sumber: https://twitter.com/)

Pada tanggal 19 Maret 1988, empat Tu-22 bersama dengan enam Mirage F.1 melakukan serangan terhadap kapal tanker minyak Iran di dekat Pulau Kharg. Pembom Tu-22 Irak berhasil menenggelamkan satu kapal supertanker dan membakar yang lain, sementara rudal Exocet yang dilepaskan dari pesawat-pesawat Mirage merusak kapal tanker lainnya. Serangan kedua terhadap Pulau Kharg pada hari itu kurang berhasil, karena menghadapi pertahanan Iran yang sudah waspada, dengan dua pesawat Tu-22 ditembak jatuh. Ini adalah operasi terakhir yang dilakukan oleh Tu-22 Irak selama perang Iran-Irak. Perang berakhir pada tahun 1988, dengan kekuatan Tu-22 Irak banyak menderita kerugian, dimana hingga tujuh pesawat hilang dalam pertempuran. Pihak Iran mengklaim menghancurkan setidaknya tiga diantaranya. Tidak jelas apakah ada aksi yang terlihat dari Tu-22 dalam Perang Teluk Pertama tahun 1991-1992, namun sepertinya mereka tidak selamat dari konflik itu. Beberapa Tu-22 diketahui digunakan dalam pengujian dan uji coba selama masa pemakaiannya, yang dalam beberapa kasus diganti namanya menjadi “Tu-22LL”, di mana “LL” adalah singkatan dari “letayuschschaya laboritoriya (laboratorium terbang)”, yang umum digunakan sebagai akhiran kode universal untuk pesawat uji dan uji coba Soviet. Agak mengejutkan bahwa mengingat kekurangannya, Tu-22 tetap beroperasi hingga tahun 1990-an. Dengan runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, beberapa pesawat ini berakhir di tangan Ukraina, tetapi mereka sama saja tidak disukai. Pada tahun 2000, Ukraina menjadi satu-satunya operator pesawat ini, dengan pesawat-pesawat milik Libya, dan Irak dianggap tidak dapat digunakan. Sebagian besar Tu-22 akhirnya dibesi-tuakan. Sekarang pesawat-pesawat jenis ini sepenuhnya sudah tidak beroperasi lagi.

KARAKTERISTIK UMUM TU-22 “BLINDER”

Performa

Persenjataan

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Tupolev Tu-22 “Blinder” & Tu-22M “Backfire” v1.0.5 by greg goebel / 01 jul 20

http://www.airvectors.net/avtu22.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Tupolev_Tu-22

Blinder Over Berlin

https://16va.be/blinder_over_berlin_eng.html

Tupolev Tu-22 (Blinder) Medium Bomber / Reconnaissance Aircraft (1962)

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.php?aircraft_id=316&__cf_chl_managed_tk__=pmd_eRb9lr_XQKySterHFQ_IQpLT48Z1Zo0x_cjY8vfyK_8-1634123419-0-gqNtZGzNAzujcnBszQf9

Tu-22 BLINDER (TUPOLEV)

https://nuke.fas.org/guide/russia/bomber/tu-22.htm

Tu-22 BLINDER (TUPOLEV) / Tupolev plane 105

https://www.globalsecurity.org/wmd/world/russia/tu-22.htm

Tu-22

http://www.airwar.ru/enc/bomber/tu22.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ram_air_turbine

Short Horn [Rubin-1A] (Tu-22, Smaller antenna) Radar

http://cmano-db.com/pdf/sensor/3789/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Kh-22

https://en.m.wikipedia.org/wiki/FAB-500

https://en.m.wikipedia.org/wiki/FAB-9000

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Rikhter_R-23

Exit mobile version