Sejarah Militer

Perang Udara Diatas Kashmir 1965: Duel Sengit AU Pakistan vs India

Perang India-Pakistan pada tahun 1965 yang mengadu Angkatan Udara India dan Pakistan melibatkan berbagai pertempuran udara skala besar untuk pertama kalinya sejak Pembagian wilayah kawasan itu pada tahun 1947. Perang udara ini berlangsung selama bulan September 1965, dimana kedua pasukan melakukan operasi defensif dan ofensif di wilayah udara India dan Pakistan. Perang udara yang tercipta telah membuat kedua belah pihak melancarkan ribuan misi tempur dalam kurun waktu satu bulan. Kedua belah pihak kemudian mengklaim mencetak beberapa kemenangan dalam perang udara; dimana Pakistan mengklaim telah menghancurkan 104 pesawat musuh dengan kerugian sendiri sebanyak 19 pesawat, sementara India mengklaim telah menghancurkan 73 pesawat musuh dan kehilangan 35 pesawatnya sendiri. Angka ini jelas menimbulkan perdebatan karena adanya potensi jumlah sebenarnya tidak sebesar itu. Konflik ini kemudian menjadi ajang beradu kualitas kemampuan udara serta skill pilot dari kedua negara. Meskipun pertempuran udara yang terjadi terhitung sengit, namun konflik ini secara efektif menemui jalan buntu.

Perang udara antara India dan Pakistan tahun 1965 menjadi ajang beradu kualitas kemampuan udara serta skill pilot dari kedua negara. (Sumber: https://scontent.fcgk6-2.fna.fbcdn.net/)

KEKUATAN UDARA PAKISTAN VS INDIA DI TAHUN 1965

Sampai hari ini, kedua belah pihak yang berhadapan dalam Perang Indo-Pakistan tahun 1965 menyangkal sebagian besar klaim kemenangan udara satu sama lain, namun konflik tersebut bagaimanapun memberikan ujian unik bagi persenjataan buatan Barat dalam pertempuran. Pakistan bertempur dengan menggunakan tank dan pesawat terbang buatan Amerika. Sementara itu meskipun “bermain mata” dengan Soviet, India membeli sebagian besar kendaraan lapis baja dan pesawatnya dari negara-negara Eropa. Kedua angkatan udara (India dan Pakistan) juga dibangun dalam dasar tradisi kolonial Inggris. Tetapi sejak kemerdekaan keduanya pada tahun 1947, Pakistan menganggap wilayah Kashmir di India utara berada di sisi perbatasan yang salah. Perebutan wilayah inilah yang pada akhirnya memicu pecahnya perang di tahun 1965. Pada saat perang pecah PAF (Pakistani Air Force/AU Pakistan) dan IAF (Indian Air Force/AU India) memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Sampai tahun 1956, PAF utamanya menggunakan pesawat-pesawat buatan Inggris dan organisasinya mengikuti model AU Inggris. Pada tahun 1956 Amerika memulai mengirimkan bantuan militernya ke Pakistan, dimana Amerika selama akhir tahun 1950an dan awal 1960an menyerahkan banyak jet tempur F-86F Sabre, pembom ringan B-57, dan jet tempur supersonik F-104A Starfighter. Amerika juga menyediakan berbagai senjata udara, termasuk bom dan rudal udara ke udara berpemandu infra merah AIM-9B Sidewinder.

Pesawat tempur terbanyak PAF pada tahun 1965 adalah F-86F, pesawat tempur yang sama dipakai oleh AU Amerika dalam Perang Korea. Meskipun hanya berkecepatan subsonik (dibawah kecepatan suara), F-86F sangat lincah saat digunakan dalam pertempuran udara. (Sumber: https://fighterjetsworld.com/)
Jet tempur supersonik F-104A Starfighter mungkin merupakan pesawat tempur paling canggih yang dimiliki Pakistan saat perang pecah tahun 1965. (Sumber: https://www.facebook.com/)
Pembom Martin B-57 A Angkatan Udara Pakistan. (Sumber: https://in.pinterest.com/)

Dikomandani oleh Marsekal Udara Malik Nur Khan, pada pertengahan tahun 1960an PAF memiliki 15.000 personel. Saat konflik pecah, pesawat-pesawat PAF terdiri dari: 100 pembom tempur F-86F Sabre, 25 pembom ringan B-57, 12 pesawat tempur/pencegat F-104A dan F-104B Starfighter, 12 jet latih/serang darat T-33A. Pesawat tempur terbanyak PAF adalah F-86F, pesawat tempur yang sama dipakai oleh AU Amerika dalam Perang Korea. Meskipun hanya berkecepatan subsonik (dibawah kecepatan suara), F-86F sangat lincah saat digunakan dalam pertempuran udara. Khususnya 40 diantara armada Sabre milik PAF dilengkapi dengan fixed leading edges dan extended wingtips yang secara signifikan meningkatkan kemampuan manuvernya. Seperempat dari Sabre PAF juga mampu menggotong rudal Sidewinder yang jauh lebih unggul daripada kanon yang dipasang pada pesawat tempur India dan memberi mereka keuntungan dari sisi jangkauan dan akurasi. PAF sendiri melatih personelnya dengan standar yang tinggi, dimana para pilotnya dilatif ekstensif dalam manuver aerobatik, taktik, kemampuan menembak dan pertempuran udara. Banyak pilot PAF memperoleh pengalaman dalam misi pertukaran dengan AU Inggris dan Angkatan Udara lainnya. 2 tahun pelatihan para pilot dimulai di Akademi Angkatan Udara di Risalpur, dimana para kadet berlatih teknik penerbangan dasar menggunakan pesawat latih T-6 Texas/Harvard buatan Amerika. Para kadet memperoleh 185 jam terbang sebelum dikirim ke Pangkalan Udara Maripur untuk menjalani pelatihan lanjut menggunakan pesawat T-33. Mereka yang lulus melanjutkan sekolahnya di sekolah pemimpin tempur di Peshawar untuk menyelesaikan pelatihannya menggunakan jet F-86F Sabre.

Hawker Hunter tulang punggung pesawat pembom tempur AU India dalam perang tahun 1965. (Sumber: https://abpic.co.uk/)
Pembom tempur Dassault Mystère IVA. Pada tahun 1965 India memiliki 80 pesawat tempur jenis ini. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Folland Gnat AU India. Meski hanya bisa terbang subsonik, namun Gnat memiliki kemampuan menanjak dan akselerasi  yang bagus, serta sangat lincah bermanuver. (Sumber: https://www.recoverycurios.com/)

Sementara itu selepas perang singkat dengan China di tahun 1962, pemerintah India memulai program besar untuk meningkatkan kemampuan Angkatan Udaranya. Program pelatihan diperluas dan diintensifkan. Pada akhir tahun 1962, pemerintah India memutuskan bahwa mereka membutuhkan 45 skuadron untuk mempertahankan negaranya. Dikomandani oleh Marsekal Udara Arjan Singh, pada tahun 1965 IAF memiliki setidaknya 27 skuadron pesawat tempur dengan masing-masing dilengkapi 16 pesawat, dan 3 skuadron bomber. Di tahun itu kekuatan udara India terdiri dari: 8 jet tempur/pencegat MiG-21, 118 pembom tempur Hawker Hunter, 80 pembom tempur Dassault Mystère IVA, 50 jet tempurGnat, 56 pembom tempur Ouragan (Toofani), 132 pembom tempur/latih Vampire, 53 pembom Canberra, dan 7 pesawat pengintai Canberra. IAF diketahui menggelar berbagai pesawat yang dibeli dari berbagai negara. Pada tahun 1965, India memutuskan untuk membeli jet tempur MiG-21 Fishbed dari Soviet, sebagai pesawat tempur supersonik pertama mereka. Namun saat konflik pecah, hanya ada sedikit dari pesawat ini yang sudah beroperasi, sehingga mereka tidak turut diterjunkan selama perang. Dengan ini tulang punggung IAF adalah Hawker Hunter Mk.56 yang bertugas sebagai pesawat tempur dan pembom tempur, dengan dibantu oleh pesawat tempur ringan Gnat. Meski hanya bisa terbang subsonik, namun Gnat memiliki kemampuan menanjak dan akselerasi  yang bagus, serta sangat lincah bermanuver. Selama perang tahun 1965 kekuatan udara India dibagi dalam 3 wilayah, yakni barat, tengah dan timur, yang memiliki organisasi terpisah satu sama lain. Para pilot India dilatih menggunakan pesawat latih buatan lokal HT-2 di Indian Air Flying College. Para kadet kemudian melanjutkan pelatihan dengan menghabiskan 85 jam terbang memakai pesawat latih T-6 Texas/Harvard. Pelatihan lebih lanjut dilakukan dengan menggunakan pesawat latih Vampire 2 kursi dan satu kursi selama 75 jam terbang. Meskipun Pemerintah India telah mengesahkan penggelaran 45 skuadron tempur IAF pada tahun 1963, namun hanya ada 25 skuadron tempur dibandingkan 11 skuadron PAF ketika perang pecah. Dari jumlah tersebut, India mempertahankan lebih dari 10 skuadron di sektor Timur dan Tengah untuk menangkal ancaman dari China dan Pakistan Timur (kini Bangladesh). Pada awal perang, IAF memiliki 466 pesawat tempur yang akan melawan 203 pesawat PAF, tetapi hanya 290 yang tersedia untuk perang udara di wilayah barat. Pesawat tempur subsonik generasi pertama seperti Vampire dan pesawat tempur transonik generasi kedua Mystere, Hawker Hunter dan Folland Gnat, yang dipakai IAF relatif kalah kelas dibanding pesawat tempur Sabre dan Starfighter Pakistan. Bagaimanapun PAF saat itu kalah jumlah 5-banding-1 dibanding IAF. 

Perbandingan kekuatan IAF dan PAF di awal perang. Secara kuantitas India unggul dalam jumlah pesawat. (Sumber: http://www.indiandefencereview.com/)

DUEL UDARA DIATAS KASHMIR

Pada bulan Agustus tahun 1965 Pakistan menyerbu Kashmir lewat Operasi Grand Slam, dan pada tanggal 1 September unit Angkatan Darat India memanggil dukungan udara dari IAF. Menanggapi permintaan darurat dari Angkatan Darat India, IAF buru-buru meluncurkan 26 pesawat (12 de Havilland Vampire dan 14 Dassault Mystère IV) untuk menghentikan serangan Angkatan Darat Pakistan di Chamb. 45 Sqn (Squaron) IAF ditugaskan untuk melaksanakan misi Dukungan Udara Jarak Dekat untuk mendukung pasukan darat India. Skuadron itu baru saja dipindahkan dari Pune ke Pathankot, setelah penggabungan No 220 Sqn ke dalamnya, di bawah komando Sqn. Ldr. S.K. “Marsekal” Dhar. Group Captain Roshan Suri, komandan pangkalan melukiskan situasi suram pada posisi tentara India di Akhnoor dan serangan tank Angkatan Darat Pakistan di Chhamb di sungai Tawi (dekat Jammu). Dua puluh delapan pesawat (12 Vampire dan 16 Mystère) kemudian ditugaskan, dengan pesawat pertama lepas landas pada pukul 17:19. 26 pesawat yang terbang dalam formasi Finger-four ini menembaki posisi-posisi Pakistan dan menyerang tank-tank Pakistan dan target darat lainnya, meskipun banyak menderita kerusakan dari “tembakan pasukan kawan” yang dilaporkan kemudian. Ketika pesawat-pesawat India ini terlihat, PAF mengerahkan dua jet tempur F-86 Sabre, yang diterbangkan oleh Sqd. Ldr. Sarfraz Rafiqui dari No 5 Sqn dan Flight Ldr Imtiaz Bhatti dari No 15 Sqn untuk mencegat. Jet tempur twin-boom (ekor ganda) de Havilland Vampire yang dipakai IAF pertama kali terbang pada masa Perang Dunia II, terbukti menjadi target mudah bagi jet-jet tempur Sabre PAF. Dalam pertempuran udara di Chhamb ini, di mana Sqd. Ldr. Sarfraz Rafiqui mengejar flight leader pesawat-pesawat India dan wingman-nya dan Flight Leader Imtiaz Bhatti mengejar pemimpin elemen dan elemen wingman. India kemudian kehilangan empat pesawat, semuanya jenis Vampire, yang diterbangkan oleh Pemimpin Skuadron Aspi Kekobad Bhagwagar (pemimpin penerbangan), Letnan Penerbangan Vijay Madhav Joshi (pemimpin elemen), Letnan Penerbangan Satish Bharadwaj (elemen wingman) dan Letnan Penerbangan (kemudian Kapten Grup) Shrikrishna Vishnu Phatak (wingman) dengan kedua pilot Pakistan mengklaim menjatuhkan masing-masing dua pesawat. Dengan perang yang belum diumumkan, pilot Sabre Sqd. Ldr. Sarfraz Rafiqui menanyakan kepada pengontrol radar daratnya, “Apakah maksud Anda kami menembak untuk menjatuhkan (pesawat musuh) atau menakut-nakuti?” “Untuk menembak jatuh,” adalah jawabannya, “dan Anda telah melakukannya.” Aksi cepat PAF ini kemudian memaksa IAF untuk segera menarik sekitar 130 Vampire, bersama dengan lebih dari 50 pesawat Ouragan, dari penugasan di garis depan. Meskipun penggunaan Vampire oleh IAF mengundang kritikan, namun, delapan dari 12 Vampire berhasil menyelesaikan tugas mereka, 16 Mystère juga berhasil kembali tanpa menderita kerugian dan IAF mengklaim berhasil mengurangi momentum Angkatan Darat Pakistan secara signifikan.

Ilustrasi serangan pesawat-pesawat de Havilland Vampire India atas tank-tank Pakistan di atas Chamb, 1 September 1965. Dalam aksi pertama IAF pada perang tahun 1965 ini diklaim 13 tank, 2 senjata dan 62 kendaraan Pakistan dihancur dan yang paling penting IAF mampu mencegah terobosan besar AD Pakistan. Meski demikian de Havilland Vampire yang pertama kali terbang pada masa Perang Dunia II, terbukti menjadi target mudah bagi jet-jet tempur Sabre PAF. (Sumber: https://www.bharat-rakshak.com/)

Namun, hari berikutnya, orang-orang India memindahkan pesawat-pesawat tempur kecil Folland F.1 Gnat ke garis depan di Pathankot. “Kami ingin Anda menembak jatuh pesawat-pesawat Sabre,” demikian pilot mereka diberi pengarahan. “Bagaimana Anda melakukannya adalah urusan Anda, tetapi Sabre harus segera ditangani.” Pada pagi hari tanggal 3 September, pesawat-pesawat Sabre PAF bergegas mencegat empat pembom tempur Dassault MD.454 Mystère IVA IAF. Pesawat-pesawat Mystère ini hanyalah umpan belaka, yang segera melarikan diri. Empat jet tempur Gnat kemudian muncul dari tempat mereka. Pemimpin Squadron PAF Yusuf Ali Khan lalu membelokkan F-86F-nya ke tengah formasi mereka. “Saat saya hendak meluncurkan rudal GAR-8 saya,” katanya, “saya mendengar serangkaian bunyi gedebuk di pesawat saya.” Pemimpin Squadron IAF Ldr. Trevor Keelor mendekat hingga 200 yard (182 meter), menembakkan kanon kembar kaliber 30mm dari Gnat miliknya. Melihat ledakan muncul di sayap kanan Sabre PAF dan pesawat itu jatuh, dia mengklaim kemenangan udara-ke-udara pertama bagi IAF. Atas aksinya ini Trevor Keelor kemudian menerima medali Vir Chakra. Sementara itu PAF melaporkan peluru kanon menghantam salah satu rudal Sidewinder Khan, menyebabkan ledakan, tetapi dia berhasil kembali ke Pangkalan Udara Sargodha. Pilot Sabre itu, yakni Flt Lt Yusaf Ali Khan, lalu diberi penghargaan Sitara-e-Jurat karena berhasil selamat dari pertempuran udara sendirian (sementara wingmannya diperintahkan untuk pergi karena tidak bisa membuang tangki bahan bakarnya) melawan enam Gnat dan mampu membawa pulang Sabre-nya yang rusak kembali. Dalam pertempuran yang sama satu Gnat hilang ketika Sqd. Ldr. Brijpal Singh Sikand, kehabisan bahan bakar dan tersesat, mendarat di lapangan terbang PAF di Pasrur! Menyadari kesalahannya, ia berupaya lepas landas namun gagal karena kehadiran jip tentara Pakistan di landasan. Dia lalu dibawa sebagai tawanan dan kemudian diserahkan ke pihak PAF. Pakistan sendiri mengklaim dia menyerah kepada jet tempur Lockheed F-104 Starfighter yang diterbangkan oleh Flt. Letnan Hakimullah Khan Durrani dengan kecepatan supersonic. Bagaimanapun, Gnat Sikand masih dipajang hingga hari ini di museum PAF di Karachi. Untuk mencemooh orang-orang Pakistan, orang-orang India lalu menjuluki Gnatsebagai “Pembunuh Sabre“. Meskipun jauh lebih ringan daripada Sabre, ukuran dan kemampuan manuver Gnat memungkinkannya untuk mendekati musuh dan pilot Pakistan sendiri mengaku bahwa pesawat itu ‘sulit untuk dilihat’. Pesawat Gnat Sikand kemudian diterbangkan dari Pasrur oleh Sqn Ldr Saad Hatmi yang menerbangkan pesawat itu kembali ke Sargodha, dan kemudian menguji dan mengevaluasi kinerja penerbangannya. Menurutnya Gnat bukanlah ‘Pembunuh Sabre‘ dalam pertempuran dogfight.

Ilustrasi jet tempur Gnat  AU India menembak jatuh Sabre AU Pakistan. (Sumber: http://www.bharat-rakshak.com/)
PAF Flight Lt. Syed Saad Akhtar Hatmi berdiri di samping Gnat dari Skuadron No. 2, IAF, yang dirampas di Pasrur pada tanggal 3 September (Sumber: https://www.historynet.com/)
Folland Gnat India dipamerkan di Galeri Museum PAF. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada tanggal 4 September, sebuah F-86 Sabre hilang. PAF mengklaim penyebabnya adalah tembakan darat dari pasukan kawan, sementara IAF mengklaim telah menembak jatuh pesawat itu lewat aksi Letnan Penerbang Pathania. Pada hari itu juga, Letnan Aftab Alam Khan dari PAF menukikkan Starfighter-nya pada empat Mystères India yang memberondong kereta penumpang. Saat mereka berhamburan rendah dibawah, dia membawa pesawatnya ke belakang mereka untuk menembakkan rudal Sidewinder. “Kilatan rudal membutakan saya selama beberapa detik,” kenang Khan. “Pengendali radar darat, yang juga memantau transmisi radio pesawat-pesawat Mystère, segera memberi tahu saya bahwa satu Mystère telah ditembak jatuh dan yang lain telah rusak….Itu juga merupakan kemenangan udara pertama oleh pesawat berkecepatan Mach 2 (dua kali kecepatan suara) dan kemenangan udara pertama dengan menggunakan rudal untuk Angkatan Udara Pakistan.” Di pihak lain, India mengklaim bahwa pesawat mereka baru saja menjatuhkan tangki bahan bakar eksternal, yang meledak karena benturan. Pada tanggal 6 September, Angkatan Darat India melintasi perbatasan di Lahore untuk mengurangi tekanan pada sektor Chamb Jaurian. Pada malam hari yang sama, PAF merespons dengan melancarkan serangan pendahuluan terhadap lapangan udara India di Pathankot, Adampur dan Halwara. Serangan di Pathankot sukses besar, karena IAF kehilangan hampir sepuluh pesawat di Pathankot, sementara serangan di Adampur dan Halwara gagal. Serangan ke Adampur yang dipimpin oleh Sqn Ldr M. M. Alam berbalik kembali bahkan sebelum mencapai Adampur, sementara serangan di Halwara yang dipimpin oleh Sqn Ldr Sarfraz Rafiqi entah bagaimana bisa menghindari semua pesawat IAF dan berhasil mencapai lapangan terbang Halwara di malam hari di mana pemboman preemptivetidak dapat dilakukan karena adanya patroli CAP yang diterbangkan IAF. Sementara itu, terbang pada ketinggian rendah untuk menyerang pangkalan India di Adampur, sebuah flight yang terdiri dari tiga-Sabre pimpinan Muhammad Alam melihat empat pesawat tempur Hunter dari Skuadron No. 7 IAF melintasi jalur mereka sekitar 500 kaki (152 meter) dari atas tanah. “Saya tidak pernah bertarung di ketinggian serendah itu lagi,” kata Alam, “tidak juga sering dengan kecepatan rendah seperti itu.” Ketujuh jet segera masuk ke dalam pertempuran udara, turun pada kecepatan 200 knot (370 km/jam) dan pada ketinggian puncak-puncak pohon. “Dalam kemampuan manuver, Sabre tidak diragukan lagi lebih baik daripada Hunter,” kata Alam. Dia lalu melihat target pertamanya jatuh ke atas tanah, “walaupun saya tidak yakin apakah saya mengenainya atau tidak.” Pemimpin Skuadron IAF A.K. “Peter” Rawlley terbunuh dalam peristiwa ini. Alam kemudian juga mengklaim kemenangan atas Hunterkeduanya, yang tidak diakui oleh orang-orang India.

4 September 1965, di atas Wazirabad. Letnan Penerbangan Aftab Alam Khan dengan pesawat F-104A Starfighter menghancurkan jet tempur Mystere IV India dan merusak yang lain. (Sumber: http://www.916-starfighter.de/)

Di tempat lain, tiga Sabre yang dipimpin oleh Sqd. Ldr. Rafiqui menyerang dua Hunter yang melindungi pangkalan IAF di Halwara. Rafiqui menembak jatuh pesawat Hunter yang memimpin, tetapi empat Hunter lagi datang, dua dari setiap sisi. “Kanon saya berhenti menembak,” lapor Rafiqui. Dalam pertempuran udara yang membingungkan, Pakistan mengklaim menembak jatuh empat Hunter, tetapi dua Sabre mereka ditembak jatuh, termasuk milik Rafiqui, yang melontarkan diri terlalu rendah dan ditemukan di dekat pesawatnya yang rusak. Dia kemudian secara anumerta dianugerahi Crescent of Courage, penghargaan militer tertinggi kedua di Pakistan. Sebelum ditembak jatuh, Sqn Ldr Rafiqui dikreditkan dengan catatan menembak jatuh Hunter pertamanya, sehingga total kemenangannya menjadi tiga. Dalam serangan di Halwara hanya Flt Lt Cecil Chaudhry yang entah bagaimana berhasil kembali hidup-hidup dari misi bunuh diri ini. Sementara itu Flight Leader Imtiaz Bhatti mengakhiri perang dengan menyelesaikan 34 misi tempur, misi tempur terbanyak yang diterbangkan oleh pilot mana pun selama perang itu.

KEMENANGAN LEGENDARIS MUHAMMAD ALAM

Di seluruh dunia, pilot pesawat tempur sama saja. Mereka tidak akan diam saja mendapati pesawat musuh yang menyerang sarang mereka. Pada tanggal 7 September 1965, Pemimpin Skuadron Muhammad Alam dari Angkatan Udara Pakistan (PAF) menukikkan jet tempur North American F-86F Sabre menghadapi tujuh pembom tempur Hawker Hunter F.56 Angkatan Udara India yang menyerang Sargodha, sebuah pangkalan udara Pakistan 80 mil (128 km) sebelah barat perbatasan India. “Saya memburu pesawat terakhir dan menukik di belakangnya, terbang sangat rendah dalam prosesnya,” kenang Alam. Dia pernah menerbangkan Hunter di Inggris, dan tahu bahwa pesawat itu “dapat mengungguli Sabre—meski hanya sekitar 50 knot (92,6 km/jam) lebih cepat, tetapi memiliki akselerasi yang jauh lebih baik, sehingga dapat menanjak dengan sangat cepat.” Tapi Alam telah memiliki catatan 1.400 jam terbang di F-86, termasuk dengan catatan akurasi tertinggi dalam menembakkan kanon di PAF dan sepasang rudal pencari panas di bawah sayapnya. “Sejak saya menukik, saya terus melaju lebih cepat, dan saat dia berada di luar jangkauan kanon, saya menembakkan yang pertama dari dua rudal GAR-8 Sidewinder saya ke arahnya. Dalam hal ini, kami menembakkannya terlalu rendah dan saya melihat rudal itu menghantam tanah jauh dari targetnya.” Saat formasi pesawat India bubar, Alam menembakkan rudal keduanya. “Saya tidak melihatnya menghantam sasaran,” katanya. “Hal berikutnya yang saya ingat adalah saya menembaki dengan gencar pada salah satu Hunter dan ketika saya melihat ke belakang, kanopi kokpit pesawat tersebut sudah hilang dan tidak ada pilot di dalam pesawat.” Kemudian dia pergi mendapati pesawat sisanya. “Ketika saya berada dalam jarak tembak, mereka semua melihat kearah saya. Mereka semua berbelok ke satu arah, menanjak dan berbelok tajam ke kiri, yang menempatkan mereka di jalur yang longgar berbalik pergi. Ini tentu saja adalah kesalahan besar mereka.” 30 detik berikutnya kemudian akan menjadi legenda dalam sejarah PAF. “Semuanya terjadi sangat cepat,” Alam mengakui. “Kami semua berbelok dengan sangat kencang—dengan gaya lebih dari 5g atau hampir pada batas jangkauan radar A-4 yang sangat akurat dari Sabre. Dan saya pikir sebelum kami menyelesaikan sekitar 270 derajat belokan, sekitar 12 derajat per detik, keempat Hunter telah ditembak jatuh. ” Menurut PAF, selama serangan pada tanggal 7 September 1965, lima pesawat Hawker Hunter IAF yang menyerang ditembak jatuh oleh Alam di atas pangkalan udara Sargodha dalam satu menit, di mana Alam mengklaim empat dari kemenangannya itu dicetak dalam waktu 30 detik. Sementara itu klaim Alam mengenai aksinya pada tanggal 7 September 1965 telah ditentang oleh Angkatan Udara India, yang membantah kehilangan lima pesawat Hawker Hunter pada hari tersebut. Beberapa ahli termasuk pensiunan PAF sendiri, yakni Air Commodore Sajad S. Haider, juga telah menyangsikan klaim Alam. Juga, fakta menunjukkan bahwa tidak ada rekaman kamera kanon yang dapat diverifikasi tentang kemenangan spektakuler Alam yang pernah dipublikasikan oleh pihak berwenang Pakistan, dimana hal ini semakin membuat klaim Alam diragukan kebenarannya.

Muhammad. M. Alam selama perang tahun 1965. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
Alam dicatat menembak jatuh lima Hawker Hunter pada tanggal 7 September 1965 (termasuk yang ada di foto ini), tetapi Angkatan Udara India melaporkan hanya ada dua pilot yang tewas. (Sumber: https://www.historynet.com/)

HARI YANG KRUSIAL

Pada tanggal 7 September, mungkin menjadi hari yang paling krusial dalam perang udara antara India dan Pakistan, dimana IAF bertekad untuk menyerang masuk wilayah Pakistan. Serangan fajar yang dilakukan oleh pesawat-pesawat Mystère India mengejutkan orang-orang Pakistan di Pangkalan Udara Sargodha. Saat pesawat-pesawat India itu berhamburan pulang, Letnan Penerbang Amjad Hussain Khan mengejar dua dari antara mereka dengan jet tempur F-104A-nya. Dia kemudian kembali ke pangkalan hari itu dengan menggunakan sepeda, kuda, dan helikopter, sebelum melaporkan bahwa dia telah menembak jatuh kedua pesawat Mystère, yang kedua begitu dekat sehingga Starfighternya menelan puing-puing yang meledak, memaksanya untuk melompat keluar dari pesawatnya. Orang India sendiri mengklaim bahwa Khan menembaki target yang sama dua kali, dimana Sqd. Ldr. Ajjamada B. Devayya, yang dengan heroik menembak jatuh sebuah Starfighter sebelum gugur. Tetapi saksi dari desa Pakistan mengatakan versi ketiga dari pertempuran udara yang terjadi: “…dua pesawat mendekat dari arah Sargodha dan terlibat pertempuran selama beberapa menit. Kemudian pesawat yang dibelakang (Starfighter) mulai menembakkan kanonnya; pesawat itu, bagaimanapun, terbang sangat cepat sehingga bertabrakan dengan yang pesawat yang didepan. ” Kedua pilot mendapat medali, Devayya mendapatkannya secara anumerta. Gelombang Hunter IAF berikutnya dicerai-beraikan dalam aksi legendaris Alam, seperti yang telah dipaparkan didepan. Ditanya oleh pengontrol daratnya berapa pesawat musuh yang dia hitung, Alam menjawab, “Tidakkah kamu lihat, aku baru saja menembak jatuh lima Hunter.” Kemenangannya, dikonfirmasi oleh wingman dan beberapa pilot PAF lainnya di tempat kejadian, namun dibantah keras oleh India, meskipun dua Hunter jatuh di wilayah Pakistan. Kemenangan udara spektakuler ini membuat Alam menggenapkan skor kemenangannya menjadi tujuh, menjadikannya ace terkemuka Pakistan dalam perang. 

Pada tanggal 7 September, mungkin menjadi hari yang paling krusial dalam perang udara antara India dan Pakistan, dimana IAF bertekad untuk menyerang masuk wilayah Pakistan. Serangan fajar yang dilakukan oleh pesawat-pesawat Mystère India mengejutkan orang-orang Pakistan di Pangkalan Udara Sargodha, seperti yang diabadikan dalam ilustrasi diatas. (Sumber: https://theprint.in/)

CANBERRA FIASCO

Hari itu kedua belah pihak membawa perang udara ke wilayah lain, dengan membuka front baru di Pakistan Timur (Bangladesh modern). Dari Kalaikunda, bekas pangkalan pengebom Perang Dunia II di sebelah barat Kalkuta, IAF melancarkan serangan fajar dengan mengerahkan dua pengebom English Electric Canberra, yang melintasi Teluk Benggala, menyerang pangkalan Sabre PAF di Chittagong. Yang cukup menarik, unit yang dipilih untuk menerbangkan serangan terhadap pangkalan udara PAF di Chittagong adalah Squadron No. 16, yang dikenal sebagai “The Rattlers”, sebuah unit yang telah menerbangkan Canberra sejak tahun 1958. Rattler telah terlibat dalam beberapa aksi pertempuran melawan Portugis saat pembebasan Goa dan dua koloni Portugis lainnya di India. Namun, perang mereka pada tahun 1965 menjadi ujian serius pertama bagi unit tersebut. Pada tahun 1965, Squadron No. 16 berada di bawah komando Wing Commander (Wg. Cdr.) Peter M Wilson, dan awalnya ditempatkan di Kalaikunda AFS, di medan tempur sebelah timur. Perang dimulai untuk Squadron No. 16 dengan perintah untuk melakukan serangan penyelidikan terhadap lapangan terbang Chittagong di pagi hari tanggal 7 September, untuk menetralisir setiap pesawat PAF di darat. Namun, intelijen dari pihak India ternyata buruk. Bom tua tahun 1940-an seberat 1.000 pon (453 kg) yang dijatuhkan Komandan Wing Peter Wilson gagal meledak, yang kalaupun meledak tidak menjadi masalah, karena tidak ada pesawat Sabre PAF yang ada di pangkalan. Pada mereka kembali, kedua pembom Canberradicegat oleh pesawat-pesawat Hunter India, yang pilotnya hanya pada detik terakhir mengenali awak di kokpitnya duduk berdampingan. Sebagai perbandingan awak pesawat pembom Martin B-57 Canberra buatan Amerika milik Pakistan kursinya berformat tandem bukan berdampingan.

Canberra B.(I).Mk.58 “IF898” (awalnya dibuat untuk RAF sebagai XK959) dari No 5 Sqn IAF, “Tuskers“, terlihat saat melakukan digelar di Khormaksar, pada tahun 1962. Pesawat itu milik detasemen IAF dengan unit PBB di Kongo – “Opération des Nations Unies au Congo” (ONUC). Perhatikan pemasangan kanan pada perut dan lambang skuadron. Berbeda dengan pesawat pembom Martin B-57 Canberra buatan Amerika milik Pakistan yang kursinya berformat tandem, Canberra India pilotnya duduk berdampingan. (Sumber: Koleksi Tom Cooper/https://web.archive.org/)

Pesawat-pesawat Sabre yang berpangkalan di Chittagong sebenarnya telah lepas landas dari Tejgaon untuk menyerang Kalaikunda. Kedua Canberra, yang diisi bahan bakar dan dipersenjatai kembali, kemudian dihancurkan di tempat mereka parkir, bersama dengan empat pesawat jet tempur Vampire. Semua Sabre lalu kembali ke pangkalannya tanpa gangguan. Dalam serangan lain di hari yang sama, dua lagi Canberradihancurkan sehingga total kerugian bagi Squadron No. 16 di darat menjadi empat Canberra. Laporan dari Wilson menyimpulkan aksi pagi itu sebagai: “FIASCO!” (Kegagalan). PAF, bagaimanapun, keliru dalam meluncurkan serangan lanjutan. Letnan Penerbang IAF Alfred Cooke dan wingmannya, sedang menunggu di kokpit pesawat Hunter mereka, saat melihat ada empat jet Sabre di atas lapangan udara. Keduanya berpisah, dan Cooke segera berada di belakang pasangan F-86 kedua. Dia dan Perwira Penerbang Afzal Khan, di pesawat Sabre yang tertinggal, saling bermanuver mengunci di atas permukaan tanah. “Saya mulai menembak pada jarak 600 yard (548 meter), dan saya bisa melihat bahwa dia berada di bawah ketinggian garis pohon,” kenang Cooke. “Saya tidak menyadari bahwa saya terbang serendah itu dan ujung sayap saya benar-benar membentur semak belukar. Saya berhenti menembak untuk menjauh dari tanah dan melihat pesawatnya meledak menjadi bola api, dan saya tidak bisa menghindari terbang menembus bola api dan puing-puing pecahannya.” Khan terbunuh. 

Awal karir Canberra India di awal perang tidaklah menyenangkan bahkan bisa dibilang gagal. (Sumber: https://web.archive.org/)

Tapi sementara itu Sabre yang memimpin muncul di belakang Cooke. “Saya melakukan manuver mengelak dengan keras,” kata Cooke, “dan selama manuver saling memotong kami akan terbang melintas sangat dekat satu sama lain …. Saya terus menembak dan mendekatinya dengan cepat, dan saya bisa melihat potongan-potongan pesawatnya hancur. Saya berhenti menembak, karena saya sangat dekat (100 yard/91 meter) sehingga jika saya tidak melepaskan diri, saya akan bertabrakan dengannya.” Letnan Penerbang Tariq Habib Khan berhasil melarikan diri kembali ke pangkalan, tetapi Sabre-nya rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Sementara itu “Setelah memulihkan diri dari ini, saya segera menanjak ke atas ke kanan dan melihat Sabre lain ada di belakang saya,” lapor Cooke. “Saya berhasil mengungguli dia dan berada di belakang saat dia berhenti di tanjakan vertikal dan kemudian mengayun untuk melakukan penukikan vertikal dengan saya mengikutinya dan menembakinya sepanjang waktu. Dalam tukikan vertikal, saya terus menembaki dia saat dia menarik diri dari menukik….Saya menarik kembali joystick pesawat dengan jari saya di pelatuk dan keluar dari tukikan dengan kanon masih menembak sampai saya menghabiskan amunisi saya.” Cooke melihat Sabre yang tersisa mendekati wingman-nya, dan mencoba menyerang. “Orang ini mencoba melepaskan diri dari saya dengan melakukan manuver loop dan barrel roll tepat di atas lapangan terbang. Saya berada di belakangnya hingga ke jarak tembak dan mencoba untuk menembak tetapi tidak ada lagi amunisi yang tersisa…. Pada tahap inilah saya melihat kepulan asap abu-abu muncul di depan saya dan di sekitar saya dan saya menyadari bahwa senjata anti pesawat (AA) sedang menembakiku juga.” Dia mengejar Sabre itu kembali melintasi perbatasan dan, pada akhirnya mendarat, terbakar karena kekurangan bahan bakar beberapa ratus meter dari area parkirnya, sayap kirinya tersangkut dedaunan dan tabung pitot ujung sayapnya bengkok ke atas karena tersangkut semak. Pilot PAF yang selamat kemudian melaporkan bahwa mereka diserang oleh sembilan pesawat Hunter. 

PEMBUNUH SABRE

Setelah peristiwa di tanggal 7 itu, yang kemudian akan diperingati di Pakistan sebagai Hari Angkatan Udara, kedua belah pihak menghentikan perang udara. Para produsen persenjataan NATO yang memasok, yang bingung melihat negara-negara klien mereka menggunakan persenjataan buatan mereka untuk melawan satu sama lain, kemudian membatasi pengiriman pesawat dan suku cadang pengganti bagi India dan Pakistan. Para pilot pesawat tempur lalu beralih menjalankan misi serangan darat. Pada tanggal 10 September terjadi lagi pertempuran udara yang melibatkan delapan pesawat di atas Sungai Beas. Pertempuran ini melibatkan dua F-86 Sabre PAF yang diterbangkan oleh Sqn Ldr Muniruddin Ahmad dan Flt Lt Imtiaz Bhatti dan enam pesawat IAF yang melibatkan empat Mystere dan dua Gnat bersenjata dua kanon Aden kaliber 30 mm yang dipimpin oleh Flt Lt V Kapila dan Flt Lt Harry Sidhu, di mana keduanya Pilot IAF mengklaim kanon mereka macet selama pertempuran dengan pesawat-pesawat Sabre, saat kedua Gnat mereka di belakang pesawat-pesawat Sabre. Kedua pilot PAF kemudian mengklaim kemenangan menembak dan merusak 1 pesawat IAF masing-masing. Pada hari yang sama, catatan IAF mengakui bahwa mereka kehilangan satu Mystere dengan pilotnya Flying Officer D P Chinoy melompat keluar dari kokpit di sisi perbatasan Pakistan pada malam hari dan berjalan kembali ke tempat yang aman di malam hari.

Folland Gnat terbang dalam formasi. Para produsen persenjataan NATO yang memasok India dan Pakistan bingung melihat negara-negara klien mereka menggunakan persenjataan buatan mereka untuk melawan satu sama lain, kemudian memutuskan membatasi pengiriman pesawat dan suku cadang pengganti bagi India dan Pakistan. (Sumber: https://www.theweek.in/)
Detik-detik pesawat tempur Sabre Pakistan ditembak jatuh dalam pertempuran oleh Gnat India pada bulan September 1965 seperti yang terlihat rekaman kamera dari pesawat India. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada tanggal 13 September pertempuran lain terjadi antara Sabre PAF asal Sargodha dan Gnat IAF dari Skuadron No. 2, sebuah Gnat India ditembak jatuh oleh F-86 Sabre PAF yang diterbangkan oleh Flt Lt Yusaf Ali Khan meskipun pilot India itu berhasil keluar dengan selamat. Gnat lainnya rusak dalam pertempuran udara oleh aksi dari Flt Lt Imtiaz Bhatti. Pilot yang berpengalaman ini entah bagaimana berhasil kembali ke pangkalan, di mana menurut Radio All India, si pilot Gnat kemudian meninggal karena luka yang diderita selama pertempuran. Dia dikatakan telah membawa pesawatnya yang rusak kembali ke pangkalan dan meninggal saat mendarat. Pemakamannya lalu dihadiri oleh Presiden India. Yusaf Ali Khan dikreditkan dengan kemenangan udara sedangkan, Imtiaz Bhatti dikreditkan dengan merusak sebuah Gnat IAF meskipun konfirmasi kemudian menyatakan bahwa pilot meninggal karena luka dan Gnat itu rusak selama upaya pendaratannya. Kemudian pada malam 13/14 September, Canberra India melakukan penetrasi terdalam wilayah udara perang Pakistan, menyerang pangkalan Pakistan di sekitar Peshawar dan Kohat. Namun, alih-alih mengebom landasan pacu Peshawer, pengebom IAF mengira jalan mall di Peshawar sebagai landasan pacu dan malah menjatuhkan bom mereka di sana. Pesawat-pesawat Canberra lalu dicegat oleh sebuah F-104 Pakistan di dekat Lahore tetapi mereka berhasil menghindari pesawat Starfighter dan kembali ke pangkalan dengan selamat. Mereka juga bertemu dengan pesawat-pesawat F-86 Sabre, salah satunya menembaki armda Canberra, yang kemudian mengalami beberapa kerusakan. Sebuah F-86 Sabre Pakistan jatuh saat melakukan manuver mengelak dalam upaya untuk melarikan diri dari pengejaran pesawat Gnat yang mengawal ketika mencoba untuk melindung pesawat-pesawat pembom Canberra; pilot PAF itu tewas. Pilot Gnat, W/C Singh, kemudian dikreditkan dengan kemenangan udara untuk insiden ini di dekat Amritsar ini. Pakistan mengakui kehilangan satu PAF F-86 Sabre yang jatuh dan pilot Sqn Ldr Allaudin “Butch” Ahmad tewas dalam pertempuran saat memimpin empat pesawat menyerang kereta amunisi di dekat Gurdaspur, Amritsar.

Awak pesawat Beech 18 yang ditembak jatuh Sabre Pakistan dari kiri ke kanan : Kapten J M Engineer, mantan Sqn Ldr dari IAF. Petugas Radio A M D’Costa, dan V B Thorat, Mekanik Pesawat. (Sumber: http://www.bharat-rakshak.com/)
(Dari kiri, berseragam) Denzil, Alfred Cooke, Trevor, dan Jimmy Goodman pada perayaan pascaperang yang diberikan oleh komunitas Anglo Indian (Sumber: Koleksi Denzil Keelor/https://www.theweek.in/)

Pada tanggal 14 September, satu B-57 Pakistan ditembak jatuh oleh tembakan anti-pesawat di atas Adampur, meskipun kedua awaknya berhasil keluar dengan selamat dan tetap tawanan perang. Pada tanggal 15 September, PAF menggunakan sejumlah pesawat angkut Lockheed C-130 Hercules sebagai pengebom, yang terbukti tidak berhasil; dua dari mereka ditembak jatuh oleh IAF. Hari berikutnya, satu Hunter IAF dan satu F-86 Sabre PAF ditembak jatuh di atas Halwara. Pilot IAF tewas dalam pertempuran itu, sedangkan pilot Pakistan berhasil menyelamatkan diri dan menghabiskan masa sisa perang sebagai tawanan perang. Sebuah Cessna Pakistan juga ditembak jatuh hari itu, bersama dengan sebuah pesawat observasi Auster. Pada tanggal 18 September sebuah Sabre ditembak jatuh oleh sebuah Gnat di atas Amritsar; masalah ini dilaporkan oleh saksi mata yang telah menyaksikan seluruh pertempuran udara itu. Pada hari yang sama sebuah Sabre Pakistan menembak jatuh sebuah pesawat sipil Beech 18 India bahkan setelah pesawat sipil itu menunjukkan identitasnya, pilot PAF menganggapnya sebagai misi pengintaian. Bertahun-tahun kemudian, pilot PAF itu menulis surat kepada putri pilot India yang menjadi korban untuk meminta maaf karena menembak jatuh pesawat ayahnya. Pesawat itu membawa Kepala Menteri Gujarat saat itu Balwant Rai dan keluarganya. Pada tanggal 19 September, sebuah Gnat dan dua Sabre dijatuhkan di atas Chawinda. Salah satu Sabre yang ditembak jatuh dikreditkan kepada Pemimpin Skuadron Denzil Keelor, saudara laki-laki Trevor Keelor, yang dikreditkan dengan kemenangan udara India pertama dalam perang itu. Hari berikutnya, dua Hunter lainnya dan sebuah F-86 Sabre hilang di Kasur, Pakistan. F-86 disebut rentan terhadap Folland Gnat yang kecil. Gnat dikreditkan oleh banyak sumber independen dan India telah menembak jatuh tujuh Canadair Sabre Pakistan dalam perang tahun 1965, sementara dua Gnat ditembak jatuh oleh pesawat-pesawat tempur PAF. Pada satu waktu IAF pernah melancarkan 200 misi udara secara bersamaan. Selama itu Folland Gnat IAF dari skuadron No 9 dan 23 memainkan peran penting dalam berbagai pertempuran udara besar.

PEMBALASAN CANBERRA INDIA

Sementara itu hanya ada sangat sedikit pertempuran di medan sebelah Timur selama sisa masa perang. Squadron Pembom Canberra No. 16 kemudian digeser ke Barat, ke Bareli AFS, dan sejak dini hari tanggal 17 September ia mulai melakukan operasi menyerang wilayah Pakistan Barat. Target pertama – yang diserang bersama dengan pembom dari Squadron No. 5 Tusker – adalah pangkalan PAF di Chak Jhumra, Akwal, dan Sargodha. Lima Canberra dari Squadron No.16 berpartisipasi dalam serangan terhadap pangkalan udara Sargodha, di mana tidak ada pesawat musuh yang terlihat, setelah itu semua pesawat kembali dengan selamat. Namun, setelah misi sebuah pengintaian tunggal, unit itu mendapatkan tugas yang jauh lebih penting – tetapi juga kompleks dan berbahaya, yakni: melancarkan serangan terhadap stasiun radar Pakistan di Badin. Badin terletak di barat daya Pakistan, di dataran datar dan berpasir khas wilayah Sindh, di mana ketersediaan irigasi pasca kemerdekaan memungkinkan dilakukan penanaman pada lahan untuk pertanian. Badin juga merupakan lokasi bagi stasiun radar yang sangat efektif, yang dioperasikan oleh Squadron No. 408 PAF. Stasiun ini bukan hanya bagian dari jaringan radar biasa, tetapi salah satu dari dua Pusat Operasi Sektor (SOC) dari Pakistani Air Defence Ground Environment system (ADGE), stasiun serupa lainnya berada di Sakesar. Fasilitas tersebut terdiri dari radar jenis FPS-6 dengan jangkauan pencarian sekitar 350 Km dengan daya puncak sebesar 3,5 MW. Teknologi radar yang tersedia untuk PAF ini cukup unik untuk negara-negara yang masuk dalam kawasan anak benua dan merupakan hasil dari bantuan militer yang diberikan oleh Amerika Serikat seperti yang dipersyaratkan dalam perjanjian SEATO. Dari Badin, PAF dapat memantau aktivitas udara di atas pangkalan udara India seperti Bhuj, Jamnagar, Uttarlai dan Jaisalmer. Pangkalan udara penting PAF terdekat dari Badin adalah di Mauripur (dikenal sebagai pangkalan Masroor PAF sejak tahun 1967). Sementara itu dalam sebuah Angkatan Udara modern, termasuk IAF saat ini, mereka telah mengoperasikan rudal otonom yang dapat menyerang lokasi musuh seperti Badin dari jarak yang cukup aman. Namun, bahkan hingga hari ini, apa yang disebut sebagai misi SEAD (Suppression of Enemy Air Defences / misi penyerangan pada sistem pertahanan udara musuh) dianggap sebagai salah satu operasi udara militer yang paling sulit. Maka dari itu di tahun 1965, dimana belum tersedia rudal anti-radar atau sistem penanggulangan gangguan elektronik canggih (ECM), menyerang target jenis ini dengan begitu jauh masuk ke dalam wilayah udara musuh adalah tugas yang sangat rumit, terutama karena aset bernilai tinggi seperti radar jarak jauh seperti itu selalu dilindungi dengan sangat ketat, dengan sistem pertahanan udara berbasis darat dan pesawat-pesawat pencegat yang dikerahkan di sekitar mereka. Pada tahun 1965 IAF harus mengandalkan persenjataan yang sederhana, yang tidak terlalu berbeda dengan yang dipakai dalam misi-misi biasa yang “lebih aman”.

Saat terbang dari Bareli AB, Canberra No.16 Sqn melewati Agra saat menuju Badin, untuk mengisi bahan bakar: jarak ke target masih lebih dari 1.000km dan dapat dipastikan bahwa Wg. Cdr. Wilon dengan hati-hati terbang di sekitar stasiun radar terdekat di Pakistan timur. (Sumber: https://web.archive.org/)

Data intel untuk serangan di stasiun radar di Badin disediakan oleh misi pengintaian yang diterbangkan oleh satu pesawat  PR.Mk.57 Canberra dari Skuadron No.106, yang dikemudikan oleh Sqn. Ldr. JM Nath, CO dari unit ini. Sebelum perang tahun 1965, Sqn Ldr JM Nath sudah mendapat medali kehormatan Maha Vir Chakra (MVC), yang diperolehnya saat menerbangkan Canberra pada tahun 1962 waktu perang melawan China. Foto-foto dari misi ini kemudian mengungkap adanya dua kubah besar, yang dipasang di menara setinggi 80 kaki (24 meter). Kru intelijen lalu memberi tahu Wg. Cdr. Wilson bahwa antena azimuth – yang dianggap paling penting, dan oleh karena itu ditetapkan sebagai target utama untuk serangan yang akan datang – dipasang di atas menara sebelah timur. Sebuah keputusan kemudian diambil bahwa serangan itu akan dipimpin oleh satu pesawat Canberra, yang akan dilengkapi dengan roket kaliber 68mm dan kanon. Empat pesawat lainnya akan membawa bom jatuh bebas biasa, sementara satu pesawat akan bertindak sebagai umpan. Semua pesawat harus beroperasi dari Agra. Meskipun lebih dekat ke Badin daripada Bareli, Agra jaraknya masih lebih dari 1.000 Km ke target. Kesemua pesawat itu akan datang mendekati target pada ketinggian yang sangat rendah. Kemudian pemimpin penerbangan akan menandai target dengan roket untuk empat pesawat bersenjata bom yang akan menanjak dan kemudian mengebom dari ketinggian menengah. Ini sesuai dengan taktik standar IAF saat itu yang mewajibkan penandaan target untuk meningkatkan ketepatan serangan bom yang dijatuhkan dari ketinggian menengah. 

Grup Kapten PM Wilson. Sebagai Kapten Grup ia menjabat sebagai Komandan Pangkalan ATW, Jamnagar selama konflik tahun 1971. (Sumber: Jagan Pillarisetti/https://web.archive.org/)

Wg. Cdr. Wilson, yang menerbangkan serangan ini dengan navigatornya di masa perang Sqn. Ldr. “Shanks” Shankaran, kemudian mengingat: “Misi keempat dan terakhir yang diterbangkan oleh skuadron ke-16 adalah menyerang Badin pada tanggal 21 September dan berangkat dari pangkalan udara Agra. Tidak ada lapangan terbang garis depan meskipun pesawat akan mendarat untuk mengisi bahan bakar dalam perjalanan kembali. Misi ini melibatkan 6 pesawat dan ditentukan pada pukul 10.00 WIB untuk terbang tepat diatas sasaran tanpa mendapat pengawalan apa pun. Tujuan dari misi ini adalah untuk menghancurkan kubah timur, yang secara keliru dianggap sebagai radar azimuth, dan merusak instalasi pendukungnya. Karena pemboman di ketinggian yang ditentukan tidak cukup akurat untuk menghancurkan kubah, diputuskan untuk menggunakan roket 68mm, yang memiliki kecepatan yang cukup untuk mendekati akurasi tembakan kanon. Rencana serangan mengharuskan satu pesawat terbang ke ketinggian 10.000 kaki/3.048 meter – 80 mil (128 km) dari target untuk bertindak sebagai umpan jika terjadi tekanan dari pesawat tempur diatas target. Pesawat ini akan kembali ke pangkalan setelah muncul secara singkat diatas sasaran. Empat pesawat lain dengan interval dua menit mendekat pada ketinggian yang sangat rendah dan kemudian naik ke ketinggian 7000 kaki (2.133,6 meter) AGL untuk menjalankan pemboman. Dua pesawat pertama membawa bom 2 x berbobot 4000 pon/1.814 kg (tipe kuno peninggalan Perang Dunia II) dan dua pesawat berikutnya masing-masing membawa bom 6 x berbobot 1000 pon (453 kg). Efek balistik dari bom 4000 pon tidak diketahui dan dua bom pertama gagal mengenai target, yang menyebabkan kru meminta untuk dilakukan koreksi. Pesawat kedua lebih akurat dan dua pesawat lainnya tidak ada masalah saat mengebom. Sementara itu pesawat yang menembakkan roket, yang membawa pod 2 x 19/roket kaliber 68 mm mendekat dari selatan pada ketinggian 30 kaki (9,144 meter) AGL dan menembak ke atas ke arah kubah. Hanya satu pod yang ditembakkan dan roketnya terlihat mengenai kubah. Pesawat itu kemudian keluar dari daerah itu ke arah timur. Ada asap yang cukup besar muncul pada target dan datang semburan tembakan anti pesawat yang sangat gencar.”

Meski mengawali perang dengan buruk, namun kru pesawat-pesawat pembom Canberra India mampu menebusnya dengan beberapa kesuksesan, terutama saat melakukan serangan ke Pangkalan Radar di Badin. (Sumber: https://scontent.fcgk6-2.fna.fbcdn.net/)

Rencana awal Wilson serangan akan dilakukan setelah mendekat dari arah timur, dan kemudian keluar menuju kearah barat. Namun, pada saat mendekat, dia salah mengidentifikasi fitur lain di tempat itu sebagai targetnya dan mengubah arahnya. Menyadari kesalahannya hanya di saat-saat terakhir dia berbalik untuk terbang melintas kedua kalinya. Masih pada ketinggian yang sangat rendah – sekitar 30 kaki AGL – tetapi sekarang pada sumbu selatan-utara, ia mendapatkan targetnya dan berhasil menembakkan roketnya. Menara timur stasiun radar Badin kemudian benar-benar dilenyapkan oleh 19 tembakan roket kaliber 68mm yang ditembakkan dari Canberra miliknya, dan kemudian dihancurkan oleh 28.000 pon (12.700 kg) bom berdaya ledak tinggi yang dijatuhkan dari lima pengebom lainnya. Setidaknya satu NCO Pakistan tewas di darat. Komandan Pesawat Muhammad Anwar Hussain Khan dilaporkan meninggal karena luka-luka yang dideritanya saat berusaha memadamkan api. Tembakan anti pesawat/AAA Pakistan begitu berat tetapi tidak efektif, dan PAF juga gagal untuk menerbangkan atau mengarahkan pesawat pencegat apa pun baik menyerang pesawat penyerang maupun pesawat yang menjadi umpan. Jadi pengakuan pihak Pakistan yang mengklaim bahwa pesawat-pesawat Gnat F.Mk.1 mengawal armada pembom India, dan kemudian terlibat dalam pertempuran udara dengan jet-jet Sabre PAF adalah tidak berdasar. Pakistan juga mengklaim bahwa IAF telah menembaki desa Badin, namun, Wg. Cdr. Wilson menepis klaim semacam itu. Selama misi hanya dua pembom yang membawa kanon, salah satunya miliknya – yang tidak menembakkan satu peluru pun – dan yang lainnya adalah pesawat umpan yang bahkan tidak pernah mendekati area target. Namun demikian, klaim adanya pengawalan dari pesawat-pesawat Gnat sejak itu muncul dalam beberapa buku, termasuk yang diterbitkan oleh John Fricker dan Victor Bingham. Kecuali Wg. Cdr. PM Wilson dan navigatornya, Sqn. Ldr. DI Shankaran, hanya dua nama lain dari kru yang berpartisipasi dalam penyerangan ke Badin yang diketahui, yakni: “Kaddu” Rajput dan PP “Pooky” Singh. Sisa kru baik nama dan pangkatnya tetap tidak diketahui pada saat ini, ini tidak berarti bahwa mereka memiliki peran yang bisa diabaikan. Baru setelah perang, IAF mengetahui bahwa kubah di menara timur yang hancur di Badin sebenarnya memiliki antena untuk mendeteksi ketinggian dan radar GCI, dan bukan unit azimuth yang mereka pikirkan di sana. Fakta ini, bagaimanapun, tidak mengurangi keberhasilan serangan, sebaliknya, hilangnya panduan GCI dan instalasi pendukung merupakan pukulan telak bagi PAF. Atas misi serangan di siang hari yang berani terhadap Badin, Wg. Cdr. Wilson dianugerahi medali Vir Chakra (VC), salah satu penghargaan militer India tertinggi dalam perang.

Medali Vir Chakra. (Sumber: https://indianairforce.nic.in/)

Pada hari yang sama sebuah F-104 PAF mencegat sebuah pembom Canberra yang dalam perjalanan kembali dari Sargodha dan menembak jatuhnya, sementara seorang pilot Hunter Letnan Penerbang (kemudian Marsekal Udara) K.C. Cariappa yang merupakan putra dari Field Marshal K.M. Cariappa, Panglima Angkatan Darat India pertama ditembak jatuh oleh tembakan anti-pesawat; dia berhasil melompat keluar dan menjadi tawanan perang. Menyadari identitas prajurit yang terluka di wilayah Kargil itu, Radio Pakistan segera mengumumkan penangkapan Cariappa muda. Jenderal Ayub Khan sendiri kemudian menghubungi Jenderal Cariappa, yang menjalani kehidupan pensiunan di Mercara, kampung halamannya, dengan informasi tentang keselamatan putranya. Ketika Ayub Khan menawarkan untuk segera membebaskan putranya, Cariappa dilaporkan telah menolak gagasan tersebut dan menyuruhnya untuk tidak memberikan perlakuan yang lebih baik kepada putranya dibanding tawanan perang lainnya. Singh menceritakan bahwa Cariappa menjawab, “Dia bukan lagi anak saya. Dia adalah anak dari negara ini, seorang tentara yang berjuang untuk tanah airnya seperti seorang patriot sejati. Terima kasih banyak atas sikap baik Anda, tetapi saya meminta Anda untuk melepaskannya atau tidak melepaskannya sama sekali. Jangan beri dia perlakuan khusus.”

Ilustrasi pesawat pembom B-57 PAF melancarkan serangan pemboman. (Sumber: https://historyofpia.com/)

Sementara itu pesawat-pesawat pembom B-57 PAF menerbangkan begitu banyak serangan gangguan di malam hari sehingga para personel di pangkalan India secara kolektif menyebutnya “8-Pass Charlie,” dengan asumsi satu pilot Pakistan melakukan delapan serangan terpisah setiap malam. India tidak memiliki pesawat tempur kemampuan menjalankan misi tempur malam, tetapi Pakistan memilikinya. Pada malam tanggal 20-21 September, empat pembom Canberra IAF mengebom Sargodha. Saat mereka menuju perbatasan, sebuah F-104 muncul dalam kegelapan di belakang mereka. Komandan Wing Jamal Ahmed Khan melacak targetnya di radar, mendekati hingga jarak lebih dari satu mil (1,6 km) sebelum menembakkan rudal Sidewinder. “Saat itu gelap gulita dan saya tidak memiliki kontak visual dengan Canberra sampai munculnya kilatan hantaman rudal,” lapornya. “…pesawat itu mulai berputar ke bawah, dan kemudian api mulai keluar darinya ketika turun hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki (4.572 meter). Saya berputar-putar dan mengawasinya sampai menyentuh tanah. Saya merasa baik-baik saja, tetapi ketika pilot India itu ditangkap, dia berkata dia pikir seluruh pertempuran ini ‘sangat tidak adil.’” Lebih buruk lagi bagi navigator/petugas pembom Canberra India, yang tetap menunggangi pesawat pengebom itu hingga jatuh ke darat. 

KEUNGGULAN PILOT-PILOT PAKISTAN

Pada saat ini, PBB kemudian menekan kedua belah pihak untuk berhenti berperang. Namun, sebelum permusuhan benar-benar berakhir, Alam dan wingman Pakistan menarik perhatian sepasang Hunter di wilayah India pada tanggal 16 September. Dia dan pilot pemimpin skuadron IAF, Penerbang Prakash Pingale, mengejar wingmen masing-masing, menembak jatuh keduanya, sebelum bertarung satu sama lain. “Saat kami terbang berhadap-hadapan, dia menembaki saya,” kenang Pingale. Kedua jet itu terlibat dalam pertempuran beradu kelincahan, yang menjadi keunggulan Sabre (dan Alam). Pingale melaporkan, “Saya mencoba untuk mendekat tetapi kehilangan kontak dengan Sabre No. 1 karena saya pingsan akibat gaya g yang berlebihan (sekitar 8-10 seperti yang dicatat oleh g-meter saya).” Alam lalu menembakkan kedua rudal Sidewinder-nya ke Pingale, yang kedua “menghantam pangkal sayapnya. Saat mulai berasap, saya melihat bahwa…Saya berada di dalam wilayah India dan sedikit kekurangan bahan bakar.” Dia memilih untuk memutus kontak. Pingale kemudian berhasil pulang, tetapi Alam tetap dikreditkan dengan dua kemenangan udara, sehingga totalnya menjadi sembilan (suatu klaim yang sangat diragukan oleh orang-orang India) dan menjadikannya Ace terbesar Pakistan. Gencatan senjata diumumkan pada 23 September. Dalam perang ini, kedua belah pihak mengklaim kemenangan atas yang lainnya. Perkiraan dari pihak netral menempatkan kerugian pesawat sekitar 70 di pihak India (sekitar 10 persen dari kekuatan udara negara) dan 20 di pihak Pakistan (tujuh persen). Selama konflik di tahun 1965 ini, PAF menerbangkan total 2.364 sorti penerbangan sementara IAF menerbangkan 3.937 sorti. Sumber-sumber India juga mengklaim bahwa dalam hal pesawat yang hilang karena jumlah sorti yang diterbangkan, tingkat kerugian Angkatan Udara India (1,5%) lebih rendah daripada tingkat kerugian Pakistan (1,82%). Faktor lain yang membuat sulit untuk menentukan hasil dari perang udara di tahun 1965 adalah masalah pesawat yang hilang di udara dalam pertempuran udara-ke-udara atau akibat tembakan darat dibandingkan dengan pesawat yang hilang di darat karena pengeboman. Sejumlah besar kerugian pesawat India terjadi di darat selama serangan di Kalaikkunda dan Pathankot—hingga 60 persen menurut beberapa laporan —sementara sebagian besar kerugian Pakistan terjadi dalam pertempuran udara. Panglima udara India Arjan Singh mengklaim bahwa meskipun secara kualitatif personelnya lebih inferior, namun angkatan udaranya berhasil mencapai keunggulan udara dalam waktu tiga hari. Menurut Kenneth Werrell, Angkatan Udara Pakistan “menjalankan tugasnya dengan baik dalam konflik tersebut dan mungkin menunjukkan keunggulannya”.

Tanggal 19 September 1965, di atas zona pertempuran Chawinda, 4 F-86 Sabre yang dipimpin oleh S/L Azim Daudpota bertemu dengan 4 Gnat IAF yang dipimpin oleh S/L Denzil Keelor. Dalam Pertempuran udara klasik F/L Saif ul Azam mencetak kemenangan pertamanya, dengan menghancurkan sebuah Gnat India yang dikemudikan oleh F/L Maya Dev. Pilot India berhasil melontarkan diri dan menjadi POW Angkatan Darat Pakistan. Dalam Perang tahun 1965, pilot-pilot Pakistan berhasil menunjukkan keunggulannya atas pilot-pilot India. (Sumber: https://www.facebook.com/)
Data kerugian pesawat dalam Perang India Pakistan tahun 1965 menurut sumber India. Perkiraan dari pihak netral menempatkan kerugian pesawat sekitar 70 di pihak India (sekitar 10 persen dari kekuatan udara negara) dan 20 di pihak Pakistan (tujuh persen). (Sumber: http://www.indiandefencereview.com/)
Shenyang F-6 Pakistan. Perang 1965 mengakibatkan AS memberlakukan embargo senjata 10 tahun di kedua belah pihak. Ini tidak berpengaruh pada India, yang selalu mengarahkan pandangannya ke Inggris, Prancis dan bahkan Rusia untuk mendapatkan senjata, tetapi sebaliknya hal ini menjadi bencana bagi Pakistan, yang dipaksa untuk memperoleh 90 Sabre bekas melalui Iran, 28 Mirage III dari Prancis dan 74 Shenyang F-6 yang memerlukan pemeliharaan intensif. (Sumber: https://www.flickr.com/)

F-86 milik Pakistan yang dapat diandalkan, ketika diterbangkan oleh pilot yang terampil, terbukti masih mampu menghadapi ancaman yang ada di tahun 1960an. Perlu diingat juga poin penting mengenai senjata yang dibawa oleh pesawat-pesawat tempur IAF dan PAF. F-86 Sabre memiliki enam senapan mesin Kaliber .50 inci yang terpercaya. Sabre adalah platform senjata yang sangat stabil, yang memungkinkan pilotnya membidik dengan mudah. Sebaliknya Gnat IAF memiliki dua kanon Aden kaliber 30 mm. Meskipun punya kaliber besar, namun kanon ini sering macet karena masalah pada sabuk pelurunya. Ada banyak kasus dimana saat Gnat ada di belakang Sabre tetapi kanon mereka macet. Sementara itu pesawat Starfighter, yang dikenal sebagai pesawat pencegat di ketinggian tinggi, kurang efektif sebagai dogfighter di ketinggian rendah, dengan strategi tembak-dan-lari. Embargo militer Barat, bagaimanapun, memiliki efek yang mendorong kedua negara untuk berpaling ke pelukan China dan Uni Soviet. Perang 1965 mengakibatkan AS memberlakukan embargo senjata 10 tahun di kedua belah pihak. Ini tidak berpengaruh pada India, yang selalu mengarahkan pandangannya ke Inggris, Prancis dan bahkan Rusia untuk mendapatkan senjata, tetapi sebaliknya hal ini menjadi bencana bagi Pakistan, yang dipaksa untuk memperoleh 90 Sabre bekas melalui Iran, 28 Mirage III dari Prancis dan 74 Shenyang F-6 yang memerlukan pemeliharaan intensif. Mereka juga tidak dapat menggantikan kehilangan di antara armada B-57 (yang sudah melemah), atau untuk memperoleh pesawat pencegat modern dalam jumlah yang realistis. Di sisi lain pelajaran yang didapat dari perang tahun 1965 membuat India memperbaiki taktiknya, yang terbukti menentukan dalam perang di tahun 1971. Pasukan Pakistan sebaliknya gagal memperhitungkan sejauh mana mereka mengandalkan dua faktor yang tidak dimiliki oleh IAF, yakni cakupan radar pertahanan berbasis darat yang lengkap dan pasokan rudal udara-ke-udara yang memadai. Banyak usaha kemudian dikeluarkan oleh India untuk memperbaiki kekurangan ini sebelum tahun 1971. Dengan bantuan Soviet, India bisa membangun sistem radar peringatan dini modern, termasuk radar ketinggian rendah ‘Fansong-E‘ yang baru diperkenalkan, yang dihubungkan dengan rudal permukaan-ke-udara SA-2 ‘Guideline‘ dan sejumlah besar senjata anti pesawat (AA). Pada bulan Desember 1971, kekuatan IAF terdiri dari 36 skuadron (10 di antaranya dikerahkan di sektor Bengal) dengan sekitar 650 pesawat tempur. Sementara itu konfrontasi diantara India dan Pakistan terus berlangsung panas-dingin hingga kini, menjadikannya salah satu krisis berkelanjutan terpanjang di dunia dan bisa dibilang di antara yang paling mungkin untuk berkembang menjadi perang nuklir.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

AIR WAR OVER KASHMIR By DON HOLLWAY; 2/7/2017

English Electric Canberra and the Indian Air Force, Kashmir War, 1965: Raid on Badin By Aditya Gupta; Oct 29, 2003, 04:44

https://web.archive.org/web/20060613025333/http://www.acig.org/artman/publish/article_325.shtml

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Indo-Pakistani_Air_War_of_1965

THE AIR BATTLE OF THE 1965 INDO PAK WAR

https://soldier2ndlife.com/card/air-campaign-1965-fought-on-ground-and-air

IAF defeated PAF in 1965 War By Air Vice Marshal AK Tiwary Issue Vol 22.1 Jan – Mar 2007 | Date : 14 Jan , 2018

http://www.indiandefencereview.com/spotlights/iaf-defeated-paf-in-1965-war/

Air warfare in the missile age, Book by Lon O. Nordeen, 1985; p 79-83

Exit mobile version