Sementara kekuatan udara memainkan peran penting dalam Perang Korea, fungsinya sering digambarkan kurang signifikan dibandingkan dengan saat Perang Dunia II. Namun, kurangnya pemberitaan mengenai perang udara di Korea harus diimbangi dengan pemahaman bahwa sumber informasi sejarah yang vital tetap tidak dapat diakses dalam arsip beberapa pemerintah asing, utamanya di pihak komunis dan bahwa jalannya perang udara tidak pernah menjadi subjek analisis sejarah yang terperinci. Lebih jauh lagi, sumber daya yang tersedia terkadang bias atau tersembunyi. Selain itu, jumlah misi udara yang diterbangkan oleh kedua belah pihak menunjukkan penyebaran kekuatan udara yang tidak seimbang. Pasukan udara yang ada dibawah komando PBB (UNC) menerbangkan sekitar 700.000 sortie (pilot AS menyumbang 93% dari sortie/misi udara ini) dibandingkan dengan 90.000 sortie yang diterbangkan oleh pasukan Komunis. Terbatasnya jumlah sortie di pihak Komunis kemungkinan merupakan akibat dari sikap Uni Soviet yang membatasi bantuan militer secara terbuka dan penuh kepada Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) dan Republik Rakyat China (RRC) / Pasukan Komunis China (CCF) dalam upaya untuk membatasi skala konflik ke semenanjung Korea. Meski demikian, batasan-batasan ini tidak menghalangi masing-masing pihak untuk berupaya memperoleh dominasi udara dalam konflik tersebut. Pada hari-hari pertama konflik, menjadi jelas bahwa pasukan PBB mampu untuk memperoleh dominasi udara diatas Korea dengan cukup mudah, namun hal ini berubah saat pasukan komunis menurunkan pesawat tempur jet terbaru mereka. Kehadiran jet pasukan komunis memaksa pasukan PBB untuk mengerahkan pesawat tempur jet yang sebanding, dimana hal ini sekaligus membuka era baru dari pertempuran udara dalam sejarah. Dengan beradunya pesawat-pesawat jet di udara, Perang Korea pada dasarnya, adalah perang jet yang pertama. Tentu saja, teknologi Jet telah dirancang dan bahkan diimplementasikan lebih cepat, pada babakan akhir Perang Dunia II. Namun, konflik di Korea dari tahun 1950 – 1953 adalah yang pertama kali melihat meluasnya penggunaan teknologi jet di kedua pihak, termasuk pertempuran udara yang intens antara pesawat-pesawat ini.
LATAR BELAKANG
Pada tanggal 25 Juni 1950, ketika pasukan Korea Utara melintasi garis Paralel ke-38 yang memisahkan kedua Korea dan berbaris menuju ibukota Korea Selatan Seoul, enam Yak-9P dari Angkatan Udara Angkatan Bersenjata Rakyat Korea melintasi garis Paralel ke-38 dan menuju lapangan terbang Kimpo, dekat Seoul. Tanpa perlawanan kecuali tembakan dari darat yang tidak teratur, pesawat-pesawat tempur buatan Soviet itu menembaki lapangan dan menghancurkan pesawat transport Douglas C-54 Skymaster Amerika sebelum mundur. Konfrontasi pertama telah dinyatakan terhadap Amerika Serikat dalam perang yang tidak akan pernah diumumkan secara resmi, tetapi akan berlangsung selama tiga tahun. Pada bulan-bulan berikutnya, pasukan Korea Selatan dan kontingen Amerika yang semakin besar dikerahkan untuk tugas pertahanan mereka menjadi sasaran serangan yang tidak menyenangkan karena menghadapi musuh yang terlatih, diperlengkapi dengan baik, tangguh dan bermotivasi tinggi, yang membuat mereka terhuyung-huyung ke selatan menuju ke ambang kekalahan. Pada saat invasi ke Korea Selatan pada tanggal 25 Juni 1950, pasukan Republik Korea (ROK) berjumlah 98.000 prajurit, tanpa tank (AS percaya bahwa Korea adalah negara dimana tank tidak cocok digunakan) dan hanya punya sedikit senjata artileri. Mereka pada dasarnya, hanya setara dengan kekuatan kepolisian internal. Meski demikian di udara, ceritanya akan sangat berbeda.
Pada akhir Perang Dunia II, Korea dibagi antara dua negara rival yang telah membebaskannya dari Jepang, yakni Amerika Serikat dan Uni Republik Sosialis Soviet. Kedua kekuatan itu tidak membuang waktu untuk mendirikan pemerintahan di sepanjang garis politik masing-masing. Meski demikian menjadi jelas bahwa Soviet lebih bersungguh-sungguh memperkuat militer rezim komunis Korea Utara. Selain itu, Uni Soviet memberikan 165.000 prajurit pemerintah Komunis Kim II-sung dengan persenjataan yang cukup besar dan penasihat militer untuk melatih orang-orang Korea Utara dalam penggunaannya. Yang menonjol di antara senjata darat yang diberikan adalah tank T-34/85 yang luar biasa, yang merupakan tank medium terbaik di dunia pada tahun 1945 dan masih dapat mengalahkan rival-rival terbaiknya asal Amerika pada tahun 1950. Tank-tank ini akan menjadi tulang punggung pasukan invasi Korea Utara. Selain pasukan darat, Korea Utara juga mengerahkan pasukan udaranya yang sederhana, yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Wang Yong, seorang lulusan Akademi Angkatan Udara Uni Soviet. Angkatan Udara Korea Utara (NKAF) diperkuat dengan persenjataan terbaik Soviet dari masa Perang Dunia II – pesawat tempur Yakovlev Yak-9U dan pencegat Yak-9P – bersama dengan jumlah yang lebih kecil dari pesawat tempur Lavochkin La-7 yang gesit dan bermesin radial. Dukungan udara untuk pasukan darat dan lapis baja kemudian akan diberikan oleh Ilyushin Il-10 yang bersenjata kanon dan berlapis baja. Pesawat ini adalah penyempurnaan terakhir dari Il-2 Shturmovik, yang telah mencapai garis depan tepat pada waktunya untuk bergabung dengan pendahulunya yang lebih terkenal di jalan menuju Berlin pada hari-hari terakhir perang. Selain itu banyak tipe-tipe lain melengkapi pesawat tempur lini pertama ini, termasuk beberapa jenis yang tidak layak untuk ditugaskan di garis depan, namun tetap dipaksakan oleh Korea Utara maju ke medan tempur karena mereka merasa perlu. Di antara pesawat lini kedua yang menonjol adalah pesawat pelatih Yak-11, yang senapan mesin kembarnya akan digunakan dalam peran serangan darat, dan biplane dua kursi Polikarpov Po-2 buatan tahun 1928, yang akan mengulangi perannya dalam Perang Dunia II sebagai pesawat penyusup malam yang paling merepotkan. Meski demikian ketika tentara dan awak tank Korea Utara tangguh, dikenal dengan reputasi kejam tanpa ampun, para penerbangnya terbukti kurang cepat dalam menguasai seluk-beluk pertempuran udara.
Sementara itu menghadapi sekitar 122 pesawat yang diperkirakan berada di pihak NKAF, Angkatan Udara Republik Korea Selatan (ROKAF) hanya memiliki 13 pesawat ringan L-4 Piper dan L-5 Stinson dan tiga pesawat latih North American T-6 Texan – tidak satupun dari mereka yang bersenjata. Angkatan bersenjata Korea Selatan lebih mengutamakan unit-unit darat; angkatan udara sebenarnya adalah anak tiri, dengan segelintir pesawat dan 30 pilot terlatih. Tetapi beberapa grup udara Amerika yang berbasis di Jepang pada saat invasi Korea Utara dan dengan cepat dimobilisasi untuk dipindahkan ke daratan Korea. Pada tanggal 31 Mei 1950, Angkatan Udara Timur Jauh (FEAF) memiliki setidaknya 1.172 pesawat, namun hanya 657 dari pesawat ini yang benar-benar tersedia untuk digunakan di Korea. Pesawat yang tersisa ada di tempat penyimpanan atau harus digunakan untuk pertahanan Jepang, Filipina, dan Okinawa. F-80C sejauh ini merupakan tipe yang paling banyak jumlahnya (504 unit) dan yang paling modern dalam inventaris FEAF. Pesawat-pesawat ini memiliki jangkauan 1.200 mil (1.931 km), setengah dari kemampuan pesawat tempur bermesin piston Mustang, tetapi mereka lebih cepat, dengan kecepatan tertinggi 600 mph (965 km/jam), atau Mach 0,76 (tiga perempat kecepatan suara). Mereka juga bisa terbang setinggi 46.000 kaki (14.020 meter). Nantinya aspek kinerja pesawat terbang ini akan menjadi semakin penting seiring dengan berlangsungnya perang. Dalam waktu 24 jam setelah serangan pasukan Komunis, FEAF telah tiba di Korea Selatan ketika sebuah detasemen yang terdiri empat pesawat North American F-82G Twin Mustang dari Skuadron Tempur (Segala Cuaca) ke-68 dan ke-339 berpatroli di ketinggian rendah dan menengah, serta ketinggian tinggi di atas Inchon. Kedua skuadron ini masing-masing terbang dari lapangan terbang Itazuke dan Yokota. Pesawat berkokpit ganda ini menampilkan pilot di sisi kiri dan operator radar di sebelah kanan dan memiliki kecepatan tertinggi 461 mil per jam (741 km/jam), ketinggian terbang 38.000 kaki (11.582 meter) dan jangkauan hingga 2.240 mil (3.604 km). Pesawat tempur pengawal jarak jauh, yang sebenarnya terdiri dari dua pesawat F-51H Mustang yang digabungkan dengan sayap tengah dan sirip ekor ini siap untuk melindungi kapal-kapal pengungsi yang keluar dari pelabuhan, ketika pada sore hari tanggal 26 Juni, sepasang pesawat tempur La-7 dilaporkan telah melakukan penembakan ke dua Twin Mustang dari Skuadron ke-68. Secara signifikan, Korea Utara tidak menekankan serangan mereka, dan pesawat Amerika juga tidak mengejar mereka. Ini melambangkan kurangnya usaha yang dilakukan Korea Utara untuk mengeksploitasi superioritas udara awal mereka dan membuang kesempatan memperoleh pengalaman melawan pesawat-pesawat Amerika.
DUEL PESAWAT BERMESIN PISTON
Pada tanggal 27 Juni, Lockheed F-80C Shooting Stars – jet tempur operasional pertama di USAF (AU Amerika) – dari 8th Fighter-Bomber Wing juga telah tiba untuk membantu melindungi evakuasi warga sipil yang berkelanjutan dari ancaman serangan tentara Komunis. Dua pesawat angkut C-54 dan 11 Douglas C-47 terbang dari Itazuke ke lapangan terbang Kimpo dan Suwon di dekat Seoul dan 11 pesawat tempur F-82G dari skuadron ke-68 dan ke-339 memberikan pengawalan, dengan F-80C terbang memberikan perlindungan atas untuk pesawat-pesawat Twin Mustang di ketinggian. F-82 dipersenjatai dengan baik, yakni dengan enam senapan mesin Colt-Browning M3 kaliber .50, yang dipasang tepat di tengah pesawat di antara kedua kokpit. Setiap senjata memiliki 400 peluru. Tiba-tiba, sebuah Yak-9 menyerang formasi lima F-82 dari Skuadron ke-68, mencoba untuk memburu pesawat Nomor 4, yang diawaki oleh Letnan Satu Charles “Chalky” Moran dan pengamat radar-nya (R-O) Fred Larkins. Meskipun serangan pesawat-pesawat Korea Utara agak lebih agresif daripada hari sebelumnya, serangan itu tidak lebih baik, karena 10 Twin Mustang yang terganggu balik menyerang. Dapat dimengerti karena terkejut, pilot-pilot komunis menghentikan serangannya dan berbalik untuk menghindari hujan timah panas dari bekas mangsanya sementara dua Yak-9 lagi, sebuah pesawat latih La-7 dan Yak-11 bergabung dalam pertempuran jarak dekat mencoba untuk membantu rekan-rekan mereka keluar dari petaka. Menurut salah satu rekan skuadronnya, Letnan Keith Bobo, adalah korban yang dituju oleh pesawat-pesawat Yak, namun Moran, yang akhirnya melepaskan rentetan tembakan yang menentukan dari enam senapan mesin kaliber .50 untuk menembak jatuh para penyerang. Beberapa menit kemudian, F-82 dari Letnan Satu William G.”Skeeter” Hudson dan R-O Carl Fraser menjatuhkan sebuah Yak-11.
Sementara itu pesawat-pesawat dari Skuadron ke-339 juga bergabung dengan pertempuran udara, dan Mayor James W. Little dari unit itu menembak jatuh sebuah La-7, sementara Letnan Walt Hayhurst mencatatkan “kemungkinan rusak” dari sebuah pesawat lawan. Dapat dicatat bahwa aksi Mayor Little menggambarkan perbedaan dalam hal pelatihan yang membedakan kinerja pilot-pilot FEAF versus NKAF. Apa yang bagi penerbang-penerbang Korea Utara adalah perang pertama mereka, perang itu adalah yang kedua bagi Little; yang menerbangkan P-51 Mustang di Skuadron Tempur ke-75, Grup Tempur ke-23, Angkatan Udara ke-14, selama Perang Dunia II, dimana dia sudah menembak jatuh enam pesawat Jepang di atas China. Sebagian besar Skuadron-skuadron Amerika juga mendapat manfaat dari para kader veteran mereka dengan pengalaman serupa. Setelah pesawat-pesawat Twin Mustang yang menang kembali, penghargaan resmi Angkatan Udara atas kemenangan udara Amerika pertama dalam konflik Korea diberikan kepada Hudson. Keith Bobo kemudian menjelaskan ketidakadilan yang muncul kemudian: “Moran gagal kembali dari misi malam beberapa minggu kemudian dan ketika Hudson selamat, keputusan tampaknya telah dibuat untuk memberi penghargaan kepada yang masih hidup. Media juga ikut bertanggung jawab atas kebingungan itu, karena wartawan mencoba mewawancarai semua orang pada saat yang sama di akhir misi dan itu dipublikasikan, yang menurut saya, salah.” Satu jam kemudian, delapan pesawat Il-10 mencoba menyelinap masuk dan menyerang pesawat-pesawat angkut di darat, hanya untuk menemukan empat F-80C dari Skuadron Pembom Tempur ke-35 menunggu untuk menyerang mereka. Dalam beberapa menit, empat dari formasi Il-10 ditembak jatuh – masing-masing satu oleh Kapten Ray Schillereff dan Letnan Robert Dewald, sementara Letnan Robert E. Wayne mencetak double kill. Empat sisanya berbalik untuk pulang dan selamat hanya karena pilot-pilot Shooting Star tidak memiliki perintah yang mengizinkan mereka melakukan pengejaran – mereka hanya ditugaskan untuk melindungi evakuasi. Para pilot-pilot F-80 bagaimanapun memiliki kepuasan menorehkan yang “pertama” pada hari itu, yakni: kemenangan udara pertama untuk pesawat jet Amerika dalam sejarah.
Tanggal 29 Juni, kemudian menjadi tanggal kedatangan pertama dari F-51D Mustang, yang nantinya akan membentuk kontingen yang signifikan memberikan kontribusi pertama mereka dalam pertempuran. Pesawat-pesawat ini telah dikirim ke ROKAF, tetapi pilotnya adalah orang-orang Amerika. Sebelum pengiriman, sebuah Mustang terlibat dalam pertempuran dengan pesawat-pesawat Korea Utara, di mana Letnan Satu Harry T. Sandlin dan Letnan Dua Orrin R. Fox dari Skuadron Pembom Tempur ke-80, masing-masing menembak jatuh sebuah La-7 dan dua Yak-9, sementara Letnan Satu Richard J. Burns dari Skuadron Pembom Tempur ke-35 bertanggung jawab menjatuhkan sebuah Il-10. Untuk semua maksud dan tujuannya, pertempuran udara tanggal 27 Juni telah memutuskan siapa yang menguasai langit di atas Korea. FEAF telah membangun kekuatan moral yang hampir tak tertandingi selama empat bulan ke depan. Meskipun Yak-9U dan Yak-9P secara kasar sebanding dalam kinerja dengan pesawat-pesawat musuh FEAF mereka yang utamanya bermesin piston, seperti F-51 Mustangdan F-82 Twin Mustang, mereka jelas kalah kelas dari jet-jet tempur Amerika, yang bisa terbang 200 mph (321 km/jam) lebih cepat. Yang lebih penting adalah perbedaan dalam hal pelatihan dan pengalaman. Jika agresivitas tentatif pilot-pilot Korea Utara menunjukkan tingkat ketidakpastian dari kemampuan mereka, sikap mereka di bulan-bulan mendatang menunjukkan bahwa kepercayaan diri mereka telah hancur secara efektif. Namun ada beberapa pengecualian, yang menunjukkan keberanian mereka yang luar biasa berperan penting dalam menentukan hasil akhir pertempuran. Pada tanggal 30 Juni, pesawat-pesawat tempur Yak-9 berhasil menyerang tentara Amerika yang sedang tidur siang di Suwon, memberondong lapangan dan menghancurkan sebuah F-82G dari skuadron ke-68 di darat – pesawat tempur AS pertama yang hilang dalam perang. Namun, bahkan kesuksesan sederhana itu tidak luput dari balasan. Letnan Satu Charles Wurster dari skuadron ke-36, yang menerbangkan F-80C, menemukan salah satu pesawat Yak di atas Suwon, dan berhasil menjatuhkannya. Dia kemudian akan menambahkan satu lagi ke dalam skornya pada tanggal 17 Juli.
Di sisi lain, untuk keberanian belaka, tidak ada penerbang Korea Utara yang bisa menandingi para awak pesawat biplane Po-2 yang secara berkala terbang melintasi garis pertahanan Amerika di malam hari untuk menjatuhkan bom dan granat ke pasukan dan instalasi militer lawan. Kerusakan jarang terjadi, tetapi “Bedcheck Charlie“—salah satu julukan yang lebih mudah diingat yang diberikan pada Po-2 oleh para GI—berhasil tetap menjadi hama nokturnal yang melekat untuk sebagian besar masa perang, yang secara teratur mengganggu di area di mana pesawat terbang dua generasi dibawahnya takut terbang. Pengecualian yang mengganggu seperti itu, FEAF memiliki superioritas udara yang lengkap, para penerbang Amerika lalu mengalihkan energi mereka hampir seluruhnya untuk meniadakan keunggulan Tentara Rakyat Korea Utara di darat. Juga pada tanggal 30 Juni, 10 F-51D Mustang yang operasional dari 30 yang disimpan di tempat penyimpanan di Jepang dipindahkan ke Taegu. Bersama mereka datanglah kontingen pilot ROK yang saat itu sedang berlatih di Jepang, bersama dengan sembilan pilot instruktur AS mereka untuk membentuk Skuadron Tempur Sementara ke-51 di bawah komando Mayor Dean E. Hess. Pada saat yang sama, Mayor Jenderal Frank E. Everest meyakinkan Jenderal Hoyt S. Vandenburg untuk memindahkan sebanyak mungkin pesawat Mustang Angkatan Udara yang bisa dikerahkannya ke Korea. Untuk Skuadron Provisional ke-51, mereka akan segera ditambahkan dengan Skuadron Tempur ke-40, yang personelnya diperintahkan untuk melakukan “penggantian mundur” dari pesawat F-80 ke F-51.
Berlawanan dari pemahaman yang populer, teknologi yang lebih baik tidak selalu berarti lebih baik dalam menjalankan misi tempur. Misalnya, dalam hal ini pesawat yang terlalu cepat seperti F-80 menjadi masalah pada awalnya. Penulis Robert Dorr menjelaskan kelemahan dari kemampuan ekstrim ini: “Belum ada yang yakin bahwa (P-80) Shooting Star adalah pesawat yang tepat untuk menghadapi Angkatan Udara Korea Utara. Beberapa pilot merasa bahwa jet seperti F-80* menghabiskan terlalu banyak bahan bakar dan, ironisnya, terlalu cepat untuk melakukan pertempuran udara dengan pesawat-pesawat tempur Yak dan Lavochkin. Sebuah artikel yang diterbitkan oleh Associated Press mencatat bahwa F-80 (P-80 adalah kode Lockheed dari pesawat ini pertama kalinya, sebelum diganti namanya menjadi F-80 ketika mulai beroperasi dengan Angkatan Udara AS) membutuhkan terbang sejauh 40 mil (64 km) untuk bisa keluar dari lintasan berkecepatan tinggi (jelas penilaian yang terlalu berlebihan), dan bahwa pesawat-pesawat Yak dapat dengan mudah bermanuver di dalam radius belok jet tempur AS ini.” Ketidakcocokan juga pada teknik terbang seperti halnya pada teknologi. Dorr mengingatkan bahwa: “Korea Utara tidak memperhatikan konsep ‘ace‘ (pilot yang bisa menjatuhkan lima atau lebih pesawat musuh), dan tidak menganggap kemenangan udara lebih penting, atau lebih terpuji, daripada aksi pemboman udara-ke-darat”. Jadi, pesawat-pesawat Yak atau Lavochkin, akan melihat pesawat Amerika, yang meskipun unggul dalam hal kinerja, hanya sebagai rintangan yang harus dihindari daripada musuh yang harus dihadapi. Ini mungkin menjelaskan masalah yang dialami beberapa pilot F-80 dalam mencoba menghadapi dan menembak jatuh mereka.
Pada tanggal 16 Juli, Skuadron ke-40 tiba di lapangan terbang Pohang dan beberapa hari kemudian ia terbang untuk mendukung resimen ROK yang kalah jumlah, yang terancam oleh 1.500 tentara Korea Utara yang bergerak maju ke pantai timur, selatan Yonghae, dengan tujuan merebut pangkalan baru Skuadron ke-40. Meskipun cuaca buruk dan ketinggian terbang yang jarang melebihi 150 kaki (45,72 meter), pesawat-pesawat Mustang menerbangkan 35 misi pengeboman dan penembakan setiap hari selama seminggu. Setelah gerakan pasukan Komunis terhenti, tentara Korea Utara yang berhasil ditangkap bersaksi bahwa pesawat-pesawat Mustang bertanggung jawab menghentikan ofensif mereka. Bergabung dengan Skuadron ke-40 di Pohang adalah 26 pesawat Mustang lagi dari Skuadron No. 77, Royal Australian Air Force (RAAF), menandakan dimulainya komitmen Australia dalam upaya pertahanan Korea Selatan. Pada tanggal 3 Agustus, Skuadron Tempur ke-67, dari Grup Tempur ke-18, tiba di Taegu dan tidak membuang waktu untuk memulai tugasnya. Sebelum hari itu berakhir, Kapten Ed Hoagland menjatuhkan sebuah pesawat Yak, begitu pula Kapten Howard I. Price. Keesokan harinya, Skuadron Sementara ke-51 kembali ke nama aslinya yaitu Skuadron Pembom Tempur ke-12 dan bergabung dengan unit saudaranya, Skuadron ke-67, dalam menyerang target darat dari pasukan Korea Utara. Pada tanggal 5 Agustus, komandan Skuadron ke-67, Mayor Louis J. Sebille, sedang dalam misi dukungan udara jarak dekat di dekat Hamchang ketika salah satu dari bom seberat 500 pon (226 kg) yang dibawanya gagal dilepaskan. Dia berupaya menjatuhkannya lagi, dengan senapan mesinnya menyalak dan dengan sia-sia mencoba membuat bomnya jatuh, sementara di darat musuh menembak ke arah pesawatnya dan mencetak banyak tembakan tepat sasaran. Mengabaikan kesempatan untuk pulang dengan pincang, Sebille membuat lintasan sekali lagi dengan memberondong tembakan dan menerima tembakan lawan lebih lanjut. Wingman-nya menyatakan bahwa Sebille tidak pernah berhenti, tetapi memilih terbang langsung ke banyak tumpukan peralatan musuh. Sebille menjadi satu dari hanya empat perwira Angkatan Udara yang dianugerahi medali Medal or Honor di Korea. Keempatnya akan diberikan secara anumerta. Pada tanggal 10 Agustus, penerus Sebille yang memimpin Skuadron ke-67, Mayor Arnold “Moon” Mullins, membuat aksi heroik lain untuk skuadron-nya dengan menembak jatuh tiga pesawat Yak dalam satu hari – pencapaian teebesar pada saat itu setelah menjatuhkan pesawat sebanyak itu.
AKSI PESAWAT BERBASIS KAPAL INDUK
Di saat yang sama, sementara pesawat-pesawat Shooting Star, Mustang, Twin Mustang, pembom Douglas B-26 Invader dan pesawat-pesawat lainnya berupaya sekuat tenaga untuk menghentikan serangan Korea Utara dan untuk mendukung serangan balasan pasukan sekutu, Satuan Tugas Angkatan Laut 77–yang terdiri dari kapal induk USS Valley Forge dan HMS Triumph–tiba di perairan Korea, dan pada tanggal 3 Juli, kehadirannya diketahui dengan meluncurkan serangan pemboman di ibu kota Korea Utara, Pyongyang. Serangan tersebut dilakukan oleh pesawat American Air Group 5 yang terdiri dari pesawat-pesawat Vought F4U-4 Corsair dari skuadron VF-53 dan VF-54, Douglas AD-4 Skyraider dari skuadron VA-55 dan jet tempur Grumman F9F-3 Panther dari VF-51 dan VF-52. Para penyerang menyerang jalur-jalur komunikasi seperti jembatan kereta api, jaringan rel, lapangan terbang dan jalan. Beberapa Yak-9 NKAF kemudian terbang untuk mencegat, hanya untuk kehilangan dua dari mereka oleh aksi jet tempur F9F-3 Panther yang diterbangkan oleh Letnan (J.G) L.H. Plog dan Ensign E.W. Brown dari skuadron VF-51, yang kemudian menghancurkan dua pesawat Yak lagi di darat. Plog lalu kembali ke Valley Forge untuk diberi ucapan selamat oleh rekan-rekannya atas dua kemenangan udara pertama—kemenangan udara Angkatan Laut pertama dalam perang itu, dan yang pertama dicetak oleh pesawat jet yang berbasis kapal induk. Terlepas dari konfigurasi sayap lurusnya, Panther yang berbasis di kapal induk, tergolong cepat, dengan mampu mencapai kecepatan tertinggi 575 mph (925 km/jam), berjangkauan 1.353 mil (2.177 km) dan ketinggian terbang yang mengesankan 44.600 kaki (13.594 meter). Kemampuan ini membuktikan nilainya selama konflik, dengan menjalankan peran mendukung pasukan darat dengan berbagai misi pengeboman. Selain terkadang mengirimkan bom, semua pesawat Panther membawa kanon kaliber 20 mm. Ini setara dengan senjata kaliber .79. Sebagai bandingan pesawat Mustang memiliki senapan mesin kaliber .50/12,7 mm.
Pesawat-pesawat dari Valley Forge kemudian mengunjungi Pyongyang kembali pada tanggal 18 Juli, juga untuk menyerang Onjong-ni. Keesokan harinya, pesawat-pesawat Angkatan Laut menghantam Yonpo dan mengklaim total 32 pesawat NKAF hancur di darat dan 13 lainnya rusak dalam tiga serangan mereka. Tidak dapat mempertahankan pangkalan udara mereka di dalam dan di sekitar ibu kota mereka sendiri, Korea Utara lalu menarik pesawat-pesawat mereka yang masih tersisa melintasi sungai Yalu ke Manchuria. Sementara itu, kapal induk pengawal USS Sicily meluncurkan serangan pertama oleh pesawat-pesawat Marinir AS saat armada F4U-4B Corsair dari skuadron VMF-214 (“Black Sheep”) menyerang fasilitas-fasilitas pihak Komunis di Chinju dan Sinban-ni pada tanggal 3 Agustus. Kemudian saat pasukan Amerika dan ROK yang terkepung di Pusan melakukan serangan balik untuk memperbesar perimeter mereka, pesawat-pesawat Marinir bergabung dengan rekan-rekan FEAF mereka dalam memberikan dukungan udara menyerang target-target darat pasukan Korea Utara. Ketika pasukan Sekutu – sekarang termasuk sebuah brigade Marinir – perlahan mendapatkan kembali inisiatif, pilot-pilot Marinir dari skuadron VMF-214 dan skuadron VMF-323 dari kapal induk USS Badoeng Strait menerbangkan sebanyak 45 sorti serangan darat sehari. Pada tanggal 1 September, Divisi ke-4 dan ke-5 Korea Utara melakukan serangan terakhir dan habis-habisan untuk menerobos perimeter Pusan. Angkatan Udara Kelima FEAF, yang komandonya sekarang mencakup skuadron-skuadron Marinir, mengerahkan semua pesawatnya ke arah desakan pasukan Komunis, yang akhirnya bisa dihentikan pada tanggal 5 September. Pada tanggal 11 September, Angkatan Darat Kedelapan A.S. memulai serangan balik besar-besaran, untuk mendesak mundur orang-orang Korea Utara yang kelelahan di sepanjang seluruh garis depan.
MENUJU SUNGAI YALU
Sementara ini terjadi, Jenderal Douglas MacArthur menggerakkan sebuah serangan amfibi yang berani di Inchon, yang dirancang untuk membagi dua wilayah Korea, memotong jalur pasokan tentara Korea Utara, dan menjebak Tentara Rakyat Korea Utara di antara dua pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Operasi chromite, demikian nama operasi itu yang didukung oleh pesawat-pesawat dari armada kapal induk AS di Laut Filipina, yakni USS Valley Forge, Boxer, Sicily dan Bodoeng Strait, dan kapal induk Inggris HMS Triumph, benar-benar mengejutkan, pendaratan pada tanggal 15 September itu hanya menemui sedikit perlawanan. Satu-satunya penampilan yang dibuat oleh NKAF adalah kemunculan dari dua pesawat Yak-9 yang melakukan serangan bom di deretan kapal-kapal penjelajah. Mereka tidak mencetak serangan tepat sasaran dan satu diantara mereka malah ditembak jatuh oleh tembakan senjata anti-pesawat dari kapal-kapal sekutu, sedangkan pesawat Yak lainnya bisa mundur tanpa mengalami kerusakan. Dua hari kemudian, pasukan Marinir berjuang menuju lapangan terbang Kimpo, hanya untuk menemukannya telah benar-benar ditinggalkan oleh pasukan Korea Utara yang mundur. Hanya tiga pesawat, dua Il-10 dan satu Yak-9, yang tertinggal untuk menunjukkan bahwa pasukan Komunis pernah menduduki lapangan udara itu. Pada tanggal 28 September, pilot Mustang Letnan Satu Ralph Hall dari Skuadron Pembom Tempur ke-35 menjatuhkan sebuah pesawat Yak. Lebih penting lagi, pada tanggal itu Tentara Rakyat Korea Utara telah didesak kembali melintasi garis Paralel ke-38 dan masih akan terus mundur sepenuhnya menuju ibukota Pyongyang. Korea Selatan kini terbebas lagi dan Jenderal MacArthur mengusulkan untuk melenyapkan pemerintah Komunis Pyongyang sekaligus. Pada akhir bulan Oktober, tampaknya tidak mungkin ada yang bisa mencegahnya untuk melakukannya. Keberhasilan itu bagaimanapun tidak dicapai tanpa adanya pengorbanan. Bahkan tanpa perlawanan di udara, skuadron-skuadron Sekutu mengalami kerugian besar akibat tembakan dari darat. Pada pertengahan bulan Oktober, Grup Tempur ke-8 telah kehilangan 26 pilot, termasuk komandan dari ketiga skuadron – Skuadron ke-35 dan ke-36 yang dilengkapi Mustang dan Skuadron ke-80 yang dilengkapi dengan F-80. Akan tetapi dampak dari aksi kekuatan udara sekutu tidak dapat diabaikan. Tahanan perang Korea Utara kemudian mengatakan bahwa serangan udara telah menghancurkan lebih dari 70 persen tank, kendaraan, dan artileri mereka di Korea Selatan, serta menyebabkan hampir 50 persen korban di pihak mereka.
Pada tanggal 9 Oktober, HMS Theseus menggantikan HMS Triumph dan memulai operasi dengan dua skuadron pesawat Fireflies, dan untuk menggantikan pesawat-pesawat Seafire, mereka menggelar pesawat tempur Hawker FB-11 Sea Fury. Akhir bulan Oktober 1950 pasukan PBB sudah ada di Sungai Yalu dan skuadron-skuadron Amerika dapat beroperasi di luar kota Pyongyang, kurang dari 250 mil (402 km) dari Sungai Yalu. Pesawat-pesawat Mustang dari Wing Udara ke-18 bergabung dengan unit Afrika Selatan, yakni Skuadron No. 2, SAAF. Tetapi laporan-laporan yang tidak menyenangkan kemudian datang dari pasukan China yang tersebar tetapi semakin banyak yang berkumpul di sepanjang perbatasan. Pemerintah China menyatakan mereka sebagai “sukarelawan” yang dikirim untuk membantu rekan-rekan mereka di Korea Utara. Bagaimanapun, Peking tidak berniat menoleransi tentara Amerika yang bermusuhan di perbatasannya. Pada tanggal 1 November, pesawat-pesawat tempur Yak-3 – yang gesit, pesawat ringan dari kayu, kerabat dari Yak-9 – terbang di atas Sungai Yalu untuk menyerang pesawat-pesawat Mustang dari Skuadron ke-67, hanya untuk kehilangan dua dari mereka oleh aksi Kapten Robert D. Thresher dan A.R. Flake. Pada hari yang sama, empat Mustang dari Wing Udara ke-18 sedang terbang dengan pesawat T-6 yang terlibat dalam tugas kontrol udara garis depan beberapa mil di utara Sinanju ketika, tanpa peringatan, mereka diserang oleh enam pesawat jet tempur dengan sayap menyayung. Segera jelas bahwa pesawat-pesawat Mustang tidak akan memiliki kesempatan untuk terbang lebih cepat menghadapi pesawat seperti itu, jadi mereka dengan bijak membatasi respons mereka dengan melakukan tindakan mengelak. Pesawat-pesawat musuh segera menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat berbelok ke dalam formasi pesawat-pesawat Mustang, memilih berhenti, dan kembali ke pangkalan udara mereka di Manchuria.
TEROR MIG
Pertemuan tak berdarah di dekat Sinanju adalah pertanda titik balik dalam pertempuran udara. Pesawat-pesawat Komunis itu adalah dari tipe Mikoyan-Gurevich MiG-15, jenis pesawat tempur terbaru dalam inventaris Soviet. MiG-15 pertama kali diperkenalkan tahun 1949 dan didasarkan pada teknologi sayap menyayung Jerman pada akhir Perang Dunia Kedua. Desain sayap ini memungkinkan MiG-15 untuk mencapai kecepatan tertinggi 658 mph (1.058 km/jam), atau Mach 0,85. MiG-15 memiliki jangkauan 1.565 mil (2.518 km), dan yang terpenting, bisa terbang hingga ketinggian 50.900 kaki (15.514 meter). Ini berarti bahwa ia dapat terbang diatas pesawat-pesawat tempur rivalnya dan memilih kapan ia ingin menyerang mereka. MiG-15 juga dipersenjatai dengan berat, dimana mereka membawa dua kanon otomatis kaliber 23 mm dan satu lagi kanon kaliber 37 mm. Jika pesawat tempur modern seperti ini dikerahkan dalam pertempuran di Korea, mereka jelas mewakili ancaman terhadap superioritas udara PBB yang tidak dapat diabaikan. Selama beberapa hari berikutnya, pesawat-pesawat tempur bermesin piston milik pasukan Komunis mulai menyeberangi Sungai Yalu dengan agresivitas yang lebih besar. Kedatangan MiG mungkin telah mengilhami pilot-pilot mereka untuk melakukan upaya baru, tetapi mereka tidak dapat membuat perbedaan yang lebih besar. Pada tanggal 2 November, Kapten Flake dari Skuadron ke-67 menjatuhkan sebuah Yak-9–kemenangan keduanya dalam beberapa hari–seperti yang dilakukan oleh Letnan Satu James L. Glessner dari Skuadron Pembom Tempur ke-12. Pada tanggal 6 November, pesawat-pesawat Mustang dari Skuadron ke-67 kembali berhadapan dengan pesawat-pesawat Yak-9, di mana Kapten Howard Price menjatuhkan satu diantaranya dan bekerja sama dengan Lt. Harry S. Reynolds untuk mendapatkan pesawat yang lain. Pada hari-hari berikutnya, laporan tentang infiltrasi besar-besaran tentara China di seberang Sungai Yalu semakin menjadi perhatian. Jenderal MacArthur lalu memerintahkan serangan bom terhadap jembatan-jembatan diatas Sungai Yalu.
Operasi-operasi itu membuat pesawat-pesawat MiG pasukan komunis mulai bermunculan. Pada tanggal 7 November, lima flight berbeda dari pesawat-pesawat Mustang yang terbang dekat dengan Sungai Yalu diserang. Saat satu flight pesawat dari Skuadron Pembom Tempur ke-12 melakukan patroli rutin, empat pesawat MiG terlihat lepas landas dari pangkalan mereka di Antung dan tepi selatan. Hampir sebelum orang-orang Amerika menyadarinya, pesawat-pesawat MiG sudah ada di depan mereka, menembaki mereka dalam serangkaian lintasan berulang. Bermanuver untuk menyelamatkan diri mereka, pilot-pilot Mustang secara naluriah mencoba untuk menyerang jet-jet musuh setelah menyelesaikan akhir dari manuver loop mereka dan mulai mencetak beberapa tembakan tepat sasaran. Mayor Ken Carlson mencetak beberapa tembakan tepat pada sebuah pesawat MiG, dan anak buahnya melaporkan adanya ledakan di atas tanah selama pertempuran udara liar itu, dan setelah itu hanya tiga MiG yang terlihat berhenti di atas Sungai Yalu. Tidak ada yang bisa menyaksikan kecelakaan yang sebenarnya, jadi Carlson diberi catatan “kemungkinan” menjatuhkan pesawat lawan. Terlepas dari ketidakefektifan manuver tempur mereka, Letnan Lee Gomes mencatat hal yang tidak menyenangkan bahwa keterampilan terbang dari pilot-pilot MiG itu jauh lebih baik daripada pilot-pilot Yak yang ditemui sebelumnya. Pertemuan lain dengan pesawat-pesawat MiG dilaporkan oleh Letnan Satu Harris Boyce dari Skuadron ke-35. Dua pesawat MiG terbang melewati patrolinya yang terdiri dari 3-pesawat dan beberapa detik kemudian mereka melesat ke bawah pesawat-pesawat Mustang dari belakang. Pesawat-pesawat F-51 bergerak ke kanan, Boyce memutar pesawatnya dengan putaran 180 derajat paling ketat yang bisa dia lakukan untuk datang di belakang salah satu pesawat MiG. Dia melaporkan banyak melakukan tembakan tepat sasaran sebelum jet itu melesat ke utara, di luar kendali, di atas Sungai Yalu. Seluruh pertempuran itu berlangsung tiga menit. Sekali lagi, tidak ada laporan jatuh atau ledakan yang diamati dan Boyce harus puas dengan catatan “kemungkinan” – dan nyawanya masih utuh.
Hari berikutnya, pada tanggal 8 November, dua flight jet tempur F-80C dari Fighter Interceptor Wing ke-51 menyaksikan enam pesawat tempur MiG-15 lepas landas dari Antung, melintasi Sungai Yalu di ketinggian tinggi dan mulai menukik berpasangan. Sejak laporan pertama atas serangan pesawat MiG seminggu sebelumnya, pilot-pilot Shooting Star telah gatal untuk mengadu kemampuan mereka dengan pesawat-pesawat tempur Soviet yang baru dan dengan bersemangat berubah menjadi penyerang mereka, menyebabkan mereka berpencar dengan liar. Lima dari pesawat MiG melesat untuk pulang, tetapi yang keenam menukik menjauh dan Letnan Russell J. Brown dari Skuadron ke-16 menemukan bahwa pesawat F-80 bersayap lurusnya tidak hanya dapat mengimbangi, tetapi juga bisa mendapatkan keunggulan dari pesawat MiG. Menyadari kesalahannya, pilot MiG itu menarik pesawatnya keluar dari manuver menukik dan melakukan manuver menanjak, tetapi Brown tidak memberinya kesempatan bagi lawannya untuk menggunakan kecepatan menanjaknya yang unggul (10.100 kaki/3.078 meter per menit). Terbang sejajar dengan pesawat MiG, Brown menembakinya dengan tembakan selama lima detik dan melihat musuhnya yang penuh teka-teki menukik di luar kendali, berasap dan terbakar menyala, jatuh ke tanah. Dengan ini Brown lalu dianggap memenangkan pertempuran udara jet-versus-jet pertama dalam sejarah, sebuah klaim yang banyak disanggah oleh beberapa sumber. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul catatan yang menunjukkan bahwa tidak ada pesawat MiG yang jatuh hari itu, tetapi Brown tetap tercatat sebagai pemenang dalam pertempuran udara jet-versus-jet pertama dalam sejarah. Sementara itu meski kemenangan ini mungkin jatuh ke tangan pilot asal Amerika, tetapi superioritas udara berikutnya akan menjadi milik MiG-15. Dengan kecepatan tertinggi hanya 600 mph/965 km/jam (Mach 0,76), jangkauan 1.200 mil (1.931 km) dan ketinggian terbangnya hanya 46.000 (14.020 km), F-80 Shooting Star jelas kalah kelas dengan pesawat MiG-15. Keesokan harinya, grup udara kapal induk Task Force ke-77 diperintahkan untuk mengebom jembatan rel dan jalan raya di Sinuiju dan jembatan jalan raya dekat Hyesanjin, 200 mil (321 km) ke hulu sungai. Serangan itu dilakukan oleh pesawat-pesawat tempur F4U Corsair dan AD Skyraider dengan perlindungan dari jet-jet tempur F9F Panther. Kekuatan yang ditugaskan untuk menghantam Sinuiju ini kemudian diserang oleh jet-jet MiG-15 China dari pangkalan udara Antung, yang kemudian dihadapi oleh pesawat-pesawat oleh F9F. Selama pertempuran, salah satu jet Komunis jatuh oleh sebuah F9F yang diterbangkan oleh komandan VF-111 dari kapal induk USS Philiphine Sea, Lt. Cmdr. W.T. Amen – kemenangan pertama jet vs jet untuk Angkatan Laut Amerika.
Dari dua pertempuran ini menjadi jelas bahwa satu-satunya penangkal efektif dari ancaman jet tempur MiG adalah jet lain, tetapi terlepas dari keberhasilan awal mereka, F-80 dan F9F keduanya tidak memiliki kecepatan dan kemampuan menanjak untuk melakukan pekerjaan itu. MiG-15 100 mph (160 km/jam) lebih cepat dari F-80 dan 300 mph (482 km/jam) lebih cepat dari pesawat bermesin propellerF-51. Meskipun enam pesawat MiG tercatat dijatuhkan oleh jet-jet Shooting Star selama perang, 14 F-80 akan hilang karena jet bersayap menyayung itu. Untungnya, lawan sepadan MiG tidak lama kemudian akan datang. Pada hari yang sama saat Brown mencetak “kemenangan” bersejarahnya, Kepala Staf Gabungan AS membuat keputusan untuk mengirimkan jet tempur Amerika terbaik ke front Korea. Pesawat itu adalah North American F-86A Sabre. Kedua jet itu sangat sepadan. F-86 memiliki jangkauan 1.525 mil (2.454 km), jadi sedikit lebih haus bahan bakar daripada MiG, yang memiliki jangkauan yang sebanding tetapi sedikit lebih baik hingga 1.565 mil (2.518 km). MiG juga memiliki ketinggian terbang yang lebih baik. Sabre hanya bisa mencapai ketinggian 49.000 kaki (14.935 meter) tetapi mereka sebenarnya lebih cepat, dengan kecepatan tertinggi 687 mph (1.105 km/jam), dibandingkan dengan MiG-15, yang kecepatan puncaknya mencapai 658 mph (1.058 km/jam. Angka Mach 1 sendiri sebagai penghalang suara, adalah 767 mph (1.234 km/jam). Sementara itu kerusakan akibat air asin dalam perjalanan menunda kedatangan Grup Pencegat Tempur ke-4 yang dilengkapi dengan Sabre di Kimpo hingga tanggal 13 Desember, tetapi unit tersebut menerbangkan penerbangan pelatihan pertamanya—yang sebenarnya merupakan patroli operasional—pada tanggal 15 Desember dan, pada pada tanggal 17 Desember, Lt. Col. Bruce H. Hinton memimpin empat F-86A terbang diatas Yalu, dengan menggunakan kode panggilan radio F-80 dan pola terbang F-80 untuk memastikan bahwa setiap MiG tidak akan segan-segan untuk datang mencegat. Keempat pesawat Sabre memang berhasil mencegat formasi musuh di dekat Sinuiju dan sama terkejutnya dengan yang diharapkan Hinton saat pesawat-pesawat Sabre terbang dengan kecepatan yang mendekati kecepatan MiG. Dalam pertemuan pertama mereka ini, awalnya seperti tidak berjalan bagus bagi pilot-pilot Amerika karena radio mereka tidak berfungsi. Namun, itu tidak menghentikan Hinton untuk menyerang musuh. Pertempuran singkat lalu terjadi sebelum pesawat-pesawat MiG mundur dengan tergesa-gesa, dan kehilangan satu pesawat diantara mereka. Hinton kemudian kembali ke Kimpo untuk melakukan yang pertama dari ratusan manuver roll kemenangan yang akan dilakukan oleh pilot-pilot Sabre selama dua setengah tahun ke depan. Keunggulan dalam hal taktik yang digunakan oleh Amerika kemudian akan kerap menentukan hasil dari pertempuran udara antara pesawat-pesawat MiG dengan Sabre. Keunggulan lain yang dimiliki Sabre adalah dalam sistem penargetan mereka. Sistem pembidik Sabredibantu oleh radar. Dan ketika ini gagal, setidaknya, pilot dapat mengandalkan ‘reticle’ yang dikalibrasi dengan tepat di kaca depan kokpit mereka. Ini adalah berupa lingkaran titik-titik merah, dimana ide dasarnya adalah ketika sayap MiG sepanjang 35 kaki (10,6 meter) memenuhi lingkaran, itu adalah momen yang optimal untuk menembak. Jarak penembakan telah diatur dengan hati-hati sehingga enam senapan mesin kaliber .50 milik Sabre akan bisa membuat kerusakan paling besar dari jarak itu.
Sementara itu, peristiwa baru telah terjadi, yang akan lebih mengubah jalannya perang. Setelah tiga hari pengeboman dan serangan roket terus menerus, semua jembatan di seberang Yalu runtuh kecuali satu jembatan kereta api yang kokoh di Sinuiji. Seminggu kemudian, seluruh upaya itu dibatalkan ketika sungai itu sendiri membeku. Pada minggu pertama bulan Desember, es cukup tebal untuk meletakkan rel kereta api dan mendukung lewatnya kereta pasokan. Pada tanggal 20 November, pertempuran pecah antara Divisi Marinir ke-1 dan pasukan besar China di wilayah Hagaru-ri dan Yudam-ni. Pada tanggal 28 November, China melancarkan serangan besar-besaran terhadap Korps ke-X Angkatan Darat AS, memotong Divisi Marinir ke-5 dan ke-7 dari sisa divisi mereka di dekat reservoir Chosin dan mengirim pasukan PBB lainnya mundur dalam keadaan yang tidak teratur. Untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari setengah tahun, jalannya perang di Korea telah memasuki babak baru. Corak perang udara juga telah mengalami perubahan yang radikal. Sejak bulan Desember 1950, jet bersayap menyayung menjadi faktor kunci dalam perjuangan untuk merebut supremasi udara. Meskipun pesawat bermesin piston dan jet generasi yang lebih tua akan terus memainkan peran penting selama pertempuran, aksi mereka sebagian besar akan dikalahkan di mata publik oleh duel diatas langit yang berlangsung di ambang kecepatan suara di atas kawasan udara yang disebut sebagai “Lorong MiG” (MiG Alley). Yang lalu kerap dilupakan adalah lima bulan penting pertama dalam perang, ketika pesawat-pesawat bersayap lurus menjadi kekuatan udara yang tersedia dan veteran tua dari perang lain dan era lain akan menunjukkan signifikansinya untuk terakhir kalinya. Dalam Perang Korea, Angkatan Udara AS kehilangan 971 pesawat. Sebagian besar (671) disebabkan oleh tembakan dari darat, meskipun sejumlah besar lainnya (206) diklaim oleh penyebab lain. Angkatan Laut dan Korps Marinir AS kehilangan 1.033 pesawat karena berbagai penyebab. Angkatan Udara AS menerbangkan 392.139 sortie (termasuk 57.665 untuk misi dukungan udara jarak dekat) dan Angkatan Laut AS 126.874 (65.748 untuk dukungan udara jarak dekat). Catatan di pihak komunis untuk kerugian dan total sortie tidak tersedia, tetapi menurut catatan Amerika, pihak lawam mereka kehilangan 600 MiG dalam pertempuran udara-ke-udara, dengan 143 lainnya tercatat sebagai kemungkinan hancur. Bertahun-tahun setelah perang, sebuah studi oleh Angkatan Udara AS, yang diberi nama Sabre Measure Charlie, menurunkan “rasio kemenangan” F-86 Sabre-versus-MiG-15 dari lebih dari 14 banding 1 menjadi 7 banding 1. Angka terakhir bagaimanapun tetap merupakan pencapaian terbaik dalam setiap kampanye tempur dalam sejarah perang udara sebelum Operasi Badai Gurun tahun 1991.
UNIT UDARA NEGARA-NEGARA PERSEMAKMURAN
Sementara pecahnya Konflik Korea membuat kebanyakan orang-orang Amerika bingung tentang pentingnya dan bahkan lokasinya, hal itu tidak berlaku bagi Inggris. Mereka sudah dalam proses menarik diri dari wilayah jajahan mereka di Timur Jauh dengan ‘seanggun’ mungkin, dan demi meninggalkan pemerintah independen yang akan tetap bersahabat dengan mereka. Mereka saat itu sudah terlibat dalam perang gerilya intensitas rendah dengan pemberontak Komunis yang didukung China di Malaya. Bagi Inggris, satu-satunya hal baru di Korea pada tahun 1950 adalah bahwa itu adalah konflik konvensional yang terbuka. Pesawat-pesawat Inggris pertama yang tersedia untuk membantu Korea adalah Supermarine Seafire dan Fairey Fireflie dari kapal induk HMS Triumph, yang mengambil posisi di lepas pantai Korea dalam beberapa hari setelah pecahnya konflik. Sejak saat itu hingga akhir pertempuran, setidaknya satu kapal induk Inggris atau negara-negara Persemakmuran beroperasi di perairan Korea secara bergilir. Sementara armada kapal induk Angkatan Laut AS biasanya menangani perang di lepas pantai timur Korea di Laut Jepang, kapal induk Inggris dan pengawal serta kapal induk ringan Angkatan Laut AS biasanya ditempatkan di barat di Laut Kuning. Pesawat kapal induk yang lebih efektif dari kedua pesawat yang awalnya diterjunkan oleh Angkatan Laut Kerajaan adalah pesawat tempur dua kursi Firefly, tipe Mark 4 dan 5, yang diberkahi dengan kelebihan tenaga dari mesin Rolls-Royce Grifon 74 berkekuatan 2.100 hp, yang dapat membawa hingga satu ton bom dan roket per pesawat untuk misi serangan darat. Apalagi kru Firefly sudah berlatih dalam operasi-operasi semacam itu. Pada bulan Oktober 1949, Firefly dari Squadron No. 827 dari HMS Triumph telah dikerahkan di Sembawang untuk memberikan dukungan udara untuk Operasi Leo, serangan yang dilakukan terhadap para “bandit” di hutan Malaya.
Pada tanggal 3 Juli, pesawat-pesawat dari HMA Triumph memberikan perlindungan udara untuk kapal induk Gugus Tugas ke-77 sementara pesawat-pesawat dari kapal Amerika melakukan serangan udara terhadap Pyongyang. Kapal-kapal induk dari negara-negara Persemakmuran lainnya yang akan bertugas di Korea termasuk HMS Theseus (Oktober 1950, Mei 1951), HMS Glory (Mei 1951, Mei 1952), HMS Ocean (Mei, Oktober 1952), dan HMAS Sydney (Oktober 1952, Juli 1953). Penugasan HMS Ocean menggambarkan tipikal penggelaran dari kapal-kapal induk Inggris, dengan beberapa karakteristik yang unik. Seperti kebanyakan kapal induk lainnya, pesawat-pesawatnya menerbangkan serangan terhadap pemberontak Malaya sebelum melakukan serangan roket, pengeboman, dan penembakan terhadap pasukan Korea Utara pada bulan Mei 1952. Pada tanggal 17 Mei, pesawat-pesawat dari kapal induk Inggris telah menerbangkan 123 sortie—jumlah rekor untuk satu kapal induk selama konflik. Beberapa pesawat hilang karena tembakan darat pasukan Komunis yang intens, konsekuensi umum dari membuat lebih dari satu lintasan serangan melawan target yang sama. Pada akhir bulan Juli, Mikoyan-Gurevich MiG-15 menyerang pesawat-pesawat Firefly dari Skuadron No. 825 HMS Ocean untuk pertama kalinya, akibatnya satu Firefly harus melakukan pendaratan paksa dalam pertempuran. Mengingat perbedaan teknis diantara keduanya, pilot-pilot Inggris bersyukur bisa lolos begitu saja. Namun, pada tanggal 9 Agustus, empat Hawker FB-11 Sea Fury dari Skuadron No. 802 HMS Ocean diserang oleh delapan MiG-15. Dengan bijak tetap bertahan untuk bertempur dari jarak dekat daripada mencoba kabur yang sia-sia, pilot-pilot Inggris yang terampil kembali dengan selamat dan Letnan Peter Carmichael mencetak kemenangan udara pertama yang dikonfirmasi dari pesawat bermesin piston atas pesawat jet. Pada saat HMS Ocean pergi pada bulan Oktober 1952, pesawat-pesawatnya telah melakukan 1.907 sortie dengan total 3.243 jam terbang. Dalam 1.948 pendaratan yang dilakukan di dek HMS Ocean, dengan hanya mengalami empat kecelakaan. Pesawat-pesawat dari HMS Ocean telah menembakkan 16.868 roket dan menjatuhkan 96.500 pon (43.771 kg) bom, dan kinerja keseluruhan Skuadron Nomor 825 telah memenangkannya penghargaan Boyd Trophy di tahun 1952. Setelah gencatan senjata di Panmunjon, Inggris mempertahankan setidaknya satu kapal induk berpatroli di perairan Korea sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, sementara kapal-kapal induk lain terus memainkan peran mereka dalam kampanye yang akhirnya berhasil melawan pemberontakan Malaya, yang telah ada pada saat konflik di Korea dimulai.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
A NEW ERA IN AERIAL WARFARE BEGAN DURING THE KOREAN WAR
Jets To The Fore: How Korea Changed Aerial Warfare
https://www.forces.net/news/jets-fore-how-korea-changed-aerial-warfare
KOREAN AIR BATTLES
https://dpaa-mil.sites.crmforce.mil/dpaaFamWebInKoreanAirBattles
The Korean Air War by William T. Y’Blood
https://www.7af.pacaf.af.mil/About-Us/Fact-Sheets/Display/Article/408386/the-korean-air-war/
The Skies Of Korea: The Air War for a New Era BY ROBERT F. DORR – JANUARY 19, 2014
