Beberapa keterlibatan pasukan SAS dalam sejarah telah membuat berita pada halaman depan media massa. Lainnya, seperti aksi rahasia mereka di Oman, tidak pernah dibicarakan. Meski demikian di tempat-tempat terlupakan ini, mereka juga memiliki pahlawannya sendiri-sendiri. Pada tahun 1970, pemberontak yang didukung komunis mengancam Sultan yang pro-Barat — dan pada akhirnya mengancam pasokan minyak ke negara-negara Barat. Pasukan khusus SAS kemudian dikirim ke Oman. Tugas mereka adalah memperkuat pasukan Sultan, menyelamatkan wilayah Dhofar dan Selat Hormuz agar tidak jatuh ke tangan pemberontak, dan menjaga agar minyak dapat tetap mengalir. Secara teoritis mereka hanyalah penasihat, yang ditugaskan untuk mempercepat kemandirian tentara Sultan pro-Inggris. Kenyataannya, Tim Pelatihan Angkatan Darat Inggris, sebagaimana mereka ditunjuk secara resmi, menjadi tulang punggung dan kekuatan pendorong utama dalam menumpas para pemberontak. Pada bulan Juli 1972, personel SAS membayar mahal untuk menjalankan tugas-tugas mereka ini dalam pertempuran yang, menurut kata para penyintasnya, membuat pertempuran Rorke’s Drift (kisah pertahanan tempat misi tahun 1879 yang terkenal selama Perang Anglo-Zulu) terlihat seperti pesta minum teh. Sekitar tiga ratus pemberontak menyerang Mirbat, sebuah kota pesisir kecil dengan rumah-rumah lumpur yang hanya ditempati oleh SEMBILAN orang SAS, dipimpin oleh Kapten Mike Kealy yang berusia 23 tahun. Ada juga segelintir tentara Oman dan beberapa polisi militer. Melihat ini para pemberontak mengira mereka akan menang dengan mudah. Mereka terbukti salah!
LATAR BELAKANG
Pada tanggal 19 Juli 1972, di Mirbat, desa nelayan kecil itu masih tertidur di bawah kabut pagi. Setengah mil ke utara, di belakang sebuah bukit kecil, 250 adoo (gerilyawan komunis) bergerak maju dalam keheningan. Tidak ada suara yang keluar dari webbing kain buatan China yang mereka kenakan. Senapan AK-47 baru buatan Rusia yang mereka pakai diminyaki dengan baik, RPG dan senapan mesin berat kaliber 12,7mm mereka juga dilengkapi dengan amunisi yang cukup, radio mereka disetel ke frekuensi yang benar, senjata artileri recoilless dan mortir mereka telah diarahkan dengan baik. Mereka datang untuk membalas dendam. Kekalahan tahun sebelumnya yang mereka alami dalam Operasi Jaguar hampir menjadi bencana besar bagi perjuangan Front Populer untuk Pembebasan Teluk Arab (PFLOAG). Orang-orang di Provinsi Dhofar mulai mempertanyakan otoritas mereka. Ketakutan akan hukuman dan janji untuk mewujudkan masyarakat yang setara kini dianggap tidak lagi memiliki bobot yang sama. Kemenangan yang meyakinkan jelas sangat dibutuhkan para pemberontak. Para pemimpin Adoo kemudian memutuskan bahwa mereka harus melakukan serangan yang menentukan terhadap pasukan Sultan untuk mendapatkan kembali keunggulan di medan tempur. Telah diputuskan bahwa Adoo akan menyerang kota pantai kecil Mirbat, yang ada di provinsi Dhofar, Oman selatan dan membunuh semua keluarga personel firqat (milisi Oman yang setia pada Sultan Oman) yang bisa mereka temukan. Dalam prosesnya Adoo harus menyerang gedung BATT (British Army Training Team) SAS setelah mengetahui bahwa untuk dapat mencapai Pelabuhan Mirbat mereka pertama-tama harus mengalahkan personel SAS yang menjaga jalur pendekatan ke kota di Jebel Ali, serangkaian lereng gurun kecil yang mengarah ke Pelabuhan. Jika mereka bisa mengambil alih Mirbat, jalan akan terbuka ke Muscat, ibu kota Oman, dan hari-hari terakhir kekuasaan sultan bisa mulai dihitung.
MIRBATT
Sebagai rumah bagi sekitar lima puluh personel firqat, sembilan orang Tim Pelatihan Angkatan Darat Inggris (BATT) dari skuadron B SAS, dan kurang dari empat puluh polisi lokal, satu-satunya daya tarik dari Mirbat adalah benteng abad pertengahannya. Selain kecil, garnisun itu semakin melemah dengan tidak adanya firqat, yang berpatroli di Jebel di dekatnya. Lebih buruk lagi, kekuatan yang tersisa di tempat itu terpecah-pecah. Para polisi militer (Dhofar Gendarmerie/DG) dengan senapan bolt-action kuno kaliber .303 mereka, berada di dalam benteng, 700 yard (640 meter) di timur laut desa, dan di pos kecil 1000 yard (914 meter) di utara perimeter. Sementara itu pasukan SAS, dengan dua tabung mortir, dua senapan mesin GPMG, dan senapan mesin berat Browning kaliber .50, berada di gedung BATT, 200 yard (182 meter) di utara desa. Sebuah lubang meriam, dengan meriam artileri kaliber 25 pounder yang sudah usang, terletak berdekatan dengan benteng. Setiap prajurit memiliki senapan, dan komandan mereka, Kapten Mike Kealy, membawa pistol. Tapi di dalam tempat tinggal mereka, pikiran sembilan orang dari Skuadron B SAS itu sudah ada di rumah. Tur mereka akan segera berakhir. Besok mereka akan diterbangkan keluar, digantikan oleh Skuadron G, yang sudah berada di Oman dan menunggu di pangkalan udara 40 mil (64 km) jauhnya untuk mengambil alih tugas mereka. Mereka tertidur nyenyak malam itu, tidak menyadari bahwa para pemberontak bersenjata lengkap sedang berkumpul di luar di sepanjang dasar sungai yang kering, bersiap untuk menyerang.
ADOO MENYERANG
Pada pukul 0530 dengan pisau di tangan, sekelompok adoo pilihan mendekati pos polisi militer di puncak Jebel Ali, sebuah bukit kecil sekitar 914 meter di utara Mirbat dan setengah jalan menuju Jebel Massive. Mereka dengan cepat membunuhi milisi yang sedang tidur, tetapi salah satunya berhasil melepaskan tembakan peringatan sebelum tenggorokannya digorok. Kapten Mike Kealy, dan anak buahnya mengamati suara tembakan yang datang dari Jebel Ali dan gelombang orang yang bergerak maju menuju Benteng Wali. Tembakan RPG dan peluru artileri kemudian menandai serangan utama. Sebuah keributan yang memekakkan telinga membuat pihak yang bertahan kebingungan dan bertanya-tanya, sementara para adoo yang bertelanjang kaki menembus kawat perimeter di utara dan timur laut. Kapten Mike Kealy, komandan BATT, kemudian memerintahkan penembak senapan mesin GPMG dan kaliber .50 di atap rumah dan unit mortir kaliber 81 mm untuk mulai menembak mendukung personel di Jebel Ali sementara sisa personel SAS mengambil posisi mereka di belakang parit pertahanan yang dilindungi karung-karung pasir dan menunggu target yang datang. Hal itu sebenarnya tidak perlu ia lakukan. Pasukannya yang berpengalaman tahu bagaimana harus bereaksi dengan cepat dalam situasi semacam itu; dimana mereka telah berlatih berkali-kali. Setiap orang berada di tempat yang seharusnya, menembaki adoo. Sebagai pengamanan, Kealy memerintahkan petugas radionya untuk menjalin komunikasi dengan Markas Besar SAS di Um al Quarif. Di Mirbat terdapat sejumlah kecil personel Dinas Intelijen Oman di gedung BATT, kontingen kecil tentara asal Balukistan Pakistan (dulunya wilayah ini masuk dalam Kesultanan Oman) dan seorang anggota Intelijen Militer Inggris yang diperbantukan ke OIS (Kesultanan Oman) yang kemudian bergabung dengan tim di atap. Awalnya beberapa tentara Balukistan enggan bergabung dalam mendukung pertahanan benteng karena peran mereka di BATT sebagian besar bersifat administratif, tetapi mereka mematuhi perintah dari Kealy dan Kopral dari Intelijen Militer Inggris.
Dalam hitungan detik, prajurit Roger Cole telah berguling dari tempat tidur dan berada di sarang senapan mesinnya di atap, yang tersembunyi di balik enam lapis karung pasir. Pagi itu gelap dan dingin, dengan kabut tebal yang berputar-putar di mana dia tidak bisa melihat apa-apa. Tapi suara aktivitas bermusuhan di seberang gurun bisa mencapainya. Dia lalu membuka sekaleng margarin dan menyebarkan isinya ke sabuk amunisi senapan mesinnya. Margarin itu akan menyelamatkan hidupnya hari itu dengan menjaga agar senjatanya dapat tetap terlumasi dan menembak. Mereka akan bertempur sampai akhir tetapi mereka bersumpah tidak akan dibawa hidup-hidup oleh musuhnya. Dalam perang gurun seperti ini di negara bagian Teluk Oman pada tahun 1972, tidak ada ampun bagi musuh. Dua tentara SAS yang ditangkap di negara tetangga, yakni Yaman telah dipenggal dan kepala mereka dipajang di atas galah. Cole lalu juga menyeret kotak terakhir berisi granat. Mereka akan melemparkan ini ke setiap pemberontak yang mencoba melewati pintu — dan kemudian, jika gagal, menembak diri mereka sendiri dengan peluru terakhir mereka untuk menghindari penangkapan. Saat para pemberontak melancarkan serangan besar-besaran dan langsung terhadap perimeter luar, Cole mengeluarkan semburan peluru dari atas atap sesuai perintah Kealy sebelumnya dan melihat tentara musuh jatuh. Dia menyapu mayat-mayat itu dengan tembakan lagi untuk memastikan mereka sudah tewas. Di sampingnya, Kopral Bob Bennett melihat posisi musuh dan memanggil arah ke Sekonaia ‘Tak’ Takavesi, salah satu dari dua personel skuadron asal Fiji, dan dua tentara lain yang berjaga di lubang mortir di bawah.
KEPAHLAWANAN LABALABA
Di tengah pertempuran prajurit Takavesi dan Hussey dengan sungguh-sungguh menembakkan mortir kaliber 81mm ke arah musuh. Sementara itu menyadari bahwa senapan SLR (self-loading rifle L1A1/senapan FN FAL versi Inggris) personel SAS tidak akan berguna sepenuhnya untuk menghadapi para Adoo hingga lebih dekat dari jangkauan senjata yang 800 meter, dan adanya kekurangan daya tembak yang lebih berat, kopral Talaiasi Labalaba, prajurit bertubuh besar SAS asal Fiji berlari cepat sejauh 500 meter dari rumah BATT ke lubang meriam dan mulai menembakkan meriam kaliber 25-pounder tua era Perang Dunia II. Labalaba sendiri adalah sosok yang terkenal di SAS. Dia telah bertempur di Kalimantan dan Aden ketika dia memimpin tim anti-teroris yang menyamar. Laba (nama panggilannya diantara sesama SAS) lahir di Nawaka, Fiji pada tanggal 13 Juli 1942 dan merupakan seorang sersan yang sempat bertugas di Royal Irish Rangers sebelum bergabung dengan Resimen SAS. Kembali ke Mirbat, Kopral Labalaba mengendalikan senjata artileri berawak enam orang itu sendirian. Dia rata-rata menembakkan satu peluru per menit sampai sebuah peluru menghancurkan rahangnya. Tidak menyerah begitu saja, dia kemudian menyampaikan situasinya kembali ke Kapten Kealy dan melanjutkan pertempuran dengan senapannya. Takavesi lalu melompat untuk membantu rekan Fijinya itu. Pertama, dia harus menempuh 700 yard (640 meter) tanah terbuka. Dia berlari menembus kekacauan. Senapan mesin kemudian memberikan tembakan pendukung dari atas atap Gedung BATT saat mereka menyaksikan Takavesi berlari menembus peluru yang peluru pelacak dan peluru yang berdesingan di sekelilingnya. Ajaibnya ia tidak terluka dan berhasil mencapai lubang meriam. Takavesi menemukan Labalaba menembakkan meriam sendirian dan tidak memperlihatkan indikasi bahwa dia terluka tetapi menunjukkan perlunya bantuan. Dia kemudian membalut luka Labalaba. Takavesi lalu berlari ke pintu Benteng dan meminta bantuan. Dia terdengar oleh penembak asal Oman (Walid Khamis) dan Takavesi menariknya. Keduanya kemudian berlari kembali ke lubang meriam. Saat Takavesi membersihkan karung pasir, penembak Oman itu jatuh ke depan saat peluru kaliber 7.62 mm mengenai perutnya. Meski demikian gelombang demi gelombang pemberontak terus menyerbu benteng. Tiba-tiba beberapa roket menghantam benteng dan dari atap Gedung BATT terlihat kawat pertahanan putus sedangkan para penerobos utama tampak ada di depan benteng. Para Adoo maju menuju benteng dan lubang meriam dalam jumlah besar. Meriam itu sekarang diarahkan horizontal kawat pertahanan menembak para Adoo yang sedang menyerang dari jarak amat dekat. Meriam ini dirancang untuk menembak pada jarak hingga tujuh mil (11 km) kini diarahkan dan digunakan dalam jarak dekat, hampir seperti senapan.
Di depan mereka terbentang adegan pembantaian. Mayat para pejuang muda dalam posisi tidak wajar menjuntai di kawat berduri seperti hiasan Natal. Takavesi kemudian tertembak di bahunya tapi terus menembak dengan senapannya, meninggalkan Labalaba yang terluka parah untuk menembakkan meriam kaliber 25-poundernya sendirian (lagi). Labalaba mencoba mengambil roket kaliber 66 mm LAW tetapi terkena peluru di lehernya, lalu segera mengikuti temannya jatuh ke tanah. Saat itu Adoo hampir ada di dekat mereka. Jika mereka berhasil merebut meriam, rumah BATT yang ringkih hanya akan tinggal menjadi sejarah. Kapten Kealy kemudian memutuskan untuk bertindak. Dia mengontak lewat radio ke Salalah, pangkalan Inggris terdekat, untuk segera mengirimkan bala bantuan. Selain itu, jika baku tembak berlanjut dengan intensitas seperti saat itu, tambahan amunisi lebih lanjut akan diperlukan. Dia tahu bahwa kabut mungkin akan membatasi penerbangan apa pun, tetapi dia tetap mencoba. Mengganti sandal yang selama ini dia pakai dengan sepatu bot, dia bergegas bersama dengan petugas medis SAS Tommy Tobin ke lubang meriam. Lewat keajaiban, mereka bisa sampai ke tempat itu dengan tidak terluka sama sekali. Darah dan selongsong peluru meriam kosong tergeletak di mana-mana. Labalaba sedang sekarat. Pucat karena pendarahan, Takavesi terus menembak dengan senapan SLR terpercayanya. Takavesi terkena tembakan di bagian punggungnya, tetapi terus bertempur menutupi sisi kiri benteng. Kealy kemudian bergabung dengannya di parit pertahanan dengan senapannya, dan dengan tenang menghabisi pemberontak yang terlihat. Tobin kemudian membalut luka Takavesi sementara Kealy melindunginya. Saat Kealy berkonsentrasi di tengah kekacauan, dia melihat Adoo di dekat tembok benteng. Beberapa granat dilempar dan dipantulkan oleh bibir lubang senjata sebelum meledak. Seorang Adoo muncul di sisi lubang senjata tetapi Kealy merobohkannya.
LAST STAND
Di dalam lubang, Tobin meraih tubuh labalaba yang sekarat dan menyadari bahwa tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkannya. Saat dia bergerak menjauh, sebuah peluru mengenai wajahnya dan dia jatuh di samping orang Fiji yang terluka parah itu. Saat Kealy bergegas membantunya, sebuah granat mendarat di pangkuannya. Dia bersiap untuk mati. Granat itu tidak meledak. Dia kemudian bisa mendengar suara gembira dari para adoo, yang sekarang hampir menguasai posisi mereka. Dia lalu menghitung pelurunya, dan memastikan ada satu untuk dirinya sendiri—ia berjanji bahwa musuh tidak akan menangkapnya hidup-hidup. Dan saat itu, ketika pasukan Inggris-Oman nampaknya akan kalah, penyelamat datang dari langit. Seperti banshee yang menjerit, dua jet serang ringan BAC Strikemaster dari Salalah datang untuk menyelamatkan mereka. Dengan kanon kaliber 20mm dan bom berbobot 500 pound (226 kg), mereka memberondong para adoo, memaksa mereka untuk menghentikan gerak maju mereka. Tapi kedua jet ini tidak bisa selamanya terbang diatas tempat itu. Selama tiga puluh menit, mereka memberi pasukan Inggris dan Oman yang bertahan waktu istirahat yang sangat dibutuhkan, tetapi kemudian mereka harus pergi untuk mengisi bahan bakar dan dipersenjatai kembali. Tiga jam telah berlalu sejak tembakan pertama, tetapi para adoo tidak menyerah dan meluncurkan kembali serangan mereka. Ini adalah kesempatan bagi komandan pemberontak dan dia mengumpulkan anak buahnya. Puluhan dari mereka maju sekali lagi ke lubang meriam.
Kealy tahu hanya ada satu cara untuk menghentikan mereka sekarang — yakni tembakan mortir yang sangat bagus. Kealy mengirim pesan kembali ke rumah BATT untuk meminta tembakan mortir dijatuhkan di atas posisinya — jika tidak tempat itu akan direbut. Itu adalah perintah yang berani, dimana para veteran SAS masih mengaguminya. Kealy, tahu betul bahwa satu tembakan yang sedikit melenceng dari sasaran akan membunuhnya juga. Fuzz’ Hussey, prajurit penembak mortir terbaik di peleton, lalu mengambil tabung mortir. Dia tidak memiliki koordinat untuk menembak dan tidak memiliki bantalan untuk tabung mortirnya, sampai harus memeluk tabung mortir hingga ke dadanya agar tembakannya dapat menjangkau jarak yang diinginkan. Dia menembak hanya dengan insting dan matanya. Peluru mortir itu kemudian terbang di udara pagi dan jatuh 30 yard (27 meter) dari lubang meriam, membubarkan para pemberontak. Itu adalah bidikan ajaib, yang menyediakan waktu berharga. Tapi tetap saja itu belum berakhir. Mayat sekitar seratus pemberontak tergeletak berserakan di gurun, tetapi sisanya bersiap untuk melancarkan serangan terakhir. Kemudian, di kejauhan, di atap gedung BATT personel SAS melihat formasi V dari Adoo yang datang ke arah mereka. Hati mereka kecut. Jika ini adalah bala bantuan pemberontak, maka semuanya sudah berakhir. “Berapa banyak peluru yang tersisa?” Bob Bennett bertanya kepada rekannya dengan tenang. “Tujuh belas,” jawab Roger Cole. Bennett menghitungnya — kurang dari satu magasin penuh, kurang dari 20 peluru.
BALA BANTUAN
Dan kemudian suara asing datang dari selatan. Helikopter datang. Tiga Huey yang membawa skuadron G SAS telah tiba untuk menyelamatkan mereka. Dengan sedikit keberuntungan, skuadron ini telah tiba di Salalah dari Inggris sehari sebelumnya. Mereka dimaksudkan untuk menggantikan skuadron B hari itu juga. Maka, pagi itu, OIC, Mayor Alistair Bowie, sersan mayor, dan 21 anak buahnya telah pergi ke lapangan di Salalah untuk menguji coba senjata mereka. Mereka dipersenjatai, dengan baik, yakni dengan: sembilan senapan mesin GPMG dan empat peluncur granat M-79, bersama dengan senapan M-16 dan SLR. Mereka juga tidak kekurangan granat. Meskipun unit 2/3 ini seukuran peleton, mereka memiliki daya tembak setingkat kompi. Butuh sekitar lima menit untuk mengangkut mereka ke Mirbat. Faktanya personel Skuadron G bergerak dengan sangat cepat, bahkan dua anggota baru skuadron masih mengira mereka sedang menuju lapangan tembak sampai peluru mulai beterbangan. Helikopter-helikopter Huey kemudian mendaratkan mereka di selatan desa. Mereka dengan cepat menyebar menjadi dua elemen penyerangan masing-masing sepuluh orang dan elemen komando yang terdiri dari tiga orang. Inilah formasi V yang dilihat oleh Bob Bennet. Menjaga tingkat volume tembakan yang mengesankan, mereka melompat dari satu posisi ke posisi lain menuju ke arah rekan-rekan mereka yang tertekan, menumbangkan setiap adoo saat mereka bergerak. Sebuah helikopter mencoba untuk mengevakuasi yang terluka, tetapi tembakan dari peluru kaliber 12,7 mm mencegahnya mendarat. Kemudian personel firqat yang tadinya berpatroli di Jebel muncul dari utara. Adoo kini terperangkap di antara “palu” dari Skuadron G dan tembakan personel firqat. Mereka mulai berantakan. Sekelompok Adoo, yang terdiri dari satu prajurit tua dan tiga pemuda terpojok di sebuah gua dan menolak untuk menyerah. Beberapa roket LAW kaliber 66mm kemudian menghantam pintu masuk, diikuti oleh tembakan dari beberapa senapan mesin GPMG dan kelompok pemberontak itu dengan cepat dieliminasi.
TITIK BALIK PERTEMPURAN
Suara mendesing kemudian menandakan kedatangan pesawat-pesawat Strikemaster. Para Adoo kini benar-benar dihancurkan. Dengan jet yang menahan serangan Adoo, Kealy punya waktu untuk merangkak ke depan dan memeriksa lubang meriam. Dia bisa melihat bahwa penembak Oman masih hidup dan begitu pula Tobin, meskipun lukanya terlihat mengerikan. Takavesi lesu bersandar pada karung pasir, seluruh tubuhnya berlumuran darah, tapi dia masih tersenyum. Di bawah kehadiran meyakinkan dari jet-jet Strikemaster, helikopter Huey berhasil mengevakuasi yang terluka. Tiga tahanan Adoo, yang telah ditangkap dan ditahan di Gedung BATT, juga dikirim kembali untuk diinterogasi. Meskipun beberapa helikopter telah terkena, mereka terus mengangkut lebih banyak bala bantuan dan mengevakuasi yang terluka. Tobin dan penembak Oman dievakuasi pada penerbangan pertama yang tersedia. Takavesi berjalan dengan tenang ke helikopter tanpa bantuan, meskipun seorang pria normal mungkin akan meninggal karena luka-luka itu. Tapi semua sudah terlambat bagi Kopral Labalaba. Dia meninggal. Tobin juga meninggal segera setelah itu. Alastair Morrison, yang memimpin pasukan bala bantuan, kemudian mengatur ulang pertahanan Mirbat dan dengan bantuan dua Land Rover mulai mengumpulkan para Adoo yang tewas dan terluka. Rumah BATT penuh dengan lubang peluru, pasir mengalir dari karung-karung pasir di atap. Lubang meriam yang bersebelahan dengan benteng dipenuhi dengan darah kental dan selongsong kosong peluru meriam 25 pounder. Di dalam benteng bergelimpangan mereka yang tewas. Tetapi tembok-tembok itu, meskipun terkena tembakan gencar, tidak dapat ditembus. Maka berakhirlah pertempuran Mirbat. Para Adoo mengundurkan diri sekitar pukul 12:30.
SETELAH PERTEMPURAN
Enam jam serangan yang hampir tak henti-hentinya oleh 250 adoo yang diperlengkapi dengan baik gagal membungkam sembilan orang SAS dan segelintir tentara pendukungnya. Setelah pertempuran, data intelijen yang dikumpulkan dari tahanan adoo mengungkapkan bahwa tujuan mereka adalah untuk merebut Mirbat, menahannya selama beberapa hari, mengeksekusi gubernur lokal dan para penasihatnya sementara itu, mengindoktrinasi penduduk kota pada keyakinan komunis mereka, dan kemudian menghilang di Jebel. Jika berhasil, itu akan menjadi kemenangan propaganda besar. Jika mereka mencapai tujuan mereka, klaim legitimasi kekuasaan pemerintah akan terdengar seperti kata-kata kosong bagi penduduk Dhofar; dan kampanye memenangkan hati dan pikiran rakyat akan sangat terganggu. Tidak akan ada orang-orang Dhofar yang berani bekerja untuk Sultan lagi. Mirbat seharusnya menjadi semacam Serangan Tet-nya adoo. Tapi mereka tidak memperhitungkan keberadaan personel SAS. Kekalahan dan kehilangan hampir 100 orang lalu memicu semangat mencari “kambing hitam” diantara jajaran adoo sendiri. Banyak pemimpin kemudian dieksekusi. Pejuang muda kemudian menjadi kecewa karenanya. Tidak heran mengapa bulan Agustus dan September terbukti menjadi bulan paling “subur” untuk membelot ke pihak pemerintah dan bergabung dengan firqat. Sedangkan untuk SAS. Mereka kehilangan dua pria pemberani. Seorang lagi terluka parah. Selain itu terdapat enam tentara dan seorang penembak artileri asal Oman tewas, ditambah satu orang Oman terluka. Para gerilyawan meninggalkan 30 mayat dan sepuluh terluka, meskipun kemudian diindikasikan bahwa setengah dari pasukan mereka tewas atau terluka. Para prajurit yang bertahan di Mirbat seharusnya mendapat penghargaan yang tinggi atas tindakan mereka pada hari itu, tetapi karena Pemerintah Inggris tidak ingin mengungkap keterlibatan mereka di Dhofar, penghargaan tidak akan diumumkan sampai 3 tahun setelah pertempuran.
Kapten Kealy kemudian menerima medali Distinguished Service Order, penghargaan tertinggi kedua di Inggris. Sayangnya Mayor Mike Kealy meninggal karena kecelakaan selama latihan SAS di Brecon Beacons pada bulan Februari 1979. Dengan nasib yang kejam, Johnny Watts komandan lamanya di Dhofar yang menemukan tubuhnya. Sementara itu, Tobin secara anumerta dianugerahi sebuah medali Distinguished Conduct medal. Tobin meninggal di rumah sakit bukan karena beberapa luka tembak tetapi karena infeksi di paru-parunya yang disebabkan oleh giginya yang pecah yang telah dia telan ketika rahang bawahnya diledakkan oleh peluru AK-47. Takavesi selamat dan diberi medali Distinguished Conduct Medal (DCM), sementara Sersan Bob Bennett menerima Military Medal. Walid Khamis, yang terluka selama pertempuran saat membantu mengawaki meriam 25 pounder menerima Medali Sultan’s Gallantry Medal, penghargaan tertinggi Oman. Kopral Labalaba baru-baru ini saja mendapatkan medali Mentioned in Dispatches. Dia seharusnya mendapatkan medali Victoria Cross. Banyak yang ingin agar Labalaba mendapatkan Victoria Cross, tetapi karena perang di Oman termasuk dalam adalah “perang rahasia” pada tahun 1972, mereka mengatakan bahwa hal itu akan menjadi berita besar di setiap surat kabar di Inggris, yang tidak baik secara politis dari sisi publikasi. Pertempuran itu lalu menandai awal berakhirnya pemberontakan. Perang kemudian berakhir pada tahun 1976, di mana SAS total telah kehilangan 12 personelnya. Meriam 25-pounder (sekarang dikenal sebagai “Mirbat gun“) yang digunakan oleh Sersan Talaiasi Labalaba selama pengepungan sekarang disimpan di Firepower museum of the Royal Artillery di bekas Royal Arsenal, Woolwich.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
BATTLE OF MIRBAT: THE NEAR ALAMO OF THE SPECIAL AIR SERVICE by Stavros Atlamazoglou; Mar 5, 2020
https://www.google.com/amp/s/sofrep.com/amp/news/special-air-services-secret-war-oman-part-5/
The Battle of Mirbat
http://britains-smallwars.com/campaigns/oman/page.php?art_url=battle-of-mirbat
How nine British heroes entered SAS legend by fighting off 400 bloodthirsty fanatics with their last bullets By Tony Rennell for MailOnline; 22:31 17 Aug 2011
Battle of Mirbat made Rorke’s Drift look like a tea party but SAS had ‘the original Rambo’ By Steve Myall; 07:13, 25 Oct 2018
It was nine men against 400 By LORD ASHCROFT; 00:00, Sat, Jul 14, 2012
Mirbat Fort Sultanate of Oman by Catweazle64; Feb 24, 2016
https://www.derelictplaces.co.uk/threads/mirbat-fort-sultanate-of-oman.32637/
The Battle of Mirbat, Oman, 19 July 1972: 22nd Special Air Service Regiment by Alan Malcher
