Pertempuran Sakarya, 23 Agustus-13 September 1921: Saat Kemal Ataturk Menyelamatkan Keutuhan Turki Dari Invasi Yunani

Pertempuran Sakarya pada tahun 1921 adalah merupakan upaya terakhir Yunani untuk mengalahkan tentara Nasionalis Turki. Pertempuran ini merupakan bagian dari Perang Kemerdekaan Turki (Turki: Kurtuluş Savaşı “War of Liberty”, juga dikenal sebagai İstiklâl Harbi yang berlangsung dari 19 Mei 1919 – 24 Juli 1923), antara Gerakan Nasionalis Turki dan kekuatan Sekutu — yaitu melawan Yunani di Barat, Armenia di Timur, Prancis di Selatan, kaum royalis dan separatis di berbagai kota, serta Inggris dan Italia di Konstantinopel (sekarang Istanbul) —setelah sebagian wilayah Kekaisaran Ottoman diduduki dan dibagi-bagi mengikuti kekalahan Ottoman dalam Perang Dunia I. Pertempuran Sakarya sendiri berlangsung selama 21 hari dari tanggal 23 Agustus hingga 13 September 1921, di dekat tepi Sungai Sakarya di sekitar Polatlı, yang sekarang menjadi distrik Provinsi Ankara. Pertempuran itu juga dikenal sebagai Pertempuran para Perwira di Turki karena tingkat korban yang sangat tinggi (70–80%) di antara para perwira yang terlibat. Pertempuran itu kemudian, itu juga disebut sebagai “Melhâme-i Kübrâ” (setara dengan Harmagedon bagi umat Muslim) oleh Kemal Atatürk, yang memegang peran penting di pihak Turki saat itu. Pertempuran Sakarya dianggap sebagai titik balik Perang Kemerdekaan Turki. Seorang pengamat, penulis, dan kritikus sastra Turki, İsmail Habip Sevük, kemudian menjelaskan pentingnya pertempuran itu dengan kata-kata, “Kemunduran (imperium Ottoman) yang dimulai di Wina pada tanggal 13 September 1683 (baru) berhenti 238 tahun kemudian (di Sakarya)”.

Pertempuran Sakarya yang berlangsung dari tanggal 23 Agustus hingga 13 September 1921, menjadi pertempuran yang sangat krusial dalam Perang Kemerdekaan Turki. Pertempuran ini menjadi penentu keutuhan Turki yang ada sampai sekarang. (Sumber: https://duzgunhaber.com.tr/)

LATAR BELAKANG

Pada musim semi tahun 1921, Tentara Yunani di Asia Kecil menemukan dirinya menghadapi situasi baru dan meresahkan. Hingga saat itu dalam serangan selama 22 bulan mereka ke wilayah Anatolia-Turki, pasukan Yunani sebagian besar menghadapi pasukan non reguler yang dikenal sebagai chettes. Dalam sebuah serangan di pusat kereta api utama Eskisehir pada bulan Maret, bagaimanapun, mereka telah mengalami perlawanan kuat yang tak terduga dari pasukan reguler Turki yang bertahan dengan gigih. Kemudian, di akhir bulan, pasukan Turki yang dipimpin oleh Mustafa Ismet Pasha datang melawan tiga divisi Yunani hingga gerakan mereka terhenti dan memaksa pasukan Yunani mundur dalam pertempuran sembilan hari yang dikenal dengan Pertempuran Inönu Kedua. Sejarawan Inggris Arnold J. Toynbee, yang menemani Divisi ke-7 dalam gerak mundurnya, belakangan menggambarkan suasana kekecewaan yang ada di antara pasukan Yunani: “Orang-orang itu marah — marah karena menghabiskan begitu banyak darah dan tenaga dengan sia-sia, tetapi bahkan lebih lagi mereka merasa dipermalukan karena kekalahan itu telah memecahkan rekor panjang kemenangan yang selama ini sangat mereka banggakan. ” Apa yang terjadi di Eskisehir mengejutkan para pemimpin militer dan politik Yunani dalam momen eskalasi perang yang penting dalam periode yang kerap digambarkan, dalam arti tertentu, sebagai epilog dari Perang Dunia I. Setelah runtuhnya kekaisaran Ottoman, Dewan Perang Tertinggi Sekutu telah menyediakan dukungan angkatan laut untuk pasukan Yunani saat mereka mendarat tanpa perlawanan di Adrianopel (Edirne), serta Bursa dan Smyrna (Izmir) pada akhir musim semi tahun 1919. Pasukan Yunani kemudian mendesak ke wilayah pedalaman ke Usak, dan pada musim panas tahun 1920 mereka telah menduduki semua wilayah Trakia. Pada tanggal 10 Agustus, Sultan Mehmed VI Vahdettin menandatangani Perjanjian Sèvres, yang mengurangi wilayah kekuasaan Turki menjadi daerah kecil yang dikelilingi oleh wilayah yang diduduki Sekutu Barat di tengah dataran Anatolia. 

Hasil dari Perjanjian Sevres tahun 1920, kekuasaan Kekaisaran Ottoman direduksi dan sebagian wilayahnya dianeksasi/diduduki oleh berbagai bangsa pemenang perang. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Meskipun Sultan telah siap menerima penurunan status imperium Ottoman yang dulu luas menjadi kekaisaran yang lemah, namun gerakan yang berkembang diantara para perwira dan negarawan menolak. Pada tanggal 23 April 1920, “Orang Muda Turki” / Young Turk ini memilih parlemen baru di Ankara dan memobilisasi tentara baru. Mereka bertekad untuk melawan Yunani — dan sekutu lainnya jika perlu. Jadi, pada bulan April 1921, lebih dari dua tahun setelah senjata-senjata di Front Barat berhenti ditembakkan, tentara Yunani menemukan diri mereka terjebak di wilayah Asia Turki melawan pasukan baru di bawah pemimpin baru, Mustafa Kemal Pasha, dan dengan kepercayaan baru, yakni semangat nasionalisme Turki. Dan Turki kemudian tumbuh menjadi semakin kuat sepanjang waktu. Menyadari bahwa mereka harus bergerak dengan tegas untuk mengakhiri perang, para pemimpin Yunani mulai merencanakan apa yang kemudian berkembang menjadi Pertempuran Sakarya, sebuah kampanye militer selama dua bulan yang membawa pasukan mereka ke dalam jarak 35 mil dari kota Ankara. Secara strategis, orang-orang Yunani menemukan garis April mereka di dataran tinggi Anatolia tidak dapat dipertahankan. Sementara Pasukan Yunani di Usak memiliki jaringan jalur kereta api langsung kembali ke pelabuhan Smyrna, pangkalan utama mereka di Anatolia, tetapi pasukan Yunani di Bursa harus bergantung pada jalur kereta api tidak langsung dari Smyrna ke Bandirma di Laut Marmara, dan kemudian melewati jaringan jalan yang buruk dari Bandirma ke Bursa. 

Mustafa Kemal Pasha, salah satu pemimpin kelompok “Young Turk” yang menolak hasil dari Perjanjian Sevres. (Sumber: https://www.jewishvirtuallibrary.org/)

Sebaliknya, pasukan Turki yang bertahan di dataran tinggi menikmati jalur komunikasi interior yang bagus dengan adanya jalur rel dari Eskisehir ke Ankara, dan dari Eskisehir ke Konya melalui Kutahya dan Afyon. Para jenderal Yunani khawatir bahwa tentara Turki akan dapat memanfaatkan semua ini untuk menyerang dengan sesuka hati mereka. Merebut Eskisehir adalah kunci untuk memberikan orang-orang Yunani front yang dapat dipertahankan di wilayah Anatolia barat. Untuk memastikan serangan berikutnya ini berhasil, pemerintahan Raja Constantine memanggil sekitar 50.000 pasukan cadangan lagi, sehingga meningkatkan kekuatan Tentara Asia Kecil Yunani menjadi 200.000 orang, dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Beberapa prajurit baru Yunani juga direkrut dari kalangan Ortodoks di bekas Kekaisaran Ottoman. Kolonel Edward Spencer Hoare Nairne, atase militer Inggris di Athena, yang menginspeksi tentara Yunani pada awal Juni, kemudian menyatakannya sebagai “kekuatan paling tangguh yang pernah digelar bangsa itu ke medan tempur. Semangatnya tinggi. Dilihat dari standar Balkan, perwira stafnya cakap, disiplin dan organisasinya bagus. ”

Pasukan Yunani berbaris di jalan pantai kota Izmir, Mei 1919. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Namun Nairne juga mencatat beberapa masalah: kekacauan politik di beberapa rantai komando, kemampuan pengintaian udara yang buruk dan tidak cukupnya perangkat nirkabel untuk menjaga komunikasi antar unit-unit Yunani. Sejauh ini, masalah terbesarnya adalah, pertentangan diantara para perwira, berkaitan dengan perpecahan besar dalam politik Yunani antara kaum Royalis dan pendukung mantan perdana menteri Eleutherios Venizelos. Sampai pemilu pada bulan November 1920, tentara Yunani didominasi oleh perwira yang pro-Venizelist. Kemudian pemerintahan Royalis yang baru di Athena mulai mempekerjakan kembali para perwira yang telah pensiun ketika Konstantin kehilangan kekuasaan ke tangan Venizelos pada tahun 1917. Letnan Jenderal Anastasios Papoulas, panglima tertinggi baru di Anatolia, baru-baru ini dipenjara di pulau Kreta. Beberapa dari kaum Royalis itu memang memiliki skill, tetapi yang lain terbukti sebagai pengganti yang buruk untuk komandan pro Venizelist berpengalaman yang mereka gantikan. Pemerintah mungkin malah memperburuk keadaan dengan tetap mempertahankan banyak perwira pro-Venizelist di ketentaraan, yang seringkali dalam posisi yang tinggi, yang memiliki efek yang tidak menguntungkan untuk mengobarkan persaingan yang mendidih antara kedua kubu saat mereka harusnya bekerja sama saat bertempur. 

Letnan Jenderal Anastasios Papoulas yang memimpin Pasukan Yunani dalam invasi ke Turki. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Pasukan Yunani pada masa Perang Yunani-Turki tahun 1920-an. Pasukan Yunani amat terbantu dengan pasokan peralatan tempur surplus yang didapat dari negara-negara sekutu Paska Perang Dunia I. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Pasukan Nasionalis Turki dalam Perang Kemerdekaan Turki. Berbeda dengan Yunani, Pasukan Turki kekurangan peralatan dan transportasi bermotor. (Sumber: https://www.pinterest.it/)

Di sisi lain, orang-orang Yunani, dengan akses mereka pada peralatan surplus Perang Dunia I dari pihak Sekutu, menikmati keuntungan material yang cukup besar. Pada bulan Juli, misalnya, mereka telah mengumpulkan lebih dari 1.000 truk untuk mengangkut perbekalan, sementara orang-orang Turki hampir tidak memiliki transportasi motor. Orang-orang Yunani juga memiliki sejumlah besar senjata artileri lapangan (410 hingga 160 unit), senapan mesin (4.000 hingga 700 unit) dan pesawat (empat hingga 20 unit). Sementara itu Tentara Nasionalis Turki harus mencari peralatan apa pun yang masih tersisa di gudang senjata bekas kekaisaran Utsmaniyah, ditambah dengan senjata dan amunisi yang mulai berdatangan dari pemerintahan baru Bolshevik di Rusia (yakni 45.000 senapan, 300 senapan mesin, hampir 100 meriam lapangan — banyak yang berasal dari rampasan orang-orang Jepang yang sempat menginvasi Siberia). Pasukan Kemal juga bisa mengandalkan pasukan infanteri petaninya untuk biasa bertempur dengan gigih, terutama saat bertahan. Bagaimanapun kemajuan militer pasukan Turki cenderung tidak terkoordinasi dan memakan banyak korban, mencerminkan korps perwira mereka yang tidak berpengalaman. Dan dengan tingkat desersi tinggi — 6.000 desersi setelah Pertempuran Inönu Kedua, misalnya. Satu-satunya keuntungan yang dimiliki oleh pihak Turki adalah di pasukan kavalerinya, yang mampu menimbulkan masalah terus-menerus di daerah garis belakang pasukan Yunani, begitu kampanye bergeser ke ruang terbuka yang luas di dataran tinggi. 

MARCH TO ANKARA

Pada tanggal 11 Juni, Konstantinus berangkat ke Smirna untuk mengambil alih komando pasukannya, ia menjadi “raja Kristen pertama yang menginjakkan kaki di tanah Anatolia sejak Perang Salib”, demikian dikatakan seorang sejarawan Inggris. Keputusannya itu juga merupakan simbol bagi orang-orang Yunani bahwa raja mereka menyandang nama kaisar terakhir Byzantium, yang terakhir terlihat bertempur di tembok kota Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453. Raja ini, bagaimanapun, bukanlah seorang prajurit; ia menyerahkan rencana perangnya kepada perwira staf umumnya dan implementasinya kepada Papoulas. Rencana yang digelar tersebut menunjukkan imajinasi dan semangat yang tinggi. Seperti pada bulan Maret, serangan Yunani akan berfokus pada wilayah Eskisehir, kunci jaringan kereta api Anatolia. Sayap selatan yang berbasis di Usak akan menyerang Afyon, dan sayap utara yang berbasis di Bursa akan mendekati Eskisehir. Namun kali ini, konsentrasi akan berada di selatan, dengan fokus khusus di Kutahya, sekitar pertengahan antara Afyon dan Eskisehir. Begitu Kutahya dan Afyon direbut, orang-orang Yunani berharap untuk bisa mengepung Eskisehir dari selatan dan memutus jalur kereta api ke Ankara, serta menjebak pasukan Turki. Pada awal bulan Juli sekitar 126.000 tentara Yunani dikumpulkan dalam 11 divisi — tujuh di selatan di Usak dan empat di Bursa. Menghadapi mereka di sepanjang garis depan adalah 122.000 tentara Turki yang terbagi dalam 18 divisi. Langkah awal pihak Yunani sengaja dikirim melalui telegram sebelumnya untuk menipu orang-orang Turki. Pada tanggal 8 Juli, dua divisi dari Pasukan Utara Yunani, yakni Divisi ke-3 dan ke-11, menunjukkan dalam gerak maju mereka yang bagus di garis yang dibentengi di luar Eskisehir, sedangkan Divisi ke-10 dan ke-7 (beroperasi sebagai Korps ke-III) bergerak diam-diam di Kutahya melalui jalan setapak yang lewat di sebelah barat Uludag, gunung yang mendominasi wilayah Bursa.

Pergerakan Pasukan Yunani dalam upaya untuk merebut Ankara (1919-1922). (Sumber: https://astrofella.wordpress.com/)

Pada hari yang sama, Divisi ke-9 dari Pasukan Selatan melakukan gerakan yang berisik ke utara dari Usak dalam empat barisan memanjang menuju pusat posisi Turki di Kutahya. Serangan asli Yunani, bagaimanapun, telah dibangun secara diam-diam di Dumlupinar, sekitar 30 mil di atas jalur kereta api ke arah Afyon. Pada tanggal 10 Juli, empat divisi dari pasukan ini, yang terdiri dari korps ke-I dan II, bergerak ke utara dari Dumlupinar, mengarah ke sayap kiri posisi pasukan Turki di Kutahya. Sementara sisa Pasukan Selatan, yakni divisi ke-12 dan 4, mulai bergerak maju ke Afyon. Sayap paling kanan dari serangan pasukan Yunani adalah yang pertama menghadapi perlawanan pada tanggal 12 Juli, ketika Divisi ke-12 (yang diperintahkan oleh Pangeran Andrew, adik raja) menghalau pasukan kecil Turki di barat Afyon, dan kemudian mulai bergerak ke utara ke Kutahya, di sebelah timur jalur kereta api. Divisi ke-4 memasuki Afyon dan membalas serangan balik yang lemah dari pasukan Turki pada tanggal 15 Juli, dan dengan demikian mengamankan sayap kanan Yunani. Sehari sebelumnya, pasukan Yunani telah melawan posisi Turki di Kutahya. Korps ke- I dan II lalu melancarkan serangan besar mereka terhadap musuh yang tersisa pada tanggal 15 Juli, dengan Divisi ke-5 bergerak jauh ke dalam posisi Turki. Serangan balik Turki yang sengit keesokan harinya menyebabkan 1.000 korban di Divisi ke-5, tetapi pasukan Yunani tetap bertahan. Pada hari yang sama, Korps ke-III yang turun dari Bursa merebut posisi di sayap kanan pasukan Turki. Sekarang terancam akan mengalami pengepungan, orang-orang Turki di Kutahya mundur malam itu menuju Eskisehir, yang lalu segera dimasuki oleh Divisi ke-10 Yunani pada tanggal 17 Juli. Korban di kedua pihak berjumlah sekitar 3.000 orang, meskipun pasukan Turki juga mengalami banyak desersi diantara pasukannya selama gerak mundur dari Kutahya. 

Pasukan Yunani di Eskisehir. (Sumber: https://military.wikia.org/)

Hilangnya Kutahya dan Afyon mengejutkan komando tertinggi Turki. Ismet (kemudian presiden dan perdana menteri Turki) kini telah memusatkan sebagian besar pasukannya di Eskisehir karena itu telah menjadi fokus serangan Yunani pada bulan Maret. Penyelidikan selanjutnya oleh Majelis Agung Nasional menemukan bahwa hanya lima dari 18 divisi Turki yang mengalami banyak pertempuran; sisanya menghabiskan sebagian besar waktu mereka dalam pergerakan yang tidak berguna. Sekarang seluruh sayap kiri Ismet telah mundur, dan Korps ke-II Yunani mulai berbaris menuju Seyitgazi, yang mengancam jalur kereta api Eskisehir ke Ankara. Dia bisa saja memerintahkan gerak mundur besar-besaran ke arah timur raihvay, meninggalkan wilayah strategis di Anatolia; namun bagaimanapun, hal ini akan berarti bahwa mereka mengakui kekalahan, dan kehilangan prestise tentara mereka di hadapan Kekuatan negara-negara Eropa. Pada hari Kutahya jatuh, Ismet menerima telegram dari Mustafa Kemal, yang telah memantau peristiwa yang sedang berlangsung dari Ankara: “Jika tidak ada masalah, saya mengusulkan bahwa saya akan segera berangkat membahas situasinya dengan Anda.” Dia tiba di stasiun kereta Eskisehir pada jam 5 pagi keesokan harinya. Seorang perwira yang hadir pada pertemuan tersebut mengatakan Kemal membuka diskusi dengan bertanya, “Apakah kita sudah kalah dalam pertempuran?” Ketika Ismet menjawab bahwa kelihatannya seperti itu, Kemal menyarankan penarikan segera pasukan Turki ke Sungai Sakarya di sebelah barat Ankara, tetapi Ismet mengusulkan serangan balik terlebih dahulu, sebuah rencana yang disetujui Kemal. Dia kemudian kembali ke Ankara. Sementara itu Korps ke-III Yunani memasuki Eskisehir pada malam 19 Juli, dan menemukan bahwa pasukan Turki telah menyelesaikan evakuasi mereka lebih awal malam itu. Keesokan harinya, Korps ke-III dan dua divisinya (ke-7 dan ke-10) bergerak maju ke perbukitan di timur Eskisehir, yang mereka temukan dipertahankan oleh pasukan Turki. Serangan di wilayah dataran tinggi itu dijadwalkan dilaksanakan pada tanggal 21 Juli, dengan Divisi ke-9 ditugaskan sebagai cadangan. Sementara itu, korps ke-I dan II Yunani mendekat dari selatan, dengan Korps II di sayap kanan dekat Seyitgazi dan Korps I melintasi jajaran Turkmen Dagi Range di tempat yang sekarang menjadi pusat dari posisi pasukan Yunani. 

Mustafa Ismet Pasha, Komandan Pasukan Turki di fase awal Invasi Yunani ke Ankara, (Sumber: http://www.turkeyswar.com/)

Serangan Ismet sendiri dilakukan pada tanggal 21 Juli yang difokuskan pada bagian kiri dan tengah dari pasukan Yunani, berharap untuk dapat memutus jalur komunikasi Yunani dengan Bursa dan Kutahya. Bagaimanapun orang-orang Yunani sudah siap, dan mereka menahan kemajuan pasukan Turki di sepanjang garis depan, dan menindaklanjutinya dengan serangan balik yang membuat lawan mereka mundur dalam kekacauan. Melihat dari atas bukit, Pangeran Andrew menggambarkan barisan panjang orang-orang Turki yang mundur “menimbulkan awan debu melintasi dataran jauh di timur Eskisehir.” Sekali lagi tingkat desersi diantara pasukan Turki tinggi, berjumlah sekitar 31.000 bila digabungkan dengan pertempuran sebelumnya di Kutahya. Secara keseluruhan, tentara Nasionalis telah kehilangan sekitar 40.000 orang dalam dua pertempuran tersebut, dibandingkan dengan sekitar 8.000 orang di pihak Yunani (1.491 tewas, 6.454 luka-luka, dan 110 hilang). Pasukan Turki yang tersisa mundur dengan teratur menuju ke Ankara, di mana pemerintah segera membuat keputusan untuk memindahkan ibu kotanya lebih jauh ke timur ke Kayseri jika itu diperlukan. Faktanya kantor-kantor dan dokumen-dokumen penting telah dikirim ke Kayseri, tetapi Majelis Agung Nasional tetap bersidang di Ankara, di mana pada tanggal 5 Agustus mereka memilih untuk menunjuk presidennya, Mustafa Kemal, sebagai panglima tertinggi selama tiga bulan. Pengendalian dari pihak tentara telah membantu Kemal memperkuat posisi politiknya pada suatu titik dimana sebelumnya dia mendapat kecaman karena menyerahkan wilayah paling subur negaranya kepada orang-orang Yunani.

MUSTAFA KEMAL AMBIL ALIH KOMANDO

Salah satu tindakan pertama Kemal sebagai panglima tertinggi adalah mengumumkan kepada bangsanya bahwa musuh akan “dicekik di bagian dalam tanah air (kita)”. “Tidak ada garis pertahanan; yang ada adalah pertahanan diatas. Yang diatas itu adalah seluruh tanah air. Tanah air tidak bisa ditinggalkan kecuali setiap jengkal tanah diairi dengan darah warganya. Oleh karena itu, setiap bagiannya (persatuan), kecil atau besar, bisa dilempar keluar dari posisinya. Namun, ketika setiap bagian, kecil atau besar, dapat berdiri lebih dulu, mereka akan dapat membentuk front untuk melawan musuh lagi dan terus bertarung. Mereka berkewajiban untuk bertahan dalam posisinya hingga akhir.” lanjutnya. Dia mengikuti ucapannya itu dengan pemerintahan tangan besi yang dikenakan pada penduduk Turki yang kurang lebih telah terus menerus berperang sejak tahun 1912 (awal Perang Balkan), dengan menguasai hampir setengah dari persediaan kain, kulit, tepung, sabun dan lilin yang tersedia, bersama dengan seperlima dari kuda, gerobak dan gerbong. Rekrutan baru yang dimobilisasi dari berbagai provinsi segera memulihkan kekuatan tentara Turki menjadi sekitar 90.000 orang, yang sekarang menghadapi sekitar 100.000 tentara Yunani di Anatolia barat. Kemal berencana menyebarkan pertempuran di area yang luas. Dengan demikian, pasukan Yunani akan bisa dipisahkan dari markas mereka dan terpecah-pecah. Sementara itu, Majelis Agung Nasional Turki memberhentikan Kepala Staf Umum İsmet Pasha pada tanggal 3 Agustus 1921 dan menunjuk Fevzi Pasha, yang juga Wakil Presiden dan Deputi Pertahanan Nasional, untuk jabatan ini. Tentara Turki, yang mulai mundur ke timur Sungai Sakarya pada 22 Juli 1921, dari selatan ke utara, yakni Korps Kavaleri (di selatan Gunung Çal) ke-12, ke-1, ke-2, ke-3, ke-4 diatur untuk menjadi di baris pertama pertahanan.

Untuk meningkatkan moral pasukan Yunani, Raja Constantine I ikut datang mendampingi tentaranya dalam invasi ke Turki. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Komando tertinggi Yunani kemudian harus memutuskan apakah mereka akan berpuas diri dengan wilayah yang sudah ada di tangan mereka atau akan terus maju menuju ke Ankara. Sementara itu kemenangan di Eskisehir telah meningkatkan posisi strategis Yunani, meskipun itu juga membebani mereka dengan jalur pasokan yang lebih panjang dan lebih rentan dari Smyrna. Namun maju ke Ankara mempertaruhkan risiko tentara mereka untuk dihancurkan di stepa terbuka wilayah Anatolia. Pada akhir bulan Juli, Raja Constantine, Perdana Menteri Dimitrios Gounaris, Jenderal Papoulas dan tokoh politik dan militer penting lainnya bertemu di Kutahya untuk merencanakan langkah mereka selanjutnya. Apa yang terjadi disana kemudian menjadi bukti perbedaan pendapat yang kuat di antara orang-orang itu bahwa perintah yang muncul pada tanggal 28 Juli menjadi ambigu dan ragu-ragu, seolah-olah mencoba untuk menenangkan semua faksi. Di satu sisi, tentara Yunani diperintahkan untuk maju ke Sungai Sakarya dan, jika “bertemu dengan musuh dan (bisa) mengalahkannya”, agar melanjutkan gerakan ke Ankara. Di sisi lain, jika pasukan Turki mundur di seberang Sakarya, tentara Yunani diperintahkan untuk “maju atau berhenti sesuai dengan keadaan saat itu”. Jika keadaan itu terbukti tidak menguntungkan, tentara Yunani harus kembali ke Eskisehir setelah menghancurkan sekitar 60 mil rel kereta api. 

Raja Constantine mendekorasi bendera perang resimen Angkatan Darat Yunani setelah Pertempuran Kütahya-Eskişehir, selama Perang Yunani-Turki (1919–1922). (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

“Sungguh membingungkan tujuan mereka di sini,” kata ahli sejarah Michael Llewellyn Smith yang keheranan setelah merangkum strategi pihak Yunani. Dia melanjutkan dengan pertanyaan, “Apakah gerak maju ke Ankara akan menjadi sebuah pukulan terakhir (yang menentukan), atau hanya (sekedar) serangan penghukuman?” Jawabannya tampaknya bergantung pada apakah tentara Nasionalis akan membiarkan dirinya dihancurkan di dataran terbuka, seperti yang diharapkan orang-orang Yunani, atau bertahan di belakang wilayah Sakarya. Sementara itu meskipun Papoulas awalnya menentang kampanye militer tersebut, ia akhirnya pergi bersama dengan pendukungnya seperti Kolonel S. Sariyannis, wakil kepala staf angkatan darat, Jenderal Xenophon Stratigos, wakil kepala staf umum, dan Perdana Menteri Gounaris karena alasan politik pada instruksi tanggal 28 Juli. Seperti yang ditunjukkan Smith dalam analisisnya, “Papoulas membiarkan dirinya dibujuk untuk melancarkan serangan yang hanya setengahnya dia yakini, dan yang objeknya dirumuskan secara tidak tepat, dengan keyakinan bahwa jika tentara mengalami kesulitan, ia bisa mundur begitu saja tanpa membahayakan mereka sendiri. ” Jarak ke Ankara dari Eskisehir sekitar 120 mil dengan rute kereta paling cepat. Lanskap wilayah yang dilalui berpenduduk jarang dan di antaranya didominasi oleh pegunungan di sebelah utara dan lanskap seperti gurun di bagian selatan. Karena gerak maju di bagian utara jalur kereta api akan diperlambat oleh daerah pegunungan, orang-orang Yunani memutuskan untuk berbaris melalui daerah gersang di selatan, yang cukup datar untuk memungkinkan penggunaan transportasi bermotor.

Pertempuran di Sakarya terjadi di sepanjang Sungai Sakarya di sekitar Polatlı, yang membentang sepanjang 62 mil dari garis pertempuran. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Tapi 73 mil di sebelah barat Ankara terletak Sungai Sakarya, di belakang tepiannya yang curam yang dipertahankan oleh tentara Nasionalis, di bawah arahan pribadi Kemal. Namun, penghalang alami yang diberikan oleh Sakarya berakhir sekitar 25 mil di selatan jalur rel, di mana sungai berbelok ke barat. Dari titik selatan itu hanya ada tanah terbuka. Jadi kaum Nasionalis menempatkan sayap kiri mereka di Sungai Ilicaozu, yang mengalir ke Sakarya di sudut kanan dari arah timur, dan kemudian Sungai Katrandji, yang menghubungkan dengan Ilicaozu, juga dari arah timur. Garis pertahanan Turki, kemudian, menyerupai sebuah sudut, dengan sayap kanan di sepanjang Sakarya dan sayap kiri yang dibentuk di sepanjang Ilicaozu dan Katrandji. Kemal kemudian berkomentar bahwa tekanan serangan Yunani di kedua sisi ini akhirnya akan memaksa garis depannya sendiri kembali menghasilkan (baginya) front yang lebih kompak. Sementara itu Orang-orang Yunani akan mengalami efek sebaliknya. Karena Ilicaozu dan Katrandji jauh lebih dangkal daripada Sakarya, mereka menjadi sasaran mudah dalam serangan. Tapi itu berarti membawa sayap kanan Yunani jauh dari depot pasokannya melalui daerah yang sangat sulit dilalui, yang sebagian termasuk pinggiran Gurun Garam Anatolia yang luas. 

PERTEMPURAN SAKARYA

Gerak maju pasukan Yunani dimulai pada tanggal 14 Agustus dalam tiga barisan, yang masing-masing terdiri dari tiga divisi. Sedari awal perhitungan logistik sudah tidak menguntungkan orang-orang Yunani. Meskipun mereka telah memulai kampanye militer mereka pada bulan Juli dengan 11 divisi, dua divisi sekarang harus ditinggalkan untuk menjaga jalur pasokan — Divisi ke-4 dekat Afyon dan Divisi ke-11 di timur Bursa. Di utara, Korps ke-III berjalan di sepanjang jalur Sungai Porsuk dan jalur rel Eskisehir, yang sejajar satu sama lain sejauh 75 mil sampai wilayah Porsuk bergabung dengan Sakarya 45 mil di sebelah barat Ankara. Kekuatan ini merupakan sayap kiri Yunani, yang tugasnya melindungi Sivrihisar (kota utama di jalan menuju Eskisehir) sebelum kemudian menggeser dua dari tiga divisinya ke selatan untuk mendukung sayap kanan, yang terdiri dari korps ke-I dan II. Pangeran Andrew, yang sekarang memimpin Korps ke-II di sayap kanan, mengalami saat-saat tersulit, karena anak buahnya harus berbaris melalui bagian Gurun Garam Anatolia di bawah terik matahari musim panas. Dia menggambarkannya sebagai “daerah gurun tanpa air, di mana semua desa berjarak tujuh atau delapan jam, dan penduduknya bahkan tidak punya cukup makanan untuk diri mereka sendiri”. Pada tanggal 23 Agustus, setelah sembilan hari berbaris mati-matian, sayap kanan pasukan Yunani dengan tujuh divisi (korps ke-I dan II, dan sebagian besar Korps ke-III) sudah berada di posisi selatan Ilicaozu. Hanya Divisi ke-7 dari Korps ke-III yang tersisa di tikungan Sakarya menghadap sayap kanan pasukan Turki. Rencana awal Papoulas adalah menggunakan divisi itu untuk menekan pasukan Turki tetap di garis Sakarya sementara pasukan utamanya menyerang sayap kiri pasukan Turki. Tapi dia memakai data intelijen yang salah yang menempatkan sebagian besar tentara Nasionalis lebih jauh ke arah utara di sekitar depot rel kereta api di Polatli. Nyatanya, Kemal telah memperkirakan upaya utama dari pihak Yunani akan datang dari arah selatan dan menempatkan sebagian besar pasukannya di sepanjang Ilicaozu. 

Divisi infanteri ke-9 Yunani berbaris melalui padang rumput. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pertempuran pecah di Dataran Tinggi Haymana, dataran sekitar 3.000 kaki di atas permukaan laut yang didominasi oleh beberapa gunung (dag), yang paling menonjol adalah Mangal, Yildiz, Ardiz dan Cal. Orang-orang Yunani mencapai kesuksesan penting pada hari pertama ketika Korps ke-I berhasil merebut Mangal Dag di selatan Ilicaozu setelah menghadapi perlawanan ringan. Sementara itu, Kemal yang marah mengancam para komandannya dengan pengadilan militer jika mereka gagal mempertahankan posisi baru mereka di belakang Ilicaozu. Benar saja, apa yang awalnya merupakan kampanye manuver cepat sekarang berubah menjadi pertempuran yang hebat, ketika orang-orang Turki melawan balik dari setiap bukit dan punggung bukit. Rencana Papoulas untuk mengepung sisi kiri Turki terbukti di luar kemampuan Korps ke-II Andrew, yang ditahan di daerah pegunungan yang dikenal sebagai Gua Kale. Strateginya kemudian bergeser ke penyerangan dari arah tengah, yang dipimpin oleh korps ke-I dan III. Andrew kini mengamati bahwa seluruh gerak maju Yunani segera menjadi terfragmentasi di wilayah pegunungan, medan yang hancur, dengan unit-unit yang seringkali tidak dapat saling mendukung. Dia mencatat, “Pertempuran telah diubah menjadi pertempuran lokal, masing-masing korps bertempur atas tanggung jawabnya sendiri, dan sering terjadi bahwa satu korps menemukan dirinya terlibat dalam pertempuran sengit sementara korps tetangganya tidak melakukan apa-apa.”

Pangeran Andrew, komandan Korps ke-II Yunani. Pangeran Andrew adalah kakek Pangeran Charles, putra mahkota Inggris saat ini. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Kalau dilihat-lihat, Papoulas sepertinya memindahkan terlalu banyak pasukan dari sayap kirinya, yang sebenarnya bisa mencapai hasil lebih dari itu. Karena pasukan Turki juga telah memindahkan begitu banyak orang ke selatan, Divisi ke-7 Yunani berhasil menyeberangi Sakarya dengan sangat mudah untuk menekan depot pasokan utama pasukan Turki di Polatli. Divisi Ke-7 akhirnya bersatu kembali dengan Korps ke-III, yang merebut Yildiz Dag di utara Ilicaozu pada tanggal 30 Agustus. Korps ke-I di tengah merebut Ardiz Dag pada hari yang sama dan melanjutkan aksinya ke Cal Dag, sebuah perkembangan yang mengkhawatirkan bagi Turki. Cal Dag berada 1.000 kaki dari dataran dan posisinya strategis mengamati medan perang, tetapi sulit untuk dipertahankan karena kurangnya vegetasi yang menutupi (Cal berarti “gundul, berbatu” dalam bahasa Turki.) Pada tanggal 26 Agustus, Ismet sebenarnya telah mengusulkan gerak mundur ke garis pertahanan baru, tetapi Mustafa Fevzi, kepala staf umum, memutuskan untuk mempertahankan posisi Cal Dag dan membawa bala bantuan dari sayap utara. Sedangkan Kemal terus menuntut agar setiap bagian wilayah dipertahankan; meski dia tetap memerintahkan pekerjaan untuk memulai pembuatan garis pertahanan baru di pinggiran Ankara, yang mana warganya kini dapat mendengar suara tembakan artileri dari kejauhan. 

Infanteri Yunani mendekati ketinggian di Polatlı. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pasukan Evzones Yunani dari Resimen 1/38 Evzones maju menuju posisi Turki. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Puncaknya terjadi pada tanggal 2 September, ketika Divisi ke-2 Korps ke-I Yunani merebut lereng timur Cal Dag; sedang Divisi ke-10 dari Korps ke-III menguasai sisi barat keesokan harinya. Wartawan Turki, Halide Edip ingat bahwa ketika Kemal mengetahuinya, “Dia mengomel, mengumpat, berjalan mondar-mandir, berbicara dengan keras … dan “menyiksa” dirinya sendiri dengan pertanyaan apakah dia harus memerintahkan gerak mundur atau tidak.” Ini adalah pertanyaan “bagaimana jika?” dalam sebuah momen kampanye militer. Bagaimana jika Kemal sudah putus asa, atau jika Papoulas mampu melemparkan divisi baru ke dalam pertempuran? Kini hanya 35 mil yang memisahkan antara Cal Dag dari pinggiran Ankara. Namun Papoulas tidak bisa memanfaatkan kemenangan tersebut. Divisi ke-10 mencoba untuk maju melewati Cal Dag, tetapi didesak kembali pada tanggal 7 September. Kerugian besar, kurangnya pasokan dan kelelahan umum semuanya telah memakan korban mereka pada pasukan Yunani sementara kavaleri Turki mendatangkan malapetaka di daerah garis belakang mereka, bahkan hampir menangkap Papoulas sendiri pada tanggal 26 Agustus. Panteles Priniotakis, seorang letnan di Divisi ke-3, mengingat bagaimana persediaan makanan mulai menipis pada pertengahan bulan Agustus karena semua truk digunakan untuk mengangkut amunisi dan mereka yang terluka. Resimennya, Infanteri ke-6, diperintahkan untuk memperbaiki kincir air yang setengah rusak untuk membuat tepung dari biji-bijian yang dapat dirampas di sekitarnya. “Saya tidak akan pernah lupa,” Priniotakis menulis, “bagaimana para perwira perbekalan… menemukan tiga karung semen, yang salah dikira tepung, dan membawanya ke markas resimen, di mana kesalahan mereka akhirnya disadari.” 

Serangan pasukan infanteri Yunani di dekat Sungai Gediz. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

“Kelaparan itu terus ada,” tulis Nikos Vasilikos, seorang perwira dari Divisi ke-7 pada tanggal 3 September. “Kekuatan saya telah terkuras oleh panasnya siang hari, dinginnya malam yang tak tertahankan, rasa haus yang kejam, dan kutu yang menjengkelkan yang dengan rakus menyedot sedikit darah yang saya miliki …. Semakin hari berlalu dengan lebih banyak kematian dan kesusahan, semakin cepat harapan kita menguap untuk segera bisa masuk ke Ankara. ” Sementara itu, Papoulas meminta panduan dari pemerintahnya apakah mereka harus melanjutkan kampanye militer itu. Upaya yang dibatalkan untuk memperpendek garis depan dengan menggeser Korps ke-II ke posisi sayap kiri telah menyebarkan kebingungan di antara pasukan Yunani, di mana itu dipandang sebagai langkah penarikan; Musuh politik Pangeran Andrew kemudian menggunakan insiden ini untuk menyalahkannya atas kekalahan tersebut. Ketika orang-orang Yunani ragu-ragu, pasukan Turki melakukan serangan balik dan merebut kembali Cal Dag pada tanggal 8 September. Mereka juga mulai menekan Korps ke-III, yang melindungi sayap kiri Yunani yang dipertahankan dengan lemah. Pada tanggal 9 September, staf umum Yunani mengumumkan bahwa mereka telah memutuskan, sementara waktu, “untuk menangguhkan upaya militer tentara Yunani.” Pada hari yang sama, Kemal dengan percaya diri memindahkan markasnya dari Alagöz ke Polatli, lebih dekat ke garis depan, menandakan kepercayaan dirinya yang telah tumbuh. Pasukan Turki kemudian melakukan serangan balik yang diprakarsai dan dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha sendiri pada 10 September.

Lukisan Pertempuran Sakarya tahun 1921. (Sumber: https://tr.m.wikipedia.org/)
Mayat pasukan Yunani yang tewas setelah pertempuran Sakarya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Papoula akhirnya menyerah pada tanggal 11 September, memerintahkan ketiga korps tentaranya untuk kembali melintasi Sakarya. Pernyataan resmi dari Raja Konstantin meyakinkan pihak tentara bahwa “pekerjaan yang telah Anda lakukan sejauh ini sudah cukup untuk (memenuhi) tujuan kami.” Tapi tidak ada yang dapat menyamarkan fakta bahwa pihak Yunani baru saja kehilangan kesempatan terbaiknya untuk memenangkan perang. Ismet kemudian menilai Papoulas sebagai komandan yang kompeten tetapi cenderung terlalu mudah putus asa ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana. “Papoulas (berupaya) menghindari bencana,” katanya, menambahkan, “Tapi dia tidak akan pernah memenangkan satupun pertempuran (dengan cara seperti itu).” Penarikan pasukan Yunani sendiri sebenarnya bisa menjadi bencana. Pangeran Andrew merasa ngeri apabila mendapati pasukan Yunani yang mundur tersendat dengan barisan transport mereka saat berusaha menyeberangi sungai dan beberapa unit lainnya berkeliaran tanpa tujuan di sisi lainnya. Jika saja pasukan Turki membawa senapan mesin ke sisi sungai yang mereka kuasai, dia menulis, “kehancuran (pasukan Yunani) akan besar dan lengkap.”

KISAH PENUTUP

Satu-satunya hal yang menyelamatkan orang-orang Yunani adalah kelelahan yang sama juga menghinggapi pihak Turki. Pada saat pasukan Turki mulai melakukan pengejaran pada tanggal 13 September, tidak ada lagi orang-orang Yunani di sebelah timur Sakarya. Dikejar dengan hanya oleh pasukan kavaleri, Tentara Asia Kecil Yunani kembali ke garis pertahanannya di timur Eskisehir pada tanggal 22. Secara total pertempuran tersebut berlangsung selama 22 hari dan berlangsung di area sejauh 100 km. Tentara Yunani mundur dalam jarak 50 km dari Ankara. Ketika tentara Yunani mundur, mereka berhati-hati untuk tidak meninggalkan apa pun yang bisa digunakan orang-orang Turki. Dalam perhitungan militer, Pertempuran Sakarya dapat digambarkan sebagai pertempuran dengan hasil imbang. Sementara itu menurut standar perang besar Eropa, korban jiwa yang ditimbulkan terhitung rendah dan relatif sama, yakni: 3.700 tewas dan 18.000 luka-luka di pihak Turki, dibandingkan dengan 4.000 dan 19.000 orang di pihak Yunani, meskipun Yunani juga meninggalkan hampir 15.000 tawanan dan pembelot, dibandingkan dengan hanya 1.000 orang dari pihak Turki. Walau mundurnya pasukan Yunani telah membuat posisi strategis mereka semakin kuat, karena mereka masih menguasai jalur rel Eskisehir – Afyon. Namun seperti orang-orang Jerman dalam pertempuran Kursk pada tahun 1943, orang-orang Yunani telah kehilangan inisiatif strategis, yang tidak akan pernah mereka dapatkan kembali. Lereng Cal Dag ternyata merupakan posisi paling jauh yang bisa mereka capai dalam petualangan Anatolia mereka. Meskipun perang masih akan berlanjut selama 12 bulan lagi, tentara Yunani tidak akan pernah melakukan serangan besar lainnya. Pihak Nasionalis Turki, bagaimanapun, telah diperkuat kembali.

Mustafa Kemal dan Salih (Bozok) di Bukit Duatepe, mengamati posisi musuh. Pertempuran Sakarya jelas meningkatkan kepercayaan diri kaum Nasionalis Turki dan Mustafa Kemal Atatürk, khususnya yang nanti menjadi pemimpin yang memodernisasi Bangsa Turki. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Kartun politik: Raja Yunani Constantine kabur dari bom bertuliskan “KEMAL”. Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Perjanjian Lausanne, ditandatangani pada tahun 1923 yang menjamin kemerdekaan Turki, menggantikan Perjanjian Sèvres. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Setelah pertempuran itu, Mustafa Kemal mampu mendeklarasikan mobilisasi umum, sebuah langkah yang belum pernah ia rasakan cukup kuat secara politik untuk diambil sebelumnya. Majelis Agung Nasional juga mempromosikannya menjadi marshal dan memberinya gelar kehormatan gazi, yang menandakan seorang pejuang Islam yang heroik. Di pihak Yunani, Papoulas bertahan sebagai panglima tertinggi sampai bulan Mei 1922, ketika ia mengundurkan diri dan digantikan oleh Jenderal Georgios Hatzianestis, yang malang dengan berakhir dieksekusi di regu tembak. Setelah ini, pemerintah Ankara menandatangani Perjanjian Kars dengan Rusia, dan Perjanjian Ankara yang paling penting dengan Prancis, sehingga mengurangi front musuh terutama di teater Cilician. Kini Turki bisa berkonsentrasi untuk melawan pasukan Yunani di bagian Barat. Bagi pasukan Turki itu adalah titik balik perang, yang akan berkembang dalam serangkaian kemenangan pertempuran mereka melawan Yunani, dan pada akhirnya mengusir penjajah dari seluruh wilayah Asia Kecil dalam Perang Kemerdekaan Turki. Orang Yunani tidak bisa berbuat apa-apa selain mundur. Pada tanggal 26 Agustus 1922, serangan Turki dimulai dengan Pertempuran Dumlupınar. Kemal mengirim tentaranya ke arah pantai Laut Aegea mengejar tentara Yunani yang hancur, yang berujung pada serangan langsung ke Smirna antara 9 dan 11 September 1922. Kemalangan Yunani berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Lausanne pada tanggal 24 Juli 1923, dengan pihak Yunani dipaksa untuk menerima Sungai Maritza sebagai batas barat Republik Turki yang baru. Sementara itu Mustafa Kemal yang menjadi orang kuat Turki akhirnya akan menggunakan modal dukungan militer dan politiknya itu untuk memodernisasi negaranya di bawah julukan Ataturk (bapak bangsa Turki) yang diadopsinya. 

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Battle that Made Kemal Ataturk by Kenneth Cline 

Epic Written in Blood of Turkish Nation, Battle of Sakarya Square

https://www.google.com/amp/s/raillynews.com/2020/07/Battle-of-the-epic-Sakarya-square-written-with-the-opinion-of-the-Turkish-nation/amp/

Re: Battle of Sakarya 1921 by Tosun Saral

https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?t=135922

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Sakaryahttps://en.m.wikipedia.org/wiki/Turkish_War_of_Independence

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *