Pada tahun 1925 seorang pengamat Angkatan Laut di Inggris telah menerbitkan buku berjudul “The Great Pacific War”. Dalam buku itu Hector C. Bywater, penulisnya, meramalkan bahwa suatu ketika konflik akan terjadi di pasifik antara Jepang dan Amerika yg didahului dengan serangan mendadak oleh Jepang. Prediksi Bywater lewat bukunya ini kemudian menarik perhatian para sejarawan dan pengamat militer karena memiliki banyak kesamaan dengan strategi yang digunakan pihak-pihak yang nantinya berperang di Pasifik dalam Perang Dunia II. Salah satu yang menjadi misteri terbesar dari semuanya ini adalah apakah Laksamana Isoroku Yamamoto, perencana perang utama Jepang di masa-masa awal Perang Pasifik pernah membaca, mempelajari dan benar-benar melaksanakan strategi yang diramalkan oleh Bywater dalam bukunya ini?
KHAYALAN AKURAT YANG MENCENGANGKAN
Bywater dalam buku karangannya membayangkan bahwa Jepang akan melakukan serangan mendadak terhadap kehadiran angkatan laut Amerika di Pasifik dan meluncurkan invasi secara simultan ke Guam dan Filipina. Dengan mengambil langkah berani seperti itu, Bywater menghitung, Jepang bisa membangun wilayah Kekaisaran yang hampir kebal di kawasan Pasifik barat. Dia juga menduga bahwa, mengingat waktu, Amerika Serikat akan melakukan serangan balik. Jarak yang sangat jauh akan memisahkan musuh setelah jatuhnya Guam dan Filipina, tetapi pada akhirnya, Bywater percaya, Amerika Serikat akan dapat mencapai posisi Jepang dengan melakukan kampanye baru menjalankan operasi amfibi merebut pulau-pulau melintasi Pasifik tengah. Hasilnya, katanya, akan sangat “menghancurkan” bagi si penyerang. Dengan hasil itu dalam pikirannya, ia memajukan ide-idenya dengan harapan menghalangi Jepang untuk mencoba petualangan semacam itu di masa depan. Dua buku karangan Bywater dan banyak artikel tentang strategi di Pasifik kemudian menarik perhatian singkat dari publik dan segera dilupakan setelahnya. Tetapi bagi orang-orang angkatan laut profesional di kedua sisi Pasifik, karyanya menjadi bacaan wajib. Memang, Bywater bisa dibilang menggantikan Laksamana Alfred Thayer Mahan sebagai pengamat terkemuka dunia dalam teori dan praktik tempur angkatan laut. Pengaruh Bywater di Angkatan Laut AS juga sedemikian rupa sehingga banyak perwira di tingkat tertinggi menganggapnya “seorang nabi.” Dia adalah analis pertama yang secara terbuka menjelaskan konsep revolusioner dari strategi island-hopping melintasi rantai kepulauan Marshall dan Caroline, sebuah konsep yang kemudian menjadi dasar strategi Amerika selama perang. Satu setengah tahun setelah Bywater menerbitkan proposal ini, angkatan laut secara drastis merevisi Rencana Perang Oranye rahasianya—rencana darurat resmi dalam perang melawan Jepang. Pilihan rencana itu untuk melakukan serangan sembrono melintasi Pasifik, yang menurut Bywater pasti akan gagal, kemudian digantikan dengan langkahnya yang hati-hati dan maju selangkah demi selangkah.
Bywater menggambarkan bahwa konflik besar itu dimulai dengan pendudukan beberapa tempat penting di Manchuria, Formosa, dan Korea oleh Jepang. Selanjutnya, Bywater menulis bahwa dalam ketegangan itu Jepang dan Amerika akan bertukaran nota diplomatik. Secara tidak terduga, di tengah perundingan yg sedang dilakukan, Jepang menyerang Amerika. Menurut ramalan dalam bukunya, Bywater menyebut bahwa Jepang menyerang squadron America yg berlayar di lepas pantai Teluk Manila. Jadi bukan Pearl Harbor yg diserang. Tetapi hasilnya sama, yaitu kehancuran sejumlah besar armada Amerika. Bywater mengkhayalkan bahwa serangan itu akan dimulai dengan pesawat yg bertolak dari kapal induk. Bywater percaya bahwa pertempuran itu tidak seimbang karena armada Jepang memiliki unsur pendadakan. Apalagi relatif lebih modern dari armada Amerika.
Bywater bagaimanapun tidak dapat melihat bahwa Jepang juga akan menyerang Malaya, Birma dan Hongkong setelah Pearl Harbor. Meski demikian, khayalan Bywater tentang penyerbuan Jepang ke Guam dan Filipina sungguh mengejutkan. Ia meramalkan bahwa Guam akan diserang oleh pesawat-pesawat Jepang yg terbang dari sebuah pangkalan rahasia dì Saipan. Sasaran utama serangan itu adalah sebuah menara radio di Machanao. Setelah serangan itu, kapal-kapal perang Jepang menghujani tembakan, termasuk meriam yang berisi gas maut. Pemakaian peluru gas itu adalah satu-satunya kesalahan ramalan Bywater. Bahkan ia meramalkan penggunaan kapal pendarat khusus, yaitu ponton besar yg diberi motor penggerak untuk mendaratkan tank atau artileri dan pasukan infanteri dari kapal ke pantai. Ramalan itu memang terjadi. Pasukan Amerika menyerah pada tanggal 10 Desember 1941.
Pada saat bersamaan, menurut Bywater, Filipina juga diserbu. Menurutnya, apa yg dikhawatirkan oleh tentara pendudukan Jepang adalah adanya sekitar 30 pesawat baru yg didatangkan dari Amerika (kenyataannya Amerika mendatangkan 35 pesawat bomber B-17 Flying Fortress yg saat itu masih terhitung baru ke Filipina). Perebutan Filipina dimulai dengan pemboman pangkalan udara Dagupan. Yg kemudian terjadi adalah landasan Clark Field yang diserang. Dagupan sendiri fungsinya sudah digantikan oleh Clark Field yang letaknya tidak jauh dari Dagupan. Disebabkan Jepang punya laporan intelijen yg lengkap tentang pertahanan di Filipina, maka mereka menghindari beberapa perbentengan di Corregidor (dekat Teluk Manila) dan Olongapo (dekat Teluk subic). Nyatanya dalam penyerbuan Filipina kedua tempat itu memang dihindari oleh Jepang. Untuk mengacaukan pertahanan lawan, Jepang akan melakukan serangan pemboman tipuan di Santa cruz, sebelah barat Luzon. Karangan Bywater itu juga terjadi. Tentara Jepang tidak saja melancarkan pemboman tipuan tapi juga melakukan pendaratan tipuan di Aparri dan Vigan (Bagian Utara luzon) serta Legaspi (Bagian selatan Luzon).
Menurut Bywater pendaratan utama akan dilakukan di Teluk lingayen, yaitu sebelah barat laut Manila, lalu Teluk Lamon yg terletak di antara Pulau Cabalete dan Alabat di tenggara manila. Kedua kekuatan pendarat itu lalu akan menyatu menuju Manila dari arah Utara dan Selatan. Pulau terbesar kedua di Filipina, Mindanau akan diserang setelah pendaratan di Teluk Sindangan. Besarnya kekuatan tentara penyerbu diperkirakan Bywater mencapai 100.000 orang. Apabila kita menengok sejarah penyerbuan Jepang di Filipina pasti akan terkejut, Letnan Jenderal Masahoru Homma, komandan AD ke-14 Jepang yg menyerang Filipina di Bulan Desember 1941, sepertinya melakukan operasi militer sambil membaca buku Bywater. Dalam banyak hal ramalan Bywater benar-benar terjadi. Pasukan Homma saat itu berkekuatan 65.000 orang. Dua pendaratan Homma dilakukan di Teluk Lingayen dan teluk Lamon. Lalu pendaratan utama ketiga terletak di Mindanau (seperti ramalan Bywater), hanya saja terjadi di Teluk Davao bukan di Sindangan. Apabila diingat bahwa Filipina mempunyai lebih dari 7.000 pulau, agaknya ramalan Bywater dan kejadian yg sesungguhnya dapat dikatakan sebagai suatu kebetulan yg luar biasa.
Setelah perang pecah antara Amerika-Jepang, Bywater meramalkan bahwa Amerika akan berusaha mendesak jepang dari pasifik dengan menyerang kepulauan Osagawara (tidak jauh dari Iwojima). Keberhasilan merebut Pulau itu akan mempercepat kekalahan Jepang, demikian menurut Bywater. Dalam usaha merebut pulau itu seringkali tentara Amerika mengalami kesulitan perbekalan karena terlalu jauh dari induk pasukan. Tetapi Bywater tidak dapat memperkirakan bahwa pada pertempuran laut kemudian bukan dengan baku tembak antar kapal perang tapi dengan menggunakan pesawat-pesawat yang diluncurkan dari kapal induk. Kekeliruan ini agaknya dapat dimengerti, karena Bywater menulis saat orang masih mengagung-agungkan kapal tempur sebagai kekuatan utama AL. Meski demikian, ternyata Bywater sanggup melihat kemungkinan adanya Kamikaze. Menurut Bywater, setelah Jepang terdesak, ditambah dengan fanatisme terhadap Kaisarnya, maka para penerbang Jepang tidak akan ragu untuk menghancurkan lawan dengan cara menubrukkan diri. Bywater juga menyebut bahwa pesawat pembawa torpedo akan lebih bermanfaat dibanding Pesawat bomber. Nyatanya hampir semua kapal Amerika yg tenggelam di Pearl Harbor dan kapal raksasa HMS Repulse dan Prince of Wales milik Inggris yg ditenggelamkan di sebelah timur Malaya juga tenggelam karena torpedo. Bywater memang tidak dapat memprediksi adanya senjata macam bom atom, tetapi secara samar-samar Bywater menyebut bahwa Amerika akan menemukan cara tertentu untuk mencegah lebih banyak korban di pihak Jepang dan Amerika sendiri, seandainya mereka harus melakukan Invasi ke Jepang.
Konsep Bywater yang menggambarkan penghancuran armada Amerika disertai serangan ke pasifik barat dan selatan merupakan suatu konsep yg berbeda pada saat itu. Konsep ini jelas bertentangan dengan konsep yg dianut ahli strategi militer pada masa itu, yg menyatakan bahwa setiap serangan militer akan digunakan kekuatan terbesar dan ditujukan pada satu titik lokasi musuh. Konsep Bywater bahkan bertentangan dengan strategi yg dianut oleh kursus staff militer di Tokyo yg sudah digunakan sejak tahun 1918. Konsep itu menyebutkan bahwa seandainya terjadi perang dengan Amerika, maka akan digunakan kekuatan penuh untuk merebut Hindia Belanda. Setelah itu armada yg digunakan akan menunggu serangan balik yg akan dilakukan Amerika di suatu tempat di perairan Jepang. Pada saat itu AL Jepang akan berperang defensif. Bahkan para ahli strategi US Navy sendiri merasa lebih baik jika AL Jepang bertindak seperti ramalan Bywater, yaitu menyebarkan kekuatan armadanya yg dianggap tidak begitu kuat. Begitulah ramalan Bywater dianggap remeh oleh perancang strategi US Navy sehingga mereka tidak waspada.
APAKAH JEPANG MEMBACA BUKU BYWATER?
Rencana serbuan Pearl Harbor disertai serangan simultan ke beberapa daerah di pasifik yang dibuat oleh admiral Isoroku Yamamoto pada hakekatnya amat mirip dengan ramalan Bywater pada buku “The Great Pasific War” yg ditulisnya. Lalu apakah Yamamoto memang dipengaruhi oleh buah pikiran Bywater? Yamamoto yg gugur pada tahun 1943 sayangnya tidak memberi catatan pribadi cukup banyak, dalam biografi Yamamoto juga tidak tertulis nama Bywater. Bertahun-tahun sejarawan percaya bahwa Laksamana Yamamoto, sebagai arsitek serangan Pearl Harbor dan banyak gerakan militer Jepang selanjutnya dalam perang, menyusun rencana perangnya secara independen. Namun apakah benar demikian?
SIAPA BYWATER?
Menurut buku “Who’s Who” Inggris, Bywater adalah seorang koresponden kelautan bagi surat kabar Daily Telegraph terbitan London. Ia meninggal pada tahun 1940, 16 bulan sebelum ramalan dalam bukunya menjadi kenyataan. Dua minggu setelah serangan Pearl Harbor, majalah “Life” menerbitkan singkatan buku karangan Bywater tersebut. Tak lama sesudahnya buku Bywater dicetak ulang dan diberi sub judul: Ramalan sejarah yg menjadi Kenyataan. Bywater adalah putra kedua dari keluarga kelas menengah Welsh. Keluarganya telah beremigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1901. Pada usia 19 tahun ia mulai bekerja paruh waktu menulis artikel angkatan laut untuk New York Herald dan kemudian dikirim sebagai koresponden asing ke London. Dalam masa mudanya, Bywater telah berlayar ke banyak negeri. Sebagian besar pelabuhan Eropa, Kanada, dan Amerika serikat pernah ia kunjungi. Sesaat menjelang PD I ia pernah bekerja sebagai koresponden Angkatan Laut bagi Naval and Military Record, Pall Mall Gazette dan Daily Graphic terbitan London. Selama Perang Dunia I ia bekerja pada dinas intelijen AL Inggris. Pada tahun 1915, ia dikirim kembali ke Amerika untuk menyelidiki aktivitas mencurigakan di dermaga New York dan secara aktif berhasil mencegah percobaan pengeboman pihak Jerman. Pada tahun 1921 ia menulis buku “Sea Power in the Pasific” yg berisi studi tentang strategi laut. Dalam buku itu ia menunjukkan kelemahan dan keunggulan armada Jepang dan Amerika. Ia juga menyertakan bagian yg berjudul “Kemungkinan kejadian dalam perang Pasifik”, dimana ia meramalkan bentuk konflik yg mungkin terjadi pada wilayah pasifik yg sangat luas itu. Selama 4 tahun berikutnya bagian tulisan itu diperbaiki dan ditambah sehingga menjadi buku tersendiri, yaitu “The Great Pasific War”. Sampai hari ini, cetakan edisi pertama buku ini dalam bahasa Inggris dan Jepang masih sangat dicari oleh para kolektor.
Bywater sendiri adalah orang yang penuh misteri dan paradoks. Sosoknya yang tinggi dan mengesankan, dia bisa saja menarik perhatian penuh dari ruang pub yang penuh sesak ketika dia membacakan puisi, bernyanyi, atau menceritakan anekdot. Tetapi Bywater juga memiliki sisi yang tersembunyi: Antara tahun 1908 dan 1918 ia menjalani kehidupan ganda sebagai mata-mata—pertama sebagai agen Dinas Rahasia Inggris dan kemudian sebagai agen intelijen angkatan laut. Dia menipu tidak hanya orang Jerman, yang darinya dia mendapatkan banyak rahasia mengenai angkatan laut, tetapi juga teman-teman dan tetangganya di Inggris dan Amerika Serikat. Dia tidak mencolok selain memiliki karakter dan penampilan orang Inggris—sangat teratur, bermuka masam, dan berjiwa baja. Dia biasa mengatakan bahwa dia tertarik pada angkatan laut karena nama belakang yang unik dan hari ulang tahunnya—di Trafalgar Day. Meskipun ia terkenal karena kecerdasannya yang tajam dan tidak terpengaruh oleh ilusi yang membutakan begitu banyak orang di generasinya, kehidupan pribadinya dilanda berbagai masalah. Dia dengan marah mengundurkan diri dari dua harian surat kabar yang paling lama dia geluti, Baltimore Sun dan London Daily Telegraph; bertengkar dengan dan kemudian menceraikan dua istrinya; mengecam Angkatan Laut Inggris; dan sekali lagi dengan marah menolak salah satu penghargaan tertinggi negaranya—Order of the British Empire.
PEMIKIRAN BYWATER DALAM BUKUNYA
Tahun-tahun setelah Perang Dunia I, imajinasi Bywater tertuju pada persaingan angkatan laut yang berkembang di kawasan Pasifik antara Jepang dan Amerika Serikat. Dia mulai menulis serangkaian artikel tentang masalah ini untuk media seperti British Naval & Military Record dan Royal Dockyards Gazette. Dia kemudian segera mengembangkan ide-ide ini menjadi sebuah buku, Sea Power in the Pacific, yang diterbitkan pada tahun 1921—tepat pada waktunya untuk menjadi topik diskusi utama di Konferensi Internasional tentang Batasan Angkatan Laut, yang diadakan di Washington akhir tahun itu. Bywater menulis itu sebagai koresponden untuk The Sun. Bywater sebenarnya bukanlah pemikir Barat pertama yang berfokus pada kepentingan strategis di Samudra Pasifik; dia juga tidak sendirian dalam membayangkan bahwa Jepang kecil mungkin akan mengalahkan Amerika Serikat dalam perang Pasifik di masa depan. Pada tahun 1909, buku Homer Lea Valor of Ignorance telah meramalkan dominasi Jepang di Pasifik dan perebutan California, Oregon, Washington, dan Alaska. Buku Lea diikuti oleh sejumlah buku tiruan oleh penulis Amerika dan Jepang. Pada tahun 1911, bahkan Mahan, sementara menolak visi mimpi buruk dari Homer Lea sebagai suatu hal yang “mustahil,” mengamati bahwa tidak terbayangkan bahwa angkatan laut Jepang yang baru suatu hari nanti akan bisa mengalahkan angkatan laut Amerika di Pasifik. Apa yang baru dan berbeda dari analisis Hector Bywater adalah, pertama, prediksinya yang jelas tentang seberapa jauh Jepang bisa berperang melawan Amerika Serikat. Jepang, dia mengerti, bisa merebut wilayah AS di Pasifik barat dan dengan demikian membangun lingkaran wilayah pulau yang hampir tak tergoyahkan di sekitar dirinya, namun dia tidak memiliki kekuatan untuk merebut Hawaii, apalagi secara serius mengancam benua Amerika Serikat. Kedua, dia meramalkan bahwa langkah agresif seperti itu oleh Jepang mungkin akan terjadi. Dia adalah jurnalis pertama dari generasinya yang memahami bahwa arena sentral dalam pertarungan untuk supremasi angkatan laut telah bergeser dari Laut Utara dan Mediterania, di mana Inggris Raya dan Jerman telah bersaing satu sama lain sejak pergantian abad, ke Pasifik.
Laut Pasifik, seperti yang dia lihat, bukan lagi daerah terpencil yang eksotis atau bahkan hanya tempat kemungkinan perang di masa depan, tetapi juga menentukan di mana sekutu pemenang Perang Dunia Pertama akan berhadapan satu sama lain untuk menentukan siapa yang harus menjadi penguasa laut pada abad ke-20. Pada tahun 1924 Bywater menyadari bahwa pelaksanaan perjanjian yang muncul dari konferensi Washington ditunda tetapi tidak menghilangkan kemungkinan perang antara Amerika Serikat dan Jepang. Jadi dia mulai mengerjakan buku kedua—novel yang secara teknis tepat yang memainkan ide-ide revolusioner yang dia kembangkan di buku Sea Power in the Pacific. Dia menyebut buku baru ini, yang diterbitkan pada tahun 1925, The Great Pacific War. Bywater sendiri tidak punya keinginan untuk menimbulkan permusuhan antara Jepang dan Amerika Serikat. Baginya perang antara dua kekuatan ini akan menjadi “pertarungan yang mengerikan dan berlarut-larut,” tulisnya dalam kata pengantar bukunya. Tujuannya adalah “untuk mengungkap fakta-fakta tertentu mengenai situasi strategis dari kedua kekuatan yang bersaing yang signifikansinya tampaknya tidak disadari baik di Jepang atau Amerika Serikat.” Oleh karena itu, ia menyatakan, ”pengungkapan yang begitu sederhana” seperti yang mungkin diberikan oleh bukunya adalah untuk membawa ”ke arah perdamaian dan bukan perang”.
Pertanyaan pertama yang kemudian harus dijawab Bywater secara tertulis dalam buku The Great Pacific War adalah: Apa yang mendorong dimulainya peperangan? Dari bacaannya tentang sejarah Jepang dan perkembangan saat itu, dia menjadi percaya bahwa kasta militer di Jepang akan naik ke tampuk kekuasaan. Dengan demikian, ia membayangkan bahwa sekelompok “pemimpin militer” dapat menguasai pemerintah Jepang. Mereka kemudian mengadopsi kebijakan “yang ditujukan untuk secara virtual memperbudak China,” tulisnya, dan dengan sangat cepat menemukan diri mereka berada di jalur yang bertabrakan dengan kepentingan Amerika Serikat. Surat-surat diplomatik kemudian saling dipertukarkan— ungkapan balasan “agresif” dan “menantang” dari Jepang, “kata-kata yang sopan” dari Amerika, yang “bertekad untuk mencegah malapetaka perang.” Di tengah negosiasi ini, Jepang meluncurkan serangan mendadak, sebelum membuat pernyataan perangnya beberapa hari kemudian yang bernada “formalitas yang agak berlebihan.” Serangan mendadak seperti itu sama sekali bukanlah hal yang baru. Pada tahun 1904, sebelum mengumumkan deklarasi perang, selusin kapal torpedo Jepang menyerang skuadron Asiatik Tsar Rusia di pelabuhan Port Arthur, menenggelamkan tiga kapal besar. Tetapi di Port Arthur, Jepang tidak mempertaruhkan unit utama Angkatan Laut Kekaisarannya dan hanya mencari tujuan terbatas untuk membuat musuh kehilangan keseimbangan. Sebaliknya, Bywater membayangkan bahwa komandan Jepang akan mengumpulkan armada utama kapal-kapal perang besarnya untuk “menyerang besar-besaran” armada AS di Filipina—armada itu tidak ditempatkan di Pearl Harbor sampai tahun 1940—yang bertujuan untuk “memusnahkannya” selama jam-jam pertama perang.
Oleh karena itu, ia menggambarkan armada serangan kejutan Jepang sebagai kekuatan yang akan mencakup kapal induk, kapal tempur Hiei dan Kirishima (keduanya sebenarnya memang akan ikut termasuk dalam kekuatan penyerang Jepang ke Pearl Harbor pada tahun 1941), dan banyak kapal pembantu. Dipimpin oleh Vice Admiral (imajiner) Hiraga, armada ini berlayar ke selatan berharap untuk mengejutkan orang-orang Amerika yang sedang tidur siang di pangkalan mereka di Teluk Manila, seperti halnya George Dewey mengejutkan armada Spanyol di sana pada tahun 1898. Namun pada jam kesebelas serangan Laksamana Muda Ribley, komandan imajiner skuadron A.S., membawa kapal-kapalnya ke laut karena, seperti yang dia katakan, “kita tidak tahu apakah perang telah diumumkan, tapi … ada sesuatu di udara yang memberi tahu kita bahwa peperangan akan segera dimulai.” Dalam novel Bywater, tembakan pertama datang dari pesawat-pesawat yang berbasis di kapal induk. Pesawat-pesawat pembom tempur Jepang kemudian dihadapi oleh pesawat-pesawat Amerika, termasuk sejumlah berasal dari kapal induk Curtiss (sebenarnya, Curtiss sebuah kapal tender pesawat amfibi bertugas di Pearl Harbor pada tahun 1941). Tapi pertempuran kecil ini tidak menentukan, dan segera orang-orang Amerika melihat di cakrawala munculnya tiang seperti pagoda dari kapal-kapal perang Jepang yang menyerang mereka. Tak lama, meriam kaliber berat Jepang menemukan jangkauan target mereka. Bywater menggambarkan hujan bom dan peluru yang menghancurkan dalam kata-kata seorang perwira angkatan laut AS, Letnan Elkins: “Di sekeliling kami laut menyembur dan mendidih; ada setengah lusin ledakan hebat dalam beberapa detik;…lalu ada kobaran cahaya… dan semuanya berakhir bagiku. Saat aku memulihkan kesadaranku. Saya diseret ke dalam perahu dari kapal perusak Hulbert. Mereka memberi tahu saya bahwa kapal induk itu telah kandas pada pukul 11:30, praktis hancur berkeping-keping. Hanya ada enam orang yang selamat selain diriku. (Admiral Ribley) telah tenggelam bersama kapalnya… Dari perahu kami, kami bisa melihat tentara Jepang menyapu sisa-sisa skuadron kami. Sesaat sebelum kapal pemimpin lumpuh, Frederick telah meledak. Kami bisa melihat Denver terbalik, terbakar dari ujung ke ujung. Di dekatnya adalah Galveston bertempur dengan kapal-kapal penjelajah ringan Jepang, yang benar-benar memompa peluru ke dalam dirinya. Bahkan saat kami melihat dia halauannya tenggelam, buritannya muncul, dan dia melakukan tenggelam untuk terakhir kalinya… “. Mengakhiri narasi dengan ulasan singkat, Bywater menambahkan laporan Letnan Elkins dengan informasi: “Skuadron kami telah dihancurkan dan lebih dari 2.500 rekan-rekan yang gagah berani telah gugur.” Di Pearl Harbor pada tahun 1941, jumlah pasti korban Amerika adalah 2.638.
Bywater tidak menulis novel seperti biasanya. Sebaliknya, dengan secara tepat menggambarkan fitur geografis dan topografi dari daerah yang diperebutkan, dan dengan menggunakan nama yang tepat, tonase, daya tahan bahan bakar, dan spesifikasi senjata dan lapisan baja dari kapal perang dan pesawat yang sebenarnya. Dia sepertinya sedang membeberkan permainan perang yang kompleks. Hasilnya, dia berharap, akan menunjukkan bagaimana perang di Pasifik akan berjalan. Serangan mendadak Jepang datang seperti “panah” yang tepat mengenai “jantung” rakyat Amerika. Masyarakat Amerika Serikat disapu oleh “gelombang kesedihan…memikirkan ribuan pelaut gagah berani yang telah pergi ke ajal mereka, berjuang sampai akhir melawan rintangan yang luar biasa, dengan bendera masih berkibar saat air menutup lambung yang robek dan hancur dari kapal-kapal mereka.” Setelah serangan itu, suasana hati bangsa ini bukanlah diliputi kekalahan seperti yang diharapkan Jepang, melainkan “kebulatan tekad yang kuat untuk berjuang segenap tenaga sampai akhir.” Namun, sebelum Amerika Serikat dapat mengatasi kehancuran armadanya, Jepang menindaklanjuti aksinya dengan melancarkan serangan amfibi secara simultan terhadap Guam dan Filipina. Meskipun bencana di Gallipoli dalam Perang Dunia I yang dipublikasikan luas telah membuat operasi amfibi memiliki citra buruk di militer negara-negara Barat, hal ini tidak terjadi di Jepang. “Pendaratan di pantai yang dipertahankan kuat oleh musuh telah dipraktikkan tahun demi tahun sebagai latihan reguler dalam manuver Angkatan Darat Jepang,” tulis Bywater. “Semua peralatan yang diperlukan—perahu, tongkang, ponton, dan dermaga portabel—telah disiapkan di depot-depot militer selama bertahun-tahun.” Dengan hampir semua kapal perang Amerika telah hancur, tidak berfungsi, atau berada di tempat yang jauh, Jepang merasa bahwa bahaya utama akan datang dari pesawat-pesawat Amerika. “Tiga puluh pesawat tipe baru dan bertenaga,” kata Bywater, baru saja tiba di Filipina dari Amerika Serikat. (Faktanya persis seperti kedatangan 35 pembom B-17 Flying Fortress baru pada awal bulan Desember 1941, adalah suatu prediksi yang luar biasa!). Dia juga berasumsi bahwa Jepang telah mempelajari Filipina dengan cermat. “Setiap yard tanah telah disurvei dan dipetakan secara pribadi oleh perwira-perwira Jepang,” tulisnya.
Dalam rencana invasi, yang sebagian besar terbukti merupakan ramalan yang mencengangkan dari Bywater, Jepang pertama kali membombardir Santa Cruz, di pantai barat Luzon, pulau utama di Filipina. Namun, siasat ini “sangat jelas merupakan tipu muslihat untuk menarik orang-orang Amerika menjauh dari bagian lain pantai sehingga gagal dalam tujuannya.” Kemudian datang serangan udara. Pesawat-pesawat pencegat Jepang menyerang kapal patroli Amerika di pantai timur Luzon, dan kemudian pesawat-pesawat pembom menghantam bandara di Dagupan, di Teluk Lingayen, yang bertujuan untuk menghancurkan 30 pesawat “tipe baru dan kuat” milik Amerika. Antara senja dan pagi berikutnya, pendaratan utama berlangsung. Mereka datang dalam bentuk serangan tiga arah, secara bersamaan mendaratkan 40.000 tentara ke darat di masing-masing dari dua lokasi di Luzon dan 50.000 lainnya di Teluk Sindangan di Mindanao, pulau terbesar kedua dan paling selatan dari pulau-pulau besar di Filipina. Luzon diserang dari arah timur dan barat. Di pantai barat, kapal-kapal pengangkut pasukan Jepang berkumpul di Teluk Lingayen; tongkang-tongkang pendaratan mereka menuju pantai landai yang mengarah langsung ke Dataran Pampanga, yang terbentang sampai ke Manila. Di pantai timur Luzon, kapal-kapal pengangkut menuju Teluk Lamon; di sini medannya bergunung-gunung, tetapi lokasi pendaratannya bahkan lebih dekat ke Manila. Pasukan Jepang dari arah barat dan timur, dilengkapi dengan tank dan artileri berat, dengan cepat berkumpul di ibu kota, memaksa mereka yang bertahan untuk membagi kekuatan mereka dan bertempur di dua front. Sementara itu, pasukan ekspedisi Jepang menguasai garnisun di Zamboanga dan Davao. Dalam waktu kurang dari tiga minggu, Manila menyerah dan Filipina berada di tangan Jepang. Begitu juga Guam.
“Sebuah rantai pertahanan kini telah didirikan di setiap jalur menuju ke perairan Pasifik Barat Daya,” tulis Bywater, yang menjelaskan posisi Jepang yang tangguh. “Untuk berperang dengan Amerika Serikat, posisi strategis Jepang telah sangat mendekati ideal.” Ini adalah tesis yang telah diajukan Bywater sejak artikel pertamanya tentang strategi di Pasifik muncul pada tahun 1920, namun itu adalah salah satu yang dia ragukan dapat diterima oleh sebagian besar otoritas AS. Dia tahu banyak ahli strategi top percaya bahwa Angkatan Laut AS dapat menyerang angkatan laut Jepang terlepas dari lokasi pangkalan musuh dan panjangnya jalur pasokan Amerika. Untuk mendramatisir kebodohan keyakinan ini, dia menggambarkan penyerangan Amerika yang sembrono di Kepulauan Bonin. Jika berhasil direbut, sebuah pangkalan yang begitu dekat dengan pulau-pulau asal Jepang dapat menyebabkan perang berakhir dengan cepat. Namun, Amerika telah meremehkan hambatan di tengah jalan mereka. Setelah menderita kerugian besar, armada AS terpincang-pincang pulang dengan memalukan. Ada protes publik di Amerika Serikat, yang kemudian diikuti oleh pengunduran diri komandan tinggi angkatan laut negeri itu. Para pemimpin Amerika sekarang telah belajar dengan cara yang sulit bahwa satu-satunya cara praktis untuk menyerang Jepang adalah dengan melompat dari pulau ke pulau melintasi Pasifik, dengan hati-hati memperkuat pulau-pulau itu sebelum melakukan penaklukan baru dan berhenti sejenak untuk mempersiapkan perbekalan. “Komandan Jenius” dari kampanye lintas pulau ini, menurut Bywater, adalah Laksamana Joseph Harper, mantan komandan garnisun AS di Guam, yang melarikan diri dari pulau itu dengan kapal selam—sama seperti MacArthur akan berangkat dari Filipina pada tahun 1942. Harper, yang pengetahuannya tentang pulau-pulau Pasifik sangat luas, memainkan taktik gertakan dan penipuan dengan cerdik.
Bywater membuat Laksamana Harper memulai kampanyenya (seperti yang dilakukan pasukan AS pada tahun 1942) dengan persiapan yang “bising” di Alaska dan kepulauan Aleutian untuk memikat Jepang menuju ke Utara. Tapi serangannya yang sebenarnya ditujukan ke Pasifik tengah—dari Hawaii hingga Tutuila di kepulauan Samoa Amerika. Dia selanjutnya membuat desakan panjang ke Pulau Truk di kepulauan Carolina, jauh di dalam batas pertahanan Jepang. Tepat ketika tampaknya pasukan A.S. mungkin terputus dari jalur suplai mereka, dia berputar dan melakukan serangan serentak ke Ponape, juga di Caroline, dan ke Jaluit di kepulauan Marshall. Manuver ini mampu membuka jalur komunikasi langsung, dan jauh lebih pendek, dengan Hawaii. Kemudian datang aksi tipuan di Guam dan lompatan ke pulau Angaur di kepulauan Palau, yang diikuti oleh tipuan di pulau Yap di kepulauan Caroline paling barat. Pertempuran pulau Yap—yang ditiru Yamamoto dalam rencananya untuk Pertempuran Midway yang bersejarah—adalah titik balik dalam perang yang diprediksi Bywater. Pada saat ini, kira-kira satu setengah tahun sejak serangan mendadak Jepang yang memulai perang, Amerika telah berhasil mengganti semua kerugian angkatan lautnya, dan, berkat taktik brilian Laksamana Harper di Pasifik tengah, kapal-kapal perang Amerika di sekitar Yap berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Filipina—mata rantai terakhir dalam rangkaian pulau yang menjangkau seluruh Pasifik menuju ke Jepang. Situasi telah berubah: Angkatan Laut AS sekarang menjadi kekuatan superior di Pasifik. Pada titik ini dalam narasi, Bywater menguraikan strategi Amerika untuk memaksa Laksamana Hiraga, panglima tertinggi Jepang, untuk menerima tantangan bertempur.
Komandan armada Amerika, Laksamana Templeton (imajiner), kemudian memusatkan di pangkalannya kekuatan yang luar biasa: 17 kapal induk dan kapal tempur, banyak kapal penjelajah, kapal perusak, dan kapal pendukung lainnya. Garda terdepan dari kekuatan ini, termasuk kapal tempur Florida, memulai pemboman atas pulau Yap sementara kapal-kapal pengangkut “bermanuver seolah-olah menunjukkan bahwa pendaratan akan dilakukan.” Komandan Jepang, Laksamana Hiraga, tidak punya pilihan selain menggunakan setiap senjata yang dimilikinya untuk memblokir kemajuan ini—yang, jika berhasil, akan membawa pasukan AS ke pintu gerbang kepulauan Jepang. Armada Besar Jepang (termasuk selusin kapal tempur dan kapal induk, 21 kapal penjelajah, dan dua armada besar kapal perusak) meninggalkan markasnya di Manila dan menyerang Yap. Kontak pertama terjadi ketika 50 pesawat torpedo dari kapal induk Lexington dan Saratoga bertemu dengan jumlah yang sama dari pesawat-pesawat Jepang. Setelah semua pesawat ini — sekitar sepertiga dari yang diterbangkan kedua pihak — dijatuhkan oleh “badai tembakan,” Bywater berpendapat bahwa keputusan kemudian harus “dicapai dengan senjata selain kekuatan udara.” Bywater melanjutkan novelnya dengan menggambarkan pecahnya pertempuran baku tembak antar kapal perang klasik seperti dalam pertempuran Jutland. Keyakinan Bywater bahwa meriam angkatan laut yang besar akan tetap menjadi senjata perang laut paling utama adalah kesalahannya yang paling serius dalam sebuah buku yang dikenal sangat berpandangan jauh ke depan.
Bagaimanapun pada tahun 1925 dia tidak dapat membayangkan pentingnya kekuatan udara di masa yang akan datang. Pada pertengahan tahun 1930-an dia merasakan cacat ini dalam ramalannya; dalam edisi berikutnya dari buku Sea Power in Pacific dan dalam artikel, dia menyatakan bahwa pukulan pembuka Jepang dalam perang akan dikirimkan oleh kapal induk barunya. Namun, untuk saat ini, dia tetap—dalam hal ini—seorang “tawanan” pada zamannya, yang sukar memprediksi kemajuan teknologi lebih jauh. Tentu saja, Bywater tidak bisa meramalkan munculnya bom atom. Namun dia merasa bahwa Amerika Serikat mungkin mencoba sesuatu yang luar biasa untuk menghindarkan kedua belah pihak dari kengerian invasi langsung ke wilayah Jepang. Serangan menentukan ini, dia menduga, akan menjadi semacam “demonstrasi” serangan udara di Tokyo dengan bom yang tidak mengandung TNT tetapi selebaran yang mendesak Jepang untuk mengajukan petisi kepada pemerintah mereka untuk menyerah, daripada “membuang lebih banyak nyawa.” Karakter fiksi selalu bisa melepaskan diri dari kesulitan lebih baik daripada orang sungguhan, dan orang-orang Jepang dalam novel Bywater tidak terkecuali. Setelah serangan demonstrasi mencapai tujuannya, Jepang dengan tenang menerima kekalahan. Penyerahan diatur, dan perjanjian damai ditandatangani, di mana, antara lain, pulau-pulau Pasifik milik Jerman sebelumnya, yang diamanatkan ke Jepang oleh Liga Bangsa-Bangsa, diserahkan ke Amerika Serikat “untuk menentukan masa depan mereka”—tepat seperti yang terjadi setelah penyerahan Jepang yang sebenarnya pada tahun 1945.
ORANG JEPANG DAN BUKU BYWATER
Tidak pernah ada orang yg membayangkan bahwa kemungkinan besar penguasa militer Jepang memang pernah membaca buku karangan Bywater, sampai seorang pengamat bernama William H. Honan secara tidak sengaja melihat buku karangan Bywater di perpustakaan konggres (Amerika) dan melihat nama Bywater disebut dalam bahasa Jepang. Honan kemudian segera menyurati pembesar dan sarjana-sarjana di beberapa perguruan tinggi di Jepang. Honan lalu mendapat bukti cukup banyak bahwa para perancang militer jepang pada masa lalu memang dipengaruhi oleh buku karangan Bywater sehingga melakukan serangan di Pasifik. Tak lama setelah penerbitan buku “sea power in the pasific” pada tahun 1921, Markas Staff Umum AL Jepang di Tokyo segera menterjemahkan dalam bahasa Jepang dan membagikan buku itu untuk sejumlah pejabat tinggi AL sebagai “bahan studi strategis”. Buku yg dalam bahasa Jepang diterjemahkan sebagai Taiheyo Kaiken Rok itu juga dibaca secara luas oleh perwira AL Jepang yg berkedudukan lebih rendah daripada mereka yg ada di staff umum. Pada saat “The Great Pasific War” diterbitkan pada tahun 1925, ternyata penggemar Bywater di Jepang sudah cukup banyak sehingga sebuah penerbitan komersial menterjemahkan buku itu dan dijual dengan judul “Taiheyo no Soha-sen”. Tahun berikutnya sebuah penerbit lain menerbitkan buku itu dengan judul “Taiheyo Senso tosono Hihan (The Pasific War and Comment)“.
Tak ada keraguan lagi bahwa karangan Bywater memang sempat dipelajari juga di Imperial War College. Mitsuo Fuchida, sejarawan militer jepang terkemuka dan komandan serbuan udara di Pearl Harbor, menyatakan bahwa sebagai seorang Letkol AL Jepang ia pernah mengikuti pendidikan di Naval War College pada tahun 1936 dan dia membaca kedua buku Bywater. Menurut Fuchida nama Bywater begitu dikenal oleh banyak perwira di tempat itu dan menduga bahwa karangan Bywater pasti banyak mempengaruhi jalan pikiran perwira AL Jepang pada masa itu, terutama dalam soal rencana strategis. Tapi apakah benar buku ini turut mempengaruhi Yamamoto? Kalau benar berarti diduga Yamamoto terpengaruh saat ia belajar di Amerika, dimana diketahui bahasa Inggris Yamamoto cukup bagus. Isoroku Yamamoto yang berwajah kekanak-kanakan bertugas sebagai atase angkatan laut di Kedutaan Besar Jepang di Washington segera setelah The Great Pacific War diterbitkan. Karena AL Jepang berkiblat pada AL Inggris, maka cukup wajar jika ia membaca buku-buku pengarang Inggris yg menyangkut teori dan praktek pertempuran Laut, termasuk buku Bywater. Dua tahun kemudian, pada tahun 1928, Kapten Yamamoto kembali ke Jepang dan memberikan kuliah di mana ia mempresentasikan ide-ide Bywater yang dikembangkannya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, sebagai Panglima Tertinggi Armada Gabungan Angkatan Laut Kekaisaran, Yamamoto mempraktikkan rencana perang yang sangat mirip dengan yang dilancarkan Jepang dalam buku The Great Pacific War. Yamamoto mengikuti rencana Bywater dengan begitu tekun baik dalam strategi keseluruhan maupun taktik khusus di Pearl Harbor, Guam, Filipina, dan bahkan Pertempuran Midway sehingga tidak berlebihan untuk menyebut Hector Bywater sebagai orang yang “menciptakan” perang Pasifik.
Lahir pada tahun 1884—seperti tahun kelahiran Bywater, 21 Oktober 1884 —Yamamoto bertubuh kecil dan bertulang kuat, sedikit kekar, bahkan menurut standar Jepang. Tangan kirinya kehilangan dua jari pertamanya, yang terlihat jelas dari banyak luka yang didapatnya pada Pertempuran Tsushima tahun 1905. Cedera yang dideritanya di Tsushima hampir mendiskualifikasi dia dari kemungkinan melanjutkan karirnya, tetapi ia tetap naik pangkat dengan cepat. Karena Angkatan Laut Kekaisaran menganggap Amerika Serikat sebagai lawan yang paling mungkin di masa depan, maka perwira angkatan laut muda paling cerdas dikirim ke sana dalam berbagai tugas, Yamamoto-lah yang ditunjuk. Yamamoto lalu mengunjungi beberapa pelabuhan di Pantai Barat Amerika dengan kapal latih pada tahun 1909, belajar bahasa Inggris selama satu tahun di Harvard pada tahun 1919, kembali ke Washington Conference on Naval Limitation pada tahun 1921, dan akhirnya mengambil tugasnya sebagai atase angkatan laut di kedutaan pada bulan Maret 1926. Tugas utama Yamamoto adalah untuk terus mencermati perkembangan Angkatan Laut AS. Menurut mantan atase angkatan laut Jepang di Washington sebelum perang, ia mengumpulkan sebagian besar informasinya dengan membaca surat kabar, majalah, dan buku-buku AS dengan cermat. Seorang pembaca yang rakus, dia cocok dengan pekerjaannya ini. Di Harvard, dia telah membaca empat atau lima buku biografi Abraham Lincoln sebelum menyebut Carl Sandburg sebagai penulis biografi Lincoln yang terbaik. Pada Konferensi Washington, ia membaca sebanyak empat puluh surat kabar dan majalah sehari untuk referensi atau proposal dari pihak Jepang, seperti meminta Amerika Serikat untuk tidak membentengi pangkalan angkatan laut di sebelah barat Hawaii. Jadi, tidak mengherankan jika dia memanfaatkan The Great Pacific War. Bywater, bagaimanapun, telah menulis buku Sea Power in the Pacific yang penting dan menjadi koresponden, yang selama Konferensi Washington telah mengetahui apa yang akan diumumkan oleh delegasi Jepang tentang hal-hal seperti penolakannya untuk menghancurkan kapal tempur Mutsu.
Apakah Yamamoto sebenarnya membaca dan bereaksi sesuai dengan buku The Great Pacific War? Bukti paling kuat adalah di antara laporan dari atase angkatan laut Jepang. Namun, semua laporan atase yang ditulis setelah tahun 1921, dan sebagian besar catatan staf umum angkatan laut (Gunreibu), yang menyimpan salinan dokumen-dokumen ini, dihancurkan baik oleh pemboman Amerika di Tokyo pada tanggal 25 Mei 1945 (yang membakar setengah dari Gedung Kementerian Angkatan Laut), atau oleh pihak Jepang sendiri tepat sebelum pasukan pendudukan Amerika tiba. Untungnya, Kantor Catatan Diplomatik di Tokyo menyimpan “harta karun” berupa dokumen-dokumen yang mengungkap informasi dari tahun 1920-an. Berkas-berkas ini menunjukkan bahwa selama Yamamoto menjabat sebagai atase angkatan laut, cukup banyak pejabat Jepang yang ditugaskan ke Amerika Serikat mengirim laporan ke Jepang tentang artikel surat kabar dan jurnal tentang buku The Great Pacific War. Pejabat tersebut adalah teman dekat Yamamoto, dan menurut pendapat mantan anggota korps diplomatik Jepang, teman-temannya tidak mungkin tidak memperkenalkan buku itu kepadanya. Kemudian lagi, Yamamoto mungkin telah menarik perhatian mereka pada buku itu. Bukti dokumenter paling meyakinkan yang menghubungkan Bywater dan Yamamoto muncul dalam dua makalah pengarahan militer Jepang tingkat atas yang sebagian besar membahas The Great Pacific War dan kontroversi seputarnya. Ditemukan di Kantor Catatan Diplomatik, dokumen-dokumen ini menghilangkan semua keraguan yang masuk akal bahwa Yamamoto mengamati kontroversi dari buku The Great Pacific War dan melaporkannya secara luas. Tak lama setelah kembali ke Jepang, Yamamoto menyampaikan kuliah di Sekolah Torpedo Angkatan Laut Kekaisaran di Yokosuka tentang kemungkinan perang masa depan antara Jepang dan Amerika Serikat. Memang tidak ada teks kuliah, tetapi Komite Kompilasi Sejarah Angkatan Udara Angkatan Laut Jepang pascaperang, yang menerbitkan buku sejarah empat volume pada tahun 1970, menemukan dan mewawancarai seorang mantan perwira angkatan laut, Ichitaro Oshima, yang ingat pernah menghadiri kuliah Yamamoto di Sekolah Torpedo. “Jika terjadi perang di masa depan antara Jepang dan Amerika Serikat,” Oshima mengingat Yamamoto mengatakan, “Jepang akan kalah jika mereka mengadopsi strategi pertahanan tradisional. Satu-satunya peluang kemenangan Jepang adalah menyerang pasukan Amerika di Hawaii.” Menurut Oshima, Yamamoto kemudian meramalkan bahwa kapal induk akan segera menggantikan kapal tempur sebagai senjata utama angkatan laut, dan oleh karena itu serangan ke Hawaii harus dilakukan oleh pesawat-pesawat angkatan laut.
Kata-kata itu bagaimanapun membutuhkan analisis yang cermat. Apa yang dimaksud Yamamoto dengan “pasukan Amerika di Hawaii”? Yang dia maksud tentunya bukan segelintir pasukan AS yang ditempatkan di sana. Juga tidak mungkin dia memikirkan Pearl Harbor sebagaimana adanya pada saat itu. Pada tahun 1928 Pearl Harbor hanyalah pangkalan angkatan laut dan depot perbekalan, dan tidak ada kapal perang yang ditugaskan di sana. Tampaknya Yamamoto melihat ke masa depan. Pada bulan Desember 1926—10 bulan setelah tinggal di Washington—ia mengetahui bahwa Angkatan Laut AS berencana untuk mengeruk sembilan juta meter kubik karang dari saluran dan pelabuhan di Pearl Harbor sehingga pangkalan itu dapat menampung armada kapal perang terbesar. Dengan demikian, Yamamoto mengerti bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, armada Amerika yang cukup besar akan ditempatkan di Pearl Harbor. Tapi mengapa menyerang armada Amerika 3.374 mil (5.429 km) dari Tokyo? Hanya ada satu penjelasan. Yamamoto membayangkan Jepang dengan berani memperluas batas-batas wilayahnya di Pasifik. Serangan pendahuluan di Pearl Harbor akan mencegah kapal-kapal perang Amerika mengganggu operasi pendaratan yang sangat rentan di Filipina dan mungkin di Guam. Singkatnya, Yamamoto mengusulkan strategi untuk Jepang yang telah dia baca di buku The Great Pacific War. Kemudian, Yamamoto berkenalan dengan Bywater sendiri. Pada bulan Desember 1934, keduanya menghabiskan malam membahas strategi di Pasifik dalam sebuah konferensi di London. Itu adalah salah satu dari beberapa kontak di antara mereka. Enam tahun setelah pertemuan ini, ketika perang di Pasifik tampaknya tak terhindarkan dan Yamamoto prihatin dengan strategi darurat yang dikeluarkan oleh Angkatan Laut Kekaisaran, dia kembali pada ide Bywater. Strategi dan taktik Yamamoto dalam meluncurkan perang di Pasifik sangat mirip dengan skenario hipotetis Bywater—sampai ke pantai tempat pasukan penyerang akan mendarat.
STRATEGI YAMAMOTO VS BYWATER
Strategi besar Yamamoto dalam memulai perang Pasifik ada dua. Pertama, dia percaya bahwa pasukan Jepang harus menghancurkan Armada Pasifik Amerika secara langsung. Kedua, mereka harus segera bergerak di tengah kekosongan kekuasaan yang diakibatkannya dan merebut wilayah mana pun yang akan memperluas kekaisaran Jepang, sehingga membuatnya hampir kebal terhadap serangan. Tujuan ini dijabarkan dalam catatan yang Yamamoto berikan kepada teman sekelasnya di Akademi Angkatan Laut untuk diamankan pada bulan Januari 1941, dan dalam “Perintah Operasi Rahasia Tertinggi Armada Gabungan No. 1,” yang disiapkan Yamamoto dan stafnya di atas kapal tempur Nagato dan dikeluarkan pada tanggal 5 November 1941. Dalam memutuskan serangan atas Pearl Harbor, Yamamoto tidak hanya mengikuti preseden sejarah, seperti yang sering dikemukakan. Sebaliknya, dalam catatannya Yamamoto mengkritik taktik serangan ke Port Arthur tahun 1904, menyatakan bahwa ada “pelajaran yang harus dipelajari” dari kegagalan Shigenori Togo dalam aksinya itu. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa tidak seperti Togo di Port Arthur, dia akan menggunakan kekuatan serangan besar-besaran di Pearl Harbor—untuk “menghancurkan secara menyeluruh kekuatan utama armada musuh pada jam-jam pertama perang” (cetak miring ditambahkan). Setelah armada Amerika disingkirkan, Jepang dapat “menduduki tempat-tempat strategis di Asia Timur (Guam, Filipina, Malaya Inggris, dan Hindia Belanda) untuk mengamankan posisi yang menguntungkan dan dinilai tak terkalahkan”. Jepang kemudian “mungkin dapat mencapai tujuannya dan mengamankan perdamaian di Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.” Itu, tentu saja, adalah ide Bywater.
Pada pertengahan bulan September 1941, Yamamoto berusaha menunjukkan kelayakan rencananya pada annual Table Top Conference di Imperial Naval War College—di mana buku Bywater Sea Power in the Pacific dan The Great Pacific War masih dibacakan. Begitu bersemangatnya Yamamoto tentang rencananya sehingga ketika staf umum angkatan laut menolak menerimanya. Kecewa, ia lalu mengirim utusan ke Tokyo untuk menyatakan bahwa dia dan seluruh stafnya akan mengundurkan diri jika tidak diizinkan untuk melaksanakannya. Osami Nagano, kepala staf umum angkatan laut, kecewa tetapi akhirnya mengatakan bahwa angkatan laut harus memercayai Yamamoto, yang bagaimanapun juga telah bergelut dengan masalah ini lebih lama dari siapa pun—pernyataan yang terbukti lebih tepat daripada yang dia sadari. Otorisasi dari dewan tertinggi pemerintah dan kaisar segera menyusul menyetujui rencana Yamamoto. Mengutip satu contoh pengaruh mendalam buku Bywater, rencana Yamamoto untuk menyerang Filipina, yang ditunjukkan pada Table Top Conference di bulan September, sangat sesuai dengan taktik yang dijabarkan dalam buku The Great Pacific War. Bywater membayangkan adanya pendaratan utama serentak—di Teluk Lingayen, di Teluk Lamon antara pulau Cabalete dan Alabat, dan di Teluk Sindangan di Mindanao. Yang mengherankan, rencana yang diperlihatkan Yamamoto di Table Top Conference terdiri dari pendaratan secara simultan yang kira-kira sama dengan buku Bywater di Filipina—yakni di Teluk Lingayen, di Teluk Lamon antara pulau Cabalete dan Alabat, dan di Davao di Mindanao.
Namun tentu keliru jika beranggapan bahwa orang-orang Jepang menelan mentah-mentah rencana penyerbuan karangan Bywater itu. Selama 36 tahun sejak Jepang mampu mengalahkan armada Russia di selat Tsushima, Jepang telah mampu membuat kapal perang dan doktrin perang laut mereka sendiri. Lagipula Yamamoto kemungkinan juga terpengaruh berita-berita masa itu menjelang serbuan ke Pearl Harbor, misal saja latihan perang-perang-an yg dilakukan Amerika pada tahun 1932 di Hawaii dan juga diberitakan luas. Pada latihan itu Amerika mendemonstrasikan bahwa sejumlah pesawat yg melakukan penerbangan menjelang pagi dari kapal induk dapat mencapai Pearl Harbor tanpa dapat terdeteksi dan “menenggelamkan” semua kapal perang besar di tempat itu. Yamamoto juga pernah mengadakan latihan perang laut di Teluk Kagoshima pada tahun 1940. Setelah latihan itu Yamamoto berpendapat bahwa pesawat yg dipersenjatai torpedo memang dapat digunakan untuk menghancurkan armada kapal perang lawan. Disamping itu beberapa tahun terakhir sebelum perang, militer Jepang masih terbagi antara mereka yang ingin berekspansi ke utara (Russia) atau ke selatan (Asia Tenggara dan Pasifik), sehingga skenario Perang di Pasifik seperti prediksi Bywater, masih belum pasti terwujud. Meski demikian rencana Yamamoto, tentu saja, berangkat dari skenario Bywater dalam beberapa hal. Pada saat Yamamoto memasukkan semua tujuan Angkatan Darat Kekaisaran ke dalam rencana induknya, bersama dengan staf umum angkatan laut, rencana itu jauh melampaui konsep Bywater, untuk memasukkan serangan terhadap wilayah dan kekuatan Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Belanda. Perbedaan penting lainnya antara Bywater dan Yamamoto berkaitan dengan penggunaan kekuatan udara: Meskipun Bywater akhirnya menyadari pentingnya kehadirannya di masa mendatang, penggunaan kapal induk secara kolektif, yang ditunjukkan dengan mengagumkan di Pearl Harbor, adalah kontribusi Yamamoto (dan kepala angkatan udaranya, Minoru Genda) untuk strategi militer angkatan laut dunia di masa depan.
Kemudian sangat menggoda untuk bertanya-tanya peristiwa apa saja yang mungkin terjadi jika Bywater tidak pernah menulis tentang strategi di Pasifik—atau jika Yamamoto tidak terpengaruh oleh pemikiran penulis Inggris itu. Sangat mungkin perang akan mengambil jalan yang sangat berbeda dan meninggalkan jejak yang jauh berbeda dalam sejarah. Sejarawan militer Louis Morton telah menulis bahwa jika Jepang tidak pernah membayangkan melancarkan serangan ke Pearl Harbor, melewati begitu saja Filipina dan memusatkan perluasan wilayah mereka di kawasan Hindia Belanda dan Malaya Inggris, “mungkin saja Amerika Serikat tidak akan pergi berperang, atau, jika memang demikian, rakyat Amerika akan lebih menyukai dinegosiasikannya perdamaian.” Meskipun Roosevelt siap meminta Kongres untuk menyatakan perang terhadap Jepang jika Jepang menyerang Singapura, tidak ada yang tahu bagaimana Kongres—atau rakyat Amerika—dapat menanggapi permintaan semacam itu. Pada bulan Februari 1941, sebuah jajak pendapat Gallup menemukan bahwa meskipun 56 persen orang Amerika menyukai upaya “untuk mencegah Jepang merebut Hindia Belanda dan Singapura”, hanya 39 persen yang bersedia mengambil risiko perang. Jelas, banyak yang tidak mau mengorbankan nyawa orang-orang Amerika untuk membantu negara-negara kolonial Eropa yang terkepung untuk mempertahankan koloni Asia mereka. Setelah serangan di Pearl Harbor, Menteri Luar Negeri Cordell Hull juga sempat mengatakan: “Saya tidak tahu apakah kita akan berperang jika Jepang tidak menyerang kita.”
Sementara itu apa pengaruh pemikiran Bywater terhadap strategi perang Amerika? Dia tampaknya mengubah pemikiran beberapa kepala angkatan laut pada tahun 1925. Mungkin setelah mengetahui tentang rencana darurat Amerika untuk berperang dengan Jepang, Bywater mencurahkan dua bab di buku The Great Pacific War untuk mendramatisasi “kebodohan” rencana ekspedisi yang sembrono, seperti yang diusulkan dalam Rencana Perang Oranye. Dia kemudian menggambarkan Angkatan Laut AS yang insyaf melakukan gerak maju selangkah demi selangkah yang direncanakan dengan hati-hati menuju ke Manila dengan melintasi “jembatan pulau” di rantai kepulauan Marshall dan Caroline. Marinir AS visioner Earl (“Pete”) Ellis dan perintis kekuatan udara William (“Billy”) Mitchell memang sempat membuat proposal yang agak mirip, tetapi Bywater adalah pakar angkatan laut pertama yang secara terbuka menjelaskan kampanye semacam itu. Jika Bywater tidak bisa secara tepat mengklaim sebagai “bapak” dari strategi AS di Pasifik, tulisannya pasti telah mempengaruhi perencanaannya secara keseluruhan. Begitu perang pecah, sebagian besar ahli strategi angkatan laut yang bekerja untuk Kepala Staf Gabungan di Washington, dan untuk Chester W. Nimitz, komandan teater Pasifik tengah, sudah akrab dengan The Great Pacific War—atau salah satu dari banyak buku tiruannya, seperti buku War in the Pacific tulisan Sutherland Denlinger. Saat itu ide Bywater telah menjadi bagian dari pustaka penting angkatan laut.
Hector Bywater meninggal di London pada tanggal 18 Agustus 1940, tak lama setelah Yamamoto memulai persiapan rahasia untuk menjalankan strategi yang telah ia buat. Penyebab kematiannya, menurut laporan pemeriksaan medis, adalah karena gagal jantung yang konsisten dengan ketergantungannya pada alkohol. Tetapi seorang mantan koleganya curiga bahwa Jepang, karena takut Bywater akan membuka kedok persiapan mereka untuk serangan mendadak, membunuhnya. Namun tidak ada bukti kuat yang mendukung kecurigaan ini. Jadi, yang bisa dikatakan dengan pasti adalah bahwa kematian mendadak Bywater pada musim panas 1940 datang seperti hadiah tak terduga untuk Isoroku Yamamoto—mengingat rencana yang akan dia jalankan saat itu. Sementara itu mengenai berbagai kesamaan ramalan atau prediksi Bywater dengan jalannya Perang Pasifik bukanlah kebetulan, namun juga bukan berarti bahwa para perencana perang meniru mentah-mentah pemikiran Bywater, mengingat dinamika situasi yang terjadi setelah buku Bywater diterbitkan. Bisa dikatakan bahwa Bywater hanyalah seorang pengarang yg secara relatif tepat berhasil menggambarkan bagaimana kelemahan militer Jepang karena langkanya SDA dan SDM dapat mengatasi kesulitan dengan tindakan yg kreatif dan berani. Meski pada akhirnya Jepang kalah, itu soal lain karena Jepang memang tidak mendukung operasi militer berkepanjangan. Yg jelas Bywater adalah seorang “peramal” yg cukup memahami masalah yg ia bicarakan.
Disadur, diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
Sisi lain dari Perang Pasifik: Benarkah Yamamoto terpengaruh Buku karya Bywayer sehingga menyerbu Pearl Harbor? Oleh Wisnu AM Liku-liku Perang, Koran Sinar Harapan Minggu ca. 1984.
BYWATER’S PACIFIC WAR PROPHECY By WILLIAM H. HONAN; 12/22/2017
