Sejarah Militer

Ran Ronen, Pilot Ace dan Komandan Skuadron Tempur Legendaris Israel

Meskipun pilot pesawat tempur adalah golongan yang istimewa, namun yang terbaik di antara mereka akan terlihat lebih menonjol. Di suatu tempat di bagian atas daftar “Ace” (pilot yang mampu menembak jatuh 5 pesawat musuh dalam pertempuran udara), ada nama Ran Ronen. Ronen terkenal karena menerbangkan jet tempur Mirage III dan F-4 Phantom II selama Perang Enam Hari, Perang Atrisi, dan Perang Yom Kippur. Ronen terutama mendapat publisitas dari serial History Channel Dogfights, dengan memberikan wawancara dalam dua episode, “Dogfights of the Middle East” dan “Desert Aces.”

Pilot Ace Israel, Ran Ronen. (Sumber: https://www.amazon.com/stores/author/B00J5UU1CI)

LATAR BELAKANG

Lahir pada 19 Juli 1936, Ran Ronen-Pekker lahir dari pasangan Leah (née Sturman) dan David Pekker, di Kfar Vitkin, yang kemudian menjadi wilayah Israel tengah, dengan orang tuanya menjadi anggota pendiri pemukiman tersebut. Pada bulan Maret 1954, di usia 17 tahun Ronen mendaftar di Angkatan Udara Israel (IAF), dan memulai karirnya menerbangkan pesawat tempur Supermarine Spitfire, dan kemudian berlatih kembali di jet tempur Gloster Meteor di Skuadron ke-117. Model pesawat operasional berikutnya yang diterbangkan Ronen adalah jet tempur Dassault MD450 Ouragan buatan Prancis dari Skuadron ke-113. Ronen-Pekker kemudian turut mengambil bagian dalam kampanye di Sinai, yang berlangsung dari tanggal 29 Oktober 1956 hingga 7 November 1956, sebagai pilot jet tempur Mystere. Ronen lalu pergi ke Prancis, di mana dia terbang selama satu tahun di Angkatan Udara Prancis sebagai bagian dari program pelatihan untuk pilot-pilot Israel. Ronen kemudian menjadi instruktur, dan pada tahun 1962 (di usianya yang baru 26 tahun), menjadi wakil komandan Skuadron ke-101. Satu tahun kemudian, saat menerbangkan jet tempur Mirage III yang baru dalam penerbangan rutin, Ronen kehilangan kendali pesawatnya di atas sebuah desa berpenduduk padat. Saat mesin mati, dia mengetahui bahwa ia tidak dapat mendaratkan pesawat dengan aman karena dia ingat peringatan dari pabrikan Perancis bahwa jika dia mencoba mendarat tanpa tenaga, hidung pesawat akan terbanting ke tanah, menewaskan pilotnya. Selain itu Ronen juga tidak ingin menabrakkan Mirage III di desa itu, sehingga dia mengarahkan pesawat ke lapangan kosong dan melontarkan diri pada ketinggian 500 kaki (152,4 meter) – ketinggian yang berbahaya untuk “’melontarkan diri”, meskipun kursi lontar saat itu memungkinkan pilot untuk melontarkan diri dengan aman bahkan di darat (zero/zero ejection seat). Ajaibnya, pesawat tersebut melayang dan berhasil mendarat sendiri di lapangan dalam kondisi nyaris utuh, sehingga nantinya dapat diperbaiki dan diterbangkan kembali oleh Ronen. Mendengar prestasi tersebut, Komandan IAF Ezer Weizman mengirimi Ronen sebotol wiski dan puisi yang memujinya karena menjadi “pilot pertama yang berhasil mendaratkan pesawatnya setelah melakukan melontarkan diri menggunakan kursi lontar”. Inspeksi kemudian mengungkapkan masalahnya adalah pada komponen pompa bahan bakar yang lemah yang menjelaskan kegagalan dan kecelakaan sebelumnya pada 7 Mirage IAF dan 16 Mirage Prancis. Ronen-Pekker kemudian bersekolah di sekolah perwira Angkatan Udara Israel dan awalnya ditunjuk sebagai wakil komandan skuadron di Hatzor Airbase. Tak lama kemudian, pada musim panas 1965, ia diangkat menjadi pemimpin skuadron ke-119 (“Bat” Squadron), yang pada tahun 1963 yang telah dikonversi untuk menerbangkan Mirage III.

Pesawat tempur Supermarine Spitfire Israel. Ran Ronen memulai karirnya menerbangkan pesawat tempur Supermarine Spitfire, dan kemudian berlatih kembali di jet tempur Gloster Meteor di Skuadron ke-117. (Sumber: https://id.pinterest.com/pin/700661654502728470/)
Jet tempur Mystere, tipe pesawat tempur yang diterbangkan Ronen saat krisis Suez tahun 1956. (Sumber: https://id.pinterest.com/pin/561753753500230727/)
Pesawat tempur Dassault Mirage III Israel. Di pesawat ini Ronen “pilot pertama yang berhasil mendaratkan pesawatnya setelah melakukan melontarkan diri menggunakan kursi lontar”. (Sumber: https://www.gettyimages.ae/photos/fighter-%28mirage-iii%29)

OPERASI DIAMOND

Tepat sebelum Perang Enam Hari, Israel berperang sendirian melawan empat angkatan udara sekaligus – Mesir, Suriah, Irak, dan Yordania, yang sebagian besar dipersenjatai dengan pesawat-pesawat buatan Rusia dan Inggris. Di tengah konflik, Ronen (baru berusia 30 tahun) pada tanggal 16 Agustus 1966 diperintahkan untuk mengambil bagian dalam misi rahasia (Operasi Diamond), yang bahkan dia sendiri tidak diberitahu sepenuhnya sebelum lepas landas. “Saya diberitahu hanyalah bahwa ini akan menjadi misi rahasia,” kenangnya kemudian. Dia tidak tahu bahwa dinas rahasia Mossad Israel – meskipun memiliki kontak dengan seorang Yahudi kelahiran Irak – telah meminta bantuan seorang pilot MiG-21 Irak yang beragama Kristen untuk membawa pesawat Soviet berteknologi tinggi itu ke tangan Israel dan Barat. Pada saat kejadian, MiG-21 sedang membuat pilot Amerika ‘sakit kepala’ di Asia Tenggara, dan oleh karenanya informasi intelijen apa pun tentang pesawat tersebut sangat dibutuhkan. Pilot Irak, Kapten Munir Redfa, sering diperlakukan tidak adil dan tidak dipercaya oleh rekan-rekan penerbangnya, serta seringkali hanya diberi tangki bahan bakar untuk terbang jarak pendek karena keyakinannya pada agama Kristen. Dijanjikan kehidupan baru dan uang $1 juta oleh Mossad, Redfa membawa nasib keluarganya dan melarikan diri menuju kebebasan. Ronen dan wingmannya tidak mengetahui misi rahasia tersebut sampai, saat mereka melesat menuju wilayah musuh, suara Komandan IAF Mordechai “Mottie” Hod memenuhi headset-nya. “Ran,” kata Hod, “Dalam beberapa menit, kamu akan melihat sesuatu yang tidak boleh kamu tembak jatuh.” Terbang kurang dari tiga puluh kaki (9 meter) dari pesawat MiG itu, Ronen melakukan kontak visual dengan Redfa, yang mengangguk dan memberi isyarat bahwa dia berada di pihak yang sama. Terbang sejajar dengan Redfa, Ronen memimpin sementara wingmannya tetap berada di belakang MiG dengan jari di pelatuk senjata, untuk berjaga-jaga. Munir Redfa, kemudian menjelaskan bahwa dia benar-benar mendarat “dengan tetes bahan bakar terakhirnya”. Akuisisi MiG-21 merupakan sebuah keuntungan besar bagi negara-negara Barat, dan AS membuat kesepakatan dengan Israel untuk meminjam pesawat tersebut, sebuah kesepakatan yang memberi Israel hak istimewa untuk membeli jet tempur paling hebat Amerika, yakni F-4 Phantom II. Informasi rahasia yang berhasil dipelajari dari MiG-21 Redfa lalu dipakai Amerika menghadapi musuh yang sama di Vietnam. Pesawat tersebut sekarang disimpan di Museum Angkatan Udara Israel di Hatzerim. Namun, misi pengawalan pada tahun 1966 tidak akan menjadi puncak karir Ronen – hanya beberapa bulan kemudian, dia akan terlibat dalam perjuangan mempertahankan hidupnya.

MiG-21 Fishbed Iraq yang diincar Israel dalam Operasi Diamond. (Sumber: https://medium.com/war-is-boring/in-1966-israeli-intelligence-convinced-an-iraqi-pilot-to-defect-with-his-mig-21-fcfdf9fe4547)
Munir Redfa, pilot Iraq yang membelot ke Israel dengan jet tempur MiG-21 Fishbed. Dalam operasi Diamond, Ronen ditugaskan untuk “menjemput” Redfa dengan pesawatnya. (Sumber: https://x.com/)
Sir Sean Connery, yang terkenal karena perannya sebagai James Bond. Pada tahun 1967, Connery mengunjungi Israel dan mengambil foto bersejarah ini bersama Komandan IAF saat itu Mayjen Moti Hod dengan latar belakang MiG Irak -21, bernomor ‘007’ yang dibawa membelot oleh Redfa. (Sumber: https://www.eurasiantimes.com/how-israel-stole-the-russian-mig-21-from-iraq-sean-connery-was-glad-for-an-historic-picture/)

KEMENANGAN UDARA PERTAMA

Selama Operasi Shredder (serangan besar-besaran lintas batas pada 13 November 1966 oleh militer Israel di desa Samu di Tepi Barat yang dikuasai Yordania sebagai tanggapan atas serangan ranjau darat al-Fatah dua hari sebelumnya di dekat perbatasan Tepi Barat, yang menewaskan tiga tentara Israel yang melakukan patroli di perbatasan) pada bulan November 1966, Ronen, yang merupakan seorang pilot yang disegani namun belum pernah menembak jatuh pesawat musuh, mendapat kesempatan ketika ia melawan Muwaffaq Salti, seorang komandan berpengalaman skuadron pesawat tempur Hawker Hunter Yordania. Terlibat dalam pertempuran udara yang gila, Ronen berputar dan berbalik saat Salti membawanya ke ngarai, sebuah permainan kucing dan tikus yang mematikan melalui jurang dengan kecepatan 500 knot (926 km/jam), meninggalkan debu dan asap di belakangnya. Bagi Ronen, dia belum pernah terbang begitu cepat pada ketinggian serendah itu, dan ketegangan mental saat mencoba menembak jatuh musuh (sambil menghindari menjadi reruntuhan di dasar ngarai) sangatlah besar. Kurang dari 250 meter di belakang Salti, Ronen mengejar pilot Yordania itu melewati setiap tikungan, belokan, dan tepian. Meski sedang mengejar Salti, Ronen tidak bisa menempatkan dirinya pada sudut yang tepat untuk menembakkan kanon kaliber 30mm miliknya. Tiba-tiba, sebuah celah kecil secara mikroskopis terbuka, memungkinkan Ronen menembak, menghujani si Hunter dengan 21 peluru kaliber 30mm – tembakan yang berlangsung kurang dari satu detik. Hunter itu meledak dalam bola api, dan dalam kengerian Ronen, Salti terlontar saat pesawatnya berguling, membuat pilotnya meluncur ke sisi tebing. Kemenangan udara pertama Ronen, dengan lawan yang layak ini akan melekat padanya selamanya. Pertempuran udara itu berlangsung selama delapan menit – menjadi yang terlama dalam sejarah IAF. Kurang dari enam bulan kemudian, pada tanggal 7 April 1967 terjadi pertempuran udara antara Angkatan Udara Israel dan Suriah di Dataran Tinggi Golan, di mana Ronen berhasil menembak jatuh sebuah MiG-21 Suriah.

Serangan tentara Israel di Samu. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Samu_incident)
Pesawat tempur Hawker Hunter AU Yordania, menjadi korban kemenangan udara Ronen. (Sumber: https://www.facebook.com/aviationmt/posts/hawker-hunter-from-the-jordanian-air-force-on-take-off-from-luqa-malta-on-28th-j/1757573474604638/)

KOMANDAN SKUADRON

Menjelang tahun 1967, Ronen mempersiapkan skuadronnya dengan keras. Dengan suara yang dapat membuat pilot-pilot muda terlonjak dari kursinya, ia menuntut agar mereka melakukan “death burst (berondongan maut)” dalam latihan, sehingga mereka dapat dianggap “membukukan kemenangan udara” hanya jika mereka bisa mengarahkan pembidik senjata ke pesawat musuh selama 16 frame berturut-turut. Dalam waktu singkat, dia bisa meningkatkan tingkat kemahiran anak buahnya secara signifikan. Pilot muda seperti Lt. Giora Romm, yang kemudian menjadi mayor jenderal, ingat bagaimana sikap keras Ronen membuahkan hasil. Romm nantinya akan bisa menembak jatuh lima pesawat dalam waktu kurang dari seminggu pertempuran. Dorongan Ran yang tak kenal kompromi untuk mencapai keunggulan berjalan seiring dengan kebijakan “tanya jawab yang jujur” yang membuahkan hasil dan menyelamatkan banyak nyawa. Mantan kepala uji coba Israel Aerospace Industries, Menachem Shmul, hampir mencelakakan dirinya sendiri dan pilot Mirage III lainnya pada hari pertama perang tahun 1967. Ronen lalu melarang Shmul terbang, sebelum mempekerjakannya kembali setelah mengetahui bahwa semangat terbang Shmul yang berlebihan berakar pada pengalaman pribadinya. Ronen bahkan kemudian menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak mengenal anak buahnya dengan lebih baik. Setelah kematian Ronen, Shmul merefleksikan sentimen dari hampir semua komandan senior IAF sejak Benny Peled, dengan mengatakan: “Tidak pernah ada komandan seperti Ran sebelumnya. Dan setelah dia, orang-orang hanya bisa menginginkan untuk mencapai levelnya.” Ronen berhasil karena dia memimpin di saat-saat tersulit. Salah satu pilotnya kemudian menggambarkannya sebagai “komandan skuadron terhebat yang pernah ada”.

Ran Ronen diatas kokpit pesawat tempur Dassault Mirage III. (Sumber: https://www.austrianwings.info/2022/01/vor-fuenf-jahren-starb-das-israelische-fliegerass-ran-ronen-pekker/)

MENJADI ACE

Ronen menjadi Ace pada tahun 1967, dengan menembak jatuh tiga pesawat tambahan. Pada bulan Juni 1967, selama Perang Enam Hari, skuadron Ronen mengambil bagian dalam Operasi Moked dan misi pengeboman lainnya, serta pertempuran udara ke udara melawan pilot-pilot Suriah dan Mesir. Dia berhasil menembak jatuh dua MiG-19 Mesir, sementara Skuadronnya meraih 19 kemenangan udara, lebih banyak dari unit-unit tempur Israel lainnya, dengan hanya dua pesawatnya yang hilang – yang pilotnya mampu menyelamatkan diri dan selamat. Karena banyak negara Arab-Islam yang terus memusuhi Israel, konflik bersenjata berikutnya dimulai pada tahun 1967, yang disebut Perang Atrisi, yang berlangsung hingga tahun 1970. Sekali lagi Israel, harus berjuang untuk eksistensinya sebagai sebuah bangsa. Selama ini, Ronen-Pekker menjabat sebagai kepala pelatihan di Sekolah Penerbangan Angkatan Udara Israel, namun ia tetap terus terbang sebagai pilot cadangan di Skuadron ke-119. Selama periode ini dia berhasil menembak jatuh tiga MiG-21 Mesir. Pada tahun 1969, ia telah berhasil membukukan tujuh kemenangan udara (lebih dari dua kali lebih banyak dari kemenangan udara, Astronot Amerika, John Glenn), empat di antaranya adalah atas MiG-21. Semua kecuali dua kemenangannya diperoleh dengan kanon kaliber 30mm dari jet tempur Mirage III kesayangannya. Setelah rekannya Shmuel Hetz ditembak jatuh sebagai komandan skuadron jet tempur Phantom pada musim panas tahun 1970, Ronen-Pekker ditunjuk sebagai penggantinya, meskipun dia tidak mengenal pesawat Phantom dan belum pernah menerbangkannya sebelumnya. Ronen mengambil alih komando Skuadron 201 yang ditinggalkan Hetz dan berhasil mengembalikan kepercayaan diri dan semangat juang para anggota, yang memungkinkan skuadron itu untuk pulih. Ronen kemudian berhasil memimpin skuadron dalam menyerang posisi-posisi senjata antipesawat Mesir selama konflik. Pada tahun 1972, Ronen-Pekker menyelesaikan pelatihan dengan Korps Marinir AS di Quantico dan kemudian diangkat menjadi panglima pelatihan penerbangan di Angkatan Udara Israel dan dipromosikan menjadi kolonel. Selama Perang Yom Kippur ia mengambil alih komando Pangkalan Udara Tel Nof, pangkalan terbesar IAF. Ronen lalu dipromosikan menjadi brigadir jenderal pada tahun 1975. 

Operasi Moked: Serangan Israel ke pangkalan-pangkalan udara Mesir dalam pembukaan perang 6 hari 1967. Ronen turut terlibat dalam operasi yang gilang gemilang ini. (Sumber: https://x.com/theaviationart/status/1226527498642640897)

SETELAH PENSIUN

Pada tahun 1977, Ronen-Pekker mulai belajar di Universitas Harvard yang terkenal. Ketika dia kembali ke Israel pada tahun 1979, dia dijadwalkan untuk menduduki jabatan komandan angkatan udara. Namun ada tuduhan anonim – yang kemudian dibantah – bahwa ia telah mengeksekusi komandan kompi Yordania yang ditangkap dan mengaku membunuh pilot Israel Shabtai Ben-Aharon, yang menyelamatkan diri di dekat Ma’aleh Adumim. Ronen mengecamnya sebagai pencemaran nama baik. Beberapa investigasi lalu membebaskan Ronen dari tuduhan ini. Meski klaim tersebut ternyata salah, Military Advocate General merekomendasikan kepada kepala staf untuk mempertimbangkan kembali promosi Ronen. Hal ini, serta perselisihan pribadi antara Ronen dan komandan IAF Jenderal David Ivry, mengakibatkan Ronen ditolak promosinya. Dua tahun kemudian, pada tahun 1981, ia meninggalkan Angkatan Udara Israel setelah 27 tahun mengabdi, di mana ia melaksanakan 350 misi tempur dan membukukan 7 kemenangan udara. Dia akhirnya pensiun sebagai Brigadir Jenderal. Ronen meraih gelar master di bidang Administrasi Publik dari Universitas Harvard dan menjabat sebagai Research Fellow di Brookings Institution dan di RAND Corporation. Setelah beralih ke kehidupan sipil, Ronen bekerja sebagai wakil direktur biro iklan Dahaf. Pada tahun 1989 ia diangkat sebagai Konsul Jenderal Israel di Los Angeles dan nama keluarganya di Ibrani-kan menjadi Ronen. Dia menjabat selama tiga tahun. Pada tahun 1992 ia mendirikan Proyek Zahala, yang bekerja dengan remaja berisiko untuk menanamkan nilai-nilai Zionisme dan tanggung jawab sosial. Proyek ini diadopsi oleh Kementerian Pendidikan, dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Zevulun Hammer sebagai “proyek nasional”. Sejak tahun 1992, proyek Zahala telah mengubah ribuan orang menjadi kontributor penting bagi Israel. Untuk karyanya dalam proyek Zahala, Ronen (bersama Ruth Dayan) dianugerahi Hadiah Yigal Alon. Mentornya dan mantan komandannya Ezer Weizman merasa terhormat dengan memberinya penghargaan. Sepuluh tahun kemudian Ronen menulis biografinya “Eagle in the Sky” dalam bahasa Ibrani. Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 2016 oleh Dan Halutz (komandan Angkatan Udara Israel dari tahun 2000 hingga 2004).

Pemakaman Ran Ronen di tahun 2016. (Sumber: https://www.jpost.com/israel-news/saying-good-bye-to-ran-pekker-the-legendary-iaf-combat-pilot-474450)

Pada tahun 2008 Ronen memenangkan Hadiah Moskowitz untuk Zionisme. Komite penghargaan menjelaskan keputusan untuk menghormati Ronen, dimana “Penghargaan ini diberikan karena Ronen menjadi contoh teladan keberanian, pengorbanan dan kepemimpinan, atas penanganannya yang luar biasa terhadap tantangan pendidikan dan etika yang dihadapi Zionisme, dan atas keberhasilannya dalam mendirikan proyek Zahala, dengan merekrut mantan perwira dan komandan ke garis depan aksi sosial bagi pemuda Israel.” Ronen adalah pemilik tunggal Pekker Enterprises, sebuah firma penasihat. Dari 2009 hingga 2012 Ronen bekerja sebagai Anggota Direksi di Israel Aerospace Industries. Pada usia 21 tahun, Ronen menikah dengan Herutah, yang ia temui pada usia delapan tahun, dan pasangan tersebut dikaruniai tiga orang anak. Setelah tiga puluh tahun menikah, pasangan itu bercerai. Istri keduanya adalah penyanyi Mali Bronstein, yang kemudian juga diceraikannya. Ronen meninggal di Tel Aviv pada tanggal 3 Desember 2016 di usia 80 tahun, setelah perjuangan panjang melawan kanker darah. Saat matahari terbenam di Kfar Vitkin, menantu laki-laki Ran, Avi, yang kemudian memimpin Skuadron “Bat” sebagai bagian dari kariernya yang terkenal di IAF, mengungkapkan dua pertanyaan terakhir Ronen (seorang patriot sejati): Saat Avi memegang tangannya, ayah mertuanya tidak mengeluh atau mengerang kesakitan. Dia hanya bertanya: “Bagaimana keadaan angkatan udara? Bagaimana keadaan Israel?”

CATATAN KEMENANGAN UDARA RONEN

  1. Tanggal Kemenangan Udara: 13 November 1966; Pesawat Yang Digunakan: Mirage III; Senjata Yang Dipakai: Kanon; Korban: Hawker Hunter (Yordania) dalam pertempuran udara terpanjang IAF, melawan Muwaffaq Salti, komandan Skuadron Hunter Yordania
  2. Tanggal Kemenangan Udara: 7 April 1967; Pesawat Yang Digunakan: Mirage III; Senjata Yang Dipakai: Kanon; Korban: MiG-21 (Suriah) selama pertempuran udara massal di Dataran Tinggi Golan 
  3. Tanggal Kemenangan Udara: 5 Juni 1967; Pesawat Yang Digunakan: Mirage III; Senjata Yang Dipakai: Kanon; Korban: MiG-19 (Mesir) di atas Ghardaka, sebagai bagian dari Operasi Moked 
  4. Tanggal Kemenangan Udara: 5 Juni 1967; Pesawat Yang Digunakan: Mirage III; Senjata Yang Dipakai: Kanon; Korban: MiG-19 (Mesir) merupakan kemenangan udara kedua dalam pertempuran yang sama dengan kemenangan ketiganya
  5. Tanggal Kemenangan Udara: 5 Juni 1967 Pesawat Yang Digunakan: Mirage III; Senjata Yang Dipakai: Shafrir-2; Korban: MiG-21 (Mesir) selama pertempuran udara massal di Delta Nil
  6. Tanggal Kemenangan Udara: 21 Mei 1969; Pesawat Yang Digunakan: Mirage III; Senjata Yang Dipakai: Kanon; Korban: MiG-21 (Mesir) di Atas Ismaila
  7. Tanggal Kemenangan Udara: 11 September 1969 Pesawat Yang Digunakan: Mirage III; Senjata Yang Dipakai: Rudal Sidewinder; Korban: MiG-21 Mesir selama pertempuran udara massal di Delta Nil
Ran Ronen secara resmi dikreditkan 7 kemenangan udara selama karirnya di AU Israel. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ran_Ronen-Pekker)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Israeli Ace: How Ran Ronen became the pride of Israel’s Air Force by Andy Wolf; May 2, 2019

https://warisboring.com/israeli-ace-how-ran-ronen-became-the-pride-of-israels-air-force

Vor fünf Jahren starb das israelische Fliegerass Ran Ronen-Pekker

https://www.austrianwings.info/2022/01/vor-fuenf-jahren-starb-das-israelische-fliegerass-ran-ronen-pekker

Saying good-bye to Ran Pekker, the legendary IAF combat pilot By DANNY GROSSMAN; Published: DECEMBER 5, 2016 00:20

https://m.jpost.com/israel-news/saying-good-bye-to-ran-pekker-the-legendary-iaf-combat-pilot-474450

Israel recently buried Ran Ronen, an ace few ever heard of By Harold C. Hutchison; Feb 4, 2020 5:24 PM PST

https://www.wearethemighty.com/mighty-history/israel-recently-buried-ran-ronen-an-ace-few-ever-heard-of

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ran_Ronen-Pekker

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Samu_incident

Exit mobile version