Rapier adalah rudal permukaan-ke-udara yang dikembangkan untuk Angkatan Darat Inggris untuk menggantikan senjata antipesawat Bofors 40/L70 yang ditarik. Sistem ini tidak biasa karena menggunakan sistem panduan optik manual, yang mengirimkan perintah panduan ke rudal yang sedang terbang melalui link radio. Hal ini menghasilkan tingkat akurasi yang tinggi sehingga tidak diperlukan hulu ledak yang besar. “Rapier” dirancang untuk secara langsung melindungi pasukan di zona garis depan dari serangan udara musuh yang beroperasi di ketinggian rendah. Memasuki dinas operasional pada tahun 1971, senjata ini akhirnya menggantikan semua senjata antipesawat lainnya yang digunakan Angkatan Darat Inggris; baik senjata Bofors yang digunakan untuk menyerang sasaran di ketinggian rendah maupun rudal Thunderbird yang digunakan untuk menyerang sasaran dengan jarak yang lebih jauh dan di ketinggian yang lebih tinggi. Ketika ancaman udara yang diperkirakan berpindah dari misi strategis di ketinggian menengah ke serangan di ketinggian rendah, waktu reaksi yang cepat dan kemampuan manuver yang tinggi dari Rapier menjadikannya lebih efektif, dengan kemudian menggantikan sebagian besar senjata diatas pada tahun 1977. Rapier kemudian dipilih oleh Resimen RAF untuk menggantikan senjata Bofors dan rudal Tigercat mereka. Sistem rudal ini juga laku di pasaran internasional. Pada bulan Oktober 2021, senjata ini digantikan sebagai salah satu senjata pertahanan udara utama Inggris oleh Sky Sabre.
SEJARAH PENGEMBANGAN
Diperkenalkannya rudal permukaan-ke-udara jarak menengah, atau senjata berpemandu permukaan-ke-udara (SAGW) seperti yang dikenal di Inggris, telah membuat terbang di ketinggian sedang atau tinggi di dekat garis depan hampir seperti bunuh diri. Sebagai tanggapan, angkatan udara mulai memperkenalkan pesawat dan senjata yang dimaksudkan untuk bisa digunakan terbang pada ketinggian rendah, dalam penerbangan yang menggunakan bentang alam untuk menghalangi pandangan pesawat dari sistem radar pada rudal lawan. Pada akhir tahun 1950-an, Angkatan Darat Inggris menganggap ancaman ini cukup besar karena pesawat-pesawat baru seperti Sukhoi Su-7 menjadi umum digunakan dan pesawat lain dengan desain berperforma lebih tinggi sedang dalam proses pembuatan. Untuk melawan pesawat yang terbang rendah, hanya meriam antipesawat yang dianggap cocok, karena senjata tersebut dapat diayunkan dan ditembakkan dengan cepat dalam hitungan detik. Namun, jangkauan meriam Bofors 40/L56 yang relatif pendek berarti mereka hanya memiliki waktu yang sangat singkat di mana pesawat lawan bisa berada cukup dekat untuk menembak. Untuk memperbaiki hal ini, Angkatan Darat memulai pengembangan senjata yang ditingkatkan secara besar-besaran yang dikenal sebagai “Red Queen“. Senjata ini menggunakan peluru besar kaliber 42 mm (1,7 in) dalam susunan meriam putar untuk mendapatkan laju penembakan yang tinggi. Meskipun terdapat beberapa kemajuan, pada tahun 1959, Staf Umum menyimpulkan bahwa meriam tidak lagi berguna untuk melawan pesawat modern. Untuk kebutuhan mendesak, mereka membeli lagi Bofors 40/L70 baru, dan untuk jangka panjang memulai pengembangan rudal baru untuk senjata reaksi cepat jarak pendek, yang dikenal sebagai sistem Light Anti-Aircraft (LAA).
Dalam konsep LAA ini Angkatan Bersenjata Inggris ingin mendapatkan sistem pertahanan udara dengan waktu reaksi yang singkat, kemampuan untuk mengambil posisi tempur dengan cepat, dengan tata letak peralatan yang kompak, karakteristik profil massa yang rendah, kecepatan tembak dan kemungkinan mengenai sasaran yang tinggi dengan hanya menggunakan satu rudal. Kontes desain awal lalu dimenangkan oleh British Aircraft Corporation (BAC) pada tahun 1960, dan diberi nama pengembangan PT.428. Desain ini menawarkan sistem yang dapat diangkut pada satu truk Bedford TKukuran 4 ton. Unit penembakan merupakan satu kesatuan yang biasanya diletakkan di tanah selama pengoperasian, namun dapat ditembakkan dari truk dalam keadaan darurat. Sistem ini sengaja dirancang agar muat, ketika dibongkar, sebagai satu beban pada gyroplane Fairey Rotodyne. Sistemnya cukup canggih, termasuk dilengkapi radar pencarian dan pelacakan otomatis, kamera televisi terpisah untuk identifikasi target, dan delapan belas rudal dalam dua kotak masing-masing berisi sembilan peluru. Ketika tekanan anggaran meningkat pada awal tahun 1960an, Angkatan Darat diberi pilihan untuk memilih PT.428 atau rudal nuklir Blue Water. Mereka memilih yang terakhir, sebuah keputusan yang menurut Solly Zuckerman agak dipertanyakan. Angkatan Darat lalu secara resmi mengganti PT.428 dengan MIM-46 Mauler yang serupa namun kurang begitu canggih dari Amerika Serikat. Mauler menggabungkan radar pencarian dan sembilan rudal menggunakan radar atau panduan inframerah pada satu kendaraan lapis baja turunan M113. Konsepnya mirip dengan PT.428, tetapi lebih besar dan jumlah rudalnya lebih sedikit.
Selama pengembangan PT.428, BAC juga telah mempertimbangkan versi ringan dari sistem yang memasang enam rudal PT.428 di sebuah trailer yang dapat ditarik oleh Land Rover versi pikap. Radar peringatan dini akan dipasang pada kerangka di atas atap truk, dan pelacakan awal akan dilakukan secara manual menggunakan teropong yang dipasang pada sistem gimbal di bak truk. Antena kecil di trailer peluncur akan berkomunikasi dengan rudal agar sejajar dengan teropong dan kemudian mengikuti semi-active radar homing (SARH) dari titik tersebut. Ketika pengembangan PT.428 berakhir pada tahun 1961, BAC mulai mempertimbangkan opsi yang lebih murah berdasarkan konsep umum yang sama. Selama waktu ini, Colin Baron dan John Twinn di Royal Aircraft Establishment sedang mengembangkan sistem semi-automatic command to line of sight (SACLOS). Menggabungkan sistem ini dengan rudal PT.428 kemudian menghasilkan konsep Sightline, yang jauh lebih murah dibandingkan versi asli yang dipandu radar. Tahun berikutnya, Mauler mengalami kemunduran hingga akhirnya dibatalkan, dan akibatnya Angkatan Darat AS dan Inggris tidak memiliki sistem antipesawat jarak pendek modern. Staf Umum dan Staf Udara lalu menanggapinya dengan mengeluarkan persyaratan gabungan GASR.3132 untuk sistem Rudal Permukaan ke Udara (SAM) penggunaan siang hari dengan cuaca cerah untuk Angkatan Darat dan Resimen RAF. Apakah GASR.3132 dirancang untuk konsep Sightline, atau Sightline untuk sistem GASR.3132, tidak jelas dalam referensi yang ada. Konsep baru tersebut kemudian diberi nama “Defoe”. Sistem yang lebih kecil dan lebih murah yang tidak memiliki radar peringatan dini juga dipertimbangkan berdasarkan GASR.3134.
Pada tahun 1963, Defoe diresmikan, mengingat target pengembangan ET.316. Manajemen BAC awalnya memberinya nama “Mongoose (luwak)”, tetapi selama rapat dewan muncul masalah bahwa tidak ada yang tahu apa nama lebih dari satu Mongoose; mongooses? mongeese? Nama “rapier” kemudian diusulkan dan diresmikan. Seiring dengan berlanjutnya pengembangan, semakin jelas bahwa Rapier adalah senjata yang jauh lebih tangguh dari yang diperkirakan sebelumnya. Sistem pelacakan optiknya sangat akurat sehingga rudal hampir selalu mengenai pesawat, bahkan dengan hulu ledaknya yang kecil dan tidak adanya proximity fuze, rudal tersebut hampir pasti menjamin terjadinya perkenaan. BAC bercanda bahwa sistem itu adalah “hit-ile“, bukan “miss-ile“. Hal ini juga menjadi jelas bahwa sistem radar peringatan akan sangat berharga di lapangan, dan dengan ini sistem GASR.3134 dibatalkan. Uji tembak rudal pertama dilakukan pada tahun 1966. Sistem ini diuji secara ekstensif di Woomera, dengan dukungan besar dari Angkatan Darat Australia, yang merupakan pengguna awal sistem Rapier. Beberapa staf Australia di Woomera memulai pengembangan sistem simulator pada tahun 1965 untuk memahami dan menyempurnakan sistem panduan manual. Ini terdiri dari joystick dari penjejak optik Rapier yang memunculkan gambar proyeksi rudal bergerak. Model rudal dan berbagai pesawat sasaran kemudian dibuat dan diambil gambarnya menggunakan teknik pembuatan film stop motion untuk membuat pilihan film dari berbagai rangkaian serangan sasaran di langit Woomera. Sistem ini selesai dibangun pada tahun 1968 dan dalam pengujian awal, tampaknya sistem pelacakan merupakan masalah serius, dan tampaknya Angkatan Darat Inggris khawatir bahwa sistem tersebut akan berada di luar kemampuan penembak berkemampuan rata-rata. Namun, beberapa masalah pada akhirnya diselesaikan dengan menyesuaikan sistem umpan balik mekanis pada joystick sehingga lebih sesuai dengan kesulitan rudal dalam merespons berbagai masukan, dan dengan hal tersebut terselesaikan, banyak masalah yang tersisa diselesaikan melalui simulasi besar-besaran dan pemrosesan data pada komputer IBM 7090. Sistem lengkap kemudian diuji pada tahun 1968, yang menghasilkan kontrak produksi yang dikeluarkan pada tahun 1969.
Pada saat bersamaan, Resimen RAF sedang mencari senjata jarak pendek untuk pertahanan lapangan udara. Akhirnya, hal ini mengarah pada pengembangan sistem rudal Tigercat pada tahun 1967, yang merupakan adaptasi dari sistem rudal permukaan-ke-udara angkatan laut Seacat. Tigercat mirip dengan Rapier dalam konsep dasarnya, tetapi didasarkan pada teknologi yang lebih tua sehingga agak lebih besar dan lebih berat serta menawarkan kinerja yang lebih rendah. Tigercat diperkenalkan ke dalam dinas operasional dengan Resimen RAF Skuadron No 48 pada tahun 1968, yang memberikan Resimen RAF sistem SAM ketinggian rendah portabel penuh pertama yang efektif di Inggris dan pengalaman berharga dalam mengoperasikan sistem jenis ini. Pada tahun 1972 unit uji coba yang dikenal sebagai Rapier Pilot Battery dibentuk bersama oleh Resimen RAF Skuadron No 63 dan Baterai Pertahanan Udara Ringan ke-9 (Plassey) Artileri Kerajaan. Uji coba komprehensif berakhir pada tahun 1973 dan unit Rapier pertama dalam dinas Inggris, yakni Skuadron No. 63, dikerahkan ke stasiun operasionalnya di Jerman pada pertengahan tahun 1974. Pada tahun 1980an, sistem simulator pelatihan baru dibangun di Stevenage. Ini terdiri dari kubah berbentuk setengah bola dengan radius 10 meter (33 kaki) yang permukaan dalamnya digunakan sebagai layar film tempat gambar medan diproyeksikan. Sebuah laser uap tembaga memproyeksikan gambar target dan rudal yang sedang terbang di atas gambar latar belakang, sementara laser helium-neon yang lebih kecil menyimulasikan suar pelacakan Rapier. Unit penargetan Rapier lengkap ditempatkan di tengah kubah, dan sinyal panduannya ditangkap dan dikirim ke simulator untuk memperbarui posisi rudal. Citra laser yang diproyeksikan cukup terang sehingga dapat dilacak oleh pencitra dan sistem pencari Infra Merah (IR), sehingga memungkinkannya digunakan dengan Rapier versi Darkfire yang diperbarui dengan kamera IR mereka, atau rudal penjejak IR lainnya seperti Stinger. Sistem ini dijual terpisah untuk digunakan dengan sistem rudal lain dengan nama British Aerospace Microdome.
PENGOPERASIAN & VARIAN
Rapier asli berbentuk peluncur roda dua yang membawa empat rudal, unit pelacak optik, generator, dan trailer rudal cadangan. Peluncurnya terdiri dari unit silinder vertikal yang bisa berputar 360º dan membawa dua rudal di setiap sisinya, piringan radar pengawasan dan sistem “Identification Friend or Foe” (IFF) ada di bawah radome di bagian atas, komputer pemandu dan elektronik radar di bagian bawah, dan sebuah antena parabola yang menonjol untuk mengirimkan perintah panduan ke rudal di bagian depan. Radar pencari tersebut berjenis pulse Doppler dengan jangkauan sekitar 15 kilometer (9 mil). Antena, yang terletak di bagian atas peluncur, berputar sekitar satu kali dalam satu detik, mencari target bergerak melalui pergeseran dopplernya. Jika sudah ditemukan, akan menyala sebuah lampu di Selector Engagement Zone (SEZ), sebuah kotak berisi 32 lampu berwarna oranye yang disusun melingkar seukuran roda kemudi mobil. Operator radar juga dapat menggunakan sakelar untuk mengosongkan aliran balik dari arah lain, sehingga memberikan ketahanan terhadap gangguan. Unit pelacak optik terdiri dari bagian bawah yang tidak bergerak dan bagian atas yang berputar. Bagian bawah menampung kontrol operator, sedangkan bagian atas menampung optik pelacakan. Sistem optik operator adalah teleskop yang dimodifikasi yang berisi prisma Dove untuk mencegah gambar ‘jatuh’ saat optik berputar dalam azimuth. Dengan menggunakan sistem ini, tidak seperti periskop, operator tidak perlu bergerak untuk melacak target. Bagian atas juga berisi sistem pelacakan rudal terpisah yang mengikuti optik operator, berdasarkan kamera televisi yang dioptimalkan untuk IR Band. Setelah mendeteksi suatu target, sistem pelacakan optik diputar ke azimuth target yang diumpankan ke sana dari KEK dan operator kemudian mencari target di ketinggian. Bidang pandang operator dipilih berdasarkan jangkauan target: “lebar” sekitar 20 derajat atau “pelacakan” sekitar 4,8 derajat. Ketika target ditemukan, operator beralih ke mode “pelacakan” dan menggunakan joystick untuk menjaga target tetap terpusat di teleskop. Setelah pelacakan yang stabil tercapai, rudal ditembakkan. Kamera TV pada pelacak disetel untuk melacak empat suar di ekor rudal. Seperti teleskop operator, sistem TV memiliki dua tampilan, satu lebarnya sekitar 11 derajat untuk “pengambilan target” awal, dan satu lagi dengan lebar 0,55 derajat untuk pelacakan di tengah jalan. Panduan rudal sepenuhnya otomatis, sistem pelacakan inframerah menangkap rudal setelah peluncuran dalam bidang pandang lebar 11°, dan kemudian secara otomatis beralih ke bidang pandang 0,55° ketika rudal diarahkan ke sasaran. Pencari arah inframerah dikawal ke target oleh operator dan perangkat pelacak di Kendaraan Peluncuran Roket, yang memungkinkan unit penghitungan memberi panduan untuk rudal menggunakan metode “cover the target“. Perintah radio ini ditransmisikan oleh stasiun transfer perintah di atas LSD, tempat perintah tersebut diimplementasikan.
Lokasi rudal relatif terhadap garis pandang diukur menggunakan sistem yang identik dengan sistem “chopper” yang digunakan pada rudal pelacak inframerah awal. Alih-alih dipasang pada rudal, choppertersebut berada di dalam peluncur, dan memberikan gambar dari kamera pelacak yang mengikuti cahaya dari suar. Chopper menghasilkan sinyal yang mengkodekan sudut rudal relatif sebagai “up” dan sudut keluar dari pusat, atau disebut “error off“. Komputer sederhana di pangkalan kemudian menghitung input kontrol yang diperlukan untuk membawa rudal ke garis pandang dan mengirimkannya ke rudal melalui pemancar pada platform peluncur dan diterima pada antena kecil di bagian belakang sirip tengah rudal. Operator cukup mengarahkan garis bidik teleskop pada sasaran menggunakan joystick, dan rudal secara otomatis terbang ke garis pandang. Konsep dasarnya sangat mirip dengan yang digunakan oleh sebagian besar rudal anti-tank, dengan pengecualian bahwa sistem tersebut biasanya menggunakan kabel kecil untuk mengirimkan informasi panduan ke rudal, bukan melalui sambungan radio. Rudal tersebut berisi hulu ledak seberat 1,4 kilogram (3,1 lb) dengan sumbu kontak dan motor roket padat satu tahap yang mempercepat rudal hingga kecepatan sekitar 650 meter per detik (2.100 ft/s), atau sekitar 2 Mach. Waktu menyerang sasaran hingga jangkauan efektif maksimum adalah sekitar 13 detik. Waktu respons dari awal deteksi target hingga peluncuran rudal adalah sekitar enam detik, yang telah berulang kali dikonfirmasi dalam berbagai penembakan. Seluruh sistem dan awaknya mengendarai dua Land Rover yang diberi nama Fire Unit Truck (FUT) dan Detachment Support Vehicle (DSV). Baterai Artileri Kerajaan Inggris terdiri dari tiga satuan yang masing-masing terdiri dari empat unit penembakan, sedangkan skuadron Resimen RAF memiliki delapan unit penembakan. Pada tahun 1980, setiap unit penembakan Artileri Kerajaan terdiri dari sebuah unit 24 volt, Land Rover 101 FC 1 ton yang menarik Peluncur Rapier dan membawa empat rudal, sebuah Land Rover FFR 2,8 m (109 in), 3/4 ton, 24 V (Dilengkapi Untuk Radio) menarik Trailer Pasokan Rudal (MST) seberat 1 ton, yang berisi hingga 10 rudal tambahan. Radar blindfire hanya disediakan untuk sepertiga unit penembakan di Angkatan Darat Inggris, tetapi di Resimen RAF disediakan di semua unit penembakan. Lima orang diperlukan untuk memindahkan sistem SAM dari posisi berkemah ke posisi tempur dalam waktu sekitar 15 menit.
Meskipun akurat dan mudah digunakan, sistem Rapier awal jelas tidak mampu bertahan dalam segala cuaca. Untuk mengatasi kebutuhan ini, BAC mulai mengerjakan unit panduan radar terpisah, terutama untuk meningkatkan penjualan di luar negeri. Hal ini menyebabkan diperkenalkannya radar Marconi DN 181 “Blindfire” pada tahun 1970, contoh pertama dijual ke Angkatan Darat Iran pada tahun 1973. Angkatan Darat Inggris tidak membeli sistem Blindfire sampai tahun 1979, saat sistem ini memasuki dinas operasional sebagai Rapier “Field Standard A” (FSA). Resimen RAF memiliki 27 Skuadron yang beroperasi dengan Blindfire di Leuchar RAF pada tahun 1979, dan sedang dalam proses menempatkan semua Skuadron Resimen RAF GBAD (Pertahanan Udara Berbasis Darat) ke dalam barisan. Pada tahun 1997, lebih dari 350 radar Blindfire telah diproduksi. Untuk memastikan akurasi, Blindfire menggunakan sinar “pensil” yang sangat sempit dan melacak target dan rudal. Untuk memungkinkan operator memantau sistem Blindfire saat melacak target, pelacak optik yang ada mengikuti radar Blindfire, meskipun pelacak optik dapat “diarahkan” secara manual pada target kedua sementara Blindfiremenyerang target pertama. Trailer Blindfire membawa unit generatornya sendiri, dan ditarik oleh Land Rover ketiga (101 FC yang dilengkapi winch 12 V) dengan sebutan Tracking Radar Tractor (TRT). Dengan penjualan ke Iran muncul persyaratan tambahan untuk versi Rapier yang sepenuhnya mobileuntuk melindungi tank Chieftain yang dipasok ke Iran berdasarkan kontrak MOD Inggris. BAC menanggapinya dengan mengadaptasi sistem Rapier agar sesuai dengan M548, versi pengangkut kargo dari M113 yang ada di mana-mana. Pengembangan dimulai pada tahun 1974 sebagai “Tracked Rapier“, dengan penampilan publik pertama di Paris Air Show tahun 1977 sebagai unit tampilan statis.
Usulan awal untuk sistem ini adalah dengan memasang peluncur yang ditarik dan generator bensinnya dipasang di landasan datar kendaraan pengangkut M548. Ketika ini ditunjukkan kepada G.R. Jefferson, Managing Director GW, dia tidak terlalu terkesan. Sadar akan jumlah uang yang tersedia, dia memerlukan uang kembalian yang jauh lebih besar. Greville Beale dan Adrian Pollicutt lalu memimpin pengembangan yang sangat berbeda yang dihasilkan dalam waktu singkat. Hal ini termasuk perubahan signifikan pada kendaraan M548 dengan melapisinya dengan lapisan pelindung, yang sekarang disebut RCM 748, dan menggabungkan genset bertenaga diesel baru yang menggunakan mesin Coventry Climax H 30, yang juga digunakan sebagai unit tenaga tambahan di tank Chieftain. Mayoritas peralatan elektronik di peluncur tidak mengalami perubahan signifikan dari yang digunakan pada versi tarik. Namun, peluncur lapis baja yang didesain ulang sepenuhnya dengan kemampuan memuat delapan rudal telah diproduksi yang dipasang pada dudukan anti-getaran ke bagian bawah kendaraan. Kabin lapis baja ini dilengkapi dengan pemanas/pendingin dan perlindungan NBC (Nuklir Biologi Kimia). Sistem pelacak optik ditempatkan di dalam kabin lapis baja kendaraan, dan ditinggikan melalui atap saat dioperasikan. Pelacak dioperasikan dari sisi kanan kabin kru, sedangkan di sebelah kiri adalah pengemudi dan pengontrol taktis yang juga dilengkapi dengan perangkat penglihatan yang dipasang di helm, memungkinkan dia untuk menempatkan pelacak ke target visual. Dari bergerak hingga menembak hanya membutuhkan waktu 30 detik, sebuah peningkatan luar biasa dibandingkan tipe Rapier tarik, yang memerlukan setidaknya 15 menit untuk melepaskan, memasang kabel, dan menyelaraskan. Perbedaan lebih lanjut antara Rapier yang ditarik dan Rapier yang yang dipasang pada kendaraan lapis baja adalah bahwa peluncur Rapier yang terakhir memiliki delapan rel rudal (yang dilindungi) dibandingkan dengan empat rel rudal yang ditarik, sehingga meningkatkan daya tembak dan mengurangi kebutuhan pasokan ulang. Rapier berpenggerak mandiri ini juga dapat dibawa-bawa di udara, dan siap digunakan saat mendarat, dengan pesawat C-130.
Tidak ada ruang untuk radar Blindfire pada satu kendaraan RCM748, jadi radar ini ditarik atau dibawa pada M548/RCM748 yang dimodifikasi secara terpisah. Memasukkan data ke sistem kontrol di unit penembakan memerlukan waktu pengaturan untuk menghubungkan kedua peralatan tersebut. Sistem ini belum sepenuhnya dikembangkan ketika Shah jatuh dari kekuasaan pada tahun 1978. Kendaraan tersebut kemudian dibeli oleh Angkatan Darat Inggris sebagai bagian dari kontrak Pengembangan dan Pasokan Harga Tetap. Produksi pertama Rapier berpenggerak mandiri ini diterima tepat waktu dan ditempatkan di Barak Wellington pada awal tahun 1981, dan mulai beroperasi dengan Baterai Pertahanan Udara ke-11 (Sphinx), dari Resimen Pertahanan Udara ke-22, Artileri Kerajaan pada tahun 1983 di Barak Napier dekat Dortmund. Setelah awalnya memasuki dinas operasional dengan tipe standar Towed FSB1, dengan radar planar array dan ‘Pointing Stick‘, Rapier berpenggerak mandiri ditingkatkan kemampuannya, dengan versi terbaru menyertakan pelacak pencitraan termal yang ditingkatkan yang memungkinkan kendaraan tunggal beroperasi 24 jam tanpa memerlukan unit radar Blindfire. Kendaraan Pasokan Rudal M548 yang dimodifikasi membawa rudal pengganti, kru bantuan, dan perlengkapan lapangan tambahan, ransum, dan air. M548 selanjutnya dikonfigurasikan sebagai tim Dukungan Area Depan REME dengan fasilitas pengujian dan suku cadang. Selama Perang Teluk, baterai berpenggerak mandiri Artileri Kerajaan Resimen ke-12 dan ke-16, dengan cepat dilengkapi dengan perangkat navigasi satelit untuk penggunaan di gurun, digabungkan untuk memberikan dukungan Rapier berpenggerak mandiri untuk dikerahkan bersama resimen lapis baja. Rapierberpenggerak mandiri dihentikan penggunaannya pada awal 1990-an, karena keterbatasan awak ketika versi Towed FSC mulai beroperasi. Sejak itu sistem ini telah digantikan oleh peluncur rudal Starstreakyang dipasang di kendaraan lapis baja Alvis Stormer.
Tak lama setelah memperkenalkan FSA, “Field Standard B” (FSB) menambahkan sejumlah peningkatan dasar. Selain itu, radar pencarian ditingkatkan dengan otomatis dimatikan jika terjadi serangan rudal anti-radar. FSB memasukkan pelajaran dari perang di Falklands, terutama penggunaan ‘tongkat penunjuk’ yang memungkinkan komandan detasemen unit penembak mengarahkan unit pembidik ke suatu sasaran. Dengan banyaknya peningkatan dan komponen baru, sistem Rapier asli yang murah telah hilang. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional akan sistem berbiaya rendah, BAC memulai pengembangan “Rapier Laserfire” pada tahun 1982. Laserfire menggantikan unit pelacak optik asli dengan sistem iluminasi lidar (radar laser) baru yang jauh lebih kecil, sehingga memungkinkan seluruh sistem dipasang pada satu palet yang dapat dipasang pada truk atau kendaraan flatbed lainnya. Laserfire menggunakan radar Doppler milimeter. Karena frekuensi operasinya yang sangat tinggi dan kemampuannya untuk mengubah bentuk sinarnya dari azimuth sempit dan elevasi tinggi menjadi azimuth lebar dan elevasi sempit, Laserfire mampu mendeteksi helikopter yang melayang atau terbang di ketinggian rendah dan di area dengan berkontur dengan mendeteksi pergerakan baling-baling helikopter. Selain itu, sistem identifikasi ditingkatkan dan sistemnya dibuat menjadi lebih tahan terhadap gangguan radio. Pendeteksian awal mirip dengan Rapier asli, tetapi targetnya diterangi dan secara otomatis dilacak oleh laser berkekuatan tinggi. Setelah rudal diluncurkan, laser secara bergantian menyinari target dan rudal untuk menentukan lokasinya, dan panduan dikirim ke rudal seperti biasa. Laserfire dengan demikian mewakili peningkatan yang cukup besar pada sistem optik asli, yang memungkinkan penembakan secara semi-otomatis, dan sangat mengurangi persyaratan keterampilan dan pelatihan operator. Pada sisi negatifnya, Laserfire tidak lagi memiliki sistem optik seperti aslinya, yang menjalankan tugas penting kedua dengan memungkinkan pesawat diidentifikasi secara visual dari jarak jauh. Selain itu, meskipun sistem pelacakan Laserfire mampu dioperasikan pada malam hari, akuisisi target bersifat optik, seperti Rapier asli.
Pada tahun 1985 pengembangan sistem pelacak baru dimulai yang menggantikan sistem optik asli dengan sistem pencitraan termal IR baru untuk meningkatkan kemampuannya, terutama pada malam hari. Versi ini dikenal sebagai “Rapier Darkfire” karena alasan tersebut. Uji coba sistem baru dimulai pada tahun 1987, dan diterapkan secara operasional pada tahun 1990 sebagai “Field Standard B2” (FSB2), peningkatan sebelumnya secara surut disebut sebagai FSB1. Sistem ini juga dikenal sebagai “Rapier 90“. Pendinginan untuk imager disediakan oleh botol gas terkompresi. FSB2 juga memperkenalkan sejumlah perbaikan yang sangat meningkatkan kemampuan Rapier. Yang pertama dan terpenting adalah Konsol Kontrol Taktis yang memungkinkan empat peluncur Rapier dikendalikan dari satu lokasi terpusat. Peluncurnya sendiri ditingkatkan untuk bisa membawa enam rudal, bukan empat, sehingga meningkatkan kapasitas baterai. Terakhir, radar pencarian diperbarui untuk menggunakan radar planar array baru, meskipun kemampuannya secara umum tetap sama dengan model sebelumnya. Pada tahun 1988, pengujian dimulai pada hulu ledak yang lebih baik menggunakan proximity fuze, untuk memberikan kemampuan Rapier menyerang target yang lebih kecil yang akan sulit untuk ditembak secara langsung, terutama wahana berkecepatan tinggi yang dikemudikan dari jarak jauh. Produksi serial Mk. 1E dimulai pada tahun 1989. Pada tahun 1992 Angkatan Darat menandatangani kontrak untuk meningkatkan semua sistem Rapier ke versi yang disempurnakan. Varian rudal Mark 2 mulai dikembangkan pada tahun 1986 dan berpuncak pada desain ulang menyeluruh yang mulai beroperasi pada pertengahan tahun 1990an. Seiring dengan peningkatan lebih lanjut pada proximity fuze, rudal baru ini menggabungkan teknologi tercanggih termasuk: Profil aerodinamis supersonik Von Karman; propelan komposit, dengan pembakaran dua tahap dan bodi motor roket padat yang dilaminasi; pemasangan PCB permukaan substrat keramik; sistem elektronik dan perangkat lunak yang benar-benar baru; ASIC sistem analog dan digital; ketahanan ECM dengan pengkodean berlebihan; sepenuhnya Digital Autopilot yang menggabungkan pemfilteran status Kalman; navigasi inersia yang terdiri dari ring-laser roll dan rate gyroscope; Kabel Kapton Band. Hulu ledak rudal tersedia dalam dua versi, Mk. 2A untuk peran antipesawat normal, dan Mk. 2B, yang mencakup hulu ledak shaped charge dan dual fuze, dan juga berguna untuk melawan kendaraan lapis baja ringan.
Pada tahun 1992, tak lama setelah diperkenalkannya Rapier 90, seri peningkatan besar lainnya dimulai oleh MBDA (sebelumnya Matra BAe Dynamics). Muncul sebagai “Rapier 2000“, atau “Field Standard C” (FSC) dalam dinas operasional Inggris, sistem ini mencapai bentuk akhirnya. Pengembangan sistem FSC dimulai pada tahun 1983 dan sistem ini pertama kali memasuki dinas operasional pada tahun 1996. Pada saat ini Perang Dingin telah berakhir dan kemampuan pertahanan udara Inggris berkurang secara signifikan, dengan baterai yang semakin sedikit, meskipun setiap unit penembakan dilengkapi dengan radar Blindfire. Ada juga versi ekspor dari versi ini yang dikenal dengan Jernas. Jernas disebut memberikan pertahanan terhadap kendaraan udara tak berawak, rudal jelajah, dan pesawat bersayap tetap dan putar. Malaysia merupakan pembeli pertama Jernas. 57 sistem Rapier FSC lalu diproduksi untuk Kementerian Pertahanan Inggris. Sistem ini beroperasi di dua baterai pertahanan udara Artileri Kerajaan dan beroperasi di empat skuadron pertahanan udara berbasis darat di Angkatan Udara Kerajaan. FSC sebenarnya merupakan sistem baru, meskipun radar Blindfire sedikit berubah dan dapat menembakkan rudal Mk 1 dan Mk 2. Radar Pengawasan telah dihapus dari peluncur dan menjadi elemen terpisah dan setiap peluncur sekarang membawa delapan rudal. Dengan semakin bergantungnya rudal pada panduan radar sejak diperkenalkannya Blindfire, masuk akal untuk meningkatkan radar pencarian asli ke sesuatu yang jauh lebih modern. Radar ini dipasok oleh Alenia Marconi “Dagger“, radar pulsa doppler 3D dengan sistem Cossor IFF Mark 10 yang terintegrasi. Daggerdipasang di trailernya sendiri, jadi radome di atas unit peluncur tidak diperlukan lagi. Sebagai gantinya, sistem pelacakan optik yang jauh lebih modern telah ditambahkan.
Radar akuisisi dan pengawasan target Dagger adalah radar 3D resolusi tinggi multi-beam yang dipasok oleh BAE Systems Insyte(sebelumnya Alenia Marconi Systems). Ini adalah radar pulsa doppler 3D yang tangkas yang beroperasi di frekuensi J Band, dengan kecepatan pemindaian 60rpm atau 30rpm. Jangkauan deteksi maksimum radar adalah lebih dari 15 km, sedangkan ketinggian maksimum adalah 5 km. Jangkauan opsional 32km juga tersedia. Sistem ini memiliki kapasitas pemrosesan untuk mendeteksi lebih dari 75 ancaman per detik. Radar menyediakan data arah dan penilaian ancaman dari sistem Cossor Mark 10 atau 12 IFF (Identification Friend or Foe). Sistem pemrosesan sinyal menggabungkan algoritma clutter rejectiondan juga tahan terhadap aksi gangguan elektronik. High-elevation guard beam secara otomatis mematikan transmisi ketika keberadaan rudal anti-radiasi terdeteksi. Sistem pelacak baru ini menggunakan pendingin siklus Stirling, bukan botol gas bertekanan. Penggunaan perangkat elektronik yang jauh lebih kecil sangat mengurangi tinggi keseluruhan peluncur, sehingga memungkinkan penambahan dua rudal tambahan, sehingga totalnya menjadi delapan. Dalam pengoperasiannya, Rapier 2000 mirip dengan sistem yang dilengkapi Blindfire sebelumnya. Target diperoleh secara visual atau melalui radar Dagger, dan kemudian Blindfire dan pelacak optik diarahkan ke target. Sistem optik dapat digunakan hanya untuk melacak rudal, atau dapat digunakan untuk semua panduan, seperti Rapier asli. Dalam kedua kasus tersebut, penembakannya sepenuhnya otomatis, tanpa memerlukan panduan operator. Sistem optik juga dapat digunakan sebagai sistem pencarian, mencari sumber IR, sehingga memungkinkan pengoperasian tanpa radar. Pada tahun 2006, studi Kementerian Pertahanan di bidang Pertahanan Udara Berbasis Darat merekomendasikan pengurangan lebih lanjut, berdasarkan berkurangnya ancaman udara dan peningkatan kemampuan pertahanan udara yang dimiliki oleh pesawat tempur Typhoon. Ini termasuk penghapusan peran Resimen RAF sebagai tindakan untuk mempertahankan unit Artileri Kerajaan dalam menghadapi pengurangan signifikan pada Angkatan Darat. Namun demikian, unit Artileri Kerajaan ditempatkan di bawah komando HQ 1 Grup RAF (dalam HQ Air Command) dan Markas Besar Pertahanan Udara Berbasis Darat Bersama dibentuk.
UNIT RUDAL
Rudal Rapier memiliki badan monocoque yang ramping dengan penampang melingkar dan terdiri dari empat bagian utama: hulu ledak, pemandu, unit propulsi, dan kontrol. Nosecone plastik yang dapat dilipat dipasang pada kepala penetrasi untuk memberikan bentuk aerodinamis rudal yang optimal. Roket Mk.l dibuat sesuai dengan skema aerodinamis normal dan memiliki sistem panduan perintah radio. Hulu ledaknya bersifat semikombatan, dengan berat 1,4 kg, berisi 0,4 kg bahan peledak, mekanisme pengaman, dan sumbu kontak. Motor roket satu tahap dua mode dari Roxel (UK Rocket Motors, sebelumnya BAE Systems RO, Divisi Rocket Motors) memberikan rudal kecepatan maksimum sekitar 650 m/detik. Ekor rudal memiliki 4 suar yang dirancang untuk menghubungkan rudal dengan sistem IR yang mengikutinya. Waktu penerbangan ke batas terjauh dari zona pembunuhan adalah 13 detik, dan ke batas terdekatnya sekitar 3 detik. Rudal tersebut dipandu menuju sasaran dengan kecepatan melebihi Mach 2,5. Waktu reaksi otomatis rudal kurang dari 5 detik dan waktu penyerangan target kedua membutuhkan waktu kurang dari 3 detik. Kemungkinan roket untuk mengenai satu target adalah 0,7. Roket Mk.l memasuki unit tempur dengan perlengkapan lengkap dan siap tempur serta tidak memerlukan inspeksi. Bila disimpan dalam kondisi penyimpanan yang sesuai, masa pakainya adalah 10 tahun.
Pada tahun 1988, rudal Mk.lE yang dirancang untuk melawan pesawat yang dikemudikan dari jarak jauh diuji. Rudal ini menggunakan sumbu yang ditingkatkan dan hulu ledak fragmentasi tembakan terarah. Produksi massal rudal Mk.lE dimulai pada tahun 1989. Pada awal tahun 90an, roket Mk.2 diciptakan, yang dapat digunakan di semua varian sistem Rapier, termasuk sistem Rapier-2000. Pada pertengahan tahun tahun 1992, diumumkan bahwa kontrak telah ditandatangani untuk meningkatkan semua sistem Rapier yang ada untuk menggunakan rudal Mk.2. Program ini mulai dilaksanakan pada tahun 1995 dan mengutamakan modernisasi perangkat lunak sistem komputer, radar pelacak dan unit TCU. Unit Kontrol Taktis (TCU) menyediakan fasilitas kontrol taktis dan dihubungkan dengan kabel antara peluncur dan pelacak optik. Ini kemudian dibagi menjadi 32 sektor dalam azimuth, masing-masing sektor mencakup sudut 11,25º. Rudal Mk.2, yang memiliki jangkauan lebih luas, hadir dalam dua modifikasi. Rudal Mk 2 berbobot 43 kg ini tersedia dalam dua versi dan memiliki peningkatan jangkauan sebesar 15 hingga 20 persen. Modifikasi Mk.2A dilengkapi dengan hulu semi-kontak yang sama dengan pendahulunya, sementara versi Mk.2B memiliki gabungan hulu ledak pecahan dan ledakan serta penembus lapisan baja dengan dua jenis detonator: kontak gerak lambat dan detonator jarak jauh. Sumbu IR jarak jauh dikembangkan oleh Thomson Horn Electronics pada tahun 1990, dan produksi skala penuhnya dimulai pada pertengahan tahun 1991. Sumbu ini dilengkapi dengan empat sensor IR dan prosesor khusus yang menghitung titik ledakan optimal untuk memastikan kehancuran target.
INTEGRASI DALAM SISTEM PERTAHANAN UDARA
Sistem SAM “Rapier” dapat digunakan secara mandiri. Namun, unitnya biasanya dioperasikan dalam format baterai, yang masing-masing meliputi: manajemen baterai; dua peleton penembakan; bagian perbaikan dengan peralatan diagnostik dan cadangan. Setiap peleton penembakan mencakup 6 kompleks. Baterainya memiliki 92 personel (empat di antaranya adalah perwira). Sistem “Rapier” dapat diintegrasikan ke dalam sistem pertahanan udara secara umum. Operasi tempur sistem Rapier adalah sebagai berikut. Ketika suatu target terdeteksi dengan bantuan radar pendeteksi dengan sudut pandang melingkar, target tersebut secara otomatis dikenali saat itu juga dan alarm dibunyikan ke telepon kepala operator. Pada saat yang sama, sistem optik dan radar peluncur secara otomatis diputar menuju sasaran. Radar “Blindfire” melakukan pandangan cepat ke area di mana target seharusnya ditempatkan dan menangkapnya. Metode radar untuk melacak target adalah otomatis, jika terjadi gangguan atau alasan lain, operator radar dapat mengawal secara manual menggunakan sistem optik. Informasi dari radar observasi diterima oleh alat penghitung dan resolusi dan digunakan untuk menghitung momen dan koordinat perkenaan target di area tersebut. Sinyal visual (bola lampu) dipancarkan ketika target memasuki area target di bidang pandang operator.
Setelah tombol “Luncurkan” ditekan, rudal diluncurkan, ditangkap oleh radar “Blindfire” dan dipandu ke sasaran secara otomatis. Radar “Blindfire” menghasilkan sinyal yang sebanding dengan deviasi sudut rudal dari garis sasaran, yang kemudian diubah menjadi perintah kontrol dan dikirimkan ke rudal. Operator dapat beralih ke panduan optik rudal kapan saja dalam penerbangannya ke target, dalam hal ini ia hanya melakukan tugas melacak target secara manual. Setelah mencapai target, operator dapat segera beralih ke mode viewport untuk menangkap dan menghancurkan target berikutnya, atau meluncurkan rudal kedua terhadap target yang sama atau target lain dalam mode viewport. Waktu reaksi sistem (dari saat target terdeteksi hingga peluncuran rudal) adalah sekitar 6 detik, yang telah berulang kali dikonfirmasi dalam penembakan langsung. Empat rudal diisi ulang dengan operator tempur terlatih dalam waktu kurang dari 2,5 menit, dengan tidak memerlukan alat bantu angkat. Di Angkatan Darat Inggris, elemen sistem “Rapier” biasanya ditarik dengan kendaraan ringan segala medan “Land Rover” (konfigurasi roda 4×4). Elemen Rapier individu dapat diangkut dengan helikopter SA 330 Puma atau СН-47 Chinook. Pesawat angkut C-130 “Hercules” dapat menampung satu kompleks Rapier dengan radar “Blindfire” atau dua kendaraan semitrailer dengan sistem optik dan kendaraan segala medan.
OPERATOR
Aktif
Tentara Republik Islam Iran
Angkatan Udara Kenya
Angkatan Darat Malaysia: Malaysia memesan 3 baterai pada bulan April 2002, yang terdiri dari 3 radar, 3 Dagger, 15 peluncur, 150 rudal Rapier-2
Angkatan Udara Kerajaan Oman: Sistem Rapier mulai beroperasi pada tahun 1976. 28 peluncur dipesan pada tahun 1974 dengan 600 rudal Rapier-1. 12 radar Blindfire dipesan pada tahun 1980 bersama 800 rudal Rapier-2
Angkatan Udara Swiss: Sistem Rapier dipesan pada tahun 1980 dengan 60 radar Blindfire, 60 peluncur 1.200 rudal Rapier-1, dan kemudian diikuti oleh 2.000 rudal Rapier-2
Angkatan Udara Turki: 86 peluncur dimodernisasi di Turki. Akan digantikan oleh sistem rudal HISAR-A pada tahun 2021. 12 radar Blindfire dipesan pada tahun 1983 bersama 36 peluncur dan 750 rudal Rapier-1. 12 radar Blindfire dipesan pada tahun 1985 dengan 36 peluncur serta 750 rudal Rapier-1. 72 dibangun kembali ke standar Rapier-2000 pada tahun 1997-2002. 840 rudal Rapier-2 dipesan pada tahun 1999.
Angkatan Darat Uni Emirat Arab: Sistem Rapier dipesan pada tahun 1974 dengan 12 peluncur dan 250 rudal Rapier-1 dibeli.
Angkatan Udara Zambia: Sistem Rapier dipesan pada tahun 1971, yang terdiri dari 12 peluncur dan 250 rudal Rapier-1. Pada tahun 2021 Zambia terlihat masih menggunakan Rapier, bukan itu saja, peluncur rudal Rapier jenis tarik (towed), bahkan dibuat menjadi self propelled, yaitu dengan penempatannya pada deck truk buatan Rusia, Ural 4320 6×6. Dikutip dari defenceweb.co.za (22/6/2021), disebutkan pada parade militer yang berlangsung pada 13 Juni 2021, ditampilkan peluncur rudal Rapier yang ditarik oleh rantis lapis baja Saymar Musketeer 4×4. Namun, yang menarik perhatian adalah kemunculan Rapier yang ditempatkan pada truk Ural 4320. Tidak diketahui persis, apakah rudal Rapier yang dipamerkan Angkatan Udara Zambia itu masih dalam kondisi aktif atau sebaliknya, mengingat pengadaan Rapier dari Inggris ke Zambia sudah dilangsungkan cukup lama, yang bila tanpa modifikasi, dipastikan rudal sudah tak memiliki lifetime lagi, alias dalam kondisi out of service. Platfom pengusung Rapier Zambia, yaitu Ural 4320 6×6, adalah truk dengan bobot penuh 15.470 kg yang mampu membawa payload 6 ton
Bekas Pemakai
Angkatan Darat Australia: 20 sistem SAM dipesan pada tahun 1975 dengan 570 rudal Rapier-1 (20 dibeli bekas dari Inggris, lewat ‘Project Land-140‘)
Angkatan Udara Kerajaan Brunei: Sistem Rapier FSB1 dipesan pada tahun 1979, terakhir dioperasikan oleh Skuadron No. 233 (sebelumnya Skuadron 33) di Garnisun Penanjong. Brunei memiliki 4 radar Blindfire 12 peluncur dan 250 rudal Rapier-1
Angkatan Darat Indonesia: Sistem Rapier dipesan pada tahun 1984-1986 yang terdiri dari 21 peluncur. 9 peluncur kemudian dipesan pada tahun 1986 dengan total pembelian 820 rudal Rapiers-1 (300 pada tahun 1984, 400 pada tahun 1985, 120 pada tahun 1986)
Angkatan Udara dan Angkatan Darat Kekaisaran Iran: Sistem Rapier mulai beroperasi pada tahun 1972. 45 peluncur dipesan pada tahun 1970 dengan 36 peluncur tambahan dipesan pada tahun 1974. Sebanyak 1.250 rudal Rapiers-1 dipesan pada tahun 1970 dan 950 rudal Rapiers-1 dipesan pada tahun 1973
Angkatan Bersenjata Irak: Direbut dari Iran selama Perang Iran-Irak, dihapuskan setelah tahun 2003
Angkatan Udara Libya
Angkatan Bersenjata Qatar: Sistem Rapier mulai beroperasi pada tahun 1983. 6 radar Blindfire dipesan pada tahun 1981 bersama 12 peluncur dan 250 rudal Rapiers-1
Angkatan Udara Republik Singapura: Sistem Rapier mulai beroperasi pada tahun 1981, sebelum digantikan oleh sistem rudal SPYDER mulai tahun 2011. 6 radar Blindfire dipesan pada tahun 1981 bersama 12 peluncur dipesan. Sistem ini dimodernisasi dari tahun 1998 hingga 1999 menjadi standar Rapier-2000. 250 rudal Rapiers-1 dipesan pada tahun 1981, dan dimodernisasi menjadi standar Rapier-2 pada tahun 1998-99
Angkatan Darat Inggris: 124 peluncur, dioperasikan oleh unit Artileri Kerajaan
Angkatan Darat AS: Sistem Rapier mulai beroperasi pada tahun 1983. 32 radar Blindfire dipesan pada tahun 1981 bersama 32 peluncur dan 650 rudal Rapiers-1. 11 radar Blindfire dipesan lagi pada tahun 1985 bersama 14 peluncur dan 600 rudal Rapiers-1.
PENGGANTIAN
Pada konferensi DSEI pada bulan September 2007 diumumkan bahwa Kementerian Pertahanan Inggris mendanai studi MBDA UK untuk menyelidiki pengganti Rapier yang dijadwalkan berhenti beroperasi sekitar tahun 2020. Common Anti-Air Modular Missile (CAMM), akan berbagi komponen dengan rudal ASRAAM yang digunakan oleh RAF. Pada bulan Juli 2021 dilaporkan bahwa Sky Sabre telah memulai uji coba penerimaan dan pelatihan dengan Grup Pertahanan Udara ke-7 Artileri Kerajaan. Direncanakan untuk menerapkan sistem ini di Kepulauan Falkland pada “akhir musim panas/awal musim gugur”.
SEJARAH PEMAKAIAN
Dalam sistem pertahanan udara Angkatan Darat, “Rapier” digunakan di lini pertahanan udara kedua dan ketiga. Lini pertama diisi oleh sistem pertahanan udara portabel seperti “Javelin” dan “Starburst“, yang mencakup zona “mati” dari sistem Rapier. Garis pertahanan udara kedua disediakan oleh “Rapier-TLRV” yang dapat bergerak sendiri, dan yang ketiga – oleh versi “Rapier” yang ditarik. Penggunaan Rapier yang pertama kali diketahui dalam pertempuran terjadi pada bulan Desember 1974 selama Perang Irak-Kurdi Kedua ketika ia menembak jatuh sebuah pesawat angkut Ilyushin Il-76MD milik Angkatan Udara Irak. Rudal tersebut milik tentara Iran, namun ditempatkan di Irak untuk melindungi markas militer Kurdi. Rudal ini ditembakkan oleh awak asal Inggris, yang tampaknya terikat kontrak dengan pemerintah Iran atau mungkin produsen rudal tersebut, BAC. Beberapa tahun setelah Shah digulingkan pada tahun 1978, terjadi kontak informal dengan anggota senior dari tentara Iran, mereka mengindikasikan kepada organisasi pendukung asal Inggris bahwa mereka terus mengoperasikan 30 peluncur gelombang awal yang telah dikirimkan sebelum Shah disingkirkan dan bahwa mereka telah mencegat dan menghancurkan sejumlah pesawat penyerang, jauh lebih banyak daripada jumlah yang digunakan dalam perang Falkland.
Pada bulan April 1982, Rapier versi awal dikerahkan selama Perang Falklands ketika Baterai T dari Resimen Artileri Kerajaan ke-12 bergabung dengan Brigade Komando ke-3 sebagai bagian dari Satuan Tugas Falklands, mendarat di San Carlos pada tanggal 21 Mei. Tugas mereka adalah memberikan perlindungan pertahanan udara untuk pendaratan sebuah pesawat Harrierdan landasan pengisian bahan bakar yang dibangun di pinggiran Port San Carlos. Baterai rekan dari T Battery, yakni 9 (Plassey) Battery, tidak dikerahkan di pulau-pulau tersebut sampai konflik berakhir. Resimen Skuadron RAF ke-63, yang kebetulan merupakan unit pertama yang dilengkapi dengan rudal Rapier, dikerahkan di teluk San Carlos pada tanggal 1 Juni, untuk kemudian dikerahkan di sekitar Stanley. Ada banyak masalah penempatan yang menghalangi Rapier untuk beroperasi secara efisien, yang menyebabkannya tidak efektif dalam hal jumlah ‘kill‘ yang dibukukan atas pesawat udara musuh, namun kehadirannya berfungsi sebagai pencegah, terutama setelah penempatan sistem Blindfire di sekitar Port San Carlos. Dari sudut pandang teknik, sifat rapuh dari peluncur sudah diketahui sebelum konflik, yang diperburuk dengan tenggelamnya MV Atlantic Conveyor dengan hampir semua cadangan rudalnya. Tidak dapat digunakannya unit penembakan 32 alpha di Fitzroy secara berkala adalah salah satu dari banyak faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan pemboman pesawat-pesawat Argentina atas kapal RFA Sir Galahad.
Laporan awal pasca perang kemudian menunjukkan pemakaian Rapier yang cukup baik, dengan membuat 14 “kill” dan 6 kemungkinan. Akan tetapi analisa selanjutnya kurang menggembirakan, karena menunjukkan hanya ada empat pesawat musuh yang dijatuhkan. Dari jumlah ini hanya satu pesawat Argentina, yakni sebuah Dagger A dari FAA Grupo 6, yang dapat dipastikan sebagai Rapier kill, ketika pesawat Lt Bernhardt dihancurkan pada tanggal 29 Mei 1982. Pilotnya tewas. Tiga lainnya, sebuah A-4B Skyhawk dari FAA Grupo 5 pada tanggal 23 Mei dan dua A-4C Skyhawk dari FAA Grupo 4 pada tanggal 24 Mei dan 25 Mei 1982, menjadi sasaran tembak Pertahanan Udara Inggris di San Carlos, dengan klaim diperebutkan oleh rudal Sea Wolf, Sea Cat, Blowpipe dan senjata ringan, serta Baterai T. Sejarah resmi perang menyatakan “Secara total, hanya lima pesawat Argentina yang mungkin ditembak jatuh oleh Rapier, dan, seperti yang dicatat oleh Ethell dan Price, hanya satu yang pasti, dengan dua diklaim dan dua kemungkinan. Perbedaan serupa muncul dibandingkan sistem senjata lainnya, terutama Blowpipe (satu terkonfirmasi berbanding sembilan yang diklaim dan dua kemungkinan) dan Sea Cat (nol sampai satu berbanding delapan yang diklaim dan dua kemungkinan). Konfirmasi dari Kementerian Pertahanan ini melebih-lebihkan, dengan kemampuan Rapier dianggap diekspos secara berlebihan serta bersifat politis, karena diketahui bahwa jika penilaian sebenarnya diketahui secara luas, hal ini ‘dapat menimbulkan dampak buruk yang serius terhadap prospek penjualan’ Rapier, yang merupakan sumber pendapatan utama bagi BAe’s Dynamic Group.” Masalah utamanya adalah kurangnya jangkauan, dan keputusan untuk menghilangkan proximity fuze, yang mengharuskan operator untuk menghantam pesawat target secara langsung dengan rudal. Rapier juga mengalami masalah dengan sistem IFF dan mengalami gangguan akibat radar AL Inggris. Sistem “Rapier” kemudian terus ditingkatkan baik karakteristik taktis maupun teknisnya, dan jangkauan targetnya (misalnya, menghadapi ancaman rudal jelajah) diperluas. Secara umum, diyakini bahwa tingkat otomatisasi tempur kompleks sistem ini telah meningkat sebesar 50% pada akhir tahun 1987. Program modernisasi menyangkut sistem dalam dinas operasion dan produksi massal. Pada tahun 1997 terdapat lebih dari 700 peluncur sistem Rapier versi tarik dan self-propelled, serta 25.000 rudal dari berbagai modifikasi. Selain itu, sekitar 12.000 rudal telah digunakan dalam uji coba, latihan dan operasi tempur selama periode ini. Sistem SAM “Rapier” dikerahkan besama kontingen pertahanan udara multinasional Inggris selama Operasi Badai Gurun pada tahun 1991.
Sistem Komando dan Kontrol Pertahanan Udara baru, ADC4I, diusulkan untuk dikembangkan untuk program GBAD Kementerian Pertahanan Inggris tahap I. Sistem ini mengintegrasikan Rapier FSC dan sistem rudal pertahanan udara Starstreak untuk menyediakan kemampuan yang mendukung jaringan pertahanan udara. Tahap II kemudian akan melibatkan peningkatan sistem rudal. MBDA dan EADS Defense & Communications tercatat mendapatkan kontrak untuk tahap penilaian program pada bulan Desember 2003. Pada bulan Juli 2004, Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan rencana untuk mengurangi peluncur rudal anti-pesawat Rapier dari 48 menjadi 24 unit penembakan, termasuk pembubaran Skuadron Pertahanan Udara Berbasis Darat (GBAD) RAF. Dua skuadron GBAD RAF dibubarkan pada bulan Maret 2006 dan dua lagi diubah fungsinya pada bulan April 2008. Berbagai versi sistem rudal Rapier digunakan di setidaknya sembilan negara. Oman, Singapura, Swiss dan Turki telah meningkatkan sistem mereka dan telah memesan rudal Mk2. Angkatan Darat Australia menarik sistem Rapiernya dari dinas operasional pada bulan November 2005. Pada bulan April 2002, Malaysia menandatangani kontrak dengan MBDA untuk pengadaan sistem Jernas, termasuk sembilan peluncur rudal (kemudian ditingkatkan menjadi 15), tiga radar, rudal Rapier Mk2, serta untuk pelatihan dan dukungan. Malaysia merupakan pelanggan ekspor pertama Jernas. BAE Systems Insyte memasok radar pelacakan dan kendali senjata Blindfire serta radar pengawasan Dagger. Sistem pertama dikirimkan pada bulan Maret 2006 dan sepuluh sistem dikirimkan pada akhir tahun 2006. Pada bulan September 2007, MBDA menerima kontrak pemeliharaan seumur hidup senilai €230 juta ($317,06 juta) dari Kementerian Pertahanan Inggris untuk Sistem Rudal Pertahanan Udara Rapier. Rapier tercatat kemudian digunakan selama Olimpiade Musim Panas 2012 untuk memberikan perlindungan pertahanan udara pada kegiatan tersebut. Sistem Rapier diketahui ditempatkan di empat lokasi: (Blackheath Common; William Girling Reservoir di Enfield; Oxleas Meadow, Shooter’s Hill; dan Barn Hill di Epping Forest), dengan rudal Starstreak di dua lokasi lainnya.
Selain tertarik karena battle proven saat perang Malvinas, alasan Indonesia mengadopsi rudal ini karena Rapier telah banyak digunakan oleh banyak negara, terutama negara-negara NATO. Dan di kawasan ASEAN, Indonesia adalah negara ketiga yang membeli Rapier, setelah Brunei Darussalam dan Singapura. Keseragaman di bidang persenjataan antar negara tetangga kala itu menjadi pertimbangan penting, diharapkan dengan memiliki standar alutsista yang sama, maka program kerjasama akan mudah dilakukan bila suatu saat diperlukan. Menurut informasi dari Majalah Tempo (22 Desember 1984), kontrak pembelian Rapier dilakukan pemerintahh RI lewat Departemen Pertahahan pada pertengahan bulan Desember 1984. Disebutkan kontrak pembelian Rapier saat itu sekitar Rp125 milyar. Pihak British Aerospace akan mengirim sejumlah unit rudal Rapier mulai tahun berikutnya. Menurut informasi tak resmi, Indonesia membeli sebanyak 51 launcher (peluncur) Rapier. Rudal canggih ini pun langsung ditempatkan untuk menjaga obyek vital, seperti di Arun (NAD), Cikupa (Jawa Barat), Karang Ploso (Malang-Jawa Timur), Bontang (Kalimantan Timur) dan Dumai (Riau). Untuk pengoperasian rudal ini dipercayakan pada Satuan Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI AD. Unit Arhanud TNI AD yang mengoperasikan Rapier diantaranya Detasemen Arhanud (Denarhanud) Rudal 001 di Kodam Iskandar Muda, Denarhanud Rudal 002 di kodam VI/Tanjungpura, Denarhanud Rudal 003 di Kodam Jaya dan Denarhanud Rudal 004 di kodam I/Bukit Barisan. Rudal ini kabarnya baru mulai operasional di Indonesia pada tahun 1987. Setiap Denarhanud terdiri dari 11 (sebelas) satbak Rudal Rapier, komposisi ini dicontohkan pada Denarhanud Rudal 002. Setiap satbak Rapier terdiri dari :
1. Peluncur (Launcher).
2. Penjejak Optik (Optical Tracker).
3. Alat Bidik Bantu (Pointing Stick).
4. Unit Pengendali Taktis (SEZ = Selector Engagement Zone).
5. Sarana Peyakin Operator (OCF = Operator Confidence Facility).
6. Rudal (Missile).
7. Generator (GSGE = Generator Set Gasoline Engine).
Selain itu 1 (satu) satbak Rapier juga dilengkapi dua unit kendaraan penarik jenis Land Rover 110 yang terdiri dari 1 (satu) unit FUT (Firing Unit Truck) dan 1 (satu) unit DSV (Dettachment Support Vehicle). Tiap satbak Rapier diawaki oleh delapan orang personel, terdiri dari 1 (satu) orang Komandan Satuan Tembak (Dansatbak), 1 (satu) orang Bintara Satuan Tembak (Basatbak), 2 (dua) orang Bintara Penembak (Babak), 2 (dua) orang Tamtama Operator (Taop) dan 2 (dua) orang Tamtama Pengemudi (Tamudi).
Untuk menambah kemampuan deteksi, tiap Denarhanud dilengkapi satu unit Radar Radar Giraffe yang merupakan Radar Peringatan Setempat sekaligus Radar Pengendali Pertempuran bagi Satbak-Satbak Rudal Rapier. Radar Giraffe dapat menangkap 9 (sembilan) sasaran sekaligus, dan dapat membaginya ke Satbak-Satbak Rudal Rapier secara terintegrasi. Radar Giraffe yang ada di satuan Denarhanud Rudal-002 Dam VI/Tpr ditempatkan di atas kendaraan Truck 16 Ton merk Volvo. Mengingat bahwa Satbak Rudal Rapier mempunyai sifat-sifat yang khusus, maka daerah gelar Satbak Rudal Rapier harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1.Medan harus cukup luas dan keras untuk menggelar semua peralatan.
2. Jalan pendekat (masuk dan keluar) cukup baik.
3. Mempunyai sektor tembakan yang tidak terhalang.
4. Jauh dari tegangan tinggi minimal 300 meter.
5. Kemiringan tempat gelar daripada Launcher (Peluncur) tidak boleh lebih dari ± 90 mil (± 5º ).
6. Sudut elevasi antara Launcher dengan Optical Tracker tidak boleh lebih dari ± 180 mil (± 10º).
7. Jarak antara Launcher dengan benda-benda yang mudah terbakar atau gedung-gedung ± 10 meter.
8. Jarak antara Launcher dengan Runway dan Taxiway ± 30 meter.
Karena usia yang telah menua, kini arsenal Rapier telah dinyatakan pensiun dari kedinasan dan disimpan dalam depo TNI AD. Hal ini didasarkan Rapier telah melewati batas Lost Point maksimal sehingga sudah tidak aman lagi untuk ditembakkan, ini berdasarkan Surat Telegram Danpussenart Nomor ST/62/2002 tanggal 15 Agustus 2002 tentang larangan untuk menembakkan Missile Rudal Rapier yang masih tersisa. Sebagai penggantinya, tiap Denarhanud TNI AD kini mengoperasikan kanon 23 mm/Zur komposit dengan Rudal Grom yang merupakan senjata anti pesawat udara buatan Polandia.
SPESIFIKASI
Bobot: 45 kg (99 lb)
Panjang: 2.235 m (88.0 in)
Diameter: 0.133 m (5.2 in)
Lebar Sayap: 0.138 m (5.4 in)
Warhead: Blast fragmentation explosive close proximity warhead
Mekanisme Detonasi: Proximity triggered chemical fuze
Mesin: roket berbahan bakar padat
Jangkauan Operasional: 400–8,200 m (1,300–26,900 ft)
Ketinggian Jelajah: 3,000 m (9,800 ft) (rudal Mk1), 5,000 m (16,000 ft) (Mk2)
Kecepatan Maksimum: Mach 3 (3,700 km/h; 2,300 mph)
Sistem pemandu: Semi-automatic command to line of sight
Sistem kemudi: flight control surface
Platform peluncur: kendaraan atau trailer
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Rapier_(missile)
Rapier anti-aircraft missile system
https://en.missilery.info/missile/rapier2
JERNAS / Rapier FSC Air Defence System
https://www.army-technology.com/projects/jernas/
Rapier low-level ground-to-air defense missile system
