Sejarah Militer

“Time For Payback”: Saat George Kenney Menghancurkan Kekuatan Udara Jepang di Pasifik Barat Daya (1942-1944)

Meskipun serangan Jepang di Pearl Harbor menjadi peristiwa yang berfungsi sebagai katalis bagi Amerika untuk berperang dalam Perang Dunia II, Presiden Franklin Roosevelt dan penasihat militernya telah memutuskan bahwa mengalahkan Jepang akan menjadi prioritas kedua dibandingkan dengan upaya untuk menghancurkan mesin perang Nazi di Eropa. “Rencana Perang Oranye” yang dibuat AS sebelumnya mengutamakan strategi pertahanan di wilayah Pasifik berdasarkan pada operasi angkatan laut untuk membebaskan Filipina, tetapi pada tahun 1939 Angkatan Darat dan Angkatan Laut telah cukup banyak memutuskan untuk mengubah batas pertahanan yang direncanakan dan berkonsentrasi pada garis pertahanan yang membentang dari Panama ke Hawai dan kemudian ke Alaska. Ketika perang benar-benar terjadi, Roosevelt berkomitmen bahwa Amerika Serikat akan mengikuti kesepakatan yang dibuat dengan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan pemimpin Soviet Josef Stalin untuk memusatkan upaya utama Sekutu untuk melawan Nazi Jerman. Ketika Jerman bisa dikalahkan, baru Sekutu akan mengalihkan segala upaya mereka untuk mengalahkan Jepang. Namun, dalam analisis terakhir, Jepang ternyata sudah cukup banyak dikalahkan pada saat ibu kota Jerman, Berlin, jatuh ke tangan tentara Rusia pada bulan April 1945. Bagaimana—mengingat bahwa para perencana militer sekutu memperkirakan bahwa akan memakan waktu hingga dua tahun setelah kekalahan Jerman. untuk bisa membuat Jepang benar-benar bertekuk lutut—Jepang bisa didesak kembali untuk mempertahankan tanah air mereka dalam waktu yang jauh lebih singkat dari yang diperkirakan siapa pun?

Jenderal MacArthur mewakili sekutu menerima penyerahan tanpa syarat Jepang di USS Missouri, 2 September 1945. Penyerahan Jepang ini lebih cepat 2 tahun dari perkiraan awal. (Sumber: https://www.history.com/)

GEORGE CHURCHILL KENNEY

Salah satu jawabannya adalah bahwa Amerika Serikat memiliki dua senjata yang kurang begitu dikenal — yaitu apa yang kemudian menjadi Angkatan Udara Timur Jauh (FEAF) dan sosok dari seorang perwira Korps Udara Angkatan Darat bernama George Churchill Kenney. Lahir pada tanggal 6 Agustus 1889, Kenney dibesarkan di Brookline, Massachusett. Dia kemudian menghabiskan waktu tiga tahun di Massachusetts Institute of Technology. Saat mengikuti pelatihan terbang di bawah Bert Acosta, sebagai seorang penerbang yang handal, Kenney telah menunjukkan bakat dan kepercayaan diri yang kemudian akan menjadi keunggulan dalam karirnya. Selama Perang Dunia I, Kenney menerbangkan 75 misi penerbangan, dan berhasil menjatuhkan dua pesawat Jerman, sempat juga ditembak jatuh, dan dianugerahi medali Distinguished Service Cross dan Silver Star. Setelah itu, ia memutuskan untuk menjadikan dinas penerbangan Angkatan Darat sebagai jalur kariernya. Dia kemudian segera mendapatkan reputasi bagus untuk inovasi teknis dan taktis, serta untuk kejujuran dan kecerdasannya. Ketika Brigadir Jenderal Frank M. Andrews diangkat pada Maret 1935 untuk memimpin General Headquarters Air Force, dia menunjuk Kenney untuk menjadi asisten kepala stafnya untuk bidang operasi dan pelatihan. Di pos kunci staf Kekuatan Udara GHQ ini, Kenney bertanggung jawab atas pelatihan terbang tempur. Dan seiring dengan berjalannya waktu, Kenney dipromosikan menjadi letnan kolonel, yang merupakan promosi pertamanya dalam kurun waktu 17 tahun.

Jenderal George Churchill Kenney, sosok yang dianggap berjasa dalam menaklukkan kekuatan udara Jepang di wilayah Pasifik Barat Daya selama Perang Pasifik. (Sumber: https://pacificparatrooper.wordpress.com/)

Namun, masa jabatannya di GHQ tidak berlangsung lama. Sikap Kenney yang blak-blakan dan terkadang keras menyebabkan dia berseberangan dengan Staf Umum Departemen Perang. Seperti Andrews, Kenney memperjuangkan penggunaan pembom jarak jauh B-17 yang baru, tetapi Staf Umum tidak mau mendengar ini. “Mereka bilang tidak ada gunanya memiliki pesawat sebesar itu,” kenang Kenney. “Mereka juga tidak menyukai beberapa pernyataan yang saya buat, karena saya adalah letnan kolonel sementara dengan pangkat asli kapten, dan mereka ini semua adalah Mayor Jenderal.” Akibatnya, Departemen Perang membuangnya ke Ft. Benning, Georgia, di mana dia, selama periode 1936-38, ditugaskan mengajar taktik di Sekolah Infanteri. Adalah Henry H. Arnold, yang saat itu menjadi brigadir jenderal dan asisten kepala Korps Udara, yang menyelamatkan karir Kenney. Dia kemudian menugaskannya ke berbagai proyek khusus di Washington, D.C. Setelah invasi Nazi ke Polandia pada bulan September tahun 1939, Arnold memerintahkan Kenney ke Prancis untuk mempelajari pesawat dan peralatan yang digunakan Prancis dan juga untuk menilai kekuatan Luftwaffe. Kenney kembali ke Amerika dan melaporkan bahwa perlengkapan unit penerbangan militer Amerika ketinggalan jauh di belakang dari apa yang diterbangkan oleh angkatan udara Jerman. Setelah pasukan Jepang menyerang Pearl Harbor pada bulan Desember 1941, Amerika Serikat kemudian bergerak untuk mengorganisir pasukannya di Pasifik dan memulai perencanaan awal yang ditujukan untuk mengalahkan Jepang. Namun, untuk membawa kemenangan di Pasifik, Arnold pertama-tama perlu menugaskan seorang perwira yang energik dan agresif untuk menggantikan komandan udara yang sebelumnya ada di bawah Jenderal Douglas A. MacArthur, komandan Medan Pasifik Barat Daya. Orang yang dibutuhkan itu ada pada diri Kenney.

George Kenney (1889 – 1977) (kiri) berpose dengan Kepala Korps Udara Angkatan Darat AS Letnan Jenderal Henry ‘Hap’ Arnold (1885 – 1950), 1947. Jenderal Arold berjasa besar dalam menyelamatkan karier Kenney, yang kerap berseberangan pendapat dengan jenderal-jenderal senior lainnya. (Sumber: Photo by PhotoQuest/Getty Images/https://www.gettyimages.ae/)

Pada tanggal 7 Juli 1942, Mayor Jenderal George C. Kenney menerima telepon dari Jenderal Arnold, yang telah menjadi komandan Angkatan Udara dan diperintahkan untuk datang ke Washington guna mendapat pengarahan tentang pekerjaan barunya yang penting. Ada dua ironi tentang pemilihan Kenney sebagai orang yang pada akhirnya akan bertanggung jawab untuk mengubah upaya militer Amerika di Pasifik Barat Daya dari strategi defensif menjadi strategi ofensif: Yang pertama adalah bahwa nama lain telah direkomendasikan kepada Jenderal Douglas MacArthur, yakni nama yang flamboyan, dan yang baru saja dipromosikan, yakni Brigadir Jenderal James H. Doolittle. Doolittle baru saja kembali ke Amerika Serikat setelah memimpin serangan pemboman armada Amerika yang terkenal di Tokyo. MacArthur sendiri telah menolak Doolittle, karena menganggap penerbang terkenal itu tidak lebih dari seseorang yang naik pangkat cepat karena sebuah aksi keberanian di saat-saat kritis. Namun pada akhirnya Doolittle akan terus mendapat ketenaran tambahan dalam peran sekundernya sebagai komandan berbagai angkatan udara di medan tempur Eropa. Ironi kedua adalah bahwa tepat sebelum dia mendapat telepon dari Arnold, Kenney baru saja selesai memarahi pilot pesawat tempur muda karena melayang di bawah Jembatan Golden Gate dan menerbangkan pesawat tempur Lockheed P-38 Lightning-nya rendah di atas jalan-jalan San Francisco. Kenney lalu akan lebih mengenal Letnan muda Richard Ira Bong (pilot itu) secara intim di tahun-tahun mendatang, dan akan merekomendasikan dia untuk mendapatkan medali Medal of Honor sebagai pilot ace pesawat tempur dengan skor tertinggi di Amerika. Sebelum berangkat ke Pasifik, Kenney berkeliling di Washington selama tiga hari, mencoba mengumpulkan data sebanyak mungkin. Dia juga meminta Arnold untuk menugaskan 50 pesawat tempur P-38 dengan 50 pilot dari Angkatan Udara Keempat ke komando barunya di Pasifik. Dan Kenney memastikan bahwa Richard Ira Bong, menjadi salah satu dari pilot itu.

Richard Bong, Ace Terbesar Amerika dengan 40 kemenangan udara. George Kenney secara pribadi ingin agar Bong menjadi salah satu unit tempur andalannya di Pasifik. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

George Kenney tiba di Australia pada akhir bulan Juli menemukan pasukan Sekutu terorganisir hanya untuk peran defensif yang terbatas. Garis pertahanan Sekutu berada di pantai selatan Papua Nugini, tepat di utara kota Port Moresby. Beberapa bulan sebelumnya, pada bulan Maret 1942, pasukan Jepang telah mendarat di sisi utara Semenanjung Lae dan mulai bergerak maju ke selatan melewati Pegunungan Owen Stanley yang berbatu menuju Moresby. Pertempuran Laut Coral kemudian menggagalkan rencana Jepang untuk melakukan serangan amfibi di Moresby, tetapi pasukan yang datang melalui darat telah bergerak maju beberapa mil dari ibu kota sebelum mereka dihentikan oleh pasukan Australia. Pertempuran sengit berkecamuk di sepanjang Kokoda Track, jalan pegunungan sempit yang membentang di Owen Stanleys antara pangkalan Sekutu di Moresby dan pangkalan Jepang yang baru didirikan di Buna di tepi Teluk Huon. Upaya pendaratan pasukan Jepang di Milne Bay juga berhasil dihalau oleh pasukan Australia, berkat perangkat pemecah kode radio Sekutu yang berhasil mengetahui pendaratan yang direncanakan tepat waktu agar garnisun disana dapat segera diperkuat. Setibanya di Australia, Kenney juga menemukan kondisi logistik yang “sangat berantakan.” Pesawat tempur tidak bisa terbang ke udara karena suku cadang tidak ditemukan. “Banyak peralatan yang hilang,” kata Kenney, “tetapi tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya.” Bahkan ada keluhan dari lapangan bahwa permintaan suku cadang ditolak karena formulir permintaan yang tidak diisi dengan benar. Kenney menjelaskan bahwa dia akan mengakhiri praktik semacam ini. “Anda tidak memenangkan perang dengan menumpuk kertas di lemari arsip,” katanya.

MacArthur (Kiri) dan George Kenney (kanan). Sebelum dapat melaksanakan tugasnya dengan efektif, Kenney harus bisa meyakinkan diri di hadapan MacArthur bahwa dia adalah orang yang tepat untuk memimpin korps udaranya di Pasifik Barat Daya. (Sumber: https://pacificparatrooper.wordpress.com/)

Namun sebelum dia bisa mengatasi masalah logistik, dia harus menghadapi MacArthur. Menurut komandan udara sebelumnya, baik MacArthur maupun stafnya tidak memiliki pemahaman tentang operasi udara. Namun, katanya, setelah berunding hanya dengan staf terdekatnya, MacArthur membuat semua keputusan sendiri. Setelah melewati berbagai tantangan birokrasi, akhirnya Kenney bisa meyakinkan MacArthur bahwa ia adalah orang yang bisa diajak kerja sama dengannya, sebuah pencapaian yang tidak mudah bagi siapapun yang pernah bekerja bersama MacArthur. Tak lama setelah kedatangannya di Australia, Jenderal Kenney diperkenalkan dengan pria yang kemudian dia identifikasi sebagai “senjata rahasia” miliknya. Dua hari setelah secara resmi mengambil alih tugas sebagai “bos (kekuatan) udara” pada bagian staf Jenderal MacArthur dan mengaktifkan Angkatan Udara Kelima, Kenney terbang ke Charter Towers untuk mengunjungi Grup Pengebom Ringan ke-3, yang sebelumnya dikenal sebagai Grup Serang ke-3. Kenney sendiri memiliki latar belakang dalam penerbangan serangan, dan dia bersimpati dengan para penerbang muda dalam kelompok yang kesal dengan perubahan nama baru-baru ini yang telah menghilangkan identitas serang mereka. Ketika sang jenderal mengunjungi kelompok itu, komandannya, Letnan Kolonel John H. “Big Jim” Davies, membawa Kenney untuk bertemu dengan “The Mad Professor,” seorang mantan pilot perwira Angkatan Laut AS yang sekarang menjadi Mayor Paul Irving Gun, dari Angkatan Darat AS, tetapi lebih dikenal sebagai “Pappy.” Pappy Gunn telah bergabung dengan Angkatan Darat di Manila pada hari pertama perang pecah di Filipina, dan telah memiliki reputasi diantara para penerbang muda Amerika di Australia karena aksinya yang berani pada hari-hari pembukaan perang.

PAPPY GUNN ADA DIMANA SAJA

Gunn telah ditempatkan di Komando Transportasi Udara ketika dia tiba di Australia, tetapi setelah Kampanye Jawa yang bernasib buruk, dia sedikit banyak ditugaskan pada Grup Pembom Ringan ke-3. Selain menjalankan misi penerbangan transportasi untuk Komando Transportasi Udara, Gunn, yang merupakan legenda sejati Perang Pasifik, menerbangkan misi tempur dengan B-25 bersama personel Grup Pembom Ringan ke-3. Ketika dia tidak terbang, dia sering ditemukan membantu mekanik menjaga pesawat-pesawat pada Grup Udara itu bisa tetap terbang. Pada musim panas tahun 1942 ia membantu Grup tersebut menyiapkan pesawat pengebom ringan A-20 yang baru saja tiba untuk bisa segera digunakan. Kenney kemudian mendapati Gunn sedang mengerjakan inovasi terbarunya—memasang paket yang terdiri dari empat senapan mesin kaliber .50 di hidung salah satu pembom serang Douglas A-20 yang baru saja tiba di Australia untuk Grup Pembom ke-3. Dengan dirinya sendiri memiliki reputasi sebagai seorang inovator, Kenney terkesan dengan konsep Gunn, terutama ketika perwira tua Angkatan Laut mengatakan kepadanya bahwa senjata itu berasal dari pesawat tempur yang rusak. Sebelum meninggalkan Amerika Serikat ke Australia, Kenney meminta agar pasokan 3.000 bom fragmentasi berparasut, yang telah ia kembangkan dikirimkan ke Australia. Saat melihat A-20 modifikasi Pappy Gunn, dia bertanya kepada mantan masinis itu apakah dia bisa membuat semacam rak bom untuk membawa bom. Ketika dia menjelaskan kepada Gunn untuk apa bom itu dirancang, mata mantan pelaut itu berbinar. Gunn sendiri sudah melakukan “perang pribadinya” dengan Jepang semenjak istri dan keempat anaknya yang masih remaja ditahan di bekas Universitas St. Thomas dekat Manila. Dia hanya punya satu tujuan—yakni mengalahkan Jepang secepat mungkin dan membebaskan keluarganya. Menyadari potensi seorang pria seperti Gunn, Kenney memerintahkan putra mantan petani penggarap dari Arkansas ini untuk melapor kepadanya di Brisbane ketika dia telah menyelesaikan proses konversi pesawat, untuk menggantikan staf pribadi Kenney. Dia menginstruksikan Gunn untuk mengubah 16 pesawat A-20 menjadi pembom strafer/para-frag ketinggian rendah dan diminta melakukannya dalam waktu dua minggu.

Mayor Paul Irving Gun, dari Angkatan Darat AS, tetapi lebih dikenal sebagai “Pappy.” Gunn adalah seorang perwira inovatif yang serba bisa dan segera menjadi andalan Kenney dalam menyelesaikan berbagai masalah teknis. (Sumber: https://www.ozatwar.com/)
Pembom serang A-20 Havoc dengan modifikasi 4 senapan mesin pada bagian hidungnya. Gunn terlibat dalam proses modifikasi pesawat ini sebagai “straffer’ di penerbangan ketinggian rendah, sebuah inovasi yang segera disukai oleh Kenney. (Sumber: http://pwencycl.kgbudge.com/)

Pada awal bulan September semua A-20 telah dikonversi, dan pada pagi hari tanggal 12 September mereka melakukan debut tempurnya. Mereka segera mengubah “wajah” perang di Pasifik. Kapten Don Hall dari Skuadron Pembom ke-8 memimpin penerbangan yang terdiri dari sembilan pesawat A-20 yang telah dikonversi dalam misi terbang di ketinggian rendah menyerang lapangan terbang Jepang di Buna. Sebuah penerbangan yang terdiri dari 12 pesawat tempur Bell P-39 Airacobra yang dipimpin oleh Kapten Tommy Lynch mengawal para pengebom ini. Setiap awak pesawat pengebom telah diberi pengarahan untuk tetap berada sekitar 20 detik di belakang pesawat di depan mereka untuk menghindari terkena pecahan dari bom fragmentasi yang meledak. Sebelumnya, misi pengeboman Sekutu telah diterbangkan pada ketinggian sedang, tetapi penerbangan A-20 ini datang ke Buna tepat di atas ketinggian puncak pohon, dan berhasil mengejutkan para orang-orang Jepang. Keganasan serangan mereka begitu melemahkan semangat tentara Jepang, sehingga pada saat penerbangan ketiga yang terdiri dari dua pesawat terbang melewati landasan udara itu, semua tembakan balasan telah berhenti. Para penyerang mengklaim 17 pesawat Jepang dihancurkan, yang sebagian besar adalah pengebom tukik Aichi Val. Hal ini menandakan fajar baru dalam perang di Pasifik. Sebelum konversi A-20, kekuatan udara Sekutu di Wilayah Operasi Pasifik Barat Daya terdiri dari beberapa pesawat pengebom Boeing B-17 Flying Fortress yang sudah aus karena terus-menerus digunakan, beberapa pengebom Martin B-26 Marauder, dan satu skuadron Pengebom menengah B-25 Mitchell Amerika Utara yang benar-benar telah diambil dari tanpa ijin dari pesanan otoritas Belanda. Sementara kekuatan pesawat tempurnya terdiri dari pesawat-pesawat Curtiss P-40 Tomahawks dan P-39 Airacobra, yang dilengkapi dengan pesawat P-400, yang merupakan versi khusus dari P-39 yang telah dirancang untuk tujuan ekspor ke luar negeri.

Bomber B-17 Angkatan Udara Kelima di Australia tahun 1942-43. Keberadaan B-17 kemudian secara berangsur digantikan dengan pembom B-24 yang memiliki jangkauan lebih jauh. (Sumber: https://www.worldwarphotos.info/)
Pesawat pemburu Bell P-39 Airacobra yang sukses besar ditangan Tentara Merah Soviet, terbukti tidak cocok digunakan di pasifik untuk melawan pesawat-pesawat tempur Jepang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Pesawat tempur Curtis P-40 meski merupakan pesawat yang tangguh, namun tidak selincah pesawat-pesawat tempur Jepang dan sama seperti P-39, lebih efektif digunakan di ketinggian rendah. (Sumber: https://www.goodfon.com/)

Armada Transportasi udara terdiri dari dua skuadron pesawat pengangkut pasukan ad hoc yang menerbangkan sejumlah pesawat, termasuk B-17 yang telah dikonversi, sepasang pesawat transport B-24A, dan beberapa Lockheed C-60 serta beberapa varian Douglas DC-2 dan DC -3. Sebelum berangkat ke Australia, Kenney dijanjikan sebuah grup tempur yang menerbangkan pesawat tempur P-38. Dia juga telah dijanjikan grup pesawat-pesawat pengangkut pasukan yang dilengkapi dengan pesawat C-47. Kenney datang ke Australia dengan perintah untuk memulai kampanye ofensif melawan Jepang di New Guinea, tetapi dia juga diberitahu bahwa dia harus beroperasi dengan sedikit peralatan. Tidak seperti kebanyakan perwira sebelum perang lainnya yang akan menjadi terkenal selama perang, dia tidak memakai filosofi pemboman presisi pada siang hari. Kenney adalah seorang ahli taktik, yang teorinya akan menjadi ciri utama taktik militer pascaperang, dan taktiknya berpusat pada penggunaan kekuatan udara sebagai “pengganda kekuatan,” yang akan menjadi kata kunci militer di tahun 1990-an. Konsep ini dicapai dengan menggunakan pesawat untuk menggerakkan garis depan pasukan Sekutu sejauh mungkin dan secepat mungkin. Filosofi Kenney singkatnya adalah bagaimana bisa “membawa perang” kepada Jepang daripada menunggu mereka membawanya ke pihak Sekutu.

PENGEMBANGAN TAKTIK “SKIP BOMBING”

Saat dalam perjalanan ke Australia, Kenney dan ajudannya, Mayor Bill Benn, meminjam sebuah pembom medium B-26 dan bereksperimen dengan teknik yang disebut “skip-bombing.” Sebuah teknik menjatuhkan bom di ketinggian rendah sedemikian rupa sehingga bom yang dijatuhkan akan melompati air seperti kerikil yang dilemparkan untuk dimaksudkan agar dapat menghantam ke sisi kapal yang menjadi target. Segera setelah kedatangan mereka, Kenney mengirim Benn untuk mengambil alih komando skuadron pembom B-17 dan mengajari pilot mereka metode baru untuk menyerang perkapalan musuh. Sayangnya, Benn akan dilaporkan hilang dalam tugas saat melakukan serangan kurang dari enam bulan kemudian, tetapi untuk sementara dia telah cukup mengajar pilot-pilot dari Skuadron Pembom ke-63 dengan baik, dan teknik “Skip Bombing” telah menjadi bagian utama dari taktik pengeboman Angkatan Udara Kelima. Kenney senang dengan keberhasilan pengaplikasian teknik “skip-bombing” pada pesawat-pesawat pembom B-17 tetapi merasa bahwa pesawat itu bukan pesawat yang tepat untuk melaksanakan pekerjaan itu. Dia lalu menunggu hasil dari upaya terbaru Pappy Gunn dalam mengatasi masalah itu, tetapi itu masih akan memakan waktu beberapa minggu sebelum dapat diperkenalkan ke perang. Penemuan taktis lain dari Kenney juga mencakup upaya untuk meningkatkan penggunaan pesawat guna meningkatkan fleksibilitas pasukan darat. Segera setelah mengambil alih komando Angkatan Udara Kelima, dia menyeleksi para perwira di Korps Udara Angkatan Darat di Australia dengan ketat, dimana ia segera menyingkirkan perwira yang tidak memiliki semangat atau keterampilan untuk berfungsi sebagai pemimpin di zona pertempuran di mana misinya adalah melakukan operasi ofensif dengan kekuatan dah anggaran terbatas. Kenney menginginkan orang-orang seperti dirinya yang bersedia mengambil risiko yang telah diperhitungkan dan melakukan inovasi guna menyelesaikan pekerjaannya. Salah satu pemikiran utama Kenney adalah memperkenalkan pesawat-pesawat transport pengangkut pasukan ke dalam perang darat. Divisi Infanteri ke-32 Amerika saat itu telah tiba di Australia, dan para ahli perang psikologis Jepang sedang turun ke lapangan dengan membagikan selebaran yang memberi tahu pasukan Australia yang bertempur di Papua Nugini bahwa orang-orang Amerika akan merebut istri dan pacar mereka saat mereka bertempur dan sekarat di medan perang.

Teknik Skip Bombing yang dikembangkan oleh Kenney. Teknik ini kemudian sukses besar untuk digunakan menyerang perkapalan Jepang. Dalam teknik ini bom yang memantul diharapkan dapat menghantam sisi kapal yang ditarget. (Sumber: https://www.relicsww2.net/)

Sementara itu Kenney kemudian menyarankan kepada MacArthur agar dia bisa menggunakan pesawat transportasinya untuk menerbangkan beberapa pasukan Amerika ke utara ke New Guinea sehingga kehadiran mereka dapat akan meningkatkan moral pasukan Australia. Meskipun stafnya tidak menyukai gagasan itu, MacArthur memberi Kenney lampu hijau untuk memindahkan resimen pertama dari Divisi Infanteri ke-32 ke garis depan setelah “bos udara” itu menunjukkan bahwa akan memakan waktu hingga dua minggu untuk memindahkan seluruh divisi itu dengan menggunakan kapal. Pada tanggal 15 September, pesawat-pesawat transport Kekuatan Udara Angkatan Darat AS mulai memindahkan elemen pertama dari Resimen Infanteri ke-126 ke Port Moresby. Pengangkutan udara berjalan dengan baik, tetapi resimen lainnya sudah mulai menaiki kapal. MacArthur lalu menyetujui pergerakan Resimen Infanteri ke- 128 sepenuhnya melalui udara, dengan pengangkutan udara dimulai pada saat yang sama ketika kapal yang membawa Resimen ke-126 dijadwalkan untuk meninggalkan Brisbane. Kenney memiliki waktu dua hari untuk mempersiapkan setiap pesawat angkut yang tersedia di Australia untuk melakukan pengangkutan udara. Guna melengkapi armada transportasi Skuadron Pengangkut Pasukan ke-21 dan ke-22, dia mengumpulkan bermacam-macam jenis pesawat, termasuk pesawat transport sipil Australia dan pembom yang baru tiba dengan awak sipil mereka. Pengangkutan udara berjalan dengan hanya menemui sedikit masalah, dan kehadiran bala bantuan Amerika mampu meningkatkan moral pasukan Australia yang telah berperang di Jalur Kokoda selama beberapa minggu. Kedatangan tepat waktu dari bala bantuan yang diangkut melalui udara membuat Jenderal Thomas Blamey, perwira Australia yang bertanggung jawab atas pasukan Australia di New Guinea, berhenti berbicara tentang kemungkinan menarik pasukannya ke dalam perimeter di Port Moresby. 

Pasukan Australia melintasi sungai di Jalur Kokoda. Beratnya jalur Kokoda, memunculkan ide bagi Kenney untuk mengangkut pasukan melintasi pegunungan Owen Stanley. (Sumber: https://www.adventureexcellence.com/)

Eksperimen Kenney dengan menerbangkan pasukan dari Australia ke zona pertempuran adalah awal dari rencananya yang lebih besar, dalam menggunakan angkutan udara untuk memindahkan pasukan Sekutu melintasi Owen Stanley guna merebut “landasan udara” di daerah Misi Wanigela, sebuah stasiun yang terletak di dataran rendah pantai yang datar di Semenanjung Lae. Kenney ingin membangun pangkalan udara di sisi utara pegunungan guna melancarkan serangan udara terhadap Rabaul dan Lae. Dari pangkalan garis depan seperti itu, pesawat tidak perlu lagi mendaki di atas puncak gunung yang mencapai ketinggian 13.000 kaki (3.962 meter). Penerbangan dari pesawat pengintaian telah mengungkapkan bahwa hanya sepasukan kecil tentara Jepang yang berada di sekitar lapangan terbang yang direncanakan itu. Meskipun dia tahu petugas darat di staf MacArthur akan menentang rencana tersebut, Kenney merasa yakin bahwa idenya untuk Operasi Hatrack ini akan disetujui. Tak lama setelah pergerakan Resimen Infanteri ke-128 ke Port Moresby, Jenderal Henry H. Arnold tiba di Pasifik dalam sebuah tur inspeksi. Kenney memberi tahu Arnold bahwa Grup Pembom ke-19—baik awak udara dan darat—sudah kecapekan, dan bahwa dia ingin menukarnya dengan Grup Pembom ke-90, unit baru yang dilengkapi dengan pengebom B-24D Liberator yang baru saja tiba di Hawaii. Arnold menyetujui pertukaran itu. Ketika Arnold bertanya kepadanya tentang masalah pemeliharaan dua jenis pembom yang berbeda, Kenney menjawab bahwa dia tidak peduli. Dia akan mengambil apa pun yang bisa dia dapatkan. Misi pemboman siang hari di Inggris lebih menyukai memakai B-17, tetapi Consolidated Aircraft dan Ford Motor Company bersiap untuk memproduksi B-24 dengan kecepatan produksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam setahun, kemudian semua B-17 di Pasifik Barat Daya telah digantikan oleh B-24 yang dapat terbang lebih jauh. 

Bomber B-24 Liberator, yang menggantikan armada bomber B-17 di wilayah Pasifik Barat Daya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

MacArthur memang menyetujui rencana Kenney untuk Hatrack, dan pada awal bulan Oktober seorang mantan misionaris Australia bernama Cecil Groves terbang ke Misi Wanigela dan menempatkan penduduk asli setempat untuk bekerja memotong rumput kunai untuk landasan yang cukup mampu untuk didarati pesawat transport C-47. Pesawat-pesawat yang penuh dengan personel infanteri Australia lalu mulai berdatangan keesokan paginya, dan menjelang malam tiba, satu batalion yang terdiri dari kira-kira seribu orang telah diterbangkan melintasi Owen Stanley untuk mendarat tanpa perlawanan di lereng utara pegunungan yang terjal. Pasukan Australia akhirnya berhasil mendirikan pangkalan udara yang hanya berjarak 72 mil di selatan pangkalan Jepang di Buna, dan Pasukan Sekutu mulai bergerak dalam memindahkan perbekalan. Pasukan mulai bergerak melalui darat dari Port Moresby, dan pada 14 Oktober, pesawat-pesawat pengangkut Angkatan Udara Kelima mulai menerbangkan Resimen Infanteri ke-128 AS ke landasan baru. Sementara itu, Pasukan Australia bergerak secepat mungkin melalui pegunungan menuju Buna melewati Jalur Kokoda. Setelah pasukan berada di posisinya, mereka berusaha mencari jalur darat ke utara, tetapi medannya terlalu berawa dan Divisi ke-32 memilih untuk mendirikan landasan udara baru di Pongani, yang jaraknya hampir 20 mil dari Buna sendiri. Anehnya, pasukan Amerika tidak bertemu dengan tentara Jepang; rupanya mereka memusatkan upaya mereka di Jalur Kokoda dan tidak menyadari bahwa mereka sedang diancam dari arah selatan. Kenney percaya bahwa Buna hanya dipertahankan dengan ringan, sehingga pasukan AS dapat merebutnya dengan sedikit perlawanan, dan Jenderal Ennis Whitehead, bawahannya, telah menyarankan serangan berikutnya ke arah Nadzab untuk menjepit pasukan Jepang di Lae. 

Pesawat angkut Douglas C-47 menjadi andalan Angkatan Udara Kelima pimpinan Kenney dalam mengangkut personel dan perbekalan di wilayah Pasifik Barat Daya. (Sumber: http://www.goodall.com.au/)

Namun, pihak Angkatan Laut menahan 10 pesawat C-47 yang sedang dalam perjalanan menuju ke satuan Kenney, sehingga mengurang sumber daya Angkatan Udara Kelima dan menggagalkan serangan yang akan diluncurkan pada saat itu. Sebelum serangan bisa diluncurkan, musim hujan di New Guinea tiba, memperlambat kemajuan pasukan Sekutu dan memungkinkan tentara Jepang untuk mendatangkan bala bantuan dari laut. Buna tidak akan direbut sampai awal bulan Januari 1943. Pada saat itu Jepang telah mengubah Lae menjadi benteng pertahanan utama. Hingga saat itu, sementara pesawat-pesawat A-20 yang dimodifikasi terbukti menjadi senjata serang yang tangguh dan pesawat angkut C-47 menunjukkan kemampuan dalam memobilisasi pasukan darat, Angkatan Udara Kelima yang baru masih kekurangan kemampuan tempur yang efektif untuk bisa mendapatkan superioritas udara. Sepanjang sebagian besar tahun 1942, satu-satunya pesawat tempur yang beroperasi di wilayah Pasifik Barat Daya adalah pesawat-pesawat tempur P-39 dan P-40, dimana kemampuan keduanya dianggap masih lebih inferior dibanding pesawat tempur Mitsubishi Zero Jepang yang gesit. Kedua pesawat Amerika lebih efektif digunakan di ketinggian rendah, tetapi P-39 yang kecil tidak memiliki kinerja menanjak dan terbang di ketinggian tinggi untuk memungkinkan mereka mencegat formasi pesawat-pesawat Jepang; sementara itu P-40 tidak dapat bermanuver menandingi pesawat-pesawat tempur Jepang itu. Kenney sebelumnya telah dijanjikan sebuah grup tempur yang dilengkapi dengan pesawat-pesawat tempur bermesin ganda P-38, yang tiba di Australia pada bulan September. Namun, baru pada akhir Desember mereka bisa melakukan debut tempurnya, karena masalah desain yang harus diperbaiki di lapangan. Pada tanggal 27 Desember 1942, 12 pesawat P-38 mencegat formasi yang terdiri dari 20 pesawat tempur Jepang dan tujuh pesawat pengebom tukik di sekitar Dobodura. Pada saat pertarungan berakhir, selusin pesawat Jepang telah jatuh, dengan kehilangan hanya satu pesawat P-38 rusak dan terpaksa mendarat di Dobodura (setelah diperbaiki dapat kembali beroperasi). Pilot, Letnan Ken Sparks, dicatat menjatuhkan dua pesawat Jepang hari itu, seperti Kapten Tommy Lynch dan Letnan Richard Bong, yang telah disemprot Kenney beberapa bulan sebelumnya. Empat hari kemudian, pesawat-pesawat P-38 menyerang formasi pesawat tempur Zero yang terkenal dan menembak jatuh sembilan dari mereka, membuat Jenderal Whitehead mengklaim, “Kami telah menghajar kekuatan udara Jepang.”

Pesawat tempur Lockheed P-38 Lightning yang bermesin ganda terbukti mampu untuk menaklukkan pesawat tempur Zero Jepang dalam berbagai pertempuran udara. Pada tahun 1943, perimbangan kekuatan di wilayah Pasifik mulai berpihak pada sekutu. (Sumber: https://www.goodfon.com/)

Perang Dunia II di Pasifik telah berbalik menguntungkan sekutu. Sementara pasukan darat memusatkan perhatian pada Buna, Angkatan Udara Kelima melakukan serangannya sendiri terhadap Jepang. Skip-bombing dari pesawat-pesawat B-17 dari Skuadron Pembom ke-63 mencapai banyak keberhasilan dalam menyerang arus perkapalan Jepang, tetapi Kenney membatasi aktivitas mereka pada malam yang diterangi cahaya bulan karena kurangnya senjata untuk menembak ke depan pada B-17. Sementara itu, A-20 yang dimodifikasi terbukti sangat efektif menyerang lapangan udara Jepang dan mendukung pasukan darat. Salah satu kesuksesan besar bagi pesawat-pesawat A-20 adalah penghancuran jembatan tali kawat di “Wairopi” (bahasa Inggris dari tali kawat). Puluhan tentara Jepang tewas dalam serangan itu, sementara komandan tentara Jepang, Jenderal Tomitaro Horii,  jatuh ke Sungai Kumusi yang banjir dan tenggelam saat mencoba menyeberanginya dengan perahu kecil. Keberhasilan dari A-20 meyakinkan Kenney bahwa jawaban atas masalah penggunaan taktik skip-bomb adalah dengan melakukan konversi serupa pada bomber B-25. Mayor Gunn telah menyarankan untuk mengubah pesawat B-25 ketika dia pertama kali bertemu Kenney, dan dia diberi lampu hijau untuk mengubah pesawat yang cukup untuk melengkapi satu skuadron. Konversi dari B-25 membuat bomber ini memiliki delapan senjata yang bisa menembak ke depan (jumlahnya kemudian meningkat menjadi 14 senjata pada pesawat yang diproduksi kemudian), termasuk enam di kompartemen pembom dan dua lagi dipasang pada pod di samping badan pesawat. Setelah pesawat pertama dimodifikasi, pesawat itu diserahterimakan kepada komandan Skadron Pembom ke-90, Kapten Ed Larner, untuk dicoba. Sebelas pesawat lainnya mengikuti. 

PEMBOM KONVERSI MEMBERIKAN PUKULAN MEMATIKAN PADA PERKAPALAN JEPANG

Misi pertama dari B-25 yang telah dikonversi diarahkan pada misi penyerangan perkapalan Jepang, tetapi ketika tidak ada kapal yang dapat ditemukan, Kapten Larner memimpin penerbangan yang terdiri dari enam pesawat melakukan serangan dalam ketingkat rendah di lapangan terbang Jepang di Salamaua. B-25 kemudian terbukti bisa seefektif A-20 yang dikonversi, dan merupakan sistem senjata yang lebih tangguh karena memiliki lebih banyak daya tembak di bagian hidungnya. Selama minggu pertama bulan Maret, A-20 dan B-25 membuktikan betapa efektifnya mereka melawan perkapalan musuh selama Pertempuran Laut Bismarck. Ini adalah pertempuran yang oleh sejarawan angkatan laut Amerika, Laksamana Samuel Eliot Morison disebut sebagai “serangan udara paling menghancurkan terhadap perkapalan selama perang, kecuali jika dibandingkan dengan yang terjadi di Pearl Harbor.” Sebuah konvoi Jepang yang terdiri dari delapan kapal angkut yang dikawal oleh kapal perang dalam jumlah yang sama dan mungkin lebih banyak diserang berulang kali pada tanggal 28 Februari dan 1 Maret. Selama pertempuran yang berlangsung, setiap kapal angkut berhasil ditenggelamkan. Meskipun beberapa keberhasilan juga dicapai oleh serangan pesawat-pesawat B-17 yang terbang di ketinggian menengah pada tanggal 28 Februari, serangan skip-bombing dari ketinggian rendah oleh skuadron yang masing-masing dilengkapi dengan B-25 dan A-20 mencatat bagian terbesar dari kemenangan sekutu. Setiap kapal transport dan empat kapal perusak Jepang tenggelam atau rusak parah setelah serangan pertama, dan serangan kedua di kemudian hari menghabisi konvoi itu. Serangan dari kapal-kapal PT (kapal torpedo) Angkatan Laut AS kemudian menenggelamkan satu kapal yang rusak. Hanya dua kapal perusak yang selamat dari pertempuran. Dalam pertempuran itu secara total kekuatan udara sekutu menewaskan 2.900 tentara musuh.

Dalam pertempuran laut Bismarck, pembom B-25 dan A-20 Havoc terbukti sukses dalam menenggelamkan banyak kapal angkut dan kapal pengawal Jepang. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

Pertempuran Laut Bismarck membuktikan bahwa kekuatan udara dapat secara efektif menghalangi jalur pasokan musuh, dimana hal ini membuat Kenney dan MacArthur lalu memutuskan strategi baru. Waktu itu Komando Angkatan Laut di Pasifik Selatan telah berhasil mendarat di pulau Guadalcanal di Kepulauan Solomon, dan pasukan ini sedang menuju ke utara pulau demi pulau dalam perjalanannya menuju benteng pasukan Jepang di Rabaul, New Britain. Kenney meyakinkan MacArthur bahwa pasukan Sekutu dapat mengalahkan tentara Jepang di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, dengan melewati saja daerah-daerah yang dijaga ketat seperti Rabaul, kemudian menetralisir keefektifannya dengan memotong jalur pasokan mereka melalui serangan udara dan blokade laut, dikombinasikan dengan serangan udara konstan terhadap Rabaul sendiri. Untuk melakukannya, prioritas pertama adalah untuk merebut wilayah Jepang dan membangun lapangan terbang baru dari mana skuadron pembom dapat beroperasi disitu. Serangan terhadap lapangan terbang Nadzab di Lembah Markham di barat laut Lae kemudian dirancang untuk membangun kekuatan Sekutu di bagian belakang garis pertahanan Jepang. Kenney dan stafnya beralasan bahwa lapangan terbang dapat direbut oleh pasukan udara yang didukung oleh serangan udara besar-besaran. Agar serangan berhasil, Sekutu membutuhkan lapangan terbang yang cukup dekat dengan Nadzab agar pasukan darat yang ditempatkan sebelumnya dapat diterbangkan untuk memanfaatkan keuntungan yang diperoleh dari serangan udara. Kenney dan para perencana Angkatan Udara Kelima memutuskan sebuah lokasi di sekitar Marlinan, sebuah stasiun di pedalaman Papua hanya sekitar 30 mil selatan Lae di lereng utara pegunungan Owen Stanleys. Setelah menemukan bahwa lokasi potensial lain yang tidak cocok untuk pembangunan lapangan terbang, Letnan Everett Frazier, seorang perwira teknik muda Amerika, berjalan ke Marlinan, lalu berjalan kembali untuk membuat laporannya. Dia menemukan bahwa landasan lama terkena banjir dan dengan demikian tidak dapat digunakan sebagai pangkalan garis depan, tetapi dapat berfungsi sebagai titik pasokan material yang dapat diterbangkan untuk membangun lapangan terbang baru di lokasi lain di dekat desa Tsili-Tsili.

Peta rencana operasi merebut landasan udara Nadzab. (Sumber: https://www.wikiwand.com/)

Setelah beberapa persiapan di lapangan, pesawat-pesawat pengangkut pasukan C-47 mulai menerbangkan personel dan bahan bangunan ke Marlinan. Jip dan trailer diterbangkan melewati pegunungan untuk mengangkut perbekalan ke lokasi konstruksi sekitar dua mil jauhnya. Untuk mempercepat aliran perbekalan, petugas kargo Angkatan Udara Kelima memunculkan gagasan untuk memotong rangka truk 2½-ton Angkatan Darat menjadi dua, kemudian memuat masing-masing setengahnya ke atas pesawat C-47 dan kemudian memasangnya kembali setelah diterbangkan ke sisi lain pegunungan. Konsep ini bekerja dengan sangat baik sehingga semua truk di wilayah tersebut akhirnya dimodifikasi untuk dibongkar dan diangkut melalui udara. Untuk menjaga kerahasiaan lapangan terbang baru, maka kru pesawat-pesawat C-47 terbang pada ketinggian rendah di bawah tangkapan layar radar Jepang, tetapi keberadaan mereka akhirnya biss diketahui juga. Penerbangan pertama pesawat-pesawat C-47 yang tiba dengan personel pendukung penerbangan diserang oleh pesawat tempur Jepang, yang menembak jatuh dua pesawat transport sebelum mereka diusir oleh pesawat-pesawat pemburu AS. Setelah lapangan terbang di Tsili-Tsili selesai dibangun, tanggal serangan terhadap Nadzab ditetapkan. Sementara itu, Resimen Infanteri Parasut ke-503 telah tiba di Australia dan berada dalam posisi siap untuk menyerang. Sebuah serangan darat kemudian diluncurkan di Lae pada tanggal 4 September, dan keesokan paginya orang-orang dari Resimen Infanteri ke-503 naik ke 79 pesawat angkut C-47 Pasukan dari Wing Pengangkut Pasukan ke-54 di Port Moresby. Setelah berkumpul di atas Thirty-Mile Aerodrome, pasukan penyerang melintasi pegunungan Owen Stanleys dan menuju ke lokasi penerjunan di atas Marlinan.

Upaya memuat sebuah Jeep ke dalam pesawat C-47. Di Pasifik, petugas kargo Angkatan Udara Kelima berinovasi memuat truk 2½-ton Angkatan Darat menjadi dua, kemudian memuat masing-masing setengahnya ke atas pesawat C-47. (Sumber: https://ww2aircraft.net/)
Pasukan terjun payung menaiki pesawat Douglas C-47A 42-23589 callsign VHCGK selama kampanye militer di New Guinea. (Sumber: http://www.goodall.com.au/)
5 September 1943. Nampa kecil dibalik tabir awan, C-47 dari Korps Udara Angkatan Darat AS menjatuhkan batalion dari Resimen Parasut ke-503 di Nadzab, New Guinea. Sebuah batalion yang dijatuhkan beberapa menit sebelumnya mendarat di latar depan. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Tepat sebelum pasukan pertama melompat pada pukul 10:22, formasi dari pesawat-pesawat B-25 menyerang lapangan terbang dengan bom para-fragmentasi dan senapan mesin. Pesawat-pesawat B-25 menghamburkan tembakan dari delapan senapan mesin mereka di lapangan udara itu, lalu masing-masing menjatuhkan 60 bom parafrag. Sebuah penerbangan dari pesawat-pesawat A-20 menjatuhkan tabir asap di atas lapangan terbang, dan pasukan terjun payung kemudian melompat ke atas langit Papua. Prajurit Jepang yang bertahan begitu terdemoralisasi oleh serangan yang tiba-tiba itu, sehingga lapangan terbang itu bisa dikuasai dalam hitungan menit, dengan sedikit perlawanan. Jenderal MacArthur dan Kenney mengamati operasi yang sedang berlangsung dari pesawat B-17 yang mengorbit di atas kepala. Kenney melaporkan bahwa MacArthur “melompat-lompat seperti anak kecil” ketika dia menyadari keberhasilan operasi tersebut. Setelah penerjunan, pesawat-pesawat C-47 menuju Marlinan di mana mereka mengambil 1.700 prajurit infanteri Australia dan menerbangkannya ke pangkalan udara baru di Nadzab. Pasukan yang diterbangkan dari udara membentuk satu lengan penjepit yang dengan cepat mendekati pangkalan Jepang di Lae. Pada 16 September, Lae sudah berada di tangan Sekutu, bersama dengan Salamaua, yang berada beberapa mil di selatan. Dengan cepat jatuhnya Lae, jalan menjadi terbuka untuk mempercepat rencana pendaratan di Finschafen. Tanggal pendaratan dimajukan tiga minggu, dan pasukan Sekutu bisa mengamankan tempat berpijak pada tanggal 22 September. Kota itu sendiri jatuh dalam waktu dua minggu. Sementara itu, Sekutu mulai membangun di sekitar Nadzab, mendirikan tidak kurang dari empat lapangan udara pada pertengahan bulan November. Lokasi mereka yang ada di pedalaman mengharuskan semua pasokan dikirim melalui udara selama beberapa bulan, yang membuat kondisi kehidupan di pangkalan agak “keras”. Akomodasi memadai atau tidak, pangkalan-pangkalan baru itu terus membantu menggerakkan kemajuan kekuatan udara Sekutu lebih jauh ke depan karena skuadron-skuadron tempur yang terbang keluar dari pangkalan-pangkalan itu mampu memperluas superioritas udara mereka ke atas garis pantai Pantai Nugini. 

PENGHANCURAN KEKUATAN UDARA JEPANG DI PASIFIK BARAT DAYA

Antara bulan April dan Juli 1943 kekuatan Udara Sekutu memusatkan diri dalam upaya menghancurkan pangkalan-pangkalan depan musuh dan dalam usaha memblokir rute-rute perbekalan mereka. Operasi-operasi ini memang tidak terdengar spektakuler namun dampaknya mulai terasa. Operasi-operasi ini terbukti memainkan peranan sangat penting dalam melemahkan tempat-tempat yang akan diinvasi sekutu di kemudian hari. Dan lebih penting dari itu, semua penggempuran terhadap pangkalan-pangkalan musuh meyakinkan MacArthur dan Kenney bahwa mereka kemudian dapat merebut tempat-tempat itu tanpa perlu mengulangi pertempuran sengit dan berat seperti di Buna dan Guadalcanal. Sementara itu dalam bulan April 1943 pihak Jepang melancarkan apa yang boleh dibilang sebagai ofensif udara besar-besaran-nya yang terakhir di wilayah Pasifik Barat Daya dan Pasifik Selatan. Pada tanggal 7 April mereka menyerang pasukan-pasukan dan instalasi-instalasi Amerika di Guadalcanal dengan 51 pesawat pembom dan 39 pesawat fighter. Serangan ini ditangkis oleh Angkatan Udara ke-13 yang berhasil menghancurkan 38 dari 90 pesawat penyerang. Empat hari kemudian tiba gilirannya bagi AU gabungan Amerika-Australia untuk menggagalkan pencegatan udara musuh besar-besaran terhadap Teluk Oro di tepi utara Papua. Dari armada pembom dan Fighter Jepang sebanyak 49 buah, 18 diantaranya berhasil dirontokkan dan 6 lainnya dirusakkan. 

Pada awal Perang Pasifik, pesawat tempur Zero Jepang memang merajai udara, namun pada tahun 1943, kondisi sudah berbalik, ada cukup banyak pesawat sekutu yang mampu menandingi bahkan mengungguli kemampuan Zero. (Sumber: http://www.aviationofjapan.com/)

Suatu berita yang disiarkan mengenai perkembangan kekuatan pertahanan udara sekutu di Port Moresby yang ditangkap oleh pihak Jepang dengan segera menyebabkan serangan musuh oleh 102 pesawat pembom-tempur pada tanggal 13 April 1943. Sebaliknya bukannya cemas, Markas Besar Sekutu malah menerima dengan tangan terbuka serangan dan siap untuk menghantam pihak jepang yang menyerang. Dalam suatu pertempuran yang seru yang berpindah ke arah timur laut, mereka menghancurkan lebih dari sepertiga pesawat musuh. Dari jumlah 102 peswat, 35 buah diantaranya ditembak jatuh dan 6 lainnya rusak berat. Serangan atas Port Moresby ini dilakukan dengan jumlah yang lebih besar dibanding serangan-serangan sebelumnya tapi mungkin malah menjadi paling sedikit hasilnya dan paling merugikan bagi Jepang. Pada keesokan harinya, tanggal 14 April, Jepang menyerang pangkalan sekutu yang telah diperluas di Teluk Milne dengan 46 buah pesawat pembom dan 54 pesawat tempur. Sekali lagi Angkatan Udara Kenney telah mengetahui lebih dulu dan dengan demikian berhasil menembak jatuh 24 pesawat lawan. Dalam 4 serangan ini Jepang kehilangan 106 buah pesawat sehingga menangguhkan niat mereka untuk melanjutkan serangan lanjutkan. Selama sisa tahun 1943 itu musuh hanya membatasi diri dengan operasi-operasi udara utama untuk pertahanan dan serangan-serangan terhadap invasi sekutu. Kini era dimana Trio Maut Lae (Sakai-Nishizawa-Ota) merajai udara Papua sudah lewat masa jayanya.

Sebuah B-25 melintas diatas sebuah perkubuan Jepang. B-25 tidak hanya handal dalam menjatuhkan bom, namun juga memberondong posisi-posisi landasan dan pasukan darat musuh. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Sesudah bulan Juni 1943, permohonan MacArthur dan Kenney untuk diberi lebih banyak pesawat pembom dan pemburu akhirnya berhasil mengembangkan superioritas udaranya. Kini berlangsunglah pertumbuhan kekuatan udara Amerika dan RAAF (Australia), baik dengan penambahan pesawat buatan Amerika maupun Australia. Kenney sekarang berada dalam kedudukan untuk melancarkan ofensif dan merencanakan pertempuran sebenarnya untuk menghancurkan sama sekali kekuatan udara Jepang. Sambil menyusun rencana dari sebuah lapangan udara yang sangat rahasia, wakil Kenney, yaitu Mayor Jenderal Ennis C. Whitehead untuk pertama kalinya dalam perang berhasil membentuk formasi penyerang yang terdiri dari 200 buah pesawat terhadap pangkalan-pangkalan udara yang dikuasai musuh. Ia melancarkan pukulan-pukulan dahsyat atas sistem pangkalan udara yang dibuat Jepang sepanjang 35 mil ditepi barat laut Papua Barat, di kedua sisi pangkalan penting Jepang di Wewak. Serangan mendadak pertama kalinya merupakan suatu sukses yang gemilang, pesawat-pesawat berawak Australia dan Amerika berhasil menghancurkan 122 pesawat Jepang dan merusak 53 buah lainnya. Dalam 4 serangan lainnya yang lebih hebat, rentetan penghancuran ini bertambah jadi 224 pesawat musuh dihancurkan dan 41 lainnya dirusakkan diatas landasan, 92 ditembak jatuh sementara 18 lainnya mungkin juga hancur dalam pertempuran udara.

Modifikasi pada bagian hidung B-25 memampukannya untuk memiliki daya tembak besar pada bagian depan pesawat. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Bulan Agustus 1943 merupakan bulan yang menyedihkan bagi kekuatan udara Jepang. Dalam suatu usaha yang putus asa untuk memperkuat daerah Pasifik Barat Daya mereka dengan tergesa-gesa mendatangkan formasi pesawat baru melalui mata rantai jaringan lapangan udara mereka dari Manchuria dan China Utara. Pada pertengahan bulan Agustus 1943, pesawat pengebom Angkatan Udara Kelima dan pesawat pemburu P-38 menyerang pangkalan udara Jepang di Wewak, dan berhasil menghancurkan sekitar 175 pesawat musuh di darat. Sebagai akibat dari serangan yang menghancurkan ini, Jepang harus menempatkan pasukannya lebih jauh ke belakang, membuat kedudukan mereka di Lae dan Salamaua rentan. Dalam 7 penyergapan penghancuran bulan September Mayor Jenderal Whitehead menyapu bersih kesatuan-kekuatan ini dengan menghancurkan sebanyak 209 pesawat musuh diatas tanah dan udara! Dalam bulan Oktober tibalah pukulan terhebat yang pernah dilancarkan Angkatan Udara kelima terhadap pangkalan udara Jepang di Rabaul. Sekali lagi pesawat musuh merupakan sasaran utama sehingga 104 buah dihancurkan di tanah dan 52 lainnya dirusakkan. Suatu serangan pembalasan Jepang terhadap Teluk Oro pada tanggal 15 Oktober justru menyebabkan 71 pesawat Jepang hancur. Tiga hari kemudian pesawat-pesawat bomber B-25 Mitchell membakar habis 62 pesawat yang tidak dapat terbang di Rabaul. Pada saat bersamaan menjelang pertengahan bulan Oktober 1943 pabrik-pabrik di Australia telah menyerahkan hampir 500 buah pesawat “Beaufort” pada RAAF lalu mereka mulai beroperasi sebagai Angkatan Udara terkoordinir. Kerugian-kerugian yang hebat ini agaknya  telah mencemaskan komando Jepang dan pesawat-pesawat yang berpangkalan di kapal-kapal induk lantas cepat-cepat didatangkan dari Jepang serta Filipina ke Rabaul. Pesawat-pesawat ini pada gilirannya diserang oleh pesawat-pesawat Amerika yang berpangkalan di kapal-kapal induk. Dengan demikian maka dalam 22 hari yang membawa bencana bagi pihak Jepang di daerah Pasifik Barat Daya, mereka telah kehilangan 1.200 pesawat terbang. Menjelang tanggal 10 November kerugian pesawat di pihak Jepang seluruhnya telah mencapai 2.682 buah dihancurkan, terdiri dari 823 mungkin dihancurkan (probable) dan 808 lainnya dirusakkan. Menurut pengumuman resmi, kerugian pesawat di pihak sekutu dalam bulan Oktober dan November ialah 158 pesawat. Hal ini menunjukkan betapa jelas perbedaan akhir tahun 1943 dengan hari-hari suram pada awal tahun 1942 ketika beberapa gelintir pesawat lamban “Hudson” berawak Australia mesti bertempur dengan banyak pesawat Zero Jepang diatas laut Arafuru!

SEKUTU MEMBUAT KEMAJUAN CEPAT DI PASIFIK BARAT DAYA

Pada akhir tahun 1943, sebuah doktrin telah berkembang di Pasifik Barat Daya di mana “garis tempur ofensif” akan terus bergerak maju dengan bantuan transportasi udara untuk memperluas “upaya perusakan dari pesawat pengebom.” Pasukan darat udara dan laut akan merebut dan mengamankan wilayah untuk pangkalan udara garis depan, dengan dukungan udara digunakan untuk melindungi sayap-sayap kekuatan utama mereka. Pada saat ini Angkatan Laut AS mulai pulih dari kerugian yang mengerikan dari armada kapal induknya dalam pertempuran laut di awal tahun 1942, dan kapal-kapal penggantinya mulai dibawa ke lautan di Pasifik. Kekuatan udara dari angkatan laut yang dibawa oleh kapal induk akan memberikan perlindungan udara untuk operasi darat yang berada di luar jangkauan pesawat darat, sementara pangkalan angkatan laut akan didirikan di bawah perlindungan pesawat-pesawat tempur yang berpangkalan di daratan. “Resep” untuk memenangkan perang di Pasifik kini telah ditetapkan. Setelah Nadzab, Angkatan Udara Kelima memulai kampanye militer untuk mengurangi kekuatan pertahanan musuh di Cape Gloucester, di ujung barat laut New Britain, tempat Marinir merencanakan akan melakukan pendaratan. Rabaul, sementara itu berada di ujung pulau yang berlawanan. Alih-alih melakukan serangan langsung terhadap Rabaul, MacArthur, atas saran Kenney, malah memilih untuk mengisolasi garnisun Jepang disana dan menghancurkan efektivitas tempurnya melalui kampanye serangan udara besar-besaran. Pesawat-pesawat tempur dari kapal induk Angkatan Laut AS bergabung dengan pesawat-pesawat pengebom yang berbasis di daratan milik Angkatan Udara Kelima dan Ketigabelas dalam serangkaian serangan terhadap lapangan terbang dan instalasi di sekitar kota. Pada akhir bulan Februari 1944, kekuatan udara dan laut Jepang di Rabaul telah dikurangi kekuatannya sampai pada titik di mana kemenangan dapat dideklarasikan oleh pihak sekutu di wilayah itu. 

Bomber B-25 menyerang pangkalan utama Jepang di Rabaul. Dengan kekuatan udara, pasukan sekutu menetralisir potensi kekuatan Jepang di Rabaul. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Sementara itu di utara Lae di Semenanjung Huon terdapat beberapa lapangan terbang dan instalasi milik Jepang, dengan Hollandia, sebuah kota di pantai utara New Guinea, yang berfungsi sebagai basis perbekalan mereka. Alih-alih merebut posisi yang ada di tengah-tengah, komando Pasifik Barat Daya malah memutuskan untuk merebut Hollandia sendiri, sehingga meninggalkan posisi pertahanan Jepang yang bergantung pada basis pasokan di Hollandia untuk “lenyap atau mati secara perlahan-lahan” dalam kata-kata Kenney. Pada bulan Februari 1944, Kenney menyimpulkan bahwa tentara Jepang telah meninggalkan Los Negros, sebuah pulau kecil di kepulauan Bismarck. Melihat peluang untuk bisa merebut pangkalan bagi armada pengebom untuk mendukung serangan ke Hollandia, Kenney meyakinkan MacArthur untuk memerintahkan pengintaian dengan tujuan untuk menyelidiki kemungkinan menduduki pulau itu jika mereka tidak menemukan perlawanan. Setelah elemen dari Resimen Kavaleri ke-5 mendarat di pulau itu, MacArthur terbang masuk dan melihat-lihat tempat itu, lalu menyatakan bahwa pasukan Sekutu akan tetap tinggal di tempat itu. Kenney kini memiliki basis penyerangan untuk pengebom berat dan menengah miliknya. Pasukan Sekutu juga telah menyusun Operasi Reckless, sebuah rencana yang berani untuk “melompat” sejauh 200 mil ke wilayah Jepang dan merebut Hollandia. Dengan mulai meredanya operasi di wilayah Pasifik Selatan, disposisi pasukan yang ditugaskan di sana telah didiskusikan. Kenney telah mengajukan permintaan diberikan Angkatan Udara ke-13, dan Arnold telah mengabulkan permintaannya. Dalam beberapa hari setelah pendudukan Sekutu di Los Negros, pesawat-pesawat B-24 Angkatan Udara Ketigabelas telah pindah ke pulau itu. Dalam persiapan pendaratan, kampanye udara besar-besaran dilakukan untuk menetralisir pertahanan Jepang di Hollandia. Nadzab adalah pangkalan utama untuk pesawat-pesawat Pembom B-24 Angkatan Udara Kelima serta P-38 yang telah dimodifikasi secara khusus dengan dilengkapi tangki bahan bakar tambahan untuk memperluas jangkauan operasional mereka.

Penerbang terkenal Charles Linbergh (kanan) didepan pesawat P-38. Meski diawal perang dikenal sebagai pasifis, namun Linbergh turut berjasa dalam membantu inovasi meningkatkan kemampuan udara pasukan sekutu di medan perang. (Sumber: https://www.ozatwar.com/)

Sementara itu, Armada Ketiga pimpinan Laksamana William F. Halsey, yang telah dilengkapi dengan kapal induk kelas Essex yang baru dan cepat, diperintahkan untuk melakukan serangan udara terhadap target Jepang di sekitarnya. Wewak, instalasi besar Jepang di selatan Hollandia, juga diserang secara intens. Pada awal bulan April, pertahanan udara Jepang di Wewak dan Hollandia telah menjadi tidak efektif, dan pada tanggal 21 April pasukan Sekutu mulai mendarat dengan sedikit perlawanan. Tujuan Jenderal Douglas MacArthur sejak dia menginjakkan kaki di kapal PT Boat yang mengevakuasinya dari Filipina sebelum jatuhnya Corregidor adalah untuk kembali dan membebaskan pulau-pulau di Filipina. Direbutnya Hollandia kini telah menempatkan pasukannya hampir dalam jangkauan serangan ke Filipina. Pangkalan Udara di Hollandia telah menempatkan pesawat pengebom Sekutu dalam jangkauan serangan terhadap pangkalan Jepang di Noemfoor, di ujung barat laut New Guinea, dan Biak, sebuah pulau kecil di lepas pantai. Pada akhir Juni, Noemfoor sudah berada di tangan Sekutu. Pada tanggal 4 Juli Kenney menerima “anugerah lain” ketika penerbang terkenal Charles Lindbergh tiba di New Guinea. Dihalangi dari dinas militer atas perintah pribadi Presiden Roosevelt karena perannya dalam Gerakan Isolasi selama tahun-tahun jeda perang, Lindbergh telah memberikan kontribusi besar pada upaya perang di sisi proses manufaktur pesawat dengan Ford Motor Company dan United Aircraft. Dia datang ke Pasifik sebagai perwakilan teknis dari pabrik untuk United guna bekerja sama dengan skuadron tempur Marinir AS yang menerbangkan pesawat-pesawat F4U Corsair. Lindbergh juga diperintahkan untuk mengumpulkan informasi tentang kinerja pesawat tempur P-38 yang bermesin ganda. Kenney beralasan bahwa Lindbergh akan dapat membantu pilot-pilot pesawat P-38-nya memperluas jangkauan efektif pesawat mereka dan sekaligus memberikan kebebasan kepada warga sipil untuk membantu di area perang. Namun ada satu pengecualian, yakni Lindbergh tidak boleh berada di daerah yang kemungkinan besar dapat terjadi pertempuran. Lindbergh lalu memberi tahu Kenney bahwa dia dapat meningkatkan jangkauan P-38 hingga 50 persen, yang akan memperluas radius tempur mereka dari 400 menjadi 600 mil. Lindbergh benar menepati kata-katanya. Jangkauan efektif dari P-38 dapat ditingkatkan, dan beberapa pilot mampu beroperasi sejauh 700 mil dari pangkalan mereka. Pembentukan pangkalan B-24 di Papua Nugini utara kemudian membawa instalasi Jepang di Filipina selatan dalam jangkauan pembom berat AS. Teknik jelajah jarak jauh yang diajarkan Lindbergh kepada pilot-pilot P-38 memungkinkan mereka untuk menerbangkan misi pengawalan. Untuk mengamankan pangkalan yang lebih dekat ke Mindanao, tujuan awal dalam misi kembali ke Filipina, Sekutu memilih untuk merebut Morotai, sebuah pulau di wilayah Indonesia utara. Morotai jatuh ke tangan Sekutu pada awal bulan Oktober.

SERANGAN-SERANGAN PEMBOMAN JARAK JAUH ATAS KILANG-KILANG MINYAK

Selain menyediakan pangkalan untuk melancarkan invasi ke Filipina, direbutnya wilayah Papua Nugini utara memungkinkan pembom Sekutu untuk melancarkan kampanye pengeboman strategis terhadap kilang-kilang minyak di Balikpapan di pulau Kalimantan dan di tempat-tempat lain di Hindia Belanda. Kenney kemudian telah meminta kepada Jenderal Arnold untuk bisa mendapatkan sebuah grup pembom berat yang dilengkapi dengan pembom Boeing B-29 Superfortress jarak jauh untuk tugas menghancurkan Balikpapan, tetapi Arnold punya rencana lain untuk pembom besar itu dan menolak untuk membiarkan siapa pun menguasainya di medan perang Pasifik. Arnold telah lama memutuskan bahwa B-29 akan digunakan hanya untuk menyerang pulau-pulau di Jepang saja. Dan Arnold tidak akan menyerahkan B-29 kepada komandan teater—dalam hal ini, MacArthur. Sementara jarak target berada di ujung jangkauan mereka, B-24 yang terbang dari Biak masing mampu mencapai kilang-kilang minyak itu. Beberapa serangan kemudian dilancarkan terhadap kilang-kilang minyak pada bulan Oktober 1944, dan pada pertengahan bulan foto-foto pengintaian menunjukkan bahwa mereka telah dapat dihancurkan secara efektif. Dengan New Guinea dan Kepulauan Solomon di tangan Sekutu dan beberapa instalasi Jepang di selatan khatulistiwa yang terisolasi oleh kekuatan udara dan laut sekutu, perang yang bersifat politis meletus antara MacArthur dan pihak Angkatan Laut mengenai maksud dan tujuan berikutnya dari sekutu. Sementara MacArthur percaya bahwa Filipina, yang secara de facto masih menjadi milik Amerika pada saat itu, adalah tujuan logis berikutnya, Angkatan Laut berpikir sebaliknya. Ketika pasukan MacArthur maju terus ke utara melalui Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, Angkatan Laut dan Marinir memusatkan upaya awal mereka di Pasifik Selatan, kemudian mulai bergerak ke utara melalui pulau-pulau kecil yang membentuk rantai kepulauan di Pasifik Tengah. Pada akhir musim panas 1944, Kepulauan Mariana telah berada di tangan Sekutu, dan pembangunan pangkalan untuk pembom B-29 sedang berlangsung. Angkatan Laut percaya bahwa Sekutu berikutnya harus menyerang Formosa, melewati Filipina, yang akan berada dalam jangkauan pesawat Amerika yang berpangkalan di darat dari Mariana.

Tidak diberikan bomber B-29, Angkatan Udara Ke-13 menggunakan bomber B-24 untuk menyerang kilang minyak di Balikpapan, Oktober 1944. (Sumber: https://bunting.com.au/)
Penyerangan udara di Balikpapan, 10 Oktober 1944. (Sumber: https://bunting.com.au/)

Sementara itu, MacArthur berpendapat bahwa orang Filipina, pada kenyataannya, adalah orang-orang Amerika, dan meninggalkan mereka di bawah pendudukan Jepang merupakan suatu kejahatan. Argumen menjadi semakin diperdebatkan ketika pilot-pilot dari kapal induk Laksamana Halsey hanya menemui hambatan ringan di Filipina Selatan, membuatnya menyarankan pendaratan untuk dilakukan di Leyte alih-alih di Mindanao seperti yang selama ini telah dibahas. Pada pertengahan tahun 1944, pasukan darat sekutu sudah menduduki Hollandia serta Kepulauan Wakde, Biak, Owi, Woendi, dan Numfoor. Pada saat yang sama, Kenney bergabung dengan Angkatan Udara Ketigabelas dengan Angkatan Udara Kelima sebagai bagian dari Angkatan Udara Timur Jauh. Whitehead mengambil alih komando Angkatan Udara Kelima. Percepatan gerakan ofensif MacArthur dan pergeseran Kenney dari Angkatan Udara Ketigabelas ke FEAF telah “mengatur panggung” untuk kembalinya MacArthur ke Filipina. Invasi Filipina telah dipindahkan dari Desember 1944 ke Oktober 1944. Pasukan Sekutu mendarat di pulau Leyte pada tanggal 20 Oktober 1944, dua tahun tiga bulan setelah George Kenney tiba di Australia untuk membangun angkatan udara Sekutu yang kacau balau dan bahkan mengalami demoralisasi. Dan ketika pasukan Sekutu mendarat di Luzon pada bulan Januari 1945, tidak ada pesawat musuh yang bisa menghalangi langkah mereka. Kekuatan Udara Timur Jauh (FEAF) Kenney, bersama dengan pesawat milik Angkatan Laut, menghancurkan ratusan pesawat Jepang di darat. Pada bulan Maret 1945, Manila telah jatuh. (Juga pada bulan Maret itu, dalam perjalanan ke Washington, Kenney secara pribadi diberitahu oleh Presiden Roosevelt bahwa dia akan menerima bintang keempatnya.) Setelah direbutnya Iwo Jima dan dengan berlangsungnya invasi ke Okinawa pada April 1945, Angkatan Udara Kelima menggunakan Okinawa untuk melancarkan serangan terhadap Kyushu, salah satu pulau utama Jepang. Pada bulan Juli 1945, Brig. Jenderal Thomas D. White dari Angkatan Udara Ketujuh bergabung dengan FEAF dan bekerja sama dengan Angkatan Udara Kelima untuk menyerang pulau Kyushu dan perkapalan musuh. Pada pertengahan tahun 1945, Jepang telah dicekik dengan blokade dan dihantam oleh kampanye pemboman B-29. Setelah menerima otorisasi dari Presiden Truman dan Jenderal Marshall, Jenderal Carl A. Spaatz memerintahkan penggunaan bom atom. Pada tanggal 6 Agustus 1945, B-29 Amerika menyerang Hiroshima dengan bom atom, dan pada tanggal 9 Agustus, menyerang Nagasaki. Keesokan harinya, Jepang meminta perdamaian.

RESUME

Dalam kariernya selama PD II, George Kenney dihormati oleh berbagai komandan sekutu karena kemampuannya memaksimalkan potensi udara sekutu yang terbatas di wilayah Pasifik Barat Daya. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Menilik kembali peran dari Jenderal Kenney di medan perang Pasifik, dapat dikatakan bahwa ia telah datang ke sana dan segera mengetahui bahwa medan operasinya berada di prioritas terendah, serta bahwa dia hanya dapat mengharapkan sangat sedikit dukungan dari Departemen Perang, yang lebih berfokus untuk mengalahkan Jerman. Kenney kemudian terbukti memiliki kemampuan bawaan untuk mendapatkan hasil maksimal dari sumber daya yang tersedia, bagaimanapun caranya, dan untuk berimprovisasi bila diperlukan. Dia juga memiliki kemampuan untuk memilih orang-orang yang tepat sebagai bawahan dan tidak ragu-ragu untuk mendepak mereka yang tidak mampu berperang dengan cara yang dia tahu diperlukan untuk memenangkan perang di Pasifik. Dia memiliki senjata rahasianya, yakni orang-orang seperti Ennis Whitehead, yang menjabat sebagai komandan garis depan Angkatan Udara Kelima di New Guinea, dan kemudian menjadi komandan Angkatan Udara Kelima ketika Korps Udara Angkatan Darat di Pasifik direorganisasi. Banyak dari operasi sukses yang meningkatkan reputasi Angkatan Udara Kelima dicetuskan dan direncanakan oleh Whitehead dan stafnya. Lalu ada komandan Grup dan Skuadron, Bill Benn, Roger Ramey, Tommy Lynch, dan Neal Kirby, yang memimpin pilot mereka dalam pertempuran dan, dalam banyak kasus, memberikan nyawa mereka sendiri untuk mengalahkan kekuatan Jepang. Bukan kebetulan bahwa banyak dari ace Angkatan Darat AS dengan skor tertinggi adalah personel-personel yang berasal dari Angkatan Udara Kelima—seperti Lynch, Tommy McGuire, Kirby, dan ace terbesar Amerika, Richard Bong, yang menembak jatuh 40 pesawat Jepang selama perang. Kenney adalah seorang inovator, dan dia juga mampu mencari dan menarik orang lain seperti Pappy Gunn, pria yang mampu merancang senjata inovatif yang membantu mengarahkan kesuksesan strategi dari Kenney dan MacArthur untuk memenangkan perang di Pasifik. Atas apa yang dilakukan Kenney di Pasifik, maka dapat dikatakan dengan jujur bahwa “tidak ada komandan udara yang melakukan begitu banyak hal dengan begitu sedikit sumber daya yang dimilikinya.” Demikianlah Jenderal Henry H. “Hap” Arnold, menggambarkan George C. Kenney, pada akhir Perang Dunia II. Sementara itu, setelah perang, MacArthur mengatakan ini tentang Kenney: “Dari semua komandan angkatan udara utama Amerika yang terlibat dalam Perang Dunia II, tidak ada yang melampaui kemampuan Jenderal Kenney dalam tiga hal penting dari sebuah kepemimpinan tempur yang sukses: visi yang agresif, penguasaan strategi udara dan taktik, dan kemampuan untuk memaksimalkan kualitas bertarung baik dari personel maupun dari peralatan yang tersedia.”

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

George Kenney’s Air Force During The Pacific War By Sam McGowan

Airforcemag; The Genius of George Kenney By Herman S. Wolk; April 1, 2002

Hancurnya Kekuatan Udara Jepang di Pasifik Barat Daya (Oktober-November 1943); Majalah Varia ca. 1966

General George C. Kenney: Pioneer of Aerial Warfare Strategy and Tactics in World War II’s Pacific Theater

 

Exit mobile version