Sejarah Militer

Ups….Ketika Jepang Tembak Jatuh Pesawat Amerika Selepas Perang Dunia II

Pada tanggal 4 Juni 1996, sebuah kapal perusak Jepang secara tidak sengaja menembak jatuh sebuah pesawat serang A-6E Intruder Angkatan Laut AS dengan senjata pertahanan udara jarak dekat CIWS (Close-in Weapons System) Phalanx selama latihan RIMPAC (Rim of the Pacific) di lepas pantai Hawaii. Ini adalah kecelakaan pertama yang melibatkan Jepang sejak mulai berpartisipasi dalam RIMPAC, yakni latihan angkatan laut terbesar di Pasifik yang melibatkan 30.000 personel, 44 kapal, dan 250 pesawat. Selain Jepang dan Amerika Serikat, peserta RIMPAC lainnya antara lain Australia, Kanada, Korea Selatan, dan Chili. Latihan pertempuran laut ini rencananya akan berakhir pada tanggal 21 Juni. Ini adalah RIMPAC yang kesembilan – dimulai pada tahun 1971 – untuk Pasukan Bela Diri Maritim Jepang. Unit Jepang yang berpartisipasi dalam RIMPAC kali ini termasuk delapan kapal perusak, sebuah kapal selam, sebuah kapal pendukung armada, dan satu skuadron pesawat patroli P-3C Orion. Dalam latihan tersebut, para peserta dibagi menjadi beberapa tim yang melakukan latihan perang. Satu tim melakukan latihan pertahanan dari Hawaii sementara yang lain mencoba untuk merebutnya. Sekitar 1.900 pelaut Jepang dan 160 anggota angkatan udara diketahui turut berpartisipasi. Sementara itu, mampu menyemburkan hingga 4.500 butir peluru kaliber 20mm per menit dari kanon M61 Vulcan-nya, sistem senjata jarak dekat Mark 15 Phalanx, atau CIWS — diucapkan “sea-wiz” — telah lama menjadi garis pertahanan terakhir bagi banyak kapal perang permukaan yang dioperasikan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Awak pesawat sangat menyadari betapa dahsyatnya senjata jenis ini, tidak terkecuali awak Intruder yang naas ini. Untungnya kedua awak Intruder dari Skuadron Serang ke-115 (VA-115) itu berhasil melontarkan diri dan ditemukan. Intruder ini kemudian tercatat sebagai pesawat pertama yang ditembak jatuh oleh pasukan Jepang sejak tahun 1945. A-6E dengan nomor 155704 yang ‘sial’ itu sedang menarik target penembakan udara. Menurut The Seattle Times, kapal Jepang Yugiri menembak sasaran tetapi tembakannya menghantam pesawat, yang kemudian jatuh di Samudera Pasifik. Kecelakaan itu terjadi 1.550 mil (2.494 km) sebelah barat Hawaii, atau sekitar 730 mil (1.174 km) barat daya Kepulauan Midway, tempat pertempuran laut besar antara Amerika Serikat dan Jepang terjadi selama Perang Dunia II. Pilotnya, Letnan Cmdr. William Royster (33 tahun) dari Kansas City, Mo., dan navigator pembom, Lt. Keith Douglas (30 tahun) dari Birmingham, Ala., kemudian diselamatkan oleh Yugiri. Skuadron VA-115 berbasis pada kapal induk USS Independence dari kelas Forrestal yang beroperasi di luar Atsugi, Jepang. Sebuah helikopter kemudian membawa orang-orang itu ke kapal induk Independence untuk mendapatkan perawatan. Royster tercatat mengalami luka robek di wajah dan diketahui dalam kondisi baik; sedangkan Douglas dirawat karena lecet dan kembali bertugas. 

Sebuah pesawat serang AL Amerika Grumman A-6E Intruder (BuNo 155670) dari Attack Squadron 52 (VA-52) “Knightriders” dalam penerbangan pada tahun 1981. VA-52 ditugaskan ke Carrier Air Wing 15 (CVW-15) di atas kapal induk USS Kitty Hawk untuk ditempatkan di Pasifik Barat. Pada tanggal 4 Juni 1996, sebuah kapal perusak Jepang secara tidak sengaja menembak jatuh sebuah pesawat serang A-6E Intruder Angkatan Laut AS dengan senjata pertahanan udara jarak dekat CIWS (Close-in Weapons System) Phalanx selama latihan RIMPAC (Rim of the Pacific) di lepas pantai Hawaii. (Sumber: https://de.wikipedia.org/)
kapal perusak kelas Asagiri (dipersenjatai juga dengan rudal SAM Sea Sparrow dan rudal anti kapal Harpoon) Angkatan Laut Jepang (JMSDF), Yugiri (DD-153). Yugiri tidak sengaja menembak Intruder pesawat Amerika dalam latihan angkatan laut terbesar di Pasifik yang melibatkan 30.000 personel, 44 kapal, dan 250 pesawat. Selain Jepang dan Amerika Serikat, peserta RIMPAC lainnya antara lain Australia, Kanada, Korea Selatan, dan Chili. (Sumber: https://www.seaforces.org/)

Sekitar pukul 16:15 waktu setempat, sebagai bagian dari latihan ini, Intruder itu sedang menarik target, sebuah peran yang tidak sering dikaitkan dengan pesawat serang segala cuaca itu, tetapi peran ini penting untuk menguji kesiapan dan akurasi senjata pertahanan udara angkatan laut — dalam hal ini, dua sistem senjata Phalanx yang ada di atas kapal perusak kelas Asagiri (dipersenjatai juga dengan rudal SAM Sea Sparrow dan rudal anti kapal Harpoon) Angkatan Laut Jepang (JMSDF), yakni Yugiri (DD-153). Royster dan Douglas, di kokpit A-6E, sedang menarik target berukuran enam kaki (1,8 meter) pada jarak sekitar 1.500 mil sebelah barat Hawaii. Jet ini berada di ketinggian 700 kaki (213 meter) dan terbang dengan kecepatan 340 knot (629 km/jam). Menurut pejabat AS, target itu membuntuti sekitar 2,5 mil (4 km) di belakang jet, sementara Toshinori Yanagiya, pejabat Kementerian Pertahanan Jepang yang bertanggung jawab untuk pelatihan, mengatakan kepada Reuters bahwa kabel dereknya hanya sepanjang 100 meter – sekitar 300 kaki. Berapa pun jaraknya, semuanya berjalan salah bagi kedua pihak. Bagian dari latihan ini dimaksudkan untuk menguji seberapa cepat Yugiri, yang memiliki panjang 450 kaki (137 meter) dan membawa awak sekitar 200 orang akan bisa merespons ancaman dari udara. Untui ini kru pertama-tama harus mengidentifikasi pesawat jet yang terbang di atas kepala mereka — dalam hal ini mendekat dari sebelah kiri — dan kemudian menemukan dan menyerang target dengan peluru tajam. Sementara target yang ditarik terbuat dari bahan pemantul radar untuk mempermudah penguncian, awak kapal perusak Jepang ini malah mengincar pesawat Intruder penariknya.

Ilustrasi pesawat penarik target udara. A-6E Intruder yang ditembak jatuh Yugiri sedang menjalankan peran ini, saat kru kapal salah menyasar targetnya. (Sumber: https://www.airtarget.com/)
Senjata CIWS (Close-in Weapons System) Phalanx yang digunakan Yugiri untuk menembak jatuh A-6E Intruder Amerika. (Sumber: http://archives.starbulletin.com/)

Menurut Letnan Jeff Davis, juru bicara Armada Pasifik AS, kanon itu mampu menembakkan 3.000 peluru per menit, jumlah maksimum untuk versi senjata Blok 0/1 yang lebih tua. Sistem senjata ini seharusnya beraksi menembaki drone yang ditarik setelah pesawat melewati kapal. Cuaca saat itu diketahui bagus, dengan langit yang cerah. Saat kanon Vulcan menyemprot jet itu dengan 50 peluru per detik, mesinnya dengan cepat terbakar dan A-6 itu mulai berputar di luar kendali, dengan sistem hidroliknya mati. Untungnya, Royster dan Douglas sempat melontarkan diri, peluru tersebut dilaporkan hanya mengenai badan pesawat bagian tengah. Jet itu kemudian jatuh di sebelah kanan kapal perusak JMSDF. Para penerbang angkatan laut itu lalu dijemput dari laut hanya beberapa menit kemudian, diselamatkan oleh kapal motor yang diluncurkan dari Yugiri dan kemudian dibawa kembali ke kapal induk Independence dengan menggunakan helikopter. Royster kemudian membutuhkan pembedahan karena luka di wajahnya, sementara Douglas dirawat karena lecet di permukaan dan segera kembali bertugas. Jelas, itu adalah penyelamatan diri yang terhitung beruntung dan situasinya bisa dengan mudah berubah menjadi tragis, seperti yang dikatakan ibu pilot, Carolyn Royster kepada Associated Press: “Saya membayangkan dia memar luka parah … (tapi) Saya senang keadaannya seperti ini dan tidak menjadi lebih buruk.” “Dia tidak percaya dia masih hidup,” kata istri Royster, Carol, setelah dia meneleponnya di rumah mereka di Jepang dari ranjang rumah sakitnya di atas kapal induk Independence. Pelontaran yang keras dan berkecepatan tinggi dari kokpit “hampir membuat hidungnya nyaris lepas,” kata Carol. “Mereka harus menjahitnya kembali.” Roysters sebenarnya sedang dalam proses pindah ke Lemoore, California, selatan Fresno, di mana dia akan beralih menjadi pilot jet tempur F/A-18. 

Kapal induk USS Independence (CV-62), pangkalan skuadron dari A-6E Intruder yang ditembak jatuh oleh Yugiri. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Laksamana Muda Toru Ishikawa dari Badan Pertahanan Jepang membaca sebuah pernyataan yang menjelaskan insiden salah sasaran selama latihan militer di lepas pantai Hawaii, 4 Juni 1996. (Sumber: http://archives.starbulletin.com/)

Sementara itu, setelah insiden ini manuver RIMPAC akan terus berlanjut, menurut juru bicara Angkatan Laut AS di Pearl Harbor, Hawaii. Badan Pertahanan Jepang kemudian meminta maaf kepada militer AS dan memutuskan untuk menghentikan latihan menembak menggunakan peluru tajam, kata juru bicara Tomohide Matsumura. Ini adalah kecelakaan pertama yang melibatkan Jepang sejak mulai berpartisipasi dalam latihan RIMPAC, kata Kobayashi. “Itu adalah kecelakaan yang sangat disayangkan; tapi itu adalah kecelakaan,” kata Letnan Davis. “Ini bukan sesuatu yang harus dibesar-besarkan.” Presiden Amerika Bill Clinton secara resmi juga menerima permintaan maaf Jepang atas insiden tersebut, dengan mengatakan “Mereka baik-baik saja,” kepada wartawan Gedung Putih saat dia meninggalkan Washington DC dalam perjalanan pada hari berikutnya. Awalnya, kesalahan atas kecelakaan itu jatuh pada semacam kegagalan mekanis dalam sistem Phalanx, sebelum diketahui bahwa hal itu terjadi karena kesalahan manusia. Sejak saat itu, Phalanx telah ditingkatkan dengan penambahan perangkat kamera inframerah dan elektro-optik baru yang dikaitkan dengan sistem boresight-nya, untuk memperluas kemampuannya dalam menyerang target permukaan tetapi juga mampu menyediakan kemampuan identifikasi-teman-atau-musuh (IFF) visual yang berguna menghindari insiden tembakan salah sasaran. Kecelakaan tanggal 4 Juni 1996 adalah untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari delapan bulan, dimana Jepang secara keliru menembak jatuh sebuah pesawat kawan. Pada bulan November 1995, sebuah pesawat tempur F-15 Jepang menembak jatuh dalam latihan F-15 Jepang lainnya di lepas pantai barat Jepang ketika sebuah rudal udara-ke-udara Sidewinder secara tidak sengaja terlepas. 

A-6E dengan nomor 155704 yang ‘sial’ itu. (Sumber: https://www.thedrive.com/)
Jet tempur F-15J andalan AU Jepang. Kecelakaan tanggal 3 Juni 1996 adalah untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari delapan bulan, dimana Jepang secara keliru menembak jatuh sebuah pesawat kawan. Pada bulan November 1995, sebuah pesawat tempur F-15 Jepang menembak jatuh dalam latihan F-15 Jepang lainnya di lepas pantai barat Jepang ketika sebuah rudal udara-ke-udara Sidewinder secara tidak sengaja terlepas. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Dimulai dengan TBF/TBM Avenger, “Eagles” yang sekarang dikenal sebagai Skuadron Tempur 115 (VFA-115) diketahui telah menerbangkan beberapa pesawat yang paling beragam dalam unit penerbangan kapal induk termasuk Douglas A-1 Skyraider, Grumman A-6 Intruder, dan Boeing F/A-18C Hornet. Pada tahun 2002, VFA-115 kembali membuat sejarah dengan menjadi skuadron pertama yang menerbangkan pesawat tempur serang tercanggih Angkatan Laut saat ini, F/A-18E Super Hornet. Hari ini, VFA-115 berbasis di MCAS Iwakuni, Jepang dan dikerahkan dengan Carrier Air Wing FIVE di atas USS Ronald Reagan (CVN 76), yang merupakan satu-satunya kapal induk yang dikerahkan di pangkalan garis depan di luar Amerika. Melalui penempatan tahunan mereka di FDNF, VFA-115 “Eagles” melanjutkan catatan historis yang kaya dari skuadron mereka dalam mempertahankan Pasifik dan melanjutkan tradisi keunggulannya dalam dinas operasional Angkatan Laut Amerika. Sementara itu bagi pesawat A-6 Intruder mereka telah menjalani karir yang luar biasa di Angkatan Laut Amerika, sejak dari tahun 1963. Diperkenalkan pada tahun 1970, versi A-6E yang menjadi ‘korban’ Yugiri telah membuktikan sebagai varian definitif dari dari Intruder. Menggunakan radar multi-mode Norden AN/APQ-148 baru dan sistem navigasi inersia AN/ASN-92, A-6E juga menggunakan Sistem Navigasi Inersia Pesawat Kapal Induk. Terus ditingkatkan kemampuannya hingga tahun 1980-an dan 1990-an, A-6E kemudian terbukti mampu membawa senjata berpemandu presisi seperti AGM-84 Harpoon, AGM-65 Maverick, dan AGM-88 HARM. Intruder sedang berada di bulan-bulan terakhir pelayanannya ketika mengambil bagian dalam RIMPAC pada tahun 1996, dimana hal ini menjadi salah satu tugas terakhirnya. Selama menjalani penugasan di Vietnam, Lebanon, Libya, dan Irak, A-6 jarang berada jauh dari tembakan musuh, seperti yang diringkas Letnan Davis: “Dan tiba-tiba mereka pensiun dengan insiden yang mengagetkan (ini).”

F/A-18E Super Hornet (VFA-115 / CVW-14) berangkat dari kapal induk USS Ronald Reagan (CVN 76) – Juni 2009. Dimulai dengan TBF/TBM Avenger, “Eagles” yang sekarang dikenal sebagai Skuadron Tempur 115 (VFA-115) diketahui telah menerbangkan beberapa pesawat yang paling beragam dalam unit penerbangan kapal induk termasuk Douglas A-1 Skyraider, Grumman A-6 Intruder, dan Boeing F/A-18C Hornet. (Sumber: https://www.seaforces.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Last Time A Japanese Warship Shot Down A U.S. Navy Plane Was Actually Not So Long Ago BY THOMAS NEWDICK; JUN 5, 2021 1:39 AM

https://www.thedrive.com/the-war-zone/40937/the-last-time-a-japanese-warship-shot-down-a-u-s-navy-plane-was-actually-not-so-long-ago

The story of the US Navy A-6 Intruder that was accidentally shot down by a Japanese destroyer by Dario Leone

Clinton accepts Japan’s apology; Mechanical failure suspected in downing of U.S. jet by Japan The U.S. aviators are rescued and returned to their carrier By Gregg K. Kakesako; Star-Bulletin

http://archives.starbulletin.com/96/06/04/news/story1.html

Pilot Downed by Japan Amazed at Survival, Wife Says; L.A. TIMES ARCHIVES

JUNE 6, 1996 12 AM PT

https://www.latimes.com/archives/la-xpm-1996-06-06-mn-12313-story.html

Vietnam/Cold War: Grumman A-6 Intruder By Kennedy Hickman; Updated on October 03, 2019

https://www.thoughtco.com/grumman-a-6-intruder-2361070

Japanese Navy Shoots Down U.S. Military Jet By Mistake — Crew Of Whidbey-Based Plane OK Ben Dipietro; Jun 4, 1996; AP

https://archive.seattletimes.com/archive/?date=19960604&slug=2332840

JAPANESE SHIP DOWNS U.S. PLANE By Kevin Sullivan; June 5, 1996

https://www.washingtonpost.com/archive/politics/1996/06/05/japanese-ship-downs-us-plane/ba2bbbc4-5b2f-4b07-b1d2-cfc6a003e1b0/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/JS_Y%C5%ABgiri

Exit mobile version