Karena Kekuatan Yang Lebih Besar Dari Manusia: Kisah Legendaris Alvin York dalam Perang Dunia I
Mereka telah menghabiskan malam yang dingin, basah, dan menyedihkan pada bulan Oktober 1918 di selokan drainase di sepanjang jalan Varennes-Fleville. Dengan sedikit gentar, mereka menyaksikan unit rekannya berjuang untuk merebut posisi ketinggian di Bukit 223 yang menghadap ke kota Châtel-Chéhéry di wilayah Meuse-Argonne, Prancis. Yang menjadi lebih buruk; mereka sekarang sedang beristirahat dan itu akan membuat mereka menjadi lebih sulit berjalan. Mata lelah dan gatal menatap saat drama kekerasan terbentang di depan mereka. Bagi Kopral Alvin York, pemandangan itu mungkin mengingatkannya pada badai petir musim panas yang buruk di rumahnya, spektakuler dan sekaligus menakutkan. Kilatan cahaya berkelap-kelip melintasi bukit yang gelap membuat bayangan topi timah tentara Amerika yang berebut naik dan mengitari lereng dengan bayonet terpasang jelas terlihat. Sebuah ledakan “caa-rump” yang bergetar kemudian mengikuti kilatan cahaya ini. Seperti badai petir, semakin dekat badai, semakin pendek waktu dari kilat hingga terjadinya ledakan. Di saat yang sama, tembakan senjata ringan menyela udara malam yang lembap. Suara-suara bersemangat dan marah mengutuk serta berteriak terdengar ketika orang-orang Amerika mencengkeram dan berjuang maju melintasi setiap inci menuju ke lereng yang curam. Sementara itu, tentara Jerman melakukan perlawanan yang hebat, tetapi para prajurit dari Divisi ke-82 (“All American“) membalasnya lebih keras. Mereka sangat ingin mendapatkan hasil yang bagus, untuk membuktikan nilai mereka sebagai petempur hebat di antara pasukan Sekutu. Mereka mendapat kesempatannya di lereng utara Bukit 223. “Ya ampun! Bisakah kamu melihatnya!” bisik sebuah suara dalam kegelapan. “Apakah kita juga akan melakukannya?” “Tidak, tidak dengan segera. Kita akan menggantikan prajurit-prajurit itu begitu mereka merebut bukit dan meneruskan pertempuran dari sana, ”jawab suara yang lebih berwibawa, dari salah satu prajurit yang lebih tua. “Ya, bagaimana jika ada lebih banyak bukit di sisi lain dari yang ini?”

“Seluruh negeri sialan itu berbukit-bukit seperti ini, jangan khawatir tentang itu. Diam dan tidurlah. Kamu akan membutuhkannya!” Namun, tidak ada tidur yang bisa didapat di parit drainase itu, tidak dengan pertempuran yang masih berkecamuk seperti di front seperti ini. Bagaimanapun, mereka masih baru dalam hal semacam ini. Tentu, memang ada beberapa waktu yang dihabiskan di sektor yang relatif sepi untuk mempersiapkan mereka menghadapi pemandangan dan suara peperangan modern seperti ini, disamping ada beberapa pertempuran sengit dalam mengurangi tonjolan di St. Mihiel beberapa minggu sebelumnya. Tapi kali ini berbeda. Pasukan Ekspedisi Amerika (AEF) melakukan serangan di Meuse-Argonne, sebagai bagian dari pasukan Sekutu yang bertempur sebagai tentara terpisah di bawah Jenderal Prancis dan Komandan Sekutu, Marsekal Foch. Ini adalah serangan darat terbesar sampai saat itu dalam perang, dan mungkin dalam sejarah, dimana orang-orang dari Resimen Infanteri ke-328 dari Divisi ke-82 sedang membuat sejarah. Pada pukul 3 pagi Kapten Edward Danforth dan Letnan Kirby Stewart mengatur orang-orangnya untuk memulai gerakan mereka ke Châtel-Chéhéry. Menurut rencana, batalyon York akan melewati sisa-sisa pasukan Amerika yang menguasai Hill 223 dan kemudian menunggu saat untuk menyerang. Meskipun ada kabut di Lembah Meuse pada pagi hari tanggal 8 Oktober, hari itu menjanjikan adanya cuaca cerah, yang akan memberikan pengamatan yang sangat baik bagi tentara Jerman. Untuk sementara yang bisa dilakukan York dan kawan-kawannya adalah menunggu. Lambat laun, perintah mengalir ke selokan drainase agar mereka bersiap bergerak maju. Hari masih gelap tetapi tampaknya pasukan Amerika telah menguasai puncak bukit. Tembakan senjata ringan telah mereda, meskipun beberapa peluru artileri terus berjatuhan di sekitar bukit. Di kejauhan di suatu tempat di balik bukit, tembakan sebuah senapan mesin berderak menjauh. Pasukan Resimen ke-328 harus mencapai puncak bukit dan mengambil posisi untuk menyerang melintasi lembah ke arah utara dan barat. Tujuan divisi ini adalah untuk merebut Decauville Railroad, sebuah rel kereta api lapangan kecil, jalur logistik bagi pasukan Jerman yang beroperasi di hutan Argonne di bagian selatan dan barat.
SERANGAN GAS MENDADAK
Dengan sendi kaku karena kedinginan, pusing karena bermil-mil berbaris dengan hanya sedikit waktu tidur, orang-orang Amerika itu terhuyung-huyung dan tersandung-sandung keluar dari parit sambil mengutuk dan berjalan tertatih-tatih seperti orang tua. Sekitar satu mil berjalan kaki ke kaki bukit membantu mengendurkan sendi para prajurit dan dengan desahan kolektif pasrah mereka mulai mendaki ke puncak. Kemudian, peluru artileri menghujani mereka dan seseorang meneriakkan alarm, “Gas! Gas!” jadi topeng-topeng yang menyesakkan itu segera dipakai, menambahkan perubahan buruk pada situasi yang sudah menyedihkan. Salah satu peluru artileri Jerman meledak di tengah barisan, menewaskan seluruh regu pasukan Amerika. Para pembawa tandu tersandung-sandung di sekitar bukit untuk mencari orang-orang Amerika yang tewas dan terluka. Sementara itu, orang-orang Jerman berbaring di mana mereka berjatuhan. Bukit itu curam, seperti tebing di sisi yang membelakangi kota. Sisi timur memberikan kemiringan yang masuk akal, tetapi dalam mendaki garis punggung bukit yang sempit, pasukan infanteri mulai bergerombol. Para NCO tidak menyukai itu, dan kemudian mengarahkan serta mendorong para prajurit untuk menyebar dan menjaga jarak. Sesekali peluru artileri musuh akan jatuh, meski hal itu tidak menimbulkan banyak kerusakan, tetapi membuat gugup banyak orang. Masker-masker gas kini sudah dilepas. Saat fajar, orang-orang itu telah berhasil mencapai Bukit 223. Hal ini sangat melegakan bagi para penyintas yang telah mempertahankan bukit itu dari rintangan yang luar biasa sejak hari sebelumnya. Salah satu unit yang digantikan York adalah Kompi B, yang telah kehilangan 63 personelnya. Saat orang-orang dari Batalyon ke-2 menunggu perintah untuk menyerang, mereka semua tahu ini akan menjadi pertempuran yang kejam. Saat orang-orang Amerika menunggu perintah untuk menyerang, tentara Jerman membuat persiapan terakhir untuk mengusir mereka dari wilayah Argonne sepenuhnya. Komandan batalion Jerman, Letnan Paul Vollmer, tepat berada di seberang lembah dari posisi tentara Amerika, membawa berita yang baik dan buruk pagi itu. Hal-hal mulai terlihat setelah kompi zeni tempur (Sapper) ke-7 Bavaria, di bawah pimpinan Leutnant Max Thoma, dengan detasemen, yang terdiri dari 17 orang asal Resimen Cadangan Prusia ke-210, dilaporkan bertugas sekitar pukul 5 pagi. Vollmer dengan ahli menempatkan dua unitnya di celah di Bukit nomor 2. Thoma cukup puas dengan posisinya, dan dia bergabung dengan Kompi senapan mesin ke-2 Vollmer, yang memiliki medan tembak yang sangat baik di lembah. Semua celah di garis pertahanan Vollmer sekarang telah ditutup, dan anak buahnya siap membuat hari itu menjadi hari yang berdarah bagi orang-orang Amerika. Sementara itu, pada pukul 5:50 orang-orang Amerika sudah berada di posisinya untuk melancarkan serangan pada pukul 6 pagi.


Rencana serangan brigade itu menyerukan agar serangan didahului dengan rentetan tembakan artileri untuk memaksa Boche (tentara Jerman) menundukkan kepala dan mencegah mereka menembakkan meriam, sementara para prajurit All American dari Resimen ke-328 bergerak maju, di tempat terbuka, melintasi lembah. Hujan yang turun sepanjang malam telah berubah menjadi gerimis ringan; kabut tebal berkumpul dan menetap di daerah dataran rendah lembah di depan mereka. Pagi ini, tepat sebelum matahari terbit, selalu menjadi waktu-waktu yang terdingin. Mereka menggigil, gigi bergemeletuk saat mereka duduk dengan gugup menunggu sinyal untuk menyerang. Cuaca, orang-orang mati, tangisan orang yang terluka, dan gagasan bahwa akan ada lebih banyak nama Amerika untuk ditambahkan ke Honor Roll (daftar kematian) pada akhir hari membuat pagi itu nampak menyedihkan. Pada pukul 6, tidak ada rentetan tembakan. Pada pukul 6:10, ada tembakan artileri atau tidak, orang-orang Amerika itu mulai bergerak menuruni lereng yang kebalikan dari Bukit 223 menuju lembah terbuka. Di depan, di sebelah barat laut, mereka hanya bisa melihat puncak perbukitan di mana Jalur Kereta Decauville membentang kira-kira dari utara-selatan. Di suatu tempat, tepat di garis depan sekitar 600 yard (sekitar 550 meter) terdapat persembunyian yang terlindungi di garis pohon yang sekarang tertutup kabut.
PARA PENEMBAK JERMAN MENEKAN PASUKAN AMERIKA
Tanpa peringatan, lembah itu segera meledak dengan tembakan senapan mesin dari lereng bukit di depan dan di sebelah kiri. Tanah di sekitar orang-orang Amerika itu tercabik-cabik saat aliran peluru terus-menerus merobek lereng bukit. Beberapa orang Amerika membeku dalam keterkejutan atas kerasnya dan penyergapan yang tiba-tiba, sementara yang lain menjatuhkan diri ke atas tanah mencakar rumput dan tanah dalam upaya panik untuk keluar dari garis tembak. Menyerang ke depan menghadapi langsung senapan-senapan mesin, seperti yang diajarkan kepada mereka untuk bereaksi dalam situasi seperti ini, adalah pilihan yang buruk. Jarak menuju ke posisi senjata musuh terlalu jauh dan para penembak Boche terlalu bagus. Orang-orang Amerika itu terjepit di lereng terbuka saat para penembak Jerman menyapu lereng bukit secara metodis. Divisi Landwehr Wuerttemberg ke-2 telah berada di area ini untuk beberapa waktu sekarang. Mereka tahu akan medan disitu dan telah menghabiskan beberapa waktu mempersiapkan medan perang, memasang senapan mesin Maxim mereka dengan cara memastikan tembakan senapan-senapan mesin mereka dapat diarahkan dengan jelas dan saling terkait satu sama lain. Memang benar, pagi itu pandangan penembak senapan mesin pada target mereka telah dikaburkan oleh kabut, tetapi orang-orang Jerman tidak perlu melihat orang-orang Amerika untuk mengetahui bahwa tembakan mereka efektif; tangisan yang berasal dari lembah telah menunjukkan hal itu. Orang-orang Amerika terjebak di antara hujan peluru senapan mesin dan posisi yang tidak menguntungkan, serta karena berbagai alasan, tembakan artileri tidak tersedia untuk menyelamatkan mereka. Lebih jauh ke belakang Bukit 223 dalam serangan gelombang kedua, Sersan Harry Parsons, sersan Peleton ke-1, Kompi G, Batalyon 2, Resimen Infanteri ke-328, terpisah dan tidak bisa berhubungan dengan Komandan Kompi Kapten Danforth.


Memimpin serangan di depan York adalah pemimpin peletonnya, Letnan Stewart, mengangkat pistol Coltnya tinggi-tinggi di udara saat dia melambaikan tangan ke depan. Saat Stewart dan peletonnya mencapai bagian tengah lembah yang terbuka, semburan tembakan senapan mesin menghantam letnan itu, melemparkannya seperti boneka kain. Kakinya hancur. Dengan setiap upaya untuk bangun, dia jatuh meringkuk. Namun Stewart terus maju, menyeret dirinya di tanah, melambaikan pistolnya ke udara dan berteriak untuk menyemangati anak buahnya. Sebelum anggota peleton bisa mencapai Stewart, peluru Jerman lainnya mengenai kepalanya, membunuhnya seketika. Dengan gugurnya Stewart, Parsons sekarang yang bertanggung jawab atas peleton itu. Situasinya saat itu, ketika pasukan Amerika menyerang ke arah barat laut, sayap kirinya telah diserang oleh senapan mesin Jerman. Parsons melihat bahwa bukit tengah, yang oleh orang Jerman disebut Humserberg adalah masalah terbesarnya dan bahwa senapan mesin di bukit itu harus segera disingkirkan. Dalam hal ini dia benar sekali, karena sekelompok besar tentara dari Resimen Landwehr Württemberg ke-125 Jerman dan sebuah kompi dari unit Pengawal Prusia ke-5 telah ditempatkan di sana dan memiliki garis pandang yang sangat baik ke sisi pasukan Amerika. Mengambil inisiatif saat hujan peluru senapan mesin mendesing di sekitar mereka, Parsons membuat keputusan. Dia akan mengirimkan unit patroli yang terdiri dari tiga regu, yang misinya adalah melintasi punggung bukit di sekitar posisi senapan mesin dan membungkam mereka sehingga brigade itu bisa keluar dari tempat terbuka dan masuk ke deretan pepohonan di seberang lembah.
MISI SATU JALAN UNTUK PARSONS
Dalam pikiran Parsons, ini adalah misi satu jalan alias bunuh diri. Begitu diluncurkan, patroli itu mungkin tidak akan pernah kembali, semuanya terbunuh atau ditawan di belakang garis pertahanan Jerman. Di sisi lain, tidak melakukan apa-apa hanya akan berarti bencana. Patroli itu akan dipimpin oleh Sersan Early, pemimpin seksinya adalah Kopral Cutting, Savage, dan York. Tujuannya adalah menyingkirkan posisi senapan mesin di Humserberg. Selain empat NCO, 13 prajurit ditugaskan dalam misi patroli berbahaya di belakang garis musuh itu. Pada akhir hari, Savage dan enam prajurit lainnya akan mati, dan Sersan Early serta Kopral Cutting akan terluka parah. Saat asap dan kabut menghilang, Kopral Alvin York kemudian akan berbaris kembali ke posisi pasukan Amerika di garis depan dengan mengawal 132 tahanan Jerman. Berbagai catatan sejarah kemudian akan memuji York karena mengalahkan sebuah batalyon senapan mesin musuh nyaris seorang diri, secara pribadi ia dicatat membunuh 25 tentara Jerman dan menangkap 132 tahanan bersama 35 pucuk senapan mesin, yang kemudian dia dianugerahi medali Distinguished Service Cross dari Amerika, Croix de Guerre dari Prancis, dan pada tanggal 18 April 1919, Medali Medal Of Honor.

“YORK, BAGAIMANA KAMU MELAKUKANNYA
Rantai komando yang membawahi York, lewat Komandan AEF Jenderal Pershing, skeptis atas kisahnya. Bagaimana mungkin satu orang sendirian membunuh 25 orang Jerman dan menangkap 132 tahanan bersama 35 senapan mesin? Setelah Gencatan Senjata ditandatangani, Sersan York yang baru dipromosikan diperintahkan untuk kembali ke tempat pertempuran pada tanggal 3 Februari 1919 bersama Brigadir. Jenderal Julian R. Lindsey dan sejumlah perwira senior sebagai bagian dari penyelidikan ditugaskan untuk menentukan apakah prestasi York pantas mendapatkan Medal of Honor atau tidak. Mereka menghabiskan hari itu dengan berjalan di seluruh area dan menelusuri kembali rute patroli kembali ke garis depan pasukan Amerika ketika Jenderal Lindsey tiba-tiba berhenti, menatap mata Sersan York, dan bertanya: “York, bagaimana kamu melakukannya?” York menjawab, “Pak, ini bukan karena upaya manusia. Kekuatan yang lebih tinggi daripada kekuatan manusia membimbing dan mengawasi saya dan memberi tahu saya apa yang harus dilakukan. ” Delapan puluh tahun kemudian saya (penulis, Lt. Col. Taylor V. Beattie) memasuki jurang bagian barat Hill 223 untuk mencari fakta kisah Sersan York dengan pertanyaan yang sama di benak saya: “York, bagaimana Anda melakukannya?” Sejak musim semi tahun 1994, saya telah sering melakukan kunjungan ke jurang itu untuk menelusuri dan mencoba untuk merekonstruksi peristiwa hari itu. Saya yakin saya telah mengidentifikasi posisi-posisi kunci dari mana senapan mesin Jerman pernah menguasai lembah. Dengan mempertimbangkan posisi-posisi itu terhadap medan, lewat bukti-bukti arkeologis, dan situasi taktis seperti yang disajikan melalui catatan militer, saya dapat memperkirakan di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana peristiwa-peristiwa tertentu terjadi pada pagi yang berkabut tanggal 8 Oktober 1918 itu.

Menariknya, rantai komando Sersan York dan, baru-baru ini, pandangan penulis sendiri bukanlah satu-satunya yang melihat lingkup prestasi dari Sersan York dengan tingkat skeptisisme tertentu. Pada tahun 1928 sebuah jurnal dari Swedia menerbitkan sebuah artikel tentang kisah York. Artikel tersebut mempengaruhi seorang warga negara Jerman yang tinggal di Stockholm untuk menyerahkan terjemahan karya tersebut kepada Menteri Perang Jerman, sambil meminta penyelidikan atas cerita Sersan York. Tugas menyelidiki dari sisi Jerman atas kisah itu diserahkan kepada staf Reichsarchiv of Potsdam, Jerman. Semua perwira dan tentara Jerman yang masih ada, yang telah memainkan berbagai peran apa pun dalam peristiwa di sekitar Bukit 223 pada tanggal 8 Oktober 1918 kemudian diwawancarai. Reichsarchiv juga menerima beberapa bantuan dan kerja sama dari Letnan Kolonel Muller dari Departemen Perang AS, yang memberikan informasi terkait peristiwa tersebut dari arsip militer AS. Militer Jerman kemudian mengeluarkan bantahan sepanjang 24 halaman, termasuk hasil, analisis, dan kesimpulan yang berasal dari penyelidikan tersebut. Pihak Jerman memilih untuk tidak mempublikasikan temuan investigasi tersebut tetapi memperingatkan, “bahwa pihak surat kabar harus mencetak artikel lain, yang, sehubungan dengan dugaan prestasi Sersan. York, jika mungkin telah dianggap memiliki kecenderungan untuk merendahkan nama Angkatan Darat Jerman dan, khususnya, para perwira Jerman, kami akan segera menyangkal klaim ini dengan bantuan materi yang ada.” Perlu dicatat di sini bahwa meskipun tim investigasi Jerman melakukan wawancara dan analisis yang menyeluruh dan ekstensif, tidak ada indikasi bahwa mereka mengumpulkan informasi apa pun dari area sebenarnya di sekitar Hill 223 dan Châtel-Chéhéry. (Kemungkinan besar pihak berwenang Prancis tidak akan mengizinkan kehadiran mereka dalam kegiatan apa pun.)
MASALAH PADA BUKIT 223
Châtel-Chéhéry, Hill 223, dan daerah yang akan saya sebut sebagai jurang York berada di medan perang Meuse-Argonne berada sekitar 40 kilometer barat laut dari Verdun. Daerah ini berbatasan dengan tepi utara hutan Argonne. Sulit membayangkan bahwa banyak yang telah berubah di kota Châtel-Chéhéry selama 80 tahun terakhir. Peta dari masa Perang Besar (sebutan dari Perang Dunia I) dapat dibaca sama persis dengan peta modern yang dibeli di Pusat Informasi Turis di Verdun. Kemungkinan, bahkan hanya sedikit yang berubah dari medan di sekitarnya. Keturunan dari generasi petani masa perang masih bekerja di ladang lokal. Hutan di sekitarnya tidak tersentuh kecuali untuk beberapa pengelolaan hutan lokal. Untuk orang-orang Amerika pada tahun 1918, misi menyerang Hill 223 memang menimbulkan beberapa masalah. Lereng selatan membelakangi Châtel-Chéhéry. Lereng itu curam dan nampak seperti tebing, bisa dibayangkan, hampir tidak mungkin untuk bisa naik di bawah tembakan gencar. Sementara sisi barat bukit menandai perbatasan timur dengan wilayah operasi Divisi ke-28 AS. Hubungan antara unit-unit yang berdekatan belum terjalin, jadi setiap upaya dari Divisi ke-82 untuk menyerang Bukit 223 dari arah itu dapat memicu tembakan kawan dan berisiko menimbulkan terbunuhnya sesama pasukan Amerika. Satu-satunya pilihan adalah menyerang Bukit 223 dari lereng timur. Hari ini puncak Bukit 223 ditutupi dengan posisi menembak individu yang digali dengan tergesa-gesa, yang dihubungkan oleh parit komunikasi yang membentang di sisi utara. Posisi-posisi ini kemungkinan diduduki oleh Batalyon “Mueller” Jerman, sebuah batalyon ad hoc di bawah komando Kapten Mueller. Batalyon ini disatukan dari sisa-sisa unit lain untuk melakukan pertahanan darurat di Bukit 223.

Dalam pemeriksaan salah satu posisi pertempuran yang dibuat dengan tergesa-gesa ini, saya menemukan 25 selongsong peluru senapan standar “Mauser” Gewahr 98 Jerman. Sebagai titik tolak dalam menyajikan hasil pencarian informasi saya, saya telah menyertakan versi ringkas dari catatan resmi Sersan York, yang didukung oleh pernyataan tertulis dari perwira yang ditugaskan, perwira yang tidak ditugaskan, dan para prajurit yang bersamanya di jurang. Jika perlu, saya telah menyisipkan pengamatan dan analisis mengenai medan yang sebenarnya seperti yang terlihat saat ini, ditambah dengan bukti arkeologis berusia 80 tahun tentang posisi militer yang ditemukan di dalam dan sekitar jurang. Beberapa catatan tentang metodologi penelitan saya adalah: Saya bukan seorang sejarawan terlatih, tetapi seorang prajurit. Karena itu saya telah melakukan analisis mengenai peristiwa di jurang itu seperti layaknya tentara akan menghadapi masalah taktis, melalui penerapan akronim METT-T dan OCOKA. METT-T adalah singkatan dari Mission, Enemy, Terrain and weather, Troops, dan Time available. OCOKA selanjutnya lebih jauh memecah berbagai pertimbangan medan menjadi Pengamatan dan bidang tembak, (tempat) perlindungan dan penyembunyian, Hambatan, Medan utama, dan Jalan pendekatan. Saat menjelajahi Bukit 223 dan jurang, saya menjawab pertanyaan, “York, bagaimana Anda melakukannya?” sebagai masalah taktis dari kedua perspektif Amerika dan Jerman. Misalnya, mengingat misi Sersan Early untuk “beraksi di belakang senjata-senjata itu” atau sebagai perwira Jerman yang ditugaskan untuk mempertahankan medan itu, saya bertanya pada diri sendiri bagaimana saya akan mencoba untuk menyelesaikan misi ini mengingat situasi seperti yang didefinisikan oleh METT-T dan OCOKA.
RESIMEN INFANTERI YANG TERJEPIT TIDAK BISA MELAKUKAN APA-APA SELAIN MENUNGGU
Untuk menceritakan catatan pribadi Sersan York, saya tahu beberapa hal berikut: Misi Resimen Infanteri ke-328 adalah menyerang kearah utara dan barat untuk merebut Jalur Kereta Decauville, dan misi Jerman adalah mempertahankan sistem kereta api itu, yang dianggap oleh pihak Jerman dan Amerika menjadi “pusat gravitasi” taktis dari tentara Jerman di area itu. Pasukan Amerika lebih segar dibandingkan dengan tentara Jerman dari Divisi Landwehr Wuerttemberg ke-2, yang telah bertempur sejak tahun 1914. Medan di area itu terdiri dari perbukitan, perbukitan yang dipenuhi vegetasi, pegunungan, dan jurang. Vegetasinya lebat dan masih ada sampai sekarang. Jarak pandang dan bidang tembak yang terkait sekitar 15 hingga 25 meter. Di lembah, bidang tembak tidak dibatasi oleh vegetasi atau medan. Cuaca pada bulan Oktober 1918 adalah tipikal untuk wilayah tersebut sepanjang tahun, yakni: cuaca dingin, hujan, dan berkabut secara signifikan mengurangi jarak pandang hingga 30 meter atau kurang di area terbuka. Pada waktu itu, tentara Jerman telah berada di daerah itu sejak tahun 1914, dan memiliki semua waktu yang mereka butuhkan. Amerika, di sisi lain, terjepit di lereng utara Hill 223 oleh tembakan senapan mesin yang efektif dari posisi yang tak terlihat di seberang lembah. Orang-orang Amerika dari Resimen Infanteri ke-328 tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu patroli Early untuk berada di belakang senjata-senjata itu dan membungkam mereka. Dari catatan Sersan York: “Sersan Harry Parsons memimpin peleton di mana pasukan saya menjadi bagiannya. Peleton ini adalah peleton pendukung bagian kiri dari Kompi G, pasukan saya membentuk sayap kiri peleton yang paling jauh. Lembah itu tertutup oleh tembakan senapan mesin dari depan kanan, depan dan kiri. Senapan mesin dari depan kiri menyebabkan banyak kerusakan pada pasukan kami yang bergerak melintasi lembah.“ Serangan Amerika kemudian terhenti di lereng bukit 223 di hadapan posisi senapan mesin Jerman. Menelusuri rute peleton Parsons dalam lima kesempatan terpisah, saya keluar ke lembah, di lereng selatan yang baru saja ditanami pepohonan. Tidak sulit membayangkan cakupan kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh beberapa senapan mesin Maxim, yang ditempatkan dengan baik pada pasukan yang turun di lembah terbuka. Saat ini, menjelajah ke lembah di mana terdapat ladang yang dibajak, relatif mudah untuk menemukan peluru berkarat dan pecahan peluru artileri. Peleton Parsons adalah bagian dari gelombang kedua, jadi sebagian besar peleton masih berada di garis pepohonan, yang memberikan sedikit perlindungan dan tempat penyembunyian. Senapan mesin itu mungkin Maxim 08 dan Maxim 08/15 yang lebih ringan; yang pertama dipasang di tripod, yang kedua di bi-pod.


CATATAN PRIBADI SERSAN YORK
Catatan dari Sersan York berbunyi seperti ini: Sersan Parsons diperintahkan untuk maju dengan peletonnya dan melindungi sayap kiri kami. Karena tembakan sangat gencar di lembah, kami memutuskan untuk melewati kaki bukit di sebelah kiri kami dan dengan demikian mendapatkan perlindungan. Kami telah maju sedikit ketika kami ditahan oleh senapan mesin dari depan kiri kami. Sersan Parsons kemudian menyuruh Sersan Bernard Early untuk mengambil dua regu dan menghentikan tembakan senapan mesin itu; jadi skuad saya, yang menjadi skuad di sebelah kiri adalah salah satu yang dipilih. Kami maju dalam satu barisan. Semak belukar dan semak-semak di sini sangat lebat sehingga kami hanya bisa melihat beberapa meter di depan kami, tetapi saat kami maju, mereka menjadi sedikit lebih tipis. Untuk menghindari tembakan frontal dari senapan mesin musuh, kami berbelok sedikit ke kiri, dengan demikian bergerak di sekitar sayap kanan posisi senapan mesin musuh dan agak ke belakang, yang menyebabkan kami melewatkan posisi senjata musuh ini. Saat kami mendapatkan satu posisi (di belakang senjata musuh) kami berbelok dengan tajam ke kanan agak miring dan mengikuti jalan kecil, yang membawa kami langsung ke bagian belakang senapan mesin. Berdiri di lereng utara Bukit 223 sekitar 80 tahun kemudian, jelas bahwa menyusuri bukit ke kiri adalah satu-satunya pilihan yang terbuka bagi Sersan Early dan pasukannya. Melewati bukit dan tetap berada di dalam deretan pohon memberikan jalan tertutup dan tersembunyi untuk mendekati bagian belakang posisi senapan mesin yang terletak di lereng timur punggungan bukit dan di jurang. Kemungkinannya, patroli kecil ini tidak memiliki peta atau kompas sehingga mereka menggunakan petunjuk medan dan suara tembakan senapan mesin untuk bernavigasi. Penting untuk dicatat di sini, bahwa rute ini membawa pasukan patroli dengan baik ke area operasi Divisi ke-28 AS. Menurut pernyataan yang dibuat oleh Kapten Danforth, komandan Kompi G, tidak ada kontak dengan Divisi ke-28 pagi itu. Situasi serupa terjadi di pihak Jerman di mana, karena kekurangan personel, para pemimpin tempur Jerman telah memilih untuk memperkuat pertahanan lembah, yang memperburuk terputusnya kontak antara unit-unit yang berdekatan.

“MEREKA TIDAK BERHENTI DAN KAMI MENEMBAKI MEREKA”
Jadi hasil analisis situasi membuat saya percaya bahwa patroli Sersan Early menggunakan penyembunyian yang diberikan oleh kabut pagi dan vegetasi lebat untuk menyusup ke garis depan pasukan AS dan Jerman di mana batas-batas unit memang ada, tetapi tidak terikat secara efektif. Kebetulan waktu itu rentetan tembakan artileri menyebabkan para penembak Jerman mencari perlindungan tepat pada saat 17 orang Amerika berada di depan mata mereka. Akibatnya semua orang Amerika itu berhasil mendaki bukit tanpa mengalami cedera. Berdasarkan catatan Sersan York: “Saat kami maju, kami melihat dua Boche dengan pita Palang Merah di lengan mereka. Kami meminta mereka untuk berhenti, tetapi mereka tidak berhenti. Keduanya menjatuhkan botol air mereka, yang menimbulkan dentang logam kosong yang keras, dan kami kemudian menembaki mereka. Sersan Early memimpin dan saya berada di urutan ketiga. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kami melanjutkan perjalan dalam satu barisan. Kami segera berlari menyusuri jalan setapak, di mana para Boche berlari dan menyeberangi sungai kecil. Para Boche kemudian berbelok ke kanan dan bergerak cepat ke arah dari mana kami datang. Ketika kami mencapai titik di mana mereka telah berbelok, kami berhenti selama setengah detik untuk membentuk garis pertempuran. Saya melompat sekitar empat langkah dari sersan dan kami menyuruh orang-orang lain untuk menyebar karena kami pikir akan ada pertempuran dan kami tidak ingin terlalu berdekatan. Segera setelah kami membentuk garis pertempuran, kami menerobos semak-semak mengejar para Boche. Sungai kecil yang saya bicarakan ini mengalir melalui jurang ke dalam lembah. Di kedua sisi sungai terdapat sebidang tanah datar yang rata, lebarnya sekitar dua puluh kaki (6 meter), yang ditutupi semak yang sangat tebal. Di tepi timur sungai ada sebuah bukit yang kemiringannya sangat curam. Bukit itu berbentuk setengah lingkaran dan memberikan perlindungan yang sangat baik bagi siapa pun di belakangnya. Di sepanjang puncak bukit terdapat senapan mesin yang ditembakkan melintasi lembah ke arah pasukan kami. Lokasi sungai ini adalah titik referensi kritis dalam pencarian saya dan konfirmasi lokasi aksi Sersan York. Sungai itu ada di sana, lebarnya sekitar satu meter, dan hanya membutuhkan sedikit lebih dari satu langkah atau lompatan untuk menyeberanginya. Dalam catatannya Sersan York berbicara tentang tepian timur. Sungai ini mengalir kira-kira dari timur ke barat sehingga tepiannya berada di utara dan selatan. Untuk mencocokkan medan dengan catatan York, satuan patroli melintasi sungai dari selatan ke utara. Di sisi utara sungai adalah bukit berbentuk setengah lingkaran yang dia rujuk dalam catatannya. Di sepanjang bukit ini terdapat sisa-sisa berbagai posisi pertempuran yang dibuat dengan tergesa-gesa dan parit komunikasi. Ada juga tanggul besar di sepanjang bahu luar jalan yang membentang dari timur ke barat melintasi lereng bukit. Area tembak dari lembah menuju ke Bukit 223 dari bagian jalan ini luar biasa, dan jalan dengan tanggul yang dilihat dari jurang bisa disalahartikan sebagai parit.

TIGA TENTARA JERMAN JATUH KE TANAH
Dua prajurit Jerman yang lari kemudian menuju ke arah timur laut, melintasi padang rumput yang lebat, langsung kembali ke markas Vollmer untuk memperingatkan komandannya akan kehadiran orang-orang Amerika. Tentara Jerman itu berlari secepat yang mereka bisa, dengan para Doughboys (julukan tentara Amerika) mengejar mereka. Vollmer saat itu sedang sibuk mengarahkan batalionnya melawan tentara Amerika ketika ajudannya, Leutnant Karl Glass, mendekat. Vollmer lega mendengar bahwa dua kompi dari Resimen Infanteri Cadangan ke-210 Prusia baru saja tiba di pos komando batalion dan sedang menunggu perintahnya. Resimen Ke-210 adalah kekuatan yang dibutuhkan Vollmer untuk meluncurkan serangan balik yang sangat dinanti-nantikan untuk mendesak orang-orang Amerika keluar dari bagian timur Argonne. Dengan bala bantuan ini, pasukan Jerman diharapkan akan bisa mengalahkan serangan pasukan AS, dan mengekspos bagian sayap dari serangan utama tentara Amerika di Lembah Meuse. Kemudian tiba-tiba, muncul dari dedaunan padang rumput, dua tentara yang dikirim Vollmer untuk mengisi botol air, berteriak, “Die Amerikaner kommen!” alias orang-orang Amerika datang. Di luar pandangan Vollmer, di belakangnya, orang-orang Prusia bereaksi terhadap apa yang tampak seperti sekelompok besar orang Amerika yang menyerbu melintasi padang rumput. Percaya bahwa itu adalah penetrasi pasukan musuh yang terdiri dari sekitar 100 prajurit, atau mungkin pasukan pengejut Amerika, para prajurit dari Resimen ke-210 terkejut dan menyerah. Sebelum Vollmer menyadari apa yang telah terjadi, “pria Amerika yang besar dan kuat dengan kumis merah, berbadan besar dan wajah berbintik” menangkapnya. Prajurit itu adalah Kopral Alvin C. York.

Menurut catatan Sersan (setelah dinaikkan pangkatnya) York: “Kami menerobos semak-semak dan mendapatkan tentara Jerman sebelum kami menyadarinya, karena semak-semak itu sangat lebat sehingga kami hanya bisa melihat beberapa meter di depan kami. Ada gubuk kecil yang disatukan, yang sepertinya digunakan sebagai semacam (pos komando) oleh orang Jerman. Di depan ini, dalam bentuk semacam setengah lingkaran, duduk sekitar tujuh puluh lima Boche, di samping tempat makanan. Para Boche tampaknya mengadakan semacam konferensi. Ketika kami menyerbu masuk ke dalam lingkaran, beberapa Boche melompat dan mengangkat tangan mereka sambil berteriak “Kamrad!” Kemudian yang lain melompat dan kami mulai menembak. Sekitar dua atau tiga orang Jerman jatuh; setelah itu tidak ada lagi yang kami yang tembak.” Jurang tersebut saat ini relatif terbuka karena seluruh wilayah tersebut ditebang habis dalam lima tahun terakhir. Tidak ada bukti bahwa pernah ada banyak pohon besar di jurang (tidak adanya bekas-bekas tunggul). Yang dipotong rapi adalah semak belukar dan pohon-pohon kecil dengan diameter satu sampai dua inci. Jika pohon-pohon dan semak-semak ini dibiarkan tumbuh bebas, seluruh area akan menjadi lebat dengan jalinan vegetasi tanah yang bersaing untuk mendapatkan sinar matahari. Daerah di sekitar sungai, berawa dan terdiri dari tanah berpasir. Pada hari ini, sebagai akibat dari penebangan, tidak ada bukti adanya tempat terbuka atau gubuk. Kehadiran sungai, dalam kaitannya dengan sisa-sisa parit Jerman di dekatnya, dikombinasikan dengan aliran alami dari medan yang memungkinkan patroli untuk “mengarah” ke dalam jurang, membuat saya percaya bahwa ini adalah lokasi dimana York beraksi. Menurut catatan Sersan York: Sersan Early berkata, “Jangan menembak lagi. Mereka akan menyerah bagaimanapun caranya.” Dan untuk sesaat tembakan kami berhenti, kecuali seorang Jerman terus menembaki saya, dan saya menembaknya.

Sementara itu Boche (pimpinan Letnan Paul Lipp) di atas bukit … menembaki kami. Saya saat ini hanya beberapa langkah dari kumpulan Boche yang berkerumun di sekitar (pos komando). Pada semburan tembakan pertama dari senapan mesin, semua Boche dalam kelompok ini bertiarap diatas tanah dengan posisi menelungkup. Saya dan beberapa orang kami lainnya jatuh ke tanah pada saat yang bersamaan. Mereka yang tidak berlindung entah terbunuh atau terluka oleh tembakan senapan mesin Boche, jaraknya begitu dekat sehingga pakaiannya benar-benar terkoyak dari tubuh mereka. Sersan Early dan Kopral Cutting terluka sementara Kopral Savage terbunuh. Dalam tembakan pertama ini, enam orang langsung tewas dan tiga terluka. Pada saat ini, orang-orangku yang tersisa telah berada di balik pohon, dan dua orang menembaki Boche. Mereka masing-masing menembakkan sekitar setengah klip.” Tujuh orang Amerika lainnya yang selamat kemudian memberikan tembakan perlindungan untuk York kapan saja dia berpindah, dengan Prajurit Percy Beardsley menembakkan senapan mesin ringan Chauchat untuk mendukungnya. Sebagian besar rekan York kemudian mengatakan bahwa dari posisi mereka, mereka tidak berbuat apa-apa lagi, setelah senapan mesin Jerman melepaskan tembakan mencegah mereka untuk melakukan banyak hal guna membantu serangan York selain mengawasi para tahanan.
GRANAT JERMAN MELEDAK, MELUKAI SALAH SATU DARI MEREKA SENDIRI
Kembali ke penuturan York: “Tapi tidak ada perlindungan pepohonan untuk saya, jadi saya hanya duduk di atas lumpur dan menggunakan senapan saya. Saya cukup pandai menembak dengan senapan, juga dengan pistol, karena telah menggunakannya hampir sepanjang hidup saya, dan telah melakukan banyak latihan. Saya menembakkan senapan saya sampai saya tidak memiliki klip peluru lagi yang cukup (sekitar 46 peluru ditembakkan York) dan kemudian saya menggunakan pistol saya. Tembakan senapan mesin Boche menyapu gerombolan tentara Jerman yang berbaring rata diatas tanah, dan melewati beberapa inci di atas kepala saya, tetapi saya begitu dekat dengan kumpulan tentara Jerman yang sedang bertiarap sehingga penembak senapan mesin Boche tidak dapat mengenai saya tanpa mengenai rekan-rekan mereka sendiri. Ada sekitar lima puluh Boche di posisi-posisi senapan mesin dan mereka berada di bawah komando seorang Letnan. Letnan itu dengan delapan atau sepuluh orang Jerman bersenjatakan senapan (dengan Bayonet terpasang) bergegas ke arah kami. Seseorang melemparkan granat kecil berdiameter seukuran satu dolar dan dengan tali picu yang harus ditarik … ketika Anda ingin meledakkannya. Lemparan granat itu meleset beberapa kaki, melukai salah satu anak buahnya sendiri. Saya membiarkan para Boche turun dari bukit dan kemudian menembaki mereka dengan pistol saya… Saya menembak si Letnan, dan ketika dia terbunuh, tembakan senapan mesin berhenti. Selama pertempuran, saya terus mendengar suara pistol ditembakkan dari tengah-tengah gerombolan Boche yang tergeletak di atas tanah. Ini jelas seorang komandan yang menembak, karena dia satu-satunya di antara kerumunan itu yang bersenjatakan pistol, dan semua klipnya kosong ketika saya memeriksanya nanti. Meskipun umumnya dianggap bahwa Sersan York dipersenjatai dengan senapan Springfield 1903, unitnya telah menggantinya dengan senapan Enfields model 1917 ketika mereka sampai di Prancis. Ketika senapan mesin Jerman melepaskan tembakan dari lereng bukit, York berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Tentara Jerman menembak di atas kepalanya dan tidak bisa menurunkan laras senapan mesin untuk secara efektif untuk menyerang York tanpa memaparkan diri mereka pada tembakan balasannya.


York sekarang menyadari bahwa dia relatif aman dari tembakan senapan mesin yang “menembakinya”, lalu berlutut dan kemudian berdiri dengan mantap untuk membalas tembakan. Tentara Jerman sekarang memilih untuk melakukan serangan bayonet dengan harapan bisa mengalahkan Sersan York. Dia menyatakan bahwa ada delapan hingga 10 orang Jerman yang maju menyerangnya. Saya sendiri ragu jumlahnya ada lebih dari delapan. York dipersenjatai dengan pistol otomatis Colt M1911 kaliber .45. Pistol ini maksimal berisi delapan peluru, tujuh di magazine dan satu di kamar peluru. Jadi, seandainya York melewatkan satu tembakan saja, atau jika ada lebih banyak orang Jerman yang menuruni bukit lebih banyak daripada jumlah peluru di pistolnya, keterampilan berkelahinya dengan tangan kosong atau kemampuannya untuk berlari harus berperan jika ingin selamat. Letnan yang memimpin serangan itu diidentifikasi dalam pernyataan tertulis dari pihak Jerman sebagai Letnan Fritz Endriss, Komandan Kompi ke-4, Batalyon Infanteri ke-120. Endriss telah ditembak di perutnya, terluka parah, dan dievakuasi hidup-hidup oleh unit patroli York. Tidak jelas apakah Endriss bisa selamat akibat luka-lukanya. Menurut catatan Sersan York: “Ketika senapan mesin berhenti menembak, komandan Jerman, yakni Letnan Vollmer yang bisa berbicara bahasa Inggris, turun dan berjalan ke arah saya. Dia berkata, “Orang Inggris?” Saya berkata, “Tidak, bukan orang Inggris” Dia berkata, “orang mana?” Saya berkata “Amerika” Dia berkata “Ya Tuhan!” Kemudian dia berkata, “Jika kamu tidak menembak lagi, saya akan membuat mereka menyerah” dan saya berkata, “Baiklah, baiklah, saya akan memperlakukan kamu seperti prajurit,” dan dia berbalik serta mengatakan sesuatu kepada anak buahnya dalam bahasa Jerman, dan mereka melepaskan ikat pinggang dan senjata mereka, sementara para penembak senapan mesin menurunkan senjata mereka dan turun dari bukit. Saya memanggil orang-orang saya dan … menemukan bahwa hanya ada enam yang tersisa di samping saya. Kami menggeledah para Boche dan menyuruh mereka berbaris dalam barisan berdua. Komandan Boche ingin berbaris menghadap ke utara dan turun melalui lembah di sepanjang jalan yang membentang di kaki bukit, tetapi saya tahu jika mereka membawa saya ke sana, mereka akan membawa saya ke posisi senapan mesin di lereng yang berlawanan, jadi saya berkata ‘Tidak, saya akan pergi ke arah ini yang merupakan arah dimana saya datang, dan yang mengarah melalui sekelompok senapan mesin yang tampaknya merupakan sarang senapan mesin di pos terdepan. Kami telah melewatkan sarang senapan mesin ini saat kami maju, karena kami telah pergi lebih jauh ke kiri.
“PENEMBAK SENAPAN MESIN TIDAK BISA MEMBUNUHKU TANPA MEMBUNUH PERWIRA MEREKA”
Ketika kami menyuruh para Boche berbaris dalam dua kolom, saya menyebarkan anak buah saya di sepanjang dan di belakang barisan, serta mengatakan kepada mereka untuk tetap berada di belakang dan bahwa saya akan memimpin jalan. Jadi saya mengambil komandan dan dua perwira Jermam lainnya dan menempatkan satu di depan saya dan satu di setiap sisi saya.… Saya melakukan itu karena saya tahu bahwa jika saya terlihat di sisi barisan, penembak senapan mesin akan menembak saya, tetapi jika saya tetap berada di tengah barisan, mereka harus menembak perwira mereka sebelum mereka bisa membunuh saya. Dengan cara ini kami maju di sepanjang jalan setapak dan masuk ke sarang senapan mesin. Penembak senapan mesin seperti yang telah saya katakan sebelumnya tidak dapat membunuh saya tanpa membunuh perwira mereka, dan saya siap untuk menghadapi mereka. Salah satunya mengarahkan senapan ke arah saya dari balik pohon, dan saat saya mengarahkan pistol ke arahnya, lagi-lagi komandan Jerman yang saya tawan berkata, “Jika Anda tidak mau menembak lagi, saya akan menyuruh mereka menyerah.” Dia melakukannya dan kami menambahkannya tawanan ke dalam barisan kami. Jalan yang disarankan tentara Jerman akan membawa mereka di bawah pengamatan langsung posisi senapan mesin nomor 3, dan akhirnya posisi nomor 1 jika mereka mengikutinya menuju ke lembah Bukit 223. Seandainya mereka mengikuti jalan kearah barat, mereka akan melakukan perjalanan lebih dalam ke area yang dikuasai Jerman.

Sersan York dengan bijaksana memilih untuk membawa sisa patrolinya dan para tahanan Jerman kembali ke tempat dimana dia datang. Daripada berjalan kembali ke atas bukit melalui vegetasi lebat ke garis pertahanan Amerika, York mungkin memutuskan untuk berjalan menyusuri rute yang mengarah ke selatan dan barat kembali ke garis pertahanan Amerika. Ini adalah keputusan yang baik karena tujuh orang Amerika yang tersisa akan lebih mudah mengendalikan formasi besar tahanan Jerman di jalan daripada di hutan tempat para tahanan akan tergoda untuk melarikan diri dan berlari ke arah vegetasi. Menggunakan jalan juga memungkinkan York dan seluruh kontingen berjalan di posisi senapan mesin nomor 3 dari arah belakang kiri. Tentara Jerman di posisi senapan mesin nomor 1 tidak akan melepaskan tembakan ke arah pasukan Jerman yang mendekat dan tidak bisa menyerang Sersan York, yang telah melindungi dirinya dengan perwira Jerman yang ditangkapnya. Sekarang, dengan dua posisi senapan mesin tidak berfungsi, orang-orang Amerika di Bukit 223 menyerbu ke dalam hutan dengan mengalahkan kantong-kantong perlawanan Jerman yang tersisa. Dari kesaksian tentara Jerman tentang unit-unitnya yang ada di dalam jurang, tampaknya ada kepanikan yang berkembang di antara tentara Jerman pada tanggal 8 pagi. Jelas, patroli Amerika selain York telah terlihat bergerak di lembah dan sekitar garis lereng sehingga ada ketakutan yang semakin besar bahwa tentara Amerika telah menyerang posisi sayap dan akan mendapatkan bagian belakang tentara Jerman. Menurut catatan Sersan York: “Saya kemudian melapor bersama para tahanan ke batalion (pos komando). Mereka dihitung di sana dan ada 132 tawanan tepatnya. Saya diperintahkan untuk mengantarkan para tahanan ke markas brigade, yang kemudian saya lakukan dan kembali ke kompi saya keesokan paginya. (Akhir dari pengakuan)
SERSAN ALVIN YORK: SOSOKNYA
Ada lebih dari 90 Medali Medal Of Honor yang diberikan untuk aksi keberanian luar biasa selama dan sejak Perang Besar berakhir, namun Sersan York jelas menonjol hingga hari ini sebagai pahlawan Amerika terbesar dari Perang Dunia I (kecuali mungkin jika dibandingkan dengan Samuel Woodfill, yang jadi favorit jenderal Pershing sendiri). Apakah yang membedakan Sersan York dari semua pahlawan lainnya yang, dalam banyak hal kasus, mencapai prestasi yang sama pentingnya? Sersan Alvin Cullum York lahir pada 13 Desember 1887 di sebuah pondok kayu pada perbukitan Pall Mall, Tennessee. Sebagai anak ketiga dari 11 bersaudara, York tumbuh di kabin dengan dua kamar kecil, dan hanya menerima pendidikan minimal. Nyaris tidak bisa membaca, dia meninggalkan sekolah setelah kelas tiga untuk membantu di pertanian dan bekerja di toko pandai besi ayahnya. Jago dalam menembak dengan pistol dan senapan, ia mengasah keahlian menembaknya sejak usia dini untuk mendapatkan makanan atau memenangkan uang tunai di kontes menembak lokal. Setelah kematian ayahnya pada tahun 1911, York, sebagai anak tertua yang masih tinggal di daerah tersebut, terpaksa membantu ibunya membesarkan adik-adiknya. Untuk menghidupi keluarga, ia mulai bekerja pada kegiatan konstruksi rel kereta api dan sebagai penebang kayu di Harriman, Tennessee. Seorang pekerja keras, York menunjukkan pengabdian untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Namun di sisi lain York punya kebiasaan buruk. Seorang peminum berat, penjudi, petarung, dan tukang membuat masalah, Alvin York pada akhirnya menghentikan semua kebiasaan buruknya ini hanya dalam waktu satu malam. Dia pulang terlambat setelah mabuk berat dan mendapati ibunya menunggunya, khawatir. Dia telah berusia 27 tahun dan ibunya bertanya kapan dia akan “menjadi pria seperti ayahmu dan kakekmu?” Pertanyaan itu mengena di hati dan Alvin York berhenti merokok, minum, memaki, berkelahi, dan berjudi malam itu, terutama setelah temannya Everett Delk dipukuli sampai mati selama perkelahian di dekat Static, Kentucky.

Terguncang oleh kejadian ini, York kemudian menghadiri pertemuan kebangunan rohani yang dipimpin oleh pendeta H.H. Russell di mana dia menyimpulkan bahwa dia perlu mengubah caranya atau mengambil risiko mengalami nasib yang serupa dengan Delk. Mengubah perilakunya, ia menjadi anggota Gereja Kristus dalam Persatuan Kristen. Sebuah sekte fundamentalis yang ketat, gereja ini melarang kekerasan dan mengajarkan aturan moral yang ketat yang melarang minum, menari, dan berbagai bentuk budaya populer. Sebagai seorang anggota jemaat yang aktif, York bertemu calon istrinya, Gracie Williams, melalui gereja sambil juga mengajar Sekolah Minggu dan menyanyi di paduan suara. York kemudian dipanggil untuk menjalani wajib militer pada musim panas tahun 1917. Pada bulan November ia melapor ke unit pelatihan awalnya di Camp Gordon, Ga. Pada bulan Desember Prajurit York ditugaskan ke Kompi G, Resimen Infanteri ke-328 dari Divisi ke-82. Unit ini tiba di Prancis pada bulan Mei 1918. Setelah menghabiskan waktu di sektor yang tenang untuk membiasakan diri dengan pemandangan dan suara di medan perang, unit Resimen ke-328 ditugaskan dalam ofensif di St. Mihiel di mana unit York dikenal untuk pertama kalinya pada tanggal 12 September 1918. Pada tanggal 24, unit York dipindahkan ke unit cadangan guna mendukung serangan di Meuse-Argonne hingga tanggal 7 Oktober, ketika mereka memasuki garis depan di Hill 223. Pada tanggal 8 Oktober 1918 Sersan York, seorang wajib militer dari perbukitan Tennessee, keluar sebagai salah seorang anggota patroli dan kembali beberapa jam kemudian sebagai penanggung jawab patroli yang memimpin sebuah barisan, yang terdiri dari 132 tahanan Jerman yang berhasil ditangkap. Ini adalah fakta yang didokumentasikan secara historis. Selain menangkap 132 tentara Jerman, York mengambil alih komando patroli yang bertanggungjawab dalam membungkam dua posisi senapan mesin Jerman yang mendominasi, yang telah menembaki pasukan Amerika di lembah itu. Dengan tersingkirnya dua posisi ini, Divisi ke-82 mampu melanjutkan serangan ke utara dan barat untuk merebut Jalur Kereta Decauville pada penghujung hari. Patroli York juga berhasil mengevakuasi semua yang terluka, baik orang Amerika maupun Jerman. Tindakan Sersan York sepadan dengan, dan layak, untuk mendapatkan penghargaan militer tertinggi Amerika. Inilah sosoknya yang sebenarnya.
BAGAIMANA YORK SEBENARNYA MENJADI YORK MITOS
Mitos: Sebagian besar catatan tentang Sersan York melukiskannya sebagai conscientious objector (adalah orang yang menentang wajib militer dan/atau mengangkat senjata atas dasar moral atau prinsip agama) yang secara individual membunuh 28 tentara Jerman, menangkap 132 tahanan, dan membungkam 35 senapan mesin. Singkatnya, Sersan York digambarkan dengan sendirian mengalahkan sebuah batalion senapan mesin Jerman. Gagasan bahwa Alvin York adalah conscientious objector, yang berusaha mendapatkan pengecualian dari wajib militer atas dasar moral sama sekali tidak berdasar. Dalam buku hariannya York dengan jelas menyatakan bahwa dia bukan conscientious objector dan terus mengatakan demikian sepanjang hidupnya. Ini tidak berarti bahwa Alvin York, seorang yang sangat beriman, dan tidak mengalami pergulatan moral batiniah antara keyakinan agamanya serta perjuangannya untuk negaranya. Melalui meditasi, doa, dan nasihat komandan kompinya, York mampu mendamaikan konflik didalam dirinya dengan melihat pembenaran terlibat dalam pertempuran di pihak yang benar. Saat menghadiri pelatihan awal di Camp Gordon, Alvin York diberikan kesempatan mudah untuk meninggalkan dinas militer dengan terhormat.

Ibu York, dengan bantuan Pendeta Rosier Pile, memprakarsai dokumen untuk membebaskan Alvin York dari dinas militer. Pengecualian itu diklaim dengan alasan bahwa Alvin York adalah satu-satunya yang merawat ibunya sejak kematian suaminya pada tahun 1911, dan bahwa pertempuran itu bertentangan dengan keyakinan agama York. Oleh karena itu, dokumen pelepasan secara terhormat diserahkan ke York untuk ditandatangani. Tapi dia menolak untuk menandatangani, dengan alasan kewajiban(nya) bagi negaranya. Pernyataan bahwa Sersan York merampas 35 senapan mesin pada tanggal 8 Oktober 1918 adalah juga tidak berdasar. Tidak ada catatan militer resmi yang menunjukkan York membawa senapan mesin yang dirampas dengan unit patrolinya. Sementara patrolinya membungkam dua posisi senapan mesin Jerman, mereka tidak mempertahankan kendali atau menghancurkan senjata tersebut. Senapan mesin yang ditinggalkan di jurang (tidak diketahui nomornya) oleh patroli York ditemukan oleh orang Jerman yang bergerak mundur atau orang Amerika yang bergerak maju. Ada sedikit keraguan bahwa Sersan York membunuh sebagian besar tentara Jerman di jurang, tetapi diragukan bahwa dia membunuh mereka semua. Tujuh tentara Amerika lainnya yang berpatroli selamat dari tembakan awal senapan mesin. Mereka tidak terluka dan mampu membalas tembakan yang cukup efektif. (Beberapa tahun setelah kejadian itu, Sersan Early dan Kopral Cutting, keduanya dianugerahi Distinguished Service Cross atas aksi mereka di jurang.) Ini adalah kisah Mitos dari York.
KISAH LEGENDA YORK
Legenda: Peristiwa di jurang 8 Oktober 1918 datang dengan cepat dan menghilang dengan cepat pula. Hampir tidak ada waktu untuk memikirkannya lebih jauh karena York dan Divisi ke-82 melewati wilayah Argonne hampir selama tiga minggu. Faktanya, beberapa hari setelah pertempuran di jurang, York hampir terbunuh dalam serangan artileri saat melintasi kebun apel di Sommerance. Baru setelah Gencatan Senjata dan pertempuran berakhir, perhatian dan minat publik Amerika mulai beralih ke para pahlawan perang mereka. Sersan York menjadi contoh yang bagus. “Gambarannya sebagai seorang pemuda desa terlihat baik”, yang mana kisah ini dibutuhkan dan ingin didengar orang-orang Amerika. Terdapat artikel seperti “The Second Elder Gives Battle” karya George Pattullo untuk Saturday Evening Post yang membuat Sersan York terkenal pada awalnya. Pada tahun 1930 Tom Skeyhill, penulis biografi resmi York, menerbitkan buku Sergeant York, Last of the Long Rifles. Dalam buku tersebut, penulis berusaha keras untuk menjalin hubungan historis antara Daniel Boone, Davy Crockett, Abraham Lincoln, dan Alvin York. Lalu ada artikel surat kabar Swedia yang memberi semangat kepada orang-orang Jerman untuk memberikan bantahan yang diteliti dengan susah payah. Namun, sebagian besar orang di masa kini akan mengaitkan kisah Sersan York dengan aktor Gary Cooper, yang menerima Academy Award untuk perannya sebagai Sersan Alvin York dalam film perang buatan tahun 1941 Sergeant York. Meskipun menghibur, film ini memiliki sedikit kemiripan dengan aksi York di jurang. Namun, kepribadian York yang diperankan oleh Gary Cooper disambut dengan antusias oleh semua orang. Cooper berperan sebagai frontiersman yang mandiri—putra Amerika tulen yang setia, rendah hati, dan takut akan Tuhan yang melakukan tugasnya dan seterusnya. Inilah Legenda dari York.


“KEKUATAN YANG LEBIH TINGGI DARI MANUSIA”
Jadi kembali ke pertanyaan awal, “York, bagaimana Anda melakukannya?” Sekitar 80 tahun setelah kejadian itu, saya memasuki jurang dengan pemahaman tentang “penggunaan medan dari sisi militer” dan signifikansi di lokasi mengenai bukti arkeologis relatif terhadap Taktik, Teknik, dan Prosedur (TTP) saat itu. Dalam analisis situasi yang saya buat, saya menggabungkan semua ini dan faktor lainnya untuk mengembangkan gambaran tentang bagaimana peristiwa itu bisa terjadi pada pagi musim gugur yang berkabut pada tahun 1918. Bukti arkeologis termasuk posisi tempur yang disiapkan, gulungan kawat berduri, kotak amunisi yang dibuang, selongsong peluru, sendok ransum Jerman, dan bahkan beberapa rel bekas dari Decauville Railroad. Yang paling tidak menyenangkan dari artefak ini adalah persenjataan yang tidak meledak, khususnya peluru artileri yang tidak meledak, yang ditemukan di dekat posisi senapan mesin paling utara, yang ditembakkan lebih dari 80 tahun yang lalu oleh artileri Amerika dengan tujuan menghancurkan posisi tersebut. Jadi, sebagai jawaban atas pertanyaan awal Jenderal Lindsey, “Bagaimana Anda melakukannya?” Tanggapan Sersan York, “Kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia” sama bagusnya dengan penjelasan apa pun yang bisa saya berikan. Sersan Alvin York tampaknya adalah orang biasa yang dalam keadaan luar biasa bertindak pada kesempatan itu dan menjadi terkenal karena aksinya. Dia adalah pahlawan Amerika sejati, yang kisah aktual, mitos, dan legendanya telah menggambarkan semangat ribuan prajurit Amerika yang melakukan tugas mereka “di sana.”

KEHIDUPAN SETELAH PERANG
Meskipun dirayu oleh para pembuat film dan pengiklan, York sangat ingin kembali ke Tennessee. Dengan melakukan ini, dia kemudian menikahi Gracie Williams pada bulan Juni tahun 1919. Selama beberapa tahun berikutnya, pasangan itu memiliki 10 anak, delapan di antaranya selamat dari masa kanak-kanak. Sebagai seorang selebriti, York kemudian mengambil bagian dalam beberapa tur untuk menjadi pembicara dan dengan penuh semangat berusaha untuk meningkatkan kesempatan pendidikan bagi anak-anak di daerah pedesaan. Perannya memuncak dengan pembukaan Institut Pertanian Alvin C. York pada tahun 1926, yang kemudian diambil alih oleh Negara Bagian Tennessee pada tahun 1937. Meskipun York memiliki beberapa ambisi politik, upayanya ini sebagian besar terbukti sia-sia. Pada tahun-tahun setelah Perang Dunia I, York diganggu oleh berbagai masalah keuangan. Pada tahun 1941, York mengalah dan mengizinkan sebuah film untuk dibuat menceritakan kisah hidupnya. Ketika konflik di Eropa semakin meningkat intensitasnya, apa yang awalnya direncanakan sebagai film tentang pekerjaannya dalam mendidik anak-anak di Tennessee kemudian berubah menjadi pernyataan terbuka untuk mendukung intervensi dalam Perang Dunia II. Dibintangi oleh Gary Cooper, yang memenangkan satu-satunya Academy Award bagi Cooper, film Sergeant York terbukti sukses menjadi box office. York merupakan salah satu pendukung masuknya AS ke dalam Perang Dunia II sebelum Pearl Harbor, dan kemudian turut berupaya dalam mendirikan Tennessee State Guard pada tahun 1941, serta menjabat sebagai kolonel Resimen ke-7 dan menjadi juru bicara untuk Komite Perjuangan untuk Kebebasan, untuk melawan Komite Utama isolasionis Amerika pimpinan Charles Lindbergh. Dengan dimulainya perang, ia berusaha untuk mendaftar kembali kedalam militer tetapi ditolak karena usia dan berat badannya. Tidak dapat bertugas dalam pertempuran, ia malah memainkan peran dalam pengumpulan dana perang dan tur inspeksi. York lalu menderita lumpuh karena stroke pada tahun 1954. Dia kemudian meninggal pada tanggal 2 September 1964, setelah menderita pendarahan otak.


Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
Sergeant Alvin York: Personal Accounts That Reveal His True Story By Lt. Col. Taylor V. Beattie
Alvin York: Hero of the Argonne by Douglas V. Mastriano
Biography of Alvin C. York, Hero of World War I By Kennedy Hickman; Updated on July 03, 2019
