Petaka Salah Langkah Idi Amin: Invasi Kagera yang Berujung Runtuhnya Rezim Brutal Di Uganda
Kudeta militer Kolonel Idi Amin terhadap Presiden Milton Obote pada tahun 1971 menjadi titik awal memburuknya hubungan antara Uganda dan Tanzania. Di Tanzania, konflik ini dikenal secara lokal sebagai Vita vya Kagera atau Perang Kagera. Presiden Tanzania, Julius Nyerere, yang memiliki hubungan dekat dengan Obote, secara tegas menolak memberikan pengakuan diplomatik kepada pemerintah baru Uganda. Sebagai gantinya, Nyerere memilih untuk menampung ribuan pembangkang politik asal Uganda. Ketegangan antara kedua negara sempat memuncak pada tahun 1972 melalui aksi serangan gerilya oposisi yang berakhir gagal. Peristiwa tersebut mendorong ditandatanganinya Perjanjian Mogadishu untuk menarik pasukan dari kawasan perbatasan. Kendati demikian, perselisihan terselubung terus berlanjut dan diperparah oleh sengketa wilayah kantong Kagera. Konflik ini akhirnya meletus menjadi perang terbuka pada Oktober 1978 ketika pasukan Uganda melancarkan invasi ke wilayah Tanzania. Konflik yang berawal dari perselisihan perbatasan dan krisis internal Uganda ini dengan cepat berkembang menjadi tindakan serangan balasan masif dari Tanzania. Berbeda dari kebanyakan konflik kontemporer di Afrika pada era 1970-an yang menjadi ajang (proxy war Perang Dingin antara Blok Barat dan Uni Soviet, perang ini murni merupakan konflik regional antar-negara Afrika. Konflik ini secara terang-terangan menyingkap kelemahan dan kegagalan diplomasi Organisasi Persatuan Afrika (Organisation of African Unity / OAU). Dengan dukungan berbagai faksi pemberontak Uganda serta keterlibatan intervensi asing seperti Libya dan PLO, perang ini berakhir dengan runtuhnya rezim Idi Amin pada tahun 1979, sekaligus meninggalkan dampak politik dan ekonomi yang sangat mendalam bagi kedua negara.
MEMBURUKNYA HUBUNGAN UGANDA–TANZANIA
Pada tahun 1971, Kolonel Idi Amin mengambil alih kekuasaan menyusul kudeta militer yang menggulingkan Presiden Uganda, Milton Obote. Aksi ini menjadi pemicu utama memburuknya hubungan dengan negara tetangga, Tanzania. Pengambilalihan kekuasaan tersebut dicapai dengan dukungan sekelompok kecil perwira tentara berpangkat rendah—sebagian besar berasal dari etnis Nubia atau kawasan Nil Barat—yang merasa posisi mereka terancam oleh rumor rencana penangkapan Amin oleh Obote. Presiden Tanzania, Julius Nyerere, memiliki hubungan erat dengan Obote dan mendukung haluan sosialismenya. Amin kemudian menobatkan dirinya sebagai Presiden Uganda, mendeklarasikan “Republik Uganda Kedua”, dan memimpin negara tersebut di bawah kediktatoran yang sangat represif dan brutal. Diperkirakan antara 100.000 hingga 300.000 warga Uganda dibantai oleh rezimnya sebelum perang pecah. Eskalasi kekerasan internal ini dengan cepat menjalar menjadi krisis diplomatik kawasan yang melintasi perbatasan negara tetangga. Perselisihan ideologis dan personal antara Nyerere dan Amin memperkeruh suasana secara berkepanjangan. Nyerere secara terbuka memandang Amin sebagai diktator represif dan pembunuh yang tidak bermoral. Sementara itu, Amin menuduh Nyerere secara aktif melindungi dan memfasilitasi musuh-musuh politiknya di tanah Tanzania. Nyerere secara tegas menahan pengakuan diplomatik atas pemerintah baru tersebut. Sebagai langkah nyata perlawanan, ia memilih menawarkan suaka resmi kepada Obote serta para pendukungnya yang melarikan diri dari pembantaian di Kampala.
Ketika Amin melancarkan pembersihan massal terhadap musuh-musuhnya di Uganda yang menewaskan 30.000 hingga 50.000 warga pada tahap awal kekuasaannya—termasuk pembantaian sekitar 5.000 prajurit beretnis Acholi dan Langi di barak-barak militer seperti Mbarara, Jinja, dan Moroto, serta pembunuhan Kepala Staf Suleiman Hussein—Obote segera bergabung dengan ribuan pembangkang dan tokoh oposisi lainnya. Dengan persetujuan Nyerere, para eksil Uganda ini mengorganisir tentara gerilya kecil dan mencoba menginvasi Uganda untuk menyingkirkan Amin pada tahun 1972, tetapi upaya tersebut mengalami kegagalan. Kegagalan operasi tersebut memaksa para milisi pemberontak menarik diri kembali ke wilayah Tanzania. Kondisi perbatasan semakin tidak stabil seiring berlanjutnya aksi saling tuduh antara Kampala dan Dar es Salaam. Ketegangan militer ini pun memaksa keterlibatan pihak ketiga untuk mencegah meletusnya perang terbuka yang lebih luas saat itu.
Menurut para sejarawan, invasi tahun 1972 yang diorganisir Obote tersebut bergerak melalui dua poros (axes): Poros Kyotera–Masaka–Kampala yang dipercayakan kepada milisi Kikosi Maalum milik Obote, serta Poros Barat (Mbarara–Fort Portal) yang dipercayakan kepada Front for National Salvation (FRONASA) pimpinan Yoweri Museveni dari pangkalan mereka di Bukoba. Invasi ini gagal total karena perencanaannya yang buruk dan berhasil dihancurkan oleh Batalyon Simba pimpinan Ali Fadhul bersama bantuan sekutu asal Libya. Akibatnya, pemerintah Tanzania sempat diminta menghentikan bantuan militer terbuka kepada para eksil Uganda. Amin menyalahkan Nyerere karena mendukung serta memenjatai musuh-musuhnya, lalu membalas dengan mengebom kota-kota di perbatasan Tanzania. Meskipun para komandannya mendesak untuk membalas dengan cara serupa, Nyerere menyetujui mediasi yang diawasi oleh Presiden Somalia, Siad Barre. Mediasi ini menghasilkan penandatanganan Perjanjian Mogadishu. Kesepakatan tersebut menetapkan bahwa pasukan Uganda dan Tanzania harus mundur ke posisi setidaknya 10 kilometer (6,2 mil) dari perbatasan, serta menahan diri dari mendukung pasukan oposisi yang menargetkan pemerintah satu sama lain.
Meskipun demikian, hubungan antara kedua presiden tetap tegang; Nyerere sering mengecam rezim Amin, dan Amin mengancam akan menginvasi Tanzania secara berulang kali. Benturan kepribadian kedua pemimpin juga mencerminkan persepsi maskulinitas militer (martial masculinities) yang berlawanan. Nyerere mengejawantahkan kepemimpinan sipil-sosialis yang intelektual, sementara Amin—mantan perwira King’s African Rifles (KAR) dan juara tinju kelas berat—menampilkan maskulinitas militer terbuka dengan seragam dinas penuh medali, bualan politik, dan gaya kepemimpinan otoriter. Kontrasnya kedua kepribadian ini membuat media Barat sering memosisikan keduanya dalam arketipe dikotomi antara kepemimpinan sipil yang idealistis versus kepemimpinan militer yang brutal. Perbedaan gaya kepemimpinan ini turut memengaruhi cara masing-masing pemimpin memobilisasi dukungan publik dan mengelola angkatan bersenjata mereka.
Pada saat yang sama, hubungan antara Tanzania dan Kenya memburuk. Sejak meraih kemerdekaan pada awal 1960-an, persaingan dingin, perpecahan, dan rasa cemburu mewarnai hubungan diplomatik antara Dar es Salaam dan Nairobi, hingga akhirnya Komunitas Afrika Timur (East African Community) runtuh pada tahun 1977. Keretakan ini berdampak serius pada komunikasi antarpemimpin; Presiden Julius Nyerere dan Presiden Kenya Daniel Arap Moi bahkan berada dalam kondisi tidak saling menyapa dan tidak dapat menelepon satu sama lain secara langsung untuk mendiskusikan situasi kawasan. Keregangan ini terlihat makin jelas selama invasi Tanzania ke Uganda nantinya, di mana pemerintah Moi di Kenya secara terbuka menentang perang di Uganda tersebut. Runtuhnya kerja sama regional ini memperumit koordinasi keamanan di Afrika Timur secara keseluruhan.
Uganda juga bersengketa perbatasan dengan Tanzania, mengklaim bahwa kantong Kagera—sebidang tanah seluas 720 mil persegi (1.900 km²) antara perbatasan resmi dan Sungai Kagera sejauh 18 mil (29 km) ke selatan—harus ditempatkan di bawah yurisdiksinya. Uganda berargumen bahwa Sungai Kagera merupakan batas alamiah yang jauh lebih logis dibanding garis perbatasan era kolonial yang awalnya dirundingkan oleh pejabat Inggris dan Jerman sebelum Perang Dunia I. Klaim historis dan geografis ini terus dihembuskan oleh rezim Amin sebagai bahan propaganda nasional. Pemerintah Tanzania menolak mentah-mentah klaim tersebut karena menganggap batas kolonial yang ada sudah sah secara hukum internasional. Sengketa lahan ini menjadi bom waktu yang siap meledak setiap kali timbul krisis domestik di Uganda.
KETIDAKSTABILAN DI UGANDA
Sementara itu di Uganda, Amin mengumumkan “perang ekonomi” di mana ribuan warga minoritas Asia diusir dari negara tersebut pada tahun 1972. Bisnis mereka kemudian ditempatkan di bawah pengelolaan warga Afrika, terutama diserahkan kepada para prajurit militer sebagai imbalan atas loyalitas mereka. Reformasi tersebut berdampak bencana bagi perekonomian, yang diperparah oleh pemboikotan kopi Uganda oleh Amerika Serikat akibat kegagalan pemerintah menghormati hak asasi manusia. Kebijakan rasial dan ekonomi ini memicu kelangkaan barang pokok serta inflasi liar di seluruh pelosok negeri. Krisis ekonomi yang mendalam merusak tatanan sosial masyarakat dan memperlemah legitimasi rezim di mata rakyat. Untuk mempertahankan kekuasaannya yang kian goyah, Amin terpaksa bergantung sepenuhnya pada dukungan kekuatan militer.
Pada saat yang sama, Amin memperluas kekuasaan angkatan bersenjata dalam pemerintahannya melalui “sistem patronase” dan kepemimpinan Dewan Pertahanan (Defence Council). Ia menempatkan banyak tentara di kabinetnya dan memberikan patronase luar biasa kepada mereka yang setia kepadanya, termasuk fasilitas penerbangan belanja barang mewah (whisky run) dari London ke Entebbe. Sebagian besar penerima manfaat dari tindakannya adalah warga utara beragama Islam serta suku-suku dari Distrik Nil Barat (seperti Kakwa, Nubian, Madi, Lugbara, dan Alur), ditambah rekrutan asing dari Sudan (mantan pemberontak Anyanya) dan Zaire (mantan pemberontak Simba) yang direkrut sebagai tentara bayaran de facto. Perubahan komposisi ini membuat rakyat Uganda semakin memandang militer sebagai pasukan “asing” (Omusilikale wa Amin). Perekrutan tentara asing ini dilakukan guna menutupi kekosongan prajurit pribumi yang telah menjadi korban pembersihan.
Amin secara kejam membersihkan kelompok etnis selatan dari angkatan bersenjata dan mengeksekusi lawan-lawan politiknya. Sebelum pembersihan etnis dan krisis internal ini melumpuhkan angkatan bersenjatanya, unit-unit tank Uganda (bersama Somalia) sempat diakui sebagai salah satu yang terbaik di Afrika Sub-Sahara. Selain itu, Angkatan Bersenjata Udara Uganda (UAAF) memiliki beberapa skuadron jet tempur MiG-21 buatan Soviet yang sangat disegani di kawasan. Namun, Amin bertindak paranoid dan mengeksekusi banyak perwira berbakat berdasarkan latar belakang etnis (seperti etnis Lango, Acholi, dan Lugbara), termasuk Komandan Tank Kolonel Ocima (asal Lugbara / Letnan Kolonel Valentine Ochima) yang dikenal sebagai salah satu komandan tank terbaik di Afrika Sub-Sahara. Seiring waktu, pembersihan bergeser ke suku Alur, Madi, dan Lugbara (seperti pasca-pemberontakan Brigadir Charles Arube pada tahun 1974 dan pemberontakan Batalyon Suicide di Mbarara), hingga menyisakan inti yang terdiri dari suku Kakwa-Nubi-Anyanya sebagai pemegang kendali utama militer. Tindakan pembantaian internal ini meluluhlantakkan struktur profesionalisme militer yang sebelumnya terbina dengan baik.
Pada tahun-tahun berikutnya, Amin selamat dari beberapa percobaan pembunuhan (seperti Operasi Mafuta Mingi pada Juni 1977 oleh Batalyon Malire dan personel angkatan udara). Pengalaman ini membuatnya semakin tidak percaya dan berulang kali membersihkan jajaran senior militer Uganda. Struktur komando menjadi sangat acak dan terfragmentasi; gelar pangkat kehilangan makna formal karena perwira junior yang disukai Amin bisa memerintah atasan mereka, sementara ketidakdisiplinan, korupsi, dan aksi kriminal prajurit meluas di seluruh negeri. Kekacauan hierarki ini memicu aksi penjarahan dan kekerasan liar oleh para prajurit terhadap warga sipil secara merajalela. Ketakutan akan kudeta internal membuat Amin secara konsisten memindahkan dan mengeksekusi para pejabat tinggi militer secara berkala. Pada akhirnya, soliditas angkatan bersenjata hancur dari dalam sebelum pertempuran dengan musuh luar dimulai.
Pada tahun 1977, keretakan di dalam Angkatan Bersenjata Uganda berkembang antara pendukung Amin dan prajurit yang setia kepada wakil presiden Uganda, Mustafa Adrisi. Adrisi memegang kekuasaan signifikan dalam pemerintahan dan ingin mengusir warga asing (khususnya prajurit Sudan) dari militer agar angkatan darat diisi oleh warga Uganda utara asli. Pada April 1978, Adrisi terluka parah dalam kecelakaan mobil yang mencurigakan (diduga upaya pembunuhan). Ketika ia diterbangkan ke luar negeri untuk pengobatan, Amin mencopot portofolio kementeriannya. Ia juga mengumumkan penangkapan beberapa pejabat polisi, serta selama bulan berikutnya memecat dan membersihkan hampir 3.000 menteri dan perwira militer loyalis Adrisi (termasuk Kepala Staf Isaac Lumago, Moses Ali, Juma Oris, dan Nasur Ezega). Kejadian ini memperdalam faksionalisme dan kebencian antar-unit di dalam barak militer Uganda.
Perombakan tersebut meregangkan basis kekuasaan Amin yang sudah sempit di militer. Kondisi ini diperparah oleh memburuknya situasi ekonomi yang menghilangkan peluang patronase. Untuk menggantikan porsi pasukan yang dibersihkan, Amin mengumumkan perekrutan 10.000 tentara baru (sebagian besar warga asing dan pemuda/anak-anak Uganda yang diwajibkan secara paksa), yang memicu pembangkangan di berbagai barak (seperti tuntutan 12 poin perwira komando selatan dan barat di Kabamba pada Oktober 1978). Karena mengkhawatirkan keselamatan pribadinya dan kurang percaya diri pada kemampuan karismatiknya untuk meredakan ketegangan yang meningkat, Amin mulai menarik diri dari ruang publik dan membatasi kunjungan dengan pasukannya. Pada saat yang hampir bersamaan, ia mulai menuduh Tanzania melanggar perbatasan Uganda. Tudingan ke luar negeri ini sengaja dibuat guna menciptakan musuh bersama demi menyatukan kembali tentaranya yang terpecah.
PERBANDINGAN KEKUATAN MILITER UGANDA DAN TANZANIA SEBELUM PERANG
Sebelum meletusnya perang terbuka pada Oktober 1978, kedua negara memiliki struktur, doktrin, persenjataan, serta kondisi internal militer yang sangat bertolak belakang.
Tentara Uganda (Uganda Army / UA)
Secara keseluruhan, kekuatan militer Uganda diperkirakan berjumlah 20.000 hingga 21.000 personel, meskipun beberapa estimasi berkisar antara 10.000 hingga 27.000, bahkan hingga jumlah 40.000 melalui pendaftaran masif. Namun, menjelang perang 1978/79, akibat pembersihan etnis yang berulang serta pembelotan luas, hanya sekitar 3.000 prajurit Uganda yang benar-benar siap dikirim ke garis depan pada satu waktu. Sekitar 10.000 pasukan baru yang direkrut menjelang perang memiliki sedikit pelatihan dan tidak mampu mengambil bagian dalam pertempuran nyata. Kondisi ini membuat angka di atas kertas tidak mencerminkan efektivitas tempur riil di lapangan. Ketimpangan kualitas ini menjadi celah fatal yang terungkap saat konfrontasi bersenjata pecah.
Dari segi komposisi etnis dan keterlibatan tentara bayaran, militer Uganda tidak lagi mencerminkan tentara nasional konvensional. Pasukan didominasi oleh etnis dari Distrik Nil Barat (Kakwa, Nubia, Madi, Lugbara, Alur) serta rekrutan/tentara bayaran asing dari Sudan (mantan pemberontak Anyanya) dan Zaire (mantan pemberontak Simba). Diperkirakan sepertiga hingga tiga perempat dari militer Uganda terdiri dari unsur-unsur asing. Keberadaan porsi pasukan asing yang dominan ini menurunkan ikatan batin militer terhadap perlindungan rakyat Uganda. Hal ini juga memicu keretakan sosial antara prajurit pribumi dan tentara bayaran asing di dalam tubuh militer itu sendiri.
Mengenai persenjataan darat, Tentara Uganda diakui sebagai salah satu kekuatan paling termekanisasi di kawasan Afrika Sub-Sahara saat itu. Persenjataannya sebagian besar berasal dari Soviet, Libya, dan impor masa pra-kudeta. Senapan standar yang digunakan prajurit adalah Heckler & Koch G3. Armada tank Uganda mencakup 10–16 unit T-34/85, 15–16 unit T-54/T-55, serta 10–12 unit M4A1(76) Sherman. Lini kendaraan lapis baja & APC diperkuat oleh 250 mobil lapis baja Alvis Saracen, Ferret, Alvis Saladin, 12–62 unit OT-64B SKOT, serta BRDM, BTR-40, dan BTR-152. Unsur artileri didukung oleh meriam caliber 76 mm dan 122 mm, mortir caliber 82 mm dan 120 mm, rudal anti-tank Sagger, serta 50 pucuk kanon anti-pesawat caliber 40 mm.
Kekuatan Angkatan Udara Uganda (Uganda Army Air Force / UAAF) didirikan pada tahun 1964 dengan bantuan Israel, di mana pesawat pertamanya berasal dari Israel dan pilot awalnya dilatih di sana. Seiring terjalinnya hubungan dengan Blok Timur, UAAF memperoleh pasokan jet serta dukungan pelatihan dari Uni Soviet, Cekoslovakia, dan Libya, sembari membangun beberapa pangkalan udara. Pasca-kudeta 1971, UAAF merosot akibat isolasi internasional. Israel berubah dari sekutu menjadi musuh, dan pasokan pesawat serta suku cadang dari Uni Soviet dan Cekoslovakia secara bertahap terputus akibat buruknya hubungan diplomasi, sehingga memicu krisis perawatan jet tempur. Korupsi, kesukuan, dan pembersihan berulang juga memperlemah kemampuan tempurnya. Sebelum Operasi Entebbe yang diprakarsai Israel pada tahun 1976 menghancurkan seperempat dari UAAF, angkatan udara ini memiliki sekitar 65 pesawat dan merupakan salah satu yang paling disegani di kawasan. Rezim Amin kemudian menerima pengganti berupa sejumlah besar jet tempur MiG-21 dari Uni Soviet dan Libya.
Menjelang akhir tahun 1978, UAAF dipimpin oleh Letnan Kolonel Christopher Gore. Jumlah pasti pesawat tempur Uganda pada saat perang pecah diperdebatkan: jurnalis Martha Honey memperkirakan 26 pesawat tempur; J. Paxton mencatat Uganda memiliki 10 MiG-21, 12 MiG-17, 2 MiG-15, dan 5 L-29; jurnalis Dominique Lagarde menyatakan UAAF memiliki 12 MiG-21, 10 MiG-17, 2 MiG-15, dan 12 L-29; sedangkan Duta Besar Uni Soviet mengklaim Uganda hanya memiliki 10 MiG dan 8 helikopter. Secara keseluruhan UAAF masih memiliki setidaknya dua lusin jet tempur dan latih seperti MiG-21MF, MiG-21UM, MiG-17, MiG-15UTI, dan L-29, serta didukung pesawat latih/angkut tak bersenjata termasuk 1 unit pesawat kargo Lockheed C-130 Hercules.
UAAF terbagi menjadi 3 skuadron tempur: Letnan Kolonel Andrew Mukooza memimpin skuadron MiG-17, sementara Letnan Kolonel Ali Kiiza memimpin skuadron MiG-21 yang dijuluki “Suicide Strike Command” atau “Sungura“. Mengenai personel, Paxton menyebut UAAF memiliki 600 personel, sementara Lagarde mengklaim 1.000 personel; namun UAAF secara umum mengalami kekurangan pilot serius di awal perang. Selain itu, Uganda diperkuat 50 meriam anti-pesawat laiber 40mm, sistem MANPADS (senjata pertahanan udara portable), dan 9 stasiun radar. Beberapa pilot Suicide Strike Command kemungkinan merupakan warga Palestina yang dilatih Libya (PLO juga melatih pilotnya sendiri di Uganda), didukung teknisi/personel angkatan udara Pakistan serta personel Uni Soviet yang kemudian diliburkan pada tanggal 30 Oktober 1978 agar tidak terlibat. Anggota kelompok pemberontak Save Uganda Movement (SUM) yang menyusup ke UAAF juga dilaporkan melancarkan sabotase dari dalam. Sebagian pesawat tidak siap tempur dan ditelantarkan tanpa pernah terbang karena kelangkaan suku cadang yang terutama berdampak berat pada unit MiG-15 dan MiG-17.
Di sisi kondisi internal & moril, Tentara Uganda menderita keretakan faksional, kekacauan organisasi, ketidakdisiplinan yang ekstrem, korupsi, serta krisis suku cadang akibat isolasi internasional. Rantai komando formal runtuh karena perwira dipromosikan berdasarkan loyalitas etnis dan personal kepada Amin alih-alih kualifikasi militer. Disiplin pertempuran hancur akibat gaya hidup konsumtif dan keterlibatan perwira dalam kegiatan kriminal. Kebanyakan prajurit lebih berfokus pada upaya mengamankan kekayaan pribadi ketimbang menjalankan misi pertahanan negara. Faktor kemerosotan moral internal ini menghancurkan efektivitas tempur persenjataan canggih yang mereka miliki.
Pasukan Pertahanan Rakyat Tanzania (Tanzania People’s Defence Force / TPDF)
Sebelum perang meletus, Pasukan Pertahanan Rakyat Tanzania (TPDF) dibangun sebagai tentara profesional berskala kecil dengan kekuatan rutin di bawah 40.000 personel. Organisasi awalnya terdiri dari empat brigade utama yang tersebar di berbagai wilayah strategis. Militer ini didirikan sebagai “tentara rakyat” yang berakar kuat pada ideologi sosialisme Ujamaa dan partai TANU pasca-pembubaran Tanganyika Rifles pada tahun 1964. Doktrin utama TPDF sangat menekankan integritas, loyalitas ideologis pada negara, serta hubungan emosional yang erat dengan masyarakat sipil. Struktur ini dirancang secara sistematis untuk pertahanan wilayah nasional melalui komitmen doktrin pertahanan rakyat semesta. Landasan filosofis kerakyatan ini berhasil menciptakan disiplin yang tinggi dan moril prajurit yang solid di medan tempur.
Organisasi dan tampilan lapangan prajurit TPDF dirancang secara terstandarisasi demi menjamin kenyamanan serta efisiensi operasi militer. Mayoritas prajurit mengenakan seragam motif kamuflase DPM (Disruptive Pattern Material) bergaya Kanada buatan lokal, dengan pilihan penutup kepala yang bervariasi antara helm baja (M1 Amerika, wz.64 Polandia, M51/72 Bulgaria), topi rimba/kain DPM, baret hijau tua, atau topi lapangan, serta membawa peralatan tempur menggunakan kopel sabuk 1958 Pattern buatan Inggris. Identitas dan hierarki militer ditegaskan melalui ban lengan (brassard) DPM atau hijau zaitun, lipatan pundak (shoulder slide) hijau bertuliskan “JWTZ” (Jeshi la Wananchi wa Tanzania), serta krah (collar tab) merah untuk perwira tinggi setingkat Kolonel dan Jenderal. Selain itu, alutsista berat seperti tank dan APC diberi tanda pengenal lapangan khusus berupa bulatan atau cakram putih besar (white disc) yang dicat pada bagian depan, samping kubah, dan belakang kendaraan. Standarisasi visual dan identitas kendaraan ini sangat membantu koordinasi dan mencegah insiden salah tembak antarsatuan di lapangan.
Persenjataan darat TPDF mengandalkan kombinasi peralatan militer yang didapatkan dari negara-negara Blok Timur dan China. Senapan standar perorangan prajurit terdiri dari senapan serbu seri AK buatan Soviet, senapan SKS, senapan mesin ringan RPK, peluncur roket RPG-7, serta beberapa senapan FAL Belgia. Armada lapis baja TPDF diperkuat oleh tank medium Type 59 dan tank ringan Type 62 buatan China, serta kendaraan pengangkut personel lapis baja (APC) Type 63. Sementara itu, unsur artileri yang menjadi unggulan didukung penuh oleh pengerahan peluncur roket multi-laras BM-21 Grad kaliber 122 mm. Senjata artileri roket ini sangat ditakuti oleh pasukan Uganda karena efek destruktifnya yang luar biasa, hingga mereka menjulukinya sebagai “Saba-Saba“.
Di sektor udara, Tanzania mendirikan angkatan udaranya sebagai “Sayap Udara” (Air Wing / Bahasa Swahili: Usafirashaji wa Anga) di bawah Komando Pertahanan Udara TPDF pada tahun 1965. Berakar pada kebijakan internasional non-blok, Tanzania memperoleh pesawat dan instruktur dari berbagai negara, terutama China, Kanada, dan Uni Soviet. Pada tahun 1978, Komando Pertahanan Udara mempekerjakan sekitar 1.000 personel. Armada Sayap Udara Tanzania memiliki kekuatan udara yang signifikan mencakup 14 MiG-21MF, 2 MiG-21UM, 22 Shenyang J-5 (F-5), 12 Shenyang J-6 (F-6), serta beberapa pesawat angkut dan latih. Pertahanan udaranya juga didukung oleh sistem rudal permukaan-ke-udara SA-3, MANPADS SA-7, meriam anti-pesawat 14.5mm dan 36mm/37mm, serta peralatan pendukung darat termasuk radar peringatan dini. Air Wing diorganisir menjadi tiga Kikosi cha Jeshi (Brigade KJ): 601 KJ untuk pesawat dan helikopter (skuadron tempur 601 KJ berbasis di Pangkalan Udara Mwanza untuk MiG-21 dan Ngerengere untuk F-5 dan F-6), 602 KJ untuk dukungan teknis, dan 603 KJ untuk pertahanan udara.
Terkait kesiapan di garis perbatasan, sebelum invasi Uganda meletus, TPDF berada dalam posisi yang tidak siap di wilayah utara. Kondisi ini disebabkan oleh sikap kepemimpinan senior yang sempat mengabaikan laporan intelijen awal karena meyakini Amin tidak mungkin menyerang di tengah krisis internalnya yang parah. Selain itu, pengerahan pasukan terhalang oleh ketentuan zona demiliterisasi setebal 10 kilometer yang ditetapkan dalam Perjanjian Mogadishu. Akibatnya, satu-satunya unit yang bertugas menjaga area di sepanjang perbatasan Uganda hanyalah Brigade ke-202 yang berbasis di Tabora bersama Batalyon ke-3 yang kekurangan personel. Ketiadaan benteng pertahanan permanen di garis perbatasan ini memudahkan infiltrasi awal yang dilakukan oleh pasukan Uganda saat agresi dimulai.
JALANNYA PERANG
Perang pecah antara Uganda dan Tanzania pada bulan Oktober 1978, dengan beberapa serangan Uganda melintasi perbatasan yang berpuncak pada invasi ke kantong Kagera. Para analis militer mengklasifikasikan pemicu perang ini ke dalam faktor penyebab (sengketa wilayah, krisis ekonomi Uganda, dan keretakan ideologis) serta pemicu langsung di lapangan. Keadaan yang menyertai pecahnya perang tidak jelas, dan terdapat banyak penuturan peristiwa yang berbeda dari para veteran militer kedua belah pihak. Eskalasi bentrokan perbatasan secara cepat memicu keputusan aksi militer langsung skala besar. Konfrontasi bersenjata ini menandai dimulainya konflik terbuka berdarah di wilayah Afrika Timur.
Obote menulis bahwa keputusan untuk menginvasi Kagera adalah “langkah putus asa untuk melepaskan Amin dari konsekuensi kegagalan plotnya sendiri melawan tentaranya sendiri.” Beberapa prajurit Angkatan Bersenjata Uganda menyalahkan Letnan Kolonel Juma Butabika (Komandan Batalyon Suicide) sebagai pemicu utama perang. Kolonel Abdu Kisuule (Komandan Resimen Artileri & Sinyal Masindi) menuduh Butabika merekayasa insiden di perbatasan untuk menciptakan dalih menginvasi Tanzania. Kesaksian veteran Uganda mengonfirmasi bahwa setelah percekcokan di bar perbatasan antara prajurit Uganda yang mabuk dan pihak Tanzania, Butabika secara sepihak memerintahkan serangan tanpa persetujuan awal dari Idi Amin. Komandan Uganda Bernard Rwehururu (Komandan Batalyon Suicide) menambahkan bahwa Butabika membohongi Amin dengan melaporkan bahwa pasukannya sedang memukul mundur “invasi balik” dari Tanzania. Menurut putra Amin, Jaffar Remo, rumor tentang potensi invasi Tanzania mengarahkan anggota komando tinggi Uganda untuk menyerukan serangan pencegahan terhadap Tanzania, dan Amin pada akhirnya menggunakan invasi ini sebagai alat propaganda untuk mengalihkan perhatian dari pemberontak internalnya dan mempersatukan pasukannya demi menjaga gengsi politik di tengah krisis internal. Militer Tanzania kemudian berargumen bahwa tujuan akhir Amin adalah menganeksasi bagian besar Tanzania utara, termasuk kota Tanga, guna mendapatkan akses ke laut untuk tujuan perdagangan. Jurnalis Uganda Faustin Mugabe tidak menemukan bukti untuk teori ini dalam sumber-sumber Uganda.
Beberapa perwira Angkatan Bersenjata Uganda lainnya memberikan penjelasan yang lebih lumrah mengenai invasi tersebut, di mana konflik terisolasi di sepanjang perbatasan memicu spiral kekerasan yang berpuncak pada perang terbuka. Di antara insiden yang diidentifikasi sebagai titik awal yang mungkin adalah kasus pencurian ternak, ketegangan suku, perkelahian antara seorang wanita Uganda dan wanita Tanzania di pasar, serta perkelahian di bar antara seorang prajurit Uganda dan prajurit atau warga sipil Tanzania. Berbagai konflik kecil di tingkat lokal ini terakumulasi tanpa adanya komunikasi diplomatik yang efektif antara kedua pemerintah. Ketiadaan mekanisme peredam krisis di perbatasan membuat insiden sepele cepat membesar menjadi konfrontasi militer. Akibatnya, bentrokan bersenjata lokal berkembang menjadi invasi penuh yang sulit dikendalikan.
Dinamika bentrokan di perbatasan meningkat secara tajam sejak pertengahan Oktober 1978. Pada 12 Oktober, Pemerintah Uganda mengklaim bahwa satu batalyon pasukan Tanzania telah menyeberang dan bertempur di dekat Mbarara—sebuah tuduhan yang langsung dibantah tegas oleh pemerintah Tanzania yang menyebutnya sebagai dalih klasik Amin saat menghadapi masalah internal. Kendati Tanzania berusaha mengecilkan insiden perbatasan demi tidak mengalihkan perhatian dari isu pembebasan Afrika Selatan, pada atau sekitar 13 Oktober, pesawat udara Uganda melancarkan pengeboman ke desa-desa dan jalanan di sekitar Bukoba. Pada 22 Oktober, Amin mengumumkan penarikan “pasukan invasi” Tanzania yang fiktif tersebut, namun pada 26 dan 28 Oktober, jet Uganda kembali membombardir Bukoba. Pada 27 Oktober, Uganda kembali mengklaim diinvasi oleh Tanzania—kali ini bahkan menuduh keterlibatan pasukan Kuba. Laporan siaran Radio Uganda yang kontradiktif dan berulang-ulang tersebut dinilai para pengamat independen serta media Daily Nation Kenya sebagai cara untuk menutupi pemberontakan internal di militer Uganda, di mana 150 prajurit Uganda dilaporkan telah dieksekusi mati karena memberontak (mutiny).
Beberapa prajurit Uganda yang mendukung teori perkelahian bar tidak sepakat mengenai keadaan pasti konfrontasi tersebut, tetapi sepakat bahwa insiden itu terjadi pada 9 Oktober di sebuah tempat di Tanzania. Mereka juga sepakat bahwa setelah Butabika diberi tahu tentang percekcokan itu, ia secara sepihak memerintahkan unitnya, Batalyon Suicide, untuk menyerang Tanzania sebagai aksi balasan. Para prajurit menyatakan bahwa Amin tidak diberi tahu tentang keputusan ini sampai kemudian dan hanya mengikutinya untuk menjaga gengsi. Seorang komandan Uganda, Bernard Rwehururu, menyatakan bahwa Butabika berbohong kepada Amin tentang alasannya menyerang Kagera, dengan mengklaim bahwa ia sedang memukul mundur invasi Tanzania. Menurut jurnalis Amerika Tony Avirgan dan Martha Honey, insiden bar terjadi pada 22 Oktober, ketika seorang petugas intelijen Uganda yang mabuk ditembak mati oleh prajurit Tanzania setelah menembaki mereka. Malam itu Radio Uganda mengumumkan bahwa pihak Tanzania telah menculik seorang prajurit Uganda, dan melaporkan bahwa Amin mengancam akan melakukan “sesuatu” jika ia tidak dikembalikan.
Teori lain menggambarkan invasi tersebut sebagai hasil dari pasukan Uganda yang mengejar pemberontak melintasi perbatasan Tanzania. Ada beberapa variasi berbeda dari narasi ini, yang sebagian besar disebarkan oleh sumber-sumber non-Uganda. Diplomat Uganda Paul Etiang dan manajer direktur lokal untuk Royal Dutch Shell melaporkan bahwa prajurit dari Batalyon Simba telah menembak rekrutan baru asal Sudan dan ketika pasukan Uganda lainnya dikirim untuk menahan mereka, mereka melarikan diri melintasi perbatasan pada 30 Oktober. Versi lain mengaitkan pemberontakan tersebut pada elemen Batalyon Chui atau Batalyon Suicide. Pengamat politik Okon Eminue menyatakan bahwa sekitar 200 pemberontak dilaporkan berlindung di kantong Kagera. Menurut versi kejadian ini, Amin memerintahkan Batalyon Simba dan Batalyon Suicide untuk mengejar para pembangkang tersebut, di mana mereka kemudian menginvasi Tanzania. Seorang prajurit Uganda yang diwawancarai oleh majalah Drum mengklaim bahwa tindakan awal invasi tersebut sebenarnya adalah pertempuran tiga arah antara prajurit Angkatan Bersenjata Uganda yang loyalis, pembangkang Uganda, dan penjaga perbatasan Tanzania, dengan sebagian besar pembangkang dan sejumlah warga Tanzania tewas. Beberapa pemberontak yang selamat dilaporkan menemukan tempat berlindung di desa-desa Tanzania. Peneliti Andrew Mambo dan Julian Schofield menyampingkan teori ini karena tidak mungkin, mencatat bahwa batalyon yang dikatakan telah memberontak tetap relatif setia pada tujuan Amin sepanjang perang, dan sebaliknya mendukung gagasan bahwa Butabika membesar-besarkan perselisihan di perbatasan menjadi sebuah invasi.
Disisi lain, Pasukan Pertahanan Rakyat Tanzania (TPDF) hanya menerima informasi intelijen yang sangat terbatas tentang kemungkinan invasi Uganda, dan tidak siap menghadapi kemungkinan ini. Sumber-sumber di Mwanza dan Dar es Salaam mengonfirmasi bahwa pemerintah Tanzania sebenarnya sempat menerima laporan intelijen awal terkait pergerakan pasukan Uganda, namun kepemimpinan Tanzania dan senior TPDF secara politik mengabaikan laporan tersebut karena meyakini Amin tidak akan mungkin menyerang Tanzania di tengah krisis politik, ekonomi, dan militer internalnya yang parah. Bahkan di luar zona demiliterisasi yang ditetapkan oleh Perjanjian Mogadishu, hampir tidak ada pertahanan. Tanzania memiliki hubungan yang tegang dengan Zaire, Kenya, dan Malawi, dan satu-satunya pasukan yang mempertahankan area di sepanjang perbatasan Uganda adalah Brigade ke-202 yang berbasis di Tabora. Di dekat perbatasan terdapat Batalyon ke-3 yang kekurangan personel. Pada awal September, pihak Tanzania melaporkan jumlah patroli Uganda yang tidak biasa di dekat perbatasan—beberapa dilengkapi dengan kendaraan pengangkut personel berlapis baja—dan volume penerbangan pengintaian udara yang tinggi. Pada pertengahan bulan, pesawat Uganda mulai melintasi ruang udara Tanzania. Perwira komando lokal melaporkan aktivitas tidak biasa ini ke markas besar brigade di Tabora, dan diyakinkan bahwa senjata anti-pesawat akan dikirimkan kepadanya. Senjata-senjata ini tidak pernah tiba, dan pada bulan Oktober peringatan perwira tersebut menjadi semakin panik.
TINDAKAN AWAL
Pada pertengahan hari 9 Oktober, pasukan Uganda melakukan penyusupan pertama mereka ke Tanzania ketika sebuah detasemen bermotor bergerak ke Kakunyu dan membakar dua rumah. Artileri Tanzania membalas, menghancurkan kendaraan pembawa personel lapis baja Uganda dan sebuah truk, serta menewaskan dua prajurit. Artileri Uganda membalas tembakan tetapi tidak menyebabkan kerusakan. Di malam hari Radio Uganda melaporkan bahwa invasi Tanzania telah dipukul mundur. Penyerangan skala kecil ini membuka babak baru eskalasi militer langsung di perbatasan kedua negara. Hari berikutnya, jet tempur MiG Uganda mengebom hutan-hutan Tanzania untuk menekan posisi musuh. Artileri Uganda secara terus-menerus membombardir wilayah Tanzania guna memprovokasi pertahanan lawan. Merespons ancaman tersebut, pada 14 Oktober pihak Tanzania mengoperasikan mortir mereka, dan senjata Uganda berhenti menembak. Selama beberapa hari berikutnya, kedua pihak saling menukar tembakan artileri, bertahap meluas ke seluruh perbatasan. Pemimpin Tanzania merasa Amin hanya membuat provokasi sengaja untuk memancing reaksi perang skala besar.
Pada 18 Oktober, MiG Uganda mengebom Bukoba, ibu kota Wilayah Danau Barat. Meskipun tembakan anti-pesawat Tanzania tidak efektif, pengeboman tersebut menyebabkan sedikit kerusakan. Namun, getaran ledakan memecahkan jendela dan memicu kepanikan warga. Berbeda dengan sikap diam Tanzania, Radio Uganda melaporkan “invasi” Tanzania ke wilayah Uganda dengan cerita tentang pertempuran fiktif, dan merinci bahwa pasukan Tanzania telah maju 15 kilometer (9,3 mil) ke Uganda, membunuh warga sipil dan menghancurkan properti. Serangan udara ini semakin memperkeruh ketakutan warga sipil di sepanjang wilayah perbatasan. Amin memberi tahu warga di Mutukula bahwa terlepas dari “serangan” tersebut, ia masih berharap untuk hubungan yang baik dengan Tanzania. Pada saat yang sama, siaran bahasa Kinyankole Radio Uganda—yang dipantau ketat dan dipahami oleh warga Danau Barat—secara sengit mengritik Nyerere dan mengklaim bahwa warga Tanzania ingin berada di bawah yurisdiksi Uganda untuk melarikan diri dari pemerintahan Nyerere. Sementara itu, rezim Uganda berada di bawah tekanan internal yang meningkat. Puluhan prajurit dari garnisun Masaka yang dianggap tidak setia dieksekusi, agen pemerintah yang saling bersaing terlibat baku tembak di Kampala, dan lebih banyak agen tewas saat mencoba menangkap mantan menteri keuangan. Keadaan dalam negeri Uganda yang meruncing ini mempercepat dorongan Amin untuk melakukan agresi militer penuh.
SERANGAN UGANDA
Pada fajar tanggal 25 Oktober, pengamat Tanzania yang dilengkapi dengan teleskop menyadari aktivitas kendaraan Uganda dalam jumlah besar di Mutukula. Artileri Uganda kemudian membuka tembakan saat pasukan darat maju. Semua pasukan Tanzania kocar-kacir dan melarikan diri di bawah tembakan kecuali satu peleton yang ditarik mundur dengan cepat. Lebih dari 2.000 prajurit Uganda di bawah komando Letnan Kolonel Marajani, Letnan Kolonel Butabika, dan Kolonel Kisuule menyerang Kagera. Pasukan Uganda dilengkapi dengan tank T-55 dan M4A1 Sherman, bersama dengan kendaraan pembawa personel lapis baja OT-64 SKOT, serta mobil lapis baja Alvis Saladin, dan maju dalam dua kolom di bawah komando langsung Butabika dan Kisuule secara berurutan. Meskipun tidak menemui perlawanan atau hanya mendapat perlawanan ringan, pergerakan Uganda diperlambat oleh medan, karena barisan Butabika terjebak di lumpur dekat Kabwebwe, dan harus menunggu berjam-jam sebelum dapat bergerak lebih jauh. Pihak Tanzania mulai memantau frekuensi radio Uganda, dan berhasil mendengarkan transmisi antara Marajani dan Republic House, markas besar Angkatan Bersenjata Uganda di Kampala. Marajani melaporkan perlawanan berat meskipun fakta menunjukkan semua personel TPDF telah ditarik dari area perbatasan. Pihak Tanzania menempatkan artileri mereka 10 kilometer (6,2 mil) dari pasukan Uganda dan menembakkan beberapa selongsong, menyebabkan mereka mundur melintasi perbatasan. Sepanjang sisa hari itu, MiG Uganda melintasi ruang udara Tanzania, di mana mereka diganggu oleh tembakan anti-pesawat yang tidak berdampak. Setelah dikalahkan, pasukan Uganda menyiapkan serangan baru. Kegagalan awal ini tidak menyurutkan niat kubu Uganda untuk melancarkan penyerbuan susulan.
Pada 27 Oktober 1978, pasukan Uganda melancarkan pemboman lanjutan di Bukoba. Kemudian pada 30–31 Oktober, sekitar 3.000 hingga 3.500 pasukan Uganda yang didukung tank T-55, kendaraan lapis baja, dan artileri menginvasi Kantong Kagera di Tanzania melalui empat rute melewati Kukunga, Masanya, Mutukula, dan Minziro. Diperintah oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Uganda Yusuf Gowon, mereka hanya menghadapi tembakan senapan yang tidak efektif dari beberapa lusin anggota Milisi Rakyat Tanzania. Meskipun perlawanan minimal dari pasukan Tanzania, pasukan Uganda maju dengan hati-hati. Penetrasi masif ini membedah garis pertahanan terdepan Tanzania secara cepat.
Pada 29 Oktober, pasukan invasi Uganda membunuh penjaga perbatasan dan menduduki wilayah teritorial Tanzania di Kantong Kagera—sebuah pencaplokan cepat yang diklaim Amin terlaksana “hanya dalam waktu 25 menit”. Mereka secara perlahan menduduki Kantong Kagera, menembaki prajurit dan warga sipil, sebelum mencapai Sungai Kagera dan Jembatan Kyaka di malam hari. Meskipun area antara sungai dan Bukoba ditinggalkan tanpa pertahanan akibat penarikan TPDF, Angkatan Bersenjata Uganda menghentikan pergerakannya di ujung utara jembatan. Penguasaan wilayah ini memberikan kendali taktikal kepada militer Uganda atas wilayah kantong tersebut. Pada 1 November, Radio Uganda merilis pernyataan resmi bahwa pemerintah Uganda telah mengumumkan “pembebasan” dan menganeksasi wilayah teritorial Tanzania seluas 710 hingga 720 mil persegi—seluruh area Kantong Kagera hingga Sungai Kagera—dan Idi Amin secara resmi mendeklarasikan wilayah tersebut diineksasi sebagai Provinsi ke-9 Uganda, seraya menegaskan bahwa Sungai Kagera menandai perbatasan baru antara Uganda dan Tanzania. Deklarasi aneksasi sepihak ini memicu kemarahan mendalam di pihak Dar es Salaam. Langkah politik Idi Amin ini secara otomatis menghancurkan peluang diplomasi damai. Tindakan pencaplokan wilayah berdaulat ini memaksa Tanzania menyiapkan balasan militer penuh.
Setelah Kantong Kagera diduduki, prajurit Uganda yang tidak disiplin mulai merampok dan menjarah area tersebut dengan ganas. Sebagaimana dilaporkan jurnalis Tony Avirgan (The Guardian) dan John Darnton (International Herald Tribune), para penyerang membunuh warga sipil tanpa kendali, melakukan pemerkosaan massal, serta membombardir fasilitas publik seperti sekolah, gereja, dan rumah sakit. Sekitar 1.500 warga sipil ditembak dan tewas, sementara sedikitnya 40.000 warga sipil Tanzania terpaksa melarikan diri dari wilayah pendudukan dan 5.000 tambahan bersembunyi di semak-semak. Amin meninjau area tersebut dan berpose untuk foto dengan peralatan perang Tanzania yang ditinggalkan. Komandan Uganda khawatir bahwa Jembatan Kyaka dapat digunakan dalam serangan balasan, sehingga pada 3 November seorang ahli peledak memasang bahan peledak di perlintasan dan menghancurkannya.
REAKSI
Setelah laporan awal serangan 30 Oktober mencapai Dar es Salaam, Nyerere mengumpulkan pertemuan dengan para penasihatnya dan komandan TPDF di kediaman pantainya. Ia tidak yakin dengan kemampuan pasukannya untuk memukul mundur invasi Uganda, tetapi Kepala TPDF Abdallah Twalipo yakin bahwa tentaranya dapat mengusir pasukan Uganda dari Tanzania. Nyerere memberi tahu dia untuk “memulai” dan pertemuan berakhir. Pada 31 Oktober, Radio Tanzania menyatakan bahwa pasukan Uganda telah menduduki wilayah di bagian barat laut negara itu dan TPDF sedang menyiapkan serangan balasan. Keputusan tegas diambil untuk memprioritaskan pembebasan tanah air dari pendudukan asing. Pada 1 November, seiring dikeluarkannya klaim aneksasi Uganda, mobilisasi militer diperintahkan secara penuh di seluruh Tanzania. Pada 2 November, Nyerere menyatakan perang terhadap Uganda secara resmi dalam siaran radio nasional, dengan pidatonya yang legendaris: “Tanzania memiliki alasan untuk bertempur, memiliki sumber daya untuk bertempur, dan memiliki kemauan untuk melawannya [Amin]… Sekarang kita akan bertempur sampai ular ini keluar dari rumah kita.” Tanzania juga meminta Kenya menghentikan pasokan minyak ke Uganda dan menolak tegas seluruh tawaran mediasi, dengan menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dimediasi selama pasukan penjajah berada di tanah Tanzania. Pidato pembukaan perang ini membakar semangat nasionalisme seluruh rakyat Tanzania.
Enam pemimpin Afrika mengecam invasi Kagera sebagai agresi Uganda: Mengistu Haile Mariam dari Etiopia, Didier Ratsiraka dari Madagaskar, Agostinho Neto dari Angola, Seretse Khama dari Botswana, Samora Machel dari Mozambik, dan Kenneth Kaunda dari Zambia. Pemerintah Guinea, Mali, Senegal, dan beberapa negara Afrika lainnya menahan diri dari kecaman, sebaliknya menyerukan penghentian permusuhan dan meminta kedua pihak menghormati piagam OAU. OAU sendiri tetap netral dalam masalah ini, sementara perwakilan organisasi tersebut mencoba memediasi antara Uganda dan Tanzania. Sikap pasif OAU ini memicu kekecewaan mendalam bagi pemerintah Tanzania. Kenya sempat menawarkan diri menjadi mediator namun menolak menghentikan arus logistik BBM ke Uganda pada tahap ini. Pada 6 November, Amin menyarankan agar OAU membentuk komite khusus mediasi. Namun pada 8 November, ketika Amin menawarkan untuk menarik pasukan dengan syarat Tanzania berjanji tidak akan menginvasi di masa depan, Nyerere menolaknya dengan jijik dan menganggap syarat itu konyol—sebagaimana dikomentari surat kabar London Daily Telegraph sebagai pertanyaan kepada seseorang “apakah ia akan berhenti memukuli istrinya.” Penolakan tegas ini menegaskan tekad Nyerere untuk mengusir total pasukan Uganda tanpa kompromi.
SERANGAN BALASAN TANZANIA
Nyerere memerintahkan Tanzania untuk melakukan mobilisasi penuh untuk perang. Proses mobilisasi seluruh elemen nasional membutuhkan waktu hingga dua bulan bagi pemerintah Tanzania untuk memindahkan pasukan dan peralatan berat ke garis depan. Pengiriman logistik berat sangat terhambat oleh datangnya musim hujan pada November–Desember yang membuat kendaraan tempur terjebak di lumpur hingga berhari-hari, sehingga keberhasilan pengangkutan alutsista sangat bergantung pada jaringan kereta api rel sempit (meter-gauge) buatan era kolonial Jerman. Kendala geografis dan cuaca ekstrem ini menguji daya tahan logistik militer Tanzania. Doktrin dan sejarah militer Tanzania sendiri telah mengalami transformasi mendasar sejak peristiwa pemberontakan Tanganyika Rifles tahun 1964. Saat itu, Nyerere membubarkan sisa-sisa tentara kolonial tersebut untuk menghilangkan struktur sub-nasional era kolonial dan membangun TPDF sebagai “tentara rakyat” yang berakar pada ideologi partai TANU dan semangat sosialisme Ujamaa. Pembentukan ulang militer berbasis filosofi kerakyatan ini berhasil menciptakan disiplin tinggi dan ikatan emosional yang erat antara prajurit dan masyarakat. Landasan ideologis ini kelak terbukti vital dalam menjaga moril prajurit di medan tempur.
Pada saat perang pecah, TPDF terdiri dari empat brigade. Di antaranya, hanya Brigade Selatan, yang baru saja tampil baik dalam simulasi perang, yang siap dipindahkan ke garis depan. Brigade ini bermarkas di Songea, lebih jauh dari Kagera dibandingkan brigade lainnya. Setelah perjalanan panjang melalui kereta api dan jalan raya, unit tersebut mencapai area Bukoba–Kyaka dan mendirikan kamp. Prajurit tambahan dikirim dari Tabora. Pada 7 November, sekitar 8.000 hingga 10.000 prajurit Tanzania telah terkumpul di Bukoba dekat Sungai Kagera dan meluncurkan serangan balasan awal. Perdana Menteri Edward Sokoine menyerahkan perintah kepada komisaris regional Tanzania untuk mengarahkan semua sumber daya militer dan sipil untuk perang, seraya menyerukan masyarakat untuk bersiap menghadapi perang yang panjang. Dalam beberapa minggu, tentara Tanzania diperluas dari kurang dari 40.000 pasukan menjadi lebih dari 150.000, termasuk sekitar 40.000 anggota milisi serta anggota polisi, penjaga penjara, dan dinas nasional. Tanzania menerapkan strategi perang China (Chinese extended strategy) dengan memobilisasi 80.000 milisi di samping 50.000 prajurit reguler TPDF untuk menyebar di area yang luas. Dari total sekitar 45.000 hingga 60.000 personel Tanzania yang akhirnya diterjunkan langsung di garis depan pertempuran, sekitar 15.000 orang merupakan prajurit reguler TPDF yang terutama bertindak sebagai perwira, komandan, dan operator alutsista canggih, sementara sisanya adalah milisi sipil yang dimobilisasi melalui Operasi Chakaza. Tambahan 3.000 prajurit asal Zanzibar turut diterjunkan dari bagian selatan Sungai Kagera untuk meluncurkan serangan masif. Presiden Mozambik Machel menawarkan bantuan batalyon Mozambik kepada Nyerere sebagai bentuk dukungan. Unit beranggota 800 orang tersebut dengan cepat diterbangkan ke Tanzania dan dipindahkan ke Kagera.
Meskipun telah diberi tahu tentang persiapan Tanzania untuk serangan balasan, militer Uganda tidak mendirikan pertahanan yang memadai atau memperkuat posisi mereka. Sebagian besar komandan di garis depan dan anggota komando tinggi mengabaikan laporan intelijen dan malah fokus menjarah Kantong Kagera. Tanzania awalnya bertujuan agar serangan balasannya, Operasi Chakaza, dimulai pada 6 November, tetapi harus ditunda. Pada minggu kedua November, Tanzania telah mengumpulkan kekuatan besar di tepi selatan Sungai Kagera. Kepala Staf TPDF Mayor Jenderal Tumainie Kiwelu mengambil alih komando pasukan, dan pihak Tanzania memulai pemboman artileri berat di tepi utara, memicu pelarian banyak prajurit Angkatan Bersenjata Uganda. Pada 13–14 November, Amin—menyadari bahwa negara-negara Afrika lainnya tidak mendukung posisinya dan secara tidak rasional mengkhawatirkan Uni Soviet akan memberi Tanzania senjata baru—menyatakan penarikan tanpa syarat semua pasukan Uganda dari Kagera atas saran Kabinet Perang (War Cabinet) yang dibentuknya, serta mengundang pengamat OAU untuk menyaksikannya. Pemerintah Tanzania mengecam pernyataan tersebut sebagai “kebohongan murni”, karena Amin tetap mempertahankan kekuatan militer satu batalyon mekanis penuh di perbatasan, yang melanggar Perjanjian Mogadishu 1973. Pengamat asing tidak dapat mencapai konsensus tentang kebenaran penarikan yang dimaksud, sementara OAU bereaksi dengan mengklaim bahwa mediasinya telah berhasil. Pada 16–17 November, sebagian besar pengamat diplomatik menilai mayoritas unit Uganda telah mundur, meski ketegangan tetap membara. Surat kabar Tanzania Sunday News pada 19 November menegaskan narasi nasional bahwa Idi Amin adalah “kanker yang harus diangkat.”
Pada 19 November, pihak Tanzania merakit jembatan ponton melintasi Sungai Kagera, dan selama hari-hari berikutnya mengirim patroli ke dalam wilayah kantong. Pada 20 November 1978, pertempuran memuncak saat pasukan Tanzania mendesak mundur sisa-sisa pasukan pendudukan Uganda. Ketika memasuki area hutan di Kantong Kagera, pasukan Tanzania menemukan ratusan mayat warga sipil Tanzania serta lebih dari 100 mayat prajurit Uganda yang dibantai. Salah satu insiden memilukan dicatat ketika seorang prajurit TPDF yang kembali ke desanya menemukan jenazah kedua orang tuanya telah membusuk di pekarangan rumah. Komando dan kendali Uganda kacau di tengah serangan balasan tersebut, dan hanya beberapa perwira yang mencoba mengorganisir perlawanan. Pada 23 November, tiga brigade TPDF menyeberangi jembatan ponton dan mulai menduduki kembali Kantong Kagera. Pemerintah Uganda mengumumkan pada akhir November bahwa mereka telah menarik semua pasukan dari Kantong Kagera dan semua pertempuran telah berhenti. Uganda menerbangkan 50 diplomat asing ke perbatasan, dan mereka melaporkan bahwa ada sedikit bukti konflik yang sedang berlangsung. Pejabat Tanzania mengecam pernyataan penarikan tersebut, menegaskan bahwa pasukan Uganda harus diusir secara paksa dari wilayah Tanzania, dan mengumumkan bahwa beberapa masih tersisa di negara itu. Pada 4 Desember, Brigade ke-206 dan Brigade Selatan TPDF mengamankan Mutukula di sisi perbatasan Tanzania tanpa insiden, sementara Brigade ke-207 merebut kembali Minziro. Pada awal Januari, seluruh pasukan Uganda telah diusir dari Kagera.
BENTROKAN PERBATASAN, PERTEMPURAN MUTUKULA, DAN KETERLIBATAN PLO
Moral dan disiplin Angkatan Bersenjata Uganda memburuk saat pihak Tanzania mendesak mereka keluar dari Kagera dan menyerang di sepanjang perbatasan. Setelah invasi dipukul mundur, pihak Tanzania khawatir Angkatan Bersenjata Uganda akan mencoba lagi merebut wilayah mereka. Komandan Tanzania merasa selama pasukan Uganda menguasai dataran tinggi di Mutukula, Uganda, di sepanjang perbatasan, mereka menimbulkan ancaman bagi area kantong. Nyerere setuju dan memerintahkan pasukannya untuk merebut kota tersebut. Saat bersiap untuk operasi ini, TPDF disibukkan dengan pelatihan dan pengorganisasian pasukannya yang diperluas secara masif. Akibatnya, pertempuran pada Desember 1978 sebagian besar terbatas pada “perang parit” di sepanjang perbatasan, yang ditandai dengan bentrokan sporadis dan serangan udara.
Pada titik ini, militan dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) bertugas bersama orang-orang Uganda di garis depan. PLO telah bersekutu dengan pemerintah Amin selama bertahun-tahun, dan sekitar 400 petempur Palestina ditempatkan untuk pelatihan di Uganda. Militan ini dikirim ke perbatasan untuk membantu Angkatan Bersenjata Uganda, karena PLO menganggap perang dengan Tanzania sebagai ancaman bagi kehadiran mereka sendiri di kawasan itu. Jurnal Africa menyatakan bahwa “sumber terpercaya” mengklaim bahwa “teknisi dan personel angkatan udara Pakistan” mendukung pasukan Amin selama perang. Sekitar 200–350 personel Pakistan telah ditempatkan di Uganda sejak awal 1978. African Review menyatakan bahwa Arab Saudi telah memberikan “bantuan militer” kepada pemerintah Amin pada 1978/79. Amin dilaporkan bepergian ke Arab Saudi dua kali untuk meminta bantuan keuangan selama Perang Uganda–Tanzania. Keterlibatan aktor asing ini meluaskan dimensi geopolitik dari konflik perbatasan tersebut.
Ketiadaan aktivitas di perbatasan mengarahkan komando tinggi Uganda untuk percaya bahwa tidak ada serangan Tanzania yang akan terjadi, meskipun ada laporan sebaliknya dari garis depan. Angkatan Bersenjata Uganda akibatnya terkejut ketika TPDF memulai pemboman artileri skala besar di sepanjang perbatasan menggunakan peluncur roket BM-21 Grad pada 25 Desember. Pasukan Uganda kekurangan persenjataan yang mampu membalas serangan artileri Tanzania, dan ketakutan oleh kemampuan destruktif dari BM-21 Grad yang mereka juluki “Saba-Saba“. Ketakutan orang-orang Uganda diperparah oleh ketidakmampuan awal mereka untuk mengidentifikasi senjata tersebut, sampai roket yang tidak meledak ditemukan dari landasan udara Lukoma. TPDF membombardir perbatasan selama berminggu-minggu, meruntuhkan moral pasukan Uganda. Upaya Angkatan Bersenjata Udara Uganda untuk menghancurkan peluncur roket Tanzania gagal karena tembakan anti-pesawat yang efektif. Amin lalu mengutus tim perwira ke Spanyol untuk menyelidiki kemungkinan pembelian pesawat dan bom napalm untuk membalas roket tersebut, tetapi pada akhirnya tidak ada amunisi yang diperoleh. Pasukan yang dipimpin Tanzania menduduki beberapa pemukiman perbatasan kecil dekat Kikagati pada 20 Januari 1979 (di mana satu kompi dari Batalyon Simba gagal mempertahankan posisi Kasese, Murema, dan Kigarama), mendorong Amin untuk menjadwalkan serangan balasan.
Pada Januari 1979, TPDF secara resmi meluncurkan penyeberangan ke wilayah Uganda di dua front utama: Front Tengah (sektor Buganda) dan Front Barat (sektor Ankole). Brigade Selatan TPDF—yang diubah namanya menjadi Brigade ke-208—akhirnya menyeberangi perbatasan pada malam 21 Januari dan menyerang Mutukula pada hari berikutnya. Garnisun Uganda (terutama Batalyon Gondo/Gonda) dengan mudah dikalahkan dan melarikan diri dari lokasi, memungkinkan pihak Tanzania mengamankan Mutukula dan merampas banyak persenjataan yang ditinggalkan (sebagian prajurit Gondo melarikan diri ke Moroto). Prajurit TPDF melanjutkan dengan menghancurkan seluruh kota dan membunuh beberapa warga sipil untuk membalas penjarahan dan kejahatan yang ditemukan di Kagera. Sebagaimana dicatat oleh jurnalis Tony Avirgan dan Martha Honey, tindakan emosional ini merupakan insiden pelanggaran pertama dan terakhir yang dilakukan oleh TPDF; setelahnya, disiplin militer ditegakkan ketat di mana TPDF hanya fokus menyerang sasaran militer, memperlakukan tawanan perang Uganda secara manusiawi, dan melindungi warga sipil Uganda. Nyerere terperanjat saat diberi tahu tentang kejadian di Mutukula, dan memerintahkan TPDF untuk menahan diri dari merusak warga sipil dan properti sejak saat itu.
Pemerintah Uganda sebagian besar mengabaikan hilangnya Mutukula. Pemerintah hanya mengirim Batalyon Infanteri ke-1 (Batalyon Eagle Colonel Gaddafi dari Jinja) untuk memperkuat garis depan, sementara fokus pada perayaan ulang tahun kedelapan Amin sebagai presiden. Perilaku ini semakin meruntuhkan moral populasi Uganda. TPDF menggunakan jeda dalam pertempuran untuk bersiap bagi operasi selanjutnya, membangun landasan udara di Mutukula dan mengirim pasukan tambahan ke wilayah perbatasan. Sebagai bentuk dukungan, Mozambik, Zambia, Angola, Etiopia, dan Aljazair mengirimkan sejumlah kecil senjata ke Tanzania. Menurut peneliti Gerald Chikozho Mazarire, Etiopia sebenarnya mengirim “pasukan dan rudal darat-ke-darat buatan Rusia” yang membantu Tanzania dalam melawan Uganda. Ada juga klaim tentang militan ZANLA yang bertempur bersama TPDF. Pemerintah Tanzania juga meminta bantuan militer kepada China. China ingin tetap berada di luar konflik sejauh mungkin tanpa menjauhkan pihak Tanzania. Meskipun pihak China menyarankan negosiasi, mereka mengirim pengiriman senjata “simbolis” dan mempercepat pengiriman beberapa peralatan yang dipesan sebelumnya. Inggris juga tidak ingin terlibat dalam perang, tetapi bekerja sama dengan pihak Tanzania dalam mengirimkan pasokan militer non-lethal yang dibeli dari mereka dengan cepat. Sementara itu, Uni Soviet menghentikan pengiriman senjata ke Uganda dan mengumumkan penarikan semua penasihat militernya.
MOBILISASI PEMBERONTAK DAN EKSIL UGANDA
Segera setelah invasi Kagera, Nyerere mengindikasikan bahwa dengan Perjanjian Mogadishu menjadi tidak berlaku lagi, pemerintahannya akan mendanai, melatih, dan memenjatai warga Uganda yang bersedia bertempur untuk menggulingkan Amin. Berbagai kelompok eksil merespons dari seluruh dunia serta anggota oposisi di Uganda. Gerakan pemberontak bersenjata yang lebih besar termasuk Kikosi Maalum, milisi yang setia kepada Obote dan diperintah oleh Tito Okello dan David Oyite Ojok; Front for National Salvation (FRONASA) yang dipimpin oleh Yoweri Museveni; dan Save Uganda Movement (SUM) yang diperintah oleh Akena p’Ojok, William Omaria, dan Ateker Ejalu. Selain itu, beberapa kelompok lebih kecil termasuk Kelompok Katolik dan Uganda Nationalist Organization mengklaim memiliki sayap bersenjata. Konsolidasi kekuatan oposisi ini mendapat saluran bantuan resmi dari pemerintah Tanzania.
Kelompok-kelompok ini sangat lemah pada awal konflik, tetapi berkembang pesat kemudian. Meskipun secara nominal bersekutu, para pemberontak Uganda sebenarnya adalah saingan politik dan beroperasi secara independen satu sama lain. Sementara Kikosi Maalum dan FRONASA menyumbangkan pasukan garis depan dan gerilyawan yang bertindak sebagai pembantu dan pengintai bagi TPDF, SUM melakukan pengeboman dan serangan untuk mendestabilisasi rezim Amin dari dalam. Uganda Liberation Group (Z) yang berbasis di Zambia mendorong anggota mereka untuk menyumbangkan uang guna mendukung upaya perang Tanzania. Eksil Uganda mencoba mengorganisir upaya perlawanan di Kenya, tetapi pihak berwenang Kenya mengganggu upaya ini, menangkap beberapa gerilyawan dan dalam beberapa kasus menyerahkan mereka kepada pemerintah Uganda. Pada bulan Januari Obote memecah sikap diam publiknya dan membuat seruan terbuka bagi warga Uganda untuk pemberontak, dilaporkan menyebabkan kecemasan besar bagi pemerintah Amin. Pada tahap awal perang, beberapa faksi pemberontak, termasuk faksi Obote, FRONASA, dan SUM, secara longgar bersatu di bawah kelompok payung “National Revolt“.
INVASI TANZANIA KE UGANDA SELATAN
Pada awalnya, Nyerere hanya berusaha melakukan perang untuk membela wilayah Tanzania. Namun, setelah pasukan Tanzania berhasil mengamankan Kagera, Nyerere memutuskan untuk mengubah tujuan perang dari pertahanan murni menjadi operasi penetrasi ke wilayah Uganda. Nyerere awalnya berupaya menyembunyikan pergerakan pasukannya yang melintasi perbatasan dari mata internasional. Namun, setelah invasi tidak mungkin lagi disembunyikan akibat Amin yang gagal melepaskan klaimnya atas Kagera serta OAU yang gagal mengecam invasi Uganda, ia memutuskan bahwa pasukan Tanzania harus menduduki Uganda selatan, khususnya dua kota utama di sana: Masaka dan Mbarara. Pihak Tanzania memutuskan untuk merebut kota-kota tersebut sebagai pembalasan atas kehancuran yang ditimbulkan oleh pasukan Uganda di negara mereka, untuk memicu pemberontakan, serta memastikan Amin tidak lagi menjadi ancaman militer bagi Tanzania di masa depan. Keputusan penetrasi ini menandai pergeseran dari aksi bertahan menjadi aksi ofensif penggulingan rezim. Obote meyakinkan Nyerere bahwa jika kota-kota tersebut diambil, pemberontakan massal melawan rezim Amin akan terjadi, menjatuhkan pemerintah dalam beberapa minggu dan memungkinkan pihak Tanzania keluar dari perang. Obote juga yakin (dan Nyerere sebagian diyakinkan) bahwa Angkatan Bersenjata Uganda akan runtuh jika Masaka direbut. Pihak Tanzania mulai merencanakan dengan cermat serangan ke kedua kota tersebut. Mayor Jenderal David Musuguri diangkat sebagai komandan Divisi ke-20 TPDF dan ditugaskan mengawasi pergerakan maju ke Uganda. Awalnya diharapkan bahwa pemberontak Uganda dapat memimpin serangan, tetapi hanya ada sekitar 1.000 dari mereka, sehingga pihak Tanzania harus memimpin operasi. Antara posisi TPDF dan Masaka terdapat serangkaian lokasi yang diduduki oleh pasukan Uganda yang perlu dibersihkan, termasuk landasan udara di Lukoma dan berbagai baterai artileri. Brigade ke-201, 207, dan 208 diperintahkan untuk membuka jalan.
Pihak Tanzania meluncurkan serangan mereka pada pertengahan Februari. Mereka maju secara stabil, membunuh puluhan prajurit Uganda, menghancurkan sejumlah besar peralatan militer mereka, dan merebut landasan udara pada 13 Februari. Sementara itu, Amin mengklaim bahwa pasukan Tanzania dan tentara bayaran telah merebut bagian besar wilayah Uganda. Menghadapi pertanyaan dari komunitas internasional, Tanzania menegaskan bahwa pasukannya hanya menduduki tanah tepat di atas perbatasan Uganda. Diplomat Tanzania mengulangi proklamasi Nyerere bahwa “Tanzania tidak menginginkan satu inci pun wilayah Uganda” tetapi menghindar dari pertanyaan lebih spesifik tentang pergerakan pasukan mereka. Strategi diplomasi ini digunakan untuk meredakan ketegangan geopolitik global selama gerak maju pasukan. Sementara pasukan Tanzania yang maju ke Masaka bergerak cepat, Brigade ke-206 TPDF menghadapi perlawanan yang lebih sulit saat terdesak menuju Mbarara. Angkatan Bersenjata Uganda (khususnya Batalyon Paratrooper ke-2 / Mountains of the Moon) berhasil menyergap batalyon dari brigade Tanzania dekat Danau Nakivale di Bukit Gayaza, menewaskan 24 prajurit Tanzania. Ini adalah kerugian tunggal terbesar TPDF selama perang, dan setelah itu memperlambat serangannya. Di sepanjang poros pergerakan Masaka, TPDF mengusir garnisun Kalisizo, kota 28 kilometer (17 mil) selatan Masaka, menimbulkan korban jiwa yang berat. Pasukan Uganda yang mundur ke Masaka berada dalam keadaan panik dan meruntuhkan moral pasukan yang ditempatkan di sana. Saat pihak Tanzania melintasi Uganda selatan, mereka disoraki oleh kelompok warga sipil yang mereka lewati.
TPDF melanjutkan untuk mengepung Masaka dari tiga sisi, tetapi diperintahkan untuk tidak bergerak masuk, karena pertemuan OAU diadakan di Nairobi dalam upaya menyediakan mediasi antara pihak bertikai. Brigadir Uganda Isaac Maliyamungu melihat peluang untuk serangan balasan, sehingga pasukannya meluncurkan sejumlah penyelidikan terhadap posisi Tanzania pada 23 Februari. TPDF dengan mudah memukul mundur serangan tersebut, dan malam itu memulai pembombardiran besar-besaran ke Masaka, memfokuskan tembakan mereka pada barak Batalyon Suicide. Sebagian besar garnisun lalu melarikan diri, dan di pagi hari pihak Tanzania menduduki kota tersebut. Untuk membalas kehancuran yang disebabkan di Kagera, pasukan Tanzania melanjutkan dengan meratakan sebagian besar struktur yang tersisa dengan bahan peledak. Pada 25 Februari TPDF dan beberapa lusin pemberontak Uganda yang dipimpin oleh Museveni membombardir Mbarara dan, setelah merebutnya dari Batalyon Simba, menghancurkan bangunan yang tersisa dengan dinamit. Tidak ada pemberontakan massal melawan Amin yang terwujud. Menyusul perebutan kedua kota tersebut, TPDF berhenti untuk mengorganisir kembali. Silas Mayunga dipromosikan menjadi mayor jenderal dan diberi tanggung jawab atas “Task Force” yang baru dibentuk, unit yang terdiri dari Brigade ke-206 dan Brigade Minziro, yang beroperasi secara semi-otonom dari Divisi ke-20. Sementara Divisi ke-20 bergerak keluar dari Uganda tenggara dan menyerang lokasi-lokasi utama di negara itu, Task Force maju ke utara ke Uganda barat pada bulan-bulan berikutnya, melanjutkan pertempuran dengan pasukan Uganda yang melakukan aksi pertahanan lini belakang. Sementara itu, Angkatan Bersenjata Udara Uganda telah menderita kerugian berat selama operasi pada bulan Februari sehingga secara efektif tersingkir sebagai kekuatan tempur.
INTERVENSI LIBYA DAN PERTEMPURAN LUKAYA
Pemimpin Libya Muammar Khadafi, sekutu Amin, merasa bahwa Uganda—negara Muslim dalam pandangannya—sedang diancam oleh tentara Kristen, dan ingin menghentikan pihak Tanzania. Ia juga merasa bahwa Uganda di bawah Amin berfungsi sebagai penyeimbang krusial di Afrika timur laut terhadap Sudan dan Mesir, yang memiliki hubungan tegang dengan Libya. Upaya mediasi Libya pada November 1978 dan Februari 1979 gagal membuahkan penyelesaian antara Tanzania dan Uganda. Khadafi dilaporkan memutuskan untuk memulai intervensi militer tanpa berkonsultasi dengan pejabat Libya lainnya dan mengabaikan keberatan dari komandan tentaranya, Mayor Farak Suleiman. Pada pertengahan Februari, pasukan Libya diterbangkan ke Entebbe untuk membantu Angkatan Bersenjata Uganda, meskipun pada awal Maret pemerintah Libya membantah bahwa pasukannya dikirim ke Uganda. Pengerahan pasukan asing ini mengubah eskalasi perang menjadi lebih intens. Sementara itu, komando tinggi PLO telah menilai bahwa pemerintah Amin berada di bawah ancaman yang sangat dekat akibat kemenangan militer Tanzania. Ketua PLO Yasser Arafat, dan pembantu utamanya Khalil al-Wazir dan Saad Sayel mendiskusikan opsi mereka, dan memutuskan untuk mengirim lebih banyak pasukan PLO ke Uganda guna melindungi rezim Amin. Kolonel Mutlaq Hamdan, alias “Abu Fawaz”, dan beberapa komandan lainnya dikirim sebagai gelombang penguat pertama untuk membantu komando tinggi Uganda mengorganisir perang. Pada 18 Maret, Arafat mengonfirmasi bahwa ada gerilyawan Palestina yang bertempur atas nama Amin di Uganda. Dukungan asing langsung ini kemudian digunakan Amin untuk menutupi kelemahan pasukannya sendiri.
Sementara itu, Divisi ke-20 TPDF bersiap maju dari Masaka ke Kampala. Satu-satunya jalan dari Masaka ke Kampala melewati Lukaya, kota 39 kilometer (24 mil) di utara Masaka. Dari sana, rute berlanjut di jalan lintasan sepanjang 25 kilometer (16 mil) yang melewati rawa sampai mencapai Nabusanke. Rawa tersebut tidak dapat dilalui oleh kendaraan, dan penghancuran jalan lintasan akan menunda serangan Tanzania ke Kampala selama berbulan-bulan. Meskipun TPDF akan rentan di jalan lintasan tersebut, Musuguri memerintahkan pasukannya untuk mengamankannya. Brigade ke-207 TPDF dikirim melalui rawa ke timur, Brigade ke-208 dikirim ke barat untuk melakukan sapuan luas yang membawanya mengitari ujung utara rawa, dan Brigade ke-201 yang diperkuat oleh batalyon pemberontak Uganda meluncur di jalan langsung menuju kota. Juga sebagai bagian dari rencana untuk merebut Kampala, Brigade ke-205 TPDF maju ke Mpigi pada awal Maret dan kemudian ke Mityana dan meluncurkan serangan ke ibu kota dari sana. Amin membuat siaran radio, membual bahwa pasukannya bersiap mengepung TPDF. Penasaran apakah klaim tersebut memiliki kebenaran, komandan Tanzania menganalis rencana mereka dan menyadari bahwa Batalyon Tiger (Tiger Regiment) di Mubende tidak terhitung. Percaya bahwa unit tersebut bergerak ke selatan, mereka mengirim Brigade ke-205 dari posisinya di Masaka ke utara untuk mencegatnya. Brigade ke-205 menemui pasukan Angkatan Bersenjata Uganda yang bertahan di Sembabule (terutama Batalyon Tiger dan sisa-sisa Batalyon Suicide), menandai dimulainya pertempuran yang berlangsung selama tiga minggu.
Sementara itu, rencana untuk menghancurkan jalan lintasan Lukaya dipresentasikan kepada Amin di Kampala, tetapi ia menolaknya, mengatakan bahwa hal itu akan menghambat kemampuan tentaranya untuk meluncurkan serangan balasan terhadap pihak Tanzania. Ia juga percaya bahwa dengan dukungan Libya, TPDF akan segera dikalahkan, sehingga menghancurkan dan kemudian membangun kembali jalan lintasan tersebut nanti tidak diperlukan. Penilaian yang salah ini membiarkan rute strategis tetap terbuka bagi gerak maju pasukan lawan. Keputusan tersebut kelak terbukti sebagai kesalahan taktis yang berakibat fatal bagi rezimnya.
Perkembangan kritis terjadi setelah pasukan Amin mencetak kemenangan kecil melawan pasukan invasi Tanzania di Tororo pada awal Maret 1979 (di mana Batalyon Air & Sea, Brigade Timur, dan Batalyon Gaddafi terlibat). Terbuai oleh kemajuan ini, Amin menghubungi sahabatnya, Muammar Khadafi dan Yasser Arafat, meminta tambahan petempur untuk meluncurkan serangan balasan baru. Sebagai tanggapan atas permintaan tersebut, pada 9 Maret 1979, Khadafi mengutus 1.000 tentara Libya (mencakup unit reguler, Milisi Rakyat, dan anggota Legiun Pan-Afrika) ke Uganda, sementara Yasser Arafat mengirimkan 40 petempur gerilya dari faksi Fatah untuk bergabung dengan 400 petempur Palestina yang sudah lebih dulu bertempur di negara tersebut. Pasukan tempur Libya ini membawa serta persenjataan berat, termasuk 15 tank T-55 (yang belakangan di antaranya direbut Tanzania dan dicat ulang dengan warna hijau polos serta diberi tanda bulatan putih), 12 kendaraan lapis baja pengangkut personel, jip Land Rover yang dilengkapi senjata tanpa tolak balik (recoilless rifle) kaliber 106 mm (4,2 in), satu lusin varian peluncur roket Katyusha 12-laras BM-21 Grad, serta artileri besar seperti mortir kaliber 122 mm (4,8 in) dan dua baterai howitzer D-30. Selama perjalanan perang, total 4.500 pasukan Libya dikirim di Uganda. Amin memerintahkan pasukan Libya, bersama dengan beberapa pasukan Uganda (termasuk Batalyon Chui dan Resimen Artileri Masindi) dan gerilyawan PLO, untuk merebut kembali Masaka.
ESKALASI DIPLOMASI TERTUTUP DAN PERAN AMERIKA SERIKAT
Eskalasi besar akibat pengerahan alutsista dan ribuan prajurit Libya-Palestina pada Maret 1979 ini sangat mengkhawatirkan Julius Nyerere. Pada 10 Maret 1979, Nyerere memanggil Duta Besar Amerika Serikat di Dar es Salaam, James Spain. Nyerere meminta bantuan AS untuk membujuk Presiden Kenya Daniel Arap Moi agar bersedia membantu mengatasi krisis Uganda. Saluran tertutup ke AS ini terpaksa ditempuh mengingat Nyerere dan Moi tidak saling menyapa dan tidak memiliki saluran telepon langsung saat itu. Keterlibatan diplomasi rahasia ini krusial untuk mencegah pemanfaatan wilayah Kenya oleh pasukan lawan. Duta besar Spain meneruskan permohonan tersebut ke Departemen Luar Negeri AS di Washington, Duta Besar AS di Nairobi, Wilbert J. Le Melle, ditunjuk untuk melakukan pendekatan kepada Moi. Namun, Departemen Luar Negeri AS menegaskan syarat ketat kepada Nyerere bahwa AS tidak ingin terlibat langsung dalam sengketa internal Afrika dan hanya bertindak sebagai fasilitator komunikasi antara dua negara sahabat. AS menegaskan tidak akan mengangkat semua daftar isu perselisihan yang diinginkan Nyerere, melainkan sebatas menyampaikan keinginan Nyerere untuk berdiskusi secara tertutup dan meminta respon Moi melalui saluran mereka sendiri. Draf pesan diplomasi AS ini dikirimkan terlebih dahulu kepada Nyerere dan disetujuinya sebelum Le Melle melangkah.
Wilbert Le Melle akhirnya menemui Presiden Moi di Istana Negara (State House) Nairobi pada 3 April 1979. Sebelum pertemuan, Presiden AS Jimmy Carter mengirim telegram instruksi khusus kepada Le Melle untuk disampaikan secara lisan kepada Moi: meminta Kenya agar tidak mengizinkan wilayahnya menjadi jalur transit peralatan perang Libya menuju Uganda. Hal ini menjawab ketakutan terbesar Nyerere. Pertemuan diplomasi tersebut sukses besar. Moi meyakinkan Le Melle untuk memberi tahu Presiden Carter bahwa ia “akan melakukan apa yang bisa ia lakukan.” Pendekatan diplomatik AS ini berhasil memecah kebekuan hubungan antara Nairobi dan Dar es Salaam. Pada hari yang sama, 3 April 1979, Presiden Moi langsung mengambil tindakan tegas dengan melarang pengangkutan pasokan bahan bakar minyak (petroleum) melalui udara ke Uganda serta melarang transit dan pengisian bahan bakar pesawat-pesawat militer Libya di Kenya. Masih di hari yang sama pula, Presiden Moi menelepon Presiden Nyerere—mencatatkan percakapan telepon pertama antara kedua kepala negara setelah sekian lama berpisah. Pada 4 April 1979, Nyerere memanggil kembali Dubes James Spain untuk menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada Presiden Jimmy Carter. Nyerere memuji pesan Carter kepada Moi yang terbukti ampuh membuka keran kerja sama Kenya. Dalam percakapan telepon yang produktif tersebut, Nyerere juga berjanji untuk meredakan kekhawatiran Moi terkait potensi kembalinya Milton Obote ke tampuk kekuasaan pasca-jatuhnya Amin.
PERTEMPURAN DI LAPANGAN
Sebelum bentrokan utama di Lukaya dan Kabuwooko (antara Masaka dan Kyotera), Idi Amin sempat berupaya menerjunkan pasukan komando (paratroopers) di belakang garis pertahanan aliansi Tanzania. Namun, inisiatif pasukan terjun payung ini gagal total setelah dalam tiga kesempatan terpisah, pesawat-pesawat pembawa komando tersebut berhasil ditembak jatuh oleh pertahanan udara Tanzania. Kegagalan taktis serangan udara ini semakin memperlemah moral pasukan loyalis Idi Amin. Kondisi ini membuat pertahanan darat Uganda semakin rentan terhadap serangan balasan pasukan lawan. Di garis depan Lukaya, pada pagi hari 10 Maret, Brigade ke-201 TPDF menduduki Lukaya untuk menunggu penyeberangan jalan lintasan pada hari berikutnya. Di akhir sore hari, gabungan pasukan Uganda-Libya-Palestina memulai gerakannya menuju Lukaya, dengan perintah untuk merebut Masaka dalam waktu tiga jam. Saat melihat pihak Tanzania, pihak Libya memulai rentetan tembakan roket Katyusha. Artileri melewati sasaran mereka, tetapi prajurit Tanzania dari Brigade ke-201 yang sebagian besar tidak berpengalaman menjadi ketakutan, dan banyak dari mereka membangkang dan melarikan diri. Sisanya dengan cepat mundur ke rawa di sepanjang jalan Masaka setelah melihat tank T-55 Libya dan tank M4A1 Sherman Uganda maju menuju mereka. Meskipun ada perintah untuk merebut kembali Masaka, gabungan pasukan Uganda-Libya-Palestina berhenti di Lukaya.
Komandan Tanzania lalu memutuskan untuk mengubah rencana mereka guna mencegah hilangnya Lukaya berubah menjadi kekalahan total. Brigade ke-208 di bawah Brigadir Mwita Marwa, yang berada 60 kilometer (37 mil) di barat laut kota, diperintahkan untuk berbalik arah dan secepat mungkin memotong jalur Uganda dan Libya dari Kampala. Brigade ke-208 mencapai posisi pengapitnya di jalan Kampala pada fajar tanggal 11 Maret dan memulai serangan balasan. Brigade ke-201 yang terkumpul kembali menyerang dari depan dan Brigade ke-208 dari belakang, dengan demikian memberi tekanan besar pada gabungan pasukan Uganda-Libya-Palestina. Tembakan artileri Tanzania yang diarahkan secara tepat menghancurkan barisan mereka. Sebagian besar pihak Libya kemudianmulai mundur. Komandan Uganda dalam pertempuran tersebut, Letnan Kolonel Godwin Sule (Komandan Sekolah Militer Paratrooper), tewas, kemungkinan karena tertabrak secara tidak sengaja oleh salah satu tanknya sendiri. Kematian Godwin Sule memicu runtuhnya struktur komando Uganda secara menyeluruh, dan pasukan Uganda yang tersisa meninggalkan posisi mereka dan melarikan diri secara kacau menuju Kampala. Setelah pertempuran, pihak Tanzania menghitung lebih dari 400 prajurit musuh yang tewas di area tersebut, termasuk sekitar 200 prajurit Libya. Pertempuran Lukaya adalah pertempuran terbesar dalam Perang Uganda–Tanzania dan menjadi titik balik utama yang meruntuhkan moril serta kemampuan tempur kubu Uganda.
Menyusul Pertempuran Lukaya, Angkatan Bersenjata Uganda mulai runtuh sepenuhnya. Segera setelah itu, TPDF meluncurkan Operasi Dada Idi, dan pada hari-hari berikutnya Brigade ke-207 dan ke-208 membersihkan jalan Kampala dan merebut Mpigi. Pasukan Uganda dan Libya melarikan diri dari garis depan menuju ibu kota. Amin memecat Gowon dari posisinya sebagai kepala staf, dan menghadapi permusuhan dari pasukan yang marah, Gowon melarikan diri ke Zaire. Ia digantikan oleh Ali Fadhul. Pada awal April TPDF merebut Sembabule, menandai berakhirnya pertempuran terpanjang dalam perang tersebut. Pasokan banyak unit Angkatan Bersenjata Uganda runtuh, mengakibatkan kekurangan amunisi, bahan bakar, dan logistik. Banyak prajurit Uganda yang menjadi liar, menjarah, membunuh, dan memperkosa saat mereka melarikan diri ke Zaire dan Sudan. Menurut peneliti Alicia C. Decker, perilaku para pembangkang tersebut tidak hanya dimotivasi oleh runtuhnya disiplin, tetapi juga pertimbangan strategis: dengan menyebarkan kekacauan dan menyebabkan warga sipil melarikan diri, mereka mendapatkan perlindungan yang lebih baik untuk penarikan mundur mereka sendiri. Prajurit yang tetap berada di pos mereka sering kali mulai melakukan serangan balas dendam terhadap mereka yang dicurigai memiliki simpati pemberontak, meneror, menganiaya, dan mengeksekusi orang tanpa proses hukum. Menyadari bahwa perang telah kalah, anggota Angkatan Bersenjata Uganda lainnya merencanakan untuk menggulingkan Amin. Rumor beredar tentang anggota lingkaran dalam Presiden yang terlibat dalam rencana kudeta ini. Pada titik ini, sebagian besar warga sipil Uganda menentang pemerintah Amin dan berharap perang segera berakhir. Mereka mulai menyebut pihak Tanzania sebagai bakombozi (“pembebas”).
KONFERENSI MOSHI
Menyusul perebutan Mpigi, Nyerere memerintahkan TPDF untuk menghentikan serangannya. Meskipun ia merasa bahwa setelah intervensi Libya di Lukaya tidak mungkin lagi mengandalkan pemberontak Uganda untuk merebut Kampala sendirian, ia percaya bahwa sangat penting mereka diberi waktu untuk mengorganisir pemerintah mereka sendiri untuk menggantikan Amin. Pejabat Tanzania mulai membuat persiapan untuk pendirian pemerintah baru seperti halnya pemberontak Uganda, yang dipimpin oleh Obote dan Dani Wadada Nabudere di lingkaran masing-masing. Para pemberontak dan eksil telah bersiap untuk hal ini selama beberapa bulan, membuat kontak satu sama akhir sejak pecahnya perang. Inisiatif politik ini diambil untuk menjamin transisi kekuasaan sipil yang stabil di Uganda. Sementara diskusi di antara faksi-faksi sedang berlangsung, Museveni mengusulkan agar FRONASA-nya—yang secara konseptual lebih besar karena upaya perekrutan di sekitar Mbarara—bersatu dengan Kikosi Maalum Obote untuk membentuk tentara gabungan. Obote menolak saran tersebut dan mencoba menyatukan pasukannya dengan kelompok bersenjata lainnya, tetapi gagasan Museveni mendapatkan daya tarik dengan pemimpin eksil lainnya. Saat pihak Tanzania mulai mengorganisir konferensi untuk para pemberontak dan eksil, Nyerere mempertimbangkan kembali peran Obote dalam gerakan tersebut. Ia tidak ingin memberikan kesan bahwa Tanzania akan mendirikan pemerintah pilihannya sendiri di Uganda dengan memfasilitasi penobatan Obote sebagai pemimpin gerakan pemberontak, dan ada permusuhan terhadap Obote dari suku Baganda di Uganda selatan serta negara-negara lain seperti Kenya. Nyerere juga khawatir Obote akan menghambat kerja sama di pertemuan tersebut dan menyebabkannya bubar tanpa hasil. Ia meyakinkan Obote untuk menahan diri dari menghadiri dan sebaliknya mengirim delegasi dari Kongres Rakyat Uganda (Uganda People’s Congress), partai politik Obote. Sebagai pengganti Obote, banyak eksil Uganda mulai menyukai Yusuf Lule, seorang akademisi suku Muganda yang pensiun dan berhaluan politik moderat.
Konferensi dibuka pada 24 Maret di kota Moshi, Tanzania, menyusul perdebatan sengit tentang faksi dan orang mana yang dapat diterima. Sore itu para delegasi mengumumkan pembentukan Front Pembebasan Nasional Uganda (Uganda National Liberation Front / UNLF), yang akan diperintah oleh Komite Konsultatif Nasional (NCC) beranggotakan 30 orang dan Komite Eksekutif Nasional beranggotakan 11 orang, yang terakhir mencakup tiga komisi khusus—Keuangan dan Administrasi, Urusan Politik dan Diplomatik, serta Urusan Militer. Dua hari berikutnya dihabiskan untuk mendebatkan keseimbangan kekuasaan di antara badan-badan pemerintahan dan pemilihan ketua untuk organisasi tersebut, yang diperebutkan secara sengit antara Lule dan Paulo Muwanga. Setelah perdebatan sengit, konsensus dicapai di mana Lule diberikan jabatan ketua dan Muwanga dijadikan kepala Komisi Urusan Militer. Konferensi dibubarkan pada 26 Maret 1979. Milisi pemberontak bersenjata yang diwakili di Moshi disatukan sebagai Pasukan Pembebasan Nasional Uganda (Uganda National Liberation Army / UNLA). Pasukan pemberontak gabungan ini awalnya memiliki kekuatan sekitar 2.000 pejuang.
JATUHNYA KAMPALA DAN AKHIR PERANG
Sehari setelah penutupan Konferensi Moshi, duta besar Libya untuk Tanzania menyerahkan surat dari Khadafi kepada Nyerere, yang mengancam keterlibatan militer Libya atas nama Amin jika Tanzania tidak menarik pasukannya dari wilayah Uganda dalam 24 jam. Nyerere terkejut oleh ultimatum tersebut, karena ia tahu bahwa prajurit Libya telah bertempur bersama warga Uganda di Lukaya. Ia menyiarkan pesan melalui radio, menyatakan bahwa meskipun ancaman Khadafi menambah “dimensi baru” pada perang, hal itu tidak mengubah pandangan Tanzania terhadap Amin. Empat hari kemudian Khadafi, dalam upaya mengintimidasi Nyerere, memerintahkan pembom Tupolev Tu-22 untuk menyerang depot bahan bakar di Mwanza. Pembom tersebut meleset dari sasarannya dan malah menghantam cagar alam. Jet Tanzania membalas dengan menyerang depot bahan bakar di Kampala, Jinja, dan Tororo. Pada awal April, pasukan Tanzania mulai memfokuskan upaya mereka untuk memperlemah posisi Uganda di Kampala. Pada titik ini, Angkatan Bersenjata Uganda sebagian besar telah runtuh. Para diplomat percaya bahwa hanya prajurit asal Nubia dan Sudan yang tetap setia, sementara rezim Amin mempertahankan kekuasaan berkat dukungan Libya. Reporter The New York Times John Darnton memperkirakan hanya 2.500 prajurit Angkatan Bersenjata Uganda yang tetap setia (terutama elemen Presidential Guard dan Batalyon Malire). Komandan Tanzania awalnya mengasumsikan bahwa Amin akan menempatkan sebagian besar pasukannya yang tersisa di ibu kota, dan rencana awal mereka menyerukan serangan langsung ke kota tersebut. Namun dari dataran tinggi di Mpigi mereka dapat melihat semenanjung Entebbe, di mana terdapat volume lalu lintas udara Libya yang tinggi dan kontingen besar prajurit Uganda dan Libya. Jika TPDF merebut Kampala sebelum mengamankan kota Entebbe, posisi TPDF di Kampala akan rentan terhadap serangan pengapit. Mengambil Entebbe akan memotong bala bantuan Libya ke Uganda dan memungkinkan serangan ke ibu kota dari selatan. Dengan demikian, Musuguri memerintahkan Brigade ke-208 untuk merebut semenanjung tersebut. TPDF mendirikan artileri dan menundukkan kota itu ke dalam pemboman ringan selama tiga hari. Amin berada di State House Entebbe pada saat itu tetapi melarikan diri menggunakan helikopter ke Kampala. Kepergiannya memicu pelarian banyak pasukan Uganda, tetapi pasukan Libya tetap bertahan.
Pada 6 April, pemboman diintensifkan, dengan beberapa ratus selongsong artileri ditembakkan. Brigade ke-208 maju ke Entebbe di pagi hari berikutnya. Sebuah konvoi tunggal Libya mencoba melarikan diri menyusuri jalan Kampala tetapi disergap dan dihancurkan. Pada sore hari TPDF telah mengamankan kota tersebut, merebut gudang besar senjata Libya. Pagi berikutnya, ratusan personel Angkatan Bersenjata Udara Uganda menyerahkan diri kepada TPDF. Pertempuran tersebut menandai berakhirnya Angkatan Bersenjata Udara Uganda secara de facto. Sebagian besar pesawatnya dihancurkan atau dirampas, dan personel angkatan udara yang berhasil melarikan diri ke pangkalan udara di Jinja dan Nakasongola menyebarkan kepanikan di antara pasukan Uganda di sana. Pembangkangan dan pembelotan massal terjadi. Nyerere memutuskan untuk mengizinkan pasukan Libya, yang telah menderita berat selama pertempuran, melarikan diri dari Kampala dan keluar secara diam-diam dari perang tanpa penghinaan lebih lanjut. Ia mengirim pesan kepada Khadafi menjelaskan keputusannya, mengatakan bahwa pasukan Libya dapat diterbangkan keluar Uganda tanpa perlawanan dari landasan udara di Jinja. Banyak prajurit Libya yang melarikan diri menjadi target warga sipil Uganda yang menyesatkan mereka, mengkhiatani mereka kepada TPDF, atau langsung membunuh mereka. Para penyintas sebagian besar mundur ke Kenya dan Etiopia, dari mana mereka dipulangkan. Kekalahan pasukan Libya di Uganda merupakan pukulan serius bagi kebijakan luar negeri Khadafi, dan dilaporkan menyebabkan konflik di dalam pemerintah Libya.
TPDF maju ke Kampala pada 10 April. Sedikit unit Uganda atau Libya yang melawan; masalah terbesar bagi pasukan Tanzania adalah kurangnya peta kota. Pada 11 April 1979, saat pasukan Tanzania dan UNLF membersihkan sisa-sisa pasukan Uganda di Kampala, Oyite-Ojok pergi ke Radio Uganda untuk menyatakan perebutan kota tersebut serta jatuhnya Idi Amin secara resmi. Ia menyatakan dalam siaran bahwa pemerintah Amin telah digulingkan dan Kampala berada di bawah kendali UNLF, serta mengimbau warga untuk tetap tenang dan prajurit Uganda untuk menyerahkan diri. Warga sipil keluar dari rumah mereka untuk merayakan dan melakukan penjarahan yang merusak. Pada 13 April Lule diterbangkan ke kota dan dilantik sebagai Presiden Uganda yang baru. Pemerintah UNLF yang baru dengan cepat diakui oleh negara-negara lain sebagai otoritas sah di Uganda. Pemerintah ini sangat terhambat dalam mengukuhkan dirinya karena kurangnya kekuatan polisi atau layanan sipil yang efektif dan penjarahan peralatan dari kantor-kantor. Pemerintahan ini tidak memainkan peran berarti dalam operasi militer berikutnya melawan pasukan Amin.
Sementara itu, Amin melarikan diri, pertama ke Libya dan kemudian ke Arab Saudi. Meskipun pelarian Amin dan jatuhnya ibu kota telah terjadi, sisa-sisa militer Uganda yang tersebar dan tidak terorganisir terus melawan. Dengan dukungan Libya, para loyalis ini mundur ke utara, menjarah saat mereka melakukannya. Mereka didampingi oleh militan PLO di bawah komando Mahmoud Da’as yang akhirnya menyeberang ke Sudan. Setelah perebutan Kampala, sedikit kerusakan tambahan yang disebabkan oleh pertempuran. Pada 22 April, TPDF merebut kota Jinja dan Bendungan Owen Falls dalam keadaan utuh (Batalyon Gaddafi Jinja telah berantakan), yang menyediakan seluruh listrik di negara itu. Sebagian besar unit Angkatan Bersenjata Uganda memberontak atau membubarkan diri, memungkinkan pasukan Tanzania-UNLF menduduki sebagian besar Uganda timur dan utara tanpa perlawanan (termasuk penyerahan Batalyon Gondo di Moroto dan keluarnya Brigade Timur pimpinan Abdulatif Tiyua ke Kenya). Beberapa unit Uganda melakukan perlawanan kuat di sepanjang perbatasan barat, tetapi ini juga bisa diatasi. Upaya oleh loyalis Amin untuk memblokir pergerakan maju Tanzania ke utara dikalahkan selama Pertempuran Bombo, Pertempuran Lira, dan Pertempuran Karuma Falls. Di Mbale, 250 pasukan Uganda membelot dan memilih untuk mempertahankan kota dari loyalis yang mundur dan menunggu kedatangan pihak Tanzania. Sejumlah besar warga sipil memersenjatai diri dan menyerang prajurit Uganda yang tertinggal, serta semua orang yang milik kelompok etnis atau agama yang dikaitkan dengan rezim Amin. Massa menghancurkan seluruh komunitas. Pembantaian terburuk dilakukan oleh pemberontak Uganda dari FRONASA dan Kikosi Maalum. Dalam banyak kasus, prajurit Tanzania membiarkan dan bahkan membantu penghakiman massa terhadap prajurit Uganda di tangan warga sipil yang ingin membalas dendam. Bagaimanapun, sebagian besar sumber sepakat bahwa pihak Tanzania berperilaku relatif baik, terutama dibandingkan dengan pemberontak Uganda dan militan suku.
Pertempuran terakhir dalam perang terjadi pada 27 Mei ketika sekelompok pasukan Uganda menembaki elemen Task Force TPDF dekat Bondo (pangkalan Resimen Kifaru) sebelum melarikan diri. Task Force tidak lama setelah itu merebut Arua tanpa menghadapi perlawanan. Setelah memasuki wilayah Nil Barat, FRONASA meluncurkan “pembantaian sistematis” terhadap populasi lokal, dibantu oleh milisi yang milik suku-suku anti-Amin. Bagian signifikan dari populasi sipil Nil Barat akibatnya melarikan diri ke pengasingan bersama dengan sisa-sisa Angkatan Bersenjata Uganda. Dari Arua sebuah brigade Tanzania maju ke perbatasan barat Uganda dengan Sudan dan Zaire. Brigade ini mengamankan perbatasan Sudan pada 3 Juni 1979, sehingga mengakhiri perang secara resmi. Pada saat itu total 30.000–45.000 personel TPDF dikirim di Uganda. TPDF kehilangan 373 prajurit selama perang, dan dari jumlah ini hanya 96 yang tewas dalam pertempuran. Sekitar 150 pemberontak Uganda tewas, sebagian besar dari mereka tewas ketika salah satu perahu mereka secara tidak sengaja terbalik di Danau Victoria. Sekitar 1.000 prajurit Angkatan Bersenjata Uganda tewas sementara 3.000 ditangkap. Setidaknya 600 prajurit Libya tewas selama perang, dan sekitar 1.800 terluka; 59 prajurit Libya ditangkap oleh TPDF sebagai tahanan perang dan dibebaskan beberapa bulan setelah perang berakhir. Beberapa petempur PLO tewas selama konflik, meskipun jumlah mereka tetap diperdebatkan. PLO mengakui kehilangan dua belas petempur di Uganda, setelah menghitung yang tewas dan yang hilang dalam tugas. Sebaliknya, perwira Tanzania mengklaim bahwa 200 petempur Palestina telah tewas selama konflik. Satu warga negara Pakistan juga ditangkap oleh TPDF bersama pasukan Libya, dan dibebaskan setelah perang. Sekitar 1.500 warga sipil Tanzania tewas oleh Angkatan Bersenjata Uganda di Kagera. Menurut Avirgan dan Honey, sekitar 500 warga sipil Uganda tewas oleh semua pihak bertikai. Yang lain melaporkan korban sipil yang jauh lebih tinggi di Uganda. Menurut diplomat India Madanjeet Singh, prajurit Angkatan Bersenjata Uganda mulai membunuh warga sipil Uganda dan ekspatriat secara acak setelah perang dimulai, dan dalam bulan Februari 1979 lebih dari 500 orang dibunuh. A.B.K. Kasozi menyatakan bahwa ribuan orang dibunuh oleh loyalis Amin yang mundur pada Maret dan April 1979, sementara Ogenga Otunnu berargumen bahwa pemberontak anti-Amin juga membunuh ribuan orang di wilayah Nil Barat selama tahap-tahap terakhir konflik.
DAMPAK PASCA-PERANG
Analisis Konflik
Sosiolog Ronald Aminzade menegaskan bahwa “kunci” kemenangan Tanzania adalah kerangka ideologisnya tentang perang sebagai ancaman bagi bangsa, dengan demikian memfasilitasi mobilisasi milisi populer yang tampil baik dalam pertempuran. Performa luar biasa dari elemen milisi sipil yang dimobilisasi ini kelak mengubah filosofi dan doktrin militer Tanzania pasca-perang; alih-alih mempertahankan struktur tentara profesional berskala besar yang mahal, militer Tanzania memilih berfokus pada struktur inti kecil dengan jajaran perwira terlatih yang siap memobilisasi rakyat saat krisis. Aminzade menyatakan bahwa sebaliknya Uganda “memulai perang wilayah non-ideologis”, dengan menempatkan pasukan yang menderita akibat moral rendah dan perselisihan internal. Perbedaan fundamental ini tecermin jelas dalam efektivitas kepemimpinan di kedua kubu. Jurnalis Godwin Matatu mengartikan bahwa kegagalan Angkatan Bersenjata Uganda terletak pada moralnya yang rendah dan ketergantungannya pada kendaraan dan jalan yang membuat mereka rentan terhadap pasukan darat Tanzania, yang bepergian dengan berjalan kaki untuk sebagian besar masa perang. Jurnalis Anne Abaho menyimpulkan bahwa Uganda kalah perang karena empat faktor kunci: ketegangan internal dan ketidakmampuan di dalam Angkatan Bersenjata Uganda, pengerahan peluncur roket BM-21 Grad oleh Tanzania dan kegagalan Uganda untuk membalasnya, kurangnya informasi intelijen militer, dan koordinasi yang buruk dengan Libya. Venter sebaliknya mengklaim bahwa TPDF memiliki “keunggulan” karena kampanye sabotase yang efektif yang dilancarkan oleh Save Uganda Movement serta “performa yang lesu dari pasukan pemukul balasan utama Amin”. Kombinasi dari faktor-faktor taktis dan logistik ini mengakibatkan kehancuran total pasukan loyalis Idi Amin.
Secara akademis, pakar sejarah militer seperti Michelle Moyd mengusulkan kerangka Poskolonialisme Multiarah (Multidirectional Postcolonialism) dalam melihat Perang Kagera. Pendekatan ini menguraikan bahwa perang regional antar-negara Afrika pasca-kemerdekaan ini tidak cukup hanya dilihat dari sudut pandang sejarah militer konvensional atau pertarungan antar-negara saja. Perang ini menghasilkan efek multiarah yang kompleks:
- Penyebaran Efek ke Luar: Pengerahan puluhan ribu prajurit melintasi perbatasan, penciptaan gelombang pengungsi dan eksil massal di wilayah Afrika Timur, serta jatuhnya korban jiwa di berbagai demografi.
- Tekanan dan Dampak ke Dalam: Tindakan sewenang-wenang terhadap warga sipil biasa, gangguan parah pada perekonomian lokal pedesaan akibat program pemindahan paksa Ujamaa vijijini di Tanzania serta krisis ekonomi Uganda, pendudukan militer, hingga trauma psikologis berkepanjangan.
- Dimensi Gender dan Sosial: Sebagaimana diteliti oleh Alicia Decker dan diceritakan dalam novel Waiting karya Grace Kyomuhendo, perempuan Uganda harus menanggung beban ganda—sebagai ibu yang berjuang melindungi keluarga dari pembantaian dan penculikan State Research Bureau, sekaligus menghadapi kedukaan akibat kehilangan suami, putra, dan paman di tangan militerisme Amin.
Koresponden perang menggambarkan taktik militer yang digunakan oleh kedua pihak selama perang sebagai sebagian besar tidak imajinatif, dengan Matt Franjola mengklaim bahwa itu “hampir seolah-olah semua perwira telah mempelajari Buku Panduan Prajurit Infanteri Inggris 1930 secara cermat. Banyak darinya begitu dapat ditebak”. Beberapa analis militer Barat mengaitkan kemenangan Tanzania pada runtuhnya Angkatan Bersenjata Uganda, berargumen bahwa TPDF akan dikalahkan oleh sebagian besar tentara Afrika lainnya. Yang lain merasa bahwa keberhasilan TPDF mengindikasikan peningkatan substansial dalam kemampuan militer Afrika selama tahun-tahun sebelumnya. Analis militer William Thom memuji kemampuan TPDF untuk berhasil menempatkan pasukannya dalam jarak yang signifikan. Venter berpendapat bahwa meskipun prajurit TPDF terbukti sebagai “penjarah yang handal”, mereka adalah “petempur dengan kaliber yang lebih baik” daripada prajurit kontemporer Nigeria, Etiopia, Angola, dan Mozambik. Ia mengaitkan keberhasilan operasi penyergapan mereka dengan pelatihan oleh Kuba dan Jerman Timur. Analis intelijen Kenneth M. Pollack mengaitkan kegagalan pasukan Libya pada moral mereka yang rendah dan kurangnya intelijen militer. Akademisi Benoni Turyahikayo-Rugyema menulis pada tahun 1998 bahwa “Seandainya Amin tidak menginvasi Kantong Kagera di Tanzania ia mungkin masih memerintah Uganda.” Keputusan invasi fatal tersebut menjadi pemicu utama kejatuhan rezimnya. Tanpa adanya tindakan agresi awal itu, posisi politik Idi Amin mungkin akan bertahan lebih lama.
Beberapa akademisi telah mengevaluasi apakah invasi Tanzania ke Uganda dan upayanya untuk menggulingkan Amin dapat diklasifikasikan sebagai kasus intervensi kemanusiaan yang terjustifikasi. Perdebatan ini muncul mengingat fakta bahwa serangan TPDF secara de facto memicu penghentian pembantaian dan menyelamatkan jutaan warga Uganda dari kediktatoran yang kejam. Sementara beberapa penulis setuju bahwa tindakan Tanzania bersifat kemanusiaan secara alami, yang lain membantah kesimpulan tersebut, berargumen bahwa bahkan jika Tanzania bertempur dalam perang dengan beberapa pertimbangan kemanusiaan, mereka sebagian besar menginvasi Uganda untuk alasan yang berbeda, yaitu pertahanan diri. Untuk bagiannya sendiri, pemerintah Tanzania menuduh Amin melakukan kekejaman terhadap rakyatnya dan menekankan bahwa banyak warga Uganda “merayakan” invasi Tanzania, tetapi tidak membenarkan perang atas dasar kemanusiaan. Sebaliknya, mereka berargumen bahwa negara telah bertindak dalam pertahanan diri atas wilayahnya (self-defense sesuai Pasal 51 Piagam PBB) dan bahwa rezim Amin menimbulkan “ancaman bergolak bagi perdamaian dan keamanan Afrika Timur”. Tanzania secara khusus menghindari penggunaan retorika kemanusiaan resmi guna mencegah tuduhan dari OAU bahwa mereka melanggar kedaulatan negara tetangga atau mencampuri urusan internal orang lain. Selain itu, aksi pembalasan konvensional seperti perataan kota Mutukula, Masaka, dan Mbarara oleh TPDF mengindikasikan karakter pertempuran militer standar, bukan murni misi penyelamatkan sipil.
Spesialis Kristen Emmanuel K. Twesigye menganggap perang tersebut sebagai “contoh baik dari ‘teori perang yang adil’ yang bekerja dengan baik”. Pengamat politik Daniel G. Acheson-Brown menyimpulkan bahwa, menurut teori perang yang adil sebagaimana diusung oleh Just and Unjust Wars karya Michael Walzer, invasi Tanzania ke Uganda dijustifikasi atas dasar kemanusiaan untuk menggulingkan kediktatoran yang kejam. Acheson-Brown juga mencatat bahwa Angkatan Bersenjata Uganda melakukan “jumlah kekejaman yang luar biasa” selama konflik dan bahwa Tanzania membuat “beberapa pelanggaran signifikan dari perilaku perang yang tepat”, khususnya ketika TPDF menghancurkan Mutukula. Walzer juga menganggap perang tersebut sebagai kasus intervensi yang terjustifikasi. Pakar hukum Noreen Burrows menulis bahwa sementara serangan Tanzania ke Uganda melanggar hukum internasional secara ketat, hal itu dijustifikasi oleh argumen moral dan politik. Pakar hukum internasional Sean D. Murphy mengarakterisasi invasi Tanzania ke Uganda sebagai “salah satu dari alasan campuran pertahanan diri dan perlindungan hak asasi manusia”. Belgia kemudian mengutip Perang Uganda–Tanzania sebagai contoh intervensi yang terjustifikasi ketika menjelaskan keputusannya untuk bergabung dengan intervensi Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO) dalam Perang Kosovo.
Kontroversi Politik Internasional
Penggulingan kepala negara berdaulat oleh militer asing merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi di Afrika pasca-kolonial dan sangat tidak dianjurkan oleh Organization of African Unity (OAU). Pada konferensi OAU bulan Juli 1979, Presiden Gaafar Nimeiry dari Sudan menegaskan bahwa Perang Uganda–Tanzania telah menetapkan preseden buruk yang melanggar piagam organisasi terkait larangan intervensi internal dan invasi wilayah bersenjata. Perang ini di satu sisi menyingkap kegagalan dan ketidakmampuan diplomasi OAU dalam menyelesaikan krisis antar-negara anggotanya secara damai. Kekhawatiran serupa turut disampaikan oleh Kepala Negara Nigeria, Olusegun Obasanjo. Ketakutan akan penciptaan preseden aksi intervensi militer ini memicu perdebatan sengit di forum regional.
Menanggapi kritik tersebut, Presiden Julius Nyerere menyampaikan kritik pedas terhadap OAU pada pidato Hari Kemerdekaan 9 Desember 1978 maupun dalam konferensi Juli 1979. Nyerere mengecam OAU dan upaya mediasinya, menuntut agar negara-negara Afrika mengecam agresi Uganda serta memaksa Amin membayar ganti rugi atas kerusakan di Kagera. Nyerere menegaskan bahwa Idi Amin adalah seorang pembunuh yang bertanggung jawab atas kematian lebih banyak orang dibandingkan rezim kulit putih Ian Smith di Rhodesia atau Balthazar Johannes Vorster di Afrika Selatan, namun para pemimpin Afrika cenderung berdiam diri hanya karena Amin berkulit hitam. Nyerere melontarkan kritik menohok bahwa Piagam OAU memiliki kelemahan mendasar yang membuat organisasi tersebut hanya berfungsi sebagai “serikat buruh” (trade union) bagi para kepala negara Afrika untuk saling melindungi, tanpa memberikan perlindungan nyata kepada rakyat Afrika dan membuat kecaman terhadap seorang fasis Afrika menjadi hal yang mustahil. Sangat disayangkan bahwa asas non-intervensi sering kali disalahgunakan untuk melindungi pelanggaran HAM yang berat.
Nyerere menuduh OAU hanya melindungi pemimpin kulit hitam dari kritik, padahal rezim Amin telah membantai rakyatnya sendiri secara luar biasa. Nyerere secara aktif membangun narasi diplomasi untuk membenarkan tindakannya di panggung internasional; Tanzania mengedarkan “Buku Biru” untuk menegaskan bahwa tindakannya terjustifikasi oleh serangan awal Uganda ke Kantong Kagera dan masuknya intervensi bersenjata Libya yang menghalangi pemberontak lokal. Langkah ini mendapat pujian dari Presiden baru Uganda, Godfrey Binaisa. Di panggung global, sebagian besar negara Barat bersikap hati-hati tanpa komentar terbuka, meski Menteri Luar Negeri Inggris David Owen menyambut baik berakhirnya rezim Amin. Pada akhirnya, komunitas internasional dan sebagian besar pemimpin Afrika—meski ada suara-suara yang menentang—secara tersirat menerima pengabaian kedaulatan tersebut dan menyambut baik jatuhnya Amin. Hal ini terbukti dari kecepatan mereka memberi pengakuan resmi kepada pemerintah transisi Uganda National Liberation Front (UNLF).
Dampak Pasca-Perang bagi Uganda
Bagi Uganda, perang ini membawa kehancuran ekonomi yang parah ditandai oleh lonjakan harga komoditas dan inflasi yang melambung tinggi. Pergerakan pasukan bersenjata di sepanjang tahun 1979 mengganggu musim tanam, memicu lonjakan harga pangan pokok seperti pisang, ubi jalar, dan singkong, serta menimbulkan kelaparan di beberapa wilayah. Meski wilayah pedesaan relatif terhindar dari pertempuran fisik langsung, diperkirakan sedikitnya 100.000 warga Uganda kehilangan tempat tinggal. Disintegrasi sosial pun tak terhindarkan setelah tumbangnya Amin; faksi politik dan etnis saling bersaing memperebutkan kekuasaan, sementara bandit bersenjata yang dikenal sebagai kondos memanfaatkan ribuan senjata sisa konflik untuk merampok. Pembunuhan politik dan aksi kriminal meluas di Kampala hingga tahun 1981 akibat hancurnya sistem peradilan dan kepolisian yang terbengkalai, sedangkan wilayah pedesaan masih sedikit tertolong oleh tatanan adat dan norma tradisional. Perang ini juga memicu maraknya perburuan liar yang merusak lingkungan secara signifikan. Sementara itu, kehadiran pasukan penjaga perdamaian TPDF dari Tanzania dalam jangka panjang menyisakan persoalan sosial, mulai dari lahirnya anak-anak hasil hubungan dengan wanita lokal hingga stigma penyebaran HIV/AIDS di Uganda selatan.
Sisa-sisa militer Amin (Uganda Army) yang melarikan diri ke Zaire dan Sudan kemudian berorganisasi kembali di bawah pimpinan perwira seperti Emilio Mondo, Isaac Lumago, Isaac Maliyamungu, Elly Hassan, Christopher Mawadri, dan Moses Ali. Pada musim gugur 1980, sekitar 7.100 pasukan eks-UA menginvasi wilayah Nil Barat, memicu perang saudara baru yang dikenal sebagai Perang Semak Uganda (Ugandan Bush War). Kelompok ini kemudian terpecah menjadi dua faksi utama: Uganda National Rescue Front (UNRF) di bawah Moses Ali dan Former Uganda National Army (FUNA) di bawah Elly Hassan yang saling bertempur. Sebagian veteran lainnya kemudian bergabung dengan gerakan perlawanan melawan pemerintahan baru atau membentuk kelompok seperti West Nile Bank Front, UNRF (II), hingga Allied Democratic Forces (ADF) di dekade-dekade berikutnya. Pasukan pendudukan Tanzania bahkan kehilangan lebih banyak personel selama masa penjagaan perdamaian ini sebelum akhirnya ditarik sepenuhnya pada Oktober 1981. Keberadaan kelompok-kelompok bersenjata sisa-sisa rezim lama ini terus mengancam stabilitas politik Uganda selama bertahun-tahun.
Krisis politik internal Uganda meletus hampir seketika setelah UNLF memegang kendali. Presiden Yusuf Lule mencoba memperluas kewenangan kepresidenannya secara sepihak dan mengabaikan kesepakatan Konferensi Moshi, serta meragukan milisi UNLA yang dianggapnya diisi partisan Milton Obote dan Yoweri Museveni. Penolakan Lule untuk berkonsultasi memicu kemarahan Komite Konsultatif Nasional (NCC), hingga ia dicopot pada 20 Juni 1979 dan digantikan oleh Godfrey Binaisa. Pencopotan Lule memicu demonstrasi besar di Kampala yang berujung bentrokan dengan pasukan Tanzania. Ketidakstabilan politik pucuk pimpinan ini memperlambat proses pemulihan pasca-perang di Uganda. Situasi politik semakin memburuk tatkala Binaisa berupaya menyingkirkan lawan-lawan politiknya; ia memindahkan Museveni dari jabatan Menteri Pertahanan setelah diyakinkan secara tipu daya oleh Paulo Muwanga bahwa Obote tidak berminat menjadi presiden. Namun, saat Binaisa mencoba memecat Kepala Staf UNLA David Oyite-Ojok pada tahun 1980, Komisi Urusan Militer NCC di bawah Muwanga, Oyite-Ojok, dan Museveni mengambil alih kekuasaan kepresidenan pada 12 Mei. Obote kemudian kembali dari pengasingan untuk memimpin partai UPC dan memenangkan pemilihan umum Desember 1980 yang diwarnai tuduhan kecurangan. Menolak hasil pemilu tersebut, Yoweri Museveni membentuk kelompok gerilya National Resistance Movement (NRM) pada Februari 1981 untuk melawan pemerintah Obote, yang pada akhirnya berhasil mengantarkan Museveni merebut tampuk kepresidenan Uganda pada tahun 1986. Perpecahan elit politik ini kembali menyeret Uganda ke dalam lingkaran perang saudara yang berkepanjangan.
Dampak Pasca-Perang bagi Tanzania
Di pihak Tanzania, perang meletus saat perekonomian baru saja mulai pulih dari krisis kekeringan parah tahun 1974–1975. Seluruh proyek pembangunan kementerian terpaksa ditangguhkan demi membiayai operasi militer yang menghabiskan dana diperkirakan mencapai $1 juta per hari. Total biaya langsung yang ditanggung Tanzania berkisar antara $500 juta hingga $1 miliar, ditambah kerusakan infrastruktur dan aset ekonomi di Kagera senilai $108 juta. Seluruh beban invasi dan misi penjagaan perdamaian ini harus ditanggung sendiri oleh kas negara di Dar es Salaam tanpa adanya bantuan finansial dari OAU, yang berdampak pada keterpurukan ekonomi, kelangkaan pangan, serta krisis layanan kesehatan. Beban finansial akibat perang ini baru benar-benar tuntas setelah Uganda melunasi utangnya kepada Tanzania pada tahun 2007. Secara militer, TPDF tidak mendemobilisasi anggotanya secara massal sesuai ekspektasi publik, melainkan mempertahankan struktur tentara yang diperbesar, yang membuat ukuran TPDF pasca-perang tetap lebih besar dibanding masa sebelum perang. Dalam hubungan luar negeri, Nyerere memulihkan hubungan dengan Libya pada 1982 dan tidak menyimpan dendam pada PLO. Pemerintah Tanzania juga memperketat keamanan di perbatasan Kagera, melarang pemukiman warga dalam jarak 100 meter dari garis perbatasan, dan menutup pasar lintas batas yang sempat memicu maraknya penyelundupan barang hingga perdagangan normal baru pulih pada dekade 1990-an. Sengketa penetapan ulang garis batas negara baru dapat diselesaikan secara penuh melalui negosiasi pada tahun 2001. Penataan perbatasan ini menutup celah potensi konflik di masa depan.
Mobilisasi puluhan ribu prajurit juga membawa pergeseran sosial yang mendalam bagi masyarakat Tanzania. Banyak pemuda dari keluarga miskin yang terbiasa dengan kehidupan militer menjadi pengangguran setelah didemobilisasi di tengah krisis ekonomi. Keadaan ini diperparah oleh maraknya penyelundupan senjata sisa perang Uganda ke Tanzania, yang memicu lonjakan aksi kejahatan, perampokan, dan pencurian ternak. Selain itu, komposisi prajurit TPDF pada tahun 1978 sangat didominasi oleh suku Kuria yang mencakup lebih dari 50% dari total pasukan, meskipun populasi mereka kurang dari 1% di Tanzania. Ketimpangan jumlah veteran bersenjata di berbagai daerah ini akhirnya memicu pergeseran peta kekuasaan lokal serta meningkatkan ketegangan dan kekerasan antar-suku, antar-klan, hingga antar-desa. Terakhir, pergerakan masif veteran perang ini diyakini secara luas oleh masyarakat dan tenaga kesehatan setempat turut memicu akselerasi penyebaran wabah AIDS di seluruh wilayah Tanzania pada dekade tersebut.
Diterjemahkan, ditambahkan, dan disunting kembali dari:
https://en.wikipedia.org/wiki/Uganda%E2%80%93Tanzania_War
https://www.prio.org/publications/10429
http://bongoajira24.blogspot.com/2017/10/the-tanzania-and-uganda-war.html
https://www.iosrjournals.org/iosr-jhss/papers/Vol.%2021%20Issue7/Version-8/K2107088691.pdf
https://www.newvision.co.ug/news/1508815/amin-annexed-kagera-salient-uganda
https://www.rezonville.com/tanzania
https://en.wikipedia.org/wiki/Uganda_Army_(1971%E2%80%931980)https://en.wikipedia.org/wiki/Air_campaign_of_the_Uganda%E2%80%93Tanzania_War
