Operasi Meetinghouse Di Tokyo, 9 Maret 1945: Pemboman Paling Mematikan Dalam Sejarah
Pada musim panas 1944, Korps Marinir dan Angkatan Darat Amerika Serikat merebut tiga pulau di rantai kepulauan Mariana, yakni Saipan, Tinian, dan Guam. Pulau-pulau ini, tidak seperti beberapa wilayah yang ditaklukkan sebelumnya. Ketiganya tidak hanya sekadar batu loncatan dalam jalan menuju Tokyo. Pulau-pulau ini memiliki arti strategis khusus, dan akan memainkan peran penting dalam kekalahan Jepang dalam beberapa bulan mendatang. Dikuasainya kepulauan Mariana menempatkan Jepang dalam jangkauan serangan pembom B-29 Superfortress Kekuatan Udara Angkatan Darat Amerika. Meski demikian, hingga awal tahun 1945, upaya pembom-pembom Amerika untuk menghancurkan kemampuan industri Jepang belumlah tercapai. “Kesatuan (pembom) ini meski mendapatkan banyak publisitas, namun belum mencapai apapun yang diharapkan dari misi pemboman strategis seharusnya”, demikian keluh Mayor Jenderal Curtis LeMay pada Letnan Kolonel St. Clair McKelway, perwira humasnya pada tanggal 6 Maret 1945. LeMay sudah mengambil alih Operasi pesawat-pesawat pembom B-29 di kepulauan Mariana 6 minggu sebelumnya. Program pemboman strategis atas Jepang selama ini diketahui memakai teknik yang sama dengan yang sukses digunakan di Jerman dengan menggunakan bahan peledak berkekuatan tinggi, namun hasilnya tidak banyak berefek ketika diaplikasikan di Jepang. Di Jepang, dua pertiga kapasitas industrinya telah dipecah-pecah di rumah-rumah dan pabrik-pabrik kecil yang diawaki oleh sekitar 30 pekerja atau kurang. Dengan situasi yang tidak menggembirakan ini, sebuah cara baru harus diciptakan untuk mencapai hasil yang diinginkan dan mempercepat berakhirnya perang di Pasifik. Itulah yang ada di pikiran LeMay. Taktik baru LeMay kemudian akan mulai diaplikasikan dalam sebuah misi pemboman atas kota Tokyo pada tanggal 9-10 Maret 1945.


PROLOG
Mayor Sam P. Bakshas bangun pagi itu dengan rahasia di kepalanya. Dia adalah salah satu orang yang menerbangkan pesawat pengebom B-29 Superfortress dari tiga pulau di Pasifik—Guam, Saipan, dan Tinian. Seorang penulis menjuluki orang-orang ini sebagai “seribu anak”. Sebenarnya ada beberapa ribu, dan mereka telah memberikan hati dan jiwanya untuk mengebom pulau-pulau Jepang—yang mereka sebut “Kekaisaran/The Empire”—tanpa hasil. Sebelum misi pathfinder fire storm yang sejak itu menjadi terkenal, pasukan udara sekutu telah menjatuhkan bom dari ketinggian tinggi dan tidak banyak mengenai sasaran. Kampanye udara melawan Jepang, pada saat itu, bisa dibilang gagal. Tapi Bakshas yakin situasi bisa berbalik. Bakshas (saat itu) berusia 34 tahun. Dia lebih tua dan lebih besar dari kru Superfortress di sekitarnya. Dia memiliki tinggi enam kaki satu inchi dan berbobot hampir 200 pound. Dia berasal dari Fergus County, tepat di pusat negara bagian Montana, dan telah merayu istrinya Aldora dengan hadiah naik pesawat. Hari ini, Bakshas memimpin Skuadron Pengeboman ke-93, bagian dari Grup Pengeboman ke-19.

Dalam iklim Guam, banyak awak B-29 menggunting celana panjang khaki mereka untuk membuat celana pendek yang compang-camping dan terlihat tidak rapi. Tapi Baksha tidak. Sammy Baksha—selalu dipanggil Sammy, tidak pernah Sam—tidak menyukai ketidakdisiplinan. Bakshas mengenakan celana khaki panjang dan sepatu berukuran rendah saat dia bersiap untuk hari yang akan berakhir dengan lepas landas di malam hari. Bakshas akan menjadi salah satu pria jangkung di antara para kru B-29 yang diberi nama Tall in the Saddle karena tidak ada seorang pun dari rekan-rekan kru-nya yang punya tinggi kurang dari enam kaki. Bakshas bukan kru biasa dalam misi ini, tetapi akan menerbangkan Tall in the Saddle, dan menurunkan komandan pesawat, yakni Kapten Gordon L. Muster ke tugas sebagai co-pilot. “Terdapat urgensi yang luar biasa dan kerahasiaan yang menyelimuti para B-29 di Mariana,” tulis St. Clair McKelway. Bahkan setelah anggota kru lainnya mulai mendengar mengenai dua rahasia utama—terbang di ketinggian rendah dan melepas semua persenjataan untuk meningkatkan daya muat bom—Baksha tetap mengunci rapat rahasia itu, seperti ekspresinya yang kaku, saat pagi itu dimulai.
PEMBOMAN DI KETINGGIAN RENDAH
Saat itu pukul 10:30, Waktu Standar Chamorro (Waktu Guam), tanggal 9 Maret 1945, pagi misi dari misi pemboman api besar ke Tokyo. Pesawat-pesawat B-29 diperkirakan akan tiba di ibu kota Jepang pada dini hari besok. Itu adalah misi dimana bos Komando Pembom ke-21 Mayjen Curtis E. LeMay mengubah taktik dengan harapan dapat mengubah arah perang melawan Jepang. Sersan Staf Carl Barthold, operator radio B-29 bernama Star Duster, memulai hari di gubuk Quonsetnya di Saipan dengan menulis surat ke rumah. Kru penembak di bagian blister kanan pesawat pembom Carl Barthold yakin bahwa tidak akan ada dari mereka yang akan kembali dari misi malam ini. Dia telah memasukkan semua yang dia miliki ke dalam tas B-4-nya—koper multi-kantung berlapis kain yang setara dengan koper perjalanan—dan meninggalkan barang-barangnya dengan rapi di tengah tempat tidurnya. “Dia bilang dia sedang melihat barang miliknya untuk terakhir kalinya,” jelas Barthold. Barthold, adalah seorang operator radio dengan Skuadron Pengeboman ke-870, Grup Pengeboman ke-497—pria Missouri berusia 21 tahun kurus, dengan tinggi lima kaki sepuluh inchi dan berbobot ringan 142 pon—mengenakan pakaian dalam dan bakiak, berjalan dengan susah payah ke dan dari kamar mandi, seratus meter menanjak dari Quonset-nya. Di luar ruangan, dia melihat pemandangan lapangan terbang Aslito yang spektakuler, yang sekarang diganti namanya menjadi nama Commander Robert H. Isely dari Angkatan Laut, yang telah terbunuh setahun sebelumnya saat menembaki tempat itu ketika masih ada di tangan Jepang. Nama Isely telah salah dieja ketika nama itu diberikan, dan lapangan terbang itu sekarang menjadi Lapangan Isley.



Di tempat ini terdapat tua landasan pacu paralel sepanjang 8.500 kaki (2.590 meter) yang diapit oleh tempat parkir untuk 100 pesawat yang berwujud seperti cerutu keperakan raksasa, lengkap dengan sayapnya. “Orang itu membuatku ketakutan,” kata Barthold keras-keras ketika dia melihat koper B-4 di ranjang. Begitulah jadinya jika Didier pergi ke surga, tetapi sejauh yang diketahui Barthold dia hanya pergi untuk makan. Dua bulan lalu, Barthold memiliki seorang petugas pengeboman yang tewas di tangannya saat terbang diatas Jepang. Malam sebelumnya, Barthold dan kru B-29 lainnya mendapat kabar dari komandan pesawat Kapten James M. Campbell, yang telah diberi tahu rahasianya—terbang di ketinggian rendah, dan tanpa membawa senjata. Barthold dan krunya akan lepas landas malam ini, mendaki ke dalam malam, dan menyerang Tokyo bukan dari ketinggian biasa 28.000 kaki (8.534 meter)—yang membuat pengeboman mereka menjadi tidak akurat—tetapi pada ketinggian rendah sekitar 8.000 kaki (2.438 meter). Saipan, dengan tebing-tebingnya yang tinggi dari mana begitu banyak orang Jepang menjatuhkan diri dalam lompatan bunuh diri ketika pasukan Marinir sedang dalam proses mengamankan pulau itu, adalah tempat yang sangat indah dengan samudra biru tua yang tertutup ombak yang mudah terlihat di semua sisi. Dan itu adalah tempat di mana pesawat-pesawat B-29 Superfortress bisa jatuh ke laut setelah meninggalkan ujung landasan pacu, setelah mengalami penurunan yang nyata sebelum mendapatkan kekuatan yang cukup untuk naik ke atas—atau menabrak lautan yang bisa meremukkannya dan menelannya.
KODE NAMA: OPERASI MEETINGHOUSE
Saat itu pukul 11:30, Waktu Standar Chamorro, tanggal 9 Maret 1945. Dalam pandangan yang mudah Saipan adalah Tinian—seluas 38 mil persegi batu karang, debu, hutan, dan ladang tebu, penuh sesak dengan B-29. Tinian adalah lempengan tanah hijau kecil yang dibentuk oleh gunung berapi prasejarah dan kumpulan hewan-hewan karang yang sudah mati. Tinian’s North Field memiliki tiga landasan pacu dari karang-karang yang dhancur sepanjang 8.500 kaki dan lebar 200 kaki (60,96 meter), paralel, dengan yang keempat segera ditambahkan dan lengkap dengan tanggul parkir untuk 265 pesawat Superfortresses, yang menjadikannya bandara tersibuk di dunia. Tokyo (kode: Meetinghouse) adalah kota terbesar di Jepang, dibangun di sepanjang tepi teluk besar yang melengkung. Kota itu adalah pusat kehidupan orang-orang Jepang. Untuk alasan simbolis, Amerika berencana untuk tidak mengebom Istana Kekaisaran, tetapi bagian kota lainnya, bersama dengan pabrik perakitan peralatan militer dan pabrik kendaraannya bebas untuk dijadikan target. Selain itu, Tokyo adalah rumah bagi industri rumahan di mana puluhan ribu keluarga Jepang memproduksi suku cadang kecil untuk keperluan militer. Rumah-rumah yang terbuat dari kayu dan kertas, yang nantinya akan dihancurkan oleh bom api LeMay juga merupakan pabrik. Sekitar 750.000 pekerja dengan penghasilan rendah memenuhi Tokyo dimana ribuan pabrik rumahan bekerja tanpa henti. Ada enam juta orang tinggal di Tokyo pada malam serangan B-29 yang akan membunuh banyak penduduk. Hal ini akan memicu lebih banyak orang mengungsi ke pedesaan, dan mengurangi populasi kota hingga setengahnya. Yang mengherankan, kota itu hanya memiliki satu unit pemadam kebakaran dan hampir tidak ada infrastruktur pertahanan sipil. Kota itu dipenuhi rumah-rumah rapuh dengan layar shoji geser, roka kayu berlantai atau lorong-lorong, dan fusuma, atau partisi kayu dan kertas. Bukan kebetulan bahwa orang-orang Amerika datang ke Tokyo dengan membawa bom api. Pada misi malam ini, bom pembakar kimia tipe E-46 akan menghujani orang-orang Jepang seperti petasan raksasa. Mereka datang dalam bentuk tandan dari 47 bom kecil yang disebut M69, diikat bersama di dalam silinder logam yang menyatu untuk membuka pada ketinggian 2.000 atau 2.500 kaki (609-762 meter). Tiga sampai lima detik setelah sumbunya meledak, mereka akan meledak. Sebuah peledak akan mengeluarkan sekarung penuh gel yang akan terbakar hebat. Kantung akan menahan gel di satu tempat, sehingga memicu api yang lebih panas. Senjata lain yang digunakan hari ini adalah bom tandan pembakar tipe E-28 dan M47, yakni bom berbasis minyak bumi yang akan dibawa oleh B-29 pemimpin yang dipiloti oleh komandan misi di udara, Brig. Jenderal Thomas “Tommy” Power—dan akan menembus bangunan dan menyebarkan gel ke segala arah untuk membakar bagian dalamnya. Setiap pesawat direncanakan akan membawa 180 bom, yang masing-masing berisi 32 kg napalm. Setiap bom napalm dijatuhkan dengan interval sekitar 30 meter.



PENGARAHAN KEPADA KRU
Saat itu pukul 1 siang, Waktu Standar Chamorro, tanggal 9 Maret 1945. Dalam Perintah Lapangan No. 43 yang dikeluarkan pada pukul 8 pagi tanggal 8 Maret 1945, oleh Komando Pengebom ke-21, Tokyo disebutkan sebagai “wilayah perkotaan Gedung Pertemuan.” Perintah itu menugaskan orang-orang seperti Bakshas di Guam (Wing Pembom ke-314) untuk menyerang pada ketinggian 5.000 hingga 5.800 kaki (1.524-1.768 meter), mereka yang berada di Tinian (Wing Pembom ke-313) untuk menyerang pada ketinggian yang sama, dan mereka yang berada di Saipan (Wing Pembom ke-73) untuk mengebom pada ketinggian 7.000 hingga 7.800 kaki (2.133-2.377 meter). Sebelum ini tidak ada armada pesawat pembom yang pernah diluncurkan dalam jumlah sebanyak itu tanpa terbang dalam formasi dan tidak ada pembom berat Amerika yang pernah terbang begitu rendah dalam misi melawan target utama. Tergantung pada pulaunya—Guam, Saipan, atau Tinian—dan tergantung pada kelompok pengebom (seluruhnya selusin), pengarahan untuk misi tanggal 9-10 Maret di Tokyo diadakan pada waktu yang berbeda sepanjang hari Jumat tanggal 9. Sebagian besar awak B-29 masuk ke gubuk Quonset raksasa di mana para kru duduk bersama dan menatap peta dan bagan. Komandan grup, perwira intelijen, dan perwira pengamat cuaca masing-masing mengambil giliran untuk berdiri tegak dan resah di atas panggung. Pada briefing untuk Grup Pembom ke-19 di Guam, semacam percakapan dengan sedikit ketegangan terjadi antara komandan Skuadron ke-93 Bakshas dan komandan pesawat Muster. Rupanya, ada ketegangan antara keduanya atas risiko dalam perjalanan malam ini ke wilayah Jepang. Di Grup Pembom ke-497 di Saipan, pengarahan Carl Barthold diadakan di dalam gedung beton yang besar. Perwira intelijen itu berbicara terlalu panjang tentang senjata antipesawat Jepang, pesawat tempur, dan perlakuan buruk terhadap para tahanan. Kata Barthold, “Pesawat saya adalah pemandu jalan dan kami akan lepas landas 45 menit sebelum pesawat-pesawat lainnya. Perwira intel, yang belum pernah melihat Jepang dari udara, tidak banyak membantu.” Pengarahan serupa juga dilakukan di Tinian. Di sini kekhawatiran didiskusikan dengan tenang. Banyak dari “para kru” itu takut akan kemungkinan mendarat darurat di laut. Dari 48 Superfortress yang diketahui telah dijatuhkan di Pasifik sejauh ini dengan 528 penerbang di dalamnya, unit penyelamatan udara-laut hanya berhasil menyelamatkan 164 diantaranya. Sistem rumit yang menggunakan pesawat-pesawat PBY Catalina dan PBM Mariner, kapal tender pesawat amfibi, dan kapal selam mulai terbentuk, tetapi awak B-29 tahu bahwa lautan itu luas dan disini sebuah pembom dapat direduksi menjadi sekedar titik kecil yang terombang-ambing di atas ombak. Lebih buruk lagi, banyak kru B-29 kekurangan senter Mae West karena awak pesawat sering meminjamnya untuk digunakan di tempat tinggal mereka dan untuk lupa membawanya.


DAFTAR PEMERIKSAAN PRA-PENERBANGAN
Di Saipan’s Isley Field pada sore hari dengan matahari yang kuning kusam menyelinap masuk dan keluar dari awan hujan tropis, Barthold dan kru pesawat Campbell menaiki sebuah truk di hardstand di depan pesawat pengebom berat bermesin empat yang menjulang. Dalam cahaya yang lebih terang, permukaan perak pesawat akan berkilau. Itu adalah sesuatu pemandangan yang indah bagi sebagian orang, tetapi bagi sebagian besar orang, bentuk B-29 tampak fungsional, badan pesawatnya yang berbentuk cerutu menghadap Barthold, sayapnya setinggi 141 kaki (42,9 meter) terbentang di depannya dengan baling-baling berbilah empat yang siap berputar. Awak darat sedang menyelesaikan pemeriksaan terakhirnya, setelah menghabiskan berjam-jam sejak tadi malam untuk memeriksa sistem, memuat bom, dan bahan bakar. “Ada 12 pesawat pathfinder dalam kelompok kami,” kata Barthold. “Kami harus lepas landas setengah jam sebelum yang lain. Kami harus tiba lebih dulu dan memberi tanda X besar di Tokyo agar mereka yang datang di belakang kami bisa melihatnya.” Beberapa komandan pesawat memerlukan inspeksi kru secara berbaris di sisi pesawat. Barthold berkata, “Komandan pesawat kami (Campbell) memiliki kepercayaan pada kami. Kami tidak mengadakan inspeksi formal. Awak darat sudah mengecek perlengkapan kami, termasuk peralatan Mae Wests kami, sudah ada di pesawat. Komandan pesawat kami membiarkan kami berperilaku seperti orang dewasa saat kami memeriksa perlengkapan kami sendiri, naik, dan bersiap untuk lepas landas.” Bersama kru lainnya, Barthold memasuki pesawat dengan memanjat ke ruang gelap di belakang roda hidung. Begitu duduk di kompartemen radarnya, dia bisa mendengar pilot dan teknisi penerbangan di interfon, menjalankan daftar pemeriksaan engine-start. “Saya adalah operator radionya,” kata Barthold. “Saya duduk di sebelah sekat yang menghadap ke sisi kanan pesawat. Saya memiliki radio, kunci, dan buku kode. Saya terhimpit di sana. Saya berada di kursi kecil yang ada di tengah-tengah turret senjata atas dan bawah, dan saya menghadap ke kanan. Kepalaku menempel pada empat senapan mesin kaliber .50 di turret atas, dan mereka selalu berderak di kepalaku. “Di seberang saya adalah navigator, yang menghadap ke depan. Di depan saya tetapi dipisahkan oleh sekat adalah petugas teknis penerbangan, yang menghadap ke belakang. Apakah kami semua sedikit lebih gugup dari biasanya karena kami akan pergi ke Tokyo di ketinggian yang lebih rendah? Ya. Ya, kami gugup.”

MARGIN KEAMANAN
Pesawat B-29 Barthold bergetar, dan tingkat kebisingan meningkat saat prosedur menghidupkan mesin dimulai. Saat itu pukul 17:15, Waktu Standar Chamorro, tanggal 9 Maret 1945. Lepas landas adalah waktu yang menegangkan. Lepas landas ke Tokyo dengan B-29 yang penuh dengan bahan bakar, bom, dan amunisi adalah pekerjaan yang berbahaya. Hampir semua orang di Guam, Saipan, dan Tinian pernah melihat setidaknya satu kecelakaan. Jika Anda kehilangan kendali mesin melewati tanda setengah jalan lepas landas, Anda mungkin tidak akan bisa berhenti sebelum ujung landasan pacu, dan pesawat akan jatuh dari tebing atau masuk ke air dan meledak. Tapi, seperti yang sangat disadari oleh Barthold, di Saipan setidaknya ada batas keamanan jika digunakan dengan benar. Di Isley Field, pada saat lepas landas, pilot B-29 yang bermuatan penuh biasanya menahan roda ke landasan hingga beberapa ratus kaki terakhir (dua persen terakhir dari panjang landasan pacu), menarik kembali secepat mungkin untuk meluncur di atas jalan di sepanjang tepi tebing, lalu menukik dengan kecepatan penuh ke laut jauh di bawah, mendapatkan kecepatan udara sambil menarik kembali roda dan akhirnya memulai penanjakan lepas landas yang panjang saat perut pesawat hampir meluncur di air. Lebih dari satu kru pesawat gagal dalam melaksanakan manuver ini, terutama pada saat malam hari.

LEMAY MUNCUL
Sebelum senja, pesawat-pesawat pathfinder sudah berada di udara sementara awak dari sisa pasukan penyerang yang terdiri dari 334 pesawat B-29 yang lepas landas dari tiga pulau sedang menanjak dengan pesawat mereka. Karena Guam lebih jauh dari Jepang, B-29 yang terbang dari situ sudah meluncur keluar lebih dulu. Mengamati dengan cermat persiapan yang bising dan sibuk para kru bomber adalah LeMay. Bagi St. Clair McKelway, perwira hubungan masyarakat sang jenderal, ada “sesuatu yang sangat, sangat mengganggu dalam diri jenderal baru yang kekar dan tampak polos ini.” LeMay hanyalah salah satu dari banyak orang yang berpikir untuk menggunakan bom api untuk membakar daerah perkotaan Jepang, tetapi dia sendiri yang bertanggung jawab memerintahkan anak buahnya untuk menyerang pada ketinggian rendah dan melepas senjata pertahanan diri pada mereka. LeMay tidak akan berada dalam kendali pesawat B-29 untuk misi Tokyo hari ini karena Jenderal Henry H. “Hap” Arnold telah menjadikannya bagian dari lingkaran dalam terkecil yang tahu tentang program super rahasia AS untuk membuat senjata baru—bom atom. Tak seorang pun dengan pengetahuan seperti itu dapat diizinkan mengambil risiko jatuh ke tangan Jepang. LeMay dan kepala stafnya, Brig. Jenderal August Kissner, berada di sebuah jip di North Field, Guam, saat sore hari menuju dengan malam. Mereka menyaksikan Power memimpin pembom B-29 pertama terbang ke langit. Saat itu pukul 17:36, Waktu Standar Chamorro, tanggal 9 Maret 1945. Tall in the Saddle, dengan Sammy Bakshas di kursi komandan pesawat, lepas landas dengan mulus tidak jauh di belakang Power. Mereka naik ke langit sore hari saat B-29 lainnya masih melakukan pemanasan di Saipan dan Tinian. Bakshas dan Muster sekarang termasuk di antara pilot-pilot B-29 yang paling berpengalaman dan, ketika bekerja sama dengan perwira teknis penerbangan mereka, Letnan 2 Leland P. Fishback, mereka dapat membuat pembom besar itu melakukan keajaiban. Ini adalah kru B-29 di puncak kemampuannya. Tall in the Saddle, menanjak, dalam kondisi yang baik. Tidak ada noda, tidak ada goresan yang merusak kulit logam alami dari pesawat Superfortress mereka yang halus. Empat mesin tipe R-3350 miliknya, yang diperlakukan dengan penuh kasih oleh kru darat yang ditugaskan oleh Muster, mendengung dengan lancar—sesuatu yang tidak selalu dilakukan oleh mesin R-3350 yang rawan masalah. Saat itu pukul 18:05, Waktu Standar Chamorro, tanggal 9 Maret 1945.

LEPAS LANDAS MENUJU TOKYO
Ketika mereka mulai lepas landas, banyak awak B-29 percaya bahwa komandan jenderal mereka yang suka mengunyah cerutu, LeMay, mengirim mereka menuju kematian. Tidak yakin bahwa mereka salah, LeMay menghabiskan sore hari menonton pesawat-pesawat B-29 lepas landas dari Guam di siang hari yang memudar. Dia memberi tahu McKelway, “Jika saya mengirim orang-orang ini menuju kematian, mereka akan menghabisi saya karenanya.” LeMay kemudian memberi tahu ajudannya Letnan Kolonel Robert S. McNamara, “Saya berada di bawah tekanan dari orang-orang yang tidak menginginkan perubahan dalam cara kami melakukan sesuatu. Saya merasa harus mengabaikan mereka dan mengambil kesempatan.” Le May berharap rencananya berhasil. Jika sukses, aksi pemboman B-29 akan memperpendek masa perang. Memang rencananya ini akan memakan banyak korban warga sipil Jepang, tetapi kemampuan industri Jepang harus dihancurkan. Jika gagal, maka akan diperlukan invasi untuk mengakhiri perang, dimana hal ini mungkin akan menimbulkan setengah juta hingga satu juta nyawa orang-orang Amerika. Sementara itu, butuh waktu dua jam 45 menit bagi 334 pesawat B-29 Superfortress untuk lepas landas, dengan jarak satu hingga tiga menit, dari enam landasan pacu di Guam, Tinian, dan Saipan. Belum pernah ada yang mengirim pesawat pengebom sebanyak ini dalam waktu sesingkat itu. Beberapa pesawat sedang memasukkan roda mereka dan menanjak keluar sementara yang lain masih memutar mesin. Koreografinya mungkin tidak sempurna, tetapi awal dari misi ke Tokyo berjalan semulus yang diharapkan semua orang. Pengerahan armada pengebom terbesar yang pernah dikumpulkan di Pasifik dimulai dengan baik. Salah satu pemandu jalan pertama yang terangkat ke angkasa adalah pesawat yang ditumpangi operator radio Carl Barthold. Begitu dia bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia telah selamat dari masa-masa lepas landas, selalu dalam waktu yang menegangkan, Barthold diberi waktu untuk melakukan apa yang telah dilakukan orang-orang militer sejak perang ditemukan—bekerja cepat dan menunggu. Stasiun operator radionya adalah kantor mini yang dikelilingi oleh gadget, kabel, dan buku kode. Barthold duduk menghadap kulit luar badan pesawat dengan bagian belakang panel petugas teknis penerbangan di sebelah kirinya dan sekat ruang bom di sebelah kanannya. Dia memiliki cukup ruang untuk tidak merasa sesak tetapi hanya satu lubang kecil yang memberikan pandangan sekilas ke langit dan laut di luar, yang semakin gelap saat malam turun. Sebagian besar dunianya terdiri dari kabel dan dial set radio komando SCR-522 empat saluran berfrekuensi tinggi. Dia memakai earphone dan memiliki mikrofon yang berguna. “Sialan LeMay akan membuat kita terbunuh,” kata seseorang di interfon. “Hentikan,” kata suara komandan pesawat Campbell. “Mari kita disiplinkan interfon, Tuan-tuan.”

PERGI SENDIRIAN
Misi mengebom Tokyo sudah mengudara. Dari 334 pesawat yang lepas landas dari tiga pulau, 279 akan berhasil menyelesaikannya sementara sisanya dibatalkan karena alasan teknis. Tidak ada penerbangan secara formasi. Setiap pesawat terbang sendiri-sendiri, komandan pesawatnya dipercayakan dengan jiwa-jiwa kru di dalamnya. Navigatornya dengan keahlian khususnya tidak pernah lebih penting daripada saat ini. Para penunjuk jalan berada jauh di depan dengan sebagian besar kelompok pembom dari Guam yang datang berikutnya, setelah lepas landas cukup awal untuk menyalip Superfortresses yang terbang dari Tinian dan Saipan. Pesawat-pesawat Wing Pembom ke-314 Power dari Guam ditugaskan untuk mendekati Jepang dengan terbang antara ketinggian 5.000 dan 5.500 kaki (1.524-1.676 meter). Wing ke-73 pimpinan Brigadir Jenderal Emmett “Rosy” O’Donnell dari Saipan akan terbang antara 3.000 dan 3.500 kaki (914-1.066 meter) sementara Wing ke-313 pimpinan Brig. Jenderal John H. Davies di Tinian akan melakukan perjalanan panjang ke Jepang pada ketinggian 4.000 hingga 5.000 kaki (1.219-1.524 meter). Pemisahan Wing Pembom berdasarkan ketinggian terbang di atas laut yang gelap dan berbahaya adalah harapan terbaik untuk mencegah tabrakan udara-ke-udara—dan, pada kenyataannya, tidak ada yang terjadi. Siapa pun yang akrab dengan formasi pengeboman siang hari yang presisi di Eropa—kumpulan pengebom dalam formasi bertingkat, dengan interval, dan formasi kotak yang bergerak bersama-sama secara serempak seperti panduan buku—akan percaya bahwa seluruh pasukan B-29 LeMay telah kehilangan semua rasa disiplin atau, bahkan, akal sehat. Mungkin orang-orang yang mengendalikan pesawat-pesawat ini benar-benar gila. Seorang penembak B-29 mengenang, “Kadang-kadang pada suatu malam saya akan melihat keluar gelembung kaca saya ke laut di bawah dan itu akan terlihat seperti kami melewati serangkaian jalan raya super yang terhubung dengan lampu. Apa yang saya amati adalah garis-garis yang terbentuk oleh makhluk laut yang berpendar. Itu menakutkan, bukan dengan cara yang menghibur tetapi dengan cara yang mengganggu.”

NILAI SEORANG NAVIGATOR
Sementara seorang pesawat-pesawat pembom menderu menuju sasarannya, terlalu banyak waktu untuk berpikir. Penembak Superfortress lain ingat memikirkan bahaya mengerikan dari bailout (terjun) ke atas air, yang bahkan lebih menakutkan daripada terjun diatas air. “Banyak yang membuka tali pengikat parasut mereka lebih awal sehingga mereka bisa keluar dan tidak dibelit oleh parasut mereka di dalam air. Peringatannya adalah, ‘Jangan mencoba menilai ketinggian Anda dan lepaskan tali pengikat parasut sampai kaki Anda basah.’ Di atas laut yang tenang, sangat sulit untuk mengetahui apakah Anda berada pada ketinggian 100 kaki atau 1.000 kaki (30-300 kaki)—bahkan di siang hari!” Cuaca di dalam dan sekitar Tokyo melukiskan gambaran yang membingungkan. Karena para pengebom berencana untuk membakar ibu kota Jepang itu, para pemimpin mereka harus menunggu di malam hari ketika udara kering dan ada angin di daerah sasaran. Angin, tentu saja, akan menyebarkan api. Cuaca saat itu memang kering dan berangin di Tokyo, tetapi segala macam kondisi cuaca bergolak di sekitar wilayah tersebut. Badai salju bergolak di beberapa lokasi dekat Tokyo. Saat itu pukul 21:30, Waktu Standar Chamorro, tanggal 9 Maret 1945. Terbang membosankan melalui langit malam adalah Tall in the Saddle dengan Baksha di kursi depan kiri mengawasi instrumen, memegang kendali yoke, bekerja dengan Muster dan Fishback, memantau perubahan perilaku keempat mesin, dan sering memeriksa dengan navigator John Hagadorn. Muster kesal. Dia dan Bakshas terkenal akrab sampai hari ini, tetapi Muster merasa komandan skuadronnya melangkahinya dengan mengambil peran pilot-in-command. Dalam banyak hal, anggota kru terpenting pesawat itu dalam perjalanan panjang menuju Jepang adalah Hagadorn. Jika dia mengacau, tidak ada lagi yang penting. Hagadorn terus mengikuti posisi pesawat setiap saat melalui perhitungan cermat (mencatat kecepatan, arah, dan perubahan arah) dan melakukan pengamatan benda-benda langit. Ketika dia ingin membuat “perbaikan” dengan sekstan genggamnya, Hagadorn merangkak ke dalam terowongan di atas ruang bom dan melihat ke astrodome transparan. Saat itu pukul 11:30, Waktu Standar Chamorro, tanggal 9 Maret 1945.


DUA COCA-COLA UNTUK LEMAY DAN MCKELWAY
Berjam-jam berlalu. Laut yang gelap mengalir di bawah pesawat-pesawat B-29. Tokyo semakin dekat. Di Guam, banyak staf LeMay yang tertidur dengan izin sang jenderal. LeMay biasanya tidak mengalami kesulitan tidur, tapi malam ini dia tidak bisa tidur. Dia tidak akan tahu sampai kekuatan utama mulai mengebom Tokyo dua jam setelah tengah malam. Pertanyaan yang mengganggunya adalah apakah perubahan taktiknya merupakan pukulan brilian bagi musuh atau surat perintah kematian bagi anak buahnya. LeMay selalu terlihat murung karena kondisi yang disebut Bell’s palsy, yang melumpuhkan otot-otot wajah di dekat mulutnya dan membuatnya hampir tidak mungkin untuk tersenyum. Jenderal yang memimpin ribuan awak pesawat pengebom ini sendirian di markas Quonset-nya, bersama St. Clair McKelway, yang telah menjadi orang kepercayaannya dan yang telah diberitahu untuk menunggu untuk mendengar pesan “bom dijatuhkan” yang diharapkan datang di pagi hari. LeMay dan McKelway bertukar obrolan ringan. Tidak ada yang baik dalam hal itu. Keduanya merasakan ketegangan saat menunggu kabar dari Tommy Power di ujung tombak pasukan penyerang. LeMay kemudian berbicara tentang istri dan anaknya di Cleveland. Ini bukan karakternya. McKelway menulis bahwa LeMay tidak memiliki kehidupan “di luar permainan bola, obat untuk menjaga lemak dari tubuhnya yang cenderung gemuk, permainan poker untuk bersantai sebaik mungkin dengan pikiran yang sebenarnya tidak pernah berhenti memikirkan bagaimana melakukan pekerjaan lebih baik pada hari berikutnya, dan sedikit membaca, Le May sebagian besar cukup serius. Hal ini kabarnya untuk meningkatkan pikirannya yang dia anggap tidak memadai.” Menjelang tengah malam dan para penunjuk jalan pertama akan tiba di ibu kota Jepang, semacam kesepian yang aneh mengikat McKelway dan LeMay. McKelway merasakan seolah-olah tidak ada perbedaan pangkat di antara mereka. “Kita tidak akan mendengar bom dijatuhkan selama setengah jam lagi,” kata LeMay, sambil melihat arlojinya. “Apakah Anda ingin Coca-Cola? Aku bisa menyelinap ke kamarku tanpa membangunkan yang lain dan mendapatkan dua Coca-Cola dan kita bisa meminumnya di mobilku. Itu akan menghabiskan sebagian besar waktu setengah jam.” Mereka lalu berkendara sejauh seratus yard (90 meter) ke tenda LeMay dengan mobil stafnya, dan dia menyelinap masuk dan mengambil minuman bersoda itu. “Kami duduk dalam kegelapan, menghadap ke hutan yang mengelilingi markas,” tulis McKelway—dua pria, tanpa jarak pangkat di antara mereka sekarang, menarik enam ons Coca-Cola dan mengetahui bahwa dalam waktu yang sangat singkat seribu anak buahnya akan tiba di atas Tokyo. Saat itu pukul 23:50, Waktu Standar Chamorro, tanggal 9 Maret 1945.

TOKYO TERANG BENDERANG
Jadi, apakah lampu jalan Tokyo benar-benar menyala sebelum pengebom tiba? Beberapa awak B-29 mengatakan kota itu terang benderang ketika mereka tiba, tanpa ada tanda-tanda pemadaman. Beberapa awak B-29 mendengarkan stasiun radio Jepang saat mereka terbang menuju Tokyo. Seorang kru yang dipimpin oleh Kapten Thomas Hanley dari 497th Bomb Group memasuki jam-jam terakhir menuju ke Tokyo mendengarkan sebuah lagu yang judulnya akan mereka ingat dengan ironinya: “Smoke Gets in Your Eyes.” Cuaca malam itu adalah seperempat bulan. Sebagian besar B-29 membuat belokan penting di Choshi Point, timur Tokyo, IP, atau titik awal, di mana mereka akan berbelok ke barat untuk memulai run-in yang direncanakan. Anggota kru mulai memakai rompi anti pecahan peluru mereka, pakaian berat dan tidak praktis dengan pelat baja yang bisa menyerap pecahan peluru. Beberapa mengenakan helm yang mengganggu penggunaan earphone tetapi menjanjikan perlindungan di kepala. Tidak ada yang melihat adanya pesawat tempur malam. Tembakan antipesawat akan menjadi musuh yang tangguh, tetapi para pesawat tempur musuh entah bagaimana menghilang. Pertahanan Tokyo adalah sebuah paradoks. Orang-orang Amerika diperingatkan tentang dan kadang-kadang dilaporkan melihat adanya balon barrage, kantong udara berisi gas yang digunakan untuk mengikat kabel vertikal di jalur pesawat yang mendekat. Namun, orang-orang Jepang tidak pernah memilikinya. Jepang memiliki pesawat tempur malam dan pilot pesawat tempur malam yang sangat cakap, namun kebanyakan orang Amerika tidak pernah melihatnya. Pada malam hari, jaringan senjata antipesawat dan lampu sorot Jepang bisa sangat menakutkan, dan tembakan akan mengencang setiap kali sinar lampu sorot mengunci pada pesawat-pesawat pengebom, namun tampaknya hanya ada sedikit koordinasi antara senjata anti pesawat dan lampu sorot.

Pihak Intelijen militer Amerika memperkirakan bahwa ada 331 senjata antipesawat berat dan 307 senjata antipesawat ringan yang dialokasikan untuk pertahanan Tokyo pada saat penyerangan itu, “senjata sebanyak yang pernah melindungi ibu kota Jerman, Berlin.” Kru pesawat pengebom takut pada senjata ini, namun senjata itu tidak pernah seefektif rekan-rekan mereka di Jerman. Sebuah jaringan kapal piket, stasiun radar dan pos pengintai bertanggung jawab untuk mendeteksi serangan yang masuk. Karena kekurangan radar dan peralatan pengendalian tembakan lainnya, para penembak antipesawat Jepang mengalami kesulitan untuk menargetkan pesawat yang beroperasi di malam hari. Stasiun radar Jepang hanya memiliki jarak deteksi yang pendek dan peralatan pengendalian tembakan untuk baterai antipesawatnya tidak canggih. Pada bulan Maret 1945, sebagian besar dari 210 pesawat tempur Divisi Udara ke-10 adalah pesawat tempur siang hari, dengan Resimen Udara ke-53 mengoperasikan 25 atau 26 pesawat tempur malam. Resimen tersebut mengalami kesulitan untuk beralih ke peran pesawat tempur malam, termasuk program pelatihan yang terlalu intensif yang membuat pilotnya kelelahan. Operator radio Carl Barthold ingat diberi pengarahan bahwa senjata antipesawat Jepang efektif dari atas tanah hingga ketinggian 5.500 kaki (1.676 meter) tetapi terdapat “celah” ada hingga ketinggian sekitar 10.000 kaki (3.048 meter) di mana cakupan efektif senjata anti pesawat baru dilanjutkan. Kebutuhan untuk cakupan di atas 10.000 kaki jelas dibutuhkan karena Amerika telah menghabiskan waktu berbulan-bulan terbang di ketinggian sekitar itu. “Kami diberitahu bahwa kami akan masuk melalui ‘jarak’ di mana mereka tidak akan memiliki kemampuan untuk menembak kami.” Sammy Bakshas di Tall in the Saddle akan mengetahui bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Namun pesawat-pesawat Amerika sedang mendekati kota di mana segala macam “lip service” di Tokyo telah disebarkan untuk mempertahankan daerah perkotaan dan penduduknya, tetapi hanya sedikit tindakan praktis yang benar-benar berdampak. Kota-kota di Jepang telah dilengkapi dengan sirene peringatan serangan udara, fasilitas pemadaman listrik, dan tempat perlindungan bawah tanah selama hampir 20 tahun, namun orang-orang di rumah dan di jalanan sering mengabaikannya. Di Tokyo, konstruksi shelter perlindungan, terutama ada di daerah dekat teluk, yang cukup rumit karena tidak dapat digali lebih dari beberapa kaki tanpa menyentuh air tanah. Banyak orang hanya tinggal di tempat mereka berada ketika para pengebom mendekat. Mungkin karena terbiasa dengan ketidakmampuan pihak Amerika sebelumnya untuk menyerang apa pun dengan bom mereka, penduduk kota mengabaikan penampilan bi ni ju ku, B-29, dan menyebutnya sebagai “tukang pos”.

Hari sebelumnya, angin kencang telah mengguncang panel pintu dan jendela di seluruh kota, angin yang sama yang diharapkan orang Amerika akan menyebarkan efek bom api yang mereka bawa, dan kebanyakan orang menjalani aktivitas harian mereka secara rutin. Selama beberapa malam terakhir, satu B-29 telah muncul di atas kota, tidak menjatuhkan bom apa pun, tetapi terbang sangat rendah dan memancing lampu sorot dan tembakan antipesawat. Ini adalah misi pengintaian dan membuat banyak orang di ibu kota gelisah, namun kegiatan rutin tetap berjalan, dan setelah gelap lampu mungkin tetap menyala. Atau mereka mungkin mereka tidak mempunyainya. Yukiko Hiragama, yang dipanggil Yuki, siswi berusia delapan tahun yang kebetulan berada di luar ruangan malam itu, tidak ingat apa pun tentang adanya lampu di jalan. “Sebelum pengebom datang, itu adalah malam kegelapan dan penuh bayangan,” kata Yuki. “Sirene membuat suara yang kuat di malam hari dan kemudian malam datang dan tidak ada B-29. Sirene diam dan lampu mati ketika B-29 tiba.” Sementara Yuki tetap terjaga, sebagian besar penduduk di Tokyo pergi tidur setelah sirene berhenti, banyak dari mereka kelaparan karena persediaan makanan telah menipis.
“JIKA KITA KALAH PERANG, KITA SEMUA AKAN DIADILI SEBAGAI PENJAHAT PERANG”
Pembom-pembom Amerika datang, dimulai dengan pesawat-pesawat pathfinders B-29. Pesawat-pesawat dibelakangnya membawa lebih dari 1.665 ton bom pembakar di Tokyo malam itu. Juga yang menunggu kedatangan pesawat-pesawat B-29 adalah jaringan pertahanan udara Jepang yang terfragmentasi dan sistem pertahanan sipil Tokyo yang hampir tidak berfungsi. Lapangan terbang tersebar di seluruh wilayah Tokyo, tetapi tugas mempertahankan ibu kota adalah milik Divisi Penerbangan ke-10 Angkatan Darat Jepang, dengan 210 pesawat tempur. Malam ini, ternyata, penerbangan rendah pesawat-pesawat B-29 mengejutkan armada pesawat tempur Jepang. Pada menit-menit awal di hari Sabtu, tanggal 10 Maret 1945, mereka menerima sedikit arahan dari petugas pengendali darat, dan penerbangan mereka tidak dikoordinasikan dengan lampu sorot dan baterai senjata antipesawat. Pesawat-pesawat tempur berkeliaran di pantai Jepang, tetapi pilot-pilot mereka tidak memiliki panduan dari stasiun radar darat dan tidak pernah bisa mendekat pada pesawat-pesawat B-29. Angkatan Darat bertanggung jawab atas baterai senjata antipesawat di dalam dan sekitar Tokyo. Seperti yang diharapkan LeMay, mereka tidak siap untuk menyerang pesawat-pesawat B-29 yang terbang di ketinggian rendah. Meskipun telah melakukan upaya terbaik mereka, para penembak anti-pesawat Jepang tidak efektif. B-29 Amerika yang datang terbang terlalu rendah, terlalu cepat, dan terlalu banyak. Saat itu pukul 00:15, Waktu Standar Chamorro, tanggal 10 Maret 1945. Saat kekuatan utama armada B-29 tiba di Tokyo, Barthold mengoperasikan radionya sebagai bagian dari kru Campbell dan mendengarkan sinyal di malam hari; kru Bakshas di Tall in the Saddle … mereka juga sudah tiba, dan ketika api mulai menyebar di Tokyo, suara mesin pesawat R-3350 di atas kepala berubah menjadi laksana guntur yang menggelegar. Pesawat-pesawat B-29 LeMay menjatuhkan hampir setengah juta bom pembakar M69 di ibu kota Jepang pada dini hari tanggal 10 Maret, meratakan 16 mil persegi kota itu, mengubah kegelapan menjadi cahaya buatan yang menakutkan, dan menenggelamkan puluhan ribu manusia dalam badai panas yang tidak tertahankan. Joseph Coleman dari Associated Press menulis, “Bom M69 melepaskan aliran api setinggi 100 kaki (30 meter) saat meledak dan mengirimkan api yang mengamuk melalui rumah-rumah kayu yang padat. Udara yang sangat panas menciptakan angin yang menyedot korban ke dalam kobaran api dan menyulut api yang berliku-liku. Aspal meleleh dalam panas 1.800 derajat Fahrenheit. Dengan sebagian besar populasi pria usia tempur, wanita, anak-anak dan orang tua berjuang dengan sia-sia untuk melawan api atau melarikan diri.”



“Membunuh orang Jepang tidak terlalu mengganggu saya saat itu,” kata Jenderal LeMay. McNamara mengutip LeMay yang mengatakan, “Jika kita kalah perang, kita semua akan diadili sebagai penjahat perang.” “Dan saya pikir dia benar,” tambah McNamara. “Dia, dan saya akan mengatakan bahwa kami berperilaku layaknya penjahat perang. LeMay menyadari bahwa apa yang dia lakukan akan dianggap tidak bermoral jika ada pihaknya kalah.” Faktanya kejahatan sebenarnya di Tokyo pada pagi hari tanggal 10 Maret adalah bahwa pihak berwenang Jepang tidak siap. Personel pertahanan sipil, tanggap darurat, dan pemadam kebakaran secara memalukan—dan secara kriminal—tidak siap menangani serangan habis-habisan dari udara. Tidak ada pertahanan yang bisa dilakukan orang biasa terhadap bom M69 yang meledak. Memadamkan bom dengan selimut tidak pernah berhasil. Di Tokyo, pihak berwenang berusaha melengkapi setiap rumah tangga dengan pengait, sekop, ember pasir, dan tong air. Mereka tidak berguna. Di seluruh Tokyo, hampir tidak ada tempat perlindungan serangan udara. Pemadam kebakaran Tokyo sangat menyedihkan. Dalam beberapa bulan terakhir, kekuatannya meningkat dari 2.000 menjadi 8.100 petugas pemadam kebakaran. Pemadam kebakaran New York, yang tidak lagi menghadapi kemungkinan dibom dari udara sendiri terdiri dari hampir 10.000 petugas pemadam kebakaran. Pada tahun 1943, departemen Tokyo memiliki 280 buah alat pemadam kebakaran. Pada awal tahun 1945 memiliki 1.117 buah. Kekurangan mekanik membuat lebih dari setengahnya menganggur.
PANAS DAN HORROR
Radio Tokyo mengabarkan bahwa pembom-pembom musuh berputar-putar di pelabuhan Chosi, 50 mil timur laut Tokyo, dimana tidak terlihat adanya bahaya yang mendekat. Serangan atas ibukota Jepang itu dimulai tepat setelah pukul 11 malam waktu Tokyo, atau tengah malam menurut waktu Chamorro di mana orang-orang Amerika mengatur jam tangan mereka. Sirene terdengar di Tokyo. Pesawat-pesawat penunjuk jalan, dimana operator radio Barthold berada di antara mereka, mulai menjatuhkan bom pembakar yang oleh Jepang disebut molotoffano hanakago, atau “keranjang bunga Molotov,” bertuliskan “X” di seluruh zona target. Setelah jeda singkat, kekuatan utama armada B-29—panjang 400 mil (643 km)—menghabiskan waktu 2 1/2 jam melewati Tokyo. Mereka melepaskan api yang lebih parah daripada kebakaran besar yang meluluhlantahkan kota Moskow pada tahun 1812 dan San Francisco pada tahun 1901, bahkan lebih besar dari kebakaran yang terjadi setelah gempa bumi dahsyat di Tokyo pada tahun 1923. Bahkan dengan mempertimbangkan bom atom berikutnya, mereka menyalakan api terpanas yang pernah membakar di dunia. Pesawat-pesawat ini membawa bom api yang secara otomatis jatuh dari ruang bom pada jarak tertentu. Suatu mekanisme waktu bernama intervalometer, yang disesuaikan dengan kecepatan relatif pembom terhadap daratan, telah dipasang untuk menaburkan satu tandan bom api seberat 225 kg pada tiap jarak 15 meter. Begitu api datang, tidak ada jalan keluar. Api menyala dan segera berkobar menyatu karena ditiup angin bulan maret secepat 45 km per jam, yang dipercepat lagi menjadi 64 km per jam oleh panas api. Dalam waktu 30 menit, api sudah tidak bisa dikendalikan. Kebakaran itu dengan cepat melalap struktur perumahan kayu di kota Tokyo. Badai api menggantikan oksigen dengan gas mematikan, memanaskan atmosfer, dan menyebabkan angin seperti badai yang meniupkan tembok api di seluruh kota. Bom api Dari Operasi Meetinghouse menciptakan angin super panas yang berubah menjadi angin tornado. Kasur, gerobak, kursi — bahkan kuda — dikirim terbang ke jalanan.

Ketika orang-orang mulai melarikan diri, insting pertama mereka mendorong mereka menuju ke arah air. Air, diperkirakan, akan membunuh panas yang menyengat dan melindungi mereka yang membenamkan diri di dalamnya dari bahaya apa pun dari kobaran api yang sekarang menyapu blok demi blok Tokyo. Namun, pada malam ini, air bukanlah penyelamat dari api. Sekolah Futaba terkenal dengan kolam renangnya yang besar dan bangunan batanya yang besar, sehingga orang-orang berbondong-bondong ke sekolah tersebut dengan harapan bisa pergi ke kolam renang atau berlindung di sekolah tersebut. Keesokan paginya, ribuan mayat ditemukan di sekolah, tidak terbakar, tetapi terpanggang sampai mati oleh panasnya api. Kiyoko Kawasaki, seorang ibu berusia 36 tahun, berlari ke jalan dengan dua ember di kepalanya untuk perlindungan, berlari ke lautan api dan melihat tubuh terbakar mengambang di Sungai Sumida. “Para PSK yang nongkrong di tepi sungai melompat ke kolam terdekat,” kenangnya. “Tapi sungai itu mendidih sehingga mereka semua mati.” Saat itu satu-satunya jalan menuju selamat adalah melewati jembatan yang ada diatas sungai Kanda, namun tempat itu ada di luar tembok api.



Siswa sekolah menengah berusia dua belas tahun Yoko Ono melihat api dari dekat dan merasakan panasnya. Yoko adalah bagian dari elit istimewa dalam masyarakat di mana tinggi badan berarti segalanya, Yoko adalah seorang anak berwajah keras, yang ayahnya, seorang bankir, yang ada di Hanoi di Indochina. Dia berharap untuk bisa melepaskan diri dari lingkungan kelas atas untuk menjadi seorang seniman. Saat pengeboman berlangsung, Yoko berlindung bersama ibu dan dua saudara kecilnya di bunker khusus yang disediakan untuk mereka yang berada di dekat puncak hierarki sosial. Itu ada di distrik Azabu Tokyo, dalam jarak pandang dari pembantaian yang membakar tetapi pada jarak yang relatif aman. Segera setelah mereka bisa bebas, ibu Yoko dan ketiga anaknya bergabung dengan tetangga dalam upaya lari cepat keluar dari kota yang terbakar, ke daerah terbuka. Tetapi para petani di pedesaan juga kelaparan dan tidak antusias untuk berbagi makanan dengan gerombolan pengungsi perkotaan. Dalam beberapa minggu ke depan, mereka akan mengais makan dari peternakan ke peternakan, keluarga Yoko mengalami masa-masa sulit waktu itu. Dia mengemis makanan saat menjadi tunawisma dan mendorong barang-barang keluarga di gerobak dorong. “Saya tidak perlu diberitahu tentang kesulitan hidup,” katanya. “(Karena) Aku sudah pernah mengalaminya.” Nantinya Yoko Ono akan menjadi sosok tenar setelah menikah dengan vokalis The Beatles, John Lennon di tahun 1969.
30 DETIK DIATAS TOKYO
Salah satu korban di langit yang berkelap-kelip di dekat Tokyo yang terbakar adalah Zero Auer, sebuah B-29 yang dikemudikan oleh komandan pesawat Letnan Satu Robert Auer dari Grup Pengeboman ke-19 asal Guam. Seorang anggota keluarga Auer kemudian menulis tentang “tantangan fisik yang berat” untuk bisa mengendalikan pesawat Superfortress seberat 65-ton saat diombang-ambingkan seperti mainan—menuntut setiap kekuatan otot yang Auer dan 2nd Lt. Harold D. Currey, Jr., bisa kerahkan. Sebuah peluru antipesawat menghantam titik kritis Zero Auer, kemungkinan meledak di dalam tempat bom-nya yang terbuka. Zero Auer melakukan perjalanan beberapa mil ke utara Tokyo dan kemudian terlihat pecah menjadi tiga bagian yang berbeda, dengan semburan api berwarna merah-oranye keluar dari sela-selanya. Satu awak berhasil melompat keluar, tetapi yang lain tewas. Saat itu pukul 02:05, Waktu Standar Chamorro, tanggal 10 Maret 1945. Sepertiga perjalanan pesawat-pesawat B-29 melintas di atas Tokyo, artileri antipesawat Jepang menghantam Tall in the Saddle dan 11 awaknya. Tepat setelah “bom dijatuhkan”, sebuah peluru senjata anti pesawat meledak langsung mengenai Tall in the Saddle. Menurut laporan awak pesawat yang hilang, B-29 itu ditembak jatuh di lokasi yang “tidak diketahui” dan pada waktu yang “tidak diketahui”. Tepat di atas badai api yang berkumpul diatas, pembom yang dikendarai Bakshas tampak pecah di udara, miring secara aneh, dan jatuh, api menyembur kembali dari tangki bahan bakar sayapnya. Tall in the Saddle adalah satu-satunya Superfortress yang ditembak jatuh tepat di atas ibukota Jepang dan jatuh ke tengah area target. Diperlukan waktu antara 30 detik hingga satu menit bagi B-29 untuk melintasi hampir 16 mil persegi kota Tokyo yang padat yang sekarang berkobar-kobar—terbakar begitu hebat hingga abunya menggores hidung B-29 satu mil di depan, sementara awak pesawat bisa mencium bau daging yang terbakar. Tall in the Saddle tampaknya terkena hantaman langsung tepat di titik tengahnya. Selama 3 jam B-29 terus berdatangan. Jelaga menghitamkan tubuh berwarna keperakan dari pesawat yang datang pada urutan belakang, dimana bom terpaksa dijatuhkan di tepi daerah sasaran untuk menghindari pusaran udara dan asap membutakan yang memenuhi kokpit dengan bau tajam bakaran kayu, daging dan rambut. Seorang pilot memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membuat tanda salib. Ia terdengar berkata: “Kobaran api ini akan selalu menghantuiku. Inilah pemandangan paling mengerikan di dunia.” Maynard David, seorang juru bom, mengingat bahwa, “ketika pintu ruang bom terbuka, pesawat dipenuhi dengan asap dari bawah dan kami mencium bau yang mengerikan ini. Kami menutup pintu ruang bom setelah kami menjatuhkan bom dan menuju ke laut. Baunya masih begitu kuat di pesawat sehingga pilot memerintahkan saya untuk membuka pintu bom lagi untuk membiarkan udara segar masuk. Anda hanya bisa membayangkan apa yang terjadi di bawah kami.” Baunya, tentu saja, adalah bau daging manusia yang terbakar. Begitu banyak korban di bawah kami sehingga baunya akan meresap ke dalam pesawat dan pakaian terbang awak pesawat selama berhari-hari setelah pemboman.


Brigadir Jenderal Thomas S. Power—Tommy—komandan udara keseluruhan misi, bertahan di atas target selama 90 menit. Power membuat tanda silang di peta genggam untuk menunjukkan blok tempat kebakaran terjadi. Dia memakai krayon warna merahnya. Anggota kru pembom menjadi gugup. Tidak ada yang suka berlama-lama di atas target yang dipertahankan dengan baik. Dalam sebuah laporan, Power menulis, “Cara terbaik untuk menggambarkan seperti apa bom api ini keluar dari ruang bom pesawat terbang adalah dengan membandingkannya dengan raksasa yang menuangkan sekop besar arang panas putih ke atas tanah, meliputi area dengan panjang sekitar 2.500 kaki (762 meter) dan lebar sekitar 500 kaki (152 meter).” Power mungkin adalah orang yang paling keras di antara ribuan orang Amerika yang terbang di atas Tokyo pagi itu, tetapi dia tetap terguncang oleh penderitaan manusia di bawah sayapnya. Saat dia terus melihat ke bawah, dia sesekali menyeka matanya. Seorang anggota kru mengingat kata-kata “bajingan malang” keluar dari bibirnya. Pesawat Power adalah salah satu B-29 terakhir yang meninggalkan target. Waktu berbalik menuju Mariana, juru tembak di ekor pesawat Powell menatap kobaran api hingga saat mereka berada dalam jarak 240 km. Saat itu pukul 03.05, Waktu Standar Chamorro, tanggal 10 Maret 1945. Letnan Dua Hubert L. Kordsmeier adalah komandan pesawat B-29 Superfortress dari Grup Pengeboman ke-498 yang terbang dari Saipan. Untuk alasan yang mungkin tetap menjadi misteri selamanya, tak lama setelah menjatuhkan bom api mereka di Tokyo yang terbakar, tiga B-29 dari tiga kelompok pembom yang berbeda—dua dari Guam dan satu dari Saipan—terbang ke gunung yang sama di Jepang pada waktu yang hampir bersamaan. Kordsmeier adalah yang pertama. Saat itu pukul 3:40 pagi, waktu Standar Chamorro, tanggal 10 Maret 1945. Bagaimana mungkin tiga pesawat terbang ke gunung yang sama? Dan bagaimana tiga B-29 berakhir seratus mil (161 km) di timur laut Tokyo? Kordsmeier dan pilotnya, 2nd Lt. Claude T. Dean, harus berjuang dengan kontrol pesawatnya sebelum menghantam ke Gunung Fubo setinggi 5.657 kaki (1.724 meter) di Pegunungan Zao. Cherry the Horizontal Cat, dikomandoi oleh Firman Wyatt dari Grup Pengeboman ke-29 yang babak belur yang beroperasi dari Lapangan Utara, Guam, adalah yang kedua dari tiga B-29 yang jatuh ke lereng Gunung Fubo. Kapten Samuel M. Carr adalah komandan pesawat Superfortress ketiga yang tidak disebutkan namanya yang bertabrakan dengan lereng gunung yang menjulang dalam kegelapan dan salju yang berputar-putar. Sekali lagi, semua awak diatasnya gugur.
“KOTA BESAR TOKYO SUDAH MATI”
Saat itu pukul 3:30 pagi, Waktu Standar Chamorro, tanggal 10 Maret 1945. Misi pengeboman api yang hebat telah selesai. Bunyi “all clear” terdengar pada pukul 02:37 waktu Tokyo, atau pukul 03:37 pada jam yang digunakan oleh orang Amerika. Mayat-mayat menghitam yang ditumpuk sedang diangkut dengan truk. Warga Tokyo Fusako Sasaki mengatakan dia melihat “tempat-tempat di trotoar di mana orang-orang telah terpanggang sampai mati.” Mark Selden, yang menulis di Japan Focus, berpendapat bahwa angka 100.000 yang dipercaya secara sebagai korban tewas dalam pengeboman itu menyesatkan. Tulis Selden, “Angka sekitar 100.000 kematian, yang diberikan oleh otoritas Jepang (Kantor Sejarah Perang Jepang mencatat 72.489 korban tewas) dan Amerika, keduanya mungkin memiliki alasan sendiri untuk meminimalkan jumlah kematian, bagi saya tampaknya bisa dibilang terlalu rendah mengingat kepadatan penduduk, kondisi angin, dan menurut catatan dari korban selamat. “Dengan rata-rata 103.000 penduduk yang per mil persegi (396 orang per hektar) dan tingkat kepadatan tertinggi 135.000 per mil persegi (521 orang per hektar), menjadikannya kepadatan tertinggi dari kota industri mana pun di dunia, dan dengan aksi pemadaman kebakaran yang sangat tidak memadai untuk memadamkan api seluas 15,8 mil persegi di Tokyo hancur pada malam ketika angin kencang dengan api dan dinding api memblokir puluhan ribu yang melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka. Seperti yang ditulis oleh pilot B-29 Robert Bigelow dalam jurnalnya: “Kami telah menciptakan neraka di luar imajinasi terliar Dante.” Diperkirakan 1,5 juta orang tinggal di daerah yang terbakar.” Beberapa minggu kemudian dalam sebuah publikasi Angkatan Darat Amerika, Sersan Staf Bob Speer menulis, “Kota besar Tokyo—terbesar ketiga di dunia—telah mati—apa pun yang Anda ingin sebut segala sesuatu yang membuat kota metropolitan modern menjadi organisme yang hidup dan bisa dibilang berfungsi—menjadi limbah abu putih, lapangan abu tak berujung, dan tertiup angin. Bahkan tidak sebuah tembok pun yang masih berdiri di area yang luas di ibu kota Jepang itu. Jalan-jalan sepi, orang-orang mati atau melarikan diri, kota itu sudah hancur.



“Orang-orang yang menyelesaikan pekerjaan mempelajari foto-foto yang dibawa kembali oleh pilot pesawat pengintai mereka … terdiam dan tidak percaya. Mereka menggelengkan kepala satu sama lain dan membungkuk di atas foto lagi, lalu menggelengkan kepala lagi, dan tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun.” Area gudang yang luas, pabrik besar, rel kereta api, stok bahan mentah, seluruh kompleks pabrik rumah—semuanya hilang. Studio siaran JOAK, dari mana suara Tokyo Rose biasa menyiarkan pesan untuk mengejek para awak B-29, rusak berat. Imperial Hotel, yang dirancang oleh Frank Lloyd Wright, membutuhkan perbaikan serius. Stasiun kereta api terbesar di Asia — Ueno dan Tokyo Central — benar-benar musnah. Dari foto pengintaian udara, LeMay menaksir daerah seluas 40 km persegi menjadi abu, termasuk 18% daerah industri, dan 63% daerah pusat perdagangan. Radio Tokyo menamakan pemboman ini sebagai “pembantaian” dan membandingkannya dengan pembakaran kota Roma pada Jaman Kaisar Nero di tahun 64 Masehi. Pembakaran Tokyo dan pengamatan dari Kaisar Hirohito selanjutnya pada bagian kota yang porak poranda dikatakan telah menandai awal dari keterlibatan pribadi kaisar dalam proses mencapai perdamaian.
104.000 TON BOM DIJATUHKAN DI TOKYO
Setelah 15 jam dan empat menit di udara, komandan udara misi pengeboman api di Tokyo yang hebat, Brigadir Jenderal Thomas S. Power, mendarat di Lapangan Utara Guam. Ada lingkaran hitam di sekitar mata Power. Pesawat berhenti, dan dua mesinnya masih hidup ketika Power mendarat di tanah. LeMay menyapa Power dengan sedikit senyuman. St Clair McKelway melihat dan mencoba membaca reaksi kedua pria itu. Power mengatakan kepada LeMay bahwa tembakan senjata antipesawat di Tokyo lebih ringan dari yang dia duga, pesawat-pesawat tempur malam Jepang tidak terlihat, dan kebakaran di Tokyo, yang akhirnya digabungkan menjadi satu kebakaran besar, lebih dahsyat dari yang diperkirakan siapa pun. “Bukan main bagusnya misi ini” tutur Power kepada Le May. Tiga B-29 mendarat darurat setelah misi ke Tokyo. Dari 334 pembom yang diluncurkan ke Jepang pada dini hari tanggal 9 Maret 1945, sekitar 279 pesawat tiba di atas target dan melewati titik sasaran utama di “Gedung Pertemuan”, pusat kota Tokyo. Awak-awak pesawat B-29 Superfortress membawa pulang bau kematian yang terbakar. Kembali dari misi, di pagi yang diterangi matahari, Lt. Satu Bill Lind dari Grup Pengeboman ke-497 meluncur ke tempat parkirnya, menarik kembali jendela di samping tempat duduknya, dan berteriak kepada kru daratnya, “Hei, anak-anak! Datanglah ke pesawat ini dan cium bau Tokyo!” Saat itu pukul 08:30, Waktu Standar Chamorro, tanggal 10 Maret 1945. Korban Amerika secara signifikan terhitung kecil, dengan sekitar 90 penerbang hilang setelah serangan itu, dan 14 pesawat B-29 tidak pernah kembali baik karena tembakan musuh atau kecelakaan. Jenderal LeMay dan bosnya Jenderal Hap Arnold menganggap Operasi Meetinghouse sebagai kesuksesan besar. Misi untuk menghancurkan industri rumahan Jepang, setidaknya di Tokyo, telah tercapai. Begitu suksesnya Meetinghouse sehingga pengeboman kota-kota di Jepang tidak berakhir pada tanggal 9-10 Maret. Kota Nagoya, Osaka, Kobe, Nagoya (lagi) semuanya diserang dengan bom api di minggu yang sama dengan pemboman Tokyo.



Pada saat meriam-meriam anti pesawat tidak terdengar lagi, pesawat-pesawat B-29 telah menjatuhkan 104.000 ton bom di atas Jepang, menjadikan puing-puing seluas 169 mil persegi di 66 kota. Misi pengeboman ini telah menyebabkan 9,2 juta warga sipil kehilangan tempat tinggal, termasuk 3,1 juta di Tokyo. Antara bulan Juni 1944 dan Agustus 1945, 402 B-29 hilang saat mengebom Jepang—147 di antaranya karena tembakan anti pesawat dan pesawat tempur Jepang dan 255 karena kebakaran mesin dan kerusakan mekanis. Bom atom Hiroshima dan Nagasaki, jika digabungkan, telah menimbulkan kerusakan yang lebih kecil daripada serangan pemboman api besar di Tokyo. Penulis berpendapat bahwa kekalahan Jepang tanpa invasi disebabkan oleh kampanye B-29 secara keseluruhan dan bukan semata-mata oleh bom atom. Hebatnya, rencana pengeboman Tokyo berhasil. Korban di pihak Amerika menyakitkan tetapi kecil, sebanding dengan besarnya keberhasilan misi mereka. Perang Pasifik kemudian berakhir pada tanggal 15 Agustus 1945. Penyerahan resmi Jepang ditandatangani di atas kapal perang USS Missouri di Teluk Tokyo, pada hari Minggu, tanggal 2 September 1945. Berbicara kepada para perwira Sekutu dan Jepang, Jenderal Douglas MacArthur, sekarang komandan tertinggi Sekutu untuk pendudukan Jepang, mengatakan, “Isu-isu, yang melibatkan cita-cita dan ideologi yang berbeda, telah ditentukan di medan perang dunia dan karenanya bukan bagian kita untuk mendiskusikan atau mendebatnya.” Dia berkata demikian mungkin mengacu pada misi pemboman api di Tokyo yang hebat.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
Pathfinder Fire Storm: the B-29s Over Tokyo That Helped End the War By Robert F. Dorr
The Rising Sun: The Decline and Fall of the Japanese Empire, 1936–1945 by John Toland, 1981; p 757-760, p 763
Time Life World War II series: Bombers Over Japan by Keith Wheeler, 1982; p 163-164
Hellfire on Earth: Operation MEETINGHOUSE by Seth Paridon
https://www.nationalww2museum.org/war/articles/hellfire-earth-operation-meetinghouse
33 Haunting Photos Of The Firebombing Of Tokyo In 1945 By Marco Margaritoff | Checked By Megan Liscomb Published December 28, 2020
https://allthatsinteresting.com/firebombing-of-tokyo
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Bombing_of_Tokyo_(10_March_1945)
