Ksatria Indian di Tanah Korea: Kisah Kepahlawanan Mitchell Red Cloud Jr Membendung Serbuan Tentara China
Untuk tentara yang menerima penugasan ke Divisi Infanteri ke-2 yang terletak di dekat Zona Demiliterisasi di Korea Selatan, salah satu kamp yang pada akhirnya akan dikunjungi atau setidaknya didengar oleh semua tentara adalah Kamp Red Cloud. Kamp ini terletak di kota komuter Uijongbu di utara ibukota Korea Selatan Seoul. Camp Red Cloud adalah markas dari Divisi Infanteri ke-2 dan unit pendukung lainnya. Meskipun setiap prajurit di Divisi Infanteri ke-2 mengetahui keberadaan Kamp Red Cloud, namun sangat sedikit yang benar-benar tahu dari siapa nama kamp tersebut dinamai. Ada diantara mereka yang menduga bahwa tempat itu dinamai menurut penampakan matahari terbenam yang terlihat dari kamp di atas pegunungan di malam hari. Apa yang banyak orang tidak sadari adalah bahwa Camp Red Cloud sebenarnya dinamai menurut nama seseorang dan bukan untuk awan merah yang terlihat di udara. Kamp itu diberi nama menurut nama Mitchell Red Cloud Jr. yang yang mendapat penghargaan Medal of Honor untuk keberaniannya di medan tempur selama Perang Korea.

LATAR BELAKANG
Menyusul penyerahan Jepang yang mengakhiri Perang Dunia II pada tanggal 2 September 1945, Angkatan Darat Amerika dikurangi menjadi hanya tinggal 10 divisi, dengan empat di antaranya, yakni divisi Infanteri ke-7, ke-24, dan ke-25 serta Divisi Kavaleri ke-1, ditempatkan di Jepang untuk tugas pendudukan. Dengan berakhirnya perang, orang-orang Amerika umumnya berpikir bahwa tidak ada kebutuhan nyata untuk mempertahankan lebih banyak pasukan dalam dinas militer aktif. Keyakinan ini terus dipegang teguh sampai pukul 04.00 pada tanggal 25 Juni 1950, ketika pasukan Komunis dari Tentara Rakyat Korea Utara (NKPA) melintasi garis paralel ke-38 derajat untuk menyerang Korea Selatan. Setelah invasi ini, Divisi Infanteri ke-24, yang ditempatkan di pulau Kyushu, Jepang, telah bersiaga pada tanggal 30 Juni, ketika Presiden Harry S. Truman memerintahkan divisi ini ke Korea Selatan. Di antara para prajurit yang dikirim ini adalah seorang veteran Marinir Perang Dunia II keturunan Indian Amerika, Kopral Mitchell Red Cloud Jr. Lahir pada tanggal 2 Juli 1925, di Hatfield, Wisconsin., Mitchell adalah anggota dari Bangsa Ho-Chunk (Winnebago) dan anak sulung dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Mitchell Red Cloud Sr. dan Lillian Winneshiek. “Selama masa mudanya, dia suka berburu, memancing, dan semua hal lain yang disukai anak laki-laki di wilayah reservasi,” kenang keponakannya, Merlin Red Cloud. “Teman dan kerabatnya memberi tahu bahwa dia santai dan suka bersenang-senang, dan tidak ada yang bisa mengingatnya pernah menunjukkan kemarahan pada apa pun.” Sekolah Mitchell Jr. dimulai di Sekolah Pedesaan Clay dan Komensky sebelum pindah ke Sekolah Indian Winnebago selama satu tahun. Saat SMA ia mendaftar di Black River Falls High School sebelum memutuskan untuk drop out.

BERTEMPUR BERSAMA MARINIR DALAM PERANG DUNIA KE-II
Di usia 16, Mitchell Jr. keluar dari sekolah menengah Black River Falls High School dan, dengan izin ayahnya, mendaftar di Korps Marinir Amerika pada tanggal 11 Agustus 1941. Gaya hidup orang Ho-Chunk, keterampilan berburu, dan ketahanan fisiknya yang luar biasa membantunya untuk menjadi Marinir yang berkualitas. Ketika Jepang menyerang Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember, Red Cloud ditempatkan di Camp Elliott di San Diego di Batalyon ke-2, Resimen Marinir ke-9, Divisi Marinir ke-2. Keahliannya kemudian telah membuatnya dengan mudah masuk ke dalam Batalyon Raider Marinir ke-2 Letnan Kolonel Evans Carlson, yang juga dikenal sebagai Carlson Raiders. Sebagai unit infanteri ringan elit Marinir, Raiders memiliki standar kebugaran fisik dan mental yang tinggi. Red Cloud kemudian dikirimkan ke Pasifik. Pada tanggal 6 September 1942, seluruh Batalyon Raiders Marinir ke-2 sedang dalam perjalanan ke Espiritu Santo yang termasuk dalam gugus kepulauan New Hebrides. Pada tanggal 4 November 1942, para personel Raiders tiba di Guadalcanal, misi mereka adalahbuntuk membungkam artileri Jepang yang menembaki landasan udara Henderson Field. Setelah menjelajahi selama sebulan melalui hutan, para Raiders berhasil menemukan dan melenyapkan artileri musuh. Mereka juga membunuh hampir 500 tentara Jepang, menghancurkan perbekalan musuh dan memutuskan jalur komunikasi mereka. Total Batalyon ini kehilangan 19 personelnya tewas dan 122 terluka dalam misi tersebut. Red Cloud lalu menghabiskan waktu satu bulan di hutan dengan Batalyon Raiders-nya dalam melawan tentara Jepang di Guadalcanal. Seperti banyak rekan-rekannya, Pfc Red Cloud menderita penyakit malaria berat, penyakit kuning dan sejumlah penyakit tropis lainnya yang sangat parah. Dia kehilangan bobot 75 pon (34 kg), dan pada tanggal 14 Januari 1943, dia diperintahkan pulang untuk diperiksa. Pada bulan Februari dia ditawari untuk dibebastugaskan dengan alasan kesehatan, yang dia tolak. Segera setelah ia merasa mampu, ia kembali bertugas aktif, kali ini sebagai anggota pleton senjata dari Kompi A, Resimen Marinir ke-29, Divisi Marinir ke-6. Di Okinawa, pada tanggal 17 Mei 1945, perang berakhir untuk Red Cloud Jr. dengan medali Purple Heart diterimanya, ketika dia tertembak peluru di bahu kirinya. Dia kemudian dievakuasi ke Guam untuk mendapatkan perawatan sebelum dikirim kembali ke AS.


KEHIDUPAN SIPIL & BERGABUNG DENGAN ANGKATAN DARAT
“Setelah menerima pemberhentian dengan terhormat dan uang senilai $56.70 dari Korps Marinir di bulan November 1945, Red Cloud menjelajahi Wisconsin, mengunjungi kerabatnya selama sekitar dua tahun,” kata Merlin Red Cloud. Setelah meninggalkan marinir, dia sedikit bekerja menjadi antropolog amatir. Pada bulan Desember 1945, Red Cloud menerbitkan sebuah artikel di Wisconsin Archaeologist, sebuah cerita tradisional sukunya tentang penyerahan pemimpin Sauk Black Hawk tahun 1832 kepada otoritas AS setelah Perang Black Hawk yang singkat. Dalam artikel tersebut, ia menyatakan dukungannya terhadap teori sejarah mengenai penyerahan secara sukarela oleh suku Black Hawk. Dia juga membantu antropolog Nancy Lurie, menginformasikan studinya tentang bagaimana kebiasaan pengasuhan anak di antara penduduk asli Amerika berubah dari waktu ke waktu. Red Cloud kini telah benar-benar kembali ke kehidupan sipil dan tinggal di reservasi Indian Winnebago. Red Cloud menikah dan memiliki seorang putri, bernama Annita. Tetapi keluarganya mengatakan dia menjadi gelisah sebagai warga sipil, dan kemudian memutuskan untuk kembali bertugas aktif di militer. Saudara laki-lakinya mengatakan bahwa Red Cloud tertarik untuk bertugas di semua kecabangan militer Amerika. Pada tahun 1948, Mitchell mendaftar di Angkatan Darat AS, dan dikirim ke Jepang. Saat bergabung dengan Angkatan Darat, Red Cloud tidak diizinkan untuk mempertahankan pangkat sersan-nya di Korps Marinir. Unit Red Cloud pertama kali ditugaskan untuk menjalani penugasan sebagai pasukan pendudukan di Pulau Kyushu. Penugasan ke Jepang pasti tampaknya seperti tugas yang mudah bagi Red Cloud dibandingkan dengan apa yang telah ia lalui selama Perang Dunia II.

DIKIRIM KE PERANG KOREA
Namun, waktu santai yang dia habiskan di Jepang tidak berlangsung lama ketika Divisi Infanteri ke-24 dikerahkan ke semenanjung Korea untuk menghentikan militer Korea Utara yang telah menyerbu Korea Selatan. Militer Korea Utara melintasi garis demarkasi (DMZ) yang memisahkan kedua negara itu pada tanggal 25 Juni 1950 dan tampaknya sedang dalam tahapan untuk menyatukan kembali negara yang telah dibagi oleh pasukan pendudukan AS dan Soviet setelah Perang Dunia II. Namun Presiden AS Harry S. Truman memutuskan untuk melakukan intervensi militer guna menghentikan invasi komunis di semenanjung Korea dan satu-satunya pasukan yang cepat tersedia untuk dikerahkan ke Korea adalah pasukan pendudukan yang berlokasi di Jepang. Sebagian besar dari pasukan ini adalah para wajib militer yang tidak ikut bertempur selama Perang Dunia II dan hanya memiliki sedikit pelatihan tempur saat ditempatkan di Jepang. Meskipun pasukan ini sangat ingin berperang dalam apa yang disebut sebagai “aksi polisionil”, namun mereka tetap akan tergantung pada veteran Perang Dunia II yang berpengalaman seperti Mitchell Red Cloud Jr. untuk menyiapkan orang-orang ini siap berperang. Dari empat divisi Amerika yang ditempatkan di Jepang, Divisi ke-24 dipilih untuk menjadi yang pertama dikerahkan ke Korea. Elemen pertama dari Divisi Infanteri ke-24 yang tiba di Korea adalah Satgas Smith yang bernasib buruk saat pertama kali bertempur melawan militer Korea Utara di selatan Osan. Pada tanggal 3 Juli 1950, Red Cloud berangkat ke Korea untuk menjalani perang keduanya bersama dengan pasukan Kompi E, Batalyon ke-2, Resimen Infantri ke-19, Divisi Infanteri ke-24. Kopral Red Cloud, sekarang telah berusia 25 tahun, lebih tua dari banyak prajurit yang mendampinginya. Dia juga dikenal sebagai seorang veteran yang berpengalaman dan sudah mendapatkan penghargaan. Para perwira dan tamtama sama-sama menghormatinya. Dia mendapat julukan “Kepala Suku (Chief)”, dan dikenal mudah bergaul, serta cepat memberikan nasihat kepada prajurit yang lebih muda, yang semua memandang kepadanya. Mereka akan segera belajar dan semakin lebih lagi menghormatinya. “Dari cerita yang (diceritakan) oleh para veteran kami yang bertugas bersama Mitchell di Korea, Mitchell adalah seorang pemimpin yang selalu baik hati dan baik terhadap orang-orang Korea yang dia coba bantu,” kata Merlin Red Cloud. “Dia menukar ransumnya dengan rekan-rekannya untuk mendapatkan permen mereka, yang akan dia berikan kepada anak-anak Korea.”



Resimen Infanteri ke-19 Red Cloud terlibat dalam Pertempuran Taejon, dan bertempur di Sungai Kum sebelum dipaksa keluar dari kota Taejon. Unit ini kemudian mundur kembali ke Sungai Naktong, dan terlibat dalam kampanye mempertahankan Perimeter Pusan selama bulan Agustus dan September 1950. Selama Pertempuran Naktong Bulge Pertama, Resimen Infanteri ke-19 dipindahkan dari posisi unit cadangan untuk memerangi Divisi ke-4 Korea Utara, yang mencoba menerobos garis pertahanan mereka. Setelah dihajar dengan parah dalam pertempuran ini, divisi tersebut dipindahkan kembali ke unit cadangan di sepanjang Perimeter Pusan pada tanggal 23 September. Resimen ini digantikan oleh unit dari Divisi Infanteri ke-2. Dalam ofensif besar berikutnya di Naktong, Resimen Infanteri ke-19 bertugas sebagai pasukan cadangan untuk membantu unit-unit yang diserang dalam Pertempuran Naktong Bulge Kedua. Resimen Infanteri ke-19 kemudian turut berpartisipasi dalam Pertempuran Kyongju, membantu pasukan Tentara Republik Korea untuk mendesak mundur pasukan Korea Utara dari wilayah Kyongju. Pada akhir bulan September 1950, pendobrakan kepungan di Pusan dan pendaratan pasukan PBB di Inchon telah membuat pasukan NKPA mundur sepenuhnya, dan pasukan PBB di Korea, di bawah Jenderal Douglas MacArthur, mulai mendekati Sungai Yalu, perbatasan Korea Utara dengan Manchuria China. Sebagai kopral, Red Cloud selalu berada di ujung tombak, memimpin anak buahnya saat pasukan Amerika dengan cepat bergerak ke utara pada musim panas 1950.
OFENSIF CHINA
Pemerintah China, yang merasa terancam oleh pasukan AS yang begitu dekat dengan perbatasannya, kemudian mengirim 500.000 tentara China ke garis depan dengan harapan memperlambat kemajuan pasukan Amerika. Pada akhir bulan Oktober, Pasukan Komunis China (CCF) melakukan intervensi dengan kekuatan besar-besaran untuk membantu militer Korea Utara yang terdesak. Serangan tak terduga oleh tentara China ini menyebabkan pasukan AS dan PBB mundur besar-besaran yang dengan cepat berubah menjadi bencana militer lainnya. Pada bulan November, sebuah rencana sedang dibuat untuk menarik semua pasukan PBB di Korea Utara ke seberang Sungai Chongchon. Area strategis di seberang sungai itu harus dilindungi jika sewaktu-waktu pasukan PBB diperintahkan untuk melanjutkan aksi ofensif. Pada tanggal 2 November, tepi utara Sungai Chongchon dipertahankan oleh Brigade Persemakmuran Inggris ke-27 dan Resimen Infanteri ke-19 dari Divisi ke-24 Amerika. Karena kekurangan personel, kedua unit ini dipisahkan oleh jarak lima mil (8 km), yang seharusnya dipatroli terus-menerus. Pada tanggal 5 November, pasukan China mulai menyelidiki garis pertahanan pasukan PBB, menghindari patroli dan bergerak bebas melalui celah tersebut. Peringatan tentang kebiasaan tentara China yang suka menyerang pada malam hari tidak didengar oleh banyak unit PBB.


PERTEMPURAN DI BUKIT 123
Pada malam tanggal 5 November, para prajurit China mulai bergerak mengikuti jalur telepon lapangan yang menuju ke Kompi C dari Resimen Infanteri ke-19. Banyak orang Amerika kemudian didapati dan dibunuh di dalam kantong tidur mereka. Di dekatnya, bercokol di Bukit 123, Kompi E dari Resimen ke-19, yang mencoba mempertahankan bagiannya dari garis pertahanan Sungai Chongchon. Untungnya bagi kompi itu, Kopral Red Cloud telah mengindahkan peringatan dan tetap terjaga. Diam-diam, sekitar 1.000 prajurit infanteri dari Resimen ke-355 tentara China menyusup diantara posisi Batalyon ke-2 dan Brigade Persemakmuran ke-27. Red Cloud ditempatkan di sebuah pos pengamatan garis depan pada satu titik tepat di dekat pos komando Kompi E. Dari sana, dia bisa mendeteksi orang-orang China ketika mereka melancarkan serangan sekitar pukul 03.20, di bawah bulan yang hampir purnama. Teman Red Cloud di Kompi itu, Private First Class Ed Svach kemudian menceritakan bagaimana Kopral Red Cloud pernah mengatakan kepadanya bahwa dia bisa mencium kedatangan orang-orang China. Red Cloud berkata, “Ini seperti berburu rusa di Wisconsin Aku bisa mencium mereka datang.”


Red Cloud berada di pos pengamatan malam itu dengan asisten penembak senjata otomatisnya. Red Cloud hafal dengan bagaimana orang-orang China suka menyerang. Tentara China biasanya akan meluncurkan serangan frontal kecil untuk menarik perhatian, sementara kekuatan utama serangan sebenarnya akan menyusup dari samping dan belakang. Itulah sebabnya Red Cloud menempatkan pos pengamatannya di samping dan belakang pos komando kompinya. Saat musuh menyerang dari area yang tertutup semak, kurang dari 100 kaki (30 meter) darinya, Red Cloud memberikan alarm peringatan kepada rekan-rekan prajuritnya. Komandan Kompi, Kapten Conway mulai membangunkan semua prajurit dan mengkonsolidasikan posisi pertahanan Kompi E. Sayangnya peringatan Red Cloud tidak cukup untuk memperingatkan semua orang di kompi tepat waktu, sehingga orang-orang Cina dapat menembak beberapa tentara AS di kantong tidur mereka. Kemudian, meraih senapan otomatis Browning Automatic Rifle (BAR) dan melompat dari tempat persembunyiannya, Red Cloud mengosongkan magasin demi magasin ke pasukan China yang menyerang dari jarak dekat. “Tembakannya yang akurat dan intens menahan serangan ini dan memberikan waktu bagi kompinya untuk mengkonsolidasikan pertahanan,” demikian bunyi kutipan resmi keberaniannya. Juga dicatat disini bahwa dia kemudian ditembak dua kali di dada dan asistennya BAR ikut terbunuh, “Dengan sangat berani dia mempertahankan posisi menembaknya sampai terluka parah oleh tembakan musuh.” Dua peluru peluru yang bersarang di dadanya nyaris tidak memperlambatnya saat dia terus bertarung, hingga akhirnya dia mengalami beberapa luka serius lainnya.
BERTEMPUR SAMPAI AKHIR
Perry Woodley, petugas medis Peleton ke-2, bergegas ke lubang perlindungan Red Cloud dan memasang perban pada dua luka di dadanya. Red Cloud tampak baik-baik saja dan terus menembakkan BAR-nya ke arah tentara China. Woodley kemudian meninggalkan Red Cloud untuk membantu tentara lain yang terluka. Saat Woodley pergi, dia bisa mendengar tembakan BAR dilanjutkan di belakangnya. Dia kembali beberapa saat kemudian untuk memeriksa Red Cloud lagi. Dia menemukan Red Cloud dikelilingi oleh sekitar selusin mayat tentara China dan terluka lebih parah daripada saat terakhir kali dia melihatnya. Woodley yang mendapati Red Cloud terluka terlalu parah parah, mencoba membawanya turun dari bukit, tetapi Red Cloud yang sudah kehilangan banyak darah menolak mendapatkan bantuan medis lebih lanjut dan menyuruh Woodley berkonsentrasi untuk menyelamatkan orang-orang yang terluka lainnya. “Kopral Red Cloud memaksakan dirinya untuk berdiri,” kutipan itu melanjutkan, “dan melingkarkan lengannya di sekitar pohon, yang kemudian dia gunakan untuk menstabilkan senapannya, dan melanjutkan tembakan mematikannya lagi, sampai dia terluka parah.” Seorang prajurit bernama Pete Salter mengatakan bahwa dia sebenarnya menggunakan sabuk jaring untuk mengikat Red Cloud ke pohon sehingga dia bisa tetap tegak untuk terus menembak. Sesuatu yang tidak diketahui secara luas tentang pertempuran ini adalah bahwa prajurit lain, yakni PFC Joseph Balboni berada di posisi dekat Red Cloud yang menciptakan tembakan menjepit tentara China, sehingga ada cukup waktu bagi prajurit lain di kompinya untuk mencoba melarikan diri ke selatan. Di bawah tembakan pelindungnya, Kompi E lainnya memulai gerak mundur dari puncak bukit ke posisi yang bisa dipertahankan 1.000 yard (900 meter) di selatan Bukit 123. Musuh kemudian berkumpul kembali, saat kompi Red Cloud mundur. Ketika anak buahnya melihatnya terakhir kali, mereka melihat Red Cloud bergerak ke posisi bertahan lainnya. Itu adalah terakhir kalinya mereka melihatnya hidup-hidup.



Setelah Woodley dan Salter meninggalkan posisinya, mereka bisa mendengar BAR dari Red Cloud dan Balboni terus menembaki tentara China yang bergerak maju. Pertempuran berlangsung selama sekitar satu jam sebelum Kopral Red Cloud dan PFC Balboni akhirnya akan dibunuh oleh tentara China. Red Cloud dilaporkan terkena sebanyak delapan peluru sebelum gugur. Namun saat ini orang-orang Kompi E sudah waspada dan mundur dari sisi bukit dari serangan besar-besaran China. Dari sana resimen mereka mampu mengkonsolidasikan diri dan membuat garis pertahanan untuk menahan serangan tentara China lebih lanjut. Di tempat itu empat senapan mesin kaliber .50 dengan format quad digunakan untuk membersihkan lereng bukit dari pasukan China yang mengejar orang-orang yang tersisa dari Kompi E. Unit lain di batalion itu tidak akan seberuntung Kompi E, jika masih bisa disebut Kompi E cukup beruntung. Kompi A di dekatnya hampir musnah seluruhnya karena banyak prajuritnya terbunuh saat tidur di lubang perlindungan ketika serangan mendadak dari tentara China terjadi. Prajurit Kompi E yang selamat dari pertempuran itu mengatakan bahwa unit mereka kemungkinan besar akan dihancurkan juga jika bukan karena Kopral Red Cloud menahan serangan tentara China. Ketika rekan-rekannya pergi untuk mengambil tubuhnya pada hari berikutnya, mereka menemukan “sejumlah tentara China yang mati” di depannya. Dilaporkan bahwa lebih dari 30 mayat tentara China ditemukan di sekitar posisi Kopral Red Cloud. Penembak BAR lainnya, PFC Balboni, dianggap telah menewaskan 17 tentara musuh sebelum akhirnya terbunuh juga. PFC Balboni secara anumerta akan mendapat penghargaan tertinggi kedua militer Amerika, yakni Distinguished Service Cross. Secara keseluruhan batalion tersebut memperkirakan sekitar 500 tentara musuh telah tewas di bukit 123 hari itu. Dalam pertempuran ini, aksi tanpa pamrih dan heroik dari Red Cloud telah menghentikan upaya orang-orang China untuk menduduki posisi Kompi E dan memberikan waktu yang berharga untuk melakukan reorganisasi dan evakuasi rekan-rekannya yang terluka.
MEDAL OF HONOR DAN PENGHARGAAN LAINNYA
Pada tanggal 3 April 1951, pada sebuah upacara di Pentagon, di Washington, D.C., Kopral Mitchell Red Cloud Jr. secara anumerta dianugerahi medali penghargaan Medal of Honor, yang diberikan kepada ibunya Lillian “Nellie” Red Cloud oleh Jenderal Omar N. Bradley. Red Cloud, menjadi salah satu dari 29 orang penduduk asli Amerika yang menerima medali keberanian tertinggi negeri itu di medan perang. Medal of Honor diberikan total kepada 146 orang atas tindakan keberanian mereka dalam Perang Korea. Red Cloud meninggal hanya 3 1/2 bulan setelah Medal of Honor pertama diberikan di Korea, tetapi dia sudah menjadi penerima ke-32 selama konflik tersebut, dimana 27 di antaranya diberikan secara anumerta. Medalinya saat ini disimpan di Wisconsin Veterans Museum di Madison, Wisconsin. Red Cloud awalnya dimakamkan di pemakaman pasukan PBB di Korea, namun jenazahnya lalu dipulangkan ke Pemakaman Decorah di dekat kampung halamannya pada bulan Maret 1955 untuk dimakamkan, sesuai dengan adat leluhur masyarakatnya, di Wisconsin. Menurut tradisi, sisi peti matinya dilepas sehingga jiwanya bisa melepaskan diri. Busur dan anak panah diletakkan di sampingnya sehingga dia bisa berburu di surga, dan semangkuk buah diletakkan di sampingnya sehingga ia akan memiliki sesuatu untuk dimakan selama perjalanan. Untuk menghormati etos keprajuritannya, nama Red Cloud terus diabadikan. Pada tahun 1957, Angkatan Darat Amerika mengganti nama salah satu instalasi di Uijeongbu, Korea untuk menghormatinya. Tempat tersebut digunakan sebagai markas Divisi Infanteri ke-2 dan Garnisun Red Cloud Angkatan Darat AS, serta markas Area I. Camp Red Cloud terus digunakan oleh pasukan AS hingga dinonaktifkan pada tahun 2018.


Pada tanggal 5 November 2000, dalam peringatan 50 tahun kematian Red Cloud, Departemen Pertahanan AS, Komite Peringatan Perang Korea, mengunjungi Air Terjun Black River di Ho-Chunk Nation. Di sana diberikan Medali Republic of Korea War Service Medal kepada putrinya, Annita Red Cloud. Mungkin pengakuan paling menonjol yang diberikan kepada Red Cloud atas aksi keberaniannya selain medali itu sendiri terjadi pada tanggal 7 Agustus 1999, ketika anggota Ho-Chunk Nation, bersama dengan pejabat dari Angkatan Darat dan Angkatan Laut AS, berdiri di dermaga di San Diego, California, untuk peluncuran USNS Red Cloud, kapal keempat dari tujuh Kapal Pengangkut Laut Strategis dari kelas Watson (T-AKR-313) yang dibangun sejak tahun 1993 dan dinamai menurut penerima medali Medal of Honor. Di antara peserta yang hadir dalam peluncuran itu adalah Annita Red Cloud dan Tris Yellowcloud, cucunya. Juga hadir Kenneth Kershaw, anggota Kompi E, Infanteri ke-19, yang berada di Bukit 123 pagi itu. Kershaw mengungkapkan esensi sederhana mengapa dia ada di sana untuk menghormati rekannya: “Jika bukan karena alarm peringatan yang dibunyikan oleh Mitchell Red Cloud Jr, saya tidak akan berada di sini hari ini.” Dalam buku karya John McCain, “Why Courage Matters: The Way to a Braver Life” ia memasukkan kutipan dari para veteran dari pertempuran yang mengatakan bahwa mereka berhutang nyawa kepada Mitchell Red Cloud Jr. Salah satu yang selamat, Pete Salter mengatakan bahwa selama pertempuran dia berdoa kepada Tuhan di lubang perlindungannya agar dia bisa selamat dari pertempuran tersebut dan dia berjanji akan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Dia mengatakan doanya dijawab oleh Mitchell Red Cloud Jr. yang mengorbankan hidupnya agar banyak orang lain bisa tetap hidup. Salter pada pertengahan 1960-an akan membawa anak-anaknya ke Reservasi Indian Winnebago untuk melihat makam Kopral Red Cloud. Salter menangis tersedu-sedu di lokasi kuburan pria yang telah menyelamatkan hidupnya itu. Berbagai fasilitas militer dan taman di seluruh AS juga menggunakan nama Red Cloud untuk menghormatinya. Salah satu monumen yang berdiri untuk menghormatinya di Black River Falls, Wisconsin, memiliki prasasti yang berbunyi, “Putra seorang pemimpin dan ksatria Winnebago yang percaya bahwa ketika seseorang pergi berperang, dia siap untuk membunuh atau dibunuh, dan jika dia mati, dia akan hidup selamanya.”
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
MITCHELL RED CLOUD JR.: KOREAN WAR HERO By HISTORYNET STAFF 3/12/2007
HEROES OF THE KOREAN WAR: CORPORAL MITCHELL RED CLOUD JR.; November 12, 2012
Medal of Honor Monday: Army Cpl. Mitchell Red Cloud Jr; OCT. 11, 2021 | BY KATIE LANGE
This Native American Earned the Medal of Honor for Holding Off a Chinese Attack in Korea By James Barber
Cpl. Mitchell Red Cloud Jr. By Franklin Fisher; November 23, 2014
https://www.army.mil/article/138736/cpl_mitchell_red_cloud_jr
EVERY SOLDIER IS A STORY CPL MITCHELL RED CLOUD JR
Native American Korean War hero who gave his life for his men gets the graphic novel he deserves BY HALEY BRITZKY | UPDATED JUL 13, 2021 4:11 PM
Indigenous history: Red Cloud represents military bravery; Nov 11, 2019
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Watson-class_vehicle_cargo_ship
